MODEL PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR PADA JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH
PUSAT KURIKULUM
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 i
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan Kegiatan ... 2
C. Ruang Lingkup ... 2
BAB II. LANDASAN ... 3
A. Landasan Teoritis ... 3
B. Landasan Yuridis ... 6
C. Tujuan Pendidikan Multikultur ... 8
BAB III. POLA PENGEMBANGAN MODEL PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR... 9
A. Prinsip Pengembangan Kurikulum ... 9
B. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum ... 9
C. Langkah-Langkah Pengembangan ... 9
BAB IV. PELAKSANAAN DAN IMPLIKASI PENGEMBANGAN MODEL PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR ... 12
A. Pelaksanaan ... 12
B. Implikasi ... 12
DAFTAR PUSTAKA ... 13 CONTOH Model Kurikulum SMAN 8 Bandung
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pada dasarnya pendidikan adalah suatu usaha sadar manusia mempersiapkan generasi muda. Dalam mempersiapkan generasi muda tersebut pendidikan harus mulai dari hal-hal yang dimiliki atau dari apa yang sudah diketahui. Apa yang sudah dimiliki dan apa yang sudah diketahui itu adalah apa yang terdapat pada lingkungan terdekat peserta didik terutama yang berkaitan dengan lingkungan budaya.
Pada pertengahan abad ke-20 Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pendidikan harus berakar pada kebudayaan yaitu “dalam garis-garis adab kemanusiaan seperti terkandung dalam pelajaran agama, maka pendidikan dan pengajaran nasional bersendi kepada agama dan kebudayaan bangsa serta menuju ke arah keselamatan dan kebahagiaan masyarakat“ Pendapat ini juga sejalan dengan pendapat Dewey yang mengatakan bahwa pendidikan harus berakar pada budaya peserta didik dan harus mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup dalam lingkungan budaya tersebut. Dewasa ini dapat dikatakan bahwa tidak ada bangsa di dunia ini yang memiliki nilai dan budaya yang homogen. Indonesia sebagai salah satu negara besar di kawasan Asia Tenggara memiliki keragaman budaya yang kompleks. Motto “Bhineka Tunggal Ika” yang tercantum dalam lambang negara kita sangat tepat dalam menggambarkan realita yang ada di negara kita. Data secara antropologis menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 300 suku bangsa yang memiliki keragaman sosial dan budaya. Kelompok-kolompok budaya besar seperti Aceh, Batak, Minangkabau, Dayak, Jawa, Bugis-Makasar, Ambon, Papua dan lain-lain adalah contoh dari keberagaman tersebut. Belum lagi kelompok-kelompok budaya yang relatif lebih kecil dibanding dengan kelompok pendukung kebudayaan sebelumnya.
Dalam realita yang seperti ini maka pendidikan multikultur merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari. Sehingga sedikitnya ada empat alasan mengapa pendidikan multikultur diperlukan, empat alasan tersebut adalah:
1. Laju perubahan dalam kehidupan manusia Indonesia yang disebabkan oleh kemajuan ekonomi dan teknologi informasi. Perubahan kehidupan yang disebabkan oleh kemajuan ekonomi telah memperbesar kesenjangan sosial (social gap) antara kelompok atas dan kelompok bawah, hal ini akan mengakibatkan semakin besarnya perbedaan dalam gaya hidup dan pandangan hidup dari kedua kelompok tersebut.
2. Adanya mobilitas penduduk yang tinggi, menyebabkan adanya pertemuan yang intens antarkelompok dengan budaya yang berbeda. Untuk dapat menghasilkan kegiatan yang produktif perlu kedua kelompok memiliki pemahaman yang baik mengenai budaya kelompok lain.
3. Kemajuan teknologi informasi telah membuka isolasi daerah pedesaan di Indonesia. Perkenalan dengan budaya-budaya lain dapat diperoleh secara mudah dari media elektronik yang mungkin saja dapat menimbulkan persepsi yang keliru dan tidak menguntungkan.
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 2
Dengan sejumlah alasan tersebut di atas, maka sudah sejak lama para ahli pendidikan dan kurikulum menyadari bahwa kebudayaan adalah salah satu landasan pengembangan kurikulum di samping landasan-landasan yang lain seperti perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi informasi, politik dan ekonomi. Untuk itu maka kurikulum sebagai seperangkat rencana yang tertulis dan dilaksanakan dalam suatu proses pendidikan untuk mengembangkan potensi dan kualitas peserta didik seperti yang diharapkan bagi kehidupan dirinya maupun bagi bangsanya, dapat dikembangkan untuk mengatasi persoalan-persoalan multikultur seperti yang tersebut di atas.
Karena Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar telah ditetapkan sebagai standar nasional dan merupakan standar isi dari pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah maka pengembangan kurikulum pendidikan multikultur dapat melalui pengembangan indikatornya. Untuk dapat mengembangkan indikator ke pendidikan multikutur ada tiga hal yang harus diperhatikan guru, yaitu :
1. Posisi peserta didik harus sebagai subyek belajar, dengan posisinya sebagai subyek, peserta didik akan melakukan berbagai upaya untuk mengkaji setiap mata pelajaran untuk dikaitkan dengan apa yang sudah dimilikinya.
2. Cara belajar peserta didik di latar belakangi dengan latar belakang budayanya 3. Lingkungan budaya peserta didik menjadi sumber belajar utama.
B. Tujuan Kegiatan
Kegiatan ini bertujuan untuk menyusun model pengembangan kurikulum inovatif, khususnya Model Penerapan Pendidikan Multikultur pada jenjang pendidikan menengah. sehingga dapat membantu guru dalam mengoptimalkan layanan pendidikan kepada peserta didik, yang pada gilirannya dapat mengembangkan potensi dan kemampuan peserta didik dalam menghadapi kehidupan nyata.
C. Ruang Lingkup
1. Lingkup jenjang dan satuan pendidikan:
Mengingat lingkup jenjang pendidikan menengah relatif luas maka pada kegiatan ini dibatasi hanya pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).
2. Lingkup Mata Pelajaran:
Lingkup pengembangan model kurikulum inovatif yang mengintegrasikan pendidikan multikultur pada jenjang pendidikan menengah mencakup mata pelajaran sebagai berikut:
a. Pendidikan Agama
b. Pendidikan Kewarganegaraan c. Bahasa Indonesia
d. Bahasa Inggris
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 3
BAB II LANDASAN A. Landasan Teoritik
Untuk mengembangkan model penerapan pendidikan multikultur, diperlukan beberapa teori yang akan dipadukan menjadi suatu kerangka konsep yang digunakan dalam pembuatan desain model pembelajaran. Konsep masyarakat majemuk seperti Indonesia, sering ditelaah dengan menggunakan konsep masyarakat majemuk atau masyarakat plural, yang oleh para ahli ilmu sosial sering didampingkan dengan konsep masyarakat multikultur, karena kedua konsep tersebut dapat digunakan untuk menelaah keanekaragaman budaya.
Di kalangan para ahli ilmu sosial dan budaya, konsep masyarakat multikultur sering muncul dalam pembicaraan, khususnya pembicaraan tentang keragaman budaya. Kemunculannya dilandasi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat bahwa perbedaan yang ada tidak seharusnya menghilangkan nilai yang dimiliki oleh masing-masing etnik. Perbedaan yang ada tidak seharusnya menimbulkan konflik di antara anggota masyarakat etnik tersebut. Kata “kultur” (culture) memiliki makna yang sangat luas, karena tidak hanya mencakup adat istiadat, nilai, kepercayaan, dan pandangan hidup yang berbeda-beda secara regional atau nasional saja, tetapi juga memiliki makna masyarakat etnik yang kecil. Ketika digunakan dalam konteks multikultur (multiculture), istilah kultur dipahami sebagai adat istiadat, nilai, kepercayaan dan pandangan hidup yang berbeda-beda yang dimiliki oleh berbagai kelompok dalam masyarakat yang diakui dan diperlakukan secara bersama-sama. Penekanannya pada aspek keberagaman kelompok budaya dalam masyarakat, menjadikan masyarakat multikultur terkesan lebih menekankan konsep “multi”nya daripada konsep “kultur”nya. Multikultur bertujuan untuk mengakomodasikan perbedaan-perbedaan, memberikan dan menjamin kesamaan hak atau kedaulatan di antara kelompok atau masyarakat etnik ada di masyarakat.
Dari berbagai pengertian dan pemahaman tentang multikulturalisme, dikenal beberapa istilah lain seperti pluralisme. Istilah pluralisme dan multikulturalisme memiliki konsep yang berbeda. Pluralisme merupakan paham yang memandang keanekaragaman dengan menekankan entitas perbedaan antarsatu masyarakat dan masyarakat lain, dan kurang memperhatikan interaksinya. Istilah multikulturalisme merupakan paham yang menekankan interaksi dengan memperhatikan keberadaan setiap kebudayaan sebagai entitas yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dari konsep multikulturalisme ini muncul gagasan normatif mengenai kerukunan, toleransi, saling menghargai perbedaan dan hak dari masing-masing kebudayaan (Saefudin 2006).
Berbeda dengan konsep pluralisme yang menekankan keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaannya sehingga setiap kebudayaan dipandang sebagai entitas yang berbeda, maka multikulturalisme lebih menekankan pada reaksi antarkebudayaan yang mempertimbangkan keberadaan kebudayaan lain. Dengan demikian, faktor kesetaraan, toleransi, saling menghargai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pandangan ini.
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 4
berbagai macam suku bangsa, agama, dan bahasa. Nasionalitas ini biasanya digunakan sebagai perkat integrasi dari suatu bangsa. Sebagai warga dari suatu negara (warganegara), ia berhak untuk dilindungi oleh negaranya. Pemerintah Prancis menerapkan model ini untuk menjaga integritas bangsanya. Model kedua adalah model nasionalitas-etnik, yang mendasarkan hubungannya pada kesadaran kolektif etnik, yang menekankan hubungan darah dan kekerabatan dengan pendiri kebudayaan itu. Jerman dikenal sebagai negara yang secara konsisten menerapkan konsep ini. Ketiga, model multikultural-etnik yang mengakui eksistensi dan hak-hak warga etnik secara kolektif. Negara yang konsisten menerapkan model ini adalah Australia dan Kanada. 1. Model Prancis
Prancis memiliki pemaknaan khusus tentang masyarakat yang multikultur, yang berhubungan baik dengan sejarah pembentukan bangsa Prancis maupun citraan yang terbentuk dari budayanya. Dengan latar belakang masyarakat yang terdiri atas berbagai bangsa, tumbuh kesadaran bahwa kesatuan nasional tidaklah bertentangan dengan penghargaan terhadap keberagaman yang ada. Citraan yang paling baik menggambarkan pertalian budaya antara Prancis dan bangsa-bangsa lain melalui kaum imigran yang menetap di sana, yang bukan merupakan asimilasi yang dipaksanakan. Pertalian itu terjadi secara lambat, diterima dan dipertahankan melalui rencana pembangunan bangsa dan masyarakat yang permanen.
Dalam model nasionalitas yang diterapkan di Prancis ini, setiap warga negara, sebagai individu, berhak dilindungi oleh negara. Sebagai konsekuensi dari diterapkannya model ini, adalah tidak diperhatikannya akar kebudayaan etnik pendiri negara, dan menjadikannya sebagai peristiwa yang terjadi di masa lampau. Disadari sepenuhnya bahwa model ini memiliki kelemahan, karena dianggap sebagai penghancur kebudayaan etnik. Model masyarakat multikultur yang menonjolkan nasionalitas ini sangat rentan karena memiliki kecenderungan menjurus kepada kekuasaan otoritarian, karena kekuasaan untuk menentukan unsur-unsur integrasi nasional berada di tangan suatu kelompok elit tertentu yang menguasai negara. Nasionalitas dan nasionalisme menjadi tameng bagi para elit untuk mencapai tujuannya. Di negara ini diberlakukan aturan bagi semua warga negara tanpa memperhatikan latar belakang etnik, dan sekaligus melarang untuk memanifestasikan kebudayaan etnik atau agama ke tatanan politik. Larangan menggunakan jilbab di Prancis akhir-akhir ini, misalnya, merupakan salah satu contoh diterapkannya model nasionalitas tersebut.
