BAB I PENDAHULUAN. kehidupan. Komunikasi yang dilakukan oleh manusia seperti komunikasi

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Media menjadi sistem komunikasi manusia kian penting dalam kehidupan. Komunikasi yang dilakukan oleh manusia seperti komunikasi intrapribadi, antarpribadi, kelompok, antar budaya, dan komunikasi massa. Dalam peranan ini, komunikasi massa merupakan jaringan yang menghubungkan banyak penerima kepada satu sumber, sementara teknologi media baru biasanya menyediakan berbagai macam hubungan interaktif (McQuail, 2011: 18). Media massa memiliki peran strategis, sebagai saluran yang menyampaikan informasi kepada publik atau khalayak. Komunikasi massa mempengaruhi konteks sosial dan sosial mempengaruhi media. Dengan kata lain, terjadi hubungan transaksional antara media dan masyarakat.

Seiring dengan perkembangan jaman, media massa terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu media cetak seperti surat kabar, majalah, tabloid, buletin, jurnal, dan yang lain. Media elektronik seperti televisi, radio, telepon, handphone, pager, dan sampai sekarang mampu memunculkan media baru (new media) yaitu internet. Sehingga di dalam perkembangannya perusahaan-perusahaan media saling bersaing untuk mendapatkan hati para pembacanya.

Dalam kehidupannya, manusia harus berkomunikasi dengan manusia lainnya untuk mempertahankan hidup. Mendapatkan informasi dari orang lain dan memberikan informasi kepada orang lain. Manusia perlu mengetahui apa

(2)

yang terjadi di sekitarnya, dikotanya, di negaranya, dan semakin lama semakin ingin tahu apa yang terjadi di dunia. Sehingga dalam hal ini, tugas dan tujuan pers atau media massa adalah untuk mewujudkan keinginan melalui media baik dari media cetak maupun elektronik seperti radio, televisi, maupun internet (Kusumaningrat, Kusumaningrat, 2006: 27).

Penyampaian pesan atau informasi media massa menyajikannya dalam bentuk sebuah berita. Informasi yang disampaikan ini penting bagi masyarakat dalam melihat bagaimana sebuah realitas peristiwa terjadi. Menurut Mitchell V. Charnley mendefinisikan berita, yaitu “is the timely report of facts or opinion that hold interest or importance, or both, for a considerable number of people.” Dan dalam definisi yang lebih sederhana sebuah berita merupakan informasi aktual tentang fakta- fakta dan opini yang menarik perhatian orang (Kusumaningrat, Kusumaningrat, 2006: 39-40).

Berita yang baik ditulis dengan menggunakan rumus 5W+1H, agar berita itu lengkap, akurat, dan sekaligus memenuhi standar teknis jurnalistik. Artinya, berita itu mudah disusun dalam pola yang sudah baku, dan mudah cepat dipahami isinya oleh pembaca, pendengar, atau pemirsa. Dalam setiap peristiwa yang dilaporkan, harus terdapat enam unsur dasar yakni apa (what), siapa (who), kapan (when), dimana (where), mengapa (why), dan bagaimana (how).

Peran media massa dalam kehidupan sering dipandang secara berbeda menurut sudut pandang khalayak masing- masing. Media massa senantiasa memilih isu atau informasi sesuai dengan kebijakan redaksionalnya. Para

(3)

khalayak dipilihkan oleh media tentang apa yang layak diketahui dan mendapat perhatian.

Fakta atau peristiwa yang disajikan dalam suatu berita merupakan hasil dari konstruksi. Realitas tercipta lewat konstruksi, sudut pandang tertentu dari perusahaan media dan wartawannya (Eriyanto, 2002: 19). Konstruksi media massa terjadi ke dalam dua kategorisasi, yang pertama membangun konstruksi sosial dan kedua membangun citra media (Bungin, 2008: vii).

Banyak media massa khususnya media cetak memberitakan mengenai konflik-konflik yang terjadi di masyarakat. Adapun konflik yang diangkat mengenai konflik sosial, budaya, hukum, ekonomi, dan konflik lainnya. Membahas mengenai pemberitaan mengenai konflik yang terjadi di keraton Kasunanan Surakarta, yang sempat memanas terjadi pada bulan Mei 2012. Masalah yang terjadi timbul setelah wafatnya Sinuwun Paku Buwono XII pada tanggal 11 Juni 2004. Beliau tidak memiliki isteri permaisuri, sehingga bisa langsung memilih siapa penggantinya yang sah. Kemudian muncul dua nama yang menjadi perhatian dikalangan semua warga keraton, yaitu KGPH Hangabehi dan KGPH Tedjowulan. Mereka berdua merupakan putera tertua dari Sinuwun Paku Buwono XII dari isteri selirnya.

Terjadi perbedaan pendapat dari warga internal keraton, ada yang menganggap KGPH Hangabehi yang pantas menyandang gelar Sinuwun Paku Buwono XIII. Ada juga yang memilih KGPH Tedjowulanlah yang pantas mendapatkan gelar sebagai raja di keraton Kasunanan Surakarta. Namun, faktanya mereka berdua mendeklarasikan diri masing- masing sebagai putera

(4)

mahkota. Pihak KGPH Tedjowulan yang pertama menyatakan diri sebagai putera mahkota, yang dilaksanakan di Dalem Purnama, Badran, Laweyan, Solo pada tanggal 31 agustus 2004. Ketetapan tersebut berdasarkan keputusan No Kep/01/2004 yang ditandatangani oleh tiga pengageng keraton. KGPH Tedjowulan resmi dinobatkan menjadi “Raja Rakyat” oleh para pendukungya, yang ditandai dengan pengalungan janur oleh rakyat, melambangkan perjuangan dan wujud konsep manunggaling kawulo gusti atau bersatunya raja dengan rakyat. Pengangkatan KGPH Tedjowulan sebagai Paku Buwono XIII tidak mempengaruhi langkah dari kubu KGPH Hangabehi dalam mempersiapkan acara penobatan. Kemudian pada tanggal 10 September 2004 di dalam keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Hangabehi dinobatkan sebagai Paku Buwono XIII yang bergelar Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono XIII Khalifatullah ing Tanah Jawi dengan segala kewenangannya. Sehingga, hal tersebut menorehkan dalam sejarah keraton di era Republik dengan memiliki dua raja kembar yang saling berkuasa (Solopos, 2004: 147-155).

Melihat permasalahan yang terjadi, pemerintah pun akhirnya turun tangan untuk berupaya merekonsiliasi kedua raja kembar tersebut. Proses rekonsiliasi dilakukan oleh pemerintah yang diwakilkan kepada Walikota Solo Joko Widodo dan perangkat pemerintahan di kota Solo. Dalam prosesnya pemerintah mencoba untuk mendamaikan kedua kubu yang berseteru dala m keraton Kasunanan Surakarta.

(5)

Banyak media massa yang mengawal konflik yang terjadi di Keraton Kasunanan Surakarta, baik dari media cetak, elektronik, maupun online. Salah satunya adalah surat kabar Solopos menjadi salah satu media cetak yang terus mengawal kasus tersebut. Solopos merupakan media cetak lokal terbesar se-eks karesidenan Surakarta. Koran lokal tersebut berdiri pertama kali di daerah Surakarta pada tanggal 19 September 1997. Untuk mengawal kasus ini, Solopos menyajikan berita sesuai dengan kebijakan redaksinya. Para wartawan mencari, meliput, menulis, dan melaporkan peristiwa atau relita berdasarkan kebijakan redaksional.

Setiap media berada ditengah realitas sosial yang sarat dengan berbagai kepentingan, konflik, dan fakta yang kompleks dan beragam. Althusser dan Gramsci (1971, dalam bukunya Al- Zastrouw, 2000) mengungkapkan bahwa media massa bukan sesuatu yang bebas, independen, tetapi memiliki keterkaitan dengan realitas sosial. Terdapat berbagai kepentingan yang ada di media massa. Di samping kepentingan ideologi antara masyarakat dan Negara, dalam diri media massa juga terselubung kepentingan yang lain; misalnya kepentingan kapitalisme pemilik modal, kepentingan keberlangsungan (suistainabilitas) lapangan kerja bagi karyawan, dan sebagainya (Sobur, 2006: 29-30).

Media memiliki tiga posisi dalam memberitakan konflik dari realitas atau peristiwa, yaitu pertama, issue intensifier posisi media memunculkan atau konflik dan mempertajamnya. Media mem-blow up realitas sehingga isu-isu yang dimunculkan menjadi transparan. Kedua, conflict diminisher, media

(6)

menenggelamkan isu atau konflik. Secara sengaja media meniadakan isu tersebut, terutama bila menyangkut kepentingan media bersangkutan, entah itu kepentingan ideologis atau pragmatis. Dan ketiga, conflict resolution, media menjadi mediator yang menampilkan isu dan mengarahkan pihak yang bertikai pada penyelesaian konflik (Stanley, 2004).

Dalam meneliti konstruksi media, peneliti menggunakan analisis framing sebagai metode penelitian dalam mengungkap peristiwa (realitas) yang terjadi. Metode analisis teks berada dalam kategori penelitian konstruksionis. Paradigma ini memandang realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural, tetapi hasil dari konstruksi. Karenanya, konsentrasi analisis pada analisa konstruksionis adalah menemukan bagaimana peristiwa atau relitas tersebut dikonstruksi, dengan cara apa konstruksi itu dibentuk.

Dengan menggunakan model dari Robert N. Entman, framing digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi – informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi leb ih besar daripada isu yang lain (Eriyanto, 2002: 186).

B. Pembatasan Masalah

Pembatasan Masalah diperlukan agar penelitian ini tidak meluas dengan permasalahan yang dibahas. Pembatasan masalah yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(7)

2. Aspek yang akan diteliti tentang pemberitaan Rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta periode Mei-Juni 2012.

C. Rumusan Masalah

Penulis memiliki rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana konstruksi media Surat Kabar Solopos dalam pemberitaan rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta pada bulan Mei – Juni 2012?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penulis adalah ingin mengetahui bagaimana konstruksi realitas pesan yang ingin di sampaikan tentang pemberitaan pada surat kabar Solopos mengenai rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta.

E. Manfaat Penelitian

1. Secara Teoritis, dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian mengenai media secara mendalam dan sebagai acuan teori-teori komunikasi.

2. Secara Akademis, sebagai sumbangan bagi perkembangan pendidikan jurnalistik terkait dengan bagaimana sebuah media cetak mengkostruksi dan membingkai realitas atau peristiwa untuk menghasilkan sebuah berita. 3. Secara Sosial, Sebagai analisis terhadap proses pembingkaian atau framing

yang dilakukan oleh media cetak guna menghasilkan berita karena adanya pengaruh internal dan eksternal. Dan juga melihat seberapa besar pengaruh dari faktor- faktor tersebut terhadap pemberitaan yang bersangkutan.

(8)

4. Secara Praktis: a. Solopos

Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan evalusi dan pengambilan kebijakan atas materi yang ingin disajikan. b. Umum

Dapat digunakan sebagai bahan informasi dan pengetahuan mengenai bagaimana teks di beritakan oleh surat kabar Solopos tentang rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta.

F. Signifikansi Penelitian

Dengan signifikansi ini diharapkan agar penelitian ini bisa memperkaya kajian bidang komunikasi, khususnya media massa. Serta mampu mengembangkan pers di Indonesia. Dalam penelitian ini memiliki beberapa referensi penelitian dari berbagai sumbe r, yang menjadi penelitian terdahulu.

Yang menjadi penelitian terdahulu pertama adalah penelitian dari Erlita Kusumaningtiyas, dengan judul penelitian “Media dan Penyajian Rekonsiliasi (Studi Annalisis Isi Penyajian Berita Rekonsiliasi dan konflik Pasca Rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta di Surat Kabar Harian Solopos dan Suara Merdeka Periode Mei-Juni 2012)”. Penelitian ini membahas mengenai bagaimana penyajian berita yang dilakukan oleh harian Solopos dan Suara Merdeka dalam pemberitaan rekonsilias i dan konflik pasca rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta. Mengakji bagaimana frekuensi berita, narasumber, penempatan halaman,

(9)

kecenderungan berita, dan jenis berita. Metode yang digunakan menggunakan analisis isi (content analysis) untuk mengkaji isi yang disajikan oleh media.

Penelitian terdahulu yang kedua yang diteliti oleh Agus Triyono, mahasiswa dari Universitas Indonesia Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi 2012. Penelitian beliau berjudul “Representasi Dan Produksi Konflik Keagamaan di Media Massa (Studi Ekonomi politik Kritis Insiden Ahmadiyah di Cikeusik pada Harian Republika)”. Penelitian tersebut memiliki kesimpulan bahwa dalam pemberitaannya mencoba bersikap independen. Namun, ada beberapa hal yang menjadi dasar pemberitaan dan dapat mempengaruhi pemberitaan Republika, hal tersebut adalah ideologi Islam.

Dari segi ekonomi, isu Ahmadiyah ini termasuk dalam marketable untuk diberitakan Republika karena sebagian besar pembacanya adalah umat Islam. Dalam penelitian tersebut menggunakan proses produksi teks dan analisis teks dalam mengungkap konstruksi media Republika.

Dari dua penelitian terdahulu tersebut memiliki beberapa kesamaan, yaitu sama-sama meneliti konstruksi media massa khususnya cetak. Kesamaan dalam mengungkap konstruksi suatu realitas pesan oleh media. Peneliti menelaah bahwa penelitiannya hampir memiliki kesamaan yaitu dalam mengungkap konstruksi yang dilakukan oleh media massa cetak. Dan perbedaan dengan penelitian yang sedang dilakukan adalah bagaimana dalam penelitian ini meneliti masalah tentang konflik budaya

(10)

yang terjadi pada Keraton Kasunanan Surakarta. Sehingga jelas berbeda dengan kedua penelitian terdahulu tersebut.

Diharapkan dengan adanya kedua penelitian terdahulu tersebut, mampu memberikan dan mendapatkan sesuatu yang baru, baik itu teori atau ilmu- ilmu yang baru.

G. Tinjauan Pustaka

1. Media Massa: Fungsi dan Praktek

Secara harfiah pers atau press mengacu pengertian komunikasi yang dilakukan dengan perantaraan barang cetakan. Tetapi, sekarang kata pers atau press ini digunakan untuk merujuk semua kegiatan jurnalistik, terutama kegiatan yang berhubungan dengan menghimpun berita, baik oleh wartawan media elektronik maupun oleh wartawan media cetak (Kusumaningrat, Kusumaningrat, 2006: 17).

Secara yuridis formal, seperti yang tercantum dalam pasal 1 ayat (1) UU Pokok No. 9 40/ 1999, pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala segala jenis saluran yang tersedia.

Pers atau media massa tidak akan terlepas dari habitatnya yaitu kehidupan sosial masyarakat, karena bagaimanapun kehadiran sebuah

(11)

media massa berawal dari hasrat keingintahuan masyarakat terhadap semua hal. Media massa di kehidupan masyarakat mempunyai fungsi sebagai pengawas lingkungan, transmisi warisan sosial dari generasi ke generasi termasuk di dalamnya ilmu pengetahuan dan budaya, dan hiburan.

Pers atau media massa mempunyai 5 fungsi utama dalam melaksanakan kegiatan jurnalistik. Fungsi utama pers meliputi memberikan informasi (to inform), edukasi (to educate), koreksi (to influence), rekreasi (to entertain), mediasi (to mediate) (Sumadiria, 2008: 31-35).

Kemudian tujuan dari media massa sendiri yaitu memberitakan suatu peristiwa bermacam- macam. Ada media massa yang lebih mementingkan tercapainya tujuan ekonomis, yaitu tercapainya oplah penjualan yang tinggi. Selain itu juga ingin agar informasi yang disampaikan bermanfaat bagi peningkatan harkat hidup pembaca (Siregar, 1998: 19).

Dari tujuan tersebut membuat media massa memiliki karakteristik tiap perusahaan media. Karakteristik – karakteristik tiap media mampu membedakan dengan media lain. Dari karakteristik itulah lahir sebuah identitas. Menurut Effendy, pers memiliki empat ciri spesifik yang sekaligus menjadi identitas dirinya. Tapi Rachamdi menambahkan, dengan satu ciri yang lain yakni objektivitas. Dengan asumsi untuk lebih memperluas wawasan serta mempertajam analisis kita terhadap pers.

(12)

Dengan demikian terdapat lima ciri spesifik pers, antara lain: periodesitas, publisitas, aktualitas, universalitas, dan objektivitas (Sumadiria, 2008: 35-36).

Berbagai ciri karakterisktik dari pers tersebut, membuat wartawan atau jurnalis dituntut harus bisa menyesuaikan dengan ketentuan dan peraturan yang ada pada suatu media. Seorang Jurnalis dalam pencarian beritanya sering terkendala dalam pengumpulan fakta dan data. Karena jurnalis atau wartawan hanyalah manusia biasa yang tidak mungkin mereka selalu mengetahui peristiwa yang sedang terjadi.

Setiap orang, tempat, waktu, nama, benda, baik secara potensial maupun aktual, bisa menjadi sumber berita. Bisa juga menjadi materi atau bahan berita. Ada dua macam teknik untuk mendapatkan berita. Yang pertama berita yang sifatnya diduga, kita harus bisa melakukan proses penciptaan berita (making news) dan orangnya disebut reporter. Kedua berita yang bersifat tak terduga, tiba-tiba, tidak diketahui dan tidak direncanakan sebelumnya, kita harus melakukan pemburuan berita (Sumadiria, 2008: 93).

Wartawan dalam mencari atau mengumpulkan fakta melalui pengamatan (observasi), wawancara, dan melakukan riset dokumentasi. Dari ketiga cara tersebut dapat digunakan sekaligus untuk memperoleh fakta yang diperlukan. Akan tetapi, dapat pula digunakan hanya satu cara, tergantung apa, dari mana, dan dari siapa fakta itu dapat diperoleh (Siregar, 2004: 43).

(13)

Proses pengumpulan data yang berupa fakta atau realita yang dilakukan oleh wartawan, haruslah mampu menjunjung nilai- nilai kebenaran. Pengamatan (observasi) yang dilakukan harus mampu mengetahui situasi dan kondisi dengan baik. Pemilihan narasumber yang ingin diwawancarai haruslah yang berkompeten dalam bidangnya. Dan dalam melakukan riset dokumentasi, wartawan bisa memilah- milah mana dokumen yang membuktikan realitas yang terjadi.

Wartawan harus bisa mengasah ketangkasan berpikir, kepekaan serta kejelian, sehingga tak satu pun peristiwa lolos dari pengamatan. Perkembangan terkecil dari sesuatu yang sedang berlangsung dan potensial diberitakan haruslah tetap berada dalam pantauannya. Dengan kata lain, wartawan harus memiliki penciuman yang tajam terhadap peristiwa yang layak diberitakan. Tuntutan itu bukan semata- mata demi kriteria profesionalisme, melainkan harus pula dilihat dalam konteks persaingan media (Siregar, 1998: 81).

Seorang jurnalis atau reporter, dituntut untuk mengetahui dan menguasai banyak hal, tetapi tetap dalam koridor normatif jurnalistik. Maka seorang jurnalis harus bisa menjaga suasana, bersikap wajar, memelihara situasi, tangkas dalam menarik kesimpulan, menjaga pokok persoalan, kritis, sopan santun dalam melakukan proses wawancara (Sumadiria, 2008: 108-110).

Jurnalisme seringkali disebut sebagai “literature in a hurry” atau kesusasteraan yang terburu-buru. Dalam pekerjaan jurnalistik ada unsur

(14)

ketergesa- gesaan memenuhi kebutuhan akan kecepatan. Itu sebabnya, sejak munculnya suratkabar sampai sekarang berkembang teknik-teknik penulisan berita yang mengacu pada kecepatan ini, sehingga berita-berita yang ditulis disurat kabar-surat kabar, apalagi di radio dan televisi bentuknya singkat, padat, dan ringkas (Kusumaningrat, Kusumaningrat, 2006: 125).

Dalam menyajikan suatu berita atau informasi yang sudah dihimpun. Wartawan haruslah mempunyai beberapa teknik dalam penulisan berita. Agar dalam penyajiannya bisa dipahami oleh khalayak dan mampu memberikan informasi yang sebenarnya.

Berita ditulis dengan menggunakan rumus 5W+1H, agar berita itu lengkap, akurat, dan sekaligus memenuhi standar teknis jurnalistik. Artinya, berita itu mudah disusun dalam pola yang sudah baku, dan mudah cepat dipahami isinya oleh pembaca, pendengar, atau pemirsa. Dalam setiap peristiwa yang dilaporkan, harus terdapat enam unsur dasar yakni apa (what), siapa (who), kapan (when), dimana (where), mengapa (why), dan bagaimana (how). Teknik melaporkan berita (to report) merujuk kepada pola piramida terbalik (inverted pyramid), dan mengacu kepada rumus 5W+1H (Sumadiria, 2008: 116-118).

(15)

Gambar 1. Piramida Terbalik (Sumadiria, 2008: 119).

Berita jurnalistik yang muncul dalam surat kabar atau majalah berita dapat digolongkan atas berita langsung (straight/hard/spot news), berita ringan (soft news), berita kisah (feature), serta laporan mendalam (indepth report). Berita langsung digunakan untuk menyampaikan kejadian-kejadian penting yang secepatnya perlu diketahui oleh pembaca. Disebut berita langsung (straight news) karena unsur-unsur terpenting dari peristiwa itu harus langsung disampaikan kepada pembaca (Kusumaningrat, Kusumaningrat, 2006:154).

Wartawan dalam mencari, mengumpulkan, dan menulis fakta dari obyek liputan merupakan kewajiban yang akan menghasilkan berita yang layak. Proses reportase jurnalis tidak cukup kalau hanya memahami

(16)

konsep berita yang sekedar 5W+1H (what, who, where, when, why, dan how), tapi dalam peliputan dan penulisan berita haruslah seimbang (balance) atau cover both side. Sehingga, dalam penyajiannya mampu menjunjung kenetralan dari sebuah media. Di tambah lagi menjadi seorang wartawan haruslah memahami isu- isu maupun realitas sosial, budaya, ekonomi, hukum, politik yang sedang terjadi.

Menulis berita juga harus menggunakan gaya penulisan jurnalistik yang efektif agar mendapatkan yang dinamakan akurasi berita, setelah lebih dulu dibahas segala sesuatu tentang lead dan tentang jenis-jenis berita beserta hal- hal yang perlu diperhatikan daam menulis berita. Unsur –unsur untuk syarat tercapainya penulisan jurnalistik yang efektif adalah sebagai berikut:

a. Kecermatan dalam pemberitaan b. Organisasi dalam berita

c. Diksi dan tatabahasa yang tepat d. Prinsip hemat dalam penulisan berita

e. Daya hidup (vitalitas), warna, dan imaginasi (Kusumaningrat, Kusumaningrat, 2006: 157).

2. Media Massa dan Budaya

Media massa banyak dibutuhkan masyarakat sebagai pusat pencarian informasi. Mereka mendapatkan akses informasi yang dibutuhkan dengan melalui prosuk dari media massa, antara lain dengan media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), media elektronik ( televisi,

(17)

radio), dan new media (internet). Sehingga hal tersebut menjadikan media sebagai budaya di dalam masyarakat.

Budaya merupakan perilaku belajar anggota kelompok sosial tertentu. Menurut M. Harris (1983) budaya adalah pembelajaran sosial yang diperoleh dari tradisi dan gaya hidup para anggota masyarakat, seperti terpola, cara berpikir, perasaan, dan cara bertindak (J. Baran, 2011: 10).

Di dalam budaya memiliki karakteristik, antara lain sesuatu yang bersifat kolektif dan dibagi bersama orang lain (tidak ada budaya individual murni). Dengan pola, tatanan, atau kebiasaan, dan karenanya dimensi evaluatif. Karakter paling umum dan penting di dalam budaya yaitu komunikasi, karena budaya tidak dapat berkembang, bertahan, meluas, dan sukses tanpa komunikasi. Mempelajari budaya perlu untuk dapat mengenali dan menemukannya di dalam masyarakat, benda-benda (artefak), dan dalam praktik manusia (perilaku sosial yang terpola). Ciri-ciri utama kebudayaan antara lain:

a. Dibentuk dan dipraktikkan secara kolektif b. Terbuka kepada ekspresi simbolik

c. Tertata dan dinilai secara berbeda-beda d. Memiliki pola yang sistematis

e. Dinamis dan berubah-ubah f. Memiliki batasan keruangan

(18)

g. Dikomunikasikan dari waktu ke waktu dan dimana- mana (McQuail, 2011: 123).

Dalam menyikapi budaya, media massa mempunyai beberapa fungsi atau manfaat. Harold D Laswell mengungkapkan bahwa media massa memiliki empat fungsi terhadap budaya, yaitu: pertama, sebagai pengawasan media, menyediakan informasi dan peringatan kepada masyarakat tentang apa saja di lingkungan mereka. Media massa meng-up date pengetahuan dan pemahaman manusia tentang lingkungan sekitarnya. Kedua, sebagai fungsi interpretasi, dengan menjadi sarana memproses, menginterpretasikan dan mengkorelasikan seluruh pengetahuan atau hal yang diketahui oleh manusia. Ketiga, sebagai transmisi nilai atau budaya, media untuk menyebarkan nilai, ide dari generasi satu ke generasi yang lain. Keempat, sebagai hiburan, untuk menghibur manusia. Manusia cenderung untuk melihat dan memahami peristiwa atau pengalaman manusia sebagai sebuah hiburan (http://www.winkplace.com/2010/ 10/fungsi- media- massa.html: 2010).

Media massa sebagai transmisi nilai atau budaya yang berfungsi untuk menyebarkan nilai, ide dari generasi ke generasi lain. Sehingga media mempunyai peran penting dalam pembentukan budaya pada setiap generasi di masyarakat. Dalam penyebaran nilai atau budaya, media menyajikannya dalam bentuk sebuah berita atau informasi yang kemudian disebarluaskan kepada masyarakat luas.

(19)

Dari beberapa fungsi media terhadap budaya tersebut, kemudian hal selanjutnya merujuk pada pengaplikasian fungsi tersebut terhadap fenomena atau realitas di masyarakat. Dengan mengamati produsen teks media yang bermakna budaya, atau sebagai pembaca teks yang mengambil makna budaya dengan dampak bagi keseluruhan kehidupan sosial. Dapat berfokus pada teks dan artefak (film, buku, surat kabar, artikel) dan kepada bentuk simbolik serta makna yang mungkin ada. Dapat mempelajari praktik pembuat produk media atau terfokus pada pengguna media. Komposisi dan perilaku khalayak media (praktik disekeliling pilihan dan pengguna media) selalu terpola secara budaya, sebelum, sesudah, dan selama pengalaman dengan media (McQuail, 2011: 123).

3. Media dalam Konstruksi Realitas

Suatu pemberitaan di media massa mengkonstruksi realitas atau fakta yang ada di kehidupan masyarakat. Membentuk suatu pemikiran baru yang disesuaikan dengan keredaksionalan media tersebut. Menurut Berger, Peter L, dan Thomas Luckman (1967), proses konstruksi realitas dimulai ketika seorang kostruktor melakukan objektifikasi terhadap suatu kenyataan yakni melakukan presepsi terhadap suatu objek (Hamad, 2010, 50).

Dalam berkomunikasi di dalam masyarakat, terdapat beberapa peran yang dimiliki oleh media massa: Pertama, sebagai jendela peristiwa dan pengalaman. Media massa senantiasa berusaha menjadikan media seb

(20)

agai jendela, dari jendela itu para komunikan mampu memandang dunia luar dengan luas, memungkinkan untuk melihat apa yang terjadi tanpa gangguan dari orang lain. Kedua : sebagai cermin peristiwa, media memmbawa masyarakat dan dunia dengan melibatkan cerminan akurat (walaupun dengan kemungkinan gambaran yang terdistorsi). Menggunakan sudut pandang dan arah cerminan yang ditentukan oleh orang lain, sehingga pandangan menjadi tidak bebas.

Ketiga: sebagai Penyaring, palang pintu (gatekeeper), atau portal yang akan bertindak memilih bagian pengalaman sebagai perhatian khusus dan menutup pandangan dan suara lain. Sebagai peran keempat, media massa bertindak sebagai petunjuk, pemandu, atau penerjemah. Media massa memberikan arah dan makna terhadap apa yang membingungkan atau tidak utuh. Kelima: forum atau pijakan informasi dan ide kepada khalayak, seringkali dengan menggukankan respon dan umpan balik. Keenam: sebagai kontributor, media massa meneruskan dan membuat informasi tersedia atau tidaknya bagi khalayak. Ketujuh: sebagai pembicara atau partner, media mempunyai informasi yang berguna untuk merespon pertanyaan banyak orang secara interaktif (McQuail, 2011: 92).

Masyarakat sebagai penerima aktif maupun pasif suatu pesan yang disajikan oleh media cetak. Setiap bahasa yang dituliskan dalam pesan jurnalistik menjadi ciri khas pada setiap perusahaan media. Ciri utama bahasa jurnalistik di antaranya sederhana, singkat, padat, lugas, kelas, jernih, menarik, demokratis, mengutamakan kalimat aktif sesuai dengan

(21)

kaidah baku bahasa yang baku. Sehingga dalam penyajiannya oleh media mampu memudahkan khalayak dalam menerimanya. Konstruksi pesan yang disajikan oleh perusahaan media berbeda satu sama lain. Setiap media memandang fakta atau realitas yang terjadi sesuai dengan kepentingan keredaksionalannya masing- masing.

Sebuah media massa merupakan istitusi yang menghubungkan seluruh unsur masyarakat melalui produk yang dihasilkan. Secara spesifik institusi media massa sebagai saluran produksi dan distribusi konten simbolis. Sebagai institusi publik yang bekerja sesuai aturan yang ada. Keikutsertaan baik sebagai pengirim atau penerima sukarela. Menggunakan standar professional dan birokrasi. Dan kelima, media sebagai perpaduan antara kebebasan dan kekuasaan (Tamburaka, 2012: 13).

Dalam memproduksi konstruksi realitas oleh media, wacana (discourse) yang dihasilkan dimediasikan, baik dalam bentuk text (wacana berupa tulisan, gambar), talk (wacana lisan, percakapan), act (wacana berupa tindakan, gerakan) maupun dalam bentuk artifact (wacana berupa bangunan, tata- letak). Wacana yang dihasilkan menggunakan tiga strategi, yaitu signing, framing, dan priming. Dan juga bisa dipastikan menggunakan faktor internal dan eksternal dalam mengatur tiga strategi dalam menciptakan efek tertentu (Hamad, 2010: 44-45). Framing mencakup pengetahuan, fakta, imajinasi, moralitas. Signing yaitu aspek

(22)

verbal, non verbal, grafis, tata letak. Priming adalah teknik menyajikan naskah baik menyangkut waktu, konteks maupun tempat.

Gambar 2. Model Konstruksi Realitas Melalui Media

(Hamad, 2010: 45)

Pemberitaan media massa menyoroti hal- hal yang penting, besar, kedekatan, dan menarik bagi khalayak. Namun, tidak dipungkiri lagi pemilik media atau pihak yang menjadi relasi juga mempunyai kepentingan tertentu dalam pemberitaan. Sehingga konstruksi akan realitas jelas-jelas terjadi pada pemberitaan yang disajikan kepada khalayak.

4. Objektivitas Media Massa

Objektivitas merupakan prinsip yang acapkali hanya dihubungkan dengan isi. Dari prinsip tersebut objektivitas dapat diartikan sebagai nilai sentral yang mendasari disiplin profesi yang dituntut oleh wartawannya sendiri. Prinsip tersebut sangat dihargai dalam kebudayaan modern, media

(23)

massa, dan kaitannya dengan rasionalitas ilmu pengetahuan dan birokrasi (McQuail, 1989: 129).

Mengaitkan objektivitas media massa dalam melakukan aktivitasnya sebagai salah satu prinsip penilaian, objektivitas memang hanya mempunyai cakupan yang lebih kecil diband ing prinsip jurnalistik lainnya. Tetapi prinsip objektivitas memiliki fungsi utama dalam kualitas informasinya. Objektivitas di media pada umumnya berkaitan dengan informasi dan berita.

Menurut Ashadi Siregar mengatakan bahwa untuk mengukur objektivitas pemberitaan pada dasarnya menakar sejauh mana wacana fakta sosial identik dengan wacana fakta media. Sebab berita adalah fakta sosial yang direkontruksikan untuk kemudian diceritakan. Cerita tentang fakta sosial itulah yang ditampilkan di media cetak. Motif khalayak menghadapi media cetak adalah untuk mendapatkan fakta sosial (http://id.shvoong.com: 2008).

Objektivitas merupakan gagasan yang relatif kompleks ketika salah satu melampaui gagasan sederhana bahwa sebuah berita haruslah laporan yang dapat diandalkan (karena kejujurannya) mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Gagasan pada berita tersebut memiliki komponen yaitu pertama, faktualitas (factuality) yang terdiri dari informasi yang diperlukan untuk memahami atau bertindak berdasarkan sebuah peristiwa berita. Di dalam ilmu jurnalistik berarti haruslah mengandung unsur 5W+1H guna penyajiannya.

(24)

Kedua, keberimbangan (impartiality) yang merupakan keberimbangan dalam pilihan dan penggunaan sumber, mencerminkan sudut pandang yang berbeda dan juga penyajian dari dua (atau lebih) sisi di mana penilaian atau fakta diperbandingkan (McQuail, 2011: 96-97).

Gambar 3. Komponen Utama Objektivitas Menurut Westerstahl (1983)

Objektivitas

Faktualitas Imparsialitas

Kebenaran Relevansi Keseimbangan Netralitas Informatif

(Morissan, 2010: 64)

Dari komponen menurut Westerstahl (1983) tersebut , media massa mempunyai tugas yang untuk menyampaikan informasi sesuai dengan fakta dan seimbang. Sehingga mampu memberikan pemberitaan yang disampaikan kepada khalayak dengan sejujur-jujurnya.

Dalam menanggapi keobjektivitasan media massa, menurut James Curran (1996) bahwa media massa mempunyai peran dalam menyebarluaskan informasi dengan beragam perspektif, mereprentasikan pendapat para khalayak, dan menjadi pendorong dalam pemecahan dan penyelesaian masalah yang terjadi di masyarakat (Pawito, 2008: 259). Sehingga dalam melaksanakan peran dari media massa tersebut,

(25)

keobjektivitasan penting untuk diterapkan dengan maksimal oleh setiap elemen pada media tersebut.

5. Konflik Budaya dalam Framing Media

Dalam kehidupan manusia sering dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang berbeda, sehingga mampu menimbulkan suatu konflik satu sama lain. Manusia memiliki karakteristik yang beragam, perbedaan jenis kelamin, strata sosial dan ekonomi, sistem hukum, bangsa, suku, agama, kepercayaan, aliran politik, serta budaya dan tujuan hidupnya. Konflik akan selalu terjadi di dunia, dalam sistem sosial yang bernama Negara, bangsa, organisasi, perusahaan, dan bahkan dalam sistem sosial terkecil yang bernama keluarga dan pertemanan. konflik terjadi di masa lalu, sekarang dan yang akan datang (Wirawan, 2010: 1-2).

Konflik merupakan proses pertentangan yang diekspresikan di antara dua pihak atau lebih yang saling tergantung mengenai objek konflik, menggunakan pola perilaku dan interaksi konflik yang menghasilkan keluaran konflik. Konflik terjadi secara alami, karena berada dalam kondisi objektif yang menimbulkan terjadinya konflik.

Banyak berbagai jenis konflik yang terjadi di masyarakat, dan konflik tersebut di kelompokkan dalam beberapa kriteria, yaitu:

1. Konflik personal dan interpersonal

Konflik Personal, terjadi dalam diri seorang individu karena harus memilih dari sejumlah alternatif pilihan yang ada atau karena

(26)

mempunyai kepribadian ganda. Konflik Interpersonal, yang terjadi di dalam suatu organisasi atau konflik yang terjadi di tempat kerja. 2. Konflik kepentingan (conflict of Interest)

Konflik yang terjadi dalam diri individu atau aktor pada sistem sosial, mempunyai kepentingan personal lebih besar daripada kepentingan organisasinya sehingga mempengaruhi pelaksanaan kewajibannya sebagai individu dalam sistem sosial guna melaksanakan kepentingan atau tujuannya.

3. Konflik Realistis dan Nonrealistis

Konflik Realistis, terjadi karena terdapat perbedaan dan

ketidaksepahaman cara pencapaian tujuan atau mengenai subtansi tujuan yang ingin dicapai. Konflik Nonrealistis, terjadi bukan karena subtansi penyebab konflik, tapi melainkan karena dipicu oleh kebencian atau prasangka terhadap lawan konflik yang mendorong melakukan agresi untuk mengalahkan atau menghancurkan lawan konfliknya.

4. Konflik konstruktif dan destruktif

Konflik Konstruktif, konflik yang dalam prosesnya mengarah pada pencarian solusi mengenai subtansi konflik. Konflik Destruktif, terjadi karena pihak-pihak yang terlibat konflik tidak fleksibel atau kaku diakibatkan tujuannya yang sempit yaitu mengalahkan satu sama lain. 5. Konflik dari bidang kehidupan

(27)

Konflik tidak beridiri sendiri, melainkan mampu berkaitan dengan aspek kehidupan, antara lain:

 Konflik ekonomi

Terjadi karena perebutan sumber-sumber ekonomi yang terbatas.

 Konflik politik

Terjadi dikarenakan perebutan kekuasaan oleh pihak-pihak yang terlibat, yang digunakan untuk mencapai tujuan atau ideologinya.

 Konflik agama

Terjadi diantara para pemeluk agama, bukan terjadi di antara ajaran atau kitab suci agama.

 Konflik sosial

Konflik ini terjadi dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu: pertama, konflik timbul karena masyarakatnya terdiri atas sejumlah kelompok sosial yang mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain. Kedua, kemiskinan bisa memicu terjadinya konflik sosial. Ketiga, terjadi bisa dari migrasi penduduk dari tempat satu ke tempat lainnya. Kelima, terjadi antara kelompok sosial yang mempunyai karakteristik atau perilaku yang insklusif.

 Konflik budaya

Masyarakat Indonesia beragam jenisnya dan budayanya pun beragam, sehingga mampu menimbulkan keragaman sikap dan perilaku. Maka sering terjadi konflik yang diakibatkan oleh keragaman budaya. (Wirawan, 2010: 55-101)

(28)

Sering media massa mengangkat tema-tema yang berhubungan dengan budaya. Tema-tema yang disajikan tersebut sering kali menjadi hal yang diperdebatkan oleh khalayak dan bahkan mampu memunculkan suatu konflik. Dikarenakan masyarakat Indonesia beragam baik dari ras atau sukunya. Dalam menyikapi konflik tersebut, media menyajikan berita atau informasi tidak secara langsung sesuai dengan fakta yang terjadi. Mereka memproses atau mengolahnya terlebih dahulu sebelum di publikasikan. Sehingga media mampu mengarahkan atau membingkai kemana berita atau informasi tersebut disajikan kepada khalayak.

Konflik budaya menjadi perhatian khalayak, ketika media mampu membingkai berita atau informasi tersebut secara real atau nyata. Dengan menggunakan analisis framing yang merupakan pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media. Penyajian pesan dilakukan dengan menekankan bagian tertentu, menonjolkan aspek tertentu, dan membesarkan cara bercerita tertentu dari suatu realitas/ peristiwa. Di sini media menseleksi, menghubungkan, dan menonjolkan peristiwa sehingga makna dari peristiwa lebih mudah menyentuh dan diingat oleh khalayak (Eriyanto, 2008: 66-67).

Framing digunakan dalam rangka untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Dari cara pandang ini, maka menentukan fakta yang akan diambil, kemudian bagian mana yang dihilangkan, serta hendak dibawa kemana berita tersebut. Dalam melihat

(29)

suatu realitas yang kontroversial dalam suatu peristiwa maupun fenomena, sebuah media tidak terlepas dari ideologi, konsep politik dan konsep budaya yang menjadi latar belakang pemberitaan.

Kekuatan media atau pers antara lain melalui proses pembingkaian (framing), teknik pengemasan fakta, penggambaran fakta, pemilihan angle, penambahan atau pengurangan foto dan gambar dan lain- lain. Dengan demikian, sebetulnya media punya potensi untuk jadi peredam atau pun pendorong konflik. Media bisa memperjelas sekaligus mempertajam konflik atau sebaliknya: mempengaburkan dan mengeliminirnya. Media mampu mengkontruksi realitas, tapi juga menghadirkan hiperealitas (Stanley, 2004).

Dalam pandangan ini media dapat mendefinisikan nilai dan perilaku sesuai dengan nilai- nilai yang diinginkan. Sehingga sesuatu yang tidak terlihat dalam media jika diamati lebih jauh akan memperlihatkan sesuatu yang dipandang menyimpang dan bukan sesuatu yang alamiah lagi dan disinilah analisis framing itu berperan. Ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan framing sebuah teks berita (Wicks, 2005, 342-343) yakni orientasi politik atau ekonomi, praktek dan keterbatasan organisatoris, sistem „kepercayaan‟ jurnalistik dan upaya untuk menarik khalayak. Kesemua pertimbangan tersebut tidak hanya terbatas pada pertimbangan ekonomi semata, akan tetapi juga memperhatian „belief system‟ yang dimiliki oleh media tersebut. Meskipun demikian, tiga dari

(30)

faktor yang ada tersebut memang mengedepankan orientasi pendapatan keuntungan (ekonomi) semata (Triyono, 2006: 30-31).

H. Metodologi Penelitian 1. Metodologi

Metodologi penelitian merupakan proses, prinsip, dan prosedur yang kita gunakan untuk mendekati problem dan mencari jawaban (atau mengkaji topik penelitian). Sebuah metodologi diukur berdasarkan kemanfaatannya, dan tidak bisa dinilai apakah suatu metode benar atau salah. Untuk menelaah hasil penelitian secara benar, kita tidak cukup sekedar melihat apa yang ditemukan peneliti, tetapi juga bagaimana peneliti sampai pada temuannya berdasarkan kelebihan dan keterbatasan metode yang digunakannya. Namun bagaimanapun juga, metode atau penelitian apapun yang kita gunakan, misalnya kuantitatif atau kualitatif, haruslah sesuai dengan kerangka teoritis yang kita asumsikan (Mulyana, 2003: 145).

Menurut Hadari Nawawi penelitian seharusnya memiliki bobot tinggi agar tidak banyak dibantah. Jika penelitian sekadar mendiskripsikan itu semua tidak ada artinya. Pemikiran dala m metode deskriptif perlu dikembangkan dengan memberikan penafsiran yang akurat terhadap fakta-fakta yang ditemukan. Dengan kata lain, metode ini tidak terbatas sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi juga analisis dan intepretasi tentang arti data itu. Karena itu penelitian ini juga diwujudkan sebagai usaha memecahkan masalah dengan membandingkan persamaan

(31)

dan perbedaan gejala yang ditemukan, mengukur dimensi suatu gejala, mengadakan klasifikasi suatu gejala, menilai gejala, menetapkan standard, menetapkan hubungan antar gejala- gejala yang ditemukan dan lain- lain. Maka dari itu metode ini merupakan langkah- langkah melakukan representasi objektif tentang gejala-gejala yang terdapat didalam masalah yang diselidiki (Soejono, Abdurrahman, 1999: 24).

2. Metode Penelitian

Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif merupakan salah satu dari metodologi penelitian. Menurut Strauss dan Corbin, metode penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Penelitian kualitatif secara umum bisa digunakan dalam meneliti kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain- lain. Dalam penggunaan pendekatan kualitatif, peneliti mampu menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena atau peristiwa yang seringkali sulit untuk dipahami (Rahmat, 2009).

Denzin dan Lincoln (1987) mengungkapkan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar ilmiah dengan maksud dalam menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada (Moleong, 2004: 5). Dalam metode penelitian kualitatif biasanya menggunakan beberapa teknik

(32)

pengambilan data, yaitu wawancara, pengamatan atau observasi dan pemanfaatan dokumen.

Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena atau peristiwa tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misanya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain- lain. Pengalaman dari subjek penelitian dilakukan secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk-bentuk dan bahasa (Moleong, 2004: 6).

Penggunaan metode kualitatif yang dipakai adalah dengan wawancara, pengamatan atau observasi, dan penelaahan dokumen. Dari metode- metode yang ada, mampu menghasilkan beberapa pertimbangan yaitu: pertama, metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan. Kedua, memberikan sajian langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden. Ketiga, lebih peka dalam penyesuaian diri terhadap pola-pola nilai yang ada.

3. Sumber Data

Dalam penelitian ini mempunyai beberapa sumber data guna mendukung proses analisis data yang dilakukan oleh peneliti. Peneliti membagi sumber data menjadi dua, yaitu data primer dan sek under:

a. Pengumpulan data primer

Dengan mengumpulkan data-data berupa berita dalam surat kabar Solopos mengenai rekonsiliasi konflik yang terjadi di Keraton

(33)

Kasunanan Surakarta. Penulis mengumpulkan berita di media surat kabar Solopos dari bulan Mei – Juni 2012.

b. Pengumpulan data sekunder

Penulis juga mengumpulkan data-data lain berupa artikel, buku, literatur guna menunjang kegiatan penelitian. Hal ini dilakukan guna menunjang dan melengkapi data-data primer.

4. Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian dikumpulkan dengan cara sebagai berikut: a. Dokumentasi

Dalam penelitian ini, penulis mengambil teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik pengumpulan dokumentasi. Dokumen digunakan dalam penelitian sebagai sumber data yang dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan (Moeleong, 2004: 217).

Dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan berita tentang rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta di harian Solopos periode Mei-Juni 2012. Dari teks berita yang terkumpul kemudian akan dianalisa dengan menggunakan analisis framing dari Robert N Entman.

Tahap pertama dengan mendokumentasikan berita terkait kasus rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta periode Mei-Juni 2012. Kemudian tahap selanjutnya adalah mengkategorisasikan dari dokumentasi berita tersebut guna memudahkan dalam analisis

(34)

data. Dari berita yang sudah terkumpul, peneliti membagi dalam tiga kategori yaitu sudut pandang keluarga, budaya, dan politik. Berdasarkan dari kategori tersebut, peneliti kemudian menganalisis data tentang bagaimana pembingkaian berita terjadi dalam kasus rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta.

b. Studi kepustakaan

Dalam melengakapi data referensi dan memperkuat data primer, peneliti mencari artikel, jurnal, literatur dan beberapa pustaka lain dalam menunjang penelitian.

5. Teknik Analisis Data

Peneliti menggunakan metode analisis framing dalam mengkaji dan membahas mengenai permasalahan yang terjadi. Analisis framing merupakan pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media. Penyajian pesan dilakukan dengan menekankan bagian tertentu, menonjolkan aspek tertentu, dan membesarkan cara bercerita tertentu dari suatu realitas/ peristiwa. Di sini media menseleksi, menghubungkan, dan menonjolkan peristiwa sehingga makna dari peristiwa lebih mudah menyentuh dan diingat oleh khalayak. (Eriyanto, 2008: 66-67).

Terdapat dua aspek dalam framing, yaitu: pertama, memilih fakta/ realitas. Proses pemilihan fakta yang didasari pada asumsi, wartawan tidak mungkin melihat peristiwa tanpa perspektif. Dalam pemilihan fakta selalu terkandung dua kemungkinan: apa yang dipilih (included) dan apa yang

(35)

dibuang (exluded). Bagian mana yang akan ditekankan dalam realitas, dan bagian mana yang akan diberitakan dan tidak diberitakan. Beberapa aspek yang ditekankan dalam memilih angel, memilih fakta dan melupakan fakta yang lain, memberitakan realitas dan melupakan realitas yang lain, peristiwa dilihat dari sisi tertentu. Sehingga, pemahaman dan konstruksi akan realitas yang ada akan berbeda antara media yang satu dengan media yang lain. Kedua, menuliskan fakta. Proses ini berhubungan dengan bagaimana fakta yang dipilih disajikan kepada khalayak. Gagasan tersebut diungkapkan dengan kata, kalimat dan proposisi apa,dengan bantuan eksentuasi gambar dan foto apa, dan sebagainya. Fakta yang dipilih kemudian ditekankan dengan pemakaian perangkat tertentu: penempatan yang mencolok (menempatkan di bagian headline depan, atau bagian belakang, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, penggunaan label tertentu untuk menggambarkan orang/ peristiwa yang diberitakan, asosiasi terhadap symbol budaya, generalisasi, simplifikasi, dan pemakaian gambar, ka ta yang mencolok lainnya) (Eriyanto, 2008: 69-70).

Pada perspektif komunikasi, analisis framing digunakan untuk mengetahui cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi sebuah fakta. Dengan mencermati strategi seleksi, penonjolan dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih diingat untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya. Dalam mendapatkan fakta dan realitas yang sebenarnya pada kasus konflik

(36)

rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta. Bagaimana media khususnya pada suratkabar harian Solopos menonjolkan atau mengkonstruksi realita dalam rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta.

Para wartawan menggunakan perspektif atau cara pandang untuk menseleksi dan menulis sebuah berita. Asumsi dasar dari framing yaitu bahwa seoarang wartawan selalu menyertakan pengalaman hidup, pengalaman sosial dan kecenderungan psikologisnya ketika ia menafsirkan pesan yang datang kepadanya. Seorang wartawan bukanlah individu yang pasif, namun ia adalah aktif dan otonom (Triyono, 2006: 75-76).

Seorang pencari berita atau wartawan akan menggunakan seperangkat wacana dalam menyajikan pesan atau tulisan. Selanjutnya di tulis ke dalam surat kabar, yaitu pada penulisan kata, kalimat, lead, hubungan kata per kalimat, foto, ilustrasi, dan perangkat lainnya.

Ilmu komunikasi menjelaskan bahwa analisis framing digunakan untuk membedah cara-cara atau ideologi suatu peristiwa ketika menyeleksi dan mengetahui bagaiamana konstruki oleh media massa. Framing digunakan dalam mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisis framing model dari Robert N. Entman dalam mengkaji penelitian yang dibahas. Analisis ini kemudian digunakan dalam meneliti teks pada surat kabar Harian Solopos mengenai kasus rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta edisi bulan Mei – Juni 2012. Dengan analisis framing inilah, peneliti mencoba

(37)

untuk mencari bagaimanakah harian Solopos mengkonstruksi kasus rekonsiliasi di Keraton Kasunanan Surakarta dan resolusi apa yang ditawarkan oleh Solopos.

Tabel 1. Dimensi Framing Entman

Dalam menggunakan analisis framing guna mengetahui bagaimana media mengkonstruksi peristiwa atau realita yang ada. Dari analisis ini mencoba untuk menyederhanakan dan meneliti bahwa pengkonstruksian media, dari data-data yang diambil bisa diarahkan untuk menggunakan model analisis dari Robert N. Entman. Entman sebagai salah seorang ahli yang meletakkan dasar-dasar bagi analisis framing untuk studi isi media. Konsep framing oleh Entman, digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi- informasi dalam konteks yang khas se hingga isu tertentu mendapatkan lokasi lebih besar daripada isu yang lain (Eriyanto, 2008: 185-186).

Seleksi isu Aspek ini berhubungan dengan pemilihan fakta. Dari realitas yang kompleks dan beragam dalam sebuah berita, aspek mana yang diseleksi untuk ditampilkan? Dari proses in selalu terkandung didalamnnya ada bagian berita yang dimasukkan (included) dan dikeluarkan (excluded). Tidak semua aspek atau bagian dari isu ditampilkan, wartawan hanya memilih beberapa aspek tertentu.

Penonjolan aspek tertentu dari isu

Aspek ini berhubungan dengan penulisan fakta. Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa/isu tersebut dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis? Hal ini sangat berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak.

(38)

Analisis framing ini memberikan penekanan bagaimana teks komunikasi ditonjolkan atau dianggap penting bagi pembuat teks. Informasi yang ditonjolkan kemungkinan lebih diterima oleh khala yak. Bentuk penonjolan bisa beragam: menempatkan satu aspek informasi lebih menonjol dibandingkan yang lain, lebih mencolok, melakukan pengulangan informasi yang dipandang penting atau dihubungkan dengan aspek budaya yang sudah akrab dibenak khalayak.

Dalam konsepsi Entman framing pada dasarnya merujuk pada pemberian definisi, penjelasan, evaluasi, dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan kerangka berpikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan.

Tabel 2. Perangkat Framing Entman

(Eriyanto, 2008: 186-189)

Define Problems

(Pendefinisian masalah)

Bagaimana suatu peristiwa/isu dilihat? Sebagai apa? Atau sebagai masalah apa ?

Diagnose causes

(Memperkirakan masalah atau sumber masalah)

Peristiwa itu dilihat disebabkan oleh apa? Apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah? Siapa (aktor) yang dianggap sebagai penyebab masalah ?

Make moral judgement

(Membuat keputusan moral)

Nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk meligitimasi atau mendeligitimasi suatu tindakan ?

Treatment recomendation

(Menekankan penyelesaian masalah)

Penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah/isu? Jalan apa yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasi masalah

(39)

Define problems (pendefinisian masalah) merupakan elemen pertama yang menekankan bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Peristiwa atau realita yang sama mungkin akan dipahami secara berbeda, dan bingkai tersebut akan membentuk realita yang berbeda. Kemudian elemen selanjutnya, Diagnose causes (memperkirakan penyebab masalah). Pada elemen ini dilakukan pembingkaian siapa yang dianggap sebagai actor atau pelaku dari suatu peristiwa. Menentukan apa dan siapa yang dianggap sebagai sumber masalah.

Make moral judgement (membuat pilihan moral) merupakan elemen ketiga, yang digunakan untuk membenarkan/ memberikan argumentasi pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat. Argumentasi yang dikutip berhubungan denga sesuatu yang familiar dan dikenal oleh khlayak. Elemen keempat, Treatment recommendation (menekankan penyelesaian). Elemen ini dipakai sebagai penilaian dari apa yang dikehendaki oleh wartawan. Menggunakan jalan apa yang dipilih untuk menyelesaikan masalah.

(40)

6. Kerangka Berpikir

Dalam memudahkan bagaimana penulis melakukan penelitian, dapat dilihat melalui tabel berikut:

SOLOPOS

BERITA REKONSILIASI KERAON KASUNANAN SURAKARTA

FRAME MEDIA

ANALISIS FRAMING ROBERT N.

ENTMAN

Define Problems

(Pendefinisian masalah)

Diagnose causes

(Memperkirakan masalah atau

sumber masalah)

Make moral judgement

(Membuat keputusan moral)

Treatment

recomendation

(Menekankan penyelesaian

masalah)

(41)

Keterangan:

Dalam kerangka berpikir tersebut, peneliti membahas pemberitaan di Solopos mengenai kasus rekonsiliasi Keraton Kasunanan Surakarta periode Mei-Juni 2012. Dilakukan proses frame terhadap pemberitaan tersebut, kemudian di anailis menggunakan analisis framing Robert N Entman. Dengan melakukan pendefinisian masalah, memperkirakan masalah, membuat keputusan moral, dan menentukan penyelesaian masalah tersebut.

Figur

Gambar 1. Piramida Terbalik (Sumadiria, 2008: 119).

Gambar 1.

Piramida Terbalik (Sumadiria, 2008: 119). p.15
Gambar 2. Model Konstruksi Realitas Melalui Media

Gambar 2.

Model Konstruksi Realitas Melalui Media p.22
Gambar 3. Komponen Utama Objektivitas Menurut   Westerstahl (1983)

Gambar 3.

Komponen Utama Objektivitas Menurut Westerstahl (1983) p.24
Tabel 2. Perangkat Framing Entman

Tabel 2.

Perangkat Framing Entman p.38
Related subjects :