• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN DANA BOPTN TAHUN ANGGARAN 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENELITIAN DANA BOPTN TAHUN ANGGARAN 2018"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

1 Penelitian Dasar Pengembangan Program Studi

PENELITIAN

DANA BOPTN TAHUN ANGGARAN 2018

PENERAPAN GERAKAN LITERASI SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DAN MENULIS SISWA SEKOLAH DASAR DI LANGSA

KETUA: CUT INTAN MEUTIA, M.A.

NIDN: 2029057401

ID Peneliti 202905790108485

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ZAWIYAH COT KALA LANGSA

TAHUN 2018

(2)

2 DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Penelitian ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teoretik ... 6

1. Pengertian Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ... 6

2. Sasaran Literasi ... 11

3. Kemampuan Membaca Efektif ... 11

4. Kemampuan Menulis Ringkasan... 13

B. Kerangka Berpikir ... 14

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 16

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 16

C. Subjek dan Objek Peneltian ... 16

1. Subjek Penelitian ... 16

2. Objek Penelitian ... 16

D. Instrumen Penelitian ... 17

E. Teknik Pengumpulan Data ... 17

F. Teknik Analisis Data ... 18

G. Teknik Penjamin Keabsahan Data ... 19

BAB IV HASIL PENELITIAN BAB V PENUTUP

(3)

3 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Banyak kegiatan yang sudah dilakukan untuk mewujudkan bangsa yang besar melalui gerakan untuk mencintai buku. Sebut saja Gerakan Indonesia Membaca. Gerakan Membaca Indonesia ini sendiri bertujuan untuk 1) peningkatan kapasitas kemampuan literasi; 2) eksplorasi kekayaan literasi; 3) revitalisasi kekayaan literasi. Tak hanya itu. Pada awal tahun 2000-an, misalnya, program gerakan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang dihusung para sastrawan salah satunya Taufiq Ismail, dilakukan dibeberapa provinsi yang tersebar diseluruh Indonesia. Selain itu, banyak komunitas-komunitas membaca yang muncul di sejumlah daerah. Sebut saja komunitas 1001 buku. Komunitas ini menjaring sejumlah relawan untuk membantu pustaka-pustaka komunitas lainnya agar tersedia buku- buku bacaan bagi anak-anak. Semua program tersebut adalah

(4)

4 bentuk usaha pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Di Aceh sendiri, Pustaka Gampong sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu. berdasarkan UU Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan. Program pengadaan pustaka tiap desa adalah program dari pemerintah pusat. Di Aceh Timur sudah 82 desa sampai dengan tahun 2015. Keberadaan pustaka yang terlihat selama ini hanya melayani program peminjaman buku saja. Tak ada kegiatan literasi lainnya baik. Namun sayangnya program peminjaman buku itu pun tidak berjalan dengan semestinya. Sejumlah perpustakaan yang ada banyak tidak berfungsi dengan semestinya. Banyak faktor yang yang menyebabkan pustaka gampong tidak dapat berjalan dengan baik, dari segi dana ataupun tenaga pengelola yang tidak kreatif dalam memberdayakan perpustakaan gampong yang ada.

Perpustakaan yang ada tidak menjadi pusat pengembangan program literasi. Hal ini menyebabkan sekolah

(5)

5 menghadapi kebingungan program apa yang perlu dikembangkan untuk menumbuhkan minat baca bagi siswa-siswa yang ada. Jika ditelusuri lebih dalam, alasan utama selalu saja terpaku pada kekurangan dana atau tidak ada dana untuk mengembangkan program cinta baca. Sehingga terlintas bahwa membaca bukanlah aktifitas penting di madrasah/sekolah pada saat ini. Apa yang terjadi di sekolah juga setali tiga uang dengan kondisi di rumah.

Orang tua tidak memberikan perhatian lebih terhadap peningkatan minat baca yang ada dalam keluarga.

Berdasarkan hasil yang dipublikasi oleh Asosiasi Internasional untuk Evaluasi Prestasi Pendidikan dalam Progress in International Reading Litearcy Study (PIRLS) 2011, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 peserta. Dari hasil ini terlihat bahwa kompetensi peserta didik Indonesia dalam keterampilan memahami bacaan tergolong rendah. Menyadari rendahnya minat baca di kalangan siswa pemerintah merintis program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bertujuan untuk mengatasi masalah kemampuan membaca yang

(6)

6 rendah di kalangan siswa. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) melibatkan semua pihak, guru, peserta didik, orang tua/wali, dan masyarakat sebagai bagian dari lingkungan pendidikan.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan adopsi dari kegiatan Sustained-SilentReading. Kegiatan Sustained- SilentReading ini banyak dilakukan di sekolah-sekolah di Amerika Serikat, mengingat sebagian besar ruang kelas yang ada memiliki pustaka mini yang berada di salah satu sudut ruangan.

Hal ini tentu saja memudahkan siswa dan guru untuk menerapkan program membaca ini. Program membaca ini dilakukan di ruang kelas tanpa diinterupsi oleh kegiatan lainnya. Kegiatan ini sepenuhnya didukung dengan menyediakan mini library di ruang kelas untuk mendukung program membaca ini. Program ini berlangsung setiap harinya di ruang kelas sebelum pelajaran dimulai.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana yang dituangkan di dalam

(7)

7 Peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015, salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar di mulai. Selain itu, pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) diharapkan dapat meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran dengan menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca.

Dalam keterampilan berbahasa produktif, membaca memegang peranan penting. Membaca menjadi tolak ukur kedalaman pembicaraan atau tulisan seseorang. Kemampuan membaca seseorang dipengaruhi oleh beberapa factor. Razak (2003) menyebutkan bahwa kecerdasan, sikap baca, dan kuantitas adalah factor penentu keberhasilan seseorang dalam proses membaca.1 Dari banyak factor yang disebutkan tadi, kuantitas membaca memegang peranan penting. Semakin sering seseorang membaca akan memberikan efek pada kemampuan memahami teks bacaan, bertambah luasnya pemahaman terhadap suatu

1Membaca Pemahaman (2003)

(8)

8 persoalan, dan semakin dalamnya wawasan mengenai hal tertentu. Ketika siswa dapat menjelaskan bagaimana sifat-sifat tokoh dari cerita yang dibacanya, maka kegiatan membaca tersebut dapat dikatakan berhasil. Pada tataran lebih lanjut, jika siswa dapat menuliskan intisari dari bahan bacaan yang sudah dibacanya maka siswa tersebut sudah sampai pada level pengembangan.

Dari paparan yang dikemukakan pada bagian sebelumnya, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) diharapkan dapat melahirkan ekosistem pendidikan SD yang literat. Oleh Karena itu, peneliti tertarik ingin menganalisis bagaimana peningkatan kemampuan membaca dan menulis siswa melalui kegiatan Gerakan Literasi Sekolah di SD kota Langsa.

B. Rumusan Penelitian

Berdasarkan paparan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut:

(9)

9 1. Bagaimana penerapan Gerakan Literasi Sekolah dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa Sekolah Dasar di Langsa?

2. Apa sajakah kesulitan dalam menerapkan Gerakan Literasi Sekolah untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa Sekolah Dasar di Langsa?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui;

1. Bagaimana Gerakan Literasi Sekolah dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa Sekolah Dasar di kota Langsa?

2. Apa kesulitan dalam menerapkan Gerakan Literasi Sekolah untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa Sekolah Dasar di Langsa?

(10)

10 D. Manfaat Penelitian

Mengacu pada tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk,

a. Memberikan kontribusi GLS terhadapkemampuan membaca dan menulis siswa sekolah dasar di Kota Langsa.

b. Mengukur keberhasilan GLS yang telah dilakukan.

c. Menganalisis masalah dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam melaksanakan GLS di sekolah.

(11)

11 BAB II

KAJIAN TEORI

1. Pengertian Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dikembangkan berdasarkan Sembilan agenda prioritas (Nawacita) yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud. Butir nawacita yang dimaksudkan adalah; (5) meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia; (6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya; (8) melakukan revolusi karakter bangsa; (9) memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

Pengertian literasi sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, dan/atau berbicara.2Aan Subhan

2Dewi Utama Faizah, dkk.Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SekolahDasar (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan), hlm. 3.

(12)

12 Pamungkasmenjelaskan literasisebagaikemampuan membaca dan memahami teks,grafik, tabel, dan diagram dalam berbagai konteks (Pamungkas, 2017).3Tahap-tahap gerakan literasi di Sekolah Dasar:

1. Penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca (Permendikbud No. 23 Tahun 2015). GLS memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca buku nonpelajaran. Kegiatan ini dilakukan secara rutin.

Para siswa diberi bahan bacaan yang berkaitan dengan pengayaan wawasan dan pengetahuan. Buku-buku yang disajikan dapat buku fiksi maupun nonfiksi. Kecakapan literasi yang diharapkan pada tahap pembiasaan.

Jenjang Komunikasi Berpikir Kritis SD kelas Mengartikulasikan Memisahkan

3Aan Subhan Pamungkas,PengembanganBahan Ajar BerbasisLiterasi padaMateri BilanganbagiMahasiswa Calon Guru SD. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, (2017), hlm. 228–240.

(13)

13 rendah empati terhadap

tokoh cerita.

fakta dan fiksi.

SD kelas tinggi

Mempresentasikan cerita dengan efektif.

Mengetahui jenis tulisan dalam

media dan

tujuannya.

Beberapa Kegiatan membaca dan penataan lingkungankaya literasipada tahap pembiasaan sebagai berkut:

a. Membaca buku cerita/pengayaanselama15menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan membaca yang dapat dilakukanadalah membacakan buku dengan nyaring (read aloud) dan membaca dalam hati (sustained silent reading/SSR).

b. Memperkaya koleksi bacaan untuk mendukung kegiatan 15 menit membaca.

c. Memfungsikanlingkunganfisik

sekolahmelaluipemanfaatansaranadan prasarana sekolah, antara lain perpustakaan, sudut buku kelas, area baca, kebun sekolah, kantin, UKS, dll. Untuk

(14)

14 menumbuhkan minat baca warga sekolah, sarana prasarana ini dapat diperkaya dengan bahan kaya teks (print-rich material).

d. Melibatkan komunitas di luar sekolah dalam kegiatan 15 menit membaca dan pengembangan sarana literasi, serta pengadaan buku-buku koleksi perpustakaan dan sudut buku kelas.

e. Memilih buku bacaan yang baik

Langkah-langkah kegiatan pada tahap pembiasaan adalah sebagai berikut:

1) Membaca nyaring

Guru/pustakawan/kepala SD/relawan membacakan buku/bahan bacaan lain dengan nyaring. Adapun tujuan dari membaca nyaring ini adalah; a) Memotivasi peserta didik agar mau membaca. b) Membuat peserta didik dapat membaca dan gemar membaca. c) Memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan. d)

(15)

15 Membangun komunikasi antara guru dan peserta didik. e) Guru/pustakawan/kepala sekolah menjadi teladan membaca. 4

2) Membaca dalam hati

Membaca dalam hati (sustained silent reading) adalah kegiatan membaca 15 menit yang diberikankepada peserta didik tanpa gangguan. Guru menciptakan suasana tenang, nyaman, agar peserta didik dapat berkonsentrasi pada buku yang dibacanya. Tahapan dalam membaca dalam hati adalah sebagai berikut:

Tahap Membaca

Kegiatan Persiapan

membaca dalam hati

a) Memahami tujuan membaca dalam hati, yaitu untuk menumbuhkanminat baca peserta didik.

b) Memastikan agar bacaan sesuai dengan tingkat keterampilan membacapeserta didik.

4Dewi Utama Faizah, dkk.Panduan., hlm. 10.

(16)

16 Sebelum

membaca dalam hati dilakukan

a) Menawarkan kepada peserta didik apakah mereka memilih sendiri buku yang

b) ingin dibaca dari Sudut Baca Kelas atau c) membawanya sendiri dari rumah.

d) Membebaskan peserta didik untuk memilih buku yang sesuai dengan minat dan kesenangannya.

e) Memberi semangat kepada peserta didik bahwa ia harus membaca buku tersebut sampai selesai, dalam kurun waktu tertentu, bergantung pada ketebalan buku.

f) Membolehkan peserta didik untuk

g)

h) mencari buku lain apabila isi buku dianggapkurang menarik.

i) Membolehkan peserta didik untuk memilih tempat yang disukainya untuk membaca.

j) f) Menyediakan buku-buku dengan jenis dan judul yang variatif.

Saat membaca dalam hati

Peserta didik dan guru bersama-sama membaca buku masing-masing dengan tenang selama 15 menit

t.

Setelah membaca dalam hati

Guru dapat menggunakan 5–10 menit setelah membaca untuk bertanya kepada peserta didik tentang buku yang dibaca

(17)

17 2. Pelaksanaan GLS pada tahap pengembangan bertujuan untuk mempertahankan minat terhadap bacaan dan kegiatan membaca, serta meningkatkan kelancaran dan pemahaman membaca peserta didik. Kecakapan literasi pada tahap pengembangan berkaitan dengan keterampilan menyimak, membaca, berbicara, menulis, dan memilah informasi. Kegiatan pada tahap ini dapat diikuti oleh tugas-tugas menggambar, menulis, kriya, seni gerak dan peran untuk menanggapi bacaan.

3. Pelaksanaan GLS pada tahap pembelajaran bertujuan untuk menghasilkan portofolio dalam menanggapi buku bacaan tersebut. Kegiatan membaca yang dapat dilakukan pada tahap ini di antaranya, membaca nyaring, membaca terpandu, membaca bersama, dan membaca mandiri.

Pelaksanaan program gerakan literasisekolah mengacu pada prinsip: 1) Sesuai dengan tahapan perkembangan pesertadidik, 2) dilaksanakan menggunakan berbagai ragam teks, 3) dilaksanakan secara terintegrasi dan holistik di semua area

(18)

18 kurikulum,4) dilakukan secara berkelanjutan, 5) melibatkan kecakapan berkomunikasi lisan, dan6) mempertimbangkan keberagaman.5

2. Sarana literasi

Sarana literasi mencakup perpustakaan sekolah, sudut baca kelas, dan area baca. Perpustakaan berfungsi sebagai pusat pembelajaran di SD. Pengembangan dan penataan perpustakaan menjadi bagian penting dari pelaksanaan gerakan literasi SD dan pengelolaan pengetahuan yang berbasis pada bacaan.

Perpustakaan yang dikelola dengan baik mampu meningkatkan minat baca warga SD dan men jadi kan mereka pembelajar sepanjang hayat. Perpustakaan SD idealnya berperan dalam mengkoordinasi pengelolaan Sudut Baca Kelas, area baca, dan prasarana literasi lain di SD.

Sudut baca kelas adalah sebuah sudut yang dilengkapi dengan koleksi buku yang ditata secara menarik untuk

5Suragangga,I. M. N.2017. Mendidik Lewat Literasi Untuk Pendidikan Berkualitas.JurnalPenjaminanMutu,hlm,154–163.

(19)

19 menumbuhkan minat baca peserta didik. Sudut baca ini sebagai perpanjangan fungsi perpusakaan SD, yaitu mendekatkan buku pada peserta didik.

Area baca meliputi lingkungan sekolah (serambi, koridor, halaman, kebun, ruang kelas, tempat ibadah, ruang UKS, ruang Kepala sekolah, dan ruang guru.

3. Kemampuan Membaca Efektif

Kemampuan membaca memegang peranan penting dalam kehidupan siswa. Tarigan (2008: 7), membaca adalah proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui bahasa tulis. Membaca merupakan kegiatan proses pemindahan gagasan dan pikiran dari bahan bacaan ke dalam pikiran. Sesuai dengan pendapat Cahyani (2007:98) yang menjelaskan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan melalui kata-kata atau bahasa tulis. Dengan membaca seseorang dapat memperoleh gagasan atau ide yang hendak diketahuinya.

(20)

20 Klein (1996) dalam Rahim (2003: 3) mengemukakan bahwa defenisi membaca mencakup : 1) membaca merupakan suatu proses, 2) membaca merupakan strategis, dan 3) membaca merupakan interaktif. Membaca merupakan aktivitas pembelajaran yang memerlukan interaksi aktif pembaca terhadap bacaan sehingga memperoleh makna dan pemahaman dari apa yang dibaca.

