• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatkan Kemampuan Menulis Prosa mel

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Meningkatkan Kemampuan Menulis Prosa mel"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Meningkatkan Kemampuan Menulis Prosa melalui Teknik Parafrase Puisi bagi Siswa Kelas VI

SD Negeri 2 Pamijen pada Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009 Oleh: Iksan

ABSTRAK

Tujuan umum penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis prosa melalui teknik parafrase puisi. Kemudian, tujuan khususnya adalah mengetahui upaya meningkatkan kemampuan menulis prosa melalui teknik parafrase puisi bagi siswa kelas VI SD Negeri 2 Pamijen pada semester I tahun pelajaran 2008/2009.

Penelitian ini dilaksanakan di kelas VI SD Negeri 2 Pamijen Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Subjek penelitian adalah semua siswa kelas VI SD Negeri 2 Pamijen Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas semester I tahun pelajaran 2008/2009 dengan jumlah siswa laki-laki 6 orang dan perempuan berjumlah 18 orang, jumlah siswa 24 orang.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK). PTK ini terdiri dua siklus, yaitu: Siklus I dan Siklus II. Hasil penelitian membuktikan bahwa kondisi awal sebelum guru menggunakan pembelajaran menulis prosa melalui teknik parafrase puisi, semula kemampuan menulis siswa rendah, yaitu nilai rata-rata hanya 50,56. Kemudian, setelah guru mengadakan tindakan pada siklus I dengan cara guru melaksanakan pembelajaran menulis prosa menggunakan teknik parafrase puisi tanpa dibimbing guru, pada kondisi awal nilai rata-rata hanya 50,56 pada siklus I, ternyata nilai rata-rata naik menjadi 63,33 atau naik 25,25 %. Setelah guru mengadakan tindakan pada siklus II dengan cara guru melaksanakan pembelajaran menulis prosa menggunakan teknik parafrase puisi dengan dibimbing guru, yang semula nilai rata-rata siklus I 63,33, pada siklus II naik menjadi 71,56 atau naik 41,53 %.

Kesimpulan dalam PTK ini berdasarkan kajian teoritis sebagaimana terdapat pada kerangka berpikir pada BAB II dan data empirik ternyata melalui teknik parafrase puisi bagi siswa kelas VI SD Negeri 2 Pamijen pada semester I tahun pelajaran 2008/2009 terjadi peningkatan. Dengan demikian, dapat dilihat dengan jelas bahwa kesimpulan secara teoritis sejalan dengan kesimpulan secara empirik. Jadi, hipotesis yang peneliti ajukan pada PTK ini benar-benar “terbukti”.

Kata Kunci: Kemampuan Menulis Prosa, Teknik Parafrase Puisi

PENDAHULUAN

(2)

menulis prosa atau membuat karangan atau mengarang. Kebanyakan guru sekolah dasar tidak membimbing siswa untuk menulis prosa dengan baik. Guru hanya memberikan tugas menulis prosa atau membuat karangan atau mengarang, tanpa penyusunan rencana pembelajaran yang sistematis. Hasil karya siswa (karangan atau mengarang atau menulis prosa) tidak pernah ada tindak lanjut. Demikian juga teknik atau cara pembelajaran menulis prosa atau membuat karangan atau mengarang, kurang dikuasai guru sekolah dasar. Akibatnya, kemampuan siswa dalam menulis prosa atau membuat karangan atau mengarang kurang berkembang. Guru tidak pernah mengevaluasi dengan baik siswanya yang mampu menulis prosa dan yang tidak mampu. Hal ini yang menyebabkan strandar kompetensi menulis prosa atau membuat karangan atau mengarang, yang harus dimiliki siswa tidak tercapai.

Ada anggapan menulis prosa atau membuat karangan atau mengarang, selama ini dianggap sulit bagi guru sekolah dasar di beberapa sekolah. Ada yang belum mengetahui cara mengajarkan kemampuan menulis prosa atau membuat karangan atau mengarang, kepada siswanya. Menulis prosa atau membuat karangan atau mengarang haruslah seorang penulis yang berbakat. Hal ini, menyebabkan menulis prosa atau membuat karangan atau mengarang tidak menarik minat siswa. Padahal peran guru sekolah dasar sangat penting dalam menciptakan situasi dan kondisi dalam pembelajaran menulis prosa atau membuat karangan atau mengarang.

Dengan mencermati latar belakang masalah di atas, peneliti membuat rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu apakah melalui teknik parafrase puisi dapat meningkatkan kemampuan menulis prosa bagi Siswa Kelas VI SD Negeri 2 Pamijen pada Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009?

(3)

1) Penelitian ini bermanfaat untuk memberi sumbangan informasi dan masukan pengetahuan serta pengalaman bagi guru tentang pembelajaran kemampuan menulis prosa melalui teknik parafrase puisi. yang dapat digunakan sebagai alternatitf pembelajaran menulis di sekolah dasar.

2) Guru dapat mencoba meningkatkan pembelajaran kemampuan menulis prosa melalui teknik parafrase puisi. bagi siswa sekolah dasar di tempat mereka bertugas. b) Bagi Siswa

1) Pembelajaran kemampuan menulis prosa melalui teknik parafrase puisi.bagi siswa sekolah dasar dapat mengembangkan keingintahuan dan imajinasi sehingga dapat diketahui pula potensi yang dimilikinya.

2) Siswa perlu dilatih untuk terbiasa bekerja mandiri, bekerja sama, dan berkompetisi. Sehingga perlu disediakan tugas yang mendorong kerja mandiri, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan semangat secara sportif dan juga menyediakan kegiatan yang mendorong untuk bekerja sama dengan menjunjung solidaritas.

c) Bagi Sekolah

1) Kegiatan pembelajaran kemampuan menulis prosa melalui teknik parafrase puisi.bagi siswa sekolah dasar dapat mengembangkan kreatifitas siswa.

2) Pembelajaran kemampuan menulis prosa melalui teknik parafrase puisi. bagi siswa sekolah dasar dapat diarahkan untuk kegiatan pengisian pada majalah dinding (mading) di sekolah dasar.

KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS Pengertian Kemampuan Menulis Prosa

(4)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kemampuan artinya kesanggupan, kecakapan; kekuatan (Depdiknas, 2005:707-708). Lalu, kemampuan bahasa artinya kemampuan seseorang menggunakan bahasa yang memadai dilihat dari sistem bahasa. Pengertian menulis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1990: 968) yaitu melahirkan pikiran atau perasaan (seperti: mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Kemudian, menulis menurut H.G. Tarigan (1985: 21) menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Kemudian, kemampuan menulis adalah kemampuan seseorang menggunakan bahasa untuk menyelesaikan tugas menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2005: 899) arti kata prosa adalah karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yang tedapat dalam puisi). Menurut Muchlisoh dkk menjelaskan bahwa prosa sebagai berikut:

“Prosa adalah karangan bebas. Maksudnya penulis prosa dapat secara bebas meuliskan apa yang di dalam pikirannya tanpa harus terikat oleh aturan tertentu. Penulis tidak perlu menggunakan bentuk kata yang dibuat-buat agar terasa indah. Penulis tidak perlu susah payah mencari kata-kata atau huruf-huruf yang bunyinya sama akhir kalimat. Tak perlu menghitung jumlah huruf, suku kata, dan kata yang dipergunakan untuk mengutarakan ide atau pesannya secara tertulis. Itulah kebebasan yang dimaksud menulis prosa.

Kebebasan dalam menulis prosa, tidak berarti kebebasan tanpa batas. Karena ada bentuk prosa yang memperhatikan keindahan bahasa di samping merupakan pemerian langsung. Jadi, ada prosa yang menitikbertakan pada kejelasan objek yang diuraikan dan ada prosa yang menitikberatkan pada unsur keindahan bahasa yang dipergunakan dalam pemerian suatu objek tertentu (Depdikbud, 1992: 347)”.

(5)

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prosa adalah karangan bebas yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Sebuah karangan tidak terikat pada jumlah kalimat tertentu. Banyaknya kalimat bergantung pada panjang pendeknya karangan. 2) Tiap kalimat tidak terikat oleh ketentuan

banyaknya kata maupun suku kata.

3) Tidak ada ketentuan yang menyangkut

persamaan bunyi.

Berdasarkan pengertian di atas bahwa menulis adalah kemampuan seseorang menggunakan bahasa untuk menyelesaikan tugas menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Kemudian, prosa adalah karangan bebas. Jadi, menulis prosa pada penelitian ini adalah menulis karangan bebas sesuai kemampuan seperti pada ciri-ciri prosa di atas.

Kemampuan Menulis Prosa Tanpa Bimbingan

Bimbingan merupakan bagian yang integral dari pendidikan, sebab bimbingan merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan program pendidikan. Bimbingan merupakan sebagian dari keseluruhan program pendidikan yang dilakukan agar anak didik dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Moh. Surya (1996 : 23), menjelaskan bahwa bimbingan ialah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.

(6)

penempatan sesudah diadakan treatment yang memadai. Jadi, kemampuan menulis prosa tanpa bimbingan maksudnya kemampuan menulis prosa yang dilakukan oleh siswa tanpa dituntun atau dibimbing oleh gurunya.

Kemampuan Menulis Prosa dengan Bimbingan

Menulis menulis prosa dengan bimbingan adalah menulis prosa bacaan dengan cara guru membimbing atau memandu anak secara sistematis tahap demi tahap, kata demi kata, baris demi baris, sampai akhirnya tersusun sebuah prosa atau peristiwa. Dengan bimbingan guru diharapkan siswa dapat menulis prosa. Akhirnya, peneliti berharap kemampuan menulis prosa siswa dapat meningkat sebagai tujuan penelitian ini.

Pengertian Teknik Parafrase Puisi

Pengertian kata teknik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cara (kepandaian dsb.) membuat atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan seni; metode atau sistem mengerjakan sesuatu (Depdiknas, 2005: 1158). Menurut T. Raka Joni (dalam Sri Anitah W.: 2008: 1.25) menyatakan bahwa teknik pembelajaran mengacu pada ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu, seperti: kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan kesiapan siswa, dan sebagainya. Teknik pembelajaran merupakan wujud konkret dari penggunaan metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran. Dari langkah-langkah atau teknik pembelajaran, kita dapat mengetahui metode, strategi, dan pendekatan yang digunakan dalam suatu proses pembelajaran.

Menurut Sri Anitah W. (2008: 1.27-1.28) membedakan pendekatan, strategi, metode, dan teknik sebagai berikut:

1. Pendekatan pembelajaran adalah cara umum dalam memandang pembelajaran.

2. Strategi adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala sumber belajar yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

3. Metode mengajar adalah berbagai cara kerja yang bersifat relative umum yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. 4. Teknik pembelajaran adalah ragam khas penerapan

(7)

Berdasarkan pendapat di atas peneliti berkesimpulan bahwa teknik adalah usaha-usaha guru, atau cara-cara yang digunakan guru menyampaikan dalam pembelajaran untuk mencapai kompetensi pembelajaran tertentu.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian parafrase dijabarkan dalam 2 pengertian (dwi makna), yakni; 1) proses atau hasil pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi yang lain tanpa mengubah pengertian 2) penguraian kembali suatu teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata-kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menerangkan lebih jelas makna yang tersembunyi.

Kegiatan parafrase menurut Djago Tarigan dkk (1997:11.4) dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut:

1. membaca dan memahami secara keseluruhan suatu karya sastra;

2. memahami jenis perubahan yang akan dilakukan, baik bentuknya berupa puisi, prosa, atau drama, maupun redaksinya atau penggunaan bahasanya;

3. mengungkapkan kembali dengan redaksi bahasa dan bentuk yang berbeda

Menurut H.G. Tarigan (dalam Muchlisoh, 1993:360) istilah puisi berasal dari bahasa Yunani, yakni poiesis yang berarti penciptaan. Istilah tersebut lama-kelamaan semakin sempit ruang lingkupnya menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata kiasan.

Mengutip pendapat Watts dalam H.G. Tarigan mengatakan (dalam Muchlisoh, 1993:360), bahwa puisi adalah ekspresi yang konkret dan bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama. Kemudian, pendapat Proyek PPPG (dalam Muchlisoh, 1993:360) bahwa puisi atau sanjak adalah salah satu bentuk (perwujudan) penghayatan pengarang yang memiliki ciri-ciri khas bila dibandingkan dengan bentuk sastra lainnya. Secara lahiriah, puisi atau sanjak tertulis biasanya terdiri atas beberapa larik, dan larik itu memperlihatkan pertalian makna serta membentuk sebuah bait atau lebih.

Berdasarkan beberapa pendapat tentang puisi di atas dapat peneliti menyimpulkan bahwa puisi adalah salah satu bentuk cipta sastra atau karya tulis yang bersifat terikat. Penulisan puisi terikat oleh hal-hal sebagai berikut:

1) terikat oleh banyaknya baris yang membentuk sebuah bait;

(8)

3) penggunaan kata-kata yang benar-benar direncanakan secara matang dan tepat guna;

4) menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata kiasan; dan 5) menggunakan bahasa emosional dan berirama.

Materi puisi yang akan peneliti sajikan merupakan puisi anak. Menurut Yusi Rosdiana dkk (2008: 7.11) menjelaskan bahwa puisi anak adalah puisi untuk dikonsumsi anak, yang isinya sesuai dengan lingkungan anak, dan memiliki nilai-nilai yang dapat membentuk sikap, budi pekerti yang luhur, serta memiliki nilai seni. Berfungsi sebagai media anak dalam mengekspresikan apa yang dirasakan anak, menambah wawasan dan pengalaman anak serta serta dikemas dengan kesederhanaan bentuk, pemakaian bahasa dan gaya penyampaian secara langsung.

Menurut Hendry Guntur Tarigan (dalam Solchan T.W., 2008: 9.26-9.31) menjelaskan ada 19 teknik dalam pembelajaran menulis, terdiri dari: 1) menyusun kalimat, 2)memperkenalkan kalimat, 3)meniru model, 4)karangan bersama, 5) mengisi, 6) menyusun kembali, 7)menyelesaikan cerita, 8)menjawab pertanyaan, 9)meringkas bacaan, 10)parafrase, 11) reka cerita gambar, 12)memerikan, 13)mengembangkan kata kunci, 14)mengembangkan kalimat topic, 15)mengembangkan judul, 16)mengembangkan peribahasa, 17)menulis surat, 18)menyusun dialog, dan 19)menyusun wacana.

Berdasarkan teknik dalam pembelajaran menulis tersebut di atas, salah satunya adalah teknik parafrase. Menurut Solchan T.W. (2008: 9.29) bahwa dalam pengajaran menulis dapat juga digunakan teknik parafrase dengan jalan guru memberi karangan puisi yang harus diubah oleh siswa dalam bentuk prosa atau sebaliknya.

Menurut Honiatri Euis (2003: 23) menjelaskan urutan teknik atau cara membuat parafrase sebagai berikut:

1. bacalah informasi dengan cermat; 2. pahami isi informasi;

3. menuliskan inti atau pokok informasi yang anda tangkap; 4. kembangkan inti atau pokok informasi dengan kalimat sendiri;

5. pengembangan inti dapat dengan cara mencari kata atau ungkapan yang memiliki pengertian yang sama (bersinonim);

(9)

Menurut Hanif Nurcholis (2007:91) langkah-langkah parafrase puisi menjadi bentuk prosa sebagai berikut:

1. Membaca puisi berulang-ulang sampai memahami isinya. 2. Mengartikan kata-kata sulit atau mencari makna kata-kata sulit 3. Merangkai kata-kata yang sudah diartikan menjadi cerita. A. Kerangka Berpikir

GAMBAR 1

SKEMA KERANGKA BERPIKIR

Berdasarkan kajian teori di atas, kerangka berpikir penelitian ini adalah diduga melalui teknik parafrase puisi dapat meningkatkan kemampuan menulis prosa bagi siswa kelas VI SD Negeri 2 Pamijen pada semester I tahun pelajaran 2008/2009.

B. Pengajuan Hipotesis

(10)

Setting Penelitian

Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan pada semester I tahun pelajaran 2008/2009 bulan Juli s.d. Desember 2008 pada jam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian dilaksanakan di kelas VI SD Negeri 2 Pamijen Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Tepatnya, penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Pamijen dianggap memenuhi syarat untuk tempat penelitian. Hal ini karena peneliti sering mengamati kemampuan menulis prosa dengan teknik parafrase puisi siswa SD Negeri 2 Pamijen masih sangat rendah. Menulis prosa dengan teknik paraphrase puisi tersebut belum pernah secara detail bagi guru dan siswa sehingga perlu diadakan penelitian.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah semua siswa kelas VI SD Negeri 2 Pamijen Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas semester I tahun pelajaran 2008/2009 dengan jumlah siswa laki-laki 6 orang dan perempuan berjumlah 18 orang, jumlah siswa 24 orang. Jadi, 24 anak kelas VI sebagai responden penelitian. Untuk menjaga objektifitas setiap nama anak hanya ditulis singkatan inisial singkatan nama pada responden subjek penelitian. Sumber Data

Penelitian Tindakan Kelas ini hanya menggunakan sumber data primer yang berupa nilai hasil belajar. Nilai hasil belajar tersebut diperoleh melalui tes pada akhir tiap siklus. Karena penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus maka terdapat 2 nilai. Nilai pertama diperoleh melalui tes di akhir siklus pertama, dan nilai kedua diperoleh melalui tes di akhir siklus kedua.

Sumber data primer penelitian berupa hasil karya menulis prosa melalui teknik parafrase puisi sebagai hasil tes tertulis siswa kelas VI sebagai subjek penelitian setelah selesai setiap siklus. Wujud data berupa angka nilai-nilai kuantitatif karya menulis prosa setiap anak kelas VI.

(11)

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data dalam penelitian tindakan kelas ini diperlukan teknik dan alat pengumpulan data. Hal tersebut dapat peneliti jelaskan sebagai berikut. 1. Teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui tes dan nontes. Dalam penelitian ini

pengumpulan data dilakukan dengan cara tes berbentuk tes secara tertulis berupa uraian. Uraian yang dimaksud adalah hasil tes atau sebuah karya menulis prosa melalui teknik parafrase puisi siswa yang dituangkan pada selembar kertas yang disediakan oleh peneliti.

2. Alat pengumpul data berupa perangkat butir soal tes tertulis yang dibuat oleh peneliti sebagai guru pengampu. Buah karya menulis prosa melalui teknik parafrase puisi siswa sebagai hasil kemampuan menulis tersebut dituangkan pada selembar kertas. Kemudian, karya siswa tersebut dinilai oleh guru dan peneliti sebagai penilai / juri. 3. Perangkat butir soal tes tertulis diberikan setiap akhir siklus I dan siklus II kepada siswa

kelas VI. Validasi Data

Untuk keabsahan hasil penelitian, peneliti menyusun perangkat penelitian tiap siklus sebagai berikut:

1. Kisi-kisi Penelitian; 2. Butir Soal Penelitian;

3. Kriteria Penilaian Penelitian; 4. Hasil Tes Penelitian;

Analisis Data

Penelitian ini tidak menggunakan uji statistik karena penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Kegiatan analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Hasil tes siklus I dianalisis dengan cara mencari nilai rata-rata, nilai tertinggi dan nilai terendah semua siswa.

(12)

3. Mengalisis rata-rata nilai tersebut dengan cara menggunakan analisis deskriptif komparatif, yaitu membandingkan nilai rata-rata siklus I dan siklus II dan kondisi awal sebelum penelitian.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode PTK. PTK ini terdiri dua siklus, yaitu: Siklus I dan Siklus II. Langkah-langkah dalam setiap siklus ada empat terdiri dari:

1. Planning / Perencanaan Tindakan 2. Acting / Pelaksanaan Tindakan 3. Observing / Melakukan Pengamatan 4. Reflecting / Melakukan Refleksi HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Kondisi Awal

Sebelum melaksanakan penelitian tindakan kelas, peneliti mengadakan kegiatan pretes. Pretes ini baru dapat dilaksanakan pada hari Senin, 3 November 2008 untuk semua responden / subjek penelitian. Hal ini karena bulan September dan Oktober padat kegiatan dan libur bulan Ramadhan/Puasa serta libur Hari Raya Idul Fitri 1429 Hijriah. Subjek penelitian adalah semua siswa kelas VI SD Negeri 2 Pamijen Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas semester I tahun pelajaran 2008/2009. Untuk menjaga objektifitas setiap nama anak hanya ditulis singkatan inisial singkatan nama pada responden subjek penelitian.

Setelah siswa melaksanakan pretes, kemudian hasil karya siswa / menulis prosa siswa dinilai oleh dua orang juri (Guru Kelas VI dan Peneliti). Kemudian, hasil penilaian dua orang dijumlahkan dan dibagi dua. Peneliti sadar penilaian menulis merupakan penilaian yang bersifat subjektif sehingga perlu dua orang penilai agar penilaian ini objektif. Hasil pretes kemampuan menulis prosa siswa kelas VI SD Negeri 2 Pamijen diperoleh nilai tertinggi 80 sedangkan nilai terendah 21,5 dan nilai rata-rata 50,56.

Deskripsi Hasil Siklus I

(13)

berupa nilai hasil tes tertulis, terhadap buah karya menulis prosa melalui teknik parafrase puisi “Menyesal” siswa kelas VI. Hasil tes kemampuan menulis prosa siswa siklus I diperoleh nilai tertinggi 81, nilai terendah 39 dan nilai rata-ratanya 63,33.

Berdasarkan nilai hasil tes pada kondisi awal dan setelah tindakan pada siklus I dapat diambil kesimpulan sementara bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata. Pada kondisi awal nilai rata-rata anak 50,56, kemudian pada siklus I nilai rata-rata anak meningkat menjadi 63,33.

Untuk menghitung persentase kenaikan nilai digunakan rumus sebagai berikut:

Persentase = x100% siAwal

NilaiKondi kan NilaiKenai

Berdasarkan rumus persentase di atas, yang semula nilai rata-rata kondisi sebesar 50,56 dan nilai rata-rata siklus I sebesar 63,33 maka diperoleh persentase peningkatan sebesar 25,25 %. Dengan demikian dapat disimpulkan sementara bahwa terjadi kenaikan yang tinggi, yaitu: nilai rata-rata kondisi awal: 50,56, nilai rata-rata siklus I: 63,33 pada siklus I nilai rata-rata naik sebesar 25,25 %.

Adapun penyebab nilai rata-rata pada siklus I naik adalah sebagai berikut: 1. Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan pada jam pertama sehingga suasana anak

masih segar, anak masih bersengat untuk belajar;

2. Guru / peneliti dapat menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan siswa dengan cara memberi contoh membaca puisi berjudul ”Buku” secara bervariasi dan ekspresif.

3. Guru / peneliti mengajar menggunakan alat peraga dan demontrasi baca puisi sehingga membuat belajar suasana tambah ceria dan bersemangat.

4. Siswa menulis prosa bebas di sekitar lingkungan sekolah. Kemudian, siswa menulis prosa. Hal ini menurut siswa baru pertama dilakukan sehingga siswa merasa senang dan bebas.

Deskripsi Hasil Siklus II

(14)

VI. Hasil tes kemampuan menulis prosa siswa siklus I diperoleh nilai tertinggi: 81 nilai terendah: 39 dan nilai rata-ratanya 63,33. Hasil pengamatan yang diperoleh pada siklus I berupa nilai hasil tes tertulis, terhadap buah karya prosa siswa kelas VI.

Selanjutnya, hasil tes kemampuan menulis prosa siswa siklus II diperoleh nilai tertinggi 86,5, nilai terendah 57,5 dan nilai rata-ratanya 71,56. Hasil pengamatan yang diperoleh pada siklus II juga berupa nilai hasil tes tertulis, terhadap buah karya menulis prosa siswa kelas VI sama dengan siklus I.

Berdasarkan nilai hasil tes pada kondisi awal dan setelah tindakan pada siklus I dapat diambil kesimpulan sementara bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata. Pada siklus I nilai rata-rata anak 63,33, kemudian pada siklus II nilai rata-rata meningkat menjadi 71,56.

Berdasarkan persentase, yang semula rata-rata nilai siklus I sebesar 63,33 dan nilai rata-rata siklus II sebesar 71,56 maka diperoleh persentase peningkatan sebesar 12,99%. Dengan demikian dapat disimpulkan sementara bahwa terjadi kenaikan yang tinggi, yaitu: nilai rata-rata siklus I sebesar 63,33, nilai rata-rata siklus II 71,56 pada siklus II nilai rata-rata naik sebesar 71,56 atau 12,99%.

Adapun penyebab nilai rata-rata pada siklus 1 naik adalah sebagai berikut: 1. Pelaksanaan tindakan siklus II sama dengan siklus I, hanya berbeda judul puisi. Siklus

II juga dilaksanakan pada jam pertama sehingga suasana anak masih segar, anak masih bersengat untuk belajar;

2. Guru/peneliti dapat menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan siswa dengan cara membacakan puisi secara bervariasi dan ekpresif . 3. Guru/peneliti mengajar menggunakan alat peraga dan demontrasi baca puisi yang

menarik anak. Guru juga mampu membawa siswa mengarahkan siswa memahami makna dan pesan isi puisi.

4. Siswa menulis prosa bebas di sekitar lingkungan sekolah sekolah secara langsung. Hal ini menurut siswa lebih menyenangkan menulis prosa di luar ruangan seperti pada siklus II sehingga siswa merasa senang dan dan bebas.

(15)

Adapun hasil pengamatan dapat dilihat pada gambar diagram di bawah ini.

Gambar Diagram Batang Hasil Pengamatan

Persentase kenaikan nilai rata-rata dapat peneliti uraikan sebagai berikut:

1. Nilai rata-rata kondisi awal semula 50,56 pada tindakan siklus I naik menjadi 63,33 atau naik 25,25 % .

2. Nilai rata-rata siklus I semula 63,33 pada tindakan siklus II naik menjadi 71,56 atau naik 12,99%.

3. Nilai rata-rata kondisi awal semula 50,56 pada tindakan siklus II juga naik menjadi 71,56 atau naik 41,53 %.

Kesimpulan dari Hasil Penelitian

Berdasarkan data empirik dalam penelitian yang telah dilaksanakan oleh peneliti mulai kondisi awal, tindakan pada siklus I dan siklus II maka dapat peneliti simpulkan bahwa melalui teknik parafrase puisi dapat meningkatkan kemampuan menulis prosa bagi siswa kelas VI SD Negeri 2 Pamijen pada semester I tahun pelajaran 2008/2009 Kec. Baturraden Kab. Banyumas.

PENUTUP Simpulan

Berdasarkan data empirik pada hasil penelitian tindakan kelas (PTK), dapat peneliti sajikan data-data sebagai berikut:

1. Kondisi awal sebelum guru menggunakan pembelajaran menulis prosa melalui teknik parafrase puisi semula kemampuan menulis siswa rendah, yaitu nilai rata-rata hanya 50,56.

(16)

3. Setelah guru mengadakan tindakan pada siklus II dengan cara guru melaksanakan pembelajaran menulis prosa menggunakan teknik parafrase puisi dengan dibimbing guru, yang semula nilai rata-rata siklus I 63,33, pada siklus II naik menjadi 71,56 atau naik 41,53 %.

4. Perbandingan nilai rata-rata kondisi awal dengan siklus II semula 46,53 pada tindakan siklus II juga naik menjadi 68,05 atau naik 46,24 %.

Berdasarkan kajian teoritis sebagaimana terdapat pada kerangka berpikir pada bab II bahwa melalui teknik parafrase puisi dapat meningkatkan kemampuan menulis prosa bagi siswa kelas VI SD Negeri 2 Pamijen pada semester I tahun pelajaran 2008/2009 Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Dengan demikian, dapat dilihat dengan jelas bahwa kesimpulan secara teoritis sejalan dengan kesinpulan secara empirik. Jadi, hipotesis yang peneliti ajukan pada PTK ini benar-benar “terbukti”.

Implikasi

Berdasarkan laporan hasil PTK ini secara teoritis bagi peneliti khususnya dan para guru umumnya semakain menyadari bahwa melalui teknik parafrase puisi dapat meningkatkan kemampuan menulis prosa bagi siswa kelas VI SD Negeri 2 Pamijen pada semester I tahun pelajaran 2008/2009 Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Kemudian, secara praktis, teknik parafrase puisi dapat mengatasi rendahnya kemampuan menulis prosa siswa.

Saran

Berdasarkan pada simpulan hasil penelitian di atas peneliti ingin memberikan saran-saran kepada para guru dan pihak terkait sebagai berikut.

a. Bagi Siswa

1) Pembelajaran menulis prosa dengan teknik parafrase puisi bagi siswa sekolah dasar dapat mengembangkan keingintahuan dan imajinasi sehingga dapat diketahui pula potensi yang dimilikinya.

(17)

b. Bagi Guru

1) Penelitian ini bermanfaat untuk memberi sumbangan dan masukan pengetahuan serta pengalaman bagi guru tentang pembelajaran menulis yang dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran menulis prosa di sekolah dasar.

2) Guru disarankan mencoba meningkatkan pembelajaran kemampuan menulis prosa dengan teknik parafrase puisi.

c. Bagi Sekolah

1) Kegiatan pembelajaran menulis prosa dengan teknik parafrase puisi bagi siswa sekolah dasar dapat mengembangkan kreatifitas siswa.

2) Pembelajaran menulis prosa dengan teknik parafrase puisi dapat diarahkan untuk kegiatan pengisian pada majalah dinding (mading) di sekolah dasar.

DAFTAR PUSTAKA

Alim, Djeniah. 1996. Lancar Berbahasa Indonesia untuk Kelas 5. Jakarta. Depdikbud. Ahmadi, Abu. 2000. Metodologi Penelitian,Jakarta. Bumi Aksara

Anitah, W. Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Cet. KetigaJakarta: Universitas Terbuka.

Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.

Depdiknas. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta. Balai Pustaka.

_______. 2006. Standar Isi, Standar Kriteria Kelulusan, Implementasi Standar Isi dan Standar Kriteria Kelulusan. Jakarta: Peraturan Menteri No. 22, 23,24 Tahun 2006.

Dinas P dan K Propinsi Jawa Tengah. 1995. Bahan Orientasi Pengelolaan Perpustakaan Sekolah bagi Kepala Sekolah dan Guru Sekolah Dasar. Semarang: Dinas P dan K Propinsi Jawa Tengah.

Erman Amti Marjohan. 1992. Bimbingan dan Konseling, Jakarta.

(18)

Kartosedono, Soekarman. 2002. Modul Materi Pokok Pengembangan Perpustakaan untuk Pelatihan Pengelola Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Masyarakat. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.

Moh. Surya. 1988. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan (Konsep Dasar Teori) Yogyakarta : Kota Kembang.

Muchlisoh, dkk. 1992. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu Guru SD Setara D-II dan Pendidikan Kependudukan Depdikbud. Nurcholis, Hanif dan Mafrukhi. 2007. Saya Senang Berbahasa Indonesia untuk Sekolah

Dasar Kelas VI. Jakarta: Erlangga.

Rosdiana, Yusi dkk. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia di SD. Cet. Kedua. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sudjamiko. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam Menunjang Kecakapan Hidup Siswa. Jakarta: Depdiknas.

Solchan T.W. dkk. 2008. Buku Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia di SD.Cetakan Ketiga Jakarta: Universitas Terbuka.

Tarigan, H.G. 1983. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

(19)

BIODATA PENULIS

1. Nama Lengkap Drs. IKSAN

2. NIP 131728849

3. Jabatan Guru Guru Pembina tk. I, TMT 30 Juni 2007 4. Pangkat dan Golongan Pembina tk. I, IV/b, TMT 1 April 2008

5. Tanggal Lahir 13 Maret 1966

6. Tempat Lahir Banyumas

7. Jenis Kelamin Pria

8. Agama Islam

9. Sekolah SD Negeri 2 Pamijen

10. Jabatan Kepala Sekolah

11. Alamat Sekolah Jalan Desa Pamijen Kec. Baturraden Kab. Banyumas Kode Pos 53151

12. Telepon (0281) 7922813

13. Status Perkawinan Kawin

14. Alamat a. Jalan Riyanto, Gang Cempaka b. Kelurahan Sumampir RT 05 RW 03 c. Kecamatan Purwokerto Utara d. Kabupaten Banyumas

e. Provinsi Jawa Tengah

15. Telepon a. Rumah

(20)

16. Keterangan Juara I Kepala Sekolah Berprestasi tingkat Kabupaten Banyumas Tahun 2007

PENGALAMAN MENULIS PENELITIAN TINDAKAN KELAS

No. Judul Penelitian Tahun Posisi Penulis Pemberi Dana 1. ”Upaya Meningkatkan Minat

(21)

Parafrase Puisi bagi Siswa Kelas VI SD Negeri 2 Pamijen pada Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009

PENGALAMAN MENULIS MAKALAH/TULISAN POPULER

No. Judul Karya Tulis Tahun Dimuat Pada

1 “Bahasa Pewara, Banyak yang Salah?”

September 1996 Krida Wiyata PD I PGRI Jateng No. 18/Th XI/1996 2 “Pendekatan Pengajaran Bahasa” Oktober 1996 Krida Wiyata PD I PGRI Jateng No. 20/Th XI/1996 3 “SD Unggulan Abad ke-21,

Tantangan dan Harapan”

Maret 1997 Krida Wiyata PD I PGRI Jateng No. 05/Th XII/1997

4 “Mengenal Karakteristik Bahasa Ilmiah”

Oktober 1997 Krida Wiyata PD I PGRI Jateng No. 20/Th XII/1997

5 ”Upaya Meningkatkan Minat Belajar Mata Pelajaran IPS Sejarah dengan Menggunakan Alat Peraga pada Siswa Kelas 4 SD Negeri 1 Kemutug Lor Kec. Baturraden Kab. Banyumas semester II tahun pelajaran

6 “Dimensi Kepemimpinan yang Mandiri Kepala SD dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan”

2004 Majalah Suara Guru No. 04/LIV/2004

7 “Pentingnya Teknik Desensitiasi Sistematis sebuah Upaya Meningkatkan Perilaku Percaya Diri pada Siswa Sekolah Dasar

(22)

Purwokerto 9 Pentingnya Penerapan Analisis

Tingkah Laku terhadap Siswa yang Malas Belajar di Sekolah Dasar”

Vol 1 No. 1 Desem ber

2005

Jurnal Paedagog, PGRI dan Dinas Pendidikan Kab. Banyumas

10. “Upaya Bimbingan terhadap Siswa yang Mengalami Rendah Diri di Sekolah Dasar”

2005 Makalah Disimpan di Perpustakaan SD

11. “Upaya Bimbingan bagi Siswa yang Malas Belajar melalui Analisis Tingkah Laku di Sekolah Dasar”

20 Oktober

Gambar

GAMBAR 1 SKEMA KERANGKA BERPIKIR
Gambar   Diagram Batang Hasil PengamatanPersentase kenaikan nilai rata-rata dapat peneliti uraikan sebagai berikut:

Referensi

Dokumen terkait

Filed in: Sosialisasi e-KTP Tags: e-ktp, karakteristik, ktp, lama, nasional, perbedaan, sejarah, teknologi,

Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara/bahan organik tanah dengan pemberian berbagai dosis bokashi jerami padi pada

bahwa dalam rangka penertiban hak-hak tanah serta demi kepastian hukum perlu diadakan ketentuan mengenai status tanah-tanah, asal dari harta kekayaan perusahaan milik Belanda

Then, there were five types of data needed in this study, they are: (1) to explore the kinds of activity that take place during the process of teaching and learning

RPP tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2006 tentang Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia. Penugasa, khusus

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah adanya cacat (defect) yang melebihi standar perusahaan sehingga kualitas produk tidak sesuai dengan keinginan konsumen dan

[r]

[r]