HUBUNGAN ANTARA KEBIJAKAN ORGANISASI DAN TEMAN SEJAWAT DENGAN KEPUASAN KERJA GURU SMA NEGERI DI KABUPATEN BATUBARA.

17  11 

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA KEBIJAKAN ORGANISASI DAN

TEMAN SEJAWAT DENGAN KEPUASAN KERJA GURU

SMA NEGERI DI KABUPATEN BATUBARA

T E S I S

Oleh :

SUMIATY SITORUS

NIM : 081188130017

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Tugas-Tugas Dan Syarat-Syarat Memperoleh Gelar

Magister Pendidikan

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

(2)

i

ABSTRAK

Sumiaty Sitorus, 081188130017. Hubungan Antara Kebijakan Organisasi dan Teman Sejawat dengan Kepuasan Kerja Guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara. Tesis: Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Medan. 2012.

Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) Apakah terdapat hubungan antara kebijakan organisasi dengan kepuasan kerja guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara?, (2) Apakah terdapat hubungan antara teman sejawat dengan kepuasan kerja guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara?, (3) Apakah terdapat hubungan antara kebijakan organisasi dan teman sejawat secara bersama-sama dengan kepuasan kerja guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara?

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Hubungan antara kebijakan organisasi dengan kepuasan kerja guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara, (2) Hubungan antara teman sejawat dengan kepuasan kerja guru.SMA Negeri di Kabupaten Batubara, dan (3) Hubungan antara kebijakan organisasi dan teman sejawat secara bersama-sama dengan kepuasan kerja guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara. Metode penelitian ini adalah kuantitatif jenis deskriptif studi korelasional dengan pola kajian korelatif dengan menempatkan variabel penelitian ke dalam dua kelompok yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Populasi penelitian ini adalah guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara yang berada di masing-masing unit kerja. Untuk menentukan sampel digunakan teknik Proportional Random Sampling, dan berdasarkan perhitungan dan teknik tersebut diperoleh jumlah sampel 86 orang. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data ialah kuesioner skala Likert. Teknik analisis yang digunakan ialah teknik korelasi dan regresi sederhana dan ganda.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Kebijakan Organisasi mempunyai hubungan yang signifikan dengan Kepuasan kerja guru dengan koefisien korelasi 0,324 dan memberikan sumbangan yang efektif sebesar 8,2%. Hal ini diartikan bahwa variasi yang terjadi pada variabel Kebijakan Organisasi sebesar 8,2% dapat diprediksi dalam meningkatkan Kepuasan kerja guru, (2) Hubungan teman sejawat mempunyai hubungan yang signifikan dengan Kepuasan kerja guru dengan koefisien korelasi 0,435 dan memberikan sumbangan yang efektif sebesar 16,5 %. Hal ini dapat diartikan bahwa variasi yang terjadi pada variabel Hubungan teman sejawat sebesar 16,5 % dapat diprediksi dalam meningkatkan Kepuasan kerja guru, (3) Kebijakan Organisasi dan Hubungan teman sejawat secara bersama-sama mempunyai hubungan signifikan dengan Kepuasan kerja guru dengan koefisien korelasi 0,502 dan memberikan sumbangan efektif sebesar 60,7%. Hal ini bermakna bahwa 25,2% dari variasi yang terjadi Kepuasan kerja guru dapat diprediksi oleh kedua variabel bebas tersebut.

(3)

ii

ABSTRACT

Sumiaty Sitorus, 081188130017. The Relationship Between Organizational Policies and Friends Fellow with the Senior High School Teacher’s Job Satisfaction in the Batubara District. Thesis: Postgraduate Program, State University of Medan. 2012.

The formulation of the problem of this study were: (1) Is there a relationship between the organization's policy with senior high school teacher’s job satisfaction in the Batubara district?, (2) Is there a relationship between job satisfaction peers with

high school teacher’s in the Batubara district?, (3) Is there is a relationship between organizational policy and peers together with senior high school teacher’s job satisfaction in the Batubara district?. The purpose of this study was to determine: (1) The relationship between job satisfaction organizational policy with senior high

school teacher’s in the Batubara district, (2) The relationship between job satisfaction peers with the senior high school teacher’s in the Batubara district, and (3) The relationship between organizational policies and colleagues together with the senior

high school teacher’s job satisfaction in Batubara district.

This research method is quantitative descriptive type of correlational studies with correlative study of the pattern by placing the research variables into two groups: independent variables and the dependent variable. The study population was high school teacher’s in the Batubara district located at each work unit. Samples used to determine Proportional Random Sampling technique, and based on engineering calculations and the obtained sample number 86. Instruments used to collect data was questionnaire Likert scale. Technical analysis is a technique used correlation and simple and multiple regression.

These results indicate that: (1) Policy Organization has a significant

relationship with job satisfaction of teacher’s with a correlation coefficient of 0.324 and an effective contribution of 8.2%. It is understood that variations which occur in

variable Organizational Policies of 8.2% can be predicted to increase teacher’s job

satisfaction, (2) The relationship peers have a significant relationship with job

satisfaction of teacher’s with a correlation coefficient of 0.435 and an effective

contribution by 16, 5%. This may imply that the variations that occur in the variable

relationship peers at 16.5% can be predicted to increase teacher’s job satisfaction, (3) Policy and Relations Organization peers together have a significant relationship with

job satisfaction of teacher’s with a correlation coefficient of 0.502 and effective

contribution of 60.7%. This means that 25.2% of the variations that occur teacher’s job satisfaction can be predicted by the two independent variables.

Conclusions of this study is that the policy of the organization and colleague

relationships are empirically proven to be a factor supporting an increase in teacher’s

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang selalu memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Tesis ini bertujuan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Magister Pendidikan pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan.

Penulisan tesis ini dapat diselesaikan berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak baik moril maupun materil, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga bantuan dan dorongan yang telah diberikan menjadi amal ibadah dan mendapatkan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa, Amiin.

Rasa terima kasih terutama penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. H. Zainuddin, M.Pd selaku pembimbing I, dan Prof. Dr. Sukirno, M.Pd selaku pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan dan motivasi pada penulis. Begitu juga rasa terima kasih penulis sampaikan kepada Prof. Dr. H. Ibnu Hajar Damanik, M.Si, Prof. Dr. H. Syaiful Sagala, M.Pd dan Dr. Arif Rahman, M.Pd sebagai narasumber dalam penelitian ini. Tak lupa rasa terima kasih juga penulis sampaikan kepada :

(5)

2. Prof. Dr. H. Syaiful Sagala, M.Pd. dan Dr. Yasaratodo Wau, M.Pd. Ketua Prodi dan Sekretaris Prodi Administrasi Pendidikan PPs. Universitas Negeri Medan.

3. Para dosen di Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan yang telah membekali penulis dengan ilmu, pengalaman, dan kematangan berpikir, yang dapat digunakan untuk penyelesaian tesis ini.

4. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Batubara telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian di SMA Negeri di Kabupaten Batubara.

5. Para Kepala sekolah dan guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara yang telah memberikan bantuan pada penulis dalam pengumpulan data di lapangan.

6. Rekan-rekan mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan yang telah banyak memberikan bantuan moral dalam penyelesaian perkuliahan dan penelitian ini.

Selanjutnya terima kasih yang teristimewa penulis sampaikan kepada Ayah J. Sitorus dan Ibu B. Panjaitan beserta Suami Maringan Siahaan dan ananda Regina Lerona Siahaan beserta seluruh anggota keluarga tersayang yang dengan penuh kesabaran, ketabahan, pengertian dan pengorbanan yang mendalam semasa penulis mengikuti pendidikan ini. Akhirnya, penulis berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga kita semua mendapatkan kasih dan karunia-Nya.

Medan, April 2012

Penulis,

(6)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kepuasan kerja guru ditandai dengan munculnya rasa puas dan terselesaikannya tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab guru tersebut secara tepat waktu, disamping itu munculnya dedikasi, kegairahan, kerajinan, ketekunan, inisitif dan kreativitas kerja yang tinggi dalam bekerja. Kepuasan kerja guru menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan, apabila guru merasakan kepuasan dalam dalam bekerja, maka akan tercipta suasana yang penuh kebersamaan, memiliki tanggung jawab yang sama, iklim komunikasi yang baik dan juga semangat kerja yang tinggi sehingga tujuan organisasi atau sekolah dapat tercapai secara maksimal. Tetapi sebaliknya apabila guru tidak merasa puas, maka akan tercipta suasana yang kaku, membosankan, dan semangat tim yang rendah. Berbagai penelitian, ungkap Siagian (2008:295) telah membuktikan bahwa apabila dalam pekerjaannya sesorang mempunyai otonomi untuk bertindak, terdapat variasi, memberikan sumbangan penting dalam keberhasilan organisasi dan karyawan memperoleh umpan balik tentang hasil pekerjaan yang dilakukannya, yang bersangkutan akan merasa puas. Robbins (2007:107) juga menyimpulkan bahwa ketika data kepuasan dan produktivitas kerja dikumpulkan pada suatu organisasi, ditemukan bahwa organisasi yang mempunyai lebih banyak karyawan yang puas cenderung lebih efektif dari pada organisasi yang mempunyai lebih sedikit karyawan yang puas.

(7)
(8)

direspon guru dengan ketidak patuhan terhadap pelaksanaan kebijakan yang diberlakukan. Gejala-gejala yang mencerminkan rendahnya kepuasan kerja guru ini akan berdampak negatif jika dibiarkan, karena akan dapat menurunkan produktifitas kerja yang pada akhirnya akan menurunkan mutu pendidikan.

Ramlan Ruvendi ( 2005: 17) menyebutkan bahwa indikator kepuasan atau ketidakpuasan kerja pegawai dapat diperlihatkan oleh beberapa aspek diantaranya : 1) jumlah kehadiran pegawai atau jumlah kemangkiran, 2) perasaan senang atau tidak senang dalam melaksanakan pekerjaan, 3) perasaan adil atau tidak adil dalam menerima imbalan, 4) suka atau tidak suka dengan jabatan yang dipegangnya, 5) sikap menolak pekerjaan atau menerima dengan penuh tanggung jawab, 6) tingkat motivasi para pegawai yang tercermin dalam perilaku pekerjaan, 7). reaksi positif atau negatif terhadap kebijakan organisasi, dan 8) unjuk rasa atau perilaku destruktif lainnya.

Kepuasan kerja merupakan sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dapat dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan, dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Kepuasan dalam pekerjaan adalah kepusasan kerja yang dinikmati dalam pekerjaan dengan memperoleh pujian hasil kerja, penempatan, perlakuan, peralatan, dan suasana lingkungan kerja yang baik. Guru yang lebih suka menikmati kepuasan kerja dalam pekerjaan akan lebih mengutamakan pekerjaannya daripada balas jasa walaupun balas jasa itu penting.

(9)

perasaannya atau persepsinya telah diperoleh atau dicapai melalui pekerjaan. Dengan demikian, orang akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara yang diinginkan dengan persepsinya atas kenyataan karena batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wanous dan Lawler (dalam As'ad, 2003: 105) mengemukakan bahwa karyawan terhadap pekerjaannya tergantung pada bagaimana ketidaksesuaian (discrepancy) yang dirasakan.

Kedua, equity theory yang dikembangkan oleh Adam (1963:89). Pada prinsipnya teori ini mengemukakan bahwa orang akan merasa puas sepanjang mereka merasa ada keadilan (equity). Perasaan equity dan inequity atas suatu situasi diperoleh orang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor, maupun di tempat lain. Teori ini mengidentifikasi elemen-elemen equity meliputi tiga hal, yaitu: (a) input, adalah sesuatu yang berharga yang dirasakan oleh pegawai sebagai masukan terhadap pekerjaannya; (b) out comes, adalah segala sesuatu yang berharga yang dirasakan sebagai dari hasil pekerjaannya; (c) comparisons persona, adalah perbandingan antara input dan out comes yang diperolehnya.

(10)

Secara historis, karyawan yang mendapatkan kepuasan kerja akan melaksanakan kerjanya dengan baik. Masalahnya adalah terdapatnya karyawan yang kepuasan kerjanya tinggi tidak menjadi karyawan yang produktivitasnya tinggi. Banyak pendapat mengemukakan bahwa kepuasan kerja yang lebih tinggi, terutama yang dihasilkan mengakibatkan penghargaan lebih tinggi. Bila penghargaan tersebut dirasakan adil dan memadai, maka kepuasan kerja karyawan akan meningkat karena mereka menerima penghargaan dalam proporsi yang sesuai dengan prestasi kerja mereka. Menurut Strauss dan Sayles (1980:123) kepuasan kerja juga penting untuk aktualisasi dini. Karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja tidak akan pernah mencapai kematangan psikologis dan pada gilirannya akan menjadi frustasi. Karyawan seperti ini akan sering melamun, mempunyai semangat kerja rendah, cepat lelah dan bosan, emosinya tidak stabil, sering absen dan tidak melakukan kesibukan yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan yang harus dilakukan. Dessler (1982:65) juga mengemukakan karyawan yang mendapatkan kepuasan kerja biasanya mempunyai catatan kehadiran dan peraturan yang lebih baik, tetapi kurang aktif dalam kegiatan serikat karyawan dan kadang-kadang berprestasi lebih baik dari pada karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja ( Handoko, 2001: 196). Oleh karena itu, kepuasan kerja mempunyai arti penting baik bagi karyawan maupun organisasi, terutama untuk menciptakan keadaan positif di lingkungan kerja.

(11)

karyawan sehingga tercapai kepuasan kerja. Sementara pada faktor individual ada dua predictor penting terhadap kepuasan kerja yaitu status dan senioritas. Status kerja yang rendah dan pekerjaan yang rutin akan banyak kemungkinan mendorong karyawan untuk mencari pekerjaan lain, hal itu berarti dua faktor tersebut dapat menyebabkan ketidakpuasan kerja dan karyawan yang memiliki ketertarikan dan tantangan kerja akan lebih merasa puas dengan hasil kerjanya apabila mereka dapat menyelesaikan dengan maksimal.

Faktor lain yang juga dianggap berhubungan dengan kepuasan kerja adalah faktor relasi teman sejawat. Edwin (1995:128) menyatakan bahwa hubungan dengan teman sejawat merupakan hubungan kemanusiaan yang penting. Hubungan demikian diperlukan untuk memelihara iklim organisasi yang menyenangkan dan memelihara hubungan yang hangat dan bersahabat dengan teman sejawat/rekan serta untuk bekerjasama. Hubungan dengan teman sejawat yang harmonis akan menghasilkan kondisi kerja yang kondusif dan akan mendorong individu untuk memperoleh kepuasan kerja. Sebaliknya hubungan yang disharmonis akan menghasilkan situasi yang tidak nyaman yang pada akhirnya akan berujung ketidakpuasan dalam bekerja. Senada dengan hal ini, Gilmer dalam As'ad (2003: 114) juga menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah kesempatan untuk maju, keamanan kerja, gaji, perusahaan dan manajemen, faktor intrinsik dan pekerjaan, kondisi kerja, aspek sosial dalam pekerjaan, komunikasi, dan fasilitas. Sementara itu, menurut Heidjrachman dan Husnan (2002:19) mengemukakan beberapa faktor mengenai kebutuhan dan keinginan pegawai, yakni: gaji yang baik, pekerjaan yang aman, rekan sekerja yang kompak, penghargaan terhadap pekerjaan, pekerjaan yang berarti, kesempatan untuk maju, pimpinan yang adil dan bijaksana, pengarahan dan perintah yang wajar, dan organisasi atau tempat kerja yang dihargai oleh masyarakat.

(12)

Kebijakan Organisasi dan Teman Sejawat dengan kepuasan kerja guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasikan beberapa faktor yang dianggap berhubungan dengan peningkatan kepuasan kerja guru antara lain: Apakah rendahnya pendapatan yang diterima mengakibatkan rendahnya kepuasan kerja guru ? Apakah rendahnya kepuasan kerja guru disebabkan rendahnya motivasi kerja guru ? Adakah hubungan yang berarti antara iklim organisasi dengan kepuasan kerja guru? Apakah iklim kerjasama berhubungan dengan kepuasan kerja guru ? Apakah fasilitas yang dimiliki sekolah berhubungan dengan peningkatan kepuasan kerja guru ? Apakah disiplin kerja berhubungan dengan kepuasan kerja guru? Apakah supervisi berhubungan dengan kepuasan kerja guru? Apakah hubungan sejawat berhubungan dengan kepuasan kerja guru? Apakah kebijakan organisasi berhubungan dengan kepuasan kerja guru?.

C. Pembatasan Masalah

Masalah penelitian ini perlu dibatasi dengan maksud untuk memperoleh ruang lingkup yang lebih jelas atau terfokus. Untuk itu masalah dibatasi pada dua faktor yang diduga berhubungan dengan kepuasan kerja guru yakni faktor kebijakan organisasi dan hubungan teman sejawat. Pembatasan masalah pada kepuasan kerja guru yakni faktor kebijakan organisasi dan hubungan sejawat ini bukan berarti mengecilkan atau mengabaikan kontribusi faktor lain akan tetapi lebih pada pertimbangan-pertimbangan fenomena awal yang ditemukan dalam survey awal dan kemampuan peneliti yang belum memungkinkan untuk meneliti keseluruhan variabel.

(13)

Sesuai dengan pembatasan masalah yang telah disebutkan di atas, maka rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut:

1. Apakah terdapat hubungan antara kebijakan organisasi dengan kepuasan kerja guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara?

2. Apakah terdapat hubungan antara teman sejawat dengan kepuasan kerja guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara?

3. Apakah terdapat hubungan antara kebijakan organisasi dan teman sejawat secara bersama-sama dengan kepuasan kerja guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:

1. Hubungan antara kebijakan organisasi dengan kepuasan kerja guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara.

2. Hubungan antara teman sejawat dengan kepuasan kerja guru.SMA Negeri di Kabupaten Batubara.

3. Hubungan antara kebijakan organisasi dan teman sejawat secara bersama-sama dengan kepuasan kerja guru SMA Negeri di Kabupaten Batubara.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan berguna :

1. Secara Teoretis

(14)

b. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian lebih lanjut dalam rangka pegembangan penelitian.

2. Secara Praktis

a. Kepala-kepala sekolah, masukan/sumber informasi dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan organisasi dan hubungan sejawat bagi guru sehingga kepuasan kerja guru akan semakin meningkat.

b. Guru, khususnya di lingkungan SMA Negeri di Kabupaten Batubara untuk dapat lebih memahami dan menyikapi kebijakan- kebijakan organisasi di mana ia bekerja dan dalam meningkatkan hubungan sejawat yang harmonis dalam suasana yang kondusif. c. Bagi peneliti lain, sebagai bahan refrensi dalam melakukan penelitian selanjutnya dan

(15)

BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan data dan hasil analisis yang telah dipaparkan dapat ditarik disimpulkan sebagai berikut:

1. Kebijakan Organisasi mempunyai hubungan yang signifikan dengan Kepuasan kerja guru dengan koefisien korelasi 0,324 dan memberikan sumbangan yang efektif sebesar 8,2%. Hal ini diartikan bahwa variasi yang terjadi pada variabel Kebijakan Organisasi sebesar 8,2% dapat diprediksi dalam meningkatkan Kepuasan kerja guru . 2. Hubungan teman sejawat mempunyai hubungan yang signifikan dengan Kepuasan kerja guru dengan koefisien korelasi 0,435 dan memberikan sumbangan yang efektif sebesar 16,5 %. Hal ini dapat diartikan bahwa variasi yang terjadi pada variabel Hubungan teman sejawat sebesar 16,5 % dapat diprediksi dalam meningkatkan Kepuasan kerja guru.

3. Selanjutnya, Kebijakan Organisasi dan Hubungan teman sejawat secara bersama-sama mempunyai hubungan signifikan dengan Kepuasan kerja guru dengan koefisien korelasi 0,502 dan memberikan sumbangan efektif sebesar 60,7%. Hal ini bermakna bahwa 25,2% dari variasi yang terjadi Kepuasan kerja guru dapat diprediksi oleh kedua variabel bebas tersebut.

B. Implikasi

(16)

Kepuasan kerja guru dapat ditingkatkan secara optimal untuk masa-masa yang akan datang.

Kecilnya hubungan yang diberikan Kebijakan Organisasi maupun Hubungan teman sejawat guru dalam temuan penelitian ini menujukkan bahwa kegiatan selama ini belum berlangsung secara optimal sehingga hal ini berimplikasi pada Kepuasan kerja guru. Memperhatikan hal ini kepala sekolah hendaknya dapat lebih memperhatikan aspek kemampuan manajerial ini untuk masa-masa akan datang terutama dalam kaitannya dengan faktor kepemimpinan dan kemampuan pengawasan kepala sekolah. Jika hal ini tidak mendapat perhatian dari kepala sekolah maka akan muncul perilaku guru dalam pelaksanaan tanggung jawabnya dengan sepenuh hati sehingga kepuasan dan hasil kerja yang dilakukan akan maksimal.

(17)

C. Saran

Saran-saran yang disampaikan sehubungan dengan temuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Batubara beserta jajaran yang terkait lainnya terutama dalam hal peningkatan Kepuasan kerja guru disarankan memberikan perhatian khusus dalam hal ini: (1) Penetapan kebijakan yang dapat memenuhi harapan dan keinginan warga sekolah (Kepala sekolah, guru, pegawai, maupun siswa), (2) melakukan pembinaan terhadap kemampuan warga sekolah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, (3) memberikan reward bagi warga sekolah yang berprestasi dalam melaksanakan tugasnya sehingga secara berkesinambungan dapat meningkatkan kepuasan dan unjuk kerja optimalnya bagi sekolah, (4) membuka kesempatan pada guru untuk melanjutkan pendidikannya pada jenjang yang lebih tinggi.

2. Peningkatan kemampuan kepemimpinan kepala sekolah maupun memberdayakan warga sekolah maupun komite sekolah sehingga akan menjadi faktor pendorong yang positif bagi peningkatan Kepuasan kerja guru.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :