• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan Pembuatan Jalan Hutan (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perencanaan Pembuatan Jalan Hutan (1)"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN

PERENCANAAN PEMBUTAN JALAN HUTAN

Oleh:

MARTIN SIMBOLON CCA 110 023

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAN NASIONAL UNIVERSITAS PALANGKARAYA

FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN KEHUTANAN

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat tuhan yang maha esa atas segala

bimbingan dan rahmat-nyalah maka makalah berjudul Perencanaan Rencana Jalan Hutan sebagai salah satu tugas dari mata kuliah pembukaan wilayah hutan ini dapat penulis selesaikan dengan baik dan beberapa pihak yang telah membantu penulis

dalam menyelesaikan makalah ini sehingga dapat tersusun dengan semestinya.

penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini jauh dari kata sempurna.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk

perbaikan lanjutan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Palangakaraya, Maret 2014

(3)

iii

3.1 Perencanaan dan Pembuatan Jalan Hutan ... 13

3.2 Tikungan / Belokan ... 14

3.3 Teknik Pembuatan Jalan pada Tanah dengan Daya Dukung Rendah .. 15

3.4 Perkerasan Jalan ... 17

3.5 Jaringan Jalan di Daerah Berbatu ... 18

IV.PENUTUP ... 19

4.1 Kesimpulan ... 19

(4)

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Model I deal Pembukaan Wilayah Hutan. ... 6

Gambar 2. Cara Menghitung Jarak Sarad Rata-rata Sebenarnya ... 7

Gambar 3. Luas areal terbuka menurut Backmund (1966)... 9

(5)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembukaan wilayah hutan adalah salah satu kegiatan pengelolaan hutan

yang menyediakan prasarana/infrastruktur untuk melancarkan kegiatan

pengelolaan hutan, sehingga dapat terwujud pengelolaan hutan lestari (elias,

2007). Pembukaan wilayah hutan mempunyai fungsi untuk mempermudah

penataan hutan; mempermudah pengangkutan pekerja, peralatan, dan bahan-bahan

keluar masuk hutan; mempermudah kegiatan pembinaan hutan; mempermudah

kegiatan pemanenan hutan, penebangan, penyaradan, pengumpulan, dan

pengangkutan, serta mempermudah kegiatan hutan lainnya. Konsep pembangunan

PWH adalah dalam perencanaan, pelaksanaan pembuatan dan pemeliharaan

prasarana PWH harus memperhatikan aspek teknis, ekonomis, dan ekologis

secara terpadu dalam 4 bidang, yaitu:

- Perencanaan hutan,

- Penataan areal hutan,

- Pembukaan wilayah hutan, dan

- Pemilihan sistem pemanenan kayu.

Perencanaan hutan adalah suatu bagian proses pengelolaan hutan untuk

memperoleh landasan kerja dan landasan hukum agar terwujud ketertiban dan

kepastian hukum dalam pemanfaatan hutan sehingga menunjang diperolehnya

manfaat hutan yang optimal, berfungsi serbaguna dan pendayagunaan secara

lestari. Operasi di bidang kehutanan adalah merupakan kegiatan yang sangat

kompleks, hal ini memerlukan perencanaan yang matang dan banyak keputusan

harus diambil sebelum kegiata n yang dimaksud dilaksanakan. Perencanaan

jangka panjang harus dikembangkan jauh sebelum kegiatan dimulai, pengetahuan

tentang hasil inventarisasi dari sumber hutannya, keadaan topografi, kondisi tanah

dan lain sebagainya. Perencanaan ini harus menggaris bawahi tentang lokasi dari

(6)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 2

system logging yang akan diselenggarakan atau system lain yang diterapkan pada

pemungutan hasil hutan.

Pembuatan jalan hutan hendaknya ditinjau dari segi ekonomi dalam

hubungannya dengan kesulitan tentang kelerangan dan temporarinya penggunaan

jalan ini. Utamanya, diluar persoalan, dapat diberikan pelindung pada jalan ini

dengan penutupan oleh aspal atau semen yang sudah pasti memerlukan biaya

sangat besar. Perencanaan pembuatan jalan hutan tidak sama metodanya dengan

pembuatan jalan umum yang terkadang memakai metoda yang memerlukan biaya

sangat tinggi, tetapi juga tidak sama sekali mengesampingkan metoda itu. Jalan

hutan memerlukan keahlian khusus dan pengetahuan yang masak dari daerah yang

bersangkutandari seorang rimbawan. Keberhasilan suatu eksploitasi sangat

tergangtung kepada biaya pembangunan jalan hutan dan banyaknya jaringan jalan

untuk melayani angkutan log. Terdapat lima bagian yang perlu dipertimbangkan:

1. Manfaat jalan hutan, penggunaannya, bentuk permukaannya dan bentuk

melintangnya,

2. Manfaat pembuatan jalan hutan dengan cara pemadatan tanah, jenis tanahnya

dan komposisi lapisan dasarnya,

3. Penetapan arah jalan,

4. Proses pembangunan jalan: pembersihan wilayah, pengolahan tanah,

pemadatan, kemiringan, drainase dan pemeliharaan,

5. Masalah pemilihan alat kerja dan pemeliharaannya.

1.2. Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai tugas mata

(7)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 3

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep/Strategi PWH :

฀ PWH adalah suatu kegiatan di dalam pengelolaan hutan yang berusaha

menciptakan persyaratan-persyaratan yang lebih baik agar pengelolaan hutan

dapat lestari,

฀ Merupakan perpaduan teknik, ekonomis dan ekologis dari pembukaan dasar

wilayah hutan, pembukaan tegakan dan sistem penanaman, pemeliharaan,

penjarangan dan pemanenan.

Pada tahun 1970-an, PWH merupakan suatu kegiatan pembukaan jalan untuk

mengeluarkan kayu dari hutan, dimana pada saat itu :

฀ Belum ada usaha untuk mengusahakan agar hutan dapat lestari

฀ Menghasilkan kayu sebanyak-banyaknya dengan biaya sekecil-kecilnya

sehingga terjadi kerusakan hutan.

2.2. Perananan dan Fungsi PWH Perananan PWH :

฀ PWH secara keseluruhan merupakan persyaratan bagi kelancaran pelaksanaan

dan pengawasan dalam produksi hutan dan PWH bertugas menciptakan kondisi

yang lebih baik dalam pengelolaan hutan serta meningkatkan fungsi sosial dan

ekonomi dari hutan.

Fungsi PWH :

1. Mempermudah penataan hutan

฀ Membuat tata batas dalam dan luar hutan

฀ Tata batas dalam membagi areal hutan ke dalam blok-blok.

2. Mempermudah pengukuran pekerja, peralatan dan bahan-bahan keluar masuk

hutan.

3. Mempermudah kegiatan pembinaan hutan.

4. Mempermudah kegiatan pemanenan hasil hutan ) penebangan, penyaradan,

pengumpulan, pengnagkutan dan penimbunan)

(8)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 4 6. Mempermudah perlindungan hutan (terhadap kebakaran, serangan hama dan

penyakit hutan)

7. Memungkinkan hutan sebagai tempat rekreasi yang mudah dicapai.

8. Di daerah yang terisolasi/terpencil, PWH dapat merupakan bagian yang penting

dari infrastruktur daerah tersebut, bahkan dapat merupakan pionir pengembangan

hutan

2.3. Tingkat-tingkat PWH Ada 3 tingkatan PWH :

1. Pembukaan wilayah hutan yang menghubungkan areal hutan yang dikelola

dengan lalu lintas umum atau dengan industri kayu.

฀ Biasa juga disebut jalan koridor, yaitu jalan yang m’hubung’n jalan areal hutan

dengan lalu-lintas umum yang letaknya di luar wilayah hutan (acces road).

2. Pembukaan wilayah hutan yang menghubungkan bagian-bagian hutan dengan

jalan koridor.

฀ PWH ini dilakukan dengan jalan utama (main road)

3. Pembukaan wilayah hutan yang membuka bagian hutan dan

menghubungkannya dengan jalan utama.

฀ PWH ini dilakukan dengan membuat jalan cabang dan jalan ranting.

฀ Jalan cabang dan ranting untuk menghubungkan bagian dengan jalan utama.

Dengan adanya tingkatan PWH dapat dikatakan bahwa PWH merupakan

pembukaan wilayah bukan pembukaan titik.

฀ Pembukaan titik hanya menghubungkan 2 tempat saja.

Cirinya : standar jalan sama

฀ Pembukaan wilayah : membuka wilayah secara merata.

(9)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 5 Ciri khas pembukaan wilayah al :

1. Konsentrasi kendaraan akan mulai padat apabila keluar hutan.

2. Jarak angkut dalam hutan lebih pendek dibanding jarak angkut di luar hutan,

sehingga untuk mengangkut kayu di hutan muatannya yang lebih diperhatikan

bukan kecepatannya, bila di luar, kecepatan dan muatan harus diperhatikan.

฀ Kecepatan di jalan ranting : 4-8 km/jam

฀ Kecepatan di jalan cabang : 10-15 km/jam

฀ Kecepatan di jalan utama : 30-40 km/jam

฀ Kecepatan di jalan koridor : 40-50 km/jam

Jalan utama :

฀ Menghubungkan bagian-bagian hutan dengan areal luar hutan.

฀ Mempunyai standar tertentu (merupakan jalan permanen yang diperlihara

terusmenerus setiap tahun).

Jalan cabang :

฀ Menghubungkan bagian di dalam hutan dengan jalan utama

฀ Jalan ini kadang diperkeras, tergantung fungsinya.

฀ Diperlihara secara permanen/secara preriodik.

Jalan sarad :

฀ Menghubungkan individu pohon dengan jalan ranting/cabang/ utama

฀ Jalan tanah

฀ Standar teknik untuk jalan sarad lebih rendah dari jalan lainnya.

฀ Jarak angkut 300-400 m

2.4. Parameter Penilai PWH

Untuk mengetahui suatu jaringan jalan yang sudah ada atau yang direncanakan,

telah dikembangkan beberapa parameter penilai, yaitu :

1. Kerapatan jalan (WD)

2. Spasi jalan (WA)

3. Persen PWH (E)

(10)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 6 1. Kerapatan jalan

฀ Kerapatan jalan (WD) adalah panjang jalan rata-rata pada suatu areal

tertentu (m/ ha). Dimana :

L = jumlah panjang jalan yang terdapat pada suatu areal (m) F = luas areal produktif dalam suatu areal (ha)

2. Spasi/Jarak Jalan

฀ Spasi jalan (WA) adalah jarak rata-rata antar jalan angkutan yang dibangun

dalam suatu areal (m, hm).

Gambar 1. Model I deal Pembukaan Wilayah Hutan.

3. Jarak Sarad Rata-rata

Menurut Segebaden (1964) ada 3 jenis jarak sarad rata-rata :

a. Jarak sarad rata-rata terpendek dari model PWH yang ideal (REo).

b. Jarak sarad rata-rata terpendek yang sebenarnya di lapangan (REm).

c. Jarak sarad rata yang ditempuh di dalam penyaradan sebenarnya di lapangan

(11)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 7 Gambar 2. Cara Menghitung Jarak Sarad Rata-rata Sebenarnya

฀ Untuk mendapatkan jarak sarad rata-rata yang sebenarnya dari kerapatan jalan,

Segebaden (1964) menganjurkan memakai dua faktor koreksi, yaitu :

1. Faktor koreksi jaringan jalan :

Vcorr ini mengoreksi tata letak jalan di lapangan.

2. Faktor koreksi jalan sarad :

Tcorr ini mengoreksi jarak sarad, dimana kayu tidak disarad melalui jalan

terpendek ke jalan angkutan atau landing, melainkan melalui jalan yang lebih

panjang, karena adanya halangan-halangan di tengah jalan seperti kemiringan

lapangan, tanah tidak rata, tegakan dll.

฀ Gabungan kedua faktor koreksi tersebut di atas disingkat KG, yaitu faktor

pembukaan nilai hutan dimana :

(12)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 8

The image cannot be displayed. Your computer may not have enough memory to

open the image, or the image

may have been corrupted. Restart your computer, and then open the file again. If

the red x still appears, you may

have to delete the image and then insert it again.

FAO (1974), menyarankan agar di dalam pemanenan dan penangangkutan kayu di

antara tanaman di negara berkembang dipergunakan nilai KG sbb. :

฀ Untuk di daerah datar : KG = 1,6 – 2,0

฀ Untuk di daerah sedang dan berbukit : KG = 2,0 – 2,8

฀ Untuk di daerah pegunungan dan curam : KG = 2,8 – 3,6

฀ Untuk di daerah pegunungan dan sangat curam : KG >3,6

4. Persen PWH

฀ Persen PWH adalah persen keterlayanan/keterbukaan suatu wilayah hutan yang

disebabkan oleh pembuatan jalan (PWH).

Dimana :

Fer = areal hutan yang terbuka akibat pembuatan jalan (ha)

F = luas areal hutan yang dibuka dalam areal hutan produktif (ha)

฀ Cara menghitung % PWH :

a. Berdasarkan Backmund (1966)

(13)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 9 Menurut Backmund (1966) bahwa luas areal dibuka ada 3 macam :

1. Pembuatan jalan hutan diasumsikan membuka wilayah di kiri dan kanan jalan.

2. Lebar wilayah yang terbuka oleh pembuatan jalan = WA, artinya sebelah kanan

jalan

terbuka ½ WA dan sebelah kiri jalan terbuka ½ WA.

3. Luas total areal yang terbuka adalah jumlah luas total dari areal yang terbuka

dalam

jalur tadi (menjumlahkan luas jalur-jalur yang terbuka).

(14)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 10

Menurut Sachs (1968), dengan mengubah asumsi kedua :

Lebar areal yang terbuka di sebelah kiri dan kanan tersebut tidak bisa diukur

dengan

WA tetapi harus disesuaikan dengan teknologi yang dipakai dalam sub sistem

penyaradan.

฀ Lebar jalan yang dikiri dan kana tidak sama, tetapi berdasarkan topografinya.

฀ Naik lereng, jangkauan alat penyaradan kayu lebih pendek dan sebaliknya.

Gambar 4. Luas areal terbuka menurut Sachs (1968)

2.5. Pola Jaringan Jalan dan Tipe Jalan Hutan A. Pola jalan di daerah datar

1. Jalan-jalan sejajar menuju ke satu titik/pusat

2. Jalan-jalan angkutan sejajar menuju kesatu jalan induk dengan sudut antara

(15)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 11

3. Jalan-jalan angkutan sejajar menuju ke beberapa titik pusat.

4. Jalan-jalan sejajar menyudut dengan membelah blok hutan.

B. Pola Jalan di Daerah Pegunungan

1. Jalan-jalan hutan sejajar di daerah lereng yang panjang dihubungkan dengan

jalan sejajar menanjak.

2. Jika lereng sempit, maka teknik pembukaan wilayah hutan dua jalan yaitu jalan

(16)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 12

3. Jika lembahnya sedang digunakan pola jalan sejajar menuruni lereng

4. Pola jaringan acak dengan jarak dan arah yang tidak teratur/tak terencanakan

5. Pola jaringan jalan cincin. Bisa digunung atau cekungan besar yang dikelilingi

(17)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 13

III. PEMBAHASAN

1. Perencanaan dan Pembuatan Jalan Hutan

Jaringan jalan hutan direncanakan pertama pada peta topografi dan

kemudian kerjakan di lapangan dengan menggunakan kompas, klinometer, cat

atau kaset lesu (Parsakhoo et al., 2010) . Tidak seperti halnya jalan yang

dipergunakan untuk umum jalan hutan hanya melayani sedikit keperluan.

Intensitas lalu lintas yang jarang, kebanyakan lalu lintas satu arah, kadang-kadang

digunakan untuk menaikan kayu, jarang mempunyai daerah untuk berpapasan

kalau jalan itu digunakan dua arah, biasanya lalu lintas yang terjadi adalah truk

yang panjang dan berat. Pada pengusahaan hasil hutan, setiap jalan atau bagian

jalan, tidak mempunyai aturan seperti jalan umum. Sifat dari tiap bagian jalan

tergantung kepada fungsi dari jalan tersebut, yaitu melayani konsesi hutan

khususnya dalam hal eksploitasi.

Objek dari pekerjaan eksploitasi adalah pemindahan kayu hasil tebangan

ke tempat-tempat khusus atau tempat pelegoan, terkadang juga melayani kegiatan

lain di bidang kehutanan. Log yang terdekat, dihela ke tempat landing atau

semacam depot yang dapat dilalui oleh truk. Setiap tempat landing dihubungkan

oleh jalan tebang yang akan mengangkut kayu kemudian ke jalan yang lebih

besar, sampai ke tempat pelegoan berupa jalan umum atau sungai atau jalan rel

permanen.

Jalan untuk keperluan eksploitasi, secara umum dapat diklasifikasikan

sebagai berikut:

• Jalan Utama (main roads)

• Jalan cabang /anak jalan (secondary roads)

(18)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 14

Untuk setiap jalur jalan, profil dan irisan melintangnya perlu terlebih

dahulu direncankan, sifat-sifat khusus yang harus ditentukan antara lain: Peta dari

jaringan jalan, profil longitudinalnya, bentuk irisan melintangnya yang member

petunjuk tentang kedudukan tanjakan/turunan, penimbunan dan galian, tikungan

dan sebagainya. Jalan hutan, sebagaimana halnya jalan umum yang permukaan

diperkeras, merupakan struktur engineering; yang terdiri dari dua bagian: Lapisan

bawah (subgrade) dan lapisan lantai (pavement).

2. Tikungan/Belokan

Rute jalan hutan biasanya mengikuti keadaan daerahnya, menelusuri

sejajar kontur. Untuk mengikuti kontur tersebut tentu akan mengakibatkan jalan

sangat panjang dan tidak ekonomis. Dengan demikian jalan dapan melintasi

lembah ataupun puncak bukit agar jalan tidak terlalu panjan dan dapat menghemat

biaya/ekonomis. Hal ini menyebabkan jalan terlalu terjal atau curam, maka pada

lembah yang dilalui perlu dilaksanakan pengurungan atau penimbunan yang

bahannya dapat diperoleh dari puncak bukit yang digali karena terlalu tinggi.

Tikungan merupakan suatu busur lingkaran untuk menghilangkan

tajamnya sudut pertemuan antara dua garis lurus. Titik pertemuan antara dua garis

lurus di lapangan, ada yang bisa dicapai dan ada yang tidak. Titik yang bias

dicapai dilapangan sangat mempermudah pembuatan busur lingkaran tikungannya

karena dengan membagi dua sama besar sudut yang terbentuk dan menarik garis

baginya, pada garis inilah terletak titik pusat lingkaran dengan jarijari yang sangat

bervariasi besarnya.

Pembuatan tikungan/belokan (curve) harus direncanakan sesuai dengan

keperluan pemakai tikungan tersebut, yaitu menjamin keselamatannya. Terdapat

tiga (3) masalah yang perlu diperhatikan pada saat menikung:

a. Kestabilan kendaraan pada saat menikung,

b. Jarak pandang di tikungan,

(19)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 15

Selain perlu mempertimbangkan ke tiga factor diatas, perlu

dipertimbangkan pula keadaan yang memaksa pada suatu tikungan dibuat

tanajkan atau turunan,maka disini, selain gaya sentrifugal yang bekerja, juga gaya

grafitasi, yang mempengaruhi kestabilan kendaraan.

3. Teknik Pembuatan Jalan pada Tanah dengan Daya Dukung Rendah

Di suatu wilayah yang tanahnya hanya terdiri dari lempung (silt), liat

(clay) atau tanah organisasi (organic soils), dengan jumlah curah hujan yang

tinggi, diperlukan teknik khusus dari pembuatan jalan dalam rangka menjamin

kontinuita angkutan log dan pembukaan wilayah hutan.

a. Letak Jaringan Jalan Hutan

Di daerah berbukit-bukit dan lapangan curam, hendaknya di bangun jalan

paunggung (ridge roads), seandainya memungkinkan,atau jalan hendaknya

dibangun pada lereng tebing.Khususnya pada wilayah dengan kondisi yang sulit,

ketentuan dari kerapatan jaringan jalan, adalah paling penting.Kerapatan jaringan

jalan sangat tergantung kepada jarak rata-rata pengolahan (system

pengolahan,yang diterapkan, ekonomi yang optimum dari pengolahan dengan

menggunakan traktor ban baja, traktor ban karet, logging dengan cable-crane.

Letak umum dari jaringan jalan hutan, boleh direncanakan dengan melalui

potret udara atau peta dengan garis kontur. Apabila hal ini tidak memungkinkan,

dengan bantuan pemandangan keadaan topografi hasil survai, dapat pula

dilaksanakan. Dari hasil survai tersebut, tempat khusus dari keadaan lapangan,

misalnya : bentuk wilayah, tanah, aliran arus air, daerah bercadas/batu, erapatan

tegakan dan data lain yang diperlukan untuk menghasilkan lokasi optimum dari

jalan. Sesuai dengan perolehan informasi ini poros dari rute jalan hendaknya

digambar pada peta dan setelah disurvai lagi, jalur jalan yang paling tepat dapat

(20)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 16

b. Penebangan dan Operasi Pembersihan

Pada suatu wilayah dengan daya dukung tanah sangat rendah, setelah

penebangan pohon sepanjang jalur jalan, pembersihan dan pembuangan tonggak

dapat dilakukan dengan menggunakan crawler-tractor. Biasanya, lebar minimum

pembersihan mencapai 18 meter.

c. Penggusuran Tanah dan Pembentukan Lapisan Dasar

Tergantung kepada jumlah tanah yang digusur, penggusuran tanah dengan

menggunakan traktor berukuran 65 Hp. Diperlukan 10 – 20 hari untuk setiap

kilometer pembuatan lapisan dasar jalan. Di atas lapisan yang telah disiapkan tadi,

diletakkan beberapa kayu bulat dengan diameter tengah rata-rata 10 cm, dengan

panjang 4 meter, sebagai alas pada posisi memanjang arah jalan dan lapisan ke

dua diletakkan tegak lurus pertama. Log yang diameter tengahnya lebih besar,

dikupas dengan kampak dan kemudian diangkut dan disusun dengan tangan,

dengan jarak sejauh 5 meter dengan lebar 4 meter.

Selain menggunakan log pada lapisan dasar dengan daya dukung tanah

yang rendah, salah satu yang juga dapat digunakan adalah semacam lapisan yang

tidak bergelombang, khususnya untuk menjamin tidak terjadinya pencampuran

lapisan dasar dengan lumpur, tanah liat atau tanah yang berdaya dukung rendah.

d. Kerikil/Batuan Pemberian

Setelah bidang dasar dilapisi denga log atau lapisan berupa non-woven

fabric, selanjutnya dilapisi oleh batuan atau kerikil. Di negara berkembang,

penebaran batuan dengan tangan manusia kerapkali dilakukan dengan

pertimbangan factor ekonomi. Tetapi betapapun terakhir kalinya tetap diperlukan

mesin grader untuk menggilasnya. Penggilas ringan atau bulldozer dipergunakan

untuk memadatkan material pengerasan tadi langsung pada saat dump truck

menurunkan batuan yang berjalan sambil mundur pada jalan yang baru saja

(21)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 17

4. Perkerasan Jalan

Perkerasan jalan merupakan campuran antara agregat dan bahan pengikat

yang digunakan intuk melayani beban lalu lintas. Agregat yang dipakai adalah

batu pecah atau batu belah atau batu kali ataupun bahan lainnya. Bahan ikat yang

dipakai adalah aspal, semen ataupun tanah liat.

a. Jenis Konstruksi Perkerasan

Berdasarkan bahan pengikatnya kntruksi perkerasan jalan dapat dibedakan

atas :

• Konstruksi perkerasan lentur (flexible pavement), yaitu perkerasan yang

menggunakan aspal sebagai bahan pengikat. Lapisan-lapisan perkerasannya

bersifat memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar,

• Konstruksi perkerasan kaku (rigid pavement), yaitu perkerasan yang

menggunakan semen (portland cement) sebgai bahan pengikat. Pelat beton dengan

atau tanpa tulangan diletakkan diatas tanah dasar dengan atau tanpa lapis pondasi

bawah. Beban lalu lintas sebagian besar dipikul oleh pelat beton,

• Konstruksi perkerasan komposit (composite pavement), yaitu perkerasan kaku

yang dikombinasikan dengan perkerasan lentur dapat berupa perkerasan lentur

diatas perkerasan kaku, atau perkerasan kaku di atas perkerasan lentur.

b. Jenis dan Fungsi lapisan Perkerasan

Konstruksi perkerasan terdiri dari lapisan-lapisan yang diletakkan diatas

tanah dasar yang telah dipadatkan. Lapisan-lapisan tersebut berfungsi untuk

menerima beban dan menyebarnya ke lapisan di bawahnya. Beban lalu lintas yang

bekerja di atas konstruksi perkerasan dapat dibedakan atas:

1. Muatan kendaraan berupa gaya vertical

2. Gaya rem kendaraan berupa gaya horizontal

3. Pukulan roda kendaraa berupa getaran-getaran.

Karena sifat penyebaran gaya maka muatan yang diterima oleh masing-masing

lapisan berbeda dan semakin ke bawah semakin kecil. Lapisan permukaan harus

mampu menerima seluruh jenis gaya yang bekerja, lapisan pondasi atas menerima

gaya vertical dan getaran, sedangkan tanah dasar dianggap hanya menerima gaya

(22)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 18

5. Jaringan Jalan di Daerah Berbatu

Di wilayah hutan pegunungan, pembangunan jalan sangat sulit dilakukan,

karena jumlah batu-batuan yang lebih besar dari tanah yang ada. Pada wilayah ini,

sering dilakukan peledakan batu menggunakan jasa agen peledak dengan metode

tradisional seperti peledakan dinamit dan non-peledak. Kemudian buldoser dan

hidrolik excavator digunakan untuk menghilangkan batu yang sudah hancur.

Peledakan dilakukan secara non-eksplosif, yaitu peledakan batuan dilakukan di

dalam lubang dengan tujuan untuk perlindungan pohon-pohon di zona yang

berdekatan (Parsakhoo et al., 2010)

Menurut (Parsakhoo et al., 2010), Proses konstruksi jalan hutan dapat

dikelompokkan menjadi sepuluh langkah utama yaitu: (1) perencanaan jaringan,

(2) mentransfer jaringan dari rencana ke tanah, (3) pemetaan, pengolahan data dan

desain bagian, (4) rightof- cara penebangan, (5) perintis, (6) kanan dari arah

penebangan, (7) kliring dan bersifat buaya, (8) penggalian dan tanggul, (9) tanah

(23)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 19

IV. KESIMPULAN

Perencanaan hutan adalah suatu bagian proses pengelolaan hutan untuk

memperoleh landasan kerja dan landasan hukum agar terwujud ketertiban dan

kepastian hukum dalam pemanfaatan hutan sehingga menunjang diperolehnya

manfaat hutan yang optimal, berfungsi serbaguna dan pendayagunaan secara

lestari.

Pebuatan jalan dapat dilakukan pada daerah berawa, daerah dengan lereng

curam ataupun pada daerah berbatu, tetapi biaya yang dikeluarkan pastilah sangat

besar. Pembuatan jalan hutan hendaknya ditinjau dari segi ekonomi dalam

hubungannya dengan kesulitan tentang kelerangan dan temporarinya penggunaan

jalan ini. Utamanya, diluar persoalan, dapat diberikan pelindung pada jalan ini

dengan penutupan oleh aspal atau semen yang sudah pasti memerlukan biaya

(24)

MAKALAH PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN MARTIN SIMBOLON CCA 110 023 | 20

DAFTAR PUSTAKA

Elias, 2007. Modul 2. Pelatihan Pembukaan Wilayah Hutan, Fakultas Kehutanan,

Institut Pertanian Bogor, Bogor

Parsakhoo et al. 2010. Forest roads Planning and Construction in Iranian

Forestry.Department of Forestry, Faculty of Natural Resources,

Gambar

Gambar 1. Model Ideal Pembukaan Wilayah Hutan.
Gambar 2. Cara Menghitung Jarak Sarad Rata-rata Sebenarnya
Gambar 3. Luas areal terbuka menurut Backmund (1966)
Gambar 4. Luas areal terbuka menurut Sachs (1968)

Referensi

Dokumen terkait