CATATAN RAPAT PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Teks penuh

(1)

CATATAN RAPAT

PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG Tahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke Jenis Rapat Deng an Sifat Rapat Hari, tanggal Pu k u I Tempat Ketua Rapat Sekretaris Rapat AcaraRapat Had

i

r

PERADILAN TATA USAHA NEGARA

1986-1987 II

13

Rapat Kerja Panitia Khusus ke-10 Menteri Kehakiman

Terbuka

Senin, 27 Oktober 1986 09.00 s/d 13.30 WIB.

Ruang Rapat Panitia Khusus Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

DR. A.A. Baramuli, S.H. Drs. Noer Fata

Melanjutkan pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) Rancangan Undang-unpang tentang Peradilan Ta~a~

Usaha Negara antara Dewan Perwak:ilan Rakyat Republik Indonesia dan Pemerintah.

PANITIA KHUSUS :

24 dari 38 orang Anggota Tetap; 12 dari 19 orang Anggota Pengganti. PEMERINTAH:

(2)

ANGGOTA TETAP : I. DR. A.A. Baramuli, S.H. 2. Oamciwar, S.H. 3. Soelaksono. S.H. 4. H.M. Munasir 5. Imam Sukarsono, S.H. 6. M. Said Wijayaatmadja, S.H. 7. Harry Suwondo, S.H. 8. Ors. F. Harefa, S.H. 9. M.S. Situmorang

IO. Mohammad Noer Madjid, S.H. 11. Taufik Hidayat. S.H.

12. Prof. Soehardjo Sastrosoehardjo, S.H.

13. Suhadi Hardjosutarno, S.H. 14. Soeboeh Reksojoedo, S.H. 15. M. Zainuddin Wasaraka 16. Muljadi Djajanegara, S.H. 17. Drs. Aloysius Aloy 18. Sugiharsojono, S.H. 19. A. Madjid Ewa, S.H. 20. Soetomo HR, S.H. 21. H. Adnan Kohar S. 22. H.M. Djohan Burhanuddin A, S.H. 23. Tgk. H.M. Saleh

24. Ors. Ruhani Abdul Hakim.

ANGGOTA PENGGANTI : 1. Soeharto

2. Amir Yudowinamo 3. Sutjipto, S.H.

4. Ny. A. Roebiono Kertopati, S.H.

5. A. Latief. S.H. 6. H.R. Soedarsono

7. Ny. Ora. H. Nasjrah M. Effendy 8. Ors. I Made Tantra

(3)

10. Suparman Adiwidjaja, S.H.

11. Drs. H. Yabya Chumaidi Hasan 12. Abdul Hay Jayamenggala.

PEMERINTAH : 1. Ismail Saleh, S.H. 2. Indroharto, S.H. 3. Djoko Soegianto, S.H. 4. Roeskamdi, S.H. 5. Anton Soedjadi, S.H. 6. Marianna Sutadi, S

.H.

7. Setiawan

8. Ny. Mariatul Azma Saleh, S.H. 9. Etty Rusmadi Murad

10. Dewi Maryun 11. Wicipto Setiadi, S.H. 12. Ny. Fatirnan Achyar 13. A. Sudjadi Menteri Kehakiman Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Penghubung

KETUA RAPAT (DR. A. A. BARAMULI, S.H.):

Perkenankan kami untuk membuka kembali Rapat Kerja dengan Pemerintah dan dengan mengucapkan Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam sejahtera tetap merdeka, kami nyatakan rapat ini terbuka untuk umum, dan dibuka.

Tanggal 25 hari Sabtu telah diselesaikan sampai Pasal 63 dan hari akan dimulai dengan Pasal 64, dan kalau diperiksa Rancangan Undang-undang ini dengan DIM ·yang ada, maka sampai dengan Pasal 97 itu dimulai dengan paragraf II Pemeriksaan dengan cara tetap, dan mudah-mudahan sampai dengan pasal ini, dan bilamana tidak dicapai pada hari ini akan dilanjutkan nanti malam pukul 19.30 sesuai dengan Tata-Tertib yang ada.

Sekarang kami persilakan Pasal 64 dari FKP.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.):

Pasal 64 ini hanya mengenai masalah redaksional. Pertama dalam ayat (1) mengenai ayat (1) itu hari sidang, yang nanti dalam ayat (2) itu ada hari persidangan. karena itu FKP minta perhatian dan mohon penjelasan dari Pemerintah apakah istilah harus dua apakah cukup satu, itulah yang mengenai istilah ayat ( 1 ).

(4)

KETUA RAPAT :

Dari FPDI, PPP, FABRI tidak ada masalah. Dipersilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.):

Mengenai

bari

sidang atau hari persidangan sesungguhnya tergantung dari

kontek kalimatnya atau rangka.ian kalimatnya. Contohnya sebagai berikut : Hakim menetapkan hari sidang,

maka

di sini kata yang dipakai adalah hari sidang. Tapi mungkin ada

kalimat

yang berbunyi: Dalam menetapkan hari persidangan atau dalam hari persidangan yang ditentukan. Di sini kalimatnya berbeda dengan yang pertama. Jadi hari sidang itu dipakai andaikata kalimatnya berbunyi: Hakim menetapkan hari sidang. Tapi di dalam lain kalimat mungkin berbunyi: Dalam hari persidangan yang telah ditetapkan, maka kata yang dipegunakan adalah bukan hari · sidang hari persidangan.

Ini masalah tata bahasa, jadi diusulkan supaya diserahkan pada para akhli bahasa.

KETUA RAPAT:

Bagaimana kalau kita setujui di sini saja, karena hari sidang dan hari persidangan memang berbeda dan kita bisa menyetujuinya karena memang awalan per dengan kata pokok sidang ini dengan

akhiran

an memang begitu tata bahasa menentukan hari. Sedangkan hari persidangan itu artinya lain.

Bagaimana FKP.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.):

FKP bisa menerima keterangan dari'Pemerintah dan ini tergantung konteks tiap-tiap kalimat. Tapi justru mengenai konteks itulah kita nanti bisa bicara dan ini minimal di Timus atau juga bisa di-Panja.

KETUA RAPAT:

Saudara-Saudara setuju di Timus ?

(RAPAT SETUJU) Ayat (2) dipersilakan dari FABRI.

FADRI (M. SAID WUAYAATMADJA, S.H.):

Sebagaimana tertera di dalam DIM FABRI menyarankan agar kalimat Pasal 64 ayat (2) diubah menjadi: Surat panggilan sudah hams diterima oleh pihak yang bersangkutan selambat-lambatnya 14 hari sebelum hari sidang. Sebagai alasan dapat dikemukakan bahwa menurut FABRI kalimat ayat (2) tersebut kurang jelas atau kurang tepat, juga waktu yang ditentukan terlalu pendek atau terlalu singkat. Andaikata hakim menetapkan ketentuan ayat (2) tersebut yakni memberikan batas

(5)

atau jangka waktu mm1mum, umpamanya sidang akan ditetapkan tanggal 7 Nopember di Jakana, surat panggilan dikirimkan tanggal 1 Nopembei: Jadi jarak antara sidang dan surat panggilan 6 hari sesuai dengan ayat (2). Kemudian sedangkan yang dipanggil bertempat tinggal di Banjarmasin umpamanya, dan kemungkinan surat panggilan itu diterimanya paling cepat 2 atau 3 hari. Jadi berarti yang dipanggil itu hanya mempunyai waktu 3 hari untuk mengadakan persiapan-persiapan. persiapan itu bisa berupa mencari pengara dan juga mencari biaya dan lain-Iain. Waktu itu menurut FABRI terlalu singkat.

Andaikata pengacara sudah disiapkan, biaya juga sudah disiapkan oleh yang terperkaara, namun kalau kebetulan yang dipanggil ini waktu tibanya surat panggilan sedang tidak ada ditempat misalnya pergi ke wilayah Pontianak. Ini tentu keluaiganya harus memerlukan waktu untuk mencari yang dipanggil itu.

Oleh karena itu untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan tersebut FABRI menyarankan agar diberikan lebih banyak waktu, sehingga panggilan dapat dipenuhi tepat pada waktunya. Jadi Hakim hanya menentukan umpamanya saja mengeluarkan surat panggilan itu pada hari h, h ini sama dengan x plus 14 hari, sebab FABRI menghendaki atau menyarankan yang dipanggil itu selambat-Iambatnya 14 hari sebelum hari sidang sudah menerima surat panggilan itu.

Jadi kalau akan sidang tanggal 14 Surat panggilan hendaknya dibuat 14 + 3 hari = 17 hari, jadi kalau tanggal 14 dikirimkan surat panggilannya kira-kira tanggal 27 dari bulan sebelumnya.

Menurut FABRI Bapak Menteri Kehakiman tidak keberatan untuk memberikan tambahan waktu dalam hal pemanggilan ini. apalagi kalau beliau menganggap waktu ini sebagaimana orang Timur menganggap waktu itu pemberian Tuhan, kalau orang Barat waktu time is money. J adi tidak ada ruginya kalau Pemerintah memberikan tambahan waktu lebih banyak daripada yang ditentukan.

Kemudian kecuali dan selanjutnya diusulkan untuk dihapus karena acara singkat itu tidak mempengaruhi jarak waktu penentuan hari sidang, jadi jarak saja yang menentukan.

Demikian saran dari FABRI untuk dapat diterima, dan kalau tidak diterima barangkali dapat diajukan dalam Timus atau Panja.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Memang ada dua masalah perbedaan antara Rancangan Undang-undang dengan FABRI ini memang ditanggapi lebih dulu untuk mencari suatu titik temu. Dari Rancangan Undang-undang bisa membaca bahwa tidak boleh kurang dari 6 hari. berani lebih boleh. FABRI merumuskan selambat-Jambatnya 14 hari, jadi berarti tidak lebih dari 14 hari ini kalau FKP menangkap terserah kepada Pemerintah.

Yang disetujui FKP mengenai FABRI in1 hanya istilah haii sidang jadi .;;ama dengan ayat ( 1) hari sidanag, ayat (2) FABRI juga memakai hari sidang. Tapi FKP

(6)

disamping itu juga bisa menerima rumusan ayat (92) hanya mengganti jangka itu diganti dengan jarak. jarak antara waktu pemanggilan dari hari sidang. yang kedua, dari FABRI menyebut adanya perkecualian yaitu mengenai acara cepat.

Oleh karena itu FKP ingin minta penjelasan lebih lanjut dari Pemerintah.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.):

Dari FPDI masih bisa menerima rumusan Rancangan Undang-undang.

FPP (H. ADNAN KOHAR S):

FPP juga menerima rumusan Rancangan Undang-undang. Walaupun begitu tidak menurup pendapat atau saran dari Fraksi lain.

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.):

Sebaiknya ayat (2) ini tidak perlu dirubah rumusannya, tetapi yang mungkin dibahas di tingkat Panja adalah masalah waktu. Oleh karena di sini disebut lamanya tidak kurang dari 6 hari. Jadi ada pembatasan, lebih dari 6. hari silakan. Tetapi FKP pendekatannya adalah tidak boleh lebih dari 14 hari, ini di-Panja-kan saja. Jadi Pemerintah prinsipnya tidak keberatan mengenai masalah perubahan waktu. Tetapi rangkaian kalimatnya itu kiranya masih tetap seperti demikian, dengan catatan saran dari FKP tentang jangka diganti dengan kata - jarak antara memang peristilahan ini ada kalanya dipakai jangka waktu ada kalanya dipakai tenggang waktu. Sekarang FKP mengusulkan jarak antara, mana yang cocok itu.

Mengenai masalah hari sidang - FABRI tetap mempergunakan hari sidang, dan FKP juga tetap ingin mengusulkan hari sidang dan bukan hari persidangan. Ini kami kembalikan lagi pada permasalahan tadi itu bahwa tergantung dengan kontek kalimatnya. Sama saja dengan Pasal 64 ayat (1) tempat persidangan jadi bukan tempat sidang, jadi ada awalan per dan akhiran an.

Apabila dibaca ayat (2) jangka waktu pemanggilan jadi pakai awalan pe dan akhiran an. Jadi rasa-rasanya ada kata pemanggilan maka ada kata persidangan. J adi ini tata bahasa.

KETUA RAPAT:

Kalau boleh dirumuskan Pasal 64 ayat (1) dan ayat (2) dijadikan satu saja, jadi Panja kedua-duanya.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): INTERUPSI

Ayat ( 1) tadi diputuskan Timus. KETUA RAPAT:

Tapi karena berkaitan sekali lebih dimasukkan dalam Panja sekaligus, karena kalau dipisahkan ayat (1) ke Timus, ayat (2) ke Panja.

(7)

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Sebenarnya ayat (1) tidak ada yang di-Panja-kan karena sudah jelas, hanya masa1ah tata bahasa saja. Kalau dikaitkan dengan ayat (2) di-Panja-kan Panja membahas ayat (1) itu tidak ada yang dibahas karena tidak ada masafah yang perlu • dibahas oleh Panja, hanya ayat (2) karena soal waktu.

FABRI (M.S. SITUMORANG):

Tadi di dalam ayat (1) FABRI tidak mempersoalkan - hari sidang - dan persidangan. Memang benar apa yang dikatakan oleh Bapak Menteri bahwa ada kontek penentuan dari kalimat-kalimatnya ini.

Adapun di dalam ayat (2) FABRI mempergunakan sebelum hari sidang seolah-olah disamakan dengan FKPbahwa FABRI sependapat dengan apa yang di ayat <I>

sebagaimana usul dari pada FKP. Sebenamya itu berpangkal tolak rumus dari pada FABRI ini daripada surat panggilan, bukan surat pemanggilan. Seandainya FABRI di sini membuat surat pemanggilan dengan sendirinya hari persidangan. Tetapi karena di sini dikatakan surat panggilan sebelum hari sidang.

Persoalan ayat (1) ini tidak perlu Panja-kan, karena sudah disetujui di-Timus-kan hanya persoalan waktu saja yang di-Panja-kan. Jadi sekaligus menanggapi yang dikemukakan FKP seolah-olah FABRI menyetujui, tapi ada konteknya itu dengan hari panggilan - dan - hari pemanggilan-.

KETUA RAPAT :

Kalau demikian rumusnya ayat (1) tetap Timus, ayat (2) di-Panja-kan ada dua hal, I. adalah waktu istilahnya jangka waktu dengan jarak antara. 2. mengenai lamanya waktu sekurang-kurangnya 6 hari atau hari yang lain.

(RAPAT SETUJU) Persilakan dari FPDI ada usulnya.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Karena usul ayat (3) dan (4) baru itu menyangkut acara sidangjarak jauh FPDI drop.

KETUA RAPAT :

Dengan demikian seluruh Pasal 64 telah selesai. Pasal 65 dipersilakan dari FABRI.

FABRI (M. SAID WUAYAATMADJA, S.H.) :

Untuk Pasal 65 FABRI menyarankan yang sifatnya redaksional saja yaitu kata-kata - diterimakan - diganti dengan - penerima - . Sebagai alasan:

1. Menerima itu lebih sedap didengar dalam kata-kata ini.

(8)

selanjutnya dilihat secara dramatikal kita mempeigunakan suatu rydekele on kleiding barangkali, masing-masing itu termasuk onderwerk atau subyek yang melakukan sesuatu yang aktif. Jadi kata-kata yang aktif itu tepatnya di sini bukan masing-masing diterimakan akan tetapi masing-masing menerima surat panggilan.

Mudah-mudahan saran FABRI dapat diterima dan dilihat dari Fraksi lain tidak ada kecuali dari FPP yang rupa-rupanya senada atau sefaham apa yang dikemukakan oleh FABRI.

FPP (ABDUL HAY JAYAMENGGALA):

Sebagaimana tadi sudah diungkapkan oleh FABRI ada persamaan mengenai Pasal 65 ini. Usul dari FPP kata - diterimakan - itu diganti-menerima - sama dengan FABRI. Di samping itu ada perobahan lain yang diinginkan oleh FPPyaitu kata yang akhir masih di antara masing-masing itu dengan telah itu supaya disisipkan pihak sebab kalau hanya disebut masing-masing kelihatannya kurang tegas. Sehingga untuk bisa menegaskan apa yang dimaksudkan oleh karena yang di depan sudah disebutkan rangkaian kata panggilan terhadap pihak maka anak kalimat berikutnya seyogyanyalah apabila kata pihak itu diulangkan untuk menegaskan, yang rangkaian katanya selanjutnya sebagai berikut: Panggilan terhadap pihak yang bersangkutan dianggap sah apabila masing-masing pihak telah menerima surat panggilan dengan surat tercatat.

Tapi surat tercatat FPP usulkan untuk diganti dengan kalimat atau rangkaian kata-kata menandatangani surat tanda bukti penerimaan. Ini FPP usulkan dengan alasan agar supaya lebih tegas waktu penerimaan daripada surat panggilan itu di pihak yang menerima surat panggilan.

Jadi bukan penegasan patla pengirimannya tapi penegasannya itu pada penerimaan surat panggilan. FPP mengira hal ini lebih maton.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.):

Menanggapi usul FABRI maupun dari FPP karena ini mengenai masalah tata bahasa, menurut hemat FPDI memang perlu di-1imus-kan. Memang kata diterimakan surat panggilan itu agak kurang enak didengar.

Sedangkan mengenai surat tercatat menurut hemat FPDI sudah tepat, sebab masalahnya itu kalau itu tanda bukti penerimaan sebagaimana diusulkan oleh FPP maka hal itu kemungkinan sulit dilakukan, sebab jarak antara Peradilan Tata U saha Negara dengan pihak penggugat itu bisa juga sangat jauh sekali dan tanda bukti penerimaan itu akan sangat langkah kalau itu harus dinyatakan secara eksplisit di dalam ini yang musti dinyatakan, kalau tercatat itu bisa saja.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Dalam DIM FKP tidak ada. Sebetulnya baik FABRI maupun FPP ini perlu memperoleh perhatian. Dan FKP hanya akan menanyakan kepada Pemerintah

(9)

walaupun itu sudah jelas.

Yang diterima itu adalah surat panggilan, jadi bukan bukti bahwa ada surat panggilan. Biasanya kita menerima surat panggilan atau surat dengan tercatat yang diterima oleh yang bersangkutan itu surat panggilan untuk mengambil surat itu, di sinilah FKP rumusan 'kalimat ini menjadi ragu-ragu. Diterimakan' surat panggilan dengan surat tercatat. Walaupun FKP mengerti bahwa yang diterima itu adalah surat panggilannya, bukan resi untuk mengambil.

Walaupun demikian ini perlu penjelasan dari Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERl KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Di dalam Peradilan Tata Usaha Negara ini perlu diperhatikan bahwa berbeda dengan Peradilan Ur!lum. Maka di Peradilan Tata Usaha Negara ini tidak ada Juru Sita, ini satu yang harus dipegang.

Surat panggilan di Peradilan Umum itu dibawa sendiri oeh Juru Sita datang pada orang yang bersangkutan. Peradilan Tata Usaha Negara ini tidak tidak ada Juru Sita sehingga surat panggilan -surat panggilan untuk menghadiri sidang dikirim melalui Pos dengan surat tercatat. Sehingga Pasal 64 ayat (2) jadi keatasnya itu, itu sesungguhnya jangka waktu pemanggilan, pemanggilan itu mungkin di dalam penjelasannya oleh karena di dalam Pasal 65 itu ada surat tercatat, pemanggilan itu dikirim dengan surat tercatat. Andaikata nanti dalam Pasal 64 ayat (2) yang akan di-Panja-kan itu mau dikonsistenkan dengan Pasal 65 maka juga di situ dapat disisipkan yang dikirim dengan surat tercatat-. Jadi ini perlu diperhatikan bahwa surat panggilan itu dikirim dengan surat tercatat.

Usul dari FABRI untuk merubah kata - diterimakan - menjadi - menerima -. Ini di dalam pikiran bahwa kalau sura~ panggilan itu - menerima - itu seakan-akan dibawa sendiri oleh Juru Sita sehingga masing-masing pihak menerima. Tapi ini diterimakan, jadi menurut peraturan-peraturan Pos. Itu biasanya ada resi yaitu yang menyatakan bahwa ada 'surat tercatat yang perlu diambil. Jadi perlu diambil, jadi pengambilan s~rat tercatat. Jadi di sini kata diterimakan itu oleh Tukang Pos.

Jadi ini tidak bisa dihapuskan bagaimana saran dari FPP yaitu dengan menanda tangani surat bukti penerimaan. Resi itu sendiri sudah sesuai dengan peraturan-peraturan Pos itu sendiri sudah ada ketentuannya. Sehingga yang penting bagi Pasal 65 bahwa diterimakan surat panggilan dengan surat tercatat.

Jadi prinsip yang ada di Pasal 65 adalah sah apabila sudah diterimakan dengan surat tercatat, jadi tiga unsur: unsur pertama adalah sah, unsur kedua adalah diterimakan, dan unsur yang ketiga adalah dengan surat tercatat.

Saran diterimakan atau menerima ini tata bahasa. mana yang enak terserah. Mengenai saran dari FPP mengenai menandatangani surat bukti penerimaan Pemerintah berpendapat itu tidak bisa dilakukan dan tetap seperti rancangan ini. Adapun tambahan kalimat - pihak - itu masih hisa dipertimbangkan, kemudian kata

(10)

- diterima - atau - menerima - FPP juga mengusulkan merubah kata menerima itu bisa dibicarak.an lebih lanjut oleh Timus.

KETUA RAPAT :

Kalau memang sudah jelas dimasukkan saja di Timus. FADRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

Kalau nanti sudah memperoleh pendekatan sehingga tinggal rumusan memang Timus.

Yang penting menurut pengamatan FABRI adalah bahwa surat panggilan terhadap yang bersangkutan dianggap sah apabila masing-masing ini memang menurut FABRI adalah telah menerima surat panggilan dengan surat tercatat. Orang menenma surat tercatat, pemberitahuan, nanti pada resu itu dia meletakkan tanda tangannya. Ada surat tanda tangan yang ditandatangani inilah FABRI menganggap bahwa adanya tanda tangan pada resi itu dia dianggap telah menerima. Yang kedua sekedar tanggapan kepada FPP, yaitu "pihak" ditempatkan dibelakang "masing-masing". Mohon maaf. menurut tata bahasa di belakang "masing-masing" tidak boleh diberi . . . jadi "inasing-masing" itu mesti bebas atau kalimatnya demikian: "Apabila panggilan terhadap pihak . . . ". Dalam bahasa lndonnesia "pihak" dapat diartikan jamak atau dapat diartikan satu. Jadi "panggilan terhadap pihak: ... " ini bisa juga "pihak-pihak yang bersangkutan dianggap sah apabila masing-masing . . . ", "masing-masing" tidak usah lagi. Contohnya "masing-masing Angkatan" bentuk itu salahjuga "masing-masing anggota keluaiga". Tetapi mengenai hal ini kalau intinya sudah disepakati bisa dicek nanti di dalam Timus.

KETUA RAPAT :

Ini baru dari FABRI. Silakan dari FPP. FPP (ABDUL HAY JAYAMENGGALA):

Mengenai usul dari rangkaian kata-kata Pasal 65 yang terakhir di mana kami mengajukan usul "menandatangani surat tanda bukti penerimaan." Tadi juga sudah diungkapkan oleh FABRI. Bahwa apabila karyawan pos menyampaikan surat tercatat. ada surat tanda penyerahan dari pihak pos kepada yang menerima, kemudian si penerima harus menandatangani surat tercatat tersebut. Jadi mengenai tanggal penerimaan surat itu tergantung kepada tanggal si penerima surat menandatangani. Jadi lebih tegas, bukan tanggal menerimakan. Sebab menerimakan bisa saja pihak pos menerimakan kepada Lurah dan umpamanya tidak sampai kepada yang bersangkutan. Di desa pos menyampaikan kepada Lurah dan Lurah menyampaikan kepada yang bersangkutan. Jadi di sini yang diperhitungkan adalah pada waktu si penerima menandatangani. Jadi tekanannya tanggal penerimaan yang ditandatangani oleh si penerima itu yang dijadikan patokan menurut pendapat kami. Kalau itu mau disatukan bisa juga kalimatnya : "Menerima surat panggilan tercatat dengan menandatangani surat tanda bukti penerimaan."

(11)

Dengan usul dernikian alqm lebih jela~ ..

, ' • t

KETUA RAP;\T :

Bagaimana kalau Pasal 6'5 kita Panjakan? Karena ada hubungan dengan ayat (2) dari Pasal 64.

Silakan dari Pemerintah. ·

PEMEIUNTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.):

Hanya sekedar penjelasan tambahan. Sesungguhnya tanda bukti penerimaan itu tidak penting, artinya pasal ini bagi masing-masing .pihak tidak fatal. Andaikata belum diterima masih bisa dikirim berulang-ulang. Jaqi tidak ada seperti kalau kita lihat dalam acara perdata ada vonnis verstek, di sini tidak ada vonnis vestek, jadi Pasal 65 ini tidak fatal dan tidak terlalu menentukan. Jadi kalau kita ingat apabila di rumah menerima surat tercatat ada tanda, tetapi dengan tanda itu kita peigi ke kantor pos. Pada saat tanda itu kita berikan ke kantor pos, kita menerima surat

panggilannya atau surat tercatatnya. '

Surat yang sudah kita tanda tangani tidak kita pegang lagi karena ini miliknya kantor pos. Jadi yang ·ada pada masing-masing pihak adalah surat panggilan sedangkan resi tidak dipegang lagi oleh si penerima. Resi itu tetap dipegang oleh kantor pos atau pegawai kantor pos. Jadi si penerima tidak mempunyai bukti apa-apa dan tanda buktinya adalah surat panggilan itu yang dikirim dengan surat tercatat.

Peraturan surat tercatat itu Jazimnya ada surat pemberitahuannya; pemberitahuan diterima dan kadang-kadang yang menerima rualah pembantu rumah tangga yang menerima resinya.

Si majikan baru pergi ke kantor pos atau suruhan orang lain itu ada surat tercatat. Dalarn surat tercatat tidak ada tulisannya "Surat Panggilan" kadang-kadang sebab banyak surat tercatat. Adak.alanya surat tercatat yang dikirimkan oleh menantunya atau oleh mertuanya. Jadi tidak seJaJu rnungkin kantor pos itu menulis secara khusus surat tercatat itu isinya surat panggilan pengadilan itil tidak ada. Jadi ada kalanya dibiarkan saja surat tercatat itu, surat pemberitahuan itu di rumah kadang-kadang hilang ka.rena lupa, pembantu rumah tangga lupa memberitahukan majikannya.

Dalam hal demikian panggi!an dikirim lagi. jadi ini tidak fatal, tidak ada vonnis verstek seperti dalam acara perdata. Jadi resi itu dimi1iki · oleh yang bersangkutan tetapi diberikan kepada petugas kantor pos lalu yang bersangkutan menerima surat panggilannya yang dikirim dengan surat tercatat itu.

Pasal 65 ini mempergunakan suatu prinsip yaitn diterimakan atau menerima tadi yaitu yang kita kenal dengan suatu prinsip atau teori penerimaan. Ada juga teori lain, yaitu pengirirnan. Jadi kabu di Panja nanti sebaiknya sekaligus dibahas, apakah teori penerim:ian atau teori pengiriman. Sekali lagi. tidak ada juru sita dan yang kedua, tidak fatal karena tidak ada putusan ver<;tek.

(12)

Demikian sekedar tambahan penjelasan.

KETUA RAPAT :

Memang benar apa yang dikatakan Saudara Menteri, cuma kalau dilihat Pasal 71 kita harus berhati-hati. Jadi sebaiknya di-Panja-kan. Penjelasan Pemerintah diperhatikan dengan Pasal 64 Ayat (2) dan juncto Pasal 71 ayat (l).

Dapat disetujui?

(RAPAT SETUJU)

Kemudian Pasal 66. Dalam pasal ini ada dari FPDI. tetapi ini tidak sulit. Ini tetap, tetapi kalau ada hal lain silakan dari FPDI?

(FPDI : Untuk ayat (I) tidak ada)

Dapatkah

dinyatakan Pasal 66 ayat (1)

diterima?

(RAPAT SETUJU)

Kemudian ayat (2) ada pertanyaan dari FPDI.

·· FPDI (SOETOMO HR, S.H.):

. .

Dalam ayat (2) disebut "melalui perwakilan", apakah dalam hal ini ditentukan pejabat mana dari perwakilan tersebut yang menangani masalah ini, apakah seluruh karyawan dari perwakilan itu berwenang di dalam hal ini?

KETUA RAPAT :

Kalau dari Fraksi-fraksi lain tidak ada, silakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.):

Tidak ada petugas khusus yang dibenarkan dalam hal ini, jadi siapa saja yang ada itu adalah perwakilan yang dianggap sudah memenuhi ketentuan ayat itu.

KETUA RAPAT :

Dengan demikian diterima penjelasan, bahwa tidak ada petugas khusus. (RAPAT MENERIMA AYAT 2)

Kemudian ayat (3) ada dari FKP dan dipersilakan FKP.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Ingin mengajukan pertanyaan berhubung dengan rumusan Rancangan Undang-undang ayat (3 ).

Pertama. mengenai istilah "petugas perwakilan" mohon dijelaskan, apakah pesuruh, dan seterusnya?

Kemudian rumusan dalam jangka waktu 7 hari sejak dijalankannya panggilan tersebut. Istilah "dijalankannya panggilan" ini menurut FKP tidak jelas artinya.

(13)

KETUA RAPAT :

Dari Fraksi-fraksi tidak ada'? (FABRI: Tidak ada

FPP Tidak ada FPDI Tetap) Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Jadi petugas itu tidak ada yang khusus. terserah kepada pihak Kedutaan Besar yang ditentukan apabila memang ada yang ditentu.kan secara khusus. Lazimnya di dalam organisasi Kedutaan Besar itu ada kesekretariatan. jadi mungkin kesekretariatan itulah yang dianggap tepat untuk petugas tersebut ayat (3).

Kemudian kata "dijalankannya". Kalimat ini berbunyi: Petugas perwakilan Republik.Indonesia dalamjangka waktu 7 hari sejak dilaksanakannya. Jadi munkin kata "dijalankannya" itu barang kali bisa diterima di dalam asosiasi kita --"panggilan tesebut." Jadi 7 hari dia melaksanakan panggilan. Ketentuan/unsur yang berikutnya adalah "wajib memberi laporan kepada pengadilan yang bersangkutan." Jadi setelah jangka waktu 7 hari sejak dilaksanakannya. Ini terserah mengenai tata bahasa ini, dijalankannya atau ,dilaksanakannya.

KETUA RAPAT :

Hanya ada masalah "wajib memberi laporan kepada pengadilan" itu oleh siapa'? Saya kira petugas yang ditugaskan kalau begitu interpretasinya. Petugas itu adalah Sekretaiat dari KBRI. Kalau. bisa diambil pengertian itu maka jelas yang melapor

nanti adalah Sekretariat KBRI. .

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Betul.

KETUA RAPAT :

Begitu interpretasinya. Silakan FABRI. FADRI (IMAM SUKARSONO, S.H.):

Jadi setelah mendengar keterangan dari pihak Pemerintah tadi yang mengganti "dijalankannya" menjadi "dilaksanakannya" ini lalu ada perubahan. Kalau "dilaksanakannya" itu kata "panggilan lalu diubah dilaksanakannya pemanggilan", sebab di sini adalah mengacu kepada ,,Si petugas ini "petugas melaksanakan pemanggilan". Tetapi kalau tetap yang digunakan "panggilan" ~aya kira "sejak dikirimkannya panggilan" atau "disampaikannya panggilan". Namun demikian kalau ini masih kira-kira dipandang perlu dimantapkan bisa di Timus. Tetapi sudah ditetapkan di sini diganti "kalau dilaksanakannya pemanggilan". Kalau "panggilan"

(14)

ingin tetap "lalu 7 hari sejak dikirimkannya panggllan." KETUA RAPAT :

Jadi FABRI tetap di rumusan ini?

F ABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

Begini, kalau seperti Pemerintah tadi dilaksanakannya" maka kata "panggilan" diganti '.'pemanggilan"; jadi "dilaksanakannya pernanggilan tersebut. ,;Tutapi kalau "panggilan' itu tetap, maka "sejak dikirirnkannya panggilan" atau" 7 hari sejak disml}pauca\lnya panggilan" .

. KETliA RAPAT :

Jadi ini jelas. Si13kan dari FPDI.

··~n·I

(SOETOMO H.R, S.H.) :

···Dari FPDI sekarang ini

malah

ingin bertanya dari ayat (3) "petugas perwakilan Republik Indonesia dalam waktu 7 hari sejak dijalankannya panggilan tersebut wajib memberi laporan kepada pengadilan yang bersangkutan". Pertanyaannya : Dalam jangka waktu 7'hari itu apakah dihitung sejak panggilan itu ada di kedutaan ataukah dijalankannya panggilan dari Pengadilan Tata Usaha Negara? lni pertama. Sebab belum jelas, misalnya ada kasus di Argentina ya~g cukup panjang jangkauannya. Kalau 7 hari dihitung dari dikirimkannya atau dijalankannya panggilan dari pengadilan barangkali tidak klop. Mungkin yang dimaksud di sini 7 · hari sesudah panggilan itil ada di kedutaan tersebut.

Isi perlu penjelasan, sebab kami masih meragukan apa yang tersebut di sini. Kedua, lalu kata "wajib". Dalam hal kata "wajib" ini andaikata petugas perwakilan melalaikan kewajibannya untuk tidak · melaporkan apa sanksi yang dikenakan? Ini masalahnya.

KETUA RAPAT :

Kami kembalikan kepada FKP atau Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H;) :

Jadi ayat (3) ini adalah pelaksanaan dari ayat (l) dan ayat (2). Jadi ayat (I) ditentukan bahwa Ketua Pengadilan melakukan panggilan ini dengan cara meneruskan surat penetapan hari sidang. Jadi ada penetapan hari sidang, lalu Kedua Pengadilan memberitahukan, jadi memanggil yang bersangkutan. Dan memanggil ini dengan cara meneruskan surat penetapan hari sidang. Kepada siapa? Kepada Departemen Luar Negeri Apa yang dilakukan oleh Departemen Luar Negeri? Ini dalam ayat (2). Jadi Departemen Luar Negeri kemudian menyampaikan surat penetapan hari· sidang itu pada perwakilan. Petug'as perwakilan -- di sini baru ayat (3) yang tadi menerima surat penetapan hari sidang. Jadi kalau tadi contohnya di Argentina, maka petugas perwakilan ini kemungkinan adaJah sekretariat itu

(15)

melaksanakan. Jadi penetapan hari sidang ini disampaikan atau dikirimkan kepada orang yang ada di Argentina ini (yang digugat), karena dia berada di wilayah itu. Jadi "dijalankannya" ini kalau tadi saya kemukakan "dilaksanakan" bisa juga diartikan "dilaksanakan" itu dikrimkan atau disampaikan surat penetapan hari sidang itu.

Sejak dia mengirimkan atau sejak dia menyampikan, maka berlaku waktu 7 hari dan dalam jangka waktu 7 hari dia wajib lapor kepada Ketua Pengadilan, "Pak Ketua Pengadilan, saya sudah menyampaikan surat panggilan yang berisi penetapan hari sidang ke si Gregorius (misalnya yang ada di Argentina)" Itu dalam jangka waktu 7 hari, sehingga Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara terima "Oo, petugas perwakilan sudah menyampaikan". Tidak ada sanksi apa-apa, hanya ketentuan administratif saja, jadi ada wajibnya menyampaikan iru··, Mengenai administratif itu kita lihat dari peraturan-peraturan disiplin Pegawai Negari Sipil barangkali bahwa ada ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam perundang-undangan yang berlaku, kemudian ada petugas yang lalai melaksanakan tugas ada berbagai macam hukuman disiplin itu hukuman administratif.

KETUA RAPAT : Masih ada dari FPP.

FPP (ABDUL HAY JAYAMENGGALA) :

Kami hanya ingin menegaskan apa yang diusulkan oleh rekan FABRI, bahwa ada dua pilihan mengenai rangkaian kata-katanya "dijalankannya panggilan" itu. Tadi disebutkan "dilaksanakannya pemanggilan" atau "disampaikannya panggilan" Yang mana mau dipilih itu sama saja, jadi nanti Ilmus yang memilih di antara dan rangkaian kata itu.

KETUA RAPAT :

Terima kasih dari FPP yang bagus sekali. Apakah disetujui masuk Ilmus?

(RAPAT SETUJU) Pasal 67, ini ada usul dari FKP, Silakan FKP. FKP (MUUADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Di dalam DIM FKP mengusulkan adanya penyempurnaan isi Rancangan Undang-undang yaitu antara kata "negara" dan kata "tidak menunda" disisipkan kata "pada dasarnya". Jadi FKP di dalam DIM ini hanya usul perbaikan redaksionaJ saja dengan didasarkan kepada suatu pertimbangan bahwa isi daripada Pasal 67 ayat (1) Rancangan Undang-undang ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan isi daripada ayat (2) maupun ayat (4) nya yang memberikan kemungkinan kepada penggugat untuk mengajukan permohonan penundaan terhadap sesuatu Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara selama proses pemeriksaan sengketa

(16)

sedang berjalan.

KETUA RAPAT :

Ini memang penting sekali, tetapi ada dari FPP yang menyatakan ini hapus saja.

FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM):

Di dalam DIM-nya FPP mengusulkan supaya dihapus. Tetapi setelah kami pelajari kembali dan sudah ada kaitannya satu sama Jain, yaitu ada kaitan antara ayat (1) dan ayat (2), maka usul kami drop dan kami setuju dengan apa yang ditetapkan oleh FKP yaitu setelah kata-kata Tata Usaha Negara tidak menunda atau menghalangi".

KETUA RAPAT :

Silakan FABRI.

FADRI (M.S. SITUMORANG) :

Dari FABRI memang tidak ada, tetapi perlu kami kaitkan ini dengan prinsip dianut oleh FABRI bahwa tidak hanya dalam rangka pembangunan hukum pada khususnya tetapi dalam rangka pembangunan pada umumnya yang kami usulkan di dalam konsiderans mengingat perlu dikaitkan. Oleh sebab itu dengan adanya Pasal 67 ini sebenamya yang memang tidak diharapkan akan terjadi konflik antara pemerintah dengan rakyat dalam rangka pembangunan ini, maka FABRI menganggap bahwa ini sangat penting unbik tidak terhalang pembangunan itu sendiri yang menjadi amanat dari pada rakyat harus dilanjutkan. Jadi kami sangat menyetujui prinsip-prinsip ini atau naskah yang termasuk dalam pasal

67

ini, jadi kami kaitkan di dalam rangka pembangunan.

Menanggapi FKP kami menganggap apakah pada dasarnya itu tidak memberikan sesuatu hal yang kurang pasti diterima. Jadi pada dasarnya semua kaidah-kaidah yang sudah dirumuskan sudah mempunyai kepastian. Kalau dikaitkan dengm perkataan "pada dasarnya" lagi seolah-olah fakultatif rasanya.

KETUA RAPAT :

Memang yang dikemukakan FABRI penting sekali, karena dalam penjelasan juga disebut panjang lebar. Di situ ada dinyatakan tidak bisa seseorang dinyatakan bersalah sebelum ada pembuktian dan tidak boleh juga menunda. Jadi misalnya ada suatu keputusan tidak boleh menunda kalau akan menghambat pembangunan. Tetapi mungkin penjelasan ini perlu diperhatikan, karena banyak hal yang perlu mendapat perhatian Saudara-saudara. misalnya terserah kepada kebijaksanaan Hakim.

Sekarang silakan FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

(17)

anggap rumusan ini sudah tepat. KETUA RAPAT :

Dengan demikian sudah tidak ada lagi yang ingin menyampaikan, kemudian silakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Berpendapat bahwa rumusan dalam Rancangan Undang-undang sudah cukup baik. Adapun saran dari FKP sesungguhnya dapat kita temukan kembali, yaitu di dalam halaman IO Keterangan Pemerintah, yang menyatakan "Dalam Acara Tata Usaha Negara gugatan pada dasarnya tidak menunda pelaksanaan keputusan yang disengketakan."

Jadi untuk mengakomodir pendapat dari FKP yang juga sesungguhnya kata : pada dasamya" sudah ada di dalam Keterangan Pemerintah, maka kiranya dapat dimasukan dalam penjefasan.

Keterangan Pemerintah yang tercantum dalam halaman IO itu kiranya dapat juga dijadikan bahan untuk menyempumakan penjelasan dari Pasal 67.

KETUA RAPAT :

Dari FKP tidak ada lagi setelah melihat penjelasan? Halaman 100 penjelasan, di situ banyak hal-hal yang penting.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

FKP menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah yang telah memberikan pen jelasan, demikian juga kepada FPP, yang menyenijui usul FKP ini. Memang sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua tadi , bahwa FKP justru berdasarkan kepada apa yang tertuang di dalam penjelasan daripada Pasal 6{. ayat (1) ini. Di mana dalam hal-hal tertentu yang dipandang cukup alasan_ ,serta kepentingannya dimungkinkan. Sehingga oleh karena itu sebenamya

Ftp

SeJalan dengan apa yang dengan apa yang dikemukakan Pemerintah, mungkin dapat disusulkan adanya penambahan sisipan dari usul FKP ini. Namun demikian mengingat pasal ini memang menurut FKP cukup penting dan perlu diperhatikan bersama, maka alangkah baiknya apabila ayat ini dapat kita bahas lebih lanjut di dalam Panja.

KETUA RAPAT :

Memang istilah "dalam hal tertentu" memang selalu ada. Ini mungkin dari Pak Menteri sendiri. Jadi memang ini penting dan kalau tidak keberatan kita Panjakan.

Silakan Pemerintah. ·

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Oleh karena FKP semula hanya ingin menyisipkan kata "pada dasamya" dan Pemerintah telah memberikan penjelasan bahwa kata "pada dasarnya" itu ada pada

(18)

Keterangan Pemerintah, maka sesungguhnya kita batasi pada itu saja, jadi bukan prinsip Pasal 67, sebab FKP semula tidak keberatan (menerima). Jadi tidak ada masalah yang prinsipiil di sini.

Bahwa kata "pada dasamya" kita temukan juga di dalam penjelasan Pasal 67. hanya di Pasal 67 memakai kata "pada prinsipnya".

Kalan kita baca Pasal 67 : Berbeda halnya dengan prosedur suatu perkara perdata biasa dengan adanya gugatan sengketa Tata Usaha Negara pada prinsipnya tidak mengakibatkan tertundanya pelaksanaan daripada keputusan .. ... .. "

Jadi kata "pada prinsipnya" kita pakai dalam penjelasan.Apabila hendak dirubah dengan kata pada dasamya bisa saja, jadi menurut Pemerintah, pasal ini tidak perlu di-Panja-kan yang perlu dirumuskan adalah penjelasannya, itu diserahkan kepada nm Perumus, Pemerintah mengharapkan bahwa sebagaimana pendapat FABRI ini penting untuk dipertahankan, karena menyangkut kepentingan pembangunan dan kepentingan umum dan kelanjutan daripada pembangunan itu sendiri.

Jadi yang diperrnasalahkan semula oleh FKP hanya kata sisipan itu. KETUA RAPAT :

Kalau dari FABRI tidak ada apa-apa lagi? Kami persilakan FABRI.

FADRI

(M.S. SITUMORANG) :

Kalau memang demikian, kami ambil jalan tengah supaya penjelasan ini saja yang di-Panja-kan dan supaya juga penjelasan jangan sampai memberikan wewenang tertentu yang mengeluarkan dari batang tubuh, itu kita pikirkan juga.

Setuju penjelasan di-Panja-kan sedangkan batang tubuhnya prinsipnya sudah kita setujui bersama.

KETUA RAPAT : Kami persila1<an FKP.

FKP (MUWADI DJAJANEGARA, S.H.):

Setelah mendengarkan penjelasan Pemerintah yang terakhir dan juga mendengar pendapat FABRI, maka FKPmenyetujui terhadap usul untuk di-Panja-kan khusus terhadap penjelasan Pasal 67.

KETUA RAPAT:

Jadi yang lain-lain sudah menerima bulat. Jadi batang tubuhnya diterima bulat Penjelasannya di-Panja-kan.

Saudara-saudara setuju?

(19)

Ayat (2) ada usul dari FKP, FPP sebenarnya hanya mendorong ke atas membaliknya, tetapi apakah masih tetap, jadi ayat (2) tetap tidak·ada masalah FPP, dari yang lain apakah masih ada hal-hal lagi? Kalau tidak ada kami terima dengan bu lat.

(RAPAT SETUJU)

Selanjutnya diingatkan bahwa jangan pakai ini Rancangan Undang-undang dalam DIM, tetapi pakai Rancangan Undang-undang dari Ketua DPR, memang ini istilahnya salah Rancangan Undang-undang dalam DIM dan kita perbaiki sekarang, mengenai tergugat.

Ayat (3) ada dari FPP, kami persilakan FPP.

FPP (H. ADNAN KOHAR, S.H.):

Mengenai usul ayat (3), tetapi sebagian dari usul kami dengan sendirinya hapus sehubungan dengan droping usul kami ayat (1) tadi. Kami baca saja apa yang tertuang dalam DIM FPP.

Pasal 67 ayat (3), dalam Pasal ini menjadi ayat (2) dengan sendirinya t~;:lak jadi. Lalu di antara kata "tersebut" dan "dapat" disisipkan ayat (1). Kata" di dalam" diganti" dengan", sedang kata "yang" diganti "dan" bunyi lengkapnya sebagai berikut: Pasal 67 ayat (3) Permohonan tersebut ayat (1) dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan dan dapat diputus terlebih dahulu dari pokok sengketanya.

KETUA RAPAT :

Saudara-saudara tidak ada masalah? dari rekan Fraksi-fraksi lain? Ternyata tidak ada, kami persilahkan Pemerintah menanggapi usul dari FPP.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) ·:

Mengenai usul dari FPP tidak bisa diterima Pemerintah, dengan merubah · urutan-urutan ini oleh karena apabila kita baca dalam ayat (1) tidak ada satu katapun juga yang menyangkut masalah permohonan. Ini ayat (3) dijadikan ayat (2). Jadi 67 ayat (2) ...

FPP (DRS. RUHANI ABDUL HAKIM) : INTERUPSI

Tadi ayat (1) yang ditulis di sini ini dengan sendirinya, karena usul yang pertama di drop ini yang dimaksudkan ayat (2) Rancangan Undang-undang yang tadi diterima bulat, kemudian bunyinya menjadi Permohonan tersebut ayat (2) dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan, jadi tidak di dalam gugatan tetapi kata-kata di dalam itu di ganti dengan gugatan bersama-sama dengan gugatan. Ini adalah merupakan redaksi saja. Bersama-sama dengan gugatad dan dapat diputus terlebih dahulu dari pokok sengketanya. Usulnya begitu, yang penting adalah kata-kata "dengan" dan kata-kata-kata-kata "dan".

(20)

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMANIISMAIL SALEH, S.H.) :

Jadi ayat (3) ini bunyinya sebagai berikut : Permohonan tersebut ayat (2) dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan dan dapat diputus terlebih dahulu dari pokok sengketanya, itu ayat (2) baru. Ini rumusan yang dini yang disarankan oleh FPP dan ini hanya redaksionil saja.

Kami serahkan kepada Tim Perumus saja.

KETUA RAPAT :

Bagaimana Saudara-sudara usul ke Tim Perumus.

(RAPAT SETUJU)

Ayat (4), kami persilakan FK.P.

FKP (MUWADI DJAJANEGARA, S.H.) :

FKP hanya ingin mendapatkan penjelasan mengenai kata-kata "sangat mendesak sekali", hal ini agar ada kejelasan bagi kita yang dimaksudkan agar kiranya nanti terhadap kata-kata "sangat mendesak" sekali ini dapat dimasukkan di dalam penjelasan, agar dapat memberikan suatu kesamaan tolak ukur terhadap arti dari kata sangat mendesak sekali tersebut.

KETUA RAPAT :

Kami persilakan dari FPDI

FPDI (H.R. SOETOMO HR, S.H.):

FPDI hanya minta agar di dalam ayat (4) sub (b). bahwa tidak dapat dikabulkan apabila kepentingan umum dalam rangka pembangunan dilaksanakannya keputusan tersebut di dalam penjelasan supaya di~rikan keterangannya atau ditambah penjelasan mengenai masalah, hal apa yang dimaksudkan kepentingan umum dalam rangka pembangunan, ini sesungguhnya hampir sama dengan apa yang pemah kita bahas di depan.

Baik sudah meningkat ke (b) kalau begitu sekali saja kita teruskan ke (b), kami persilakan FPP.

FPP (H. ADNAN KOHAR S) :

Di dalam DIM FPP mengusulkan agar supaya ayat (4) ini dihapus, latar belakang pemikiran FPP di dalam hapusnya ayat (4) ini mengingat kepentingan penggugat yang bersan~tan.

Jadi kalau ada suatu keputusan dari Badan atau Lembag Tata Usaha Negara yang oleh rakyat ataupun privat dianggap merugikan dirinya kemudian dia mengadakan gugatan, mengajukan gugatan itu satu manivestasi daripada sikap, dia merasa dirugikan.

(21)

positip dari pihak pengadilan. Terlepas apakah nanti yang benar itu pihak pejabat Tata Usaha Negara atau pihak rakyat yang merasa dirugikan itu, maka perlu dipikiran pendapat rakyat yang mengajukan gugatan itu ditolerir sementara waktu.

Oleh karena itu permohonannya jangan di kesampingkan begitu. Pasal ini kami menganggap seoJah-oJah apriori. Apriori mengesampingkan gugatan dari pihak rakyat yang merasa dirugikan.

Jadi kami mengingat betul-betul orang yang menggugat merasa betul-betul dirugikan. Perasaan ini kita hargai sedikit dengan cara menghapus ayat ( 4) ini.

KETUA RAPAT :

Saya kira itu mendapat dari FPP, saya persilakan FABRI FADRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

Kai.au saran-saran dari rekan Fraksi yang lain tadi tidak menimbulkan

pemikiran

lagi yang menghendaki di-Panja-kan atau di-Timus-kan bergantung kepada tanggapan nanti, maka pihak ABRI hanya masalah redaksional Pasal 4 ayat (2} itu dibalik. Jadi permohonan penundaan tersebut pada ayat (2) dapat dikabulkan hanya apabila terdapat keadaan . . . . Ini kembali seperti beberapa waktu yang lampau ada rumusan seperti ini, lalu saya usulkan pindah tempat kata "hanya", dapat dikabulkan hanya apabila . . . tekanannya disana. Kalau tidak ada, bisa dikabulkan kalau itu ada, hanya apabila. Jadi di sana letak kata hanya. Jadi seperti rumusan-rumusan seperti ini yang dahulu hanya. Jadi seperti rumusan-rumusan-rumusan-rumusan seperti ini yang dahulu Saya usulkan untuk diubah dan telah diterima. Jadi lagi kalau menanggapi saran-sanm dari Fraksi yang lain tadi tidak sedemikian jauhsekali , sehingga mengakibatkan kita mempersoalkan dalam Panja dsb pertama-tama ini. Tetapi saya kira rekan saya barangkali akan menambahkan, tetitpi saya akan menambah soal redaksional saja.

Saudara Ketua sekarang Saudara Situmorang. KETUA RAPAT :

Saya persilakan.

FADRI (MS. SITUMORANG) :

Sebagai tambahan penjelasan di dalam hal menanggapi beberapa hal yang kami anggap prinsip apa yang dikemukakan oleh FPP, prinsipnya itu karena FPP sendiri sebenarnya sudah menerima secara bulat Pasal 67 ayat (1), hanya penjabaran selanjutnya itu, itulah sebenarnya yang di dalam Pasal 67 ayat (4) ini berturut-turut. Jadi walaupun demikian, tanpa mengurangi penghmgaan kami kepada usul ini, kami senantiasa dapat ikut serta merundingkannya. Hanya ini yang kami ingatkan sebenarnya, sedangkan dari Fraksi POI dan FKP, ini hanya sekedar pertanyaan, seyogyanya nanti hal ini dapat ditampung di dalam penjelasan saya rasa tidak menjadi masalah, karena yang ada dalam penjelasan sekarang ini tidak

(22)

semuanya diberikan penjelasan, apalagi Pasal 67 ayat (4) cukup jelas. Jadi kalau

FKP

dengan

FPDI,

seandainya nanti dipennasalahkan perlu penjelasannya

kita

setujui di dalam penjelasan.

Hanya kusus mengenai FPP ini kami mohon perhatian kita bersama sekaligus tanpa mengurangi penghaIJaan kami atas usul ini, karena sudah kita setujui ayat (I) tadi.

KETUA RAPAT :

Saya kira demikian, itu pendapat FABRI ~ pendapat FPP, kami persilakan FKP.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Tadi FKP dalam menguraikan DIM ini hanya terbatas pada sub (a) dan karena dikebendaki . ada sub (b ), maka sudah barang tentu kami · ingin mempeigunakan kesempatan ini yang di dalam DIM sub (b) FKP mengharapkan bisa diberikan adanya penjelasan tentang arti daripada kepentingan umum dalam rangka pembangmian.

Hal ini mengingat di dalam penjelasan daripada sub (b) niaupun sub (a) Pasal 67 ini cukup jelas.

FKP berpendapat bahwa Pasal 67 ayat ( 4) ini merupakan suatu alasan yang prinsipnya di dalam rangka penjabaran terhadap ayat yang terdahulu yaitu di dalam ayat (1) dari Pasal 67. Sedang sub (b) merupakan alasan yang tidak dapat dikabulkannya permohonan apabila kepentingan umum dalam rangka pembangunan dilaksanakan.

Sehingga FKP melihat bahwa alasan yang terdapat di dalam sub (a) maupun sun (b) ini merupakan suatu hal yang dapat menimbulkan kepastian hukum.

OJeh karena itu apabila

kita

kaitkan dengan Pasal 49 Rancangan Undang-un(hmg ini terutama pada ayat (b) dimana tertuang keadaan mendesak untuk kepentingan· umum juga dikaitkan dengan ·INPRES IX tahun 1973 maka FKP mengharapkan agar di dalam Pasal 67 baik ayat (4) sub (a) dan sub (b) ini dapat diberlkan penjelasan.

KETUA RAPAT :

Jadi usulnya penjelasan, baik kami persilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Dalam hal ini perlu kita perhatikan bahwa di dalam asas hukum Tata U saha Negara itu tegas dinyatakan bahwa selama belum ada pemuktian sebaliknya, maka setiap keputusan Badan Tata Usaha Negara hams selalu dianggap benar dan karena selalu dapat dilaksanakan. lni asas.

(23)

Namun demikian dalam keadaan tertentu yang dipandang cukup alasannya, nab keadaan tertentu ini ditemukan dalam ayat (4). Kepentingan umum juga tidak dirugikan, penggugat dapat mengajukan permohonan penundaan pelaksanaan keputusan yang digugat.

Jadi asasnya tidak dapat ditunda. pelaksanaan badan ini, itu asas. Ada exception daripada rule itu, exceptionnya ada pada ayat (4). Di sini exceptionnya terdiri dari 2 hal yaitu :

Dalam hal apa dikabulkan dan dalam hal apa tidak dikabulkan. Dalam hal itu dikabulkan, maka di sini kepentingna yang sangat mendesak yaitu kepentingan penggugat, jadi untuk melindungi penggugat ini sesungguhnya (a) ini. Jadi kepentingan penggugat itu akan sangat dirugikan yang digugat itu tetap dilaksanakan maka kepentingan penggungat itu dirugikan. Dalam hal ini Hakim mempertimbangkan untuk mengabulkan permohonan penundaan pelaksanaan. Jadi ini exception daripada rulenya.

(b) sama sekali tidak dapat dikabulkan, apabila. nab disini kepentingan umum dalam rangka pembangunan dilaksanakan keputusan tersebut.

Mengenai sangat mendesak dan kepentingan umum dalarn rangka pembangunan itu sudah kita bahas dalam Pasal, 49 dan kita sepakati di dalam Pasal 49 untuk diberikan contoh-contoh dan Pemerintah telah memberikan contoh-contoh. Dan Pemerintahpun juga menyarankan agar di dalam penjelasan Pasal 49 dicantumkan yaitu pengertian kepentingan umum dalam rangka pembangunan yang diambil dari Instruksi Presiden tahun 1973.

Jadi apabila di dalam Pasal 49 itu sudah kita berikan penjelasan apa artinya sangat mendesak, apa artinya kepentingan urnum apakah khusus dalam ayat (4) ini masih perlu diberikan penjelasan lagi, ini kami kembalikan oleh karena di dalam penjelasan dalam membahas Pasal 49 itu kita sudah sepakat agar pengertian-pengertian keadaan sangat mendesak dan Pemerintah telah memberikan contoh-contoh yaitu antara lain gedung yang di Medan dipenggal itu keadaan sangat mendesak karena dikaitkan dengan faktor waktu. Gedung yang temboknya miring dan itu membahayakan lingkungan sekitarnya itu juga keadaan yang sangat mendesak dan perlu di keluarkan keputusan untuk mengamankan lingkungan sekitarnya.

Maka contoh-contoh demikian ini itu telah kita telah bahas dan pemerintah telah memberikan contoh-contohnya pada waktu membahas Pasal 49. Jadi kita lihat Pasal 49 dan sekarang kita temukan lagi di dalam Pasal 67 ayat (4) ini dan tentunya lebih baik kalau ini kita kembalikanlah Pasal 67 ayat (4) ini kata-kata itu kita kembalikan pada lihat penjelasan Pasal 49.

KETUA RAPAT :

Memang ada bedanya antara sangat mendesak untuk kepentingan Umum dan

(24)

Mungkin ini yang dimaksud. Jadi apakah ini dapat dijadikan penjelasan? Saya

kira baik diberikan penjelasan, karena ini nilainya baik sekali, bagaimana kalau ini dirnasukkan dalam Penjelasan? Jadi ayat (4) diterima lalu diberikan penjelasan, karena ada beda antara kepentingan umum yang dalam keadaan mendesak dan kepentingan penggugat dalam keadaan yang sangat mendesak, begitu Saudara-saudara? Silakan FPP.

FPP (H. ADNAN KOHAR S) :

FPP masih ingin memperoleh kesempatan mengemukakan pendapat sekali lagi sehubungan DIM yang kami kemukakan ini; kami berterima kasih atas. oleh Bapak Menteri, dan tidak mengurangi penghm:gaan kami atas penjelasan penjelasan yang telah diberikan tersebut kami masih ingin sekali lagi mencoba mengemukakan alasan lebih jauh.

Kami sepenuhnya mengerti bahwa asas yang· kita pakai di dalam membahas atau pelaksanaan Peradilan Tata Usaha Negara ini ialah apa yang telah diputuskan oleh Pejabat itu pertama-tama adalah benm; sehingga perlu dilaksanakan. Pemahaman pengertian prinsip ini kami memanifestasikan dalam be~tuk tadi kami mendrop usul kami yang mengenai ayat (1) tadi.

Namun demikian sekali lagi FPP tetap mengingat kepada nasibnya rakyat yang menggugat itu. Agar supaya rakyat itu betul-betul merasa diperhatikan, sehingga apabila dia menggugat, apalagi dia menyampaikan permohonan agar supaya pelaksanaan Lembaga atau Pejabat Tata Usaha Negara ditanda lebih dahulu, itu mendapat perhatian yang wajar.

Kami menganggap bahwa adanya ayat (4) ini mempersempit ruang gerakknya rakyat yang merasa dirugikan, belum tentu dirugikan betul, jadi merasa disempitkan ruang geraknya dengan adanya ayat (4) ini oleh karena itu fifty-fifty, ayat (1) tetap jalan ayat ( 4) ini saja kalau di dalam forum sekarang ini tidak bisa diputuskan sekurang-kurangnya ini hendaknya menjadi pemikiran kita bersama sehingga kami ingin mencoba sejauh mana pendapat dan pertimbangan dari rekan-rekan Fraksi yang lain. Dan Pemerintah sesudah menerima uraian kami.

Ini kami kemukakan dalam pengertian bahwa kami tidak kut kekut mempertahankan DIM kami, tetapi mencoba di dalam rangka musyawarah ini, meyakinkan satu sama lain kemaslahatan kita bersama.

Pada akhirnya kami mengusulkan di Panjakan dan sebagainya sehingga bisa kita bicara dari hati ke hati lebih jauh.

KETUA RAPAT :

Jadi usulnya di-Panja-kan oleh FPP. Tetapi barangkali Pemerintah masih ingin kami persilakan.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Kalau FPP menyarankan agar ayat (4) dihapus justru malah merugikan rakyat

(25)

oleh karena dengan adanya ayat (4) ini Hakim bahkan bisa memberikan voorlopege veraziening, memberikan keputusan malahan menguntungkan bagi rakyat. Jadi ini exception, asasnya tidak dapat ditunda dengan adanya ayat (4) bisa ditunda kalau di hapus malahan merugikan rakyat, bahkan bisa ditunda terus-menerus ayat (4) melahan bisa ditunda malahan bisa ditunda kok malah diusulkan untuk dihapus. Jadi ini menurut pendapat saya malahan merugikan rakyat kalau dihapus ini. Bahkan Pemerintah memberikan ayat (4) ini sebagai suatu voorziening agar dibukalah pintunya. Jadi tidak ditutup rapat, bukalah sedikit sehingga bisa ditunda apabila memang ada alasan, bahkan malahan baik jika ditunda itu dan ayat ( 4) ini memberikan kesempatan untuk ditunda keputusan itu.

Demikian Saudara Ketua, dan jangan sampai dihapus, kalau dihapus malahan merugikan rakyat, kalau merugiakan rakyat bahkan malahan nanti tidak sesuai dengan FPP.

KETUA RAPAT :

Bagaimana FPP? Kalau di hapus justru merugikan, katanya Pemerintah, kami persialakan FPP.

Diusulkan di Panja, sebagaimana dari Fraksi-fraksi lain. FABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

Sesungguhnya memang apa yang diusulkan oleh Pemerintah tadi dengan demikian adanya, akan tetapi karena Saudara dari FPP memang ingin mengendapkan lagi di Panjakan, ya marilah di Panjakan.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Pemerintah tidak setuju di-Panja-kan, oleh karena ayat (2) sudah diterima oleh FPP, sedangkan fraksi-fraksi lain itu setuju karena ini menguntungkan rakyat, yang setuju menguntungkan rakyat kok malah di-Panja-kan ini aneh, jadi kalau demikian menunjukkan tidak konsisten sikap ini. Dan mohon pendapat dari Fraksi lain Pak.

KETUA RAPAT :

Memang Pemerintah mohon pendapat dari fraksi lain, dari FPDI sudah bersedia memenuhi pemerintah, tapi ini bisa saja dipending sementara lalu kita lewati dan kita kembali sambil memberikan waktu sedikit, bisa juga begitu, tetapi toh nanti sebelum kita tutup kita beri kesempatan FPP untuk berunding dulu, karena itu musyawarah. Bagaimana silahkan FPDI.

FPDI (SOETOMO H.R, S.H.) :

Saudara Ketua pada Wakil Pemerintah serta Anggota Pansus, memang dalarn membahas ayat (4) Rancangan Undang-undang ini kami juga bisa mengerti apa yang dikehendaki oleh rekan FPP. Dan dalam hal ini kalau dari FPDI sendiri sesungguhnya menerima ayat (4) ini, karena memang jelas itu merupakan suatu ha! yang cukup memberikan peluang kepada rakyat, dalam hal-hal tertentu, dibuka

(26)

sedikit pintunyalah.

Hanya dalam hal ini FPDI sependapat dengan Saudara Ketua untuk menghonnati rekan FPP biarJah diendapkan diJompati sebentar mungkin nanti dalam haJ ini sudah ada pendapat yang sreg begituJah di da1am menerima ini, sebab mungkin agak confuce perkara ini. Oleh karena itu di dalam hal pengendapan ini saya sepakat untuk rekan FPP mungkin nanti berunding dengan rekan-rekannya, nanti setelah kita lompati beberapa pasal ya sudah bisa menemukan apa yang dikehendaki sebenarnya dari pada ini.

KETUA RAPAT :

Mempersilakan FKP.

FKP (MUWADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Menanggapi usul untuk supaya di dalam ayat (4) dimasukkan Panja, FKP tidak berkeberatan dan pada prinsipnya juga hampir

sama

dengan apa yang telah diuraikan FPDI. Oleh karena FKP di dalam mengusulkan ini juga m~mandang ayat ini sangat penting terutama terhadap penjeJasan yang dimaksud dengan sangat mendesak sekali. Sehingga mungkin selain dikaitkan dengan Pasal 49 ayat b Rancangan Undang-undang sebagaimana diuraikan Pemerintah, juga perlu dipertimbangkan hal-hal yang ada di dalam Pasal 180 HIR.

Oleh karena itu FKP menginginkan apabila di dalam forum ini disetujui untuk membahas lebih lanjut di Panja, kiranya dari Pemerintah dapat membantu untuk membuatkan satu konsep untuk penjelasannya nanti yang akan dibahas di dalam Panja.

KETUA RAPAT :

jacJi minta sekali lagi Pemerintah, bisa dipending sebentar atau di-Panja-kan dengan menyelesaikan dua masalah. Sebenamya tadi ada dua masalah, kepentingan menclesak untuk umum, kepentingan mendesak untuk penggugat. Lalu ada soal kedua, diminta FPP didrop atau tidak didrop.

Berikutnya mempersilakan Pemerintah.

PEMERINTAH ( MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Kalau Pemerintah hanya memikirkan dirinya sendiri, ini usul FPP yang minta dihapus, itu Pemerintah setuju, karena itu menguntungkan Pemerintah. Tetapi justru Pemerintah tidak mau bersikap demikian, karena ini adalah untuk kepentingan rakyat.

Oleh karena itu kiranya yang bisa dilakukan adalah ayat ini kita terima, yang di-Panja-kan hanya penjelasannya saja. Jadi penjelasannya ini penting sekali. Dari penjelasan itu sesungguhnya nanti teigambar bagaimana sesungguhnya latar belakang ayat (4) ini yang sesungguhnya ingin memberikan sesuatu kesempatan mengajukan permohonan menunda.

(27)

KETUA RAPAT : Mempersilakan FPP.

FPP (H. ADNAN KOHAR S.) :

Ayat ( 4) serta penjelasan seluruhnya di-Panja-kan, tetapi FPP ingin tahu lebih dulu apakah di-Panja-kan seluruhnya ataukah tidak.

KETUA RAPAT :

Mengusulkan bagaimana kalau dipending khusus ayat (4) Pasal 67. (RAPAT SETUJU)

Selanjutnya beralih ke Bab IV dan ini ada usul dari FKP, untuk itu maka dipersilakan FKP menyampaikan usulnya.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Di dalam Bab IV judul bagian ke-2 dan judul paragraf l, maka FKP ingin mengusulkan perubahan mengenai istilah. Kalau kita melihat judul ini berjudul "Pemeriksaan Sengketa di Pengadilan Tingkat I" Yang menjadi masalah bahwa apakah Pemeriksaan Sengketa di Pengadilan Tingkat I ataukah dapat dimaksud pemeriksaan sengketa pada Pengadilan Tingkat I mempunyai arti yang sama. Sehingga oleh karena itu FKP ingin agar masalah ini dapat mendapat perhatian.

KETUA RAPAT :

Dari Fraksi tidak ada komentar, maka dipersilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Pemerintah tidak ada keberatan prinsipiil apakah "di" atau "pada", itu serahkan saja kepada ahli tata bahasa.

KETUA RAPAT : . Mempersilakan FKP.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Dari FKP menghargai penjelasan Pemerintah dan menyetujuinya. KETUA RAPAT :

Jadi judul bah IV diserahkan Tim Perumus. (RAPAT SETUJU)

Kemudian mengenai Pasal 68, dari FKP ada usul ayat ( 1) nya, maka dipersilakan untuk menyampaikan usulnya.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

(28)

FKP ingin mendapat penjelasan terlebih dahulu apakah memang hams 3 hakim atau lebih di dalam mengadili atau memeriksa

perkara

di dalam acara biasa, FKP juga ingin mendapat penjelasan dari Pemerintah bagaimana dengan Hakim Ad Hoc. Di samping itu FKP juga ingin supaya istilah "memeriksa dan memutus" yang merupakan wewenang Pengadilan, ini dapat disamakan nantinya di dalam Tim Perumus.

Selain daripada itu, melihat daripada Pasal 47 dan Pasal 52 ayat (4), kata "pengadilan" di sini memang masih ada masalah yaitu mengenai pengadilan yang mempunyai togas dan wewenang mengadili pada sengketa Tata Usaha Negara.

Sedang di dalam Pasal 52 itu Pengadilan Tata Usaha Negara dan pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara oleh karena itu, FKP menginginkan penjelasan dari Pemerintah.

KETUA RAPAT :

Dari Fraksi-fraksi tidak ada usul, maka dipersilakan dari pihak Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMANnSMAIL SALEH, S.H.):

Mengenai 3 hakim, Pemerintah berpendapat cukup 3. Pengecualian ada, tetapi kita lihat itu di dalam pasal yaitu mengenai acara pemeriksaan cepat yaitu Pasal 98 dan 99, itu hakim tunggal. Di acara biasa, itu majelis itu terdiri dari 3 orang hakim.

Mengenai Hakim Ad Hoc. itu dapat dikembalikan pada Pasal 129.

Kemudian istilah "memeriksa" dan "memutus", ini juga masalah redaksional. Kemudian kata "pengadilan" itu sekaligus sesuai dengan kesepakatan kita, itu sejak dari

pasa.1-pasal pertama hingga

seterusnya itu sesuai dengan saran FKP, itu sekaligus ditembkan.

KETUA RAPAT :

Memang ini ada hubungan dengan Pasal 123 ayat (1) di situ ada istilah "sekurang-kurangnya 3 orang hakim" itu mengenai Pengadilan Tinggi. Tetapi di sini tentu tidak ada maksud demikian, tetapi mungkin perlu penjelasan Pemerintah lagi.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMANnsMAIL SALEH, S.H.) :

Jadi tingkat pertama 3 hakim, kalau banding sekurang-kurangnya jadi bisa lebih kalau banding. Kalau biasa, tidak bisa kurang dan tidak bisa lebih cukup 3.

KETUA RAPAT :

Ini sudah jelas dan soal lain hanya mengenai istilah, apakah ini dapat disetujui atau masih ada tanggapan dari FKP.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Sejalan penjelasan Pemerintah, FKP ingin supaya penjelasan Pemerintah tadi dapat dimasukkan penjelasan Pasal 68 ayat (1).

(29)

KETUA RAPAT :

Mempersilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H. ) :

Setuju, sebab selama ini apa yang sudah dianggap jelas oleh Pemerintah, ternyata memang belum jelas. Jadi setuju untuk diberikan penjelasan.

KETUA RAPAT :

Menanyakan apakah dapat diterima untuk dijadikan dalam penjelasan sesuai dengan Pemerintah, jadi Timus.

(RAPAT SETUJU).

Ayat (2) Pasal 68, ini tidak ada apa maka dimintakan persetujuan apa dapat diterima secara bulat.

(RAPAT SETUJU)

Ayat (3) ini ada usul dari FKP, maka dipersilakan PKP. FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) ;

Dalam Pasal 68 ayat (3) sebenarnya FKP ada masalah yaitu ingin menyamakan istilah antara Ketua Sidang dan Ketua Majelis. Namun demikian, mengingat penjelasan yang telah disampaikan dan kesepakatan kita bersama terhadap pasal-pasal yang terdahulu perlu diadakan penyesuaian, maka FKP setuju apabila rumusan ini nanti dimasukkan di dalam Timus.

KETUA RAPAT :

Fraksi-fraksi ~idak ada lagi yang menyampaikan tanggapannya, tnaka dipersilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.)'. : Setuju Timus.

KETUA RAPAT :

Jadi ayat (3) masuk Timus.

(RAPAT SETUJU) Ayat (4), ini ada usul dari FPP.

FPP (H. ADNAN KOHAR S. ) :

DIM FPP hanya menyangkut masalah redaksi dengan penambahan beberapa kata, yaitu diantara kata "ditaati" dengan kata "dan" disisipkan kata "semua pihak". Sehingga bunyi lengkapnya sebagai berikut :

Hakim Ketua Sidang wajib menjaga supaya tata tertib dalam persidangan tetap ditaati semua pihak dan segala perintahnya dilaksanakan dengan baik.

(30)

KETUA RAPAT :

Dari Fraksi-fraksi tidak ada, maka dipersilakan Pemerintah

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Apabila semua Fraksi setuju, Pemerintah setuju.

KETUA RAPAT : Semua Fraksi setuju.

Pasal 69, Pasal 69 ayat (1) tidak ada apa-apa, jadi dianggap diterima secara bu lat.

Untuk ayat (2) dipersilakan FKP.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Di dalam Pasal 69 ayat (2) FKP hanya ingin mengusulkan menyempumakan redaksional, terutama dikaitkan dengan Pasal 129 dan 128 Rancangan Undang-undang bahwa di dalam ayat ini tidak terlihat adanya pentahapan peringatan yang diberikan. Sehingga oleh karena itu FKP menginginkan agar supaya di dalam rumusan ayat (2) ini bisa jelas adanya peringatan yang dilakukan oleh Ketua Sidang, kemudian diperingatkan kembali apabila yang bersangkutan masih melaksanakan pelanggaran. Dan apabila memang tidak mentaati/mematuhi terhadap apa yang dikehendaki oleh Hakim. "Ketua Sidang, maka sudah tentu yang bersangkutan dapat diperintahkan untuk dikeluarkan dari sidang.

KETUA RAPAT : Mempersilakan FPDI

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Setuju usul FKP, sebab ini menyangkut contempt of court. KETUA RAPAT :

Mempersilakan FPP.

(FPP TIDAK ADA PENDAPAT) Selanjutnya mempersilakan FABRI.

FABRI (M.S. SITUMORANG) :

FABRI menganggap sebenamya sudah tercakup di dalamnya itu, tetapi kalau masih perlu diberikan penjelasan, FABRI setuju.

KETUA RAPAT :

Mempersilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Ini perlu kesepakatan mengenai pentahapan, apakah pentahapan nanti masuk dalam batang tubuh atau dimasukkan dalam penjelasan.

(31)

Jadi prinsipnya Pasal 69 ayat (2) kita terima semuanya dan apabila dipandang perlu, penjelasannya saja itu. Jadi prinsipnya demikian, pelaksanaannya mungkin bertahap, walaopon sesongguhnya sudah jelas.

Kedua, oleh karena tadi di dalam pasal sebelomnya, ito FPP mengusolkan untuk ditambah "semoa pihak", sedangkan sekarang di dalam ayat (2) itu "setiap orang",

ini

apakah disamakan yaitu di atas itu "setiap orang", apakah di ayat (2) itu "semua pihak", ini karena berkaitan satu sama lain.

KETUA RAPAT :

Dari Pemerintah dapat menerima dijelaskan dalam penjelasan, walaupon sudah jelas. Tetapi ini istilah setiap orang nanfr sopaya konsisten dengan ayat (4) Pasal 63. Apakah tidak baik dipergunakan" semoa pihak".

Berikotnya mempersilakan FKP.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Ketua memokul palo terlalu cepat. Jadi memang sekarang oleh Pemerintah ditanyakan sendiri, kalao kita tadi menerima bahwa tetap ditaati semoa pihak, berarti hanya ada dua pihak, tergugat dan penggugat. Lalo yang bokan masok itu bagaimana. Karena itu apa yang diajukan oleu Pemerintah pada Pasal 69 ayat (2) ini perlo diseragamkan dengan Pasal 68 ayat ( 4 ).

KETUA RAPAT :

Jadi ayat (2) Pasal 69 ini perlo dikaitkan dengan ayat (4) Pasal 68, sedangkan penjelasannya itu dapat dilakukan secara bertahap. Bagaimana kalau Panja dengan rumusan dikaitkan dengan ayat (4) Pasal 68 dan penjelasan sopaya diberikan sejelas-jelasnya oleh Panja.

FABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.):

Apa yang dikemukakan oleh Pemerintah itu tadi karena Pasal 69 ada kata "setiap orang", sedangkan tadi Pasal 68 ayat (4) itu diterima saran FPP ditambah "ditaati semoa pihak". Betul apa yang diotarakan oleh FKP, dengan demikian apakah Pasal 68 ayat (4) itu hanya menyangkut pihak-pihak yang bersengketa saja atau setiap orang hams mentaati tata tertib di dalam .persidangan itu.

Jadi kalao demikian, barangkali patut pula dipertimbangkan saran menteri, . Pasal 68 ayat (4) itu juga tidak baik ditaati setiap orang wajib mentaati tata tertib.

KETUA RAPAT :

Jadi mekanismenya, ayat (2) Pasal 69 dimasokkan dalam Panja. Lalo dibaca sekali lagi dengan seksama, diperbincangkan lalu dikaitkan dengan ayat ( 4) Pasal 68 istilah "setiap orang" dan "semua pihak", kalau cocok ya kita pilih "semua pihak" dan kalao tidak cocok maka kita rubah "setiap orang".

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :