BAB II KONSEP DIRI DAN PRESTASI BELAJAR. keseluruhan yang dimiliki seseorang mengenai diri sendiri. 1 Dalam buku

Teks penuh

(1)

21

A. Teori Konsep Diri

1. Pengertian Konsep Diri

Slameto mengungkapkan bahwa konsep diri adalah persepsi

keseluruhan yang dimiliki seseorang mengenai diri sendiri.1Dalam buku

Psikologi Kepribadian, Alwisol menggambarkan konsep diri merupakan

suatu pandangan diri dalam kaitannya dengan hubungan interpersonal.2

Diri merupakan suatu keseluruhan, terdiri atas persepsi diriseseorang (seberapa menariknya saya, seberapa naik saya bergaul dengan orang lain) dan nilai-nilai yang kita letakkan pada persepsi tersebut (baik atau

buruk, berharga atau tidak berharga).3

Menurut Burns, dalam kutipan Pudjijogyantimenyatakan, bahwa

konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita

sendiri.4Sementara itu, Cawagas dalam Psikologi Perkembangan Peserta

Didikmenjelaskan, bahwa konsep diri mencangkup seluruh pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya,

1

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 182.

2 Alwisol, Psikologi Kepribadian, Cet. Ke-6 (Malang: UMM, 2007), hlm. 322.

3Laura A. King, Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif, terjemahan Brian Marwersdy, Buku 2 (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), hlm. 137.

4Clara R. Pudjijogyanti, Konsep Diri dalam Pendidikan (Jakarta: CR. Arcan 1993), hlm. 15.

(2)

kelemahannya, kelebihannya atau kecakapannya, kegagalannya, dan

sebagainya.5

Menurut Carl Rogers salah satu tokoh dalam perkembangan psikologi humanistik yang dikutip oleh Howard S. Friedman dan Miriam

W. Schustack dalam buku Kepribadian: Teori Klasik dan Riset

Modernberpandangan bahwa konsep diri merupakan keseluruhan persepsi

dan penilaian individu mengenai kemampuan, perilaku dan

kepribadiannya. Menurut Rogers, orang yang sehat secara psikologis adalah mereka yang memiliki konsep diri luas yang mampu memahami

dan menerima berbagai perasaan dan pengalaman.6

Seifert dan Hoffnung dalam Psikologi Perkembangan Peserta Didik mendefinisikan konsep diri sebagai “suatu pemahaman tentang mengenai diri atau ide tentang diri sendiri.” Atwater dalam Psikologi Perkembangan Peserta Didik menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya. Konsep diri terdiri atas tiga bentuk. Pertama, body image, kesadaran tentang tubuhnya, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri. Kedua, ideal self, yaitu bagaimana cita-cita dan harapan-harapan

5 Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 163.

6 Howard S. Friedman dan Miriam W. Schustack, Kepribadian: Teori Klasik dan Riset

Modern, alih bahasa Fransiska Dian Ikarani, Maria Hany, dan Andreas Privita Prima, Edisi Ketiga,

(3)

seseorang mengenai dirinya. Ketiga, social self, yaitu bagaimana orang

lain melihat dirinya. 7

Di dalam Kamus Psikologi mendefinisikan bahwa konsep diri adalah konsep seseorang tentang dirinya sendiri dengan sebuah deskripsi yang menyeluruh dan mendalam yang bisa diberikannya seoptimal

mungkin.8Dalam teori psikoanalisis, proses perkembangan konsep diri

disebut proses pembentukan ego (the process of ego formation). Menurut aliran ini, yang sehat adalah ego yang dapat mengontrol dan mengarahkan kebutuhan primitif (dorongan libido) supaya setara dengan

dorongan dari super ego serta tuntutan lingkungan.9

Berdasarkan pada beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang, pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu

pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.10

7 Desmita, Op. Cit., hlm. 164.

8 Arthur S. Reber dan Emily, Kamus Psikologi, edisi Terjemahan oleh Yudi Santoso (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 871.

9

Djaali, PsikologiPendidikan (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), hlm. 130. 10 Alex Sobur, Psikologi Umum (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 507.

(4)

2. Dimensi Konsep Diri

Para ahli psikologi juga berbeda pendapat dalam menetapkan dimensi-dimensi konsep diri.Comb mengemukakan dalam buku Psikologi Pendidikan karya Haryu Islamudin bahwa konsep diri memiliki tiga dimensi di antaranya: pengetahuan tentang diri sendiri, harapan diri

merupakan diri ideal, dan penilaian tentang diri.11

Sedangkan Fitts dalam bukunya Hendriati Agustiani membagi

konsep diri dalam dua dimensi pokok, yaitu: 1) dimensi internal atau yang disebut juga kerangka acuan internal adalah penilaian yang dilakukan individu, yakni penilaian yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia di dalam dirinya; 2) dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya,

nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal yang di luar dirinya.12

Sedangkan Calhoun dan Acocella dalam buku Psikologi Perkembangan peserta didik menyebutkan tiga dimensi utama dari konsep diri, yaitu:

a. Pengetahuan Diri Sendiri (Self Image)

Dimensi pertama dari konsep diri adalah apa yang di ketahui tentang diri sendiri atau penjelasan dari “siapa saya” yang akan memberi gambaran tentang diri. Gambaran diri tersebut merupakan kesimpulan dari pandangan atau citra diri dalam berbagai peran yang

11

Haryu Islamuddin, Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 137. 12

Hendriati Agustiani, Psikologi Perkembangan, Pendekatan Ekologi, Ikatannya dengan

(5)

di pegang, seperti sebagai orang tua, suami, istri, karyawan, pelajar, dan seterusnya, pandanga tentang watak kepribadian yang di rasakan ada pada diri sendiri, seperti jujur, bersahabat, dan seterusnya; pandangan diri tentang sikap yang ada pada diri sendiri, dan berbagai karakteristik lainya yang di lihat melekat pada diri sendiri.

b. Harapan (Self Ideal)

Dimensi kedua dari konsep diri adalah dimensi harapan atau diri yang dicita-citakan dimasa depan. Ketika kita mempunyai sejumlah pendangan tentang siapa diri sendiri sebenarnya, pada saat yang sama dirisendiri juga memiliki sejumlah pandangan lain tentang kemungkinan menjadi apa diri sendiri di masa mendatang. Singkatnya, diri sendiri mempunyai pengharapan bagi diri sendiri. Pengharapan ini merupakan diri-ideal (self-ideal).

c. Penilaian Diri (self-evaluation)

Penilaian diri sendiri merupakan pandangan diri tentang harga atau kewajaran diri sebagai pribadi. Menurut Calhoun dan Acocella, setiap hari kita berperan sebagai penilai diri sendiri, menilai apakah diri sendiri bertentangan : 1) pengharapan bagi diri sendiri (saya dapat menjadi apa); 2) standar yang di tetapkan bagi diri sendiri (saya seharusnya menjadi apa). Hasil dari penilaian tersebut membentuk apa yang disebut dengan rasa harga diri, yaitu seberapa besar menyukai diri kita sendiri.13

(6)

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Menurut M. Argyle dalam buku Pengantar Psikologi karya Malclom Haldy dan Stave Heyes menyatakan terdapat empat faktor yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan konsep diri, di antaranya, yaitu :

a. Reaksi dari orang lain,

b. Pembandingan dengan orang lain, c. Peranan seseorang,

d. Identifikasi terhadap orang lain.14

Sedangkan dalam buku Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan, Alimul menyatakan ada delapan faktor, yaitu:

a. Tingkat perkembangan dan kematangan, b. Lingkungan,

c. Pengalama masa lalu, d. Budaya,

e. Sumber eksternal dan internal, f. Pengalaman sukses dan gagal, g. Stresor,

h. Usia, keadaan sakit dan trauma.15

14

Malcolm Hardy dan Stive Heyes, Pengantar Psikologi (Jakarta: Erlangga, 1985), hlm. 138.

15

Alimul,Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan (Jakarta: Salemba Medika, 2006), hlm. 153.

(7)

Pudjijogyanti dalam bukunya juga menyebutkan faktor yang mempengaruhi konsep diri namun lebih spesifik, yaitu peranan

citra fisik, jenis kelamin, orang tua, dan faktor sosial. 16

Hurlock dalam Psikologi Perkembanganmengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri di antaranya adalah:

a. Fisik, b. Pakaian,

c. Nama dan nama panggilan, d. Intelegensi,

e. Tingkat aspirasi, f. Emosi,

g. Budaya,

h. Sekolah dan perguruan tinggi,

i. Status sosial, ekonomi dan keluarga..17

4. Jenis-Jenis Konsep Diri

Arthur W. Comb mengungkapkan dalam buku Psikologi Pendidikan karya Haryu Islamuddin bahwa dalam perkembangannya konsep diri terbagi dua jenis yaitu :

16

Clara R. Pudjijogyanti, Op. Cit., hlm. 2. 17

Elizabeth B.Hurlock,Psikologi Perkembangan, Alih Bahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, M.Sc. Edisi Kelima (Jakarta: Erlangga, 2004), hlm. 197.

(8)

a. Konsep Diri Positif

Anak didik yang memiliki konsep diri positif, akan menerima dirinya seperti apa adanya. Ia mempunyai harapan yang realistis dan mampu mengevaluasi dirinya secara positif. Seseorang berusaha semampu mungkin mencapai cita-cita sesuai dengan kemampuannya dan mempunyai pendekatan yang baik terhadap

kehidupan, sehingga dapat menambah pengalaman hidupnya.18

Mengenai hal ini, William D. Brooks dan Philip Emmert juga mengemukakan pendapatnya, seperti yang dikutip oleh Rakhmat, menjelaskan beberapa ciri orang yang memiliki konsep diri positif, yaitu: (1) yakin akan kempuannya mengatasi masalah; (2) merasa setara dengan orang lain; (3) menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat; serta (4) mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha

mengubahnya.19

b. Konsep Diri Negatif

Sedangkan Haryu Islamuddin berpendapat, bahwaanak yang

mempunyai konsep diri negatif, akan menumbuhkan pandangan negatif pula terhadap dirinya. Dalam kondisi seperti ini, akan membuat anak kurang realistis dan tidak stabil, tidak teratur serta

18

Haryu Islamuddin, Op. Cit.,hlm. 137-138. 19

Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Bandung : PT Remaja Rosdakarya,1998), hlm. 100.

(9)

tidak memiliki keutuhan diri, dan anak tersebut tidak mengetahui siapa dirinya sebenarnya serta kekuatan dan kelemahannya, kaku

dalam memandang suatu masalah.20

William D. Brooks dan Philip Emmert juga mengemukakan pendapatnya, seperti yang dikutip oleh Rakhmat. Menurut mereka, ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri negatif yaitu: (1) peka atau tidak tahan terhadap kritik dan mudah marah jika dikritik karena dianggap menjatuhkan harga dirinya, (2) sangat responsif terhadap pujian, senang dipuji meskipun dia sering berpura-pura menghindari pujian, (3) bersikap hiperkritis terhadap orang lain, selalu mengeluh, juga tidak pandai mengungkapkan penghargaan dan pengakuan terhadap orang lain; (4) pesimis dan enggan berkompetisi dengan orang lain dalam berprestasi.

Jadi, pada dasarnya konsep diri yang positif adalah pengetahuan yang luas dan bermacam-macam tentang dirinya sesuai keadaan sebenarnya, pengharapan diri yang realistis dan harga diri yang tinggi. Sedangkan konsep diri yang negatif adalah pemahaman yang tidak tepat tentang dirinya sendiri, pengharapan diri yang tidak realistis dan penilaian yang rendah pada diri sendiri

(harga diri yang rendah).21

20

Haryu Islamuddin, Op. Cit.,hlm. 137-138. 21Jalaluddin Rakhmat,Op. Cit.,hlm. 100.

(10)

B. Teori Prestasi Belajar

1. Pengertian Prestasi Belajar

Untuk memperoleh pengertian yang obyektif tentang prestasi belajar, maka penulis akan mengemukakan tentang pengertian belajar terlebih dahulu. Belajar (learning), seringkali didefinisikan sebagai perubahan yang secara relatif berlangsung lama pada masa berikutnya

yang diperoleh kemudian dari pengalaman-pengalaman.22 Menurut

pendapat tradisional, belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan, disini yang dipentingkan adalah pendidikan intelektual.23

Sementara itu menurut Muhibbin Syah menyatakan bahwa belajar adalah sebagai tahapan seluruh tingkah laku individu yang relatif

menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.24

Pengertian belajar adalah suatu aktivitas yang sadar akan tujuan. Tujuan dalam belajar adalah terjadinya suatu perubahan dalam

individu.25 Sejalan dengan itu Abu Ahmadi dalam bukunya menyatakan

bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan di dalam tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam

22Abdur Rahman Shaleh, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam (Jakarta: Kencana, 2004), hlm. 207.

23

Ibid, hlm. 209.

24 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 68. 25Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi guru (Surabaya: Usaha Nasional, 1994), hlm. 20.

(11)

memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan

dinyatakan dalam seluruh aspek tingkah laku.26

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, prestasi diartikan sebagai hasil pelajaran yang diperoleh dan kegiatan belajar disekolah atau perguruan tinggi yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui

pengukuran dan penilaian.27Pengertian prestasi belajar adalah hasil yang

telah dicapai (dari yang telah dilakukan).28 Menurut Zainal Arifin,

prestasi belajar adalah kemampuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal. Menurut Syaiful Bahri Djamarah prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik

secara individual maupun kelompok.29

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil dari kegiatan yang dilakukan, sedangkan belajar adalah aktivitas atau kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan suatu perubahan dalam diri individu.

Prestasi belajar menurut Dimyati dan Mudjiono adalah hasil yang dicapai dalam suatu mata pelajaran tertentu oleh seorang siswa setelah melalui proses belajar mengajar, dan terjadi perubahan dalam kemampuan akademis yang dapat diukur melalui evaluasi oleh guru dan

26Abu Ahmadi, dan Widodo Supriono, Psikologi Belajar (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000), hlm. 121.

27

Tim Penyusun Kamus Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: PT. Balai Pustaka, 2001), hlm. 895.

28Ibid, hlm. 700.

(12)

perubahan kemampuan mental siswa.30Dalam kamus besar bahasa indonesia adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dalam nilai

atau angka yang diberikan oleh guru.31

Dari pengerian tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai setelah menyelesaikan suatu proses belajar mengajar dimana terjadi perubahan dalam kognitif, afektif, dan psikomotoriknya serta perubahan dalam kemampuan mental siswa yang mana perubahan-perubahan tersebut ditunjukan lewat nilai atau angka-angka.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Usaha dan keberhasilah belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut dapat bersumber pada dirinya atau diluar dirinya atau lingkungannya.

a. Faktor-faktor dalam diri individu

Banyak faktor yang ada dalam diri individu yang mempengaruhi usaha atau keberhasilan belajar. Faktor-faktor tersebut menyangkut aspek jasmaniah, maupun rohaniah dari individu.

1) Aspek Jasmaniah

Mencangkup kondisi dan kesehatan fisik dari individu. Setiap orang memiliki kondisi fisik yang berbeda. Kondisi fisik

30

Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: PT. Renika Cipta, 2009)hlm. 20.

31 Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 20.

(13)

menyangkut pula kelengkapan dan kesehatan indera penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pencecapan. Indera yang paling penting dalam belajar adalah penglihatan dan pendengaran. Seseorang yang penglihatan dan pendengarannya kurang baik akan berpengaruh pada usaha dan hasil belajarnya. Kesehatan

adalah syarat mutlak bagi keberhasilan belajar.32

2) Aspek Rohaniah

Aspek rohaniah menyangkut kesehatan psikis, kemampuan-kemampuan intelektual, sosial, psikomotor serta kondisi afektif dan kognitif dari individu. Seseorang yang sehat rohaninya adalah orang yang terbebas dari tekanan-tekanan batin yang mendalam, gangguan-gangguan perasaan, kebiasaan-kebiasaan buruk yang mengganggu, frustasi, dan konflik-konflik psikis lainnya. Seseorang yang sehat rohaninya akan merasakan kebahagiaan, dapat bergaul dengan orang dengan wajar, dapat mempercayai dan bekerja sama dengan orang lain dengan wajar, dapat tidur

nyanyak, selera makan normal dan sebagainya.33

a) Minat

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan beberapa kegiatan. Minat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap belajar, karena bahan pelajaran yang tidak sesuai minatnya akan menarik keinginan siswa

32

Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), hlm 162.

(14)

untuk mempelajarinya lebih dalam.34 Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar pula minatnya. Crow and Crow mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegatan, pegalaman yang dirangsang

oleh kegiatan itu sendiri.35

b) Intelegensi

Intelegensi juga berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. Intelegensi ini menyangkut tingkat kecerdasan.

Intelegensi merupakan kemampuan akal, merencana,

memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami ide-ide

yang kompleks, cepat belajar, dan belajar dari pengalaman.36

c) Faktor Afektif

Afektif meliputi perasaan, emosi, dan suasana hati.

Dalam keadaan stabil dan normal perasaan sangat

mempengaruhi hasil belajar. Misalnya, perasaan takut, marah, bingung, putus asa atau sangat gembira, ini semua sangat

menghambat proses belajar. 37

34Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2008), hlm. 131.

35Djaali, Op. Cit., hlm. 121.

36Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Psikologi Umum (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 154-155.

(15)

d) Kondisi Sosial

Kondisi sosial menyangkut hubungan siswa dengan orang lain, baik gurunya, temannya, orang tuanya, maupun orang-orang yang ada disekelilingnya. Seseorang yang

memiliki hubungan yang wajar dengan orang-orang

disekelilingnya akan memiliki ketentraman hidup, dan hal ini akan mempengaruhi konsentrasi dan kegiatan belajarnya. Sebaliknya, seseorang yang memiliki dalam hubungan sosial

akan mengalami kecemasan, ketidaktentraman.38

e) Motivasi

Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Motivasi belajar dalam diri siswa dapat melemah, melemahnya motivasi belajar akan

mempengaruhi kegiatan belajar.39 Motivasi dikatakan murni

apabila dari diri individu ada keinginan yang kuat untuk

mencapai hasil belajar itu sendiri.40

f) Sikap

Trow mendifinisikan sikap sebagai suatu kesiapan mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat. Sementara itu Allport mengemukakan bahwa sikap adalah suatu kesiapan mental dan saraf yang tersusun melalui pengalaman dan memberikan pengaruh

38 Nana Syaodih Sukmadinata, Op. Cit., hlm 163. 39

Dimyati dan Mujiono, Op. Cit.,hlm. 239. 40

(16)

langsung kepada respons individu terhadap semua objek atau

situasi yang berhubungan dengan objek itu.41

b. Faktor-Faktor Lingkungan

Keberhasilan belajar juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar diri siswa, di antaranya yaitu:

1) Faktor Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pendidikan, memberikan landasan dasar bagi proses belajar pada lingkungan sekolah dan masyarakat. Faktor-faktor fisik dan sosial psikologis yang ada pada keluarga sangat berpengaruh

terhadap perkembangan belajar anak. 42

2) Faktor Sekolah

Lingkungan sekolah juga memegang peranan penting bagi perkembangan belajar siswanya. Lingkungan ini meliputi lingkungan kampus, sumber-sumber belajar, metode mengajar, relasi antara guru dan siswa, atar siswa dan siswa, kurikulum,

sarana prasarana, kebijakan penilaian.43

3) Faktor Masyarakat

Lingkungan masyarakat di mana siswa atau individu berada juga mempengaruhi terhadap semangat atau aktivitas belajarnya. Lingkungan masyarakat di mana warganya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup, terdapat lembaga-lembaga

41

Djaali, Op. Cit., hlm. 114. 42

Nana Syaodih Sukmadinata, Op. Cit., hlm 163. 43

(17)

pendidikan dan sumber-sumber belajar di dalamnya akan memberikan pengaruh yang positif terhadap semangat dan

perkembangan belajar generasi mudanya, begitu pula

sebaliknya.44

c. Kemampuan Pembawaan

Menurut Mustaqim dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan menyatakan bahwa anak yang mempunyai kemampuan pembawaan yang lebih baik akan lebih mudah dan lebih cepat belajar

dari pada anak yang mempunyai kemampuan yang kurang.45

3. Ukuran Prestasi Belajar

Dewasa ini ukuran penilaian yang diberlakukan untuk tingkat Perguruan Tinggi adalah simbol penilain huruf. Begitu pula ukuran penilaian yang diberlakukan di STAIN Pekalongan dalam buku “Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan STAIN Pekalongan”, dijelaskan bahwa ukuran prestasi belajar adalah sebagai berikut:

Tabel 1

Ukuran Prestasi Belajar46

No. Interval Skor Nilai Bobot Nilai Predikat

1 81-100 A 4 Sangat baik 2 66-80 B 3 Baik 3 56-65 C 2 Cukup 4 46-55 D 1 Kurang 5 0-45 E 0 Gagal

44Nana Syaodih Sukmadinata, Op. Cit., hlm 165. 45 Mustaqim, Op. Cit., hlm.63.

46

(18)

Tabel 2

Konversi Nilai47

Huruf Angka Standar 100

A 4 81-100 B+ 3,9 3,8 3,7 3,6 3,5 79-80 77-78 75-76 73-74 71-72 B 3,4 3,3 3,2 3,1 3 70 69 68 67 66 C+ 2,9 2,8 2,7 2,6 2,5 65 64 63 62 61 C 2,4 2,3 2,2 2,1 2 60 59 58 57 56 D+ 1,9 1,8 1,7 1,6 1,5 55 54 53 52 51 D 1,4 1,3 1,2 1,1 1 50 49 48 47 46 E 0 0-45 47Ibid, hlm. 30.

Figur

Tabel 2  Konversi Nilai 47

Tabel 2

Konversi Nilai 47 p.18

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :