Selektor Otomatis pada Proses Switching CB100 Navigasi Offline Bolak–Balik Berdasarkan Barcode Assy
Amri Nur Yahya1, Sidik Nurcahyo2, Siswoko3
[Submission: 30-04-2021, Accepted: 27-05-2021]
Abstract—
Automation is a process that auto-matically controls operation and equipment of a system with mechanical or electronic equipment. Switching process can be used to regulate / connect communication lines. Manual switching process by changing switch position during type change has weaknesses, such as the operator forgetting to change switch position and high downtime due to human error. With this automatic selector system can facilitate production process, reduce downtime and increase level of time efficiency. In the test, Trial and Error method is used with the results that ideal distance between the barcode and barcode scanner in the scanning process is 15 cm. And success rate or accuracy of barcode scanners in reading barcodes reaches 100%.Keywords —Automatic Selector, Arduino Mega2560, Serial Communication, Barcode Scanner.
Intisari— Otomasi adalah proses yang secara otomatis mengontrol operasi dan perlengkapan sistem dengan perlengkapan mekanik atau elektronika. Proses switching dapat dipakai untuk mengatur atau menghu-bungkan jalur komunikasi. Proses switching secara manual dengan mengganti posisi switch saat pergantian tipe memiliki kelemahan diantaranya operator lupa mengganti posisi switch dan tingkat downtime yang tinggi akibat human error. Dengan sistem selektor otomatis ini dapat memudahkan proses produksi, mengurangi down-time dan meningkatkan tingkat efisiensi waktu. Dalam Pengujiannya, digunakan metode Trial and Error dengan hasil jarak yang paling ideal antara barcode dan barcode scanner pada proses scanning adalah 15 cm. Dan tingkat keberhasilan atau akurasi barcode scanner dalam membaca barcode mencapai 100%.
Kata Kunci—Selektor Otomatis, Switching, Arduino Mega2560, Komunikasi Serial, Barcode Scanner.
I. PENDAHULUAN
Kemajuan teknologi adalah cara untuk mendapatkan sesuatu dengan kualitas yang lebih baik. Kualitas yang lebih baik ini maksudnya adalah memiliki kualitas yang baik, namun lebih murah, lebih cepat, dan aman. Salah satunya teknologi yang selalu berkembang pesat pada kehidupan manusia, khususnya pada bidang elektronika. Dengan mengubah proses switching manual ke arah sistem auotomasi yang menyediakan fasilitas dan kontrol yang lebih efektif dan efisien[1].
Otomasi adalah proses yang secara otomatis mengontrol operasi dan perlengkapan sistem dengan perlengkapan mekanik atau elektronika yang dapat mengganti manusia dalam mengamati dan mengambil keputusan. Otomasi
memiliki tujuan memberikan kemudahan, meningkatkan efektifitas kerja sistem dan meningkatkan jaminan keselamatan kepada para operator[2].
Permasalahan pada alat selektor manual pada proses switching CB100 ini adalah operator lupa mengganti posisi switch sebelum men-scan barcode saat pergantian tipe sehingga mengakibatkan tingginya tingkat downtime pada saat proses produksi. Dan tidak ada fasilitas penyimpanan data barcode. Dari permasalahan diatas maka dibutuhkan alat selektor yang lebih efektif dan efisien.
Tujuan dari penelitian ini adalah dapat merancang serta mengontrol selektor secara otomatis berdasarkan tipe barcode assy yang di scan oleh barcode scanner. Dengan sistem selektor otomatis ini dapat memudahkan proses produksi, mengurangi downtime dan meningkatkan tingkat efisiensi waktu.
II. KAJIAN PUSTAKA
2.1 Barcode
Barcode atau kode batang adalah suatu kumpulan data optik yang dibaca mesin. Kode batang ini mengumpulkan data dalam lebar (garis) dan jarak garis paralel dan dapat disebut sebagai kode batang satu dimensi.Umumnya, barcode menyimpan data dalam bentuk garis cetak paralel yang tebal dan terpisah. Namun terdapat juga dalam bentuk pola titik, lingkaran konsentris dan sandi yang disembunyikan di dalam gambar tersebut.
Barcode terdiri dari garis hitam dan putih memiliki nilai seperti, garis hitam mempresentasikan angka 1 dan garis putih memiliki nilai 0. Ruang putih diantara garis garis hitam ini juga merupakan bagian dari kode. Pada barcode juga terdapat perbedaan ketebalan ukuran pada garis. Garis paling tipis :1 Garis”, yang sedang “2 garis”, yang lebih tebal “3 garis” dan yang paling tebal “4 garis”[3].
2.2 Barcode Scanner
Barcode scanner adalah alat yang digunakan untuk membaca kode barcode. Ketebalan garis barcode Masing- masing garis batang pada barcode memiliki ketebalan yang berbeda. Ketebalan inilah yang akan diterjemahkan pada suatu nilai. Barcode scanner bekerja mulai dengan menerangi kode dengan Red Light[4]. Sensor dari barcode scanner mendeteksi cahaya yang dipantulkan dari sistem pencahayaan dan menghasilkan sinyal analog.
Gambar 1 : Barcode Scanner[4]
2.3 USB Host Shield
USB Host Shield memungkinkan mengkomunikasikan perangkat USB to arduino. Arduino Host Shield ini berbasis IC kontroler USB MAX3421E, yang merupakan pengendali USB perifer/host yang mengandung logika digital dan sirkuit analog yang diperlukan untuk menerapkan full speed USB perifer atau full-/low speed host sesuai spesifikasi USB rev 2.0.
Arduino melakukan komunikasi dengan MAX-3421E menggunakan SPI (Serial Peripheral Interface) bus (melalui header ICSP). USB Host Shield ini mendapatkan power supply dari arduino, itulah sebabnya tidak ada jack power tersedia[5].
Gambar 2 : USB Host Shield[6]
2.4 Push Button
Push button sering digunakan sebagai input pada beberapa peralatan yang berbasis mikroprosesor atau mikrokontroler. Push button adalah perangkat / saklar sederhana yang berfungsi untuk menghubungkan atau memutuskan aliran arus listrik dengan sistem kerja tekan unlock (tidak mengunci). Pada penelitian ini Push button digunakan sebagai pengaturan mode RUN, menambah/menghapus data[7].
2.5 Arduino Mega2560
Arduino mempunyai sejumlah fasilitas untuk komunikasi dengan sebuah komputer. Software Arduino mencakup sebuah serial monitor yang memungkinkan data tekstual terkirim ke dan dari board Arduino. Setiap 54 pin digital pada Arduino Mega2560 dapat digunakan sebagai input dan output, menggunakan fungsi pinMode(), digitalWrite(), dan digitalRead(). Fungsi-fungsi tersebut beroperasi di tegangan 5 Volt. Setiap pin dapat memberikan atau menerima dengan arus maksimum 20 mA dan mempunyai sebuah resistor pull-
up (terputus secara default) 20-50 kOhm.Selain itu, beberapa pin mempunyai fungsi-fungsi spesial, yaitu sebagai berikut:
1. Serial, terdapat 4 serial yang terdiri dari 2 pin. Serial 0 : pin 0 (RX) dan pin 1 (TX). Serial 1 : pin 19 (RX) dan pin 18 (TX). Serial 2 : pin 17 (RX) dan pin 16 (TX). Serial 3 : pin 15 (RX) dan pin 14 (TX). RX pakai sebagai penerima dan TX untuk transmit data serial TTL. Pin 0 dan pin 1 merupakan pin yang terhubung oleh chip USB- to-Serial TTL ATmega16U2.
2. External Interrups, adalah pin 2 (interrupt 0), pin 3 (interrupt 1), pin 18 (interrupt 5), pin 19 (interrupt 4), pin 20 (interrupt 3), dan pin 21 (interrupt 2). Dengan total memiliki 6 buah interrup. Agar interrupt terpicu pada nilai rendah, tinggi atau perubahan nilai maka pin ini harus dikonfigurasikan terlebih dahulu.
3. PWM: Pin 2 sampai 13 dan pin 44 sampai 46, yang menyediakan output PWM sebesar 8-bit dengan menggunakan analogWrite.
4. SPI : Pin 50 (MISO), pin 51 (MOSI), pin 52 (SCK), dan pin 53 (SS) untuk mendukung komunikasi SPI dengan menggunakan SPI Library.
5. LED: 13. Ada sebuah LED yang terpasang, terhubung ke pin digital 13.Ketika pin bernilai HIGH LED menyala, ketika pin bernilai LOW LED mati.
Arduino Mega 2560 mempunyai 16 pin analog input, masing-masing pin analog input menyediakan resolusi 10 bit (memiliki 1024 nilai yang berbeda). Secara default pin-pin ini diukur dari Ground sampai dengan 5 Volt, namun dapat mengubah titik jangkau menggunakan pin AREF dan fungsi Analog Reference.
Ada beberapa pin lain yang masih tersedia di board ini, yaitu :
1. AREF. Referensi tegangan untuk input analog.
Digunakan dengan analog Reference().
2. Reset. Membawa saluran ini LOW untuk me-reset mikrokontroler. Secara khusus, digunakan untuk menambahkan sebuah tombol reset untuk melindungi yang mem-block sesuatu pada board[8].
TABEL I
SPESIFIKASI ARDUINO MEGA2560 [9]
Mikrokontroler ATmega2560 Tegangan
pengoperasian 5V
Tegangan input 7-12V Batas tegangan input 6-20V
Jumlah pin I/O digital 54 (6 di antaranya menyediakan keluaran PWM)
Jumlah pin input analog 16
Arus DC tiap pin I/O 20 mA Arus DC untuk pin 3.3V 50 mA
Memori Flash 256 KB, sekitar 8 KB digunakan oleh bootloader
SRAM 8 KB
EEPROM 4 KB
Clock Speed 16 MHz
2.6 Relay
Relay merupakan komponen elektronika berupa saklar atau switch yang dioperasikan menggunakan listrik. Relay juga biasa disebut sebagai komponen elektromekanikal yang terdiri dari dua bagian utama yaitu coil atau elektromagnet dan saklar atau mekanikal. Komponen relay menggunakan prinsip elektromagnetik sebagai penggerak kontak saklar, sehingga dengan menggunakan arus listrik yang kecil atau low power, dapat menghantarkan arus listrik yang yang memiliki tegangan lebih tinggi[10].
Gambar 3 : Gambar dan Simbol Relay [10]
2.7 LCD
Liquid Crystal Display (LCD) adalah suatu jenis media tampil yang menggunakan kristal cair sebagai penampil utama.
LCD 16x2 berarti suatu LCD yang memiliki 2 baris dan mampu menampilkan 16 karakter perbaris[11]. Pada penelitian ini, LCD digunakan untuk menampilkan informasi dari sistem yang berupa data barcode beserta tipenya.
III. METODOLOGI PENELITIAN Dalam pembuatan alat selektor otomatis pada proses switching CB100 perlu adanya perancangan urutan konsep penyelesaian masalah sebagai berikut:
Gambar 4 : Flowchart Konsep Penyelesaian Masalah [10]
Proses awal yang perlu dilakukan adalah me-lakukan studi literatur dengan cara mempelajari teori-teori penunjang agar dapat mendukung pembuatan desain, penggunaan komponen serta sistem dari alat yang akan dibuat. Studi literatur yang akan dilakukan adalah dengan mencari referensi melalui skripsi, jumal maupun textbook yang berhubungan dengan otomasi switching dengan menggunakan Arduino Mega2560, komunikasi data serial, penyimpanan data dan literatur pendukung lainnya. Dari pelaksanaan studi literatur didapatkan sistem kerja dan blok diagram alat sebagai berikut : 3.1 Diagram Blok Sistem
Gambar 5: Diagram Blok Sistem
Prinsip Kerja sistem berdasarkan blok diagram adalah voltage regulator berfungsi menurunkan tegangan dari 12VDC menjadi 5VDC yang digunakan untuk men-supply arduino dan barcode scanner. Barcode scanner berfungsi membaca barcode sebagai input dari sistem. Arduino Mega sebagai kontroler dimana keseluruhan sistem diproses disini, termasuk komunikasi data secara serial port tx rx dengan alat CB100. Relay sebagai output, dimana relay berfungsi untuk
mengatur jalur switching. Sedangakan LCD untuk menampilkan informasi dari alat.
3.2 Perancangan Mekanik
Gambar mekanik keseluruhan dapat dilihat pada gambar 6.
Gambar 6 : Mekanik Alat Secara keseluruhan
3.3 Perancangan Voltage Regulator
Tegangan masukan merupakan bagian terpenting dari sistem, kerena tanpa catu daya maka seluruh rangkaian tidak akan dapat berjalan dengan semestinya. Kebutuhan daya yang dibutuhkan dari keseluruhan rangkaian termasuk sensor adalah 5V dan 12V. Dimana 5V untuk tegangan input dari arduino dan barcode scanner.
Sedangkan 12V untuk mengaktifkan relay. Karena tegangan yang akan dihasilkan dari adaptor adalah sebesar +12VDC. Prinsip kerja dari voltage regulator ini adalah membuat tegangan +12VDC yang kemudian tegangan tersebut masuk ke regulator LM7805 akhirnya diperoleh tegangan output sebesar 5VDC. Rangkaian voltage regulator dapat dilihat pada gambar 7.
Gambar 7 : Rangkaian Voltage Regulator[12
3.4 Perancangan Driver Relay
Rangkaian Relay driver, dalam hal ini adalah rangkaian yang berhubungan dengan output atau keluaran yang merupakan hasil dari pengolahan data yang telah dilakukan di arduino, dan ini juga berdasarkan input barcode yang di-scan.
Perancangan relay driver ini menggunakan relay 12VDC, rangkaian driver relay ini dibangun menggunakan konsep
transistor sebagai saklar. Berikut adalah rangkaian dari driver relay dapat dilihat pada gambar 8.
Gambar 8 : Rangkaian Driver Relay[13]
……….………...………..…(1)
……….………...………(2)
Vinput – Ib.Rb – Vbe = 0 Vinput – Ic/ hFE. Rb – Vbe = 0
Rb ………...…………(3)
Perhitungan untuk menentukan Rbasis
Menggunakan Persamaan 3
Transistor BD139 mempunyai β = 100 sehingga arus basis dapat dihitung untuk mendapatkan suatu kondisi transistor dalam keadaan saturasi. R(relay)= 100 Ω. Dan VBB= 5 V; tegangan basis (VBE) = 0,7 V karena standar transistor dengan bahan silicon. Selanjutnya Ic dapat dicari dengan persamaan 1
= = 120 mA
Berikutnya mencari nilai IB(sat)dengan persamaan 2
= = 1,2 mA
