BAB I PENDAHULUAN. membangun infrastruktur yang dinamakan sebagai Jalan Lingkar Salatiga

20 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dalam beberapa tahun terakhir ini, pemerintah Kota Salatiga membangun infrastruktur yang dinamakan sebagai Jalan Lingkar Salatiga (JLS). JLS tersebut terbentang dari desa Tingkir menuju desa Blotongan yang melewati wilayah dari Kecamatan Sidorejo. JLS merupakan sebuah sarana transportasi darat yang dapat memperlancar laju lalulintas jalur Semarang-Solo atau sebaliknya. Pembangunan JLS bertujuan untuk memperluas aktivitas sosial-ekonomi masyarakat yang sebelumnya hanya terpaku pada titik pusat kota Salatiga yang berada di jalan Jendral Soedirman.

Permasalahan tanah senantiasa menjadi suatu persoalan yang vital dalam segala aspek kehidupan. Misalnya di pedesaan, lahan merupakan faktor yan dominan di dalam unit ekonomi, lahan sebagai sumber pokok pendapatan. Dalam prakteknya, pembangunan jalan tersebut tidak pernah lepas dari kebutuhan lahan termasuk JLS yang menjadi faktor penting yang menyebabkan sempitnya lahan subur, sehingga banyak sawah di Pulutan yang beralih fungsi. Bagi petani Pulutan, lahan merupakan modal dasar yang sangat penting untuk kelangsungan aktivitas ekonomi mereka.

Desa Pulutan memang dikenal sebagai desa yang masih luas dengan lahan pertanian yang produktif sehingga mata pencaharian mayoritas masyarakat Pulutan sebagai petani. Pembangunan yang direncanakan dari

(2)

pemerintah Kota Salatiga seperti halnya JLS, lebih bersifat topdown dari pusat (pemerintah Kota Salatiga) yang menyebabkan benturan antara kepentingan pusat dengan kepentingan masyarakat Pulutan sehingga semakin menyempitnya kapasitas sektor pertanian untuk memberikan kesempatan petani untuk bekerja. Padahal masyarakat Pulutan mengandalkan lahan pertanian tersebut sebagai lahan utama untuk mencari nafkah sehari-hari. Ketika JLS itu dibangun mengharuskan lahan sawah yang ada di Pulutan menjadi bagian dari JLS, sehingga asumsinya adalah masyarakat Pulutan yang

notabene sebagai masyarakat petani akan kehilangan mata pencaharian

mereka karena pembangunan JLS membutuhkan lahan pertanian tersebut. Implikasi yang muncul akan sangat kompleks, ketika alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian yang secara langsung berpengaruh pada pergeseran kegiatan ekonomi petani di desa Pulutan.

Dengan adanya pembangunan JLS, suatu persoalan yang kemudian muncul seiring dengan pembangunan dan pengembangan kota adalah desa Pulutan yang menjadi daerah pinggiran kota yang menghadapi tekanan kegiatan lingkungan perkotaan yang berdampak pada masyarakat lokal khususnya petani di desa Pulutan. Dengan berfungsinya JLS sebagai sarana transportasi bagi masyarakat, keadaaan sekitar Pulutan menjadi ramai karena kegiatan arus lalulintas yang terjadi. Hal tersebut menjadikan masyarakat Pulutan shock dengan keramaian di JLS karena desa Pulutan sebagai daerah persawahan yang notabene jauh dari hiruk pikuk aktivitas lalulintas. Seiring meningkatnya arus lalulintas di JLS, sektor ekonomi pun berkembang di

