(Studi Deskriptif Tentang Persepsi Mahasiswa Terhadap Iklan Politik Aburizal Bakrie di Media Televisi TV ONE Pada Mahasiswa Komunikasi Non Reguler
Universitas Sebelas Maret Surakarta Tahun 2011)
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Ilmu Komunikasi
Disusun Oleh : RINTIS TRI HARTANTO
NIM. D1211067
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Penguji Skripsi Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta
Menyetujui
Pembimbing I
Drs. Dwi Triyanto, SU NIP. 19540414 198003 1007
Pembimbing II
Drs. Kandyawan NIP. 19610413 199003 1 002
Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta, pada:
Hari : Kamis
Tanggal : 5 Juni 2014
1. Drs. Mursito, S.U. Ketua
NIP. 19530727 198003 1 001
2. Drs. Aryanto Budhy S., M.Si Sekretaris
NIP. 19581123 198603 1 002
3. Drs. Dwi Triyanto, S.U. Penguji I
NIP. 19540414 198003 1 007
4. Drs. Kandyawan Penguji II
NIP. 19610413 19003 1 002
Dekan
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Prof. Drs. Pawito, Ph.D. NIP 195408051985031002
kesuksesan yang kita inginkan. (Penulis)
Kerjakanlah bagian kita dengan setia, dan lihatlah, Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya sempurna
(Penulis)
Karya ini khusus dipersembahkan untuk : 1. Tuhan Yang Esa yang telah menciptakan
dan memberiku kesempatan untuk menikmati kehidupan yang penuh warna warni
2. Ayah dan Ibunda atas dukungannya selama ini.
3. Keluargaku, yang aku sayangi.
4. Bapak dan Ibu Dosen yang telah membimbingku.
5. Almamaterku.
berkat-Nya, karena atas kehendak-Nya, skripsi dengan judul : “PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP IKLAN POLITIK ABURIZAL BAKRIE PADA MEDIA TELEVISI TV ONE (Studi Deskriptif Tentang Persepsi Mahasiswa Terhadap Iklan Politik Aburizal Bakrie di Media Televisi TV ONE Pada Mahasiswa Komunikasi Non Reguler Tahun 2011)” terselesaikan.
Penyelesaian skripsi ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak dan pada kesempatan kali ini penulis hendak menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Drs. Pawito, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Drs. Dwi Triyanto, SU selaku pembimbing I yang telah memberi dukungan, nasehat dan bimbingannya dalam penulisan skripsi.
3. Drs. Kandyawan selaku pembimbing II yang selalu berkenan memberikan masukan dan saran demi perbaikan skripsi.
4. Seluruh dosen dan karyawan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.
5. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu dan mendukung dalam penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Surakarta, Mei 2014
Penulis
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
ABSTRAK... xi
ABSTRACT ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 3
D. Manfaat Penelitian ... 3
E. Telaah Pustaka ... 3
1. Tinjauan Umum Tentang Persepsi... 3
2. Pengertian Mahasiswa ... 10
3. Komunikasi Politik dan Iklan Politik ... 11
F. Definisi Konsep ... 42
G. Metode Penelitian ... 43
4. Validitas Data ... 45
5. Teknik Analisis Data ... 46
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN... 49
A. Gambaran Umum FISIP UNS... 49
1. Sejarah Perkembangan FISIP UNS... 49
2. Visi, Misi, dan Tujuan FISIP UNS ... 53
3. Susunan Organisasi FISIP UNS ... 55
B. Gambaran Umum TvOne... 61
1. Sejarah Perkambangan TvOne ... 61
2. Visi dan Misi tvOne ... 62
3. Karakteristik Program tvOne ... 62
BAB III SAJIAN DAN ANALISIS DATA ... 63
A. Persepsi Mahasiswa Terhadap Iklan Politik Aburizal Bakrie pada Media Televisi TV One ... ... 63 B. Pembahasan Hasil Penelitian ... ... 94 BAB IV PENUTUP ... 96
A. Kesimpulan ... 96
Gambar 2.1 Struktur Organisasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret ... 60
Media Televisi TV ONE Pada Mahasiswa Komunikasi Non Reguler Tahun 2011). Skripsi (S-1), Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta, Mei 2014.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap iklan politik Aburizal Bakrie pada media televisi TV One.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, sumber data menggunakan informan atau narasumber yaitu mahasiswa Komunikasi Non Reguler Tahun 2011, dengan teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive samping. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Validitas data menggunakan data triangulation dimana peneliti menggunakan beberapa sumber data untuk mengumpulkan data yang sama Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif (model saling terjalin).
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa persepsi mahasiswa tentang iklan politik Aburizal Bakrie pada Media Televisi TV One sebagian mahasiswa lebih menyukai iklan politik ARB yang bertema petani. Di mana dari iklan tersebut visi dan misi ARB cukup jelas diungkapkan dan dipahami oleh pemirsa. Dalam iklan ARB versi menyapa petani ARB memiliki visi untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memberikan sekolah gratis sampai tingkat SMA. Para mahasiswa memberikan persepsi bahwa iklan politik di televisi kurang dapat mempengaruhi keputusan pemilih dalam memilih calon presiden. Menurut mahasiswa iklan politik hanya berupa pelengkap kampanye, keputusan memilih tidak bisa hanya dilihat dari iklan politiknya saja tapi juga figur si kandidat, jadi pengaruh iklan politik prosentasenya hanya sedikit. Cara pandang mahasiswa sebagai pemilih dalam pemilu 2014 terhadap iklan politik cenderung lebih rasional karena mereka tidak sepenuhnya terpengaruh terhadap iklan, mahasiswa cenderung telah memiliki penilaian tersendiri mengenai kandidat sebelum terpengaruh oleh stimulus iklan. Kecenderungan persepsi partisipan terhadap capres Pemilu 2014 adalah bahwa kualitas kandidat bisa dinilai dengan sendirinya karena mereka sering muncul di televisi, sesuai dengan alasan mengapa iklan politik di televisi kurang memberikan pengaruh dalam keputusan memilih yang telah diungkapkan oleh para responden.
Kata Kunci: Persepsi, Iklan Politik
TELEVISION (A Descriptive Study Against Political Advertising of ABURIZAL BAKRIE In TV ONE Media Television On Communication Student Non-Regular Year 2011). Thesis (S-1), Communication Studies Department, Faculty of Social and Political Science Sebelas March University Surakarta, May 2014.
The aims of this study is to determine students' perceptions against political advertising of Aburizal Bakrie in TV One Media Television.
This research is descriptive qualitative research, source data using the informant or informants or interviewer namely student of Non-Regular Communication Department in 2011, with a sampling technique conducted with a purposive side. The technique of collecting data using interviews and documentation. The validity of the data using triangulation of data which is the researcher uses multiple data sources to collect the same data The Analysis Technique using interactive analysis (model intertwined).
From the results of this study concluded that students' perceptions about Bakrie's political advertising on TV One Media Television that most students prefer the ARB political advertisement within themed farmers. In this ads, vision and mission of the ARB political advertisement is quite clearly expressed and understood by the audience. In the ad ARB greeting farmers delivers vision for improving the welfare of farmers and provide free education up to high school level. The students gave the perception that the political advertisement on television are less able to influence the decisions of voters in choosing a presidential candidate. According to the students, political advertising is only in the form of complementary campaigns, the decision cannot be seen only from political advertising alone but also the figure of the candidate, thus, the influence of political advertising percentage only slightly. The students perspective as voters in the 2014 election against political ads tend to be more rational because they do not fully susceptible to advertising, students' tend to have had its own assessment of the candidates before the stimulus is affected by advertising. The tendency of participants' perceptions of the presidential elections in 2014 is that the quality of the candidates can be assessed on its own because they often appear on television, suitable to the reason why political advertising on television less influence in the decision to choose which has been expressed by the respondents.
Keywords : Perception, Political Advertising.
A. Latar Belakang Masalah
Kesuksesan karir politik seseorang sangat dipengaruhi oleh bangunan citra dirinya di hadapan publik atau khalayak politiknya. Jika seseorang berhasil membangun citra baik, maka karir politiknya akan menuai sukses, dan sebaliknya, jika sesorang memiliki citra buruk maka karir politiknya akan gagal. Dewasa ini, bangunan citra diri seorang figur politik sangat dipengaruhi oleh media massa.
Pernyataan tersebut berarti dua hal. Pertama, pada kenyataannya semua figur (tokoh) politik berupaya membangun citra dirinya di hadapan publik atau khalayak melalui media. Kenyataan ini dapat diamati dengan jelas melalui iklan-iklan politik yang disiarkan media massa, baik cetak maupun elektronik. Iklan-iklan politik menjelang suatu pemilihan umum merupakan contoh khas dari upaya para tokoh politik untuk membangun citranya kepada khalayak politik (pemilih). Sementara arti kedua merujuk pada pemberitaan-pemberitaan media seputar tokoh-tokoh politik; tentang perilaku mereka, baik perilaku-perilaku dalam kaitan dengan kehidupan pribadi atau personal maupun perilaku-perilaku yang berhubungan dengan kehidupan publik, seperti kebijakan-kebijakan dan tindakan-tindakan politik yang mereka tempuh. Pada kenyataannya, pemberitaan-pemberitaan tersebut juga mempengaruhi citra diri mereka di mata publik.
Selain menjadi sumber informasi, media massa juga merupakan saluran komunikasi bagi para aktor politik. Cara-cara media menampilkan peristiwa-peristiwa politik dapat mempengaruhi persepsi para aktor politik dan masyarakat mengenai perkembangan politik. Melalui fungsi kontrol sosialnya, bersama institusi sosial lainnya, secara persuasif media massa bisa menggugah partisipasi publik untuk serta dalam merombak struktur politik. Media televisi merupakan salah satu media yang dimanfaatkan pemilih pemula untuk menjaring informasi politik, dikarenakan akses terhadap televisi yang cenderung mudah dan murah bagi kalangan muda. Partai-partai politik baru juga memanfaatkan televisi sebagai sarana mempublikasikan diri. Dengan alokasi dana kampanye yang terbatas, televisi dianggap paling efektif untuk menjangkau semua struktur masyarakat.
Pada dasarnya, iklan adalah salah satu bentuk pemasaran yang cukup efektif untuk penjualan produk. Sama artinya dengan iklan politik. iklan komersial lebih bertujuan menjual produk, sedangkan iklan politik menjual partai atau kandidat kepada pemilih. Oleh karena dalam konteks perpolitikan Indonesia popularitas sangatlah diperlukan. Begitu juga dengan iklan politik Aburizal Bakrie sebagai calon presiden yang diusung oleh Partai Golkar, yang secara intensif melalukan iklan politik melalui media televisi.
B. Rumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap iklan politik Aburizal Bakrie pada media televisi TV One?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan yaitu: Untuk menganalisis persepsi mahasiswa terhadap iklan politik Aburizal Bakrie pada media televisi TV One.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis, untuk mengembangkan kemampuan berpikir penulis melalui
karya ilmiah dan sebagai penerapan dari berbagai teori yang penulis dapatkan
selama dalam masa perkuliahan.
2. Memberikan bahan masukan kepada pengambil kebijakan Pemerintah dalam
hal ini Komisi Pemilihan Umum, Departemen Dalam Negeri dan
Pemerintahan Daerah dalam kaitannya dengan persepsi mahasiswa terhadap
iklan politik.
E. Tinjauan Pustaka
1. Tinjauan Umum Tentang Persepsi
1. Pengertian Persepsi
sekitarnya. Persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern dan ekstern. Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang persepsi, walaupun pada prinsipnya mengandung makna yang sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya.
Sugihartono, dkk (2007: 8) mengemukakan bahwa persepsi adalah kemampuan panca indera dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Persepsi manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan. Ada yang mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsi negatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau nyata.
mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antar individu satu dengan individu lain.
Setiap orang mempunyai kecenderungan dalam melihat benda yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah pengetahuan, pengalaman dan sudut pandangnya. Persepsi juga bertautan dengan cara pandang seseorang terhadap suatu objek tertentu dengan cara yang berbeda-beda dengan menggunakan alat indera yang dimiliki, kemudian berusaha untuk menafsirkannya. Persepsi baik positif maupun negatif ibarat file yang sudah tersimpan rapi di dalam alam pikiran bawah sadar kita. File itu akan segera muncul ketika ada stimulus yang memicunya, ada kejadian yang membukanya. Persepsi merupakan hasil kerja otak dalam memahami atau menilai suatu hal yang terjadi di sekitarnya (Waidi, 2006: 118).
Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesamaan pendapat bahwa persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya.
Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup dalam satu kesatuan dalam tatanan sosialmasyarakat. Lebih lanjut adalah pendapat yang dikemukakan oleh Ralph Linton dalam Harsojo (1997: 144) menyatakan bahwa masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berpikir tentang dirinya sebagai kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.
Dari defenisi tersebut, penulis menyimpulkan bahwa masyarakat merupakan sekelompok manusia yang hidup secara bersama-sama dan saling berhubungan. Artinya bahwa setiap individu manusia yang satu sadar akan adanya individu yang lain dan memperhatikan kehadiran individu tersebut.
b. Syarat Terjadinya Persepsi
Menurut Sunaryo (2004: 98) syarat-syarat terjadinya persepsi adalah sebagai berikut:
1) Adanya objek yang dipersepsi
2) Adanya perhatian yang merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan persepsi.
3) Adanya alat indera/reseptor yaitu alat untuk menerima stimulus 4) Saraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak, yang
kemudian sebagai alat untuk mengadakan respon. c. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Robbins (2001: 89) mengemukakan bahwasanya ada 3 faktor yang dapat mempengaruhi persepsi yaitu:
1) Pelaku persepsi, bila seseorang memandang suatu objek dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya dan penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dari pelaku persepsi individu itu
2) Target atau objek, karakteristik-karakteristik dan target yang diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Target tidak dipandang dalam keadaan terisolasi, hubungan suatu target dengan latar belakangnya mempengaruhi persepsi seperti kecendrungan kita untuk mengelompokkan benda-benda yang berdekatan atau yang mirip 3) Situasi, dalam hal ini penting untuk melihat konteks objek atau
Menurut Miftah Toha (2003: 154), faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah sebagai berikut :
1) Faktor internal: perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat, dan motivasi.
2) Faktor eksternal: latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar atau ketidak asingan suatu objek.
Menurut Bimo Walgito (2004: 70) faktor-faktor yang berperan dalam persepsi dapat dikemukakan beberapa faktor, yaitu:
1) Objek yang dipersepsi
Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor. 2) Alat indera, syaraf dan susunan syaraf
3) Perhatian
Untuk menyadari atau dalam mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah utama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu sekumpulan objek.
Faktor-faktor tersebut menjadikan persepsi individu berbeda satu sama lain dan akan berpengaruh pada individu dalam mempersepsi suatu objek, stimulus, meskipun objek tersebut benar-benar sama. Persepsi seseorang atau kelompok dapat jauh berbeda dengan persepsi orang atau kelompok lain sekalipun situasinya sama. Perbedaan persepsi dapat ditelusuri pada adanya perbedaan individu, perbedaan-perbedaan dalam kepribadian, perbedaan-perbedaan dalam sikap atau perbedaan-perbedaan dalam motivasi. Pada dasarnya proses terbentuknya persepsi ini terjadi dalam diri seseorang, namun persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman, proses belajar, dan pengetahuannya.
d. Proses Persepsi
Menurut Miftah Toha (2003: 145), proses terbentuknya persepsi didasari pada beberapa tahapan, yaitu:
1) Stimulus atau Rangsangan
2) Registrasi
Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah mekanisme fisik yang berupa penginderaan dan syarat seseorang berpengaruh melalui alat indera yang dimilikinya. Seseorang dapat mendengarkan atau melihat informasi yang terkirim kepadanya, kemudian mendaftar semua informasi yang terkirim kepadanya tersebut.
