PERBANDINGAN RESPON HUMORAL MENCIT BALB/C YANG DIIMUNISASI VAKSIN LIMPA PENYAKIT JEMBRANA DENGAN RESPON HUMORAL SISTEM SAPI

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN RESPON HUMORAL MENCIT BALB/C YANG DIIMUNISASI VAKSIN LIMPA PENYAKIT JEMBRANA DENGAN RESPON HUMORAL

SISTEM SAPI (Bos Sondaicus) SEBAGAI KONTROL TERHADAP PROTEIN TRANSAKTIVATOR TRANSKRIPSI (tat)

Oleh Ni Luh Putu Manik Widiyanti1, I Ketut Suata2, I Nyoman Mantik Astawa3 Abstrak: Sapi bali adalah salah satu aset Nasional Indonesia

yang harus dilestarikan, karena mempunyai keuntungan seperti penghasil daging, sumber pendapatan, sebagai pekerja, peng-hasil pupuk untuk kesuburan tanah, dan dapat bertahan di musim kemarau. Sapi bali sangat sensitif, khususnya terhadap penyakit Jembrana (Jembrana Disease/JD) yang disebabkan oleh

Jembrana Disease Virus (JDV). Pencegahan terhadap penyakit

Jembrana telah dilakukan dengan imunisasi yang memperguna-kan vaksin virus utuh yang diisolasi dari limpa terinfeksi disebut vaksin limpa. Jenis vaksin ini, menginduksi respon kekebalan dengan perlindungan 70%. Perlindungan vaksin yang tidak maksimal ini, kemungkinan menimbulkan infeksi baru pada sapi bali. Karakterisasi dari JDV adalah sulit hidup pada binatang per-cobaan kecil, seperti kelinci dan tidak membunuh mencit. Tetapi pada penelitiannya tidak mengamati induksi antibodi pada binatang percobaan kecil yang terinfeksi JDV. Efikasi (respon imun humoral) dari vaksin limpa ini yang diimunisasi pada mencit bab/c, kemudian dibandingkan terhadap respon imun humoral pada sistem sapi bali (Bos sondaicus) sebagai positif kontrol. Hasil uji imunohistokimia (IHK) mengindikasikan bahwa jumlah sel terinfeksi dalamadalah 9,5%.

Westernimmuno-blotting (WB) menunjukkan bahwa protein virus minor JDV,

yaitu p11 kDa terdeteksi pada sel limpa. Protein JDV lain yang penting adalah p16 kDa, 21,5 kDa, 26 kDa, 29,7 kDa, 40 kDa dan 50 kDa juga telah terdeteksi jika menggunakan antibodi poli-klonal. Sedangkan dalam Enzym Linked Immunosorbance Assay (ELISA), berdasarkan nilai absorban, vaksin limpa menginduksi antibodi terhadap antigen tat. Rerata respon imun humoral me-nunjukkan bahwa nilai absorban antibodi terhadap antigen tat

1

Ni Luh Putu Manik Widiyanti adalah staf edukatif pada Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha.

2

I Ketut Suata adalah staf edukatif pada Fakultas Kedokteran (FK) Unud.

(2)

pada sistem mencit lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol positif antibodi monoklonal BC9 (sistem sapi). Sedangkan nilai absorban antibodi mencit balb/c yang diimunisasi dengan vaksin limpa Penyakit Jembrana lebih tinggi dibandingkan kontrol negatif. Ini menunjukkan respon imun humoral vaksin limpa lebih tinggi dibandingkan baik pada sistem sapi dan negatif kontrol.

Kata kunci: Respon imun humoral, imunisasi, Virus Penyakit

Jembrana, Vaksin limpa Penyakit Jembrana, uji ELISA.

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara yang kaya akan plasma nutfah, baik flora maupun fauna dan salah satu di antaranya adalah sapi bali (Bos javanicus) yang perlu dilin-dungi dari kepunahan. Menurut Copland (1996), sapi bali merupakan salah satu jenis sapi modern, berasal dari Bos premigenius yang menurut Pilgrim (1947) habitatnya di hutan Asia, Afrika Utara dan Eropa. Bos premigenius yang selanjutnya dikarakterisasi merupakan jenis sapi modern, adalah hasil perkembangan dari Bos acutifrons (sapi liar) yang menurut Payne (1970) yaitu jenis sapi yang merupakan bagian dari fosil yang ditemukan di India.