2. Model Jerman
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 5
3. Model Kanada dan Australia
Model ketiga, yakni model multikultural-etnik. Model ini pada umumnya diterapkan oleh suatu negara yang memiliki masalah pribumi dan pendatang. Dua negara yang menerapkan model ini adalah Australia yang memiliki masalah dengan orang pribumi (aborigines) dan Kanada yang memiliki masalah dengan kaum pendatang (migrants). Model yang multikultural-etnik mengakui eksistensi dan hak-hak warga etnik secara kolektif. Dalam model ini keragaman menjadi realitas yang harus diakui dan diakomodir oleh negara. Identitas dan asal-usul warganegara tetap diperhatikan.
Permasalahan yang muncul adalah diterapkannya kebijakan ini tidak hanya menyangkut anggota masyarakat dari berbagai kolektif dan etnik, tetapi juga masyarakat yang minoritas dan mayoritas, maupun yang dominan dan tidak dominan. Permasalahan lain yang terdapat dalam model multikultural-etnik ini menjadi lebih kompleks lagi karena kelompok etnik mayoritas tidak selalu berarti dominan, karena kasus di kedua negara itu menunjukkan bahwa kelompok etnik yang minoritas justru deminan, setidaknya dalam bidang ekonomi. Apabila kekuasaan negara lemah, karena prioritas dilimpahkan kepada keberagaman kolektif sebagai konsekuensi pengakuan negara atas keberagaman kolektif itu, maka kemungkinan akan muncul konflik internal yang berkepanjangan yang akhirnya akan membuat lemah negara itu sendiri.
Negara mengakui adanya hak etnik secara kolektif. Keanekaragaman itu adalah realitas yang harus diakomodasi oleh negara. Apabila negara tidak bisa menjalankan fungsinya dalam masyarakat yang multikultural-etnik ini, maka masalah internal akan mendominasi masa sepanjang kelangsungan bangsa itu.
4. Model Indonesia
Dengan melihat ketiga model yang telah dipaparkan, sangat sukar untuk menentukan model multikulturalisme yang sesuai dengan situasi dan kondisi di Indonesia. Kesesuaiain model lebih banyak ditentukan oleh kondisi geografis, keragaman etnik, agama, gender, sosial, ekonomi dan budaya, serta dan faktor-faktor luar yang mempengaruhi arah kebijakan multikulturalisme di Indonesia.
Model nasionalitas tidak tepat diterapkan di Indonesia karena sejak negara ini berdiri, bangsa Indonesia telah dengan jelas menyatakan identitasnya sebagai negara yang memiliki keanekaragaman budaya seperti tercermin dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Model multikulturalisme nasionalitas-etnik juga tidak dikenal di Indonesia, karena bangsa kita tidak mengenal ras atau sukubangsa yang dominan dalam pendirian negara dan bangsa ini. Model kesetaraan juga tidak dapat begitu saja dapat dikedepankan, karena mengandung resiko. Populasi yang sangat besar sangat rentan terhadap perpecahan, terlebih lagi apabila kondisi obyektif sebelumnya kurang mendukung proses demokratisasi kebudayaan yang sebenarnya merupakan pesan utama yang ada di balik multikulturalisme tersebut.
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 6
masyarakat yang berkeadilan, berkeselarasan, berkemitraan dan bertoleransi dapat segera terwujud di Indonesia.
B. Landasan Yuridis
Landasan hukum atau peraturan perundangan yang melandasi pengembangan model kurikulum inovatif dengan mengintegrasikan pendidikan multikultur ini, antara lain: 1. Landasan Hukum Yang Menyangkut Tentang Substansi Multikultur Perlu Dalam
Kurikulum Pendidikan
a. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31
(1) setiap warganegara berhak mendapat pendidikan
(2) Setiap warganegara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya
(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggatan pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional
(5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
b. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional Pasal 1 Angka 1
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangka potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang digunakan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara
Pasal 4
(1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.
(2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistematik dengan sistem terbuka dan multimakna.
(3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
(4) Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
(5) Pendidikan diselengarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap masyarakat
(6) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 7
Pasal 17
(1) Kurikulum tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/MALB, SMA/SMK/MA, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik
Pasal 19
(1) Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik
Pasal 55
(1) Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan non formal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat
(2) Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaan sesuai dengan standar nasional pendidikan.
2. Landasan Hukum Yang Menyangkut Pentingnya Pendidikan Kearah Multikultur – Untuk Menghilangkan Diskriminasi, Marginalisasi, Stereotipe, Prasangka, Ketidakadilan, Ketimpangan Yang Berdasarkan Etnis, Agama, Gender, Sosial, Ekonomi dan Budaya.
a. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18 B ayat (2):
Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. Pasal 28 (1):
(1) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
(2) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban
(3) Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan
b. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Lembaran Negara Tahun 1984 No. 29, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3277)
Pasal 1
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 8
budaya sipil atau apapun lainnya oleh wanita, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara pria dan wanita.
c. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3886)
Pasal 6:
(1) Dalam rangka penegakan Hak Asasi Manusia, peradaban dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi oleh hukum, Masyarakat dan Pemerintah.
(2) Identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk hak atas Tanah Ulayat dilindungi selaras dengan perkembangan zaman.
d. Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on the Right of the Child) Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tanggal 20 November 1989.
Pasal 30:
Di negara-negara dimana terdapat minoritas suku bangsa, agama dan bahasa atau orang-orang pribumi, seorang anak dari kalangan minoritas seperti itu atau anak yang pribumi tidak akan disangkal haknya dalam bermasyarakat dengan anggota-anggota lain dari kelompoknya baik wanita maupun pria, untuk menikmati budayanya sendiri, untuk mengakui dan melaksanakan agamanya sendiri, atau menggunakan bahasanya sendiri.
C. Tujuan Pendidikan Multikultur
Melalui model penerapan pendidikan multikultur ini diharapkan berdampak langsung pada guru maupun siswa, baik setelah program pembelajaran maupun setelah tamat dari satuan pendidikan. Dengan demikian model ini memiliki dua tujuan, yaitu bagi siswa maupun guru.
Adapun tujuan secara khusus bagi siswa, antara lain:
1. Mengurangi perasaan berlebihan siswa, baik perasaan rendah diri maupun sikap arogansi dalam memandang kelompok lain;
2. Mengubah pandangan yang ada tentang stereotipe negatif dari suatu kelompok etnik;
3. Meningkatkan sikap toleransi siswa akan adanya keberagaman;
4. Meningkatkan pentingnya kerjasama untuk membangun kepentingan bersama, yang dimulai dari skala kecil di sekolah hingga skala nasional dalam upaya mempertahankan integrasi bangsa.
Sedangkan tujuan bagi guru, antara lain:
1. Memberikan wawasan secara umum mengenai konsep penerapan pendidikan multikultural;
2. Menumbuhkan pemahaman kepada guru mengenai efektivitas strategi dan prosedur penyelenggaraan model pembelajaran multikural;
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 9
BAB III
POLA PENGEMBANGAN
MODEL PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR A. Prinsip Pengembangan Kurikulum
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
2. Beragama dan terpadu
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. 4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
5. Menyeluruh dan berkesinambungan 6. Belajar sepanjang hayat
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. B. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum
1. Peserta didik memperoleh pelayanan yang bermutu dan memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan sesuai dengan potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya
2. Menegakkan 5 pilar belajar, yaitu: beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, belajar untuk memahami dan menghayati, belajar untuk mampu melaksanakan dan berguna secara efektif, belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
3. Memperoleh pelayanan untuk perbaikan, pengayaan dan/atau percepatan sesuai dengan potensi dan tahap perkembangan dan kondisi perkembangannya dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi yang berdimensi keTuhanan, keindividuan, kesosialan dan moral.
4. Hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat dengan prinsip “tut wuri Handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada”
5. Menggunakan pendekatan multistrategi dan multi media, sumber belajar dan teknologi yang memadai, memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dengan prinsip “alam takambang jadi guru”
6. Mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. C. Langkah-Langkah Pengembangan
1. Merumuskan visi, misi, tujuan sekolah, dan pengembangan diri yang mencerminkan kurikulum sekolah yang berbasis multikultur.
2. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Yang Bermuatan Multikultur, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. Urgensi dengan kehidupan peserta didik yang berhubungan dengan multikultur;
b. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran lain yang memuat multikultur;
c. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dalam masyarakat yang multikultur; d. keterpakaian atau kebermaknaan bagi peserta didik dalam aktivitas kehidupan
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 10
3. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran Yang Bermuatan Multikultur, dengan mempertimbangkan:
a. keberagaman peserta didik; b. karakteristik mata pelajaran;
c. relevansi dengan karakteristik daerah;
d. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
e. kebermanfaatan bagi peserta didik; f. aktualitas materi pembelajaran; dan
g. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan. 4. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Yang Bermuatan Multikultur
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran inkuiri dan berpusat pada peserta didik dan dengan menerapkan beberapa metode yang relevan seperti metode diskusi, tanya jawab, bermain peran, penugasan, dan lain sebagainya. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran yang memuat multikultur adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan pembelajaran multikultur disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik (guru), agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
b. Kegiatan pembelajaran multikultur memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik.
c. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan materi pembelajaran muatan multikultur.
d. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran yang bermuatan multikutur minimal mengandung dua unsur yaitu kegiatan peserta didik dan materi multikultur.
5. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Yang Bermuatan Multikultur Indikator yang bermuatan multikultur merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang bermuatan multikultur. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, lingkungan dan potensi daerah yang dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
6. Penentuan Jenis Penilaian Yang Bermuatan Multikultur
Penilaian pencapaian kompetensi dasar yang bermuatan multikultur bagi peserta didik dilakukan berdasarkan indikator yang bermuatan multikultur. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. Penilaian yang bermuatan multikultur merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 11
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 12
BAB IV
PELAKSANAAN DAN IMPLIKASI
PENGEMBANGAN MODEL PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR A. Pelaksanaan
Model penyelenggaraan pendidikan multikultur di sekolah dapat dilakukan dengan cara terintegrasi dalam mata pelajaran pada kurikulum tingkat satuan pendidikan. Oleh karena itu, pembelajaran pendidikan multikultur ini diharapkan tidak merubah struktur kurikulum dan tidak menambah alokasi waktu. Penerapan atau pengintegrasian pendidikan multikultur secara jelas terlihat dalam silabus dan RPP. Melalui cara itu, maka akan terimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas secara kontekstual. Selain itu, pendidikan multikultur juga bukan mata pelajaran terpisah sehingga harus terintegrasi dan bukan merupakan pengetahuan yang bersifat kognitif sehingga materi seyogyanya dikemas dalam bentuk afektif dan kinerja siswa serta pendekatan materinya dapat bersifat tematis. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah upaya menerapkan atau mengintegrasikan muatan nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan multikultur kedalam mata pelajaran melalui kegiatan-kegiatan sehingga dapat diterapkan dan tercermin dalam kehidupan peserta didik. Selain itu, penerapan atau pengintegrasian pendidikan multikultur harus dilakukan dan terlihat dalam aktivitas seluruh warga sekolah maupun dalam manajemen sekolah secara umum.
B. Implikasi
Implikasi penerapan pendidikan multikultur dalam kurikulum sekolah, antara lain: 1. Pemerintah
Dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional khususnya Pusat Kurikulum sebagai institusi yang mengembangkan model seyogyanya menyediakan anggaran khusus agar pelaksanaan atau implementasi pendidikan multikultur dapat terlaksana di sekolah.
2. Sekolah
Medel Penereapan Pendidikan Multikultur-2007 13
DAFTAR PUSTAKA
Darmawan, J. Joseph. 2005. Multikulturalisme: membangun Harmanoni Masyarakat Plural. Yogyakarta : Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Marihandono, Djoko. 2007. Bhinneka Tunggal Ika: Konsep Dasar Multikulturalisme di Indonesia. Bahan Pelatihan Guru MGMP Jakarta. Tidak diterbitkan.
Mulyana, Agus. 2007. Multikulturalisme dan Implementasinya. Bahan Pelatihan Guru-Guru MGMP Jakarta. Tidak diterbitkan.
Nasikun. 1991. Sistem Sosial Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers.
Nugroho, Alois A. 2003. Kompas (4 April 2003) menulis tentang “Benturan Peradaban, Multikulturalisme, dan Fungsi Ratio”. Kompas 4 April 2003.
Suparlan, Parsudi. 2005. “Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural“ dalam Pendidikan Multikultural dan Revitalisasi Hukum Adat. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Tilaar, HAR. 2005. “Pendidikan dalam Multikulturalisme“ dalam Pendidikan Multikultural dan Revitalisasi Hukum Adat. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.