TINJAUAN PUSTAKA. Secara ekonomis, rimpang jahe dapat digunakan untuk berbagai

15 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Jahe

Secara ekonomis, rimpang jahe dapat digunakan untuk berbagai kepentingan dalam bentuk jahe segar maupun jahe olahan. Jahe segar sering digunakan sebagai rempah dan berbagai keperluan lain seperti obat tradisional. Sementara jahe olahan dapat berupa jahe kering, jahe asin, jahe dalam sirup, jahe kristal, bubuk jahe, menyak asiri, dan oleoresin. Masing-masing bentuk olahan ini memiliki manfaat yang berbeda. Namun prospek bisnis kesemuanya sama bagusnya. Hal ini sesuai dengan perhitungan analisis usaha bahwa membudidayakan dan mengusahakan pengolahan jahe bias mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Beberapa tahun terakhir ini, sebagian wilayah Indonesia secara serius telah berkiprah pada segala bentuk usaha yang menyangkut komoditi jahe. Produknya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.

Varietas

Jahe(Zingiber officinale) merupakan tanaman terna tahunan atau tumbuhan berbatang lunak tidak berkayu yang tumbuh tegak. Tingginya berkisar antara 75-100 cm, dan terdiri atas bagian akar, batang, daun, dan bunga. Tanaman ini berakar tunggang (rimpang) yang bias bertahan lama di dalam tanah. Akar tunggang (rimpang)-nya dapat berkembang dan mampu mengeluarkan tunas untuk memperbanyak batang.

Berdasarkan taksonomi tanaman (taksomoni adalah cabang biologi yang menelaah penamaan, pencirian, dan pengelompokan makhluk hidup berdasarkan

(2)

persamaan dan perbedaan sifat-sifatnya), Jahe (Zingiber officinale) termasuk dalam divisi Pteridophyta , subdivisi Angiosperma, kelas Monocotyledoneae, ordo Scitamineae, famili Zingiberaceae, dan genus Zingeber.

Genus Zingiber terdiri atas sekitar 85 spesies, diantaranya adalah jahe emprit, jahe gajah, jahe putih, dan lain-lain dari spesies jahe lainnya. Jahe dapat dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk, dan warna rimpangnya, yaitu: jahe putih atau jahe kuning besar, jahe kecil itu biasanya disebut jahe emprit dan jahe besar sering disebut jahe gajah atau jahe badak (Tim Bina Karya Tani, 2009).

Kandungan dan manfaat tanaman jahe

Jahe mengandung komponen minyak menguap (volatile oil), minyak tak menguap (non volatile oil), dan pati. Minyak menguap yang bisa disebut minyak asiri merupakan komponen pemberi bau yang khas, sedangkan minyak yang tak menguap yang biasa disebut oleoresin merupakan komponen pemberi rasa pedas dan asin. Komponen yang terdapat pada oleoresin merupakan gambaran utuh dari kandungan jahe, yaitu minyak asiri dan fixed oil yang terdiri dari Zingerol, shogaol, resin.

Komponen yang terkandung dalam rimpang jahe ini sangat banyak kegunaannya. Terutama sebagai rempah, industri farmasi dan obat tradisional, industri parfum, industri kosmetik (Farry dan Murhananto, 1991).

Sudah sejak lama jahe digunakan sebagai bumbu dapur. Misalnya jahe digunakan dalam masakan ikan untuk menghilangkan bau amis. Aroma dan rasanya yang khas menyebabkan penggunaan jahe untuk bumbu dapur lebih memasyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya permintaan jahe sebagai bumbu dapur yang mencapai 30.000 ton per tahun (hanya untuk pasar domestik).

(3)

Kebutuhan tersebut menempati peringkat pertama dibanding kunyit, kencur dan lengkuas yang juga sering digunakan sebagai bumbu dapur. Penggunaan jahe kedua terbanyak yaitu sebagai obat tradisional. Jahe yang mengandung gingerol dapat dimanfaatkan sebagai obat antiinflamasi, obat nyeri sendi dan otot karena rematik, tonikum serta obat batuk . Selain kedua penggunaan jahe di atas, jahe kering juga digunakan untuk memberi aroma dan rasa pada makanan seperti permen, biskuit, kue dan minuman. Minyak jahe atau oleoresin yang dihasilkan dari destilasi jahe kering banyak digunakan dalam industri parfum dan minuman (Syukur, 2001).

Pascapanen

Pada dasarnya tindakan pascapanen jahe ditentukan oleh tujuan penggunaannya, atau lebih tepat dikatakan : untuk apa jahe diolah? Dalam dunia perdagangan dapat dipilihkan dua jenis jahe yaitu pertama jahe yang belum dimasak, yang meliputi jahe segar dan jahe kering, dan yang kedua jahe yang telah dimasak, minyak jahe dan oleoresin (Hieronymus, 1988).

Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan jahe

Secara garis besar pertumbuhan jahe dipengaruhi oleh kondisi lingkungan biotik dan abiotik (fisik). Kondisi abiotik, seperti tanah dan iklim, sangat memegang peranan penting. Umumnya jahe cocok ditanam di tanah yang subur, gembur, dan banyak mengandung bahan organic (humus). Jenis tanah yang biasa digunakan adalah tanah latosol merah cokelat atau andosol. Tanaman ini tidak cocok ditanam di tanah rawa dan tanah berat yang mengandung fraksi liat dan di tanah yang didominasi kandungan pasir kasar. Jahe juga tidak menyukai tanah

(4)

yang sistem drainasenya jelek, terutama yang menyebabkan genangan air.genangan air dapat menyebabkan rimpang menjadi busuk (Tim Lentera, 2002).

Peranan mekanisasi dalam pembangunan pertanian

Ilmu mekanisasi pertanian adalah ilmu yang mempelajari penguasaan dan pemanfaatan bahan dan tenaga alam untuk mengembangkan daya kerja manusia dalam bidang pertanian, demi untuk kesejahteraan manusia. Pengertian pertanian dalam hal ini adalah pertanian dalam arti yang seluas-luasnya.

Ilmu mekanisasi pertanian di Indonesia telah dipraktekan atau dilaksanakan untuk mendukung berbagai usahapembangunan pertanian, terutama di bidang usaha swasembada pangan. Dengan mempertimbangkan aspek kepadatan, nilai social ekonomi, dan teknis, maka pengembangan mekanisasi pertanian di Indonesia dilaksanakan melalui system pengembangan selektif. Yang dimaksud dengan sistem mekanisasi pertanian selektif adalah usaha memperkenalkan, mengembangkan, dan membina pemakaian jenis atau kelompok jenis alat dan mesin pertanian yang serasi atau yang sesuai dengan keadaan wilayah setempat. Oleh karena itu, ditinjau dari segi tingkat teknologinya, mekanisasi pertanian dibedakan atas : mekanisasi pertanian sederhana, mekanisasi pertanian madya, dan mekanisasi pertanian mutakhir. Wilayah pengembanganmekanisasi pertanian dibagi atas : wilayah tipe I-A atau wilayah lancer, wilayah tipe I-B atau wilayah siap, wilayah tipe II atau wilayah setengah atau secara ekonomi kurang menguntungkan, dan wilayah tipe III atau wilayah mekanisasi pertanian terbatas.

Peranan mekanisasi pertanian dalam pembangunan pertanian di Indonesia adalah :

(5)

1. Mempertinggi efisiensi tenaga manusia. 2. Meningkatkan derajat dan taraf hidup petani.

3. Menjamin kenaikan kualitas dan kuantitas serta kapasitas produksi pertanian.

4. Memungkinkan pertumbuhan tipe usaha tani, yaitu dari tipe pertanian untuk kebutuhan keluarga (subsistence farming) menjadi tipe pertanian perusahaan (commercial farming).

5. Mempercepat transisi bentuk ekonomi Indonesia dari sifat agraris menjadi sifat industri.

(Hardjosentono, dkk.,2000).

Logam yang Digunakan

Baja Tahan Karat (Stainless steel) mempunyai seratus lebih jenis yang berbeda-beda. Akan tetapi, seluruh baja itu mempunyai satu sifat karena kandungan kromium yang membuatnya tahan terhadap karat. Baja tahan karat dibagi ke dalam tiga kelompok dasar, yakni baja tahan karat berlapis ferit, berlapis austenit, dan berlapis martensit (Amanto dan Haryanto, 1999).

Besi biasa, berbeda dengan stainless steel, permukaannya tidak dilindungi apapun sehingga mudah bereaksi dengan oksigen dan membentuk lapisan Fe2O3

atau hidroksida yang terus menerus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Lapisan korosi ini makin lama makin menebal dan kita kenal sebagai ‘karat’.

Stainless steel, dapat bertahan ‘stainless’ atau ‘tidak bernoda’ justru karena dilindungi oleh lapisan karat dalam skala atomik (Anonimous, 2010).

(6)

Elemen Mesin Motor listrik

Mesin-mesin yang dinamakan motor listrik dirancang untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanis, untuk menggerakkan berbagai peralatan, mesin-mesin dalam industri, pengangkutan dan lain-lain. Setiap mesin sesudah dirakit porosnya menonjol melalui ujung penutup (lubang pelindung) pada sekurang-kurangnya satu sisi supaya dapat dilengkapi dengan sebuah pulley atau sebuah generator ke suatu mesin yang akan digerakkan (Daryanto, 2002).

Motor listrik ini memiliki keuntungan sebagai berikut: 1. Dapat dihidupkan dengan hanya memutar sakelar. 2. Suara dan getaran tidak menjadi gangguan.

3. Udara tidak ada yang diisap, juga tidak ada gas buang, oleh karena itu tidak perlu mengukur polusi lingkungannya atau membuat ventilasi. Di lain pihak, motor listrik juga memiliki kekurangan sebagai berikut:

1. Motor listrik membutuhkan sumber daya, kabelnya harus dapat dihubungkan langsung dengan stop kontak, dengan demikian tempat penggunaannya sangat terbatas panjang kabel.

2. Kalau dipergunakan baterai sebagai sumber daya, maka beratnya akan menjadi besar.

3. Secara umum biaya listrik lebih tinggi dari harga bahan bakar minyak. (Soenarta dan Furuhama,2002).

Motor listrik dapat digolongkan menjadi dua golongan sesuai dengan sumber arus listrik, yaitu motor listrik arus searah atau DC dan motor listrik arus bolak-balik atau AC. Motor listrik AC yang kecil banyak dipakai pada peralatan

(7)

rumah tangga misalnya alat cukur, alat kecantikan, alat dapur, dan sebagainya. Sedangkan motor listrik yang besar banyak digunakan pada kompresor, penggiling jagung, dan alat-alat bengkel atau pabrik. Dasar utama yang menyebabkan motor berputar ialah reaksi antar kutub magnet. Kutub yang senama tolak-menolak dan kutub yang tak senama tarik-menarik. Reaksi medan magnet listrik pada stator dan medan magnet penghantar yang dialiri arus listrik (Hartanto, 1997).

Prinsip kerja motor listrik

Motor listrik sering digunakan sebagai tenaga penggerak dibandingkan dengan jenis tenaga-tenaga yang lain karena :

1. Dapat disesuaikan : motor dapat digunakan dihampir setiap lokasi termasuk di dalam air.

2. Otomatis : motor dengan mudah dikontrol dengan alat otomatis.

3. Rapi : Sebuah unit kecil memperkembangkan sejumlah kekuatan besarsecara bersama-sama.

4. Dapat dipercaya : motor listrik secara khusus untuk pekerjaan jarang mengalami gangguan.

5. Ekonomis

6. Efisien : motor listrik memiliki efisiensi hingga 95 %

7. Perawatan mudah : jika melindungi dari debu dan kotoran, motor hanya membutuhkan sedikit perawatan.

8. Tenang : motor secara umum lebih tenang daripada mesin yang dijalankan

(8)

9. Aman : apabila dipasang dengan tepat,dipelihara, dan digunakan, motor sangat aman untuk dioperasikan.

10.Mudah dioperasikan : tidak membutuhkan banyak pelatihan untuk mengoperasikan motor.

(Cooper, 1992).

Puli (Pulley)

Jarak yang jauh antara dua poros sering tidak memungkinkan transmisi langsung dengan pasangan roda gigi. Dalam demikian, cara transmisi putaran dan daya lain yang dapat diterapkan adalah dengan menggunakan sebuah sabuk atau rantai yang dibelitkan di sekeliling puli atau sproket pada poros.Jika pada suatu konstruksi mesin putaran puli penggerak dinyatakan n1 dengan diameter dp dan

puli yang digerakkan n2 dan diameternya Dp, maka perbandingkan putaran

dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :

p p D d n N = 2 1 ... (1) (Roth, dkk.,1982).

Pemasangan antara lain dapat dilakukan dengan cara :

 Horizontal, pemasangan puli dapat dilakukan dengan cara mendatar dimana pasangan puli terletak pada sumbu mendatar.

 Vertikal, pemasangan puli dilakukan secara tegak dimana letak pasangan puli adalah pada sumbu vertical. Pada pemasangan ini akan terjadi getaran pada bagian mekanisme serta penurunan umur sabuk (Mabie and Ocvirk, 1967).

(9)

Sabuk V

Sabuk/belt berfungsi untuk memindahkan putaran dari poros satu lainnya, baik putaran tersebut pada kecepatan putar yang sama maupun putaran dinaikkan maupun diperlambat, searah dan kebalikannya. Sabuk V terbuat dari karet dan mempunyai penampang trapesium. Sabuk V dibelitkan di sekeliling alur pulley

yang berbentuk V pula. Transmisi sabuk yang bekerja atas dasar gesekan belitan mempunyai beberapa keuntungan karena murah harganya, sederhana konstruksinya dan mudah untuk mendapatkan perbandingan putaran yang diinginkan. Transimisi tersebut telah digunakan dalam semua bidang industri, misalnya mesin-mesin pabrik, otomobil, mesin pertanian, alat kedokteran, mesin kantor, dan alat-alat listrik. Kekurangan yang ada pada sabuk ini adalah terjadinya slip antara sabuk dan pulley sehingga tidak dapat dipakai untuk putaran tetap atau perbandingan transmisi yang tetap (Daryanto, 1984).

Sabuk bentuk trapezium atau bentuk V dinamakan karena sisi sabuk dibuat serong, supaya cocok dengan alur roda transmisi yang berbentuk V. Kontak gesekan terjadi antara sisi sabuk V dengan dinding alur menyebabkan berkurangnya kemungkinan selipnya sabuk penggerak dengan tegangan yang lebih kecil daripada sabuk yang pipih. Ukuran sabuk V untuk mesin usaha tani telah dibakukan dan ditunjuk dengan huruf HA, HB, HC, HD, dan HE. Pembakuan sabuk pemakai mesin usaha tani. Sabuk dengan penampang lintang demikian itu dapat diperoleh dari pabrik pembuatan sabuk V. Sabuk V bersisi ganda memindahkan daya ke roda transmisi beralur dengan kedua sisinya. Sabuk dengan kecepatan putar yang dapat diatur digunakan pada penggerak dengan

(10)

kecepatan yang dapat berubah-ubah yang dilengkapi dengan roda beralur yang dapat berubah-ubah pula (smith dan wilkes,1990).

Sebagian besar orang menggunakan sabuk V karena mudah penanganannya dan harganyapun murah. Sabuk V terbuat dari karet dan mempunyai penampang trapezium. Sabuk V dibelitkan di sekeliling alur puli yang berbentuk puli. Bagian sabuk yang sedang membelit pada puli ini mengalami lengkungan sehingga lebar bagian dalamnya akan bertambah besar. Gaya gesekan juga akan bertambah dan menghasilkan transmisi daya yang besar pada tegangan yang relative rendah. Hal ini merupakan salah satu keunggulan sabuk V (Sularso dan Suga, 2002).

Adapun faktor yang menentukan kemampuan sabuk untuk meyalurkan tenaga tergantung dari:

1. Regangan sabuk pada pulley

2. Gesekan antara sabuk dan pulley

3. Lengkung persinggungan anatra sabuk dan pulley

4. Kecepatan sabuk (makin cepat sabuk berputar makin kurang terjadi regangan dan singgungan)

(Pratomo dan Irwanto, 1980).

Keberhasilan atau Kegagalan Alat

Kekuatan, keawetan dan pelayananyang diberikan peralatan usaha tani bergantung terutama pada macan dan kualitas bahan yang digunakan untuk pembuatannya. Dalam terdapat kecenderungan konstruksi peralatan untuk meniadakan sebanyak mungkin baja tuang dan mengganti dengan baja tekan atau baja cetak. Bila mana hal itu dilakukan, biaya dalm membuat mesin dalam jumlah mesindari segi materil akan sangat berkurang. Mesin akan semakin ringan, tetapi

(11)

kekuatan dan keawetannyadipertahankan dan bahkan sering ditingkatkan. Keberhasilan atau kegagalan suatu alat sering sekali tergantung pada bahan yang dipakai untuk pembuatannya.

Analisis Ekonomi dan Analisis kelayakan Usaha

Analisis titik impas umumnya berhubungan dengan proses penentuan tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha yang dilakukan dapat membiayai sendiri (self financing). Dan selanjutnya dapat berkembang sendiri (self growing). Dalam analisis ini, keuntungan awal dianggap sama dengan nol. Bila pendapatan dari produksi berada disebelah kiri titik impas maka kegiatan usaha akan menderita kerugian, sebaliknya bila disebelah kanan titik impas akan memperoleh keuntungan.

Analisis titik impas juga digunakan untuk :

1. Hitungan biaya dan pendapatan untuk setiap alternative kegiatan usaha, 2. Rencana pengembangan pemasaran untuk menetapkan tambahan investasi

untuk peralatan produksi,

3. Tingkat produksi dan penjualan yang menghasilkan ekuivalensi (kesamaan) dari dua alternative usulan investasi

(Waldiyono, 2008).

Biaya variable adalah biaya yang besarnya tergantung pada out put yang dihasilkan. Dimana semakin banyak produk yang dihasilkan maka semakin banyak bahan yang digunakan. Tak heran jika biayanya semakin besar. Sedangkan, biaya tetap adalah biaya yang tidak tergantung pada banyak sedikitnya produk yang akan dihasilkan (Soeharno, 2007).

(12)

Pengukuran biaya pemarutan bahan dilakukan dengan cara menjumlahkan biaya yang dikeluarkan yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap ( biaya pokok ).

Biayapokok BTT C x BT     + = ... (2) dimana:

BT = Total biaya tetap (Rp/tahun) BTT = Total biaya tidak tetap (Rp/jam) x = Total jam kerja pertahun (jam/tahun) C = Kapasitas alat (jam/satuan produksi)

Ada dua kelompok biaya pemakaian alat atau mesin (alsin) yang umum dibicarakan, yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap. Jumlah biaya tetap tidak tidak dipengaruhi oleh jam kerja alsin, sedangkan biaya tidak tetap sangat dipengaruhi oleh alsin.

1. Biaya tetap

1. Biaya penyusutan (metode garis lurus)

Dalam pemakaian alsin, biaya ini merupakan biaya yang sangat penting dan dapat merupakan biaya yang terbesar. Biaya ini merupakan biaya untuk mengganti alsin jika umur ekonominya telah sampai atau jika alsin itu dijual sebelum habis masa umur ekonominya. Dapat dihitung dengan metoda garis lurus dengan rumus sebagai berikut :

(

)

n S P D= − ... (3) dimana :

(13)

S = Nilai akhir alsin (10% dari P) (Rp) n = Umur ekonomi (tahun)

2. Biaya bunga modal dan asuransi

Bunga modal dan asuransi ada kalanya perhitungannya digabung dan kadang kala dipisah, maka biaya-biaya ini diperhitungkan berdasarkan persentase nilai awal. Jika digabung, besarnya adalah:

( )(

)

n n P i I 2 1 + = ... (4) dimana :

I =Total biaya bunga modal dan asuransi (Rp/th)

i = Total persentase bunga modal dan asuransi (17% pertahun) P = Nilai awal (harga beli) alsin (Rp)

N = Perkiraan umur ekonomi alsin (th) 3. Biaya pajak

Di negara kita belum ada ketentuan besar pajak secara khusus untuk mesin-mesin dan peralatan pertanian, namun beberapa literatur menganjurkan bahwa biaya pajak alsin pertanian diperkirakan sebesar 2% pertahun dari nilai awalnya.

4. Biaya gudang/gedung

Biaya gudang atau gedung diperkirakan berkisar antara 0,5-1%, rata-rata diperhitungkan 1% nilai awal (P) pertahun.

2. Biaya tidak tetap

Biaya tidak tetap terdiri dari :

1. Biaya perbaikan untuk motor listrik sebagai sumber tenaga penggerak. Biaya perbaikan ini dapat dihitung dengan persamaan :

(14)

(

)

jam S P reparasi Biaya 1000 % 2 , 1 − = ... (5) 2. Biaya karyawan/operator yaitu biaya untuk gaji operator. Biaya ini

tergantung kepada kondisi lokal, dapat diperkirakan dari gaji bulanan atau gaji pertahun dibagi dengan total jam kerjanya.

3. Perhitungan Titik Impas

Manfaat perhitungan titik impas (break event point) adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak untuk dijalankan. Pada kondisi ini income yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa adanya keuntungan.

Untuk menentukan produksi titik impas (BEP) maka dapat digunakan rumus sebagai berikut: N = V R F − ... (6) dimana:

N : jumlah produksi minimal untuk mencapai titik impas (kg) F : biaya tetap per tahun (rupiah)

R : penerimaan dari tiap unit produksi (harga jual) (rupiah) V : biaya tidak tetap per unit produksi.

4. Net Present Value

Identifikasi masalah kelayakan financial dianalisis dengan menggunakan metode analisis financial dengan kriteria investasi. Net present value (NPV) adalah kriteria yang digunakan untuk mengukur suatu alat layak atau tidak untuk

(15)

diusahakan. Perhitungan net present value merupakan net benefit yang telah di diskon dengan discount factor. Secara singkat rumusnya :

NPV =

+ − n t t Ct Bt 0 ) 1 1 ( ) ( ... (7) dimana:

B = manfaat penerimaan tiap tahun

C = manfaat biaya yang dikeluarkan tiap tahun t = tahun kegiatan usaha (t = 1,2,...n) i = tingkat discount yang berlaku Dengan kriteria:

- NPV > 0, berarti usaha menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan dan dikembangkan;

- NPV < 0, berarti sampai dengan t tahun investasi proyek tidak menguntungkan dan tidak layak untuk dilaksanakan dan dikembangkan; - NPV = 0, berarti tambahan manfaat sama dengan tambahan biaya

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...