Pusat domestikasi sapi (Bibos) adalah Indo-China dan Malaysia kemudian me-nyebar ke Bali (Copland, 1996). Indonesia kemungkinan menjadi pusat domestikasi sapi bali yang terjadi sekitar 5.000-10.000 tahun yang lalu. Proses domestikasi ke-mungkinan dimulai pada zaman prasejarah di Bali dan Jawa (Meijer, 1962). Indonesia mempunyai dua tipe sapi bali, yaitu sapi bali (tipe yang sudah didomestikasi) dan banteng (tipe sapi liar) yang sekarang ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat dan Baluran, Jawa Timur (Wind, 1978).

Sapi bali merupakan ternak yang sangat diminati oleh petani karena merupa-kan tenaga kerja yang tangguh, memiliki adaptasi lingkungan yang tinggi dan fertilitas yang tinggi, yaitu rata-rata 83%. Selain itu, sapi bali juga sangat diminati oleh konsu-men karena memiliki pertumbuhan badan yang kompak, persentase karkas yang tinggi (56%) dan lemak sekitar 3%, sehingga sangat baik untuk dikembangkan se-bagai sapi potong (Darmadja, 1980). Keunggulan yang dimiliki oleh sapi bali, menye-babkan penyebarannya hampir ke seluruh pulau-pulau yang ada di Indonesia.

Salah satu kelemahan penting yang dimiliki oleh sapi bali adalah kerentanan-nya terhadap pekerentanan-nyakit Jembrana (Jembrana Disease/JD). Pekerentanan-nyakit ini hakerentanan-nya ditemu-kan di Indonesia dan secara klinis hanya menyerang sapi bali. Penyakit Jembrana

(3)

merupakan salah satu penyakit strategik, yaitu penyakit yang selain merugikan secara ekonomik sering pula menimbulkan wabah. Wabah penyakit Jembrana pertama kali terjadi pada bulan Desember 1964 di Desa Sangkaragung, Kecamatan Negara-Kabupaten Jembrana, yang menimbulkan kematian sekitar 30.000 ekor sapi dan kerbau. Pada waktu itu dalam waktu kurang lebih 8 bulan penyakit Jembrana telah ditemukan di semua kabupaten di Bali (Soeharsono et al., 1993). Angka kasus fatal (case fatality rate) pada sapi bali karena penyakit Jembrana adalah 20% (Wilcox, 2001). Di daerah endemik seperti Jembrana dan Tabanan, kasus JD terjadi sepanjang tahun dan wabah terjadi 3-4 tahun. Sedangkan di daerah baru kejadiannya cenderung mewabah. Adanya penyakit JD yang menular ini akan berdampak sangat luas ter-hadap perkembangan peternakan sapi karena kerugian yang ditimbulkan selalu menyangkut kehidupan sosio-ekonomis peternak (Putra, 2001).

Sampai sekarang penyakit Jembrana masih bersifat endemik di pulau Bali. Studi serologi menunjukkan bahwa 36,4% sampel serum sapi bali asal Bali dinyatakan positif JD secara ELISA. Prevalensi infeksi JD berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Di Kabupaten Jembrana sebanyak 94% yang positif terinfeksi JD, di Kabupaten Tabanan sebanyak 24% sedangkan di pulau Nusa Penida 0% (Hartaningsih et al., 2000).

Penyakit Jembrana tidak hanya menyerang sapi bali di Provinsi Bali saja, tetapi kasusnya telah menyebar ke ProVinsi Lampung (Kabupaten Lampung Tengah) dike-nal dengan nama penyakit Rama Dewa tahun 1976 (Prabowo & Ishitani, 1984), Provinsi Jawa Timur (Kabupaten Banyuwangi) dikenal dengan nama penyakit Banyuwangi tahun 1979 (Sudana et al, 1979), Provinsi Sumatera Barat (Kabupaten Sawahlunto Sijunjung) tahun 1992, Kalimantan Selatan tahun 1993 dan Provinsi Bengkulu (Kabupaten Bengkulu Selatan) tahun 1994 dengan angka kematian sekitar 17% (Wiryosuhanto, 1996).

