• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945, sistem jaminan kesehatan di Indonesia saat ini mulai memasuki fase baru. Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak diberikan kepada setiap orang.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menyusun Formularium Nasional yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan sistem JKN di fasilitas pelayanan kesehatan yang akan menjamin tersedianya obat yang bermutu, aman dan berkhasiat. Sesuai dengan Kepmenkes No. 328/Menkes/IX/2013, obat-obatan yang ada dalam formularium nasional harus tersedia di fasilitas kesehatan dan apabila obat yang dibutuhkan tidak tercantum di formularium nasional dapat digunakan obat lain secara terbatas berdasar persetujuan komite medik dan direktur rumah sakit setempat (Kementerian Kesehatan, 2013a).

Pemilihan obat yang mengacu kepada formularium nasional bertujuan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam pemilihan obat karena jenis obat yang semakin banyak dan kesalahan pemilihan obat akan berpotensi menyebabkan inefisiensi pelayanan rumah sakit. Daftar harga obat yang mengacu pada formularium nasional tercantum dalam e-catalogue, dimana dalam e-catalogue tercantum nama generik, nama paten, nama perusahaan yang memproduksi, harga obat dan jenis kemasan obat. Rumah sakit dapat melakukan pembelian melalui e- purchasing atau sistem pembelian lewat internet kepada distributor yang tercantum.

Tidak hanya di Indonesia yang menerapkan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional, Thailand telah lebih dulu menerapkan sistem universal health coverage (UHC) dimana setelah penerapan UHC Pemerintah Thailand mengendalikan akses ke obat-obatan dengan sangat ketat, rumah sakit di Thailand juga membatasi jumlah item obat yang ada di formularium dengan meningkatkan penggunaan obat generik

(2)

dan menerapkan beberapa jenis program evaluasi (Sriratanaban, 2012). Begitu juga di negara Spanyol, Kementerian kesehatan nasional telah menetapkan pedoman yang digunakan untuk merasionalisasikan penggunaan obat-obatan yang didasarkan pada efektifitas, ketepatan dan efisiensi (Blasquez et al., 2014).

WHO memperkirakan bahwa lebih dari separuh obat-obatan di seluruh dunia dipergunakan dengan tidak rasional. Contoh dari penggunaan obat yang tidak rasional diantaranya adalah tindakan polifarmasi atau terlalu banyak peresepan obat untuk satu pasien, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan peresepan yang tidak sesuai dengan clinical guidelines (Nguyen et al., 2012).

Obat merupakan barang ekonomi strategis di rumah sakit. Besarnya omzet obat mencapai 50-60% dari seluruh anggaran rumah sakit (Trisnantoro, 2005).

Sedangkan secara global, data belanja obat-obatan melampaui 1 triliun US$ per tahun yang mencakup hingga 67% dari total pengeluaran biaya kesehatan di beberapa negara (Wagner et al., 2014).

Seiring dengan implementasi sistem JKN di Indonesia pada tahun pertama, masih banyak ditemukan masalah terkait dengan penerapannya di lapangan. Karena baru dalam tahap awal pelaksanaan, penerapan formularium nasional di rumah sakit belum sepenuhnya diterapkan secara maksimal, penyesuaian manajemen rumah sakit dengan sistem pengadaan yang baru, kemudian tidak semua obat yang ada di formularium nasional tercantum di e-catalogue serta keterlambatan peluncuran e- catalogue 2014 mewarnai proses penerapan formularium nasional pada tahun pertama pelaksanaan JKN di rumah sakit.

Seperti halnya rumah sakit lainnya, permasalahan yang berkaitan dengan penerapan formularium nasional juga terjadi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Bahwa tidak semua obat dalam formularium nasional diadakan dan terkadang masih dilakukan substitusi untuk obat-obat tertentu karena obat tidak tersedia sehingga perlu dilakukan penelitian terkait dampak penerapan formularium

(3)

adalah 62 dokter spesialis, 20 dokter umum dan 6 apoteker (RS PKU Yogyakarta, 2016).

Salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui dan menilai pemanfaatan dan mutu pelayanan di rumah sakit digunakan perhitungan BOR, AvLOS dan TOI.

Tabel 1. Indikator Pelayanan Kesehatan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2013-2015

Indikator Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 BOR (%)

Av. LOS (hari) TOI (kali) BTO (kali) Kunjungan IGD Kunjungan IRJ Pasien IRNA

68,16 4,0 2,0 50 46.049 82.350 13.169

69,01 4,2 1,9 49 43.833 92.206 12.982

61,45 4,1 2,6 43 39.576 90.754 12.164

(Rekam Medis, RS PKU 2016)

Tabel 2. Resep yang dilayani di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2013-2015

Jenis Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015

Resep IRJ Resep IRNA

121.943 63.804

132.143 69.203

125.100 69.154

(Rekam Medis, RS PKU 2016)

Berkaitan dengan penerapan formularium nasional di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun pertama dan kedua pelaksanaan JKN dan dari fakta-fakta tersebut diatas, maka sangat menarik untuk mengkaji bagaimana dan seberapa besar dampak penerapan formularium nasional di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

(4)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan suatu masalah yaitu: Bagaimana dampak penerapan formularium nasional di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum :

Untuk mengetahui penerapan formularium nasional di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Tujuan Khusus :

1. Untuk mengetahui ketersediaan obat sesuai formularium nasional di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

2. Untuk mengetahui persentase jumlah obat kadaluwarsa, obat mati dan obat kosong di Instalasi Farmasi rawat jalan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

3. Untuk mengetahui biaya obat pasien JKN di instalasi rawat jalan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang ditanggung oleh rumah sakit.

4. Untuk mengidentifikasi kendala dalam pelaksanaan penerapan formularium nasional di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

D. Manfaat Penelitian

Bagi Pemerintah :

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan kajian penerapan formularium

(5)

Bagi Rumah Sakit :

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan pada kebijakan manajemen untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan yang sudah dicapai oleh rumah sakit dalam penerapan formularium nasional guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

(6)

Tabel 1. Keaslian Penelitian No Nama Peneliti

(tahun)

Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Subjek Penelitian

1

2

(Burke et al., 2016)

(George, 2013)

Management of Hospital Formularies in Ontario: Challenges within a Local Health Integration Network

Critical Analysis in The Management of Hospital Drug Formularies : Case of Health Facilities in Nairobi, Kenya

Untuk mengetahui proses evaluasi formularium oleh Komite Farmasi dan Terapi RS yang diintegrasikan dengan kebijakan kesehatan setempat

Menentukan jenis formulariun yang digunakan dan menilai faktor- faktor yang mempengaruhi pengelolaan

A Cross-Sectional survey

A Cross-Sectional descriptive

Komite Farmasi dan Terapi, Kepala Instalasi Farmasi

Fasilitas kesehatan swasta di Nairobi-Kenya

(7)

3

4

5

(Medisa, 2012)

(Setyoningrum, 2013)

(Tumwine et al., 2010)

Evaluasi Kesesuaian Resep dengan Standar Pelayanan Medis (SPM) dan Formularium Jamkesmas pada Pasien Rawat Jalan Jamkesmas di RSUP Panembahan Senopati Bantul Evaluasi Penerapan Formularium di RSUD Prambanan Tahun 2012

Availability and Expiry of Essential Medicines and Supplies during the

‘Pull’ and ‘Push” Drug Acquisition Systems in a Rural Ugandan Hospital

Mengetahui kesesuaian resep dengan SPM dan Formularium Jamkesmas Mengevaluasi penerapan

formularium rumah sakit

Mengetahui dampak penerapan Pull System dalam ketersediaan obat dan mengurangi obat kadaluarsa

A Cross-sectional Observation

Case Study

A Cross-sectional Observation

Resep rawat jalan pasien jamkesmas, Kartu stok, rekam medik, transaksi penjualan

Direktur RS, Ketua PFT, Ka IFRS, Apoteker, Dokter dan Resep tahun 2012

Data kualitatif berupa data persediaan dan pemakaian obat, serta Informan manajemen rumah sakit, staff pelayanan farmasi, manajemen farmasi, staff rekam medis, kepala perawat

(8)

dilakukan oleh Burke et al., (2016), subjek yang diteliti adalah komite farmasi dan terapi serta kepala instalasi farmasi rumah sakit menggunakan metode cross sectional survey untuk mengetahui proses evaluasi formularium. Penelitian yang dilakukan oleh George (2016), subjek yang diteliti adalah fasilitas kesehatan swasta menggunakan metode cross sectional descriptive untuk menentukan jenis formularium yang digunakan dan faktor yang mempengaruhi pengelolaannya. Penelitian yang dilakukan oleh Medisa (2012), subjek yang diteliti adalah resep, pasien, dokumen kartu stok, rekam medik dan transaksi penjualan menggunakan metode cross sectional observation untuk mengetahui kesesuaian resep dengan formularium. Penelitian yang dilakukan oleh Setyoningrum (2013), subjek yang diteliti adalah manajemen rumah sakit menggunakan metode case study untuk mengevaluasi penerapan formularium rumah sakit. Penelitian yang dilakukan oleh Tumwine et al., (2010), subjek yang diteliti adalah manajemen rumah sakit dan data persediaan obat menggunakan metode cross sectional observation untuk mengetahui dampak penerapan pull system dalam ketersediaan obat dan mengurangi obat kadaluarsa.

Penelitian yang saya lakukan juga melibatkan pihak manajemen (direktur rumah sakit, komite medik, komite farmasi dan terapi, kepala instalasi farmasi) apoteker dan dokter serta observasi dokumen dengan menggunakan metode studi kasus eksploratory dengan desain kasus tunggal di unit Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara mendalam.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan yang diperoleh dari teori perkembangan remaja di atas adalah untuk merencanakan dan membangun suatu bangunan yang diperuntukan bagi para remaja kita harus terlebih

Kegiatan dilakukan untuk mendeteksi factor resiko, menangani factor resiko dan memantau factor resiko Penyakit Tidak Menular oleh masyarakat sebaik mungkin.. Peserta

Komposisi hasil tangkapan di perairan Aru didominasi oleh udang dogol ( Metapenaeus endeavouri ) sebanyak 41% dari total hasil tangkapan udang, sedangkan udang windu (

Berangkat dari masalah yang ditemukan, penulis mengadakan penelitian dengan metode studi pustaka, observasi, perancangan, instalasi, uji coba serta implementasi untuk menemukan

Seringkali apabila tunggakan sewa berlaku ianya dikaitkan dengan masalah kemampuan yang dihadapi penyewa dan juga disebabkan faktor pengurusan yang lemah. Ada pula

Sehubungan hal itu perlu dilakukan penelitian ini dengan tujuan mengkaji dosis substitusi azolla dalam pakan komersil sebagai pakan yang memberikan nilai tinggi

Fungsi speaker ini adalah mengubah gelombang listrik menjadi getaran suara.proses pengubahan gelombag listrik/electromagnet menjadi gelombang suara terjadi karna

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak