• Tidak ada hasil yang ditemukan

Zona Hukum Vol. 10, No. 2, 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Zona Hukum Vol. 10, No. 2, 2016"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

Pendaftaran Tanah dan Penerbitan Sertipikat Dalam Perspektif Free Trade Zone (FTZ)

diKampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau

Idham

Dosen Program S2 Magister Kenotariatan Universitas Batam Email: [email protected] dan [email protected]

Naskah tulisan ini berjudul, pendaftaran tanah dan penerbitan sertipikat dalam perspektifFree Trade

Zone (FTZ) di Kampung Tua, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, dengan konstruksi permasalahan:

-Bagaimana pengaturan hukum pendaftaran tanah untuk penerbitan sertipikat dalam perspektif Free Trade

Zone (FTZ) di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam?; -Bagaimana

implementasi pendaftaran tanah untuk penerbitan sertipikat dalam perspektif Free Trade Zone(FTZ) di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam?; -Faktor apa saja yang menjadi kendala sekaligus solusi pendaftaran tanah untuk penerbitan sertipikat dalam perspektif Free Trade

Zone(FTZ) di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam? Sedangkan

kualifikasi/jenis penulisan jurnal ini menggunakan jenis penulisan hukum normatif, dan untuk selanjutnya sekaligus mengintegrasikannya dengan penulisan hukum yang bersifat sosiologis/empiris, untuk menganalisis beberapa permasalahan dalam jurnal ini digunakan teori besar (grand theory)Jeremy Bentham, teori tengah (middle theory)W. Friedmann, sedangkan teori aplikasi (aplied theory) Friedrich Karl von Savigny.

Dari hasil penulisan jurnal ini ternyata pengaturan hukum mengenai pendaftaran tanah dalam persfektif FTZ di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, belum dilaksanakan sebagaimana mestinya, karena sebagian hak atas tanah di wilayah tersebut masih berstatus Hak Pengelolaan yang dikuasai dan terdaftar atas nama Badan Pengusahaan Batam (BP Batam). Pada sisi lain pendaftaran tanah dimaksud belum dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria disingkat UUPA; Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang; dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, danUndang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, serta adanya faktor penghambat lainnya yaitu akibat penerapan kebijakan Otonomi Daerah dan kebijakan

FTZ di Kota Batam serta minimnya dukungan politik anggaran. Atas hasil penulisan jurnal ini,penulis

memberikan saran dan rekomendasi kepada semua pihak, untuk menyelesaikan permasalahan dimaksud yang menghambat pelaksanaan pendaftaran tanah di wilayah tersebut, direkomendasikan agar menggunakan pendekatan teori besar (grand theory)Jeremy Bentham, teori tengah (middle theory)W. Friedmann, dan teori aplikasi (aplied theory) Friedrich Karl von Savigny sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam jurnal ini.

Kata kunci: Pendaftaran tanah di wilayah Kampung Tua; Hak Pengelolaan oleh Badan Pengusahaan Batam (BP Batam); dan Sertipikat.

Berbagai permasalahan di bidang hukum pertanahan dan/atau di bidang hukum keagrariaan yang sering muncul di lapangan, sangat patut diduga sebagian besar persoalan dan/atau sengketa hukum yang terjadi di bidang pertanahan tersebut, satu diantara faktor penyebabnya yaitu belum terlaksananya salah satu politik hukum agraria khususnya yang terkait dengan pelaksanaan dan kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia1 sebagaimana mestinya.i

Berkenaan dengan hal dimaksud, terutama dari sisi pendekatan hukum positif bahwa seharusnya pelaksanaan pendaftaran tanah di Indonesia khususnya di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa,

Kota Batam, dilaksanakan oleh pemerintah berdasarkan perintah dan amanat peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan dalam berbagai produk peraturan perundang-undangan dalam hal ini khususnya perintah dan amanat sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, yang lazimnya disingkat dan disebut UUPA,2 khususnya sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 19yang lebih lanjut akan dijelaskan pada bagian di bawah ini.

Dalam pendekatan sistem guna

melaksanakan politik keagrariaan itu, terutama dalam perspektif untuk mendapatkan dan sekaligus memberikan alat bukti yang kuat

(2)

berupa sertipikat3 atas suatu bukti hak kemilikan tanah kepada seluruh masyarakat, adalah merupakan suatu hal yang penting dan dominan, baik hal itu dianalisis dari sisi hukum maupun aspek ekonomi. Dari sisi hukum, tanah yang telah bersertipikat akan memberikan kepastian hukum kepada pemiliknya, sedangkan dari sisi ekonomi tanah yang telah bersertipikat akan memberikan nilai tambah secara ekonomis.4

Rangkaian proses kegiatan pendaftaran tanah dimaksud produk akhirnya adalah penerbitan sertipikat (tanda bukti hak) kepemilikan atas suatu bidang hak atas tanah yang dimiliki oleh masyarakat, dan hal ini sekaligus secara aksiologis sertipikat hak atas tanah dimaksud akan mampu memberikan perlindungan dan kepastian hukum bagi pemiliknya sebagai tanda bukti hak5 yang kuat dan terpenuh dalam konteks hukum pembuktian.

Dalam pendekatan lain, bahwa pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah dimaksud diharapkan mampu memberikan kontribusi penguatan dan percepatan peningkatan taraf kehidupan ekonomi bagi pemiliknya. Hal ini dimaksudkan bahwa terhadap suatu bidang hak atas tanah yang telah bersertipikat nilai ekonomis dari bidang tanah tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan satuan bidang tanah yang belum memiliki sertipikat, dengan demikian terhadap satuan bidang tanah yang telah bersertipikat secara nasional dalam tatanan

mempercepat pertumbuhan iklim

perekonomian, diharapkan dapat dan sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di suatu daerah. Dalam pada itu, situasi dan keadaan yang demikian sekaligus akan menjadi salah satu pondasi yang dominan dalam perspektif penguatan permodalan untuk melaksanakan suatu kegiatan usaha dan perdagangan, terutama dalam perspektif pelaksanaan kebijakan6 otonomi daerah.7

Analisis dalam pendekatan hukum positif, yang merupakan salah satu pondasi dasar8 untuk pemberlakuan pengaturan pendaftaran tanah di Indonesia adalah merujuk kepada Undang-Undang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria sebagaimana yang telah diatur dan ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960. Keberadaan Undang-Undang ini, dalam pendekatan praktis operasional selama ini merupakan acuan dasar secara paradigmatik hukum positif yang berlaku di lapangan,

terutama dalam menjalankan berbagai kebijakan dan politik hukum tentang pendaftaran tanah di Indonesia.

Dalam Undang-Undang Pokok-Pokok

Agraria ini, secara eksplisit sekaligus telah menegaskan pula mengenai politik hukum Pendaftaran Tanah yang wajib dilaksanakan oleh Negara Indonesia, yang secara lebih jelas substansi tentang pendaftaran tanah yang diatur dan ditetapkan dalam Pasal 19 Undang-Undang Pokok Agraria yang lazimnya disingkat dengan UUPA dimaksud. Atas dasar amanat Pasal 19 ini, untuk selanjutnya diterbitkanlah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun1997 tentang Pendaftaran Tanah di Indonesia.

Konstruksi9 norma hukum yang telah ditegaskan dalam Pasal 19 Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 khususnya tentang pendaftaran tanah di Indonesia itu,

sebenarnya sudah cukup memiliki

kebermaknaan yang jelas dan tegas.

Ketegasan kebermaknaan secara

paradigmatik dimaksudkan, bahwa amanat yang diperintahkan sebagaimana termaktub di dalam Undang-Undang Pokok Agraria tersebut khusunya tentang Pendaftaran Tanah10 di Indonesia dimaksud, sesungguhnya jika dianalisis dari perspektif kemauan politik negara, sudah memperlihatkan kehendak yang sangat baik dan positif terutama guna melaksanakan secara konkrit makna kedaulatan rakyat khususnya di bidang pendaftaran tanah di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, guna meneguhkan positivisme yuridis.11

Dalam perspektif lain, terutama dalam pendekatan filsafat ilmu yaitu dari aspek aksiologis, bahwa negara sudah memposisikan dirinya berada pada garis dan garda terdepan dalam mewujudkan kebermanfaatannya sebagai negara, yang mempunyai salah satu tugas pokok, dalam rangka untuk melaksanakan tugas dan fungsinya guna menunaikan secara konkrit di lapangan tentang kedaulatan rakyat12 dimaksud, khususnya mengenai pendaftaran tanah bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hal yang dimaksudkan pada bagian di atas sekaligus secara paradigmatik konstitusional13 sudah sejalan dengan hal-hal yang sangat fundamental sebagaimana yang telah diamanatkan di dalam Konstitusi Negara dan

(3)

Bangsa Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya yang termaktub dalam Pasal 1 ayat (2) yang menegaskan:

Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.

