• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR (1)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI AP SMK WIDYA PRAJA UNGARAN MELALUI MODEL

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE ROLE PLAYING (BERMAIN PERAN) PADA MATA DIKLAT PELAYANAN PRIMA

Angga Adistia Wijaya, Kuni Afifah, Julian Dwi Jackson H.P Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Universitas Negeri Semarang Gedung C6 Kampus Sekaran Gunungpati Telp (024) 8508015 Semarang

Email: [email protected], Hp: 085640986180

SARI

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan materi dengan menggunakan model pembelajaran bermain peran yang ditandai dengan ketercapaian hasil belajar siswa minimal 75% dari keseluruhan siswa mendapat nilai 75 dan seluruh siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas XI AP SMK Widya Praja Tahun Ajaran 2014. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus, tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, tindakan, dan refleksi. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes evaluasi yang berupa tes objektif pada tiap akhir siklus dan lembar observasi untuk siswa dan guru. Hasil penelitian ini diperoleh rata-rata hasil belajar siswa pada siklus 1 sebesar 74,5 dengan ketuntasan klasikal 72,5%. Rata-rata hasil belajar siklus 2 sebesar 81,625 dengan ketuntasan klasikal 95%. Adapun sikap siswa terhadap pembelajaran pada siklus 1 sebesar 63,10% dan pada siklus 2 mencapai 84,4%. Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan model pembelajaran bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar pada kompetensi dasar menerapkan prinsip-prinsip pelayanan prima dengan menggunakan penelitian tindakan kelas dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI Administrasi Perkantoran SMK Widya Praja tahun Ajaran 2014.

Kata kunci : Hasil Belajar, Model Pembelajaran Bermain peran

ABSTRACT

(2)

in this study was the evaluation of the test in the form of objective test at the end of each cycle and observation sheets for student and teachers. The result obtained average cognitive achievement of student in the firs cycle was 74,5% with classical completeness 72,5%. The average result of the second cycle was 81,625 with 95% of classical completeness. Attitude of students towards learning in the firs cycle was 63.10% and the second cycle increased become 84,4%. Based on the results above, it can be concluded that the use of role-play learning model on the basic of competence to aplly the principles of excellent service using action research to improve student learning outcomes of eleven grades students of AP SMK Widya Praja School Year 2014.

Keywords: Media Learning, Learning Methods, Motivation.

I. PENDAHULUAN

Di Era globalisasi saat ini diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi untuk menghadapi persaingan. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pada sumber daya manusia ialah melalui pendidikan. Apabila pendidikan disuatu negara itu baik maka akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik dan sebaliknya apabila pendidikan disuatu negara itu buruk maka akan menghasilkan sumber daya manusia yang buruk.

Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan seseorang atau sekelompok melalui satu atau lebih strategi, metode, dan pendekatan tertentu kearah pencapaian tujuan yang di rencanakan. Pembelajaran merupakan sesuatu kegiatan terencana untuk mengkondisikan seseorang atau kelompok orang agar bisa belajar dengan baik. Oleh sebab itu, unsur utama pembelajaran adalah siswa bukan guru. (Asep herry hernawan, 2010: 11.3)

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti dan wawancara dengan Ibu Dra. Titin Intan Nur Cahyani selaku ketua jurusan program Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja Ungaran tahun pelajaran 2013/2014 menyatakan bahwa pencapaian kompetensi mata diklat Pelayanan Prima siswa kurang optimal. Dalam proses pembelajaran aktivitas siswa rendah, nilai siswa juga masih rendah. Guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional.

Berdasarkan informasi dari Ketua Jurusan Program Administrasi Perkantoran pada hari senin 28 September 2013 kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk mata diklat Pelayanan Prima adalah 75, sehingga siswa yang dinyatakan belum tuntas yaitu siswa yang nilainya belum mencapai nilai 75. Ketuntasan mata diklat Pelayanan Prima kelas XI program keahlian administrasi perkantoran dapat dilihat dalam tabel berikut:

(3)

Kelas Jumlah Siswa

Rata-rata nilai ulangan harian

Tuntas % Tuntas Tidak

Tuntas

% Tidak Tuntas

XI AP-1 40 18 45% 22 55 %

XI AP-2 40 23 57,5% 17 42,5%

Jumlah Ketuntasan

80 41 39

Rata – rata ketuntasan

51,25 % 48,75 %

Sumber: Data nilai ulangan harian kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK Widya Praja Tahun pelajaran 2013/2014

Berdasarkan hasil observasi, rata-rata hasil belajar Pelayanan Prima XI program keahlian administrasi perkantoran hanya mencapai 51,25%. Siswa dikatakan berhasil atau tuntas jika pencapaian nilainya 75. Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa 41 siswa atau 51,25% dari jumlah seluruh siswa dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar sedangkan 39 siswa atau 48,75% belum mencapai ketuntasan belajar dari seluruh siswa yaitu 80 siswa. Ini menunjukan nilai mata diklat Pelayanan Prima masih rendah.

Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan menerapkan model pembelajaran bermain peran karena model pembelajaran tersebut mempunyai keunggulan seperti:

1. Model pembelajaran bermain peran cocok digunakan dalam kompetensi dasar menerapkan prinsip-prinsip pelayanan prima karena melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama untuk berpikir kreatif dan inovatif.

2. Model pembelajaran bermain peran sangat baik digunakan karena dalam aplikasinya siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh sehingga proses belajar mengajar tidak membosankan.

(4)

II. LANDASAN TEORI

Menurut Slameto (2010: 2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseruruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar.Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar.(Anni, 2007:5). Sardiman (2004: 49) mengemukakan bahwa hasil belajar yang baik apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (a) hasil itu tahan lama dan dapat digunakan sebagai kehidupan oleh siswa, (b) hasil itu merupakan pengetahuan asli atau otentik. Pengetahuan hasil proses belajar mengajar itu bagi siswa seolah-olah telah merupakan bagian kepribadian diri sehingga dapat mempengaruhi pandangan dan cara untuk mendekati suatu permasalahan.

Menurut Uno (2011:26) model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagao pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atu pembelajaran dalam tutorial untuk enentukan perangkat-perangkat pembelajran termasuk didalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Bermain peran sebagai suatu model pembelajaran bertujuan untuk membantu siswa menemukan makna diri (jati diri) di dunia sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan kelompok. Artinya, melalui bermain peran siswa belajar menggunakan konsep peran, menyadari adanya peran-peran yang berbeda dan memikirkan perilaku dirinya dan perilaku orang lain. Proses bermain peran ini dapat memberikan contoh kehidupan perilaku manusia yang berguna sebagai sarana bagi siswa untuk: (1) menggali perasaannya, (2) memperoleh inspirasi dan pemahaman yang berpengaruh terhadap sikap, nilai, dan persepsinya, (3) mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah, dan (4) mendalami mata pelajaran dengan berbagai macam cara.

III. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tidakan kelas (PTK) yaitu penelitian didasarkan pada permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan maksud memperbaiki pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan penelitian (Arikunto dkk, 2009:104).. Penelitian ini dirancang dalam dua siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi.

(5)

mendiskripksikan pelayanan prima dari bekerja sama dengan kolega dan pelanggan.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data hasil pengamatan yang dilakukan dalam 2 kali siklus pada siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja menunjukan rata-rata hasil aktivitas belajar s i s w a pada siklus I dalam kategori cukup dan siklus II dalam kategori baik, dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1.2

Kategori Tingkat Aktivitas Belajar Siswa Siklus 1

Sumber: Perhitungan hasil pengamatan aktivitas belajar siklus II.

Data pada tabel 1.2 menunjukan menunjukan bahwa rata-rata aktivitas belajar siswa kelas XI Administrasi Perkantoran di SMK Widya Praja tergolong kategori Cukup, terbukti pada rata-rata rentang skor yang dicapai sebesar 63,10% atau dalam rentang skor 53%-68%. Serta dilanjutkan dengan siklus ke II yang dapat dilihat di bawah ini:

Tabel 1.3

Kategori Tingkat Aktivitas Belajar Siswa Siklus II

Sumber : Perhitungan hasil pengamatan aktivitas belajar siklus II.

Data pada tabel 1.3 menunjukan bahwa rata-rata aktivitas belajar siswa kelas XI Administrasi Perkantoran tergolong kategori tinggi, terbukti pada rata-rata rentang skor yang dicapai sebesar 84,40% atau dalam rentang skor 69%-84% terjadi peningkatan signifikan rata-rata aktivitas belajar siswa dari siklus I sebesar 21,3%. Penelitian ini tidak hanya mengukur aktivitas belajar siswa tetapi juga mengukur hasil belajar siswa dari siklus 1 dan II dapat di ketahui hasil belajar siswa dari siklus I dan II selalu mengalami peningkatan. Pada siklus I nilai tertinggi yaitu 90 dan nilai terendah adalah

No. Rentang skor Kategori Rata-rata

1 85%-100% Sangat Tinggi

63.10% (kategori cukup)

2 69%-84% Tinggi

3 53%-68% Cukup

4 37%-52% Rendah

5 20%-36% Sangat Rendah

No. Rentang skor Kategori Rata-rata

1 85%-100% Sangat Tinggi

84.40% (kategori tinggi)

2 69%-84% Tinggi

3 53%-68% Cukup

4 37%-52% Rendah

(6)

50. Nilai rata-rata hasil belajar siswa mencapai 74,5 dengan presentase ketuntasan klasikal 72,5% (siswa yang tuntas sebanyak 29 siswa). Adapun siswa yang tidak tuntas yaitu sebanyak 11 siswa dengan presentase 27,5%. Kemudian pada siklus II diperoleh hasil untuk nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 70. Nilai rata-rata 81,625 dengan presentase ketuntasan klasikal 95%.

V. PEMBAHASAN

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas, dimana hasil yang diperoleh adalah berasal dari pengamatan/observasi aktivitas siswa dan observasi kinerja guru yang dilanjutkan dengan kegiatan refleksi atau kegiatan mengemukakan kembali kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Analisis deskriptif presentase digunakan untuk mendiskripsikan aktivitas siswa dan kinerja guru selama proses pembelajaran bekerja sama dengan kolega dan pelanggan pada pokok bahasan menerapkan prinsip-prinsip pelayanan prima dengan menggunakan model pembelajaran bermain peran pada kelas XI AP 1 di SMK Widya Praja.

Observasi kinerja guru pada pembelajaran bekerja sama dengan kolega dan pelanggan dengan menggunakan model bermain peran mengalami peningkatan tiap siklus, dimana pada siklus I diperoleh hasil kinerja guru sebagian besar masih dalam kategori cukup dan pada siklus II mengalami peningkatan bahwa hasil pengamatan kinerja guru sebagian besar sudah dalam kategori sangat baik. Hasil penelitian aktivitas siswa menggunakan model pembelajaran bermain peran mempunyai pengaruh positif terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran bekerja sama dengan kolega dan pelanggan pada pokok bahasan menerapkan prinsip-prinsip pelayanan prima kelas X AP 1 SMK Widya Praja. Hal ini terbukti bahwa siklus I aktivitas belajar siswa masih dalam kategori cukup, sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan aktivitas belajar siswa pada kategori sangat baik. Hal ini dikarenakan guru lebih bisa mengkondisikan kelas dengan cara melatih menghargai orang yang sedang berbicara, baik saat memberikan pendapat maupun sanggahan dan guru lebih memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga dalam memberikan komentar tidak didominasi oleh siswa yang pandai saja supaya suasana kelas lebih kondusif. Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa ada peningkatan aktivitas siswa dalam penggunaan model pembelajaran bermain peran. Hal ini dikarenakan pembelajaran bekerja sama dengan kolega dan pelanggan dengan menggunakan model pembelajaran bermain peran merupakan hal yang baru yang belum pernah diterima siswa sebelumnya sehingga siswa lebih tertarik dan semangat untuk mengikuti pembelajaran dan mendorong siswa menjadi lebih aktif.

(7)

siklus II tersebut berarti terdapat peningkatan aktivitas siswa, kinerja guru dan hasil belajar siswa pada pokok bahasan menerapkan prinsip-prinsip pelayanan prima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran bermain peran dapat meningkatkan aktivitas siswa, kinerja guru dan hasil belajar siswa.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dari siklus I sampai dengan siklus II juga mengalami keterbatasan atau kekurangan yakni tidak semua siswa mempunyai kesempatan. Masih ada siswa yang kurang memperhatikan penjelasan guru, yang dimana siswa tersebut berbicara dan bercanda dengan teman sebangkunya pada saat guru menunjuk siswa untuk menerapkan model pembelajaran bermain peran di depan kelas. Beberapa siswa masih ada yang malu dan kurang berani dalam menerapkan model pembelajaran bermain peran sehingga keaktifan relatif dan sering didominasi oleh siswa yang pandai walaupun aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan.

Setelah melihat hasil pengamatan aktivitas belajar, hasil belajar dan kinerja guru pada siklus II yang mampu mencapai ketuntasan klasikal maka telah mencapai indikator keberhasilan yaitu seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar 75% yang ada dikelas tersebut nilainya mencapai batas KKM yaitu 75. Dengan demikian indikator kerja telah tercapai dengan baik, sehingga tidak perlu lagi diadakan siklus berikutnya.

VI. SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka kesimpulan yang dapat diambil yaitu Penggunaan Model Pembelajaran Bermain Peran pada Kompetensi Dasar Menerapkan Prinsip-Prinsip Pelayanan Prima Siswa Kelas XI Administrasi Perkantoran SMK Widya Praja Tahun Ajaran 2014 dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus I nilai rata-rata mencapai 74,5 dan siklus II nilai rata-rata mencapai 81,625. Pada siklus I ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal mencapai 72,5% dan pada siklus II ketuntasan hasil belajar siswa meningkat menjadi 95%. Dengan demikian hasil belajar kognitif siswa pada siklus II sudah memenuhi indikator yang telah ditentukan pada penelitian ini, yaitu sekurang-kurangnya 75% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran dari jumlah peserta didik yang ada di kelas memperoleh nilai 75 atau mencapai ketuntasan belajar 75%.

DAFTAR PUSTAKA

Anni, Chatarina Tri. 2009. Psikologi Belajar. Semarang : Unnes Press. Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Rineka

Cipta.

Hamalik, Oemar. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara Iru, La dan La Ode Saifun. 2012. Pendekatan Metode, Strategi dan

Model-model Pembelajaran. DIY: Multi Persindo

(8)

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Suharsimi,Arikunto, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.

Gambar

Tabel 1.2 Kategori Tingkat Aktivitas Belajar Siswa Siklus 1

Referensi

Dokumen terkait

diibaratkan seperti teknologi penginderaan jarak jauh menggunakan citra satelit yang digunakan untuk mendeteksi potensi sumber daya alam di suatu titik lokasi,

Program ini dirancang dengan menggunakan ADDIE models dan pembangunannya menggunakan microsoft office excell 2007 yang mudah diperoleh karena ada pada setiap

Ampul dibuat dari bahan gelas tidak berwarna akan tetapi untuk bahan obat yang peka terhadap cahaya, dapat digunakan ampul yang terbuat dari bahan gelas

Aplikasi media dasar ½ MS yang dikombinasikan dengan auksin NAA pada induksi perakaran inggu in vitro memberikan respon yang lebih baik dibandingkan auksin IBA.. Pengurangan

a) Kontrak kuliah dilakukan di awal kuliah, dengan cara kesediaan mengikuti aturan perkuliahan di FIB, sekaligus dosen yang bersangkutan mendapatkan jadwal kuliah yang

Dengan menerapkan metode pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi komputer (seperti SPC) akan memberikan suatu model yang berbasis unjuk kerja, hal ini

karena nilai r hitung 0,67 lebih besar dari pada r tabel, maka terdapat pengaruh antara variabel x dan variabel y sehingga dapat disimpulkan bahwa

Tujuan kreatif dalam perancangan integrated digital campaign Pulau Nusa Penida sebagai salah satu potensi wisata Provinsi Bali ini adalah menciptakan brand awareness yaitu