(3)

sekitar Pulutan, sehingga terjadinya perubahan penggunaan lahan pertanian di desa Pulutan yang diakibatkan oleh peningkatan pembangunan fisik berupa JLS berdampak pada pergeseran kegiatan ekonomi petani. Masyarakat petani menjadi tergerak untuk melakukan kegiatan pada sektor non pertanian. Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan sisa lahan yang masih dimiliki oleh para petani yang terkena pembangunan JLS. Masyarakat Pulutan melihat kondisi berfungsinya JLS sebagai sebuah peluang untuk menambah pendapatan mereka yang bertujuan untuk menyediakan tempat mampir (singgah) bagi pengguna jalan. Ada petani yang memilih memanfaatkan sendiri sisa lahan yang ada untuk mendirikan warung dan ada petani yang lebih memilih menyewakan sisa lahannya untuk masyarakat umum yang berniat mendirikan warung serupa untuk berjualan. Sehingga setelah berfungsinya JLS, para petani mempunyai aktivitas ekonomi yang baru selain menjadi petani. Hal itu tentu saja akan menimbulkan perubahan sosial-ekonomi dengan terjadinya pergeseran kegiatan ekonomi petani setelah pembangunan JLS. Hal inilah yang menjadi subjek pada penelitian ini.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat ditarik suatu perumusan masalah yaitu :

1. Bagaimana proses terjadinya pergeseran kegiatan ekonomi petani setelah kehilangan lahan untuk pembangunan JLS?

2. Mengapa pergeseran kegiatan ekonomi tersebut terjadi? 3. Apa implikasi perubahan kegiatan ekonomi tersebut?

(4)

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya pergeseran kegiatan ekonomi petani di desa Pulutan.

2. Untuk mengetahui kegiatan ekonomi yang dilakukan petani desa Pulutan setelah alih fungsi lahan pertanian menjadi JLS .

3. Untuk mengetahui implikasi yang muncul dari perubahan kegiatan ekonomi petani di desa Pulutan.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memperkaya kajian sosiologis mengenai kegiatan ekonomi petani setelah pembangunan dimana belum banyak penelitian yang fokus kepada pergeseran kegiatan ekonomi petani khususnya di wilayah Pulutan sebagai akibat dari pengalifungsian lahan untuk kepentingan pembangunan Jalan Lingkar Salatiga (JLS), sehingga dapat menambah pengetahuan masyarakat khususnya berkaitan dengan dampak sosial ekonomi dari JLS bagi masyarakat petani Pulutan.

1.5 Tinjauan Pustaka

Penelitian tentang pergeseran kegiatan ekonomi petani sebagai implikasi penggunaan lahan pertanian untuk pembangunan fisik sudah dilakukan oleh beberapa peneliti. Kirana Prama Dewi (2007) dalam skripsi yang berjudul ‘Respon Masyarakat, Strategi Petani dan Implikasi Tekanan

(5)

lahan pertanian di desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DIY didominasi oleh pembangunan perumahan elite. Masyarakat petani desa Sariharjo memberikan respon yang negatif terhadap pembangunan perumahan elite karena dengan adanya pembangunan perumahan elite dapat merusak lingkungan dan ekosistem yang ada serta dapat mengurangi keguyuban yang sudah ada dalam masyarakat. Petani mengalami tekanan yang luar biasa pada alih fungsi lahan tersebut. Pasalnya, dari pergeseran mata pencaharian pertanian ke non pertanian tersebut tidak semuanya berhasil sehingga tidak mampu bertahan dengan keadaan yang ada setelah terjadi alih fungsi lahan.

Penelitian yang lain yang dilakukan oleh Edy Andriyanto (2002) dalam skripsi yang berjudul ‘Perkembangan Kota, Alih Fungsi Lahan, dan Respon

Masyarakat Petani’ menuliskan bahwa terjadinya perubahan penggunaan

lahan dengan munculnya perumahan di desa Sidoarum yang berdampak pada degradasi lingkungan dan perubahan sosial, ekonomi, budaya masyarakat antara lain menyangkut mata pencaharian, konsepsi, dan praktek hidup bersama serta aspek sosio kultur lainnya. Hal ini tentunya memunculkan berbagai respon dari masyarakat terhadap kondisi riil yang ada, bahkan masyarakat petani memberikan protes terhadap pembangunan perumahan di Sidoarum. Secara umum posisi petani terdesak oleh gejala pemekaran kota sehingga mengharuskan petani untuk mempunyai strategi dalam menghadapi perubahan yang terjadi baik di bidang sosial, ekonomi, dan budaya yakni mereka pergi meninggalkan lahan pertaniannya dan melakukan migrasi atau

(6)

mobilitas kerja, beralih pekerjaan ke sektor non pertanian serta tetap bertahan di sektor pertanian.

1.6 Kerangka Teori

1.6.1 Desires, Beliefs, Opportunities

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori DBO (Desires,

Beliefs, Opportunities) yang pertama kali diungkapkan oleh Peter Hedstrom,

sosiolog dari Universitas Oxford. Desires, Beliefs dan Opportunities merupakan teori yang berbasis analisis tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Tindakan sosial yang dilakukan seseorang, terjadi bukan karena adanya unsur ketidaksengajaan sehingga memunculkan tindakan sosial tertentu, akan tetapi tindakan sosial tersebut memang sengaja dibuat (Hedstrom, 2005: 39).

Desires merupakan keinginan yang dimiliki oleh aktor untuk

melakukan tindakan sosial, sedangkan Beliefs yang dimaksud adalah kepercayaan atau keyakinan yang dianggap benar oleh aktor. Opportunities adalah kesempatan yang dimiliki oleh aktor. Ketiga komponen tersebut yang melatarbelakangi tindakan sosial seseorang.

Dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 1.1 Komponen dari teori DBO (Hedstrom, 2005:39) Desires of actor i

Beliefs of actor i

Opportunities of actor i

(7)

Seperti pada gambar diatas, tindakan sosial (action) aktor di bentuk karena ada tiga komponen yaitu Desires, Beliefs, Opportunities. Jika dimasukkan ke dalam konsep pergeseran kegiatan ekonomi petani di desa Pulutan, desires dari petani di desa Pulutan adalah keinginan untuk tetap mempertahankan kelangsungan hidup setelah kehilangan lahan yang digunakan untuk pembangunan JLS dengan mata pencaharian yang bergeser dari sektor pertanian ke sektor non pertanian. Sedangkan beliefs yang dimaksudkan adalah para petani di desa Pulutan yang lahannya menjadi bagian dari pembangunan JLS beranggapan bahwa perubahan mata pencaharian dari sektor pertanian ke sektor non pertanian yang dipilih setelah adanya pembangunan JLS akan semakin meningkatkan penghasilan masyarakat. Opportunities yang didapat adalah sebuah peluang yang dimanfaatkan oleh petani di desa Pulutan untuk meningkatkan penghasilan dengan memanfaatkan keadaan setelah berfungsinya JLS. Action yang dihasilkan adalah setelah terjadinya alih fungsi lahan yang kemudian ditunjukkan melalui tindakan petani di desa Pulutan yang melakukan kegiatan ekonomi non pertanian.

(8)

Dalam konsep ini ada kemungkinan lain, yaitu adanya pengaruh dari pihak luar. Seperti dijelaskan pada gambar dibawah ini :

Gambar 1.2 Interaksi dyadic (Hedstrom, 2005: 44)

Pada gambar diatas menjelaskan tentang interaksi dyadic. Menurut Hedstorm, terjadinya interaksi dyadic ketika adanya interaksi antara dua aktor secara langsung, dimana salah satu aktor mempengaruhi aktor yang lain (seperti dalam gambar 1.2, actor ’i’ mempengaruhi actor ’j’). Jika dimasukkan ke dalam konteks masyarakat petani di desa Pulutan, actor ’j’ merupakan seorang petani di desa Pulutan yang belum bergeser mata pencahariannya, yang kemudian dipengaruhi oleh actor ’i’ yang merupakan seorang petani di desa Pulutan yang sudah bergeser mata pencahariannya dan akan menghasilkan action atau tindakan sosial yang berbeda. Keinginan (desires) dan keyakinan (beliefs) yang telah dipengaruhi oleh petani yang sudah bergeser kegiatan ekonominya (actor i) juga mempengaruhi kesempatan (opportunities) untuk para petani yang lain di desa Pulutan.

Dari ketiga komponen tersebut, menghasilkan sebuah action atau tindakan sosial yang dilakukan oleh petani desa Pulutan dengan beralih mata pencaharian dari pertanian ke non pertanian. Dan secara tidak langsung, desa

Action or behaviour

of actor i Beliefs of actor j Desires of actor j

Opportunities of actor j

Action of actor j

(9)

Pulutan yang dulunya menjadi sebuah desa yang berada di pinggiran kota yang notabene sepi karena hanya ada area persawahan, kini berubah menjadi desa dengan kawasan yang ramai karena tidak terlepas dari dampak sosial ekonomi yang dimunculkan dari adanya pembangunan JLS.

1.6.2 Konsep Keterlekatan (embeddedness)

Konsep keterlekatan (embeddedness) pertama kali diungkapkan oleh Karl Polanyi (1944) dalam bukunya yang berjudul ‘The Great

Transformation’. Transformasi merupakan sebuah perubahan dalam motif

tindakan para anggota masyarakat: motif substensi harus digantikan dengan motif keuntungan (Karl Polanyi, 1944, 56). Adanya sistem pasar yang terjadi dalam transformasi sosial , keberlangsungan dari sistem pasar tersebut harus dibiarkan tanpa adanya campur tangan dari luar dimana yang disebut dengan ekonomi pasar. Ekonomi pasar merupakan sebuah sistem pasar yang mampu mengatur dirinya sendiri. Pergeseran kegiatan ekonomi petani disebabkan oleh pembangunan, harus melepaskan hubungan-hubungan di antara manusia dan hal tersebut akan membawa ancaman pemusnahan terhadap habitat alaminya. Menurut Polanyi (1944), pengaturan ekonomi masyarakat tertanam dalam hubungan – hubungan sosialnya. Dia tidak bertindak demi menjaga kepentingan individualnya dalam hal kepemilikan barang-barang material melainkan dia bertindak demi mengamankan kedudukan sosial, hak-hak sosial dan aset-aset sosialnya1.

      

1 Diunduh dari http://mantrikarno.wordpress.com/2008/11/22/the-great-transformation-karl-polanyi/, diakses pada tanggal 15 Mei 2013 

(10)

“The outstanding discovery of recent historical and anthropological research is that man’s economy, as a rule, is submerged in his social relationships. He does not act so as to safeguard his individual interest in the possession of material goods; he acts so as to safeguard his social standing, his social claims, his social assets.” (Polanyi, 1944:46)

Pemeliharaan terhadap ikatan-ikatan sosial, di sisi lain sangatlah penting. Pertama, karena dengan mengabaikan aturan kehormatan yang disepakati, individu telah melepaskan dirinya dari masyarakat dan menjadi orang yang terbuang; kedua, karena dalam jangka panjang semua kewajiban sosial bersifat timbal balik (reciprocal), dan pemenuhan kewajiban-kewajiban tersebut juga melayani kepentingan- kepentingan individu untuk saling memberi dan menerima secara maksimal.

Tindakan ekonomi merupakan suatu situasi yang bersifat sosial yang tercermin pada interaksi sosial di dalam jaringan (social networks) dimana setiap kepentingan antar aktor – aktor ekonomi bertemu dan melakukan suatu transaksi. Karl Polanyi menjelaskan konsepnya mengenai ‘The Theory of

Embeddedness’, dimana teori ekonomi saat ini hanya melihat tindakan

ekonomi sebagai ‘individual atomized’, padahal sesungguhnya tindakan ekonomi sangat dipengaruhi oleh relasi individu dan keberadaan struktur sosial serta budaya yang mempengaruhi tindakan rasionalitasnya. Sehingga tindakan ekonomi merupakan bagian dari proses sosial.

Pada konteks penelitian ini, di desa Pulutan terjadi perubahan alih fungsi lahan pertanian menjadi sarana infrastruktur (JLS) dan memunculkan pergeseran kegiatan ekonomi petani yang mengiringinya sebagai

(11)

kecenderungan kemajuan ekonomi. Ketika JLS sudah beroperasional dengan baik, keadaan desa Pulutan menjadi ramai karena hilir mudik kendaraan yang melintasi JLS. Tidak jarang, kebiasaan dari para pengguna jalan yang berhenti untuk beristirahat. Melihat pola-pola yang ada, hal itu kemudian dijadikan peluang (opportunities) oleh masyarakat petani untuk mendirikan warung. Semakin banyaknya minat masyarakat luar Pulutan yang juga ingin mendirikan warung, para petani yang mempunyai sisa lahan yang berada di tepi JLS menyewakan lahannya untuk didirikan warung. Kemudian masing-masing aktor akan membentuk sebuah jaringan yang menjalin interaksi sosial satu sama lain. Dimana masing-masing aktor mempunyai kepentingan tersendiri, seperti halnya petani yang mendirikan warung di tepi JLS, mereka mendirikan warung tersebut agar mendapatkan hasil yang lebih karena melihat peluang semakin ramainya pengguna jalan yang melewati JLS daripada hanya mengandalkan pertanian. Pemilik sewa tanah yang mempunyai sisa lahan untuk dapat disewakan kepada masyarakat yang ingin mendirikan warung di sekitar JLS. Sedangkan masyarakat yang ingin beristirahat atau hanya sekedar ingin menikmati suasana pemandangan alam di sekitar desa Pulutan dapat singgah ke warung-warung tersebut sambil menikmati jajanan (makanan dan minuman) yang disediakan oleh warung-warung tersebut. Adanya relasi sosial di antara petani yang mendirikan warung, pemilik sewa tanah serta masyarakat memberikan keuntungan ekonomi tersendiri bagi masing-masing pihak. Proses sosial tersebut akan terus berlangsung dengan baik jika masing-masing pihak menjaga relasi sosial yang sudah terjalin. Dampak sosial

(12)

ekonomi yang dimunculkan akan dapat dirasakan pada masyarakat Pulutan pada khususnya dan masyarakat Kota Salatiga pada umumnya.

1.7 Metode Penelitian 1.7.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian berada di desa Pulutan, kelurahan Pulutan, kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga. Lokasi penelitian ini dipilih karena merupakan salah satu wilayah yang lahan pertaniannya digunakan oleh pemerintah Kota Salatiga dalam pembangunan Jalan Lingkar Salatiga (JLS). Dimana lahan tersebut menjadi lahan utama masyarakat Pulutan untuk mencari nafkah sebagai petani. Selain itu, mudahnya peneliti untuk mengakses lokasi penelitian juga menjadi alasan pemilihan lokasi.

1.7.2 Jenis Penelitian

Penelitian ini menerapkan metode penelitian kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Mayer dan Greenwood (Silalahi, 2010:27-28) deskriptif kualitatif merupakan suatu jenis penelitian yang menyajikan satu gambar yang terperinci tentang satu situasi khusus, setting sosial, atau hubungan. Tipe penelitian deskriptif kualitatif bertujuan menggambarkan secara cermat karakteristik dari suatu gejala sosial dan berusaha mendapatkan serta menyampaikan fakta-fakta dengan jelas dan teliti, dan lengkap.

Pemilihan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini didasarkan pada tujuan penelitian, yakni untuk mengetahui kegiatan ekonomi petani di desa Pulutan setelah adanya pembangunan JLS dengan melihat faktor-faktor yang

(13)

melatarbelakangi pergeseran kegiatan ekonomi tersebut, sehingga memunculkan dampak sosial ekonomi bagi petani.

1.7.3 Jenis data

Jenis data ini dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah di atas. Ada dua jenis data yang dibutuhkan, yaitu :

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh dari informan secara langsung yang terkait dalam penelitian. Menurut Keller, dkk (Silalahi, 2010:289) data primer adalah data yang dikumpulkan dari situasi aktual ketika peristiwa terjadi. Data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti dengan melihat keadaan yang terjadi di sekitar desa Pulutan khususnya di JLS serta dari data hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) “ Sumber Makmur” kelurahan Pulutan, kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga yang bernama Bapak As’adi sebagai key person. Dari hasil wawancara dengan Bapak As’adi, peneliti memperoleh data para petani di desa Pulutan yang lahannya menjadi bagian dari pembangunan JLS. Dari hasil wawancara dengan para petani, data yang didapatkan adalah berkaitan dengan luasnya lahan sebelum terkena pembangunan JLS, luas lahan setelah pembangunan JLS, berkaitan dengan pembebasan lahan petani, harga ganti rugi yang diberikan berdasarkan kesepakatan antara pemilik lahan dengan pemerintah Kota Salatiga, pemanfaatan sisa lahan yang masih dimiliki oleh

(14)

petani, serta berkaitan dengan dampak sosial ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat petani Pulutan setelah pembangunan JLS.

2. Data Sekunder

Menurut Emory (Silalahi, 2010:291) data sekunder merupakan data yang dikumpulkan melalui sumber-sumber lain yang tersedia. Data tersebut didapat dari pihak kelurahan Pulutan yang berkaitan dengan data monografi desa Pulutan, kelurahan Pulutan, kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga. Selanjutnya data dari BAPPEDA Kota Salatiga yang berkaitan dengan pembangunan JLS, review articles (Bernard, 2006 : 97), laporan penelitian, jurnal dan online database yang berkaitan dengan penelitian tentang pergeseran kegiatan ekonomi petani akibat dari pembangunan.

1.7.4 Teknik pengumpulan data

Untuk menjawab rumusan masalah diatas, penelitian ini akan menggunakan tiga teknik pengumpulan data: interview, observasi, dan studi pustaka. Sesuai dengan pendekatan deskriptif kualitatif, in-dept interview menjadi bagian utama dalam pengumpulan data. Proses wawancara ini diawali dengan menentukan informan (key person) yaitu mendatangi Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) “Sumber Makmur” kelurahan Pulutan, kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga yang bernama Bapak As’adi yang selanjutnya dari Bapak As’adi (key person) akan menunjukkan petani lain yang lahannya menjadi kawasan pembangunan JLS. Kemudian peneliti mewawancarai satu per satu secara mendalam petani yang lahan pertaniannya menjadi bagian dari JLS. Dari informan yang sudah bergeser kegiatan

(15)

ekonominya setelah pembangunan JLS, maka akan diketahui petani lain yang ikut bergeser kegiatan ekonominya yang semata-mata mengikuti perubahan sosial yang terjadi. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan hasil yang lebih mendalam tentang pergeseran kegiatan ekonomi yang terjadi pada petani setelah adanya pembangunan JLS.

Teknik pengumpulan data yang kedua adalah observasi. Observasi merupakan kegiatan pengumpulan data dengan melakukan pengamatan fenomena yang tampak pada objek penelitian. Observasi yang dilakukan peneliti adalah dengan melakukan pengamatan keadaan yang terjadi di sekitar JLS khususnya yang melewati desa Pulutan yang dapat diketahui pengalihfungsian lahan dari lahan pertanian menjadi lahan untuk mendirikan warung sehingga lahan tersebut sudah menjadi lahan yang tidak produktif untuk kegiatan pertanian. Teknik ini berguna untuk melihat secara umum kegiatan ekonomi petani di desa Pulutan khususnya yang lahannya menjadi bagian dari JLS.

Teknik pengumpulan data yang ketiga adalah studi pustaka. Teknik ini dilakukan dengan mengumpulkan literatur sebagai referensi penelitian. Studi pustaka disini digunakan untuk menelusuri konsep pergeseran kegiatan ekonomi yang terdiri dari penelitian terdahulu, buku referensi, e-book, dan jurnal yang berkaitan dengan masalah yang diteliti yaitu pergeseran kegiatan ekonomi petani.

(16)

1.7.5 Teknik Pengumpulan Informan

Untuk proses pengumpulan informan, peneliti memfokuskan pada petani desa Pulutan yang lahannya terkena pembangunan JLS. Pengambilan informan ini dilakukan dengan memanfaatkan seorang responden yang dianggap sebagai key person untuk mencari data atau informasi dari responden berikutnya hingga data yang diharapkan dapat diperoleh dan dianggap cukup.

Pihak-pihak yang menjadi informan berdasarkan kebutuhan dalam penelitian ini adalah :

 Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) “Sumber Makmur“ kelurahan Pulutan, kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga.

 Anggota kelompok tani “Makmur 2” kelurahan Pulutan, kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga yang lahan pertaniannya terkena pembangunan JLS.

 BAPEDA (Badan Perencanaan Daerah) Kota Salatiga.

Peneliti memilih Ketua Gapoktan “Sumber Makmur” sebagai key

person dikarenakan informan tersebut mempunyai informasi kunci yang

dapat menunjukkan informan yang selanjutnya sesuai dengan kebutuhan penelitian. Dari Ketua Gapoktan “Sumber Makmur”, selanjutnya dapat diperoleh informan petani yang lahannya terkena pembangunan JLS yaitu anggota kelompok tani “Makmur 2” yang mengalami perubahan alih fungsi lahan yang kemudian berdampak pada bergesernya kegiatan ekonomi mereka

(17)

sebagai petani. Selanjutnya BAPEDA Kota Salatiga yang menjadi kaki

tangan Pemerintah Kota Salatiga dalam melaksanakan pembangunan JLS

sebagai informasi tambahan dalam memperdalam kajian analisis.

1.7.6 Teknik Analisis data

Data hasil penelitian yang telah dikumpulkan sepenuhnya dianalisis dengan kualitatif (Burhan, 2004:106). Di dalam penelitian kualitatif proses analisis data sudah dimulai ketika penelitian berada di lapangan secara berkesinambungan (Andriyanto, 2002:42).

Teknik menganalisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu (Kurniadi, 2010:13) mengumpulkan data-data hasil temuan lapangan setelah melakukan wawancara secara mendalam (in-dept interview) dengan para petani di desa Pulutan yang berkaitan dengan proses pergeseran kegiatan ekonomi yang para petani lakukan serta dampak sosial ekonomi yang muncul setelah pembangunan JLS yang melewati desa Pulutan, hasil observasi keadaan yang terjadi di sekitar JLS di desa Pulutan dan data sekunder yang berkaitan dengan data JLS dari BAPPEDA Kota Salatiga, data monografi dari kelurahan Pulutan serta studi literatur berkaitan dengan pergeseran kegiatan ekonomi petani pasca pembangunan. Dari hasil wawancara dari para petani di desa Pulutan, data dari BAPPEDA Kota Salatiga, data monografi kelurahan Pulutan, kemudian peneliti melakukan pemilihan data-data tersebut (coding

data) berdasarkan kebutuhan penelitian tentang proses pergeseran kegiatan

ekonomi petani pasca pembangunan JLS, selanjutnya memusatkan perhatian pada penyederhanaan data yang diperoleh sesuai dengan rumusan masalah

(18)

yang ada, dan mengabstraksikan serta menafsirkan data-data tersebut sesuai kebutuhan penelitian.

Data – data primer maupun sekunder yang sudah dipilih terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan penelitian yang berkaitan dengan pegeseran kegiatan ekonomi petani desa Pulutan, kemudian dianalisis dengan menggunakan landasan teori DBO (Desires, Beliefs, Opportunities) dari Peter Hedstrom. Desires dari petani di desa Pulutan adalah keinginan untuk tetap mempertahankan kelangsungan hidup setelah kehilangan lahan yang digunakan untuk pembangunan JLS dengan mata pencaharian yang bergeser dari sektor pertanian ke sektor non pertanian. Sedangkan beliefs yang dimaksudkan adalah para petani di desa Pulutan yang lahannya menjadi bagian dari pembangunan JLS beranggapan bahwa perubahan mata pencaharian dari sektor pertanian ke sektor non pertanian yang dipilih setelah adanya pembangunan JLS akan semakin meningkatkan penghasilan masyarakat. Opportunities yang didapat adalah sebuah peluang yang dimanfaatkan oleh petani di desa Pulutan untuk meningkatkan penghasilan dengan memanfaatkan keadaan setelah berfungsinya JLS. Action yang dihasilkan adalah setelah terjadinya alih fungsi lahan yang kemudian ditunjukkan melalui tindakan petani di desa Pulutan yang melakukan kegiatan ekonomi non pertanian. Sedangkan dampak sosial ekonomi yang muncul dari terjadinya pergeseran kegiatan ekonomi petani desa Pulutan dianalisis dengan konsep keterlekatan (embeddedness) dari Karl Polanyi. Tindakan ekonomi sangat dipengaruhi oleh relasi individu dan keberadaan struktur

(19)

sosial serta budaya yang mempengaruhi tindakan rasionalitasnya. Sehingga tindakan ekonomi merupakan bagian dari proses sosial. Dengan berfungsinya JLS sebagai sarana transportasi bagi masyarakat serta melihat perkembangan aktivitas sosial yang terjadi semenjak ada JLS, maka hal tersebut dimanfaatkan oleh para petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Mendirikan warung menjadi salah satu tindakan sosial petani dalam memanfaatkan situasi yang ada. Seiring berjalannya aktivitas lalulintas, tidak jarang masyarakat di luar desa Pulutan juga ingin mendirikan warung, hal itu dimanfaatkan oleh para petani yang masih memiliki sisa lahan di tepi JLS untuk disewakan. Penghasilan tambahan juga didapat dari hasil menyewakan lahan.

Data-data yang sudah dianalisis dengan menggunakan teori DBO (Desires, Beliefs, Opportunities) dan konsep keterlekatan (embeddedness) dari Karl Polanyi tersebut kemudian menarik sebuah kesimpulan dari analisis tersebut sehingga mendapatkan hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian yaitu mengetahui pergeseran kegiatan ekonomi petani desa Pulutan dari yang sebelumnya menjadi petani setelah adanya pembangunan JLS menjadi pedagang, penyewa lahan bahkan menjadi makelar tanah dengan berbagai faktor yang melatarbelakangi keputusan para petani tersebut untuk bergeser dari sektor pertanian ke sektor non pertanian dan juga dapat diketahui secara nyata implikasi sosial ekonomi yang dimunculkan dari pergeseran kegiatan ekonomi tersebut terhadap kehidupan para petani pada khususnya serta masyarakat Pulutan pada umumnya.

(20)

Analisis data dalam penelitian kualitatif ini, berlangsung secara terus menerus dari awal sampai akhir penelitian. Peneliti juga harus dapat membedakan antara catatan obyektif (sebagaimana adanya) dan catatan reflektif (apa yang dipikirkan oleh peneliti yang berkaitan dengan catatan tersebut). Melalui cara inilah, akan memperoleh obyektifitas penelitian.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :