BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. keuangan dan hasil akhir suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu

26 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Laporan keuangan

Hasil akhir dalam suatu proses akuntansi adalah laporan keuangan. Menurut Sofyan Syafri Harahap (2004:105) laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil akhir suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Al Haryono Jusup (2003:21) menyebutkan laporan keuangan utama yang dihasilkan dari proses akuntansi adalah neraca dan laporan laba rugi. Neraca dibuat dengan maksud untuk menggambarkan posisi keuangan suatu organisasi pada saat tertentu, sedangkan laporan laba rugi menggambarkan hasil-hasil usaha yang dicapai dalam suatu periode tertentu. Laporan keuangan disusun dengan tujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Dwi Prastoyo dan Rifka Juliaty (2005:7) menyebutkan ada empat karakteristik kualitatif laporan keuangan yaitu:

a). Dapat dipahami

Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh para pemakai. Dalam hal ini, para pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar.

(2)

10 b). Relevan

Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan para pemakai dalam proses pengambilan keputusan.

c). Keandalan

Agar bermanfaat, informasi juga harus andal. Informasi mempunyai kualitas andal jika bebas dari pengertian menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. d). Dapat dibandingkan

Para pemakai laporan keuangan harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antarperiode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi keuangan dan kinerja perusahaan.

2.1.2 Agency theory (teori keagenan)

Awal dari paradigma agensi-analitis mengacu pada contoh yang disajikan dalam makalah seminar Coase, dimana Coase memberikan penekanan pada kontrak sukarela yang muncul antara berbagai pihak organisasi sebagai penyelesaian yang efisien terhadap berbagai konflik kepentingan (Ahmed Riahi Belkaoi, 2007:185). Jensen dan Meckling dalam Ahmed Riahi Belkaoi (2007:186) menyebutkan bahwa perusahaan adalah cerita fiksi legal yang berfungsi sebagai nexus (penghubung) dari serangkaian hubungan kontrak antara para individu.

Hubungan keagenan adalah hubungan antara prinsipal (principal) dengan agen (agent) yang di dalamnya agen bertindak atas nama dan untuk kepentingan prinsipal dan atas tindakannya (actions) tersebut agen mendapat imbalan tertentu

(3)

11

(Suwardjono, 2005:485) dalam Ariani (2008). Yang dimaksud prinsipal adalah para pemegang saham sedangkan yang dimaksud agen adalah manajemen yang mengelola perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) dalam Ariani (2008) menyatakan bahwa hubungan keagenan adalah sebuah kontrak antara manajer (agent) dengan investor (principal). Manajer merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham. Untuk itu manajemen diberikan kekuasaan untuk membuat keputusan bagi kepentingan terbaik pemegang saham. Oleh karena itu manajemen wajib mempertanggungjawabkan semua upayanya kepada pemegang saham.

Dalam Ahmed Riahi Belkaoi (2007:186) disebutkan hubungan keagenan dikatakan telah terjadi ketika suatu kontrak antara seseorang (atau lebih), seorang prinsipal, dan orang lainnya, seorang agen, untuk memberikan jasa demi kepentingan prinsipal termasuk melibatkan adanya pemberian delegasi kekuasaan pengambilan keputusan kepada agen. Baik prinsipal maupun agen diasumsikan untuk termotivasi hanya oleh kepentingan dirinya sendiri, yaitu untuk memaksimalkan kegunaan subjektif mereka, dan juga untuk menyadari kepentingan bersama mereka. Agen berjuang untuk memaksimalkan pembayaran kontraknya yang bergantung pada suatu tingkatan usaha tertentu yang dibutuhkan. Prinsipal berjuang untuk memaksimalkan pengembalian atas penggunaan sumber dayanya yang bergantung pada pembayaran yang terutang kepada agen. Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda di dalam perusahaan dimana masing-masing pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendaki. Konflik kepentingan antara prinsipal dan agen

(4)

12

terjadi karena kemungkinan agen tidak selalu berbuat sesuai dengan kepentingan prinsipal. Terjadinya konflik kepentingan tersebut disebut dengan konflik keagenan (agency conflict).

Terjadinya konflik keagenan dapat berpengaruh pada investor. Menurut Andri Rachmawati dan Hanung Triatmoko (2007) pemikiran bahwa manajemen dapat melakukan tindakan yang hanya memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri didasarkan pada suatu asumsi yang menyatakan setiap orang mempunyai perilaku yang mementingkan diri sendiri atau self-interested behaviour. Keinginan, motivasi dan utilitas yang tidak sama antara manajemen dan pemegang saham menimbulkan kemungkinan manajemen bertindak merugikan pemegang saham, antara lain berperilaku tidak etis dan cenderung melakukan kecurangan akuntansi. Menurut Hamonangan Siallagan dan M. Machfoedz (2006) konflik keagenan yang mengakibatkan adanya sifat opportunistic manajemen akan mengakibatkan rendahnya kualitas laba. Rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan pembuatan keputusan para pemakainya seperti investor dan kreditur, sehingga nilai perusahaan akan berkurang.