Upaya pengendalian penyakit Jembrana di Indonesia terus dilakukan. Salah satu di antaranya adalah dengan immunisasi. Vaksin yang telah terbukti dapat menu-runkan tingkat kematian sapi bali yang terserang Jembrana Disease Virus (JDV), yang dipakai secara luas di lapangan adalah vaksin yang dibuat dari limpa hewan sapi bali terinfeksi JDV (vaksin limpa). Vaksin jenis ini hanya mampu menginduksi kekebalan dengan tingkat proteksi sekitar 70%. Berarti proteksi masih bersifat parsial karena sebagian dari sapi yang divaksinasi masih dapat terserang penyakit Jembrana setelah ditantang dengan JDV ganas (Hartaningsih et al, 1999).

Kurang memadainya tingkat proteksi yang diinduksi oleh vaksin limpa dise-babkan oleh sedikitnya sel yang terinfeksi JDV dalam limpa yang digunakan untuk membuat vaksin, yaitu berkisar 10-15% sel limfosit di daerah parafolikel (daerah sel

(4)

T) dan kurang dari 1% limfosit di daerah folikel (daerah sel B) (Chadwick et al, 1997; Dharma, 1997). Oleh karena itu, meskipun dosisnya telah mencapai maksimal, antigen

JDV yang dipakai untuk immunisasi masih jauh dari memadai karena kebanyakan sel

limpa yang dipakai adalah sel yang tidak terinfeksi JDV, sehingga kurang imunogenik. Di samping itu, produksi untuk vaksin limpa sekarang ini masih tergolong mahal, karena menggunakan limpa terinfeksi dari sapi bali yang masih hidup. Sebagai contoh, dari berat limpa sapi bali terinfeksi sekitar 365 gram, hanya diproduksi sekitar 1500 dosis vaksin (data dari Balai Besar Veteriner Denpasar, tidak dipublikasikan).

Khusus mencit yang biasa digunakan untuk penelitian adalah mencit balb/c, karena hewan ini mudah untuk ditangani (Newell et al., 1988), pada penelitian

Respiratory Syncytial Virus (RSV) digunakan untuk studi imunopathologi, dan untuk

mendeteksi peningkatan produksi imunoregulator sitokin antara lain IL-12 (Kong et

al., 2005). Inerleukin 12 mempengaruhi sel T untuk menstimulasi interferon (IFN-) merupakan salah satu sitokin untuk mengaktivasi makrofag (sebagai

antigen-pre-senting cell/APC) dan mempengaruhi sel B menghasilkan antibodi (Abbas et al.,2000).

Berdasarkan penelitian tersebut di atas, potensi vaksin menimbulkan respon imun humoral dilakukan pada mencit balb/c dengan mendeteksi respon kekebalan humoral terhadap protein JDV tat yang dikode oleh exon 1 JDV, kemudian diklon ke dalam vektor plasmid dan tat rekombinan diekspresikan oleh bakteri E. coli (Setiyaningsih, 2006).

METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah rancang-an acak lengkap. Rrancang-ancrancang-angrancang-an eksperimental menggunakrancang-an The Post Test Only Control

Group Design. Yang dimasukkan ke dalam penelitian adalah mencit balb/c yang

me-menuhi kriteria penelitian, yaitu mencit balb/c betina, berumur 2 bulan dengan berat badan 20-30 gram (Malole, 1989). Sebanyak 16 ekor mencit balb/c yang memenuhi kriteria penelitian masing-masing divaksinasi dengan 0,2 ml vaksin limpa penyakit Jembrana secara intraperitoneal (Newel et al, 1988). Vaksinasi dilakukan sebanyak 4 kali dengan rentangan waktu 2 minggu. Setelah 4 kali vaksinasi, mencit balb/c dine-kropsi dan diambil serumnya untuk selanjutnya dilakukan uji ELISA menggunakan antigen tat. Kontrol positif dibandingkan dengan nilai absorban serum sapi bali yang hiperimun. Kontrol negatif dilakukan pada mencit balb/c tanpa vaksinasi.

(5)

HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Karakteristik AbMo terhadap Protein JDV yang Dipergunakan

Antibodi monoklonal (AbMo) terhadap tat JDV yang dipakai dalam penelitian ini adalah BC9. Menurut Campbell (1996), AbMo hanya bereaksi dengan satu epitop pada struktur biologi, dimana pada JDV, AbMo melacak protein khas JDV dalam limfosit dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi.

AbMo banyak dipakai untuk mempelajari fungsi protein tertentu termasuk

protein virus yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai vaksin. Protein yang ber-potensi untuk dikembangkan sebagai vaksin pada lentivirus adalah protein SU, TM, Ca dan tat. Namun pada penelitian ini, AbMo yang digunakan hanya terhadap protein tat.

Karakteristik diperlukan, apakah limfosit sapi bali terinfeksi JDV mengandung antigen tat dan ternyata pada karakteristik ini ditemukan protein terhadap tat, dengan berat molekul 11 kDa, dan AbMo yang bereaksi secara spesifik ini dipakai pe-nelitian lebih lanjut.

6.2 Respon Kekebalan Humoral Mencit Balb/c yang Diimunisasi dengan Vaksin Limpa dan Vaksin Kultur penyakit Jembrana

Uji ELISA menunjukkan bahwa hewan coba mencit balb/c mampu memben-tuk antibodi terhadap JDV, meskipun dari penelitian Wilcox et al. (1993), Kertayadnya

et al. (1993), dan Chadwick et al. (1995) didapatkan bahwa salah satu sifat JDV sulit

hidup pada hewan percobaan kecil dan tidak membunuh mencit. Tetapi dalam pene-litiannya tidak meneliti apakah terbentuk antibodi pada hewan percobaan kecil yang terinfeksi JDV.

Rata-rata nilai absorban antibodi mencit balb/c yang diimunisasi dengan vaksin limpa dan vaksin kultur penyakit Jembrana terhadap antigen tat, didapatkan hasil, di mana mencit yang diimunisaasi dengan vaksin limpa dan vaksin kultur pe-nyakit Jembrana didapatkan rata-rata nilai absorban antibodi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai absorban kontrol positif (Tabel 1).

(6)

Tabel 1

Rata-rata nilai absorban antibodi mencit balb/c yang diimunisasi dengan vaksin limpa penyakit Jembrana terhadap antigen tat

Mencit Vaksin limpa (tat) M1 0,16825 M2 -0,00675 M3 0,12725 M4 0,03575 M5 -0,02925 M6 0,02325 M7 -0,00725 M8 -0,02925 M9 0,04225 M10 -0,02475 M11 -0,03125 M12 0,13425 M13 -0,02425 M14 -0,04075 M15 -0,01875 M16 -0,02225 X 0,2965 x 0,019 K(+) -0,062 K(-) -0,030 Keterangan :

X : respon humoral mencit balb/c yang diimunisasi

x : rata-rata respon humoral mencit balb/c yang diimunisasi K (+) : respon humoral sapi bali hiperimun sebagai kontrol K (-) : respon humoral mencit balb/c tanpa imunisasi

Ini menunjukkan bahwa pada sistem mencit nilai absorban antibodi mencit balb/c yang diimunisasi dengan vaksin limpa penyakit Jembrana lebih tinggi jika di-bandingkan dengan nilai absorban antibodi kontrol positif menggunakan antibodi monoklonal BC9 (pada sistem sapi) terhadap antigen tat. Demikian juga rata-rata nilai absorban antibodi mencit balb/c yang diimunisasi dengan vaksin limpa penyakit Jembrana lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai absorban antibodi mencit balb/c

(7)

kontrol negatif (Tabel 1). Ini menunjukkan respon kekebalan humoral mencit balb/c yang diimunisasi dengan vaksin limpa penyakit Jembrana lebih tinggi jika dibanding-kan dengan nilai absorban antibodi baik pada sistem sapi maupun kontrol negatif.

Nilai absorban antibodi terhadap protein tat JDV juga dapat dilacak dalam serum mencit yang diimunisasi dengan vaksin limpa penyakit Jembrana. Walaupun ditemukan dari hasil penelitian antigen tat dengan respon kekebalan humoral yang rendah, tetapi antigen tat tidak dapat diabaikan karena dari beberapa penelitian dike-mukakan bahwa protein tat adalah protein minor dan nonstruktural yang disandi oleh gen asesori (Chadwick et al., 1995). Pada infeksi lentivirus protein ini berfungsi untuk meningkatkan kepekaan sel terhadap infeksi lentivirus dengan cara mening-katkan aktivitas transkripsi yaitu mengaktifkan enzim RNA polimerase dan memper-cepat terbentuknya mRNA (Chen et al,2000; Flint et al, 2002). Karena itu, jika kadar protein ini meningkat dalam sel terinfeksi, maka kemampuan replikasi virus akan me-ningkat. Apabila di dalam tubuh inang yang terinfeksi atau yang divaksinasi terdapat antibodi terhadap protein tat, antibodi tersebut akan mengikat protein sehingga tingkat replikasi virus dapat ditekan. Oleh sebab itu, protein tat merupakan salah satu protein yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai kandidat vaksin penyakit Jembrana.

