BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kinerja pegawai bisa digunakan sebagai suatu tolak ukur suatu organisasi. Hal tersebut dapat dilihat dari perspektif masyarakat dan evaluasi kinerja. Masyarakat memandang kinerja pegawai masih rendah. Pandangan tersebut muncul karena masyarakat mulai kritis dalam memonitor dan mengevaluasi pelayanan dari instansi pemerintah. Disisi lain, pengukuran keberhasilan maupun kegagalan instansi pemerintah dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sulit dilakukan secara obyektif.
Survey melalui media cetak maupun elekronik menunjukkan bahwa nilai capaian kinerja pegawai negeri sipil dalam hal produktivitas, kualitas layanan, responsivitas, responsibilitas dan akuntabilitas masih rendah. Dari segi orientasi pelayanan, cenderung tidak sepenuhnya mencurahkan waktu dan tenaganya untuk melayani masyarakat, pelayanan yang tidak ramah, berbelit-belit, tidak transparan tidak ada kepastian, sombong, cuek serta berbagai perilaku buruk senantiasa terjadi pada birokrasi di Indonesia (Martini, 2011 : 61).
Rendahnya kinerja akan berdampak kurang baiknya pelayanan publik. Salah satu tolol ukur keberhasilan organisasi adalah kinerja pegawai. Menurut Uno (2007: 86) Kinerja pegawai yang dimaksud adalah hasil kerja pegawai yang terefleksi dalam cara merencanakan dan melaksanakan segala tugas yang intensitasnya dilandasi oleh etos kerja, serta profesional pegawai dalam proses pekerjaan. Sementara menurut Mangkunegara (2006) kinerja adalah hasil kerja hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan.
Brahmasari dan Suprayetno (2008) mengungkapkan bahwa kinerja merupakan tindakan atau pelaksanaan tugas yang telah diselesaikan oleh seseorang dalam kurun waktu tertentu dan dapat diukur. Pengukuran kinerja PNS dalam satau tahun tertuang dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) yang diberikan oleh atasan langsung setiap tahunnya. Namun dalam lembar DP3 tersebut tidak diberikan faktor faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai sehingga atasan juga tidak dapat mengatahui penyebab naik atau turunnya kinerja bawahannya.
Kinerja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yang dikatakan oleh Robbins dan Judge (2006:184) bahwa kepuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Sehingga dapat dikatakan apabila seorang karyawan merasakan kepuasan kerja maka akan berpengaruh positif pula terhadap peningkatan kinerja karyawan tersebut. Spector (1997) juga mengungkapkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepuasan kerja dan kinerja, sehingga seorang pekerja yang merasa puas seharusnya juga memiliki produktifitas yang tinggi. Apabila seorang pegawai merasa puas dengan pekerjaanya maka ia akan memiliki motivasi lebih dan memiliki kinerja yang lebih pula. Beberapa orang yang melakukan penelitian kepuasan kerja dan kinerja antara lain Maryani dan Supomo (2001) dan Fadli. et al (2012) kedua penetian tersebut menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepuasan kerja dan kinerja.
Selain itu ada faktor lain yang mempengaruhi kinerja yaitu kepuasan komunikasi, seperti yang dikatakan oleh Arifin (2005) bahwa karyawan yang bisa mendapatkan tingkat kepuasan komunikasi yang tinggi maka akan dapat meningkatkan kinerjanya lebih baik lagi. Sementara itu penelitian lain mengungkapkan bahwa kepusan komunikasi juga berpengaruh terhadap kepuasan kerja (Birol Gulnar, 2008; Abdullah dan Hui, 2014)
Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah organisasi. Kemampuan komunikasi seseorang dalam organisasi diperlukan dalam setiap kondisi misalnya pada saat mempersiapkan sebuah presentasi, menyampaikan ide-ide atau gagasan dalam suatu rapat, negosiasi bisnis, melatih tim, membangun sebuah tim kerja, dan dalam setiap aktivitas organisasi. Melihat pentingnya komunikasi dalam organisasi, efektivitas komunikasi akan sangat menentukan kesuksesan organisasi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang (Nurrohim dan Anatan, 2009: 7).
Sementara itu Keith Davis dalam Sastropoetro (1982: 339) mengungkapkan bahwa suatu organisasi tidak akan eksis tanpa adanya komunikasi. Tanpa komunikasi tidak akan terjadi koordinasi kerja yang diharapkan. Kerjasama yang baik antara pimpinan dan karyawan atau sesama karyawan juga tidak akan terjadi karena mereka tidak mengkomunikasikan kebutuhan dan perasaanya satu sama lain.
Komunikasi menjadi hal yang sangat penting dalam kelangsungan organisasi, hal ini seperti yang dikatakan Karl Weick dalam Littlejohn dan Foss (2011: 297) bahwa organisasi dibentuk bukan berasal dari struktur atau aturan melainkan dari aktivitas komunikasi.
Komunikasi juga menjadi roda penggerak organisasi, karena sebuah organisasi tidak akan bisa berjalan tanpa adanya komunikasi. Misalnya ketika atasan memberikan perintah kepada bawahannya ataupun komunikasi yang terjadi antar sesama pegawai.
Komunikasi yang terjadi di dalam organisasi ini tidak terlepas dari komunikasi interpersonal antar anggota organisasi. Mulyana (2008:81) mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai komunikasi antara orang – orang secara bertatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya untuk menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non verbal.
Rajhans (2012) menyatakan bahwa komunikasi organisasi memiliki peran yang vital dalam motivasi dan kinerja pegawai. Downs dan Hazen dalam Alsayed, et al. (2012) menyatakan bahwa kepuasan komunikasi merefleksikan tingkat kepuasan individu dalam semua aspek komunikasi dalam organisasi. Untuk mengukur kepuasan komunikasi yang abstrak digunakan indikator kepuasan komunikasi yang dikembangkan oleh Downs dan Hazen (1977). Instrumen pengukuran kepuasan komunikasi ini dikenal dengan Communication Satisfaction Questionnaire (CSQ). Banyak peneliti di dunia yang menggunakan CSQ ini dalam penelitiannya (Engin&Akgoz,2013; Gulnar, 2007; Liang &Back, 2011; Ogunjinmi et al., 2013; Terek et al.. 2015).
Kinerja bagi PNS merupakan sesuatu hal yang penting bagi terciptanya good governance dan sebagai wujud tanggungjawabnya sebagai seorang pelayan masyarakat.
Hasil observasi di Kabupaten Sragen menunjukkan kinerja pegawai masih rendah. Dengan indikasi ketidakdisiplinan pegawai pada jam masuk dan pulang kantor serta kecenderungan untuk menunda pekerjaan. Selain itu diketahui bahwa terdapat sejumlah hambatan komunikasi pada Sekretariat Daerah Kabupaten Sragen terkait komunikasi, dimana ketika atasan menyampaikan pesan yang berupa perintah melalui media tulisan seringkali menimbulkan berbagai penafsiran
sehingga bawahan merasa tidak yakin akan pekerjaan yang dilakukannya, terkadang terjadi penyimpangan komunikasi dari atasan ke bawahan ketika menyampaikan hasil rapat pimpinan yang berupa kebijakan organisasi yang bersifat sensitif. Bawahan tidak merasa puas akan informasi yang didapatnya sehingga tetapi takut atau segan untuk merespon informasi tesebut dengan bertanya kepada atasan. Hal tersebut dapat menimbulkan terjadinya iklim komunikasiyang kurang baik sehingga menimbulkan kecurigaan dan perbedaan penafsiran.
Selain itu dari sisi kinerja juga masih perlu ditingkatkan, walaupun capaian kebijakannya keseluruhannya sesuai program atau kebijakan yang ditetapkan tetapi dari hasil pengamatan beberapa pegawai dalam menyelesaikan tugas yang seharusnya selesai dalam satu atau dua hari terkadang diselesaikan dalam satu minggu hal tersebut tentunya menghambat terselesainya pekerjaan selanjutnya.
Padahal berdasarkan evaluasi Kabupaten Sragen merupakan salah satu kabupaten dengan pelayanan terbaik di Indonesia. Terbukti dengan beberapa peghargaan yang telah diraih Kabupaten Sragen antara lain Paramadina Awards bidang implementasi teknologi informasi dan pelayanan publik tahun 2009, Investment Award dari tahun 2010 – 2014. Prestasi terbaik tersebut tentu didukung keberadaan Sekretariat Daerah yang memiliki tugas pokok memberikan layanan administratif kepada seluruh SKPD di Kabupaten Sragen. Karena itu menarik untuk dilakukan penelitian tentang kinerja pegawai di Sekretariat Daerah Kabupaten Sragen terkait dengan kepuasan komunikasi dan kepuasan kerja.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah ada pengaruh langsung kepuasan komunikasi terhadap kepuasan kerja
pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Sragen ?
2. Apakah ada pengaruh langsung kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai
Sekretariat Daerah Kabupaten Sragen ?
3. Apakah ada pengaruh langsung kepuasan komunikasi terhadap kinerja pegawai
4. Apakah ada pengaruh tidak langsung kepuasan komunikasi terhadap kinerja pegawai melalui kepuasan kerja pada pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Sragen?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk :
1. Menguji pengaruh langsung kepuasan komunikasi terhadap kepuasan kerja
pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Sragen.
2. Menguji pengaruh langsung kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Sragen.
3. Menguji pengaruh langsung kepuasan komunikasi terhadap kinerja pegawai
Sekretariat Daerah Kabupaten Sragen.
4. Menguji pengaruh tidak langsung kepuasan komunikasi terhadap kinerja
pegawai melalui kepuasan kerja pada pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Sragen.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Instansi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi institusi dalam upaya untuk meningkatkan kinerja pegawai ditinjau dari kepuasan komunikasi.
2. Bagi Akademisi
Hasil penelitian akan memberikan dukungan bagi literatur komunikasi organisasi, khususnya pada literatur komunikasi organisasi terkait kepuasan kerja dan kinerja pegawai.
3. Bagi pihak lain.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan atau referensi bagi penelitian yang akan datang khususnya yang berhubungan dengan peningkatan kinerja pegawai.