• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rumusan Rakoreg II 2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Rumusan Rakoreg II 2010"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

1

RAPAT KOORDINASI

PERENCANAAN PEMBANGUNAN KEHUTANAN REGIONAL II (RAKORENBANGHUTREG II) TAHUN 2010

Guna tersusunnya rencana pembangunan kehutanan secara cermat, transparan, efisien, efektif dan akuntabel (kegiatan prioritas, fokus, lokus, narasi dan pembiayaan) yang mampu menyerap aspirasi semua pihak. Dengan maksud dan tujuan tersebut, pada tanggal 22 April 2010 Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional II menyelenggarakan Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Kehutanan Regional II di Yogyakarta yang dihadiri jajaran kementerian kehutanan baik pusat maupun daerah.

Berdasarkan tanggapan yang disampaikan oleh narasumber, masukan serta diskusi yang berkembang selama berlangsungnya rapat koordinasi tersebut. Peserta Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Kehutanan Regional tahun 2010 menyepakati dan merumuskan hal-hal sebagai berikut :

1. Rakorenbanghutda/reg/Pus/Nas merupakan tahapan perencanaan yang

dimaksudkan untuk menyusun rencana pembangunan kehutanan secara cermat, transparan, efisien, efektif dan akuntabel (kegiatan prioritas, fokus, lokus, narasi dan pembiayaan) yang mampu menyerap aspirasi semua pihak.

2. Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Kehutanan Regional

(Rakorenbanghutreg) ini telah membahas penyusunan rencana kerja pembangunan kehutanan tahun 2011 tingkat regional yang akan dilaksanakan oleh UPT Kementerian Kehutanan terkait dengan dana vertikal maupun Dinas Kehutanan provinsi terkait dengan dana Dekonsentrasi.

3. Usulan kegiatan dan anggaran pembangunan kehutanan tahun 2011 selain

mengacu pada Renstra Kemenhut dan Renstra Eselon I, prioritas kegiatan pembangunan kehutanan juga mengacu Prioritas Alokasi Anggaran Tahun 2011, yakni :

a. Memenuhi pengeluaran yang bersifat wajib yang bersifat dukungan manajemen,

al. : Gaji dan tunjangan; Operasional dan pemeliharaan kantor; Kegiatan yang

bersifat multi-years dan penyelesaian kegiatan; Kebutuhan dana pendamping

untuk PHLN; Kegiatan penunjang dalam rangka Standar Pelayanan Minimum (SPM); dan Penyelesaian tunggakan.

b. Program/kegiatan prioritas nasional/bidang.

c. Program/kegiatan penunjang lainnya.

4. Terhadap kegiatan RHL yang merupakan target Pemerintah Pusat yang dilaksanakan

oleh kabupaten/kota perlu dilakukan pembinaan dan monitoring oleh Dinas Kehutanan Provinsi. Untuk itu kegiatan pembinaan dan monev tersebut akan diupayakan melalui Dana Dekonsentrasi.

5. Berdasarkan hasil kajian Eselon I terhadap usulan Rencana Kerja pembangunan

(2)

2

6. Untuk mewujudkan perencanaan pembangunan kehutanan berdasarkan prinsip MRV

(Measurable, Reportable dan Verifiable) maka perbaikan usulan Renja Regional II TA 2011 agar dipertajam khususnya sasaran kegiatan, numenklatur kegiatan, rincian kegiatan, lokasi dan volume kegiatan sesuai dengan Kebijakan pembangunan kehutanan Eselon I masing-masing tahun 2011 dan Renstra Kemenhut 2010-2014. Untuk itu matrik hasil perbaikan dimaksud agar disampaikan paling lambat 1 (satu) minggu sejak pelaksanaan Rakorenbanghutreg ini (tanggal 28 April 2010) melalui

alamat email [email protected] atau [email protected].

7. Lain-lain :

a. Terkait dengan permasalahan pemantapan kawasan hutan, perlu dilakukan

langkah-langkah : (1) Rekalkulasi panjang batas kawasan hutan yang telah dan belum dilaksanakan, (2) Peningkatan koordinasi dengan para pengelola kawasan hutan (Perum Perhutani, BTN, BKSDA, dll.) untuk menentukan prioritas kegiatan dalam rangka pemantapan kawasan hutan, (3) Mendorong peningkatan peran pengelola kawasan hutan dalam proses pengukuhan kawasan hutan, (4) Penyempurnaan peraturan untuk mendorong percepatan proses pengukuhan kawasan hutan, (5) Penambahan juru ukur dan alat ukur serta mengupayakan pelibatan pihak ketiga dalam pelaksanaan tata batas.

b. Terkait dengan PP 19 tahun 2010 tentang Tugas dan Wewenang Gubernur, maka

UPT Lingkup Kementerian Kehutanan agar meningkatkan koordinasi dengan Pemprov termasuk Bappeda Provinsi dan Dinas Kehutanan Provinsi terkait dengan sinkronisasi perencanaan pembangunan di provinsi wilayah kerja masing-masing.

c. Kabupaten/Kota agar mengusulkan hutan kota seluas 50 – 100 ha ke Ditjen RLPS

dan Setjen untuk dianggarkan tahun 2011 melalui APBN dan DAK Bidang Kehutanan. Sedangkan Dishut prov. Agar mengusulkan kegiatan pembinaan dan monev pelaksanaan RHL melalui dana Dekonsentrasi bidang RLPS tahun 2011.

d. Guna mewujudkan pengelolaan hutan di Jawa secara efektif diperlukan koordinasi

yang lebih intensif antara Ditjen Planologi, Dinas yang membidangi kehutanan di Provinsi dan Perum Perhutani sesuai dengan TUPOKSI masing-masing.

e. Tahapan pembahasan RTRWP/K agar dilengkapi dengan Berita Acara Pembahasan

yang dapat dijadikan sebagai dokumen kedinasan dan laporan perkembangan penataan ruang yang bersifat akuntabel.

f. Dalam rangka implementasi UU No. 26 tahun 2007 tentang Tata Ruang diperlukan

percepatan penyelesaian pengesahan oleh Kementerian Kehutanan terhadap review/revisi RTRW Provinsi sebagai dasar penyelesaian penyusunan dan pengesahan RTRWK.

g. Untuk mendorong peningkatan penerimaan negara, penyerapan tenaga kerja dan

peningkatan pendapatan masyarakat sekitar hutan perlu didorong kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam.

h. Kegiatan penelitian kehutanan agar disesuaikan dengan kebutuhan penelitian

(research need) di daerah.

i. Kemenhut agar mendorong pembentukan Bakorluh di Provinsi sesuai dengan UU

(3)

3

j. Kegiatan RHL agar diprioritaskan di daerah penyangga kawasan konservasi

melalui koordinasi perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian dengan para pengelola kawasan konservasi.

k. Perencanaan pembangunan kehutanan tahun 2011 agar mengalokasikan kegiatan

diklat terkait Wasganis dan Ganis PHPL sesuai kebutuhan daerah.

l. Pusdalbanghut Regional II akan memfasilitasi koordinasi dalam rangka

penyusunan perencanaan pengelolaan Hutan Lindung di areal kerja Perum Perhutani di Pulau Jawa pada tahun 2010;

8. Hasil Rakorenbanghutreg II berupa Renja Pembangunan Kehutanan Instansi

Kehutanan Daerah dan UPT Kemenhut tingkat Regional II ini akan dibahas lebih lanjut pada forum RAKORENBANGHUTPUS, RAKORNIS dan RAKORNASBANGHUT. Untuk ini Koordinator UPT dan Dinas Kehutanan Provinsi agar mengkoordinasikan lebih lanjut proses penyelesaian penyusunan Renja Pembangunan Kehutanan TA 2011 untuk segera disampaikan kepada Kementerian Kehutanan dalam rangka proses selanjutnya.

Demikian rumusan yang dapat disampaikan dan untuk bisa dipedomani serta ditindaklanjuti oleh para pihak terkait sesuai dengan peran, kewenangan dan tanggung jawabnya masing-masing.

Referensi

Dokumen terkait

Bagian ini menjabarkan rencana pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya yang mencakup empat sektor yaitu pengembangan permukiman, penataan bangunan dan lingkungan,

Alhamdulillah penyusun telah menyelesaikan Skripsi yang merupakan sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Islam dari Program Studi Ekonomi Islam

Gunakan jari Anda pada layar sentuh untuk sebagian besar pengoperasian, misalnya penjelajahan foto, pencetakan, memilih menu printer, atau menyentuh tombol pada layar dalam frame

Jika tekanan terjadi mendadak dan luas pada jaringan subkutan maka akan menyebabkan pecahnya sel–sel lemak, kemudian cairan lemak akan memasuki peredaran darah pada luka

"Jadi apakah dibenarkan untuk melakukan sesuatu yang tidak merugikan orang lain atau diri sendiri." Tidak, HANY A apabila suatu tindakan berada dalam lingkup batas-batas

Lembar kerja siswa (LKS) memuat kegiatan-kegiatan yang dikerjakan oleh peserta didik dalam proses pembelajaran. Penyajian materi dalam LKS diawali dengan petunjuk

Simpulan dari kegiatan pendampingan ini adalah (a) Melalui kegiatan pengabdian ini, tim melihat bahwa terdapat peningkatan pemahaman dan pengetahuan keberadaan jenis-

Calon peserta UJIAN CPMA dapat pula memperoleh Formulir Pendaftaran dan Buku Pedoman Peserta UJIAN CPMA dengan cara mengirimkan surat atau fax kepada Sekretariat DP-UJIAN CPMA