MAKNA SIMBOLIK TARI HUDOQ PADA UPACARA PANEN BAGI MASYARAKAT SUKU DAYAK GA’AY KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR.

141  205  Download (6)

Teks penuh

(1)

MAKNA SIMBOLIK TARI HUDOQ PADA UPACARA PANEN BAGI MASYARAKAT SUKU DAYAK GA’AY KABUPATEN BERAU

KALIMANTAN TIMUR

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh : Risna Herjayanti NIM 10209241039

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENI TARI FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2014

(2)

PERSETUJUAN

Skripsi yang berjudul Makna Simbolik Tari Hudoq Pada Upacara Panen

Masyarakat Suku Dayak Ga’ay Kabupaten Berau Kalimantan Timur ini telah

disetujui oleh dosen pembimbing untuk diujikan.

Yogyakarta, 19 November 2014 Pembimbing I Pembimbing II

Ni Nyoman Seriati, M.Hum Wenti Nuryani, M.Pd NIP. 19621231 198803 2 003 NIP. 19660411 199303 2 001

(3)

PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul Makna Simbolik Tari Hudoq Pada Upacara Panen

Bagi Masyarakat Suku Dayak Ga’ay Kabupaten Berau Kalimantan Timur

ini telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada 28 November 2014 dan dinyatakan lulus.

DEWAN PENGUJI

Nama Jabatan Tandatangan

Tanggal

Wien Pudji Priyanto DP, M.Pd. Ketua Penguji Wenti Nuryani, M.Pd. Sekretaris Penguji

Herlinah, M.Hum. Penguji I Ni Nyoman Seriati, M.Hum. Penguji II

Yogyakarta, 9 Desember 2014 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta D

(4)

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya Nama : Risna Herjayanti

NIM : 10209241039

Program Studi : Pendidikan Seni Tari

Fakultas : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta

menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil pekerjaan saya sendiri. Sepanjang pengetahuan saya, skripsi ini tidak berisi materi yang ditulis orang lain, kecuali bagian – bagian tertentu yang diambil sesuai acuan dengan mengikuti tata cara dan etika penulisan karya ilmiah yang telah lazim.

Apabila ternyata terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar, sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Yogyakarta, 19 November 2014 Penulis,

Risna Herjayanti

(5)

MOTTO

Hasil merupakan nilai proses, jika mengharapkan hasil yang sempurna maka diperlukan kerja keras, usaha, dan keyakinan yang besar. “Think big, act now”.

Keberhasilan terutama berarti kebebasan: kebebasan dari kekhawatiran, ketakutan dan kegagalan. Keberhasilan berarti rasa hormat kepada diri sendiri, terus menerus

mendapatkan kebahagiaan yang lebih rill dan kepuasan dari hidup ini, mampu mengerjakan lebih banyak bagi yang bergantung kepada Anda dan kasih

sayangnya begitu Anda hargai. David J.Schwartz (2002:1)

(6)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini ku persembahkan kepada :

Ayahanda M. Djaini dan ibunda Paulina Sari yang telah memberi kebebasan dan

kepercayaan yang besar, kasih sayang yang tidak terhingga, malaikat penjagaku

di Bumi yang selalu mendoakan dan merestui setiap langkahku. Dua orang yang

paling berharga dalam hidupku dan slalu hadir dalam doa, berharap Allah SWT

memberikan kesempatan untuk dapat membanggakan dan membahagiakan

mereka dengan hasil kerja kerasku suatu saat nanti.

Ibu Ni Nyoman Seriati M.Hum dan Wenti Nuryani, M.Pd, terimakasih atas

kesabaran dan waktu yang diluangkan untuk membimbing sehingga skripsi ini

dapat terselesaikan.

Keluarga kecil di Jogjakarta, sahabat terhebatku Eyin, Erin, Fio, Cui, Adie dan

mas Rangga yang telah memberi arti bahwa bahagia itu sederhana, kebersamaan,

sedih senang dan cerita 4 tahun ini tak hanya menjadi sebuah kenangan, kalian

selalu hadir di dalam doaku.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan nikmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna memenuhi persyaratan untuk dapat memperoleh gelar sarjana strata satu jurusan Pendidikan Seni Tari.

Penulisan skripsi ini dapat terselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari beberapa pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terimakasih yang tulus kepada : 1. Prof. Dr. Zamzani, M.Pd selaku Dekan Fakultas Bahasa dan Seni

Universitas Negeri Yogyakarta.

2. Bapak Wien Pudji Priyanto DP, M.Pd selaku Kajur Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta yang telah membantu dalam proses akademik.

3. Ibu Ni Nyoman Seriati, M.Hum yang dengan tulus dan sabar memberikan bimbingan dan ilmunya dalam proses penulisan skripsi.

4. Ibu Wenti Nuryani, M.Pd yang dengan tulus memberi bimbingan dan semangat selama penulisan skripsi.

5. Bapak/Ibu Dosen Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberi banyak ilmu dan bimbingannya.

6. Bapak Lucas Tengah dan H. Jiang Dom selaku narasumber.

7. Bapak Jiang Boss sebagai Kepala Adat Dayak Ga’ay Kabupaten Berau dan Ibu Sunarsih selaku Kepala Kampung Tumbit Dayak yang telah memberikan izin dan memfasilitasi selama proses penelitian.

(8)

8. Ibu Karyani Tri Tialani yang ikhlas memberikan pengalaman dan pelajaran baru dalam proses penelitian dan penulisan.

9. Ayahanda M. Djaini dan ibunda Paulina Sari yang selalu memberikan doa, semangat, dan kepercayaan yang teramat besar hingga saat ini.

10. Sahabat super (Eyin, Erin, Fio, Cui, Adie dan mas Rangga) yang selalu siap memberi bantuan, semangat, dan kebahagiaan selama ini.

11. Teman – teman Pendidikan Seni Tari 2010 serta semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang telah membantu sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Besar harapan penulis agar skripsi ini dapat bermanfaat kendati penulis menyadari banyak kekurangan dalam bentuk penulisan, oleh karena itu penulis sangat mengharap kritik dan saran membangun sebagai proses pembelajaran, dan untuk itu penulis mengucapkan banyak terimakasih.

Yogyakarta, 19 November 2014 Penulis,

Risna Herjayanti

(9)

DAFTAR ISI

1. Hakikat dan Aspek Pendukung Tari 5

(10)

2. Seni Sebagai Simbol 12

3. Upacara Panen Suku Dayak 15

B. Kerangka Berfikir 17

C. Hasil Penelitian yang Relevan 19

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 29

1. Letak Geografis 29

2. Keadaan Alam dan Masyarakat 30

3. Sistem Religi 35

3. Bentuk Penyajian Tari Hudoq 55

a. Tema 55

(11)

b. Gerak 55

i. Arena Pentas dan Waktu Pertunjukan 66

4. Jenis Topeng Hudoq 68

a. Pemimpin Hudoq (Hudoq Tong Gaep) 68 b. Tokoh yang Berasal Dari Dasar Sungai 69

1) Penjelmaan Roh Naga 69

2) Penjelmaan Roh Buaya 70

3) Penjelmaan Roh Belut 71

c. Tokoh yang Berasal Dari Hutan 72

1) Penjelmaan Roh Harimau 72

2) Penjelmaan Roh Babi 73

3) Penjelmaan Roh Burung Elang 74

d. Tokoh yang Berasal Dari Gunung 75

e. Tokoh yang Berasal Dari Roh Raja 76

f. Penjelmaan Roh yang Dapat Berhubungan

Antara Manusia dan Roh – Roh di Akhirat 77

5. Makna Simbolik Tari Hudoq 78

(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1 : Persiapan Acara Bekudung Betiung 51

Gambar 2 : Penari Hudoq 58

Gambar 3 : Alat musik Gong dan Gendang 60

Gambar 4 : Busana tari Hudoq 62

Gambar 5 : Topeng Hudoq 63

Gambar 6 : Properti Tongkat 65

Gambar 7 : Rumah Adat dan Lapangan Upacara 67

Gambar 8 : Tong Gaep, Topeng Jelmaan Kepala Hudoq 68 Gambar 14 : Meneuk Nyehau, Topeng Jelmaan Roh Burung Elang 74 Gambar 15 : Delai, Topeng Jelmaan Roh Guntur 75

Gambar 16 : Hepeu, Topeng Jelmaan Roh Raja 76

Gambar 17 : Pen Leih, Topeng Jelmaan Penghubung Manusia dengan

Roh di Akhirat 77

Gambar 18 : Lokasi Penelitian 116

Gambar 19 : Silaturahmi dengan Kepala Adat Dayak Ga’ay

Kab. Berau dan Kepala Kampung Tumbit Dayak 116 Gambar 20 : Dermaga penyebrangan menuju kampung Tumbit Dayak 117 Gambar 21 : Perjalanan menuju rumah narasumber 117 Gambar 22 : Wawancara dengan Bapak H.Jiang Dom 118 Gambar 23 : Wawancara dengan Bapak H.Jiang Dom 118

Gambar 24 : Wawancara dengan penari Hudoq 119

Gambar 25 : Narasumber Bapak Lucas Tengah 119

Gambar 26 : Upacara Bekudung Betiung 120

Gambar 27 : Laskar Banua dan Penari Hudoq 120

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 : Glosarium 93

Lampiran 2 : Panduan Observasi 99

Lampiran 3 : Panduan Wawancara 100

Lampiran 4 : Pertanyaan Wawancara 102

Lampiran 5 : Panduan Dokumentasi 104

Lampiran 6 : Deskripsi Hasil Wawancara 106

Lampiran 7 : Dialog Hudoq 113

Lampiran 8 : Foto 116

Lampiran 9 : Surat Pernyataan 121

Lampiran 10 : Surat Ijin Penelitian 123

(14)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 : Desain Lantai Penari Hudoq ……..………. 61

(15)

MAKNA SIMBOLIK TARI HUDOQ PADA UPACARA PANEN

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolik Tari

Hudoq dalam upacara panen bagi masyarakat Dayak Ga’ay di kampung Tumbit

Dayak, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Keseluruhan makna ini terdapat dalam aspek – aspek pendukung tari, seperti ragam gerak, perlengkapan penari seperti busana dan topeng, tempat dan waktu pertunjukan.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Objek penelitian ini adalah Tari Hudoq dalam upacara panen bagi masyarakat Dayak Ga’ay di kampung Tumbit Dayak. Subjek penelitian adalah tokoh adat, penari, serta masyarakat Tumbit Dayak. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Latar belakang tari Hudoq di kampung Tumbit Dayak lahir seiring adanya upacara Bekudung karena pengaruh agama kepercayaan Segaji Tumbit. (2) Fungsi tarian ini adalah sebagai sarana komunikasi kepada roh leluhur, pengungkap rasa syukur, perlindungan, pengikat rasa solidaritas masyarakat, dan hiburan. (3) Ragam gerak tari Hudoq melambangkan penghormatan, pengharapan, perlindungan pada tanaman padi dan bagi kesejahteraan kampung. (4) Busana yang menggunakan daun pisang melambangkan keabadian, keselamatan, kesuburan dan kesuksesan. (5) Topeng melambangkan kekuatan dalam upacara yang sakral, bentuk penghormatan, sarana komunikasi kepada sang Pencipta dan roh leluhur yang telah membantu kehidupan manusia. (6) Bagi masyarakat kampung Tumbit Dayak, tarian ini menggambarkan etika yang sangat konkrit mengenai hubungan manusia dan alam lingkungan sekitarnya serta manusia dengan roh – roh leluhur, serta mencerminkan kehidupan sosial masyarakat yaitu sikap penghormatan terhadap nilai – nilai kehidupan yang di ajarkan para leluhur yang telah menjaga dan melindungi warga serta kampung, nilai kebersamaan, nilai kekeluargaan dan tanggung jawab sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Dayak Ga’ay di kampung Tumbit Dayak.

Kata kunci : Makna Simbolik, Tari Hudoq, Upacara Panen

(16)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bangsa Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku bangsa yang mendiami ribuan pulau besar dan kecil tersebar di seluruh Nusantara. Keberagaman tersebut dapat dilihat dari perbedaan agama, bahasa, adat istiadat, kesenian dan lain-lain yang kemudian memperkaya khasanah budaya bangsa sekaligus membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Demikian halnya di Pulau Kalimantan, pulau terbesar kedua setelah Irian. Di pulau ini terdapat banyak ragam budaya daerah yang sampai saat ini masih tetap dimiliki dan dihayati oleh masyarakat pendukungnya. Selain itu, tradisi budaya yang ada juga tetap dijalankan sebab sanksi adat tetap diberlakukan kepada setiap anggota masyarakat yang melanggarnya.

Kabupaten Berau sebagai bagian dari daerah teritorial Kalimantan Timur ini memiliki potensi kebudayaan yang sangat beragam sesuai dengan etnografinya yang terdiri dari 3 suku besar, yaitu suku Berau, Bajau, dan Dayak. Suku Berau mendiami wilayah perkotaan yang hidup bersama para pendatang dari Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Sumatera. Suku Bajau yang mendiami wilayah laut dan pesisir, serta suku Dayak yang mendiami wilayah pedalaman.

Salah satu sub suku Dayak yang tinggal di wilayah pedalaman Berau adalah suku Dayak Ga’ay yang mendiami kampung Tumbit Dayak di Kecamatan Sambaliung. Kehidupan masyarakat Dayak Ga’ay berjalan dalam ritmenya sendiri dan relatif masih tidak terlalu tersentuh kehidupan dunia modern, masyarakat

(17)

masih mempergunakan perkakas kerja buatan sendiri seperti anjat ( keranjang gendong dari bahan rotan). Berburu, mengumpulkan hasil hutan, pertanian dengan sistem berpindah dan penggunaan ramuan berbahan alam adalah bagian dari kehidupan yang terus berlangsung.

Masyarakat Dayak Ga’ay memiliki keragaman budaya dan kesenian yang dilatarbelakangi oleh agama Segaji (agama kepercayaan Kaharingan). Kehidupan yang berdasarkan pada tradisi masih terus dilangsungkan, lengkap dengan upacara adat dan tari-tarian dalam beberapa acara seperti panen padi. Kepercayaan tersebut menghadirkan berbagai kesenian tradisional seperti tari Hudoq, itu berkembang seiring dengan dinamika komunitas yang beragam, seperti suku Berau (Melayu) yang tinggal di Tumbit Melayu seberang kampung yang beragama Islam, juga pengaruh agama Kristen dan Katolik.

Salah satu tari yang hingga saat ini masih hidup dan berkembang di masyarakat suku Dayak Ga’ay adalah Tari Hudoq. Tari ini menggunakan topeng yang dipercaya sebagai kedatangan para dewa utusan Sang Pencipta kedunia untuk

membantu kehidupan manusia, membantu mengusir hama penyakit padi dan

segala hal buruk yang akan menimpa kampung. Penari Hudoq mengenakan kostum yang terbuat dari daun pisang hingga menutupi mata kaki dan mengenakan topeng kayu yang menggambarkan ekspresi tokoh – tokoh yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Dayak. Sebagian dari masyarakat zaman dahulu percaya, bahwa saat di laksanakannya Tari Hudoq, orang yang sakit dapat sembuh

(18)

Tari yang dalam dialek masyarakat Tumbit Dayak disebut Hadoq ini ditampilkan pada masa panen, yaitu pada upacara Bekudung Betiung yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali pada bulan Agustus. Upacara ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas perlindungan tanaman padi mulai saat menanam hingga menuai hasil panen.

Tari Hudoq diwariskan secara turun temurun sehingga masih bertahan dan berkembang di kampung Tumbit Dayak. Melihat pentingnya keberadaan tari

Hudoq dalam upacara panen, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang makna

simbolik tari Hudoq pada upacara panen bagi masyarakat suku Dayak Ga’ay di kampung Tumbit Dayak Kabupaten Berau Kalimantan Timur.

B. Fokus Masalah

Penelitian ini difokuskan pada makna simbolik yang terdapat dalam tari

Hudoq pada upacara panen bagi masyarakat Dayak Ga’ay di kampung Tumbit

Dayak, Kabupaten Berau Kalimantan Timur.

C. Rumusan Masalah

Sesuai dengan fokus masalah di atas, maka rumusan masalah yang ingin di teliti adalah : Bagaimanakah makna simbolik tari Hudoq dan kaitannya dengan upacara panen bagi masyarakat Dayak Ga’ay di kampung Tumbit Dayak, Kabupaten Berau Kalimantan Timur?

D. Tujuan Penelitian

(19)

kampung Tumbit Dayak, baik dari sejarah tari Hudoq, fungsi dan bentuk penyajiannya.

E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritik

a. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang kesenian khususnya tari Hudoq dari Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

b. Dapat menjadi bahan acuan penelitian di masa yang akan datang. 2. Manfaat Praktis

a. Memberikan masukan kepada seniman atau pendidik seni untuk menggali kembali kesenian tradisional yang mulai jarang ditemukan, khususnya di daerah Kalimantan Timur.

b. Hasil penelitian ini sebagai dokumentasi nilai budaya daerah yang diharapkan dapat diupayakan pembinaan, pelestarian, dan pengembangan tari di Kabupaten Berau.

c. Memberikan masukan kepada pemerintah daerah agar dapat lebih mengembangkan dan membenahi kembali segala fasilitas dan prasarana bagi pariwisata agar kedepannya kesenian yang ada di Berau ataupun yang ada di Kalimantan Timur dapat berkembang dengan baik.

(20)

BAB II KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori

1. Hakikat dan Aspek Pendukung Tari

Batasan seni tari yang pernah dikemukakan oleh para pakar, pada hakikatnya mengatakan bahwa tari adalah ekspresi perasaan manusia yang diungkapkan lewat gerak ritmis dan indah yang telah mengalami stilisasi maupun distorsi (Soedarsono dalam Hadi, 2007:29).

“Keindahan” dalam seni tari berkaitan dengan kandungan isi, makna atau

pesan tertentu. Hal – hal yang terperinci seperti struktur, bentuk, kerumitan, kehalusan, dan sebagainya, mungkin tidak indah, namun sebagai keseluruhan wujud, dengan segala isi, makna dan pesannya, seringkali karya tersebut dikatakan indah (Hadi, 2007:13-15).

Kehadiran tari tidak bersifat independen, dilihat secara tekstual tari dapat dipahami dari bentuk dan teknik yang berkaitan dengan komposisinya (analisis bentuk atau penataan koreografi) atau teknik penarinya (analisa cara melakukan atau keterampilan). Sementara dilihat secara kontekstual yang berhubungan dengan ilmu sosiologi atau antropologi, tari adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari dinamika sosio – kultural masyarakat (Hadi, 2007:13).

(21)

tinjauan atau pandangan dari ilmu – ilmu sosial termasuk dalam hal ini sosiologi, akan mencari tau tentang hakikat dan sebab – musabab berbagai pola pikiran dan tindakan manusia yang bersifat generalisasi empirik. Sosiologi lebih memperhatikan gejala kelompok atau individu yang teratur, mencari hukum atau aturan yang melekat dengan mempelajari pola struktur tindakan atau kelakuan manusia dengan interaksi antar – manusia.

Penjelasan tersebut didukung dengan penjelasan Wiliam (dalam Kuntowijoyo, 1987:5) tentang sistematika sosiologi seni sebagai berikut :

Dalam sosiologi, seni menemukan adanya tiga komponen pokok, yaitu lembaga – lembaga budaya, isi budaya, dan efek budaya dan norma – norma. Dengan kata lain,lembaga budaya menanyakan siapa yang menghasilkan produk budaya, siapa yang mengontrol, dan bagaimana kontrol itu dilakukan, isi budaya menanyakan apa yang dihasilkan atau simbol apa yang di usahakan, dan efek budaya menanyakan konsekuensi apa yang diharapkan dari proses budaya itu.

Sosiologi tari dengan tepat digunakan untuk mengkaji tari dalam suatu lingkungan sosial yang majemuk. Pernyataan tersebut juga diperkuat dengan penjelasan Edi Sedyawati (2010:302) yang menyatakan bahwa peran orang – orang dalam status tertentu, baik pada sisi pelaku seni maupun pada sisi pengayom seni, diperhatikan dan di analisis dalam rangka menggambarkan besar – kecil pengaruhnya terhadap kegiatan dan perkembangan tari. Sebaliknya, kegiatan taripun dapat dilihat sebagai sarana pembentuk atau peneguh status sosial tertentu.

(22)

Inggris bidang ilmu ini disebut Ethnochorology atau Antropology of Dance. Salah satu arah penelitian di bidang ini yaitu bersifat etnografis yang lebih mendeskripsikan keseluruhan kebudayaan dengan secara khusus menyoroti posisi tari di dalamnya. Kajian tersebut difokuskan pada salah satu sendi saja dalam jaringan sosial – budaya, misalnya pada fungsi, pada nilai budaya, pada struktur, pada proses, dan sebagainya.

Berdasarkan pendekatan di atas, dalam meneliti makna simbolik Tari Hudoq yang merupakan bagian dari upacara panen bagi masyarakat Dayak Ga’ay, dapat di kaji dari aspek sosiologi – antropologi. Aspek – aspek tersebut meliputi sejarah penciptaan, fungsi tari bagi masyarakat, dan perubahan yang terjadi pada tari yang merupakan bagian dalam konteks dari seni tari.

Secara tekstual sebuah tari dapat dilihat dari beberapa unsur pendukungnya. Hal yang terpenting di dalam suatu seni pertunjukan khususnya seni tari adalah bagaimana hasil karya tari yang dilihat dari bentuk penyajiannya yang akan memberikan gambaran atau maksud secara keseluruhan dari sebuah karya yang telah dihasilkan. Bentuk mempunyai arti wujud, rupa, cara, atau sistem (Depdikbud, 1991:119). Sedangkan penyajian mempunyai arti proses pembuatan, cara menyajikan, menampilkan. (Depdikbud, 1991:473). Menyajikan suatu tarian secara bersungguh – sungguh dan menyeluruh adalah menampilkan seluruh unsur – unsur seni tari yang pokok yaitu gerak, dengan unsur pendukungnya yaitu desain

(23)

a. Gerak

Elemen yang paling baku dalam sebuah tari adalah gerak. Gerak merupakan pengalaman fisik yang paling elementer dari kehidupan manusia. Gerak merupakan media yang paling tua dari manusia untuk menyatakan keinginannya, atau dapat dikatakan pula bahwa gerak merupakan bentuk refleksi spontan dari gerak batin manusia (Soedarsono, 1978:1).

Gerak dalam tari dibagi menjadi dua, yaitu gerak murni (pure movement) dan gerak maknawi (gesture). Gerak murni adalah gerak – gerak tari yang tidak mengandung maksud tertentu atau arti dari gerakan tersebut hanya sekedar dicari keindahannya saja. Adapun yang dimaksud dengan gerak maknawi adalah suatu gerak tari yang dalam pengungkapannya mengandung suatu pengertian atau maksud disamping keindahannya (Saimin, 1993: 6-9).

(24)

merupakan bahasa komunikasi yang luas, dan variasi dari berbagai unsur – unsurnya terdiri dari beribu – ribu kata gerak.

b. Iringan

Aspek musikal merupakan unsur penunjang kesatuan bentuk dan isi tari. Meskipun kedudukannya sebagai penunjang, sebagaimana kelaziman tari tradisional pada umumnya, kehadiran aspek musikal ini tidak dapat diabaikan. Antara gerak dan aspek musikal dirasakan sangat dekat membentuk keutuhan rasa tari. Pada dasarnya secara tradisional, tari dan musik berasal dari sumber yang sama yaitu dorongan atau naluri ritmis manusia (Murgianto dalam Wahyudianto, 2008:41).

(25)

c. Tata Rias dan Busana

Busana merupakan segala macam benda yang melekat pada tubuh penari, selain berfungsi sebagai penutup tubuh, juga memperindah seseorang dalam tampilannya. Tata rias dan busana dalam seni tradisi kita masih memiliki fungsi yang sangat penting. Kehadirannya dalam sebuah pertunjukan tari, keduanya apakah tata rias atau tata busana secara umum dapat memperkuat ekspresi, penokohan, serta keindahan. Selain itu ia juga dapat memberikan menggambarkan peristiwa di atas panggung tentang siapa,kapan, dan dimana peristiwa yang digambarkan dalam pertunjukan itu terjadi.

Caturwati, dkk (2008:177) menyatakan pengertian pakaian secara umum : “Segala sesuatu yang dipakaikan dan dipasangkan di badan, kepala, tangan dan kaki. Cara pemakaiannya dapat di pasang dengan kaitan, ditutupkan, di oleskan. Bahannyapun bermacam, mulai dari yang berbentuk cair, hingga padat seperti cat, bulu, kulit, music – music dan perhiasan lainnya. Jadi, pada dasarnya apa yang disebut pakaian tidak hanya material yang ditutupkan di badan saja.”

Busana yang dikaitkan dalam suatu kesenian merujuk pada sebuah pengertian busana tari yang oleh Pekerti, dkk (2005:424) di paparkan bahwa pada awalnya busana atau pakaian yang dikenakan oleh penari adalah pakaian yang dikenakan sehari – hari. Namun pada perkembangannya, pakaian atau busana yang dikenakan dalam tari disesuaikan dengan kebutuhan tarinya.

Begitu besar arti sebuah busana yang juga digunakan sebagai sebuah simbol dalam masyarakat. Hal tersebut diungkapkan bahwa “ucapan manusia,

(26)

d. Properti

Properti adalah istilah dalam Bahasa Inggris yang berarti alat – alat pertunjukan. Pengertian tersebut mempunyai dua tafsiran yaitu properti sebagai sets dan properti sebagai alat bantu berekspresi. Secara teknis perbedaan antara properti dan sets seringkali sangat samar artinya hampir tidak tampak perbedaannya. Disamping itu, properti juga sering kali hadir sebagai kostum. Sebenarnya hal tersebut tidak perlu dirisaukan karena nama atau istilah akan hadir sesuai dengan fungsinya, sehingga bentuk dan wujudnya akan sama (Hemprey dalam Hidajat, 2005:59).

Upaya penggunaan properti tari lebih terorientasi pada kebutuhan – kebutuhan tertentu dalam upaya lebih dalam memberikan arti pada gerak, atau sebagai tuntutan ekspresi (Meri dalam Hidajat, 2005: 59). Kehadiran properti biasanya digunakan untuk membantu memperjelas karakter, peristiwa, ruang, atau bahkan memamerkan ketrampilan teknik dari para penari di atas panggung. Misalnya: topeng, keris, payung, sampur, bangku, dan sebagainya.

e. Arena Pentas

Pada dasarnya ada tiga jenis arena pentas yang paling banyak dikenal di Indonesia, yakni panggung proscenium, pendapa, dan arena terbuka. Pangung

proscenium adalah panggung yang berbingkai, di sisi samping terdapat wing dan

(27)

Sedangkan Pendapa merupakan arena pertunjukan di Jawa yang biasanya digunakan untuk seni pertunjukan di istana. Cirinya adalah tiang penyangga bangunan yang sering disebut saka. Pendapa ini banyak dimiliki oleh lembaga-lembaga pemerintah di Jawa dari Lurah hingga Gubernur.

Bentuk terbuka atau arena adalah pentas yang meniadakan batas pemisah antara pemeran dengan penonton. Daerah pemain di tengah dan penonton berada di sekelilingnya. Bentuk ini paling sederhana yang memiliki ciri antara pemaian atau pemeran dan penonton hampir tidak memiliki batas serta tidak memerlukan pelayanan yang khusus, misalnya menggunakan skeneri yang realistis tiap pergantian adegan. Arena tebuka adalah panggung atau arena pertunjukan yang bentuknya terbuka tanpa diberi atap. Jenis arena ini memiliki bentuk yang beragam, bisa merupa tanah lapang, atau panggung yang dibuat terbuka berada di tengah lapang, dan sebagainya (Priyanto, 2004:9)

2. Seni Sebagai Simbol

(28)

Simbol di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti lambang ( Alwi, 2001:1066). Sedangkan kata makna mengandung pengertian tentang arti atau maksud (suatu kata) (Poerwadarminta, 1976:624,927). Dengan demikian, simbol merupakan bentuk lahiriah yang mengandung maksud, sedangkan makna adalah isinya.

Simbol merupakan alat yang kuat untuk memperluas pengetahuan kita, merangsang daya imajinasi kita, dan memperdalam pemahaman kita. Sebuah simbol dapat dipandang sebagai sebuah objek yang menggambarkan atau menandakan sesuatu yang lebih besar dan tinggi berkaitan dengan sebuah makna, realitas, suatu cita – cita, nilai, presentasi, kepercayaan, masyarakat, konsep, lembaga, dan suatu keadaan (Dillistone, 2002:20).

Dalam hal ini terdapat banyak definisi dari para ahli selain ambiguitas penggunaan istilah simbol dalam berbagai konteks. Clifford Geertz dalam Dillinstone (1973 : 17) mengaitkan simbol dengan budaya. Menurutnya budaya merupakan sistem simbol. Kebudayaan sendiri adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan – kemampuan serta kebiasaan – kebiasaan yang di dapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat Edward, B. Tylor (dalam Soekamto, 2006:150). Kebudayaan mencakup kesemuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh semua anggota masyarakat.

(29)

digunakan bersama, teratur, dan benar – benar dipelajari, sehingga memberikan pengertian hakikat “manusia”, yaitu suatu kerangka yang penuh dengan arti untuk

mengorientasikan dirinya kepada yang lain; kepada lingkungannya, dan pada dirinya sendiri, sekaligus sebagai produk dan ketergantungannya dalam interaksi sosial.

Sehubungan dengan hal itu, tari dipandang sebagai sistem simbol yang merupakan representasi mental dari subyek dan wahana konsepsi manusia tentang sesuatu pesan untuk diresapkan. Bentuk simbolis yang khas itu, apa bila tari sebagai kreasi seni, menurut Langer dapat dikategorikan sebagai forma atau bentuk yang hidup (living form). Tari sebagai ekspresi manusia atau subyektifitas seniman merupakan sistem simbol yang signifikan (significant simbols), artinya mengandung arti dan sekaligus mengundang reaksi yang bermacam – macam. Sistem simbol ini tidak tinggal diam atau bisu, tetapi berbicara kepada orang lain (Hadi, 2007:23).

(30)

3. Upacara Panen Suku Dayak

Semua aktivitas manusia yang bersangkutan dengan religi berdasarkan atas suatu getaran jiwa, biasanya disebut emosi keagamaan (religious emotion). Emosi keagamaan ini biasanya pernah dialami oleh setiap manusia dan mendorong orang melakukan tindakan – tindakan bersifat religi, kemudian menyebabkan suatu benda, tindakan, atau gagasan, mendapat suatu nilai keramat dan dianggap keramat. Asal mula unsur religi ini berasal dari penyebab manusia percaya pada adanya suatu kekuatan gaib yang dianggapnya lebih tinggi, dan penyebab manusia melakukan beragam cara untul berkomunikasi dan berhubungan dengan kekuatan tersebut (Koentjaraningrat, 2009:294-295).

Suatu sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri - ciri untuk sedapat mungkin memelihara emosi keagamaan itu di antara pengikut – pengikutnya. Dengan demikian, emosi keagamaan merupakan unsur penting dalam suatu religi bersama dengan tiga unsur lain yaitu : (a) sistem keyakinan; (b) sistem upacara keagamaan; (c) suatu umat yang menganut religi tersebut (Koentjaraningrat, 2009: 295).

(31)

tentang hidup dan maut; konsepsi tentang dunia roh, dunia akhirat dan lain – lain (Koentjaraningrat, 2009:295).

Orang Dayak mempunyai pengertian tentang ketuhanan, namun bukan dalam arti agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Orang Dayak sungguh beragama, namun agama atau kepercayaan terbatas pada lingkungannya sendiri, berhubungan dengan ikatan esensial terhadap nenek moyangnya. Kepecayaannya tidak bermaksud dan tidak mempunyai sifat untuk menjadi agama universal. Bahkan sejak dulu tidak ada kata atau istilah untuk kata agama dalam bahasa-bahasa Dayak. Pandangan terhadap dunia, hukum, kepercayaan, hubungan dengan masyarakat, dan kebiasaan lain, semuanya itu merupakan tradisi.

Yang paling sentral dalam pemikiran orang Dayak adalah contoh-contoh perbuatan yang diturunkan nenek moyang kepada generasi selanjutnya. Keseluruhan peraturan itu yang menentukan cara berfikir serta tingkah laku orang sebagai anggota masyarakat. Dari keseluruhan warisan adat ini merupakan suatu karunia dari nenek moyang akan membawa kemakmuran, kepastian, damai, dan kesejahteraan baik orang untuk perorangan maupun untuk masyarakat.

Salah satu upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Dayak adalah upacara panen padi yang dilakukan pada bulan-bulan yang telah ditentukan sesuai dengan sistem penanggalan tradisonal Dayak berdasar perhitungan pergeseran bulan. Upacara panen yang oleh masyarakat Dayak Ga’ay di Tumbit Dayak disebut Bekudung ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali pada bulan Agustus.

(32)

tempat upacara keagamaan dilakukan ; (b) saat – saat upacara keagamaan dilakukan ; (c) benda – benda dan alat upacara; (d) orang – orang yang melakukan dan memimpin upacara. (Koentjaraningrat, 2009 : 296 )

Pada pelaksanaan upacara ini melibatkan seluruh partisipasi warga

kampung, baik dari segi tenaga dan biaya ditanggung bersama dengan

mengundang warga Tumbit Dayak dan warga kampung lainnya. Sebelum upacara

dilaksanakan, Kepala Adat mengundang warganya untuk bermusyawarah untuk menghitung dan memilih waktu yang tepat sesuai dengan adat atau bulan padi. Persiapan konsumsi massal, persiapan ritual, dan alat daun - daunan untuk busana adat Tari Hudoq.

Upacara pertama dilakukan dilamin atau rumah adat untuk membersihkan benda – benda pusaka, lalu ritual dilakukan di lapangan terbuka oleh seorang

Kepala Kudung yakni sesepuh adat yang telah mendapat kepercayaan memimpin

ritual. Kegiatan selanjutnya mempersiapkan sesajen berupa : patung laki – laki dan perempuan, ayam dan satu pucuk padi yang nantinya di taruh di atas perahu kecil untuk dihanyutkan di sungai.

B. Kerangka Berfikir

(33)

Cohen ( dalam Dillinstone, 2002:167) melihat simbol sebagai bentuk komunikasi tidak langsung, dimana terdapat pesan – pesan yang tersembunyi atau tidak jelas disampaikan. Makna objek dan perilaku tidaklah konstan, bentuk – bentuk budaya seperti bahasa, ritual, seni dan konstruksi simbolik lain mempunyai makna substansial dan hal itu tergantung interpretasi orang. Tindakan individu mungkin kelihatannya sama, akan tetapi apa yang difikirkan masing – masing tidaklah sama. Sejalan dengan pemikiran Cohen, kaitannya dalam menafsirkan seni, Gombrich (dalam Dillistone, 2002:147) menggunakan tiga kata kunci yaitu representasi, simbolisasi, dan ekspresi.

Selama berabad – abad tari telah memainkan perannya yang penting dalam kehidupan manusia. Tari dipertunjukkan pada berbagai peristiwa, seperti yang berkaitan dengan upacara (ritual) dan pesta untuk merayakan kejadian – kejadian penting pada suatu masyarakat. Oleh sebab itu, tari sebagai bagian dari kebudayaan manusia dengan mudah dapat dijumpai di berbagai belahan bumi ini, dalam berbagai bentuk dan fungsinya.

Kegiatan tari yang masih sangat sederhana ini didasari dari ungkapan ekspresi manusia yang dihubungkan dengan pemujaan atau cara berkomunikasi dengan dewa – dewa maupun penguasa “di atas” nya, penyembahan terhadap nenek moyang, dan untuk mempengaruhi kekuatan alam atau kekuatan supranatural (Hadi, 2007:47).

(34)

melimpah tahun ini. Penari Hudoq menggunakan topeng yang menggambarkan ekspresi binatang buas dan mengenakan kostum yang terbuat dari daun pisang dengan tujuan untuk menakut nakuti hama perusak padi.

Tarian ini telah berlangsung sejak masyarakat primitif sesuai dengan kepercayaan Segaji Tumbit yang di anut oleh masyarakat Dayak Ga’ay pada zaman dahulu. Tari Hudoq juga merupakan sarana komunikasi antara manusia dengan dewa pelindung yang berasal dari dasar sungai, hutan belantara dan gunung – gunung. Dimana pada prinsipnya pelaksanaan tari Hudoq adalah meminta kekuatan, perlindungan, dan keberhasilan pada usaha perladangan, usaha lainnya, kebersihan kampung dan kedamaian pada seluruh warga.

C. Hasil Penelitian yang Relevan

Hasil penelitian yang relevan dengan objek kajian yaitu hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurhadi Luwis tahun 1995, Mahasiswa program studi S1 Jurusan Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang menulis tentang Bentuk Penyajian Tari Hudoq di Desa Muara Dun Kecamatan Muara Ancalong Kalimantan Timur.

(35)

Hasil penelitian lain yang relevan dengan objek kajian yaitu hasil penelitian yang dilakukan oleh Sulistio Rini tahun 1996, Mahasiswa program studi S1 Jurusan Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang menulis tentang Tari Hudoq Kaitannya Dengan Upacara Lalii Ugal.

Penelitiannya menyatakan bahwa Tari Hudoq yang ada di kampung Tering Lama ini merupakan milik suku Daya Bahaw Sa. Dalam upacara Lalii Ugal,

Hudoq yang disiapkan berupa Hudoq Apah yang menggunakan topeng seperti

(36)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Pengkajian terhadap makna simbolik tari Hudoq didukung dengan metode kualitatif deskriptif yaitu suatu prosedur penelitian yang menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamati. Pendekatan kajian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tekstual dan kontekstual. Dilihat secara tekstual, tari dapat dipahami dari bentuk yang berkaitan dengan komposisinya (analisis bentuk atau penataan koreografer) atau teknik penarinya (analisis cara melakukan atau keterampilan). Sementara dilihat secara kontekstual yang berhubungan dengan ilmu sosiologi maupun antropologi. Pendekatan antropologis digunakan untuk memahami aktivitas dari masyarakat untuk memaknai kesenian tari Hudoq dalam kehidupan masyarakat dengan lebih menekankan pada sistem budaya yang terdiri dari kepercayaan, pengetahuan, nilai moral, aturan – aturan serta simbol pengungkap perasaan atau ekspresi.

B. Setting Penelitian

(37)

C. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah apa saja yang menjadi titik perhatian dari suatu penelitian (Suharsini, 1991 : 91). Objek penelitian ini adalah makna simbolik tari

Hudoq pada upacara panen bagi masyarakat Dayak Ga’ay. Penelitian ini lebih

mengacu pada makna simbolik yang dilihat dari makna gerak, tata iringan, pola lantai, tata rias dan busana serta fungsi tarian tersebut.

D. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah penari, pengiring tari, pemangku adat, kepala kampung, serta masyarakat suku Dayak Ga’ay yang tinggal di Tumbit Dayak ini.

E. Sumber Data

Sumber data pada penelitian ini adalah para pelaku didalam Tari Hudoq pada upacara panen bagi masyarakat Dayak Ga’ay, terdiri dari para penari, pemusik, tokoh adat, seniman daerah, serta masyarakat.

Guna memperoleh data yang benar – benar sesuai dengan fokus yang dikaji, ada tiga sumber data yang dimanfaatkan berikut ini :

1. Sumber lisan, terdiri dari data – data yang diberikan oleh informan melalui wawancara.

(38)

3. Sumber perilaku, terdiri atas perilaku seniman dan orang – orang yang memiliki kedekatan dengan objek yang di teliti, baik di dalam panggung maupun di luar panggung.

F. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data digunakan sebagai dasar penulisan laporan, baik data yang berupa tulisan maupun lisan. Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan sendiri melalui penelitian lapangan dengan menggunakan metode yang terdiri dari :

1. Observasi Partisipatif

Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memahami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasi yang dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara. Observasi (pengamatan), yaitu penulis mengamati semua kejadian secara langsung, yang bertujuan untuk memperoleh data-data yang tidak didapat melalui wawancara. Observasi ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang aktivitas masyarakat suku Dayak Ga’ay seperti yang terjadi dalam kenyataan.

Observasi pada penelitian ini adalah melalui cara berperan serta

(participant observation). Pengamat berperan serta melakukan dua peran

(39)

Observasi partisipatif merupakan observasi yang dilakukan dengan cara peneliti terjun langsung dan terlibat dalam kegiatan yang di amatinya. Dengan observasi partisipatif maka data yang diperoleh lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkatan makna dari setiap perilaku yang tampak (Sugiono, 2012:227). Dalam penelitian ini, peneliti melakukan observasi partisipasi aktif yaitu dengan ikut melakukan apa yang dilakukan oleh masyarakat.

Peneliti melakukan observasi dengan mendatangi tempat penelitian di laksanakan yaitu di Kampung Tumbit Dayak. Peneliti bertemu langsung dengan narasumber dan menyempurnakan maksud dan tujuan kedatangan dengan jelas untuk melakukan penelitian mengenai Makna Simbolik Tari

Hudoq dalam Upacara Panen bagi masyarakat Dayak Ga’ay.

Dengan terjun langsung ke lokasi penelitian dan turut andil serta menjadi bagian dalam pelaksanaan upacara Bekudung Betiung sehingga memudahkan peneliti dalam mengamati, menggali dan memahami.

2. Wawancara

(40)

Teknik pengambilan sampel dalam wawancara ini menggunakan

Snowball Sampling. Definisi Snowball Sampling adalah teknik penentuan

sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang sampel, tetapi karena dengan dua orang sampel ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sampel sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data-data yang tidak didapatkan melalui observasi seperti sejarah, fungsi dan konsep-konsep tentang estetika pada gerakan-gerakan Tari Hudoq, kostum dan topeng yang digunakan.

3. Dokumentasi

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan alat – alat dokumentasi menggunakan camera digital dan handycam sebagai alat perekam dan

handphone sebagai dokumentasi foto guna menambah bahan penelitian.

Peneliti juga menggunakan tulisan – tulisan serta naskah tentang tari Hudoq sebagai referensi yang dapat dipadukan dengan hasil penelitian.

G. Instrumen Penelitian

(41)

1. Lembar Dokumentasi

Lembar dokumentasi merupakan lembar yang berisi catatan kegiatan pada saat penelitian dan lembar observasi yang dilakukan saat penelitian atau kunjungan penelitian. Catatan penelitian berisi tentang kegiatan masyarakat sehari - hari

2. Panduan Wawancara

Panduan wawancara berisi kisi – kisi pertanyaan yang akan di tanyakan kepada narasumber. Berkaitan dengan tari baik secara tekstual dan konteks tari Hudoq berkaitan dengan bentuk penyajian, latar belakang tari, bentuk penyajian tari, makna simbolik tari Hudoq.

3. Panduan Dokumentasi

Dokumentasi dalam penelitian bertujuan untuk mengumpulkan dokumen yang berupa dokumen tertulis, audio maupun visual, yang digunakan sebagai data penelitian. Data yang diperoleh melalui studi dokumentasi digunakan sebagai data sekunder yang bersifat mendukung validitas data primer.

H. Analisis Data 1. Reduksi Data

(42)

2. Penyajian Data

Penyajian data merupakan bagian dari beberapa sumber yang telah didapat dari reduksi data tentang tari Hudoq dan kemudian menganalisisnya lebih fokus pada bentuk penyajiannya dan kaitannya pada masyarakat pendukungnya yaitu masyarakat yang tinggal di kampung Tumbit Dayak.

3. Pengambilan Kesimpulan

Setelah dikaji, pengambilan kesimpulan dari hasil pertemuan dengan informan, peneliti membuat abstraksi, yaitu membuat ringkasan yang inti dan proses dari dasil catatan lapangan.

I. Keabsahan Data

Pada penelitian ini digunakan metode triangulasi yang pada hakikatnya merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya.

(43)

Triangulasi sumber dapat dicapai dengan jalan :

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara

2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi

3. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan, orang berada, dan orang yang ada di pemerintahan

(44)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Letak Geografis

Kabupaten Berau merupakan sebuah kabupaten di Kalimantan Timur dengan hamparan hutan alami di wilayah pedalaman dan berujung kepulauan tropis di wilayah pesisir. Kabupaten Berau terletak di bagian utara dengan ibukotanya adalah Tanjung Redeb yang memiliki luas wilayah 34.127 Km² yang terdiri dari daratan dan lautan dengan jumlah penduduk pada tahun 2010 sebanyak 179.44 orang yang terdiri dari 96.708 orang laki – laki dan 82.736 orang perempuan. Letak daerah ini berada tidak jauh dari garis khatulistiwa dengan posisi berada antara 116° sampai dengan 119° Bujur Timur dan 1° sampai dengan 2°33' Lintang Utara.

(45)

Kabupaten Berau terdiri dari 13 kecamatan yang terdiri dari kecamatan Kelay, Talisayan, Tabalar, Biduk Biduk, Pulau Derawan, Maratua, Sambaliung, Tanjung Redeb, Gunung Tabur, Segah, Teluk Bayur, Batu Putih, Biatan. Jarak antar ibukota kecamatan cukup jauh, kecuali untuk tiga kecamatan terdekat dengan ibukota kabupaten termasuk dalam wilayah kecamatan perkotaan, yaitu Kec. Teluk Bayur, Sambaliung dan Gunung Tabur. Sedangkan sembilan kecamatan lainnya adalah termasuk kecamatan wilayah pedesaan.

Lokasi penelitian terdapat di kecamatan Sambaliung yaitu di desa (kampung) Tumbit Dayak. Terdapat 13 desa lain yang berada di kecamatan Sambaliung dengan kondisi alam yang memiliki daya tarik masing – masing. Selanjutnya penyebutan kata desa diganti menggunakan kata kampung sesuai dengan bahasa yang digunakan masyarakat Tumbit Dayak.

Kampung Tumbit Dayak yang dihuni oleh suku Dayak Ga’ay yang menggantungkan hidupnya dari hasil sumber daya alam karena letaknya yang dilintasi sungai Kelay dan memiliki lahan tanam yang luas di luar lahan pertambangan yang terdapat di kampung tersebut.

2. Keadaan Alam dan Masyarakat

(46)

menggunakan perahu kecil atau ketinting yang menjadi sarana transportasi oleh masyarakat disana.

Secara administratif pemerintahan daerah Kabupaten Berau, Sungai Kelay membagi dua wilayah Kecamatan, yaitu Kecamatan Teluk Bayur dan Kecamatan Sambaliung. Kampung Tumbit Dayak secara administratif terletak di Kecamatan Sambaliung, tetapi pada kenyataannya sebagian wilayahnya terletak di daerah teritorial kecamatan Teluk Bayur. Dalam pemahaman kehidupan di sepanjang sungai Kelay, perbedaan wilayah administratif itu tidak terasakan, dan melihat wilayah sepanjang aliran Sungai Kelay sebagai satu wilayah yang berkembang dalam sejarah berkelanjutan. Tepatnya, batas kecamatan justru tidak terlalu berperan apabila melihat perkembangan sejarah sosial dan kultural komunitas – komunitas Dayak yang menetap di sepanjang sungai ini.

Selain suku Dayak Ga’ay, hidup juga pendatang yang berasal dari Papua, Jawa dan Bugis. Tempat tinggal pendatang ini telah dikelompokkan sesuai dengan suku masing – masing dengan tujuan untuk memudahkan pendataan serta kontrol terhadap warganya. Sedangkan suku Dayak Ga’ay tinggal di seberang dimana rumah adat dan pusat pemerintahan terletak disana.

Menurut riwayat, ada dua versi yang menjelaskan asal-usul etnonim Ga’ay. Versi pertama, orang Ga’ay sendiri mengatakan bahwa Ga’ay diambil dari “gay” (mandau) karena mereka sering menggunakan mandau ini untuk

(47)

bahwa Ga’ay berasal dari kata “ba’ay” yang artinya “orang ilir”. Karena ketika sama - sama tinggal di sungai Baram, orang Lepo Taw menempati wilayah ulu dan orang Ga’ay yang datang kemudian mendiami wilayah ilir atau muara sungai. Bila melihat karekteristik orang Ga’ay yang sangat mahir dalam membuat mandau, suka mengayau dan sering menetap di bagian hilir sungai, kedua etimologi di atas dapat diterima (Belawaan Mekaam, 2011).

Di wilayah sungai Mahakam, yang termasuk kelompok Ga’ay adalah: Long Glat, Long Huvung Lama dan Keliway. Di sungai Segah ada Long

La’ay dan Long Ayan. Di Berau terdapat kelompok Ga’ay Long Way yang

terpecah menjadi empat kelompok yaitu : Long Way, Long Lesan, Long Bleah, dan Long Tesak. Suku Ga’ay yang tersebar di beberapa wilayah tersebut sesuai dengan rute migrasi bangsa ini dari Apo Kayan hingga wilayah sungai Mahakam, yang memiliki nama yang berbeda di masing – masing wilayah tetapi memiliki kesamaan di bidang kesenian khususnya tari

Hudoq yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka baik yang berada

di wilayah Tumbit Dayak maupun di Sungai Mahakam.

(48)

Hutan adalah pasar dan bank bagi masyarakat, karena hutan merupakan tempat untuk mencari nafkah, seperti mengambil sawit, kakao, dan menjadi pasar bagi masyarakat setempat untuk berburu binatang dan memetik sayur – sayuran.

Banyak hasil hutan dipanen masyarakat Dayak Ga’ay dan digunakan untuk makanan, kerajinan tangan, bahan bangunan, obat – obatan, racun ikan, bahan pembungkus dan keperluan ritual. Pengobatan terhadap sejumlah gangguan kesehatan dan penyakit masih menggunakan ramuan yang di ambil dari ekstraksi tanaman.

Adapun cara masyarakat Tumbit Dayak berladang dengan cara tradisional yang diwariskan secara turun temurun, yaitu menebas, membakar, dan menanam. Pengetahuan ini adalah hasil dari pengaruh migrasi dari kelompok Kenyah dan Kayan yang membawa kebudayaan bercocok tanam yang relatif maju. Kedatangan mereka di sekitar Sungai Segah dan Sungai Kelay membawa perubahan kebiasaan dan pola hidup khususnya kebiasaan bertani dan berladang, menanam padi dan sayuran, serta beternak.

(49)

itu di tinggalkan; (d) sebuah ladang baru dibuka dengan cara yang sama, yaitu dengan menebang dan membakar pohon – pohonnya; (e) setelah 10 – 12 tahun, mereka akan kembali lagi ke ladang pertama yang sudah tertutup dengan hutan kembali.

Masyarakat sangat bergantung pada sumber daya alam dari hutan, untuk kebutuhan hidup baik pangan, sandang dan papan. Kondisi alam sangat mempengaruhi kebudayaan yang berkembang di masyarakat Dayak baik adat istiadat, kepercayaan dan kesenian. Koentjaraningrat (2009:158) menyatakan bahwa semua keterangan yang berkaitan dengan lokasi, lingkungan alam dan demografi tersebut memiliki hubungan serta pengaruh timbal balik antara alam dan tingkah laku manusia dalam masyarakat.

Kondisi alam yang terdiri dari hamparan hutan dan sungai ini telah membawa pengaruh yang besar kepada setiap sisi kehidupan masyarakat kampung Tumbit Dayak baik adat istiadat maupun kesenian. Salah satu kesenian khususnya tari yang di dasarkan pada kepercayaan dan berkaitan dengan kondisi alam adalah tari Hudoq.

Hudoq dalam bahasa Dayak di artikan sebagai topeng, yaitu sesuatu

(50)

dan ditampilkan di kampung Tumbit Dayak dalam upacara Bekudung Betiung yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali pada bulan Agustus (wawancara dengan H. Jiang Dom, 16-8-2014).

3. Sistem Religi

Pada umumnya suku Dayak di pedalaman Kalimantan Timur mempunyai suatu kepercayaan yang mendasar terhadap hal – hal yang bersifat kebendaan atau magis. Tata cara tertentu, waktu tertentu atau pun tempat tertentu di yakini dapat menimbulkan kekuatan gaib yang mempengaruhi atau menguasai alam pikiran tingkah laku manusia.

Mereka percaya bahwa manusia berasal dari persatuan antara dewa langit (sering dinyatakan dengan burung Enggang) dan dewi laut atau air (sering dinyatakan dengan naga). Dewa dan manusia dipercayai menempati alam yang berbeda: adakalanya dewa tinggal di dunia-atas (langit) dan dunia bawah (air); sedang manusia menempati dunia tengah. Berbagai dewa menempati alam kebajikan, mulai dari sebagai pencipta sampai dengan yang dikenal terlibat dalam kegiatan manusia tertentu, seperti pertanian dan

mengayau. Orang Dayak percaya bahwa jasa baik para dewa harus diperoleh

dengan usaha mengambil hati mereka pada saat yang tepat.

(51)

Adat meliputi aturan atau hukum yang mengatur kehidupan semua suku bangsa Dayak. Adat dipercayai diturunkan dari para leluhur asli yang diterima dari para dewa. Adat melindungi manusia dari kekuatan gaib yang mungkin membahayakan kehidupan manusia : dengan mentaati hukum adat, mereka membangun dan mempertahankan keseimbangan alam semesta yang diperjuangkan oleh masyarakat Dayak, serta menangkal kekacauan akibat kemarahan dewa atau roh jahat. Usaha menjaga keseimbangan erat hubungannya dengan peningkatan kesuburan yang merupakan perhatian utama kepercayaan orang Dayak.

Christine Helliwell (dalam Fox, 2002:80-81) menyatakan bahwa banyak orang Dayak menganggap padi sebagai sumber hidup, upacara kesuburan sering berpusat pada daur ulang penanaman padi. Dalam hubungan ini, benda – benda suci sering diletakkan di sawah. Pengayauan yang merupakan hal umum dalam masyarakat pada zaman dahulu, dilihat memiliki hubungan sangat dekat dengan budidaya padi (kepala sering disamakan dengan benih padi) yang akan memberikan kesuburan kepada anggota masyarakat dan akan menyuburkan masyarakat.

(52)

berhubungan dengan kehidupan sehari – harinya seperti perkawinan, membuka ladang, hak tanam, etika pergaulan dan hubungan sosial serta lainnya.

Tata kehidupan sehari – hari Suku Dayak, tidak jelas tampak adanya perbedaan antara peraturan yang religius dan nonreligius, maksudnya peraturan – peraturan tersebut tidak diatur dalam undang – undang adat yang khusus, tetapi dalam bentuk ceritera mistis yang pada garis besarnya menjelaskan tentang sebab – sebab sesuatu harus dijalankan dengan cara tertentu atau tidak boleh sama sekali.

Kepercayaan atau keyakinan yang dimiliki oleh suku Dayak di pedalaman Kalimantan Timur tidak dapat digolongkan ke dalam animisme, dinamisme, atau totemisme, karena mereka percaya akan adanya suatu kekuatan yang terdiri dari banyak sekali roh dan nenek moyang yang gaib. Selain itu, mereka juga percaya akan adanya dewa – dewa seperti dewa air, dewa bumi, dewa kemakmuran dan sebagainya yang dianggap sebagai pelindung kehidupan manusia. Intinya, pemelihara makhluk hidup di bumi ini ada dua, yang dalam istilah mereka disebut Taman Tinggai dan Taman Oi.

Taman Tinggai adalah roh gaib yang tinggal di langit, bertugas sebagai

pemelihara kehidupan manusia dan ternak, sedangkan Taman Oi adalah roh gaib yang tinggal di bumi dan bertugas sebagai penjaga serta pemelihara kehidupan liar di hutan, hewan air, dan semua jenis tumbuhan.

(53)

kampung. Walaupun masyarakat sudah memeluk agama Islam, kepercayaan mereka pada keberadaan roh dan nenek moyang tetap terjaga dan hubungan yang harmonis tetap dibangun. Agama Segaji Tumbit yang sering dimasukan dalam kategori agama kepercayaan Kaharingan inilah yang mempengaruhi adat istiadat dan kesenian yang ada pada masyarakat Dayak Ga’ay dikampung Tumbit Dayak.

(54)

sebagainya. Oleh karena itu dikeramatkanlah jenis binatang tersebut ke dalam bentuk topeng atau Hudoq.

4. Sejarah Tari Hudoq

F. Jiu Luwai (2002:5) menceritakan bahwa himpunan tulisan legenda tari ritual rakyat Ga’ay Long Glaat ini bermula dari perkawinan Heleang Hebeung dari alam manusia di permukaan bumi dengan Selau Sen Yeang yang merupakan seorang Puteri dari kerajaan di dasar pusaran sungai. Dari perkawinan mereka lalu lahirlah anak yang diberi nama Buaq Selo.

Pada saat Heleang Hebeung tinggal di dasar sungai, ia pernah menyaksikan persembahan hiburan berupa tari dari warga makhluk dasar sungai yang datang berkumpul. Setelah berkumpul Selau Sen Yeang meminta kepada warga untuk menari semeriah meriahnya. Maka muncul bunyi – bunyian dan gerak tari dengan karakter masing – masing. Semakin lama semakin nampaklah karakter asli makhluk dasar sungai di dalam tarian tadi. Perlahan lahan tidak terasa Heleang Hebeung yang menggendong anaknya berada di tengah – tengah kerumunan penari. Dari rasa kagum, berangsur menjadi ngeri. Setelah banyaknya para penari dengan karakter aslinya yang menakutkan.

(55)

Pok Sen Yeang. Dengan nada penuh lirih Selau Sen Yeang menyatakan “Dengan rela saya melepas kepergianmu. Kita memang hidup di alam yang

berbeda, namun kasih sayangku tidak mengenal dan terhalang oleh alam yang berbeda”. Pesan dari Selau Sen Yeang “Bila engkau ingin kembali berhubungan dengan kami, panggil dan buatlah upacara adat kami akan membantu dalam berbagai keperluan. Hubungan ini tidak akan terputus sampai kapanpun, Buaq Selo dan keturunannya kelak akan memelihara sampai kapanpun tidak akan berakhir.”

Heleang Hebeung berusaha mengingat kejadian tontonan atau hiburan yang diselenggarakan oleh istrinya walau kelihatannya menyeramkan. Kemudian menceritakan kepada warga apa yang dialaminya. Untuk mengenang istri dan anaknya serta alam gaib, rakyat Leham Kejin berusaha dengan dipandu Heleang Hebeung membuat topeng – topeng yang mirip dengan ekspresi dan karakter yang dilihatnya. Sejak saat itu pula Heleang Hebeung menjadi Pencetus Tari Hudoq. Tari Hudoq yang berarti tari topeng dan tradisi ini telah berlangsung turun – temurun menjadi bagian dari budaya Kampung Leham Kejin, dan yang sampai saat ini sub Suku Dayak Kayan ini berpindah – pindah tempat, terakhirnya mereka dikenal sebagai sub suku Long Gelaat.

(56)

Yeang dan Buaq Selo dapat saling membantu, dalam bentuk pengaruh tidak nyata, dan pengaruh nyata kepada manusia keturunan Heleang Hebeung. Antara lain dalam bentuk pengobatan, pengusiran gangguan jahat serta pemulihan.

Sejak saat itu tari Hudoq menjadi sarana untuk menghadirkan kekuatan, pengaruh alam tradisi dan kepercayaan Dayak. Topeng dalam berbagai corak dan karakter yang menggambarkan kehadiran Tokoh yang berpengaruh dalam berbagai aspek kepercayaan tradisi Dayak.

Sebagai contoh nyata aspek kehidupan yaitu pada musim perladangan dan biasanya musim menanam padi atau pada musim panen, digelar pelaksanaan upacara tari Hudoq dimana prinsipnya pelaksanaan upacara

Hudoq adalah meminta kekuatan , perlindungan, dan keberhasilan pada usaha

perladangan, usaha lainnya, kebersihan kampung dan kedamaian seluruh warga.

(57)

SEHUN TAANG/ POK PUEN :

Auk Kai…!!!, Kuei Me Metang, kui me newaeik wean kekaeu hedoq, te cekuig leeng nyenge, leeng endaeg, kekaeu, hai wean mai SEHUN. Seih neig it maeu, seih neig it maeu, seih neig it noen, Leng Pet keug leng endaug kekaue hai.

SEHUN TAANG / POK PUEN (Kepala Adat Kampung) :

Ya, baiklah aku mau bertanya aku mau menyapa dengan semua kalian Hudoq, tentang maksud kedatangan, maksud kehadiran dengan kami manusia. Ada apa gerangan, adakah sesuatu yang tidak benar, sehingga datang pada kami manusia. Adakah suasana yang telah mempengaruhi kehidupan kami.

HUDOQ TONGGAEP :

Yee it noeweah hai mekaeu ne ….!!!

Nyelieq te lieh pekeih belaem nyeleig te eung weag belaem kekaue, Pele ngag belieu heiq, Petoe ngag belieu tembong, wenge ngag belieu weheaa, Teuq, uwoei guen meieen ngak pah seeng. It seeut leng seleig, leng endeig mekaeu te kekae sehun seeu.

HUDOQ TONGGAEP (Kepala Hudoq):

Begini maksud kedatangan kami melihat keadaan kehidupan, suasana, yang melanda kehidupan manusia. Padi telah menjadi lalang, pisang telah menjadi pisang hutan, tebu telah menjadi gelagah, ikan – ikan disungai, dan babi – babi dihutan telah menjauh, suasana hidup kurang bersatu roh padi telah terusik dan telah pergi begitu pengamatan kami apa yang telah dialami manusia.

(Dialog selanjutnya terlampir)

5. Fungsi Tari Hudoq dalam Upacara Panen

(58)

gunung, maupun hutan belantara yang berpengaruh dalam berbagai aspek kepercayaan tradisi mereka. Pertunjukan tari Hudoq pada upacara panen padi penikmatnya adalah para penguasa dunia atas (Sang Pencipta dan roh – roh ghaib) serta dunia bawah (warga dasar sungai).

Dalam upacara Bekudung, tari Hudoq menjadi bagian dari rangkaian upacara yang mana tari ini tergolong ke dalam tari rakyat sebagai aktivitas komunal masyarakat pendukungnya. Hal tersebut terlihat dari partisipasi seluruh masyarakat mulai dari persiapan hingga pelaksanaan upacara. Menurut Soedarsono (1972:20) tari rakyat merupakan tari sakral yang mengandung kekuatan magi, gerak – gerak tarinya sangat sederhana sebab yang dipentingkan adalah keyakinan yang terletak di belakang tarian tersebut.

Tari Hudoq dalam upacara Bekudung mengekspresikan bentuk kesatuan masyarakat Dayak Ga’ay, dalam hal ini masyarakat kampung Tumbit Dayak mengadakan tari Hudoq sebagai sarana untuk menghilangkan kekhawatiran akan terjadinya berbagai hal seperti kegagalan panen.

Tari Hudoq berfungsi sebagai media penghubung antara roh – roh gaib dengan manusia yang bermanfaat sebagai sarana komunikasi, ungkapan rasa syukur dan pengharapan, pengikat rasa solidaritas, dan hiburan. Untuk itu, kajian tentang fungsi tari Hudoq diungkap secara rinci sebagai berikut :

1) Sebagai sarana komunikasi kepada roh – roh gaib

(59)

topeng – topeng yang menggambarkan ekspresi tokoh – tokoh yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Dayak. Tokoh topeng Tong

Gaep berperan sebagai pemimpin dan penghubung pihak Hudoq

dengan manusia yang diwakilkan oleh kepala adat.

2) Sebagai sarana pengungkap rasa syukur

Tari Hudoq erat kaitannya dengan upacara panen. Rasa syukur atas perlindungan pada tanaman saat mulai menanam hingga menuai hasil panen yang melimpah tahun ini serta dijauhkan dari segala macam hama perusak tanaman. Rasa syukur itu diwujudkan dengan mengadakan pesta yang diadakan selama beberapa hari dengan mengundang tetangga dan warga kampung lain untuk bersama sama menikmati berkah hasil panen tahun ini. Selain itu rasa syukur juga berkaitan dengan kebersihan kampung dan kedamaian seluruh warga.

3) Sebagai pengikat rasa solidaritas dan kebersamaan masyarakat

(60)

kampung yang terus memberikan arahan dan motivasi kepada masyarakat Ga’ay demi kesejahteraan warga dan kemajuan kampung.

4) Sebagai sarana meminta kekuatan , perlindungan, dan keberhasilan

pada usaha perladangan

Fungsi utama tari Hudoq yang memang hanya ditampilkan pada masa menanam dan memanen padi adalah untuk meminta kekuatan pada roh – roh pelindung agar menjaga dan membantu manusia untuk keberhasilan pada usaha perladangan. Masyarakat Dayak Ga’ay meyakini bahwa kehidupan mereka saat ini tidak terlepas dari kehidupan nenek moyang mereka yang selalu membantu dalam setiap segi kehidupan.

5) Sebagai sarana hiburan

(61)

B. Hasil Pembahasan

1. Pelaksanaan Upacara Panen

Dalam kehidupan masyarakat tradisional, aktivitas yang dilakukan tidak lepas dari unsur – unsur lain, misalnya religi dan ritual. Hal ini masih banyak dijumpai dalam masyarakat Indonesia sebagai hasil budaya bangsa. Hasil budaya bangsa tersebut berupa kesenian, upacara adat, dan yang lainnya berkaitan dengan kreativitas manusia dan lingkungannya.

Upacara adat yang sampai saat ini tetap hidup dan lestari dalam masyarakat, merupakan peninggalan dari leluhur yang selalu dilaksanakan guna mendapat suatu berkah keselamatan bagi kehidupannya. Masing – masing upacara adat di setiap daerah sudah barang tentu memiliki perbedaan akan tetapi memiliki tujuan yang sama yaitu mengharapkan suatu keselamatan.

Ungkapkan rasa syukur berkaitan dengan hasil panen bagi masyarakat yang tinggal di berbagai daerah khususnya di pedesaan di Indonesia masih dilaksanakan sampai saat ini. Maksud dari pelaksanaan upacara ini adalah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas panen yang melimpah sekaligus memohon agar panen selanjutnya diberi kelimpahan.

(62)

(b) sistem upacara keagamaan; (c) suatu umat yang menganut religi tersebut (Koentjaraningrat, 2009 : 295).

Masyarakat suku Dayak Ga’ay masih meyakini bahwa kehidupan leluhur yang hidup pada masa lalu dan kehidupan manusia yang hidup pada masa sekarang saling beriringan dan berjalan bersama. Masyarakat Dayak Ga’ay mempunyai pengertian tentang ketuhanan, agama atau kepercayaan

tersebut terbatas pada lingkungannya sendiri, berhubungan dengan ikatan esensial terhadap nenek moyangnya.

Agama Segaji Tumbit yang termasuk dalam kepercayaan Kaharingan mengajarkan kepada masyarakat penganutnya untuk menghormati arwah nenek moyang. Mereka menganggap bahwa arwah nenek moyang itu selalu memperhatikan serta melindungi anak cucunya yang masih hidup didunia. Selain itu mereka juga percaya bahwa jiwa orang yang sudah mati itu meninggalkan tubuh kemudian menempati alam sekeliling tempat tinggal manusia (Lopulalan, 2003:101).

Upacara panen yang ada pada suku Dayak Ga’ay disebut dengan

Bakudung hingga saat ini masih tetap dilaksanakan. Hal ini secara khusus

dilihat dari cara penyelenggaraannya yang masih terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang perwujudan kepercayaan alam gaib dan roh nenek moyang.

Bekudung adalah bahasa Berau, terjemahan dari bahasa Ga’ay yang

(63)

kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perolehan kesehatan, keselamatan dalam bekerja dan secara khusus perlindungan-Nya terhadap tanaman padi, dari sejak menabur benih yang dilakukan oleh masyarakat Tumbit Dayak dari bulan Juli – Agustus hingga sampai waktunya memanen.

Koentjaraningrat (2009:296) menyatakan bahwa sistem upacara keagamaan secara khusus mengandung empat aspek yang menjadi perhatian khusus dari para ahli antropologi ialah :

a) Tempat upacara keagamaan dilakukan; b) Saat – saat upacara keagamaan dijalankan; c) Benda- benda dan alat upacara;

d) Orang – orang yang melakukan dan memimpin upacara.

Khususnya dalam upacara Bekudung digelar rapat adat untuk penyempurnaan agar disetiap rangkaiannya tidak terlepas dari tata cara ritual adat yang sebenarnya. Upacara Bekudung dilaksanakan di lapangan luas atau dapat pula dilakukan di ladang. Pelaku upacara adat terdiri dari ketua adat,

Kepala Kudung, orang tua serta masyarakat di kampung tersebut. Beberapa

ritual adat yang dilakukan antara lain membersihkan benda – benda pusaka yang terdapat di rumah adat, memberi persembahan kepada pusaka dengan darah ayam atau babi jantan dan membuat sesaji yang akan dihanyutkan di sungai dan juga menghadirkan tari Hudoq.

(64)

dengan darah ayam atau babi jantan, upacara ini dilakukan dari subuh hingga malam hari dan orang yang melaksanakannya tidak boleh makan atau minum ketika melaksanakan kewajibannya tersebut. Jika ritual ini tidak dilaksanakan dengan baik dan benar maka akan ada sangsi yang harus ditanggung (wawancara dengan H. Jiang Dom, 21-8-2014).

Figur

Gambar 1: Persiapan Acara Bekudung Betiung (Dokumentasi: Aspian, 2014)

Gambar 1:

Persiapan Acara Bekudung Betiung (Dokumentasi: Aspian, 2014) p.66
Gambar 2: Penari Hudoq pada Acara  Bekudung Betiung (Dokumentasi: Aspian, 2014)

Gambar 2:

Penari Hudoq pada Acara Bekudung Betiung (Dokumentasi: Aspian, 2014) p.73
Gambar 3: Alat musik gong dan gendang

Gambar 3:

Alat musik gong dan gendang p.75
Tabel 1: Desain Lantai Penari Hudoq

Tabel 1:

Desain Lantai Penari Hudoq p.76
Gambar  4: Busana Tari  Hudoq pada Acara Bekudung Betiung (Dokumentasi: Aspian, 2014)

Gambar 4:

Busana Tari Hudoq pada Acara Bekudung Betiung (Dokumentasi: Aspian, 2014) p.77
Gambar 5 : Topeng Hudoq yang terdapat di Museum Mulawarman, Tenggarong (Dokumentasi: Risna, 2012)

Gambar 5 :

Topeng Hudoq yang terdapat di Museum Mulawarman, Tenggarong (Dokumentasi: Risna, 2012) p.78
Gambar 6: Properti Tongkat Hudoq pada Acara Bekudung Betiung

Gambar 6:

Properti Tongkat Hudoq pada Acara Bekudung Betiung p.80
Gambar 7: Rumah Adat dan Lapangan Upacara di kampung Tumbit Dayak (Dokumentasi: Aspian, 2014)

Gambar 7:

Rumah Adat dan Lapangan Upacara di kampung Tumbit Dayak (Dokumentasi: Aspian, 2014) p.82
Gambar 8 : Tong Gaep, Sumber: Buku Topeng jelmaan pemimpin Hudoq Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002

Gambar 8 :

Tong Gaep, Sumber: Buku Topeng jelmaan pemimpin Hudoq Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002 p.83
Gambar 9 : Gelong, Sumber: Buku Topeng jelmaan roh naga Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002

Gambar 9 :

Gelong, Sumber: Buku Topeng jelmaan roh naga Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002 p.84
Gambar  10: Wah Jaeg, Sumber: Buku Topeng jelmaan roh buaya Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002

Gambar 10:

Wah Jaeg, Sumber: Buku Topeng jelmaan roh buaya Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002 p.85
Gambar  11 : Talea Metaeu, Sumber: Buku Topeng jelmaan roh ikan belut raksasa Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002

Gambar 11 :

Talea Metaeu, Sumber: Buku Topeng jelmaan roh ikan belut raksasa Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002 p.86
Gambar 12  : Lejieu, Sumber: Buku Topeng jelmaan roh harimau penguasa hutan Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002

Gambar 12 :

Lejieu, Sumber: Buku Topeng jelmaan roh harimau penguasa hutan Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002 p.87
Gambar 13 : Ewoei, Sumber: Buku Topeng jelmaan roh babi hutan Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002

Gambar 13 :

Ewoei, Sumber: Buku Topeng jelmaan roh babi hutan Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002 p.88
Gambar 14  : Meneuk Nyehau, Sumber: Buku Topeng jelmaan Roh Burung Elang Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002

Gambar 14 :

Meneuk Nyehau, Sumber: Buku Topeng jelmaan Roh Burung Elang Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002 p.89
Gambar 15 : Delai, Sumber: Buku Topeng jelmaan Roh Guntur Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002

Gambar 15 :

Delai, Sumber: Buku Topeng jelmaan Roh Guntur Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002 p.90
Gambar 16 : Hepeu, Sumber: Buku Topeng jelmaan Roh Raja Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002

Gambar 16 :

Hepeu, Sumber: Buku Topeng jelmaan Roh Raja Sebuah Legenda Upacara (tarian) Hudoq pada Adat Dayak Modang/ Long Gelaat, 2002 p.91
Gambar 17 : Pen Leih, Topeng jelmaan penghubung manusia dengan roh di

Gambar 17 :

Pen Leih, Topeng jelmaan penghubung manusia dengan roh di p.92
Gambar  18: Lokasi Penelitian di Kampung Tumbit Dayak

Gambar 18:

Lokasi Penelitian di Kampung Tumbit Dayak p.131
Gambar  19: Silaturahmi dengan Kepala Adat  Dayak   Ga’ay Kabupaten Berau dan Kepala Kampung Tumbit Dayak (Dokumentasi: Aspian, 3 Agustus 2014)

Gambar 19:

Silaturahmi dengan Kepala Adat Dayak Ga’ay Kabupaten Berau dan Kepala Kampung Tumbit Dayak (Dokumentasi: Aspian, 3 Agustus 2014) p.131
Gambar  20: Dermaga penyebrangan menuju pusat kampung Tumbit Dayak  (Dokumentasi: Aspian, 16 Agustus 2014)

Gambar 20:

Dermaga penyebrangan menuju pusat kampung Tumbit Dayak (Dokumentasi: Aspian, 16 Agustus 2014) p.132
Gambar  21: Perjalanan menuju rumah narasumber  (Dokumentasi: Aspian, 16 Agustus 2014)

Gambar 21:

Perjalanan menuju rumah narasumber (Dokumentasi: Aspian, 16 Agustus 2014) p.132
Gambar  22: Wawancara dengan Bapak H.Jiang Dom (Dokumentasi: Aspian, 16 Agustus 2014)

Gambar 22:

Wawancara dengan Bapak H.Jiang Dom (Dokumentasi: Aspian, 16 Agustus 2014) p.133
Gambar  23: Wawancara dengan Bapak H.Jiang Dom (Dokumentasi: Aspian, 21 Agustus 2014)

Gambar 23:

Wawancara dengan Bapak H.Jiang Dom (Dokumentasi: Aspian, 21 Agustus 2014) p.133
Gambar  24: Wawancara dengan Penari Hudoq(Dokumentasi: Aspian, 21 Agustus 2014)

Gambar 24:

Wawancara dengan Penari Hudoq(Dokumentasi: Aspian, 21 Agustus 2014) p.134
Gambar  25: Narasumber Bapak Lucas Tengah (Tengah) Acara Bekudung Betiung  (Dokumentasi: Aspian, Tumbit Dayak, 21 Agustus 2014)

Gambar 25:

Narasumber Bapak Lucas Tengah (Tengah) Acara Bekudung Betiung (Dokumentasi: Aspian, Tumbit Dayak, 21 Agustus 2014) p.134
Gambar  26: Upacara Bekudung Betiung di kampung Tumbit Dayak (Dokumentasi: Aspian, 21 Agustus 2014)

Gambar 26:

Upacara Bekudung Betiung di kampung Tumbit Dayak (Dokumentasi: Aspian, 21 Agustus 2014) p.135
Gambar  27: Laskar Banua dan Penari Hudoq  (Dokumentasi: Aspian, 21 Agustus 2014)

Gambar 27:

Laskar Banua dan Penari Hudoq (Dokumentasi: Aspian, 21 Agustus 2014) p.135

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di