BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada setiap zaman pastilah ada perubahan dan pada setiap perubahan itu terdapat suatu peningkatan, walaupun di sisi lain terjadi penurunan. Dikarenakan pada era ini diperlukan suatu cara dapat meminimalisir waktu itu untuk kesuksesan karirnya. Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang sedikit ketinggalan dengan negara-negara tetangganya, memang kita tidak perlu memungkirinya, itu dikarenakan kesadaran dan dukungan dari semua pihak kurang, khususnya masalah birokrasi. Dengan ketinggalanketinggalan Indonesia dalam semua aspek itu, pemerintah di sini diharapkan memperhatikan keterpurukan yang dialami negara ini dengan peralatan yang sekirannya sedikit membantu. Memang kita ini seperti orang yang lomba lari, jauh tertinggal di belakang. Tapi ingatlah bahwa semua ini belum usai, negara kita dengan negara lain masih dalam perlombaan, maka kita harus bersemangat lagi untuk tidak lebih jauh lagi ketinggalan dan paling tidak bisa mengimbangi dalam hal kecanggihan di bidang tehnologi.
Kecanggihan di perkantoran pemerintah adalah fokus yang harus diutamakan, karena tempat itulah yang menjadi titik perhatian dari semua pihak, pihak dari luar negeri ataupun pihak dalam negeri khususnya. Sistem birokrasi yang mudah adalah dambaan dan impian bagi semua pengusaha di dunia, karena dengan sistem birokrasi yang mudah maka mereka dapat menjalankan kegiatan (kegiatan transaksi) tanpa banyaknya kesulitan yang dihadapi.
negeri akan berkembang yang akhirnya, berdampak positif pada perekonomian dalam negeri kemudian disegi impornya masih perlu birokrasi-birokrasi yang sedikit
merepotkan. Itu dikarenakan untuk melindungi produk-produk dalam negeri. B. Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A. Sekilas mengenai Ekspor Impor
Berdasarkan Undang-undang Kepabeanan pengertian ekspor impor adalah sebagai berikut:
Pengertian impor adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean. Semua barang yang dimaksudkan adalah semua atau seluruh barang dalam bentuk dan jenis apa saja yang masuk ke dalam daerah pabean. Barang yang dimasukkan ke dalam daerah pabean diperlakukan sebagai barang impor dan terutang bea masuk (pasal 1 (1) UU Nomor 10/1995 jo UU Nomor 17/2006).
Pengertian ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean, dimana barang yang dimaksud terdiri dari barang dari dalam negeri (daerah pabean), barang dari luar negri (luar daerah pabean), barang bekas atau baru.
Indonesia mengimpor barang-barang konsumsi bahan baku dan bahan penolong serta bahan modal. Barang-barang konsumsi merupakan barang-barang yang
digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,seperti makanan, minuman, susu, mentega, beras, dan daging. bahan baku dan bahan penolong merupakan barang- barang yang diperlukan untuk kegiatan industri baik sebagai bahan baku maupun bahan pendukung, seperti kertas, bahan-bahan kimia, obat-obatan dan kendaraan bermotor.
Produk impor Indonesia yang berupa hasil pertambangan antara lain adalah minyak bumi dan gas, produk impor Indonesia yang berupa barang industri antara lain adalah barang-barang elektronik, bahan kimia, kendaraan. dalam bidang jasa indonesia mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri.
diperbarui terutama yang berhubungan dengan perdagangan internasional, kepabeanan, shipping maupun perbankan, yang semuanya ini saling berkaitan.
Untuk melaksanakan kegiatan ekspor impor, diperlukan perijinan dan pemahaman dokumen ekspor impor sebagai berikut:
Persyaratan impor:
1. Mengajukan dan mengisi formulir dengan melampirkan: Copy Akte Pendirian Perusahaan yang te-legalisir, SIUp
Domisili Perusahaan NPWP
Neraca Awal
Referensi bank yang bersangkutan
Bukti adanya hubungan atau kontak dengan luar negeri, atau penunjukan agen (yang terdaftar di Deparindag)
Tanda Daftar Perusahaan
2. Setelah data diperiksa dengan benar dan lengkap, Kanwil Deperindag menerbitkan API (Angka Pengenal Impor)
Persyaratan ekspor:
1. Surat Ijin Usaha (SIUP) yang dikeluarkan oleh Kantor Wilayah Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Kanwil Deperindag), atau
2. Surat Ijin Usaha (SIU) oleh Departemen Tehnis atau Lembaga Pemerintah 3. Non Teknis lainnya berdasarkan perundang-undangan yang berlaku Dokumen Impor:
Manifest Invoice
COO (Certicate of Origin) D/O (Delivery Order) Dokumen Ekspor: 1. Dokumen Utama
PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang) B/L (Bill of Lading) untuk angkutan laut Invoice
Packing List
2. Dokumen Pelengkap
SKA (Surat Keterangan Asal) / COO (Certificate of Origein) SM (Sertifikat Mutu)
LPS-E (Laporan Pemeriksaan Surveyor – Ekspor)
Kegiatan ekspor impor berkaitan dengan proses kepabeaanan serta Bea dan Cukai sebagai badan yang bertanggung jawab sebagai pengawas dan pelaksana di lapangan. Disamping Bea dan Cukai pihak-pihak lain yang terlibat dalam kegiatan ini adalah PPJK (Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan), Exportir maupun Importir.
B. Kepabean
Sekilas Mengenai Ekspor Impor, Tata Laksana Kepbeanan di Bidang Ekspor impor, dan Angka Pengenal Impor (API).
PENGERTIAN KEPABEANAN
Kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta pemungutan bea masuk dan bea keluar. Bea Masuk adalah pungutan negara berdasarkan undang-undang ini yang dikenakan terhadap barang yang diimpor. Bea Keluar adalah pungutan negara
berdasarkan undang-undang ini yang dikenakan terhadap barang ekspor. PENGERTIAN DAERAH PABEAN
Daerah pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya berlaku undang-undang ini. PENGERTIAN KAWASAN PABEAN
Kawasan pabean adalah kawasan dengan batas-batas tertentu di pelabuhan laut, bandar udara, atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalu lintas barang yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. C. Tata cara pembayaran luar negeri
Dalam melakukan pembayaran transaksi ekonomi luar negeri, seorang pengusaha dapat menggunakan beberapa cara. Cara-cara ini antara lain:
1. Cash
2. Open account
3. Commercial bills of exchange 4. Letters of credit
5. Private compensation
Pembayaran ini dilakukan dengan menggunakan check atau bank draft, pada saat barang dikirim oleh eksportir atau sebelumnya. Cara ini biasanya tidak disukai oleh pembeli (importir) karena:
harus tersedia uang kas yang cukup besar
kehilangan penggunaan modal kerja karena barang diterima kemudian harus berdasarkan kepercayaan dan kejujuran eksportir
tetapi cara ini sangat baik bagi eksportir yang keadaan keuangannya lemah dan belum kenal baik dengan importir.
B. Open Account
Cara ini merupakan kebalikan daripada cash. Sebab dengan cara open account barang telah dikirim kepada importir tanpa disertai surat perintah membayar serta dokumen-dokumen. Pembayaran dilakukan setelah beberapa waktu atau terserah kebijaksanaan importir. Dalam hal ini risiko sebagian besar ditanggung eksportir, misalnya:
eksportir harus mempunyai banyak modal dan apabila pembayran akan dilakukan dengan mata uang asing maka resiko perubahan kurs menjadi tanggungannya.
Cara ini akan baik digunakan apabila: pembeli sudah kenal dengan baik
keadaan ekonomi dan ekonomi yang stabil dekat dengan pasar
C. Commercial Bills of Exchange
Cara ini yang paling umum dipakai. Commercial Bills of Exchange sering disebut draft atau trade bills, adalah surat yang ditulis oleh penjual yang berisi perintah kepada pembeli untuk membayar sejumlah uang tertentu pada waktu tertentu di masa datang. Surat perintah semacam ini sering disebut wesel. Apabila si pembeli
Jenis/macam daripada drafts ini ada:
Clean Drafts yakni draft yang tidak disertai jaminan dokumen barang
Documentary Drafts yakni draft yang disertai jaminan dokumen pengiriman serta asuransi barang
Waktu kapan pembayaran draft itu dilakukan disebut tenor atau usance. Dalam hubungan dengan tenor/usance, maka draft dapat dibagi dalam:
Sight Draft: yakni draft yang dibayar sesaat setelah diperlihatkan pada pembeli. Jadi mungkin pembayarannya sebelum barangnya tiba di tempat pembeli sebab draft dikirim melalui kapal laut
Arrival Draft: yakni draft yang dibayar sesaat setelah barang-barangnya datang
Date Draft: yakni draft yang pembayarannya dilakukan pada tanggal tertentu atau beberapa hari setelah tanggal tersebut
D. Letters of Credit (L/C)
Dalam cara dengan letter of credit wesel ditarik kepadaBank bukan importir, sehingga transaksinya akan lebih terjamin. Yang dimaksud dengan letter of credit adalah suatu surat yang dikeluarkan oleh bank atas permintaan pebeli barang (importir) dimana bank tersebut yang menyetujui dan membayar wesel yang ditarik oleh penjual barang (eksportir). Dengan demikian letter of credit merupakan suatu alat pengganti kredit bank dan dapat menjamin pembayarannya bagi eksportir.
Pihak-pihak di dalam letter of credit
Opener (importir) adalah pembeli yang membuka L/C Issuer adalah Bank yang mengeluarkan L/C tersebut Beneficiary atau Acreditee adalah penjual (eksportir)
1. Perjanjian tentang cara pembayaran dengan L/C oleh importir dan eksportir 2. Importir membuka L/C dengan bank di negaranya dengan mengisi
permohonan pembukaan L/C
3. Apabila permohonan tersebut disetujui, lalu L/C ditandatangani oleh bank. Dengan demikian bank akan menjamin pembayaran kepada eksportir, sebaliknya importir akan menjamin pula semua pembayaran yang dilakukan oleh bank
4. Dengan ditandatangani permohonan L/C tersebut maka kredit telah bersedia bagi importir untuk mengimpor barang dari eksportir
5. Kemudian bank (Issuer) tersebut memerintahkan confirming bank untuk memberikan advice of L/C kepada eksportir. Confirming Bank lalu membubuhkan namanya pada L/C tersebut untuk memperkuat jaminan pembayaran L/C
6. Barang kemudian dikirim oleh eksportir. Eksportir menarik wesel atas Issuing Bank dan mengirimkan wesel tersebut beserta dokumen-dokumen pengiriman barang. Confirming bank memeriksa dokumen-dokumen tersebut
7. Wesel dan dokumen-dokumen tersebut oleh confirming bank dikirimkan kepada Issuing Bank
8. Setelah wesel tersebut ditandatangani oleh Issuing bank maka barang dikeluarkan dari pelabuhan dan dikirimkan ketempat importir setelah menandatangani trust receipt
9. Pada tanggal yang telah ditentukan dalam wesel tersebut, importir membayar kepada Issuing Bank. Dengan demikian selesailah pembayaran dengan menggunakan L/C
E. Private Compensation
Indonesia Amerika
Amar Berutang $(= Rp.166.000,00) kepada John
Ranu Berpiutang $400 (= Rp.166.000,00) kepada Kend Cara pembayaran ini dapat digambarkan sebagai berikut:
utang piutang tersebut dapat diselesaikan pembayarannya tanpa perpindahan mata uang ke Negara lain. Hanya saja kesulitannya dalam mendapatkan orang-orang yang persis mempunyai utang piutang dalam jumlah yang sama.
D. Tata laksana kepebean di bidang impor
Tata laksana kepabeanan di bidang impor mengaju pada dasar hukum:
1. Undang-undang nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006;
2. Peraturan Menteri Keuangan Bomor 144/PMK.04/2007 tentang Pengeluaran Brang Impor Untuk Dipakai;
3. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-42/BC/2008 tentang Petunjuk Pengeluaran Barang Impor untuk Dipakai sebagaimana telah diubah dengan Peraturan DJBC Nomor P-08/BC/2009.
Adapun Tata laksana kepabeanan di bidang impor secara umum meliputi kegiatan sebagai berikut:
I. Kedatangan Barang Impor 1) Kedatangan Sarana Pengangkut
a. Kewajiban Pengangkut Sebelum Kedatangan Sarana Pengangkut adalah:
1. Pengangkut wajib menyerahkan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (BC 1.0) secara tertulis dalam rangkap 2 (dua) lembar atau melalui media elektronik kepada Pejabat yang menangani Manifest di Kantor Pabean tempat tujuan pembongkaran pertama.
2. Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut sekurang-kurangnya mencantumkan:
7. Rencana jumlah kemasan atau peti kemas yang akan dibongkar 8. Pelabuhan tujuan berikutnya dalam Daerah Pabean
3. Terhadap penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) dan Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut akan diberikan bukti penerimaan yang merupakan persetujuan pembongkaran barang impor.
4. Untuk sarana pengangkut yang mempunyai jadwal kedatangan secara teratur dalam suatu periode tertentu tidak perlu menyerahkan Pemberitahuan
mengenai Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut tetapi cukup menyerahkan Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut.
5. Setiap perubahan rencana kedatangan sarana pengangkut atau Jadwal
Kedatangan Sarana Pengangkut wajib diberitahukan oleh pengangkut kepada Pejabat yang menangani Manifest.
6. Ketentuan lainnya
b. Pemberitahuan rencana kedatangan sarana pengangkut tidak berlaku bagi sarana pengangkut yang datang dari luar daerah Pabean melalui darat.
1. Saat Kedatangan Sarana Pengangkut
b.1. Sarana pengangkut membawa barang impor tujuan dalam Daerah Pabean Kewajiban Pengangkut :
1) Pengangkut wajib menyerahkan Pemberitahuan Kedatangan Barang Impor berupa :
Manifest (BC1.1) barang impor
Daftar penumpang dan/ atau awak sarana pengangkut Daftar senjata api
Daftar obat-obatan termasuk narkotika yang digunakan dalam pengobatan Daftar bekal
2) Pengangkut yang datang dari luar Daerah Pabean melalui darat wajib menyerahkan daftar.
4) Pemberitahuan dan daftar barang impor dibuat dalam bentuk tertulis maupun melalui media elektronik, dalam bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris yang ditandatangani oleh pengangkut.
5) Dalam hal sarana pengangkut tidak membawa barang impor, pengangkut menyerahkan pemberitahuan nihil.
b.2. Sarana pengangkut membawa barang impor yang akan diangkut terus/ atau diangkut lanjut tujuan luar Daerah Pabean.
Kewajiban pengangkut :
1) Pengangkut wajib menyerahkan pemberitahuan berupa 1. Manifest barang impor secara terpisah
2. Daftar penumpang dan/ atau awak sarana pengangkut 3. Daftar senjata api
4. Daftar obat-obatan termasuk narkotika yang digunakan dalam pengobatan 5. Daftar bekal
6. Pemberitahuan dan daftar barang impor dibuat dalam bentuk tertulis maupun melaui media elektronik, dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris yang ditandatangani oleh pengangkut.
7. Dalam hal sarana pengangkut tidak membawa barang impor, pengangkut menyerahkan pemberitahuan nihil.
1. Jangka Waktu
1. Pemberitahuan diserahkan oleh pengangkut kepada Kepala Kantor Pabean setempat selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam setelah kedatangan sarana pengangkut.
2. Daftar barang impor diserahkan oleh pengangkut selambat-lambatnya sampai dengan saat kedatangan sarana pengangkut darat.
3. Penyerahan pemberitahuan dan daftar barang impor, tidak berlaku untuk sarana pengangkut yang berlabuh tidak lebih dari 24 jam dan tidak melakukan kegiatan bongkar muat barang impor atau ekspor. Dalam hal sarana pengangkut dalam keadaan darurat, pemberitahuan wajib
II. Perbaikan Manifest dan Sanksi Administrasi
1. Perbaikan Manifest :
1. a. Perbaikan manifest hanya dapat dilakukan sepanjang mengenai jumlah, jenis, merek,nomor kemasan, peti kemas, atau barang curah.
2. b. Perbaikan manifest dapat dilaksanakan atas persetujuan Kepala Kantor Pabean.
3. c. Perbaikan manifest wajib dilakukan oleh pengangkut dalam hal pengiriman barang impor dilakukan secara konsolidasi, dengan merinci lebih lanjut post manifest yang bersangkutan.
2. Sanksi Administrasi :
1. Dalam hal perbaikan manifest berkenaan dengan jumlah kemasan atau peti kemas atau barang curah, dikenakan sanksi administrasi berupa denda, yaitu apabila pengangkut tidak dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut terjadi di luar kemampuannya.
2. Pengeluaran barang impor yang bersangkutan baru dapat dilaksanakan setelah sanksi administrasi tersebut dipenuhi.
III. Pembongkaran Barang Impor
Pelaksanaan Pembongkaran Barang Impor
1. Di kawasan Pabean, atau Di tempat lain setelah mendapat persetujuan dari Kepala Kantor Pabean yang mengawasi tempat yang bersangkutan.
2. Kewajiban Pengangkut dan Kuasanya
Pengangkut atau kuasanya wajib menyampaikan daftar kemasan atau peti kemas yang telah dibongkar kepada Kantor Pabean, segera setelah selesai pembongkaran barang impor.
Membayar Bea Masuk, Cukai dan Pajak dalam rangka impor berikut sanksi
administrasi dalam hal kedapatan jumlah kemasan/peti kemas kurang dibongkar dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan kekurangannya.
IV. Penimbunan Barang Impor
1. Pelaksanaan Penimbunan Barang Impor
Barang impor yang belum selesai kewajibannya dapat ditimbun di : 1. Tempat Penimbunan Sementara, atau
2. Gudang atau Lapangan Penimbunan milik importir setelah mendapat persetujuan dari Kepala Kantor Pabean.
2. Kewajiban Pengusaha Penimbunan
Segera setelah selesainya penimbunan, Pengusaha Tempat Penimbunan dimaksud wajib menyampaikan daftar kemasan atau peti kemas yang telah ditimbun kepada Kepala Kantor.
3. Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara/Gudang Penimbunan wajib Membayar Bea masuk, Cukai, dan Pajak dalam rangka impor berikut sanksi
administrasi dalam hal kedapatan jumlah kemasan/peti kemas kurang ditimbun dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan kekurangannya.
4. Terhadap kelebihan bongkar atau timbun hanya dikenakan sanksi administrasi. V. Pengeluaran Barang Impor
Tata laksana untuk pengeluaran Barang Impor dari Kawasan Pabean dengan Tujuan Untuk Dipakai adalah sebagai berikut:
1. Penyiapan PIB/PIBT
2. Importir menghitung sendiri Bea Masuk, Cukai dan Pajak dalam rangka impor (self assessment) yang harus dibayar
3. Terhadap barang impor berupa : Barang pindahan
Barang impor sementara yang dibawa oleh penumpang Barang impor melalui jasa titipan
Sarana angkutan laut dan udara
Barang impor tertentu yang ditetapkan oleh Dirjen Bea dan Cukai Pengeluarannya dari Kawasan Pabean untuk tujuan dipakai dilakukan dengan Pemberitahuan Impor Barang Tertentu (PIBT)
1. Pelunasan Bea Masuk, Cukai dan Pajak dalam rangka impor melalui Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pabean dilakukan dengan cara :
Pembayaran biasa Bank devisa persepsi atau Kantor Pabean akan memberikan bukti pembayaran dan memberikan nomor serta tanggal pembayaran pada bukti pembayarannya.
Pembayaran berkala Diberikan kepada importir yang telah memenuhi persyaratan tertentu untuk suatu periode tertentu.
Pengajuan PIB
1. Pengajuan PIB dapat dilakukan untuk setiap pengimporan atau secara berkala dalam periode tertentu kepada pejabat Bea dan Cukai
2. PIB dilampiri dengan dokumen pelengkap pabean dan bukti pembayaran Bea Masuk, Cukai dan Pajak dalam rangka impor.
3. PIB dan lampirannya diajukan kepada pejabat Bea dan Cukai untuk dilakukan pemeriksaan.
4. Pengajuan PIB dan lampirannya dapat dilakukan sebelum barang impor tiba di pelabuhan.
Pengajuan PIB (BC 2.0) dilakukan secara manual atau melalui komputer yang on-line dengan sistem PDE Kepabeanan. Sementara untuk pembayaran bea masuk, cukai dan PDRI dapat dilakukan dengan pembayaran biasa; atau pembayaran berkala (khusus importir jalur prioritas dan kemudahan PIB Berkala). Pembayaran oleh importir terlaksana di Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi,baik yang telah terhubung secara on-line dengan sistem PDE Kepabeanan maupun yang belum, atau di Kantor pabean dalam hal tidak terdapat Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi di kota/wilayah kerja Kantor Pabean atau dalam hal mengenai impor barang penumpang,awaksarana pengangkut atau pelintas batas.
Pemberitahuan Impor Barang diserahkan dalam bentuk hard copy dan disket yang didalamnya berisi data PIB
PIB EDI
Secara formal EDI didefinisikan oleh International Data Exchange
Association (IDEA) sebagai “transfer data terstruktur dengan format standard yang telah disetujui yang dilakukan dari satu sistem komputer ke sistem komputer yang lain dengan menggunakan media elektronik”.
EDI memiliki standarisasi pengkodean transaksi perdagangan, sehingga organisasi komersial tersebut dapat berkomunikasi secara langsung dari satu sistem komputer yang satu ke sistem komputer yang lain tanpa memerlukan hardcopy, faktur, serta terhindar dari penundaan, kesalahan yang tidak disengaja dalam penanganan berkas dan intervensi dari manusia.
Electronic Data Interchange adalah Pemindahan data secara elektronik antara 1 perusahaan maupun lebih. Electronic data Interchange membuat form standar yang termasuk dalam pembelian order suatu barang, penagihan serta kofnfirmasi yang lebih baik dari ASN. Electronic data interchange sangat penting untuk setiap industri baru, termasuk retail, health care, finansial,otomotif dengan penggunaannya untuk untuk setiap kegiatan operasional. Saat ini makin banyak industri yang mulai
memperhitungkan keuntungan untuk mengurangi cost dan menaikkan pelayanan dan kepuasan pelanggan dengan penggunaan aplikasi EDI.B. Prinsip Teknologi EDI
Prinsip dari teknologi EDI sebenarnya adalah menerjemahkan bahasa aplikasi dari sistim yang sama-sekali berbeda menjadi bahasa yang terstandarisasi, sebagai contoh dalam hal ini UN/EDIFACT yang merupakan singkatan dari United Nation Electronic Data Interchange for Administration, Commerce and Transport, disini bisa dilihat bahwa bahasa tersebut distandardisasi oleh PBB.
Teknologi EDI ini adalah teknologi ‘less investment’ dimana pelaku bisnis tidak perlu lagi membeli peralatan baru sebagai infrastruktur untuk pertukaran
Ketentuan Pengeluaran Barang Impor : Barang impor dengan tujuan untuk dipakai
1. Dapat dikeluarkan setelah dilakukan pemeriksaan pabean dan persetujuan pengeluaran barang oleh pejabat Bea dan Cukai.
2. Pemeriksaan pabean meliputi pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik barang. ( Pengeluaran melalui jalur hijau dan jalur merah).
3. Pemeriksaan fisik barang dilakukan secara selektif.
4. Barang impor berupa hasil tembakau dan MMEA yang dikemas untuk penjualan eceran hanya dapat dikeluarkan setelah dilekati tanda pelunasan atau pengawasan cukai (pita cukai).
VI. Standar Waktu Pelayanan
Pelayanan PIB sampai dengan penetapan jalur, paling lama 4 (empat) jam kerja sejak penerimaan PIB
Dalam hal jalur merah, pelaksanaan pemeriksaan harus dilaksanakan paling lambat 12 (dua belas) jam kerja sejak penerimaan PIB
Penerbitan SPPB paling lambat 48 (empat puluh delapan) jam kerja sejak penerimaan PIB.
VII. Penangguhan Pembayaran Bea Masuk, Cukai dan Pajak Dalam Rangka Impor
a. Persetujuan pengeluaran barang impor dengan penangguhan pembayaran Bea Masuk, Cukai, dan Pajak dalam rangka impor diberikan oleh Kepala Kantor Pabean apabila importir telah mengajukan :
1. PIB dan jaminan, atau
2. Dokumen pelengkap pabean dan jaminan.
b. Barang impor yang mendapatkan fasilitas penangguhan pembayaran meliputi barang impor:
2. Untuk keperluan penanggulangan keadaan darurat 3. Yang memerlukan pelayanan segera
4. Yang akan memperoleh fasilitas pembebasan atau keringanan Bea Masuk dan atau Pajak dalam rangka impor.
c. Jangka Waktu Penangguhan
1. Importir yang barang impornya telah mendapat persetujuan pengeluaran dengan penangguhan pembayaran, wajib menyelesaikan kewajiban yang dipersyaratkan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 60 hari sejak tanggal pendaftaran PIB atau dokumen pelengkap Pabean di Kantor Pabean.
Perpanjangan jangka waktu hanya dapat dilakukan atas persetujuan Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau pejabat yang ditunjuknya.
VIII. Klasifikasi dan Nilai Pabean
1. Atas permintaan importir, Dirjen Bea dan Cukai memberikan persetujuan pemberitahuan Nilai Pabean, dan/ atau
2. Penetapan klasifikasi barang impor sebelum importasi digunakan untuk penyiapan PIB dan penghitungan Bea Masuk, Cukai dan Pajak dalam rangka impor.
IX. Pengeluaran Barang Impor dari Kawasan Pabean dengan Tujuan TPB
IMPORTIR
2. BC 2.3 rangkap kesatu dan kedua yang telah diberikan nomor pendaftaran
diajukan kepada pejabat yang menangani manifest di Kawasan Pabean tempat barang impor dibongkar.
PEJABAT BEA DAN CUKAI YANG MENANGANI MANIFEST 1. Menerima BC 2.3 rangkap kesatu dan kedua
2. Melakukan penelitian atas BC 2.3 dan mencocokkannya dengan pos BC 1.1 yang ada padanya.
1. Apabila kedapatan tidak sesuai, BC 2.3 dikembalikan kepada importir yang bersangkutan
2. Apabila kedapatan sesuai, melakukan penutupan pada pos BC 1.1, selanjutnya memberikan persetujuan pengeluaran barang pada BC 2.3 rangkap kesatu dan kedua kepada pejabat yang mengeluarkan barang. PEJABAT YANG MENGELUARKAN BARANG
1. Menerima BC 2.3 rangkap kesatu dan kedua dari pejabat yang menangani manifest.
2. Melakukan pencocokkan identitas kemasan atau peti kemas yang tercantum di BC 2.3 dengan kemasan atau peti kemas yang bersangkutan.
3. Melaksanakan pengeluaran barang impor.
4. Menyerahkan BC 2.3 rangkap kesatu kepada pengangkut.
5. Mengirimkan kembali BC 2.3 rangkap kedua setelah diberikan catatan pengeluaran seperlunya kepada pejabat yang menangani manifest guna ditatausahakan sebagai arsip.
6. Pengangkut menerima BC 2.3 rangkap kesatu yang diserahkan oleh pejabat yang mengeluarkan barang untuk melindungi pengangkutan sampai di TPB yang bersangkutan.Pengawasan barang impornya dilakukan di bawah pengawasan Pabean.
