BAB II LANDASAN TEORI. Menurut (Angelia, Oroh, & Moniharapon, 2015), Kebijakan harga adalah

12 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

6 BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Kebijakan

Menurut (Angelia, Oroh, & Moniharapon, 2015),” Kebijakan harga adalah penetapan satuan yang akan di bayarkan konsumen guna membeli produk yang di tawarkan dengan kualitas yang di nilai baik oleh konsumen”.

Menurut (Sumarwan & Daryanto, 2016),“ Kebijakan harga adalah keseimbangan satuan yang di tetapkan antara nilai masuk dan nilai keluar dengan tujuan laba yang akan di dapatkan”.

Menurut (Khaliq, 2018),“ Kebijakan adalah keputusan atau ketetapan yang di ambil untuk mempengaruhi kondisi perkembangan bisnis yang sedang di jalankan”.

Menurut Anderson dalam Winarno (2017:21),” Kebijakan merupakan arah tindakan yang mempunyai maksud yang di tetapkan oleh seseorang aktor atau jumlah aktor dalam mengatasi suatu masalah atau suatu persoalan”.

Menurut Winarno (2017:35), bahwa terdapat tahapan - tahapan kebijakan yaitu:

1. Tahap Formulasi Kebijakan

Masalah yang telah masuk ke agenda kebijakan kemudian di bahas oleh para pejabat pembuat kebijakan. Masalah - masalah tadi di definisikan untuk kemudian di cari pemecahan masalah terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilhan kebijakan yang ada. Pada tahap ini,

(2)

masing - masing aktor akan “bermain” untuk mengusulkan pemecahan masalah terbaik.

2. Tahap Adopsi Kebijakan

Dari sekian banyak alternatif kebijakan yang di tawarkan oleh para perumus kebijakan,pada akhirnya salah satu dari alternatif kebijakan tersebut di adopsi dengan dukungan dari mayoritas legeslatif, konsensus antara Direktur lembaga atau keputusan peradilan.

3. Tahap Implementasi Kebijakan

Suatu program kebijakan hanya akan menjadi catatan - catatan elit, jika program tersebut tidak di implementasikan, oleh karena itu keputusan program kebijakan yang telah di ambil sebagai alternatif pemecahan masalah harus di implementasikan, yakni dilaksanakan oleh badan - badan administrasi maupun agen-agen di tingkat bawah. Pada tahap implementasi ini berbagai kepentingan akan saling bersaing, beberapa implementasi kebijakan mendapat dukungan para pelaksana, namun beberapa yang lain mungkin akan di tentang oleh para pelaksana.

4. Tahap Evaluasi Kebijakan

Pada tahap ini kebijakan telah di jalankan akan di nilai atau di evaluasi, untuk melihat sejauh mana kebijakan yang di buat telah mampu memecahkan masalah. Oleh karena itu di tentukanlah ukuran - ukuran atau kriteria - kriteria yang menjadi dasar untuk menilai apakah kebijakan telah meraih dampak yang di inginkan.

(3)

2.2. Harga

2.2.1. Pengertian Harga

Menurut Kotler dalam sunyoto (2014:131),” Harga adalah sejumlah uang yang di bebankan pada suatu produk tertentu”.

Menurut Tjiptono (2017:291),” Harga merupakan alat atau wahana langsung untuk melakukan perbandingan antar produk atau merek yang saling bersaing( forced point of contact between competitors)”.

Menurut (Widyastuti, 2017),” Harga adalah faktor yang di tetapkan oleh produsen untuk mempengaruhi daya beli dan loyalitas konsumen namun tidak menghilangkan sisi kualitas produk”.

Menurut (Rasyid & Indah, 2018),” Harga adalah satuan yang mempengaruhi konsumen dalam membeli suatu produk dengan melihat sebuah inovasi produk yang di sajikan”.

2.2.2. Tujuan Penetapan Harga

Menurut Tjiptono (2017:291), tujuan penetapan harga sebagai berikut: 1. Tujuan berorientasi pada laba

Asumsi teori Ekonomi klasik menyatakan bahwa setiap perusahaan selalu memilih harga yang dapat menghasilkan laba terbesar.

2. Tujuan berorientasi pada volume

Harga di tetapkan sedemikian rupa agar dapat mencapai target volume penjualan.

3. Tujuan beroirientasi pada citra

Perusahaan dapat menetapkan harga mahal untuk membentuk atau mempertahankan citra prestisius, sementara harga murah yang di tetapkan

(4)

oleh perusahaan dapat di gunakan untuk membentuk citra nilai tertentu (image of value).

4. Tujuan stabilisasi harga

Tujuan stabilisasi di lakukan dengan jalan menetapkan harga untuk mempertahankan hubungan yang stabil antara harga sebuah perusahaan dan harga pemimpin industri.

Menurut Adrian Payne dalam Sunyoto (2014:132), tujuan penetapan harga sebagai berikut:

1. Bertahan

Bertahan merupakan usaha untuk tidak melakukan tindakan – tindakan yang meningkatkan laba ketika perusahaan sedang mengalami kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Usaha ini di lakukan demi kelangsungan hidup perusahaan.

2. Memaksimalkan laba

Penentuan harga bertujuan untuk memaksimalkan laba dalam periode tertentu.

3. Memaksimalkan penjualan

Penentuan harga bertujuan untuk membangun pangsa pasar dengan melakukan penjualan pada harga awal yang merugikan.

4. Prestise

Tujuan penetuan harga di sini adalah untuk memosisiskan jasa perusahaan tersebut sebagai produk yang eksklusif.

(5)

5. Pengembangan atas invertasi

Tujuan penentuan harga di dasarkan atas pencapaian pengembalian atas investasi yang diinginkan.

2.2.3. Strategi Penetapan Harga

Menurut Tjiptono (2017:298), metode penentapan harga yang berbasis permintaan yaitu

1. Skimming Pricing

Strategi ini di terapkan dengan jalan menetapkan harga mahal bagi sebuah produk baru inovatif selama tahap perkenalan, kemudian menurunkan harga tersebut pada saat persaingan mulai ketat. Strategi ini baru bisa berjalan baik jika konsumen tidak sensitif terhadap harga tetapi lebih menekankan pertimbangan - pertimbangan kualitas, inovasi, dan kemampuan produk tersebut dalam memuaskan kebutuhannya.

2. Penetration Pricing

Dalam strategi ini perusahaan berusaha memperkenalkan sebuah produk baru dengan harga murah, dengan harapan akan dapat memperoleh volume penjualan yang besar dalam waktu relatif singkat. Strategi ini juga bertujuan mencapai skala ekonomis dan mengurangi biaya per unit, pada saat bersamaan strategi ini juga dapat mengurangi minat dan kemampuan pesaing, karena harga yang murah menyebabkan marjin yang di peroleh setiap perusahaan menjadi terbatas.

(6)

3. Prestige Pricing

Merupakan strategi menetapkan tingkat harga yang mahal, sehingga konsumen yang sangat peduli dengan statusnya akan tertarik dengan produk, dan kemudian membelinya.

4. Price Lining

Strategi ini di gunakan apabila perusahaan menjual produk lebih dari satu jenis. Harga untuk lini produk tersebut bisa bervariasi dan di tetapkan pada tingkat harga tertentu yang berbeda.

5. Odd- Even Pricing

Yaitu harga yang besarnya mendekati jumlah genap tertentu. Pada prateknya memang untuk satuan atau kuantitas yang kecil, stategi ini memang kurang kena pada sasaran, tetapi bila menyangkut satuan atau kuantitas yang besar ataupun di kaitkan dengan pembelian berbagai macam produk lainnya maka hasilnya akan lebih efektif.

6. Demand- Backward Pricing

Strategi yang mendesain produk sedemikian rupa sehingga memenuhi target harga yang di tetapkan. Jadi proses ini berjalan ke belakang, dari harga target tertentu maka perusahaan menyesuaikan kualitas komponen - komponen produknya.