3) Interpretasi
Interpretasi merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya. Proses interpretasi tersebut bergantung pada cara pendalaman, motivasi, dan kepribadian seseorang.
2. Pengertian Mahasiswa
dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan calonintelektual atau cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syaratdengan berbagai predikat.
Mahasiswa menurut Knop Femacher (Suwono, 1978) adalah merupakan insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi yang makin menyatu dengan masyarakat), dididik dan di harapkan menjadi calon-calon intelektual. Mahasiswa menurut A.Malik Fadjar dan Muhadjir Effendy (2009) dalam Djahjoko (1995) adalah mereka merupakan aset masa depan bangsa, karena merekalah yang paling berpeluang untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana keduanya menjadi alat penyelesai utama bagitan tangan kehidupan berbangsa masa kini dan mendatang, juga mahasiswa sebagai kelompok strategis yang memiliki peluang untuk mengembangkan Idealismenya, karena dengan Idealisme yang berkembanglah jiwa semangat Nasionalismenya itu bisa tumbuh dengan subur dan menyadarkan upaya membangun solidaritas bersama memikirkan dan memenuhi kebutuhan bersama dan rela mengorbankan kepentingannya sendiri.
3. Komunikasi Politik dan Iklan Politik
a. Pengertian Komunikasi Politik
McQuail dalam Pawito (2009:2) menyatakan bahwa komunikasi politik merupakan semua proses penyampaian informasi, termasuk fakta, pendapat-pendapat, keyakinan dan seterusnya, pertukaran dan pencarian tentang itu semua yang dilakuka oleh para partisipan dalam konteks kegiatan politik yang lebih bersifat melembaga.
Komunikasi politik juga diartikan sebagai sebagai segala bentuk pertukaran symbol atau pesan yang sampai tingkat tertentu dipengaruhi atau mempengaruhi berfungsinya sistem politik (Meadow dalam pawito 2009:2). (Komunikasi politik hanya mengacu pada aktivitas lembaga khusus tertentu yang telah dibentuk untuk menyebarkan informasi, ide, dan sikap tentang urusan pemerintahan).
b. Fungsi Komunikasi Politik
Komunikasi politik merupakan jalan mengalirnya informasi melalui masyarakat dan melalui berbagai struktur yang ada dalam sistem politik (Mas’oed dan Andrew, 1990:130). Fungsi dari komunikasi politik adalah struktur politik yang menyerap berbagai aspirasi, pandangan, dan gagasan yang berkembang dalam masyarakat dan menyalurkannya sebagai bahan dalam penentuan kebijakan. Dengan demikian fungsi membawakan arus informasi balik dari masyarakat ke pemerintah dan dari pemerintah ke masyarakat.
Fungsi komunikasi politik itu terutama dijalankan oleh media massa, baik itu media cetak maupun media elektronik. Dengan demikian media massa itu memiliki peranan yang strategis dalam sistem politik. Berarti frekuensi dan intensitas yang lebih besar. Di samping perasaan “sadar informasi” hal itu juga didukung oleh tersedianya fasilitas yang memadai.
Kelancaran komunikasi politik akan sangat berpengaruh pada kemantapan kehidupan politik. Terlambatnya saluran komunikasi politik dapat mengakibatkan munculnya kecurigaan antara satu kelompok lain, antara satu pihak dengan pihak lain. Atas dasar itu, keterbukaan politik ada batasnya, diperlukan dalam pembinaan sistem politik. Maka dari itulah munsul fungsi komunikasi bagi komunikasi politik untuk mempermudah jalannya sistem politik yang ada.
Fungsi yang secara langsung (Mas’oed dan Andrew,1990:31) yang berkaitan dengan pembuatan dan pelaksanaan kebijakan adalah :
Upaya mewujudkan pola hubungan baru yang menampung seluruh kepentingan melalui proses sintesis aspirasi banyak orang itulah yang dinamakan artikulasi kepentingan. Dengan demikian artikulasi dapat juga dikatakan sebagai suatu proses yang mengolah aspirasi masyarakat yang beragam. Yang akan disaring dan dirumuskan secara teratur yang selanjutnya dilanjutkan dalam kebijakan.
2) Fungsi Agregasi Kepentingan
Pendapat dan aspirasi seseorang atau sekelompok orang akan hilang ditelan oleh hiruk pikuk kehidupan modern apabila tidak dilakukan penggabungan antara beberapa pendapat dan aspirasi yang sama. Fungsi menggabungkan berbagai kepentingan yang hampir sama untuk disatukan dalam suatu rumusan kebijakan lebih lanjut inilah yang dinamakan agregasi kepentingan. Jadi dengan adanya agregasi kepentingan ini bukan lagi kepentingan perorangan/individu yang muncul, akan tetapi kepentingan masyarakat.
3) Fungsi Pembuatan Kebijakan
perwakilan rakyat memiliki interplasi yaitu hak untuk meminta lembaga eksekutif beserta jajaran birokrasinya. Fungsi penerapan tidak hanya pembuatan rincian dan pedoman pelaksanaan peraturan. Malahan dalam banyak hal harus membeberkan penafsiran atas peraturan tersebut sehingga mudah dipahami dan ditaati oleh warga negara.
5) Fungsi Penghakiman Kebijakan
Fungsi ini untuk menyelesaikan pertikaian atau persengketaan yang menyangkut persoalan peraturan, pelanggaran peraturan, dan penegakan fakta-fakta yang perlu mendapatkan keadilan. Dengan kata lain fungsi tersebut untuk membuat keputusan yang mencerminkan rasa keadilan apabila terjadi penentangan terhadap peraturan perundangan. Penghakiman peraturan pada dasarnya bertujuan menjamin kepastian hukum tercapainya suasana tertib dalam masyarakat.
sebagai jembatan penghubung antara kedua suasana tersebut dalam totalitas nasional yang bersifat interdepedensi dalam berlangsungnya suatu sistem pada ruang lingkup negara.
c. Tujuan Komunikasi Politik
Tujuan komunikasi politik sangat terkait dengan pesan politik yang disampaikan komunikator politik. Sesuai dengan tujuan komunikasi, maka tujuan komunikasi politik itu adakalanya sekedar penyampaian informasi politik, pembentukan citra politik, pembentukan publik opinion (pendapat umum). Selanjutnya komunikasi politik bertujuan menarik simpatik khalayak dalam rangka meningkatkan partisipasi politik saat menjelang pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah.
Selama pemilihanumum berlangsung di Indonesia, banyak muncul konflik yang berkaitan dengan komunikasi politik. Para kandidat calon anggota dewan perwakilan rakyat saling melemparkan issue politik dan membeberkan berbagai kelemahan saingan kandidat. Sekaitan dengan penjelasan tersebut, seperti diungkapakan Arifin (2002:05) salah satu tujuan dari komunikasi politik adalah membentuk citra politik yang baik bagi khalayak.
1) Pembentukan Citra Politik
konsekuensi dari kognisi komunikasi politik. Roberts dalam (Ardial, 2005: 45) menyatakan bahwa komunikasi tidak secara langsung menimbulkan pendapat atau perilaku tertentu, tetapi cenderung mempengaruhi cara khalayak mengorganisasikan citranya tentang lingkungan dan citra itulah yang mempengaruhi pendapat atau perilaku khalayak.
Berdasarkan penjelasan di atas, citra politik dapat dirumuskan sebagai gambaran tentang politik (kekuasaan, kewenangan, otoritas, konflik, dan konsesus) yang memiliki makna kendatipun tidak selamanya sesuai dengan realitas politik yang sebenarnya. Citra politik tersusun melalui kepercayaan, nilai, dan pengharapan dalam bentuk pendapat pribadi yang selanjutnya dapat berkembang menjadi pendapat umum. Citra politik itu terbentuk berdasarkan informasi yang kita terima, baik langsung maupun melalui media politik, termasuk media massayang bekerja untuk menyampaikan pesan politik yang umum dan aktual.
Pembentukan citra politik sangat terkait dengan sosialisasi politik. Hal ini disebabkan karena citra politik terbentuk melalui proses pembelajaran politik baik secra langsung maupun melalui pengalaman empirik. Sekaitan ini Arifin (2003:107) menegaskan, citra politik mencakup tiga hal, yaitu :
b) Semua referensi (afeksi) yang melekat pada tahap tertentu dari peristiwa politik yang menarik.
c) Semua pengharapan (konasi) yang dimiliki orang tentang apa yang mungkin terjadi jika ia berperilaku dengan cara berganti-ganti terhadap objek dalam situasi itu.
Sosialisai politik dapat mendorong terbentuknya citra politik pada individu. Selanjutnya citra politik mendorong seseorang mengambil peran atau bagian (partai, diskusi, demonstrasi, kampanye, dan pemilihan umum) dalam politik. Hal ini disebut dengan nama partisipasi politik .
2) Pembentukan Opini Publik
secara berkelanjutan berdasar pada empirik dan pengetahuan yang luas.
Clyde L.King dalam judul “Public Opinion: a Manifestation of Social Mind, mengungkapkan opini publik ini yang dilihat dari proses terbentuknya publik opini tersebut. Mengenai sesuatu persoalan (issue) yang dianggap orang aktual sudah biasa mempercakapkannya tanpa acara, waktu, dan tempat. Percakapan yang berupa pertukaran pikiran dan kadang-kadang terlibat dalam perdebatan. Masing-masing pihak yang bersangkutan mengajukan pendapatnya berlandaskan fakta, perasaan (sentimen), prasangka (prejudice), harapan, ketakutan, kepercayaan pengalaman, prinsip pendirian, ramalan-ramalan terhadap berbagai macam kemungkinan, aspirasi, tradisi serta adat kebiasaan dan keyakinannya. Persoalan yang dipertentangkan dalam prosesnya semakin lama semakin jelas, sehingga terwujud bentuk-bentuk pebdapat tertentu. Individu-individu telah memilih ‘pihak’ kemudian menggabungkan dengan pihak yang dianggap sesuai dengan pendapatnya. Dengan demikian, bentuk penilaian mengenai sesuatu persoalan aktual yang dipertentangkan yang didukung oleh sebagian orang-orang telah tercapai. Inilah ‘social judgment’ (penilaian sosial). Dan penilaian sosial mengenai sesuatu persoalan adalah ‘opini publik’.
d. Pengertian Iklan
about an organization, product, service, or idea by an identified sponsor" (setiap bentuk komunikasi non personal mengenai suatu organisasi, produk, servis atau ide yang dibayar oleh suatu sponsor yang diketahui).
Menurut Kasali (2007: 9), iklan di definisikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media. Sedangkan menurut Suyanto (2004: 3), dikatakan bahwa iklan adalah penggunaan media bayaran oleh seorang penjual untuk mengkomunikasikan informasi persuasif tentang produk (ide, barang, jasa) ataupun organisasi yang merupakan alat promosi yang kuat.
Pengertian iklan menurut Philip Kotler (2005: 254) adalah sebagai berikut: “Iklan adalah semua bentuk penyajian nonpersonal, promosi ide-ide, promosi barang atau jasa yang dilakukan oleh sponsor yang dibayar”. Menurut Djaslim Saladin (2007: 129) yang mengartikan iklan sebagai berikut: “Iklan adalah semua bentuk penyajian yang sifatnya nonpersonal, dan promosi ide-ide, promosi barang-barang atau jasa yang dibayar oleh sponsor”.
Berdasarkan pendapat para ahli tentang definisi iklan di atas maka dapat disimpulkan bahwa iklan merupakan suatu bentuk komunikasi nonpersonal mengenai suatu barang atau jasa maupun ide sponsor tertentu yang dikeluarkan hanya untuk kegiatan tersebut.
e. Pengertian Iklan Politik
itu di Prancis disebut dengan reclamare yang berarti meneriakan.sesuatu secara berulang-ulang, sementara dalam bahasa Arab iklan disebut I’lan( Widyatama 2007:13)
Iklan politik memiliki peran yang ikut menentukan dalam proses demokratisasi. Partai politik mengarahkan kemampuannya untuk merebut sebanyak mungkin konstituen. Fungsi marketing politik bukan sekedar untuk mempromosikan tokoh politik belaka, tetapi berfungsi dalam pembelajaran politik kalangan bawah (Firmanzah, 2008: 321).
Definisi iklan politik menurut Leo O. N. Edegoh et.al (2013: 378) adalah:
Political advertising is the use of media by political candidates to increase their exposure to the public. The extensive use of television and radio has supplanted direct appearances on the campaign trail, which was popularly used by politicians in the past five decades. Spot advertising is the most commonly used technique and it attempts to create a favourable image of the candidate and a negative image of the opponent. It links the candidate with desirable groups in the community and communicate candidate’s stand on selected issues.
(Iklan politik adalah penggunaan media oleh kandidat politik untuk meningkatkan eksposur mereka ke publik. Ekstensif menggunakan televisi dan radio telah menggantikan penampilan langsung pada kampanye, yang populer digunakan oleh para politisi dalam lima dekade terakhir. Spot iklan adalah teknik yang paling umum digunakan dan ia mencoba untuk menciptakan citra yang menguntungkan calon dan citra negatif dari lawan. Ini link kandidat dengan kelompok-kelompok yang diinginkan di masyarakat dan berkomunikasi berdiri kandidat pada isu-isu yang dipilih).
menekankan soal kontrol pesan tadi, mereka memperluas definisi itu dengan menyodorkan definisi: any programming format under control of the party or candidate and for which time is given or purchased (semua format program yang dikendalikan oleh partai atau kandidat dengan jam tayang yang telah diberikan atau dibeli) (Danial, 2009: 93).
Berbagai cara dilakukan dan salah satunya adalah dengan membuat iklan politik di media massa. Periklanan massa adalah komunikasi dari satu pihak kepada orang banyak. Yang menjadi sasaran periklanan politik adalah individu tunggal (dalam arti bukan sebagai anggota kelompok), dan independen.
Periklanan politik adalah pengiklanan citra atau image, daya tarik yang diarahkan untuk membangun reputasi seseorang pejabat publik atau pencari jabatan, menginformasikan pada khalayak mengenai kualifiaksi seorang politisi, pengalamannya, latar belakang kepribadiannya, sehingga merupakan dorongan bagi prospek pemilihan calon atau kandidat yang bersangkutan dalam proses politik (Riswandi, 2006: 39).
kolom dan iklan advetorial yang memuat visi-misi dari para kandidat, bahkan iklan cetak lainnya yang menghiasi setiap sudut kota seperti Baliho, Banner, Billboard, selebaran, stiker-stiker dan lainnya
Menurut Eep Syaifullah dalam acara Today’s Dialogue di Metro TV Selasa 27 Januari 2009 mengatakan bahwa iklan politik yang ditampilkan di media televisi di Indonesia ada tiga jenis yaitu:
1) Iklan yang memperkenalkan diri seperti yang ditampilkan oleh Partai Gerindra dengan memanfaatkan moment-moment hari besar dalam memperkenalkan Gerindra sebagai partai baru dan juga memperkenalkan Prabowo Subianto sebagai pemimpin dari partai tersebut.
2) Iklan partai politik yang mengungkapkan keberhasilan yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini dilakukan oleh Partai Demokrat dan Partai Golkar. Iklan Partai Demokrat yang berkaitan dengan pencapaian pemerintahan. Sedangkan Partai Golkar mengungkapkan keberhasilannya dalam DPR dan pemerintahan mewujudkan Swasembada beras dan akan mengekspor beras pada tahun 2009. 3) Iklan partai politik yang mengkritisi kebijakan pemerintah dan
mengusulkan program-program baru seperti yang dilakukan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
lengkap dengan citra yang dibentuknya. Iklan partai politik terbukti mempengaruhi perilaku pemilih dalam menentukan dukungan kepada tokoh maupun partai. Temuan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dipublikasikan di Jakarta, Minggu (4/1/2009), menunjukkan, perilaku rasional pemilih sangat terkait dengan informasi yang diperoleh pemilih. Oleh karena itu sebuah partai politik harus bisa memberikan informasi yang diinginkan para pemilih dengan menampilkan suatu iklan yang menarik sehingga para pemilih merasa tertarik dan kemudian memilih dan mendukung partai tersebut.
Tujuan periklanan politik adalah bukan untuk mengidentifikasikan seseorang dengan kelompok, melainkan untuk menarik perhatian seseorang menjauh dari kelompok, dan menjadikan orang bertindak dan memilih sendiri berbeda dari yang lain (Riswandi, 2006: 39).
Iklan politik (political advertising) adalah kegiatan periklanan yang dilakukan oleh partai-partai politik dalam rangka kegiatan pemilu. Iklan politik itu bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat agar memilih partai yang beriklan tersebut (Syafrin, 2004: 40). Sehingga masyarakat dapat memberikan penilaian terhadap pesan yang disampaikan oleh iklan politik di media khususnya televisi. Hal ini sesuai dengan teori Cutlip dan Center yang dikenal dengan The 7 C’s of communication yaitu:
komunikan akan menerima pesan tersebut berdasarkan keyakinan yang dapat dipercaya begitu juga tujuannya. Dalam penelitian ini adalah bagaimana membangun kepercayaan masyarakat terhadap pesan yang disampaikan dalam iklan politik.
2) Context, suatu program komunikasi mestinya berkaitan dengan lingkungan hidup atau keadaan sosial yang bertentangan dan seiring dengan keadaan tertentu dan memperhatikan sikap partisipatif. Artinya iklan politik harus disajikan sesuai dengan keadaan sosial yang dengan keadaan sebenarnya (faktual/nyata), bukan merupakan sesuatu yang direkayasa.
3) Content, pesan itu mempunyai arti bagi audiensnya dan memiliki kecocokan dengan sistem nilai-nilai yang berlaku bagi orang banyak dan bermanfaat. Dalam hal ini, pesan dalam iklan politik harus dibuat sekomunikatif mungkin sehingga isi pesannya dapat mudah dipahami masyarakat dan bermanfaat bagi kehidupannya.
4) Clarity, menyusun pesan dengan bahasa sehingga khalayak mudah mengerti atau mempunyai persamaan arti antara komunikator dan komunikan. Dalam hal ini, bahasa yang digunakan dalam iklan politik haruslah sederhana dan mudah dipahami. Terlebih lagi bagi para masyarakat tani sehingga mereka mudah mengerti akan isi pesan iklan tersebut.
mencapai tujuan. Dalam hal ini iklan politik harus berkeseinambungan dalam menyampaikan pesan politik karena tayangan dilakukan secara berulang-ulang.
6) Consistency, ketetapan terhadap makna pesan dimana isi atau materi pesan harus konsisten dan tidak membingungkan audiensnya. Isi pesan dari iklan politik haruslah konsisten (tetap) dan tidak membingungkan masyarakat. Terlebih lagi masyarakat menginginkan tidak hanya berjanji namun harus direalisasikan di kehidupan nyata. 7) Capability, kemampuan khalayak terhadap pesan yaitu melibatkan
berbagai faktor adanya sesuatu kebiasaan-kebiasaan membaca atau menyerap ilmu pengetahuan dan sebagainya. Dalam hal ini ketika membuat iklan haruslah diperhitungkan apakah nantinya masyarakat mudah dalam memahami isi iklan (Ruslan, 1997: 72-74).
f. Proses Komunikasi Politik dalam Pemilihan Umum
Komunikasi politik yang dilakukan dalam pemilu merupakan suatu proses yang akan berlangsung secara berkelanjutan. Komunikasi politik pada pemilu tersebut hanya merupakan komunikasi awal yang akan dilanjutkan setelah pemilu selesai. Hal ini merupakan komunikasi tindak lanjut dari hasil komunikasi awal pada pemilu tersebut. Proses komunikasi politik tersebut akan berjalan dengan baik jika melibatkan kelima unsur proses komunikasi. Kelima unsur komunikasi politik khususnya pada pemilihan umum antara lain:
Unsur pelibat atau aktor dalam komunikasi politik yaitu calon anggota legislatif, calon bupati, calon gubernur, calon presiden maupun juru kampanye dalam partai politik. Pelibat dalam komunikasi politik ada dua yaitu pelibat individu danpelibat kelompok. Pelibat individu tersebut berupa para calon presiden dan wakil presiden, sedangkan pelibat berupa kelompok adalah tim sukses dari berbagai partai. Para aktor itu menggunakan berbagai media komunikasi dan strategi yang berbeda untuk mencari massa yang lebih banyak pula. Semakin baik komunikasi politik yang mereka sampaikan maka semakin banyak pula massa yang terkumpul, begitu pula sebaliknya.
2) Pesan
Dalam komunikasi politik pesan yang disampaikan mengarah pada politik atau berkaitan dengan politik. Dalam pemilihan umum, pesan yang disampaikan harus mengandung kepentingan public atau masyarakat pada umumnya. Pesan dalam politik terutama pada pemilihan umum harus mengandung pula keadilan secara diologis. Ketika masyarakat merasa pesan politik yang disampaikan mengandung keadilan maka bisa dipastikan konflik yang ada akan terselaikan. Namun, jika masyarakat merasa pesan politik yang disampaikan tidak mengandung keadilan, maka akan timbul banyak konflik.
Saluran yang digunakan dalam komunikasi politik dapat berupa organisasi atau institusi, sekolah, serta media massa. Sedangkan saluran berupa tindakan, yaitu pemberian suara dalam pemilu, aksi mogok buruh atau pekerja yang menuntut perbaikan upah dan kondisis kerja, serta aksi-aksi protes dan demokrasi lainnya. Jika dilihat dari segi komunikasi politik dalam pemilihan umum, maka saluran yang paling berpengaruh yaitu berupa media massa dan organisasi.
Media massa merupakan salah satu media yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu calon dalam pemilihan umum. Hampir semua komunikasi dari berbagai calon diliput oleh media massa. Semua calon pun berlomba-lomba memanfaatkan media massa ini untuk menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Berita yang disampaikan di media massa bisa berupa berita baik ataupun berita buruk, hal ini tergantung dari komunikasi yang disampaikan oleh para calon sesuai atau tidak.
Selain media massa, saluran yang berupa tindakan banyak juga dilakukan oleh masyarakat ketika pemilihan umum. Banyak masyarakat yang melakukan protes ataupun demonstrasi yang ditujukan ke calon tertentu ataupun partai tertentu pula.
d. Konteks
politik. Jadi, semua komunikasi politik terjadi di dalam pemilihan umum tidak luput dari beberapa aspek yang terkait, yaitu nilai-nilai baik filsafat, ideology, sejarah ataupun budaya. Semua nilai-ini akan berbeda di setiap daerahnya sehingga suatu komunikasi politik harus memikirkan semua aspek tersebut agar pesan yang akan di sampaikan bisa diterima dengan baik.
e. Pengaruh (Effect)
Komunikasi politik yang bersifat persuasif akan memberikan perubahan bagi para pendengarnya. Komunikasi politik merupakan proses tarik menarik berbagai kepentingan yang ada di masyarakat dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan tertentu. Pengaruh dari proses komunikasi tersebut bisa membawa perubahan baik yaitu perubahan yang sesuai dengan keinginan pemrakarsa pesan, bisa juga tidak terjadi perubahan apa-apa, atau pun mungkin juga dapat berupa situasi yang lebih buruk. semua itu tetap tergantung terhadap teknik komunikasi yang digunakan oleh para komunikan.
Oleh karena itu, kelima unsur ini sangat berkaitan erat akan timbulnya komunikasi politik dan tidak bisa berdiri sendiri. Komunikasi akan mebentuk suatu proses yang didalamnya mengandung kelima unsur tersebut
g. Prinsip dan Fungsi-fungsi Komunikasi Politik
pembuatan dan penerapan serta penghakiman terhadap pelaksanaan peraturan. Semua fungsi dari sistem politik tersebut dapat tercapai dengan adanya komunikasi politik yang baik pula. Pada hakikatnya, tujuan para calon pemimpin dan wakil rakyat di pemilihan umum melakukan komunikasi politik, yaitu agar fungsi dari sistem politik tersebut tercapai.
Menurut almond (1960) dalam Anwar Arifin (2003: 34) gaya komunikasi politik dapat dibedakan berdasarkan, apakah itu bersifat dinyatakan (manifest) atau laten, spesifik atau melebar, partikularistik atau generalistik, afektif netral, atau afektif non-netral. Dalam pemilihan umum, gaya komunikasi ini sangat berpengaruh terhadap penyampaian akan suatu informasi. Informasi yang disampaikan secara laten akan lebih berkesan daripada informasi yang disampaikan hanya dengan tulisan. Hal ini dikarenakan suasana dari komunikasi tersebut akan terasa lebih hidup, apalagi jika ditambah dengan penyampaian informasi yang lugas dan berwibawa. Selain itu, pesan yang disampaikan harus lebih generalistik dan tidak bersifat partikularistik, karena akan menimbulkan kesenjangan yang memicu adanya konflik.
Jadi komunikasi politik dengan berbagai gaya yang digunakani memiliki berbagai fungsi yang sama. Menurut Sumarno (1993:28) fungsi komunikasi politik dapat dibedakan kepada dua bagian.
1) Fungsi komunikasi politik yang berada pada struktur pemerintah (suprastruktur politik) atau disebut pula dengan istilah the governmental political sphere.
2) Fungsi yang berada pada struktur masyarakat (infrastruktur politik) yang disebut pula dengan istilah the socio political sphere.
Fungsi yang pertama berisikan informasi menyangkut kepada seluruh kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Isi komunikasi ditujukan kepada upaya untuk mewujudkan loyalitas dan integritas nasional untuk mencapai tujuan negara yang lebih luas. Sedangkan fungsi yang kedua yaitu sebagai agregasi kepentingan dan artikulasi kepentingan, dimana kedua fungsi tersebut sebagai proses komunikasi yang berlangsung di antara kelompok asosiasi dan proses penyampaian atau penyaluran isi komunikasi terhadap pemerintah dari hasil agregasi dan artikulasi tersebut.
Berdasarkan kedua fungsi tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya fungsi utama dari system komunikasi politik adalah sebagai suprastruktur dan infrastruktur dalam ruang lingkup negara. Komunikasi politik harus pula memiliki orientasi kepada kepentingan rakyat
Komunikator merupakan individu ataupun kelompok yang melakukan komunikasi. Menurut Leonard W dob dalam Rachman (2006), komunikator poilitik dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
1) Politikus sebagai komunikator politik
Politikus adalah orang yang memiliki otoritas untuk berkomunikasi sebagai wakil dari kelompok dan pesan yang disampaikan mengandung kepentingan politik. Jadi komunikator tersebut dalam aksinya mewakili kepentingan kelompok tertentu.
2) Komunikator professional dalam politik
Komunikator profesional adalah orang yang menghubungkan golongan elit dalam suatu organisasi, institusi ataupun kelompok tertentu dengan khalayak umum. Jadi, kelompok professional ini yang menghubungkan secara langsung dua komunitas dengan tingkat sosial yang berbeda agar pesan tersebut dapat tersampaikan denga baik pula. 3) Aktivis atau komunikator paruh waktu
Aktivis merupakan orang yang banyak tahu dan banyak terlibat tentang kegiatan politik atau komukisai politik. Namun, para aktivis tersebut tidak menggunakan kegiatan tersebut sebagai lapangan pekerjaan.
Jenis komunikator yang pertama yaitu politikus dalam pemilihan umum merupakan para kandidat pemimpin atau wakil rakyat yang mencalonkan diri dalam pemilihan umum. Para calon tersebut merupakan wakil dari kelompok tertentu untuk menyuarakan pesan politknya sehingga bisa menarik massa yang banyak.
i. Media atau Saluran Komunikasi Politik dalam Pemilihan Umum Ketika pemilihan umum akan mulai diselenggarakan, para calon pemimpin dan wakil rakyat berlomba-lomba melakukan berbagai komunikasi untuk menarik minat masyarakat luas. Berbagai strategi dilakukan oleh partai pendukung tersebut Teknik komunikasi dalam pemilihan umum bisa dilakukan melalui berbagai cara. Teknik komunikasi tersebut bisa terlaksana jika terdapat medianya. Media dalam melakukan komunikasi politik merupakan suatu tempat untuk menyalurkan informasi atau tempat untuk melakukan komunikasi. Saluran tersebut digunakan agar bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang berasal dari berbagai daerah dengan kebudayaan yang berbeda pula. Dalam menyampaikan informasi, para komunikator menggunakan saluran komunikasi politik dan saluran komunikasi persuasif.
Tipe-tipe saluran komunikasi politik dibedakan menjadi 3, yaitu 1) Komunikasi Massa
Komunikasi Massa merupakan proses dalam penyampaian pesan yang dilakukan oleh komunikator politik kepada komunikan atau khalayak umum melalui media massa, seperti media elektronik dan media cetak. Media ini sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu calon dalam pemilihan umum.
Komunikasi Interpersonal merupakan proses penyampaian pesan oleh komunikator politik kepada komunikan secara langsung atau tatap muka (face to face). Misalnya saja dialog.
3) Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi merupakan proses penyampaian pesan oleh komunikator politik kepada komunikan atau komunikasi vertical (dari atas ke bawah) dan horizontal (dari kiri ke kanan) sejajar. Contoh dalam pemilihan umum yaitu komunikasi antar pasangan calon dan tim suksesnya.
Sama halnya dengan tipe saluran komunikasi politik yang dibedakan menjadi tiga, tipe saluran komunikasi persuasif pun dibedakan menjadi tiga pula, antara lain:
1) Kampanye Massa
Kampenye massa merupakan proses penyampaian pesan persuasive berisi program-program, asas yang dianut, platform yang dilkaukan oleh partai politik kepada masyarakat umum sebagai calon pemilih saat pemilihan umum. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui media massa cetak dan elektronik agar memilih calon atau wakil rakyat yang dikampanyekan. Misalnya: “buruh pabrik akan mendapatakan kehidupan yang sejahtera jika memilih calon A”
2) Kampanye Interpersonal
pembagian kekuasaan partai yang dilakukan oleh komunikator politik kepada tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh luas terhadap masyarakat yang akan menjadi pemilih di pemilu. Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat memilih calon yang diserukan. Misalnya: Dialog antara calon presiden dan wakil presiden kepada Ketua NU di Semarang.
3) Kampanye organisasi
Kampanye organisasi merupakan proses penyampaian pesan persuasif yang berupa program-program, asas, platform, pembagian kekuasaan partai politik yang dilakukan oleh komunikator terhadap kader, fungsionaris dan anggota dalam satu organisasi partai politik dan antar sesama anggota agar memilih calon dalam pemilihan umum. Contoh: Ketua partai A memberi pesan persuasif agar memilih calon tertentu di pemilu
pemilihan umum banyak para calon dan tim sukses juga melakukan kampanye baik interpersonal ataupn organisasi.
j. Teknik Komunikasi dalam Pemilihan Umum
Seperti penjelasan sebelumnya, bahwa media komunikasi yang cocok dalam pemilihan umum adalah tipe saluran persuasif politik yang memiliki kemampuan menjangkau seluruh lapisan masyarakat., Maka, diperlukan pula teknik komunikasi yang tepat agar media tersebut bisa berjalan dengan baik. Suatu teknik dan strategi diperlukan agar komunikasi yang disampaikan bisa menarik perhatian banyak orang dan membuka kans yang luas bagi terpilihnya calon tersebut. Dalam pembahasan ini akan dijelaskan berbagai teknik komunikasi pada saat kempanye, baik kampanye massa, kampanye Interpersonal, dan kampanye organisasi.
Teknik komunikasi yang digunakan dalam pemilihan umum bisa melalui media massa, ataupun kampanye langsung. Semua proses tersebut tidak akan berjalan jika komunikator dan pendukungnya tidak memiliki strategi dan teknik yang tepat dalam melaksanakannya.
1) Kampanye
member dukungan atau suaranya kepada kandidat yang sedang berkompetisi pada pemilihan umum.
Dalam berkampanye, manajemen kampanye merupakan hal penting yang harus diperhatikan agar kampanye bisa berjalan dengan baik. Untuk mendapatkan system manajemen kampanye yang baik, maka harus memperhatikan beberapa teknik sebagai berikut:
a) Organisasi tim kampanye
Dalam organisasi tim kampanye ini terdapat tiga unsur pokok yang harus di perhatikan, yaitu kepemimpinan organisasi dan sumber daya manusia, anggaran dan jaringan organisasi.
(1) Kepemimpinan dan sumber daya manusia merupakan factor utama penentu keberhasilan dari kampanye tersebut. oleh karena itu dalam kepemimpinan dan sumber daya ini harus mempertimbangkan kualitas, komitmen dan dedikasi. Jika SDM dari suatu kampanye atau tim suksesnya memiliki kualitas yang baik dan berdedikasi tinggi maka masyarakat akan tertarik untuk menyaksikan kampanye yang dilaksanakan. Pada umumnya, orang yang melakukan kampanye calon tertentu merupakan orang yang memiliki hbungan dekat dengan kandidat ataupun tokoh yang punya pengaruh besar dan disegani oleh banyak orang
digunakan untuk mengadakan alat-alat, mengadakan rapat, memasang iklan, mendatangkan artis, konsumsi dan lain-lain. Jadi, kampanye pemilihan merupakan suatu kegiatan yang membutuhkan dana cukup banyak, sehingga jika dana tersebut tidak terpenuhi maka kampanye tidak akan berjalan dan sudah tentu calon atau kandidat tersebut sangat sulit memenangkan pemilihan.
(3) Jaringan organisasi dibutuhkan untuk membangun organisasi tim kampanye. Semakin luas jaringan yang dibuat maka semakin banyak massa pendukung calon tersebut. Jaringan organisasi dapat dikembangakan melalui pengembangan jaringan formal dan informal. Jaringan formal dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu membina jalinan hubungan keluar untuk membangun koalisi dan membina jalinan hubungan kedalam untuk maksud konsolidasi. Sedangkan secara informal tergantung pada pada pribadi tokoh yang menjadi tim kampanye, tokoh-tokoh tersebut bisa menjalin hubungan dengan berbagai kalangan di luar kegiatan formal.
b) Perencanaan dan strategi kampanye
Penelitian dan analisis situasi dilakukan supaya tim kampanye dapat mengetahui karakter-karakter ekonomi sosial dan budaya masyarakat, kecenderungan dan aspirasi pemilih serta keberadaan saingan. Semua itu harus dilaksanakan agar tim kampanye mengetahui terlebih dahulu karakter dari masyarakat sehingga bisa lebih mudah menyusun strategi serta pesan yang akan disampaikan pada saat kampanye.
(2) Analisis SWOT.
Analisis ini digunakan untuk mengetahui kekuatan/kelebihan yang dimiliki partai atau kandidat dibandingkan dengan yang lainnya, kelemahan/kekurangan yang dimiliki partai atau kandidat dibandingkan dengan yang lainnya, peluang/kesempatan yang dimiliki partai atau kandidat dibandingkan dengan yang lainnya, ancaman atau resiko yang dimiliki partai atau kandidat dibandingkan dengan yang lainnya.
(3) Tujuan-tujuan dan maksud kampanye
(4) Strategi kampanye
Strategi kampanye lebih merupakan prinsip pemikiran yang dikembangkan untuk mencapai tujuan kampanye. Strategi yang digunakan oleh setiap kandidat cenderung berbeda-beda. Mereka menggunankan strategi tersebut untuk mencari masa yang lebih banyak.
c) Pelaksanaan
Pelaksanaan dalam hal ini dimaksudkan degan pelaksanaan yang konsisten dalam pelaksanaan kampanye meskipun tetap mempertimbangkan perkembangan situasi
d) Monitoring dan evaluasi
Monitoring dan evaluasi harus terus diterapkan secara berkelanjutan. Hal ini agar para komunikator ataupn tim suksesnya bisa mengetahui permasalahan yang ada dan bisa segera memperbaiki permasalahan tersebut dengan cepat sehingga problem tersebut tidak akan mucul kembali di waktu yang lain.
F. Definisi Konsep
1. Persepsi
2. Mahasiswa
Mahasiswa adalah merupakan insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi (yang makin menyatu dengan masyarakat), dididik dan di harapkan menjadi calon-clon intelektual.
3. Iklan Politik Aburizal Bakrie
Iklan politik (political advertising) adalah kegiatan periklanan yang dilakukan oleh partai-partai politik dalam rangka kegiatan pemilu. Iklan politik itu bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat agar memilih partai yang beriklan tersebut (Syafrin, 2004: 40)
Iklan politik Aburizal Bakrie diukur dari :
a. Credibility yaitu nilai kepercayaan responden terhadap pesan politik Aburizal Bakrie.
b. Context yaitu hubungan antara pesan dan khalayak.
c. Content yaitu makna yang tersirat dalam pesan iklan politik Aburizal Bakrie.
d. Clarity yaitu faktor kejelasan makna pesan politik Aburizal Bakrie . e. Continuity yaitu kesinambungan makna pesan politik Aburizal Bakrie.
f. Consistency yaitu ketetapan terhadap makna pesan politik Aburizal Bakrie.
G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. “Penelitian deskriptif bermaksud membuat pemeriaan (penyandaraan) secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi tertentu” (Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, 2001: 4). Sedangkan menurut Sudarman Danim (2002: 41) “Penelitian deskriptif adalah mendeskripsikan suatu situasi atau area populasi tertentu yang bersifat faktual secara sistematis dan akurat. Penelitian deskrptif dapat pula diartikan sebagai penelitian yang dimaksudkan untuk memotret fenomena individual, situasi atau kelompok tertentu yang terjadi secara kekinian”.
Sedangkan metode kualitatif merupakan “Prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati” (Moleong, Lexy J. 2002: 78).
2. Sumber Data
Adapun informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Komunikasi Non Reguler Tahun 2011, dengan teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive samping, yaitu cara pengumpulan data dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu (Sugiyono, 2013). Penentuan jumlah informan dihentikan apabila telah jenuh, tidak memberikan informasi baru / berarti lagi (redundancy / jenuh).
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian komunikasi kualitatif, teknik pengumpulan data diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Interview
Interview atau wawancara secara mendalam merupakan salah satu satu teknik pengumpulan data atau informasi dengan bertanya langsung kepada informan penelitian. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu wawancara (intervieweer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Proses wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan membuat kerangka garis besar pokok-pokok yang akan ditanyakan dalam proses wawancara tersebut (Pawito, 2007: 96).
Interview atau wawancara dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data mengenai persepsi mahasiswa terhadap iklan politik Aburizal Bakrie pada media televisi TV One.
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen, agenda dan sebagainya (Suharsimi Arikunto, 2006: 231).
Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data mengenai identitas para resonden yang digunakan sebagai informan penelitian. 4. Validitas Data
Validitas data dimaksudkan sebagai pembuktian bahwa data yang diperoleh sesuai dengan kenyataan/ fakta. Untuk itu peneliti menggunakan cara trianggulasi data. Trianggulasi data merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang telah diperoleh. Hal ini bertujuan untuk mengecek (cross check) kebenaran data tersebut dengan cara membandingkannya dengan data sejenis yang diperoleh dari sumber yang lain.
Menurut Sutopo (2002: 32) menyatakan ada 4 macam triangulation yaitu :
a. Data Triangulation
Dimana peneliti mengunakan beberapa sumber data untuk mengumpulkan data yang sama. ataupun dengan mengumpulkan data sejenis tetapi dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda.
d. Theoritical Triangulation
Untuk menguji kevalidan/keabsahan data yang terkumpul peneliti menggunakan teknik triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
Adapun validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi metode dan triangulasi sumber. Triangulasi sumber yaitu upaya peneliti untuk mengakses sumber-sumber yang lebih bervariasi guna memperoleh data berkenaan dengan persoalan yang sama, hal ini berarti peneliti bermaksud menguji data yang diperoleh dari sumber (untuk dibandingkan) dengan data dari sumber lain. Sedangkan triangulasi metode dimana peneliti membandingkan temuan data yang diperoleh dengan menggunakan suatu metode tertentu, (misalnya catatan lapangan yang dibuat selama melakukan observasi) dengan data yang diperoleh dengan menggunakan metode lain (misalnya transkip dari in-depth-interview) ( Pawito, 2007: 99).
5. Teknik Analisis Data
Data yang telah diperoleh di lapangan selanjutnya akan dianalisa untuk mengetahui langkah-langkah apa yang akan diambil untuk memecahkan persoalan yang ada. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah model analisis interaktif (model saling terjalin).
proses pengumpulan data sebagai proses siklus. Secara sistematis dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 1.1
Analisis Data Model Interaktif Dari Miles Dan Huberman (1994: 12)
Keterangan :
1. Pengumpulan data
Mengumpulkan data di lokasi penelitian dengan cara melakukan wawancara, observasi dan studi dokumentasi.
2. Reduksi data
Reduksi data berarti upaya untuk mengelompokkan dan meringkas data agar dapat mengidentifikasi data-data yang mungkin kurang relevan untuk tujuan penelitian sehingga data-data tersebut tidak termasuk yang akan dianalisis.
3. Sajian data
Penyajian data (data display) melibatkan langkah-langkah mengorganisasikan data, yakni menjalin data yang satu dengan data yang lain sehingga seluruh data yang dianalisis benar-benar dilibatkan dalam
Pengumpula
n Data Sajian Data
Reduksi
satu kesatuan. Data yang tersaji berupa kelompok-kelompok atau gugusan-gugusan yang kemudian saling dikait-kaitkan sesuai dengan kerangka teori yang digunakan.
4. Verifikasi atau penarikan kesimpulan
Pada komponen terakhir yaitu penarikan serta pengujian kesimpulan (drawing and verifying conclusions) peneliti mengimplementasikan prinsip induktif dengan mempertimbangkan pola-pola data yang ada. Peneliti dalam kaitan ini akan mempertajam kesimpulan yang telah dibuat sebelumnya sampai pada kesimpulan akhir berupa proposisi-proposisi ilmiah mengenai gejala atau realitas yang diteliti.
A. Gambaran Umum FISIP UNS 1. Sejarah Perkembangan FISIP UNS
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret (FISIP-UNS) berdiri pada tahun 1976, bersamaan dengan diresmikannya Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret yang dikukuhkan dengan Keputusan Presiden RI Nomor: 10 Tahun 1976. FISIP UNS merupakan salah satu diantara Sembilan Fakultas di lingkungan UNS.
Pada saat awal berdiri, nama FISIP UNS adalah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, yang memiliki dua jurusan, yaitu jurusan Administrasi Negara dan Jurusan Publisistik. Menginjak tahun 1982, berdasar SK Presiden RI Nomor: 55 Tahun 1982 tentang “Susunan Organisasi Universitas Sebelas Maret”, nama fakultas dirubah menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret (FISIP UNS). Kemudian berdasarkan SK Mendikbud RI Nomor: 017/0/1983, tertanggal 14 Maret 1983 nama Jurusan juga berubah, menjadi Jurusan Ilmu Administrasi dan Jurusan Ilmu Komunikasi.
Dengan keluarnya SK Mendikbud RI Nomor: 055/0/1983 tanggal 8 Desember 1983 tentang “Jenis dan Jumlah Jurusan pada Fakultas di Lingkungan Universitas Sebelas Maret”, FISIP UNS menambah satu jurusan baru, yaitu Jurusan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Jurusan ini khusus melayani Mata
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (SK Dirjen Dikti Depdikbud) Nomor: 27/Dikti/Kep./1986 tanggal 29 Mei 1986, di FISIP UNS dibentuk program Studi Sosiologi yang mengawali programnya pada semester Juli-Desember 1986. Terakhir dengan SK Dirjen Dikti Nomor: 66/Dikti/Kep./ 1998, tanggal 2 Maret 1998 Program Studi Sosiologi menjadi Jurusan Sosiologi yang merupakan Program Sarjana (S1) dan berada dibawah Dekan. Kemudian jenis dan jumlah Prodi di setiap Jurusan pada Fakultas-Fakultas di lingkungan UNS juga dibakukan berdasarkan SK Dirjen Dikti Depdikbud RI Nomor: 222/Dikti/Kep./1996 tentang “Program Studi pada Program Sarjana di lingkungan Universitas Sebelas Maret. Prodi untuk Jurusan Ilmu Administrasi dan Jurusan Ilmu Komunikasi masing-masing adalah Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi.
Pada tahun awal berdirinya, sistem pendidikan di FISIP UNS adalah sistem kenaikan tingkat (5 Tahun) yang membagi satu tahun akademik menjadi dua semester dan di setiap akhir semester kedua (akhir tahun akadmik), mahasiswa dievaluasi untuk menentukan apakah mahasiswa berhasil naik ke tingkat berikutnya atau harus mengulang. Mahasiswa yang dua kali berturut-turut tidak naik tingkat, dikenai DO (Drop Out).
dalam sistem pendidikannya. Persiapan kearah itu dituangkan dalam Buku Pedoman FISIP UNS tahun 1979.
Kemudian dengan dikeluarkannya SK Mendikbud RI Nomor: 0124/U/1979 tanggal 8 Juni 1979 yang menyangkut “Jenjang Program Pendidikan Tinggi di Lingkungan Dekdikbud” FISIP UNS mengambil langkah-langkah transisi mulai tahun akademik 1979/1980 sebagai berikut:
a. Menetapkan program Strata Satu (S1) berdasarkan SK Mendikbud Nomor: 0124/U/1979 bagi mahasiswa tahun akademik 1979/1980 yang tidak naik tingkat. Sistem ini dikenal dengan Sistem Kredit Strata 8 Semester.
b. Menetapkan tetap berlakunya SK Rektor UNS Nomor: 073/PT40/C/79 Sub tentang Sistem Kredit bagi mahasiswa Tingkat II ke atas. Sistem ini dikenal dengan Sistem Kredit Non Strata 10 Semester.
0124/U/1979 dan peraturan-peraturan lain dari Dirjen Dikti sehubungan dengan pelaksanaan SK Mendikbud tadi. Upaya pemantapan ini tercermin dengan dikeluarkannya secara berturut-turut:
1. SK Rektor UNS Nomor: 150/PT40/1980 tentang “Peraturan Sistem Kredit untuk Program Strata Satu (S1) Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret”. 2. SK Rektor UNS Nomor: 80/PT40/1983 tentang “Peraturan Sistem Kredit
untuk Program Strata Satu (S1) Universitas Negeri Sebelas Maret”.
3. SK Rektor UNS Nomor: 03/PT40/1987 tentang “Peraturan Sistem Kredit Semester Universitas Negeri Sebelas Maret”.
3. Drs. Purwoto (tahun 1986-1987) 4. Drs. H. Zainuddin (tahun 1987-1993) 5. Drs. Suparni (tahun 1993-1995) 6. Drs. H. Zainuddin (tahun 1995-1998) 7. Drs. Dwi Tiyanto, SU (tahun 1998-2007) 8. Drs. H. Supriyadi, SN, SU (tahun 2007- 2011) 9. Prof. Drs. Pawito, Ph.D. (Tahun 2011 – sekarang)
Peningkatan daya tampung mahasiswa semakin diperluas sehingga kini FISIP UNS mempunyai kapasitas menerima rata-rata 250 mahasiswa baru per tahun. Kualitas akademik ditingkatkan melalui pendidikan S2 dan S3 bagi tenaga pengajar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, serta upaya lain seperti kursus-kursus, penataran dan lain-lain. Kini hampir seluruh kapasitas FISIP UNS dikerahkan guna meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
2. Visi, Misi, dan Tujuan FISIP UNS