Jika dianalisis dalam perspektif paradigmatik makna yang terkandung di dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terutama dalam hubungannya dengan pelaksanaan dan kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia, khususnya di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam sesuai dengan judul jurnal ini, adalah mengandung makna yang sangat dalam dari sisi pendekatan filsafat hukum. Artinya melalui pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah sebagaimana dimaksud, secara konkrit negara telah menunaikan salah satu kewajibannya untuk memberikan jaminan sekaligus meneguhkan untuk terlaksananya prinsip kedaulatan rakyat14 sebagaimana mestinya.

Dalam perkembangannya di lapangan, yaitu sepanjang Bangsa dan Negara Indonesia ini

menikmati kemerdekaannya, bahwa

pelaksanaan pendaftaran tanah di Indonesia itu belum sepenuhnya dilaksanakan oleh negara sebagaimana mestinya, guna memenuhi hak rakyat dan Warga Negara Indonesia dalam hal Pendaftaran Tanah, karena secara masif masih banyak satuan Wilayah Negara Indonesia ini, baik itu di daerah-daerah perdesaan maupun perkotaan belum dilaksanakan kegiatan pendaftaran tanah guna memberikan kepastian hukum15 bagi para pemilik dan/atau pemegang haknya.

Untuk selanjutnya terutama dalam tataran yang lebih praktis operasional,16 bahwa mengenai pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia tersebut, yaitu dengan melakukan derivasi atas perintah dan amanat Pasal 19 Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 sebagaimana dimaksud, bahwa Pemerintah pada tahun 1961 telah menerbitkan peraturan pelaksanaan yang lebih teknis tentang pendaftaran tanah di Indonesia, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961tentang Pendaftaran Tanah.

Sesuai dengan perkembangan dan tuntutan peningkatan untuk percepatan dan perluasan

kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia,17dan sekaligus untuk mengantisipasi keadaan dan perkembangan ini, pemerintah telah menerbitkan peraturan perubahan tentang kegiatan pendaftaran tanah tersebut, sebagaimana termaktub dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997tentang Pendaftaran Tanah.

Jika dianalisis dari keberadaan hukum positif mengenai peraturan dan perundang-undangan di bidang pendaftaran tanah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tersebut di atas, sesungguhnya dari sisi aturan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan mengenai kegiatan pendaftaran tanah tersebut dinilai cukup memadai. Namun dalam pelaksanaannya untuk melakukan program kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia masih ditemukan beberapa kendala18 yang sifatnya sangat kondisional dan struktural dan sangat dipengaruhi berbagai oleh berbagai faktor perkembangan politik dan sistem pemerintahan.19

Kebijakan Otonomi Daerah

Berbagai persoalan lain sering timbul masalah di lapangan terkait dengan pelaksanaan dan kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia, terutama pasca diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan terakhir Undang-Undang ini telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, terutama dalam pendekatan praktis operasional di lapangan yaitu dari aspek sistem dan manajemen pemerintahan, bahwa keberadaan Undang-Undang dimaksud, sudah akrab ditelinga publik dengan sebutan Otonomi Daerah dan disingkat Otda.20

Dalam perspektif Otonomi Daerah, bahwa tentang pelaksanaan pendaftaran tanah tersebut acap kali muncul berbagai persoalan di lapangan. Salah satu faktor penyebab yang mengakibatkan munculnya permasalahan itu, adalah disebabkan belum dituntaskannya pembentukan Peraturan Daerah (Perda) tentang Penataan Ruang Kabupaten/Kota sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.21

(4)

Sejalan dengan berbagai persoalan dan masalah tersebut, yang sekaligus memberikan dampak negatif yaitu masih rendahnya tingkat keberhasilan kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia, ada juga permasalahan lain yang muncul di lapangan, yaitu adanya kontribusi permasalahan yang datangnya dari persoalan penataan dan perlindungan kawasan hutan lindung22 yang secara teknis ditetapkan oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Permasalahan di atas sering muncul di lapangan, yaitu masih belum tuntasnya pemetaan tentang peta padu serasi dalam hal pemanfaatan dan penatagunaan hak atas kawasan tanah tertentu23 di daerah Kabupaten/Kota, antara pihak Kementerian Kehutanan di satu sisi dengan Kementerian Dalam Negeri di sisi lain. Seharusnya substansi mengenai hal ini sudah dapat diselesaikan diantara kedua kementerian dimaksud yaitu untuk memenuhi amanat dan perintah Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang tersebut.

Berlarut-larutnya penyelesaian dalam hal penetapan peta padu serasi24 tersebut, dalam pendekatan praktis operasional sudah tentu akan memberikan kontribusi permasalahan yang

mendasar dan sekaligus memberikan

kontribusiperlambatan dalam melaksanakan kegiatan pendaftaran tanah di daerah yang sekaligus akan menghambat percepatan untuk melaksanakan kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia, karena dalam pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah, bahwa salah satu dokumen dasar yang wajib digunakan sebagai dasar dan rujukan pelaksanaannya adalah Peraturan Daerah (Perda) tentang Penataan Ruang Kabupaten/Kota di masing-masing daerah yang bersangkutan. Demikian pula terjadinya perlambatan kegiatan pendaftaran tanah di Kampung Tua, Kecamatan Nongsa, Kelurahan Batu Besar, Kota Batam disinyalir bahwa Peraturan Daerah tentang Penataan Ruang Pemerintah Kota Batam belum dituntaskan secara komprehensif yang disesuaikan dengan kondisi kehidupan dan tata permukiman serta

fungsi kemampuan lingkungan

hidup25masyarakat tersebut secara faktual di lapangan.

Persoalan lain yang sering muncul di lapangan terkait dengan pelaksanaan kegiatan

pendaftaran tanah tersebut, adalah permasalahan masih rendahnya tingkat koordinasi yang terintegratif26 antara Satuan Kerja Perangkat

Daerah (SKPD) di masing-masing

Kabupaten/Kota dengan Kantor Pertanahan setempat. Keadaan ini di lapangan masih terus berlangsung, karena dalam pendekatan struktural kelembagaan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, dan/atau untuk tingkat Kabupaten/Kota disebut Kepala KantorPertanahan, bahwa kenyataannya di lapangan tidak bertanggung jawab secara struktural kepada pihak kantor pemerintahan di masing-masing Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, melainkan pertanggung jawabannya langsung secara vertikal kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional di tingkat Provinsi dan selanjutnya kepada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di Jakarta.

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

Berbagai persoalan lain juga sering timbul di lapangan berkaitan dengan pelaksanaan pendaftaran tanah27 tersebut, satu diantaranya adalah belum terlaksananya koordinasi yang terintegratif dalam hal penerapan dan pelaksanaan atas diberlakukannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah. Dalam konteks pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah yang ditegaskan dalam Undang-Undang itu telah menerapkan prinsip otonomi yang dilaksanakan sepenuhnya dan telah dilimpahkan secara mutlak28 untuk penetapan, dan pemungutannya kepada Bupati/Walikota di Daerah melalui masing-masing Dinas Pendapatan Daerah.

Pelaksanaan prinsip otonomi ini sepenuhnya belum berjalan lancar sebagaimana mestinya, karena antara petugas pelaksana di Kantor Bupati/Walikota di satu sisi dengan petugas pelaksana di Kantor Pertanahan masing-masing Kabupaten/Kota tersebut disisi lain, pada kenyataannya untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing pihak belum terlaksana secara harmonis, terutama dalam memberikan pelayanan publik kepada seluruh masyarakat dalam hal yang akan mengurus permohonan hak atas tanahnya dalam rangka

(5)

mendapatkan sertipikat yaitu satu diantara persyaratan yang harus dipenuhiseperti Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sering mengalami keterlambatan.

Dari sisi peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan proses kegiatan pendaftaran tanah, bahwa pemenuhan kewajiban dari pemohon untuk melunasi pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) tersebut, adalah merupakan persyaratan wajib yang harus dipenuhi oleh masing-masing pemohon29 dalam pendaftaran tanah untuk mendapatkan sertipikat (tanda bukti hak) hak atas satuan bidang tanah dan satuan rumah susun yang dimohonkan oleh masyarakat melalui Kantor Pertanahan masing-masing Kabupaten/Kota setempat.

Kebijakan Free Trade Zone (FTZ)

Konstruksi analisis terhadap berbagai

persoalan faktual yang menghambat

pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah terutama dalam perspektifFTZ tersebut, analisis yang akan dibentangkan pada bagian dibawah ini, akan dikaitkan pula sering munculnya berbagai persoalan akibat adanya kebijakan yang sifatnya sangat khusus di Kota Batam.Hal ini dimaksudkan, terkait dengan adanya institusi dan/atau lembaga lain yaitu atas keberadaan lembaga Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) yang dahulu disebut dengan Badan Otorita Batam yang sangat berperan dan menentukan proses dalam hal pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah khususnya di Kota Batam.