Penelitian pada HIV-1 menunjukkan bahwa, meskipun merupakan protein minor, tat berperan amat penting dalam patogenesis infeksi (Agwale et al., 2002) dan secara alami merupakan faktor transkripsi (Carroll et al., 1991). Diduga bahwa tat ekstraselluler berperan dalam netralisasi virus. Pada HIV-1 dan HIV-2, antibodi ter-hadap tat mempunyai aktivitas netralisasi (Chen et al., 2001). Tat HIV tidak dapat mengaktivasi LTR JDV. Ini mengindikasikan bahwa dalam transaktivasi tat JDV ke-mungkinan menggunakan mekanisme yang mirip tetapi tidak sama seperti tat HIV. Karakterisasi efek tat JDV pada HIV, di mana kimera HIV membawa gen tat JDV telah digenerasikan. Replikasi kimera HIV dalam sel-line, C8116 dan PBMC, di mana tat JDV dapat secara fungsional mensubstitusi tat HIV, ketika gen tat JDV dimasukkan ke dalam genom HIV. Tat JDV merupakan transaktivator yang potensial dan selanjutnya karakterisasi mekanisme molekuler dalam transaktivasi oleh tat JDV, diperlukan (Chen et al., 1999).

Terlacaknya antibodi terhadap protein tat khas JDV yang dipakai dalam pene-litian ini menunjukkan bahwa protein tat berpotensi untuk dikembangkan sebagai kandidat vaksin. Pada beberapa lentivirus lainnya, penggunaan gabungan 2 atau lebih protein khas virus telah dilakukan seperti penggunaan protein kimera tat–SU juga telah dicoba pada berbagai infeksi lentivirus. Agwale et al. (2002) melaporkan bahwa respon sel T CD8+ yang divaksinasi dengan vaksin bicistronik DNA gp120-Tat lebih

(8)

baik dibandingkan dengan yang diinduksi dengan hanya menggunakan vaksin DNA yang mengkode gp120. Penggunaan virus kimera yang lain juga dilaporkan oleh Carrol et al. (1991), di mana gen tat kimera dan virus promoter kimera dikonstruksi antara HIV-1 dan EIAV.

Peran adjuvan dalam mengemulsi vaksin dan zat inaktivasi virus juga membe-rikan respon kekebalan humoral yang berbeda. Penelitian pada sapi, Triton X-100 untuk inaktivaksi virus memberikan respon kekebalan humoral yang lebih baik diban-dingkan inaktivasi dengan formaldehid dari plasma sebagai antigen yang digunakan untuk vaksin. Incomplete Freund’s Adjuvant (IFA) dan Mineral Oil Adjuvant (MOA) di-kombinasikan dengan Triton X-100 pada plasma sebagai antigen, memberikan respon antibodi yang lebih tinggi dibandingkan dengan antigen yang sama dikombinasikan dengan Quil-A (Hartaningsih et al, 1996)2. Komposisi dari IFA mempunyai kemiripan dengan Complete Freund’s Adjuvant (CFA), yaitu minyak paraffin dan manida mono-osleate. Minyak paraffin tidak dimetabolisasi, atau difagositosis oleh makrofag. Pada

CFA mengandung mycobakteria (Anonim, 1998; Jackson & Fox, 1995). Komposisi dari CFA adalah campuran dari minyak (Bayol F) dan deterjen (manida monooleate) yang

mengandung Mycobacterium tuberculosis (Newel et al., 1988). Adjuvan yang mengan-dung Mycobacteria sp pada FCA, bakteri seringkali menghasilkan reaksi inflamasi. Immunostimulator berhubungan dengan komponen dinding sel antara lain trehalose

dimycolate (TDM) dari faktor pengikat pada mycobacteria; MDP (Muramyl Dipeptida)

dari peptidoglikan pada dinding sel, atau sedikit analog inflammatory pada MDP,

Monophosphoril Lipid A (MPL) (Hanly et al, 1995), dan modifikasi lipopolisakarida

bakteri gram-negatif (Rudbach et al, 1988; 1995) serta LTA (asam Lipoteichoat) dari dinding sel bakteri gram-positif (Kotani, 1992).