X. Pengeluaran Barang Reimpor dari Kawasan Pabean
1. Barang Reimpor adalah :
2. Barang yang telah selesai diperbaiki, dikerjakan atau diuji di luar daerah pabean
3. Barang yang telah selesai digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan di luar daerah pabean
4. Barang yang telah selesai digunakan untuk keperluan pameran, pertunjukan atau perlombaan di luar daerah pabean.
2. Pengeluaran barang reimpor dilakukan dengan menggunakan PIB.
3. Pengeluaran barang impornya dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan pabean dan diberikan persetujuan pengeluaran barang oleh pejabat Bea dan Cukai.
XI. Verifikasi PIB
1. PIB yang telah diberikan persetujuan pengeluaran barang oleh pejabat Bea dan Cukai dilakukan verifikasi oleh pejabat Bea dan Cukai.
2. Verifikasi PIB harus telah selesai dilakukan selambat-lambatnya 2 tahun sejak tanggal pendaftaran PIB pada Kantor Pabean.
3. Hasil verifikasi PIB dijadikan sebagai kriteria untuk pelaksanaan audit di bidang kepabeanan.
XII. Ketentuan Lain-lain
1.
Penyerahan pemberitahuan pabean dilaksanakan dengan menggunakan media elektronik, kecuali kantor pabean yang belum tersedia sarana komputer.2.
Ketentuan teknis lebih lanjut diatur oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. E. Angka Pengenal Impor (API)Berdasarkan keputusan tesebut dan sesuai dengan lingkup usaha perusahaan dibidang Perdagangan/Industri diluar PMA/PMDN, penggolongan API dibedakan menjadi 2 (dua) jenis yaitu :
1. Angka Pengenal Impor – Umum (API-Umum)
Yaitu Izin Impor yang dikeluarkan dan diperuntukan kepada yang melakukan impor barang untuk keperluan kegiatan usaha dengan memperdagangkan atau
memindahtangankan barang kepada pihak lain (Non Industri). 2. Angka Pengenal Impor – Produsen (API-Produsen)
Yaitu izin impor yang dikeluarkan dan Khusus diberikan kepada importir (perusahaan Industri Non PMA/PMDN) yang melakukan impor barang untuk dipergunakan sendiri guna menunjang kegiatan industrinya, sebagai bahan baku dan bahan penolong.
Prosedur Permohonan:
Perusahaan mengambil dan mengisi formulir serta menandangani permohonan API serta menyerahkan kembali melalui Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota/Wilayah sesuai domisili perusahaan beserta persyaratan dan kelengkapannya.
Petugas dari Kantor Dinas perindustrian dan perdagangan kota/wilayah akan memeriksa, meneliti kelengkapan berkas serta melakukan pengecekan lapangan.
Setelah pengecekan selesai dan perusahaan memenuhi syarat, maka sertifikat API akan keluarkan.
Masa Berlaku:
API-Umum atau API-Produsen memiliki masa berlaku selama 5 (lima) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
1. barang impor sementara; 2. barang promosi;
3. barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan; 4. barang kiriman;
5. barang sebagai hibah, hadiah atau pemberian untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial, kebudayaan atau untuk kepentingan penanggulangan bencana alam;
6. barang yang merupakan obat-obatan dan peralatan kesehatan yang menggunakan anggaran pemerintah;
7. barang yang telah diekspor untuk keperluan perbaikan dan pengujian yang diimpor kembali dalam jumlah yang paling banyak sama dengan jumlah pada saat diekspor sesuai dengan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB);
8. barang ekspor yang ditolak oleh pembeli di luar negeri kemudian diimpor kembali dengan jumlah paling banyak sesuai dengan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB);
9. barang contoh yang tidak untuk diperdagangkan;
10. barang untuk keperluan instansi pemerintah/lembaga negara lainnya yang diimpor sendiri oleh instansi/lembaga dimaksud;
11. barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia;
12. barang untuk keperluan badan internasional beserta pejabatnya yang bertugas di Indonesia;