10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengendalian Internal
2.1.1. Definisi Pengendalian Internal
Menurut (Romney & Steinbart, 2015, p. 226), Pengendalian Internal adalah sebagai berikut:
“Pengendalian Internal adalah sebuah proses yang dijalankan untuk menyediakan jaminan memadai bahwa tujuan-tujuan pengendalian berikut telah dicapai
Mengamankan aset
Mengelola catatan dengan detail yang baik untuk melaporkan aset perusahaan secara akurat dan wajar
Memberikan informasi yang akurat dan reliabel
Menyiapkan laporan keuangan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan
Mendorong dan memperbaiki efisiensi operasional
Mendorong ketaatan terhadap kebijakan manajerial yang telah ditentukan
Mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku”
Menurut (Hery, 2014, p. 127), Pengendalian Internal adalah sebagai berikut:
“Pengendalian internal adalah seperangkat kebijakan dan prosedur untuk melindungi aset atau kekayaan perusahaan dari segala bentuk tindakan penyalahgunaan, menjamin tersedianya informasi akuntansi perusahaan yang akurat, serta memastikan bahwa semua ketentuan (peraturan) hukum/ undang-undang serta kebijakan manajemen telah dipatuhi atau dijalankan sebagaimana mestinya oleh seluruh karyawan perusahaan”
Menurut (COSO, 2013, p. 3) Pengendalian internal adalah, sebagai berikut:
“Internal Control is a process, effected by an entity’s board of directors, management, and other personel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives relating to operation, reporting and compliance”
Menurut COSO, Pengendalian Internal adalah suatu proses yang melibatkan
seluruh anggota organisasi, dan memiliki 3 tujuan utama yaitu: efektivitas dan
efesiensi operasi; mendorong keandalan laporan keuangan, dan dipatuhinya hukum
dan peraturan yang ada.
Berdasarkan pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
pengendalian internal suatu proses yang dirancang oleh manajemen untuk
menjamin pengamanan aset dan memberikan keyakinan atas informasi akuntansi
perusahaan dan memastikan bahwa semua ketentuan peraturan dipatuhi dan
dilaksanakan secara efektif dan efisien.
2.1.2. Tujuan Pengendalian Internal
Tujuan Pengendalian Internal Menurut (COSO, 2013, p. 3) adalah sebagai
berikut :
1) Operations Objectives - These pertain to effectiveness and effciency of the entity’s operations, including operational and financial performance goals, and safeguarding assets against loss.
2) Reporting Objectives – These pertain to internal and external financial and
non-financial reporting and may encompass reliability, timeliness, transparency, or other terms as set forth by regulators, recognized standard setters, or the entity’s policies.
3) Complience Objectives – These pertain to adherence to laws and regulations
Dalam (Arens, Elder, & Beasley, 2014, p. 340), Tujuan Pengendalian
Internal adalah sebagai berikut:
1) Realibilitas pelaporan keuangan.
2) Efisien dan Efektivitas Operasi.
3) Ketaatan pada hukum dan peraturan.
Menurut (Mulyadi, 2016, p. 140) Tujuan pengendalian internal adalah
sebagai berikut:
1) Menjaga Keamanan Harta Milik Suatu Organisasi
Manajemen memerlukan informasi yang teliti dapat dipercaya dan tepat
pada waktunya untuk mengolah kegiatan-kegiatan perushaaan.
2) Mengecek Ketelitian dan Keandalan Data Akuntansi
Pengawasan yang memadai diperlukan untuk melindungi barang-barang
atau harta milik perusahaan yang mungkin hilang karena dicuri,
disalahgunakan, rusak karena kecelekaaan atau musibah dan sebab-sebab
lain yang dapat merugikan perusahaan.
3) Mendorong Efisiensi Kerja atau Operasioanal Perusahaan
Mekanisme pengawasan atau pengendalian intern yang diasosiaan dengan
para personil dan kegiatannya, dimaksudkan untuk mencegah atau
menghindari terjadinya berbagai peristiwa dan keadaan yang berakibat
4) Mendorong Dipatuhinya Kebijakan Manajemen
Kebijaksanaan peraturan dan prosedur-prosedur pelaksanaan itu ditetapkan
oleh manajemen sebagai alat untuk mencapai tujuan yang telah
dicanangkan. Sistem pengendalian intern beserta mekanismenya diciptakan
untuk manajemen bahwa semua kebijakan, peraturan dan prosedur-prosedur
yang ditetapkan itu selalu dipatuhi oleh perusahaan.
Me
2.1.3. Komponen-komponen Pengendalian Internal
Menurut (COSO, 2013, p. 4) menyatakan komponen-komponen
pengendalian internal sebagai berikut :
Internal control consists of five integrated components: 1. Control Environment
The control environment is the set of standards, processes, and structures that provide the basis for carrying out internal control across the organization.
2. Risk Assessment
Risk assessment involves a dynamic and iterative process for identifiying and assessing risk to the achievement of objectives.
3. Control Activities
Control activities are the actions established through policies and procedures that help ensure that management’s directives to mitigate risks to the achievement of objectives are carried out.
4. Information and Communication
Information is necessary for the entity to carry out internal control responsibilities to support achievement of its objectives. Communication is the continual, iterative process of providing, sharing, and obtaining necessary information.
5. Monitoring Activities
Ongoing evaluations, separate evaluations, or some combination of the two are used ascertain whether each of the five components of internal control, including controls to effect the principles within each component, is present and functioning. Findings are evaluated against criteria established by regulators, recognized standard-setting bodies or management and the board of directors, and deficiencies are communicated to management and the board of directors as approprieate.
Adapun hubungan di antara kelima tujuan dan komponen-komponen pengendalian
Gambar 2. 1
Relationship of Objectives and Components of Internal Control
Menurut (Agoes, 2012, p. 100), pengendalian internal terdiri atas 5
komponen yang saling terakait, sebagai berikut:
1) Lingkungan Pengendalian
Menetapakan corak suatu organisasi, mempengaruhi kesadaran
pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar
untuk semua komponen pengendalian intern, menyediakan disiplin dan
struktur. Lingkungan Pengendalian merupakan dasar untuk semua
komponen pengendalian intern yang lain, menyediakan disiplin dan
struktur. Lingkungan pengendalian mencakup hal-hal berikut ini:
a. Integrasi dan nilai etika
b. Komitmen terhadap kompetensi
d. Struktur Organisasi
e. Pemberian wewenang dan tanggungjawab
f. Kebijakan dan praktik Sumber daya manusia
2) Penaksiran risiko
Identifikasi entitas dan anaisis terhadap risiko yang relevansi untuk
mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar menentukan bagaimana risiko
harus dikelola. Resiko yang relevan dengan pelaporan keuangan mencakup
peristiwa dari keadaan intern maupun ekstern yang dapat terjadi dan secara
negative mempengaruhi kemampuan entitas untuk mencatat, mengolah,
meringkas, dan melaporkan data keuangan konsisten dengan asersi
manajemen dalam laporan keuangan. Resiko yang dapat timbul atau
berubah karena keadaan, sebagai berikut:
a. Perubahan dalam lingkungan operasi
b. Personel baru
c. Sistem informasi yang baru atau yang diperbaiki
d. Tekonologi baru
e. Lini produk, produk, atau aktivitas baru
f. Restrukturasi koperasi
g. Operasi luar negeri
h. Standar akuntansi baru
3) Aktivitas pengendalian
Kebijakan dan prosedur yang membantu menjamin bahwa arahan
tindakan yang diperlukan untuk menanggulangi resiko dalam pencapaian
tujuan entitas, sudah dilaksanakan. Aktivitas pengendalian berkaitan dengan
hal-hal berikut ini:
a. Review terhadap kinerja
b. Pengolahan informasi
c. Pengendalian fisik
d. Pemisahan tugas
4) Informasi dan komunikasi
Pengidentifikasian, penangkapan, dan pertukaran informasi dalam suatu
bentuk dan waktu memungkinkan orang melaksanakan tanggung jawab
mereka. Sistem informasi yang relevan dengan tujuan pelaporan keuangan,
yang meliputi sistem akuntansi, terdiri atas metode dan catatan yang
dibangun untuk mencatat, mengolah, meringkas, dan melaporkan transaksi
entitas (baik peristiwa maupun kondisi) dan untuk memelihara akuntabilitas
bagi aset, utang dan ekuitas yang bersangkutan. Kualitasi informasi yang
dihasilkan dari sistem akan berdampak terhadap kemampuan manajemen
untuk membuat keputusan yang semestinya dalam mengendalikan aktivitas
entitas dan menyiapkan laporan keuangan yang andal
5) Pemantauan
Proses yang menentukan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang
waktu. Proses yang dilaksanakan melalui kegiatan yang berlangsung secara
terus-menerus, evaluasi secara terpisah, atau dengan berbagai kombinasi
2.1.4. Pengendalian Internal Akuntansi
Menurut (Mulyadi, 2016, p. 143) Pengendalian internal akuntansi dalam
lingkungan pengolahan data elektronik dibagi menjadi dua, yaitu :
1) Pengendalian Umum (General Control), unsur dalam pengendalian
umum, meliputi : organisasi pusat pengeloahan data, prosedur dan
standar untuk perubahan program, pengembangan sistem dan
pengoperasioan fasilitas pengolahan data.
2) Pengendalian Aplikasi (Application Control), pengendalian yang
dirancang untuk memenuhi persyarata pengendalian khusus setiap
aplikasi. Berikut tujuan pengendalian aplikasi :
a. Menjamin bahwa semua transaksi yang telah diotorisasi
telah diproses sekali saja secara lengkap.
b. Menjamin bahwa data transaksi lengkap dan teliti.
c. Menjamin bahwa pengolahan data transaksi benar dan sesuai
dengan keadaan.
d. Menjamin bahwa hasil pengolahan data dimanfaatkan untuk
tujuan yang telah ditetapkan
2.2. Laporan Keuangan
2.2.1. Pengertian Laporan Keuangan
Menurut (Yadiati & Mubarok, 2017, p. 11), Laporan Keuangan sebagai
berikut :
“Laporan keuangan adalah informasi tentang kondisi keuangan yang berkaitan dengan posisi dan kinerja keuangan entitas.”
Menurut Peraturan Pemerintah no. 71 Tahun 2010, Laporan Keuangan
sebagai berikut :
“Laporan Keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan.”
Menurut (Fajri, 2018, p. 21), Laporan Keuangan sebagai berikut:
“Laporan Keuangan adalah suatu ringkasan dari transaksi keuangan yang terjadi tahun buku bersangkutan, yang berguna dalam pengambilan keputusan pengguna laporan keuangan dan sebagai penyedia informasi yang menyangkut posisi keuangan.”
Berdasarkan pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Laporan
Keuangan adalah suatu informasi yang berisi tentang transaksi-transaksi keuangan
yang dilakukan oleh suatu entitas yang terjadi dalam satu periode dan keadaan
posisi keuangan dan kinerja perusahaan yang digunakan untuk pengambilan
keputusan.
2.2.2. Komponen Laporan Keuangan
Menurut PSAK No.1 tahun 2018 laporan keuangan yang lengkap teridiri
dari komponen berikut ini:
1) Laporan posisi keuangan (neraca) pada akhir periode
3) Laporan perubahan ekuitas selama periode
4) Laporan arus kas
5) Catatan atas laporan keuangan
6) Laporan Posisi Keuangan pada awal periode komparatif sebelum yang
disajikan
Menurut Peraturan Pemerintah no. 71 Tahun 2010 di dalam instansi
pemerintah laporan keuangan pokok teridiri dari:
1) Laporan realisasi anggaran (LRA)
Laporan realisasi anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan
pemakaian sumber daya keuangan yang dikelola oleh pemerintah
pusat/death, yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan
realisasinya dalam satu periode pelaporan.
2) Laporan perubahan saldo anggaran lebih (Laporan perubahan SAL)
Laporan perubahan saldo anggaran lebih menyajikan informasi kenaikan
atau penurunan saldo anggaran lebih tahun pelaporan dibandingkan dengan
tahun sebelumnya.
3) Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai
asset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu.
4) Laporan operasional (LO)
Laporan operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang
pusat/daerah untuk kegiatan penyelenggaraan pemerintah dalam satu
periode pelaporan.
5) Laporan arus kas (LAK)
Laporan arus kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas
operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris yang menggambarkan saldo
awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir kas pemerintah
pusat/daerah selama periode tertentu.
6) Laporan perubahan ekuitas (LPE)
Laporan perubahan ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan
ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
7) Catatan atas laporan keuangan (CALK)
Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari
angka yang tertera dalam laporan realisasi anggaran, laporan perubahan
SAL, laporan operasional, laporan perubahan ekuitas, neraca dan laporan
arus kas.
2.2.3. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Menurut (Yadiati & Mubarok, 2017, p. 24) karakteristik kualitatif laporan
keuangan tediri dari:
1) Relevansi (relevance)
Suatu informasi dianggap memiliki relevansi jika dapat digunakan para
pengguna untuk pengambilan keputusan yang berbeda-beda. Informasi
tersebtu berguna dan mampu mempengaruhi keputusan pengguna, baik
ingin dicapai. Informasi yang relevan adalah informasi yang sesuai dengan
kebutuhan pemakai untuk pengambilan keputusan. Agar informasi
memiliki relevansi, maka informasi tersebut harus memiliki nilai prediktif
(Predictive Value) dan nilai mengonfirmasi (Confirming value). 2) Penyajian Jujur (Faithfull Representation)
Suatu informasi dianggap menyajikan secara jujur, jika mampu
menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Penyajian jujur akan mampu
menggambarkan fenomena ekonmi secara lengkap, netral, dan bebas dari
kesalahan.
a. Kelengkapan (Completeness)
Informasi dianggap lengkap jika tersedia secara cukup untuk
memnuhi kebutuhan yang layak bagi para pengguna.
b. Netralitas (Neutrality)
Informasi keuangan yang memiliki sifat netralitas adalah informasi
yang diperuntukkan kepada penggunaan secara umum, tidak bias
kepada kelompok pengguna tertentu.
c. Bebas dari kesalahan ( Freedom From Material Error)
Informasi keuangan tidak boleh mengandung kesalahan material
3) Dapat dibandingkan (Comparability)
Informasi keuangan harus disusun dengan prinsip-prinsip yang sama
sehingga dapat dibandingkan antara satu perusahaan dengan perusahaan
lainnya. Dapat dibandingkan memungkinkan pengguna mengidentifikasi
persemaan dan perbedaan antara dua kelompok fenomena ekonomi
perusahaan.
4) Ketepatan waktu (Timeliness)
Penyajian informasi keuangan dianggap tepat waktu jika mampu
disediakan pada saat dibutuhkan (saat yang tepat). Informasi tersebut
mampu disediakan sebelum kehilangan kapasitasnya, yaitu mampu
memengaruhi dalam pengambilan keputusan. Ketepatan waktu mengacu
pada jumlah waktu yang diperlukan untuk membuat informasi keuangan
diketahui orang lain.
5) Dapat dipahami (Understandability)
Informasi keuangan harus dapat dipahami oleh pengguna dengan latar
belakang dan kepentingan. Untuk itu informasi keuangan harus
Merujuk dalam Peraturan Pemerintah no. 71 Tahun 2010, karateristik
kualitatif laporan keuangan terdiri dari :
1) Relevan
Relevan apabila informasi yang termuat didalamnya dapat mempengaruhi
keputusan pengguna dengan membantu mengevaluasi peristiwa masa lalu
atau masa kini dan memprediksi masa depan. Informasi yang relevan :
a. Memiliki manfaat umpan balik (feedback value), informasi
memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau mengoreksi
ekspektasi mereka di masa lalu.
b. Memiliki manfaat prediktif (predictive value), informasi dapat
membantu pengguna untuk memprediksi masa yang akan datang
berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa kini
c. Tepat Waktu, informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat
berpengaruh dan berguna dalam pengambilan keputusan
d. Lengkap, informasi akuntansi keuangan disajikan selengkap
mungkin, mencakup semua informasi akuntansi yang dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan dengan memperhatikan
kendala yang ada untuk menghindari kekeliruan dalam
penggunaan informasi.
2) Andal
Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang
menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur,
a. Penyajian jujur, informasi menggambarkan dengan jujur transaksi
serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara
wajar dapat diharapkan untuk disajikan
b. Dapat diverifikasi, informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan dapat diuji beberapakali tetapi tetap menunjukan
simpulan yang tidak berbeda jauh.
c. Netralitas, informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak
berpihak pada kebutuhan pihak tertentu.
3) Dapat dibandingkan
Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna jika
dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau
laporan keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya.
4) Dapat dipahami
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh
pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan
dengan batas pemahaman para pengguna.
2.3. Penelitian Terdahulu
Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu
No. Peneliti Judul
Penelitian
Variabel
Penelitian Hasil penelitian
1. Sri Rokhlinasari dan Adi Pengaruh Sistem Pengendalian Internal Terhadap Sistem Pengendalian internal ( Variabel X1) bahwa sistem pengendalian internal
Hidayat (2016) Kualitas Laporan Keuangan Pada Bank Bjb Syariah Cirebon Kualitas Laporan Keuangan (Y) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas laporan keuangan 2. Desiana Anugrah Budiawan dan Budi S. Purnomo (2014) Pengaruh Sistem Pengendalian Internal Dan Kekuatan Koersif Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sistem Pengendalian internal (Variabel X1) Kekuatan Koersif (Variabel X2) Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Variabel Y) Bahwa sistem pengendalian internal tidak berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan Pemerintah Daerah 3. Harlinda (2016) Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Informasi Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sumber Daya Manusia (Variabel X1) Teknologi Informasi (Variabel X2) Pengendalian Intern Akuntansi (Variabel X3) Komitment Organisasi (Variabel X4) Pemahaman Akuntansi (Variabel X5) Faktor Eksternal (Variabel X6) Bahwa Pengendalian intern akuntansi berpengaruh terhadap kualitas informasi laporan keuangan pemerintah daerah
Kualitas Informasi Laporan Keuangan Daerah (Variabel Y) 4. Ahmad Faishol (2016) Pengaruh Sistem Pengendalian Intern Terhadap Kualitas Laporan Keuangan (Studi Kasus Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Lamongan) Sistem Pengendalian Internal (Variabel X) Kualitas Laporan Keuangan (Variebel Y) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem pengendalian internal sangat mempengaruhi keakuratan kualitas laporan keuangan pada SKPD Pemerintah Kabupaten Lamongan 5. Nurul Husna, M. Rasyidin dan Ainun Zairinah (2017) Pengaruh Sistem Pengendalian Internal Pemerintah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara Sistem Pengendalian Internal (Variabel X) Kualitas Laporan Keuangan (Variebel Y) Sistem pengendalian internal pemerintahan berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah aceh utara. Artinya bahwa, semakin baik pelaksanaan unsur SPIP maka semakin baik pula kualitas laporan keuangan pemerintah daerah yang dihasilkan.
6. Anis Magfiroh (2015) Pengaruh Pengendalian Intern Dan Sumber Daya Manusia Bidang Akuntansi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Daerah (Studi Pada Skpd Di Kabupaten Tebo) Pengendalian Internal (Variabel X1 Sumber Daya Manusia (Variabel X2) Kualitas Laporan Keuangan Daerah (Variabel Y) Bahwa variabel pengendalian intern berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan daerah dan variabel sumber daya manusia bidang akuntansi berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan daerah. 7. Emy Dwi Trisnani, Moh. Dimyati dan Hadi Paramu (2017) Pengaruh Sistem Pengendalian Intern Terhadap Keandalan Laporan Keuangan dengan Mediasi Penatausahaan Aset Tetap Sistem Pengendalian Intern (Variabel X1) Keandalan Laporan Keuangan (Variabel Y) Penatausahaan Aset Tetap (Variabel Moderat) bahwa SPI berpengaruh signifikan positif terhadap keandalan laporan keuangan dan penatausahaan aset tetap, penatausahaan aset tetap berpengaruh signifikan positif terhadap keandalan laporan keuangan. 2.4. Kerangka Pemikiran
Pengendalian internal merupakan salah satu fondasi terkuat good
governance. Sistem pengendalian internal meliputi berbagai alat manajemen yang bertujuan untuk mencapai berbagai tujuan yang luas. Tujuan tersebut yaitu
keuangan dan data keuangan, memfasilitasi efisiensi dan efektivitas operasi
perusahaan, dan menjamin pengamanan aset. (Budiawan & Purnomo, 2014).
Penerapan pengendalian intern yang memadai akan memberikan keyakinan yang
memadai atas kualitas atau keandalan laporan keuangan, serta akan meningkatkan
kepercayaan stakeholders. (Magfiroh, 2015)
Berdasarkan pernyataan BPK tahun 2017 atas pemeriksaan Laporan
Keuangan Pemerintah Pusat/ Daerah/ BUMN, dari 15.000 masalah yang di
temukan, 49% berasal kelamahan Sistem Pengendalian Internal. Menurut
(Budiawan & Purnomo, 2014), Masih ditemukannya masalah dalam Laporan
Keuangan yang diperiksa oleh BPK, menunjukan bahwa Laporan Keuangan belum
memenuhi karakteristik/ nilai informasi yang diisyaratkan.
Pengendalian Internal pada hakekatnya adalah suatu mekanisme yang
didesain untuk menjaga (preventif), mendeteksi (detektif), dan memberikan
mekanisme pembetulan (korektif) terhadap potensi/ kemungkinan terjadinya
kesalahan (kekeliruan, kelalaian, error) maupun penyalahgunaan (kecurangan.
(Yasmita, 2012).
Perkembangan suatu perusahaan atau badan usaha bergantung pada
profesionalitas manajemen untuk memajukan dan meningkatkan produktivitas
kegiatan usahanya. Peran manajemen dalam pengambilan keputusan berdasarkan
laporan-laporan perusahaan khususnya laporan keuangan. Laporan Keuangan
merupakan sumber informasi yang digunakan oleh pihak internal dan eksternal,
pihak manajemen dan pihak luar perusahaan, diperlukan pengawasan yang efektif
dari pihak intern perusahaan. (Rokhlinasari & Hidayat, 2016)
Pengendalian Internal dengan kualitas laporan sangat erat kaitannya.
Faishol (2016) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Sistem Pengendalian
Internal terhadap Kualitas Laporan Keuangan, hasil penelitian menunjukkan bahwa
sistem pengendalian internal sangat mempengaruhi keakuratan kualitas laporan
keuangan pada SKPD Pemerintah Kabupaten Lamongan. Penelitian tentang
hubungan Sistem Pengendalian Internal terhadap Kualitas Laporan Keungan yang
diteliti oleh (Trisnani, Dimyati, & Paramu, 2017), (Rokhlinasari & Hidayat, 2016),
(Budiawan & Purnomo, 2014), (Harlinda, 2016), (Faishol, 2016), (Husna, Rasyidin,
& Zairinah, 2017) dan (Magfiroh, 2015), menyatakan Sistem Pengendalian Internal
berpengaruh signifikan positif terhadap keterandalan laporan keuangan artinya
efektifitas penerapan Sistem Pengendalian Internal dapat meningkatkan keandalan
laporan keuangan
Jadi dengan adanya Sistem Pengendalian Internal yang baik kualitas
Laporan Keuangan perusahaan akan baik. Sistem Pengendalian Internal memiliki
tujuan untuk memastikan Laporan Keuangan andal, patuh terhadap hukum dan
peraturan yang berlaku, yang akhirnya akan membuat proses akuntansi berjalan
secara Efektif dan Efisien dan menghasilkan Kualitas Laporan Keuangan yang
2.5. Hipotesis
Berdasarkan Kerangka Pemikiran di atas, maka penulis merumuskan
hipotesis sebagai berikut:
H0 : Sistem Pengendalian Internal berpengaruh negatif terhadap Kualitas Laporan Keuangan.
HA : Sistem Pengendalian Internal berpengearuh positif terhadap Kualitas Laporan Keuangan. Gambar 2. 2 Paradigma Penelitian 1. Relevan 2. Andal 3. Dapat dipahami 4. Dapat dibandingkan Sistem Pengendalian Internal
1. Lingkungan Pengendalian 2. Penilaian Resiko
3. Aktivitas Pengendalian 4. Informasi dan Komunikasi 5. Pegawasan