Dalam pendekatan politik hukum dan kebijakan publik, secara paradigmatik dan kefilsafatan terutama dari perspektif aksiologis sesungguhnya atas diberlakukannya Undang-Undang tentang Free Trade Zone (FTZ) dan pemberlakuan serta penerapan Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) tersebut, memiliki makna yang sangat fundamental dan strategis.30

Kebermaknaan dimaksud, dapat ditelisik dalam pendekatan teori hukum (legal theory) sebagaimana termaktub di dalam konsiderans menimbang dari berbagai produk peraturan perundang-undangan yang ada hubungannya dengan hal tersebut.

Dengan mempertimbangkan bahwa Provinsi

Kepulauan Riau khususnya Kota Batam secara geografis, dan demografis memiliki potensi sebagai kawasan yang paling terdepan dengan negara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia, diharapkan dapat melaksanakan kiprahnya dalam bidang perdagangan internasional, yang pada akhirnya sasaran yang akan dicapai adalah dapat mempercepat terwujudnya peningkatan kesejahteraan kehidupan31 bagi seluruh rakyat dan masyarakat di provinsi Kepulauan Riau dan lebih khusus lagi untuk rakyat dan masyarakat di Kota Batam.

Pada sisi lain, terutama dalam pendekatan

praktis operasional bahwa dengan

diberlakukannya kebijakan publik yang memiliki makna kekhususan Kota Batam tersebut, kenyataannya secara empiris di lapangan telah melahirkan berbagai persoalan hukum terutama dalam hal pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah khususnya di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar,Kecamatan Nongsa, Kota Batam.

Berbagai persoalan dan permasalahan itu terutama yang ada hubungannya dengan kegiatan pendaftaran tanah, berdasarkan hasil verifikasi di lapangan sudah mencapai stadium dan/atau peringkat yang signifikan dan mengkhawatirkan,32 yang telah memberikan kontribusi kepada perlambatan dalam hal pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah khusunya di Kota Batam.

Dari hasil verifikasi di lapangan, diasumsikan masih banyak berbagai persoalan yang timbul dalam konteks pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam tersebut, memang mengandung persoalan hukum yang sangat kompleks. Penumpukan berbagai persoalan itu satu diantaranya belum dituntaskannya33 Peraturan Daerah Pemerintah Kota Batam terkait dengan Penataan Ruang dan peta padu serasi yang harus mendapatkan persetujuan dari berbagai lembaga teknis seperti pihak Kementerian Kehutanan dan Badan Pengusahaan Batam (BP Batam), dan selanjutnya Peraturan Daerah dimaksud harus mendapatkan persetujuan dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara karena kedudukan Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) dalam pendekatan struktural adalah di bawah kendali dan naungan Kementerian Badan Usaha Milik Negara.

(6)

Pada sisi lain dalam pendekatan sistem pemerintahan,34 terutama dalam konteks pelaksanaan Otonomi Daerah bahwa sejalan dengan pelaksanaan proses pembentukan Peraturan Daerah Kota Batam tentang Penataan Ruang tersebut sebelumnya harus pula mendapatkan keputusan politik dari jajaran internal yaitu dari pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan sekaligus adanya persetujuan dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia di Jakarta.

Dalam pada itu, terutama dalam hal pemenuhan dari sisi sistem dan prosedur yang harus diselesaikan berdasarkan proses pembentukan terhadap Peraturan Daerah (law

making process) tentang Penataan Ruang ini,

harus pula memenuhi standar sistem dan prosedur sebagaimana termaktub dan yang telah ditetapkan di dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.35

Berdasarkan penjelasan di atas dan disesuaikan dengan beberapa variabel penting sebagaimana yang tercantum dalam judul jurnal ini, maka untuk selanjutnya akan dijelaskan mengenai konstruksi permasalahan yaitu sebagai berikut: -Bagaimana pengaturan hukum pendaftaran tanah untuk penerbitan sertipikat dalam perspektif Free Trade Zone (FTZ) di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam?; -Bagaimana implementasi pendaftaran tanah untuk penerbitan sertipikat dalam perspektif

Free Trade Zone (FTZ) di Kampung Tua,

Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam?; -Faktor apa saja yang menjadi kendala sekaligus solusi pendaftaran tanah untuk penerbitan sertipikat dalam perspektif

Free Trade Zone (FTZ) di Kampung Tua,

Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam? Sebelum menjelaskan lebih lanjut dalam pendekatan analisis yang lebih rinci atas ketiga permasalahan dimaksud, pada bagian di bawah ini akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai beberapa aspek yang berhubungan dengan metodologi penulisan dalam jurnal ini. KerangkaTeoretis Konseptual dan

Metodologi

Dalam bagian ini akan dianalisis berkenaan pelaksanaan pendaftaran tanah di Kampung Tua, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, khususnya akan dibentangkan mengenai hal-hal

yang fundamental. Hal yang dimaksud adalah, dalam bagian ini akan mengetengahkan dan sekaligus menjelaskan hal-hal yang berkaitan mengenai kerangka teori dan kerangka konsep.36 Melalui kerangka teori dan kerangka konsep sebagaimana dimaksud, untuk selanjutnya akan digunakan oleh penulis sebagai pisau analisis dan kerangka dasar serta acuan guna membahas/melakukan analisis terhadap permasalahan yang diketengahkan oleh penulis dalam konteks menuntaskan sekaligus menemukan solusi/penyelesaian terhadap permasalahan yang diteliti, yang lebih lanjut kerangka teori dan kerangka konsep tersebut sebagaimana diuraikan di bawah ini, danuntuk itu sangat dipandang perlu meneguhkan dari awal dalam bagian/substansi tentang penegasan dan/atau penggunaan kerangka teori dan konsep37 sebagai pisau analisis terhadap permasalahan yang dibentangkan dalam jurnal ini.

Berdasarkan uraian sebagaimana diterangkan di atas, maka dalam melaksanakan rangkaian penulisan jurnal ini, kerangka teori dan konsep yang digunakan sebagai acuan dan pedoman dasar merupakan postulat pemikiran penting dalam perspektif yang paradigmatik, adalah merujuk kepada teori besar (grand theory)38 atas pendapat yang telah dikemukakan oleh Jeremy Bentham. Konstruksi grand theory yang telah

dibentangkan oleh Jeremy Bentham

menyebutkan bahwa segala bentuk peraturan perundang-undangan tidak akan memberikan kebermanfaatan secara aksiologis, apabila dari hasil pelaksanaan peraturan perundang-undangan itu tidak memberikan jaminan dan/atau kepastian untuk memperoleh adanya suatu kebahagiaan bagi masyarakatnya (utilitarianisme). Hal ini dimaksudkan bahwa peraturan perundang-undangan di bidang pendaftaran tanah tersebut dari hasil pelaksanaannya harus memberikan jaminan kepada masyarakat untuk memperoleh suatu rasa ketentraman dan kebahagiaan dalam perspektif aksiologis.39

Menelisik atas pendapat besar yang merupakan grand theory dari Jeremy Bentham40 sebagaimana yang disebutkan pada bagian di atas, hal itu sesungguhnya secara paradigmatik dalam perspektif hukum positif yang diberlakukan di Indonesia dalam konteks melaksanakan kegiatan pendaftaran tanah,

(7)

khususnya sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria,

sejatinya sedemikian rupa sudah

dikonstruksikan dalam asas dan norma hukum pada konsiderans menimbang.

Konstruksi asas dan norma hukum yang telah ditegaskan secara paradigmatik atas pemikiran besar dari Jeremy Bentham itu yang sudah diimplementasikan oleh pembuat UUPA Nomor 5 Tahun 1960 tersebut, lebih lanjut menegaskan dalam konsiderans menimbang yaitu: dalam Negara Republik Indonesia yang susunan

kehidupan rakyatnya termasuk

perekonomiannya, terutama masih bercorak agraris, bumi, air dan ruang angkasa, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa mempunyai fungsi dan amat penting untuk membangun masyarakat yang adil dan makmur.41

Sajalan dengan hal-hal yang sangat paradigmatik tersebut, utamanya terhadap konstruksi pada bagian kalimat akhir yang tercantum dalam konsiderans menimbang pada UUPA Nomor 5 Tahun 1960 dimaksud yaitu dengan susunan kalimat: untuk membangun masyarakat yang adil dan makmur,

sesungguhnya dalam pendekatan dan

implementasi filsafat keilmuan42 dan sekaligus jika diintegrasikan dengan grand theory yang telah dikemukakan oleh Jeremy Bentham tersebut, memang secara nyata telah ditegaskan oleh pembuat UUPA Nomor 5 Tahun 1960 dimaksud.

Analisis hukum yang dapat dikonklusikan dalam perspektif yang paradigmatik dan dihubungkan dengan konstruksigrand theory43 sebagaimana yang dibentangkan oleh Jeremy Bentham tersebut, utamanya atas konstruksi kalimat yang sudah ditegaskan dalam konsiderans UUPA Nomor 5 Tahun 1960 sebagaimana dimaksudkan di atas, paling tidak dapat dikemukakan beberapa konklusi dengan penjelasan sebagaimana diuraikan yaitu:

Pertama, kalimat dengan susunan untuk

membangun masyarakat yang adil dan makmur, sejatinya sudah mencerminkan nilai-nilai grand

theory yang telah dikemukakan oleh Jeremy

Bentham yang menegaskan suatu produk peraturan perundang-undangan dibentuk adalah

harus memberikan jaminan kepada

masyarakatnya untuk memperoleh suatu rasa dan keadaan yang bahagia. Kedua, susunan

kalimat yang menegaskan bahwa menyelesaikan revolusi nasional44 sekarang ini serta pembangunan semesta, juga sudah dapat dinilai secara paradigmatik, bahwa konstruksi kalimat dimaksud sudah mengaktualisasikan nilai grand

theory sebagaimana yang dibentangkan oleh

Jeremy Bentham tersebut. Khusus mengenai data sekunder yang akan dijadikan dasar analisis secara normatif, dan akan disebutkan dalam penulisan ini, yang berupa bahan hukum primer, sekunder dan tersier menurut pendapat penulis pada intinya mempunyai suatu tujuan yang mulia yaitu guna mewujudkan rasa kebahagiaan bagi seluruh masyarakat (utilitiarisme).45

Dalam aspek pemberdayaan dan kemampuan lingkungan hidup untuk mewujudkan rasa kebahagiaan bagi masyarakat, bahwa dalam pelaksanaannya seluruh rangkaian dan proses kegiatan pendaftaran tanah tersebut wajib diintegrasikan sedemikian rupa dengan pendekatan yang komprehensif dari aspek hukum perlindungan dan pengelolaan, fungsi dan kemampuan serta keberlangsungan seluruh sumber daya dan potensi dalam lingkup lingkungan hidup di Indonesia.46

Pada bagian berikutnya, khususnya masih terkait dengan substansi kerangka teori dan konsep yang menjadi dasar pijakan berpikir dalam melaksanakan rangkaian analisis terhadap beberapa permasalahan yang telah dikemukakan pada bagian di atas, untuk selanjutnya akan digunakan pula teori tengah (middle theory). Terkait dengan penggunaan pisau analisis47 untuk membahas permasalahan yang dibentangkan dalam jurnal ini, maka sebagai teori tengah yang akan digunakan sebagai pijakan analisis adalah berdasarkan pendapat yang dikemukan oleh W. Friedmann.

Pendapat W. Friedmann yang digunakan sebagai teori tengah dalam melaksanakan analisis permasalahan yang dibentangkan dalam jurnal ini menurut pendapat penulis adalah sangat relevan dalam perspektif filsafat ilmu. W. Friedmann dalam teorinya, telah menegaskan bahwa untuk mempercepat

terwujudnya rasa kebahagiaan dan

kemakmuran48 bagi masyarakat atas

diberlakukannya suatu produk peraturan perundang-undangan tidak terkecuali terhadap segala bentuk peraturan perundang-udangan di bidang pendaftaran tanah, sangat tergantung

(8)

bagaimana Pemerintah atau Negara mempersiapkan hal-hal pokok mendasar terutama dalam penegakan hukum (law

enforcement) dari segala bentuk peraturan

perundang-undangan tersebut.

Dalam pendekatan teori W. Friedmann dimaksud terutama dalam penegakan hukum (law enforcement) dari semua peraturan perundang-undangan yang ada, harus dipenuhi tiga pilar/jangkar yang penting, yaitu: Pertama, konstruksi substansi asas, dan norma hukum49 yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan itu harus sesuai dengan jati diri masyarakat dan bangsa serta sesuai dengan cita-cita Nasional suatu bangsa. Kedua, harus disiapkan struktur kelembagaan pelaksana peraturan perundang-undangan itu secara profesional, berkualitas, bermoral, jujur, bertanggung jawab dan transparan serta harus pula disiapkan segala infrastruktur dan peralatan operasional kerja dengan dukungan anggaran dan/atau pembiayaan yang cukup, termasuk juga dukungan dan jaminan kesejahteraaan bagi aparatur pelaksananya. Ketiga, harus ada dukungan yang sinergis dari seluruh lapisan masyarakat untuk terwujudnya budaya hukum (legal culture) yang baik dan beradab sesuai dengan jiwa dan kepribadian dan jati diri bangsa50 yang telah diamanatkan dalam Konstitusi Negara, dan bagi bangsa serta Negara Indonesia legal culture yang harus diwujudkan oleh seluruh lapisan masyarakat tersebut, haruslah sesuai dengan hal-hal yang telah diamanatkan dalam Pancasila (philosophy of

paradigm), dan Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945 (constitutional

of paradigm).51

Artinya dalam konteks ini sesungguhnya masyarakat tidak ambil peduli52 lagi bagaimana sesungguh peraturan perundang-undangan itu pada saat dibentuk oleh wakil-wakil rakyat dengan pemerintah, melainkan harapan masyarakat menuntut kepada pemerintah bagaimana caranya pemerintah dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan itu khususnya yang ada keterkaitannya dengan bidang pendaftaran tanah, mampu memberikan kontribusi kepada percepatan untuk terwujudnya rasa kebahagiaan bagi masyarakat.53 Dengan demikian menurut pendapat penulis, dalam konteks penulisan jurnal ini atas penggunaan grand theory (teori

besar) yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham dan middle theory (teori tengah) yang dikemukakan oleh W. Friedmann sudah dipandang sesuai dan tepat dalam pendekatan dan melaksanakan metode penulisan jurnal ini.

Kerangka teori yang akan digunakan sebagai dasar pijakan dan landasan berpikir guna melakukan analisis terhadap permasalahan yang sudah dipaparkan pada bagian permasalahan tersebut, untuk selanjutnya akan digunakan landasan teori aplikatif (aplied theory) yang sifatnya lebih praktis operasional. Sejalan dengan konstruksi permasalahan yang dikemukakan dalam penulisan jurnal ini, maka landasan teori yang sifatnya aplikatif adalah merujuk dan berdasarkan kepada pendapat dan teori sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Friedrich Karl von Savigny.

Dalam pada itu pandangan von Savigny berpangkal54 kepada bahwa di dunia ini terdapat bermacam-macam bangsa yang pada tiap-tiap bangsa tersebut mempunyai suatu Volkgeist-jiwa rakyat. Jiwa ini berbeda-beda, baik menurut waktu maupun menurut tempat. Pencerminan dari adanya jiwa yang berbeda-beda ini tampak pada kebudayaan dari bangsa tadi yang berbeda-beda. Ekspresi itu tampak pula pada hukum yang sudah barang tentu berbeda pula pada setiap tempat dan waktu. Karenanya, demikian von Savigny, tidak masuk akal jika terdapat hukum yang berlaku universal dan pada semua waktu. Hukum sangat bergantung atau bersumber pada jiwa rakyat tadi dan yang menjadi isi dari hukum itu ditentukan oleh pergaulan hidup manusia dari masa ke masa (sejarah).

Demikian juga halnya yang menyangkut dengan pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam dalam perspektif pelaksanaan kebijakan Free Trade

Zone (FTZ), tidaklah akan berhasil memenuhi

harapan masyarakat yaitu untuk terwujudnya rasa kebahagiaan, keadilan, kemakmuran dan kepastian hukum, apabila dalam pelaksanaannya semua jajaran kelembagaan dan aparatur pemerintah dalam melaksanakan kegiatan pendaftaran tanah tersebut tidak mengindahkan dan merujuk kepada jiwa rakyat55 di Kampung Tua tersebut.

Dengan pendekatan dan penggunaan teori serta pendapat Friedrich Karl von Savigny

(9)

sebagai landasan teori yang sifatnya aplikatif, maka menurut pendapat penulis penggunaan teori dimaksud sudah tepat, benar untuk memenuhi kaidah-kaidah metode penulisan jurnal secara ilmiah.56

Beranjak dari segala hal yang diuraikan pada bagian di atas, maka dalam melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan penulisan jurnal ini dapat dikonstruksikan beberapa defenisi yang sifatnya operasional dari variabel yang tercantum dalam judul jurnal ini, dan mengenai pengertian dari masing-masing variabel dimaksud sesungguhnya sudah tercantum dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang terkait.

Dapat dijelaskan, bahwa yang dimaksud dengan tanah adalah bagian permukaan bumi yang merupakan satuan bidang yang terbatas. Yang dimaksud dengan pengertian tanah Negara atau tanah yang langsung dikuasai oleh Negara adalah tanah yang tidak dipunyai dengan sesuatu hak atas tanah. Sedangkan yang dimaksud dengan hak pengelolahan adalah hak menguasai dari Negara yang kewenagan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegangnya. Untuk selanjutnya yang dimaksud dengan hak tanah adalah hak sebagaimana tersebut dalam Pasal 16 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, selanjutnya disebut UUPA.57

Yang dimaksud dengan data fisik adalah keterangan mengenai letak, batas dan luas bidang tanah dan satuan rumah susun yang didaftar, termasuk keterangan mengenai adanya bangunan atau bagian-bagian di atasnya. Yang dimaksud dengan pengertian data yuridis adalah keterangan mengenai status hukum bidang tanah dan satuan rumah susun yang didaftar, pemegang haknya dan hak pihak lain serta beban-beban lain yang membebaninya. Yang dimaksud dengan pengertian Ajudikasi adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka proses pendaftaran tanah untuk pertama kali, meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah untuk keperluan pendaftarannya.58

Pada bagian ini dijelaskan pula, yang dimaksud dengan pengertian pendaftaran tanah untuk pertama kali adalah kegiatan pendaftaran tanah yang dilakukan terhadap obyek

pendaftaran tanah yang belum didaftar bedasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah atau Peraturan Pemerintah ini (Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah). Sedangkan pengertian pendaftaran tanah secara sistematik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak yang meliputi semua obyek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan.

Yang dimaksud dengan pengertian pendaftaran tanah secara sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak yang meliputi semua obyek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan secara individual atau massal. Yang dimaksud dengan pengertian pemeliharan data pendaftaran tanah adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk menyesuaikan data fisik dan yuridis dalam peta pendaftaran, daftar tanah, daftar nama, surat ukur, buku tanah, dan sertipikat dengan perubahan-perubahan yang terjadi kemudian.

Dalam pada itu, untuk selanjutnya dijelaskan yang dimaksud dengan buku tanah59 adalah dokumen dalam bentuk daftar yang memuat data yuridis dan data fisik suatu obyek pendaftaran tanah yang sudah ada haknya. Sedangkan yang dimaksud dengan pengertian sertipikat adalah surat tanda bukti hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA untuk hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun dan hak tanggungan yang masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan.

Lokasi penulisan jurnal ini yaitu di wilayah Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, dan penulisan jurnal ini, bersifat hukum normatif60 dan didukung penulisan yang bersifat empiris. Penulisan jurnal hukum normatif pada hakekatnya meliputi: penulisan jurnal terhadap asas-asas hukum, perbandingan hukum dan sejarah hukum. Tiga komponen penting dalam penulisan jurnal hukum normatif itu dalam bagian analisis akan diintegrasikan61 dengan beberapa permasalahan sebagaimana telah diuraikan pada bagian diatas untuk menemukan

(10)

solusi dan jalan penyelesaiannya.

Pada sisi lain penulisan jurnal hukum normatif bertujuan untuk menemukan aturan-aturan hukum dalam bidang pendafataran tanah terutama dalam persfektif pelaksanaan Free

Trade Zone (FTZ) di Kota Batam, yang

berpedoman kepada tatanan hukum positif di bidang pertanahan/keagrariaan khususnya yang berhubungan dengan kegiatan dan pelaksanaan pendaftaran tanah.

Dalam pelaksanaan penulisan jurnal hukum normatif sebagaimana yang dimaksudkan diatas pada dasarnya menitik beratkan pada studi kepustakaan,62 sehingga dalam melaksanakan analisis terhadap permasalahan yang telah dibentangkan rujukannya adalah bersumber kepada data sekunder atau bahan pustaka lebih diutamakan daripada data primer.

Untuk mendukung akurasi data yang diperoleh, mengenai lokasi penulisan jurnal ini juga dilakukan di Kantor Badan Pengusahaan Batam (BP Batam), dengan pertimbangan bahwa judul penulisan jurnal ini mempunyai korelasi dengan pelaksanaan Free Trade Zone (FTZ) yang secara struktural merupakan tugas pokok, fungsi dan kewenangan Kantor Badan Pengusahaan Batam (BP Batam).63

Sedangkan populasi dalam penulisan jurnal ini yaitu pejabat struktural di Kantor Pertanahan Kota Batam dan di Kantor Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) yang mempunyai tugas pokok dan fungsi menangani pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan pendaftaran tanah di Kota Batam.

Untuk penetapan sampel yang akan dijadikan responden dalam penulisan jurnal ini yaitu pejabat struktural yang menangani kegiatan pendaftaran tanah di Kantor Pertanahan Kota Batam dan pejabat struktural yang menangani kegiatan pendaftaran tanah di Kantor Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) serta dilakukan juga wawancara secara mendalam yang mewakili responden yaitu salah seorang Ketua Rukun Warga yaitu Pejabat Rukun Warga 01 di wilayah Kampung Tua,64Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam.

Sedangkan mengenai teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan jurnal ini adalah dilakukan dengan cara melaksanakan studi penulisan jurnal kepustakaan (library

research), yang pelaksanaannya dilakukan

dengan cara meneliti sumber-sumber bacaan

yang berhubungan dengan topik dalam jurnal ini, seperti buku-buku hukum, artikel-artikel, peraturan perundang-undangan, putusan-putusan pengadilan yang mempunyai relevansi dengan penulisan jurnal ini, pendapat para sarjana dan bahan-bahan lainnya yang mempunyai keterkaitan dengan substansi tersebut.

Berkaitan dengan hal yang dimaksudkan pada bagian di atas, maka sumber data65 yang akan digunakan untuk proses pengerjaannya setelah dilakukannya penghimpunan data sekunder. Dalam pendekatan praktis operasional secara empiris pelaksanaan penghimpunan data sekunder itu akan diperoleh melalui pengumpulan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier, dengan penjelasan yaitu sebagai berikut:

1. Bahan hukum primer, yakni bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya diperoleh dari badan dan/atau lembaga Negara yang memiliki orotitas tentang hal dimaksud. Bahan hukum primer terdiri dari aturan hukum yang terdapat dari berbagai perangkat hukum atau peraturan perundang-undangan maupun putusan-putusan pengadilan. Relevan dengan judul penulisan jurnal ini bahan hukum primer yang diperlukan antara lain: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (2) khususnya mengenai peneguhan paham kedaulatan rakyat dan Pasal 18B mengenai peneguhan dan pengakuan masyarakat adat khususnya yang berkenaan dengan pengakuan masyarakat adat terkait dengan hak kepemilikan tanah masyarakat adat; Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana yang telah diperbaharui melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2007 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 200 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi

(11)

Undang-Undang; Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman; Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup; Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang; Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah; dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

2. Bahan hukum sekunder, yaitu berupa buku-buku dalam ranah dan bidang Ilmu Hukum, majalah dan jurnal-jurnal ilmiah secara akademik yang ada relevansinya dengan kegiatan penulisan jurnal ini dan dapat memberi petunjuk dan inspirasi bagi penulis dalam rangka melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan penulisan jurnal ini. 3. Bahan hukum tersier atau bahan hukum yang

sifatnyapenunjang, yakni bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan-bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus umum, kamus hukum, dan bahan-bahan lainnya di luar ranah bidang hukum yang mempunyai relevansi dan dapat dipergunakan guna melengkapi hasil penulisan jurnal ini.

Dalam pendekatan praktis operasional terutama dalam melaksanakan metode penulisan jurnal, bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan analisis data66 sangat perlu dan penting dikerjakan. Hal ini dimaksudkan agar dalam melaksanakan kegiatan analisis dari beberapa asas, norma yang diperoleh dari semua aspek sumber data tersebut tidak menimbulkan pergeseran dengan substansi permasalahan67 yang akan dianalisis dalam penulisan jurnal ini. Pengaturan Hukum Pendaftaran Tanah

Konstruksi permasalahan pertama akan dianalisis hal-hal yang berkenaan dengan pengaturan hukum dalam perspektif penegasan dan pemberlakuan hukum positif. Dalam konteks ini tentu akan dijelaskan lebih jauh mengenai sumber hukum positif yang digunakan sebagai rujukan, pedoman dan/atau dasar atas pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah di wilayah Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam.

Menurut hemat penulis upaya untuk melakukan analisis yang berkenaan dengan pengaturan hukum dalam hal melaksanakan kegiatan pendaftaran tanah sebagaimana dimaksud adalah merupakan suatu tindakan yang penting dan strategis dalam menuntaskan penulisan jurnal ini, karena hal itu adalah dalam rangka mewujudkan sekaligus meneguhkan bahwa sesungguhnya bangsa dan negara Indonesia menjunjung tinggi suatu prinsip hukum yaitu untuk mewujudkan eksistensi asas legalitas dan sekaligus dengan mengedepankan negara yang mengutamakan penegakan paham positivistik dan/atau negara yang mengedepankan prinsip hukum positif dalam melaksanakan penegakan hukum (law enforcement).

Salah satu persoalan dalam hal pelaksanaan pengaturan hukum dalam berbagai produk pengaturan perundang-undangan dalam aspek politik hukum agraria/hukum pertanahan di Indonesia khususnya yang berkenaan dengan pelaksanaan pengaturan hukum di bidang pendaftaran tanah tidak terkecuali dalam hal melaksanakan kegiatan pendaftaran tanah di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, bahwa pendaftaran tanah dimaksud sampai saat ini masih tersumbat salah satu penyebabnya adalah adanya tekanan dalam spektrum politis yang berkaitan dengan masih terjadinya desentralisasi kekuasaan.

Pelaksanaan kekuasaan di lingkungan Pemerintah Kota Batam menurut pendapat penulis masih terdapat tekanan dari Pemerintah Pusat karena adanya sistem manajemen pengelolaan pemerintahan yaitu dengan adanya pihak Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) dalam perspektif untuk melaksanakan seluruh rangkaian kebijakan politik hukum mengenai

Free Trade Zone (FTZ), dimana salah satu

kawasan yang ditetapkan sebagai wilayah FTZ termasuk Kota Batam selain Kabupaten Karimun dan Kabupaten Bintan.

Sejalan dengan hal dimaksud, memang secara kasat mata otorisasi pelaksanaan kekuasaan birokrasi pemerintah selama ini masih berjalan secara sentralistis dan eksesif. Artinya masih saja terjadi suatu perilaku yang bersifat egosentris baik itu antar Kementerian di lingkungan pemerintah pusat, demikian juga di lingkungan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten Kota, hal ini dalam

(12)

pelaksaannya berkenaan dengan pelaksanaan sistem manajemen pemerintahan dimaksud sekaligus mempunyai korelasi dengan tingkat jabatan suatu pejabat publik dalam lingkup sistem manajemen pemerintahan. Hal ini dimaksudkan semakin tinggi layer atau lapis hierarki jabatan seseorang dalam birokrasi pemerintahan maka dalam pelaksanaannya semakin besar pula lingkup kewenangan dan kekuasaannya, sebaliknya seseorang yang mempunyai jabatan yang rendah dan dalam hal ini termasuk pihak-pihak yang berada di luar pemerintahan seperti masyarakat Kampung Tua,Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam semakin rendah pula kekuasaan dan kewenangannya dalam menghadapi kekuatan dari sektor pejabat birokrasi yang melaksanakan tugas pokok, fungsi dan kewenangan di bidang pemerintahan.

Relevan dengan penjelasan di atas seharusnya keberadaan masyarakat Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, dalam hal mendapatkan pelayanan publik untuk dilakukannya pendaftaran tanah atas satuan bidang tanah yang dikuasai secara turun temurun oleh masyarakat Kampung Tua dimaksud haruslah mendapatkan pelayanan dari birokrasi Pemerintah Kota Batam sebagaimana

mestinya dan dilaksanakan dengan

mengedepankan pengaturan hukum di bidang pendaftaraan tanah dalam rangka meneguhkan paham kedaulatan rakyat, paham negara hukum dan sekaligus untuk mewujudkan rasa kebahagiaan bagi masyarakat karena hak atas tanah di wilayah Kampung Tua dimaksud telah diterbitkan sertipikat (tanda bukti hak) untuk memberikan jaminan mengenai kepastian hukum terhadap hak kepemilikan tanah dimaksud. Berkenaan dengan hal ini menurut pendapat penulis jangan sempat terjadi rakyat yang memberikan pelayanan kepada pejabat publik, namun sesungguhnya berdasarkan asas kepemerintahan yang baik bahwa pejabat birokrasi pemerintah yang semestinya memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Dengan kata lain birokrasi pemerintah tidak diperkenankan mendominasi melalui kekuasaannya untuk menyandera dan tidak melaksanakan pelayanan publik kepada masyarakat, dan apabila hal ini terjadi di

lapangan, maka akan terwujud

ketidakseimbangan (unequal relationship)

antara unjuk kerja yang dilakukan oleh birokrasi pemerintah dengan rakyat yang harus dilayaninya.

Lebih lanjut ditegaskan bahwa keadaan seperti di atas akan membuat birokrasi tidak memiliki akuntabilitas kepada rakyat dan masyarakat, khususnya terhadap masyarakat di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam dalam hal pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah dalam rangka penerbitan sertipikat. Fenomena lain masih terjadi dan sangat menonjol yaitu masih terdapat perilaku penguatan kewajiban untuk melakukan responsibilitas terhadap pejabat pada hierarki yang di atas. Dalam hal ini pejabat birokrasi pada umumnya diangkat oleh pejabat yang berkuasa pada hierarki tertinggi dalam suatu tatanan dan lingkup lembaga tertentu.

Dalam pada itu pemahaman ditengah kehidupan masyarakat khususnya yang berkenaan dengan peranan rakyat terhadap eksistensi birokrasi selama ini, masih kurang memperoleh perhatian dan sekaligus penekanan dalam pola kehidupan dan sistem manajemen pemerintahan utamanya yang berhubungan dengan birokrasi publik dalam teori elit sebagaimana dimaksudkan tidak hanya satu-satunya solusi dalam konteks mencairkan kewenangan dalam jajaran birokrasi pemerintahan.

Oleh karenanya untuk mewujudkan percepatan pendaftaran tanah dimakusd, maka kepada semua pihak yang terlibat untuk dan guna melaksanakan pekerjaan tersebut haruslah secara konsisten melaksanakan seperangkat pengaturan hukum di bidang pendaftaran tanah dengan menanggalkan perilaku egosentris di lingkungan pejabat birokrasi pemerintah demi mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional Bangsa dan Negara Republik Indonesia sebagaimana yang telah diamanatkan dalam naskah pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yaitu untuk mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia khususnya terhadap masyarakat Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam guna mendapatkan sertipikat (tanda bukti hak) atas tanah yang telah dikuasainya secara turun-temurun.

Substansi penting lainnya yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Batam,

(13)

pihak Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) dan Kantor Pertanahan Kota Batam dalam konteks melaksanakan pendaftaran tanah di

Kampung Tua dimaksud seharusnya

memberikan penekanan untuk mewujudkan fungsi hukum dari semua peraturan perundang-undangan pendaftaran tanah tersebut. Sejalan dengan hal ini dapat ditegaskan bahwa hasil akhir atas pelaksanaan peraturan perundang-undangan itu terutama dalam pendekatan sistem hukum sesungguhnyaa harus mampu merespon atas segala kegelisahan dan kerisauan masyarakat terhadap belum diterbitkannya sertipikat hak atas tanah di wilayah Kampung Tua tersebut,maka dalam prosesnya seharusnya dari tahap awal semua kegelisahan, kerisauan dan sekaligus tuntutan dari masyarakat Kampung Tua untuk segera dilakukannya pendaftaran tanah dimaksud, sudah direspon sedemikian rupa oleh Pemerintah Kota Batam bersama para wakil rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batam dengan melibatkan secara aktif seluruh pihak terkait satu diantaranya yang penting adalah pihak Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) sebagai pemegang hak pengelolaan atas tanah di wilayah Kota Batam, serta pihak Kantor Pertanahan Kota Batam, guna merumuskan

program kerja dan anggaran yang

dituangkan/ditetapkan dalam Anggaran Pendapatandan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kota Batam secara permanen dan berkelanjutan.

Dalam perspektif pelaksanaan politik anggaran,jika potensi sumber pembiayaan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kota Batam ternyata belum cukup untuk membiayai pelaksanaan dan kegiatan pendaftaran tanah di wilayah Kampung Tua dimaksud, menurut hemat penulis pihak Pemerintah Kota Batam harus melibatkan secara aktif peranan dari Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) untuk mendapatkan sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan dari Kementerian Agraria Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di Jakarta.