7. Product Bundle Pricing

Strategi pemasaran dua atau lebih produk dalam satu harga paket. Strategi ini memberikan manfaat besar bagi pembeli dan penjual. Pembeli dapat menghemat biaya total, sedangkan penjual dapat menekan biaya pemasarannya.

(7)

8. Optional Product Pricing

Strategi ini menawarkan produk aksesoris atau opsional bersama produk utamannya. Dalam konteks ini perusahaan harus memutuskan item – item spesifik apa saja yang termasuk dalam base price dan item mana saja yang di tawarkan sebagai opsional.

9. Captive product pricing

Adalah produk yang harus di gunakan secara bersama – sama dengan produk utama agar dapat berfungsi secara maksimal.

10. By- Product Pricing

Di gunakan pemasar untuk mencari pasar bagi produk sampingan dan biasanya mereka bersedia menerima harga berapapun asalkan bisa menutup biaya penyimpanan dan pengiriman.

Sedangkan menurut Tjiptono (2017: 303) metode penetapan harga berbasis biaya, sebagai berikut:

1. Standar Markup Pricing

Dalam metode ini harga di tentukan dengan jalan menambahkan persentase tertentu dari biaya pada semua item dalam sebuah kelas produk.

2. Cost Plus Percentage Of Cost Pricing

Perusahaan menambahkan persentase tertentu terhadap biaya prdoduksi dan konstruksi. Metode ini seringkali di gunakan untuk menentukan harga satu item atau hanya beberapa item.

3. Cost Plus Fixed Fee Pricing

Dalam strategi ini, pemasok atau produsen akan mendapatkan ganti atas semua biaya yang di keluarkan, seberapapun besarnya tetapi produsen

(8)

tersebut hanya memperoleh fee tertentu sebagai laba yang besarnya tergantung pada biaya final proyek tersebut yang di sepakati bersama. Metode ini banyak di terapkan dalam produk - produk yang sifatnya sangat tekhnikal.

4. Experience Curve Pricing

Metode ini di kembangkan atas dasar konsep efek belajar yang menyatakan bahwa unit cost barang dan jasaakan menurun antara 10 hingga 30% untuk setiap peningkatan sebesar dua kali lipat pada pengalaman perusahaan dalam memproduksi dan menjual barang dan jasa yang bersangkutan.

Adapula menurut Tjiptono (2017:305) metode penetapan harga yang berbasis laba,yaitu

1. Target Profit Pricing

Berupa ketetapan atas besarnya laba tahunan yang di nyatakan secara spesifik.

2. Target Return On Sales Pricing

Berupa penetapan tingkat harga tertentu yang dapat menghasilkan laba dalam presentase tertentu terhadap volume penjulan. Metode ini banyak di gunakan oleh jaringan - jaringan supermarket.

3. Target Return On Investment

Dalam metode ini perusahaan menetapkan besarnya suatu target return on investment tahunan yaitu rasio antara laba dengan investasi total yang di tanamkan perusahaan pada fasilitas produksi dan aset yang mendukung produk tertentu.

(9)

Menurut Tjiptono (2017: 307) metode penetapan harga berbasis persaingan, sebagai berikut:

1. Customary Pricing

Metode ini di gunakan untuk produk - produk yang harganya di tentukan oleh factor - faktor seperti tradisi, saluran distribusi yang terstandarisasi, atau faktor persaingan lainnya.

2. Above, At, Or, Below Market Pricing

Above market pricing dilaksanakan dengan jalan menetapkan harga yang lebih tinggi daripada harga pasar, metode ini banyak di gunakan oleh perusahaan yang memiliki reputasi perusahaan yang menghasilkan barang - barang prestise.

Dalam At- market pricing harga di tetapkan sebesar harga pasar yang seringkali di kaitkan dengan harga pesaing.

Sementara Below- market pricing yang harganya di tetapkan di bawah harga pasar, banyak di terapkan oleh produsen produk - produk genetik dan pengecer yang menjual produk dengan private brand.

3. Loss Leader Pricing

Tujuan dari metode ini adalah memikat kedatangan para konsumen untuk datang ke toko dan membeli produk - produk yang lainya juga, khususnya produk yang ber- mark up tinggi, dengan tujuan ini maka penetapan harga di bawah harga produk lainnya.

4. Sealed Bid Pricing

Metode ini menggunakan sistem penawaran harga dan biasanya melibatkan agen pembelian. Harga penawaran tersebut harus di ajukan dalam jangka

(10)

waktu tertentu, kemudian di adakan semacam lelang untuk menentukan penawaran terendah yang menentukan syarat untuk melaksanakan kontrak pembelian.

Salah satu solusi efektif penetapan harga jasa adalah value strategies. Prinsip utamanya adalah mengaitkan secara langsung harga yang di bayarkan pelanggan dengan nilai yang mereka terima dari konsumsi jasa perusahaan Menurut Tjiptono (2017:313) strategi - strategi itu terdiri atas tiga tipe utama yang saling berkaitan, yaitu:

1. Satisfication – based Pricing

Tujuan dari penetapan harga dengan solusi ini adalah mengurangi resiko - resiko dari faktor intangibilitas yaitu resiko finansial, sosial, psikologi, keamanan.

2. Relationship Pricing

Pada prinsipnya solusi merupakan upaya menarik, mempertahankan, dan meningkatkan elasi dengan para pelanggan. Strategi ini bermanfaat bagi perusahaan maupun pelanggan.

3. Efficiency Pricing

Aspek utama dalam strategi ini adalah pemahaman, pengelolaan dan penekanan biaya. Penghematan biaya yang di teruskan kepada konsumen harus dapat meningkatkan persepsi positif konsumen terhadap nilai produk. Penekanan biaya menghasilkan harga murah namun jasanya tidak memuaskan tidak akan ada hasil.

(11)

2.2.4. Jenis - Jenis Harga

Menurut Suhardi Sigit dalam Sunyoto (2014:138) jenis - jenis harga yang di kenakan pada suatu produk sebagai berikut :

1. Harga daftar (List Price)

Harga daftar adalah yang di beritahukan atau di publikasikan, dari harga ini biasanya pembeli dapat memperoleh potongan harga.

2. Harga netto (Net Price)

Harga netto adalah harga yang harus di bayar, biasanya merupakan harga daftar di kurangin potongan dan kemurahan.

3. Harga zone (Zone Price)

Harga zona adalah harga yang sama untuk suatu daerah zona atau daerah geografis tertentu.

4. Harga titik dasar (Basing Point Price)

Harga titik dasar adalah harga yang di dasarkan atas titik lokasi untuk titik basis tertentu.

5. Harga stempel pos (Postage Stamp Delivered Price)

Harga stempel pos adalah harga yang sama untuk semua daerah pasarnya,di sebut juga harga uniform.

6. Harga pabrik (Factory Price)

Dalam hal ini pembeli membayar produk di pabrik atau tempat pembuatan, sedangkan angkutan di tanggung oleh pembeli.

(12)

7. Harga F.A.S ( Free Alongside Price)

Harga F.A.S adalah untuk barang yang di kirim lewat laut. Biaya angkutan di tanggung oleh penjual sampai kapal merapat ke pelabuhan tujuan, sedangkan pembongkaran di tanggung oleh pembeli.

8. Harga C.I.F (Cost , Insurance and Freight)

Harga C.I.F adalah harga barang yang di ekspor sudah termasuk baiay asuransi,biaya pengiriman barang dan lain- lain sampai di serahkannya barang itu kepada pembeli di pelabuhan yang di tuju.

9. Harga gasal (Odd Price)

Harga gasal adalah harga yang angkannya tidak bulat atau mendekati bulat, cara ini bertujuan untuk mempengaruhi pandangan pembeli supaya kelihatan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :