Abstrak
Dalam upaya mencari jawaban hukum mengenai persoalan muncul dalam kehidupan sehari-hari, lahirlah beragam pendapat dan beragam cara (metode) dengan argumentasi masing-masing. Perbedaan tersebut muncul akibat adanya kecenderungan yang berbeda sebagai akibat adanya perbedaan geografis, sistem sosial budaya, sistem (kecenderungan) hukum serta metode formulasi hukum (istinbat
al-ahkam) yang dijalankan. Tulisan ini berusaha mengelaborasi pandangan Majlis
Tarjih Muhammadiyah tentang nas dan ijtihad dalam mencari pemecahan hukum. Dalam pandangan Majlis Tarjih, Ijtihad lebih dipandang sebagai perangkat analisis untuk mencari pemecahan hukum, bukan sebagai sumber hukum. Implikasinya adalah, ijtihad baru digunakan jika tidak ditemukan ketentuan hukum suatu persoalan dalam sumber hukum utama (nash).
A. Pendahuluan
Syari‘at Islam merupakan manifestasi dari aqidah Islam. Syari‘at ini mengatur hubungan manusia dengan Allah yang biasa disebut dengan
ibadah baik secara individual ataupun kolektif, baik yang muqayyadah
(terikat secara ketat syarat dan rukunnya) maupun muthlaqqah (teknik dan
operasionalnya tidak terikat oleh syarat dan rukun tertentu)1 tetapi juga
mengatur hubungan antara sesama manusia dalam bentuk pergaulan (mu‘âsyarah), hubungan tata cara berkeluarga (munâkahah) maupun
hubungan transaksi untuk mengatur kebutuhan hidup (mu‘âmalah).
Komponen tersebut di atas, merupakan teknis operasional dari
tujuan utama dalam syari‘at Islam (maqâsid al-syarî‘ah)2 yang berhubungan
1
MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fîqh Sosial, (Yogyakarta: LKiS, 1994) ,p. 4-6.
2
Mengenai maqâshid al-Syarî‘ah, secara luas telah mulai dibahas secara sistematis oleh al-Syatibi dalam karyanya al-Muwâfaqât fî Ushûl al-Syarî‘ah, Beberapa karya yang memuat komentar terhadap konsep al-Syatibi ini misalnya lihat Khalid Masud: Islamic Legal Philosophy (Delhi: International Islamic Publishers, 1989) dan juga Asafri Jaya Bakri dalam Konsep Maqashid Syari‘ah Menurut al-Syatibi. (Jakarta: RajaGrafîndo Persada, 1996)
dengan pememeliharaan agama, akal, jiwa, nasab (keturunan) dan harta. Seluruh komponen tersebut dilaksanakan dalam upaya untuk men
capai kesejahteraan lahir batin bagi setiap manusia. 3
Dalam komponen ibadah muqayyadah, tidak terlalu menjadi
persoalan karena selain bersifat statis, syarat dan rukun telah ditentukan secara pasti dan tegas. Hal ini berbeda dengan komponen yang mengatur
hubungan manusia dengan manusia (mu‘âmalah), terdapat banyak hal baru
yang muncul sedangkan syarat dan rukunnya belum dijelaskan secara
tegas dan rinci (ijtihâdiyyah). Di sini muncullah usaha dari para ahli untuk
merumuskan aturan hukum tertentu dalam usaha untuk melaksanakan mu‘amalah tersebut dengan menggunakan metode dan cara tertentu yang disebut dengan ijtihad. Dalam hukum Islam, kajian tentang metode formulasi hukum dikenal dengan usul fiqh.
Penggunaan metode ini tidaklah tunggal dan seragam, akan tetapi berlainan antara satu kelompok dengan yang lainnya. Tulisan ini berusaha untuk menelaah tradisi formulasi hukum yang dikembangkan oleh Majlis Tarjih Muhammadiyah dan Pengembangan Pemikiran Islam (selanjutnya disebut dengan Majlis Tarjih saja). Pembahasan meliputi metode Muhammadiyah dalam memecahkan persoalan kontemporer secara umum yang meliputi penggunaan nas al-Qur’an dan al-sunnah serta kedudukan ijtihad. Pembahasan selanjutnya secara spesifik berusaha melihat cara Muhammadiyah merumuskan hukum, penggunaan argumentasi dan langkah formulasi hukum Majlis Tarjih. Namun sebelum pembahasan lebih lanjut, terlebih dahulu dibahas sekilas tentang Majlis Tarjih, sebuah lembaga di bawah naungan Muhammadiyah, dan peranannya dalam pengembangan hukum Islam.
B. Majlis Tarjih
Majlis Tarjih adalah lembaga di bawah naungan Muhammadiyah yang membidangi masalah keagamaan, khususnya bidang fiqh. Majlis ini dibentuk pada Konggres Muhammadiyah XVII tahun 1928 di Yogyakarta. Semenjak didirikan, lembaga ini telah mengalami perubahan yang cukup signifikan dalam bidang garapannya. Dari namanya, terlihat bahwa semula, lembaga ini didirikan dengan tujuan untuk menyelesaikan persoalan 3
khilafiyah dalam beribadah yang muncul pada waktu itu dan dianggap
rawan oleh Muhammadiyah.4 Penyelesaian ini dipandang perlu karena
khilâfiyyah yang terjadi telah begitu meruncing yang dapat menyusahkan
warga Muhammadiyah.5 Dapat dikatakan bahwa pada mulanya tugas
lembaga ini adalah hanya membuat tuntunan atau pedoman bagi warganya terutama dalam bidang ibadah.
Namun dalam perkembangan selanjutnya lembaga ini tidak hanya terbatas menangani permasalahan khilafiyah saja, tetapi juga membahas persoalan-persoalan baru yang tidak dapat ditemukan pembahasan
sebelumnya. Artinya sekalipun menggunakan nama tarjîh, akan tetapi
tugas lembaga ini tidak semata-mata melakukan klarifikasi terhadap
persoalan yang diperdebatkan (khilâfiyyah), tetapi merambah kepada
perumusan terhadap persoalan-persoalan kontemporer yang tidak
ditemukan ketentuan hukumnya.6
Karena semakin banyak dan kompleksnya tugas yang harus diemban oleh Majlis Tarjih, maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1971 menetapkan tugas utama Lajnah Tarjih. Tugas Lajnah Tarjih
tidak hanya melakukan tarjîh diantara pendapat yang ada, tetapi juga
mengeluarkan fatwa keagamaan. Tugas pokok Majlis Tarjih ini kemudian termuat dalam pedoman Majlis Tarjih yang disebut dengan Qaidah Lajnah Tarjih Muhammadiyah pasal 2 yaitu:
1. Menyelidiki dan memahami ilmu agama Islam untuk
memperoleh kemurniannya.
2. Menyusun tuntunan Aqidah, Akhlaq, Ibadah dan Mu‘amalah
Dunyawiyyah.
4
Tarjih dalam ilmu Ushul fiqh adalah menganggap kuat satu diantara dua dalil untuk diamalkan. Lihat. Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, (ttp.: Dâr al-fîkr al-Arabi, t.t.), p. 396
5
Asjmuni Abdul Rahman, et.al. Majlis Tarjih Muhammadiyah, (Yogyakarta: Lembaga Research dan Survey IAIN Sunan Kalijaga, 1985), p. 23 dan 37.
6
Untuk melihat lebih lanjut pembahasan dalam Majlis Tarjih tentang masalah kontemporer, lihat PP Muhammadiyah dalam Himpunan Keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah. Perubahan secara signifîkan terjadi pada awal tahun 1960-an ketika Muktamar yang diadakan di Pekajangan-Pekalongan memasukan persoalan mengenai perburuhan, pembatasan kelahiran dan juga hak milik walaupun tidak sampai kepada keputusan hukum.
3. memberi fatwa dan nasehat, baik atas permintaan maupun tarjih sendiri memandang perlu.
4. Menyalurkan perbedaan pendapat/faham dalam bidang
keagamaan ke arah yang lebih maslahat.
5. mempertinggi mutu ‘Ulama.
6. Hal-hal lain dalam keagamaan yang diserahkan oleh pimpinan
Persyarikatan.7
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa lembaga ini adalah lembaga ijtihad di bawah naungan Muhammadiyah dengan tugas utama menyelesaikan persoalan keagamaan, terutama persoalan baru yang memerlukan kejelasan status hukum, yang muncul dan dihadapi oleh
umat Islam dengan cara berijtihad secara kolektif (ijtihâd jamâ‘î)
Sebagai sebuah lembaga fatwa yang berusaha melakukan ijtihad, Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam merumuskan hukum mempunyai metode tertentu sesuai dengan kecenderungan yang dianutnya dan sekaligus menjadi ciri khas lembaga tersebut dalam upaya melakukan formulasi hukum jika dibandingkan dengan lembaga fatwa yang lainnya sehingga lahir pula putusan hukum sebagai hasil dari metode yang dianutnya.
C. Muhammadiyah dan Persoalan Mu‘amalah Kontemporer
Pada hakekatnya, pemikiran Islam, termasuk hukum Islam merupakan hasil olah pikir kaum muslimin yang dilakukan untuk mencari pemecahan terhadap beragam persoalan yang dihadapi. Pemikiran tersebut, sudah barang tentu berpijak kepada al-Qur’an dan al-Hadis sekaligus juga memberi pengarahan ke arah mana sebuah pemikiran harus dikembangkan. Jika hasil sebuah pemikiran tidak dapat dikembalikan kepada keduanya, maka pemikiran tersebut tidak mempunyai legitimasi. Namun demikian, tetap saja dijumpai beragam pemikiran yang berkembang di kalangan kaum muslimin. Keragaman tersebut disebabkan adanya bermacam-macam persepsi dan perbedaan interpretasi yang dikembangkan oleh kelompok-kelompok yang ada di kalangan umat 7
Lihat Qaidah Lajnah Tarjih Muhammadiyah, (Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majlis Tarjih, 1971), p. 2.
Islam, terutama berkaitan dengan persoalan baru yang tidak dijumpai preseden sebelumnya yang dapat dijadikan pegangan.
Munculnya berbagai persoalan baru yang dihadapi oleh kaum muslimin, menimbulkan beragam persepsi pada kelompok-kelompok kaum muslimin yang dikembangkan dengan interpretasi yang berbeda pula. Muhammadiyah, melalui Majlis Tarjihnya, telah berusaha mengikuti perkembangan tersebut dan juga memberikan solusinya. Muhammadiyah
berkeyakinan bahwa sumber ajaran Islam adalah al-Qur’an dan al-Sunnah
al-Sahihah. Tentu saja penalaran cerdas tidak dapat diabaikan, terutama dalam memahami dan menyelesaikan masalah yang sama sekali baru dan tidak didapatkan nas yang secara tegas mengaturnya. Dengan demikian, ijtihad mempunyai peranan yang strategis bagi perekembangan pemikiran dan sekaligus dalam menyelesaikan persoalan.
1. Kedudukan al-Qur’an dan al-Sunnah
Telah disepakati bahwa al-Qur’an dan al-Sunnah adalah sumber utama hukum Islam dan setiap pemikiran keislaman harus didasarkan
kepada keduanya.8 Keyakinan seperti ini juga dipegang oleh
Muhammadiyah. Dalam memutuskan persoalan hukum yang muncul, hal yang mula-mula dilakukan oleh Majlis Tarjih adalah dengan melihat dalil nas al-Qur’an dan al-Sunnah karena keduanya adalah sumber utama dalam
Islam.9 Dalam pandangan Majlis Tarjih, setiap pemikiran keagamaan yang
dikembangkan, harus mengacu kepada keduanya, setelah itu baru melihat kepada sumber yang lainnya. Sumber lainnya ini diperlukan untuk mendukung pemahaman yang dibangun berdasarkan nas Keyakinan seperti inilah yang dipegang oleh Muhammadiyah. Dalam hasil keputusan muktamar Tarjih tahun 1955, secara tegas dinyatakan bahwa sumber 8
Sekalipun demikian, ada sebagian kelompok kecil kaum muslimin yang menolak al-sunnah sebagai sumber hukum Islam. Bagi mereka, sumber hukum Islam hanya al-Qur‘an saja. Kelompok ini biasa disebut dengan kelompok inkar al-sunnah.
Namun kelompok ini tidak populer di kalangan kaum Muslimin. Lihat Muhammad Mustafa al-Siba‘i: al-Sunnah wa Makânatuhâ fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, (Kairo: Dar Kutub al-‘Arabiyyah, t.t); Ali Mustafa Ya‘qub: Kritik Hadis, (Jakarta: Pustaka Fîrdaus, 1995), p. 39-59.
9
utama hukum dalam Islam adalah al-Qur’an dan al-Sunnah al-Sahihah.10 Jika
terdapat persoalan hukum yang muncul, maka dalam memutuskan hukum harus merujuk kepada al-Qur’an dan al-Sunnah.
Al-Qur’anlah yang dijadikan rujukan utama sebelum yang lainnya. Sedangkan fungsi Hadis terhadap al-Qur’an adalah sebagai penjelas. Sebagai penjelas terhadap ketentuan yang ada dalam al-Qur’an, tentunya ketentuan yang ada dalam Hadis tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an. Jika Hadis tersebut sesuai dengan ketentuan al-Qur’an, maka Hadis tersebut dapat dijadikan landasan hukum. Sedangkan jika bertentangan dengan ketentuan
al-Qur’an, maka hadis tersebut harus ditolak.11 Melihat kenyataan
bahwa tidak semua Hadis sesuai dengan ketentuan al-Qur’an, maka Muhammadiyah hanya menyatakan bahwa yang dapat digunakan sebagai dasar hukum adalah Hadis yang valid (Sunnah
yang sahih/al-Sunnah al-Sahihah) saja. Pernyataan ini dapat
dijumpai dalam Pendapat Majlis Tarjih terhadap validitas dalil dalam agama Islam: “Di dalam beristidlal, dasar utamanya adalah
al-Qur’an dan as-Sunnah ash-Shahihah...12
Agama yakni Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad
saw. ialah apa yang diturunkan Allah di dalam Qur’an dan yang
tersebut di dalam Sunnah yang sahih...13
Pernyataan di atas menunjukan bahwa Qur’an dan juga
al-Sunnah terutama al-sunnah al-shahîhah mempunyai peranan yang sentral
dalam merumuskan keputusan hukum. Setiap rumusan hukum yang diputuskan tidak boleh menyimpang dari nas. Dengan demikian, sumber
utama yang diyakini Muhammadiyah adalah al-Qur’an dan Sunnah
al-Shahîhah. Namun, kriteria apa yang dijadikan pedoman bahwa sebuah hadis adalah sahih dan yang lainnya adalah da‘if?
10
Lihat Putusan tentang Kitab Masalah Lima dalam Himpunan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah, (Yogyakarta: PP Muhammadiyah, t.t.), p. 276-278. Bandingkan juga dengan Fathurrahman Djamil, Metode Ijtihad Majlis Tarjih Muhammadiyah,( Jakarta: Logos Publishing House, 1995), p. 70
11
Bandingkan dengan ‘Ajjaj al-Khatib, Ushûl al-Hadîs, ‘Ulûmuh wa Musthalâhatuh, (Beirut: Da>r al-Fîkr, 1989), p. 434.
12
Lihat Pokok-Pokok Manhaj Majlis Tarjih nomor 1.
13
Dalam menentukan validitas hadis, terdapat dua mazhab utama yang berkembang di kalangan ahli Hadis. Pertama adalah kelompok yang hanya mencukupkan kesahihan sanad untuk menilai hadis yang sahih. Jika sanad hadis yang ada dipandang valid dan meyakinkan, maka hadis tersebut dianggap sebagai hadis sahih. Kedua adalah golongan yang
mensyaratkan matan hadis (matn al-hadîs) harus valid, tidak bertentangan
dengan kandungan ayat al-Qur’an selain sanad juga hadis harus sahih. Konsekuensi dari dua mazhab ini adalah, bagi kelompok pertama, dapat saja terjadi kandungan matan berbeda dengan kandungan ayat. Sedangkan bagi kelompok kedua, salah satu untuk menentukan kesahihan hadis, selain didasarkan kepada validitas sanad juga matan hadis harus diuji dengan al-Qur’an. Jika kandungan hadis yang ada sesuai dengan kandungan ayat al-Qur’an, maka hadis tersebut dapat diterima dan sebaliknya.14
Dari dua kecenderungan tersebut, sebagaimana hasi penelitian Fathurrahman Djamil, Muhammadiyah lebih cenderung berpedoman kepada kelompok yang mendasarkan kesahihan hadis berdasarkan sanadnya saja. Artinya jika sebuah hadis mempunyai sanad yang sahih, maka cukup bagi Muhammadiyah untuk menjadikannya sebagai dasar hukum. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa dalam menilai sebuah Hadis, Muhammadiyah menggunakan sikap yang dipegang oleh al-Syafi‘i, yaitu, kesahihan hadis cukup dilihat dari segi sanad yang ada. Hadis yang telah diketahui mempunyai sanad yang sahih dapat digunakan sebagai
dasar hukum.15
Sikap ini diperkuat dengan ketentuan manhaj ijtihad majlis Tarjih yang dibuat oleh Muhammadiyah. Dalam ketentuan tersebut, hanya diatur
tentang cara menggunakan Hadîs Mawqûf, Mursal Shahâbi dan Mursal Tâbi‘î,
14
Termasuk kelompok pertama adalah al-Syafî‘î sedangkan kelompok kedua antara lain Malik bin Anas. Lihat: Muhammad ‘Ujâj al-Khatib, Ushul al-Hadîs...., (Beirut: Dar al-Fîkr, t.t.), p. 188-190
15
Fathurrahman Djamil, Metode Ijtihad..., p. 72. Untuk membuktikan thesisnya ini, Fathurrahman Djamil mengemukakan beberapa contoh hadis yang tercantum dalam Himpunan Putusan majlis Tarjih Muhammadiyah (HPT) yang dipandang hanya didasarkan kepada validitas sanad saja karena jika dikomparasikan dengan ayat al-Qur’an, kandungan matan hadis tidak sinergis. Lihat juga Azhar Basyir, “Imam al-Syafî‘i Mujaddid Pembela al-Sunnah”. Suara Muhammadiyah, (No. 02/76, tahun 1991), p. 12-13.
serta cara menilai validitsas perawi hadis. Istilah-istilah tersebut hanya dikenal dalam bidang kritik sanad Hadis, bukan kritik matan. Sikap ini
termasuk pula dalam ketentuan tentang Hadis dla‘îf yang dapat dijadikan
hujjah. Hadis dla’îf hanya dapat digunakan sebagai hujjah jika hadis
tersebut diriwayatkan dengan sanad yang banyak. Jadi tidak menyinggung tentang validitas matan hadis. Hal ini dapat dilihat dalam Pokok-pokok Manhaj Majlis Tarjih mengenai hadis:
Dalam menggunakan Hadis, terdapat beberapa qaidah yang telah menjadi Keputusan Majelis Tarjih sebagai berikut:
a. Hadis Mauquf tidak dapat dijadikan hujjah...
b. Hadis Mauquf yang dihukumi marfu‘ dapat dijadikan
hujjah...
c. Hadis Mursal Sahabi dapat dijadikan hujjah apabila ada
qarinah yang menunjukan persambungan sanad.
d. Hadis Mursal tabi‘i semata tidak dapat dijadikan hujjah...
e. Hadis-hadis yang kuat menguatkan, tidak dapat dijadikan
hujjah, kecuali jika banyak jalan periwayatannya, ada qarinah yang dapat dijadikan hujjah dan tidak bertentangan dengan
al-Qur’an dan Hadis Sahih.16
Dari segi matan Hadis, Fathurrahman Djamil menyatakan bahwa
ternyata Muhammadiyah tidak begitu memperhatikan dan
mengembangkan tolok ukur untuk menguji kesahihan sebuah Hadis dari
segi kritik matan Hadis (naqd matn al-Hadîs).17 Kritik matan bukanlah
pertimbangan utama dalam menilai kesahihan sebuah hadis. Menurutnya, terdapat indikasi yang kuat bahwa dalam beberapa putusan Majelis Tarjih, Hadis yang digunakan sebagai dasar putusan adalah Hadis yang diduga oleh sementara pihak sebagai hadis yang mempunyai matan yang tidak
sejalan dengan ketentuan al-Qur’an.18 Salah satu contohnya adalah hadis
tentang hukum membayar puasa untuk orang yang telah meninggal dunia. Putusan hukum yang dihasilkan adalah didasarkan atas Hadis yang 16
Lihat “Pokok-Pokok Manhaj Majlis Tarjih yang Telah Dilakukan dalam Menetapkan Keputusan” poin ke 18.
17
Penilaian validitas sebuah Hadis didasarkan atas dasar validitas sanad (perawian/ perawi yang dijadikan sandaran ) Hadis dan juga validitas matan (isi/ketentuan Hadis). Lihat Ujjaj al-Khatib, Ushûl al-Hadîs,..., p. 434.
18
diriwayatkan oleh Aisyah yang menyatakan bahwa wali bagi seorang yang meninggal sedangkan ia berhutang puasa, maka wali tersebut harus berpuasa untuk orang tersebut.
ل ا لر نأ
:
م م و ت
و
19Dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa mati dan masih mempunyai kewajiban berpuasa, maka walinya yang membayarnya dengan berpuasa
Hadis di atas menunjukkan bahwa seseorang yang dalam perwaliannya meninggal dalam keadaan berpuasa, maka wali harus berpuasa untuk orang tersebut. Ketentuan ini tidak sesuai dengan ketentuan Firman Allah dalam Q.S. al-Najm(53): 39.
إ ن !" # نأ و
Sesungguhnya manusia hanya mempunyai apa yang ia usahakan
Ayat al-Qur’an ini menyatakan bahwa manusia hanya memperoleh balasan hanya dari amal perbuatannya.
Namun demikian, sikap Majlis Tarjih tersebut bukannya tidak beralasan. Sikap hanya menekankan pada validitas sanad saja, sehingga dalam aplikasinya memunculkan pertentangan antara ayat dengan hadis, berpedoman pada landasan us}ul fiqh tentang kedudukan al-Sunnah terhadap al-Qur’an. Di kalangan ahli usul fiqh, terdapat pendapat yang menyatakan bahwa preseden yang menunjukkan seolah terjadi pertentangan antara ayat dengan hadis seperti yang terdapat dalam hadis dan ayat tersebut di atas bukanlah merupakan pertentangan melainkan pentakhsisan. Hadis berfungsi untuk memberi batasan yang bersifat khusus terhadap ketentuan ayat yang masih bersifat umum. Dalam kasus tersebut, kedudukan Hadis sebagai pentakhsis dari ayat al-Qur’an yang bersifat umum.
Akan tetapi sikap seperti ini dapat menimbulkan kebingungan dalam bersikap. Tidak ada jaminan bahwa sebuah Hadis secara tegas
merupakan takhsis dari ayat al-Qur’an. Betapapun isi dari redaksi matan
Hadis adalah hal yang strategis dan bagian yang penting dari hadis seperti
19
halnya sanad Hadis. Dengan demikian, untuk menentukan validitas Hadis, tidak semata-mata didasarkan kepada validitas sanad, akan tetapi juga dari
segi matannya.20
2. Kedudukan Ijtihad
Ijtihad,21 sebagai gerakan intelektual Islami, dalam perkembangan
pemikiran hukum Islam mempunyai peranan yang sangat menentukan, terutama dalam menyelesaikan berbagai masalah hukum kontemporer yang dihadapi. Dengan demikian, ijtihad mempunyai kedudukan yang penting dalam pemikiran Islam. Bagaimana Muhammadiyah memandang ijtihad?
Ijtihad digunakan dalam menjawab persoalan baru yang tidak
dapat ditemukan nas yang tegas (sharîh) dalam al-Qur’an dan al-Sunnah,
sepanjang tidak menyangkut masalah ‘ibadah mahdlah, maka digunakan
ijtihad dengan jalan Iistinbat dari nas yang ada melalui persamaan ‘illat
(qiyâs). Dengan demikian, ijtihad hanya digunakan jika tidak ada ketentuan hukumnya dalam nas atau terdapat ketentuan hukum tetapi tidak secara tegas.
Bagi Muhammadiyah, ijtihad, sebagaimana tertuang dalam ketentuan manhaj hukum, lebih dipandang sebagai metode penetapan hukum, daripada sebagai sumber hukum. Ijtihad dianggap sebagai sarana dan metode untuk mencari jawaban tentang persoalan yang dihadapi oleh umat Islam kepada sumbernya yang utama yaitu al-Qur’an dan H}adis. Dengan demikian, dalam pandangan Majlis Tarjih Muhammadiyah, ijtihad bukanlah sumber hukum, tetapi metode menemukan hukum. Artinya, kedudukan ijtihad hanya sebagai jalan untuk mencari jawaban terhadap persoalan yang muncul.
...ijtihad dan istinbat atas dasar ‘Illah terhadap hal-hal yang tidak terdapat di dalam nash dapat dilakukan, sepanjang tidak menyangkut bidang ta‘abbudi, dan memang merupakan hal yang dihajatkan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.
20
Buku yang membahas tentang peranan penting matan hadis misalnya lihat. Fazlur Rahman, Islamic Methodology and History, (London: Oxford University, 1978)
21
Di kalangan ulama ushul fiqh, Ijtihad didefinisikan sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk mencari pemecahan hukum syara‘ tentang suatu masalah dengan cara melakukan istinbat (analisis) terhadap nas.
Dengan perkataan lain, Majlis Tarjih menerima ijtihad, termasuk qiyas sebagai cara dalam menetapkan hukum yang tidak ada
nashnya secara langsung.22
Jadi ijtihad bagi Muhammadiyah hanya sebagai sarana untuk mencari pemahaman hukum yang lebih tepat, bukan merupakan sumber dalam hukum Islam. Ijtihad dilakukan secara bersama oleh anggota Majlis Tarjih (ijtihâd jamâ‘î)23
Adapun bentuk ijtihad yang diakui Muhammadiyah, pada dasarnya Majlis Tarjih Muhammadiyah menerima metode ijtihad yang digunakan oleh para ahli fiqh terdahulu seperti qiyas dan lainnya. Artinya, Majlis Tarjih tetap mengakui metode yang telah dikembangkan dalam usul fiqh sebagai metode istinbat hukum yang tetap dapat digunakan dan mengakui qiyas sebagai salah satu metode formulasi hukum. Akan tetapi, terhadap Ijma‘, Majlis Tarjih lebih cenderung kepada pendapat yang hanya mengakui Ijma‘ Sahabat saja, karena selain periode Sahabat, sangat susah untuk dapat terjadi konsensus pendapat terhadap hal keagamaan ataupun yang lainnya di kalangan umat Islam. Hal ini karena pada periode ini jumlah umat Islam masih sedikit dan terpusat pada jazirah Arab sehingga memungkinkan untuk terjadi konsensus pendapat di kalangan mujtahid yang ada. Sedangkan periode setelah Sahabat umat Islam telah tersebar
luas dan tidak mungkin dapat terjadi Ijma‘.24
Sedangkan metode ijtihad yang digunakan Majlis Tarjih dalam merumuskan keputusan hukum, Majlis Tarjih telah berusaha 22
Pokok-Pokok Manhaj Majlis Tarjih..., no. 1
23
Dalam ketentuan pokok manhaj Majlis tarjih dinyatakan bahwa: Dalam memutuskan sesuatu keputusan dilakukan dengan cara musyawarah. Dalam menetapkan masalah ijtihadiyyah digunakan sistem ijtihad jama‘i. (Pokok-pokok manhaj Majlis Tarjih no.2.)
24
Lihat Pokok-Pokok.... no. 6. Di kalangan Ahli Ushul Fîqh, Ijma‘ secara umum didefînisikan sebagai kesepakatan seluruh mujtahid umat Islam yang ada setelah Rasulullah meninggal mengenai kasus tertentu yang berkaitan dengan hukum syara‘. Lihat: Abdul Wahhab Khallaf, ‘Ilmu Ushûl al-Fîqh, (Mesir: Dâr al-‘Ilm li al-Arab, t.t.), hlm. 47. Dalam kajian Usul Fîqh, sebenarnya pendapat yang hanya mengakui otoritas Sahabat telah berkembang pada beberapa kalangan seperti Mazhab Zahiriyah yang didirikan oleh Daud al-Zahiri. Sedangkan Imam Malik mengakui ijma‘ penduduk Madinah dapat dijadikan hujjah hukum. Penjelasan Lebih Lanjut Lihat Wahbah al-Zuhailî, Usul al-Fîqh al-Islamiy, (Beirut: Dar al-Fîkr: 1986), I: 325.
meningkatkan kualitas metode yang dianut. Pada mulanya Muhammadiyah
hanya menggunakan metode ijtihâd intiqâ‘î atau ijtihâd tarjîhî.25 Di sini,
peran Majlis Tarjih hanya melakukan seleksi pendapat dari beragam pendapat yang berkembang mengenai sebuah persoalan. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, mulai tahun 1968, Muhammadiyah mulai
mengembangkan metode ijtihadnya mengarah kepada ijtihâd insyâ‘î atau
ijtihâd ibtidâ‘î.26 Ijtihad yang terakhir ini dilakukan sebagai pengaruh
perkembangan pengetahuan dan tekhnologi yang melahirkan berbagai persoalan yang tidak dapat ditemukan ketentuannya secara khusus dalam nas al-Qur’an dan Hadis, serta tidak ada pembahasan yang dilakukan oleh para ahli fiqh sebelumnya. Ijtihad ini dapat ditempuh dengan menjelaskan
nash (ijtihâd bayânî), melakukan analogi (ijtihâd qiyâsî) dan juga penalaran
atas dasar maslahat (ijtihâd istishlâhî).27
Ijtihâd bayânî dilakukan terhadap nas yang masih bersifat mujmal, baik karena belum jelas maknanya ataupun lafaz yang terdapat dalam nas
mengandung makna ganda (musytarak) atau juga pengertian lafaz tersebut
jika dihubungkan dengan konteks pembicaraan dalam nash mempunyai
makna yang jumbuh (mutasyâbihât). Penerapan ijtihad bayani ini juga
dilakukan terhadap dalil-dalil yang saling bertentangan (ta‘ârudl) Dalam
melakukan penjelasan terhadap dalil yang bersifat ta‘ârudl ini, pertama
dilakukan melalui jalan mengkompromikan dan tawfîq. Jika cara ini tidak
berhasil, maka dilakukan upaya tarjih (memilih pendapat yang dipandang paling valid di antara pendapat yang ada).
Adapun Ijtihâd qiyâsî dilakukan dengan upaya menyamakan status
hukum satu persoalan baru yang tidak ada ketentuannya dalam nas secara 25
Yang dimaksud dengan ijtihad intiqâ‘i atau ijtihad tarjîhi adalah ijtihad yang dilakukan untuk memilih pendapat para ahli fîqh terdahulu mengenai masalah-masalah tertentu, kemudian menyeleksi mana yang lebih kuat dalilnya dan lebih relevan dengan kondisi yang dihadapi sekarang. Lihat Yusuf al-Qardawi, ijtihâd fî Syarî‘at al-Islâmiyyat ma‘a nazratin tahlîliyyat fî al-ijtihâd al-Mu‘âshir baina al-Indlibât wa al-Infîrât, (Ijtihad Kontemporer) alih Bahasa Abu Barzani, (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), p. 23-25.
26
Sedangkan yang dimaksud dengan ijtihâd insyâ‘î atau intiqâ‘î adalah usaha untuk mengambil kesimpulan hukum mengenai peristiwa-peristiwa baru ataupun lama yang belum diselesaikan permasalahannya oleh para ahli fîqh terdahulu. Lihat Yusuf al-Qardawi, Ibid., p. 43-47.
27
Lihat Fathurrahman Djamil, metode Ijtihad Majlis Tarjih Muhammadiyah,
jelas, dengan cara mencari persoalan yang telah ada ketentuan hukumnya
secara tegas karena adanya kesamaan ‘illah. Penerapan metode ini hanya
bisa dilakukan jika daalam nas terdapat ketententuan yang mengatur sebuah persoalan, sedangkan persoalan baru yang muncul mempunyai persamaan unsur dengan persoalan yang ada dalam nas.
Sedangkan ijtihâd istishlâhî, diterapkan terhadap masalah yang tidak
ada ketentuan secara khusus dalam nas ataupun juga tidak ada padanannya. Dengan demikian metode ini mencakup semua persoalan
yang tidak dapat dipecahkan melalui kedua metode di atas.28
Ketiga bentuk ijtihad ini secara tegas dinyatakan dalam Pokok-Pokok Manhaj Majlis Tarjih sebagai berikut:
Jalan Ijtihad yang telah ditempuh meliputi:
a. Ijtihad Bayani, yaitu ijtihad terhadap nash yang mujmal, baik
karena belum jelas makna lafadh yang dimaksud maupun karena lafadh itu mengandung makna ganda..., mempunyai arti yang jumbuh (mutasyabihat), ataupun adanya beberapa dalil yang bertentangan (ta‘arudh). Dalam hal yang terakhir digunakan ijtihad dengan jalan tarjih, apabila tidak dapat ditempun dengan cara Jama‘ dan Tawfiq.
b. Ijtihad Qiyasiy, yaitu menyeberangkan hukum yang telah ada
nashnya kepada masalah baru yang belum ada hukumnya berdasarkan nash, karena adanya kewsamaan ‘illah.
c. Ijtihad Ishtishlahiy, yaitu ijtihad terhadap masalah yang tidak
ditunjuki nash sama sekali secara khusus, maupun tidak adanya nash mengenai masalah yang ada kesamaannya. Dalam masalah yang demikian penetapan hukum dilakukan berdasarkan ‘illah
untuk kemaslahatan.29
Dengan demikian, secara umum, Majlis Tarjih menggunakan tiga
bentuk ijtihad yaitu pertama al-ijtihâd al-bayânî, yaitu menjelaskan hukum
yang kasusnya telah terdapat dalam nash al-Qur’an dan Hadis. kedua,
al-Ijtihâd al-Qiyâsî, yaitu berusaha menyelesaikan kasus baru dengan melakukan analogi dengan kasus yang hukumnya telah diatur dalam
28
Ibid
29
Qur’an dan Hadis. Ketiga, al-Ijtihâd al-Istishlâhî, yaitu menyelesaikan beberapa kasus baru yang tidak dapat ditemukan sama sekali ketentuannya dalam al-Qur’an dan al-Hadis dengan cara melakukan analisis penalaran
dengan didasarkan atas prinsip maslahat.30
3. Pendapat Ahli Hukum Islam
Selain merujuk langsung kepada nash al-Qur’an dan al-Hadis serta berupaya maksimal melakukan ijtihad hukum, salah satu upaya mencari jawaban terhadap persoalan hukum yang dihadapi adalah dengan cara mencari pendapat ahli hukum Islam yang telah ada. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa mereka adalah orang yang berkompeten untuk melakukan pencarian jawaban terhadap masalah yang muncul dengan perangkat yang dimiliki. Bahkan sebagian kelompok muslim melakukan langkah antisipatif dengan melihat kepada pendapat-pendapat yang berkembang sebelum merujuk kepada nash al-Qur’an dan Hadis. Terdapat pula kelompok yang secara tegas mengikatkan diri kepada mazhab
tertentu, baik dari segi pendapat hukum (qawlî) ataupun metode formulasi
hukum (manhajî )
Dari segi ini, Muhammadiyah menyatakan bahwa Majlis Tarjih adalah lembaga fatwa yang independen dari mazhab tertentu dan tidak mengikatkan diri kepada mazhab hukum Islam tertentu. Artinya, dalam merumuskan hukum, Muhammadiyah tidak menyatakan bahwa pendapat tersebut berpegang kepada mazhab tertentu yang berkembang. Pendapat dan metode yang ada bagi Muhammadiyah bukanlah hal yang harus diikuti secara rigid, akan tetapi hanya sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan hukum terhadap persoalan yang muncul. Jika sebuah pendapat hukum dinilai sesuai dengan ketentuan atau didukung dengan nas}, maka dapat diterima oleh Majlis Tarjih sebagai bahan menentukan hukum. Sikap ini dapat ditemukan dalam Pokok-Pokok Manhaj yang menyatakan:
Tidak mengikatkan diri kepada suatu mazhab, tetapi
pendapat-pendapat imam-imam mazhab dapat menjadi bahan
pertimbangan dalam menetapkan hukum, sepanjang sesuai 30
dengan jiwa al-Qur’an dan al-Sunnah atau dasar-dasar lain yang
dipandang kuat.31
Pendapat para ahli hukum Islam bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan hukum jika pendapat tersebut sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dipegang oleh Muhammadiyah. Namun demikian, Majlis Tarjih tidak beranggapan bahwa pendapatnya yang dihasilkan dari manhaj yang dibuat adalah pendapat yang paling benar. Majlis Tarjih Muhammadiyah hanya berpendapat bahwa hasil formulasi hukum yang direkomendasikan merupakan salah satu alternatif jawaban dari alternatif-alternatif yang ada. Muhammadiyah tetap beranggapan bahwa pendapatnya hanyalah salah satu dari sekian jawaban yang berkembang. Secara eksplisit Majlis Tarjih menyatakan:
Berprinsip terbuka dan toleran, dan tidak beranggapan bahwa
hanya keputusan Majlis tarjih yang paling benar.32
Dengan demikian, jelaslah bahwa mazhab hukum dalam pandangan Majlis Tarjih hanya sebagai bahan pertimbangan saja dalam memecahkan persoalan hukum yang dihadapi. Pendapat tersebut dapat diterima jika dipandang sesuai dengan semangat al-Qur’an dan Hadis. Jika bertentangan dengan keduanya, maka pendapat tersebut ditolak.
D. Penutup
Dalam memutuskan sebuah putusan hukum di kalangan Majlis Tarjih Muhammadiyah, terlihat bahwa hal yang mula-mula dilakukan oleh
Majlis Tarjih adalah merujuk kepada nash al-Qur’an dan Sunnah
al-Sahihah dengan upaya melakukan istinbat hukum. Kriteria kesahihan sunnah, lebih ditekankan kepada validitas sanad, sedangkan matan hadis tidak begitu dipersoalkan. Setelah itu baru merujuk kepada yang lainnya
termasuk melakukan ijtihad secara kolektif (jtihâd jamâ‘î) dalam bentuk
ijtihad bayânî, qiyâsi dan istishlahi, dan juga melihat kepada pendapat ahli hukum Islam yang ada sebagai bahan pertimbangan dalam memutuskan hukum. Pendapat ahli hukum hanya bisa dijadikan bahan pertimbangan jika menurut Majlis Tarjih dipandang sesuai dengan al-Qur’an dan hadis. 31
Pokok-pokok Manhaj.... no. 3
32
Jika dipandang tidak sesuai dengan al-Qur`an dan hadis, maka pendapat tersebut diabaikan.
Bibliografi
Abdul Rahman, Asjmuni, et.al. Majlis Tarjih Muhammadiyah, Yogyakarta:
Lembaga Research dan Survey IAIN Sunan Kalijaga, 1985.
Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, ttp.: Dar al-fikr al-Arabi, t.t.
al-Khatib, Muhammad Ajaj, Ushûl al-Hadîs, ‘Ulûmuh wa Musthalâhatuh,
Beirut: Dar al-Fikr, 1989
Basyir, Azhar, “Imam al-Syafi‘i Mujaddid Pembela al-Sunnah”, Suara
Muhammadiyah, No. 02/76, tahun 1991.
Djamil, Fathurrahman, Metode Ijtihad Majlis Tarjih Muhammadiyah, Jakarta:
Logos Publishing House, 1995.
Himpunan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah, Yogyakarta: PP Muhammadiyah, t.t.
Jaya Bakri, Asafri, Konsep Maqashid Syari‘ah Menurut al-Syatibi, Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 1996
Ka‘bah, Rifyal, Hukum Islam di Indonesia, Perspektif Muhammadiyah dan NU,
Jakarta: Universitas Yarsi, 1999
Khallaf, Abdul Wahhab, ‘Ilmu Ushûl al-Fiqh, Mesir: Dâr al-‘Ilm li al-Arab,
t.t.
Mahfudh, MA Sahal, Nuansa Fiqh Sosial, Yogyakarta: LKiS, 1994.
Masud, Khalid, Islamic Legal Philosophy, Delhi: International Islamic
Publishers, 1989
Mustafa Ya‘qub, Ali, Kritik Hadis, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995.
PP Muhammadiyah Himpunan Keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah.
PP Muhammadiyah, Himpunan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah,.
Qaidah Lajnah Tarjih Muhammadiyah, Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majlis Tarjih, 1971,
Qardawi, Yusuf, al-Ijtihad fî al-Syarî‘at al-Islâmiyyat ma‘a nazratin tahlîliyyat fî
al-Ijtihâd al-Mu‘âsir baina al-Indibât wa al-Infirât, (Ijtihad Kontemporer) alih Bahasa Abu Barzani, Surabaya: Risalah Gusti, 1995.
Rahman, Fazlur, Islamic Methodology and History, London: Oxford
University, 1978.
Siba‘i, Muhammad Mustafa al-Sunnah wa Makânatuhâ fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî,
Kairo: Dâr al-Kutub al-‘Arabiyyah, t.t.