Jadi, transistor akan saturasi jika arus pada basis sebesar 1,2 mA atau lebih. Dan selanjutnya mencari nilai Rb dengan persamaan 3
RB
Nilai ini merupakan nilai resistansi maksimal untuk syarat agar transistor kondisi saturasi, jadi nilai resistansi boleh kurang dari 3.5k Ω
Dimana :
IC : Arus yang mengalir pada kolektor (mA) IB : Arus yang mengalir pada basis (mA) β : Nilai penguatan pada transistor RB : Resistansi resistor pada basis (Ω)
VBB : Tegangan saat logika high pada arduino (V) VBE : Tegangan jatuh antara basis-emiter (V) R(relay): Resistansi pada relay (Ω)
3.5 Perancangan Software
Pada perancangan software yaitu membuat urutan algoritma pemrograman alat seperti berikuat :
Gambar 9 : Flowchart Program Arduino Mega Prinsip Kerja
Prinsip Kerja alat selektor otomatis diawali dengan menginput data barcode sesuai tipe, Type-A atau Type-B ke database. Kemudian masuk ke fitur running, ketika barcode discan, sistem akan mengidentifikasi atau mencocokkan dengan data yang sudah tersimpan di database. Jika tidak sesuai dengan data database maka display akan menampilkan
“No File” dan selektor tidak di posisi A atau B. Jika barcode yang discan sesuai dengan data yang berada di database maka akan berlanjut ke step berikutnya yaitu selektor otomatis akan berpindah ke posisi A atau B sesuai data barcode tersebut termasuk kedalam Type-A atau Type-B. LCD menampilkan data barcode beserta Type-nya.
3.6 Perancangan PCB
Pembuatan layout PCB digunakan untuk menunjang komponen input, output, dan kontroler agar dapat terintegrasi dalam kumpulan yang praktis. Desain layout PCB selektor otomatis pada proses switching CB100 dapat dilihat pada gambar 10.
Gambar 10 : Tampilan Layout PCB
IV. ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengujian Akurasi Barcode Scanner
Pengujian akurasi dilakukan terhadap barcode scanner untuk mengetahui kualitas dari barcode scanner yang digunakan. Pada pengujian ini digunakan 20 sampel kode barcode yang berbeda, dengan ukuran barcode yang sama dan jarak antara barcode dengan barcode scanner yang sama yaitu 15cm.
TABEL II
PENGUJIAN AKURASI BARCODE SCANNER No Kode Asli Tertampil LCD Keterangan
1 82111-3FF90 82111-3FF90 Benar
2 82111-3FJ11 82111-3FJ11 Benar 3 82111-3AG60 82111-3AG60 Benar 4 82111-3FG10 82111-3FG10 Benar 5 82111-3FG31 82111-3FG31 Benar 6 82111-3FG81 82111-3FG81 Benar 7 82111-3FJ01 82111-3FJ01 Benar 8 82111-3FG61 82111-3FG61 Benar 9 82111-3FJ71 82111-3FJ71 Benar 10 82111-3FG20 82111-3FG20 Benar 11 82111-3AC56 82111-3AC56 Benar 12 82111-3EL94 82111-3EL94 Benar 13 82111-3PS27 82111-3PS27 Benar 14 82111-3JL36 82111-3JL36 Benar 15 82111-3RB40 82111-3RB40 Benar 16 82111-3SA21 82111-3SA21 Benar 17 82111-3BN75 82111-3BN75 Benar 18 82111-3PL43 82111-3PL43 Benar 19 82111-3BR59 82111-3BR59 Benar 20 82111-3AD17 82111-3AD17 Benar
Akurasi =
Akurasi = Akurasi = 100%
Hasil dari 20 kali percobaan dengan barcode yang berbeda, barcode scanner dapat bekerja sesuai dengan tujuan dan fungsinya yaitu mampu mendeteksi barcode secara benar antara hasil di LCD dengan kode asli dengan akurasi mencapai 100%.
4.2 Pengujian Jarak Ideal untuk Proses Scanning
Dalam membaca barcode perlu mengetahui berapa jarak ideal antara barcode scanner dengan barcode agar barcode scanner dapat men-scan barcode dengan baik. Pengambilan data dilakukan dengan cara barcode diletakkan dengan jarak tertentu dari bacode scanner seperti 10cm, 15cm, 20cm, 25cm.
TABEL III
JARAK IDEAL PROSES SCANNING No Jarak (cm) Waktu (detik) Barcode Terbaca
Dengan Benar
1 10 10 9
2 10 20 13
3 10 30 24
4 15 10 10
5 15 20 20
6 15 30 30
7 20 10 9
8 20 20 17
9 20 30 26
10 25 10 8
11 25 20 20
12 25 30 28
Data diatas berguna untuk mengetahui berapa banyak barcode yang dapat terbaca dalam selang waktu 10 sampai 30 detik dan jarak dalam 10cm, 15cm, 20cm, dan 25cm. Setelah dilakukan pengujian dan pengambilan data serta hasil seperti tabel diatas maka jarak 15cm adalah yang paling baik karena dapat men-scan paling banyak, baik dalam waktu 10 detik, 20 detik, maupun 30 detik.
4.3 Pengujian Voltage Regulator
Pengujian dilakukan dengan cara menghubungkan power supply sebagai sumber listrik DC dengan rangkaian regulator untuk mengetahui tegangan keluaran yang dihasilkan, Pada pengujian rangkaian voltage regulator pengambilan data dilakukan dengan beberapa kali dengan sumber tegangan yang berubah-ubah untuk melihat perbandingan keluaran pada rangkaian.
TABEL IV
PENGUJIAN RANGKAIAN REGULATOR Tegangan Sumber (V) Tegangan Keluaran (V)
6 4.90
9 5.02
12 5.02
15 5.02
Hasil yang didapat menunjukkan bahwa rangkaian yang diuji telah sesuai dengan yang diharapkan, kemampuan rangkaian voltage regulator untuk mengatur keluaran tetap stabil 5 volt ditentukan oleh besarnya tegangan sumber yang
diberikan, tegangan sumber atau tegangan masukkan harus lebih besar dari tegangan keluaran yang diinginkan.
Berdasarkan datasheet, tegangan masukkan minimal harus lebih besar 2 volt untuk mendapatkan tegangan keluaran tetap stabil 5 volt.
4.4 Pengujian Driver Relay
Pengujian driver relay dilakukan untuk mengetahui kinerja dari relay tersebut apakah sesuai fungsinya yaitu sebagai pengatur jalur switching dengan kontrol dari pin out arduino. Pada alat ini akan menggunakan jenis relay DPDT 8 kaki dengan coil 12 VDC. Transistor sebagai saklar tidak aktif jika diberi tegangan < 0,7 volt dan akan aktif jika pada basis diberi masukan tegangan > 0,7 volt. Aktifnya transistor akan mengaktifkan relay.
TABEL V PENGUJIAN DRIVER RELAY Logic pin
Arduinoout
V pin
Arduinoout VRB VBE VCE Kondisi Relay
High 4.6 V 3.8
V 0.75
V 0 V ON
Low 0.02 0 0 12 V OFF
KetikaVin = 0 Volt, maka saat itu transistor berada pada kondisi cut off (transistor off), nilai tegangan VCE= VCC
yaitu sebesar 12 Volt. Sedangkan saat diberi Vin = 4,6 Volt dan kemudian nilai tegangan basis (VBE) = 0,75 Volt maka transistor berada pada kondisi saturasi, transistor tersebut seperti sebuah switch yang tertutup.
Kumparan pada relay akan menghasilkan tegangan singkat yang besar ketika relay dinonaktifkan dan ini dapat merusak transistor yang ada pada rangkaian ini. Untuk mencegah kerusakan pada transistor tersebut, sebuah dioda dihubungkan ke relay tersebut. Pemasangan dioda pada rangkaian driver relay ini bertujuan untuk mencegah arus transient atau arus balik yang dihasilkan oleh kumparan relay.
V. PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Dari hasil perancangan dan pengujian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan, yaitu:
1. Dengan alat ini, dapat secara otomatis mengatur proses switching CB100 yang dapat mengurangi downtime dan kesalahan akibat human error.
2. Jarak yang paling ideal antara barcode dan barcode scanner pada proses scanning adalah 15 cm.
3. Tingkat keberhasilan atau akurasi barcode scanner dalam
membaca barcode mencapai 100%. Sistem dapat menyeleksi berdasarkan tipe barcode dan berhasil melakukan komunikasi serial dengan alat CB100.
5.2 Saran
Rancangan yang dibuat ini masih perlu adanya perbaikan agar bekerja secara optimal. Ada beberapa hal yang direkomendasikan untuk pengembangan lebih lanjut diantaranya:
1. Pengaturan jarak antara barcode scanner dan barcode sangatlah penting, dalam menentukan kecepatan barcode scanner untuk membaca data.
2. Jika dalam satu tipe terdapat lebih dari 15 data barcode, maka kapasitas penyimpan database perlu ditambahkan.
3. Merapikan instalasi rangkaian yang terdapat di dalam box.
REFERENSI
[1] Dewi, Fadila Lingga. 2017. Alat Penghitung Jumlah Barang Meng- gunakan Barcode ITF-14. Tugas Akhir Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
[2] Atmojo, B. T., Sulistyanti, S. R., & Nasrullah, E. (2013). Model Sistem Kendali Pintu Otomatis Menggunakan Barcode Berbasis PC.
ELECTRICIAN – Jurnal Rekayasa dan Teknologi Elektro Volume 7, No. 2,, 48-55.
[3] Trisnasari, Dwi Indah. 2019. Pengembangan Barcode Reader Untuk Mendukung Komunikasi Tanpa Kabel (Wifi) Dengan Menggunakan Arduino Dan Modul Wifi ESP8266. Skripsi Universitas Sumatera Utara Medan.
[4] Riswandha, M. N. (2013). Implementasi Bardoce Reader Guna Menghindari Mix UP Dengan Menggunakan Visual Basic 6.0. Jurnal Monitor. Vol. 2, No. 2, 27-36.
[5] Prabowo, Haris. 2017. Pembuatan Prototype Sistem Keamanan Pintu Gudang Penyimpanan Menggunakan Barcode Dan Sms Berbasis Mikrokontroler Arduino Uno. Skripsi Univer-sitas Negeri Yogyakarta.
[6] Datasheet USB Host Shield rev. 2.0
[7] Asbullah, Achmad. 2018. Kontrol Fuzzy Kecepatan Motor Line Follower Menggunakan Photodioda Sebagai Penentu Posisi Robot ABU ROBOCON. Skripsi Teknik Elektro Politeknik Negeri Malang.
[8] Candra, R., Bunyamin, H., & Damiri, D. D. (2014). Pengembangan Perangkat Lunak Pengolahan Data Makanan Karyawan Berbasis Barcode Scanner. Jurnal Algoritma Sekolah Tinggi Teknologi Garut, 1- [9] 9.Datasheet Arduino Mega2560
[10] Martin, Remy. 2016. Sistem Kendali Palang Pintu Otomatis Menggunakan Barcode Berbasis Mikrokontroler Atmega 328P-PU Pada Pintu Masuk Perpustakaan Unila. Skripsi Universitas Lampung.
[11] Muis, Saludin. 2013. Prinsip Kerja LCD dan Pembuatannya (Liquid Crystal Display). Yoyakarta : Graha Ilmu.
[12] Maryandika, Agusta Iswan. 2012. Sistem Proteksi Brankas Berpassword Menggunakan Magnetic Doorlock Sebagai Penggerak Doorstrike Berbasis Mikrokontroller. Tugas Akhir Universitas Negeri Semarang.
[13] Dewi, Fadila Lingga. 2017. Alat Penghitung Jumlah Barang Menggunakan Barcode ITF-14. Tugas Akhir Institut Teknologi Sepuluh Nopember.