• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DATA KEMISKINAN KALIMANTAN TENGAH 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISA DATA KEMISKINAN KALIMANTAN TENGAH 2013"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

ANALISA DATA KEMISKINAN

KALIMANTAN TENGAH 2013

(4)

ANALISA DATA KEMISKINAN

KALIMANTAN TENGAH 2013

Nomor Publikasi : 62550.1405

Katalog BPS : 3205021.62

Ukuran Buku : 15 x21 cm

Jumlah halaman : xi + 120 halaman

Naskah, Gambar Kulit dan Tata Letak :

Tim Penyusunan Analisis Gini Ratio dan Konsumsi Rumah Tangga, Analisa Data Kemiskinan, Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Provinsi Kalimantan Tengah 2013

Diterbitkan oleh:

Bappeda Provinsi Kalimantan Tengah

(5)
(6)
(7)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 v

DAFTAR ISI

Kata Pengantar... iii

Daftar Isi ... v

Daftar Tabel ... vii

Daftar Gambar ... xi Pendahuluan ... 1 1.1. Latar Belakang ... 3 1.2. Tujuan Umum ... 5 1.3. Tujuan Khusus ... 6 1.4. Pengolahan Data ... 6

1.5. Penyajian Dan Analisis ... 6

Metode Pengukuran Dan Indikator Kemiskinan ... 9

2.1. Teori Kemiskinan ... 11

2.1.1. Kemiskinan Relatif ... 11

2.1.2. Kemiskinan Absolut ... 12

2.1.3. Terminologi Kemiskinan Lainnya ... 13

2.2. Metode Pengukuran Kemiskinan ... 23

2.2.1. Teknik Penghitungan Garis Kemiskinan ... 24

2.3. Indikator Kemiskinan ... 28

Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Tengah ... 31

3.1. Kondisi Geografis Dan Wilayah Administrasi ... 33

3.2. Karakteristik Kependudukan Penduduk Kalimantan Tengah 36 3.3. Penduduk Usia Kerja ... 44

3.4. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) ... 46

3.5. Karakteristik Pendidikan ... 49

3.6. Keadaan Sarana Pendidikan ... 50

3.7. Angka Melek Huruf ... 52

3.8. Partisipasi Sekolah ... 54

3.9. Pendidikan Yang Ditamatkan ... 59

(8)

vi Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

3.11. Status Kesehatan ... 63

Tingkat Kemiskinan Di Kalimantan Tengah ... 67

4.1. Definisi Kemiskinan ... 69

4.2. Perkembangan Tingkat Kemiskinan Di Kalimantan Tengah . 70 4.3. Perkembangan Garis Kemiskinan Di Kalimantan Tengah .... 74

4.4. Indeks Kedalaman Dan Keparahan Kemiskinan Di Kalimantan Tengah ... 77

4.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Angka Kemiskinan ... 85

Kemiskinan Dan Pembangunan Manusia ... 89

5.1. Teori Atau Konsep Tentang Pembangunan Manusia ... 91

5.2. Pendekatan Penghitungan Indeks Pembangunan Manusia . 94 5.3. Capaian Indeks Pembangunan Manusia Di Kalimantan Tengah ... 96

5.4. Perkembangan Komponen IPM ... 98

5.4.1. Angka Harapan Hidup (AHH) ... 98

5.4.2. Angka Melek Huruf (AMH) Dan Rata-Rata Lama Sekolah……….99

5.4.3 Pengeluaran Perkapita ... 101

5.5. Status Pembangunan Kabupaten/Kota ... 102

5.6. Analisis Kemiskinan Dan Pembangunan Manusia ... 103

kemiskinan Dan Pengangguran Di Kalimantan Tengah ... 105

6.1. Teori Dan Konsep Tentang Pengangguran ... 108

6.2. Pendekatan Penghitungan Pengangguran ... 109

6.3. Data Ketenagakerjaan Di Kalimantan Tengah Tahun 2013 111 6.4. Data Kemiskinan Dan Pengangguran Di Kalimantan Tengah Tahun 2012-2013 ... 114

(9)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 vii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Komponen Pengeluaran konsumsi Penduduk Menurut Daerah di Indonesia Tahun 1976 ... 20 Tabel 2.2. Perkiraan Pengeluaran Perkapita untuk memenuhi

Kebutuhan Dasar Menurut Komponen di Indonesia, 1970-1980 (Rp/Kapita/Bulan) ... 23 Tabel 3.1. Luas Wilayah dan Jumlah wilayah Administrasi

Menurut Kabupaten/Kota, Desember 2013 ... 36 Tabel 3.2. Jumlah Penduduk Hasil SP 2000, SP 2010 dan Hasil

Estimasi Penduduk Tahun 2013 Menurut Kabupaten/Kota ... 37 Tabel 3.3. Luas Wilayah, Ibukota Kabupaten/Kota, Jumlah

Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota, 2013 ... 39 Tabel 3.4. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan

Jenis Kelamin, 2013 (ribuan) ... 40 Tabel 3.5. Persentase Jumlah Penduduk Menurut Kelompok

Umur dan Jenis Kelamin, 2013 ... 41 Tabel 3.6. Rasio Ketergantungan Penduduk Menurut

Kabupaten/ Kota, 2013 ... 43 Tabel. 3.7 Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan

dan Jenis Kelamin, 2013 ... 45 Tabel 3.8. Persentase TPAK, Tingkat Kesempatan Kerja, dan

Tingkat Pengangguran Terbuka, 2010-2013 ... 48 Tabel 3.9. Angka Melek Huruf Penduduk Umur 10 Tahun ke

Atas Menurut Jenis Kelamin dan Daerah Tempat Tinggal, 2012-2013 ... 53 Tabel 3.10. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Kelompok

Umur dan Jenis Kelamin, 2006-2013 ... 56 Tabel 3.11. Angka Partisipasi Murni (APM) Menurut Tingkat

Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2011-2013 ... 58 Tabel 3.12. Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas

Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Daerah Tempat Tinggal, dan Jenis Kelamin, 2011-2013 ... 61

(10)

viii Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

Tabel 3.13. Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas MenurutJenis Kelamin dan Daerah Tempat Tinggal, 2012 - 2013 ... 63 Tabel 3.14. Angka Kesakitan Menurut Kabupaten/Kota dan

Daerah Tempat Tinggal,2012-2013 ... 64 Tabel 3.15. Rata-rata Lama Sakit Menurut Kabupaten/Kota

dan Daerah Tempat Tinggal, 2012-2013... 65 Tabel 3.16. Persentase Anak-anak Menurut Daerah Tempat

Tinggal dan Keluhan Kesehatan Utama yang Dialami, 2013 ... 66 Tabel 4.1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Kalimantan

Tengah, 1999-2013 ... 71 Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk

Miskin Menurut Kabupaten/Kota, 2012-2013 ... 73 Tabel 4.3. Garis Kemiskinan Menurut Klasifikasi Daerah, 2012 –

2013 ... 75 Tabel 4.4. Garis Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota,

2012-2013 ... 76 Tabel 4.5. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks

Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Klasifikasi Daerah, 2012 –2013 ... 78 Tabel 4.6. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Menurut

Klasifikasi Daerah, 2007-2013 ... 79 Tabel 4.7. Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Kalimantan

Tengah Menurut Klasifikasi Daerah, 2007-2013 ... 82 Tabel 4.8. Indeks Kedalaman dan Indeks Keparahan

Kemiskinan MenurutKabupaten/Kota, 2012-2013 ... 85 Tabel 4.9. Harga Beras Kualitas Sedang di Beberapa

Kabupaten/Kotadi Kalimantan Tengah, 2013 ... 86 Tabel 4.10. Rasio Puskesmas Terhadap Jumlah Penduduk

Menurut Kabupaten/Kota, 2013 ... 88 Tabel 5.1. IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Tengah,

2012-2013 ... 97 Tabel 5.2. Angka Melek Huruf (AMH) dan Rata-rala Lama

Sekolah (MYS) Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Tengah, 2012-2013 ... 100

(11)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 ix Tabel 5.3. Pengeluaran Perkapita Disesuaikan Menurut

Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Tengah, 2012-2013 ... 101 Tabel 5.4. Peringkat Reduksi Shortfall dan IPM Menurut

Kabupaten/Kota, 2012-2013 ... 103 Tabel 5.5. Komponen IPM dan Kemiskinan Menurut

Kabupaten/Kota,2012-2013 ... 104 Tabel 6.1. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut

Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin, 2013 ... 113 Tabel 6.2. Jumlah Penduduk Miskin dan Jumlah Pengangguran

(12)
(13)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1. Peta Administrasi Provinsi Kalimantan Tengah ... 34 Gambar 3.2. Piramida Penduduk, 2013 ... 42 Gambar 3.3. Persentase Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas

Menurut Kegiatan, 2013 ... 46 Gambar 3.4. TPAK Menurut Jenis Kelamin, 2008-2013 ... 47 Gambar 3.5. Rasio Murid Terhadap Guru Menurut Tingkat Sekolah

Tahun Ajaran 2011/2012 dan 2013/2014 ... 52 Gambar 3.6. Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas

Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin, 2013 ... 62 Gambar 4.1. Tren Kemiskinan Kalimantan Tengah, 2007-2013 ... 72 Gambar 4.2. Indeks Kedalaman Kemiskinan di Kalimantan Tengah

Menurut Klasifikasi Daerah, 2007 - 2013 ... 80 Gambar 4.3. Indeks Keparahan Kemiskinan Menurut Klasifikasi

Daerah, 2007– 2013 ... 83 Gambar 5.1. Angka Harapan Hidup Menurut Kabupaten/Kota di

Provinsi Kalimantan Tengah, 2012-2013 ... 98 Gambar 6.1. Diagram Ketenagakerjaan ... 110 Gambar 6.2. Tingkat Pengangguran Provinsi Kalimantan Tengah

(14)
(15)
(16)
(17)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 3 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kemiskinan merupakan masalah global yang harus dihadapi dan dicarikan solusinya bagi suatu negara. Oleh karena itu, mengurangi tingkat kemiskinan selalu menjadi tujuan di hampir setiap negara. Tujuan dari pembangunan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Peningkatan kesejahteraan rakyat ini dapat diukur dari penurunan tingkat kemiskinan, penurunan tingkat pengangguran dan meningkatnya pendapatan perkapita rakyat (Debraj, 1998: 8).

Kemiskinan menyebabkan seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya seperti tidak terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Berbagai program pengentasan kemiskinan sudah dijalankan tetapi hasilnya belum seperti yang diharapkan. Persentase penduduk miskin Provinsi Kalimantan Tengah memang turun dari waktu ke waktu namun dibandingkan dengan angka nasional masih berada di atas angka nasional dan secara jumlah juga masih cukup besar. Pada bulan September tahun 2013, tercatat 6,23 persen penduduk Kalimantan Tengah tergolong sebagai penduduk miskin, dimana pada periode yang sama secara nasional persentase penduduk miskin hanya 11,37 persen. Secara nasional, penduduk miskin yang tinggal di daerah perkotaan (8,39%) lebih rendah daripada mereka yang tinggal di perdesaan (14,32%) maka di Provinsi Kalimantan Tengah polanya yang sama yaitu lebih tinggi persentase penduduk miskin

(18)

4 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

di perkotaan (5,80%) sedangkan di perdesaan (6,45%). Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin, tetapi perlu diperhatikan pula tingkat kedalaman dan tingkat keparahan kemiskinan. Hasil penghitungan BPS pada tahun 2013, untuk wilayah Kalimantan Tengah, tercatat Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P

1) di daerah perkotaan (0,380) lebih rendah dari pada perdesaan (1,342). Ini menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin di perkotaan lebih mendekati Garis Kemiskinan dibanding penduduk miskin di perdesaan. Sementara itu, Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P

2) untuk perkotaan sebesar 0,037 berbeda jauh dengan yang di perdesaan sebesar 0,441. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketimpangan pengeluaran antara penduduk miskin di perdesaan lebih besar daripada penduduk miskin di perkotaan

Kemiskinan merupakan masalah yang kompleks karena banyak faktor yang mempengaruhi terciptanya kemiskinan. Oleh karena itu tidak mudah memecahkan masalah kemiskinan. Banyak faktor yang mempengaruhi kemiskinan. Pendidikan yang membuat penduduk miskin mempunyai keterbatasan untuk mengembangkan diri. Mereka akan kesulitan untuk berkompetensi memasuki dunia kerja di sektor formal yang memerlukan kualifikasi pendidikan yang tinggi. Akibatnya mereka yang bekerja hanya akan terserap di sektor informal yang sangat tidak menentu kondisinya.

Tingkat kemiskinan yang masih tinggi memberikan indikasi bahwa ada sesuatu yang patut dicermati dan dikaji secara komprehensif atas strategi, kebijakan dan program pengentasan kemiskinan yang telah diterapkan. Berkaitan

(19)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 5 dengan target pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat khususnya dalam mengentaskan kemiskinan maka informasi mengenai profil dan karakteristik kemiskinan sangat diperlukan oleh para perencana dan pengambil kebijakan terutama untuk penanganan masalah kemiskinan. Keterangan mengenai jenis persoalan dan akar permasalahan yang dihadapi berbagai jenis segmen penduduk miskin beserta profil dan karakteristik kemiskinan dapat membantu perencana program dalam menentukan program-program yang tepat dan pengambil kebijakan dapat lebih memfokuskan program pengentasan kemiskinan, sehingga dapat lebih sesuai dengan kebutuhan penduduk miskin tersebut. Berbagai program pengentasan kemiskinan yang didasari pemahaman menyeluruh mengenai kondisi sosial ekonomi penduduk miskin dapat membantu perencanaan, pengambilan kebijakan, dan pelaksanaan tepat sasaran.

1.2. Tujuan Umum

Publikasi ini bertujuan untuk menyajikan data dan analisis tingkat kemiskinan dan karakteristik penduduk miskin di Provinsi Kalimantan Tengah. Tingkat kemiskinan diukur menggunakan persentase penduduk miskin, tingkat kedalaman kemiskinan maupun tingkat keparahan kemiskinan. Karakteristik penduduk miskin yang disajikan dalam publikasi ini diuraikan berdasarkan jumlah dan komposisi, karakteristik perumahan, pola konsumsi, pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan dan KB serta kepemilikan asset. Selain itu, analisis kemiskinan dikaitkan dengan ketimpangan pendapatan, pembangunan manusia, ketahanan pangan maupun tingkat pengangguran di Kalimantan Tengah.

(20)

6 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

1.3. Tujuan Khusus

1. Mengetahui tingkat kemiskinan dan karakteristik penduduk miskin di Provinsi Kalimantan Tengah.

2. Mengetahui distribusi dan ketimpangan pendapatan.

3. Melihat hubungan antara kemiskinan, pembangunan manusia, ketahanan pangan dan ketenagakerjaan

1.4. Pengolahan Data

Data utama yang digunakan dalam publikasi ini berasal dari Badan Pusat Statistik yaitu dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2013. Sebelum disajikan dalam bentuk publikasi, data-data mentah hasil Susenas tersebut perlu dilakukan pengolahan menjadi indikator-indikator yang mengukur kemiskinan serta karakteristiknya di Kalimantan Tengah. Adapun tahapan-tahapan pengolahan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Penentuan Penduduk Miskin dan Garis Kemiskinan. 2. Tabulasi data

3. Pemeriksaan Tabel 4. Penghitungan indikator

5. Pemeriksaan dan evaluasi konsistensi antar berbagai indikator

1.5. Penyajian dan Analisis

Indikator-indikator yang dihasilkan selanjutnya disajikan dan dianalisis sesuai dengan aspeknya masing-masing. Dalam penyajiannya, publikasi "Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013" ini disajikan dalam 7 (tujuh) bab sebagai berikut: BAB I : PENDAHULUAN

(21)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 7 KEMISKINAN

BAB III : GAMBARAN UMUM PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

BAB IV : TINGKAT KEMISKINAN DI KALIMANTAN TENGAH BAB V : KEMISKINAN DAN PEMBANGUNAN MANUSIA DI

KALIMANTAN TENGAH

BAB VI : KEMISKINAN DAN PEMBANGUNAN MANUSIA DI KALIMANTAN TENGAH

(22)
(23)

METODE PENGUKURAN DAN

INDIKATOR KEMISKINAN

(24)
(25)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 11 BAB II

METODE PENGUKURAN DAN INDIKATOR KEMISKINAN

2.1. Teori Kemiskinan 2.1.1. Kemiskinan Relatif

Kemiskinan relatif merupakan kondisi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan distribusi pendapatan. Standar minimum disusun berdasarkan kondisi hidup suatu negara pada waktu tertentu dan perhatian terfokus pada golongan penduduk "termiskin", misalnya 20 persen atau 40 persen dari total penduduk yang telah diurutkan menurut pendapatan/pengeluaran. Kelompok ini merupakan penduduk relatif miskin. Dengan demikian, ukuran kemiskinan relatif sangat tergantung pada distribusi pendapatan/pengeluaran penduduk sehingga dengan menggunakan definisi ini berarti "orang miskin selalu hadir bersama kita".

Dalam praktek, negara kaya mempunyai garis kemiskinan relatif yang lebih tinggi dari pada negara miskin seperti pernah dilaporkan oleh Ravallion (1998: 26). Tulisan tersebut menjelaskan mengapa, misalnya, angka kemiskinan resmi (official figure) pada awal tahun 1990-an mendekati 15 persen di Amerika Serikat dan juga mendekati 15 persen di Indonesia (negara yang jauh lebih miskin). Artinya, banyak dari mereka yang dikategorikan miskin di Amerika Serikat akan dikatakan sejahtera menurut standar Indonesia. Tatkala negara menjadi lebih kaya (sejahtera), negara tersebut cenderung merevisi garis kemiskinannya menjadi lebih tinggi, dengan

(26)

12 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

kekecualian Amerika Serikat, dimana garis kemiskinan pada dasarnya tidak berubah selama hampir empat dekade. Misalnya, Uni Eropa umumnya mendefinisikan penduduk miskin adalah mereka yang mempunyai pendapatan per kapita di bawah 50 persen dari median (rata-rata) pendapatan. Ketika median/rata-rata pendapatan meningkat, garis kemiskinan relatif juga meningkat.

Dalam hal mengidentifikasi dan menentukan sasaran penduduk miskin, maka garis kemiskinan relatif cukup untuk digunakan, dan perlu disesuaikan terhadap tingkat pembangunan negara secara keseluruhan. Garis kemiskinan relatif tidak dapat dipakai untuk membandingkan tingkat kemiskinan antar negara dan waktu karena tidak mencerminkan tingkat kesejahteraan yang sama.

2.1.2. Kemiskinan Absolut

Kemiskinan secara absolut ditentukan berdasarkan ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan pokok minimum seperti pangan, sandang, kesehatan, perumahan dan pendidikan yang diperlukan untuk bisa hidup dan bekerja. Kebutuhan pokok minimum diterjemahkan sebagai ukuran finansial dalam bentuk uang. Nilai kebutuhan minimum kebutuhan dasar tersebut dikenal dengan istilah garis kemiskinan. Penduduk yang pendapatannya dibawah garis kemiskinan digolongkan sebagai penduduk miskin. Garis kemiskinan absolut "tetap” (tidak berubah) dalam hal standar hidup, garis kemiskinan absolut mampu membandingkan kemiskinan secara umum. Garis kemiskinan Amerika Serikat tidak berubah dari tahun ke tahun, sehingga angka kemiskinan sekarang mungkin terbanding dengan angka kemiskinan satu

(27)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 13 dekade yang lalu, dengan catatan bahwa definisi kemiskinan tidak berubah.

Garis kemiskinan absolut sangat penting jika seseorang akan mencoba menilai efek dari kebijakan anti kemiskinan antar waktu, atau memperkirakan dampak dari suatu proyek terhadap kemiskinan (misalnya, pemberian kredit skala kecil). Angka kemiskinan akan terbanding antara satu negara dengan negara lain hanya jika garis kemiskinan absolut yang sama digunakan di kedua negara tersebut. Bank Dunia memerlukan garis kemiskinan absolut agar dapat membandingkan angka kemiskinan antar negara. Hal ini bermanfaat dalam menentukan kemana menyalurkan sumber daya finansial (dana) yang ada, juga dalam menganalisis kemajuan dalam memerangi kemiskinan. Pada umumnya ada dua ukuran yang digunakan oleh Bank Dunia, yaitu: a) US $ 1 per hari dimana diperkirakan ada sekitar 1,2 miliar penduduk dunia yang hidup dibawah ukuran tersebut; b) US $ 2 per hari dimana lebih dari 2 miliar penduduk yang hidup kurang dari batas tersebut. Kedua batas ini adalah garis kemiskinan absolut.

2.1.3. Terminologi Kemiskinan Lainnya

Terminologi lain yang juga pernah dikemukakan sebagai wacana adalah kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural. Soetandyo Wignjosoebroto dalam "Kemiskinan Struktural: Masalah dan Kebijakan" yang dirangkum oleh Suyanto (1995:59) mendefinisikan "Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang ditengarai atau didalihkan bersebab dari kondisi struktur, atau tatanan kehidupan yang tak menguntungkan". Dikatakan tak menguntungkan karena tatanan itu tak hanya menerbitkan tetapi juga melanggengkan

(28)

14 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 kemiskinan di dalam masyarakat.

Dalam kondisi struktur yang demikian itu kemiskinan menggejala bukan oleh sebab-sebab yang alami atau oleh sebab-sebab yang pribadi, melainkan oleh sebab tatanan sosial yang tak adil. Tatanan yang tak adil ini menyebabkan banyak warga masyarakat gagal memperoleh peluang dan/atau akses untuk mengembangkan dirinya serta meningkatkan kualitas hidupnya, sehingga mereka yang malang dan terperangkap ke dalam perlakuan yang tidak adil ini menjadi serba berkekurangan, tak setara dengan tuntutan untuk hidup yang layak dan bermartabat sebagai manusia. Salah satu contoh adalah kemiskinan karena lokasi tempat tinggal yang terisolasi, misalnya, orang Mentawai di Kepulauan Mentawai, orang Melayu di Pulau Christmas, suku Tengger di pegunungan Tengger Jawa Timur, dan sebagainya. Sedangkan kemiskinan kultural diakibatkan oleh faktor-faktor adat dan budaya suatu daerah tertentu yang membelenggu seseorang tetap melekat dengan indikator kemiskinan. Padahal indikator kemiskinan tersebut seyogianya bisa dikurangi atau bahkan secara bertahap bisa dihilangkan dengan mengabaikan faktor-faktor adat dan budaya tertentu yang menghalangi seseorang melakukan perubahan-perubahan ke arah tingkat kehidupan yang lebih baik. Kemiskinan karena tradisi sosio-kultural terjadi pada suku-suku terasing, seperti halnya suku Badui di Cibeo Banten Selatan, dan suku Kubu di Jambi. Soetandyo Wignjosoebroto dalam "Kemiskinan, Kebudayaan, dan Gerakan Membudayakan Keberdayaan" yang dirangkum oleh Suyanto (1995:59) mendefinisikan "Kemiskinan adalah suatu ketidak-berdayaan". Keberdayaan itu sesungguhnya merupakan fungsi

(29)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 15 kebudayaan. Artinya, berdaya tidaknya seseorang dalam kehidupan bermasyarakatnya itu dalam kenyataan akan banyak ditentukan dan dipengaruhi oleh determinan-determinan sosial-budayanya (seperti misalnya posisi, status, dan wawasan yang dipunyainya).

Sebaliknya, semua fasilitas sosial yang teraih dan dapat didayagunakan olehnya itu akan ikut pula menentukan keberdayaannya kelak di dalam pengembangan dirinya di tengah masyarakat. Acapkali timbul suatu rasa pesimis di kalangan orang miskin dengan merasionalisasi keadaannya bahwa hal itu "sudah takdir", dan bahwa setiap orang itu sesungguhnya sudah mempunyai suratan nasibnya sendiri-sendiri, yang mestinya malah harus disyukuri. Oleh karena itu, Soetandyo menyarankan ditingkatkannya "Gerakan Membudayakan Keberdayaan" pada lapisan masyarakat bawah. Melek huruf, melek bahasa, melek fasilitas, melek ilmu, melek informasi, melek hak, dan melek-melek lainnya adalah suatu keberdayaan yang harus terus dimungkinkan kepada lapisan-lapisan masyarakat bawah agar tidak terjebak ke dalam kemiskinan kultural.

Debraj (1998: 250) melihat kemiskinan sebaga kekurangan pendapatan, konsumsi, atau secara umum, kurangnya kepemilikan aksessebilitas terhadap barang dan jasa yang didefinisikan sebagai batas minimal seseorang mampu memenuhi kebutuhan ekonominya pada saat tertentu. Untuk memahami pengertian tentang kemiskinan ada berbagai pendapat yang dikemukakan.

Bank Dunia atau World Bank mendefinisikan kemiskinan dengan menggunakan pendekatan pendapatan penduduk

(30)

16 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

(income approach) dengan batasan US 1 dollar perkapita per hari dan US 2 dollar perkapita per hari setelah disetarakan dengan daya beli penduduk di suatu daerah atau purchasing powe parity (Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2009). Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam studi tentang kemiskinan, yaitu pendekatan obyektif dan pendekatan subyektif. Pendekatan obyektif yaitu pendekatan dengan menggunakan ukuran kemiskinan yang telah ditentukan oleh pihak lain terutama para ahli yang diukur dari tingkat kesejahteraan sosial sesuai dengan standar kehidupan. Pendekatan subyektif adalah pendekatan dengan menggunakanukuran kemiskinan yang ditentukan oleh orang miskin itu sendiri yang diukur dari tingkat kesejahteraan sosial dari orang miskin dibandingkan dengan orang kaya yang ada di lingkungannya.

Menggunakan pendekatan obyektif banyak ditemukan berbagai dimensi pendekatan yang digunakan oleh para ahli maupun lembaga. Bappenas (dalam jurnal ekonomi Setneg RI, 2009) menggunakan beberapa pendekatan utama antara lain: pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach), pendekatan pendapatan (income approach), pendekatan kemampuan dasar (human capability approach) dan pendekatan hak.

Pendekatan kebutuhan dasar, melihat bahwa kemiskinan sebagai suatu ketidakmampuan (lack of capabilities) seseorang, keluarga dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan minimum, antara lain pangan, sandang, papan, pelayanan kesehatan, pendidikan, kerohanian, hiburan, penyediaan air bersih dan sanitasi. Sedangkan pendekatan pendapatan,

(31)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 17 melihat bahwa kemiskinan disebabkan oleh rendahnya penguasaan asset, dan alat-alat produktif seperti tanah dan lahan pertanian atau perkebunan, sehingga secara langsung mempengaruhi pendapatan seseorang dalam atau perkebunan, sehingga secara langsung mempengaruhi pendapatan seseorang dalammasyarakat. Pendekatan ini, menentukan secara standar pendapatan seseorang di dalam masyarakat untuk membedakan kelas sosialnya. Demikian pula pendekatan kemampuan dasar yang menilai bahwa kemiskinan sebagai keterbatasan kemampuan dasar seperti kemampuan membaca dan menulis untuk menjalankan fungsi minimal dalam masyarakat. Berbeda dengan pendekatan lainnya, pendekatan hak melihat bahwa kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar yang diakui secara umum antara lain meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki (dalam jurnal ekonomi Setneg RI, 2009).

Strategi kebutuhan dasar (basic needs), sebagaimana dikutip oleh Thee Kian Wie (1981: 29), dipromosikan dan dipopulerkan oleh International Labor Organisation (ILO) pada tahun 1976 dengan judul "Kesempatan Kerja, Pertumbuhan Ekonomi, dan Kebutuhan Dasar: Suatu Masalah bagi Satu

(32)

18 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

Dunia". Strategi kebutuhan dasar memang memberi tekanan pada pendekatan langsung dan bukan cara tidak langsung seperti melalui efek menetes ke bawah (trickle-down effect) dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Kesulitan umum dalam penentuan indikator kebutuhan dasar adalah standar atau kriteria yang subjektif karena dipengaruhi oleh adat, budaya, daerah, dan kelompok sosial. Di samping itu kesulitan penentuan secara kuantitatif dari masing-masing komponen kebutuhan dasar karena dipengaruhi oleh sifat yang dimiliki oleh komponen itu sendiri, seperti misalnya selera konsumen terhadap suatu jenis makanan atau komoditi lainnya.

Beberapa kelompok atau ahli telah mencoba merumuskan mengenai konsep kebutuhan dasar ini termasuk alat ukurnya. Konsep kebutuhan dasar yang dicakup adalah komponen kebutuhan dasar dan karakteristik kebutuhan dasar serta hubungan keduanya dengan garis kemiskinan. Rumusan komponen kebutuhan dasar menurut beberapa ahli adalah:

1. Menurut United Nations (1961), sebagaimana dikutip oleh Hendra Esmara (1986: 289), komponen kebutuhan dasar terdiri atas: kesehatan, bahan makanan dan gizi, pendidikan, kesempatan kerja dan kondisi pekerjaan, perumahan, sandang, rekreasi, jaminan sosial, dan kebebasan manusia.

2. Menurut UNSRID (1966), sebagaimana dikutip oleh Hendra Esmara (1986: 289), komponen kebutuhan dasar terdiri atas: (i) kebutuhan fisik primer yang mencakup kebutuhan gizi, perumahan, dan kesehatan; (ii) kebutuhan kultural yang mencakup pendidikan, rekreasi dan ketenangan hidup; dan (iii) kebutuhan atas kelebihan pendapatan.

(33)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 19 3. Menurut Ganguli dan Gupta (1976), sebagaimana dikutip

oleh Hendra Esmara (1986: 289), komponen kebutuhan dasar terdiri atas: gizi, perumahan, pelayanan kesehatan pengobatan, pendidikan, dan sandang.

4. Menurut Green (1978), sebagaimana dikutip oleh Thee Kian Wie (1981: 31), komponen kebutuhan dasar terdiriatas: (i) personal consumption items yang mencakup pangan, sandang, dan pemukiman; (ii) basic public services yang mencakup fasilitas kesehatan, pendidikan, saluran air minum, pengangkutan, dan kebudayaan.

5. Menurut Hendra Esmara (1986: 320-321), komponen kebutuhan dasar primer untuk bangsa Indonesia mencakup pangan, sandang, perumahan, pendidikan, dan kesehatan. 6. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), komponen kebutuhan

dasar terdiri dari pangan dan bukan pangan yang disusun menurut daerah perkotaan dan perdesaan berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) seperti yang terlihat pada Tabel 2.1.

(34)

20 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

Tabel 2.1. Komponen Pengeluaran konsumsi Penduduk Menurut Daerah di Indonesia Tahun 1976

Jenis Pengeluaran Perkotaan Pedesaan

(1) (2) (3)

A.PANGAN

1. Padi-padian dan hasil-hasilnya

 

2. Umbi-umbian dan hasil-hasilnya

 -

3. Ikan dan hasil-hasil ikan lainnya

 

4. Daging  

5. Telur, susu, dan hasil-hasil susu - - 6. Sayur-sayuran   7. Kacang-kacangan   8. Buah-buahan   9. Konsumsi Lainnya () ()

10. Makanan yang sudah jadi - -

11. Minuman yg mengandung alkohol

- -

12. Tembakau, sirih - -

B. BUKAN PANGAN

1. Perumahan, bahan bakar, penerangan, dan air.

 

2. Barang-barang dan jasa-jasa () () 3. Pakaian, alas kaki, dan

tutup kepala

 

4. Barang tahan lama  

5. Keperluan pesta dan upacara

 

Catatan : tanda  memperlihatkandipergunakan sepenuhnya dan tanda () dipergunakan sebagian dari pengeluaran rata-rata jenis pengeluaran dalam kategori kebutuhan dasar atau bukan kebutuhan dasar.

(35)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 21 Keterangan :

a. Dari seluruh pengeluaran untuk konsumsi lainnya diperkirakan 50 persen dan 75 persen digunakan untuk kebutuhan dasar bagi penduduk yang berdiam di daerah perkotaan dan pedesaan. Kebutuhan dasarterdiri dari garam, lada, gula pasir, minyak goreng dan lain-lain.

b. Dalam kategori pengeluaran untuk barang-barang dan jasa-jasa adalah termasuk pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan.

Berdasarkan komposisi pengeluaran konsumsi penduduk di atas dapat dihitung besarnya kebutuhan minimum untuk masing-masing komponen tersebut seperti disajikan pada tabel 2.2. Indikator kebutuhan minimum untuk masing-masing komponen tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut:

a. Pangan, dinyatakan dengan kebutuhan gizi minimum yaitu perkiraan kalori dan protein.

b. Sandang, dinyatakan dengan indikator pengeluaran rata-rata untuk keperluan pakaian, alas kaki, dan tutup kepala. c. Perumahan, dinyatakan dengan indikator pengeluaran

rata-rata untuk sewa rumah, listrik, minyak tanah, kayu bakar, arang, dan air.

d. Pendidikan, dinyatakan dengan indikator pengeluaran rata-rata untuk keperluan biaya sekolah (uang sekolah, iuran sekolah, alat tulis, dan buku).

e. Kesehatan, dinyatakan dengan indikator pengeluaran rata-rata untuk penyediaan obat-obatan di rumah, ongkos dokter, perawatan, termasuk obat-obatan.

Pendekatan rata-rata per kapita yang diterapkan dalam penghitungan kemiskinan mengalami perkembangan dari waktu

(36)

22 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

ke waktu. Biasanya pendekatan rata-rata per kapita ini belum mempertimbangkan tingkat konsumsi menurut golongan umur dan jenis kelamin serta skala ekonomi dalam konsumsi. Bahkan ada juga pengukuran secara internasional dengan menggunakan nilai uang dalam bentuk dolar. Bank dunia menetapkan garis kemiskinan sebesar 1 dolar dalam bentuk satuan PPP per kapita per hari. Sedangkan negara maju seperti Eropa Barat menetapkan 1/3 dari nilai PDB per kapita per tahun sebagai garis kemiskinan. Untuk kasus Indonesia, garis kemiskinan didekati dengan pengeluaran minimum makanan yang setara dengan 2.100 kilokalori per kapita per hari ditambah pengeluaran minimum bukan makanan (perumahan dan fasilitasnya, sandang, kesehatan, pendidikan, transpor dan barang-barang lainnya).

(37)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 23

Tabel 2.2. Perkiraan Pengeluaran Perkapita untuk memenuhi Kebutuhan Dasar Menurut Komponen di Indonesia, 1970-1980 (Rp/Kapita/Bulan)

Jenis Pengeluaran

1970 1980

Perkotaan Perdesaan Perkotaan Perdesaan

(1) (2) (3) (4) (5) A. PANGAN 864 823 4 47 4 300 1. Padi-padian dan hasil hasilnya 456 425 1 922 2 014 2. Umbi-umbian dan hasil- hasilnya - 38 - 155 3. Ikan dan hasil-hasil ikan lainnya 116 90 632 503 4. Daging 78 43 505 216 5. Sayur-sayuran 74 57 558 413 6. Kacang-kacangan - 28 - 195 7. Buah-buahan 38 22 377 223 8. Konsumsi Lainnya 102 120 483 581 B. BUKAN PANGAN 378 176 3 293 1 182 1. Perumahan 205 98 2 124 691 2. Sandang 111 66 652 363 3. Pendidikan 40 8 337 78 4. Kesehatan 20 4 180 50 Jumlah Rata-rata Kebutuhan Dasar 1 240 999 7 770 5 482 Pengeluaran Rata-rata 1 819 1 272 12 208 7 212

2.2. Metode Pengukuran Kemiskinan

Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai

(38)

24 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.

Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM), sebagai berikut: GK= GKM + GKNM Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki

rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.

Garis kemiskinan makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilokalori perkapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi- umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll).

Garis kemiskinan non-makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non- makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi (kelompok pengeluaran) di perkotaan dan 47 jenis komoditi (kelompok pengeluaran) di perdesaan.

2.2.1. Teknik Penghitungan Garis Kemiskinan

Tahap pertama adalah menentukan penduduk referensi yaitu 20 persen penduduk yang berada diatas Garis Kemiskinan Sementara. Garis Kemiskinan Sementara yaitu Garis Kemiskinan periode lalu yang di-inflate dengan inflasi umum (IHK). Dari penduduk referensi ini kemudian dihitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM).

(39)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 25 Garis kemiskinan makanan (GKM) adalah jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar makanan yang riil dikonsumsi penduduk referensi yang kemudian disetarakan dengan 2.100 kilokalori perkapita perhari. Penyetaraan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan dilakukan dengan menghitung harga rata-rata kalori dari ke-52 komoditi tersebut. Formula dasar dalam menghitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah:

GKMJK = ∑

GKM JK = ∑PLK..QJLK= ∑ VJLK Keterangan:

GKM JK = Garis Kemiskinan Makanan daerah J (sebelum disetarakan menjadi 2100 kilokalori) kabupaten/ kota K.

PJLK = Harga Komoditi L di daerah J dan kabupaten/kota K QJLK = Rata-rata Kuantitas Komoditi L yang di konsumsi di

daerah J dan kabupaten/kota K

VJLK = Nilai pengeluaran untuk konsumsi Komoditi L yang di konsumsi di daerah J dan kabupaten/kota K

Selanjutnya GKMJ tersebut disetarakan dengan 2100 kilokalori dengam mengalikan 2100 terhadap harga implisit rata-rata kalori menurut daerah J dari penduduk referensi sehingga :

= =

=

52 1 52 1 j j j j

lk

K

lk

V

HK

Keterangan :

(40)

26 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

HKIK = Harga rata-rata kalori di daerah J kabupaten/kota K GKMjk = HK JK x 2100

Keterangan :

GKM JK = Kebutuhan minimum makanan di daerah J, yaitu yang menghasilkan energy setara dengan 2100

kilokalori/kapita/hari.

J = Daerah (perkotaan/pedesaan) K = kabupaten/Kota K

GKNM merupakan penjumlahan nilai kebutuhan minimum dari komoditi-komoditi non makanan terpilih yang meliputi perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Nilai kebutuhan minimum per komoditi/sub kelompok non makanan dihitung dengan menggunakan suatu rasio pengeluaran komoditi/sub kelompok terhadap total pengeluaran komoditi/sub kelompok yang tercatat dalam data Susenas modul konsumsi. Rasio tersebut dihitung dari hasil SPKKD 2004, yang dilakukan untuk mengumpulkan data pengeluaran konsumsi rumah tangga per komoditi non makanan yang lebih rinci dibandingkan data Susenas modul konsumsi. Nilai kebutuhan minimum non makanan secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut:

=

=

n i

rljVljk

GKNMjk

1 GKNM

JK = Pengeluaran minimum non makanan atau garis kemiskinan non makanan daerah J (kota/desa) dan kabupaten/kota K.

V

KJP = Nilai Pengeluaran per komoditi / sub kelompok non makanan daerah J dan kabupaten/kota K (dari

(41)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 27 Susenas modul konsumsi).

rKJ = Rasio Pengeluaran komoditi / sub kelompok non makanan menurut daerah hasil SPKKD 2004) dan daerah kota/desa.

L = Jenis komoditi non makanan terpilih J = Daerah (perkotaan/perdesaan) K = Kabupaten/Kota K

Garis kemiskinan merupakan penjumlahan dari GKM dan GKNM. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebaga penduduk miskin (PM). Persentase penduduk miskin di suatu provinsi dihitung dengan:

Keterangan :

%PMK = % penduduk miskin di kabupaten/kota K. PMK = Jumlah penduduk miskin di kabupaten/kota K. PK = Jumlah penduduk di kabupaten/kota K.

Sementara itu, penduduk miskin untuk level provinsi merupakan jumlah penduduk miskin kabupaten/kota atau:

=

=

n i

PMk

PMp

1 PMP = Penduduk miskin Provinsi.

PMK = Penduduk miskin di kabupaten/kota K. N = Jumlah Kabupaten/Kota.

(42)

28 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 Persentase penduduk miskin provinsi adalah:

Keterangan:

% PMP = % penduduk miskin di provinsi. PMP = Jumlah penduduk miskin di provinsi. PP = Jumlah penduduk di provinsi.

2.3. Indikator Kemiskinan

Berdasarkan pendekatan kebutuhan dasar, ada 3 indikator kemiskinan yang digunakan, yaitu:

• Head Count Index (HCI-P0), yaitu persentase penduduk atau rumahtangga miskin yang berada di bawah Garis Kemiskinan (GK).

• Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1) yang merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.

• Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Severity Index-P2) yang memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Foster-Greer-Thorbecke (1984) telah merumuskan suatu ukuran yang digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan yaitu:

(43)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 29

α

α

=

=

 −

q i

yi

yi

z

N

P

1

1

Keterangan: Dimana: α = 0,1,2 Z = Garis kemiskinan

yi = Rata-rata pengeluaran perkapita sebulan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan

(i=1,2,…,q), yi< z

Q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan

N = Jumlah penduduk

Jika α=0 maka diperoleh Head Count Index (P0) yaitu persentase penduduk miskin, sedanglan jika α=1 diperoleh Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index), dan α=2 diperoleh Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Severity Indeks).

(44)
(45)

GAMBARAN UMUM PROVINSI

KALIMANTAN TENGAH

(46)
(47)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 33 BAB III

GAMBARAN UMUM PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

3.1. Kondisi Geografis dan Wilayah Administrasi

Provinsi Kalimantan Tengah terletak antara 0º45' Lintang Utara, 3º30' Lintang Selatan dan 110º45’ - 115º51’ Bujur Timur. Dengan luas daerah seluruhnya 153.564,50 km2 atau 8,04 persen dari luas Indonesia, merupakan provinsi dengan luas wilayah terluas ketiga di Indonesia setelah Papua dan Kalimantan Timur. Dilihat dari perbatasan daerah, Kalimantan Tengah di bagian utara dibatasi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, sedangkan di bagian selatan berbatasan dengan Laut Jawa. Sebelah barat berbatasan dengan Kalimantan Barat, dan sebelah timur berbatasan dengan Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Seperti provinsi lainnya diIndonesia, Provinsi Kalimantan Tengah memiliki iklim tropis yang dipengaruhi oleh musim hujan dan musim kemarau. Selama tahun 2013, hujan terjadi setiap bulan. Rata-rata curah hujan di Kalimantan Tengah berkisar antara 237,9 mm (Pangkalan Bun) sampai 281,6 mm (Palangka Raya). Rata-rata penyinaran matahari di Kalimantan Tengah selama tahun 2013 berkisar antara 57,2% (Palangka Raya) hingga 60,0% (Pangkalan Bun). Suhu udara di suatu tempatantara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut dari permukaan air laut dan jaraknya dari pantai. Pada tahun 2013, suhu udara rata-rata Kalimantan Tengah berkisar antara 26,7ºC sampai 27,1ºC. Suhu udara maksimum tercatat di stasiun pengukur Buntok (36,8ºC) sedangkan suhu minimum tercatat di stasiun pengukur Muara Teweh (16,8ºC).

(48)

34 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

Berikut dapat dilihat peta wilayah administrasi Provinsi Kalimantan Tengah pada Gambar 3.1 di bawah ini.

Gambar 3.1. Peta Administrasi Provinsi Kalimantan

Tengah

Dilihat dari sudut wilayah administrasi, wilayah Provinsi Kalimantan Tengah memiliki 14 kabupaten/kota, yang terdiri dari 13 kabupaten dan 1 kota, yaitu:

1. Kabupaten Kotawaringin Barat 2. Kabupaten Kotawaringin Timur 3. Kabupaten Kapuas

(49)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 35 4. Kabupaten Barito Selatan

5. Kabupaten Barito Utara 6. Kabupaten Sukamara 7. Kabupaten Lamandau 8. Kabupaten Seruyan 9. Kabupaten Katingan 10. Kabupaten Pulang Pisau 11. Kabupaten Gunung Mas 12. Kabupaten Barito Timur 13. Kabupaten Murung Raya 14. Kota Palangka Raya

Jumlah wilayah administrasi seperti kecamatan dan kelurahan. Sampai dengan Desember 2013 jumlah desa/kelurahan di Kalimantan Tengah mencapai 1.569, sementara jumlah kecamatan sebanyak 136 kecamatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa setiap pemekaran kabupaten/kota selalu diikuti oleh pemekaran wilayah dibawahnya yaitu pada tingkat kecamatan dan desa/ kelurahan. Luas wilayah dan jumlah wilayah administrasi menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilihat pada tabel berikut ini.

(50)

36 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

Tabel 3.1. Luas Wilayah dan Jumlah wilayah Administrasi Menurut Kabupaten/Kota, Desember 2013

Kabupaten/Kota Luas wilayah

(Km2) Kecamatan Desa/ Kelurahan (1) (2) (3) (4) 1. Kotawaringin Barat 10 759 6 94 2. Kotawaringin Timur 16 796 17 185 3. K a p u a s 14 999 17 233 4. Barito Selatan 8 830 6 95 5. Barito Utara 8 300 9 103 6. Sukamara 3 827 5 32 7. Lamandau 6 414 8 83 8. Seruyan 16 404 10 100 9. Katingan 17 500 13 161 10. Pulang Pisau 8 997 8 99 11. Gunung Mas 10 805 12 127 12. Barito Timur 3 834 10 103 13. Murung Raya 23 700 10 124 14. Palangka Raya 2 399,5 5 30 Jumlah 153 564,5 136 1 569

3.2. Karakteristik Kependudukan Penduduk Kalimantan Tengah

Jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2013 adalah 2.384,7 ribu jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki 1.243,8 ribu jiwa (52,16 persen) dan 1.140,9 ribu jiwa (47,84 persen) penduduk perempuan. Secara absolut jumlah penduduk Kalimantan Tengah terus bertambah dari tahun ke tahun. Tercatat pada tahun 2000 tercatat 1.855,5 ribu lalu pada tahun 2010 menjadi 2.212,1 ribu serta pada tahun 2013 menjadi 2.384,7 ribu jiwa.

(51)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 37

Tabel 3.2. Jumlah Penduduk Hasil SP 2000, SP 2010 dan Hasil Estimasi Penduduk Tahun 2013 Menurut Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk SP 2000 Jumlah Penduduk SP 2010 Jumlah Penduduk 2013 (ribuan) (1) (2) (3) (4) 1. Kotawaringin Barat 183 133 235 803 261,2 2. Kotawaringin Timur 317 933 374 175 405,7 3. K a p u a s 325 243 329 646 341,6 4. Barito Selatan 111 784 124 128 129,2 5. Barito Utara 112 518 121 573 125,4 6. Sukamara 30 439 44 952 51,1 7. Lamandau 49 393 63 199 69,7 8. Seruyan 94 770 139 931 160,6 9. Katingan 124 641 146 439 155,1 10. Pulang Pisau 114 798 120 062 123,3 11. Gunung Mas 77 045 96 990 104,9 12. Barito Timur 74 042 97 372 107,3 13. Murung Raya 76 249 96 857 105,1 14. Palangka Raya 163 485 220 962 244,5 Kalimantan Tengah 1 855 473 2 212 089 2 384,7

Pengaruh mobilitas penduduk baik yang sifatnya permanen maupun sementara, mengakibatkan kepadatan penduduk Provinsi Kalimantan Tengah meningkat. Khusus di Kota Palangka Raya yang luas wilayahnya kurang dari 2 persen dari luas Provinsi Kalimantan Tengah (±2.400 km2

) mempunyai kepadatan penduduk lebih dari 6 (enam) kali kepadatan penduduk Provinsi Kalimantan Tengah, yaitu sebesar 102 jiwa per km2. Bila dilihat menurut kabupaten/kota, Kabupaten Murung Raya yang merupakan kabupaten terluas dengan luas ±15 persen luas wilayah Provinsi Kalimantan Tengah kepadatan

(52)

38 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

penduduknya paling jarang, yaitu sebesar 4 jiwa per km2. Untuk kabupaten-kabupaten induk seperti Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Kapuas, Barito Selatan, Barito Utara dan Kota Palangka Raya masing-masing 24 jiwa, 25 jiwa, 23 jiwa, 15 jiwa, 15 jiwa dan 102 jiwa per km2. (Tabel 2.3.).

Persebaran yang tidak merata sangat berkaitan dengan permasalahan kemasyarakatan, daya dukung serta daya tampung lingkungan/wilayah, juga persoalan penyediaan kebutuhan terhadap lapangan pekerjaan, serta tenaga kerjanya. Kota Palangka Raya memiliki kepadatan yang tinggi dibandingkan kabupaten lainnya, sehingga perlu penyeimbangan persebaran penduduk melalui pemerataan pembangunan wilayah, penciptaan lapangan kerja di daerah-daerah yang jarang penduduknya.

(53)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 39

Tabel 3.3. Luas Wilayah, Ibukota Kabupaten/Kota, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota, 2013 Kabupaten/Kota Ibukota Luas Wilayah (Km2) Jumlah Pendu- duk (ribuan) Kepa-datan Pen-duduk (1) (2) (3) (4) (5)

1. Kotawaringin Barat Pangkalan Bun 10 759 261,2 24

2. Kotawaringin Timur Sampit 16 496 405,7 25

3. K a p u a s Kuala Kapuas 14 999 341,6 23

4. Barito Selatan Buntok 8 830 129,2 15

5. Barito Utara Muara Teweh 8 300 125,4 15

6. Sukamara Sukamara 3 827 51,1 13

7. Lamandau Nanga Bulik 6 414 69,7 11

8. Seruyan Kuala Pembuang 16 404 160,6 10

9. Katingan Kasongan 17 800 155,1 9

10. Pulang Pisau Pulang Pisau 8 997 123,3 14

11. Gunung Mas Kuala Kurun 10 804 104,9 10

12. Barito Timur Tamiang Layang 3 834 107,3 28

13. Murung Raya Puruk Cahu 23 700 105,1 4

14. Palangka Raya Palangka Raya 2 400 244,5 102

(54)

40 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

Tabel 3.4. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, 2013 (ribuan)

Kelompok Umur Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan (1) (2) (3) (4) 0 - 4 124,8 119,7 244,5 5 - 9 119,6 113,0 232,6 10 - 14 113,3 108,8 222,1 15 - 19 111,5 106,6 218,1 20 - 24 114,8 106,1 220,9 25 - 29 115,7 106,9 222,6 30 - 34 114,3 105,8 220,1 35 - 39 109,2 97,1 206,3 40 - 44 92,3 78,7 171,0 45 - 49 73,2 62,0 135,2 50 - 54 55,5 46,7 102,2 55 - 59 39,5 32,7 72,2 60 - 64 25,4 21,6 47,0 65 - 69 15,6 14,9 30,5 70 - 74 9,9 10,0 19,9 75+ 9,2 10,3 19,5 Jumlah 1 243,8 1 140,9 2 384,7

Sumber : Proyeksi Penduduk Kalimantan Tengah Tahun 2010-2020

Perkembangan struktur umur penduduk ditentukan oleh adanya perubahan kondisi sosial dan ekonomi serta norma-norma hidup masyarakat. Sebagai contoh, turunnya angka kelahiran (fertilitas) sebagai hasil upaya keras pemerintah melalui pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) menyebabkan pertumbuhan penduduk pada kelompok anak-anak dapat dikendalikan. Membaiknya derajat kesehatan masyarakat seiring dengan membaiknya pelayanan kesehatan menyebabkan semakin tinggi angka harapan hidup. Di samping itu, globalisasi

(55)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 41 mempercepat pengaruh pada mobilitas penduduk baik yang bersifat permanen maupun sementara.

Tabel 3.5. Persentase Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, 2013

Kelompok Umur Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan (1) (2) (3) (4) 0 - 4 10,03 10,49 10,25 5 - 9 9,62 9,90 9,75 10 - 14 9,11 9,54 9,31 15 - 19 8,96 9,34 9,15 20 - 24 9,23 9,30 9,26 25 - 29 9,30 9,37 9,33 30 - 34 9,19 9,27 9,23 35 - 39 8,78 8,51 8,65 40 - 44 7,42 6,90 7,17 45 - 49 5,89 5,43 5,67 50 - 54 4,46 4,09 4,29 55 - 59 3,18 2,87 3,03 60 - 64 2,04 1,89 1,97 65 - 69 1,25 1,31 1,28 70 - 74 0,80 0,88 0,83 75+ 0,74 0,90 0,82 Jumlah 100,00 100,00 100,00

Sumber : Proyeksi Penduduk Kalimantan Tengah Tahun 2010-2020

Dari Tabel 3.5 di atas terlihat bahwa persentase penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencapai 67,75 persen, sedangkan persentase penduduk usia non produktif (kurang dari 15 tahun dan 65 tahun ke atas adalah 32,25 persen. Dengan kata

(56)

42 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

lain angka beban ketergantungan penduduknya sebesar 47,60, yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif harus menanggung antara 47 sampai 48 penduduk usia non produktif (usia muda dan usia lanjut).

Gambar 3.2. Piramida Penduduk, 2013

Struktur umur penduduk tahun 2013 tergambar pada piramida penduduk. Dari gambar tersebut masih terlihat melebar di dasar piramida dan bagian atas piramida yang cenderung semakin menyempit dan meruncing tajam. Dari analisis piramida menggambarkan bahwa penduduk Provinsi Kalimantan Tengah tergolong penduduk muda ke arah menengah. Pada kelompok umur penduduk tua pada piramida penduduk, menunjukkan bahwa penduduk laki-laki cenderung lebih banyak dibandingkan dengan penduduk perempuan.

(57)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 43

Tabel 3.6. Rasio Ketergantungan Penduduk Menurut Kabupaten/ Kota, 2013

Kabupaten/Kota

Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur (ribu jiwa) Rasio Keter-gan- tungan 0-14 15-64 65+ (1) (2) (3) (4) (5) 1. Kotawaringin Barat 74,0 180,4 6,8 44,77 2. Kotawaringin Timur 118,4 277,1 10,2 46,42 3. K a p u a s 100,7 229,4 11,6 48,94 4. Barito Selatan 38,7 86,0 4,4 50,19 5. Barito Utara 37,8 84,0 3,6 49,37 6. Sukamara 15,1 34,7 1,3 47,42 7. Lamandau 19,7 47,6 2,4 46,48 8. Seruyan 46,7 111,0 2,9 44,69 9. Katingan 47,9 102,4 4,8 51,41 10. Pulang Pisau 35,5 82,3 5,6 49,89 11. Gunung Mas 34,1 67,4 3,4 55,52 12. Barito Timur 30,7 72,5 4,1 48,04 13. Murung Raya 35,6 66,8 2,7 57,29 14. Palangka Raya 64,3 174,1 6,1 40,46 Kalimantan Tengah 699,2 1 615,6 69,9 47,60 Penyajian data penduduk menurut kelompok umur untuk tujuan tertentu seringkali disederhanakan menjadi tiga kelompok, yaitu 0-14 tahun, 15-64 tahun dan 65 tahun ke atas. Penggolongan seperti ini untuk melihat struktur penduduk "tua" atau "muda". Selain itu dari penggolongan umur tersebut juga dapat dihitung Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio). Dampak keberhasilan pembangunan kependudukan juga dapat dilihat pada perubahan komposisi penduduk menurut umur yang tercermin dengan semakin rendahnya proporsi penduduk usia tidak produktif (kelompok umur 0-14 tahun dan kelompok umur 65 tahun atau lebih) yang berarti semakin rendahnya angka beban

(58)

44 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

ketergantungan. Semakin kecil angka beban ketergantungan akan memberikan kesempatan bagi penduduk usia produktif untuk meningkatkan kualitas dirinya.

3.3. Penduduk Usia Kerja

Penduduk usia kerja yaitu seluruh penduduk yang dianggap mempunyai potensi untuk bekerja secara produktif. Sesuai dengan ketentuan UU Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003, penduduk usia kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun ke atas. Penduduk yang telah memasuki usia kerja dapat dikelompokkan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Kelompok angkatan kerja terdiri dari penduduk yang bekerja dan penduduk yang menganggur/pengangguran.

Pada tahun 2013 penduduk usia kerja (berumur 15 tahun ke atas) tercatat sebanyak 1.609.125 orang. Dari jumlah tersebut 52,46 persen adalah penduduk laki-laki dan 47,54 persen penduduk perempuan atau penduduk usia kerja laki-laki sedikit lebih besar dibandingkan dengan perempuan.

Penduduk laki-laki umur 15 tahun ke atas yang tergolong angkatan kerja jauh lebih besar jika dibandingkan dengan penduduk laki-laki bukan angkatan kerja. Sebaliknya penduduk perempuan umur 15 tahun ke atas yang tergolong angkatan kerja lebih kecil dibandingkan dengan penduduk perempuan umur 15 tahun ke atas yang bukan angkatan kerja. Masih kentalnya tatanan sosial budaya masyarakat, dimana laki-laki sebagai kepala keluarga mempunyai kewajiban untuk bekerja mencari nafkah. Sehingga angkatan kerja laki-laki (65,89 persen) jauh lebih besar jika dibandingkan dengan angkatan kerja perempuan (34,11 persen).

(59)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 45

Tabel. 3.7 Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan dan Jenis Kelamin, 2013

Kegiatan Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan

(1) (2) (3) (4)

Angkatan Kerja (AK) 723 252 374 375 1 097 627

• Bekerja 702 993 360 718 1 063 711 • Pengangguran 20 259 13 657 33 916 Bukan AK (BAK) 120 934 390 564 511 498 • Sekolah 70 728 74 145 144 873 • Mengurus Rumah Tangga 16 045 298 468 314 513 • Lainnya 34 161 17 951 52 112 Jumlah 844 186 764 939 1 609 125

Sumber: Sakernas Agustus 2013 Provinsi Kalimantan Tengah Dari penduduk usia kerja di Kalimantan Tengah 68,21 persen diantaranya adalah angkatan kerja, yaitu penduduk yang bekerja dan pengangguran, sedangkan sisanya 31,79 persen bukan angkatan kerja, yaitu penduduk yang sekolah, mengurus rumahtangga dan lainnya. Apabila diuraikan lebih lanjut, dari penduduk usia kerja yang bekerja (66,10 persen) sedangkan sisanya (2,11 persen) pengangguran. Sementara itu untuk penduduk bukan angkatan kerja melakukan kegiatannya dengan sekolah (9,00 persen), mengurus rumahtangga (19,55 persen) dan lainnya (3,24 persen).

(60)

46 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

Gambar 3.3. Persentase Penduduk Umur 15 Tahun Ke

Atas Menurut Kegiatan, 2013

66,10 2,11

9,00 19,55

3,24

Bekerja Pengangguran Sekolah Mengurus RT Lainnya

3.4. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)

Indikator ketenagakerjaan yang dapat memberikan gambaran tentang penduduk yang aktif secara ekonomi dalam kegiatan sehari-hari adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). TPAK merupakan perbandingan jumlah penduduk angkatan kerja dengan penduduk usia kerja. TPAK menggambarkan persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang termasuk ke dalam angkatan kerja.

(61)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 47

Gambar 3.4. TPAK Menurut Jenis Kelamin, 2008-2013

0 20 40 60 80 100

Agst 08 Agst 09 Agst 10 Agst 11 Agst 12 Agst 13

87,65 87,70 86,06 88,05 86,85 85,67

53,07 53,08 52,01 56,16

51,20 48,94

71,24 71,22 69,86 72,89 69,90 68,21

Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan

Pada Agustus 2013, TPAK Provinsi Kalimantan Tengah tercatat sebesar 68,21 persen, artinya dari 100 penduduk usia kerja, sekitar 68 orang diantaranya termasuk angkatan kerja aktif secara ekonomis. Angka ini sedikit menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hal ini disebabkan karena menurunnya jumlah penduduk yang bekerja. Jika dibedakan menurut jenis kelamin, ternyata TPAK laki-laki jauh lebih besar dibandingkan dengan TPAK perempuan, dimana TPAK laki-laki tercatat sebesar 85,67 persen sedangkan TPAK perempuan 48,94 persen. Hal ini berarti penduduk laki-laki yang aktif secara ekonomi lebih besar dibandingkan penduduk perempuan.

(62)

48 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

Tabel 3.8. Persentase TPAK, Tingkat Kesempatan Kerja, dan Tingkat Pengangguran Terbuka, 2010-2013

Uraian Agustus 2010 Agustus 2011 Agustus 2012 Agustus 2013 (1) (2) (3) (4) (5) TPAK • Laki-laki 86,06 88,05 86,85 85,67 • Perempuan 52,01 56,16 51,20 48,94 • Laki-laki + Perempuan 69,86 72,89 69,90 68,21 Tingkat Kesempatan Kerja • Laki-laki 96,95 98,21 97,35 97,20 • Perempuan 93,88 96,16 95,86 96,35 • Laki-laki + Perempuan 95,86 97,45 96,83 96,91 Tingkat Pengangguran Terbuka • Laki-laki 3,05 1,79 2,65 2,80 • Perempuan 6,12 3,84 4,14 3,65 • Laki-laki + Perempuan 4,14 2,55 3,17 3,09

Sumber : Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2010-2013 Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) merupakan peluang seseorang penduduk usia kerja yang termasuk angkatan kerja untuk bekerja. Kesempatan kerja yang ada memberikan gambaran besarnya tingkat penyerapan pasar kerja, sedangkan angkatan kerja yang tidak terserap dikategorikan menganggur. Pada Agustus 2013 tingkat kesempatan kerja di Kalimantan Tengah sebesar 96,91 persen. Ini berarti sekitar 97 dari 100 penduduk angkatan kerja sudah bekerja, sedangkan 3 dari 100 penduduk lainnya masih menganggur (pengangguran terbuka).

(63)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 49 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang termasuk ke dalam kelompok pengangguran terbuka. Penduduk yang tergolong pengangguran terbuka ini adalah penduduk yang sedang mencari pekerjaan atau sedang mempersiapkan usaha, atau mereka yang belum bekerja walaupun sudah mempunyai pekerjaan, dan mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.

Pada Agustus 2013, dari 100 angkatan kerja laki-laki 3 orang diantaranya menganggur, dan dari 100 angkatan kerja perempuan 4 orang diantaranya menganggur, ini berarti penduduk perempuan yang mencari kerja (menganggur) lebih besar daripada penduduk laki-laki. Hal ini disebabkan oleh tingkat kesempatan kerja laki-laki (97,20 persen) lebih besar dibanding tingkat kesempatan kerja perempuan (96,35 persen). Pada Agustus 2013 angka pengangguran terbuka ini mengalami penurunan dibandingkan dengan Agustus 2012, dari 3,17 persen turun menjadi 3,09 persen.

3.5. Karakteristik Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan ketrampilan menuju masyarakat dewasa dan mandiri, sehingga kualitas sumber daya manusia sangat tergantung dari kualitas pendidikan. Sejauh mana amanat yang tercermin dalam UUD 1945 dan GBHN, dimana dinyatakan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa telah atau sedang dicapai oleh masyarakat merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan dan kemajuan sosial ekonomi masyarakat.

(64)

50 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

Melalui pemerataan pendidikan masyarakat, diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan penduduk. Dalam kaitan ini pemerintah berupaya menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan melaksanakan kebijakan pendidikan yang disebut Gerakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar) 9 tahun, yaitu sebuah kebijakan yang sangat mendasar dan diharapkan dapat menopang keberhasilan program pendidikan jangka panjang. Untuk menunjang perkembangan ekonomi melalui industrialisasi, tenaga kerja yang hanya berpendidikan SD saja tidak memadai, sehingga dengan Wajar 9 tahun berarti menunda anak-anak dan remaja untuk tidak segera terjun kelapangan kerja dan untuk lebih siap bekerja secara produktif. Selain itu diharapkan jumlah penduduk yang buta huruf akan berkurang terutama pada penduduk usia sekolah.

Kesejahteraan penduduk di suatu wilayah tidak terlepas dari pendidikan yang merupakan penentu kualitas penduduk tersbut. Oleh sebab itu, sektor pendidikan selalu menjadi fokus pemerintah dalam melaksanakan program pembangunan. Tingkat keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan dapat diukur dari berbagai macam indikator. Untuk menggambarkan keadaan pendidikan penduduk secara umum dalam uraian bagian ini, antara lain akan disajikan gambaran umum mengenai status pendidikan dari beberapa indikator seperti angka partisipasi sekolah, tingkat pendidikan yang ditamatkan, angka melek huruf, dan rata-rata lama sekolah.

3.6. Keadaan Sarana Pendidikan

Komitmen pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa antara lain terlihat dari semakin meningkatnya jumlah

(65)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 51 sekolah yang dibangun, dan pengangkatan tenaga guru dari tahun ke tahun. Peningkatan tersebut agaknya merupakan keharusan yang tidak dapat dihindari untuk menampung jumlah penduduk usia sekolah yang selalu meningkat terus sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk.

Rasio murid-guru dan murid-kelas merupakan ukuran yang dapat menggambarkan tingkat ketersediaan sarana pendidikan. Semakin kecil rasio, berarti semakin baik keadaan fasilitas pendidikan yang tersedia. Selain itu rasio murid-guru menggambarkan kepadatan kelas sebagai ruang belajar. Indikator-indikator tersebut digunakan untuk melihat ketersediaan fasilitas pendidikan yang memadai untuk mendukung program wajib belajar 9 tahun yang dicancangkan oleh pemerintah.

Pengadaan/pengangkatan guru secara umum dilakukan sesuai dengan kebutuhan yang dibandingkan dengan peningkatan jumlah murid serta pertambahan sekolah pada ke tiga jenjang pendidikan (SD, SMP, dan SMA), yang semakin merata sampai ke pelosok perdesaan terutama di daerah terpencil dan kantong-kantong pemukiman yang terpencar. Oleh sebab itu jumlah sekolah yang ada dibandingkan dengan guru yang tersedia makin seimbang, khususnya daerah yang terpencil, sementara pertambahan jumlah murid relatif meningkat, pertambahan guru maupun jumlah sekolahnya juga bertambah. Rasio murid-guru pada masing-masing tingkatan sekolah pada tahun 2011/2012 menjadi SD = 11,26, SMP = 11,05, SMA = 15,76 dan SMK = 8,60, pada tahun ajaran 2013/2014 menjadi SD = 11,74, SMP = 11,81, SMA = 10,94 dan SMK = 10,57. Keadaan ini menggambarkan bahwa mutu pendidikan perlu ditingkatkan dengan menambah jumlah guru, terutama pada pendidikan

(66)

52 Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013

dasar. Program wajib belajar 9 tahun juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya sampai 9 tahun.

Gambar 3.5. Rasio Murid Terhadap Guru Menurut Tingkat

Sekolah Tahun Ajaran 2011/2012 dan 2013/2014 0 2 4 6 8 10 12 14 16 SD SMP SMA SMK 11,26 11,05 15,76 8,60 11,74 11,81 10,94 10,57 2011/2012 2013/2014

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah

3.7. Angka Melek Huruf

Membaca merupakan suatu hal yang sangat penting dalam memajukan setiap individu, karena membaca adalah dasar utama dalam memperluas ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, indikator Angka Melek Huruf (AMH) merupakan indikator yang sangat penting untuk melihat sejauh mana penduduk suatu daerah terbuka terhadap pengetahuan. Salah satu keberhasilan program pendidikan ditunjukkan dengan semakin berkurangnya tingkat buta huruf penduduk yang berumur 10 tahun ke atas. Tingkat buta huruf merupakan bagian dari indikator kemampuan penduduk untuk berkomunikasi secara tertulis. Kemampuan baca tulis merupakan pengetahuan minimum yang dibutuhkan oleh penduduk untuk mencapai hidup sejahtera. Berkaitan dengan hal

(67)

Analisa Data Kemiskinan Kalimantan Tengah 2013 53 itu, pemerintah berusaha agar penduduk laki-laki maupun perempuan di segala lapisan masyarakat dapat terbebaskan dari buta aksara. Usaha pemerintah selama ini antara lain diwujudkan dengan program wajib belajar 9 tahun dan program kejar paket A dan B.

Selama tahun 2012-2013, AMH laki-laki maupun perempuan baik di perkotaan maupun perdesaan terlihat angkanya sudah melebihi 95 persen. Sementara itu jika dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, AMH di perkotaan lebih besar dari AMH di perdesaan. Kemudian jika membandingkan antar wilayah perdesaan dan perkotaan lebih lanjut, perbedaan AMH laki-laki lebih tinggi dibandingkan AMH perempuan (Tabel 3.9.).

Tabel 3.9. Angka Melek Huruf Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kelamin dan Daerah Tempat Tinggal, 2012-2013

Jenis Kelamin

Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan 2012 2013 2012 2013 2012 2013 (1) (3) (3) (5) (5) (7) (7) Laki-laki 99,06 99,06 98,42 98,88 98,64 98,94 Perempuan 98,09 97,46 96,09 97,29 96,78 97,35 Total 98,59 98,28 97,32 98,13 97,75 98,18 Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional 2012-2013

Tingginya AMH laki-laki dibanding perempuan selama dua tahun terakhir menunjukkan, bahwa jumlah perempuan yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan lebih banyak dibanding laki-laki . Kemudian jika dibandingkan AMH laki-laki dan perempuan di perkotaan lebih besar daripada perdesaan.

Gambar

Tabel 2.1.  Komponen Pengeluaran konsumsi Penduduk  Menurut Daerah di Indonesia Tahun 1976
Gambar 3.1.  Peta Administrasi Provinsi Kalimantan  Tengah
Tabel 3.1.  Luas Wilayah dan Jumlah wilayah Administrasi  Menurut Kabupaten/Kota, Desember 2013
Tabel  3.4.  Jumlah Penduduk Menurut  Kelompok Umur dan  Jenis Kelamin, 2013 (ribuan)
+7

Referensi

Dokumen terkait