BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori
1. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti „tengah‟, „perantara‟ atau „pengantar‟. Azhar Arsyad (2015: 3) menyatakan bahwa “secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual dan verbal”. Sanjaya (2012: 57) menyatakan bahwa “media adalah perantara dari sumber informasi ke penerima informasi, contohnya video, televisi, komputer dan lain sebagainya”.
Berdasarkan uraian beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa media merupakan alat atau benda yang berfungsi membantu menyampaikan informasi antar manusia, bertujuan untuk mempermudah dalam menyampaikan pesan yang disampaikan. Kesimpulan urain di atas bahwa media adalah alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dari pengirim kepenerima pesan agar lebih efektif.
Siswa lebih mudah memahami materi secara konkret dengan bantuan media pembelajaran. Sanjaya (2012: 61) menyatakan bahwa “media pembelajaran adalah segala sesuatu seperti alat, lingkungan dan segala bentuk kegiatan yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan,
mengubah sikap atau menanamkan keterampilan pada setiap orang yang memanfaatkannya”. Sri Anitah (2009: 2) menyatakan bahwa “media pembelajaran adalah setiap orang, bahan, alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pembelajar menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat bantu yang berfungsi untuk menyampaikan materi pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Media pembelajaran dimanfaatkan untuk menunjang kelancaran komunikasi antara guru dengan siswa. Media pembelajaran dimanfaatkan dengan harapan dapat mendorong minat belajar siswa. Siswa yang memiliki minat belajar, akan terdorong untuk memperhatikan apa yang sedang dijelaskan. Siswa akan lebih cepat memahami materi yang sedang diajarkan.
b. Jenis-Jenis Media pembelajaran
Media pembelajaran mengalami perubahan mengikuti perkembangan teknologi. Azhar Arsyad (2015: 31) menyatakan bahwa berdasarkan “perkembangan teknologi, media pembelajaran dikelompokan ke dalam empat kelompok yaitu media hasil teknologi cetak, media hasil audio-visual, media hasil teknologi berdasarkan komputer, dan media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer”.
Sudjana dan Rivai (2005: 3) menyatakan bahwa terdapat beberapa jenis media pengajaran, diantaranya:
1) Media grafis (dua dimensi), seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik dan lain-lain.
2) Media tiga dimensi, yaitu dalam bentuk model seperti model padat, model penampang, model susun, model kerja, diorama dan lain-lain.
3) Media proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP, dan lain-lain.
4) Penggunaan lingkungan sebagai media pengajaran.
Kosasih dan Angkowo (2007: 13) menyatakan bahwa dalam menggunakan media yang sesuai dengan materi pelajaran perlu diketahui terlebih dahulu jenis-jenis media yang ada, adapun jenis media sebagai berikut:
1) Media grafis. Media grafis ini meliputi: gambar, sketsa, diagram, bagan, grafik, kartun, poster, peta/globe.
2) Media audio. Media audio meliputi radio, alat perekam pita magnetik.
3) Media proyeksi diam. Media proyeksi diam ialah media yang harus diproyeksikan dengan proyektor agar dapat dilihat oleh sasaran. Misalnya bingkai, film rangkai, overhead proyektor (transparasi), dan opaque projector (proyektor tak tembus cahaya).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas tentang jenis atau macam-macam media pembelajaran dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran terdiri dari media grafis, media tiga dimensi, media proyeksi, media audio dan lingkungan sebagai media pengajaran yang dimanfaatkan sebagai sumber belajar baik menggunakan teknologi modern maupun tradisional.
2. Pengelolaan Media Pembelajaran
Media pembelajaran perlu dikelola agar dapat menciptakan tertib administrasi. Koswara dan Suryadi (2007: 2) menyatakan bahwa “pengelolaan dapat diartikan sebagai pekerjaan yang berhubungan dengan ketatausahaan”. Berdasarkan uraian di atas bahwa pengelolaan merupakan kegiatan yang berhubungan dengan ketatausahaan yang bertujuan untuk mencapai tujuan dalam memanfaatkan sumber yang tersedia dengan baik. Pengelolaan media pembelajaran memerlukan sebuah manajemen yang tepat agar dapat mengatur dan menjaga media pembelajaran sehingga dapat memberikan kontribusi secara hoptimal dan bermanfaat saat pembelajaran berlangsung.
Pihak sekolah harus bertanggung jawab terhadap sarana dan prasarana pendidikan, salah satunya media pembelajaran terutama kepala sekolah. Kebijakan kepala sekolah sangat menentukan keberhasilan pengelolaan media pembelajaran di sekolah. Pihak sekolah bersama-sama merawat media pembelajaran yang tersedia di sekolah, agar pemanfaatannya dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Asiyai dalam artikel “Assessing School Facilities in
Public Secondary Schools in Delta State, Nigeria” (2012: 193) menyatakan
bahwa:
The study recommended that school administrators, teachers and students should develop and inculcate good maintenance culture, government should budget for facilities maintenance and allocate more funds to schools for effective management and maintenance of school facilities.
Berdasarkan hasil penelitan tersebut menyatakan bahwa peran pengelola sekolah dalam memelihara fasilitas sekolah salah satunaya media pembelajaran meliputi pemeriksaan berkala sumber belajar dan desentralisasi pemeliharaan. Pihak sekolah harus membiasakan budaya pemeliharaan media pembelajaran yang optimal. Pemerintah juga harus menganggarkan dana untuk pengoptimalan pemeliharaan fasilitas dan mengalokasikan dana lebih banyak kepada berbagai sekolah. Dana tersebut digunakan untuk anggaran pengelolaan agar lebih baik, misalnya pemeliharaan fasilitas sumber belajar salah satunya media pembelajaran. Media pembelajaran yang dikelola dengan baik akan berdampak positif terhadap siswa dalam proses pembelajaran dan tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efesien. Media pembelajaran perlu dikelola agar lebih terpelihara dan jelas kegunaannya. Depdiknas (2007: 3) menyatakan bahwa “diperlukan kepala sekolah yang mampu dan memahami tentang manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan berbasis sekolah”. Berdasarkan uraian tersebut maka kepala sekolah harus memiliki kemampuan mengelola sarana dan prasarana sekolah salah satunya harus bertanggung jawab terhadap pengelolaan media pembelajaran. Kepala sekolah seyogyanya dapat mengelola media pembelajaran sebagai bagian dari sarana pembelajaran agar dapat difungsikan secara maksimal.
a. Perencanaan kebutuhan media pembelajaran
Perencanaan diperlukan dalam proses pengadaan media pembelajaran agar terdapat kesesuaian dengan kebutuhan sekolah. Suparto dalam artikel “Manajemen sarana dan prasarana dalam
meningkatkan kualitas pendidikan” (2014: 98) menyatakan bahwa “perencanaan sarana dan prasarana persekolahan didefinisikan sebagai keseluruhan proses perkiraan secara matang rancangan pembelian, pengadaan, rehabilitasi, distribusi atau pembuatan peralatan dan perlengkapan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah”. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perencanaan merupakan suatu kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan dalam hal ini, merupakan kegiatan merencanakan pengadaan media pembelajaran dengan tujuan agar media tersebut dapat mendukung mengoptimalkan kegiatan pembelajaran. Matin dan Nurhattati (2016: 7) menyatakan bahwa terdapat “dua hal penting yang harus dilakukan ketika akan merencanakan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan, diantaranya menganalisis kebutuhan sarana dan prasarana yang ada, dan memproyeksikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dimasa depan”.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa proses perencanaan media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar harus dipertimbangkan melalui proses analisis dan memproyeksikan kebutuhan media pembelajaran. Bertujuan agar dalam pengadaan media pembelajaran pihak sekolah dapat menyesuaikan kebutuhan siswa, sehingga tepat guna dan ideal dalam mendukung proses pembelajaran. Media pembelajaran dapat diadakan melalui pertimbangan agar sesuai
dengan kebutuhan sekolah. Depdiknas (2007: 8) menuliskan bahwa kejelasan suatu rencana terdiri dari:
1) Tujuan dan sasaran yang terdiri dari perkiraan biaya/harga keperluan pengadaan.
2) Jenis dan bentuk tindakan yang akan dilaksanakan. 3) Petugas pelaksana.
4) Bahan dan peralatan yang dibutuhkan. 5) Kapan dan di mana kegiatan dilaksanakan. 6) Perencanaan harus realistis.
Berdasarkan uraian di atas maka proses perencanaan media pembelajaran harus memiliki tujuan dan sasaran biaya yang jelas, sehingga dalam proses pengadaan ditahap selanjutnya dapat realistis. Perencanaan media pembelajaran harus menentukan jenis media yang dibutuhkan dan tindakan yang akan dilaksanakan. Perencanaan media pembelajaran juga harus menentukan waktu pelaksanaan yang tepat berdasarkan berbagai pertimbangan. Ibrahim Bafadal (2008: 28) menyatakan “bahwa pada latar sekolah dasar, langkah pertama perencanaan pengadaan perelengkapan sekolah adalah pembentukan panitia yang dapat dipimpin langsung oleh kepala sekolah atau seorang guru”. Perencanaan media pembelajaran sebagai bagian dari perlengkapan sekolah harus membentuk panitia, agar dalam proses perencanaan pengadaan selanjutnya dapat berjalan dengan lebih tertib. Kegiatan perencanaan media pembelajaran agar dapat dengan lancar, semua pihak atau yang ditunjuk sebagai panitia perencanaan pengadaan media pembelajaran di sekolah perlu mengetahui dan mempertimbangkan program pendidikan, perlengkapan media yang sudah dimiliki, dana atau sumber dana, dan harga pasar.
b. Pengadaan media pembelajaran
Tahap selanjutnya setelah melakukan perencanaan, dilanjut dengan pengadaan. Suparto dalam artikel “Manajemen Sarana dan Prasarana dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan“ (2014: 99) mengatakan “dalam konteks persekolahan, pengadaan merupakan segala kegiatan yang dilakukan dengan cara menyediakan semua keperluan barang dan jasa berdasarkan hasil perencanaan dengan maksud untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar berjalan secara efektif dan efesien sesuai dengan tujuan yang diinginkan”. Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa kegiatan pengadaan media pembelajaran dilakukan berdasarkan perencanaan yang telah dianalisis dan diproyeksikan untuk menunjang pembelajaran.
Pengadaan media pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan dalam pembelajaran. Bandono, dkk dalam artikel “Pengelolaan Sarana dan Prasarana di Sekolah Dasar Negeri 01 Tahudan Karanganyar” (2014: 8) mengatakan bahwa “kegiatan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan persekolahan harus menyesuaikan dengan kebutuhan, baik berkaitan dengan jenis dan spesifikasi jumlah, waktu maupun tempat, harga dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan”. Sejalan dengan kriteria pengadaan media pembelajaran sebagai salah satu sarana penunjang pembelajaran. Tujuan penyesuaian dalam pengadaan media pembelajaran dapat difungsikan sesuai dengan kebutuhan untuk pencapaian tujuan pendidikan sesuai dengan dasar kurikulum yang berlaku.
Pengadaan media pembelajaran dapat melalui berbagai cara. Ibrahim Bafadal (2008: 32) menyatakan bahwa “ada beberapa cara yang dapat ditempuh oleh pengelola perlengkapan sekolah untuk mendapatkan perlengkapan yang dibutuhkan antaralain dengan cara membeli, hadiah atau sumbangan, tukar menukar, meminjam”. Pengadaan sarana dan prasarana salah satunya media pembelajaran dapat melalui pembelian, pembuatan sendiri, penerimaan hibah atau bantuan, penyewaan, pinjaman, pendaurulangan, penukaran, perbaikan atau rekondisi. Pengadaan media pembelajaran melalui pembelian maupun membuat sendiri secara berkala dan disesuaikan dengan anggaran dana yang dimiliki sekolah.
c. Inventarisasi media pembelajaran
Pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan harus dilengkapi dengan data administrasi yang jelas. Depdiknas (2007: 41) menyatakan bahwa “inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan adalah pencatatan atau pendaftaran barang-barang milik sekolah ke dalam suatu daftar inventaris barang secara tertib dan teratur menurut ketentuan dan tata cara yang berlaku”. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan adalah pencatatan seluruh aset sekolah, diantaranya media pembelajaran dengan tujuan agar lebih terkontrol dan lebih mudah diawasi secara terperinci.
Kegiatan inventarisasi media pembelajaran harus mempertimbangkan berbagai aspek agar tercipta ketepatan dalam pendataan. Megasari dalam artikel “Peningkatan Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pendidikan untuk Meningkatan Kualitas Pembelajaran di SMPN
5 Bukittinggi” (2014: 647) mengatakan bahwa “tujuan dari inventarisasi perlengkapan pendidikan diharapkan terciptanya ketertiban, penghematan keuangan, mempermudah pemeliharaan dan pengawasan sarana dan prasarana pendidikan tersebut”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa inventarisasi media pembelajaran di sekolah bertujuan untuk menciptakan tertib adiministrasi media, pedoman pendataan fasilitas media pembelajaran, dan memudahkan pengawasan serta pengendalian pemanfaatan media agar lebih terkontrol. Data inventaris juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam proses perencanaan pengadaan media pembelajaran selanjutnya.
Inventarisasi media pembelajaran bermanfaat untuk mempermudah mencari informasi untuk merancang kebutuhan dan menyusun rencana pengadaan media yang belum maupun yang sudah tersedia. Data inventaris media mempermudah dalam melakukan pengecekan ketika akan memanfaatkan media dalam proses pembelajaran. Data inventarisasi juga bermanfaat sebagai informasi keadaan media, misalnya dalam keadaan (tua, rusak, kurang, lebih) sebagai dasar informasi pengelola sarana dan prasarana pendidikan.
Data inventaris harus dikerjakan dengan tahap yang sistematik agar lebih mudah dalam tahap pengelolaan selanjutnya. Tanggela dalam artikel “Analisis Implementasi Kebijakan Pengelolaan Sarana dan Prasarana Sekolah Di SMP Negeri 2 Batu” (2013: 32) menyatakan bahwa “terdapat tiga kegiatan utama dalam proses inventarisasi, yakni pencatatan, pemberian kode, dan pelaporan”. Berdasarkan hasil penelitian di atas
inventarisasi media pembelajaran diawali dengan pencatatan media yang tersedia di sekolah, dilanjut dengan pemberian kode terhadap masing-masing jenis media agar lebih mudah dalam pencarian data, dan terakhir pelaporan data administrasi media pembelajaran kepada pihak yang diberi wewenang. Inventarisasi media memerlukan peralatan, misalnya sejumlah buku dan kartu barang inventaris yang akan digunakan, misalnya buku induk media inventaris, buku golongan media inventaris, buku catatan media non inventaris dan mutasi media inventaris.
d. Pemeliharaan media pembelajaran
Pemeliharaan media pembelajaran ialah kegiatan perawatan media pembelajaran yang bertujuan untuk memperpanjang pendayagunaan media tersebut. Bandono dalam artikel “Pengelolaan Sarana dan Prasarana di Sekolah Dasar Negeri 01 Tohudan Karanganyar” (2014: 10) menyatakan bahwa “pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang, sehingga barang tersebut kondisinya baik dan siap digunakan”. Berdasarkan pendapat tersebut, maka pemeliharaan adalah suatu kegiatan penjagaan dari proses kerusakaan media pembelajaran. Siswanto, dkk dalam artikel “Pengelolaan Media Pembelajaran di Sekolah Dasar Negeri 3 Boyolali” (2016: 14) menyatakan bahwa “perawatan media berperan penting agar media tidak dimanfaatkan hanya sekali, sebab perawatan dan pemeliharaan yang baik memungkinkan penggunaan media pembelajaran secara berkelanjutan”. Berdasarkan pendapat di atas, maka pemeliharaan media pembelajaran yang baik juga dapat dilakukan secara sederhana dimulai ketika pemakaian barang harus dilakukan dengan hati-hati. Pemeliharaan secara terkontrol dapat dilakukan oleh petugas
pengelola media pembelajaran, sehingga ketika akan digunakan kondisinya dalam keadaan baik dan siap untuk dimanfaatkan.
Media pembelajaran yang dipelihara bertujuan untuk pengoptimalan usia pakai dan menjamin ketersedian media apabila
dibutuhkan ketika proses pembelajaran. Suparto dalam artikel “Manajemen Sarana dan Prasarana dalam Meningkatkan Kualitas
Pendidikan” (2014: 100) menyatakan bahwa “tujuan dari pemeliharaan diantaranya untuk mengoptimalkan asas kemanfaatan peralatan media yang telah tersedia, untuk mengoptimalkan hasil apabila sewaktu-waktu dipergunakan dan untuk menjamin keselamatan yang menggunakan”. Ibrahim Bafadal (2008: 49) menyatakan bahwa “dengan pemeliharaan secara teratur semua perlengkapan pendidikan di sekolah selalu enak dipandang, mudah digunakan, dan tidak cepat rusak”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan media pembelajaran bertujuan untuk menghambat terjadinya kerusakaan media pembelajaran, memudahkan pengelola dalam mengontrol media pembelajaran sehingga dapat terhindar dari kejadian kehilangan, dan pemeliharaan yang baik terhadap media dapat menciptakan penyimpanan media yang nyaman dipandang karena tersimpan dengan rapi.
Media pembelajaran dapat dilakukan pemeliharaan secara bertahap. Ibrahim Bafadal (2008: 53) menyatakan bahwa “ditinjau dari sifatnya, ada empat macam pemeliharaan, yaitu (1) pemeliharaan bersifat pengecekan;
(2) pemeliharaan yang bersifat pencegahan; dan (3) pemeliharaan yang bersifat perbaikan”. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa, pemeliharaan media pembelajaran dibedakan secara teknik dan waktu. Teknik pemeliharaan media pembelajaran dapat dengan pengecekan secara berkala. Penggunaan media pembelajaran sesuai aturan sehingga dapat membantu dalam pencegahan kerusakan. Perbaikan media pembelajaran untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.
e. Penyimpanan media pembelajaran
Penyimpanan adalah kegiatan menampung hasil pengadaan barang milik negara baik hasil (pembelian, hibah, hadiah) di tempat yang tersedia. Matin dan Nurhattati (2016: 119) menyatakan bahwa “penyimpanan sarana pendidikan adalah kegiatan menyimpan suatu barang baik berupa perabotan, alat tulis kantor, surat-surat maupun barang elektronik dalam keadaan baru, maupun rusak yang dapat dilakukan oleh seorang atau beberapa orang yang ditugaskan oleh lembaga pendidikan”. Penyimpanan media pembelajaran sangat penting untuk memelihara kondisi media pembelajaran agar tetap terjaga.
Media pembelajaran seharusnya disimpan di tempat yang terjangkau dan aman. Kuswinarni dalam artikel “Pengelolaan Sumber Belajar di SD Negeri 9 Boyolali” (2013: 11) menyatakan bahwa “dalam rangka kegiatan penyimpanan sarana pendidikan khususnya media pembelajaran perlu dipersiapkan tempat khusus, seperti rak-rak untuk
meletakkan barang, lemari tertutup untuk menyimpan barang atau buku yang tidak digunakan sehari-hari”. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penyimpanan media pembelajaran yang baik dapat memungkinkan terpeliharanya kondisi media pembelajaran. Penyimpanan media pembelajaran yang rapi dapat memudahkan guru dan siswa ketika akan menggunakannya.
f. Penghapusan media pembelajaran
Media pembelajaran yang sudah tidak layak pakai dapat dihapuskan. Matin dan Nurhattati (2016: 127) menyatakan bahwa “penghapusan sarana dan prasarana pendidikan adalah merupakan proses kegiatan yang bertujuan untuk mengeluarkan atau menghilangkan sarana dan prasarana pendidikan dari daftar inventaris barang, karena sudah dianggap tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan terutama untuk kepentingan pelaksanaan pembelajaran di sekolah”. Berdasarkan uraian pendapat di atas maka telah menjelaskan bahwa penghapusan media pembelajaran dapat dilakukan apabila fungsi suatu media tertentu tidak dapat dimanfaatkan lagi dalam proses pembelajaran. Tujuan penghapusan media pembelajaran diantaranya mengurangi biaya perawatan media yang tidak dapat dipakai, meringankan beban kerja pengelola dan mengurangi ruangan dari penumpukan media yang tidak dipergunakan lagi. Penghapusan media pembelajaran dapat dilakukan jika keadaan media sudah rusak parah sehingga tidak dapat diperbaiki.
3. Pemanfaatan Media Pembelajaran
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 Bab XII Pasal 45 tentang Sarana dan Prasarana Pendidikan ayat (1) berbunyi: setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik. Penyelenggaraan pendidikan membutuhkan fasilitas yang menunjang. Fasilitas yang menunjang khususnya dalam proses pembelajaran salah satunya media pembelajaran. Pemanfaatan media pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa baik secara perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual dan kejiwaan siswa.
Media pembelajaran dapat mempermudah penyampaian konsep atau materi pelajaran kepada siswa. Triyanto, dkk dalam artikel “Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Pemanfaatan Media Pembelajaran Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran” (2013: 230) menyatakan bahwa “proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran”. Berdasarkan pendapat di atas, maka media pembelajaran menunjang keberhasilan proses pembelajaran sesuai indikator pembelajaran. Media pembelajaran merupakan fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif, kualitatif dan relevan dengan kebutuhan siswa serta guru.
Media pembelajaran dapat mempermudah persepsi dan pemahaman siswa. Azhar Arsyad (2015: 19) menyatakan bahwa “pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa”. Berdasarkan pendapat di atas, maka media pembelajaran dapat memberikan kontribusi positif diantaranya merangsang dan memotivasi semangat belajar siswa, dengan demikian siswa akan lebih cepat memahami materi yang sedang diajarkan.
Sudjana dan Rivai (2005: 2) menyatakan bahwa manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:
a. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
b. Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga lebih mudah dipahami siswa.
c. Metode pembelajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga.
d. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar.
Sanjaya (2012: 70) menyatakan bahwa media pembelajaran bermanfaat untuk:
a. Menangkap suatu objek atau peristiwa tertentu. b. Memanipulasi keadaan, peristiwa atau objek tertentu. c. Menambah gairah dan motivasi belajar siswa.
Berdasarkan beberapa uraian pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran bermanfaat untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan inovatif. Media pembelajaran mempermudah dalam penyampaian materi pelajaran. Siswa lebih mudah dalam memahami materi.
Media pembelajaran dapat merangsang dan memotivasi minat belajar siswa. Media pembelajaran dapat menciptakan pembelajaran yang interaktif yang berpusat pada siswa. Media pembelajaran memfasilitasi gaya belajar siswa yang berbeda-beda.
Media pembelajaran memudahkan penyampaian materi kepada siswa. Siswa akan terbantu dalam memahami materi yang kompleks. Media pembelajaran memberikan pengalaman bermakna bagi siswa. Siswa tidak hanya menghafal materi, sekaligus juga paham yang telah dipelajari dalam proses pembelajaran. Jatmika dalam artikel “Pemanfaatan Media Visual dalam Menunjang Pembelajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar” (2005: 91) menyatakan bahwa dalam “penggunaan media pembelajaran guru dituntut untuk selalu kreatif memanfaatkan atau menciptakan media tersebut”. Berdasarkan pendapat tersebut, maka guru seharusnya terdorong untuk mengoptimalkan kreativitas pemanfaatan media agar dapat menunjang proses pembelajaran.
Media pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan komponen pembelajaran. Tanpa media pembelajaran, maka proses pembelajaran akan berjalan kurang efektif. Hasnida (2015: 48) menyatakan bahwa media pembelajaran mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
a. Mengkonkretkan konsep yang abstrak.
b. Menghadirkan objek berbahaya atau sukar didapat di lingkungan belajar.
c. Menampilkan objek yang terlalu besar maupun kecil. d. Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat.
e. Memungkinkan keseragaman persepsi belajar pada masing-masing anak.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran mengandung nilai-nilai yang sangat membantu guru memudahkan proses pembelajaran. Siswa lebih mudah dalam memahami materi yang abstrak dan merangsang motivasi belajar siswa. kehadiran media pembelajaran juga memberikan kontribusi dalam menyamakan persepsi materi pelajaran dalam proses pembelajaran.
a. Cara pemilihan media pembelajaran yang tepat
Pemilihan media pembelajaran menyesuaikan berbagai faktor agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif. Azhar Arsyad (2015: 74) menyatakan bahwa terdapat faktor-faktor pertimbangan dalam memilih media diantaranya:
1) Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
2) Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep. 3) Guru terampil dalam menggunakannya.
4) Pengelompokan sasaran sesuai dengan jumlah siswa.
Asep. H. H, dkk (2008: 40) menyatakan bahwa dalam “menggunakan media pembelajaran dianjurkan untuk memperhatikan beberapa faktor seperti rencana pembelajaran, sasaran belajar, tingkat keterbacaan media, situasi dan kondisi, dan objektivitas”. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa guru perlu mempertimbangkan pemilihan media yang tepat untuk proses pembelajaran. Guru harus mempertimbangkan penyesuaian media dengan tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran, ketersediaan peralatan media yang dibutuhkan, sesuai dengan taraf berpikir siswa,
dan kemampuan guru dalam menggunakannya dalam proses pembelajaran. Jadi, guru harus mengkorelasikan tujuan pembelajaran dengan kondisi siswa serta ketersediaan media di sekolah.
Media pembelajaran tidak harus dimanfaatkan dalam setiap proses pembelajaran. Sudjana dan Rivai (2005: 6) menyatakan bahwa penggunaan media pembelajaran dapat digunakan apabila situasi sebagai berikut:
1) Perhatian siswa terhadap pelajaran sudah berkurang akibat kebosanan mendengarkan uraian guru.
2) Bahan pengajaran yang dijelaskan guru kurang dipahami siswa. 3) Terbatasnya sumber pengajaran.
4) Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pengajaran melalui penuturan verbal akibat terlalu lelah disebabkan mengajar terlalu lama.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka media pembelajaran wajib digunakan ketika guru kesulitan dalam mengajar secara verbal. Media pembelajaran dapat digunakan ketika siswa merasa jenuh karena terlalu sering menerima penjelasan secara verbal, dan pemahaman siswa yang masih bersifat konkret. Media pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang akhirnya dapat berpengaruh terhadap kualitas belajar siswa.
b. Langkah-langkah penggunaan media dalam pembelajaran
Guru harus merencanakan proses pembelajaran, jika akan menggunakan media pembelajaran. Media pembelajaran dapat dimanfaatkan apabila memiliki relevansi dengan tujuan pembelajaran.
Anitah .S. (2009: 93) menyatakan bahwa terdapat langkah-langkah penting dalam penggunaan media pembelajaran sebagai berikut:
1) Persiapan sebelum menggunakan media. Persiapan dalam penggunaan media misalnya mempelajari petunjuk penggunaan media, menyiapkan peralatan media sebelum digunakan agar tidak mengganggu pembelajaran yang bersifat teknis dan perhatikan pengaturan ruang maupun pembelajar sehingga memungkinkan semua pebelajar dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.
2) Pelaksanaan penggunaan media. Pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan media, guru harus berusaha memfasilitasi pembelajar agar dapat mengakses media yang sedang dimanfaatkan dalam proses pembelajaran berlangsung.
3) Evaluasi. Kegiatan evaluasi misalnya, guru menyediakan tes yang harus dikerjakan oleh pembelajar sebagai umpan balik.
4) Tindak lanjut. Kegiatan tindak lanjut misalnya guru dapat meminta pembelajar untuk memperdalam materi dengan berbagai cara seperti diskusi tentang hasil tes, mempelajari referensi yang dilanjut untuk membuat rangkuman, observasi dan lain-lain.
Smaldino, dkk (2012: 128-136) menyatakan bahwa terdapat tahapan dalam menggunakan teknologi, media dan materi. Adapun intisari dari penjelasannya sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi media sesuai dengan siswa dan tujuan belajar. 2) Menyiapkan media yang mendukung pembelajaran. Diantaranya
menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan, menentukan urutan penggunaan media yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan, dan lain-lain.
3) Menyiapkan lingkungan dimana tempat untuk penggunaan teknologi, media dan materi yang akan dijelaskan agar menciptakan keefektifan dalam proses belajar mengajar. Misalnya ruangan yang tepat, sumber tenaga listrik yang baik jika media tersebut memerlukan listrik, menyesuaikan lingkungan dimana agar siswa dapat mendengar dan melihat dengan baik.
4) Menyiapkan pembelajar. Misalnya menjelaskan konten mata pelajaran yang akan dipelajari, tujuan pembelajaran, memberikan pernyataan memotivasi semangat belajar siswa. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan kesiapan siswa untuk belajar.
5) Menyediakan pengalaman belajar melalui pemanfaatan media yang konkret.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas telah dijelaskan bahwa dalam penggunaan media, guru perlu memperhatikan langkah tertentu agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Kesimpulan dari beberapa pendapat di atas tentang langkah-langkah penggunaan media pembelajaran bahwa seorang guru yang akan menggunakan media pembelajaran perlu melakukan pemilihan terhadap media dan persiapan terhadap media. Pertama, pengecekan kelayakan kondisi media dan cara penggunaan media. Kedua, merancang pembelajaran yang memiliki korelasi dengan media yang akan digunakan. Ketiga, proses pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran yang diakhiri dengan evaluasi.
B. Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian terkait dengan pengelolaan dan pemanfaatan media pembelajaran di Sekolah Dasar, diantaranya penelitian oleh :
1. Siswanto, dkk. (2016). Pengelolaan Media Pembelajaran di Sekolah Dasar
Negeri 3 Boyolali. Surakarta: UMS
Hasil penellitian di SD N 3 Boyolali menyatakan proses pengelolaan media pembelajaran di sekolah memiliki tiga hasil diantaranya melakukan perencanaan media pembelajaran, pemanfaatan media pembelajaran serta pemeliharaan media pembelajaran yang sudah cukup baik. Ketiga komponen tersebut sangat berpengaruh satu sama lain terhadap kesuksesan pembelajaran di sekolah. Pengelolaan media pembelajaran yang maksimal dapat mempermudah guru dalam proses pembelajaran, selain itu juga dapat mambantu pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
2. Kuswinarni, dkk. (2013). Pengelolaan Sumber Belajar di SD Negeri 9
Boyolali. Surakarta: UMS
Penelitian di SDN 9 Boyolali dengan judul pengelolaan sumber belajar dengan tiga komponen pokok yang dihasilkan bahwa terdapat perencanaan sumber belajar yang baik, pemanfaatan sumber belajar yang maksimal dan pemeliharaan sumber belajar yang baik sebagai percontohan bagi sekolah lainnya. Sumber belajar yang dikelola dengan baik, dapat memudahkan dalam pemanfaatan dan memungkinkan pemakaian sumber belajar dalam waktu yang lama, sebab terdapat sistem pemeliharaan yang tepat.
Penelitian di atas dikatakan relevan karena fokus dalam penelitian ini sama-sama membahas terkait dengan pengelolaan sumber belajar khususnya media pembelajaran. Perbedaan penelitian yang akan dilakukan ini dengan penelitian yang relevan sebelumnya adalah bahwa penelitian sebelumnya membahas percontohan pengelolaan sumber belajar yang baik, sedangkan penelitian ini akan mencari tahu terkait tentang alasan pengeloaan dan pemanfaatan media pembelajaran yang terlihat belum maksimal.
C. Kerangka Berpikir
Media pembelajaran berfungsi memudahkan komunikasi penyampaian materi pembelajaran agar lebih efektif. Media pembelajaran yang telah tersedia diberbagai sekolah masih cukup banyak yang kurang dimanfaatkan secara maksimal. Berdasarkan pengamatan peneliti, salah satunya di SD Muhammadiyah Pasir Kidul telah memiliki fasilitas media pembelajaran yang cukup bervariasi, namun akibat sistem pengelolaan yang terlihat kurang baik maka media pembelajaran kurang diberdayagunakan. Pihak sekolah dalam mendayagunakan dimulai melalui pengelolaan yang baik sesuai tata aturan pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan. Apabila media pembelajaran telah dikelola dengan baik,
maka media pembelajaran akan lebih mudah ketika akan dimanfaatkan. Media pembelajaran bermanfaat untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Peneliti telah melakukan observasi di SD Muhammadiyah Pasir Kidul yang memiliki media pembelajaran yang bervariasi.
Peneliti akan mencari tahu peranan sekolah dalam melaksanakan pengelolaan media pembelajaran agar dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam proses belajar mengajar. Selain itu, guru juga harus meningkatkan kreativitas dalam menggunakan media disamping mengelola media pembelajaran agar dapat digunakan secara optimal. Maka penting dilakukan penelitian ini untuk mencari tahu sistem pengelolaan media pembelajaran yang tepat sehingga dapat berdampak pada pemanfaatan media pembelajaran secara optimal dalam proses pembelajaran. Adapun bagan alur dari kerangka berpikir pada penelitian ini tergambar dalam gambar 2.1 berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Media Pembelajaran Pengelolaan Media Pembelajaran Pemanfaatan Media Pembelajaran 1. Perencanaan 2. Pengadaan 3. Inventarisasi 4. Pemeliharaan 5. Penyimpanan 6. Penghapusan Cara Pemilihan Media Pembelajaran Langkah-Langkah Penggunaan Media Pembelajaran