Dalam pada itu tatanan peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan pelaksanaan

pendaftaran tanah di Kampung Tua

sebagaimana dimaksud juga harus dilaksanakan oleh pihak eksekutif tentunya dalam hal ini pihak Pemerintah Kota Batam dan semua pihak yang terlibat dan sudah dijelaskan pada bagian di atas menurut hemat peneliti semua rumusan norma hukum yang termaktub di dalam undang-undang dimaksud harus dilaksanakan dalam perspektif pelaksanaan hukum Administrasi Negara. Hal dimaksud memberikan makna secara epistimologis dan aksiologis bahwa peraturan perundang-undangan dimaksud harus memberikan penguatan terhadap hukum itu sendiri, yang akan menjadi alat untuk dan kepentingan bagi Negara yaitu guna melaksanakan segala bentuk sistem

pemerintahan sekaligus dalam hal

melaksanakan Administerasi Negara terutama dalam konteks pelaksanaan pendaftaran tanah tersebut.

Sejalan dengan uraian di atas dalam perspektif ilmu hukum administrasi Negara adalah pengetahuan tentang hukum administrasi Negara dengan sifat yang eksplisit, yang diperoleh melalui metode keilmuan hukum Administrasi Negara tertentu, tersusun secara logis dan sistematis serta koheren dalam suatu sistematika keilmuan hukum administrasi negara tertentu, kebenaranya teruji secara empirik dan sebagai sumber pengetahuan hukum Administrasi Negara berfungsi memberi penjelasan eksistensi dari hukum Administrasi Negara dan problematikanya sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia sesuai kepentingan dan tujuannya. Berkenaan dengan uraian ini maka unsurterpenting yang dimaksudkan terutama terkait dengan pengaturan hukum di bidang pendaftaran tanah yang menjadi postulat dan/atau dasar pelaksanaannya dilapangan harus dilaksanakan secara konsisten, fokus dan berkelanjutan oleh pihak Pemerintah Kota Batam berserta pihak lain yang terkait yaitu dalam rangka menjawab problematika seluruh masyarakat di Kampung Tua yang selama ini pelaksanaan pendaftaran tanah dalam rangka penerbitan sertipikat tanah (tanda bukti hak) yang sampai saat ini belum tuntas dilaksanakan secara konkrit di lapangan.

Dalam pada itu untuk selanjutnya dapat dijelaskan terutama dari aspek pendekatan ilmu hukum sesungguhnya permasalahan yang berkenaan dengan efektivitas dan efisiensi atas tersumbatnya pelaksanaan pendaftaran tanah di

(14)

wilayah Kampung Tua sebagaimana dimaksud dan berbagai faktor yang mempengaruhinya, untuk hal ini sesungguhnya merupakan permasalahan yang harus didekati dengan menggunakan tindakan konkrit, sehingga penyelesaiannya harus diselesaikan dengan menggunakan disiplin ilmu yang dijadikan objek guna mendapatkan penyelasaian secara komprehensif baik itu dalam perspektif hukum Administrasi Negara dan Ilmu Ekonomi yaitu dalam rangka mewujudkan rasa kebahagiaan dan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya di wilayah Kampung Tua tersebut. Relevan dengan hal ini ilmuan hukum administrasi negara yang baik seharusnya mengetahui batas kekuatan pengetahuan keilmuannya dalam mengatasi permasalahan hukum Administarasi Negara. Contoh faktual berkenaan dengan hal ini seharusnya pihak Pemerintah Kota Batam dan pihak lain yang terkait secara psikologis harus memahami kemauan dan keinginan yang mendesak dari masyarakat Kampung Tua untuk segera dilakukannya kegiatan pendaftaran tanah dalam rangka penerbitan sertipikat (tanda bukti hak) guna memberikan jaminan kepastian hukum dan rasa kebahagiaan serta dalam rangka mempercepat terwujudnya tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah Kampung Tua.

Pada bagian ini untuk selanjutnya dijelaskan berkenaan dengan eksistensi hukum atas keberadaan peraturan perundang-undangan di bidang pendaftaran tanah khususnya di wilayah Kampung Tua tersebut yang diintegrasikan dengan peranan hukum ekonomi dalam pembangunan. Menurut pendapat penulis pelaksanaan pendaftaran tanah untuk penerbitan sertipikat hak atas tanah di wilayah Kampung Tua dimaksud secara eksplisit mempunyai korelasi dengan peranan hukum ekonomi. Hal ini dimaksudkan dengan dilaksanakannya kegiatan pendaftaran tanah sebagaimana dimaksud secara aksiologis akan memberikan kontribusi kepada peningkatan tingkat kesejahteraan masyarakat di Kampung Tua, tentu hal ini mempunyai kaitan dalam aspek ekonomi dalam kehidupan masyarakat Kampung Tua.

Berkenaan dengan hal dimaksud dalam pendekatan ilmu hukum dapat dijelaskan bahwa sampai sekarang belum ada kesepahaman pendapat para ahli hukum yang memberikan

defenisi tentang hukum. Perbedaan itu terjadi karena disebabkan para ahli hukum dalam memberikan defenisi tentang hukum bergerak dari sudut pandang yang berlainan dan titik serta substansi analisis yang berbeda. Persepsi kebanyakan orang tentang hukum itu beraneka ragam coraknya, tergantung dari sudut mana mereka memberikan pandangan, sebagai contoh seorang hakim memandang hukum itu sesuai dengan profesi yang diembannya, disisi lain kalangan ilmuan memandang hukum dari sudut pandang keilmuannya, sedangkan bagi kebanyakan rakyat dari lapisan rakyat kecil memandang hukum itu dari sudut pandang apa yang mereka lakukan sehari-hari yang sudah merupakan adat dan kebiasaan-kebiasaan.

Relevan dengan hal dimaksud, menurut pendapat penulis untuk terwujudnya percepatan pendaftaran tanah di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, seharusnya segera dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Batam dengan mengikut sertakan secara aktif pihak Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) terutama dalam persfektif pelaksanaan kebijakan politik hukum Free

Trade Zone (FTZ) dimana pihak Badan

Pengusahaan Batam (BP Batam) dalam hal ini sebagai pemegang Hak Pengelolaan tanah di wilayah Kota Batam termasuk wilayah Kampung Tua, dan Juga mengikutkan secara aktif pihak Kantor Pertanahan Kota Batam sebagai instansi tunggal yang mempunyai kewenangan menerbitkan sertipikat (tanda bukti hak), yang pelaksanaan pendaftaran tanah

dimaksud harus dilakukan dengan

mengedepankan peraturan perundang-undangan di bidang pendaftaran tanah dan sekaligus memberikan penguatan dalam pelaksanaannya yang memberikan porsi dominan terhadap hukum adat dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan pranata sosial masyarakat di Kampung Tua dimaksud.

Pada sisi lain analisis yang berkenaan dengan pengaturan hukum di bidang pendaftaran tanah khususnya dalam konteks pelaksanaan pendaftaran tanah di Kampung Tua, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, utamanya di Kelurahan Batu Besar juga mengandung makna hal itu dalam rangka mewujudkan prinsip dan ciri negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam konstitusi negara yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

(15)

Berkenaan dengan hal ini, jika dianalisissecara paradigmatik filosofis dalam konstitusi ini, bahwa dasar hukum pelaksanaan pendaftaran tanah tersebut terutama dalam pendekatan hukum positif sesungguhnya juga telah diatur dan ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (2). Norma hukum yang dikonstruksikan dalam Pasal 1 ayat (2) ini, sejatinya negara ingin meneguhkan prinsip-prinsip paham kedaulatan rakyat.

Dalam pada itu untuk selanjutnya dasar hukum positif pelaksanaan pendaftaran tanah tersebut juga dapat diperhatikansebagaimana yang telah diamanatkan dalam Pasal 1 ayat (3) yang secara konkrit telah memformulasikan norma hukum yang tegas yaitu Indonesia adalah negara hukum. Norma hukum ini tentu sangat memiliki keterkaitan yang sangat erat dalam pendekatan paradigmatik konstitusional (constitutional of paradigm) dengan pelaksanaan pendaftaran tanah68 itu sendiri.

Hal ini lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa aspek kepastian hukum tersebut sesungguhnya telah memberikan suasana kententeraman dan kebahagiaan bagi masyarakat sebagai pemegang hak atas tanah dimaksud. Jika hal ini terjadi sesungguhnya grand theory sebagaimana diketengahkan oleh Jeremy Bentham, bahwa atas diterapkannya suatu produk peraturan perudang-undangan seharusnya dapat memberikan jaminan rasa kebahagian bagi masyarakat (utilitarianisme)69 sudah terlaksana.

Dalam aspek yang lebih fundamental bahwa terhadap pemberlakuan pengaturan hukum di bidang pendaftaran tanah sebagaimana telah diatur dalam Pasal 19 UUPA Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria beserta produk peraturan perundang-undangan lainnya yang mempunyai keterkaitan dengan substansi pendaftaran tanah di Indonesia, sesungguhnya norma hukum yang telah dikonstatir dalam berbagai produk peraturan perundang-undangan itu juga dalam rangka ingin meneguhkan terwujudnya paham kedaulatan rakyat dan sekaligus guna mewujudkan rasa kebahagian bagi seluruh rakyat. Menurut hemat penulis untuk menegakan dan sekaligus meneguhkan paham kedaulatan rakyat tersebut, sejatinya Negara/Pemerintah harus melakukan langkah dan kebijakan publik yang proaktif dan agresif untuk melakukan pelayanan publik satu diantaranya adalah melakukan kegiatan

pendaftaran tanah khususnya di Kampung Tua, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, karena di daerah ini sebagian besar status dan keberadaan hak atas tanah masyarakat masih berstatus tanah negara dan atau tanah yang belum memiliki sertipikat (tanda bukti hak). Perlu dijelaskan dari hasil verifikasi di lapangan masyarakat yang tinggal dan terdapat di Kampung Tua ini telah

bermukim turun-temurun yang sudah

berlangsung cukup lama, yaitu sejak tahun 1938,70 yaitu sejak pertama kali suku masyarakat Bugisdari Provinsi Sulawesi Selatan sebagai masyarakat yang berjiwa pelaut merantau sekaligus berjuang untuk membangun wilayah permukiman baru yang tersebar sebagian besar di wilayah Kecamatan Nongsa, Kota Batam, khususnya saat ini warga masyarakat keturunan Bugis dimaksud menetap dan bermukim serta bertempat tinggal permanen di wilayah Kelurahan Batu Besar yang disebut sebagai bagian yang dominan dari masyarakat Kampung Tua.

Memperhatikan kondisi faktual di lapangan bahwa kenyataannya sebagian besar masyarakat yang bertempat tinggal di Kampung Tua tersebut, sampai saat ini hak atas tanahnya belum memiliki sertipikat. Menurut hemat penulis karena masyarakat tersebut adalah sebagai Warga Negera Indonesia yang sah dan telah menunaikan segala bentuk hak dan kewajibannya sebagai warga negara seharusnya dengan makna kemerdekaan sebagai bangsa Indonesia, untuk itu Negara/Pemerintah harus segera hadir secara proaktif dan progresif untuk melakukan kegiatan pendaftaran tanah atas seluruh satuan bidang tanah hak milik masyarakat di Kampung Tua tersebut guna dan untuk secepatnya melakukan kegiatan pendaftaran tanah dengan menerbitkan sertipikat (tanda bukti hak), agar seluruh warga dan masyarakat yang tinggal di Kampung Tua tersebut memperoleh kepastian hukum sekaligus rasa kebahagiaan terhadap hak atas tanah yang dimilikinya.

Pada sisi lain, tindakan pemerintah untuk melakukan percepatan pendaftaran hak atas tanah guna penerbitan sertipikat sebagaimana dimaksud sesungguhnya akan memberikan manfaat secara konkrit kepada masyarakat utamanya yang berhubungan dengan aspek ekonomi, karena hak atas tanah yang telah

(16)

bersertipikat tentu mempunyai nilai yang tinggi sebagai kolateral dan/atau jaminan yang dapat diagunkan kepada bank pemberi kredit untuk dan guna mendapatkan pinjaman kredit modal kerja, yang sudah tentu hal ini sekaligus akan meningkatkan kehidupan perekonomian rakyat di wilayah Kampung Tua tersebut, yaitu dalam rangka mewujudkan peningkatan kesejahteraan hidupnya dan sekaligus hal ini akan melahirkan suatu rasa kebahagiaan bagi seluruh masyarakat yang berada di Kampung Tua dimaksud (utilitarianisme).

Pada bagian lain dapat pula dijelaskan bahwa yang merupakan bagian penting berkenaan dengan pengaturan hukum khususnya mengenai pendafataran tanah di wilayah Kampung Tua, Kecamatan Nongsa, Kelurahan Batu Besar, Kota Batam, pemerintah beserta pihak lainnya harus secara sinergis memperhatikan beberapa amanat dan perintah, antara lain: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (2) khususnya mengenai peneguhan paham kedaulatan rakyat dan Pasal 18B mengenai peneguhan dan pengakuan masyarakat adat khususnya yang berkenaan dengan pengakuan masyarakat adat terkait dengan hak kepemilikan tanah masyarakat adat dan undang-undang lainnya yang secara substansial berkaitan dengan pelaksanaan pendaftaran tanah dimaksud, yang secara khusus akan diintegrasikan pula dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, serta Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.71

Berkenaan dengan hal dimaksud, terutama dalam pendekatan praktis operasional untuk melaksanakan pendaftaran tanah tersebut, untuk tahap awal Pemerintah Kota Batam harus segera menuntaskan Peraturan Daerah (Perda) tentang

Penataan Ruang, sebagaimana yang

diamanatkan dalam Undang-Undang Penataan Ruang. Perintah dan amanat undang-undang ini pada prinsipnya dalam konteks pelaksanaan pendaftaran tanah bahwa Pemerintah Kota Batam harus sesegera mungkin menerbitkan Peraturan Daerah mengenai Tata Ruang, sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang

Penataan Ruang. Prinsip yang harus

dikedepankan dalam menetapkan

substansinorma hukum, dalam Perda Tata Ruang72 ini, para pembuat undang-undang harus mengutamakan pendekatan sistem secara komprehensif dengan memperhatikan semua aspek dan bidang kehidupan masyarakat terutama terhadap masyarakat yang tinggal dan bermukim di wilayah Kampung Tua tersebut. Dengan kata lain Perda Tata Ruang dimaksud harus mampu mengakselerasi seluruh kebutuhan dan keinginan masyarakat tersebut utamanya untuk mendapatkan suatu perlindungan dari negara dari aspek keberlangsungan kemampuan fungsi lingkungan hidup73 untuk dan guna mendapatkan suatu tatanan tata permukiman dan perumahan yang asri dan sehat untuk

mewujudkan rasa kebahagiaan yang

sesungguhnya. Pada sisi lain, pengaturan hukum yang perlu disinergikan dalam konteks pelaksanaan pendaftaran tanah di wilayah Kampung Tua tersebut, seharusnya pemerintah segera menuntaskan koordinasi teknis yang progresif dengan Kementerian Kehutanan berkenaan dengan penataan kawasan hutan lindung, dan sejalan dengan itu Pemerintah Kota Batam juga harus melakukan koordinasi teknis yang terkoordinatif dengan pihak Badan Pengusahaan Batam (BP Batam), guna mendukung pelaksanaan kebijakan politik hukumFree Trade Zone (FTZ) sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2007 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi Undang-Undang.

Lebih lanjut dapat dijelaskan masih berhubungan dengan persoalan mengenai peraturan hukum untuk pelaksanaan pendaftaran tanah di wilayah Kampung Tua tersebut Pemerintah Kota Batam harus segera melakukan langkah-langkah yang konkrit dalam hal melakukan tindakan pengukuran secara fisik terhadap masing-masing satuan bidang tanah yang dimiliki masyarakat terutama dalam konteks penetapan tanda batas dan ukuran yang jelas dalam hal penerbitan Surat Pemberitahuan

Referensi

Dokumen terkait

Dam adalah denda yang wajib dilaksanakan oleh orang yang selama menunaikan ibadah haji dan umroh, melanggar larangan haji atau meninggalkan wajib haji.. DAM (denda)

Target audiens dari Pempek Gajahmada Cek Ming adalah untuk kalangan menengah yang ditinjau dari segi behavior bahwa kelompok ini juga menyukai wisata kuliner makanan

Berdasarkan hasil analisis di dapatkan mekanisme pembiayaan murabahah yang dilakukan di BPRS Sukowati Sragen telah sesuai dengan teori yang ada.Untuk respon

Dengan rataan luas lahan sawah yang dimiliki oleh rumah tangga petani yaitu sebesar 0,25 ha, maka pendapatan bersih dari usahatani padi sawah adalah sekitar 250 ribu rupiah untuk

07/11/2012 18 QBasic Input data rancangan AutoCAD Pembuatan gambar kerja otomatis QBasic Pengolahan data rancangan Pembuatan dan. penyimpanan

Berdasarkan hasil analisis kinetika dengan kedua metode tersebut dapat disimpulkan bahwa pengendali laju reaksi pelindian bijih limonit Halmahera dalam larutan asam

Setelah selesai pendaftaran secara online, pelamar wajib menyampaikan seluruh dokumen persyaratan administrasi dalam 1 (satu) amplop tertutup mulai hari Jumat, 11

Berdasarkan pembahasan maka judul penelitian ini yaitu hubungan dukungan sosial dengan tingkat stress ibu dalam merawat anak penyandang autism di SLB Autisme