2.1.3 Teori pasar modal efisien

Dalam Ahmed Riadi Belkaoui (2007:139) dikatakan sebuah pasar yang efisien secara sempurna adalah berada dalam kondisi ekuilibrium secara kontinu, sehingga nilai-nilai intrinsik dari surat berharga bergetar secara acak dan harga pasar adalah selalu sama dengan nilai-nilai intrinsik yang menjadi dasar di setiap waktu. Nilai intrinsik secara umum dipandang sebagai harga yang seharusnya dan berapa harga yang diberikan oleh individu lain yang memiliki informasi yang

(5)

13

sama dan kompeten sebagai seseorang yang dapat membuat estimasi. Fama dalam Ahmed Riadi Belkaoui (2007:139) mengatakan bahwa dalam pasar yang efisien, harga-harga akan mencerminkan sepenuhnya informasi yang tersedia dan, sebagai implikasinya, harga akan bereaksi dengan seketika dan tanpa adanya bias terhadap informasi baru. Dalam Suad Husnan (2003:256) didefinisikan bahwa pasar modal yang efisien adalah pasar yang harga sekuritas-sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi yang relevan. Semakin cepat informasi baru tercermin pada harga sekuritas, semakin efisien pasar model tersebut. Dengan demikian akan sangat sulit (atau bahkan hampir tidak mungkin) bagi para pemodal untuk memperoleh tingkat keuntungan di atas normal secara konsisten dengan melakukan transaksi perdagangan di bursa efek. Efisiensi dalam artian ini sering juga disebut sebagai efisiensi informsional.

Fama dalam Ahmed Riadi Belkaoui (2007:141) membedakan adanya tiga tingkatan efisiensi pasar yaitu:

1). Bentuk lemah dari hipotesis pasar yang efisien

Bentuk lemah dari hipotesis pasar yang efisien menyatakan bahwa ekspektasi pengembalian (harga) ekuilibrium mencerminkan sepenuhnya urutan dari pengembalian (harga) masa lalu. Dengan kata lain, harga historis dan data volume untuk surat berharga tidak memuat informasi yang mungkin dapat digunakan untuk memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dari yang menggunakan strategi “beli dan tahan” yang sederhana. Suad Husnan (2003:261) menyebutkan bahwa bentuk efisiensi yang lemah adalah keadaan dimana harga-harga mencerminkan semua informasi yang ada pada

(6)

14

catatan harga di waktu yang lalu. Sehingga dalam keadaan yang seperti ini pemodal tidak bisa memperoleh tingkat keuntungan di atas normal dengan menggunakan trading rules yang berdasarkan atas informasi harga di waktu yang lalu.

2). Bentuk semikuat dari hipotesis pasar yang efisien

Bentuk semikuat dari hipotesis pasar yang efisien menyatakan bahwa ekspektasi pengembalian (harga) ekuilibrium mencerminkan sepenuhnya seluruh informasi yang tersedia bagi publik. Dengan kata lain, tidak ada aturan perdagangan yang didasarkan pada informasi yang tersedia boleh dipergunakan untuk mendapatkan suatu kelebihan pengembalian. Bentuk semikuat dari hipotesis ini relevan terhadap akuntansi karena informasi yang tersedia bagi publik meliputi pula laporan-laporan keuangan. Menurut Suad Husnan (2003:261) bentuk efisiensi setengah kuat adalah keadaan dimana harga-harga bukan hanya mencerminkan harga-harga di waktu yang lalu, tetapi semua informasi yang dipublikasikan. Dengan kata lain, para pemodal tidak bisa memperoleh tingkat keuntungan di atas normal dengan memanfatakan public information.

3). Bentuk kuat dari hipotesis pasar yang efisien

Bentuk kuat dari hipotesis pasar yang efisien menyatakan bahwa ekspektasi pengembalian (harga) ekuilibrium mencerminkan sepenuhnya seluruh informasi yang ada (dan bukan hanya informasi yang tersedia bagi publik). Dengan kata lain, tidak ada aturan-aturan perdagangan yang didasarkan pada informasi apapun, termasuk informasi orang dalam, dapat dipergunakan

(7)

15

untuk mendapatkan kelebihan pengembalian. Suad Husnan (2003:261) menyebutkan bahwa bentuk efisiensi yang kuat adalah dimana harga tidak hanya mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan, tetapi juga informasi yang bisa diperoleh dari analisa fundamental tentang perusahaan dan perekonomian. Dalam keadaan semacam ini pasar modal akan seperti rumah lelang yang ideal dimana harga selalu wajar dan tidak ada investor yang mampu memperoleh perkiraan yang lebih baiktentang harga saham. 2.1.4 Nilai perusahaan

Menurut Sudana (2008) nilai diciptakan ketika perusahaan memberikan return kepada para investornya melebihi biaya modal. Nilai untuk investor perusahaan dapat dicapai hanya dengan menyumbangkan nilai kepada customers. Salah satu paradigma baru yang berkembang dalam manajemen untuk menghadapi lingkungan bisnis global, kompetitif, dan turbulen adalah dengan customer value strategy (Mulyadi, 2007:30). Mulyadi (2007:31) menyebutkan paradigma customer value strategy memandang bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan value terbaik bagi customer merupakan faktor penentu keberhasilan perusahaan untuk bertahan hidup dan bertumbuh dalam lingkungan bisnis global yang kompetitif dan turbulen ini. Customer adalah satu-satunya alasan eksistensi suatu perusahaan. Keberadaan suatu perusahaan ditentukan bukan oleh kualitas yang melekat pada produk/jasa yang dihasilkan perusahaan, namun ditentukan oleh kemampuan produk/jasa dalam memenuhi kebutuhan customer. Customer value strategy merupakan kombinasi manfaat yang diperoleh dari penggunaan suatu produk (atau jasa) dan pengorbanan yang dilakukan oleh customer untuk

(8)

16

memperoleh manfaat tersebut. Customers dalam lingkungan bisnis yang kompetitif memegang kendali bisnis. Suara customer dalam kondisi seperti ini harus didengarkan agar perusahaan mampu menghasilkan produk/jasa yang memberikan value bagi customer-nya.

Penciptaan nilai bagi konsumen akan berefek pada penciptaan nilai perusahaan. Tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan dalam mengelola sumber daya. Bagi perusahaan yang menerbitkan saham di pasar modal, harga saham yang ditransaksikan di bursa efek merupakan indikator nilai perusahaan. Fama (1978) dalam Andri Rachmawati dan Hanung Triatmoko (2007) menyatakan nilai perusahaan akan tercermin dari harga pasar sahamnya.

Dalam perspektif teori keagenan, agen yang risk adverse dan yang cenderung mementingkan dirinya sendiri akan mengalokasikan resources (berinvestasi) yang tidak meningkatkan nilai perusahaan. Permasalahan ini mengindikasikan bahwa nilai perusahaan akan naik apabila pemilik perusahaan bisa mengendalikan perilaku manajemen agar tidak menghancurkan resource perusahaan. Menurut Hamonangan Siallagan dan M. Machfoedz (2006) konflik keagenan yang mengakibatkan adanya sifat opportunistic manajemen akan mengakibatkan rendahnya kualitas laba. Rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan pembuatan keputusan para pemakainya seperti investor dan kreditur, sehingga nilai perusahaan akan berkurang.

(9)

17

Jensen dan Meckling (1976) dalam Sujono dan Ugy Soebiantoro (2007) berargumen bahwa konflik keagenan terjadi karena adanya pemisahan kepemilikan dan pengendalian. Konflik keagenan menyebabkan penurunan nilai perusahaan. Penurunan nilai perusahaan akan memengaruhi kekayaan dari pemegang saham sehingga pemegang saham akan melakukan tindakan pengawasan terhadap perilaku manajemen.

Menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (1994:5) dalam Hendri Kurniawan (2005) menyebutkan, nilai perusahaan dapat direfleksikan melalui tiga cara, yaitu melalui nilai buku, nilai likuidasi ataupun nilai pasar (saham). Dalam penelitian Bernard S. Black, dkk (2003) disebutkan tiga ukuran dari kinerja perusahaan yang dapat dipakai untuk melihat nilai perusahaan yaitu Tobin’s Q, market/book, dan market/sales.

2.1.5 Struktur kepemilikan saham

Menurut Sujono dan Ugy Soebiantoro (2007) struktur kepemilikan saham adalah proporsi kepemilikan institusional dan manajemen dalam kepemilikan saham perusahaan. Dua jenis kepemilikan dalam struktur kepemilikan antara lain: 1). Kepemilikan institusional

Kepemilikan institusional merupakan proporsi kepemilikan saham oleh investor institusi. Investor institusional diyakini memiliki kemampuan untuk memonitor tindakan manajemen lebih baik dibandingkan investor individual. Institusi sebagai pemilik saham dianggap lebih mampu dalam mendeteksi kesalahan yang terjadi. Menurut Lee et al.(1992) dalam Andri Rachmawati dan Hanung Triatmoko (2007:7) ada perbedaan pendapat mengenai investor

(10)

18

institusional. Pendapat pertama didasarkan pada pandangan bahwa investor institusional adalah pemilik sementara, sehingga hanya terfokus pada laba sekarang (current earnings). Jika perubahan pada laba sekarang tidak dirasakan menguntungkan oleh investor, maka investor dapat melikuidasi sahamnya. Investor institusional biasanya memiliki saham dalam jumlah besar, sehingga jika mereka melikuidasi sahamnya akan memengaruhi nilai saham secara keseluruhan. Untuk menghindari tindakan likuidasi dari investor, manajer akan melakukan manajemen laba.

Pendapat kedua memandang investor institusional sebagai investor yang berpengalaman (sophisticated). Menurut pendapat ini, investor lebih terfokus pada laba masa datang (future earnings) yang lebih besar relatif dari laba sekarang. Dalam Andri Rachmawati dan Hanung Triatmoko (2007:8) Shiller dan Pound (1989) menjelaskan bahwa investor institusional menghabiskan lebih banyak waktu untuk melakukan analisis investasi dan mereka memiliki akses atas informasi yang terlalu mahal perolehannya bagi investor lain. Investor institusional akan melakukan monitoring secara efektif dan tidak akan mudah diperdaya dengan tindakan manipulasi yang dilakukan manajer.

2). Kepemilikan manajerial

Kepemilikan saham manajerial merupakan kepemilikan saham terbesar oleh manajemen perusahaan. Hamonangan Siallagan dan M. Machfoedz (2006) mengadakan penelitian mengenai pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kualitas laba dengan discretionary accrual dan nilai perusahaan yang diukur dengan Tobin’s Q menyimpulkan hasil pengujiannya bahwa kepemilikan

(11)

19

manajerial berpengaruh secara positif terhadap kualitas laba, sedangkan pengaruh kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan adalah negatif. Shleifer dan Vishny (1986) dalam Hamonangan Siallagan dan M. Machfoedz (2006:5) menyatakan bahwa kepemilikan saham yang besar dari segi nilai ekonomisnya memiliki insentif untuk memonitor. Penelitian Morck, Shleifer dan Vishny (1988) dalam Hamonangan Siallagan dan M. Machfoedz (2006) menguji hubungan antara kepemilikan manajerial dan komposisi dewan komisaris terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini menemukan bahwa nilai perusahaan meningkat sejalan dengan peningkatan kepemilikan manajerial sampai dengan 5%, kemudian menurun pada saat kepemilikan manajerial 5%-25%, dan kemudian meningkat kembali seiring dengan adanya peningkatan kepemilikan manajerial secara berkelanjutan. Menurut Sujono dan Ugy Soebiantoro (2007) kepemilikan manajerial akan mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerjanya, karena mereka juga ikut memiliki perusahaan. Ross et al (1999) dalam Hamonangan Siallagan dan M. Machfoedz (2006) menyatakan bahwa semakin besar kepemilikan manajemen dalam perusahaan maka manajemen akan cenderung untuk berusaha untuk meningkatkan kinerjanya untuk kepentingan pemegang saham dan untuk kepentingannya sendiri. Dengan kinerja yang meningkat maka akan meningkatkan nilai perusahaan.

2.1.6 Leverage

Umumnya perusahaan menggunakan baik pendanaan utang maupun pendanaan ekuitas. Kreditur biasanya tidak mau memberikan dana tanpa

(12)

20

perlindungan dari pendanaan ekuitas. Leverage mengacu pada jumlah pendanaan utang (yang memberikan pengembalian tetap) dalam struktur modal perusahaan.

Rasio leverage merupakan rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan menggunakan utang (Suad Husnan dan Enny Pujiastuti, 2006:70). Beberapa analis menggunakan istilah solvabilitas yang berarti mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya. Menurut Agnes Sawir (2004:10) leverage adalah penggunaan sumber dana yang menimbulkan beban tetap keuangan. Beban tetap keuangan berupa bunga yang harus dibayar tanpa mempedulikan tingkat laba perusahaan. Adapun rasio pengelolaan leverage dibagi menjadi tiga, yaitu: 1) Rasio Leverage adalah rasio total hutang terhadap total aktiva. Rasio ini

digunakan untuk menghitung persentase dana yang disediakan oleh kreditur. 2) Rasio kemampuan membayar bunga atau Time Interest Earned (TIE) adalah

rasio laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) terhadap beban bunga. Rasio ini mengukur kemampuan untuk membayar beban bunga tahunan.

3) Rasio kemampuan membayar beban tetap adalah rasio yang lebih luas cakupannya daripada rasio TIE karena mencakup kewajiban lease jangka panjang tahunan perusahaan. Rasio ini hampir sama dengan rasio kemampuan membayar bunga.

Myer dan Majluf (1984), dan Myers (1984) dalam Sujono dan Ugy Soebiantoro (2007) menyatakan bahwa perusahaan cenderung menggunakan internal equity terlebih dahulu, dan apabila memerlukan external finance, maka perusahaan akan mengeluarkan debt sebelum menggunakan external equity. Manajemen akan berhati-hati dalam melakukan peminjaman sebab jumlah utang

(13)

21

yang terlalu besar akan menimbulkan risiko financial distress sehingga nilai perusahaan akan turun. Kebijakan pendanaan perusahaan tentunya diperhatikan oleh investor agar tidak menimbulkan kerugian atas investasi yang ditanamkan. 2.1.7 Laba rugi selisih kurs

PSAK No. 10 mendefinisikan mata uang asing sebagai mata uang selain mata uang pelaporan suatu perusahaan. Sedangkan mata uang pelaporan sendiri didefinisikan sebagai mata yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan. Pada dasarnya semua mata uang berfungsi sebagai unit pengukuran bagi kegiatan ekonomi di negara–negara yang bersangkutan. Suatu transaksi dikatakan dinilai dengan mata uang tertentu jika besarnya dinyatakan dalam mata uang tersebut. Dari pengertian ini kemudian muncul istilah kurs mata uang.

Pelaporan selisih kurs merupakan suatu hal yang harus dilakukan oleh perusahaan yang mengalaminya. Begitu pentingnya masalah ini menjadikan Ikatan Akuntan Indonesia mengatur secara khusus dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 10 dan 11. Pentingnya masalah tersebut dipandang oleh adanya asumsi bahwa pelaporan selisih kurs mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap nilai perusahaan. Menurut Barret dan Spero (1975) dalam Chandrarin dan Tearney (2000) ada tiga faktor utama dalam pelaporan laba rugi selisih kurs yang perlu dipahami untuk menilai laporan keuangan perusahaan yaitu:

1). Metode akuntansi yang digunakan untuk menjabarkan laporan keuangan anak perusahaan asing dari mata uang asing ke mata uang sendiri.

(14)

22 3). Waktu pengakuan penjabaran laba atau rugi.

SFAS No. 52 dalam Chandrarin dan Tearney (2000) menyebutkan bahwa keuntungan atau kerugian transaksi dalam mata uang asing adalah hasil dari efek nilai tukar pada transaksi dalam mata uang selain mata uang fungsional. Dalam PSAK No. 10 paragraf 14 dijelaskan bahwa selisih kurs dapat timbul apabila terdapat perubahan kurs antara tanggal transaksi dan tanggal penyelesaian (settlement date) pos moneter yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing. Jika timbulnya dan penyelesaian suatu transaksi berada dalam beberapa periode akuntansi, maka selisih kurs harus diakui setiap periode akuntansi dengan memperhitungkan perubahan kurs untuk masing-masing periode. Selisih kurs juga terjadi karena fluktuasi kurs sehari-hari atau karena kebijakan pemerintah di bidang moneter. Selain itu selish kurs juga dapat terjadi karena devaluasi atau depresiasi luar biasa atas suatu mata uang. PSAK No. 10 Paragraf 32 menyebutkan bahwa selisih kurs dapat disebabkan karena suatu devaluasi atau depresiasi luar biasa suatu mata uang dimana tidak mungkin dilakukan hedging dan menimbulkan kewajiban yang tak terselesaikan akibat perolehan aktiva yang harus dibayar dalam suatu mata uang asing.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk melihat adanya hubungan antara pelaporan laba rugi selisih kurs dan harga saham. Ma dan Kao (1990) dalam Suciwati dan Mas’ud Machfoedz (2002) menggunakan enam Negara dalam penelitiannya dan menemukan bahwa apresiasi uang domestik berpengaruh negatif pada pergerakan harga saham domestik untuk perekonomian yang didominasi ekspor dan berpengaruh positif pada pergerakan harga saham

(15)

23

domestik di suatu perekonomian yang didominasi impor. Penelitian Chandrarin dan Tearney (2000) menyimpulkan bahwa ada hubungan antara pelaporan rugi selisih kurs dan harga saham. Harga saham ini dapat mencerminkan nilai perusahaan. Hendri Kurniawan (2005) meneliti pengaruh pelaporan selisih kurs terhadap nilai perusahaan, yang menunjukkan bahwa variabel selisih kurs berpengaruh secara signifikan terhadap nilai saham.

2.1.8 Struktur kepemilikan saham dan nilai perusahaan

Beberapa penelitian tentang struktur kepemilikan terhadap nilai perusahaan telah banyak dilakukan oleh peneliti. Hamonangan Siallagan dan M. Machfoedz (2006) menyebutkan bahwa pemisahan kepemilikan dapat menimbulkan konflik dalam pengendalian dan pelaksanaan pengelolaan perusahaan yang menyebabkan para manajer bertindak tidak sesuai dengan keinginan para pemilik. Konflik yang terjadi akibat pemisahan kepemilikan ini disebut dengan konflik keagenan. Konflik keagenan dapat menyebabkan penurunan nilai perusahaan.

Konflik keagenan dapat dipengaruhi oleh struktur kepemilikan. Struktur kepemilikan oleh beberapa ahli dipercaya mampu memengaruhi jalannya perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu maksimalisasi nilai perusahaan. Untung Wahyudi dan H. P. Pawestri (2006) menyebutkan bahwa hal ini disebabkan oleh karena adanya kontrol yang mereka miliki.

Fitri dan Mamduh (2003) dalam Imanda F. Putri dan Mohammad Nasir (2006) menyebutkan bahwa semakin tinggi kepemilikan institusional maka akan semakin meningkatkan pengawasan pihak eksternal terhadap perusahaan.

(16)

24

Semakin tinggi kepemilikan institusional maka semakin kuat kontrol eksternal terhadap perusahaan. Dengan adanya pengawasan pihak eksternal maka jalannya perusahaan dapat lebih diawasi sehingga dapat mencapai tujuan. Nilai perusahaan dapat meningkat jika institusi mampu menjadi alat monitoring yang efektif (Slovin dan Sushka, 1993) dalam Untung Wahyudi dan H. P. Pawestri (2006). Chen dan Steiner (2000) dalam Untung Wahyudi dan H. P. Pawestri (2006) menyebutkan hubungan antara analysts coverage yang merupakan external monitoring function dan Tobins’Q sebagai proksi nilai perusahaan adalah positif dan signifikan.

Fuerst dan Kang (2000) dalam Untung Wahyudi dan H. P. Pawestri (2006) menemukan hubungan insider ownership dengan nilai pasar setelah mengendalikan kinerja perusahaan. Hasil penelitian yang dilakukan Untung Wahyudi dan H. P. Pawestri (2006) menyebutkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Ini sejalan dengan penelitian Iturriaga dan Sanz (1998) yang mengatakan bahwa hubungan struktur kepemilikan manajerial dan nilai perusahaan merupakan hubungan monotonik. Hubungan non-monotonik timbul karena adanya insentif yang dimiliki manajer dan mereka berusaha untuk melakukan pensejajaran kepentingan dengan outsider ownership dengan cara meningkatkan kepemilikan saham mereka jika nilai perusahaan meningkat. Jensen dan Meckling (1976) dalam Untung Wahyudi dan H. P. Pawestri (2006) menyatakan salah satu cara untuk mengurangi agency cost adalah dengan meningkatkan kepemilikan saham oleh manajemen. Proporsi kepemilikan saham yang dikontrol oleh manajer dapat memengaruhi kebijakan perusahaan.

(17)

25

Kepemilikan manajerial akan mensejajarkan kepentingan manajemen dan pemegang saham (outsider ownership), sehingga akan memperoleh manfaat langsung dari keputusan yang diambil serta menanggung kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah. Pernyataan tersebut menyatakan bahwa semakin besar proporsi kepemilikan manajemen dalam perusahaan, maka manajemen akan cenderung lebih giat untuk kepentingan pemegang saham yang notabene adalah dirinya sendiri. Peningkatan kinerja dari manajemen tentunya akan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

2.1.9 Leverage dan nilai perusahaan

Hutang merupakan instrumen yang sangat sensitif terhadap perubahan nilai perusahaan. Nilai perusahaan ditentukan oleh struktur modal (Mogdiliani dan Miller, 1999) dalam Evis Soliha dan Taswan (2002). Semakin tinggi proporsi hutang maka semakin tinggi harga saham, namun pada titik tertentu peningkatan hutang akan menurunkan nilai perusahaan karena manfaat yang diperoleh dari penggunaan hutang lebih kecil daripada biaya yang ditimbulkannya. Mogdiliani dan Miller (1963) dalam Evis Soliha dan Taswan (2002) berpendapat bila ada pajak penghasilan perusahaan maka penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan karena biaya bunga hutang adalah biaya yang mengurangi pembayaran pajak. Namun demikian pendapat Mogdiliani dan Miller belum mempertimbangkan financial distress dan agency cost. Model trade off tersebut menjelaskan bahwa perusahaan yang membayar pajak tinggi sebaiknya lebih banyak menggunakan hutang dibandingkan dengan perusahaan yang membayar pajak rendah. Namun demikian penggunaan hutang yang tinggi akan berhadapan

(18)

26

dengan kebangkrutan dan biaya agensi yang tinggi. Dengan demikian peningkatan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan, namun pada titik tertentu akan menurunkan nilai perusahaan.

Penelitian Evis Soliha dan Taswan (2002) menyimpulkan bahwa kebijakan hutang berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini konsisten dengan penelitian Jensen (1986) yang menyatakan dengan adanya hutang akan dapat digunakan untuk mengendalikan penggunaan free cash flow secara berlebihan oleh manajemen, dengan demikian dapat menghindari investasi yang sia-sia yang pada gilirannya dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Penelitian lain seperti yamg dilakukan Sujono dan Ugy Soebiantoro (2007) menyimpulkan bahwa leverage mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini mendukung teori struktur modal model trade off yang menyatakan bahwa jumlah hutang yang semakin meningkat akan menurunkan nilai perusahaan. Penelitian Andri Rachmawati dan Hanung Triatmoko (2007) menyebutkan bahwa leverage berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan sehingga semakin besar leverage perusahaan maka semakin rendah nilai perusahaan. Hal ini mungkin disebabkan ketakutan pasar terhadap adanya kemungkinan kesulitan keuangan yang akan dialami perusahaan.

2.1.10 Laba rugi selisih kurs dan nilai perusahaan

Selisih kurs merupakan salah satu indikator keuangan yang mungkin dulu tidak begitu diperhatikan, terutama dalam kondisi perekonomian negara ataupun nilai mata uang yang cenderung stabil. Namun seiring dengan berkembangnya perekonomian dunia, yang juga mengakibatkan berkembangnya transaksi

(19)

27

internasional, selisih kurs rentan terjadi. Selisih kurs memang bukanlah hal yang bisa dikendalikan oleh perusahaan. Namun selisih kurs dapat di-manage dengan strategi yang tepat sehingga paling tidak walaupun perusahaan mengalami selisih kurs maka selisih kurs yang terjadi adalah selisih laba, bukan selisih rugi. Selisih kurs disinyalir ikut menyebabkan harga saham bergerak naik ataupun turun, yang nantinya juga akan memengaruhi nilai perusahaan.

Ketika perusahaan melaporkan laba selisih kurs, investor memandang hal tersebut sebagai salah satu wujud kejelian perusahaan untuk melihat kecenderungan dalam ekonomi dunia. Investor pun percaya bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba yang menjanjikan. Hal ini akhirnya menggerakkan investor untuk menanamkan modalnya dalam perusahaan melalui saham-saham perusahaan. Peningkatan permintaan saham ini mengakibatkan harga saham ikut bergerak naik, sehingga nilai perusahaan juga ikut meningkat. Penelitian Chandrarin dan Tearney (2000) menunjukkan bahwa selisih kurs berpengaruh terhadap harga saham secara signifikan.

2.2 Pembahasan Hasil Penelitian Sebelumnya

Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Andri Rachmawati dan Hanung Triatmoko (2007) dengan judul “Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan.” Penelitian ini menggunakan 38 sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta periode 2001-2005. Penelitian ini menggunakan Investment Opportunity Set (IOS) dan mekanisme corporate governance sebagai variabel independen serta kualitas laba dan nilai perusahaan sebagai variabel dependennya. Penelitian ini juga menggunakan tiga

(20)

28

variabel kontrol, yaitu ukuran KAP, ukuran perusahaan, dan leverage. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) kualitas laba yang diukur dengan discretionary accrual tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, (2) IOS berpengaruh negatif terhadap kualitas laba dan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, (3) keberadaan komite audit dan komposisi komisaris independen tidak berpengaruh terhadap kualitas laba dan nilai perusahaan, (4) kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap kualitas laba tetapi berpengaruh terhadap nilai perusahaan, (5) variabel kontrol: ukuran KAP berpengaruh positif terhadap kualitas laba tetapi tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Leverage dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap kualitas laba tetapi keduanya berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan sekarang adalah sama-sama meneliti struktur kepemilikan saham dan leverage pada nilai perusahan yaitu perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Perbedaannya adalah penelitian sekarang lebih memfokuskan pada nilai perusahaan, perbedaan periode serta perbedaan variabel independen lainnya. Penelitian sekarang menggunakan laba rugi selisih kurs sebagai variabel independen selain struktur kepemilikan saham dan leverage.

Sujono dan Ugy Soebiantoro (2007) melakukan penelitian tentang nilai perusahaan dengan judul “Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Leverage, Faktor Intern dan Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan (Studi empirik pada perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Jakarta)”. Penelitian ini menggunakan periode waktu 2000-2004. Penelitian ini menggunakan struktur

(21)

29

kepemilikan saham, leverage, faktor intern dan faktor ekstern sebagai variabel independen dan leverage serta nilai perusahaan sebagai variabel dependen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) kepemilikan institusional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap leverage dan nilai perusahaan, (2) kepemilikan manajerial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap leverage dan nilai perusahaan, (3) suku bunga mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap leverage dan nilai perusahaan, (4) keadaan pasar modal tidak berpengaruh signifikan terhadap leverage namun berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan, (5) pertumbuhan pasar berpengaruh positif terhadap leverage dan nilai perusahaan, (6) profitabilitas berpengaruh negatif terhadap leverage namun berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, (7) pembayaran dividen berpengaruh positif terhadap leverage dan nilai perusahaan, (8) ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap leverage dan nilai perusahaan, (9) pangsa pasar tidak berpengaruh terhadap leverage namun berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, (10) leverage mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan sekarang adalah sama-sama meneliti pengaruh struktur kepemilikan saham dan leverage terhadap nilai perusahaan. Perbedaannya adalah penelitian sekarang lebih difokuskan pada nilai perusahaan, penelitian sekarang juga lebih mengkhususkan pada penelitian di perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, penelitian sekarang menambahkan variabel independen lain yaitu laba rugi selisih kurs, serta adanya perbedaan periode waktu penelitian.

(22)

30

Grahita Chandrarin dan Michael G. Tearney (2000) melakukan penelitian tentang reaksi pasar dengan judul “The Effect of Reporting of Exchange Rate Loses on the Stock Market Reaction”. Mereka menguji pengaruh pelaporan rugi selisih kurs, perubahan laba per saham, perubahan arus kas, dan perubahan pendapatan secara bersama-sama terhadap perubahan harga saham. Dengan menggunakan saham sebanyak 106 perusahaan manufaktur antara 1995-1996 yang terdapat dalam Standard dan Poor 500, menemukan bahwa secara serentak pelaporan rugi selisih kurs, perubahan laba per saham, perubahan arus kas, dan perubahan pendapatan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perubahan harga saham. Selain itu penelitian ini juga menyebutkan bahwa perubahan harga saham berpengaruh positif signifikan terhadap earning per share dan rugi selisih kurs.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan sekarang adalah sama-sama meneliti pengaruh pelaporan selisih kurs. Perbedaannya adalah penelitian sekarang meneliti tentang nilai perusahaan, penelitian sekarang lebih melihat pada laba selisih kurs, adanya perbedaan periode waktu penelitian, juga perbedaan variabel-variabel lainnya dalam penelitian tersebut yang berbeda dengan variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini.

Penelitian tentang nilai perusahaan juga pernah dilakukan oleh Hendri Kurniawan (2005) dengan judul “Analisis Pengaruh Pelaporan Selisih Kurs dan Indikator Keuangan Positif Terhadap Nilai Perusahaan”. Penelitian ini menggunakan periode waktu 2002-2003 dengan menggunakan sampel sebanyak 90 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Penelitian ini

(23)

31

menggunakan variabel laba rugi selisih kurs dan indikator keuangan positif sebagai variabel independen serta variabel nilai perusahaan sebagai variabel dependen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) selisih kurs mempunyai pengaruh yang negatif signifikan terhadap nilai perusahaan, (2) perubahan pendapatan mempunyai pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, (3) perubahan laba per saham mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, (4) perubahan total arus kas mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, (5) secara serempak pengaruh variabel selisih kurs, perubahan pendapatan, perubahan laba per saham, dan perubahan total arus kas terhadap nilai perusahaan adalah cukup signifikan.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan sekarang adalah sama-sama meneliti mengenai pengaruh laba rugi selisih kurs terhadap nilai perusahaan. Perbedaannya adalah perbedaan variabel independen lain selain laba rugi selisih kurs, serta perbedaan periode waktu penelitian.

2.3 Rumusan Hipotesis

Penelitian-penelitian sebelumnya yang disintesakan dari kajian pustaka memberikan argumentasi bahwa kepemilikian institusional, kepemilikan manajerial, leverage, dan pelaporan laba rugi selisih kurs memengaruhi nilai perusahaan. Secara skematis kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan seperti Gambar 2.1.

(24)

32

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Beberapa penelitian telah meneliti adanya pengaruh kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan. Seperti penelitian yang dilakukan Andri Rachmawati dan Hanung Triatmoko (2007) serta Sujono dan Ugy Soebiantoro (2007). Hasil penelitian-penelitian tersebut masih kontradiktif. Andri Rachmawati dan Hanung Triatmoko (2007) serta Sujono dan Ugy Soebiantoro (2007) juga meneliti pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan yang menemukan hasil bahwa leverage berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Penelitian mengenai pengaruh pelaporan laba rugi selisih kurs terhadap nilai perusahaan dilakukan oleh Hendri Kurniawan (2005) dengan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa selisih kurs berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut maka hipotesis pertama penelitian ini adalah:

H1 : kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, leverage, dan laba rugi selisih kurs secara simultan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Fitri dan Mamduh (2003) dalam Imanda F. Putri dan Mohammad Nasir (2006) menyebutkan bahwa semakin tinggi kepemilikan institusional maka akan semakin

Kepemilikan Institusional Kepemilikan Manajerial Leverage

Laba Rugi Selisih Kurs

(25)

33

meningkatkan pengawasan pihak eksternal terhadap perusahaan. Semakin tinggi kepemilikan institusional maka semakin kuat kontrol eksternal terhadap perusahaan. Dengan adanya pengawasan pihak eksternal maka jalannya perusahaan dapat lebih diawasi sehingga dapat mencapai tujuan. Nilai perusahaan dapat meningkat jika institusi mampu menjadi alat monitoring yang efektif (Slovin dan Sushka, 1993) dalam Untung Wahyudi dan H. P. Pawestri (2006). Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis 2a dalam penelitian ini adalah:

H2a : kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian yang dilakukan Untung Wahyudi dan H. P. Pawestri (2006) menyebutkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Proporsi kepemilikan saham yang dikontrol oleh manajer dapat memengaruhi kebijakan perusahaan. Semakin besar proporsi kepemilikan manajemen dalam perusahaan, maka manajemen akan cenderung lebih giat untuk kepentingan pemegang saham yang notabene adalah dirinya sendiri. Peningkatan kinerja dari manajemen tentunya akan berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis 2b dalam penelitian ini adalah:

H2b : kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Nilai perusahaan ditentukan oleh struktur modal (Mogdiliani dan Miller, 1999) dalam Evis Soliha dan Taswan (2002). Semakin tinggi proporsi hutang maka semakin tinggi harga saham, namun pada titik tertentu peningkatan hutang akan menurunkan nilai perusahaan karena manfaat yang diperoleh dari penggunaan hutang lebih kecil daripada biaya yang ditimbulkannya. Penelitian Andri Rachmawati dan Hanung Triatmoko (2007) menyebutkan bahwa leverage

(26)

34

berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan sehingga semakin besar leverage perusahaan maka semakin rendah nilai perusahaan. Hal ini mungkin disebabkan ketakutan pasar terhadap adanya kemungkinan kesulitan keuangan yang akan dialami perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis 2c dalam penelitian ini adalah:

H2c : leverage berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

Selisih kurs disinyalir ikut menyebabkan harga saham bergerak naik ataupun turun, yang nantinya juga akan memengaruhi nilai perusahaan. Ketika perusahaan melaporkan laba selisih kurs, investor memandang hal tersebut sebagai salah satu wujud kejelian perusahaan untuk melihat kecenderungan dalam ekonomi dunia. Hal ini akan menggerakkan investor untuk menanamkan modal pada perusahaan, sehingga harga saham ikut bergerak naik. Kenaikan harga saham tentunya akan menaikkan nilai perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis 2d dalam penelitian ini adalah:

H2d : laba selisih kurs berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :