• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sehari – hari, setiap orang tidak dapat terlepas dari kata pembangunan. Semuanya wajib melaksanakan pembangunan demi bertahan dalam menjalani kehidupan. Kegiatan pembangunan mutlak perlu dilaksanakan demi terciptanya kehidupan yang lebih baik ataupun perubahan hal-hal lama ke berbagai hal baru dan juga untuk beradaptasi dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitar.

Pengertian pembangunan dalam falsafah pembangunan bangsa Indonesia, yaitu pembangunan sebagai pengamalan pancasila. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia di muka bumi inilah yang menjadi titik sentral dari segala upaya pembangunan harkat dan martabatnya. Senada dengan falsafah pancasila, Noor Isran (2013 : 97) mengatakan bahwa “manusia adalah sumber daya pembangunan yang paling utama diantara sumber – sumber daya yang lain yang akan dibangun kemampuan dan kekuatannya sebagai pelaksana dan penggerak pembangunan”.

Pembangunan adalah semua proses perubahan yang dilakukan melalui upaya – upaya secara sadar dan terencana dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraaan rakyat secara menyeluruh. Pengertian pembangunan harus dilihat secara dinamis dan bukan dilihat sebagai konsep statis. Pembangunan adalah suatu orientasi dan usaha tanpa akhir. Pengertian ini memberikan ruang bagi warga atau rakyat untuk berpartisipasi penuh dalam proses pembangunan, dan di sisi lain pemerintah melakukan koordinasi dan memfasilitasi proses partisipasi tersebut.

Pembangunan merupakan suatu upaya terprogram yang dilaksanakan secara terus menerus guna mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup manusia baik lahir maupun bathin. Pembangunan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan, dalam arti bahwa pembangunan dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan pertumbuhan akan terjadi sebagai akibat adanya pembangunan. Dalam hal ini pertumbuhan dapat berupa pengembangan/perluasan (expansion) atau peningkatan (improvement) dari aktivitas yang dilakukan oleh suatu komunitas masyarakat.

Upaya sistematis bagi pengembangan yang terwujud pada kekuatan sinergis telah lama dijalankan dalam bentuk pembangunan dalam segala bidang, termasuk di

(2)

dalamnya pembangunan dibidang keolahragaan. Kendatipun telah banyak keberhasilan yang dapat diraih pada bidang keolahragaan, tetapi sebenarnya masih banyak yang tercecer dalam usaha pembangunan olahraga di tanah air. Bahkan dapat dikatakan keberhasilan yang didapatkan belum sebanding dengan potensi yang dimiliki.

Di tengah keprihatinan masyarakat yang menghadapi krisis di berbagai aspek kehidupan, terutama yang menyangkut moral, kegiatan olahraga menjadi salah satu solusi alternatif yang sangat penting dan menentukan dalam kerangka membangun opini publik bagi peletakan sendi-sendi dasar dan sistem pencerahan masyarakat dalam arti yang sangat luas.

Melalui pembinaan olahraga yang sistematis, kualitas SDM dapat diarahkan pada peningkatan pengendalian diri, tanggungjawah, disiplin, sportivitas yang tinggi yang mengandung nilai transfer bagi bidang lainnya. Berdasarkan sifat-sifat itu, pada akhirnya dapat diperoleh peningkatan prestasi olahraga yang dapat membangkitkan kebanggaan nasional dan ketahanan nasional secara menyeluruh.

Olahraga merupakan suatu fenomena yang mendunia dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari – hari masyarakat. Bahkan melalui olahraga dapat dilakukan national character building suatu bangsa, sehingga olahraga sebagai sarana strategis untuk membangun kepercayaan diri, identitas bangsa, dan kebanggaan nasional.

Dalam kehidupan modern olahragapun telah menjadi tuntutan dan kebutuhan hidup agar lebih sejahtera. Olahraga semakin diperlukan oleh manusia dalam kehidupan yang semakin kompleks dan serba otomatis, agar manusia dapat mempertahankan eksistensinya terhindar dari berbagai gangguan atau disfungsi sebagai akibat penyakit kekurangan gerak (Hypo Kinesis Desease). Olahraga yang dilakukan dengan tepat dan benar akan menjadi faktor penting yang sangat mendukung untuk pengembangan potensi diri.

Dalam berbagai referensi, olahraga didefinisikan secara berbeda-beda tergantung dari cara pandang yang digunakan. Menurut WHO, olahraga yaitu segala bentuk aktivitas gerak yang dilakukan setiap hari termasuk bekerja, rekreasi, latihan, dan aktivitas olahraga. Pembangunan olahraga di Indonesia harus didasari kebijakan olahraga (sports policy) yang kuat. Kekuatan kebijakan olahraga dapat dituangkan ke dalam Deklarasi Yogyakarta 2004 (Kemenegpora) dan UU No. 3 Tahun 2005 (Sistem

(3)

Keolahragaan Nasional/SKN) yang menyatakan bahwa olahraga adalah segala kegiatan yang sistematik untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial. Hal ini senada dengan tujuannya bahwa olahraga dapat meningkatkan dan memelihara kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa.

Pada hakikatnya pembangunan olahraga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan sekaligus merupakan kebutuhan manusia. Oleh karena itu, pembangunan olahraga merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembinaan dan pembangunan bangsa dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya insani, terutama diarahkan pada peningkatan kesehatan jasmani dan rohani, serta ditujuan untuk membentuk watak dan kepribadian yang memiliki displin dan sportivitas yang tinggi. Di samping itu, pembangunan olahraga juga dijadikan sebagai alat untuk memperlihatkan eksistensi bangsa melalui pembinaan prestasi yang setinggi-tingginya (Kusnan, 2013: 48).

Kesadaran masyarakat untuk berolahraga memberikan kontribusi dalam pembangunan individu dan masyarakat yang cerdas, sehat, terampil, tangguh, kompetitif, sejahtera, dan bermartabat. Hal tersebut mengandung makna bahwa kedudukan olahraga amat penting dan strategis dalam posisinya, karena memiliki kompetensi yang tinggi dalam memengaruhi keberhasilan pembangunan sektor lainnya terutama yang berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kehidupan masyarakatnya (Farhan, 2011: 82).

Tujuan pembangunan keolahragaan sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa (Pasal 4).

Pembangunan olahraga mencakup olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, dan olahraga prestasi. Ketiga lingkup olahraga ini dilakukan melalui pembinaan dan pengembangan olahraga secara terencana, sistematik, berjenjang, dan berkelanjutan, yang dimulai dari pembudayaan dengan pengenalan gerak pada usia dini, pemassalan

(4)

dengan menjadikan olahraga sebagai gaya hidup, pembibitan dengan penelusuran bakat dan pemberdayaan sentra-sentra keolahragaan, serta peningkatan prestasi dengan pembinaan olahraga unggulan nasional sehingga olahragawan andalan dapat meraih puncak pencapaian prestasi.

Penyelenggaraan pembangunan olahraga nasional utamanya didasarkan pada kesadaran serta tanggungjawab segenap warga negara akan hak dan kewajibannya dalam upaya untuk berpartisipasi guna peningkatan kualitas sumber daya manusia, melalui olahraga sebagai kebiasaan dan pola hidup, serta terbentuknya manusia dengan jasmani yang sehat, bugar, memiliki watak dan kepribadian, disiplin, sportivitas, dan dengan daya tahan yang tinggi akan dapat meningkatkan produktivitas, etos kerja dan prestasi.

Penciptaan sumber daya manusia untuk membentuk calon olahragawan berbakat dilakukan melalui pencanangan gerakan nasional (secara massal) guna menjadikan olahraga sebagai gaya hidup (life style); pemberdayaan (revitalisasi) olahraga dasar seperti lari, loncat, dan lempar (track and field) di satuan-satuan pendidikan usia dini, dasar, menengah, dan tinggi; serta fasilitasi penyelenggaraan perlombaan/kompetisi olahraga antar satuan pendidikan dan fasilitasi penyediaan instruktur/pelatih/guru olahraga yang berkualitas internasional di tengah masyarakat.

Potensi utama yang menonjol adalah komitmen penuh pemerintah dalam mendukung program keolahragaan terutama dalam segi penganggaran yang diaplikasikan dengan meningkatnya alokasi anggaran keolahragaan dari tahun ke tahun, termasuk juga memotivasi dunia usaha untuk memberikan dana melalui Corporate Social Responsibility (CSR) dari industri nasional dan BUMN/BUMD dalam mendukung pengembangan kegiatan olahraga di masyarakat.

Pembangunan keolahragaan dilaksanakan melalui: (a) penyelenggaraan olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, dan olahraga prestasi; (b) pembinaan dan pengembangan olahraga; (c) penyelenggaraan kejuaraan olahraga; (d) pembinaan dan pengembangan pelaku olahraga; (e) pembinaan, pengembangan, dan pengawasan olahraga profesional; (f) peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana olahraga; (g) pendanaan keolahragaan; (h) pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan; (i) peran serta masyarakat dalam kegiatan keolahragaan; (j) pengembangan kerja sama dan informasi keolahragaan; (k) pembinaan dan

(5)

pengembangan industri olahraga; (l) penyelenggaraan akreditasi dan sertifikasi; (m) pencegahan dan pengawasan terhadap doping; (n) pemberian penghargaan; (o) pelaksanaan pengawasan; dan (p) evaluasi nasional terhadap pencapaian standar nasional keolahragaan.

Fokus pembangunan keolahragaan saat ini adalah pembudayaan dan peningkatan prestasi olahraga yang jika dikaitkan dengan bangunan olahraga berarti penguatan fondasi bangunan olahraga yaitu budaya berolahraga dan penguatan pola pembibitan olahraga prestasi guna menciptakan sebanyak-banyaknya sumber daya calon olahragawan berbakat dari berbagai daerah di Indonesia sesuai dengan karakter fisik dan kultur lokal, serta kondisi lingkungan yang mendukung pembentukan potensi-potensi olahraga unggulan di daerah.

Untuk menciptakan budaya berolahraga dan iklim sehat yang mendorong peran serta aktif masyarakt dalam peningkatan prestasi olahraga, perlu ditumbuhkan sikap masyarakat yang sportif dan bertanggun jawab, penanaman nilai disiplin, motivasi meraih prestasi, dan sikap pantang menyerah dalam semua kegiatan olahraga. Terbentuknya budaya olahraga di masyarakat tidak selalu berarti terbentuknya budaya prestasi olahraga di masyarakat. Namun budaya berolahraga selalu menjadi persemaian bagi terbetuknya budaya prestasi olahraga di masyarakat. Budaya prestasi olahraga tidak boleh terhenti pada tahap permassalan, melainkan harus ditingkatkan sampai pada tahap kompetitif seperti yang dikemukakan Agus Kristiyanto (2010:31) pada gambar sebagai berikut:

Gambar 1.1 Budaya Olahraga Sebagai Persemaian Budaya Prestasi Olahraga Prestasi Kompetitif (Budaya Prestasi) Permassalan (Budaya Berolahraga)

(6)

Untuk mengukur tingkat pembangunan olahraga masyarakat tidak hanya dilakukan dengan satu indikator, yaitu perolehan medali, tetapi bisa dilakukan dengan mengukur pembangunan olahraga Indonesia melalui SDI (Sport Development Index). Sport Development Index sebagai instrument untuk mengukur hasil pembangunan olahraga suatu daerah. Sport Development Index (SDI) merupakan konsep baru yang hadir setelah adanya publikasi laporan pembangunan manusia di seluruh negara yang dikeluarkan oleh UNDP (United National Development Programme) yaitu salah satu badan organisasi PBB yang membidangi pembangunan. Indikator dari hasil pebangunan di suatu negara adalah dilihat dari HDI (Human Development Index).

Jika HDI dapat digunakan untuk menentukan tingkat kualitas manusia pada suatu negara, maka sport development indek (SDI) diharapkan dapat menentukan tingkat kemajuan pembangunan pada suatu daerah. Dengan demikian penciptaan iklim persaingan keberhasilan pembangunan olahraga akan mengarah pada pembangunan hakikat olahraga yang mendasar, bukan pada sesuatu yang instan berupa banyaknya perolehan medali.

Menurut Cholik dan Maksum (2007: 7), SDI adalah indeks gabungan yang mencerminkan keberhasilan pembangunan olahraga berdasarkan empat dimensi dasar: (1) ruang terbuka yang tersedia untuk olahraga,(2) sumber daya manusia atau tenaga keolahragaan yang terlibat dalam kegiatan olahraga, (3) pertisipasi warga masyarakat untuk melakukan olahraga secara teratur dan (4) derajat kebugaran jasmani yang dicapai oleh masyarakat.

Dimensi partisipasi merujuk pada banyaknya anggota masyarakat suatu wilayah yang melakukan kegiatan olahraga. Dimensi ruang terbuka merujuk pada luasnya tempat yang diperuntukkan untuk kegiatan berolahraga bagi masyarakat dalam bentuk lahan dan/atau bangunan. Ruang terbuka ditentukan berdasarkan kriteria: a) digunakan untuk kegiatan berolahraga; b) sengaja dirancang untuk kegiatan berolahraga, dan c) dapat diakses oleh masyarakat luas.

Dimensi kebugaran jasmani merujuk pada kesanggupan tubuh untuk melakukan aktivitas tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Dimensi sumber daya manusia merujuk pada jumlah pelatih olahraga, guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes), dan instruktur olahraga dalam suatu wilayah tertentu. Pencapaian prestasi yang tinggi dalam olahraga akan lahir dari masyarakat yang tingkat kebugarannya

(7)

tinggi, dan kebugaran jasmani yang tinggi akan lahir jika tingkat partisipasi masyarakat dalam melakukan olahraga meningkat, partisipasi masyarakat meningkat jika tersedia ruang terbuka untuk berolahraga, sarana dan prasarana serta faktor lain yang mendukung.

Mengukur kemajuan pembangunan olahraga melalui sport development indeks (SDI) kendatipun cukup sederhana, namun jelas akan memberikan informasi yang lebih tepat tentang arah pembangunan umum jangka panjang, terutama dalam sektor keolahragaan yang lebih mengakar dan terkait dengan pembangunan sektor lain. Hal tersebut diharapkan dapat menjadi pondasi yang kuat dalam suatu bangunan olahraga untuk menjawab pandangan masyrakat tentang pembangunan olahraga adalah seberapa banyak mendapatkan medali yang diperoleh.

Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi melahirkan olahragawan handal yaitu Kabupaten Wonogiri. Kabupaten wonogiri merupakan bagian wilayah Provinsi Jawa Tengah yang sangat strategis karena terletak di ujung selatan Provinsi Jawa Tengah dan diapit oleh Propinsi Jawa Timur dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Luas wilayah Kabupaten Wonogiri adalah 182.236,02 ha. Secara administratif terbagi menjadi 25 kecamatan, 43 kelurahan dan 251 desa. Kondisi alamnya sebagian besar berupa pegunungan berbatu gamping, terutama di bagian selatan, yang termasuk jajaran Pegunungan Seribu dan merupakan mata air dari Bengawan Solo.

Bagian selatan Kabupaten Wonogiri Berbatasan dengan Kabupaten Pacitan (Jawa Timur) dan Samudera Indonesia. Bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah). Bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Ponorogo (Jawa Timur). Bagian Barat berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Secara topografis, sebagian besar wilayah Kabupaten Wonogiri merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 100-300 meter di atas permukaan air laut (dpl). Sedangkan sebagian lagi merupakan dataran tinggi yaitu berada pada 500 m atau lebih dari permukaan air laut. Wilayah ini meliputi Kecamatan Jatiroto dan Karangtengah. Fisiografi wilayah Kabupaten Wonogiri sebagian besar berupa perbukitan bergelombang. Sedangkan fisiografi dataran sangat terbatas hanya di beberapa tempat terutama pada bentuk lahan aluvial.

(8)

Berdasarkan Indeks Kesejahteraan Rakyat (IKRAR) hasil penghitungan dari Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI Kabupaten Wonogiri berada pada kondisi yang cukup sejahtera. Kendati demikian kondisi masyarakat Wonogiri tidak terlepas dari berbagai persoalan sosial hampir pada semua sektor kehidupan. Fenomena degradasi moral dan karakter bangsa makin terasa akut. Di kalangan masyarakat makin mewabah patologi sosial dan penyalahartian praktik kehidupan demokrasi dengan kebebasan tanpa aturan. Selain itu juga ada perkembangan sentimen kedaerahan dan kesukubangsaan yang makin melunturkan semangat nasionalisme, maraknya kekerasan dan pelanggaran.

Dilihat dari prestasinya, Kabupaten Wonogiri telah ikut andil dalam mewarnai ajang kompetisi bergengsi baik tingkat nasional maupun internasional. Sebagai contoh atlet Wonogiri dari cabang olahraga Judo atas nama Eko Mulianto berhasil memperkuat kontingen Jawa Tengah untuk maju di laga pesta olahraga terbesar dan bergengsi di Pekan Olahraga Nasional di Bandung Provinsi Jawa Barat pada September 2016. Tidak kalah bergengsinya lagi atlet cabang olahraga karate Kabupaten Wonogiri talah mengikuti kejuaraan tingkat dunia. Prestasi di tingkat pelajarpun tidak kalah membanggakan, banyak atlet pelajar dari Kabupaten Wonogiri yang ikut mewarnai kejuaran pelajar tingkat nasional seperti O2SN, POPNAS, POSPENAS, dan KEJURNAS.

Kendati demikian, prestasi olahraga Kabupaten Wonogiri perlu mendapatkan perhatian lebih dikarenakan hal tersebut tidak mengalami perkembangan bahkan menurun. Fenomena peraih juara II Triathlon Wonogiri kategori umum Muhammad Taufiq, Pelari asal Kabupaten Ciamis, Jawa Barat mengaku pernah bergabung dengan club lari Gunung Seribu Wonogiri sebelum masuk Pelatnas. Namun Wonogiri yang selama bertahun-tahun menjadi ajang adu lari marathon tingkat nasional hingga triathlon baru-baru ini, justru belum sekali pun mengelurkan juara lari. Terkait buruknya prestasi tersebut dikarenakan tidak ada pembinaan dari pemerintah baik dari segi pendanaan, sarpras, maupun ketersediaan tenaga keolahragaan (pelatih).

Kurangnya pendanaan dari pemerintah dan masyarakat mengakibatkan keikutsertaan olahragawan dalam kejuaraan di tingkat regional dan internasional sangat kurang sehingga berakibat kepada kurangnya pengalaman dan kematangan fisik, mental, teknik dan taktik bertanding. Keterbatasan faktor-faktor pendukung lainnya

(9)

mengakibatkan terhambatnya pembudayaan dan pembinaan prestasi olahraga, yang meliputi kurangnya prasarana dan sarana olahraga masyarakat, rendahnya apresiasi dan penghargaan bagi olahragawan dan tenaga keolahragaan yang berprestasi, serta belum optimalnya sistem manajemen keolahragaan daerah.

Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam upaya pembudayaan dan pembinaan prestasi olahraga khususnya di Kabupaten Wonogiri, antara lain dalam lingkup olahraga pendidikan, Sekolah Khusus Olahraga (SKO) yang terdapat di Wonogiri masih terbatas. Program tersebut seharusnya dijalankan sesuai dengan dokumen perencanaannya dan masih perlu ditingkatkan pengelolaannya untuk dapat memenuhi kebutuhan sebagai pusat pembinaan, antara lain masih sangat kurangnya tenaga keolahragaan yang memahami sistem kepelatihan olahraga usia dini, sarana dan prasarana yang masih jauh dari memadai, serta seleksi penerimaan siswa peserta pelatihan yang masih belum memenuhi kriteria yang dipersyaratkan.

Untuk hal tersebut, pemerintah berupaya meningkatkan kegiatan olahraga melalui wadah – wadah pembinaan maupun di sekolah ataupun pendidikan negeri . Dari upaya itulah diharapkan lahirnya bibit - bibit baru atlet yang berbakat. Dengan prestasi yang dicapai akan dapat membangkitkan rasa kebanggaan nasional bahkan dapat diperhitungkan sebagai ukuran kemajuan suatu daerah.

Selain itu, untuk mengatasi pasang – surutnya prestasi olahraga Kabupaten Wonogiri diperlukan pembudayaan prestasi olahraga karena dipercayai sebagai sisi lemah yang belum tergarap dalam kesemestaan pembinaan prestasi olahraga nasional. Pembudayaan prestasi olahraga identik dengan proses memperkokoh pilar penyangga budaya prestasi olahraga. Menurut Agus Kristiyanto (2010:39) menyatakan bahwa “faktor – faktor mendasar yang menjadi pilar penyangga budaya prestasi olahraga, meliputi: (1) manusia, (2) lingkungan, dan (3) karya manusia. Dimana prestasi merupakan suatu karya manusia, sedangkan karya adalah mediasi antara manusia dengan lingkungan. Maka prestasi olahraga diharapkan dapat dicapai manakala manusia dapat berinteraksi dengan lingkungannya secara seimbang. Penyebaran budaya olahraga secara inovatif akan menumbuhkan komunikasi yang efektif, upaya penyadaran, antusiasme spontanitas, serta rasa tanggung jawab masyarakat terhadap berbagai upaya penciptaan prestasi olahraga.

(10)

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Pembangunan Olahraga Kabupaten Wonogiri Ditinjau Dari Sport Development Index (Studi Evaluasi tentang ruang terbuka, SDM, partisipasi masyarakat, dan tingkat kebugaran jasmani).”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka masalah yang ada dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pembangunan olahraga Kabupaten Wonogiri?

2. Bagaimanakah ketersediaan ruang terbuka olahraga dan upaya pengembangan ruang terbuka olahraga di Kabupaten Wonogiri?

3. Bagaimanakah kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) dan upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Wonogiri?

4. Bagaimanakah tingkat partisipasi masyarakat dalam berolahraga dan upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berolahraga di Kabupaten Wonogiri? 5. Bagaimanakah tingkat kebugaran jasmani masyarakat dan upaya untuk

meningkatkan kebugaran jasmani masyarakat di Kabupaten Wonogiri? 6. Bagaimanakah hasil Sport Development Index (SDI) Kabupaten Wonogiri?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang disajikan maka tujuan yang hendak dicapai adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui hasil pembangunan olahraga Kabupaten Wonogiri.

2. Untuk mengetahui ketersediaan ruang terbuka olahraga dan upaya yang dilakukan untuk mengembangkan ketersediaan ruang terbuka olahraga di Kabupaten Wonogiri. 3. Untuk mengetahui kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) dan upaya

yang dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Wonogiri.

4. Untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam berolahraga dan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berolahraga di Kabupaten Wonogiri.

(11)

5. Untuk mengetahui tingkat kebugaran jasmanni masyarakat dan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani masyarakat di Kabupaten Wonogiri.

6. Untuk mengetahui hasil Sport Development Index (SDI) Kabupaten Wonogiri?

D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu :

1. Mendapatkan informasi kemajuan pembangunan olahraga melalui penerapan indikator yang telah terukur dan komprehensif khususnya di Kabupaten Wonogiri. 2. Memberikan masukan Pemerintah daerah (PEMDA) Kabupaten Wonogiri dalam

mengevaluasi kebijakan pemerintah termasuk Dinas Pemuda dan Olahraga (DISPORA) Kabupaten Wonogiri dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Wonogiri sebagai upaya bersama untuk memajukan, membina, dan mengembangkan olahraga di Kabupaten Wonogiri yang lebih mengacu pada indikator pembagunan olahraga yang lebih mendasar untuk jangka panjang. Karena instrumen yang digunakan merupakan instrumen baku makan indeks yang diperoleh bersifat comparable.

3. Memberikan informasi bagi pelaku olahraga (masyarakat) agar dapat berperan aktif dalam mendukung upaya – upaya pemerintah yang berkaitan dengan pembangunan olahraga di Kabupaten Wonogiri, dan dapat meningkatkan motivasi masyarakat untuk melakukan olahraga.

Gambar

Gambar 1.1 Budaya Olahraga Sebagai Persemaian Budaya   Prestasi Olahraga Prestasi Kompetitif (Budaya Prestasi) Permassalan (Budaya Berolahraga)

Referensi

Dokumen terkait

Kontribusi penelitian dapat memberikan sumbangan saran, pemikiran dan informasi yang bermanfaat dan dapat dijadikan sumber informasi berkaitan dengan pentingnya pengelolaan

Berdasarkan penelitian yang telah peneliti lakukan di TK Pelita Nusantara Kabupaten Bengkayang mengenai peningkatan kemampuan bahasa Indonesia anak usia 4-5 tahun

terapi musik instrumental 82% depresi ringan, 18% depresi berat, 2) setelah melakukan terapi musik instrumental 88% tidak depresi dan 12% depresi ringan, 3) hasil

Metode pengolahan dan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan manajemen strategi untuk mengetahui lingkungan perusahaan

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

Skripsi ini diajukan guna memenuhi syarat meraih gelar sarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial, dengan judul “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Perkembangan Anak