Konsep Pemikiran Al 'Ijazul Al 'Ilmi (Mu'jizat Ilmiah) Harun Yahya Dalam Analisis Pemberdayaan Masyarakat Islam

Teks penuh

(1)

TESIS

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Guna Memperoleh Gelar Magister Dalam Ilmu Pengembangan Masyarakat Islam Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Raden Intan

Lampung

Oleh

HERI HARDANI BAIHAKI NPM 1424010002

PROGRAM STUDI ILMU DAKWAH

KONSENTRASI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM

PROGRAM PASCASARJANA (PPs) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

(2)

TESIS

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Guna Memperoleh Gelar Magister Dalam Ilmu Pengembangan Masyarakat Islam Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Raden Intan

Lampung

Oleh

HERI HARDANI BAIHAKI NPM 1424010002

Pembimbing I : PROF. DR. H. MA. ACHLAMI, HS, MA Pembimbing II : DR. H. ABDUL SYUKUR, MA

PROGRAM STUDI ILMU DAKWAH

KONSENTRASI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM

PROGRAM PASCASARJANA (PPs) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

(3)

Nama : Heri Hardani Baihaki

NPM : 1424010002

Program Studi : Ilmu Dakwah

Konsentrasi : Pengembangan Masyarakat Islam (PMI)

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang berjudul KONSEP PEMIKIRAN I’JÂZUL AL- I’LMI HARUN YAHYA DALAM ANALISIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ISLAM adalah benar-benar karya asli saya, kecuali sumbernya. Apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan di dalamnya, maka menjadi tanggung jawab saya.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Bandar Lampung, Maret 2016 M. Yang menyatakan,

(4)

duniaw maupun ukhrawi. Era modern sekarang ini khususnya dalam bidang sains dan teknologi mengalami perkembangan yang begitu pesat bagi kehidupan manusia. Setiap waktu para ahli dan ilmuwan terus mengkaji dan meneliti sains dan teknologi sebagai penemuan yang paling canggih dan modern. Keduanya sudah menjadi simbol kemajuan pada abad ini. Oleh karena itu, apabila ada suatu bangsa atau masyarakat yang tidak mengikuti perkembangan sains dan teknologi, maka bangsa atau negara itu dapat dikatakan negara yang tidak maju dan terbelakang.

Penelitian Al ‘ijâz Al‘ilmi ini bertujuan untuk mengetahui pesan-pesan dakwah ilmiah yang terkandung dalam karya Harun Yahya di bidang sains (fakta penciptaan). Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya. Metode yang digunakan penulis adalah metode deskriptif yaitu suatu penelitian yang diusahakan untuk mencandra secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta dan dilakukan tanpa menguji hipotesis. Sumber data penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder.

Analisis yang digunakan penulis adalah analisis isi (content analysis) yaitu melakukan analisis terhadap karya Harun Yahya dan melakukan upaya klasifikasi kriteria-kriteria tertentu untuk membuat prediksi, selain itu untuk memperoleh kesimpulan yang akurat, peneliti juga menggunakan alur pemikiran induktif. Pemahaman dalam metode ini dimulai dengan mengambil kaidah-kaidah yang bersifat khusus untuk mengambil kesimpulan yang bersifat umum. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa materi utama dalam karya Harun Yahya di bidang sains adalah tentang eksistensi dan keesaan Allah SWT. Dalam pandangan Harun Yahya makhluk hidup tidak tercipta secara kebetulan tetapi sengaja diciptakan oleh Allah (fakta penciptaan). Dalil yang digunakan Harun Yahya untuk menjelaskan tentang fakta penciptaan adalah dalil fisika dan astronomi dan dalil

perancangan cerdas sehingga dengan fakta dan dalil ini semakin meningkatkan

Spritual keimanan dan keyakinan yang yang kuat kepada Allah SWT.

Tahapan Harun Yahya dalam melakukan dakwah ilmiah adalah sebagai berikut : Pertama, Mengajak Masyarakat berfikir secara mendalam tetang keagungan penciptaaan Allah. Kedua. Menunjukkan bahwa hal-hal sederhana di sekitar kita memiliki keistimewaan dan kemampuan penciptaan yang tak tertandingi. Ketiga, memikirkan kelemahan dan kemustahilan benda-benda tersebut dapat memiliki kemampuan sendiri. Keempat, menunjukkan dengan pendekatan sains bahwa benda-benda tersebut telah dikontrol dan dirancang sedemikian rupa oleh dzat yang Maha Mengetahui dan Maha Sempurna.

Kelima, terakhir menguatkan dalil sains tersebut dengan ayat al Quran yang

(5)

Judul Tesis : KONSEP PEMIKIRAN AL-‘IJÂZUL AL–‘ILMI

(MU’JIZAT ILMIAH) HARUN YAHYA DALAM

ANALISIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

ISLAM.

Nama Mahasiswa : Heri Hardani Baihaki

NPM : 1424010002

Program Studi : Ilmu Dakwah

Konsentrasi : Pengembangan Masyarakat Islam (PMI)

Telah disetujui untuk diajukan dalam Ujian Tertutup pada Program Pascasarjana

Institut Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung

Bandar Lampung, 8 Maret2016 M.

MENYETUJUI:

(6)

Prof. Dr. H. MA. Achlami, HS, MA

NIP.195501141987031001

Dr. H. Abdul Syukur, MA NIP. 196511011995031001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Ilmu Dakwah

Konsentrasi Pengembangan Masyarakat Islam

Dr. Hasan Mukmin, M.Ag NIP. 19610421199403100

PENGESAHAN

Tesis yang berjudul : KONSEP PEMIKIRAN AL-‘IJÂZUL AL–‘ILMI (

MU’JIZAT ILMIAH) HARUN YAHYA DALAM ANALISIS

(7)

TIM PENGUJI

Ketua : Prof. Dr. H. Idham Khalid, M.Ag ………

Sekretaris : Dr. H. Shonhaji, M. Ag ………

Penguji I : Prof. Dr. H. Sulthan Syahril,.MA ………

Penguji II : Prof. Dr. H. MA. Achlami, HS. MA .………

Tanggal Lulus Ujian Terbuka : 21 Juni 2016 M.

Di Program Pascasarjana IAIN RadenIntan Lampung

Direktur Program Pascasarjana

(8)

PEDOMAN TRANSLITERASI

Transliterasi Arab-Latin

Transliterasi Arab-Indonesia berdasarkan Pedoman Penulisan Tesis Program Sarjana IAIN Raden Intan Bandar Lampung terbitan Tahun 2011, sebagai berikut :

Huruf Arab Huruf Latin Keterangan

- tidak dilambangkan

B Be

t Te

Ts te dan es

j Je

H ha dengan garis di bawah

Kh ka dan ha

D de

Dz de dan zet

R er

Z zet

S es

(9)

Zh zet dengan garis di bawah

koma terbalik di atas hadap kanan

Gh ge dan ha

F ef

Q qi

K ka

L el

M em

N en

W we

H ha

` apostrof

Y ye

Maddah

Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan

huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

 a dengan topi di atas

(10)

Singkatan

as. : ‘alaihi al-salâm h. : halaman

ed. : editor ttp. : tanpa tempat

cet. : cetakan Swt. : Subhânahu wa ta‘alâ

j. : jilid Saw. :Sallâ Allâhu ‘alaihi wa salâm

vol. : volume ra. : radiyâ Allâhu ‘anhu

tpn. : tanpa penerbit H : tahun Hijriyah

tth. : tanpa tahun h. : halaman

M : tahun Masehi H.R : hadits riwayat

Q.S : al-Qur’an Surat w. : tahun wafat

Pedoman Transliterasi ini dimodifikasi dari Tim Puslitbang Lektur Keagamaan, Pedoman Pransliterasi Arab-Latin, Proyek Pengkajian dan Pengembangan Lektur Pendidikan Agama, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, Jakarta, 2003.

(11)

kehadirat Allah SWT. atas segala inayah, hidayah, dan rahmat-Nya sehingga penulisan Tesis ini terselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw. semoga umatnya dapat meneruskan perjuangan dakwah beliau untuk mewujudkan khairu ummah di manapun termasuk di Indonesia.

Tujuan penulisan Tesis ini selain untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik untuk meraih gelar Magister Komunikasi Islam (M.Kom.I) juga untuk mengembangkan dan menemukan metode-metode dakwah baru yang secara teoritis dapat diaplikasikan dalam proses dakwah dalam pengembangan masyarakat Islam di Indonesia dalam kehidupan nyata di lingkungan keluarga, kelompok dan masyarakat pada umumnya di Indonesia. Penyelesaian penulisan Tesis ini karena bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu penulisan tesis ini, baik dalam bimbingan, dan bantuan moral, dan material. Semoga bantuan dari semua pihak

mendapat balasan dan pahala dari Allah SWT. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga, khususnya disampaikan kepada yang terhormat :

Bapak Prof. Dr. H. Moh. Mukri, M.Ag, selaku Rektor IAIN Raden Intan Lampung

1. Bapak Prof. Dr. H. Idham Khalid, M.Si sebagai Direktur Program Pascasarjana IAIN Raden Intan Lampung.

2. Bapak Prof. Dr. H. MA. Achlami HS., MA, selaku Pembimbing I dalam penulisan tesis

3. Bapak Dr. H. Abdul Syukur, MA sebagai Pembimbing II, selaku Pembimbing II dalam penulisan tesis.

(12)

literatur.

6. Ayahanda H. Baihaki zainabun Abdul Latif ( al – marhum ) semoga Tesis ini salah satu menjadi amal Jariyah buat beliau, buat ibunda tercinta Sumiyati binti Roni dan begitu juga Istri tercinta Anis Ulfah Ahmad Baidhowi begitu juga buat cek Yeyen Arfiyanti dan kanda jailani dan

Adik kandung Uswatun Hasanah beserta keluarga Dendi Rahman, begitu juga kedua anak tercinta Abdulloh Ukasyah dan Abdurrahman Tsabit al – Haq yang menjadi motivasi untuk terus melanjudkan pendidikan tertinggi sehingga menjadi tauladan bagi mereka diusian tua nanti.

Akhirnya penulis menyadari kekurangan dalam penulisan tesis, baik dari segi metodologi maupun substansinya. Oleh karena itu, penulis berharap saran dan kritik yang konstruktif dari berbagai pihak untuk penyempurnaan tesis ini. Semoga, tesis ini bermanfaat dan menjadi bekal amal saleh.

Âmin ya Rabb al-‘âlamîn.

Wassalâmu‘alaikum Wr. Wb.

Bandar Lampung, 23 April 2016

Penulis,

(13)
(14)

iv

duniaw maupun ukhrawi. Era modern sekarang ini khususnya dalam bidang sains dan teknologi mengalami perkembangan yang begitu pesat bagi kehidupan manusia. Setiap waktu para ahli dan ilmuwan terus mengkaji dan meneliti sains dan teknologi sebagai penemuan yang paling canggih dan modern. Keduanya sudah menjadi simbol kemajuan pada abad ini. Oleh karena itu, apabila ada suatu bangsa atau masyarakat yang tidak mengikuti perkembangan sains dan teknologi, maka bangsa atau negara itu dapat dikatakan negara yang tidak maju dan terbelakang.

Penelitian Al ‘ijâz Al‘ilmi ini bertujuan untuk mengetahui pesan-pesan dakwah ilmiah yang terkandung dalam karya Harun Yahya di bidang sains (fakta penciptaan). Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya. Metode yang digunakan penulis adalah metode deskriptif yaitu suatu penelitian yang diusahakan untuk mencandra secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta dan dilakukan tanpa menguji hipotesis. Sumber data penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder.

Analisis yang digunakan penulis adalah analisis isi (content analysis) yaitu melakukan analisis terhadap karya Harun Yahya dan melakukan upaya klasifikasi kriteria-kriteria tertentu untuk membuat prediksi, selain itu untuk memperoleh kesimpulan yang akurat, peneliti juga menggunakan alur pemikiran induktif. Pemahaman dalam metode ini dimulai dengan mengambil kaidah-kaidah yang bersifat khusus untuk mengambil kesimpulan yang bersifat umum. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa materi utama dalam karya Harun Yahya di bidang sains adalah tentang eksistensi dan keesaan Allah SWT. Dalam pandangan Harun Yahya makhluk hidup tidak tercipta secara kebetulan tetapi sengaja diciptakan oleh Allah (fakta penciptaan). Dalil yang digunakan Harun Yahya untuk menjelaskan tentang fakta penciptaan adalah dalil fisika dan astronomi dan dalil

perancangan cerdas sehingga dengan fakta dan dalil ini semakin meningkatkan

Spritual keimanan dan keyakinan yang yang kuat kepada Allah SWT.

Tahapan Harun Yahya dalam melakukan dakwah ilmiah adalah sebagai berikut : Pertama, Mengajak Masyarakat berfikir secara mendalam tetang keagungan penciptaaan Allah. Kedua. Menunjukkan bahwa hal-hal sederhana di sekitar kita memiliki keistimewaan dan kemampuan penciptaan yang tak tertandingi. Ketiga, memikirkan kelemahan dan kemustahilan benda-benda tersebut dapat memiliki kemampuan sendiri. Keempat, menunjukkan dengan pendekatan sains bahwa benda-benda tersebut telah dikontrol dan dirancang sedemikian rupa oleh dzat yang Maha Mengetahui dan Maha Sempurna.

Kelima, terakhir menguatkan dalil sains tersebut dengan ayat al Quran yang

(15)

iii

Nama : Heri Hardani Baihaki

NPM : 1424010002

Program Studi : Ilmu Dakwah

Konsentrasi : Pengembangan Masyarakat Islam (PMI)

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang berjudul KONSEP PEMIKIRAN I’JÂZUL AL- I’LMI HARUN YAHYA DALAM ANALISIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ISLAM adalah benar-benar karya asli saya, kecuali sumbernya. Apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan di dalamnya, maka menjadi tanggung jawab saya.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Bandar Lampung, Maret 2016 M. Yang menyatakan,

(16)

A. Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah, bahkan maju mundurnya umat Islam sangat bergantung dan berkaitan erat dengan kegiatan dakwah yang dilakukan. Oleh karena itu, al-Qur‟an menyebutkan kegiatan dakwah dengan Ahsanul Qaula.

Dapat disimpulkan bahwa kegiatan dakwah menempati posisi yang begitu tinggi dan mulia dalam kemajuan agama Islam1. Dakwah islamiyah merupakan salah satu kegiatan penting yang wajib dilaksanakan oleh setiap umat Islam2. Dengan kata lain, setiap umat muslim mempunyai kewajiban untuk berdakwah, seperti termaktub dalam al-Qur‟an surat Al-Imran ayat 110 :



“Kamu adalah sebaik-baik ummat, dilahirkan untuk (kemaslahatan)

manusia, kamu mengajak kepada kebaikan, dan kamu mencegah dari

kemungkaran, serta kamu berimankepada Allah……” (Q.S. Al-„imran:110)

Penyampaian dakwah islamiyah haruslah disempurnakan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, sehingga cahaya hidayah Allah SWT. tidak terputus sepanjang masa3. Nabi Muhammad saw. juga telah menerangkan mengenai hukum berdakwah dalam sebuah hadits riwayat Muslim :

(17)

4

Artinya : “Dari Abu Sa‟id al-Hudzri r.a dari Nabi saw bersabda: “Apabila diantara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah (mencegah)-nya dengan tangan(mencegah)-nya; apabila ia tidak sanggup, maka dengan lisan(mencegah)-nya; dan apabila ia tidak sanggup pula, maka dengan lisannya, dan itulah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim).

Hadits ini mengandung perintah wajib berdakwah yaitu dengan melaksanakan

amar ma‟ruf nahi munkar. Kalimat mengandung perintah, yakni merubah

kemungkaran, dengan cara mengubahnya kepada yang ma‟ruf5. Dakwah adalah

suatu usaha untuk mengajak, menyeru dan mempengaruhi manusia agar selalu berpegang pada ajaran Allah SWT. guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat6. Setiap muslim mempunyai tugas yang mulia untuk menyampaikan dakwah atau sebagai penyeru, mengajak kepada umat untuk melaksanakan amar ma‟ruf nahi munkar, melaksanakan kebaikan dan menjauhi larangan. Generasi muslim mempunyai beban berat di pundaknya terhadap dakwah secara universal

yang tidak dibatasi oleh zaman, tempat, negara, lembaga, dan jama‟ah7

Tantangan

dakwah yang dihadapi sekarang ternyata semakin berkembang, terutama dalam kegiatan masyarakat modern misalnya dalam berbagai bentuk hiburan

(entertainment) dan seni (art) dalam arti luas telah menimbulkan

kerawanan-kerawanan moral dan etika. Dakwa h harus mampu merambah melalui sarana komunikasi kontemporer yang mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat agar tujuan dakwah dapat tercapai secara lebih efektif. Sarana komunikasi massa

4lihat Ahmad bin Nafi‟ bin Sulaiman al-Mura‟i (disingkat al-Murai), Al-Hilmah wa

al-Mau‟izah al-Hasanah, cet.ke-1 (Jeddah: Dar al-Andalus, 1997), h. 38; Hamzah Yaqub, Pubbisistik

Islam Teknik Da„wah dan Leadership, cet. IV (Bandung: CV. Diponegoro, 1992), h. 21 dan 42.

lihat pula Shahih Muslim bi Syarh al-Nawâwi, li-Imâm Muslim, Cet. II (Beirut: Dâr Ihyâ‟ al

-Turâtsh al-„Arabî, 1997), h. 22-25. Bab ini tentang amr ma„rûf nahy munkar.

5

Natsir, 1978 : 112

6

Sanwar, 1986 : 34

7

(18)

tersebut meliputi : media, radio, televisi dan film islami. Yang paling menarik adalah pengaruh audio-visual dalam televisi dan perfilman yang ilmiah8.

Al - Qur‟an mengandung isyarat ataupun pembicaraan tentang sain yang secara saintifik baru dibuktikan di kemudian hari jauh setelah turunnya Al Quran. Adapun Pesan Pesan Da‟wah Sains atau Al „Ijâzul Al „Ilmi Secara tegas memerintahkan pembacanya untuk membaca tanda-tanda kekuasaannya yang ada dalam kaun. Al „Ijâzul Al „Ilmi al-Qur‟ân, -sebagaimana ia sangat menjadi perhatian pada zaman belakangan ini sebagai bentuk :

1. Kecocokan yang mendasar antara keterangan-keterangan al-Qur‟ân denganhakikat-hakikat pengetahuan alam yang diungkap oleh para ilmuan. 2. Pelurusan al-Qur‟ân terhadap pemikiran-pemikiran batil yang telah

tersebar pada beberapa generasi berbeda mengenai rahasia penciptaan. 3. Jika dirangkum keterangan al-Qur‟ân, akan di dapati antara satu ayat

dengan ayat lainnya saling melengkapi, sehingga tampaklah kebenaran-kebenaran ilmiah, padahal jika diteliti lebih lanjut antara ayat-ayat tersebut turun secara terpisah pisah.

4. Adanya hikmah-hikmah al-Qur‟ân yang tidak terungkap ketika awal turun al-Qurân, tetapi justru terungkap seiring dilakukannya penelitian-penelitian di lapangan ilmu pengetahuan yang beragam.

Al „Ijâzul Al „Ilmi ( Mu‟jiazt Islmiah ) Menurut syaikh Abdul Majid al – Zandani salah satu ulama terkemuka diyaman, dan salah satu pendiri yayasan

ijazul ilmiah lil-Qur‟an wa as- sunnah bimakkah mukaromah mengatakan : Al

„Ijâzul Al „Ilmi dalah mengungkap ma‟na –ma‟na yang terkandung didalam al –

qur‟an, dalam pandangan ilmiah dan melali proses percobaan pada – ilmu ilmu alam. Yang mana hal ini belom ada diaman Rosululloh sallallahu‟alaihi wasalam9

Dr. Dzaglul an – najjar Al „Ijâzul Al „Ilmi ( Mu‟jiazt Ilmiah) adalah :

Menunujkan isyarat tentang hakikat kauniah dan keagunganya yang mana pemahaman penemuan ini belom sampai pada zaman dahulu dan baru diungkap setelah proses baru sekarng ini setelah 10 abat yang lalu, dan tidak mungkin

8

Habib, 1982: 64-64

9

Nadir Darwis Muhammad - „ijizal ilmiah lil –qur‟an wa sunnah wa shilatuhu bimanhaj

(19)

membanyangkan tentang kemulianan dan keagungan penciptaan ini selain penciptaan Allah subhanahu wata‟ala, dan juga sebagai bukti kebenran mukjiza

nubuha Nabi Muhammad Sallallahu‟alaihi wasalam sebagai nabi akhir zaman10 Salah satu ilmuwan muslim dunia yang mampu membuka mata dunia tentang ajaran agama Islam melalui argumen-argumen ilmiahnya yaitu Harun Yahya. Harun Yahya adalah nama pena Adnan Oktar yang lahir di Ankara pada tahun

1956 M. Sebagai seorang da‟i dan ilmuwan terkemuka asal Turki, beliau sangat menjunjung tinggi nilai akhlak dan mengabdikan hidupnya untuk mendakwahkan

ajaran agama kepada masyarakat. Beliau dibesarkan di Ankara hingga lulus SMU. Komitmen beliau terhadap Islam tumbuh semakin kuat ketika beliau duduk di bangku SMU. Pada periode ini, pengetahuan yang mendalam tentang Islam beliau dapatkan dari membaca berbagai buku agama.

Di samping itu, beliau juga memperoleh pemahaman tentang fakta-fakta penting lain yang kemudian beliau beritahukan kepada orang-orang di sekitarnya. Pada tahun 1979 M, Adnan Oktar pindah ke Istanbul untuk menuntut ilmu di Universitas Mimar Sinan. Di masa inilah beliau mulai melaksanakan misi dakwah, menyeru manusia kepada akhlak yang baik, Harun Yahya mendapatkan banyak ujian dan tentangan dari orang orang di sekelilingnya dalam perjalanan dakwahnya. Adnan Oktar dikurung di ruangan bersama para pasien penyakit jiwa yang berbahaya. Beliau mula-mula ditahan dan ditempatkan dalam sebuah penjara. Lalu, beliau dipindahkan ke rumah sakit jiwa Bakirkoy dan ditempatkan di bawah pengawasan dengan alasan yang dibuat-buat, yakni bahwa secara mental beliau tidak sehat. memerintahkan yang ma‟ruf dan mencegah yang munkar. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya melakukan peran mereka dalam kehidupan kaum muslimin dalam artian bahwa kaum muslimin diuji dan mendapatkan keridhaan Allah SWT. melalui apa yang mereka perbuat terhadap

kaum muslimin.

Di samping itu, ini adalah cara bagaimana Allah SWT. menjadikan orang-orang yang memperjuangkan kebenaran terlihat jelas agar dikenali oleh setiap

10

Dr. Dzaglul an – najjar Al – Ardu fil – Qur‟an al – Karim - Hal 69 Maktabah al –

(20)

orang. Harun Yahya melakukan pendekatan secara baik-baik dan toleran kepada mereka yang memiliki rasa permusuhan terhadapnya. Beliau menekankan fakta bahwa, “Ketentuan yang Allah SWT ciptakan senantiasa sempurna, terdapat kebaikan dalam segala hal”. Kesempurnaan takdir yang diciptakan Allah SWT. insya Allah akan disaksikan oleh setiap orang.

Pada tahun 1980-an, beliau telah menghasilkan buku dalam bidang politik, hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, dan isu-isu sains. Buku-buku karya Harun Yahya dalam bidang politik diantaranya : Tangan rahasia di Bosnia,

kebohongan Holocaust, di balik tirai terorisme, kartu- Kurdi Israel, strategi nasional bagi Turki, permusuhan Darwin terhadap bangsa Turki. Karya-karya yang berhubungan dengan keimanan diantaranya : Sifat munafiq dalam

al-Qur‟an, rahasia orang munafiq, nama-nama Allah yang agung, berdakwah dan berdebat dalam al-Qur‟an, konsep dasar dalam al-Qur‟an, jawaban-jawaban

al-Qur‟an, kematian, kebangkitan dan neraka, perjuangan para rasul, syaitan: musuh nyata manusia, agama berhala, agama kaum jahiliyyah, kesombongan syaitan, doa dalam al-Qur‟an, urgensi akal dalam al-Qur‟an, hari kebangkitan, jangan pernah lupa, bangsa-bangsa yang diadzab, Nabi Musa, zaman keemasan, keagungan warna ciptaan Allah, kebesaran Allah di setiap sudut alam semesta, hakikat kehidupan dunia, agama darwinisme, bagaimana seorang muslim berpikir?, keabadian dan hakikat takdir, jangan berpura-pura tidak tahu, keajaiban al-Qur‟an, pernahkah anda berpikir tentang kebenaran?, mengabdi hanya kepada Allah, meninggalkan masyarakat jahiliyyah, surga.

Karya lain Harun Yahya dalam bidang sains diantaranya : “ Misteri DNA, keajaiban atom, keajaiban sel, keajaiban sistem kekebalan, keajaiban mata, keajaiban penciptaan tumbuhan, keajaiban laba-laba,keajaiban semut, keajaiban nyamuk, keajaiban lebah, keajaiban biji, keajaiban rayap, bencana kemanusiaan akibat ulah darwinisme, kebohongan teori evolusi, pengakuan kaum evolusionis,

kekeliruan kaum evolusionis, sihir darwinisme, al-Quran menuntun kepada ilmu

pengetahuan, asal usul kehidupan yang sesungguhnya, penciptaan alam semesta,

desain pada alam, perilaku pengorbanan diri dan kecerdasan pada dunia hewan,

(21)

darwinisme. Karya-karya yang lain yaitu: teori evolusi, nilai akhlaq dalam al-

Quran, ilmu al-Qur‟an, index al-Qur‟an, hijrah di jalan Allah, hukumhukum

al-Quran yang diabaikan, karakter manusia dalam masyarakatjahiliyyah,

pentingnya sabar dalam al-Qur‟an, pengetahuan umum dari al- Qur‟an,

memahami iman dengan mudah 1-2-3, pemikiran dangkal kaum kafir, iman yang

sempurna, sebelum anda menyesal, perkataan para rasul, kasih sayang orang

mukmin, takut kepada Allah, mimpi buruk kekafiran, nabi Isa akan datang

kembali, al-Quran memberi keindahan pada kehidupan, beragam keindahan

ciptaan Allah 1-2-3-4, perbuatan dosa bernama: „mencela, rahasia dibalik

ujian, hikmah yang benar menurut al- Quran, perjuangan melawan agama

kaum yang tidak beragama, tarbiyyah nabi Yusuf, bersekutu dalam kebaikan,

fitnah terhadap umat islam sepanjang sejarah, urgensi mengikuti perkataan yang baik, mengapa menipu diri sendiri?, Islam: agama mudah, kegembiraan dan

keteguhan dalam al-Quran, melihat kebaikan pada segala hal, bagaimana

orang bodoh menafsirkan al-Quran?, sejumlah rahasia al-Quran, keberanian

orang mukmin11

Titik kesamaan dalam semua karya Harun Yahya adalah bahwa semua tema yang diulas dalam karyanya sesuai dengan al-Qur‟an, dan didukung oleh pemahaman yang baik tentang al-Qur‟an. Karya-ka rya Harun Yahya berpusat pada satu tujuan yaitu menyampaikan pesan-pesan al-Qur‟an kepada masyarakat, mendorong mereka untuk memikirkan isu isu yang berhubungan dengan keimanan, seperti keberadaan Tuhan, keesaan-Nya, dan hari kiamat, serta untuk menunjukkan dasar-dasar lemah dan karya-karya sesat dari sistem-sistem tak bertuhan.

Selain itu, beliau memiliki ciri yang khas dalam penyampaian dakwahnya. Beliau menggunakan ilmu pengetahuan (science) untuk memperkuat pesan

dakwah dan mempermudah mad‟u dalam memahami pesan dakwah tersebut. Pada zaman yang semakin berkembang dan melahirkan banyak manusia-manusia pintar, cerdik, dan mampu berpikir kritis, penyampaian kaidah agama tanpa ada

11

(22)

argumentasi memadai akan sulit terserap bahkan memunculkan banyak penolakan. Argumentasi memadai yang dimaksud adalah argumentasi yang disampaikan secara ilmu pengetahuan atau bersifat ilmu. Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu berdasarkan hakikatnya atau suatu sifat yang dengan sifat tersebut sesuatu yang dicari dapat terungkap dengan sejelas-jelasnya12 yaitu memaksimalkan akal pikiran (rasio) untuk mengadakan observasi dan perenungan kepada sosok dan jiwa manusia, cakrawala alam semesta baik di langit maupun di bumi dan semua makhluk ciptaan Allah SWT sehingga mampu mengungkapkan

bukti-bukti yang nyata13.

Penyampaian pesan-pesan agama Islam dengan argumenargumenyang dapat terungkap melalui bukti-bukti yang nyata inilah yang kemudian disebut dengan dakwah ilmiah. Kemampuan untuk memaksimalkan akal pikiran (rasio) dalam proses dakwah ilmiah membutuhkan ketrampilan dalam berkomunikasi atau penyampaian dakwahnya. Al-Qur‟an telah menjelaskan tentang ketrampilan

komunikasi dalam berdakwah yaitu dengan cara memberi pelajaran yang baik/ argumen yang memadai, sesuai dengan Q.S. An-Nahl ayat 125: Artinya :



“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan

dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An

Nahl : 125)

Beberapa buku karya Harun Yahya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis, Albania, Arab, Polandia, Rusia, Bosnia, Indonesia, Turki, Tartar, Urdu dan Malaysia serta diterbitkan di negara-negara tersebut14. Beberapa buku ini pun

(23)

kemudian dituangkan dalam film agar lebih mudah dipahami isi pesan yang hendak disampaikan. Melalui karya-karyanya, Harun Yahya mencoba mengurai kebesaran dan keesaan Tuhan melalui argumen-argumen ilmiah yang sesuai dengan objeknya. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti pesan dakwah ilmiah dalam karya-karya Harun Yahya dengan judul penelitian “Konsep Pemikiran Al - ‘Ijâzul Al – ‘Ilmi (Mu’jizat Ilmiah) Harun Yahya Dalam Analisis Pemberdayaan Masyarakat Islam”.

B. Identifikasi dan Batasan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Banyak dikalangan umat muslim sendiri menggap bahwa Al –Qur‟an dan as – sunnah itu sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman, sehingga mereka berlari kepadabudaya barat dan hidup kebarat baratan, dan justru sebalikya banyak dari kalangan ilmuan barat non islam justru mendapatkan hidayah ketika mereka menemukan fakta „ilmiyah yang sesuai dan membenarkan kitab suci Al – Qur‟an dan As – sunnah yang akhirnya mengantarkan mereka untuk memeluk agama isalam. Maka dengan Method

da‟wah sains dan teknologi dalam perspektif al – qur‟an dan as – sunnah menjelaskan tetang :

a. Manjelaskann fakta ilmiyah tetang ayat ayat al- Qur‟an dan hadist an – Nabawiyah dan dikuatkan dengan ilmu Sains dan teknologi.

b. Menjelaskan pentingnya ilmu pengetahuan Sains dan teknolgi sehingga memperkaya serta membenarkan kemurnian ayat suci Al – Qur‟an dan As- Sunnah .

c. Mengajak kepada Mad‟u untuk berfikir dan bertafakur tentang ayat ayat

kauniah, baik ayat yang tersurat maupun tersirat dalam pandangan ilmu

Sains.

2. Batasan Masalah

Adapun yang penulis batasi dalam penelitian ini pada :

(24)

b. Mengungkap Rahasia keimanan, rahasia Syariat Islam dan akhlak manusia kepada Allah sebagai bentuk pengambdian kepada Allah

ta‟ala.

C. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana konsep PemikiranAl „Ijâzul Al „Ilmi (Mu‟jizat Ilmiah ) Harun Yahya dalam Pemberdayaan Masyarakat Islam?

2. Bagaimana pesan dakwah ilmiah yang terkandung da‟wah Al „ijâz Al„ilmi Harun Yahya dalam pemberdayaan masyarakat islam?

D. Kerangka Pikir

Dakwah ilmiah adalah sebuah kegitan dakwah yang berdimensi intelektual dan moral, dalam taraf indrawi, manusia menyerap pesan-pesan wahyu yang kemudian terobsesi melakukan observasi ( perenungan dan pengamatan). Dalam taraf rasional, manusia melakukan dasar dasar keilmuan pada kegiatan perenungan tersebut. Dalam taraf isntusi, manusia menghayati penemuanya.

Adapun dalam da‟wah terdapat berbagai macam cara untuk meningkatkan spritual mad‟u dalam hal ini salah satunya dakwah ilmiah saintifik al - Qur‟an Harun Yahya sebuah kegiatan dakwah yang dilakukan Harun Yahya dan staff untuk mengajak umat manusia mengenal keesaan dan keberadaan Allah SWT, dengan intelektual dan moral dalam taraf indrawi. Harun Yahya menyerap pesan-pesan wahyu yang kemudian dilanjutkan dengan perenungan dan pengamatan. Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengajak orang - orang disekitarnya untuk berdiskusi. Salah satu langkah yang diambil Harun Yahya adalah sebelum beliau terjun mendakwahkan materi-materi tentang eksistensi Allah.

Sang Maha Pencipta Mad‟u, beliau terlebih dahulu melakukan riset yang

(25)

dalam filsafat dan ideologi yang didasarkan atas pengingkaran terhadap Allah SWT.

Harun Yahya menggunakan informasi tersebut untuk menyebarkan fakta-fakta yang ada. Dakwah ilmiah Harun Yahya dilakukan dengan menampilkan ayat-ayat al Qur‟an yang relevan dan mampu memperkuat materi-materi dakwah yang disampaikan. Pesan dakwah ilmiah Harun Yahya bertujuan untuk menjelaskan mengenal eksistensi Tuhan yang kemudian dibahas dengan cara mengkorelasikan antara agama dan sains.

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk Menganalisis kebenaran da‟wah Islam tentang sainstifik

al-qur‟an dan teknologi dalam perspektif Al –Qur‟an dan As – Sunnah. b. Penelitian mengenengahkan tentang bagaimana respons masyarakat

terhadap kebenaran ilmiyah serta menjadi penguat dalam keyakinan mereka kepada Al-Qur‟an dan Assunah.

2. Kegunaan Penelitian

a. Penelitian ini sebagai pelengkap studi master prodi Pengembangan Masyarakat Islam IAIN Raden Intan Lampung.

b. Penelitian ini sebagai wasilah pendekatan Da‟wah dengan fakta mukjizat ilmiah atau sains sehingga memperkuat Aqidah umat islam. c. Sebagai syarat kompetensi dalam melengkapi dan memperoleh gelar

Magister Komunikasi Islam (M.Kom.I).

F. Metode Penelitian

1. Jenis dan sifat Penelitian

Dilihat dan jenisnya penelitian ini termasuk penelitian pustaka (library

research), karena membicarakan gagasan-gagasan, ide, dan konsep strategi

(26)

Tematik studi adalah salah satu model history research yang paling dan banyak digunakan karena sederhana, salah satunya adalah penelitian biografi tokoh atau autobiografi baik untuk rnengenal pemikiran, ide, konsep strategi atau karyanya.

Dilihat dan sifatnya, penelitian ini adalah deskriptif analitis. Adapun yang dimaksud dengan deskriptif menurut. Sumadi suryabrata adalah penelitian yang semata-mata menggambarkan keadaan dan kejadian atas suatu objek. Analisis ini merupakan metode yang bersifat analisis istilah dan pendapat,

menjelaskan keyakinan dengan jalan bertanya, membaca, membersihkan, menyisihkan, dan mengolah di mana akhirnya ditemukan hakikat. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap suatu teori, pandangan hidup, pemikiran filosofis dan lainnya, yang dalam hal ini objek kajiannya adalah meliputi : strategi dakwah Harun Yahya dalam meningkatkan spritual Masyarakat

isalam dengan mengunakan pendekatan mu‟jizat ilmiah dan fakta – fakta kebenaran al –Qur‟an serta penguatanya dengan fakta sains

2. Sumber Data

Sumber penelitian dalam tesis ini dapat diklasifikasikan dalam dua sumber, sumber primer dan sumber sekunder. Adapun sebagi sumber primer adalah buku karya Harun yahya yang berhubugan dengan peningkatan spritual tentang keagungan Allah :

a. Sumber Primer

1) Harun Yahya, Al –Qur‟an dan sains – cetakan Dzikra, juni 2004, 14 Robi‟us Tsani 1425 H. Buku ini menjelaskan bagai mana agama membimbing sains kepada jalan yang benar, dan juga membahas keajaiban al – qur‟an dalam pandangan sains seperti pembentukan alam semesta, pungsi gunung, rahasia dibalik sidik jari, air laut tidak

bercampur dengan air sungai, dan sebagainya sehingga menjadi

menyegaran baru bagi da‟i dan mad‟u tetang memahami islam yang

(27)

2) Harun Yahya – Fakta – Fakta yang mengungkap rahasia hidup, Judul Asli ” The Truth Of The Life in This world ”, cetakan Dzikra, Maret 2014 M.

3) Harun Yahya, penciptaan, Ensiklpedia mu‟jizat ilmiah al – Qur‟an,

Fakta sains Modern atas Ayat – Ayat al – Qur‟an – syaamil books, sigma dayainsani – cet kedua, Agustus 2014 M.

4) Harun Yahya, keajaiban listrik dalam tubuh, Ensiklpedia mu‟jizat ilmiah al –Qur‟an, Fakta sains Modern atas Ayat – Ayat al –Qur‟an

– syaamil books, Sygma Daya Insani – cet kedua, Agustus 2014 M. 5) Harun Yahya, keajaiban enzim dan sel, Ensiklpedia mu‟jizat ilmiah

al – Qur‟an, Fakta sains Modern atas Ayat – Ayat al – Qur‟an – syaamil books, Sygma Daya Insani – cet kedua, Agustus 2014 M. 6) Harun Yahya, keajaiban penciptaan, Ensiklpedia mu‟jizat ilmiah al –

Qur‟an, Fakta sains Modern atas Ayat – Ayat al –Qur‟an – syaamil books, Sygma Daya Insani – cet kedua, Agustus 2014 M.

7) Harun Yahya, mata, penciuman dan pengecap, Ensiklpedia mu‟jizat

ilmiah al –Qur‟an, Fakta sains Modern atas Ayat – Ayat al –Qur‟an

– syaamil books, Sygma Daya Insani – cet kedua, Agustus 2014 M. 8) Harun Yahya, keajaiban nyamuk, rayap dan lebah Ensiklpedia

mu‟jizat ilmiah al –Qur‟an, Fakta sains Modern atas Ayat – Ayat al

–Qur‟an – syaamil books, Sygma Daya Insani – cet kedua, Agustus 2014 M.

b. Sumber Skunder

1) „Ali Muhammad Ghosnun – Asrorus samawati wal ard fii al –

Qur‟an –Darul al –„Ilmi lilmalayin – kairo mesir 2005 M.

2) Abdurrohman „Amiroh – Min „Ajaib al – Makhlukot baina Manhaj

al – Qur‟an wal „ilmi Hadist – cetakan Darul Haram litturos, - 2006 M.

(28)

4) Ahmad Syawqi Ibrahim, Al I‟jaz Al „Ilmi Fi Al Hadist An Nabawi Ensiklpedia Mukjizat Ilmiah Hadist Nabawi – Rahasia Dibalik Materi –Cet, ke-2, Noember 2014 M.

5) Ahmad Syawqi Ibrahim, Al I‟jaz Al „Ilmi Fi Al Hadist An Nabawi Ensiklpedia Mukjizat Ilmiah Hadist Nabawi – Kebenaran Risalah Muhammad SAW –Cet, ke-2, Noember 2014 M.

6) Ahmad Syawqi Ibrahim, Al I‟jaz Al „Ilmi Fi Al Hadist An Nabawi Ensiklpedia Mukjizat Ilmiah Hadist Nabawi – Manusia dan Proses

Penciptaan –Cet, ke-2, Noember 2014 M.

7) Ahmad Syawqi Ibrahim, Al I‟jaz Al „Ilmi Fi Al Hadist An Nabawi Ensiklpedia Mukjizat Ilmiah Hadist Nabawi – Rahasia dan Dimensi waktu –Cet, ke-2, Noember 2014 M.

8) Ahmad Syawqi Ibrahim, Al I‟jaz Al „Ilmi Fi Al Hadist An Nabawi Ensiklpedia Mukjizat Ilmiah Hadist Nabawi – Rahasia tumbuhan dan Manfaatnya –Cet, ke-2, Noember 2014 M.

9) Ahmad Syawqi Ibrahim, Al I‟jaz Al „Ilmi Fi Al Hadist An Nabawi Ensiklpedia Mukjizat Ilmiah Hadist Nabawi – Hakikat jiwa Manusia

Cet, ke-2, Noember 2014 M.

10) Ahmad Syawqi Ibrahim, Al I‟jaz Al „Ilmi Fi Al Hadist An Nabawi Ensiklpedia Mukjizat Ilmiah Hadist Nabawi – Serangga, laba laba dan mikroba –Cet, ke-2, Noember 2014 M.

3. Metode Pengumpulan Data a. Metode Dokumentasi

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah dengan metode dokumentasi atau sumber yang bersifat kepustakaan. Teknik pengumpulan data ini diawali dengan mencari sumber primer,

(29)

Mengolah data adalah upaya untuk menghidupkan data menjadi sesuatu informasi yang dapat dibaca dan fahami. Sebagaimana pernyataan Winarno bahwa betapapun besarnya jumlah dan tingginya nilai data yang terkumpul, apabila tidak disusun dalam satu organisai dan diolah menurut sistematika yang baik, niscaya data itu tetap merupakan bahan yang membisu. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data adalah menyeleksi data yang valid dan invalid, lalu memilih data yang valid dan relevan dengan pembahasan, kemudian menyusun data sistematis dan

runtut.

4. Metode Analisis Data

Analisis menyangkut proses yang lebih konvensional dalam identifikasi dan representasi pola yang patut diperhatikan, yang bersifat menjelaskan, atau deskriptif terhadap hasil analisis isi15 Dalam penelitian ini penulis akan mendeskripsikan isi (materi) dakwah ilmiah Harun Yahya Selanjutnya setelah data terkumpul maka kemudian dianalisis berdasarkan topik kajian yang diteliti yaitu Konsep Al „ijâz Al„ilmi Menurut Harun Yahya Dalam Analisis Pemberdayaan Spritual Masyarakat Islam Hal ini dapat dibuat sebuah konsep pendekatan kepada masyarakat yang disesuaikan dengan pengkembangan zaman yang ada, dan disesuaikan dengan masyarakat yang ada, bagaimana kondisi masyarakat yang ada dizaman Harun Yahya, kemudian media apa yang sesuai dengan pengmbangan dakwah harun Yahya sehingga bisa dikembangankan dan ditiru dengan kondisi sekarang ini.

15

(30)

A. Al ‘Ijâz Al‘Ilmi Dan Pemberdayaan Spiritual Masyarakat Islam

Al „ijâzul Al „Ilmi merupakan cabang Al „ijâzul Al – Qur‟an

,

Secara

umum para cendekiawan nyaris sepakat dalam klasifikasi 3-4 aspek kemukjizatan Al-Qurân, Dalam hal ini asfek – asfek Al „ijâzul Al-Qurân terbagi menjadi 4

Aspek : Al I‟jaz Lughawi

(

),

Al „ijâzul Al Tasyri‟i

(

),

Al „ijâz Al Ikhbari

(

),

Al „ijâzul Al „Ilmi

(

).

1. Al „Ijâzul - Lughawi (Mukjizat dari Segi Bahasa)

Al I‟jaz Lughawi (

) kemukjizatan dari aspek bahasa. Ia juga

sering diistilahkan dengan istilah lain „Ijâzul Bayani, atau „IjâzulBalaghi. Ini adalah aspek terbesar dan paling utama nampak dari Al - Qur‟an. Mayoritas literatur para cendekiawan yang membahas tentang „Ijâz umumnya membahas dan mendalami aspek ini dengan berbagai cabang kajiannya. Secara umum aspek ini dapat terklasifikasi menjadi beberapa cabang kajian ; Aspek balaghah dan fashahah ; tercakup di dalamnya bagaimana Al Qur‟an menggunakan perangkat-perangkat kebahasaan, seperti tasybih, iijaaz, ithnab, dan sebagainya. (b) Aspek nazham (susunan redaksi) Al-Qurân; bagaimana Al-Qurân serasi dalam susunan kalimatnya, nada dan bunyi yang timbul dari pilihan kalimat, pemilhan untuk mewakili makna& konteks yang dimaksud, serta keserasian antara ayat dengan ayat lain sebelum dan sesudahnya, dan sebagainya.

(31)

kata dalam bahasa Arab bukanlah suatu kebetulan melainkan mempunyai nilai falsafah bahasa yang tinggi.

Kalimat-kalimat dalam al-Qur`an mampu mengeluarkan sesuatu yang abstrak kepada fenomena yang konkrit sehingga dapat dirasakan ruh dinamikanya, termasuk menundukkan seluruh kata dalam suatu bahasa untuk setiap makna dan imajinasi yang digambarkannya. Kehalusan bahasa dan

uslub al-Qur`an yang menakjubkan terlihat dari balagoh dan fasohahnya,

baik yang konkrit maupun abstrak dalam mengekspresikan dan

mengeksplorasi makna yang dituju sehingga dapat komunikatif antara Autor (Allah) dan penikmat (umat).

Kajian mengenai Style Al-Qurân, Shihabuddin menjelaskan dalam bukunya Stilistika al-Qur`an, bahwa pemilihan huruf dalam al-Qur`an dan penggabungannya antara konsonan dan vocal sangat serasi sehingga memudahkan dalam pengucapannya. Lebih lanjut –dengan mengutip Az-Zarqoni- keserasian tersebut adalah tata bunyi harakah, sukun, mad dan

ghunnah (nasal). Dari paduan ini bacaan al-Qur`an akan menyerupai suatu

alunan musik atau irama lagu yang mengagumkan. Perpindahan dari satu nada ke nada yang lain sangat bervariasi sehingga warna musik yang ditimbulkanpun beragam. Keserasian akhir ayat melebihi keindahan puisi, hal ini dikarenakan al-Qur`an mempunyai purwakanti (asonasi) beragam sehingga tidak menjemukan. Misalnya dalam surat Al-Kahfi (18: 9-16) yang

diakhiri vocal “a” dan diiringi konsonan yang bervariasi, sehingga tak aneh kalau mereka (masyarakat Arab) terenyuh dan mengira Muhammad berpuisi.

Sejarah telah menyaksikan bahwa bangsa Arab pada saat turunnya al-Quran telah mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh bangsa satu pun yang ada didunia ini, baik sebelum dan seudah mereka dalam bidang

(32)

Oleh karena bangsa Arab telah mencapai taraf yang begitu jauh dalam bahasa dan seni sastra, karena sebab itulah al-Quran menantang mereka. Padahal mereka memiliki kemampuan bahasa yang tidak bisa dicapai orang lain seperti kemahiran dalam berpuisi, syi‟ir atau prosa (natsar), memberikan penjelasan dalam langgam sastra yang tidak sampai oleh selain mereka. Namun walaupun begitu mereka tetap dalam ketidakberdayaan ketika dihadapkan dengan al-Quran.1

Selanjutnya apabila ketidakmampuan bangsa Arab telah terbukti

sedangkan mereka mumpuni dalam bidang bahasa dan sastra, maka terbukti pulalah kemukjizatan al-Quran dalam segi bahasa dan sastra dan itu merupakan argumenatasi terhadap mereka maupun terhadap kaum-kaum selain mereka. Sebab dipahami bahwa apabila sebuah pekerjaan tidak bisa dilakukan oleh mereka yang ahli dalam bidangnya tentunya semakin jauh lagi kemustahilan itu bisa dilakukan oleh mereka yang tidak ahli dibidangnya.2

Al-Qurân secara tegas menantang semua sastrawan dan para orator Arab untuk menandingi ketinggian Al-Qurân, baik dari segi bahasa maupun susunannya. Namun tidak seorangpun dari mereka yang menjawab tantangan al-Qur‟an tersebut. Sebab al-Qur‟an memang berada di atas kemampuan manusia dan tidak mungkin untuk dapat ditandingi, apalagi diungguli, karena al-Qur‟an itu sendiri bukanlah perkataan atau kalam manusia.3 Kekaguman pakar-pakar sastrawan dan orator terhadap ketinggian bahasa dan sastra yang dibawa oleh al-Qur‟an terbukti dengan jelas pada keindahan sastra dan kehalusan ungkapan bahasa yang terkandung di dalamnya, kendatipun mereka itu menentang dan memusuhi al-Qur‟an serta Nabi Muhammad Saw. Kenyataan ini dapat direkam dan dilihat pada beberapa kasus dan pengakuan mereka berikut ini :

a. Menurut riwayat, al-Walid al-Mughirah, seorang tokoh Qurais terkemuka pada saat itu, pernah berkunjung kepada Rasulullah Saw., kemudian beliau

1. Manna‟ al-Qathan, op.cit., h. 331

2

. Muhammad Zarqani, Manahilul Irfan fi Ulumil Quran, Juz III, (Mesir: Isa Babi

Al-Himabi, t.t.) h. 332 3

(33)

membaca al-Qur‟an dihadapannya, lalu ia menampakkan rasa simpatinya kepada al-Qur‟an. Kejadian ini lalu diketahui oleh Abu Jahal, kemudian

Abu jahal berkata kepadanya; “Hai paman, apakah engkau hendak

menghimpun harta kekayaan, sehingga engkau mendatangi Muhammad untuk memperoleh sesuatu daripadanya? Al-Walid pun menjawab, “Seseungguhnya seluruh suku Quraisy sudah mengetahui bahwa akulah yang paling kaya di antara mereka”. Kemudian Abu Jahal berkata, “Kalau begitu, katakan sesuatu untuk meyakinkan kaummu, bahwa engkau mengingkari bacaan Muhammad itu”. Lalu al-Walid menjawab, “Aku bingung apa yang harus kukatakan. Demi Allah, tidak ada yang lebih mengerti dari aku diantara kalian tentang syi‟ir baik rijaznya, qasyidahnya maupun segala macam dans egala jenis syi‟ir yang halus dan indah. Demi Allah! Aku belum pernah mendengar kata-kata yang seindah itu. Itu bukanlah syi‟ir, bukan sihir dan bukan pula kata-kata tukang sihir atau tukang ramal seperti yang dikatakan orang selama ini. Sesungguhnya

al-Qur‟an itu ibarat sebuah pohon yang rindang, akarnya terhujam dalam

tanah, susunan kata-katanya amat manis dan sangat enak didengar. Itu bukan kata-kata manusia. Ia sangat tinggi dan tidak ada yang dapat menandingi dan mengatasainya.4

b. Utbah bin Rabi‟ah, salah seorang pemuka dan pemimpin Quraisy, ia mengatakan kepada Abu Jahal, bahwa ia dapat mengimbangi dan membujuk Muhammad untuk keluar dari agamanya. Kemudian ia berkata

kepada Nabi Muhammad Saw. “Siapakah yang paling baik, anda atau Bani

Hasyim, anda atau abdul Muthalib, anda atau Abdullah? Mengapa anda mencaci tuhan-tuhan kami dan menyatakan semua kami ini sesat? Katakanlah, kalau anda menginginkan kekuasaan, anda akan kami angkat

sebagai pemimpin kami, kalau anda ingin perempuan, kami akan menyerahkan perempuan mana yang anda inginkan, kalau anda ingin harta, kami bersedia untuk menghimpunnya sehingga anda akan menjadi orang yang paling kaya di antara kami”. Setelah dia selesai berbicara

(34)

Rasulullah Saw. Menjawab, “Sudah selesaikan anda berbicara? Kalau sudah, perhatikanlah!” Lalu beliau membaca al-Qur‟an surat al-Fusilat ayat 1-13. Mendengar ayat itu, Utbah pun terpesona dan termangu-mangu dengan keindahan gaya bahasanya, kemudian ia minta dengan tulus agar Rasulullah Saw. tidak melanjutkan bacaannya, sambil terkesima ia kembali kepada kaumnya, tanpa mengatakan sesuatu sedikitpun. Setelah

dihujani pertanyaan oleh kaumnya, secara jujur ia menyatakan, “Aku belum pernah mendengar kata-kata yang seindah itu. Itu bukanlah syi‟ir,

bukan sihir dan bukan tukang ramal. Aku minta dengan sangat agar Muhammad tidak melanjutkan bacaannya supaya kalian tidak terkena azab. Dan kalianpun mengetahui bahwa apabila Muhammad berbicara sama sekali tidak pernah berdusta ”.5

c. Nadlar bin Harits juga salah seorang pembesar Quraisy yang sangat membenci Islam, pada suatu hari setelah ia mendengar ayat-ayat al-Qur‟an

yang dibacakan Nabi Muhammad Saw., ia berkata kepada kaumnya; “Hai kaumku, sesungguhnya kalian telah mengetahui, bahwa aku belum pernah meninggalkan sesuatu, melainkan mesti aku mengetahui dan membacanya serta mengatakan lebih dahulu kepada kalian. Demi Allah, sungguh aku telah mendengar sendiri bacaan yang biasa diucapkan oleh Muhammad. Demi Allah, aku sama sekali belum pernah mendengar perkataan seperti

itu. Itu bukan syi‟ir, bukan sihir dan bukan pula ramalan.6

Itulah beberapa

kasus atau kejadian yang membuktikan bahwa para ahli syi‟ir Arab

bungkam tak berdaya dengan tantangan-tantangan yang ditampilkn

Al-Qur‟an. Mereka tidak bisa menandingi kemahaindahan dan ketinggian ayat

al-Qur‟an dengan gubahan kreasi-kreasi syi‟ir mereka. Setiap kali mereka mencoba untuk menandingi, mereka selalu mengalami kesulitan dan

kegagalan dan bahkan selalu mendapat cemoohan dan penghinaan dari masyarakat. Diantara pendusta dan musyrik Arab pada saat itu, yang mencoba berusaha menandingi al-Qur‟an ialah Musailamah al-Kadzdzab.

5. Al-Zamakhsyary, Tafsir al-Kassyaff, Juz IV. (Kairo: Dar al-Ilmi, t.th), h. 192

6.Munawar Khalil, Al-Qur‟an dari Masa ke Masa,

(35)

Ia mengaku bahwa dirinyapun mempunyai Al-Qur‟an yang diturunkan dari langit dan dibawa oleh Malaikat yang bernama Rahman. Di antara gubahan-gubahannya yang dimaksudkan untuk mendandingi Al-Qur‟an itu adalah antara lain :

.

Artinya : “Hai katak, anak dari dua katak. Bersihkan apa saja yang akan engkau bersihkan, bagian atas engkau di air dan bagian bawah

engkau di tanah”. Menanggapi gubahan Musailamah al-Kadzdzab

tersebut, al-Jahiz seorang sastrawan terkemuka, dalam karyanya “

al-Hayawan” memberikan komentar dengan mengatakan‟ “Saya tidak

mengerti apa yang menggerakkan hati Musailamah al-Kadzdzab menyebut katak dan sebagainya itu. Alangkah kotor gubahan yang dikatakannya sebagai ungkapan yang sama dengan ayat al-Qur‟an, yang dia katakannya

diturunkan kepadanya sebagai wahyu.”7

Selain Musailamah al-Kadzdzab, masih banyak lagi tokoh-tokoh masyarakat Arab pada waktu itu yang ingin menandingi kalam Allah itu, namun selalu mengalami kegagalan sehingga benarlah al-Qur‟an itu sebagai suatu mukjizat.

2. Al „ijâzul Al Tasyri‟i (Kemukjizatan dari Segi Hukum)

Al „ijâzulAl Tasyri‟i (

), kemukjizatan pada aspek syariat

yang terkandung dalam Al Qur‟an, bahwa setiap ketentuan, aturan dan

ketetapan dalam Al Qur‟an mengandung hikmah, kebenaran, dan

kemaslahatan bagi makhluk. Dalam sejarah kehidupannya, manusia telah banyak mengenal berbagai macam doktrin, pandangan hidup, sistem dan perundang-undangan yang bertujuan membangun hakikat kebahagiaan individu di dalam masyarakat. Namun tidak satupun daripadanya yang dapat mencapai seperti yang dicapai al-Qur‟an dalam kemukjizatan tasyri‟-nya.8

Tak kalah menakjubkan lagi ketika al-Qur`an berbicara tentang hukum (tasyri‟) baik yang bersifat individu, sosial (pidana, perdata, ekonomi serta politik) dan ibadah. Sepanjang sejarah peradaban umat, manusia selalu

7. Muhammad Bakar Ismail, op.cit., h. 409

(36)

berusaha membuat hukum-hukum yang mengatur sekaligus sebagai landasan hidup mereka dalam kehidupan mereka. Namun demikian hukum-hukum tersebut selalu direkonstruksi diamandement bahkan dihapuskan sesuai dengan tingkat kemajuan intelekstualitas dan kebutuhan dalam kehidupan sosial yang semakin kompleks. Perkara ini tak berlaku pada al-Qur`an. Hukum-hukum al-Qur`an selalu kontekstual berlaku sepanjang hayat, dimanapun dan kapanpun karena al-Qur`an datang dari Zat yang Maha Adil lagi Bijaksana.

Dalam menetapkan hukum al-Qur`an menggunakan cara-cara sebagai berikut; Pertama, secara mujmal. Cara ini digunakan dalam banyak urusan ibadah yaitu dengan menerangkan pokok-pokok hukum saja. Demikian pula tentang mu‟amalat badaniyah al-Qur`an hanya mengungkapkan kaidah-kaidah secara kuliyah. sedangkang perinciannya diserahkan pada as-Sunah

dan ijtihad para mujtahid. Kedua, hukum yang agak jelas dan terperinci.

Misalnya hukum jihad, undang-undang peranghubungan umat Islam dengan umat lain, hukum tawanan dan rampasan perang. Seperti QS. al-Taubah 9:41:

Artinya: “Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan

maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah.

yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Ketiga, jelas dan terperinci. Diantara hukum-hukum ini adalah masalah

hutang-piutang QS. Al-Baqarah, 2 : 282. Tentang makanan yang halal dan haram, QS. An-Nisa` 4:29. Tentang sumpah, QS. An-Nahl 16:94. Tentang perintah memelihara kehormatan wanita, diantara QS. Al-Ahzab 33:59. dan perkawinan QS. An-Nisa` 4:22)

(37)

banyak penelitian yang ternyata gerakan shalat sangat mempengaruhi saraf manusia, yang intinya kalau shalat dilakukan dengan benar dan khusuk (konsentrasi) maka dapat menetralisir dari segala penyakit yang terkait dengan saraf, kelumpuhan misalnya. Juga shalat yang kusuk merupakan bentuk meditasi yang luar biasa, sehingga apabila seseorang melakukan dengan baik maka jiwanya akan selamat dari goncangan-goncangan yang mengakibatbatkan sters hingga gila. Dalam konteks sosial shalat mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar seperti dijelaskan dalam

Artinya: “Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang

lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( QS. Al-„Ankabut

29:45 )

Contoh lain misalnya al-Qur`an Ali Imran (2 : 159 )

(38)

mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai

orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Dalam ayat ini semua urusan urusan peperangan dan segala bentuk urusan duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya diutamakan dengan bermusyawarah sehingga mendapatkan keberkahan didalamnya. yang menanamkan sistem hukum sosial dengan

berdasar pada azaz musyawarah. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena

itu ma‟afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan

bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Ayat di atas menganjurkan untuk menyelesaikan semua problem sosial dengan azaz musyawarah agar dapat memenuhi keadilan bersama dan tidak ada yang dirugikan. Nilai yang dapat diambil adalah bagaimana manusia harus mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kelompoknya, karena hasil keputusan dengan musyawarah adalah keputusan bersama. Dengan demikian keutuhan masyarakat tetap terjaga. Ayat selanjutnya apabila sudah sepakat dan saling bertanggung jawab maka bertawakkal kepada Allah. Hal ini mengindikasikan harus adanya kekuasaan mutlak yang menjadi sentral semua hukum dan sistem tata nilai manusia.

Demikianlah karakteristik sekaligus rahasia hukum-hukum Tuhan yang selalu menjaga keadilan dan keseimbangan baik individu, sosial dan

(39)

merupakan pengetahuan yang sangat tinggi nilainya. Dan jarang sekali yang dapat mencapai puncak dalam bidang-bidang tersebut kecuali mereka yang memusatkan diri secara penuh dan mempelajarinya bertahun-tahun. Padahal sebagaimana maklum Muhammad sang pembawa hukum tersebut adalah seorang Ummy dan hidup pada kondisi di mana ilmu pengetahuan pada masa kegelapan.9

3. Al „Ijâz Al Ikhbari (

)

Kemukjizatan pada aspek pemberitaan. Al-Qur‟an sangat banyak mengandung pemberitaan yang terkait hal-hal di luar kebiasaan akal manusia, dan tidak mungkin diketahui kecuali dari sumber wahyu. Aspek ini mencakup antara lain; Pemberitaan tentang wilayah ghaib yang mutlak,

semisal tentang Dzat Allah Ta‟ala, malaikat, surga dan neraka. Pemberitaan

tentang masa lampau, semisal; permulaan penciptaan makhluk, dan kisah umat terdahulu. Pemberitaan tentang masa depan, baik apa yang akan terjadi pada masa nabi masih hidup, maupun masa depan yang masih jauh. Pemberitaan tentang apa yang tersimpan dalam jiwa dan hati manusia.

4. Al „Ijâzul Al „Ilmi

(

)

Kemukjizatan pada aspek isyarat dan pembicaraan Al Qur‟an tentang sains dan alam. Inti dari kajian ini adalah bahwa Al Qur‟an mengandung isyarat

ataupun pembicaraan tentang sains dan alam yang secara saintifik baru dibuktikan di kemudian hari jauh setelah turunnya Al Qur‟an. Adapun Pesan

Pesan Da‟wah Sains atauI‟jaz Ilmi Secara tegas memerintahkan pembacanya untuk membaca tanda-tanda kekuasaannya yang ada dalam kaun. I‟jâz al -„Ilmi al-Qur‟ân, -sebagaimana ia sangat menjadi perhatian pada zaman belakangan ini sebagai bentuk :

a. Kecocokan yang mendasar antara keterangan-keterangan al-Qur‟ân denganhakikat-hakikat pengetahuan alam yang diungkap oleh para ilmuan.

9 Ade Sanjaya, Kemukjizatan Al-Quran dari Aspek Tasyri‟ (Hukum),

(40)

b. Pelurusan al-Qur‟ân terhadap pemikiran-pemikiran batil yang telah tersebar pada beberapa generasi berbeda mengenai rahasia penciptaan. c. Jika dirangkum keterangan al-Qur‟ân, akan di dapati antara satu ayat

dengan ayat lainnya saling melengkapi, sehingga tampaklah kebenaran-kebenaran ilmiah, padahal jika diteliti lebih lanjut antara ayat-ayat tersebut turun secara terpisah pisah.

d. Adanya hikmah-hikmah al-Qur‟ân yang tidak terungkap ketika awal turun al-Qurân, tetapi justru terungkap seiring dilakukannya

penelitian-penelitian di lapangan ilmu pengetahuan yang beragam.

e. Tidak adanya pertentangan antara keterangan al-Qur‟ân mengenai sesuatu hal dengan hasil penelitian-penelitian ilmiah. Ini berbeda dengan kitab suci lain, yang antara keterangannya terkadang terdapat kontradiktif dengan realitas ilmiah. Didalam al – qur‟an Allah menjelakan semua ucapan, perbuatan yang dilakukan oleh Rosululloh Muhamad Saalallahu‟alihi wasallam bukanlah perkataan sia – sia melaikan semua dari wahyu Allah ta‟ala :

Artinya : “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. 2. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya 3. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). 4. Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.5. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan

diri dengan rupa yang asli. (An- Najm : 2- 5)

5. Al „Ijâzul Al „Ilmi menurut Ijtihat Ulama‟

Menurut syaikh Abdul Majid al – Zandani salah satu ulama terkemuka diyaman, dan salah satu pendiri yayasan ijazul ilmiah lil-Qur‟an wa as-

(41)

ma‟na – ma‟na yang terkandung didalam al – qur‟an, dalam pandangan

ilmiah dan melali proses percobaan pada – ilmu ilmu alam. Yang mana hal ini

belom ada diaman Rosululloh sallallahu‟alaihi wasalam.10

Dr. Dzaglul an – najjar Al „Ijâzul Al „Ilmi (Mu‟jiazt Ilmiah) adalah : Menunujkan isyarat tentang hakikat kauniah dan keagunganya yang mana pemahaman penemuan ini belom sampai pada zaman dahulu dan baru diungkap setelah proses baru sekarng ini setelah 10 abat yang lalu, dan tidak mungkin membanyangkan tentang kemulianan dan keagungan penciptaan ini

selain penciptaan Allah subhanahu wata‟ala, dan juga sebagai bukti kebenran

mukjiza nubuha Nabi Muhammad Sallallahu‟alaihi wasalam sebagai nabi

akhir zaman11

Seiring dengan penemuan-penemuan sains modern, dan kemunduran kaum muslimin pada level pengaruh ilmu pengetahuan dan peradaban. Meskipun sebenarnya perhatian terhadap aspek ini sudah dimulai sejak abad pertengahan. Tepatnya Fakhruddin Ar - Razi (w 606 H) dalam karyanya Mafatihul Ghaib sudah banyak membahas aspek ini. Namun demikian, sepanjang sejarahnya kajian pada aspek ini tidak begitu mendapat perhatian

besar bahkan cenderung terjadi ikhtilaf para ulama apakah AlQur‟an benar -benar mengandung aspek I‟jaz Ilmi.

Para cendekiawan yang mengkaji aspek ini memiliki tujuan dasar untuk membuktikan kebenaran Islam dan Al - Qur‟an, serta membangkitkan „izzah (kebanggaan) kaum muslimin dengan agamanya. Derasnya kajian pada bidang ini menimbulkan persoalan secara ilmiah, karena definisi, rambu-rambu, dan koridornya malah belum begitu banyak dibahas sehingga belum begitu jelas. Para peneliti dan cendekiawan justru lebih banyak berkutat pada upaya pencocokan antara penemuan sains modern dengan ayat-ayat

AlQur‟an, meskipun secara tafsiriah belum tentu ayat tersebut memaksudkan demikian. Hal yang sering luput dalam banyak kajian tentang I‟jaz Ilmi (

10

Nadir Darwis Muhammad - „ijizal ilmiah lil –qur‟an wa sunnah wa shilatuhu bimanhaj

da‟wah al – islamiah, Maktabah al – Iman kairo 2011 M – 1432 H. 11

. Dr. Dzaglul an – najjar Al – Ardu fil – Qur‟an al – Karim - Hal 69 Maktabah al –

(42)

kemukjizatan ilmiah) adalah hubungan antara Tafsir Ilmi (Tafsir Ilmiah) dengan Al „Ijâzul Al „Ilmi (Kemukjizatan Ilmiah).

Padahal mestinya Al „Ijâzul Al „Ilmi tidak mungkin berdiri sendiri tanpa Tafsir Ilmi, karena pembuktian suatu penemuan modern bahwa ia

diisyaratkan atau dibunyikan oleh AlQur‟an –dimana hal ini merupakan concern dari Al „Ijâzul Al „Ilmi - harus lah dibangun di atas Tafsir –penjelasan dan pemahaman akan makna ayat yang benar-, sehingga betul-betul ada korelasi antara makna yang dimaksud oleh ayat dengan penemuan sains

modern yang sedang dibuktikan tersebut. Penekanan pada hal ini cukup penting, karena upaya pencocokan tanpa definisi dan rambu -rambu jelas boleh jadi blunder, karena nash Al - Qur‟an pada dasarnya bersifat final, sedangkan penemuan sains modern boleh jadi belum final dan masih mungkin terkoreksi.

Secara kritis, pengaitan antara istilah Tafsir dan I‟jaz dengan istilah Ilmi (sains) juga tak luput dari problem. Karena istilah tersebut baik Tafsir Ilmi maupun Al „Ijâzul Al „Ilmi menggambarkan pengaruh dikotomi antara ilmu sains dengan non sains. Seakan tafsir yang tidak menggunakan pendekatan sains terapan tidaklah ilmiah. Karenanya para cendekiawan tafsir yang melakukan studi kritis terhadap istilah ini menambahkan istilah Tafsir Ilmi

Tajribi (Tafsir Ilmiah Terapan) yang bermakna bahwa

yang dimaksud adalah pendekatan penafsiran Al-Qur‟an berdasar ilmu-ilmu sains terapan. Prof Fahd Ar-Rumi, seorang Guru Besar Ilmu Al-Qur‟an pada

King Saud University mendefinisikan Tafsir Ilmi Tajribi :

Artinya: “Usaha seorang mufassir dalam menyingkap korelasi antara

ayat-ayat Al-Qur‟an yang bersifat kauniyah, dan penemuan sains terapan

(43)

Definisi di atas dikoreksi oleh cendekiawan lain, Prof Adil AsSyiddi, Guru

Besar Ilmu AlQur‟an pada universitas yang sama, karena semata-mata menyingkap korelasi bukanlah tafsir. Karenanya ia mendefinisikannya :

Artinya :“ Penggunaan sains terapan untuk menambah penjelasan makna

ayat-ayat AlQur‟an dan memperluas kandungan-kandungannya”.

Dari definisi tersebut nampak bahwa ilmu terapan lah yang menjadi alat pembantu untuk memahami nash, dan bukan penilai kebenaran nash tersebut. Dia juga menambahkan ketika hasil dari Tafsir Ilmi Tajribi tersebut digunakan untuk membuktikan kebenaran risalah Muhammad saw, maka saat itu ia menjadi I‟jaz Ilmi Tajribi (kemukjizatan AlQur‟an dalam aspek sains terapan). Patut digaris bawahi, inti dari kajian I‟jaz Ilmi Tajribi adalah keyakinan bahwa Al-Qur‟an mengandung isyarat-isyarat dan pembicaraan tentang alam dan ilmu pengetahuan, yang secara realitas baru terbukti jauh setelah Al-Qur‟an diturunkan, dan belum diketahui pada masa nabi saw. Hal ini menunjukkan kebenaran Al-Qur‟an, bahwa tak mungkin ia buatan makhluk. Sebagaimana Allah menurunkan Al-Qur‟an, Dia pula yang menciptakan alam, tak mungkin ada kontradiksi. Dalam upaya memahami korelasi antara penemuan sains terapan dengan makna Al-Qur‟an, perlu adanya rambu-rambu agar tak melampaui batas. Karena secara riil banyak upaya yang justru malah serampangan dan cenderung mencocok-cocokkan meski sebenarnya tak ada kaitan. Rambu-rambu Tafsir Ilmi Tajribi antara lain;

a. Terpenuhinya syarat-syarat mufassir pada orang yang melakukan upaya Tafsir Ilmi Tajribi, dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang sains

modern yang digunakan untuk menafsirkan Al-Qur‟an.

b. Hendaknya Tafsir Ilmi Tajribi ini tidak menutupi aspek-aspek lain dari pembahasan tafsir ayat-ayat yang sedang dibahas.

(44)

d. Mencukupkan penafsiran pada hakikat ilmiah yang sudah final, bukan pada teori atau pun hipotesa.

e. Tidak memaksakan lafaz Al - Qur‟an agar sesuai dengan penafsiran sains yang diinginkan padahal secara bahasa tidak berkait.

f. Tidak menjadikan aspek-aspek ghaib sebagai objek Tafsir Ilmi.

g. Terlepas dari diskursus di atas tentang definisi I‟jaz Ilmi Tajribi, secara faktual Al-Qur‟an memang mengandung isyarat-isyarat ilmiah – sebagaimana istilah Prof Quraish Shihab-, patut pula digaris bawahi

untuk tidak menganggap Al-Qur‟an sebagai buku sains dalam standar yang kita pahami.

6. Tema – Tema Pesan Dakwah Al „Ijâzul Al „Ilmi

Keajaiban Ilmiah Al Quran dalam perspertif Harun Yahya : a. Tema pesan dakwah sains / Ijazul „Ilmiah tentang aqidah

1) Mengenal Allah dengan akal 2) Menyikap Rahasia Alam Semseta 3) Pesona Di Angkasa Raya

4) Keajabiban Penciptaan Alam Semesta 5) Keajaiban penciptaan Gunung

6) Kaajaiban mata, penciuman dan pengecap 7) Kaajaiban nyamuk, rayap dan lebah12

b. Tema pesan dakwah sains / ijazul „ilmiah tentang syariat‟

1) Mu‟jiat Ilmiah dari Sholat lima waktu

2) Mu‟jiat Ilmiah Puasa Bagi kesehatan

3) Kebenaran risalah Isra‟ dan mi‟roj Rosululloh Muhammad Sallallahu‟alihi wasallam

c. Tema pesan dakwah sains atau ijazul „ilmiah tentang akhlak

1) Mu‟jizat Ilmiah Larangan berbohong

2) Melihat Kebaikan Di Segala Hal

3) Fakta Fakta Yang Mengungkap Hakikat Hidup13

12

Harun Yahya - Ensiklopedia Mukjizat Ilmiah al – Qur‟an dan Hadist - cetakan kedua,

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (136 Halaman)