PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI DI SMK NU BANJARMASIN
Arlina Shalihah
Pendidikan Profesi Guru, IAIN Palangka Raya Email : [email protected]
ABSTRAK
Problem Based Learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah yang berkaitan dengan dunia nyata sebagai titik awal pembelajaran bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan atau konsep yang esensial dari materi pelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model problem based learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran pendidikan agama islam siswa kelas X di SMK NU Banjarmasin. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu Perencanaan, Pelaksanaan Tindakan, observasi, dan refleksi.
Data kegiatan pembelajaran di peroleh dari observasi guru dalam proses pembelajaran, observasi siswa dalam proses belajar, dan hasil tes belajar siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada penerapkan model pembelajaran Problem Based Learning pada siklus I rata-rata nilai 68,75,dan pada siklus II nilai rata-rata 85,62 .Berdasarkan hasil analisis data ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning Pada Siswa SMK NU Banjarmasin
Kata Kunci : Problem Based Learning,Hasil Belajar,PAI.
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah suatu upaya kesadaran yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan mendewasakan peserta didik. Dalam hal ini, suatu pendidikan perlu adanya perencanaan dan pengorganisasian sebagai wujud peningkatan potensi peserta didik oleh pendidik di lingkungan pendidikan yang mencakup pertanggung jawaban.
Pendidikan senantiasa menjadi sorotan bagi masyarakat yang ditandai dengan adanya perubahan dan pembaharuan pada sistem pendidikan dan metode pengajaran yang efektif dan efisien. Perubahan kearah perbaikan adalah tuntutan alamiyah yang menjadi kebutuhan setiap insan dalam kehidupan. Peran pendidikan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan sebagai salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pendidikan Agama Islam pada dasarnya menempati posisi yang strategis dalam mewujudkan tujuan pendidikan Nasional, terutama dalam membentuk iman dan takwa serta mengembangkan karakter peserta didik ke arah yang lebih positif. Senada dengan pendapat dari Dzakia Darajdat (1993:122) yang menyebutkan bahwa tujuan pendidikan Islam secara garis besarnya adalah membina manusia agar menjadi hamba Allah yang baik dalam seluruh aspek kehidupan, perbuatan, pikiran dan perasaannya.
Tujuan Pendidikan Agama Islam ini tentunya harus dibarengi dengan perubahan pada beberapa metode dalam menyajikan materi PAI yang selama ini masih bersifat konvensional, selanjutnya menjadi lebih kreatif dan menyenangkan. Oleh karena itu, pendekatan Problem Based Learning seharusnya digunakan oleh guru dalam melakukan pembelajaran. Alasannya, kontekstual lebih membekali peserta didik memecahkan persoalan kehidupan jangka panjang (Nurhadi:2002).
Selain itu belajar akan lebih baik jika mereka mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan sekedar mengetahui atau mentransfer pengetahuan dari guru (kusnanda,2007:271) Karena dengan keaktifan siswa akan mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman tentang agama islam itu sendiri. Setiap individu dianugerahi otak untuk berfikir, bukan hanya menerima saja tapi aktif untuk mencari dan berfikir.
Pembelajaran dan hasil belajar merupakan bagian yang sangat penting dalam proses penentu keberhasilan pendidikan. Untuk itu diperlukan evaluasi yang tepat terhadap pembelajaran dan hasil belajar. Hasil evaluasi terhadap keduanya dapat digunakan untuk memperbaiki langkah pembelajaran selanjutnya dan penilaian yang akan digunakan oleh pendidik.
Problem Based Learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah yang berkaitan dengan dunia nyata sebagai titik awal pembelajaran bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan atau konsep yang esensial dari materi pelajaran. Langkah-langkah strategi PBL, yaitu; 1) orientasi siswa pada masalah, 2) mengorganisasikan siswa untuk belajar, 3) membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, 4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan 5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Berdasarkan uraian diatas, tujuan dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI materi ketentuan berpakaian sesuai syariat Islam di Kelas X Akuntansi Menengah Kejuruan Swasta (SMKS) Nahdlatul Ulama (NU) Banjarmasin
Hasil Belajar
Hasil belajar adalah sebuah proses yang telah dicapai setelah melalui tahap proses belajar dan tahap perubahan tingkah laku. Hasil belajar dapat diukur dari kemampuan berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan dan juga dapat diukur dengan menggunakan alat evaluasi.
Menurut Abdurrahman (Jihad & Haris, 2013 : 14) hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Murid yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.
Menurut Bloom (Afandi.et al.,2013:6) Hasil belajar yang menggolongkan ke dalam tiga ranah yang perlu diperhatikan dalam setiap proses belajar mengajar. Tiga ranah tersebut adalah ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Ranah kognitif mencakup hasil belajar yang berhubungan dengan ingatan, pengetahuan, dan kemampuan intelektual. Ranah efektif mencakup hasil belajar yang berhubungan dengan sikap, nilai-nilai, perasaan, dan minat. Ranah psikomotor mencakup hasil belajar yang berhubungan dengan keterampilan fisik atau gerak yang ditunjang oleh kemampuan psikis.
Problem Based Learning
Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model yang dapat menjadikan siswa aktif, mandiri, menyenangkan dan mampu membentuk kerja sama yang baik antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa yang lainnya dalam menemukan dan memahami konsep tersebut.
Menurut Barrow (dalam Huda, 2013: 271) pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based learning) sebagai pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju pemahaman akan resolusi suatu masalah. Masalah tersebut dipertemukan pertama-tama dalam proses pembelajaran. PBL merupakan salah satu bentuk perubahan paradigma pengajaran menuju paradigma pembelajaran. Jadi fokusnya adalah pada pembelajaran siswa dan bukan pada pengejaran guru.
Menurut Nurhadi (dalam Sitiatava 2012) Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Suyanto (Mahmud & Priatna, 2015) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berkait erat dengan persoalan praktik pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru. Penelitian tindakan ini menggunakan model Kurt Lewin dengan dua siklus. Ada 4 hal yang harus dilakukan dalam proses penelitian pendidikan yakni perencanaan (planning), tindakan, observasi, dan refleksiPelaksanaan penelitian tindakan adalah proses yang terjadi dalam suatu lingkaran yang terus menerus.
Kompetensi Dasar (KD) yang akan dijadikan penelitian ini yaitu 3.5 Menganalisis ketentuan berpakaian sesuai syariat Islam 4.4 Mempraktikkan tata cara Berpakaian sesuai syariat Islam
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Akuntansi SMK NU Banjarmasin yang berjumlah 16 orang. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah penerapan model Problem Based Learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Teknik pengumpulan data dalam penelitan ini yaitu dimana data-data dalam penelitian ini diambil melalui instrumen observasi, tes, serta dokumentasi. Selama pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model Problem based learning. Lembar observasi yang digunakan yaitu lembar observasi selama keterlaksanaan pembelajaran saat melaksanakan metode problem based learning. Di setiap akhir siklus dilaksanakan tes tertulis yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan Hasil belajar siswa setelah dilaksanakannya pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning.
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mengetahui penggunanaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa – siswi kelas X Akuntansi SMK NU Banjarmasin, dalam menghadapi kesulitan belajar memahami mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) materi ketentuan berpakaian sesuai syariat Islam. Pada Tindakan Siklus I penerapan model pembelajaran Problem Based
baik walaupun belum optimal. Masih memerlukan perbaikan pada hal-hal berikut: guru telah cukup berhasil membuat rancangan pembelajaran dengan penilaian dari observer dengan kategori ‘Baik’.
Pada tahap perencanaan siklus I, peneliti menyusun Pembuatan RPP dengan menggunakan problem based learning (PBL) pada materi Ketentuan Berpakaian sesuai syariat Islam, mempersiapkan alat evaluasi dan membuat lembar obsever untuk mengamati aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Pada tahap perencanaan siklus II, peneliti merancang perbaikan terhadap kekurangan yang di temukan pada pembelajaran siklus I.
Pada tahap pelaksanaan tindakan siklus I, peneliti melaksanakan keseluruhan rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP siklus I dengan menerapkan model pembelajaran problem based learning (PBL). Pada tahap pelaksanaan siklus II peneliti melaksanakan keseluruhan rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP siklus II, dengan menerapkan model problem based learning (PBL), siswa lebih aktif dan bekerja sama dengan teman-temannya, guru maksimal menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan, siswa lebih percaya diri dalam presentasi dan mengerjakan soal tes sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran dari aktivitas guru pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan, pada siklus I berada pada 71% ini dalam kategori baik, sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 90% dalam kategori “sangat baik”. Guru melakukan perbaikan terhadap proses pembelajaran sehingga keterlaksanaan pembelajaran dilaksanakan dengan baik sehingga aktivitas semakin meningkat. Untuk hasil observasi pengamatan kegiatan siswa pada siklus I adalah 66% di kategorikan aktif, dan setelah di lakukan perbaikan pada siklus II aktivitas siswa meningkat menjadi 87% atau kategori “sangat aktif”. Berdasarkan hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa dengan menerapkan model problem based learning (PBL) dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Terlihat dari hasil observasi keaktifan siswa pada pelaksanaan tindakan kelas yang dilaksanakan.
Pada saat pembelajaran, guru mampu melibatkan siswa untuk aktif dalam pembelajaran, sehingga suasana kelas lebih menyenangkan.
Selanjutnya, berdasarkan data yang telah dikumpulkan hasil belajar siswa pada siklus I mendapatkan nilai rata-rata 68,75 dengan persentase siswa yang tuntas sebanyak 56,25 % dan siswa tidak tuntas 43,25 %. Dengan rincian 9 siswa telah tuntas dan 7 siswa belum tuntas . Melihat data hasil prestasi belajar siswa pada siklus I maka penulis melakukan refleksi dan perbaikan sehingga di siklus II sudah mengalami kenaikan hasil belajar siswa yaitu dengan rata-rata 87,5 dengan persentase yang tuntas adalah 87,5 % yaitu 14 siswa, yang tidak tuntas ada 12,5% atau ada 2 orang siswa.
Pada siklus II murid sudah aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bisa mengikuti model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) secara keseluruhan baik dari pertanyaan dan jawaban yang diberikan serta mampu memberikan tambahan informasi terhadap pertanyaan ataupun jawaban. Guru dalam hal ini hanya memberikan dan mengawasi terhadap jalannya proses diskusi yang dilakukan oleh siswa.
Menurut Abdurrahman (Jihad & Haris, 2013 : 14) hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Murid yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.
Ada peningkatan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, semua siswa berusaha memahami materi yang diberikan oleh guru, siswa juga sangat antusias sehingga menyimak jalannya tanya jawab yang dilakukan oleh teman yang lainnya. Setelah dilakukan tes atau penilaian di akhir pembelajaran pada siklus II, ternyata hasil belajar siswa sudah mengalami peningkatan dalam proses pembelajaran, hal tersebut bisa dilihat dengan adanya perolehan nilai yang lebih baik bila dibandingkan siklus I dan hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan yang diharapkan.
Berikut dapat dilihat hasil belajar dari siklus I dan siklus II sebagai berikut:
Tabel 4.7 Perbandingan Hasil Belajar siswa Siklus I dan Siklus II
No Aspek Hasil Belajar Jumlah Siswa Siklus I Siklus II
1. Tuntas 9 14
2. Belum Tuntas 7 2
3. Rata-rata 68,75 85,62
4. Persentase Ketuntasan 56,25% 87,5%
5. Persentase Ketidaktuntasan 43,75% 12,5
Berdasarkan hasil belajar di atas maka secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat meningkatkan hasil belajar Siswa kelas X Akuntansi SMK NU Banjarmasin.
Dari tabel hasil nilai belajar di atas, untuk lebih jelas dapat bisa dilihat pada grafik sebagai berikut:
Gambar Grafik 4.3 Perbandingan Nilai Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II
Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terbukti dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) pada materi “Ketentuan Berpakaian Sesuai Syariat Islam”. Hal ini dibuktikan dengan perolehan hasil belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) rata-rata mencapai Kriteri Ketuntasan Minimal (KKM). Jika temuan penelitian dianalisis sejalan dengan pendapat (Abuddin Nata: 2011) yang menyatakan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah pembelajaran yang bertumpu pada kreativitas, inovasi dan motivasi para siswa.
Dengan Problem Based Learning (PBL), proses belajar lebih banyak bertumpu pada kegiatan para siswa secara mandiri, sementara guru bertindak sebagai perancang, fasilitator, motivator atas terjadinya kegiatan belajar mengajar tersebut, melalui Problem Based Learning (PBL) seorang siswa akan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah yang selanjutnya dapat diterapkan pada saat menghadapi masalah yang sesungguhnya di masyarakat.
KESIMPULAN
Dari penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Pendidikan
56,25%
87,5%
Siklus I Siklus II
Perbandingan hasil Belajar siklus I dan siklus II
Perbandingan hasil Belajar siklus I dan siklus II 100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Agama Islam di Kelas X Akuntansi SMK NU Banjarmasin berhasil dengan kriteria sangat baik.
2. Aktivitas siswa dalam pembelajaran mata pelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Kelas X Akuntansi SMK NU Banjarmasin sudah terlaksana dengan baik sehingga secara rata-rata mencapai kriteria sangat aktif dan secara klasikal juga berada pada kategori sangat aktif.
3. Dari tes hasil belajar siswa dapat diperoleh nilai rata-rata melebihi nilai ketuntasan belajar yang ditetapkan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa siswa Kelas X Akuntansi SMK NU Banjarmasin telah tuntas dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
Dengan demikian, hasil belajar Siswa dan hasil analisis lembar observasi pengamatan meningkat kearah yang lebih baik dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin, Nata. (2011). Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran.
Jakarta:Kencana.
Afandi, M., Chamalah, E., & Wardani, O. P. (2013). Model dan Metode Pembelajaran di Sekolah (cetakan pertama). Semarang: Unissula Press.
Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
C. Asri Budiningsih. Strategi Pembelajaran. (Yogyakarta: FIP UNY: 2006) hlm.
111
Chasanah, U. (2019). Penerapan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Hasil Belajar Murid pada Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Materi Gunung Meletus Kelas V SD NEGERI 196 Muaro Jambi
Darajat, Dzakiah. Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, Jakarta: (PT Gunung Mulia, 1993
Dimyati Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Huda, Miftahul. 2013. Model-Model Pengajaran dan pembelajaran.
Yogyakarta:Pustaka Belajar
Jihad, A., & Haris, A. (2013). Evaluasi Pembelajaran (Rochmad (ed.); pertama).
Kunandar, 2012, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi guru, Jakarta: Raja Grafindo Persada
Mahmud, & Priatna, T. (2015). Penelitian Tindakan Kelas Teori dan Praktik. In I. Suntana (Ed.), \ (11th ed.). Bandung: Tsabita
Namsa, Yunus, 2000, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta : Pustaka Firdaus
Nurhadi. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL) , (Universitas Negeri Malang, 2002)
Pratiwi, Y. (2017). Pengaruh Manajemen Kelas terhadap Hasil Belajar Murid di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pedamaran Ogan Komering Ilir.
Skripsi.
Rusman. (2011). Model-model Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press.
Samsuri. (2017). Penerapan Model Pembelajaran Discovery untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA pada Murid Kelas IV A SD Inpres Perumnas III Kecamatan Rappocini Kota Makassar. Skripsi.
Sitiatava, R. P. (2012). Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains. Jember:
Diva Press.
Sudarman. ”Problem Based Learning suatu model pembelajaran untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah” jurnal Pendidikan inovatif, 2019
Sudijono, Anas “ Pengantar Evaluasi Pendidikan” Yogyakata, Rajawali Pers1995
Sudjana, Nana. Penilaian Proses Belajar Mengajar, Bandung : PT. Remaja
Widyoko, Eko Putro. 2012. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Wiriaatmadja, Rochiati. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas Untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Yogyakarta: Multi Pressindo.
Yamin, Martinis. “ Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP”, Jakart,Gunung Persada Press, 2007