• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Pemerintah Kota dalam Proses Regio

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peran Pemerintah Kota dalam Proses Regio"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fenomena globalisasi telah memperbarui pemahaman kita mengenai peran kota dalam sistem internasional. Setelah runtuhnya era Perang Dingin, kajian hubungan internasional pun kini mulai memfokuskan perhatian mereka kepada kemunculan aktor-aktor non-negara—di mana kota adalah salah satunya. Menurut Bontenbal dalam bukunya yang berjudul Cities as Partners: The Challenge to Strengthen Urban Governance through North-South City Partnership—setelah sebelumnya terjebak dalam pemahaman yang state-centric—saat ini para pengkaji hubungan internasional mulai menelaah peranan kota di dalam mengatasi sejumlah permasalahan global seperti penanggulangan kemiskinan, demokrasi, serta pencanangan Millenium Development Goals (MDGs). Selain itu, konsep seperti good governance juga menjadikan kota sebagai objek yang menarik untuk diteliti.

Selain itu, globalisasi telah menjadikan batas-batas relasi internasional menjadi kian kabur, dan sebagai hasilnya, aktor-aktor non-negara seperti kota pun mendapatkan porsi yang cukup signifikan pula di dalam proses transformasi sosial ini. Dalam konsep globalisasi, dapat kita temukan pula sebuah fenomena yang oleh Mareike Oldemeinen disebut sebuah stepping stone dari globalisasi, yakni regionalisme.1 Secara istilah, regionalisme dapat kita maknai

sebagai: “the impact of rising levels of regional social and economic exchange, and the links between economic integration, institutions, and identity.”2 Salah satu wujud regionalisme yang dapat diambil sebagai contoh adalah Uni Eropa. Sebagai sebuah institusi regional, Uni Eropa adalah satu-satunya yang telah mencapai tahap integrasi ekonomi—tahapan tertinggi dari regional economic integration setelah free trade area, customs union, dan common market.

Meskipun telah mencapai tahapan tertinggi dari regionalisme, Uni Eropa masih dihadapkan pada sejumlah permasalahan, khususnya mengenai ketimpangan pembangunan yang terjadi antara negara-negara di kawasan Eropa Barat (Britania Raya, Prancis, Jerman, dan sebagainya) dengan negara-negara transisi yang berasal dari Eropa Timur (kawasan Balkan dan

1 Oldemeinen, Mareike. “Does Regionalism Challenge Globalisation or Build on it?”. E-International Relations (daring) <www.e-ir.info/2010/05/13/does-regionalism-challenge-globalisation-or-build-on-it> diakses pada 20 Oktober 2013.

(2)

negara-negara ex-Yugoslavia). Di satu sisi, negara-negara di kawasan barat tersebut lebih terfokus kepada liberalisasi, sementara negara-negara di kawasan timur cenderung masih terfokus kepada bagaimana merevitalisasi asetnya agar dapat mengikuti perkembangan regional. Demi menyelesaikan dualisme pembangunan ini, Komisi Uni Eropa pun mencanangkan sebuah rencana pembangunan yang disebut sebagai Cohesion Policy, rencana ini diharapkan mampu mempermudah proses integrasi negara-negara transisi tersebut menuju pembangunan regional yang seragam.

Selain menganalisis perilaku kota di dalam menangani masalah internalnya, adalah suatu hal menarik pula untuk meneliti lebih lanjut bagaimanakah kota memiliki peran di dalam regionalisme. Dalam kasus ini, penulis akan mengangkat bagaimanakah peran kota Riga, Latvia, di dalam Cohesion Policy yang dicanangkan oleh Uni Eropa.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan penulis angkat dalam makalah ini adalah: “bagaimanakah pemerintah kota memegang peranan di dalam lingkup regional, berkaca dari kasus kota Riga, Latvia, dalam Cohesion Policy di Uni Eropa?”

1.3 Landasan Konseptual

Dalam menulis makalah ini, penulis menggunakan konsep multi-layered diplomacy sebagai landasan. Konsep ini menekankan kepada bagaimana diplomasi dalam level sub-negara mulai memainkan peran penting. Selain itu, konsep ini juga membahas bagaimana politik domestik memiliki linkage terhadap politik internasional, sebagai salah satu agen dari globalisasi.

(3)

1.4 Hipotesis

Penulis beranggapan bahwa pemerintah kota Riga tetap memiliki peranan di dalam Cohesion Policy, namun sebatas sebagai penerima kebijakan. Menurut penulis, negara tetaplah sebagai unit utama dari kebijakan regional, sehingga alur kebijakan yang terjadi adalah top-down ketimbang bottom-up. Komisi Eropa berlaku sebagai penyedia regulasi utama, sedangkan negara menerima kebijakan tersebut dengan melakukan penyesuaian dengan kondisi politik lokal, dan akhirnya kota hanya sekedar menerima kebijakan tersebut.

BAB II

(4)

Sejak terbentuknya Uni Eropa melalui Maastricht Treaty, organisasi ini dikenal sebagai sebuah organisasi regional yang multilayer dengan pemerintah regional, nasional, dan lokal (kota) sebagai penyusunnya.3 Sehingga, pemerintahan yang efektif diwujudkan lewat integrasi

yang kuat antara ketiga unsur penyusun tersebut.

Namun, Uni Eropa masih menghadapi sejumlah masalah, utamanya adalah pembangunan yang bersifat dualistik antara negara-negara di kawasan barat dan timur. Disebut sebagai dualistik, karena kedua kawasan ini memiliki fokus pembangunan yang berbeda. Di daerah barat —yang notabene memiliki kondisi perekonomian lebih stabil—pembangunan diarahkan kepada meningkatkan liberalisasi. Sedangkan, di kawasan timur—yang dihuni oleh mayoritas negara-negara transisi—pembangunan masih berkutat kepada bagaimana mereka membangun kembali perekonomian dari puing-puing, khususnya setelah runtuhnya rezim Uni Soviet pada akhir decade 1980-an.

Demi menanggulangi permasalahan ketimpangan ini, Uni Eropa memiliki sebuah mekanisme kebijakan untuk meratakan pertumbuhan di kawasan. Kebijakan tersebut bernama Cohesion Policy. Kebijakan ini bertujuan menghilangkan disparitas dengan membantu negara-negara dengan GDP kurang dari 90% Uni Eropa, sehingga dapat mempercepat pembangunan di kawasan.

Meskipun sejumlah negara—yang dahulunya dengan GDP di bawah 90% Uni Eropa— kini telah memiliki GDP di atas rata-rata karena menurunnya GDP Uni Eropa (akibat bertambahnya anggota), negara-negara tersebut masih memerlukan bantuan dari cohesion policy. Sehingga, negara-negara tersebut akan masih mendapatkan suntikan bantuan hingga 2013. Negara-negara yang tergabung di dalam kebijakan ini adalah Bulgaria, Siprus, Republik Ceko, Estonia, Yunani, Hungaria, Latvia, Lithuania, Malta, Polandia, Portugal, Romania, Slovakia and Slovenia.

Empat Prinsip Cohesion Policy:

 Concentration (sumber daya, usaha, penggunaan)

 Programming

 Partnership

(5)

 Additionality

2.2 Cohesion Policy dan Kebijakan Perkotaan

Di dalam Cohesion Policy 2014-2020, Uni Eropa juga menyertakan pentingnya kebijakan perkotaan yang berkelanjutan melalui cetakan proposal berjudul Integrated Sustainable Urban Development. Di dalam proposal ini, tercantum pula sebuah mekanisme pendanaan yang bernama European Regional Development Fund. Proposal ini dikeluarkan oleh Komisi Eropa pada Oktober 2011 menyusul Cohesion Policy 2014-2020. Adapun, sektor yang diwacanakan dalam proposal ini adalah:

1. Pembentukan strategi investasi yang terintegrasi

Sebagai sebuah prinsip, European Regional Development Fund (ERDF) harus mendukung pembangunan kota yang berkelanjutan melalui sejumlah strategi integratif yang mampu melampaui tantangan ekonomi, lingkungan, iklim and sosial dari sebuah kota (Article 7, paragraph 1 of the proposed ERDF regulation). Arti dari prinsip ini adalah: ia menekankan bahwa segenap sumber daya harus dikonsentrasikan secara integratif kepada area-area target dengan tantangan yang spesifik; dan dalam waktu yang sama, bahwa program-program yang didanai ERDF harus diintegrasikan kepada tujuan program yang lebih luas. Anggota negara Uni Eropa juga harus menggunakan European Social Fund (ESF), dalam sinergi dengan ERDF, untuk mendukung sektor-sektor yang terkait dengan lapangan pekerjaan, pendidikan, kapasitas kelembagaan, sehingga mampu diimplementasikan dalam strategi yang integratif.

2. Pendanaan yang terjamin untuk pembangunan kota yang berkelanjutan

Setidaknya 5% dari dana ERDF yang dialokasikan untuk negara anggota harus diinvestasikan dalam proyek integratif. Program pembangunan berkelanjutan ini diimplementasikan lewat Integrated Territorial Investment (ITI), dengan manajemen dan implementasi yang didelegasikan kepada masing-masing pemerintah (Article 7 paragraph 2 of the proposed ERDF regulation). Bentuk dan tingkat pendelegasian manajemen kota ini bisa berbeda berdasarkan penyusunan kelembagaan dari negara-negara anggota. Kota-kota yang mengimplementasikan aksi ini harus dilibatkan di dalam daftar yang menyertai kontrak kerjasama dan program operasional (Article 87, paragraph 2 [c]). Daftar-daftar ini harus menyeluruh, meskipun dapat dimodifikasi selama berjalannya program.

(6)

Berdasarkan daftar kota yang diajukan oleh negara-negara anggota, komisi akan mendirikan Urban Development Platform yang terdiri dari 300 kota dari seluruh Eropa, yang akan memicu dialog yang lebih policy-oriented tentang urban development di antara kota-kota dalam level Uni Eropa—khususnya Eropa secara keseluruhan. Urban Development Platform sendiri bukanlah bagian dari pendanaan, melainkan lebih kepada sebuah mekanisme agar kontribusi tiap kota terhadap cohesion policy lebih nampak. Landasan ini juga diharapkan mampu memfasilitasi aksi-aksi inovatif bagi perkembangan berkelanjutan, sehingga hasil yang dicapai lebih maksimal. (Article 8 of the proposed ERDF regulation)

4. Proyek-proyek berbasis perkotaan yang inovatif

ERDF dipersilakan untuk mendukung proyek-proyek inovatif dengan alokasi dana 0,2% dari total. Ini bertujuan untuk mengajak para anggota untuk lebih memikirkan solusi terhadap permasalahan kota. Wacana-wacana yang diajukan harus berupa proyek pelopor yang terkait dengan studi Eropa. Lingkup program dapat juga mencakup segala tema dan prioritas investasi. (Article 9 of the proposed ERDF regulation).

5. Fokus yang lebih dalam terhadap pembangunan kota pada level strategis

Berdasarkan aturan dari Common Strategic Framework (CSF), kontrak kerjasama harus disusun sedemikian rupa. Hal ini untuk mewujudkan pendekatan yang integral atas pemakaian dana CSF untuk program pembangunan berkelanjutan. Program-program operasional juga harus disusun untuk memastikan terintegrasinya pembangunan teritorial, termasuk pembangunan area urban (Articles 11, 14, and 87 of the proposed Common Provisions for CSF Funds 2014-2020). Diharapkan juga bahwa pendekatan ini secara dekat terhubung kepada kebutuhan spesifik area— misalnya kemiskinan, diskriminasi, dan sebagainya.

6. Peningkatan sarana untuk menjamin aksi yang terintegrasi

Untuk hal ini, Uni Eropa memiliki The Integrated Territorial Investment (ITI). Hal ini adalah sebuah metode pendanaan baru bagi sejumlah prioritas program operasional yang bersifat multidimensi dan lintas-sektoral. ITI adalah sebuah alat yang ideal untuk mendukung aksi regional yang integratif, karena ia menawarkan kemungkinan untuk menggabungkan pendanaan yang berkaitan dengan target proyek berbeda. Dalam hal ini termasuk juga gabungan dana dari program yang didukung oleh ERDF, ESF, dan Cohesion Fund. (Article 99 of the proposed Common Provisions for CSF Funds 2014-2020).

(7)

Tujuan-tujuan yang ditargetkan oleh Cohesion Funds memiliki prioritas investasi yang terkait dengan pembangunan berkelanjutan (Article 5 of the proposed ERDF regulation). Sangat disarankan bagi kota-kota untuk menggabungkan aksi-aksi yang didukung oleh aksi investasi sektoral (misal: mencanangkan low-carbon strategies bagi wilayah kota, meningkatkan lingkungan perkotaan, mencanangkan mobilitas kota yang minim polusi, dan membantu regenerasi bagi kota yang dilanda keterpurukan) dan menanamkannya di dalam strategi tata kota dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (Article 7 paragraph 1 of the proposed ERDF regulation). Pemerintah kota dapat juga menggabungkan proyek ini dengan proyek investasi yang didanai oleh ESF. (listed under Article 3 of the proposed ESF regulation)

8. Himbauan penggunaan instrumen keuangan dalam sektor pembangunan perkotaan Para negara anggota sangat disarankan untuk memaksimalkan anggarannya untuk mempromosikan pembangunan kota berkelanjutan. Lingkup dalam hal iniharus luas, dan mencakup semua tujuan-tujuan objektif dari tema program dan prioritas investasi. Tak terkecuali pula dengan mempertimbangkan pihak terlibat, proyek, and aktivitas yang terjadi di dalamnya (Articles 32-40 of the proposed Common Provisions for CSF Funds 2014-2020).

9. Kesempatan memperluas jaringan

Di bawah tujuan-tujuan yang telah ditentukan European Territorial Cooperation (ETC), terdapat pula program pertukaran dan pembelajaran bagi kota-kota. Hal ini akan terus membuka kesempatan mereka untuk memperluas jaringan. Tujuannya adalah untuk membagi serta mengembangkan praktik-praktik pembangunan kota yang telah sukses (Article 2 of the proposed ETC regulation).

2.3 Posisi Pemerintah Regional, Pusat, dan Kota

(8)

.

Figur 1.0: Alur kebijakan dalam Cohesion Policy

1. Pada level regional, Komisi Uni Eropa—melalui ERDF—mematok sejumlah regulasi mengenai bagaimana negara-negara anggota mengelola program mereka. Hal ini termasuk pula mengenai bagaimana mereka mendistribusikan dana pembangunan tersebut kepada negara yang bersangkutan.

2. Pemerintah nasional memiliki peran dalam mengotorisasi program, yang sebelumnya telah dikonsultasikan terlebih dahulu agar sesuai dengan kebijakan regional dari Komisi Uni Eropa. Kemudian, mereka juga memiliki kewenangan untuk mengelola dana proyek dengan Holding Fund Manager (HF).

3. Setelah penggunaan dana telah disinergiskan dengan program yang diwacanakan oleh pemerintah dalam level negara, maka dana tersebut kini siap untuk diberikan kepada pemerintah kota dalam bentuk Urban Development Fund.

4. Pada level yang paling rendah—yakni level lokal—otoritas perkotaan memiliki wewenang untuk mengimplementasi proyek, yang—menurut kebijakan regional Uni Eropa—disebut sebagai The Sustainable Urban Development Plan.

BAB III

STUDI KASUS: RIGA4

4 EU Regional Policy. A Former Soviet Military Base Turns into the City’s Cultural Scene –

(9)

3.1 Latar Belakang Proyek

Latvia adalah sebuah negara yang terletak di kawasan Balkan. Negara ini juga merupakan salah satu bekas negara bagian yang membentuk Uni Soviet. Sebagai negara yang tergolong tengah mengalami transisi, Latvia tergolong ke dalam negara yang mendapatkan asistensi di dalam Cohesion Policy. Proyek ini bertujuan merevitalisasi area Maskavas, Krasta, dan Turgeneva di kota Riga yang sebelumnya tak terjamah. Selain itu, proyek ini menargetkan pula revitalisasi kawasan pinggiran sungai Daugava, dengan menjadikannya ruang publik untuk budaya, pendidikan, dan hiburan bagi penduduk maupun pendatang kota Riga. Pada era Soviet, daerah ini digunakan sebagai markas dari tentara Soviet. Seiring dengan runtuhnya Uni Soviet, kawasan ini pun akhirnya terabaikan. Setelah Latvia memerdekakan diri pada 1991, kawasan ini akhirnya menjadi sebuah aset negara dan sebagian darinya digunakan oleh pemerintah Riga sebagai pasar malam. Pada waktu yang sama, sebagian besar gudang yang terdapat di sana diswastanisasi, dan perlahan direnovasi oleh pemilik barunya.

Proyek ini memfokuskan pada pemulihan infrastruktur kawasan tersebut, yang oleh warga setempat disebut sebagai Blok Spikeri. Dua tujuan dari proyek ini adalah: (1) membangun desain teknis bagi pemulihan kawasan; serta (2) merekonstruksi kembali blok tersebut dengan menghancurkan bangunan-bangunan liar dan pagar-pagar yang melingkarinya, kemudian membangunnya lagi dari awal. Semua tujuan ini diarahkan kepada pemulihan fungsi Blok Spikeri sebagai tempat yang aman dan menarik. Sebagai tambahan, proyek ini juga mewacanakan rekonstruksi dari pinggiran sungai Daugava yang terletak tak jauh dari blok ini, demi meningkatkan aksesibilitasnya.

Proyek ini secara umum didasarkan kepada Rencana Pembangunan Kota Riga pada 2025, serta Proyek Pengembangan Kota Riga pada periode 2010-2013 secara spesifik. Keduanya sejalan terhadap proyek branding Riga: “Riga, City of Opportunities”. Dalam dokumen proyek, disebutkan pula bahwa Blok Spikeri merupakan kawasan yang paling memerlukan perbaikan; di sisi lain, ia juga merupakan kawasan yang paling potensial akan pembangunan.

Di samping wacana pembangunan kota, para mitra swasta dari proyek revitalisasi Blok Spikeri juga telah mengelaborasi strategi untuk pembangunan lebih lanjut hingga tahun 2030, sambil menggarisbawahi sejumlah tujuan di bawah:

1. Mempromosikan Blok Spikeri sebagai pusat budaya serta industri kreatif kepada dunia internasional;

(10)

3. Mengembangkan lingkungan yang berkualitas tinggi untuk kegiatan bekerja, bersosialisasi, budaya, olahraga, hiburan untuk anak dan kaum muda, serta rekreasi;

4. Mengembangkan pariwisata di kawasan Blok Spikeri.

3.2 Implementasi

Proyek ini dikembangkan oleh Pemerintah Kota Riga. Proyek ini diwacanakan sebagai Rencana Pembangunan Kota Riga pada 2012-2013, sebagaimana pula tercantum di dalam Rencana Teritorial 2006-2018 yang lebih long-term. Proyek ini sendiri secara jelas sejalan dengan landasan-landasan tersebut.

Proyek dimulai pada 2005, ketika Pemerintah Kota Riga bertemu dengan para stakeholder swasta demi membahas revitalisasi. Tanah Blok Spikeri dimiliki oleh pemerintah, nemun, bangunan dan toko-toko yang ada di sana merupakan hak milik dari perusahaan bernama Spikeri. Seiring waktu, Spikeri bergabung dengan pihak swasta lainnya untuk membentuk suatu organisasi bernama “Rigas Spikeri” yang mengakomodasi kepentingan-kepentingan dari sektor swasta terkait pembangunan blok tersebut.

Pada 2006, Rigas Spikeri mengorganisasi kompetisi berskala internasional untuk mencari solusi perkotaan terbaik untuk Blok Spikeri. Akhirnya, sebuah perusahaan Norwegia bernama Snøhetta muncul sebagai pemenang, melalui proposal kebijakannya yang berjudul “Perserve Everything! Demolish Nothing!” Proposal ini lolos sebagai pemenang setelah menyisihkan tujuh kompetitor lainnya. Adapun, penjurian dilakukan oleh oleh perwakilan sektor swasta, departemen perencanaan kota, kepala arsitek Pemerintah Kota Riga, dan Departeman Perlindungan Cagar Budaya Republik Latvia. Di samping itu, sebuah survey menyatakan bahwa 92% warga Riga mendukung proyek pembangunan ini.

(11)

Pada 2010, proyek ini dinyatakan oleh Pemerintah Kota Riga dengan pengumpulan proposal pendanaan ERDF yang akhirnya disepakati oleh Kementerian Pembangunan Regional dan Pemerintah Lokal Republik Latvia.

Proyek ini berjalan dengan cukup mudah, disebabkan dua faktor: pertama, karena setiap elemen kota telah memahami pentingnya Blok Spikeri bagi masyarakat, dan tidak ada sengketa hukum terhadap tanah di Blok Spikeri; kedua, karena proyek ini sepenuhnya didukung lewat partisipasi aktif dari pihak swasta sejak awal.

3.3 Proses Monitoring

Manajer proyek dan wakil-wakilnya adalah para pegawai dari Pemerintah Kota Riga. Mengingat skala proyeknya yang demikian besar, para staf berpengalaman pun dipilih untuk mengembangkan dan mengimplementasi proyek ini. Namun, selama periode proyek, manajer ini harus digantikan oleh wakilnya, dan wakil-wakil baru pun direkrut kembali agar sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Riga.

Secara keseluruhan, pembangunan Blok Spikeri tidak melibatkan seorangpun pegawai kontrak. Baik sektor publik maupun swasta di kawasan Blok Spikeri berkolaborasi di dalam mengembangkan dan mengimplementasi aktivitas proyek. Meskipun demikian, pimpinan dari peak organization Rigas Spikeri, yang juga merupakan pemilik dari sebagian besar bangunan di Blok Spikeri, merupakan manajer yang paling aktif di dalam proses pembangunan.

Steering group dari proyek ini terdiri dari tiga perwakilan dari berbagai macam unit dalam Pemerintah Kota Riga: Departemen Pembangunan Kota (bertanggung jawab atas implementasi proyek); Badan Eksekutif Riga Timur (bertanggung jawab atas hasil proyek setelah penyelesaian); dan Komite Pembangunan Kota (memastikan adanya hubungan dengan pemerintah kota di tataran politik). Manajer proyek melaporkan kepada kelompok ini tiap enam bulan. Pembangunan terintegrasi ini dijamin dengan adanya komunikasi antara pihak publik dan swasta. Rigas Spikeri juga mengadakan rapat tiap enam bulan, di mana para mitra swasta dapat memperoleh kabar terbaru mengenai proyek ini

(12)

Monitoring terintegrasi dari proyek ini melibatkan Pemerintah Kota Riga, Kementerian Budaya Latvia, para pemilik bangunan dan pengusaha di Blok Spikeri, pandangan dari para pengunjung dan penduduk, pakar, serta data-data statistik pendukung.

Pembangunan Blok Spikeri melibatkan relasi publik-swasta lewat Pemerintah Kota Riga —mewakili kota, dan Rigas Spikeri selaku perwakilan dari kepentingan swasta. Karena Blok Spikeri akan digunakan sebagai pusat kebudayaan, dengan branding Riga sebagai Ibukota Budaya Eropa pada 2014, Kementerian Budaya Latvia juga telah terlibat di dalam kerjasama yang tertulis di dalam protocol kerjasama antara Pemerintah Kota Riga dan pihak mereka. Sebagai tambahan, para arsitek, yang terlibat di dalam pembangunan Blok Spikeri lewat seminar pada 2006 hingga 2008, juga dapat dianggap sebagai elemen yang lebih luas terhadap proses kerjasama, dengan kontribusi mereka dalam analisis serta ide mengenai tata ruang Blok Spikeri.

BAB IV ANALISIS

4.1 Multilayer Diplomacy

Dari pemaparan-pemaparan di atas, dapat kita peroleh pemahaman, bahwa pembagunan perkotaan merupakan salah atu fokus dari Cohesion Policy. Hal ini tercermin dari sejumlah atrikel Cohesion Policy yang menekankan pentingnya melaksanakan pembangunan berbasis perkotaan. Dengan kata lain, Uni Eropa beranggapan bahwa integrasi regional dapat dimaksimalkan apabila peran lokal dapat dimaksimalkan pula.

(13)

Kemudian, di level nasional—mengingat masih kuatnya national interest dari tiap-tiap negara di Uni Eropa dalam mengambil kebijakan—maka peran regional di sini adalah melimpahkan kewenangan yang cukup signifikan, seperti memberikan kewenangan mengelola proyek serta memonitornya, selama hal itu masih sejalan dengan regulasi-regulasi Cohesion Policy yang dicanangkan oleh Komisi Eropa. Dari aspek pendanaan, negara juga memiliki wewenang untuk memegang dana ERDF yang kemudian didistribusikan lewat pemerintah lokal, berdasarkan proposal yang dinilai sejalan dengan proyek nasional.

Apabila kita berkaca dari studi kasus Blok Spikeri di Riga, maka hal ini dapat kita tarik relevansinya secara jelas. Revitalisasi Blok Spikeri adalah sebuah proyek yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Riga berdasarkan rencana pembangunan lokal setempat, yang kemudian diajukan ke level nasional sebagai sebuah proyek ERDF. Akhirnya, pemerintah Latvia melalui Kementerian Pembangunan Regional dan Pemerintahan Lokal pun mengesahkannya sebagai program nasional. Demi mencapai kesepakatan, tentu saja program ini harus mengikuti standar yang ditetapkan oleh Komisi Eropa, khususnya mengenai sustainable urban development plan yang menjadi landasan utama tiap proyek.

4.2 Government Triangle

Setelah sebelumnya penulis memaparkan bagaimana terjadi fenomena multilayer diplomacy di dalam kasus Blok Spikeri, kini kita beranjak kepada bagaimana tiga unsur pemerintahan tersebut (regional, nasional, dan lokal) saling berinteraksi di dalam sistem.

Dari studi kasus di atas, dapat kita perhatikan bahwa governance triangle yang terjadi dalam sistem Cohesion Policy Uni Eropa tidaklah sempurna. Pada relasi antara pemerintahan regional dan nasional, kita dapat menemukan adanya relasi dua arah. Sedangkan, relasi yang serupa tidak kita temui dalam tingkatan regional dengan lokal, karena tidak ada alur timbal balik dari pemerintah lokal kepada regional. Secara ringkas dapat kita lihat pada figur di bawah:

A B

13 Regional (Uni

Eropa) A: Konsultasi danpengajuan proyek.

(14)

C D

Figur 2.0: Government Triangle Kasus Riga

Pada figur di atas, dapat kita lihat bahwa terjadi government triangle yang terputus pada relasi regional dengan lokal. Peran pemerintah lokal terhenti pada level nasional, di mana ia hanya berkewenangan untuk melakukan pengajuan proposal proyek pembangunan lokal. Setelah itu, proposal baru akan disahkan oleh Komisi Eropa melalui kementerian nasional yang terkait. Sehingga, dapat kita simpulkan bahwa peran pemerintah lokal pada kasus ini hanya berperan sebagai pengaju, sekaligus pelaksana proyek yang bersifat pasif terhadap kebijakan regional.

BAB V KESIMPULAN

Fenomena globalisasi telah memunculkan tren baru, salah satunya adalah memudarnya batas-batas negara dalam melakukan relasi. Hal yang juga muncul sebagai stepping stone dari globalisasi adalah kesadaran tiap negara untuk berinteraksi dalam sebuah region, yang kemudian dapat kita sebut sebagai fenomena regionalisme.

Selain regionalisme, globalisasi juga menghadirkan pula aktor-aktor non-negara seperti individu, non-governmental organizations (NGO), multinational corporations (MNC), dan jaringan-jaringan advokasi transnasional. Selain aktor non-negara, ada pula aktor lokal sub-negara seperti pemerintah kota. Peran kota dapat kita kaji dalam regionalisme, khususnya mengenai bagaimana ia berinteraksi dalam lingkup regional yang jauh lebih besar.

(15)

empat tahapan integrasi regional. Pada tingkatan Uni Eropa, terdapat kebijakan Cohesion Policy yang dimaksudkan untuk mempercepat integrasi regional—khususnya bagi negara-negara transisi. Di kebijakan ini, kota disebutkan pula sebagai salah satu elemen penting, melalui mekanisme yang dinamakan Integrated Sustainable Urban Development.

Sebagai salah satu negara yang tercakup dalam Cohesion Policy, Latvia turut ambil bagian di dalam mekanisme ini. Kota Riga, yang diproyeksikan sebagai sebuah kota budaya, dipromosikannya sebagai penerima dana asistensi pembangunan (ERDF) melalui proyek revitalisasi Blok Spikeri, sebuah kawasan yang merupakan bekas markas tentara Soviet. Riga pun akhirnya lolos sebagai penerima dana ERDF, setelah proposalnya diterima oleh pemerintah Republik Latvia dan diajukan ke Komisi Eropa. Hal ini menunjukkan adanya wujud multilayer diplomacy di dalam Cohesion Policy ini.

Apabila ditinjau dari alur kebijakan, maka peran kota dalam revitalisasi Blok Spikeri ini hanyalah sebatas pengaju dan pelaksana proyek, di mana fungsi monitoring dan pendanaan sepenuhnya ada di tangan pemerintah Latvia. Menurut konsep government triangle, maka hal ini mengindikasikan relasi yang tidak sempurna antara ketiga level pemerintahan—regional, nasional, dan lokal. Di satu sisi, relasi antara level regional dan nasional telah terjadi secara sempurna, dengan adanya alur kebijakan yang timbal balik antara keduanya.

Hal ini mengindikasikan, bahwa di tingkatan regionalisme tertinggi pun, rupanya peran bottom-up kota dalam pengambilan kebijakan pembangunan masih belum terlihat. Penulis berpendapat, mungkin saja peran kota dalam hal ini masih dianggap sebagai perpanjangan tangan dari pemerintahan nasional.

(16)

BIBLIOGRAFI

Oldemeinen, Mareike. “Does Regionalism Challenge Globalisation or Build on it?”. E-International Relations (daring) <www.e-ir.info/2010/05/13/does-regionalism-challenge-globalisation-or-build-on-it> diakses pada 20 Oktober 2013.

Hurell, Andrew. “One World? Many Worlds? The Place of Regions in the Study of International Society”. International Affairs; Vol 83, No.1 (2007); p.130

Dinnie, Keith. 2011. City Branding: Theory and Cases. New York: Palgrave McMillan

Schneider-Sliwa, Rita (ed). 2006. Cities in Transition: Globalisation, Political Change, and Urban Development. Springer.

(17)

Taylor, Peter J. dkk. 2007. Cities in Globalization: Practices, Policies, and Theories. Oxon: Routledge.

Yuana, Suci Lestari. Local Governments in EU and ASEAN. 2013.

EU Regional Policy. A Former Soviet Military Base Turns into the City’s Cultural Scene – Riga, Latvia. <<www.europa.eu/regional_Policy/projects/practices/details.cfm? sto=2679&pay=all&region=all&obj=all&lan=7&defL=EN&the>

Referensi

Dokumen terkait

22 Juli 2015, maka Pokja ULP Koordinator Wilayah di Empat Lingkungan Peradilan Propinsi Sumatera Uatara mengumumkan pemeang pada paket pekerjaan

Simpulan penelitian ini adalah kompetensi guru di SDN 2 Banda Aceh dalam perencanaan pembelajaran, sudah terlihat dari cara guru merencanakan dan menyusun Rencana

Atribut yang termasuk pada kategori ini yaitu: keluhan dan saran ditanggapi dengan baik, kondisi suhu ruangan nyaman, kondisi ruangan tenang, pegawai layanan siap

Pertunjukan mamanda memiliki nilai budaya yang sangat tinggi, di samping sebagai media hiburan, yakni mamanda juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat.Oleh sebab

Kesejahteraan, pemerintah mengeluarkan biaya juga untuk kegiatan kesejahteraan yang terdiri dari pensiun, subsidi untuk berbagai macam barang dan maksud, bantuan pad a

Pengaruh negatif diversi antara lain sebagai berikut: tindak pidana yang dilakukan anak tersebut ancaman pidananya dibawah 7 tahun dan dilakukan diversi terhadapnya, maka

Retribusi terminal yang selanjutnya dapat disebut retribusi adalah pembayaran atas pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan bus umum, tempat

Dengan demikian, soal pemecahan masalah ditinjau dari kemiripan dengan soal sebelumnya diperoleh soal dengan tingkat kesulitan mudah sebanyak 181 soal dimana soal