Komposisi adjuvan vaksin limpa yang dipergunakan dalam penelitian di dalam 5 liternya adalah: mineral oil (Marcol) sebanyak 4500 cc, sorbitan sesquioleat (Span) sebanyak 375 cc dan Polyoxy ethylene 20 sorbitan mono oleat (Reodol Two) dengan volume 125 cc, yang mampu menginduksi respon humoral mencit bab/c.

PENUTUP 1. Simpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut.

Nilai absorban sistem mencit yang diimunisasi dengan vaksin limpa lebih tinggi dengan rerata sebesar 0,019 dibandingkan nilai absorban sistem sapi dengan re-rata sebesar -0,062 terhadap antigen tat JDV.

(9)

2. Saran

Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui respon kekebalan humoral mencit balb/c yang diimunisasi dengan vaksin limpa atau vaksin tipe lain terhadap antigen-antigen JDV.

Daftar Pustaka

Agwale, S.M., Shata, M.T., Meitz, M.S., Kalyanaraman, V.S., Gallo, R.C., Popovic,M., Hone, D.M. 2002. A Tat Subunit Vaccine Confers Protective Immunity Against the

Immune-Modulating Activity of the Human Immunodeficiency Virus Type-1 Tat Protein in Mice. USA : Proc Natl Acad Sci. 99 (15) : 10037-10041.

Astawa, N.M., Hartaningsih, N., Dharma, D.M.N., Tenaya, W.M., Budiantono dan Ekaana, W. 2005. Replikasi Virus Penyakit Jembrana pada Kultur Limfosit Darah Tepi

Asal Sapi Bali. Denpasar : J. Vet. 6 (4) : 132-142.

Carroll, R., Martarano, L., Derse, D. 1991. Identification of Lentivirus Tat Functional

Domains Through Generation of Equine Infectious Anemia Virus/Human Immunodeficiency Virus Type 1 tat Gene Chimeras. J. Virol. 65 (7) : 3460-3467.

Chadwick, B.J., Coelen, R.J., Samuels, L.M., Kertayadnya, G dan Wilcox, G.E. 1995.

Genomic Sequence Analysis Identifies Jembrana Disease Virus as a New Bovine Lentivirus. J. General Virology. 76 (1): 189-192.

Chadwick, B.J., Desport, M., Dharma, D.M.N., Brownlie, J dan Wilcox, G.E. 1996.

Detection of Jembrana Disease Virus in Paraffin-embedded Tissue Sections by In Situ Hybridization. In Wilcox., G.E., S. Soeharsono., D.M.N. Darma., J.W. Copland .

1997. ACIAR Proceeding : 75: 66-71.

Chen, H., Wilcox, G.E., Kertayadnya, G., Wood, C. 1999. Characterization of the

Jembrana Disease Virus Tat Gene and the cis-and trans-regulatory Elements in its Long Terminal Repeats. J.Virol (73) : 658-666.

Chen, H., He, J., Fong, S., Wilcox, G.E dan Wood, C. 2000. Jembrana Disease Virus Tat Can

Regulate Human Immunodeficiency Virus (HIV) Long Terminal Repeat-Directed Gene Expression and Can Substitute for HIV Tat in Viral Replication. J. Virol. 74

(6) : 2703 – 2713.

Copland, J. 1996. Bali Cattle : Origins in Indonesia. In Wilcox., GE., S. Soeharsono., D.M.N. Darma., J.W. Copland . 1997. :ACIAR Proseeding.

75:29-33.

Cui, Y., Golob, J., Kelleher, E., Ye, Z., Pardoll, D., Cheng, L. 2002. Targeting Transgene

Expression to Antigen-Presenting Cells Derived from Lentiviruses Transduced Engrafting Human Hemapoietic Stem/Progenitor Cells. American Society of

(10)

Darmadja, D. 1981. Masalah Peningkatan Potensi Produksi Ternak Sapi di Indonesia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Dalam Ilmu Produksi Ternak. Denpasar: Universitas Udayana.

Direktur Jendral Peternakan dan Tim BCDIU BPPH Wilayah VI Denpasar. Tanpa tahun.

Perkembangan Hasil Penyidikan Penyakit Jembrana. Departemen Pertanian.

Direktorat Jendral Peternakan.

Dharma, D.N dan Putra, A.A.G. 1997. Penyidikan Penyakit Hewan. CV Bali Medi. Denpasar : Adhikarsa.

Flint, S.J., Enquist, L.W., Krug, R.M., Racaniello, V.R dan Skalka, A.M. 2000. Virology.

Molecular Biology, Pathogenesis, and Control. Wahington D.C : ASM Press.

Gonda, M.A., Battles J.K.., Fong, S.E., Luther, D.G., Snider, T.G., Department of Veterinary Science and Department of Veterinary Pathology, Louisiana State University and A&M College., Garvey, K.J., Feigenbaum, L dan Tobin, G.J. 1996. Biology of

the Bovine Immunodeficiency Virus. In Wilcox., GE., Soeharsono, S., Darma,

D.M.N., Copland, J.W . 1997: ACIAR Proceeding .75 :103-109.

Keddie, J.R. 1990. Safety in the Use of Animal Models for AIDS. Elsevier Pub B.V (Biomedical Division).

Kertayadnya, G., Wilcox, G.E., Soeharsono, S., Hartaningsih, N., Coelen, R.J., Cook, R.D., Collins, M.E dan Brownlie, J. 1993. Characteristics of a Retrovirus Associated

with Jembrana Disease in Bali Cattle. J. Gen. Virol. 74 : 1765-1773 .

Kostrikis, L.G., Cao, Y., Ngai, H., Moore, J.P., Ho, D.D. 1996. Quantitative Analysis of

Serum Neutralization of Human Immunodeficiency Virus Type 1 from Subtypes A,B,C,D,E,F and I: Lack of Direct Correlation Between Neutralization Serotypes and Genetic Subtype and Evidence for Prevalent Serum-Dependent Infectivity Enhancement. J.Virol. 70 : 445-458.

Kong, X., Hellermann, G.R., Patton, G., Kumar,M., Behera,A., Randall,T.S., Zhang, J., Lockey,R.F dan Mohapatra,S.S. 2005. An Immunocompromised Balb/c Mouse

Model for Respiratory Syncytial Virus Infection. Virol. J. 2 : (3).

Launay,O., Sinet,M., Varlet,P dan Pocidalo,J.J. 1990. Mouse Model of Retroviral Infection:

Early Combination Therapy of Azidothymidine With Synthetic Double-Stranded RNA (Poly I) (Poly C). Elsevier Sci. Pub. (Biomedical Division).

Newel, D.G., McBride, B.W dan Clark, S.A. 1988. Making Monoclonals : Salisbury. The Laverham Press.

Ramachandran, S. 1981. Final report to the Project Manager UNDP/FAO Project :

Strengthening of Animal Health Services in the eastern Island of Indonesia. Bali

(11)

Setiyaningsih, S. 2006. Moleculer and Immunogenic Analysis of Jembrana Disease Virus

Tat. Health Science. Veterinary & Biomedical Science. Doctor of Philosophy

(PhD). Murdoch University.

Soeharsono S, Hartaningsih, N., Soetrisno, M., Kertayadnya, G dan Wilcox, G.E. 1990.

Studies on Experimental Jembrana Disease in Bali Cattle. Transmition and Persistence of The Infectious Agent in Ruminants and Pigs and Resistance of Recovered Cattle to Re-infection. J. Comp Pathol. 102 : 49-59.

Sullivan, N., Sun, Y., Li, J., Hofmann, W., Sodroski, J. 1995. Replicative Function and

Neutralization Sensitivity of Envelope Glycoproteins from Primary and T-Cell Line-Passaged Human Immunodeficiency Virus Type 1 Isolates. J. Virol. 69 :

4413-4422.

Teuscher, E., Rachmachandran, S., Harding, H.P. 1981. Observation on the Pathology of

Jembrana Disease in Bali Cattle. Zentralbalt fluer Veterinaermedizin Reihe A.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Penyakit Jembrana