Analisis Sosiologis Tokoh Utama Aomame Dalam Novel “ 1q84 “ Karya Haruki Murakami

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL, SOSIOLOGIS SASTRA, DAN RIWAYAT HIDUP HARUKI MURAKAMI

2.1 Defenisi Novel

Abrams dalam Nurgiyantoro (1995:9), menyatakan bahwa novel berasal

dari bahasa Italia yaitu Novella yang secara harfiah yang berarti sebuah barang

baru yang kecil yang kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk

prosa.

Novel merupakan jenis dan genre prosa dalam karya satra. Prosa dalam

pengertian kesusastraan juga disebut fiksi. Karya fiksi menyarankan pada suatu

karya sastra yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu

yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak perlu dicari

kebenarannyapada dunia nyata (Nurgiyantoro, 1995:2). Dan menurut Takeo

dalam Pujiono (2002:3), novel merupakan sesuatu yang menggambarkan

kehidupan sehari-hari didalam masyarakat meskipun kejadiannya tidak nyata.

Diantara genre utama karya sastra, yaitu puisi, prosa dan drama, genre

prosalah, khususnya novel yang dianggap paling dominan dalam menampilkan

unsur-unsur sosial. Alasan yang dapat ditemukan diantaranya:

1. Novel menampilkan unsur-unsur cerita paling lengkap, memiliki media

yang paling luas, menyajikan masalah-masalah kemasyarakatan yang

paling luas.

2. Bahasa novel cenderung merupakan bahasa sehari-hari, bahasa yang

(2)

Karya-karya modern klasik dalam kesusastraan, kebanyakan berisi

karya-karya novel. Novel merupakan bentuk karya-karya sastra yang paling populer di dunia.

Bentuk sastra ini paling banyak beredar, lantaran daya komunikasinya yang luas

pada masyarakat. Novel yang baik adalah novel yang isinya dapat memanusiakan

para pembacanya. Banyak sastrawan yang memberikan batasan atau defenisi

novel. Batasan atau defenisi yang mereka berikan berbeda-beda karena sudut

pandang yang mereka pergunakan juga berbeda-beda.

Beberapa pandangan yang berupaya menjabarkan defenisi novel antara

lain sebagai berikut:

1. Fielding dalam Atmaja (1986:44) mengatakan bahwa novel merupakan

modifikasi dunia modern paling logis, dan merupakan kelanjutan dari

dunia epik. Pernyataan ini tidak saja terbukti kebenarannya namun relevan

untuk situasi kini, suatu masa dimana novelis tidak lagi menampilkan

segi-segi sosial dan psikologis didalam permasalahan masyarakat biasa.

2. Wellek dan Warren (1995:282) novel adalah gambaran dari kehidupan dan

perilaku yang nyata, dari zaman pada saat novel itu ditulis yang bersifat

realistis dan mengacu pada realitas yang lebih tinggi dan psikologi yang

lebih mendalam.

3. Jacob Sumardjo (1999:11-12) novel adalah genre sastrayang berupa cerita,

mudah dibaca dan dicernakan, juga kebanyakan mengandung unsur

suspense dalam alur ceritanya yang mudah menimbulkan sikap penasaran

bagi pembacanya.

Namun ada juga yang berpendapat bahwa novel merupakan cermin

(3)

membenarkan pendapat ini berasumsi bahwa novel atau cerita rekaan itu

memberikan bayangan tentang apa yang terjadi dalam masyarakat pada suatu

zaman walaupun tokoh-tokohnya bukan tokoh yang sesungguhnya. Misalnya Siti

Nurbaya karya Mara Rusli. Dalam kenyataan peristiwa itu memang ada, tetapi

peristiwa dalam cerita tidak sama persis dengan yang ada dalam kenyataan karena

pengarang telah memperkaya cerita ini dengan imajinasinya. Jika sama benar

yang diceritakan pengarang cerita dengan peristiwa yang disampaikannya, maka

tulisan itu bukan cerita lagi melainkan laporan peristiwa. Sebaliknya, orang yang

berpendapat bahwa novel atau cerita rekaan bukan cermin, masyarakat berasumsi

bahwa cerita itu semata-mata berisi imajinasi pengarang. Jadi, apa yang

diceritakan pengarang sama sekali tidak ada kaitannya dengan dunia nyata

(Rustapa, 1990:7).

Novel dapat memberi dampak positif bagi pembacanya karena novel itu

memberikan manfaat pendidikan atau hiburan. Akan tetapi, tidak sedikit novel

yang memberikan dampak negatif, misalnya novel yang didalamnya terdapat

adegan-adegan yang kasar atau adegan yang dapat menimbulkan dorongan

seksual kepada pembaca.

2.1.1 Unsur Intrinsik Novel

Dalam sebuah novel terkandung unsur-unsur struktur yang membentuk

novel tersebut. Unsur-unsur struktur novel tersebut adalah tema, penokohan, alur,

(4)

A. Tema

Tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang

melatarbelakangi ciptaan karya sastra. Karena sastra merupakan refleksi

kehidupan masyarakat, maka tema yang diungkapkan dalam karya sastra sangat

beragam. Tema bisa berupa persoalan, moral, etika, agama, sosial, budaya,

teknologi, tradisi yang terkait erat dengan masalah kehidupan. Namun, tema bisa

berupa pandangan pengarang, ide, atau keinginan pengarang yang

mensiasatipersoalan yang muncul.

Tema ibarat dasar pada sebuah bangunan. Tema merupaka dasar segala

penggambaran tokoh, penyusunan alur, dan penentuan latar. Tema tidak dituliskan

secara eksplisit. Kita dapat menentukan tema novel setelah kita membaca

keseluruhan cerita. Jadi tema tidak dapat dilihat secara konkret, tetapi harus

dipikirkan dan dirasakan, baru dapat disimpulkan (Rustapa, 1990:11). Tema

merupakan ide pokok atau permasalahan utama yang mendasari jalan cerita novel.

Aminuddin (2000: 92) menjelaskan bahwa ada langkah-langkah yang harus

pembaca perhatikan untuk memahami tema dari sebuah karya fiksi, yakni :

1. Memahami isi setting dalam prosa fiksi yang dibaca.

2. Memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam prosa fiksi yang

dibaca.

3. Memahami satuan peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa dalam

prosa fiksi yang dibaca.

(5)

5. Menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan lainnya yang

disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa yang terpapar dalam suatu cerita.

6. Menentukan sikap penyair terhadap poko-pokok pikiran yang ditampilkan.

7. Mengidentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan bertolak

dari satuan pokok pikiran serta sikap penyair terhadap pokok pikiran yang

ditampilkan.

8. Menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta menyimpulkannya dalam

satu dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang

dipaparkan pengarangnya.

B. Penokohan

Yang dimaksud penokohan adalah bagaimana pengarang menampilkan

tokoh-tokoh dalam ceritanya dan bagaimana perilaku tokoh-tokoh tersebut. Ini

berarti ada dua hal penting, yang pertama berhubungan dengan teknik

penyampaian, sedangkan yang kedua berhubungan dengan watak atau kepribadian

tokoh yang ditampilkan. Kedua hal tersebut memiliki hubungan yang sangat erat.

Penampilan dan penggambaran sang tokoh harus mendukung watak tokoh

tersebut secara wajar. Apabila penggambaran tokoh kurang selaras dengan watak

yang dimilikinya atau bahkan sama sekali tidak mendukung watak tokoh yang

digambarkan, jelas akan mengurangi bobot ceritanya (Suroto, 1989:92-93).

Peran setiap tokoh dalam sebuah cerita tidak sama. Setiap tokoh memiliki

peranannya masing-masing. Tokoh yang memiliki peranan penting dalam sebuah

cerita biasa disebut tokoh utama. Sedangkan tokoh yang peranannya tidak terlalu

(6)

Dalam upaya memahami watak pelaku, pembaca dapat menelusuri lewat

(1) tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya, (2) gambaran yang

diberikan pengarang lewat gambaran kehidupannya maupun caranya berpakaian,

(3) menunjukkan bagaimana prilakunya, (4) melihat bagaimana tokoh itu

menceritakan dirinya sendiri, (5) memahami bagaimana jalan pikirannya, (6)

melihat bagaimana tokoh lain membicarakannya, (7) melihat bagaimana tokoh

lain berbincang dengannya, (8) melihat bagaimana tokoh-tokoh lain bereaksi

terhadapnya, dan (9) melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh yang

lainnya (Aminuddin, 2000: 81).

C. Alur/Plot

Salah satu elemen terpenting dalam membentuk karya fiksi adalah plot.

Dalam analisis cerita plot sering juga disebut dengan alur. Alur atau plot pada

karya sastra pada umumnya adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh

tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku

dalam suatu cerita. Tahapan peristiwa yang menjalin suatu cerita bisa terbentuk

dalam rangkaian peristiwa yang berbagai macam (Aminuddin, 2000:83).

Secara tradisional plot cerita prosa disusun berdasarkan berdasarkan urutan

sebagai berikut :

1. Perkenalan

2. Pertikaian

3. Perumitan

4. Klimaks

(7)

Pada dasarnya, alur dapat alur dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu:

1. Alur maju

Alur maju adalah alur yang peristiwanya disusun secara kronologis. Dimulai

dari perkenalan, kemudian peristiwa itu bergerak, keadaan mulai memuncak,

diikuti dengan klimaks dan diakhiri dengan penyelesaian.

2. Alur mundur

Alur mundur adalah alur yang urutan peristiwanya dimulai dari peristiwa

terakhir kemudian kembali pada peristiwa pertama, peristiwa kedua, dan

seterusnya sampai kembali lagi keperistiwa terakhir tadi. Dalam susunan alur

yang demikian biasanya pengarang mulai dengan menampilkan peristiwa

sekarang kemudian pengarang menceritakan masa lampau tokoh utama yang

mengakibatkan sang tokoh terlibat dalam peristiwa sekarang terjadi.

3. Alur campuran

Alur campuran adalah alur cerita yang memiliki campuran alur maju dan

mundur. Biasanya cerita ini dimulai ditengah-tengah. Sementara cerita

berkembang maju, beberapa kali ditampilkan beberapa potongan flashback

yang menjelaskan latar belakang cerita.

(http://informasi-doni-blogspot.com/2012/09/pengertian-alur-majumundur-dan-campuran.html).

Berdasarkan pengertian alur yang telah diuraiakan diatas, alur yang

terdapat dalam novel “1Q84” adalah alur campuran. Hal ini tergambar jelas dari

urutan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam novel terbut, yaitu dimulai dari awal

(8)

kemudian kembali pada masa saat Aomame masih kecil dan berakhir saat

Aomame menemukan Tengo lelaki yang dicintainya sejak kecil hingga dewasa.

D. Latar

Latar atau setting adalah penggambaran situasi tempat dan waktu serta

suasana terjadinya peristiwa. Sudah tentu latar yang dikemukakan, yang

berhubungan dengan sang tokoh atau beberapa tokoh (Suroto, 1989:94). Menurut

Abrams dalam Nurgiyantoro (1995:216), mengungkapkan bahwa setting dan latar

disebut juga sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat,

hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang

diceritakan.

Latar berfungsi sebagai pendukung alur atau perwatakan. Gambaran

situasi yang tepat akan membantu memperjelas peristiwa yang sedang

dikemukakan. Untuk dapat melukiskan latar yang tepat pengarang harus

mempunyai pengetahuan yang memadai tentang keadaan atau waktu yang akan

digambarkannya. Hal itu dapat diperoleh melalui pengamatan langsung, buku,

atau informasi dari orang lain.

E. Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah unsur lain yang terpenting dalam karya sastra. Di

dalam sebuah cerita, seorang pengarang tentu berharap agar buah pikirannya dapat

dipahami dan dinikmati pembacanya. Oleh karena itu, melalui imajinasinya

pengarang berupaya memilih kata-kata yang ditata dalam rangkaian kalimat yang

sederhana. Ia memadukan kata demi kata sehingga tercipta bahasa yang indah dan

(9)

menggunakan gaya bahasa tersendiri didalam menyusun karyanya (Ruspata,

1990:49).

F. Sudut Pandang

Menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (1995:248), sudut pandang

merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana

untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk

cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Sudut pandang adalah tempat

sastrawan membaca ceritanya. Dari sudut pandang itulah sastrawan bercerita

tentang tokoh, peristiwa, tempat, waktu dengan gayanya sendiri.

Sudut pandang pada cara sebuah cerita dikisahkan. Sudut pandang

merupakan cara atau pandangan yang digunakan sebagai sarana untuk menyajikan

tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam

sebuah karya fiksi kepada pembaca.

Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi,

teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan

gagasan dalam ceritanya.

2.1.2 Unsur Ekstrinsik Novel

Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada diluar tubuh karya sastra itu

sendiri. Seperti yang telah dikemukakan di depan bahwa unsur ekstrinsik adalah

unsur luar sastra yang ikut mempengaruhi penciptaan karya sastra. Unsur-unsur

tersebut latar belakang kehidupan pengarang, keyakinan dan pandangan hidup

pengarang, adat istiadat yang berlaku saat itu, situasi politik, persoalan sejarah,

(10)

Unsur ekstrinsik untuk tiap bentuk karya sastra sama. Unsur ini mencakup

berbagai aspek kehidupan sosial yang tampaknya menjadi latar belakang

penyampaian tema dan amanat cerita. Seorang pengarang yang baik akan selalu

mempelajari segala macam persoalan hidup manusia. Hal ini berkaitan dengan

misi seorang pengarang yang selalu berhubungan dengan manusia dengan

seluk-beluknya. Seorang pengarang yang kurang mengetahui dan kurang bisa

menyelami kehidupan manusia dengan keunikan-keunikannya hanya akan

menghasilkan sebuah karya yang hambar atau janggal.

Pengetahuan yang tidak kalah penting bagi seorang pengarang adalah ilmu

jiwa. Dengan ilmu jiwa yang cukup memadai maka ia akan mampu menampilkan

perwatakan yang pas. Dengan pengetahuan ilmu jiwa, pengarang akan

menggambarkan gerak dan tingkah laku yang cocok dengan jiwa dan batinnya.

Tidak hanya itu saja yang perlu diketahui. Pengetahuan sosial budaya suatu

masyarakat, seluk-beluk kehidupan masyarakat modernpun perlu dipelajari.

Pokoknya semua aspek kehidupan manusia dimana saja dan kapan sajaperlu

diketahui guna menunjang keberhasilan sebuah cerita.

Selain unsur-unsur yang datangnya dari luar diri pengarang, hal-hal yang

sudah ada dan melekat pada kehidupan pengarangpun cukup besar pengaruhnya

terhadap terciptanya suatu karya sastra (Suroto, 1989:139).

2.2 Defenisi Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal

dari kata sosio (Yunani) (socius berarti bersama-sama, bersatu, kawan, teman) dan

logi (logos berarti sabda, perkataan, perumpamaan). Perkembangan berikutnya

(11)

ilmu. Jadi, sosiologis berarti ilmu mengenai asal–usul dan pertumbuhan (evolusi)

masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan

antar manusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Sastra

dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk

dan intruksi. Akhiran kata tra berarti alat, sarana. Jadi sastra berarti kumpulan alat

untuk mengajar , buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Makna kata

sastra lebih spesifik sesudah terbentuk menjadi kata jadian, yaitu kesusastraan,

artinya kumpulan hasil karya yang baik (Ratna, 2003:1-2).

Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif.

Penelitian ini banyak diminati oleh peneliti yang ingin melihat sastra sebagai

cermin kehidupan masyarakat. Karenanya, asumsi dasar penelitian sosiologi sastra

adalah kelahiran sastra tidak dalam kekosongan sosial. Kehidupan sosial akan

menjadi pemicu lahirnya karya sastra. Karya sastra yang berhasil atau sukses yaitu

yang mampu merefleksikan zamannya (Endraswara, 2008:77).

Secara institusional obyek sosiologi dan sastra adalah manusia dalam

masyarakat, sedangkan obyek ilmu-ilmu kealaman adalah gejala-gejala alam.

Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan mengasilkan kebudayaan.

Perbedaannya, apabila sosiolog melukiskan kehidupan manusia dan masyarakat

melalaui analisis ilmiah dan obyektif, sastrawan mengungkapkannya melalui

emosi, secara subyektif dan evaluatif. Sastra juga memanfaatkan pikiran,

intelektualitas, tetapi tetap didominasi oleh emosionalitas. Karena itu, Damono

(1978:6-8), apabila ada dua orang sosiolog yang melakukan penelitian terhadap

masalah suatu masyarakat yang sama, maka kedua penelitiannya cenderung sama.

(12)

yang sama, maka hasil karyanya akan berbeda. Hakikat sosiologi adalah

obyektivitas dan kreatifitas, sesuai dengan panjang masing-masing karangan.

Karya sastra yang sama dianggap plagiat.

Karya sastra bukan semata-mata kualitas otonom atau dokumen sosial,

melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Kenyataan yang ada dalam sosiologi bukanlah kenyataan obyektif, tetapi

kenyataan yang sudah ditafsirkan, kenyataan sebagai konstruksi sosial. Alat utama

dalam menafsirkan kenyataan adalah bahasa sebab bahasa merupakan milik

bersama, didalamnya terkandung persediaan pengetahuan sosial. Lebih-lebih

dalam sastra, kenyataan bersifat interpretatif subyektif, sebagai kenyataan yang

diciptakan. Pada gilirannya kenyataan yang tercipta dalam karya menjadi model,

lewat mana masyarakat pembaca dapat membayangkan dirinya sendiri.

Karakterisasi tokoh-tokoh dalam novel misalnya, tidak diukur atas dasar

persamaannya dengan tokoh masyarakat yang dilukiskan. Sebaliknya, citra tokoh

masyarakatlah yang mesti meneladani tokoh novel, karya seni sebagai model yang

diteladani. Proses penafsirannya bersifat bolak-balik, dwi arah, yaitu antara

kenyataan dengan rekaan (Teew, 1984:224-249).

Sastra merupakan releksi lingkungan sosial budaya yang merupakan satu

tes dialektika antara pengarang dengan situasi sosial yang membentuknya atau

merupakan penjelasan suatu sejarah dialetik yang dikembangkan dalam karya

satra. Itulah sebabnya memang beralasan jika penelitian sosiologi sastra lebih

banyak memperbincangkan hubungan antara pengarang dengan kehidupan

sosialnya. Baik aspek bentuk maupun isi karya sastra akan terbentuk oleh suasa

(13)

dilihat sebagai suatu pantulan zaman. Sekalipun aspek imajinasi dan manipulsi

tetap ada dalam sastra, aspek sosial pun juga tidak bisa diabaikan. Aspek-aspek

kehidupan sosial akan memantul penuh kedalam karya sastra.

Hal terpenting dalam sosiologi sastra adalah konsep cermin (mirror).

Dalam kaitan ini, sastra dianggap sebagai mimesis (tiruan) masyarakat. Kendati

demikian, sastra tetap diakui sebagai sebuah ilusi atau khayalan dari kenyataan.

Dari sini, tentu sastra tidak semata-mata menyodorkan fakta secara mentah. Sastra

bukan sekedar copy kenyataan, melainkan kenyataan yang telah ditafsirkan.

Kenyataan tersebut bukan jiplakan yang kasar, melainkan sebuah refleksi halus

dan estetis.

Secara esensial sosiologi sastra adalah penelitian tentang:

a. Studi ilmiah manusia dan masyarakat secara obyektif.

b. Studi lembaga-lembaga sosial lewat sastra dan sebaliknya.

c. Studi proses sosial. Yaitu bagaimana masyarakat mungkin, dan bagaimana

mereka melangsungkan hidupnya.

Studi semacam itu secara ringkas merupakan penghayatan teks sastra

terhadap struktur sosial. Aspe-aspek sosiologis yang terpantul dalam karya sastra

tersebut, selanjutnya dihubungkan dengan beberapa hal, yakni:

a. Konsep stabilitas sosial.

b. Konsep kesinambungan dengan masyarakat yang berbeda.

c. Bagaimana seorang individu menerima individu lain dalam kolektifnya.

d. Bagaimana proses masyarakat lebih berubah secara bertingkat.

e. Bagaimana perubahan besar masyarakat, misalnya dari feodalisme ke

(14)

Pandangan yang amat populer dalam studi sosiologi sastra adalah

pendekatan cermin. Melalui pendekatan ini, karya sastra dimungkinkan menjadi

cermin bagi zamannya. Dalam pandangan Lowenthal (Laurenson dan

Swingewood, 1972:16-17) sastra sebagai cermin nilai dan perasaan, akan

merujuk pada tingkatan perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang berbeda

dan juga cara individu menyosialisasikan diri melalui struktur sosial. Perubahan

dan cara individu bersosialisasi biasanya akan menjadi sorotan pengarang yang

tercermin lewat teks. Cermin tersebut, menurut Stendal dapat berupa pantulan

langsung segala aktifitas kehidupan sosial. Maksudnya, pengarang secara real

memantulkan kedaaan masyarakat lewat karyanya, tanpa terlalu banyak

diimajinasikan. Karya sastra yang cenderung memantulkan keadaan masyarakat,

mau tidak mau akan menjadi saksi zaman. Dalam kaitan ini, sebenarnya

pengarang ingin berupaya untuk mendokumentasikan zaman dan sekaligus

sebagai alat komunikasi antara pengarang dengan pembacanya.

2.2.1 Masalah Sosial

Pada umumnya masalah sosial ditafsirkan sebagai suatu kondisi yang tidak

inginkan oleh sebagian besar warga masyarakat. Hal itu disebabkan karena gejala

tersebut merupakan kondisi yang tidak sesuai dengan harapan atau norma dan

nilai serta standar moral yang berlaku. Lebih dari itu, suatu kondisi juga dianggap

sebagai masalah sosial karena menimbulkan berbagai penderitaan dan kerugian

baik fisik maupun non fisik (Soetomo, 1995:1).

Parillo dalam Soetomo (1995:4) menyatakan bahwa untuk dapat

(15)

1. Masalah itu bertahan untuk suatu periode waktu.

2. Dirasakan dapat menyebabkan berbagai kerugian fisik atau mental baik pada

individu maupun masyarakat.

3. Merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai atau standar sosial dari suatu atau

beberapa sendi kehidupan masyarakat.

4. Menimbulkan kebutuhan akan pemecahan.

Sementara itu tidak semua masalah dalam kehidupan manusia merupakan

masalah sosial. Masalah sosial pada dasarnya adalah masalah yang terjadi dalam

antar hubungan warga masyarakat. Dengan demikian menyangkut aturan dalam

hubungan bersama baik formal maupun informal. Masalah sosial terjadi apabila:

1. Banyak terjadi hubungan antar warga masyarakat yang menghambat

pencapaian tujuan penting dari sebagian besar warga masyarakat.

2. Organisasi sosial mengahadapi ancaman serius oleh ketidakmampuan

mengatur hubungan antar warga.

2.2.2 Klasifikasi Masalah Sosial

Masalah sosial yang akan dibicarakan pada bagian ini adalah kondisi yang

terjadi setelah berlangsungnya suatu aktifitas pembangunan masyarakat.

Mengingat bahwa gejala sosial merupakan fenomena yang saling kait mengait,

maka tidak mengherankan bahwa perubahan yang terjadi pada salah satu atau

beberapa aspek, dikehendaki atau tidak dikehendaki, dapat menghasilkan

terjadinya perubahan pada aspek yang lain. Terjadinya, dampak yang tidak

dikehendaki itulah yang kemudian dikategorikan kedalam masalah sosial

(16)

Masalah sosial yang timbul itu bukan merupakan hal yang ikut

direncanakan. Oleh sebab itulah maka lebih tepat disebut sebagai efek samping

dari pembangunan masyarakat. Efek samping yang terjadi dapat bersumber dari

dimensi sosial maupun fisik. Yang berasal dari dimensi sosial misalnya

memudarnya nilai-nilai sosial masyarakat, merosotnya kekuatan berbagai

pengikut norma-norma sosial sehingga menimbulkan bentuk perilaku

menyimpang serta ketergantungan masyarakat terhadap pihak lain sebagai akibat

sistem intervensi pembangunan yang kurang proporsional.

Dalam dimensinya yang bersifat fisik, efek samping dari proses

pembangunan antara lain berupa masalah yang berkaitan dengan pencemaran dan

kelestarian lingkungan. Hal ini menjadi masalah karena dalam jangka pendek

akan membawa pengaruh pada keindahan, kerapian, keberhasilan, dana terutama

pada kesehatan masyarakat. Sedangkan dalam jangka panjang akan berpengaruh

terhadap kelangsungan proses pembangunan itu sendiri. Perubahan yang terjadi

melalui proses pembangunan seringkali merupakan perubahan yang dipercepat

dalam rangka mengatasi keterbelakangan dan kemiskinan segera mungkin.

Dengan demikian, dapat dipahami apabila pembangunan juga akan menyebabkan

perubahan lingkungan.

2.3 Kehidupan Keyakinan Minoritas di Dalam Masyarakat

Dalam kehidupan bermasyarakat, hampir dimana ada mayoritas, baik di

bidang agama, ekonomi, moral, politik, dan sebagainya, yang minoritas lebih

mudah ditindas dan lebih sering mengalami penderitaan karena tekanan oleh

(17)

konflik social yang ditandai oleh sikap subyektif berupa prasangka dan tingkah

laku yang tidak bersahabat (Schwingenschlögl, 2007).

Dalam kajian sosiologis, kelompok keagamaan adalah buah dari gerakan

sosial, sehingga perilaku yang timbul dari individu di dalamnya sarat dengan

simbol-simbol agama. Fenoma konflik sosial dalam hal menganut keyakinan

beragama mempunyai aneka penyebab. Tetapi dalam masyarakat agama pluralitas

penyebab terdekat adalah masalah mayoritas dan minoritas golongan agama.

Misalnya di berbagai tempat terjadinya konflik, massa yang mengamuk adalah

yang beragama Islam sebagai kelompok mayoritas, sedangkan kelompok yang

ditekan dan mengalami kerugian fisik dan mental adalah orang Kristen yang

minoritas di dalam masyarakat itu sendiri. Sehingga nampak kelompok Islam

yang mayoritas merasa berkuasa atas daerah yang didiami lebih dari kelompok

minoritas yakni orang Kristen. Karena itu, di beberapa tempat orang Kristen

sebagai kelompok minoritas sering mengalami kerugian fisik, seperti

pengerusakan dan pembakaran gedung-gedung ibadat.

Seperti halnya dengan kisah Aomame. Aomame yang merupakan

penganut agama Jemaat Saksi yang merupakan kelompok minoritas di

lingkungannya, banyak mengalami perlakuan yang tidak baik dari lingkungan di

sekitarnya. Baik itu di lingkungan dekat rumahnya maupun di lingkungan tempat

Aomame bersekolah. Aomame sering mendapaat cemooh dari orang-orang

maupun teman sekelasnya karena menganggap tingkah Aomame sangat aneh dan

tidak wajar ketika sedang menjalankan perintah agamanya. Ketika Aomame dan

ibunya berkeliling ke rumah-rumah penduduk untuk mengajak orang-orang agar

(18)

di hina-hina oleh orang-orang tersebut. Walaupun kelompok Aomame yang

minoris sering mendapatkan perlakuan kasar dari masyarakat di sekitar tempat

tinggal Aomame dan bahkan dikucilkan, mereka tidak pernah menyerah untuk

mengajak orang-orang agar mengikuti ajaran Jemaat saksi.

2.4 Latar/Setting Novel 1Q84

Latar atau setting adalah tempat terjadinya peristiwa-peristiwa atau waktu

berlangsungnya tindakan. Jadi peristiwa-peristiwa itu terjadi dalam latar tempat

dan waktu (Pradopo dalam Sangidu, 2007:139). Latar dalam karya sastra tidak

harus berbentuk realitas yang bersifat objektif, tetapi dapat juga berbentuk realitas

yang bersifat imajinatif.

Latar di dalam novel “1Q84” karya Haruki Murakami meliputi setting

tempat dan setting waktu. Latar tempat yang dimaksud adalah Tokyo yang

merupakan ibu kota Jepang, sedangkan latar waktunya adalah sekitar tahun 1984.

Selain itu, terdapat latar tempat yang lainnya, yaitu sebuah SD XX Kotapraja,

disanalah tokoh utama menimba ilmu, dan mendapatkan perlakuan yang berbeda

sebagai penganut “jemaat saksi” yang menjadi awal timbulnya permasalahan.

2.5 Riwayat Hidup Haruki Murakami dan Karya-Karyanya

A. Riwayat Hidup Haruki Murakami

Haruki Murakami adalah salah satu penulis novel kontemporer Jepang

yang menggabungkan nilai-nilai tradisi Jepang dengan pengaruh budaya Amerika

dan Eropa dalam setiap karya-karyanya. Murakami lahir di Kyoto pada tanggal 12

Januari 1949, tetapi dibesarkan di Ashiya, Hyogo. Kedua orang tuanya

(19)

detektif Amerika dan cerita fiksi ilmiah. Murakami lebih lebih suka berada di

kamar sambil mendengarkan musik jazz dan rock and roll Amerika, menonton

acara televisi Amerika dan membaca novel Amerika. Pada tahun 1968 Murakami

pindah ke Tokyo untuk melanjutkan studi Jurusan Drama Yunani di Universitas

Waseda dan lulus tahun 1975.

Tahun 1974 Murakami bersama istrinya Yoko Takahashi membuka club jazz

bersama Kokubunji di Tokyo yang mereka kelola hingga tahun 1981. Antara

tahun 1986 hingga tahun 1989 Murakami tinggal di Yunani. Penulis produktif ini

sempat mengajar di Universitas Princeton dan Universitas William Howard Taft.

Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, Murakami kembali ke Jepang tahun

1995. Murakami mulai menulis pada tahun 1970-an. Novel pertamanya Kaze no

Uta o Kike (Dengarlah Nyanyian Angin). Hingga ini ia telah banyak mendapat

penghargaan, diantaranya fraz Kafka dan Kiriyama Prize. Haruki Murakami

merupakan salah satu kandidat penerima nobel kesusasteraan 2008.

Karya-karyanya telah diterjemahkan dalam 36 bahasa di dunia dan membuahkan

berbagai penghargaan prestius. Kini penulis yang hobi berlari marathon ini tinggal

di Tokyo.

B. Karya-Karya Haruki Murakami

Haruki Murakami telah banyak menghasilkan karya-karya terkenal baik di

Jepang maupun di dunia internasional. Namanya sudah tidak asing lagi dalam

dunia kesusastraan dunia. Murakami mulai menulis novel pada tahun 1970.

Berikut adalah karya-karya Haruki Murakami yaitu:

1. Kaze no Uta Kike – Hear the wind Sing (1979)

(20)

3. Hitsuji o Meguru Boken – A Wild Sheep Chase (1982)

4. Zozo Kojo Ni Happiendo (1983)

5. Kangaru Biyori (1983)

6. Chugoku Iki no Surou Boto (1983)

7. Murakami Asahido (1984)

8. Nami no E, Nami no Hanashi (1984)

9. Hotaru Naya o Yaku Sonota no Tanpen (1984)

10.Kaiten Mokuba No Deddo Hito (1985)

11.Sekai no Owari to Hadoboirudo Wandarando (1985)

12.Hitsuji Otoko no Kurishimasu (1985)

13.Rangeruhansuto no Gogo (1986)

14.Panya Saishugeki (1986)

15.Murakami Asahido no Gyakushu (1986)

16.Noruwei no Mori (1987)

17.The Scrap Natsukashi no 1980 Nendai (1987)

18.Hi Izuru Kuni no Kojo (1987)

19.Za Sukotto Fitsugerarudo Bukku (1988)

20.Dansu, Dansu, Dansu (1988)

21.Murakami Asahido Haiho (1989)

22.Toi Taiko (1990)

23.Uten Enten (1990)

24.Murakami Haruki Zenshakuhin (1979-1989)

25.Kekyoh no Minami, Taiyo no Nishi (1992)

(21)

27.Nejimaki-Dori Kuronikuru (1994-1995)

28.Andaguraundo/Yakusoku Sureta Basho De (1997-1998)

29.Sapuuto Niko no Koibito (1999)

30.Kami no Kodomotachi wa Nuba Idoru (2000)

31.Umibe no Kafuka (2002)

32.Afutadaku (2004)

33.Tokyo Kitanshu (2005)

34.Blind Willow, Sleeping Woman (2006)

35.What I Talk About When I Talk About Running (2008)

36.Murakami Diary (2009)

2.6 Sinopsis Cerita Novel 1Q84

“1Q84” adalah sebuah novel karangan Haruki Murakami yang

menceritakan tentang kisah kehidupan seorang wanita muda bernama Aomame

dimana Aomame Masami mulai melihat kejanggalan dunia di sekitarnya.

Aomame sadar tengah memasuki dunia yang penuh teka-teki, yang disebutnya

1Q84-Q kependekan question mark (tanda tanya). Dunia yang mengandung penuh

dengan tanda tanya.

Aomame berasal dari keluarga yang menganut sekte keagamaan bernama

“Jemaat Saksi“. Sekte agama kristen, mendukung eskatologi, melakukan kegiatan

pengabaran Injil dengan giat, dan menganut apa yang tertulis di dalam Kitab Suci

secara harfiah. Ayah Aomame, Aomame Takayuki (58 tahun), bekerja di

perusahaan teknik, sedangkan ibu Aomame, Aomame Keiko (56 tahun), tidak

(22)

Ichikawa, lalu bekerja di percetakan Tokyo, namun mengundurkan diri tiga tahun

kemudian, lantas bekerja di kantor pusat Jemaat Saksi di Odawara. Dalam ajaran

agamanya, karena dengan alasan “diharamkan“ Aomame tidak pernah menghadiri

acara natal, tidak pernah ikut tamasya atau darmawisata sekolah yang bertujuan

mengunjungi altar pemujaan Shinto atau kuil Buddha. Tidak pernah ikut pesta

olah raga, tidak pernah menyanyikan lagu sekolah maupun lagu kebangsaan, dan

tidak protes kalau disuruh memakai pakaian bekas. Mau tidak mau, Aomame

harus menuruti itu semua karena orang tuanya. Dan tingkah laku yang dianggap

ekstrim seperti itu membuat Aomame semakin terkucil dari teman–teman

sekelasnya.

Aomame sendiri memang bukan orang yang suka bergaul. Semasih duduk

dibangku SD, Aomame hampir tidak pernah berbicara dengan teman sekelasnya.

Lebih tepatnya, tak ada seorangpun yang mau berbicara dengan Aomame, kecuali

ada urusan penting. Aomame diperlakukan seperti benda asing “kelihatan aneh

sekali” dan seharusnya dibuang dan diabaikan. Aomame sendiri merasa perlakuan

yang diterimya tidak adil. Hanya karena keadaan Aomame yang harus selalu

mematuhi peraturan orang tuanya membuat Aomame benar-benar dikucilkan di

sekolah. Teman-teman Aomame sebenarnya tidak mengetahui penyebab tingkah

aneh Aomame, dan memang tidak ingin tahu dan memahami kondisi diri yang

sedang dialami Aomame. Teman-teman sekelasnya jijik kepada Aomame, dan

bahkan guru-gurunya jelas menganggap kehadiran Aomame merepotkan. Namun

Aomame tidak pernah merasa menyerah dengan keadaannya. Walaupun Aomame

dikucilkan oleh teman-temannya, Aomame tetap masuk sekolah setiap hari dan

(23)

melakukan ritual doa sebelum makan dengan suara yang lantang. Karena kalau

Aomame tidak melakukan ritual yang diajarkan agamanya dan bolos masuk

sekolah, Aomame justru akan merasa kalah dari teman-teman sekelas dan gurunya.

Sebelum akhirnya Aomame memutuskan untuk pindah sekolah dan

meninggalkan rumahnya, ada kejadian yang membuatnya lebih merasa nyaman

berada di sekolah. Ketika sosok laki-laki teman sekelasnya yang bernama Tengo

membantunya dari kejahatan yang dilakukan teman sekelasnya. Kejadian itu

bermula ketika dalam pelajaran IPA, Aomame dibentak keras oleh teman

sekelompoknya hanya karena Aomame membuat kesalahan dalam eksperimennya.

Tengo yang melihat kejadian itu tanpa ragu-ragu dan secara spontan mengajak

Aomame pindah ke kelompoknya tanpa mempedulikan reaksi teman sekelompok

Aomame. Kemudian Tengo menjelaskan prosedur eksperimen secara seksama

kepada Aomame, dan Aomame pun mendengarkan penjelasan Tengo dengan

seksama sehingga Aomame tidak pernah membuat kesalahan sama lagi. Itulah

pertama kalinya Aomame mendapat perlakuan baik dari teman sekelasnya. Pada

sore yang cerah diawal Desember, Tengo dan Aomame sama-sama berada di

dalam kelas. Tak ada orang lain. Pada saat itu, tanpa ada keraguan Aomame

menyeberang ruang kelas dengan langkah cepat, menghampiri Tengo, lalu berdiri

disampingnya. Kemudian Aomame menggenggam tangan Tengo, dan mendongak

untuk menatap wajah Tengo, pandangan Tengo dan Aomame pun beradu.

Genggaman tangan yang dilakukan Aomame terhadap Tengo berlangsung cukup

lama namun tidak ada percakapan yang terjadi antara Aomame dan Tengo.

(24)

dari ruangan kelas. Kejadian itu terus membekas dalam hati dan pikiran Aomame

dan berlalu begitu saja.

Ketika duduk di kelas 5 SD, Aomame memutuskan untuk memisahkan diri

dari kedua orang tuanya dan ikut pamannya. Aomame merasa tidak sanggup

mengikuti aturan-aturan yang diajarkan agamanya. Walau keluarga pamannya

memahami keadaan Aomame, tetap saja Aomame merasa sebatangkara dan haus

akan kasih sayang. Tanpa mengetahui kemana harus mencari tujuan dan makna

hidup, Aomame melewati hari demi hari dengan hati yang hampa. Semasa SMP

dan SMA, Aomame mengabdikan diri kepada olah raga sofbol dengan penuh

semangat. Di SMP maupun SMA Aomame menjadi pemain inti di dalam timnya.

Berkat kemampuannya yang bagus dalam bermain sofbol maupun kemampuannya

yang lihai dalam mengatur strategi permainan, Aomame selalu dibanggakan dan

dibutuhkan oleh timnya. Pada saat itulah Aomame merasa percaya diri dan

bahagia karena kehadirannya dibutuhkan oleh orang lain.

Berkat kemampuan Aomame, semakin hari timnya menjadi kuat dan

berhasil memenangkan pertandingan tingkat ibu kota Tokyo dalam kejuaraan

Nasional tingkat SMA. Ketika SMA, Aomame memiliki sahabat bernama Tamaki.

Mereka sama-sama pemain inti dalam olah raga sofbol. Tamaki sendiri berasal

dari keluarga yang kaya, namun kedua orang tua Tamaki memiliki hubungan yang

kurang baik sehingga membuat Tamaki sering mencari kebahagiaan di luar rumah.

Salah satunya ikut bergabung dalam tim sofbol. Aomame dan Tamaki menjalin

hubungan persahabatan yang sangat erat. Ketika memiliki waktu senggang,

mereka berdua sering pergi bertamasya bersama. Setamat SMA, Aomame

(25)

ilmu kesehatan olah raga dan juga tertarik untuk mempelajari seni bela diri.

Waktu Aomame dihabiskan untuk belajar. Tak ada waktu untuk iseng-iseng.

Tamaki sendiri masuk Fakultas Hukum di Universitas Swasta. Sepekan sekali

Aomame dan Tamaki bertemu dan berbincang-bincang tentang banyak hal.

Namun pada musim gugur Tamaki kehilangan keperawanannya lebih tepatnya

diperkosa. Kejadian itu membuat Tamaki sangat terpukul. Mengetahui kejadian

yang menimpa sahabatnya, Aomame pun berusaha menghibur Tamaki. Aomame

mengusulkan kepada Tamakai agar menghukum lelaki itu, namun Tamaki tidak

setuju. Dalam hal membina hubungan kekasih Tamaki selalu gagal hingga suatu

ketika Tamaki pernah melakukan aborsi dua kali. Sedangkan Aomame tidak

pernah berpikir untuk memiliki kekasih karna alasan sibuk dengan kegiatan

sehari-hari. Setelah mengantongi ijazah S1, Tamaki melanjutkan masuk program

pasca-sarjana dan Aomame mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang

memproduksi minuman energi dan makanan kesehatan. Seperti saat kuliah,

Aomame dan Tamaki makan bersama di akhir pekan.

Ketika berusia 24 tahun, Tamaki menikah dengan laki-laki yang dua tahun

lebih tua darinya. Hidup Tamaki pun semakin berantakan setelah menikah.

Tamaki semakin jarang bertemu dengan Aomame. Mereka lebih sering

berkomunikasi lewat surat. Suatu ketika Aomame menerima kabar bahwa sahabat

terbaiknya bunuh diri. Ternyata sebelum bunuh diri Tamaki sempat menulis surat

untuk Aomame yang mengatakan bahwa sebenarnya kehidupan pernikahannya

bagaikan hidup dalam neraka. Tamaki sering mendapat perlakuan kasar dari

suaminya. Aomame pun merasa sangat sedih mengetahui sahabat karibnya sudah

(26)

melakukan apa-apa untuk menolong Tamaki. Saat itu Aomame tidak pernah

menyukai lelaki manapun kecuali Tengo, lelaki yang digenggam tangannya oleh

Aomame ketika berusia 10 tahun. Tidak berapa lama setelah kehilangan

sahabatnya, Aomame berhenti bekerja dari perusahaan minuman energi.

Kemudian Aomame kembali bekerja sebagai pelatih andal di pusat kebugaran

kelas atas.

Saat mengajarkan kelas seni bela diri, Aomame bertemu seorang wanita

tua dari Puri Dedalu. Wanita tua itu ikut kelas seni bela diri yang diajarkan oleh

Aomame. Keesokan harinya Aomame menerima amplop yang berisikan bahwa

wanita tua itu ingin Aomame mengajarkan private di rumahnya dan Aomame pun

menerimanya. Dan saat itulah Aomame mulai merasa menaglami

perubahan-perubahan yang aneh yang terjadi dalam hidupnya. Ternyata selain menjadi

pelatih pribadi wanita tua itu, Aomame juga diminta menjadi pembunuh bayaran.

Aomame diminta membunuh setiap lelaki yang memiliki catatan buruk yaitu suka

menganiaya perempuan. Ketika Aomame sedang dalam perjalanan untuk

melakukan tugasnya membunuh seorang laki-laki yang menganiaya isitrinya,

Aomame banyak mengalami kejadian aneh di sekitarnya. Saat terjebak dalam

kemacetan, di dalam taksi Aomame mendengarkan musik yang sebelumnya ia

tidak pernah dengar namun tanpa sadar Aomame mengucapkan judul lagunya.

Melihat Aomame yang sedang gelisah, sopir taksi menyarankan Aomame untuk

menuruni tangga darurat yang berada di ujung jalan. Aomame pun menuruti saran

sopir taksi. Aomame juga melihat polisi membawa revolver model lama.

Aomame merasa sangat bingung dengan apa yang dialaminya. Keesokan harinya,

(27)

berusaha mencari petunjuk tentang hubungan macam apa yang terjalin antara

Aomame dengan musik sinfonietta yang didengarnya dalam taksi. Aomame

berusaha membuat hipotesis untuk meyakinkan dirinya dengan apa yang sudah

dialaminya. Aomame merasa berada di dunia baru. Dunia yang diberi nama 1Q84.

Q adalah singkatan dari “question mark” tanda tanya. Dunia yang penuh dengan

tanda tanya. Aomame juga melihat ada dua bulan di langit.

Aomame semakin banyak mengalami kesulitan dalam hidupnya ketika

wanita tua itu memberikan tugas yang sangat berat dan beresiko tinggi. Aomame

diminta untuk membunuh laki-laki yang menjadi seorang pemimpin dalam sekte

keagaman. Semua keamanan dan resiko yang akan dialami Aomame sudah

diperhitungkan ketika ia akan membunuh lelaki yang menjadi pemimpin dalam

sekte keagamaan tersebut. Ketika Aomame ingin membunuh sang pemimpin,

ternyata niatnya diketahui sang pemimpin. Namun lelaki itu tidak menghalangi

niat Aomame, bahkan lelaki itu menyuruhnya agar Aomame segera menghabisi

nyawanya. Aomame pun melanjutkan rencananya. Setelah Aomame berhasil

membunuh sang pemimpin, ia langsung bersembunyi di tempat apartemen yang

sudah disiapkan oleh wanita tua itu. Hari demi hari dilalui Aomame dengan

bersembunyi di apartemen. Beberapa minggu setelah kejadian ketika Aomame

membunuh sang pemimpin, Ia merasa ada sesuatu yang aneh di dalam perutnya.

Aomame merasakan ada makhluk yang bernafas dalam perutnya. Ternyata

Aomame hamil. Dan entah kenapa, Aomame merasa bahwa kehamilannya ada

hubungannya dengan Tengo. Yaitu lelaki yang digenngam tangannya saat berusia

(28)

hari, Aomame memandang ke arah langit melihat dua bulan, dan tidak jauh dari

apartemen Aomame ternyata Tengo juga sedang melihat ke arah langit.

Di dunia 1Q84 Aomame merasa akan dipertemukan dengan Tengo. Saat

Aomame memandang ke arah langit, tiba-tiba ia melihat sosok laki-laki berada di

taman dekat apartemennya. Entah kenapa Aomame merasa yakin bahwa lelaki

yang dilihatnya itu adalah sosok Tengo yang sangat dicintainya ketika masih SD,

bahkan sampai sekarang. Tiba-tiba sosok yang dilihatnya menghilang begitu saja.

Berharap akan melihat lelaki itu lagi, setiap malam Aomame memandang kearah

taman. Namun sosok itu tidak muncul lagi. Karena penasaran, Aomame berusaha

mencari laki-laki yang dilihatnya di sekitar apartemen Aomame. Dan ia

menemukan sebuah apartemen kuno berlantai 2. Aomame berusaha masuk ke

dalam apartemen dan menaiki lantai 2. Ketika itu Aomame sangat terkejut dengan

apa yang ditemukannya, yaitu papan nama yang bertuliskan Kawana Tengo yang

menggantung di pintu. Aomame mencoba memencet bel namun tidak ada yang

membuka pintu, dan akhirnya Aomame memutuskan untuk kembali lagi ke

apartemennya. Aomame meminta bantuan kepada wanita tua itu agar menyelidiki

lelaki yang berada di apartemen kuno itu. Dan setelah melakukan penyelidikan

ternyata Kawana Tengo yang ada di apartemen kuno adalah Tengo yang dimaksud

oleh Aomame. Aomame pun merasa sangat bahagia mendengar hal itu, ia merasa

kehadiran Tengo semakin dekat dengannya. Lelaki yang disuruh oleh wanita tua

untuk menyelidiki Tengo bernama Tamaru. Tamaru akhirnya bertemu dengan

Tengo, dan ia memberitahukan keberadaan Aomame dan apa yang sedang dialami

Aomame sekarang. Mendengar hal itu dari Tamaru, Tengo merasa sangat senang

(29)

saat Aomame menggandeng tangan Tengo, ternyata mereka berdua saling jatuh

cinta. Namun mereka harus terpisah selama 20 tahun dan dipertemukan kembali

di tahun 1Q84. Tahun dimana banyak kejadian aneh yang susah untuk dipahami

penyebabnya. Tamaru pun memberitahukan kepada Tengo tempat dimana

Aomame ingin bertemu dengannya dan membawa barang yang diperlukan saja.

Akhirnya tibalah saat yang ditunggu, Aomame pun bertemu dengan Tengo.

Kemudian Aomame mengajak Tengo ke tempat dimana awal mula Aomame

merasa mulai mengalami kejadian yang aneh setelah menuruni anak tangga saat

terjebak dalam kemacetan. Aomame dan Tengo pun menuruni anak tangga dan

menaiki anak tangga itu kembali. Aomame sangat yakin, dengan melakukan hal

itu, mereka akan berada di dunia yang normal dunia 1984 bukan dunia 1Q84,

dunia yang hanya ada satu bulan di langit bukan dunia yang ada dua bulan di

langit. Dan saat Aomame dan Tengo berada di pinggir jalan, Aomame merasakan

perubahan dengan tempat di sekitarnya. Aomame merasa sudah berada di dunia

yang normal yaitu dunia yang hanya ada satu bulan. Kemudian Aomame dan

Tengo menaiki taksi menuju ke tempat dimana orang lain tidak ada yang

mengenalinya. Dan akhirnya Aomame dan Tengo hidup bersama dan bahagia

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...