• Tidak ada hasil yang ditemukan

SELEKSI UMPAN DAN KONSTRUKSI MATA JARING DINDING DASAR PERANGKAP JODANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SELEKSI UMPAN DAN KONSTRUKSI MATA JARING DINDING DASAR PERANGKAP JODANG"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

SELEKSI UMPAN DAN KONSTRUKSI MATA JARING DINDING DASAR PERANGKAP JODANG

GINI AL GHAZALI

MAYOR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2010

(2)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Seleksi Umpan dan Konstruksi Mata Jaring Dinding Dasar Perangkap Jodang adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun. Adapun semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain, telah disebutkan dalam tubuh tulisan dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi.

Bogor, 6 Agustus 2010

Gini Al Ghazali

(3)

ABSTRAK

GINI AL GHAZALI, C44062133. Seleksi Umpan dan Konstruksi Mata Jaring Dinding Dasar Perangkap Jodang. Dibimbing oleh GONDO PUSPITO

Keong macan (Babylonia spirata) merupakan salah satu jenis hewan gastropoda yang sangat laku di pasaran. Permintaan yang tinggi menyebabkan eksploitasi hewan ini sangat besar. Alat tangkap untuk menangkap keong macan di Palabuhanratu adalah perangkap jodang. Ukuran mata jaring bagian dasar perangkap jodang yang sangat kecil menyebabkan seluruh ukuran keong macan tertangkap. Akibatnya, kelestarian sumberdaya keong macan terganggu.

Penelitian ditujukan untuk menentukan konstruksi dinding dasar perangkap jodang yang selektif dan menentukan jenis umpan yang paling disukai keong macan. Pendekatan menggunakan metode eksperimental menggunakan model RAL (rancangan acak lengkap) dan model logistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa konstruksi mata jaring yang paling sesuai selektivitasnya adalah mata jaring berbentuk persegi panjang berukuran 2,4×2,8 (cm) dengan nilai selection length (L50) sebesar 4,32 cm, karena telah mampu meloloskan keong macan tidak layak tangkap (< 4,27 cm) dan mampu menangkap keong macan layak tangkap dengan jarak L50 yang terdekat dan telah melewati 4,27 cm. hasil uji umpan menunjukkan umpan cucut adalah umpan yang terbaik dijadikan umpan perangkap jodang. Hal ini didasarkan oleh perangkap dengan umpan cucut dapat menangkap keong macan layak tangkap terbanyak dengan hasil tangkapan sampingan yang paling sedikit.

Kata kunci: dinding dasar, perangkap jodang, seleksi umpan.

(4)

© Hak Cipta IPB Tahun 2010 Hak cipta dilindungi Undang-Undang

1) Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumber:

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

2) Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa seizin IPB.

(5)

SELEKSI UMPAN DAN KONSTRUKSI MATA JARING DINDING DASAR PERANGKAP JODANG

GINI AL GHAZALI

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada

Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

MAYOR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2010

(6)

Judul Skripsi : Seleksi Umpan dan Konstruksi Mata Jaring Dinding Dasar Perangkap Jodang

Nama : Gini Al Ghazali

NRP : C440602133

Mayor : Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap

Disetujui : Pembimbing

Dr.Ir. Gondo Puspito, M.Sc.

NIP 19630524 198803 1 010

Diketahui:

Ketua Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Dr.Ir. Budy Wiryawan, M.Sc.

NIP 19621223 198703 1 001

Tanggal Lulus : 13 Juli 2010

(7)

KATA PENGANTAR

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Judul skripsi ini adalah

“Seleksi Umpan dan Konstruksi Mata Jaring Dinding Dasar Perangkap Jodang”.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini masih sangat diperlukan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skipsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat penulis dan pembaca yang membutuhkannya.

Bogor, Agustus 2010 Gini Al Ghazali

(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1) Bapak Gondo Puspito selaku Dosen Pembimbing Skripsi atas arahan dan bimbingan yang telah diberikan dalam penyusunan skripsi ini;

2) Seluruh Dosen Depatemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan atas ilmu yang telah diberikan selama ini;

3) Bapak Wahyu beserta ABK KM Alisa atas segala bantuannya selama proses penelitian;

4) Nelayan Palabuhanratu atas bantuannya, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap jalannya penelitian;

5) Bapak Mamad Suhaeri dan Ibu Euis Sariah sebagai orangtua kandung dari penulis serta Sereli Pia, Raima Amari, dan Bara Hahadera selaku saudara kandung penulis, serta keluarga besar atas segala nasehat, semangat, doa, dan kasih sayang kepada penulis;

6) Ayu Andhita Damayanti dan Aditya Jaka Sembada selaku teman seperjuangan penelitian;

7) Nurul Mardiana, atas segala dukungan dan doa kepada penulis selama penulisan skripsi;

8) Teman-teman PSP angkatan 43 (Ncek, Adit, Iniz, Lala, Nene, Uthie, Viona Intan, Ratih, Ari, Alvi, Mardia, Mia, Cesar, Rizky, Shinta, Troy, Riri, Fajrina, Heru, Seli, Fatra, Septa, Septi, Rusdi, Rezki, Siska M, Bayu, Raissa, Siska A, Ami, Enur, Maria, Yasa, Ghea, Rahman, Anggi, Alfian, Dedi, Firman, Pipih, Merta, Septi, Esther, Hanif, Arif, Alin, Ike, Mukhlis, Refi, Nanda, Qbee, Qimul, Rima, Afryan dan Indah) dan seluruh civitas PSP;

9) Fourjack Event Solution (Adi Septiadi Idris, Erlangga Pradipta, Wedar Kusuma Wardhana, Arief Fahman, Diego Frilino, Reny Rahma Mahardika, Adi Satria, Arya Nugraha, Aul Allan Hoppus dan M. Irvan Ridwan), atas doa, harapan, semangat, dukungan, nasehat, pembelajaran, dan persahabatan yang luar biasa;

(9)

10) Para sahabat (Puti Awali Saimima, Rachmat Ayu, Maulisa Dwi Handayaning, Ajeng Ayu, Faisal Hardi, Ahmad Fanny Alfaruqi, Yahya Dzulkarnain, Irwanto Gunawan, dan Rully Bangkit Nugraha) atas semangat dan dukungannya.

11) Elfour Community, Loader, Kelas B-09&B-10 (2006-2007), The Chamens, Komunitas Stevia (2006-2008), dan alumni SMAN 3 Bogor, SMPN 1 Bogor, dan SDN Bantarjati 5; dan

12) Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 5 Desember 1988 dari pasangan Ir. Mamad Suhaeri dan Euis Sariah sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Riwayat pendidikan penulis dimulai dari SD Bantarjati V tahun 1994- 2000, SLTPN 1 Bogor tahun 2000-2003, dan SMUN 3 Bogor tahun 2003-2006. Selanjutnya pada tahun 2006 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Tahun pertama di IPB, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Tahun kedua, penulis terseleksi masuk ke Mayor Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Selama mengikuti kegiatan perkuliahan, penulis aktif pada berbagai organisasi, antara lain BEM C pada periode 2007-2008 sebagai staf divisi KP2K (Kebijakan Politik Publik Perikanan). Keanggotaan lain pada Himpunan Mahasiswa Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan periode 2007-2008 sebagai staf departemen PMB (Pengembangan Minat dan Bakat).

Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir, penulis melakukan penelitian dan menyusun skripsi dengan judul “Seleksi Umpan dan Konstruksi Mata Jaring Dinding Dasar Perangkap Jodang”.

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penelitian ... 2

1.3 Manfaat Penelitian ... 2

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keong Macan ... 3

2.1.1 Klasifikasi dan identifikasi... 3

2.1.2 Morfologi ... 3

2.1.3 Ekologi ... 4

2.1.4 Makanan dan cara makan... 5

2.2 Perangkap Jodang... 6

2.2.1 Unit penangkapan jaring jodang ... 6

2.2.2 Metode penangkapan ... 7

2.2.3 Musim dan daerah penangkapan... 8

2.3 Selektivitas Alat Tangkap ... 8

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 11

3.2 Bahan dan Alat ... 11

3.3 Metode Penelitian... 12

3.4 Analisis Data ... 14

3.4.1 Menentukan konstruksi mata jaring dinding dasar perangkap jodang ... 14

3.4.2 Hubungan antara panjang cangkang keong macan dengan lebar cangkang, tinggi cangkang, lingkar cangkang, dan berat keong ... 17

3.4.3 Rancangan percobaan... 18

3.4.4 Selektivitas ... 21

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi Hasil Tangkapan ... 23

4.2 Pengaruh Umpan terhadap Hasil Tangkapan ... 25

4.2.1 Distribusi jenis, jumlah, dan panjang cangkang hasil tangkapan total... 25

4.2.2 Distribusi jumlah dan panjang untuk hasil tangkapan utama... 29

4.2.3 Distribusi Jumlah dan panjang untuk hasil tangkapan sampingan... 31

4.3 Umpan Perangkap Jodang Pilihan ... 34

(12)

4.4 Selektivitas Konstruksi Mata Jaring Dinding Dasar Perangkap Jodang.... 35

4.4.1 Hubungan antara tinggi cangkang (h) dengan panjang (l) dan lebar (w) cangkang keong macan ... 36

4.4.2 Selektivitas perangkap dengan ukuran mata jaring dinding dasar 5,6 cm (E1= 0,707)... 37

4.4.3 Selektivitas perangkap dengan mata jaring dinding dasar berbentuk persegi panjang dengan ukuran l × w = 2,4×2,8 (cm) ... 38

4.4.4 Selektivitas perangkap dengan ukuran mata jaring dinding dasar 5,6 cm (E1 = 0,50)... 39

4.4.5 Perbandingan selektivitas ke-3 konstruksi mata jaring dinding dasar ... 40

5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 45

5.2 Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 46

LAMPIRAN... 48

(13)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Morfologi cangkang keong macan (Babylonia spirata, L.)... 4

2 Konstruksi mata jaring ... 9

3 Perangkap jodang... 12

4 Rangkaian perangkap jodang... 14

5 Penampang melintang cangkang keong macan dan perkiraan bentuk mata jaring yang dapat menahannya ... 15

6 Penampang melintang cangkang keong macan pada keliling badan terbesar dan rancangan penentuan bukaan mata jaring maksimal... 16

7 Tiga konstruksi dinding dasar perangkap jodang yang digunakan... 17

8 Komposisi jumlah hasil tangkapan perangkap jodang ... 23

9 Komposisi jumlah hasil tangkapan kepiting, keong lain, dan keong macan 24 10 Distribusi jumlah berdasarkan panjang keong macan ... 26

11 Komposisi jumlah tangkapan sampingan ... 27

12 Distribusi jumlah berdasarkan panjang cangkang kelompok keong ... 28

13 Distribusi jumlah Buccinum spp. berdasarkan panjang cangkang... 28

14 Distribusi jumlah kelompok kepiting berdasarkan panjang karapas ... 29

15 Distribusi jumlah keong macan hasil tangkapan perangkap jodang dengan umpan tembang, layur, dan cucut. ... 31

16 Distribusi jumlah keong hasil tangkapan perangkap jodang dengan jenis umpan tembang, layur, dan cucut. ... 33

17 Distribusi jumlah kepiting hasil tangkapan perangkap jodang berdasarkan jenis umpan ... 33

18 Jumlah hasil tangkapan sampingan perangkap jodang dengan umpan tembang, layur, dan cucut ... 34

19 Jumlah hasil tangkapan keong macan layak tangkap dan hasil tangkapan sampingan pada umpan tembang, layur, dan cucut... 35

20 Hubungan linier antara tinggi cangkang (h) dengan panjang (l) dan lebar (w) cangkang keong macan ... 37

21 Distribusi jumlah keong macan hasil tangkapan perangkap jodang berdasarkan panjang cangkang pada setiap konstruksi dinding dasar perangkap jodang... 42

22 Distribusi jumlah dan panjang keong macan total yang tertahan pada setiap konstruksi mata jaring dinding dasar yang berbeda... 43

23 Kurva selektivitas pada masing-masing konstruksi mata jaring... 44

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Lokasi penelitian ... 49 2 Foto penelitian ... 50 3 Data jumlah keong macan pada setiap umpan perangkap jodang ... 53 4 Hasil pengujian asumsi jumlah keong macan layak tangkap pada

setiap umpan perangkap jodang... 54 5 Daftar analisis ragam (ANOVA) untuk perlakuan umpan

perangkap jodang dalam pengaruhnya terhadap jumlah keong macan layak tangkap yang merayap... 57 6 Uji BNT (beda nyata terkecil) untuk perlakuan umpan perangkap

jodang dalam pengaruhnya terhadap jumlah keong macan layak

tangkap yang merayap ... 58 7 Data panjang keong macan rata-rata yang tertahan pada setiap

konstruksi mata jaring dinding dasar perangkap jodang ... 59 8 Hasil pengujian asumsi ukuran panjang cangkang keong macan

yang tertahan pada setiap konstruksi mata jaring dinding dasar

perangkap jodang... 60 9 Data analisis ragam (ANOVA) untuk perlakuan konstruksi

mata jaring dinding dasar perangkap jodang dalam pengaruhnya

terhadap ukuran panjang cangkang keong macan yang tertahan... 62 10 Uji BNT (Beda Nyata Terkecil) untuk perlakuan konstruksi

mata jaring dinding dasar perangkap jodang dalam pengaruhnya terhadap ukuran panjang cangkang keong macan yang tertahan... 63 11 Tabel selektivitas konstruksi mata jaring dinding dasar berukuran

5,6 cm (E1 = 0,707) ... 64 12 Tabel selektivitas konstruksi mata jaring dinding dasar berukuran

l×w= 2,4×2,8 (cm) ... 65 13 Tabel selektivitas konstruksi mata jaring dinding dasar berukuran

5,6 cm (E1 = 0,50) ... 66 14 Ukuran panjang (P), lebar (L), tinggi(T), dan keliling (K) ... 67

(15)

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Laut Indonesia memiliki keragaman sumberdaya yang sangat besar, baik berupa ikan, kepiting, rajungan, gurita, cumi-cumi, rumput laut, maupun hewan gastropoda. Dari seluruh jenis sumberdaya hayati laut tersebut, hewan gastropoda merupakan komoditas yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas.

Salah satu jenis hewan gastropoda yang banyak dicari oleh nelayan adalah keong macan. Hewan ini banyak disukai oleh masyarakat Hongkong, Taiwan dan Singapura, karena rasanya yang enak, kandungan gizinya tinggi, kandungan lendirnya rendah dan mudah dalam pengolahannya. Permintaan pasar yang tinggi terhadap keong macan menyebabkan tingkat eksploitasi hewan ini sangat besar.

Hampir seluruh produksi keong macan diekspor ke luar negeri.

Keong macan ditangkap dengan perangkap jodang. Alat tangkap ini berbentuk limas persegi terpancung yang dibentuk oleh kerangka besi. Seluruh dinding perangkap, kecuali bagian atasnya, diselimuti oleh jaring berukuran mata yang sangat kecil. Bagian atas perangkap berfungsi sebagai pintu masuk perangkap. Adapun bagian dasarnya berfungsi sebagai tempat menampung hasil tangkapan.

Perangkap jodang tergolong alat tangkap pasif. Umpan digunakan untuk menarik keong agar masuk ke dalam perangkap. Untuk mengoperasikannya, beberapa perangkap diletakkan di atas dasar perairan secara teruntai.

Palabuhanratu adalah salah satu sentra penangkapan keong macan. Alat yang digunakan oleh nelayan setempat adalah perangkap jodang yang tidak selektif (Puspito 2009), menangkap pula ukuran keong macan tidak layak tangkap. Nelayan terbiasa mendaratkan seluruh ukuran keong macan tanpa dilakukan penyortiran terlebih dahulu, sehingga sumberdaya keong macan sudah sangat berkurang. Hal ini menyebabkan nelayan sangat kesulitan menangkap keong macan dan beralih mencari daerah penangkapan baru yang letaknya jauh dari perairan Palabuhanratu.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian keong macan adalah dengan memperbaiki konstruksi perangkap jodang agar lebih

(16)

selektif. Bagian perangkap yang harus diperbaiki adalah ukuran dan konstruksi mata pada dinding dasar perangkap. Konstruksinya diupayakan hanya dapat menahan keong yang layak tangkap biologis, yaitu dengan ukuran panjang cangkang minimal 4,27 cm. Menurut Firdaus (2002), pada ukuran tersebut keong macan telah memijah.

Penelitian ini mencoba menentukan konstruksi mata jaring dinding dasar perangkap jodang yang selektif. Ukuran dan bentuk mata jaring disesuaikan dengan bentuk dan ukuran keong macan. Penelitian sebelumnya yang sama telah dilakukan oleh Naja (2004) dan Saputro (2005). Hasilnya belum memuaskan karena perangkap jodang masih dapat menahan keong macan dengan ukuran panjang cangkang kurang dari 4,27 cm.

Keberhasilan penangkapan keong macan dengan perangkap jodang sangat ditentukan oleh jenis umpan yang digunakan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini juga akan dilakukan penentuan jenis umpan yang disukai oleh keong. Jenis umpan yang disukai keong dapat diketahui dari jumlah tangkapan terbanyak yang terperangkap di dalam perangkap jodang.

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan untuk menentukan:

1) Jenis umpan yang disukai keong macan; dan

2) Ukuran dan bentuk mata jaring pembentuk dinding dasar perangkap jodang yang selektif terhadap ukuran keong macan.

1.3 Manfaat Penelitian

Sebagai masukan bagi nelayan dalam membuat konstruksi perangkap jodang yang selektif terhadap ukuran keong macan yang tertangkap.

(17)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keong Macan

2.1.1 Klasifikasi dan identifikasi

Klasifikasi dan identifikasi Babylonia spirata, menurut Abbot dan Boss (1989), adalah sebagai berikut:

Filum: Moluska;

Kelas: Gastropoda;

Subkelas: Prosobranchia;

Ordo: Neogastropoda;

Super famili: Muricoidea;

Famili: Buccinidae;

Genus: Babylonia; dan

Spesies: Babylonia spirata (Linnaeus 1758).

2.1.2 Morfologi

Keong macan (Babylonia spirata) adalah hewan gastropoda yang memiliki cangkang berbentuk lonjong, tebal, berat dan berwarna putih dengan bintik-bintik coklat jingga tidak teratur. Menurut Naja (2004), bentuk kepala keong macan terlihat jelas, dan mempunyai tentakel, mata serta radula. Adapun bentuk kakinya lebar dan datar. Jumlah cangkang satu buah dan melingkar karena torsi (proses perputaran yang berlawanan dengan arah jarum jam dengan sudut 180o sampai pada bagian kepala dan kaki). Isi perut juga mengikuti gerakan melingkar ke arah belakang. Babylonia spirata merupakan biota laut yang berasal dari kelas Gastropoda.

Apex adalah bagian puncak dari keong macan, berbentuk kerucut dan berjumlah satu buah. Apex merupakan bagian tertua dari cangkang keong macan.

Gelung terbesar disebut body whorl, sedangkan gelung-gelung kecil di atasnya disebut spire. Letak spire bertingkat dengan sebuah apex pada ujungnya. Setiap ulir pada spire disebut sebagai suture. Semakin ke arah bawah cangkang, ukuran suture akan semakin membesar. Antara bibir dalam (inner lip) dan gelung terbesar (body whorl) terdapat umbilicus, yaitu ujung columella yang berupa celah

(18)

yang dalam (bisa berupa celah sempit maupun lebar). Sumbu kerucut disebut dengan columella (Suwigno et. al. 1997).

Cangkang yang tebal dan kuat merupakan pelindung bagi tubuh keong macan dan sekaligus sebagai pemberat agar dapat bertahan di dasar perairan.

Selain itu, keong macan juga mempunyai operculum atau penutup mulut yang berfungsi untuk mempertahankan kadar air dan juga sebagai pelindung tubuh dari predator. Keong macan yang ditemukan di Teluk Palabuhanratu hidup pada dasar perairan berpasir dengan kedalaman 15-20 meter (Yulianda dan Danakusumah 2000). Cangkang keong macan dan bagian-bagiannya dapat dilihat pada Gambar 1.

Keong macan dengan ukuran panjang cangkang 38,47-42,75 mm merupakan keong macan yang siap melakukan pemijahan. Oleh karena itu agar proses penangkapan tidak mengganggu kelangsungan populasi keong macan, maka sebaiknya dilakukan penangkapan pada ukuran panjang cangkang lebih dari 42,75 mm (Firdaus 2002).

2.1.3 Ekologi

Distribusi spesies tergantung dari sejarah hidup, kemampuan untuk menyebar, adaptasi terhadap berbagai variabel lingkungan dan tipe pergerakan mereka (Purchon 1968 diacu dalam Zein 2003). Umumnya pergerakan siput

Apex Suture

Body-whorl

Aperture Umbilicus

Siphonal canal

Gambar 1. Morfologi cangkang keong macan (Babylonia spirata, L.).

(Sumber: Yulianda et al., 2000)

(19)

gastropoda lambat dan bukan merupakan binatang yang berpindah-pindah dan merupakan kelompok molusca yang paling berhasil hidup di berbagai habitat, seperti di darat, di air tawar, dan yang terbanyak di laut. Gastropoda yang hidup di dasar perairan disebut sebagai benthos dan sebagian kecil hidup di darat.

Umumnya gastropoda hidup di permukaan dasar substrat dan menempel pada berbagai jenis substrat seperti batu, batang atau akar pohon bakau, karang, pasir, lumpur atau menempel pada biota laut lainnya. Gastropoda juga mempunyai kemampuan mengubur dalam substrat yang lunak, meskipun tidak dalam, yaitu hanya beberapa milimeter. Kemampuan gastropoda untuk hidup di berbagai lingkungan menunjukkan tingginya kemampuan adaptasi dari hewan ini. Sekitar 55.000 spesies gastropoda hidup di perairan laut dangkal (Yulianda 1999).

Keong macan (Babylonia spirata L) termasuk organisme bentik. Sabelli (1979) diacu dalam Martanti (2001) menyatakan bahwa organisme bentik merupakan organisme yang hidup di dasar laut atau dekat dasar perairan.

Organisme bentik merupakan penghuni laut terbesar. Penyebaran gastropoda subkelas prosobranchia di laut melimpah, terutama di daerah pasang surut, daerah littoral sampai tebing paparan benua (Hyman 1967). Habitat Babylonia spirata seperti halnya famili Buccinidae yang lain adalah dasar perairan bersubstrat pasir atau lumpur yang terletak di zona infralitoral (Sabelli 1979).

2.1.4. Makanan dan cara makan

Keong macan adalah jenis prosobranchia pemakan daging bangkai selektif.

Dengan kata lain keong ini lebih menyukai daging bangkai segar sebagai makanannya dibandingkan dengan daging bangkai yang telah membusuk. Ruppert dan Barnes (1991) menyatakan bahwa Prosobranchia adalah kelompok hewan karnivor yang menggunakan radula sebagai alat bantu makan. Radula pada prosobranchia mengalami berbagai modifikasi bentuk, antara lain berupa alat untuk memotong, memegang, mencabik dan membawa mangsa. Pola adaptasi pada prosobranchia karnivor adalah probosis panjang yang digunakan untuk mencapai dan menembus bagian tubuh mangsa yang mudah diserang. Probosis sendiri adalah bagian dari saluran pencernaan yang terdiri dari esofagus, buccal cavity, dan radula. Protein khas yang dikeluarkan oleh mangsa atau daging

(20)

bangkai dideteksi osphradium dan pencarian lokasi mangsa dilakukan dengan probosis.

2.2 Perangkap Jodang

2.2.1 Unit penangkapan perangkap jodang

Perangkap jodang adalah alat tangkap pasif dan tergolong trap (perangkap).

Satu unit perangkap jodang terdiri atas perahu, perangkap, dan nelayan (Zein 2003).

1) Perahu

Perahu yang digunakan dalam pengoperasian perangkap jodang terbuat dari bahan kayu sengon dengan dimensi 6,0 × 0,6 × 0,7 (m). Tenaga penggerak utamanya adalah mesin tempel berkekuatan 5,5 HP. Selain itu, sebagai tenaga penggerak tambahan dipakai 2 dayung. Pada kiri dan kanan perahu dilengkapi dengan kayu penyeimbang (katir) yang terbuat dari bambu dan kayu.

2) Perangkap

Bentuk perangkap jodang adalah limas terpancung yang konstruksinya dibentuk oleh 8 batang besi berdiameter 5-7 mm. Kerangka besi ini juga berfungsi sebagai pemberat agar perangkap dapat tenggelam di dasar perairan. Seluruh dinding perangkap – kecuali dinding atas – ditutupi oleh jaring waring yang memiliki ukuran mata 0,2-0,4 inci.

Perangkap jodang dilengkapi dua tali, yaitu tali utama dan tali cabang. Tali utama sebagai tempat untuk merangkai perangkap jodang yang satu ke perangkap jodang yang lain. Panjangnya antara 200-350 m. Tali ini terbuat dari bahan polyethylene (PE) multifilament nylon dengan diameter 5-10 mm. Berikutnya tali cabang yang berfungsi sebagai tempat dipasangnya perangkap jodang.

Panjangnya 1,5 m dan terbuat dari bahan polyethylene (PE) multifilament nylon dengan diameter 2 mm. Sebanyak 60 perangkap jodang dirangkai dengan tali.

Dalam satu rangkaian, jarak antara perangkap jodang 5 meter. Pada masing- masing ujung tali utama dilekatkan sebuah batu seberat 0,2 kg.

Pada setiap pengoperasian perangkap jodang digunakan umpan daging bangkai segar berupa potongan kecil ikan. Jenis ikan yang sering dijadikan umpan

(21)

adalah jenis-jenis ikan rucah, seperti tembang, kakap, cucut, pari, dan kepala hiu.

Umpan diikatkan pada tali atau karet yang terdapat pada bagian dasar perangkap jodang.

3) Nelayan

Jumlah nelayan yang mengoperasikan unit penangkapan perangkap jodang sebanyak 2 orang. Pembagian tugasnya adalah seorang nelayan sebagai juru kemudi merangkap pengoperasi perangkap. Nelayan lainnya bertugas memasang umpan dan mengoperasikan perangkap.

2.2.2 Operasi penangkapan

Operasi penangkapan keong macan menggunakan perangkap jodang terdiri atas 3 tahapan. Masing-masing tahapan tersebut adalah:

1) Persiapan alat tangkap

Persiapan pengoperasian alat tangkap perangkap jodang dimulai sejak dari fishing base. Aktifitasnya berupa persiapan-persiapan yang meliputi pembelian umpan dan bahan bakar serta pemeriksaan kesiapan perahu. Setelah selesai, perahu berangkat menuju fishing ground. Sepanjang perjalanan, nelayan mempersiapkan umpan dengan memotong-motong umpan yang berukuran besar menjadi sekitar 4 × 5 (cm) (Naja 2004).

2) Pemasangan alat tangkap

Sebelum ditenggelamkan ke dalam laut, umpan dipasang pada bagian dalam perangkap jodang. Selanjutnya, satu demi satu perangkap jodang dilempar ke laut, sementara juru mudi tetap menjalankan perahunya dengan kecepatan rendah.

Dalam satu trip dipasang 2-4 rangkaian perangkap jodang (Zein 2003).

3) Pengangkatan alat tangkap

Setelah alat tangkap terpasang, perangkap jodang direndam selama setengah sampai satu hari. Proses pengangkatan dimulai dengan mengangkat salah satu perangkap jodang paling ujung. Pada saat perangkap jodang telah berada di atas perahu, nelayan mengeluarkan hasil tangkapan dan dimasukkan ke dalam keranjang (Zein 2003).

(22)

2.2.3 Musim dan daerah penangkapan

Penangkapan keong macan tidak mengenal musim. Pada musim barat (November-April) yang ditandai dengan adanya hujan dan gelombang laut yang besar, jumlah keong macan yang ditangkap sedikit. Tetapi, pada musim timur yang tejadi antara bulan Juni-Oktober (pada periode ini ditandai dengan angin yang lemah, laut tenang dan curah hujan sedikit) hasil tangkapan lebih banyak.

Daerah penangkapan jaring jodang di sepanjang pantai pada kedalaman 5-20 m dengan tipe substrat pasir atau lumpur dan biasanya dekat dengan muara sungai (Zein 2003).

2.3 Selektivitas Alat Tangkap

Fridman (1986) menyatakan bahwa selektivitas adalah kemampuan suatu alat tangkap untuk menangkap organisme dengan ukuran atau spesies tertentu dari suatu sebaran populasi. Sifat ini terutama dipengaruhi oleh prinsip penangkapan dan juga parameter desain alat tangkap tersebut, seperti ukuran mata jaring (mesh size), bahan dan ukuran benang, rasio penggantungan jaring dan kecepatan penarikan alat. Dari kelima parameter desain tersebut, ukuran mata jaring sangat besar pengaruhnya terhadap selektivitas.

Ukuran mata jaring didefinisikan sebagai jarak antar simpul yang berlawanan dengan keadaan jaring ditarik penuh. Adapun bentuk dari mata jaring ditentukan oleh penggantungannya pada rangka. Untuk mengubah bentuk mata jaring dapat dilakukan dengan mengubah rasio penggantungan primer (E1), dan rasio penggantungan sekunder (E2) (Fridman 1986). Rasio penggantungan primer (E1) dirumuskan sebagai:

E1 = Lo

L

Keterangan :

L : Panjang jaring tergantung pada tali rangka atau panjang tali ris (m); dan

Lo : Panjang jaring teregang sempurna (m).

(23)

Rasio penggantungan sekunder (E2) dapat ditentukan dengan membandingkan tinggi tergantung (H) dari jaring dengan tinggi jaring bila ditarik penuh (Ho).

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

E2 = Ho

H

Besarnya nilai rasio penggantungan dapat juga diketahui dari setengah sudut mata jaring λ (Gambar 1) (Fridman 1986). Hubungan E1 dengan λ dapat dilihat dalam ilustrasi berikut:

Keterangan :

mL : Panjang mata direntangi penuh mW : Lebar mata tergantung

mH : Tinggi mata tergantung Λ : Sudut mata jaring

Gambar 2 Konstruksi mata jaring.

Menurut Reiger dan Robson (1966) diacu oleh Suharyanto (1998), penentuan pengaruh ukuran mata jaring terhadap selektivitas dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu langsung, tidak langsung dan interaktif. Metode langsung memerlukan data komposisi ukuran dari populasi dan kemudian mengestimasi selektivitas dengan membandingkan komposisi organisme yang tertangkap dengan komposisi populasi. Pendekatan metode ini dapat dilakukan jika komposisi organisme dalam suatu populasi diketahui. Metode tidak langsung membutuhkan asumsi matematika untuk kurva elektivitas, yaitu ketergantungan antara selektivitas dengan mata jaring. Data hasil tangkapan yang dipergunakan terdiri atas beberapa kelas ukuran organisme yang tertangkap oleh mata jaring yang berbeda ukuran. Asumsi yang digunakan adalah semua kelas ukuran ikan mempunyai peluang yang sama untuk tertangkap. Metode interaktif memerlukan asumsi matematika tertentu yang berbasiskan pada data yang diperoleh pada interval panjang ikan.

Dm

Cm

Bm

Am

mW mL

mH 0

λ λ

α 2 sin

0

1 = = = =

m m

m m m

m m

C B

O C C B

B A L E L

(24)

Selektivitas merupakan perbandingan antara hasil tangkapan dan populasi (Yokota 2000). Rumus yang digunakan untuk menentukan selektivitas adalah:

Sij =

j ij

N C

Keterangan :

Nj : Jumlah populasi cangkang keong pada selang kelas panjang ke-j;

Cij : Jumlah cangkang keong yang tertahan pada selang kelas panjang ke-j dengan ukuran alat tangkap ke-i; dan

Sij : Selektivitas alat tangkap ke-i pada selang ke-j.

Model logistik digunakan luas untuk mengolah data dari 2 (dua) nilai variabel acak. Seperti halnya ikan yang lolos ataupun tertangkap dengan jaring juga satu dari dua nilai variabel acak. Dalam model logistik, variabel panjang ikan digunakan sebagai gambaran selektivitas jaring (Tokai 1997). Pertimbangan S (l) ini sebagai fungsi selektivitas jaring dalam hubungannya dengan panjang ikan, seperti diterangkan oleh persamaan berikut ini,

S (l) = 1/ [1+exp (αl + β)]

Keterangan :

S(l) : Fungsi selektivitas jaring terhadap panjang cangkang keong macan;

l : Panjang cangkang keong macan; dan α,β : Parameter dari model logistik.

Nilai 50% retention length atau 50% selection length (L50) digunakan sebagai indeks yang mengindikasikan karakteristik selektivitas jaring. Selection length (L50) ditunjukkan sebagai akibat dari α dan β dari parameter-parameter model logistik. Persamaan dari L50 adalah sebagai berikut:

L50 = -β/α Keterangan :

L50 : Selection length; dan

α,β : Parameter dari model logistik.

(25)

3 METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dibagi dalam 2 tahap. Tahap pertama adalah tahap perancangan alat yang dilakukan di Laboratorium Teknologi Alat Penangkapan Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Tahap kedua adalah uji coba penangkapan di Perairan Teluk Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Kedua tahapan ini dilaksanakan pada bulan Januari 2009. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah tiga jenis umpan ( ikan layur, tembang, dan cawang) dan sembilan unit perangkap jodang. Tiga jenis umpan ini ditentukan berdasarkan jenis umpan yang paling banyak digunakan oleh nelayan Palabuhanratu. Gambar 3 memperlihatkan konstruksi perangkap jodang. Masing- masing konstruksi dinding dasar perangkap jodang berbentuk kotak 2,4×2,8 (cm), belah ketupat mesh size (MS) 5,6 cm dengan primary hanging ratio 50%, dan belah ketupat MS 5,6 cm dengan primary hanging ratio 70%.

Selain bahan, terdapat pula alat yang diperlukan dalam penelitian ini.

Adapun alat yang digunakan adalah:

- Alat ukur panjang (meteran, penggaris);

- Tali;

- Kertas tabel;

- Neraca O’hauss;

- Kertas dan alat tulis;

- Jangka sorong;

- Tabel offset sementara;

- Perahu;

- Pelampung tanda;

- Pemberat;

- PC (personal computer); dan

(26)

- GPS (global positioning system).

3.3 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan dengan melakukan penangkapan langsung di laut. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan memberikan tiga perlakuan konstruksi mata jaring yang berbeda pada dinding dasar perangkap jodang dan tiga umpan yang berbeda pada masing-masing jenis konstruksi mata jaring dinding dasar perangkap.

Persiapan pengoperasian alat tangkap perangkap jodang dimulai sejak dari fishing base dengan mempersiapkan berbekalan melaut dan mengisi bahan bakar serta memeriksa kesiapan melaut. Selama perjalanan, umpan dipersiapkan dengan memotong-motong ikan yang berukuran besar menjadi sekitar 6 × 2 (cm). Jenis umpan yang dipakai adalah ikan tembang, cucut dan layur. Umpan dipasang pada bagian dalam perangkap jodang. Selanjutnya, satu per satu perangkap jodang diturunkan ke laut. Sebagai penanda posisi perangkap, pada kedua ujung tali utama dilengkapi dengan pelampung tanda dan lampu kelap-kelip agar mudah terlihat ketika malam. Perangkap jodang direndam selama 1 jam. Proses pengangkatan dimulai dengan mengangkat salah satu pelampung tanda. Hasil tangkapan yang didapat dikelompokkan per jenis umpan dan alat tangkap ke dalam plastik. Khusus untuk keong macan, hasil tangkapan juga dikelompokkan atas keong yang tertahan pada dinding dasar dan lolos melewati dinding dasar.

Penelitian untuk melihat pengaruh umpan dan bentuk mata jaring dinding dasar perangkap jodang terhadap hasil tangkapan dilakukan secara bersamaan.

Gambar 3 Perangkap jodang.

Pintu Masuk

Dinding perangkap bagian dasar

(27)

Data primer yang dikumpulkan adalah data panjang (l), lebar (w), tinggi (h), keliling (g), bobot (W), dan jumlah hasil tangkapan.

Susunan perlakuan untuk setiap perangkap adalah:

Perangkap 1 : Perangkap jodang dengan mesh size berbentuk kotak ukuran 2,4×2,8 cm dengan umpan ikan tembang.

Perangkap 2 : Perangkap jodang dengan mesh size berbentuk kotak ukuran 2,4×2,8 cm dengan umpan ikan cucut.

Perangkap 3 : Perangkap jodang dengan mesh size berbentuk kotak ukuran 2,4×2,8 cm dengan umpan ikan layur.

Perangkap 4 : Perangkap jodang dengan mesh size 5,6 cm dan primary hanging ratio 50% dengan umpan ikan tembang.

Perangkap 5 : Perangkap jodang dengan mesh size 5,6 cm dan primary hanging ratio 50% dengan umpan ikan cucut.

Perangkap 6 : Perangkap jodang dengan mesh size 5,6 cm dan primary hanging ratio 50% dengan umpan ikan layur.

Perangkap 7 : Perangkap jodang dengan mesh size 5,6 cm dan primary hanging ratio 70%, dengan umpan ikan tembang.

Perangkap 8 : Perangkap jodang dengan mesh size 5,6 cm dan primary hanging ratio 70%, dengan umpan ikan cucut.

Perangkap 9 : Perangkap jodang dengan mesh size 5,6 cm dan primary hanging ratio 70%, dengan umpan ikan layur.

(28)

Gambar 4 memperlihatkan susunan perangkap jodang ketika dioperasikan di laut.

3.4 Analisis Data

3.4.1 Menentukan konstruksi mata jaring dinding dasar perangkap jodang Pada pengoperasian perangkap, badan keong akan masuk ke dalam cangkang ketika dilakukan pengangkatan perangkap. Hal ini dikarenakan keong macan memiliki sifat segera masuk ke dalam cangkang ketika ada gangguan dari luar. Oleh karena itu, lolos atau tidaknya keong melalui mata jaring sangat tergantung pada ukuran dan bentuk cangkangnya.

Penampang melintang cangkang keong terbentuk oleh 2 lingkaran dengan diameter yang sama. Setengah bagian merupakan ½ lingkaran penuh, dan ½ lainnya < ½ lingkaran (Gambar 5a). Dengan demikian penentuan mata jaring untuk menahan cangkang harus mempertimbangkan diameter cangkang ini. Untuk memprediksi ukuran untuk memprediksi ukuran mata jaring dan rasio penggantungan jaring harus dimulai dengan menetapkan ukuran cangkang yang menjadi acuan dalam perhitungan.

Gambar 4 Rangkaian perangkap jodang.

(29)

Terdapat tiga cara memprediksi ukuran dan bentuk mata jaring yang diuji (Puspito 2009):

1) Bentuk mata jaring hanya mempertimbangkan diameter penampang melintang cangkang yang merupakan lebar (w) cangkang (Gambar 5b).

Dengan demikian, panjang kaki mata jaring b sama dengan diameter atau lebar (w) cangkang dan ukuran mata jaring adalah 2×w dengan rasio penggantungan primer E1 = 0,707 memberikan bukaan maksimal dan bentuk belah ketupat. E1 adalah perbandingan antara jarak horisontal antara 2 simpul dengan MS jaring;

2) Bentuk mata jaring adalah persegi panjang dengan panjang dan lebarnya masing-masing merupakan lebar (w) dan tinggi (h) cangkang (Gambar 5c);

dan

3) Cara lain dalam merancang bentuk mata jaring adalah dengan mempertimbangkan lebar (w) dan tinggi (h) cangkang.

Membentuk ½ lingkaran bidang A Membentuk < ½ lingkaran bidang B

Gambar 5 Penampang melintang cangkang keong macan dan perkiraan bentuk mata jaring yang dapat menahannya.

(Sumber: Puspito 2009)

Gambar 6a memperlihatkan penampang melintang cangkang keong pada keliling badan terbesar. Gabungan dua lingkaran masing-masing dengan diameter h dan w ditunjukkan oleh Gambar 6b. Pada Gambar 6c, empat garis lurus (dimulai dari perpotongan antara sumbu x dan garis lingkaran besar) ditarik menyinggung lingkaran kecil. Masing-masing garis singgung dan sumbu x membentuk sudut α.

Bukaan horisontal mata jaring H sama dengan lebar cangkang (w).

(a) (b) (c)

(30)

Gambar 6 Penampang melintang cangkang keong macan pada keliling badan terbesar dan rancangan penentuan bukaan mata jaring maksimal.

(Sumber: Puspito 2009)

Rumus perhitungan untuk menentukan MS jaring dan E1 diawali dengan penentuan hubungan antara panjang (l) dengan tinggi (h). Uraiannya mengacu pada Gambar 6c, yaitu:

l = a1h + b1 ; ...(1)

;...(2)

2

2h b

a

w= + ; ...(3) Substitusi (2) dan ke (3) didapat:

2 1

1

2 b

a b a l

w +



 −

= ...(4)

Bukaan vertikal mata jaring dicari dengan menggunakan persamaan:

V = w tanα ...(5)

Substitusi (4) ke (5) menghasilkan:

α

2 tan

1 1

2

 

 +



 −

= b

a b a l

V .

1 1

a b h= l

(a) (b) (c)

(31)

Gambar 7 Tiga konstruksi dinding dasar perangkap jodang yang digunakan.

Bentuk persegi ukuran 2,4 × 2,8 (cm)

Bentuk belah ketupat, MS 5,6 cm dan hanging ratio 50%

Bentuk belah ketupat, MS 5,6 cm dan hanging ratio 70%

Panjang kaki mata jaring b dihitung dengan rumus berikut:

sin . 12

α b= V

Dengan demikian ukuran mata jaring MS dapat dihitung dengan:

sinα. MS = V

Adapun rasio penggantungan primernya didapat dengan menggunakan rumus:

%.

2 100

1 b

E = l

Dengan demikian didapat prediksi konstruksi mata jaring dinding dasar perangkap jodang sebagai berikut:

1) Mata jaring dengan MS 5,6 cm dan hanging rasio primer (E1) = 0,707 (Gambar 7a);

2) Mata jaring berbentuk persegi panjang dengan lebar (w) 2,8 cm dan panjang (l) 2,4 cm (Gambar 7b); dan

3) Mata jaring dengan MS 5,6 cm dan hanging rasio primer (E1) = 0,50 (Gambar 7c).

3.4.2 Hubungan antara panjang cangkang, dan berat keong

Untuk melihat hubungan antara panjang cangkang keong macan dengan lebar cangkang, tinggi cangkang, lingkar cangkang, dan berat keong, data diplotkan dalam bentuk grafik dan ditentukan persamaan regresi linier sederhananya. Persamaan regresi linier sederhana beserta besarnya koefisien (a) (b) (c)

(32)

korelasi dari dimensi-dimensi tersebut dapat diperoleh secara mudah dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel.

3.4.3 Rancangan percobaan

Untuk menganalisis data yang diperoleh, maka rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL (rancangan acak lengkap). Analisis RAL digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh perbedaan umpan terhadap jumlah keong macan yang masuk ke dalam perangkap. Tujuan lain adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh perbedaan konstruksi mata jaring terhadap ukuran panjang cangkang keong macan yang tertahan. Data ini diolah dengan menggunakan analisis ragam atao ANOVA (analysis of variance).

Untuk melakukan analisis ragam atau ANOVA (analysis of variance), ada beberapa asumsi yang harus dipenuhi agar hasil yang diperoleh valid. Asumsi tersebut antara lain adalah (Matjik dan Sumertajaya, 2000):

1) Ragam homogen;

2) Kebebasan galat; dan

3) Galat percobaan menyebar normal.

Setelah pengujian asumsi terpenuhi, maka analisis ragam dapat dilakukan.

Perlakuan yang diuji menggunakan RAL pertama adalah sebagai berikut:

1) Umpan perangkap jodang 1 : ikan tembang;

2) Umpan perangkap jodang 2 : ikan cucut; dan 3) Umpan perangkap jodang 3 : ikan layur.

Perlakuan yang diuji menggunakan RAL adalah sebagai berikut:

1) Konstruksi mata jaring 1 : MS 5,6 cm (E1= 0,707);

2) Konstruksi mata jaring 2 : MS 2,8×2,4 (cm) berbentuk persegi panjang; dan 3) Konstruksi mata jaring 3 : MS 5,6 cm (E1= 0,707).

Tahapan prosedur analisis ragam untuk percobaan ini yaitu:

1) Menghitung nilai FK (faktor koreksi), nilai JKT (jumlah kuadrat total), nilai JKP (jumlah kuadrat perlakuan), dan nilai JKG (jumlah kuadrat galat). Nilai r dan a masing-masing dinotasikan sebagai banyaknya ulangan dan banyaknya taraf faktor A dapat diketahui dengan formula:

(33)

; dan

;

; FK = (total perlakuan)2 / banyak pengamatan = ;

a r Y .

2

JKT = jumlah kuadrat nilai pengamatan – faktor koreksi = Yij2FK JKP = [ ∑(total perlakuan)2/r ] – faktor koreksi = FK

r Yij

2JKG = JKT – JKP.

2) Langkah kedua adalah menentukan derajat bebas masing-masing perlakuan, galat, dan total.

db perlakuan = a – 1;

db galat = a(r-1); dan db total = r.a – 1.

3) Menentukan JK (jumlah kuadrat) untuk pengaruh utama dan interaksi dari nilai total perlakuan yang dipakai untuk menghitung JKP.

4) Menentukan KT (kuadrat tengah) masing-masing melalui pembagian antara nilai JK dan nilai derajat bebasnya yang telah didapat pada langkah sebelumnya.

5) Menghitung nilai Fhit dan ftabel

Fhit = KTP/KTG

Ftabel = FINV (5%,V1, V2)

6) Menyusun daftar analisis ragam seperti pada Tabel 1.

Tabel 1 Daftar analisis ragam percobaan dengan RAL Sumber

keragaman Db JK KT

Fhit Ftabel (5%)

Perlakuan (a) Galat

a-1 a (r-1)

JKP JKG

KTP KTG

KTP/KTG FINV (5%,V1, V2)

Total r.a -1 JKT

Kaidah keputusan yang diperlukan dalam pengujian hipotesis adalah:

Jika, Fhit > Ftabel maka tolak Ho; dan Fhit ≤ Ftabel maka terima Ho. Dengan V1 = (a-1) dan V2 = a(r-1).

(34)

Ho : (α)ij = 0 (tidak ada pengaruh interaksi terhadap respon yang diamati)

H1 : (α)ij ≠ 0 (ada pengaruh interaksi terhadap respon yang diamati).

Persamaan RAL yang digunakan adalah (Steel et. al., 1997) : Yij = µ + τi + εij

Keterangan :

Yij : Nilai pengamatan pada sudut kemiringan dinding ke-i dan ulangan ke-j;

µ : Rataan umum;

τi : Pengaruh kemiringan dinding ke-i;

εij : Pengaruh acak pada kemiringan dinding ke-i ulangan ke-j;

i : Perlakuan (1,2,3); dan j : Ulangan (1,2,3,..., 10).

Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut : H0 : τ1 = τ2 = τ3 = 0

H1 : Paling sedikit ada satu τ1 ≠ 0

Jika dalam uji hipotesis tersebut dijumpai keputusan tolak Ho, maka akan diketahui nilai tengah pada perlakuan mana yang berbeda dan dapat dilakukan suatu uji lanjutan yaitu uji BNT (beda nyata terkecil). Jika r adalah ulangan yang sama pada setiap perlakuan, maka nilai BNT dapat diketahui dengan:

BNTα = tα (2s2/r)1/2

Konstanta r adalah jumlah ulangan, s2 nilai kuadrat tengah galat (KTG) yang diperoleh dari analisis ragam. Konstanta t adalah nilai t yang diperoleh dari tabel t pada taraf nyata α. Nilai t dilihat dengan derajat bebas galat pada tabel analisis ragam. Untuk menilai apakah dua nilai tengah perlakuan berbeda secara statistika, maka selisih beda nilai tengah perlakuan tersebut dibandingkan dengan nilai BNT.

Jika beda dua nilai perlakuan lebih besar dari nilai BNT, maka dua nilai dikatakan berbeda secara nyata pada taraf α. Sebaliknya, jika beda dua nilai tengah perlakuan tersebut lebih kecil daripada nilai BNT, maka dinyatakan dua perlakuan tersebut tidak berbeda nyata.

(35)

3.4.4 Selektivitas

Selektivitas diukur dengan menggunakan metode langsung (direct method).

Selektivitas dalam metode ini merupakan perbandingan antara hasil tangkapan dan populasi (Yokota 2000). Rumus yang digunakan adalah:

j ij

ij N

S = C

Keterangan :

Nj : Jumlah populasi cangkang keong pada selang kelas panjang ke-j;

Cij : Jumlah cangkang keong yang tertahan pada selang kelas panjang ke-j dengan ukuran alat tangkap ke-i; dan

Sij : Selektivitas alat tangkap ke-i pada selang kelas ke-j.

Fungsi selektivitas didekati dengan menggunakan model logistik. Model logistik digunakan untuk mengolah data dari dua nilai variabel acak, seperti jumlah cangkang keong yang tertahan dan cangkang keong yang lolos pada dinding bagian dasar perangkap jodang. Dari nilai selektivitas, fungsi selektivitas dapat diketahui berdasarkan panjang cangkang. Persamaan selektivitas dinding bagian dasar perangkap jodang berdasarkan panjang cangkang adalah sebagai berikut:

S(l) = [1+exp (αl+β)]

Keterangan :

S(l) : Fungsi selektivitas jaring terhadap panjang cangkang keong macan;

l : Panjang cangkang keong macan; dan α,β : Parameter dari model logistik.

Alat bantu solver yang terdapat pada Microsoft Excel digunakan untuk memaksimumkan model logistik dugaan yang diperoleh. Metode maximum log likehood method digunakan untuk memaksimumkan perkiraan parameter- parameter α dan β. Kemudian berdasarkan nilai α dan β dicari nilai L50 (selection length).

Nilai L50 digunakan sebagai indeks yang mengindikasikan selektivitas dinding bagian dasar perangkap jodang. Kisaran panjang cangkang ketika setengah bagian cangkang tertahan pada dinding bagian dasar perangkap jodang disebut sebagai L50. Besarnya nilai L50 dapat diperoleh dari persamaan berikut:

(36)

L50 = -β/α Keterangan :

L50 : Selection length; dan

α,β : Parameter dari model logistik.

(37)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Komposisi Hasil Tangkapan

Perangkap jodang menangkap 8 spesies yang dibagi kedalam 2 kelompok, yaitu kepiting dan keong. Kelompok kepiting terdiri atas 4 jenis spesies, yaitu Beuroisia manqueni, Tanaoa distinctus, Myra grandis, dan Laterallidae. Adapun kelompok keong terdiri atas 4 jenis spesies yang meliputi Buccinum spp., Collumella testudine, Olivia spp., dan keong macan (Babylonia spirata).

Komposisi jumlah tangkapan total diperlihatkan pada Gambar 8. Organisme hasil tangkapan perangkap jodang diperlihatkan pada Lampiran 2.

Jumlah tangkapan perangkap jodang, baik berupa keong macan, keong lain, dan kepiting, relatif tidak berbeda jauh. Gambar 9 metunjukkan jumlah keong macan mencapai 547 individu atau 40,97% dari total tangkapan, keong lain 535 individu (40,07%) dan kepiting 253 individu (18,95%). Jika pengelompokkan didasarkan atas jenis organisme tangkapan, maka jenis tangkapan terbesar adalah keong sebanyak 1082 individu (81,04%).

Gambar 8 Komposisi jumlah hasil tangkapan perangkap jodang.

Beuroisia manquenei 11 individu

(0,82%) Myra grandis 62 individu

(4,64%) Tanaoa distinctus

169 individu (12,66%) Olivia spp.

2 individu (0,15%) Collumella testudine

108 individu (8,09%)

Buccinum spp.

425 individu (31,84%)

Babylonia spirata 547 individu

(40,97%)

Laterallidae 11 individu

(0,82%)

(38)

Gambar 9 Komposisi jumlah hasil tangkapan kepiting, keong lain, dan keong macan.

Substrat daerah penangkapan memiliki dasar perairan yang berupa lumpur.

Lumpur merupakan substrat yang disukai oleh kelompok keong yang menyebabkan jumlah tangkapan terbanyak adalah dari kelompok keong. Menurut Shanmugaraj dan Ayyakanu (1994), dan Yulianda dan Danakusumah (2000), habitat keong macan adalah di perairan dengan substrat dasar yang berlumpur.

Keberadaan keong macan dengan jumlah besar di dalam perangkap jodang mengindikasikan bahwa keong macan masuk terlebih dahulu dibandingkan dengan kepiting. Ini berarti lokasi penelitian tepat berada di habitat keong macan.

Keong sangat sensitif terhadap rangsang gerak, sehingga memungkinkan keong masuk ke dalam perangkap lebih dahulu daripada kepiting ketika ada gerakan perangkap jodang yang dimasukkan ke perairan (Rupert dan Barnes 1991).

Banyaknya keong macan yang tertangkap juga mengindikasikan bahwa keong macan masuk terlebih dahulu dibandingkan dengan kepiting. Pergerakan agresif kepiting, baik yang berada di dalam maupun di luar perangkap akan menyebabkan keong tidak akan mendekati perangkap. Sedikitnya jumlah kepiting yang tertangkap mengindikasikan bahwa lokasi penelitian bukan merupakan habitat kepiting. Kepiting memiliki pergerakan yang agresif, terutama dalam merespon bau (Hill 1982).

Hasil tangkapan keong macan yang tertangkap menyebar pada kisaran panjang cangkang 1,43-5,48 cm. Dari keseluruhan keong macan yang tertangkap, terdapat sebanyak146 individu (26,69%) berukuran layak tangkap (≥ 4,27 cm) dan 401 individu (73,31%) keong macan ukuran tidak layak tangkap (< 4,27 cm).

Hasil tangkapan dari kelompok kepiting menyebar pada kisaran panjang karapas Kepiting

(18,95%) 253 individu

Keong lain (40,07%) 535 individu

Keong macan (40,97%) 547 individu

(39)

0,00-6,00 cm. Kelompok keong selain keong macan menyebar pada kisaran panjang cangkang 0,76-5,25 cm. Ukuran kedua kelompok tangkapan tersebut tidak ikut diperhatikan, karena merupakan hasil tangkapan sampingan yang tidak dikonsumsi.

4.2 Pengaruh Umpan terhadap Hasil Tangkapan

4.2.1 Distribusi jenis, jumlah, dan panjang cangkang hasil tangkapan total Hasil tangkapan keong macan yang merupakan hasil tangkapan utama menyebar pada kisaran panjang cangkang 1,83-5,48 cm (Gambar 10). Kisaran panjang cangkang ini terbagi ke dalam 9 kelas dengan interval kelas 0,61 cm.

Sebagian besar keong macan yang tertangkap berada pada ukuran di bawah layak tangkap (< 4,27 cm). Ukuran ini seharusnya belum boleh ditangkap karena belum memijah, karena keong macan memijah pada ukuran lebih dari 4,27 cm.

Keong macan layak tangkap berjumlah sebanyak 146 individu atau 26,69%

dari total hasil tangkapan keong macan. Sisanya sebanyak 401 individu atau sebesar 73,31% adalah keong macan berukuran tidak layak tangkap. Sedikitnya jumlah tangkapan keong macan layak tangkap diduga terkait dengan ketersediaan sumberdaya dan musim siklus hidup keong macan. Sumberdaya keong macan pada lokasi pengoperasian perangkap diduga kebanyakan berukuran lebih kecil dari ukuran layak tangkap, sedangkan siklus hidup diduga pada saat penangkapan belum mencapai musim memijah karena penelitian dilakukan pada bulan Januari.

Menurut Zein (2003), musim penangkapan keong macan di Palabuhanratu mencapai puncaknya pada bulan Juni-Oktober.

(40)

Gambar 10 Distribusi jumlah berdasarkan panjang keong macan.

Berdasarkan hasil tangkapan sampingan menunjukkan bahwa pada lokasi penangkapan terdapat populasi keong dan kepiting yang relatif berbeda jumlahnya. Dari keseluruhan hasil tangkapan sampingan, kedua tangkapan sampingan ini masing-masing berjumlah 535 individu (67,89%) dan 253 individu (32,11%) (Gambar 11). Salah satu habitat spesies keong dan kepiting adalah perairan dengan substrat berlumpur (Shanmugaraj dan Ayyakanu 1994; Yulianda dan Danakusumah 2000).

Hasil tangkapan sampingan untuk kelompok keong menyebar pada kisaran panjang 0,76-5,25 cm (Gambar 12) yang terbagi menjadi 7 kelas dengan interval kelas 0,75 cm. Tangkapan terbanyak dari keseluruhan tangkapan keong berasal dari spesies Buccinum spp., yaitu sebanyak 425 individu (79,44%). Collumella testudine 108 individu (20,19%), dan Olivia spp. 2 individu (0,37%).

Buccinum spp. banyak tertangkap pada kisaran panjang cangkang 2,26-3,00 cm sebanyak 166 ekor (Gambar 12). Collumella testudine yang banyak tertangkap berada pada kisaran panjang cangkang 2,26-3,00 cm berjumlah 89 individu. Hasil tangkapan keong yang adalah Olivia spp. yang tertangkap pada kisaran panjang cangkang 3,01-3,75 cm sebanyak 2 individu.

0,61 1,22 1,83 2,44 3,05 3,66 4,27 4,88 5,49 Layak tangkap

= 146 individu (26,69%)

(41)

Kelompok kepiting menyebar pada kisaran panjang karapas 0,00-6,00 cm (Gambar 14). Kisaran ini terbagi ke dalam 8 kelas dengan interval kelas 0,75 cm.

Tangkapan sampingan terbanyak untuk kelompok kepiting adalah Tanaoa distinctus, sebanyak 169 individu (66,80%). Tanaoa distinctus banyak terdapat pada kisaran panjang karapas 2,26-3,00 cm sebanyak 88 individu. Myra grandis tertangkap sebanyak 62 individu (24,51%), Sebanyak 23 individu pada kisaran panjang karapas 2,26-3,00 cm. Tangkapan Laterallidae berjumlah 11 individu (4,35%) yang banyak terdapat pada kisaran panjang karapas 2,26-3,00 cm sebanyak 8 individu. Jenis kepiting yang lain adalah Beuroisia manquenei berjumlah 11 individu (4,35%) yang banyak tertangkap pada kisaran panjang karapas 1,51-2,25 cm sebanyak 6 individu.

Gambar 11 Komposisi jumlah tangkapan sampingan.

Kepiting, 32,11%

1.207 individu

Keong lain, 67,89%

535 individu

(42)

Gambar 12 Distribusi jumlah berdasarkan panjang cangkang kelompok keong.

Gambar 13 Distribusi jumlah Buccinum spp. berdasarkan panjang cangkang.

0,75 1,50 2,25 3,00 3,75 4,50 5,25 0,75 1,50 2,25 3,00 3,75 4,50 5,25

(43)

Gambar 14 Distribusi jumlah kelompok kepiting berdasarkan panjang karapas.

4.2.2 Distribusi jumlah hasil tangkapan utama

Pengaruh umpan yang diuji terhadap jumlah keong macan layak tangkap dapat diketahui dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA). Hal ini dilakukan untuk melihat gambaran data secara umum sebelum dilakukan analisis secara lebih mendalam.

Berdasarkan data jumlah keong macan, analisis ragam (ANOVA) mendapatkan hasil yang dapat dikatakan valid/sah, karena uji asumsi telah dipenuhi (Mattjik dan Sumertajaya 2000). Berdasarkan perhitungan analisis ragam didapatkan bahwa perolehan Fhitung yang lebih besar dari Ftabel. Nilainya masing-masing 6,55 dan 3,35 untuk jumlah keong macan layak tangkap. Ini membuktikan bahwa umpan berpengaruh nyata terhadap jumlah keong macan yang tertangkap.

Uji BNT (beda nyata terkecil) menunjukkan bahwa seluruh jenis umpan memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah keong macan yang tertangkap. Hasil pengujian asumsi dapat dilihat pada Lampiran 3 dan 4. Adapun hasil analisis ragam dan uji beda nyata terkecil dapat dilihat pada Lampiran 5 dan 6.

Distribusi jumlah keong macan sebagai hasil tangkapan utama untuk setiap umpan adalah sebagai berikut:

0,75 1,50 2,25 3,00 3,75 4,50 5,25 6,00

(44)

1) Umpan tembang

Perangkap jodang dengan umpan tembang menangkap hasil tangkapan dengan jumlah paling banyak diantara ketiga jenis umpan yang diuji. Hasil tangkapan keong macan pada perangkap jodang dengan umpan tembang sebanyak 212 individu atau sebesar 38,76% dari tangkapan total keong macan.

2) Umpan layur

Perangkap jodang dengan umpan layur menangkap keong macan dengan jumlah lebih sedikit dibandingkan dengan tangkapan keong macan pada perangkap dengan umpan tembang. Terdapat 173 individu keong macan yang tertangkap atau sebesar 31,63% dari total tangkapan keong macan.

3) Umpan cucut

Jumlah keong macan yang dapat tertangkap pada perangkap dengan umpan cucut adalah paling sedikit dibandingkan dengan dua jenis perangkap dengan umpan lainnya. Perangkap ini menangkap keong macan sebanyak 162 individu atau sebesar 29,02% dari total tangkapan keong macan.

Dari total keseluruhan tangkapan, perangkap dengan umpan tembang memberikan hasil tangkapan keong macan yang paling banyak, kemudian diikuti oleh perangkap dengan umpan layur, dan yang paling sedikit memberikan hasil tangkapan keong macan adalah perangkap dengan umpan cucut (Gambar 15).

Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa umpan tembang adalah jenis umpan yang paling disukai oleh keong macan.

(45)

Gambar 15 Distribusi jumlah keong macan hasil tangkapan perangkap jodang dengan umpan tembang, layur, dan cucut.

4.2.3 Distribusi jumlah hasil tangkapan sampingan

Distribusi jumlah hasil tangkapan sampingan untuk setiap umpan diuraikan sebagai berikut:

1) Umpan tembang

Hasil tangkapan sampingan perangkap jodang adalah dari spesies keong dan kepiting. Dengan mempergunakan perangkap dengan umpan tembang, keong yang ditangkap berjumlah 175 individu (57,95%) dan kepiting 127 individu (42,05%). Keong terbanyak adalah dari spesies Buccinum spp. sebanyak 165 individu atau sebesar 94,29% dari total tangkapan keong dengan umpan tembang.

Spesies lain yaitu Collumella testudine sebanyak 10 individu (5,71%) (Gambar 16).

Untuk kelompok kepiting, jumlah tangkapan terbanyak adalah dari spesies Tanaoa distinctus sebanyak 82 individu atau 64,57% dari total tangkapan kepiting. Spesies lain Myra grandis 31 individu (24,41%), Beuroisia manquenei tertangkap sebanyak 11 individu (8,66%) dan Laterallidae tertangkap 3 individu (2,36%) (Gambar 17).

(46)

2) Umpan Layur

Pada perangkap dengan umpan layur, kelompok keong tertangkap sebanyak 199 individu (74,81%) dan kelompok kepiting sebanyak 67 individu (25,19%).

Kelompok keong didominasi oleh Buccinum spp. yang berjumlah 110 individu atau 55,28% dari total tangkapan keong. Keong lainnya Olivia spp. sebanyak 2 individu (1,00%), sedangkan Collumella testudine 87 individu (43,72%).

Kelompok kepiting didominasi oleh Tanaoa distinctus sebanyak 41 individu atau sebesar 61,19% dari total tangkapan kepiting. Myra grandis tertangkap sebanyak 18 individu (26,87%). Laterallidae tertangkap sebanyak 8 individu (11,94%).

3) Umpan cucut

Keong dan kepiting yang tertangkap oleh perangkap dengan umpan cucut masing-masing berjumlah 161 individu (73,18%) dan 59 individu (26,82%).

Kelompok keong didominasi oleh Buccinum spp. sebanyak 150 individu atau 93,17% dari total tangkapan keong. Keong lain, Collumella testudine, tertangkap sebanyak 11 individu (6,83%). Tanaoa distinctus mendominasi kelompok kepiting dengan jumlah 46 individu yaitu sebesar 77,97%. Myra grandis tertangkap sebanyak 13 individu (22,03%).

(47)

Gambar 16 Distribusi jumlah keong hasil tangkapan perangkap jodang dengan jenis umpan tembang, layur, dan cucut.

Gambar 17 Distribusi jumlah kepiting hasil tangkapan perangkap jodang berdasarkan jenis umpan.

Kelompok keong paling banyak terdapat pada perangkap dengan umpan layur, kemudian diikuti oleh umpan tembang dan cucut dengan jumlah yang tidak berbeda jauh (Gambar 18). Hasil tangkapan berupa keong ini didominasi oleh jenis Buccinum spp. Keong jenis ini banyak tertangkap pada umpan tembang.

Dengan kata lain, umpan tembang adalah umpan terbaik untuk Buccinum spp.

Gambar

Gambar 1. Morfologi cangkang keong macan (Babylonia spirata, L.).
Gambar 3  Perangkap jodang.
Gambar 4 memperlihatkan susunan perangkap jodang ketika dioperasikan di laut.
Gambar  6    Penampang  melintang  cangkang  keong  macan  pada  keliling  badan  terbesar dan rancangan penentuan bukaan mata jaring maksimal
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pakan terfermentasi dan pakan alami meningkatkan kepadatan dan laju pertumbuhan populasi spesifik Diaphanosoma sp.. Kata

Berpijak pada hasil penelitian ini yang menyatakan bahwa menurut para pengguna dosen kemudahan penggunaan e- Learning Ilmo masih termasuk dalam kategori “agak

Permasalahan pokok penelitian ini yaitu: 1. Bentuk karakter ibu-ibu Majelis taklim Sangkale madani desa Pararra kecamatan Sabbang 2. Bagaimana Peran

Cardholer atau pemegang kartu adalah pihak yang menggunakan kartu kredit dalam kegiatan pembayaran, dimana pemegang kartu tersebut telah memenuhi prosedur atau

Di dalam Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2019 Tentang Syarat dan Tata Cara Penunjukan Wali selanjutnya disebut Peraturan Pemerintah menjelaskan bahwa untuk dapat

ABSTRACT • The present study investigates in-vitro the antifungal activity of two extracts (ethyl ether extracts of Schinus terebinthifolius ripened fruits and Pinus

Panel yang diproduksi untuk setiap proyek yang berbeda akan selalu memiliki kesamaan bentuk, yang membedakannya antar proyek adalah ukuran material yang digunakan dan jumlah

Asam Oleat merupakan golongan asam lemak yang dapat berfungsi sebagai peningkat penetrasi pada pemberian melalui transdermal, dengan cara berinteraksi dengan lipid pada