Ahuja (2010: 70-71) menjelaskan faktor yang mempengaruhi efisiensi membaca mencakup dua hal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri pembaca.

Faktor internal berkaitan dengan fisik pembaca meliputi, kemampuan mendengar bunyi, cacat wicara, kebiasaan dalam membaca, dan tujuan membaca. Faktor lingkungan adalah faktor yang berasal dari luar diri pembaca. Faktor ini meliputi, penerangan atau pencahayaan, keterbacaan bahan bacaan, dan motivasi pembaca.

Membaca efektif merupakan salah satu kegiatan membaca yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman pembaca terhadap bahan yang telah dibaca. Untuk mengukur keefektifan

(21)

21 membaca dapat dilakukan dengan mengukur kecepatan efektif membaca. Razak (2005: 59) menyebutkan kecepatan efektif lebih menekankan pada jumlah kata yang dapat dibaca pada periode waktu tertentu yang dikonversikan dengan tingkat membaca pemahaman yang dapat dicapai oleh pembaca melalui seperangkat tes.

KE = (K/W) x (SB/ST) x 1 kpm Keterangan :

K = Jumlah kata W = jumlah waktu SB = Skor benar ST = Skor total

1 kpm = Koefisien kata per menit

Dari gerakan literasi yang dilakukan, dimulai dari tahap pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa. Banyak faktor yang mempengaruhi proses membaca pemahaman.

(22)

22 4. Kemampuan Menulis Ringkasan

Menulis berarti menyampaikan pikiran, perasaan, atau pertimbangan melalui tulisan. Bagi kehidupan siswa, menulis memegang peranan penting. Sebagai salah satu keterampilan berbahasa menulis menjadi salah satu indikator keberhasilan keterampilan berbahasa seseorang. Setelah melewati proses pembiasaan, GLS difokuskan pada ranah pemahaman pembaca terhadap bahan bacaan. Hipple dalam Muchlisoh (1993: 233) menyatakan ada beberapa tujuan menulis, yaitu:

1. Tujuan penugasan 2. Tujuan altruistic 3. Tujuan persuatif 4. Tujuan informasional 5. Tujuan pernyataan diri 6. Tujuan kreatif

7. Tujuan pemecahan masalah

Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk proses pengembangan GLS adalah menulis ringkasan. Tugas ini biasanya merupakan ini biasanya merupakan tugas pengiring

(23)

23 dalam kegiatan membaca. Keraf (2007:34) ringkasan adalah suatu cara untuk menyajikan karangan yang panjang dalam bentuk singkat. Ringkasan tetap mempertahankan pikiran pengarang dan pendekatannya yang asli. Lebih lanjut Keraf memberikan prosedur dalam memproduksi ringkasan,

1. Membaca naskah asli 2. Menacatat gagasan utama 3. Membuat reproduksi

4. Beberapa ketentuan tambahan

Menurut Kusumah, dkk (2003:43) ada empat prosedur dalam menulis ringkasan, yaitu membaca, menyeleksi, menulis, dan membandingkan. Pikiran-pikiran utama penulis harus dapat diidentifikasi penulis ringkasan, kemudian dijadikan dasar dalam penulisan ringkasan.

A. Kerangka Berpikir

Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai bagaimana pengaruh kegiatan gerakan literasi sekolah dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa sekoah dasar.

(24)

24 Kerangka berfikir yang diusung dalam penelitian ini didasarkan pada pandangan Razak (2005:30) bahwa kuantitas membaca menjadi factor yang paling mempengaruhi kegiatan membaca siswa. GLS menjadikan siswa harus menjalani kegiatan rutin membaca sebelum memulai pelajaran. Berikutnya, aspek kemampuan menulis yang akan diukur didasarkan pada Keraf (2001) yang menjelaskan kemampuan menulis ringkasan sangat dipengaruhi oleh kemampuan membaca. Dalam memproduksi ringkasan, penulis harus melewati tahap pembacaan terhadaap bahan bacaan berulang kali. Sehingga, ide –ide pokok bacaan dapat disusun kembali tanpa menghilangkan bagian-bagian pentingnya. Langkah-langkah yang dikemukakan Keraf akan disandingkan dengan panduan pelaksanaan di sekolah dasar yang tercantum dalam Buku Panduan GLS pada Sekolah dasar yang kemudian disusun menjadi indikator keberhasilan menulis ringkasan.

(25)

25 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis danPendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian terapan (applied research) . Dalam penelitian ini, penelitimendeskripsikantemuan penerapan dari GLS sesuaidengankeadaanyang terjadi sebenarnya di lapangan yang berupa kata-kata tertulis dari orang-orang dan perilaku yang telah diamati. Sedangkan pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian deksriptifkualitatif dimana penelitimendeskripsikan pelaksanaanGerakan Literasi Sekolah dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa sekolah dasar.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Adapun lokasi penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar yang sudah menerapkan GLS di Kota Langsa, dan waktu

(26)

26 penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2018/2019, 15 menit sebelum jam pembelajaran berlangsung.

C. Subjek dan ObjekPenelitian 1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalahsiswa-siswi Sekolah Dasar di Kota Langsa yang sudah menerapkan Gerakan Literasi Sekolah di kota langsa.

2. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah informasi yang didapatkan dari subjek peneliti. Objek dalam penelitian ini adalah kemampuan dan aktifitas membaca serta menulis siswa.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitianini adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, dan pedoman studi dokumentasi yang diambil dari buku panduan Gerakan Literasi Sekolah.

E. Teknik Pengumpulan Data

(27)

27 Teknik pengumpulan data merupakan cara yang dilakukan peneliti untuk memperoleh data dengan instrumen pengumpul data, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulan datayang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian iniadalah:

1. Observasi. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data observasi untuk mengamati dan mengumpulkan data mengenai penerapaan GLS yang diselenggarakan di Sekolah Dasar di Kota Langsa.

2. Wawancara. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur.Teknik ini dilakukan agar subyek penelitian lebih terbuka dalam memberikan data.Wawancara dalam penelitian ini ditujukan kepada guru dan siswa.

3. Studi dokumentasi. Studi dokumentasi ini digunakan sebagai pelengkap dari pengguna metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Studi dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan dokumen. Studi dokumentasi digunakan untuk menggali data atau

(28)

28 informasi dari sumber data.

F. TeknikAnalisis Data

Data dalam penelitian kualitatif diperoleh dari berbagai macam sumber dan teknik pengumpulan data. Setelah data-data tersebut diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data. Proses analisis data penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan.

Sebelum ke lapangan, peneliti melakukan analisis berupa data sementara yang diperoleh melalui wawancara dengan kepala sekolah dan guru kelas. Berdasarkan data sementara tersebut, peneliti melakukan analisis data yang kompleks dan lebih terperinci di lapangan secara langsung. Pada penelitian ini, model yang digunakan adalah analisis data model Miles dan Huberman.

Miles dan Huberman yang dikutip oleh Sugiyono (2010:

337) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data

(29)

29 kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu:data reduction, data display (penyajian data), dan conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan).

Untuk langkah-langkah dalam pelaksanaan analisis data dilapangan dapatdilihat dari gambar berikut:

Dari gambar pola tersebut dapat dijelaskan mengenai tahapan masing-masing langkahnya;

1. Data Reduction (Reduksi Data). Mereduksi data berarti merangkum,memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan

Penyajian Data Pengumpulan data

Reduksi data

Kesimpulan Penarikan/Verifikasi

(30)

30 menyingkirkan yang tidak perlu. Dalam mereduksi data, penelitian ini memfokuskan pada hasil penerapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diperoleh peneliti dari lapangan penelitian.

2. Data Display (PenyajianData). Dalam penelitian ini, peneliti menyajikan data mengenai penerapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang bersifat deskriptif. Data tersebut berasal dari hasil observasi dan wawancara dengan kepala sekolah serta hasil dari studi dokumentasi.

3. Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan). Dalam penelitian ini,data mengenai penerapan Gerakan Literasi sekolah (GLS) telah tertulis dalam penyajiandata, dianalisis untuk memperolehkesimpulan.

G. Teknik Penjamin Keabsahan Data

Untuk menetapkan keabsahan (trustworthness) data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan, yaitu derajat kepercayaan (credibility),

(31)

31 keteralihan (tranferability), kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability). 6

a. Kepercayaan (creadibility)

Kredibilitas (creadibility) menggambarkan tingkat kepercayaan terhadap penelitian terutama terhadap data dan informasi yang diperoleh. Pada penelitian ini, teknik pemeriksaan kreadibilitas dilakukan dengan:

perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pengecekan sejawat, kajian kasus negatif, dan pengecekan anggota” 7

1) Perpanjangan Keikutsertaan

Perpanjangan keikutsertaan peneliti akan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan.8 Dengan perpanjangan keikutsertaan, peneliti memiliki kesempatan lebih banyak untuk memperoleh data dan informasi yang

6 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 324.

7Ibid,h. 327.

8 Ibid

(32)

32 dibutuhkan dengan memperluas lingkup kajian.

Penelitian tidak dilakukan dengan tergesa-gesa.

Perpanjangan keikutsertaan membantu terciptanya hubungan yang semakin baik antara peneliti dengan subjek sebagai sumber data, sehingga tidak ragu memberikan data.

Perpanjangan waktu pengamatan dengan berada pada latar penelitian, peneliti berpeluang lebih besar untuk mempelajari situasi, memeriksa kembali data yang kurang jelas dan berpeluang meningkatkan kepercayaan. Selain itu, peneliti dapat lebih mengenal konteks dengan lebih baik, dan dapat mengenal lebih jauh subjek yang terdapat dalam penelitian ini.

2) Ketekunan Pengamatan

Ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari

(33)

33 dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.9

Ketekunan pengamatan dalam penelitian ini sangat diperlukan untuk lebih memastikan kesahihan informasi yang diperoleh dari para subjek penelitian melalui pertanyaan silang. Dengan cara ini diharapkan bahwa data yang diperoleh akan semakin tajam.

3) Triangulasi

Triangulasi yaitu tekhnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.10

Denzin (1978) dalam Sudarwan Danim mengemukakan empat bentuk triangulasi, yaitu triangulasi sumber (sources triangulation), triangulasi metode (methods triangulation), triangulasi peneliti

9Ibid, h. 329.

10 Afifuddin dan Ahmad Saebani, Metodologi Penelitian Kualitatif(Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009), hlm. 143.

(34)

34 (investigatorstriangulation), dan triangulasi teori (theories triangulation).11

Triangulasi sumber ialah membandingkan tingkat keakuratan informasi atau data yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda.12 Adapun yang dimaksud sumber dalam penelitian ini adalah guru dan siswa yang mengikuti GLS.

Triangulasi metode yaitu pengecekan tingkat kepercayaan dan keabsahan data dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yang berbeda, dan atau pengecekan kepada beberapa sumber data dengan metode yang sama.13

Selain dengan Triangulasi sumber dan Triangulasi metode, untuk meningkatkan kreadibilitas data dilakukan dengan tringulasi penelitian dan tringulasi teori. Tringulasi ini dilakukan atas dasar pemikiran bahwa fakta tertentu tidak dapat diperiksa dengan

11 Sudarwan Danim, Menjadi peneliti Kualitatif (Bandung: CV.

Pustaka Setia, 2002), hlm. 195.

12 Syukur Kholil, Metodologi Penelitian Komunikasi (Bandung:

Cipustaka Media, 2006), hlm. 132.

13Ibid, h. 133.

(35)

35 hanya berdasarkan pada satu teori melainkan pembanding yang lain.

4) Pengecekan Sejawat

Kegiatan ini dilakukan dengan mendiskusikan temuan penelitian dengan teman sejawat yang benar- benar memahami tentang program GLS di Kota Langsa. Melalui diskusi ini diperoleh kontrol dan masukan jujur yang bermanfaat untuk memperbaiki kekeliruan peneliti yang mungkin terjadi secara tidak sengaja.

Dengan membicarakan temuan-temuan penelitian yang telah di dapat dari teman seprofesi dan subjek lain di lokasi penelitian yang untuk memproleh masukan yang bersifat jujur dan benar sehingga lebih mudah memperbaikinya jika ada kesilapan dan kesalahan dalam penelitian ini, juga dapat menguatkan kembali hasil penelitian yang telah diperoleh.

Pengecekan sejawat yang dilakukan untuk menunjukkan bahwa temuan penelitian sesuai dengan

(36)

36 harapan dan tujuan penyelenggaraan GLS di Kota Langsa dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa. Masukan yang diperoleh melalui diskusi ini membantu peneliti untuk menguatkan keyakinan akan hasil penelitian.

5) Kajian Kasus Negatif

Teknik Analisis kasus negatif dilakukan dengan jalan mengumpulkan contoh dan kasus yang tidak sesuai dengan pola dan kecenderungan informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan pembanding.14Hal ini dilakukan untuk memperbaiki hipotesis kerja sebagai upaya meningkatkan kreadibiltas penelitian. Analisis kasus negatif dilakukan dengan mengumpulkan temuan-temuan yang ada di lapangan.

6) Pengecekan Anggota

14 Moleong, Metodologi, hlm. 334

(37)

37 Pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam proses pengumpulan data sangat penting dalam pemeriksaan derajat kepercayaan.15

Temuan dalam penelitian perlu diajukan untuk dikonfirmasikan kembali dengan para informan yang pernah diajak berbicara dan diamati, yang terdiri dari Kepala sekolah, gurudan sebagian siswa yang mengikuti program Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada informan untuk mengetahui hasil yang diperoleh sebagai temuan penelitian dan memberikan tanggapan dan koreksi terhadap temuan tesebut.

b. Keteralihan (Transferability)

Keteralihan dalam penelitian kualitatif adalah kemampuan untuk melihat kemungkinan hasil penelitian dapat diaplikasikan dalam situasi lain. Laporan hasil penelitian sedapat mungkin menyajikan uraian rinci yang

15Ibid, hlm. 335

(38)

38 disusun secara teliti sehingga memudahkan pembaca dalam memahami konteks latar dan situasi yang mungkin untuk menggeneralisasikan hasil penelitian pada situasi yang berbeda. Dengan kata lain bahwa dengan deskripsi hasil penelitian secara rinci, pembaca mampu menentukan kelayakan penerapan hasil penelitian tesebut untuk situasi lain.

c. Kebergantungan (Dependability)

Untuk memenuhi standar yang berlaku, maka peneliti berupaya untuk bersikap konsisten terhadap seluruh proses penelitian. Seluruh kegiatan penelitian ditinjau ulang dengan memperhatikan data yang telah diperoleh dengan tetap mempertimbangkan konsistensi dan reliabilitas data yang ada. Adanya kebergantungan ditujukan terhadap sejauh mana kualitas proses dalam mengkonseptualisasikan penelitian, dimulai dari pengumpulan data, analisis data, interpretasi temuan dan pelaporan yang diminta oleh pihak-pihak atau para ahli

(39)

39 yang berhubungan dengan permasalahan yang sedang diteliti.

d. Kepastian (Confirmability)

Penelitian harus memastikan bahwa seluruh data yang diperoleh dalam penelitian ini terjamin kepercayaan dan diakui oleh orang banyak sebagai gambaran objektifitas, sehingga kualitas data dapat diandalkan (reliable). Untuk memperoleh kepastian terhadap data penelitian yang diperoleh, peneliti memberi kesempatan kepada pihak guru di tempat peneliti mengumpulkan data, sehingga kualitas data dapat dipertanggung jawabkan dan diandalkan sesuai dengan fokus dan sifat alamiah penelitian yang dilaksanakan.

(40)

40 BAB IV

Hasil Penelitian dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini membahas tentang aktifitas membaca dan menulis yang dilakukan di Madarasah Ibtidaiyah Negeri 3 Langsa. Adapun yang menjadi sample adalah kelas satu dan kelas lima. Keputusan pengambilan sampel ini mengacu pada keadaan kelas rendah dan kelas tinggi yang didasarkan pada gerakan literasi untuk sekolah dasar. Sedangkan hasil keputusan di lapangan, kepala sekolah MIN 3 Langsa hanya mengizinkan pengambilan data di kelas 1 sebagai kelas rendah dan kelas 5 sebagai kelas tinggi untuk kegiatan membaca dan menulis ini.

Adapun pemaparan penelitian ini dimulai dengan menceritakan kegiatan pelaksanaan kegiatan membaca dan menulis di madrasah ibtidaiyah ini. Pada dasarnya tahapan pelaksanaan gerakan literasi sekolah ini mengacu kepada tiga tahap. Adapun tahap pertama yaitu tahap pembiasaan dimana kegiatan ini berlangsung selama 15 menit membabca berdasarkan

(41)

41 Permendikbud no. 23 tahun 2015. Sedangkan tahap kedua yaitu pengembangan dimana kegiatan membaca merambah pada kegiatan merespon akan buku yang dibaca. Sedangkan tahap ketiga yaitu meningkatkan literasi anak-anak sekolah untuk semua mata pelajaran dimana menggunakan buku penggayaan dan strategi untuk membaca di semua mata pelajaran yang dikenal dengan tahap pembelajaran.

Selanjutnya peneliti akan memaparkan gambaran kegiatan literasi sekolah yang dilaksanakan selama satu bulan di madrasah ibtidaiyah negeri 3 Langsa.

Keadaan Siswa

Gambaran sampel yang kami dapatkan di Madrasah ini adalah siswa kelas 1 yang mayoritas belum bisa membaca dan menulis. Sedangkan yang kelas lima mereka sudah bisa membaca dengan baik akan tetapi masih rendah dalam kemampuan menulis.

(42)

42 Buku Bacaan

Adapun buku bacaan yang digunakan adalah buku bacaan yang ada di perpustakaan sekolah dan dipilah berdasarkan kesesuaian usia kelas rendah dan kelas tinggi.

Aktifitas membaca dan Menulis

Aktifitas membaca dilakukan pada pukul 10.00 wib setelah mereka belajar setiap harinya dan kegiatan untuk kelas lima setelah kelas berakhir setiap pukul 12.30 wib setiap harinya walaupun terkadang ada perubahan waktu karena berdasarkan penyesuaiannya dengan jadwa kegiatan sekolah yang ada.

Sedangkan aktifitas menulis berlangsung setelah anak-anak melakukan kegiatan membaca dengan cara memberikan review yang ada terhadap apa yang mereka baca.

Implementasi Program Membaca dan Menulis di kelas IA Rabu

18 Juli 2018

(43)

43 Pada pertemuan pertama, siswa-siswi masih belum mengerti cerita karena pada saat itu mereka masih sibuk dengan teman-temannya. Tak banyak wali murid yang masih menunggu anak-anaknya diluar kelas. Ada sebagian murid yang mendengarkan cerita namun masih belum bisa menjawab apa yang ditanyakan oleh peneliti. Pada saat cerita berlangsung, siswa-siswi sudah meminta untuk pulang karena sudah banyak wali murid yang datang untuk menjemput.

Kamis

19 Juli 2018

Judul Cerita : Timun Emas

Peneliti menceritakan dongeng timun emas dengan memperagakannya di depan kelas. Siswa-siswi mengamati dengan seksama. Pada saat cerita didongengkan, ada satu siswa yang sudah pernah mendengar cerita tersebut dan menyambung cerita dengan bahasanya. Ada juga siswa yang sibuk dengan teman disampingnya, karena mereka berebut pulpen. Namun

(44)

44 diakhir cerita, ketika peneliti bertanya tentang siapa tokoh yang diceritakan mereka bisa menjawab dan memahami cerita.

Jumat

20 Juli 2018

Judul Cerita : Kumbang yang sangat malas

Peneliti menceritakan cerita kumbang yang sangat malas.

Saat peneliti bercerita ada 1 orang murid yang bertanya apakah nama lain dari binatang kepik, lalu peneliti menyebutkan nama lain dari kepik adalah kumbang, barulah mereka mengerti binatang yang dimaksud dan dibicarakan oleh peneliti. Mereka mulai memahami dan mendengarkan cerita dengan seksama.

Pada saat cerita selesai, peneliti bertanya tentang judul dari cerita tersebut, binatang apa yang sedang diceritakan dan dimana binatang itu tinggal. Sebagian murid sudah mulai berani menjawab pertanyaan dari peneliti. Mereka menjawab dengan berbarengan dan disini sudah mulai kelihatan anak yang aktif untuk menjawab pertanyaan dengan menunjuk tangan dan menjawab pertanyaan peneliti.

(45)

45 Sabtu

21 Juli 2018

Judul Cerita : Ulat yang suka makan

Peneliti menceritakan tentang cerita ulat yang suka makan. Para siswa mampu mengenali gambar-gambar binatang yang ada di buku tersebut. Peneliti menanyakan gambar-gambar binatang yang ada di buku dan hampir semua siswa mampu mengenalinya. Seperti gambar ulat, kupu-kupu dan burung.

Peneliti bercerita dan memperagakan setiap tokoh kepada anak- anak. Mereka mulai berimajinasi dan mendengarkan cerita dengan seksama. Peneliti membacakan cerita sambil memperlihatkan gambar-gambar yang ada dibuku. Para siswa penasaran dengan gambar-gambar tersebut dan diakhir cerita mereka sudah mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. Saat cerita sudah selesai ada salah satu murid yang bernama nizam, murid tersebut memberikan buku cerita hantu kepada peneliti dan meminta peneliti untuk membacakannya. Nizam belum mampu membaca namun dia membeli buku cerita hantu dan membawanya ke kelas untuk

(46)

46 dibacakan oleh peneliti. Peneliti menuruti permintaan nizam dan memilih kosa kata yang mudah mereka pahami. Karena sebelumnya buku tersebut mengandung kata-kata yang masih susah dimengerti oleh mereka setingkat kelas 1 SD. Pada saat cerita selesai ada satu murid lagi yang meminta untuk dibacakan cerita mengenai hantu juga. Namun peneliti tidak dapat bercerita lagi karena waktu sudah habis.

Senin

23 Juli 2018

Judul Cerita : Jangan takut anakku (Harimau dan anaknya)

Pada hari ini anak-anak terlihat siap dan sangat bersemangat mendengarkan cerita. Pada saat peneliti masuk ke kelas mereka terlihat bahagia dan senang. Walaupun masih ada anak-anak yang ditemani oleh orangtuanya, peneliti tetap bercerita tentang induk harimau dan anaknya. Peneliti mencoba memperagakan setiap tokoh yang ada dibuku cerita, semua mata murid tertuju pada peneliti. Saat cerita selesai, peneliti mengajukan pertanyaan, dan hampir semua murid mau dan

(47)

47 mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti dengan baik dan benar. Di akhir waktu, para murid meminta dibacakan buku cerita yang sesuai dengan yang mereka inginkan.

Selasa

24 Juli 2018

Judul Cerita : Gurita yang suka menggelitik

Anak-anak terlihat antusias untuk mendengarkan cerita.

Mereka sudah tidak sabar mendengarkan cerita dongeng di hari ini. Anak-anak sudah mengerti dan memahami intruksi dari peneliti. Ketika peneliti meminta mereka duduk rapi mereka pun mengikutinya. Hari ini peneliti bercerita tentang gurita yang suka menggelitik. Amanat dari cerita ini adalah anak yang suka menolong akan banyak teman dan disukai oleh teman-temannya.

Siswa-siswi sudah mulai tertarik pada setiap buku cerita yang diceritakan, lalu peneliti mencoba menanyakan pertanyaan seputar cerita seperti siapakah tokoh cerita diatas ? tinggal dimanakah gurita ? berapakah tentakel yang dimiliki gurita dan apa judul cerita yang sudah dibacakan tadi. Hampir semua murid mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti.

(48)

48 Rabu

25 Juli 2018

Judul Cerita : Kecebong kecil yang mungil

Pada hari ini peneliti bercerita tentang kecebong kecil yang mungil. Peneliti bercerita tentang perjuangan kecebong untuk melompat. Cerita ini mengajarkan tentang perjuangan kecebong untuk melompat. Cerita ini mengajarkan anak-anak meminta untuk di perlihatkan gambar-gambar yang ada dibuku tersebut. Semua anak terlihat antusias dalam menyimak cerita.

Mereka mampu menyebutkan nama-nama hewan yang ada di buku. Contoh: kelinci, katak, domba, dll. Pada saat cerita berlangsung, anak-anak mendengarkan cerita dengan seksama mereka menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.

Mereka selalu terlihat bersemangat dalam mendengarkan cerita.

Sampai-sampai ketika orangtua sudah mulai menjemput mereka, mereka tidak menghiraukannya sampai cerita selesai diceritakan.

Kamis

(49)

49 26 Juli 2018

Judul Cerita : Aku dan ayahku

Pada hari ini peneliti bercerita tentang beruang dan anaknya. Anak-anak sudah berani untuk bertanya dan menanggapi cerita. Mereka terlihat sangat senang ketika peneliti menyampaikan amanat tentang kewajiban anak-anak untuk menyayangi orangtuanya. Dan diakhir cerita, peneliti mengajak siswa–siswi untuk bernyanyi kedepan kelas dan kelas ditutup dengan shalawat serta salam.

Jumat

27 Juli 2018

Judul Cerita : Di peternakan

Pada hari ini peneliti bercerita tentang peternakan. Anak- anak sangat gembira mereka duduk diam dan mendengarkan cerita. Peneliti memilih buku peternakan karena di dalam buku ini terdapat hewan-hewan yang sering dijumpai seperti ayam, bebek, domba, sapi, dan tikus. Buku ini sangat menarik perhatian murid-

(50)

50 murid karena buku ini menyajikan gambar-gambar tertutup yang dapat dibuka ketika buku sedang dibaca.

Di akhir cerita, peneliti memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan peternakan. Semua murid sudah mulai aktif untuk bertanya dan menjawab. Mereka terlihat mengikuti cerita dari awal hingga akhir. Hal ini dibuktikan dari semua pertanyaan yang berhasil dijawab oleh mereka.

Sabtu

28 Juli 2018

Judul Cerita : Rumah Hewan

Hari ini peneliti tidak ditemani oleh guru kelas karena kebetulan guru kelas tidak dapat berhadir. Peneliti bercerita tentang rumah hewan dan anak-anak banyak yang mengerti dan mengenali hewan-hewan yang ada dibuku. Semua perhatian murid terfokus pada buku bacaan cerita. Mereka tertarik pada buku yang dibawakan peneliti. Mereka mencoba maju ke depan dan ingin membuka buku tersebut sendiri. Mereka begitu

(51)

51 penasaran dengan gambar-gambar yang tersembunyi pada buku cerita.

Senin

30 Juli 2018

Judul Cerita : Serangga dan siput

Anak-anak sudah terbiasa dengan kedatangan peneliti, saat dikejauhan pun mereka sudah dapat mengenali peneliti dan mengajak peneliti masuk kelas untuk membaca buku cerita.

Mereka langsung memanggil teman-teman yang masih diluar untuk masuk kedalam. Seperti biasa ada murid yang fokus dan ada juga murid yang tidak fokus lagi karena waktu sudah hampir habis. Pada saat bercerita peneliti menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan topik bacaan. Sebagai contoh : apakah nama hewan ini ? dimanakah biasanya kamu melihat hewan ini ? apa makanan hewan ini ? hampir semua pertanyaan sudah dijawab oleh anak-anak. Bahkan mereka sudah berani untuk bertanya kepada peneliti dan mereka ingin sekali untuk mendengarkan cerita yang lain diesok hari.

(52)

52 Selasa

31 Juli 2018

Pada hari ini peneliti menceritakan cerita tentang dipantai.

Banyak hewan yang bisa diceritakan di pantai. Peneliti menceritakan tentang aneka ragam hewan, aneka makanan hewan-hewan di pantai. Para murid terlihat antusias dan ingin melihat semua hewan hewan yang ada di laut pada buku bacaan.

Pada saat peneliti bercerita banyak anak-anak yang merespon dengan baik. Mereka berkata bahwa mereka pernah melihat hewan-hewan itu dan mereka juga pernah pergi ke pantai.

Kamis

02 Agustus 2018

Hari ini peneliti bercerita tentang bawang merah dan bawang putih. Peneliti menceritakan kisah bawang merah dan bawang putih dengan memperagakannya. Anak-anak terlihat senang dan menyimak cerita dengan baik. Mereka banyak yang sudah pernah menonton cerita mendengar cerita ini. Sehingga

(53)

53 saat peneliti bercerita banyak anak-anak yang mengetahui kelanjutan ceritanya dan menyambung cerita dengan bahasa mereka sendiri.

Jumat

03 Agustus 2018

Hari ini peneliti tentang cerita dongeng. Peneliti membuka lembar demi lembar dan mulai bercerita sesuai dengan gambar yang telah dibuka. Saat cerita berlangsung banyak anak-anak yang ingin maju kedepan kelas. Mereka ingin membuka lembar buku bacaan sendiri dan ingin melihatnya bersama teman-teman.

Saat cerita selesai ada beberapa murid yang meminta untuk dibawakan buku-buku yang ada karena mereka ingin melihat semua gambar yang tersedia.

Sabtu

04 Agustus 2018

Sesuai dengan permintaan para murid hari ini peneliti membawa 17 buku yang bergambar untuk dibagikan kepada anak-anak. Mereka senang mendapatkan buku-buku tersebut.

(54)

54 Semua murid membuka buku cerita dan memperhatikan gambarnya. Tidak hanya itu, mereka seolah-olah bisa membaca cerita padahal mereka belum ada yang bisa membaca. Saat 5 menit telah berlalu, ada beberapa murid yang meminta dibacakan buku cerita seperti biasa. Namun ada juga murid yang senang membolak balik gambar dan mereka terlihat sangat menyukai gambar gambar tersebut.

Implementasi Kegiatan Membaca dan Menulis Kelas V Rabu

18 Juli 2018

Di pertemuan pertama, iswa-siswi senang ketika guru yang masuk berganti. Namun mereka masih bingung ketika dibagikan reading log. Setelah peneliti memberikan pengarahan dan penjelasan mereka mulai mengisinya sesuai dengan intruksi peneliti. Sebagian siswa mulai membaca dengan seksama.

Mereka memilih buku sesuai dengan selera mereka. Ada yang berebut buku karena persediaan buku yang terbatas, ada yang selesai membaca 1 buku dalam waktu kurang dari 15 menit dan

(55)

55 ada juga yang masih membaca namun tidak dapat diselesaikan karena waktunya sudah habis.

Kamis

19 Juli 2018

Siswa-siswi sangat senang saat peneliti membawa buku- buku cerita yang lebih banyak dari sebelumnya. Mereka membaca buku sesuai dengan selera mereka. Pada hari ini mereka sudah bisa menyatakan perasaan senang ataupun tidak senang terhadap buku bacaan. Sebagian murid meminta untuk dibawakan buku dongeng lebih banyak namun persediaan buku terbatas. Ada 1 siswa yang menanyakan buku koleksi korea. Ketika peneliti menanyakan alasannya dia pun mengatakan dia menyukai buku- buku korea, namun buku tersebut tidak ada diperpustakaan.

Jumat

20 Juli 2018

Pada hari ini peneliti membawakan buku-buku yang lebih bervariasi. Para siswa dapat bebas memilih. Tak jarang banyak

(56)

56 siswa yang meminta menukar buku yang diinginkan dengan teman sebangkunya. Mereka terlihat fokus dan takjub dengan buku-buku bacaan yang menyuguhkan warna dan gambar yang berwarna warni dan beragam. Mereka menikmati bacaan tersebut dan tidak sabar untuk membaca buku yanng lain di keesokan harinya.

Sabtu

21 Juli 2018

Seperti biasa peneliti membawakan buku-buku bacaan kepada mereka. Peneliti menambahkan buku novel anak dan komik bergambar. Pada hari ini mereka sudah mulai menikmati bacaan. Hal ini ditunjukkan dari suasana yang diam. Sebelum memilih buku bacaan, mereka membuka isi dalam buku dan membaca buku-buku tersebut secara sekilas. Setelah mereka merasa tertarik dengan buku tersebut, mereka pun mengambil buku tersebut. Pada hari ini, banyak siswa yang memilih bacaan buku cerita kisah-kisah nabi, novel dan komik. Pada saat waktu membaca sudah habis, mereka pun menandai bacaan dan

(57)

57 berharap mendapatkan buku yang sama di keesokan harinya.

Pada saat peneliti membereskan buku-buku bacaan, sebagian anak-anak meminta dibawakan buku-buku dongeng seperti malin kundang, timun emas, dll. Pada hari ini terdapat 11 siswa yang sudah memiliki buku bacaan untuk keesokan harinya. Hal ini terjadi karena pada hari ini mereka tidak bisa melanjutkan membaca buku karena waktu sudah habis.

Senin

23 Juli 2018

Pada saat peneliti masuk kelas, murid kelas 5 sudah diam dan duduk rapi. Mereka sudah tidak sabar untuk ditunjuk sebagai pemilih buku pertama. Mereka berlomba-lomba untuk mengambil buku terbaik menurut mereka. Ada sebagian murid yang membaca buku lanjutan kemarin. Mereka sudah mulai membaca dengan baik, sudah mulai menulis judul buku, nama pengarang dan review dengan baik.

Dikelas ini siswi perempuan lebih tertarik pada cerita dongeng dan buku-buku yang menarik perhatian mereka seperti

(58)

58 buku yang berjudul di peternakan, dipantai, rumah hewan dll.

Buku tersebut diminati karena terdapat gambar-gambar yang bsia disentuh dan dibuka sedangkan siswa laki-lakinya lebih banyak yang tertarik pada komik dan buku-buku sains.

Hari ini terdapat 2 orang siswa yang membaca buku lebih dari 1 buku dalam waktu 15 menit. Mereka membaca dengan judul buku yang berbeda. Ketika waktu sudah habis, para murid langsung memesan buku yang mereka inginkan untuk dibawakan keesokan harinya. Mereka sangat antusias dalam membaca dan menginginkan membaca buku yang berbeda setiap harinya .

Selasa

24 Juli 2018

Pada hari ini peneliti membawa buku yang lebih banyak tentang profesi. Namun hanya 2 orang yang memilih buku tersebut. Mereka lebih suka membaca buku-buku dongeng seperti malin kundang, bawang merah dan bawang putih. Akhirnya buku profesi banyak tersisa karena anak-anak banyak yang kurang menyukai buku tersebut. Suasana kelas terlihat tenang karena

(59)

59 masing-masing dari mereka ketika mendapatkan buku bacaan mereka langsung membaca dan menulis reading log yang sudah dibagikan sebelumnya.

Rabu

25 Juli 2018

Pada hari ini peneliti tidak membawa buku tentang profesi. Peneliti lebih banyak membawa buku tentang dongeng, novel, dan komik anak. Anak-anak sudah terbiasa dengan peneliti mereka merasa senang saat peneliti masuk ke kelas membawa buku cerita. Banyak siswa yang mampu membaca lebih dari 1 buku dalam waktu 15 menit. Mereka memperhatikan gambar- gambar yang ada dibuku. Mereka membaca nyaring dengan mengeluarkan suara mereka tidak hanya itu di dalam membaca mereka terlihat fokus pada buku bacaan. Terdapat beberapa siswa yang meminta waktu membaca untuk diperpanjang agar mereka bisa membaca lebih lama.

Kamis

(60)

60 26 Juli 2018

Pada saat pukul 11.00 WIB anak-anak sudah meminta peneliti masuk, mereka berkata ingin membaca buku-buku tersebut dengan durasi waktu yang lebih lama. Namun hari ini peneliti tetap masuk 15 menit dari pukul 12.15-12.30. mereka terlihat antusias dan senang ketika memilih buku bacaan. Namun ada juga yang masih berebut buku-buku dongeng yang stocknya hanya sedikit. Ada juga yang merajuk karena tidak mendapatkan buku yang diinginkan. Walaupun begitu murid yang lainnya tetap membaca buku-buku yang lain dan tak jarang beberapa siswa membaca lebih dari 1 buku dalam durasi waktu 15 menit.

Jumat

27 Juli 2018

Hari ini anak-anak terlihat lesu dan capek. Sebagian dari mereka merasa tidak ingin membaca buku. Peneliti menanyakan alasan mengapa mereka tidak ingin membaca, mereka mengatakan buku yang tersedia tidak banyak yang mereka sukai dan mereka merasa lelah untuk membaca. Ada yang membaca

(61)

61 tanpa menulis reading log. Ada juga yang melihat isi buku tanpa membacanya. Mereka hanya melihat gambar-gambar yang ada dibuku tersebut. Baru 10 menit berlalu, sebagian murid sudah meminta untuk pulang karena hari ini hari Jumat jadi anak-anak lebih cepat pulang dibandingkan hari lainnya. Hari ini anak-anak terlihat sedikit susah diatur, sebagian dari mereka ada yang tidak mau membaca jika tidak mendapatkan buku yang diinginkan.

Peneliti memberi pengertian bahwa persediaan buku tidak banyak sehingga mereka harus berbagi dengan teman-teman yang lainnya. Ada sebagian yang mengerti dan ada juga yang mengambil buku lain karena terpaksa.

Sabtu

28 Juli 2018

Hari ini banyak anak-anak yang tidak ingin membaca buku ketika peneliti menanyakan alasan mereka berkata ingin pulang karena sudah lelah dan capek. Namun ketika peneliti meminta untuk membaca mereka masih ada yang mau menurutinya namun tidak fokus seperti sebelumnya. Selain waktu

(62)

62 pulang yang lebih cepat anak-anak juga sudah mulai bosan dengan buku yang disediakan peneliti. Tak jarang beberapa murid ada yang datang ke perpustakaan untuk mencari buku bacaan yang diinginkan. Ada juga yang meminta peneliti untuk masuk lebih awal dan lebih lama supaya mereka dapat puas membaca.

Mereka banyak yang meminta buku yang sama, tidak hanya itu banyak juga murid yang memiliki ketertarikan pada buku yang sama. Hal ini membuat peneliti harus menukar buku bacaan dengan teman yang lainnya dan membawa buku-buku yang lain sesuai dengan permintaan mereka.

Senin

30 Juli 2018

Hari ini anak-anak membaca buku bacaan yang telah disediakan. Mereka memilih membaca buku-buku sains seperti panas, cahaya matahari, angin puting beliung dan badai. Peneliti membawa buku-buku yang berwarna. Ada juga sebagian murid laki-laki yang membaca tentang kisah nabi, kisah di dalam Al- Quran dan juga kisah sahabat-sahabat nabi.

(63)

63 Selasa

31 Juli 2018

Hari ini peneliti masuk lebih awal yaitu 10.15-10.30. pada waktu ini anak-anak baru saja selesai istirahat. Saat peneliti masuk mereka kembali antusias dan memilih buku bacaan yang dibawakan. Peneliti mencampur buku bacaan dongeng, sains, kisah nabi dan buku buku novel anak lainnya. Semua buku diambil oleh mereka namun buku novel anak malah tidak tersentuh. Saat ditanyakan alasan mereka mengatakan bahwa mereka tidak menyukainya karena buku tersebut terlihat membosankan berisi banyak tulisan dan sedikit gambar yang tersedia.

Kamis

02 Agustus 2018

Seperti biasa peneliti membawakan buku-buku cerita yang tersedia. Ada murid yang tetap membaca dan ada juga murid yang hanya melihat gambar terssebut tanpa membaca isinya.

Mereka juga mulai malas menulis reading log. Mereka ingin

(64)

64 membaca saja tanpa menulis lagi. Peneliti merasa terbatas pada persediaan buku sehingga banyak anak-anak yang ingin mencari buku bacaan sendiri di pustaka dan peneliti mengizinkannya setelah mendapatkan buku bacaan sesuai pilihan mereka pun mulai membacanya.

Jumat

03 Agustus 2018

Hari ini anak-anak membaca dengan suasana berbeda.

Peneliti mengajak mereka membaca diruang pustaka. Mereka senang membaca dengan suasana baru. Beberapa siswi langsung mengambil buku bacaan sedangkan beberapa siswa bermain main di pustaka tanpa membaca buku bacaan. Hampir sebagian anak- anak tidak mau mengisi reading log akibatnya reading log banyak sekali yang tidak terisi.

Sabtu

04 Agustus 2018

(65)

65 Hari ini suasana membaca kembali lagi dikelas dan di jam yang sama yaitu 11.45-12.00. Anak-anak membaca buku dengan judul yang berbeda. Mereka terlihat fokus pada bacaan. Namun ada juga yang menghabiskan waktu hanya untuk memilih-milih buku tanpa membaca. Ada juga yang sibuk bermain dengan teman sebangkunya dan ada juga yang hanya membolak-balikan buku karena hanya ingin melihat gambarnya saja. Hari ini juga banyak buku yang tersisa, banyak siswa yang tidak mau membaca dan pada akhirnya reading log juga banyak yang tidak terisi.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, inilah gambaran penerapan gerakan literasi sekolah dasar yang ada.

No Kegiatan Standar Mendikbud RI

Implementasi

1. Apa kecakapan literasi yang ditumbuhkan pada tahap pembiasaan?

Pada tahap ini, siswa hanya mendengarkan apa yang dibacakan oleh guru.

(66)

66 Tujuan dari menyimak ini

adalah untuk

menumbuhkan rasa empati dan fokus pada isi bacaan karena mereka belum bisa membaca.

Saat membacakan buku, guru juga akan bertanya kepada siswa siapa tokoh yang sedang dibacakan atau mengapa si tokoh

begini? Jadi

menggunakan 5 w + 1 H.

sedangkan jenis buku yang dipilih adalah buku- buku yang tidak banyak teks atau hanya terdiri dari dua atau tiga baris kalimat sederhana.

(67)

67 2. Apa focus dan prinsip

kegiatan di tahap pembiasaan?

Untuk kegiatan membaca sendiri adalah siswa dan menumbuhkan rasa empati. Dan ini akan membutuhkan proses panjang.

3. Apa prinsip-prinsip kegiatan

membaca di tahap

pembiasaan?

Targetnya adalah buku yang dibaca adalah bukan buku pelajaran tapi buku- buku yang diminati oleh siswa. Namun jumlah buku-buku yang diminati sangat sedikit. Jadi siswa mogok untuk membaca buku yang lain.

5. Membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai

a. Membacakan nyaring b. Membaca dalam hati

Kegiatan membaca tidak dimulai 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Akan tetapi dilaksanakan

(68)

68 diantara jeda waktu belajar selama 15 menit.

Untuk kelas bawah yaitu kelas satu kegiatan ini dibacakan oleh peneliti.

Kemudian untuk kelas atas yaitu kelas lima maka para siswa membaca buku dalam hati.

6. Menata sarana dan lingkungan kaya literasi

a. Perpustakaan MI b. Sudut baca kelas c. Area Baca

d. UKS, kantin dan kebun-kebun sekolah

Buku-buku yang ada diambil dari perpustakaan dan dibawa ke ruang kelas yang ada. Kemudian setelah kegiatan membaca selesai buku ini dikembalikan kembali ke perpustakaan sekolah.

Para siswa membaca bukunya di meja masing-

(69)

69 masing. Perpustakaan sekolah penuh dengan tumpukan buku yang ada dan belum tertata dengan rapid an juga masih bergabung dengan UKS.

Sedangkan kanting berada di pojok halaman sekolah dan sekolah ini belum memiliki kebun-kebun sekolah karena minimnya perkarangan sekolah.

7. Menciptakan lingkungan kaya teks

Ada gambar-gambar yang ditempel di ruang kelas tapi masih kurang representasi dengan kegiatan literasi sekolah.

8. Memilih buku bacaan di MI Buku-buku yang ada belum dapat dipilih hanya

(70)

70 beberapa buku yang dapat dipilih meskipun ada sejumlah buku yang bagus dan bermutu namun karena anak-anak tidak terbiasa dengan kegiatan membaca maka buku tersebut terasa agak berat bagi mereka.

9. Pelibatan Publik Sehubungan dengan tidak adanya gerakan literasi sekolah selama ini atau masih asingnya kegiatan literasi ini, mak tidak ada pelibatan publik.

Pada tahap pembiasaan proses literasi yang diharapkan adalah untuk menumbuhkan kebiasaan berinteraksi dengan buku yang ada. Buku-buku yang ada diperpustakaan sekolah

(71)

71 sebelumnya tidak akrab dengan murid-murid yang ada di madrasah tersebut mengingat selama ini tidak ada kegiatan literasi yang ada di sekolah tersebut dan gedung perpustakaan yang ada tidak berfungsi sebagaimana mestinya yang mengakibatkan murid-murid tersebut tidak memiliki akses untuk membaca buku di perpustakaan tersebut.

No Indikator Belum Sudah

1 Ada kegiatan 15 menit membaca:

a. Membacakan nyaring b. Membaca dalam hati

Sudah

2 Kegiatan 15 menit membaca

dilakukan setiap hari (di awal,

tengah, atau menjelang akhir

pelajaran).

Sudah

3 Buku yang dibacakan kepada

atau dibaca oleh peserta didik dicatat judul dan nama

pengarangnya dalam catatan

harian.

Kadang- kadang

4 Guru, kepala sekolah,dan

tenaga kependidikan

Belum

(72)

72 lain

terlibat dalam kegiatan 15 menit

dengan membacakan buku atau

ikut membaca dalam hati.

5 Ada perpustakaan sekolah

atau ruangan khusus untuk

menyimpan buku non- pelajaran.

Masih bergabung

dengan ruangan UKS

6 Ada Sudut Baca Kelas di tiap

kelas dengan koleksi buku nonpelajaran.

Belum

7 Ada poster-poster kampanye

membaca di kelas, koridor, dan

area lain di sekolah.

Belum

8 Ada bahan kaya teks di tiap

Kelas

Belum

9 Kebun sekolah, kantin, dan

UKS menjadi lingkungan yang kaya literasi. Terdapat posterposter

tentang pembiasaan hidup sehat, kebersihan, dan

keindahan di kebun sekolah,

Belum

(73)

73 kantin, dan UKS.

Makanan di

kantin sekolah diolah dengan

bersih dan sehat.

10 Sekolah berupaya untuk melibatkan publik (orang tua,

alumni, dan elemen masyarakat

lain) untuk mengembangkan kegiatan literasi sekolah.

Belum

Karena itu penelitian ini fokus pada proses pembiasaan yang dilakukan dengan kegiatan membaca buku selama 15 menit dan membiasakan kepada mereka untuk memilih buku sesuai dengan usianya. Buku-buku yang dipilih tersebut bagi yang kelas satu diibacakan selamat 15 menit mengingat siswa-siswa tersebut mayoritas belum bisa membaca buku dengan membacakan buku secara nyaring atau read aloud. Pada saat proses pembiasaan ini diterapkan dengan membacakan buku yang ada bagi kelas rendah, target pembacaan buku adalah untuk membiasakan siswa memahami siapa tokoh dalam buku cerita yang ada. Selain itu juga memunculkan pertanyaan kepada siswa agar siswa mampu

Referensi

Dokumen terkait

Guna meningkatkan literasi keuangan di kalangan mahasiswa Otoritas Jasa Keuangan telah melakukan langkah-langkah a) menyelenggarakan pelatihan dalam bisnis keuangan

(2000) ada tiga hasil penelitian breeding domba yang siap dipakai peternak. Hasil-hasil penelitian itu adalah: 1) bibit domba prolifik untuk meningkatkan produksi domba, 2)

Dalam mengukur parameter clarity, saya dibantu oleh beberapa teman sebagai penerima suara yang mendengarkan di posisi tengah dan sisi sisi aula barat ( posisi pendengar dan penonton

Dengan melihat penjelasan solusi di atas maka perlu jenis luaran yang dihasilkan yakni mitra atau sekolah Pekanbaru Lab School memberikan kepada guru untuk mengikuti

Waduk Cikoncang terletak di dataran rendah sehingga kemungkinan terjadinya up welling (umbalan) sangat kecil. Pemanfaatan lahan waduk masih di bawah batas maksimum yang

yang positif dan signifikan dari sistem pengendalian intern terhadap penerimaan kas Pemerintah Provinsi Jawa

Selain itu persepsi pendengar ini juga menjadi bahan pertimbangan dan masukkan bagi radio Swaragama FM sebagai media massa yang memiliki fungsi sosial dengan

Lebih lanjut, Isnaini dan Suranto (2010:21) mengemukakan, lari sambung disebut juga dengan lari estafet. Pelaksanaan dalam lari sambung dilakukan oleh empat pelari dalam satu