BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. seseorang dalam kehidupannya dan tidak seorang pun dapat terhindar dari

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1. Stres

1.1 Pengertian Stres Akademik

Stres merupakan suatu fenomena yang pernah atau akan dialami oleh seseorang dalam kehidupannya dan tidak seorang pun dapat terhindar dari padanya. Berdasarkan terminologinya, istilah stres berasal dari bahasa Latin “singere” yang berarti keras atau sempit (strictus). Istilah ini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan penelaahan yang berlanjut dari waktu ke waktu dari straise, strest, stresce, dan stress (Yosep, 2007).

Menurut Santrock (2005), stres merupakan respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stres (stressor) yang mengancam dan mengganggu kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping). Stres adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari, disebabkan oleh perubahan yang memerlukan penyesuaian (Keliat, 1998). Sarafino (1990) mendefinisikan stres sebagai kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungannya yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi dengan sumber daya dari sistem-sistem biologis, psikologis dan sosial seseorang.

Kuliah adalah pengalaman yang penuh dengan stres atau tekanan. Stres akademik muncul ketika harapan untuk pencapaian prestasi akademik meningkat, baik dari orang tua, guru ataupun teman sebaya dan stress ini meningkat setiap

(2)

tahunnya seiring dengan tuntutan terhadap anak yang berbakat dan berprestasi yang tidak pernah berhenti. Baumel dalam Wulandari (2011) menyatakan bahwa stres akademik merupakan stres yang disebabkan oleh stressor akademik, yaitu yang bersumber dari proses belajar mengajar atau yang berhubungan dengan kegiatan belajar yang meliputi lama belajar, banyak tugas, birokrasi, mendapatkan beasiswa, keputusan menentukan jurusan, dan karir serta kecemasan ujian dan manajemen waktu.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa stres di bidang akademik adalah respon individu akibat kesenjangan antara tuntutan lingkungan terhadap prestasi akademik dengan kemampuan untuk mencapainya sehingga situasi tersebut mengakibatkan perubahan respon dalam diri individu tersebut, baik secara fisik maupun psikologis.

1.2 Faktor-Faktor Penyebab Stres

Penyebab stress atau stressor adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga orang tersebut terpaksa mengadakan adaptasi untuk menanggulangi stressor yang timbul (Yosep, 2007). Menurut Yosep (2007), pada umumnya penyebab stres dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Perkawinan, yaitu masalah pertengkaran, perpisahan, perceraian, dan keadaan kematian salah satu pasangan yang dapat menyebabkan seseorang jatuh dalam kondisi stres.

(3)

2. Masalah orang tua, yaitu permasalahan yang dihadapi orang tua, misalnya tidak punya anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak yang sakit, dan kondisi pertengkaran dengan mertua, besan, dan ipar yang tidak baik.

3. Hubungan interpersonal, berupa gangguan yang timbul dari hubungan dengan orang terdekat seperti teman dekat, konflik dengan kekasih, konflik antara bawahan dan atasan.

4. Pekerjaan, misalnya pekerjaan yang terlalu banyak, pekerjaan tidak cocok, jabatan, kenaikan pangkat, pensiun, dan kehilangan pekerjaan.

5. Lingkungan hidup, berupa gangguan yang dialami di daerah tempat tinggal, misalnya disebabkan oleh hidup dalam lingkungan yang tingkat kriminalitasnya tinggi, penggusuran, dan pindah tempat tinggal.

6. Keuangan, yaitu masalah keuangan yang tidak sehat, misalnya pendapatan jauh lebih rendah daripada pengeluaran, terlibat hutang, usaha yang gagal, dan permasalahan warisan.

7. Hukum, yaitu keterlibatan seseorang dalam permasalahan hukum seperti tuntutan hukum, pengadilan, dan penjara.

8. Perkembangan, yaitu gangguan yang timbul akibat perkembangan fisik dan mental seseorang yang tidak baik sehingga menimbulkan kondisi stres, bahkan jatuh dalam kondisi cemas dan depresi.

9. Penyakit fisik atau cedera, misalnya akibat penyakit, kecelakaan, operasi, aborsi, dan lain sebagainya.

(4)

10. Faktor keluarga, yaitu faktor penyebab stres yang dialami oleh anak dan remaja yang disebabkan hubungan keluarga yang tidak baik, misalnya komunikasi orang tua dan anak yang tidak baik, kedua orang tua jarang di rumah, orang tua kurang sabar dalam mendidik anak, dan lain sebagainya.

11. Faktor penyebab stres lainnya, seperti bencana alam, kebakaran, kehamilan di luar nikah, dan lain sebagainya.

1.3 Faktor-Faktor Penyebab Stres Akademik

Stressor adalah situasi atau keadaan yang menimbulkan stres atau memicu terjadinya stres (Santrock, 2005). Wilks dalam Calaguas (2011), menyatakan bahwa banyak faktor yang berkontribusi terhadap pengalaman stres mahasiswa, tetapi secara khusus stres akademik yang dialami berkaitan dengan manajemen waktu, masalah keuangan, interaksi dengan dosen, tujuan pribadi, kegiatan sosial, penyesuaian dengan lingkungan sekolah, dan kurangnya dukungan.

Berdasarkan penelitian Ross dkk (1999), terdapat empat kategori sumber stres, yaitu: 1) masalah interpersonal berupa pertengkaran dengan teman atau masalah dengan orang tua; 2) masalah intrapersonal misalnya perubahan pola makan dan waktu tidur; 3) masalah akademik yang berupa aktivitas yang berhubungan dengan peningkatan beban tugas mahasiswa yang harus dikerjakan, pindah sekolah, ketinggalan pelajaran, dan perselisihan dengan dosen; dan 4) lingkungan, misalnya kendaraan yang mogok, komputer yang rusak, dan masalah keuangan.

(5)

Kohn & Frazer (1986) mendeskripsikan pengalaman penyebab stress menjadi tiga bagian, yaitu: 1) physical stressors berupa suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan; 2) psychological stressor berupa belajar untuk menghadapi ujian, tugas yang berlebihan, lupa mengerjakan tugas; 3) psychosocial stressor yang terjadi akibat interaksi interpersonal.

Berdasarkan penelitian Calaguas (2011), faktor penyebab stres yang sering dialami oleh mahasiswa di Philipina ada delapan kategori, yaitu:

1. Stressor yang berkaitan dengan pendaftaran dan penerimaan perkuliahan, yaitu mengikuti prosedur pendaftaran, mengambil/menambahkan mata pelajaran, dan validasi mata pelajaran.

2. Stressor yang berkaitan dengan mata pelajaran, yaitu mempersiapkan ujian, melewati ujian tertulis, melewati ujian lisan, lulus dalam ujian praktek, berpartisipasi dalam diskusi kelas, memahami diskusi kelas, melakukan penelitian, menyelesaikan karya tulis, mencari bahan referensi, menyelesaikan tugas, berpartisipasi dalam kegiatan penyuluhan.

3. Stressor yang berkaitan dengan dosen, yaitu menghadapi dosen pengajar yang perfectionist, metode pengajaran dosen, penyesuaian dengan dosen yang memperlakukan mahasiswa dengan tidak adil, permasalahan dengan dosen.

4. Stressor yang berkaitan dengan teman sekelas, yaitu berdebat dengan teman sekelas, tidak menyukai teman sekelas, persaingan dengan teman sekelas, teman sekelas yang suka mengganggu, tingkah laku teman sekelas.

(6)

5. Stressor yang berkaitan dengan jadwal kuliah, yaitu kehadiran mengikuti perkuliahan, waktu kosong yang terlalu banyak, waktu kosong yang terlalu sedikit, partisipasi dalam kegiatan ekstrakulikuler, menghadiri pertemuan organisasi dan menghadiri kegiatan kampus.

6. Stressor yang berkaitan dengan ruang kelas, yaitu kelas yang sangat penuh, ventilasi kelas yang buruk, pencahayaan kelas yang buruk, kelas yang kotor, kelas yang bising, kelas dengan tempat yang terbatas, dan gangguan dari dalam dan luar kelas.

7. Stressor yang berkaitan dengan keuangan, yaitu penganggaran keuangan, pengeluaran yang tidak terduga, dan penghematan uang untuk rencana-rencana.

8. Stressor yang berkaitan dengan harapan, yaitu khawatir terhadap masa depan dan mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah, harapan dari orang tua, harapan kerabat, harapan dosen, dan menangani harapan diri.

1.4 Tahapan Stres

Gejala-gejala stres pada seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres berjalan secara lambat dan baru dirasakan saat tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari. Amberg dalam Hawari (2001) membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut:

(7)

a. Stres tahap I

Merupakan tahapan stres yang paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan semangat bekerja besar, penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya, merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya tanpa menyadari cadangan energi dihabiskan, disertai rasa gugup yang berlebihan, merasa senang dengan pekerjaan tersebut dan semakin bertambah semangat, tetapi tanpa disadari cadangan energi semakin menipis. b. Stres tahap II

Pada tahap ini dampak stres yang semula “menyenangkan” mulai menghilang dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena kurang istirahat. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan adalah merasa letih ketika bangun pagi, merasa mudah lelah sesudah makan siang, lekas merasa capai menjelang sore hari, sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman (bowel discomfort), detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar), otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang dan tidak bisa santai.

c. Stres tahap III

Merupakan keadaan yang akan terjadi apabila seseorang tetap memaksakan dirinya dalam pekerjaan tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap II. Keluhan-keluhan pada tahap ini seperti gangguan usus dan lambung yang semakin nyata, ketegangan otot-otot, perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional yang semakin meningkat, gangguan pola tidur (insomnia), koordinasi tubuh terganggu. Pada tahapan ini, seseorang harus

(8)

berkonsultasi pada dokter atau terapis, beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh beristirahat.

d. Stres tahap IV

Tidak jarang seseorang yang memeriksakan diri ke dokter karena keluhan-keluhan yang dialami pada stres tahap III, dinyatakan tidak sakit oleh dokter dikarenakan tidak adanya kelainan fisik yang ditemukan pada organ tubuhnya. Bila hal ini terjadi dan orang tersebut tetap memaksakan diri untuk bekerja tanpa mengenal istirahat, maka gejala stres tahap IV akan muncul. Gejalanya adalah bosan terhadap aktivitas kerja yang semula terasa menyenangkan, kehilangan kemampuan untuk merespon secara memadai (adequate), ketidakmampuan untuk melakukan kegiatan rutin sehari-hari, gangguan pola tidur disertai mimpi-mimpi yang menegangkan, seringkali menolak ajakan (negativism) karena tidak ada semangat dan kegairahan, daya konsentrasi dan daya ingat menurun dan timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.

e. Stres tahap V

Keadaan lanjutan yang ditandai dengan keadaan kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical and psychological exhaustion), ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana, gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastro-intestinal disorder), dan timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang semakin meningkat serta mudah bingung dan panik.

(9)

f. Stres tahap VI

Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang akan mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Stres pada tahap ini ditandai dengan gejala debaran jantung teramat keras, susah bernapas (sesak dan megap-megap), sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran, ketiadaan tenaga untuk melakukan hal-hal yang ringan, pingsan atau kolaps (collapse).

1.5 Reaksi Stres

Menurut Helmi dalam Safaria & Saputra (2009), ada empat macam reaksi stres, yaitu reaksi psikologis, fisiologis, proses berpikir dan tingkah laku. Keempat reaksi ini dapat berwujud negatif maupun positif. Reaksi yang bersifat negatif antara lain sebagai berikut:

1. Reaksi psikologis, biasanya lebih dikaitkan pada aspek emosi, seperti mudah marah, sedih dan tersinggung.

2. Reaksi fisiologis, biasanya muncul dalam bentuk keluhan fisik, seperti pusing, nyeri tengkuk, tekanan darah naik, nyeri lambung, gatal-gatal di kulit dan rambut rontok.

3. Reaksi proses berpikir (kognitif), biasanya tampak dalam gejala sulit berkonsentrasi, mudah lupa, dan sulit megambil keputusan.

(10)

4. Reaksi perilaku, biasanya tampak dari perilaku-perilaku menyimpang seperti minum-minuman beralkohol, mengkonsumsi obat-obatan, frekuensi merokok meningkat, dan menghindari bertemunya teman.

1.6 Dampak Stressor

Menurut Kozier dan Erb dalam Keliat (1998), dampak stressor dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu:

a. Sifat stressor

Jika seseorang mempersepsikan stressor sebagai keadaan yang mengancam kehidupannya dan berakibat buruk baginya, maka tingkat stres yang dialami akan terasa berat. Namun, bila stressor yang sama dipersepsikan dengan baik, maka tingkat stres yang dialami akan lebih ringan.

b. Jumlah stressor yang dihadapi dalam waktu bersamaan

Apabila terdapat banyak stressor sedang dialami oleh seseorang, maka penambahan stressor kecil dapat menjadi pencetus yang mengakibatkan reaksi yang berlebihan.

c. Lamanya pemaparan terhadap stressor

Pemaparan yang intensif terhadap stressor dapat menyebabkan kelelahan dan ketidakmampuan menghadapi stressor.

d. Pengalaman masa lalu

Pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi seseorang menghadapi stressor yang sama. Misalnya, seseorang yang dirawat di rumah sakit satu tahun yang lalu dengan pengalaman negatif terhadap perawat, maka akan merasa lebih

(11)

cemas lagi ketika harus di rawat di rumah sakit yang sama untuk kedua kalinya.

e. Tingkat perkembangan

Pada tingkat perkembangan tertentu, terdapat jumlah dan intensitas stressor yang berbeda sehingga resiko terjadinya stres pada tiap tingkat perkembangan berbeda-beda.

2. Koping

2.1 Pengertian Koping

Proses yang dilalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi yang penuh dengan stres. Koping adalah respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologis (Rasmun, 2004). Menurut Keliat (1998), koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, respon terhadap situasi yang mengancam. Jadi dapat dikatakan koping adalah proses dimana seseorang berusaha mengatur ketidakcocokan antara tuntutan dan sumber yang muncul dalam situasi yang penuh stres atau dengan kata lain cara yang dilakukan individu untuk menyelesaikan masalahnya.

2.2 Respon Koping

Koping dapat diidentifikasikan melalui respon, manifestasi (tanda dan gejala) dan pernyataan melalui wawancara. Keliat (1998) menyatakan bahwa koping dapat dikaji melalui beberapa aspek berikut:

(12)

a. Respon Fisiologis

Manifestasi tubuh terhadap stres dapat dirasakan melalui pelebaran pupil mata, sekresi keringat yang meningkat, denyut nadi yang meningkat, kulit menjadi dingin, tekanan darah meningkat, frekuensi dan kedalaman pernapasan, pengeluaran urin yang menurun, mulut kering, kewaspadaan mental dan ketegangan otot yang meningkat, gula darah meningkat, letargi, dan mungkin penurunan fungsi fisiologis dan tonus otot.

b. Reaksi Psiko-Sosial

Koping yang dapat dikaji pada diri individu terkait dengan aspek psikososial adalah:

a. Reaksi yang berorientasi pada ego yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental, yaitu berupa reaksi penyangkalan (denial), proyeksi (menyalahkan orang lain), regresi (penolakan), mengisar (displacement), isolasi (keinginan untuk menyendiri), dan supresi (menunda menyelesaikan masalah).

b. Reaksi yang berkaitan dengan respon verbal, seperti menangis untuk menurunkan perasaan tegang terhadap situasi yang menyedihkan, tertawa untuk mengurangi ketegangan, teriak sebagai respon pada ketakutan, frustasi atau marah, memukul dan meyepak sebagai respon terhadap ancaman fisik, menggenggam dan meremas sebagai respon untuk mengurangi ketegangan dan perasaan sedih, mencerca sebagai respon yang diarahkan pada sumber stres. Mekanisme pertahanan mental dan respon

(13)

verbal tidak menyelesaikan masalah secara tuntas karena itu perlu dikembangkan kemampuan menyelesaikan masalah.

c. Reaksi yang berorientasi pada penyelesaian masalah. Koping ini melibatkan proses kognitif, afektif, dan psikomotor, seperti berbicara dengan orang lain (teman maupun anggota keluarga) tentang masalahnya dan mencari jalan keluar dari informasi orang lain, mencari tahu lebih banyak tentang situasi yang dihadapi melalui buku atau orang yang ahli, melakukan kegiatan ibadah yang teratur untuk meningkatkan percaya diri dan mengembangkan pikiran positif, melakukan latihan penanganan stres, misalnya latihan pernapasan dan meditasi, membuat berbagai alternatif tindakan dalam menangani situasi, dan belajar dari pengalaman yang lalu atau dengan kata lain tidak mengulang kesalahan yang sama.

2.3 Fungsi Koping

Menurut Lazarus & Folkman dalam Safaria & Saputra (2009), koping memiliki dua fungsi umum, yaitu fungsinya dapat berupa fokus ke titik permasalahannya, serta melakukan regulasi emosi dalam merespon masalah.

Lazarus & Folkman dalam Safaria & Saputra (2009) menyatakan bahwa koping yang berpusat pada masalah (problem-focused coping) adalah fungsi koping yang bertujuan untuk mengatur atau mengatasi masalah penyebab stres dan mencari sumber penyelesaian masalah. Pengelolaan koping ini dapat berupa tindakan merumuskan masalah, membuat alternatif-alternatif jalan keluar, mempertimbangkan segala kemungkinan yang berhubungan dengan alternatif

(14)

yang akan diambil, memilih alternatif yang terbaik, dan mengambil keputusan untuk bertindak. Setiap hari dalam kehidupan kita secara tidak langsung koping berpusat pada masalah sering kita gunakan, saat kita bernegosiasi untuk membeli sesuatu di toko, saat kita membuat jadwal pelajaran, mengikuti perawatan psikologis, atau belajar untuk meningkatkan kemampuan (kursus bahasa Inggris, menjahit, pelatihan komputer).

Folkman & Lazarus juga mengidentifikasi beberapa aspek koping yang berpusat pada masalah, yaitu:

1. Seeking informational support, yaitu mencoba untuk memperoleh informasi dari orang lain, seperti dokter, psikolog, atau guru

2. Confrontive coping, yaitu melakukan penyelesaian masalah secara konkrit 3. Planful problem solving, yaitu menganalisa setiap situasi yang menimbulkan

masalah serta berusaha mencari solusi secara langsung terhadap masalah yang dihadapi.

Koping yang berpusat pada emosi (emotion-focused coping) adalah fungsi koping yang bertujuan untuk mengontrol respon emosional terhadap situasi yang menimbulkan masalah. Koping yang berpusat pada emosi cenderung dilakukan apabila individu merasa tidak mampu mengubah kondisi yang stressful, sehingga yang diatur individu adalah mengatur emosinya. Sebagai contoh yang jelas, ketika seseorang yang dicintai meninggal dunia, orang biasanya mencari dukungan emosi dan mengalihkan diri atau menyibukkan diri dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah atau kantor. Menurut Sarafino (1998), individu dapat mengatur respon emosionalnya dengan beberapa cara, antara lain dengan mencari dukungan

(15)

emosi dari sahabat atau keluarga, meakukan aktivitas yang disukai, seperti olahraga atau menonton film untuk mengalihkan perhatian dari masalah, bahkan tidak jarang dengan menggunakan alkohol dan obat-obatan.

Folkman & Lazarus dalam Safaria & Saputra (2009) juga mengidentifikasi beberapa aspek koping yang berpusat pada emosi yang didapat dari penelitian-penelitiannya, yaitu:

1. Seeking social emotional support, yaitu mencoba untuk memperoleh dukungan secara emosional maupun sosial dari orang lain

2. Distancing, yaitu mengeluarkan upaya kognitif untuk melepaskan diri dari masalah atau membuat sebuah harapan positif

3. Escape avoidance, yaitu mengkhayal mengenai situasi atau melakukan tindakan atau menghindar dari situasi yang tidak menyenangkan dimana individu melakukan fantasi andaikan permasalahannya pergi dan mencoba untuk tidak memikirkan tentang masalah dengan tidur atau menggunakan alkohol

4. Self control, yaitu mencoba untuk mengatur perasaan diri sendiri atau tindakan dalam hubungannya untuk menyelesaikan masalah

5. Accepting responsibility, yaitu menerima untuk menjalankan masalah yang dihadapinya sementara mencoba untuk memikirkan jalan keluarnya

6. Positive reappraisal, yaitu mencoba untuk membuat suatu arti positif dari situasi dalam masa perkembangan kepribadian, kadang-kadang dengan sifat yang religius.

(16)

2.4 Mekanisme Koping

Menurut Keliat (1998), mekanisme koping terdiri dari dua jenis, yaitu: 1. Mekanisme koping adaptif, yaitu suatu usaha yang dilakukan individu dalam

menyelesaikan masalah akibat adanya stressor atau tekanan, yang bersifat positif, rasional, dan konstruktif.

2. Mekanisme koping maladaptif, yaitu suatu usaha yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah akibat adanya stressor atau tekanan, yang bersifat negatif, merugikan dan destruktif serta tidak dapat menyelesaikan masalah dengan tuntas.

3. Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses pembelajaran dimana dirancang masalah-masalah yang menuntut mahasiswa mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim (Direktorat Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2008). Kurikulum yang dikonsepkan ini, lebih didasarkan pada rumusan kompetensi yang harus dicapai/dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi yang sesuai atau mendekati kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat pemangku kepentingan/stakeholders (competence based curriculum). Luaran hasil pendidikan (outcomes) yang diharapkan sesuai dengan societal needs, industrial/business needs, dan professional needs, dengan pengertian bahwa

(17)

outcomes merupakan kemampuan mengintegrasikan intellectual skill, knowledge dan afektif dalam sebuah perilaku secara utuh (Direktorat Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2008).

Berdasarkan Kepmendiknas No. 232/U/200, kurikulum ini terdiri atas kelompok-kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), Mata Kuliah Keilmuan dan Ketrampilan (MKK), Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB), Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB), serta Mata Kuliah Berkehidupan Bersama (MBB). Kurikulum ini tidak hanya menekankan pada hard skill saja, namun mengembangkan soft skill sesuai bidang ilmunya.

Pola pembelajaran yang sebelumnya terpusat pada dosen dianggap kurang memadai untuk mencapai tujuan pengajaran yang berbasis kompetensi. Berbagai alasan yang dapat dikemukakan adalah: (i) perkembangan IPTEK dan Seni yang sangat pesat dengan berbagai kemudahan untuk mengaksesnya merupakan materi pembelajaran yang sulit dapat dipenuhi oleh seorang dosen, (ii) perubahan kompetensi kekaryaan yang berlangsung sangat cepat memerlukan materi dan proses pembelajaran yang lebih fleksibel, (iii) kebutuhan untuk mengakomodasi demokratisasi partisipatif dalam proses pembelajaran di pergruan tinggi. Oleh karena itu, pembelajaran ke depan di dorong menjadi berpusat pada mahasiswa (SCL) dengan memfokuskan pada tercapainya kompetensi yang diharapkan. Hal ini berarti mahasiswa harus didorong untuk memiliki motivasi dalam diri mereka sendiri, kemudian berupaya keras mencapai kompetensi yang diinginkan.

Pola pembelajaran KBK memandang pengetahuan sebagai sebuah hasil konstruksi atau bentukan dari orang yang belajar, sehingga belajar adalah sebuah

(18)

proses mencari dan membentuk/mengkonstruksi pengetahuan, jadi bersifat aktif, dan spesifik caranya. Pola pembelajaran yang dipraktekkan adalah dosen hanya sebagai fasilitator dan motivator dengan menyediakan beberapa strategi belajar yang memungkinkan mahasiswa (bersama dosen) memilih, menemukan dan menyusun pengetahuan serta cara mengembangkan ketrampilannya (method of inquiry and discovery). Dengan paradigma inilah proses pembelajaran (learning process) dilakukan.

Terdapat beragam metode pembelajaran untuk SCL, di antaranya adalah Small Group Discussion, Role-Play & Simulation, Case Study, Discovery Learning, Self-Directed Learning, Cooperative Learning, Collaborative Learning, Contextual Instruction, Project Based Learning, dan Problem Based Learning and Inquiry. Selain model tersebut, masih banyak model pembelajaran lain yang belum dapat disebutkan satu persatu, bahkan setiap pendidik/dosen dapat pula mengembangkan model pembelajarannya sendiri (Direktorat Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2008). Metode pembelajaran KBK yang diterapkan di Fakultas Keperawatan USU adalah metode ceramah, tutorial, praktikum dan skill lab.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :