• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT KOMISI I DPR RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT KOMISI I DPR RI"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

1

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPAT KOMISI I DPR RI Tahun Sidang : 2018-2019

Masa Persidangan : III Jenis Rapat :

Rapat Dengar Pendapat Komisi I DPR RI dengan Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Dirjen Protokol dan Konsuler Kementerian Luar Negeri RI, Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, dan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama RI.

Hari, Tanggal : Senin, 21 Januari 2019 Pukul : 10.46 WIB – 14.05 WIB Sifat Rapat : Terbuka

Tempat : Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Gedung Nusantara II Lt. 1, Jl.

Jenderal Gatot Soebroto, Jakarta 10270 Ketua Rapat : Asril Hamzah Tanjung, S.IP.

Sekretaris Rapat : Suprihartini, S.IP., M.SI., Kabag Sekretariat Komisi I DPR RI Acara : Penjelasan para Dirjen terkait dengan ketentuan baru (Biometrik)

proses pembuatan visa haji dan umroh.

Hadir : PIMPINAN:

1. Dr. H. Abdul Kharis Almasyhari (F-PKS)

2. Ir. Bambang Wuryanto, M.BA. (F-PDI Perjuangan) 3. Ir. H. Satya Widya Yudha, M.E., M.Sc. (F-PG) 4. Asril Hamzah Tanjung, S.IP. (F-Gerindra) 5. H.A. Hanafi Rais, S.IP., M.PP. (F-PAN) ANGGOTA:

FRAKSI PDI-PERJUANGAN (F-PDIP) 6. Ir. Rudianto Tjen

7. Dr. Effendi MS Simbolon, MIPol.

8. Charles Honoris

9. Dr. Evita Nursanty, M.Sc.

10. Andreas Hugo Pareira 11. Junico BP Siahaan 12. Yadi Srimulyadi

13. Drs. Ahmad Basarah, MH FRAKSI PARTAI GOLKAR (F-PG)

14. Meutya Viada Hafid

15. Bobby Adhityo Rizaldi, S.E., Ak., M.B.A., C.F.E.

16. Bambang Atmanto Wiyogo, S.E.

17. Venny Devianti, S. Sos.

18. H. Andi Rio Idris Padjalangi, S.H., M.Kn.

(2)

2

FRAKSI PARTAI GERINDRA (F-GERINDRA) 19. H. Ahmad Muzani

20. Martin Hutabarat

21. H. Biem Triani Benjamin, B.Sc., M.M.

22. Rachel Maryam Sayidina 23. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.

24. Andika Pandu Puragabaya, S.Psi, M.Si, M.Sc.

25. Elnino M. Husein Mohi, S.T., M.Si.

FRAKSI PARTAI DEMOKRAT (F-PD) 26. Teuku Riefky Harsya, B.Sc., M.T.

27. Dr. Sjarifuddin Hasan, S.E., M.M., M.B.A.

28. KRMT Roy Suryo Notodiprojo

FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL (F-PAN) 29. Zulkifli Hasan, S.E., M.M.

30. Budi Youyastri

31. H.M. Syafrudin, S.T., M.M.

FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA (F-PKB) 32. Drs. H.A. Muhamin Iskandar, M.Si.

33. Drs. H.M. Syaiful Bahri Anshori, M.P.

34. Arvin Hakim Thoha 35. Drs. H. Taufiq R. Abdullah

FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (F-PKS) 36. Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A.

37. Dr. H. Jazuli Juwaini, Lc., M.A.

38. H. Sukamta, Ph.D.

FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (F-PPP) 39. Dra. Hj. Lena Maryana

40. H. Syaifullah Tamliha, S.Pi., M.S.

FRAKSI PARTAI NASIONAL DEMOKRAT (F-NASDEM) 41. Prof. Dr. Bachtiar Aly, M.A.

42. Mayjen TNI (Purn) Supiadin Aries Saputra 43. Prananda Surya Paloh

FRAKSI PARTAI HATI NURANI RAKYAT (F-HANURA) 44. Drs. Timbul P. Manurung

Anggota yang Izin : 1. Dave Akbarshah Fikarno, M.E. (F-PG) 2. Dr. Jerry Sambuaga (F-PG)

3. H. Darizal Basir (F-PD) 4. Ir. Hari Kartana, M.M. (F-PD) 5. Ir. Alimin Abdullah (F-PAN) 6. Moh. Arwani Thomafi (F-PPP)

7. H. M. Ali Umri, S.H., M.Kn. (F-NASDEM)

Undangan : 1. Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Kementerian Luar Negeri RI, Andri Hadi.

(3)

3

2. Direktur Fasilitas Diplomatik Direktorat Jenderal dan Konsuler Kementerian Luar Negeri RI, John Tjahjanto Boestami.

3. Direktur Timur Tengah Direktorat Timur Tengah Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Sunarko.

4. Direktur Lalu Lintas Keimigrasian Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM RI, Cucu Koswala.

5. Kasubdit Perencanaan Dan Pengembangan Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM RI, Iman Syafrizal.

6. Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI, H. M. Arfi Hatim, M.Ag.

7. Kepala Pusat Bantuan Hukum Badan Koordinasi Penanaman Modal, Dr. Riyatno, S.H., LL.M.

8. PLT. Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal, Ir. Yuliot, M.M.

9. Direktur Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal, Rita, S.Kom.

Beserta Jajaran.

(4)

4 Jalannya Rapat:

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Shalom, Om Swastiastu, Namo Budaya

Bapak/Ibu sekalian mitra kami yang terhormat bersama seluruh Anggota Komisi I yang hadir.

Ini sudah 7 (tujuh) fraksi, jadi sudah lengkap lah, sambil menunggu teman-teman sedang proses OTW kesini. Selamat datang ya kami ucapkan kepada Bapak-bapak sekalian.

Tapi biasanya RDP ini kita tanya kepada mitra, kita laksanakan terbuka atau tertutup.

Kalau tidak hebat sekali/tidak strategis sekali ya terbuka saja. Silakan, bagaimana Pak Protokol Kemlu ini, bagaimana. Oke, kalau begitu terbuka ya.

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Dengan demikian Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi I DPR RI dengan pihak Kemlu, Kemenag, Kemenkumham, dan BKPM, Senin 21 Januari 2019 kita buka dan dinyatakan terbuka.

KETOK PALU : 1 KALI (Rapat di buka pukul: 10.46 WIB) Bapak/Ibu sekalian yang terhormat,

Pak Andri Hadi, teman kita dari unsur Kemlu RI. Termasuk ada dengan jajarannya, ada Direktur Timur Tengah (Pak Narko), ada Pak Didi Eko Pujianto (Konsuler). Dari Kemenag dari Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh yang diwakili oleh Pak Arfi Hatim. Dari Kemenkumham diwakili oleh Direktur Lalu Lintas Keimigrasian, Bapak Cucu Koswala. Salam sama Pak Roni ya.

BKPM diwakili oleh Plt. Deputi Pengembangan Iklim Penanaman Modal, Bapak Ir. Yuliot. Ada Kepala Pusat Bantuan Hukum, Bapak Riyatno. Ada juga Direktur Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal, Ibu Rita, S.Kom beserta jajarannya.

Pada hari ini ada perkembangan baru di negeri sahabat kita, Arab Saudi, bahwa semua visa sekarang harus pakai biometrik kalau tidak salah. Dengan demikian padahal muslim terbesar di dunia itu Indonesia dan belum banyak yang punya visa biometrik. Terutama orang-orang lama.

Ini akan timbul masalah nanti. Kalau visa-visa sudah banyak. Oleh karena itulah pada hari ini kita mencari solusi. Kita dengarkan dulu pendapat dari Kemlu, dari Kementerian, dari Kemenkumham, dan BKPM. BKPM ini mungkin yang menangani pihak swasta yang ikut mengerjakan visa ini.

Sekarang kan visa itu tidak harus ke kedubes yang bersangkutan. Kadang-kadang diserahkan ke swasta. Kadang-kadang di hotel ngambilnya. Saya kaget juga dulu ke hotel ngapain.

Rupanya ada semacam badan-badan jasa yang mengurus seperti itu.

Oke, dengan demikian Bapak silakan, kita berurut-urut saja. Dari Kemlu dulu, nanti dari Kementerian Agama, nanti dari Kemkumham, baru BKPM kalau memang masih ada yang kita anggap perlu. Dan setelah itu kita minta waktu sedikit pendalaman. Mungkin ada saran atau pertanyaan dari para Anggota Komisi I.

Oke, dengan demikian silakan dimulai dari Pak Andri Hadi dari Kemlu.

(5)

5

DIREKTUR JENDERAL PROTOKOL DAN KONSULER KEMENTERIAN LUAR NEGERI RI (ANDRI HADI):

Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Bapak Pimpinan Rapat, teman-teman dari berbagai fraksi di Komisi I, dan Teman-teman dari Imigrasi, Kemlu, Departemen Agama.

Mungkin kami secara kronologis akan menjelaskan bagaimana permasalahan ini timbul.

Jadi Kedutaan Besar Arab Saudi melalui nota diplomatik tertanggal 5 Desember 201, itu bahkan nota diplomatiknya itu di bawa langsung oleh Dubes Saudi ke kantor kami menginformasikan bahwa Kemlu Arab Saudi telah menjalin kontrak dengan satu perusahaan outsourcing yang di sebut dengan visa facilitation service tasheel yang akan melakukan perekaman data biometrik terhadap permohonan visa kunjungan ke Arab Saudi, termasuk untuk haji dan umroh. Kecuali para pemegang paspor diplomatik dan dinas.

Alasan yang mereka sampaikan itu bahwa ini sebenarnya untuk membantu masyarakat Indonesia. Kita dengan jumlah umroh hampir sekitar 1 juta dan jumlah haji sekitar 200 ribu itu sering stranded/sering menunggu antrian yang sedemikian lama. Karena di Arab Saudi ketika datang, jadi mereka mengatakan bahwa kita akan speed up prosesnya karena data-datanya sudah di ambil di Indonesia. Jadi ketika masuk hanya bentuknya itu adalah verifikasi, karena semua data sudah di ambil di Indonesia.

Hanya yang menjadi masalah pengambilan data diplomatik itu dikaitkan dengan persyaratan visa. Jadi pengeluaran visa itu harus melalui data biometrik. Pada kesempatan tersebut kami sampaikan ke Kedube Saudi, Osama Al Suhaibi, bahwa metodenya bagaimana. Dia bilang bahwa ini akan di taruh kantor-kantor. Karena kalau yang outsourcing visa untuk, katakanlah untuk yang kita ambil visa Inggris, kita ambil visa beberapa negara Eropa, dikonsolidasikan di Jakarta. Itu di Kuningan.

Tapi Anda ini bagaimana? Ini calon haji dan umroh kita itu tersebar di seluruh Indonesia dengan ribuan pulau, mekanisme yang akan diterapkan itu bagaimana. kita akan bangun kantor- kantor di semua provinsi. Kami juga ingatkan, di provinsi itu maksudnya apa? Karena katakanlah kalau kita buka di Sulawesi Selatan, di Makassar, kan ada yang dari Bone yang membutuhkan waktu untuk harus mencatatkan visanya. Jadi tolong pikirkan problematik ini. Pada waktu itu berhenti disana Pak.

Lalu di 2018 itu Pemerintah Saudi meminta ijin kita untuk menaruh alat-alat biometrik untuk haji. Tapi hanya satu periode Pak, itu di Soekarno-Hatta. Jadi mereka pasang instalasi biometrik untuk satu saat itu saja. Kami kerjasama dengan Imigrasi, dengan Kementerian Agama, itu smooth jalan, bagus Pak. Jadi sebelum jama’ah haji ini berangkat, itu ketika langsung di data di airport dalam satu periode itu berjalan dengan baik Pak. Tapi hanya untuk yang di Jakarta, tidak yang ke daerah-daerah.

Dalam konteks ini.

F-PKS (H. SUKAMTA, Ph.D.):

Ijin, kapan itu Pak?

DIREKTUR JENDERAL PROTOKOL DAN KONSULER KEMENTERIAN LUAR NEGERI RI (ANDRI HADI):

Itu sebelum haji, Maret Pak, tahun kemarin. Dan itu berjalan baik memang Pak. Jadi sebanyak 63 ribu 891 jama’ah haji atau 28 persen itu melalui proses biometrik. Tapi dilakukan di airport, di bandara. Sehingga orang tidak akan kemana-mana kan Pak, karena di bandara kan sebelum berangkat kan terkonsentrasi. Dan kalau menurut kami, kita sepakat, baik Saudi maupun kita sepakat, ini sebenarnya proses yang ideal.

(6)

6

Tapi ini permasalahan yang berbeda ini yang akan mereka jalankan itu adalah biometrik yang dilakukan jauh sebelum haji, dan yang akan dilakukan juga untuk para umroh.

Kami sampaikan bahwa kita mencakup hampir 514 kabupaten/kota. Faktanya memang betul Pak, ketika mereka mulai menjalankan program ini ternyata di lapangan banyak menimbulkan masalah.

Pertama-tama, mungkin nanti teman-teman dari BKPM bisa ini, kami mengumpulkan dari berita-berita semaunya yang ada disini itu maaf-maaf teman-teman yang akan berumroh itu mengalami kesulitan, kebanyakan yang dari desa-desa, tidak memiliki akses langsung untuk mendaftar online. Jadi terpaksa juga para agen yang memfasilitasi. Dan ketika mereka berangkat sudah menempuh perjalanan berjam-jam sampai ke tempat biometrik.

Rata-rata tempat biometrik ini menggunakan kantor pos VFS Tasheel ini, yang kami dapat informasinya itu menggunakan kantor-kantor pos di masing-masing provinsi. Dan antrian yang sangat panjang. Berbeda sekali dengan visa facilitation service yang ada di Kuningan Pak. Itu sangat rapih, sangat bagus. Terlepas dari mereka kadang-kadang menyulitkan, tapi sangat terstruktur, sangat rapih, dan sangat bagus Pak. Yang di daerah-daerah sekarang ini yang sudah di bangun itu kondisinya itu boleh dikatakan practically kami menyampaikan, meskipun kami tidak terjun ke lapangan, tapi dari berita-berita yang kami sortir bahwa there not ready mengimplementasikan ini.

Dengan situasi begitu kami sampaikan, kami panggil Pak. Setelah dubesnya itu tidak ada, sudah kembali pulang, kami panggil wakil duta besarnya. Kami sampaikan kepada wakil duta besar, saya sampaikan juga gambar-gambarnya juga, bahwa anda mesti memikirkan bahwa image kedutaan Saudi dan image pemerintah kita itu tidak baik ketika kita melakukan satu program dimana, inikan maksudnya pelayanan publik ya, tapi ternyata di lapangan banyak menemui masalah, ini efeknya akan berdampak tidak hanya buat kita, tapi juga buat atas nama baik Kedutaan Saudi. Karena sebelumnya lancar tapi proses yang sekarang yang menggunakan biometrik ini tidak begitu lancar. Jadi kami panggil wakil duta besarnya, dan wakil duta besarnya menyatakan dia akan mencatat.

Bahkan secara tidak langsung kami sampaikan tolong pikirkan mekanisme pertama, anda harus siapkan infrastrukturnya dulu. Kita tidak dalam posisi untuk, mungkin nanti BKPM yang mengeluarkan ijinnya bisa menjelaskan lebih detail bagaimana prosesnya, tapi sekarang bagaimana kalau seandainya tunda dulu proses biometrik ini, kembalikan kepada sistem semula, sambil VFS Tasheel ini menyiapkan infrastrukturnya. Jadi tidak baik Pak. Apalagi sekarang menjelang pemilu kalau ada keresahan di bawah apa itukan tidak begitu Pak. Pertama itu.

Terus yang kami minta tolong pikirkan pengambilan biometrik itu jangan di daerah-daerah seperti itu, tapi dilakukan di airport. Karena kalau dilakukan di airport itu akan memudahkan. Orang kan terkonsentrasi Pak. Katakanlah 6 embarkasi haji atau 10 embarkasi haji, dimana orang mau umroh sebelumnya itu datangkan mereka katakanlah 4 jam atau 5 jam sebelumnya, itu mereka akan merasa comfortable dibandingkan mereka harus dari desa-desa di seluruh, katakanlah di Papua atau dimana, harus ke Jayapura, dari segi cost juga tidak ini Pak. Dan cost-nya pun cukup lumayan, itu sekitar hampir 7 dollar. Setiap kali proses 7 dollar prosesnya.

Jadi mungkin itu background-nya, Kementerian Luar Negeri sudah menyampaikan lewat nota diplomatik resmi bahwa kami meminta penjelasan, dan kami sampaikan bahwa kami dalam posisi untuk tidak mendukung program ini, karena program ini istilahnya masih perlu persiapan yang lebih matang. Dan konsumen jangan dirugikan. Jadi bukan soal 7 dollarnya saja, tapi bisa membayangkan kalau dari satu desa travelling ke kabupaten/kota/provinsi itu berapa biayanya yang harus dikeluarkan. Kalau seandainya selesai Pak. Kalau dia berjam-jam dia harus menginap disitu, ini yang menjadi masalah bagi kita kami kira.

Mungkin itu gambaran ringkasnya. Jadi kita tetap menghormati. Karena kita tahu Pak kalau seandainya sistem ini berjalan dengan baik sebenarnya baik, akan memudahkan kita untuk masuk ke Saudi tanpa harus antrian yang panjang. Tapi kami menghargai kebijakan Arab Saudi program ini. Tapi perlu dipersiapkan dengan sangat baik, terutama infrastrukturnya Pak, sehingga pelayanan publik itu terjaga dengan baik.

Terima kasih.

(7)

7 KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Terima kasih Pak Andri Hadi.

Berarti kalau sekali sudah di ambil semacam biometrik itu berikutnya tidak lagi ya. Kan sekali saja kan?

DIREKTUR JENDERAL PROTOKOL DAN KONSULER KEMENTERIAN LUAR NEGERI RI (ANDRI HADI):

Iya, sekali Pak.

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Di Arab Saudi tidak lagi. Nanti kalau dia umroh lagi tidak lagi. Saya yakin nanti itu akan bisa. Tapi tidak apa-apa, memang harus ada solusi untuk mengatasi darurat dulu bagaimana biar cepat.

Sekarang kita dengar juga dari Kementerian Agama, silakan Pak Arfi Hatim. Silakan Pak, biar kita dengar juga bagaimana pendapat dari Kementerian Agama, biar ini lancar.

Silakan Pak.

DIREKTUR BINA UMRAH DAN HAJI KHUSUS DIREKTORAT JENDERAL PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMRAH KEMENTERIAN AGAMA RI (H. M. ARFI HATIM, M.AG.):

Baik, terima kasih.

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang kami hormati, Pimpinan Komisi I DPR RI, Bapak Ketua dan Wakil Ketua;

Yang kami hormati, para Anggota Komisi I;

Yang terhormat, Bapak Dirjen Protokoler dari Kementerian Luar Negeri, dari Imigrasi, BKPM.

Pertama-tama perkenankan kami untuk menyampaikan permohonan maaf dari Bapak Dirjen PHU, karena pada waktu yang bersamaan saat ini sedang berlangsung juga pembahasan biaya penyelenggaraan haji tahun 2019 dengan Panja BPIH Komisi VIII, sehingga Beliau mewakilkan kepada kami. Ijin, Pak Ketua.

Selanjutnya yang terkait dnegan kebijakan proses biometrik untuk visa haji dan umroh yang telah diterapkan oleh Pemerintah Arab Saudi perlu kami sampaikan bahwa, untuk haji proses ini sesungguhnya sudah berjalan, dan pada waktu tahun 2108 yang lalu proses ini telah dilaksanakan di embarkasi, untuk haji Pak, di embarkasi sebelum jama’ah haji itu berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji. Kemudian berlanjut pada kebijakan mengenai proses biometrik ini jama’ah umroh.

Kami mendapatkan Kementerian Agama sesuai dengan regulasi/dengan aturan, amanat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008, bahwa memang Kementerian Agama mempunyai kewenangan dalam hal sebagai regulator dalam hal pengawasan dan pembinaan terhadap para penyelenggara perjalanan ibadah umroh yang di sebut dengan PPIU. Dan sampai saat ini Kementerian Agama memang belum mengambil peran sebagai operator, sehingga operator atau penyelenggara sepenuhnya adalah oleh pihak swasta.

Selanjutnya terkait dengan kebijakan biometrik ini Kementerian Agama juga mendapatkan beberapa keluhan/beberapa pengaduan, baik dari masyarakat maupun dari para penyelenggara umroh. Sehingga pada waktu bulan Oktober kami menerima perwakilan dari Asosiasi

(8)

8

Penyelenggara Perjalanan Umroh yang merasa keberatan dengan penerapan daripada kebijakan ini. Karena kebijakan biometrik ini menjadi persyaratan untuk proses visa dimana sebelumnya proses visa ini tidka menjadi persyaratan dari biometrik, artinya ini adalah satu kebijakan baru biometrik ini untuk penambahan proses visa yang sebelumnya tidak ada.

Kami bersama dengan Kementerian Luar Negeri juga sudah koordinasi. Dan pada tanggal 4 Oktober, tadi sudah disampaikan oleh Pak Dirjen, sudah mengirimkan surat diplomasi kepada Kementerian Luar Negeri atau Kementerian Haji Arab Saudi meminta dan memohon agar kebijakan ini di tunda. Karena beberapa alasan, pertama yang terpentng adalah kondisi geografis Indonesia yang cukup luas, kemudian yang kedua adalah kantor daripada VFS Tasheel Indonesia ini belum tersebar di seluruh provinsi, termasuk juga di kabupaten/kota, sehingga untuk proses pengambilan biometrik ini tentu menambah cost/menambah biaya bagi jama’ah yang akan melaksanakan ibadah umroh.

Perlu juga diketahui bahwa proses pengambilan ini secara online, mendaftar secara online, kemudian mendapatkan jadual untuk pengambilan biometrik. Bisa sebagai ilustrasi, sebagai tambahan misalnya, jama’ah dari Papua harus datang ke Ambon, harus datang ke Makassar, untuk pengambilan biometrik setelah melalui pendaftaran online. Kemudian setelah itu mereka kembali ke daerahnya.

Jadi ada dua hal Pak, pertama pengambilan biometrik, dan kemudian yang kedua adalah melaksanakan ibadah umroh, sehingga ini tentu mempersulit terutama bagi jama’ah yang lansia untuk proses pengambilan ini.

Menghadapi beberapa keluhan dan pengaduan yang sampai kepada kami, sehingga Menteri Agama dalam hal ini telah menyampaikan secara langsung kepada Kementerian Haji Arab Saudi memohon agar kebijakan ini di tunda sampai seluruh sarana/prasarananya terpenuhi, kemudian kantor pelayanannya juga representatif untuk pengambilan. Karena seperti telah disampaikan tadi beberapa juga bahkan hanya memakai kantor pos, itupun hanya tersebar di 28 provinsi. Ada 32 titik berdasarkan data yang kami dapatkan dari VFS Tasheel Indonesia, hanya ada di 32 titik tempat pengambilan biometrik. Sehingga kami menyampaikan beberapa keberatan- keberatan berdasarkan kepada data penyebaran kabupaten/kota di Indonesia.

Kemudian yang kedua, kami juga telah memanggil VFS Tasheel Indonesia, karena mereka sebagai vendor yang di tunjuk oleh Pemerintah Arab Saudi, dalam hal ini Kementerian Luar Negeri, untuk pengambilan biometrik ini. Dan kami sudah mengirimkan surat kepada VFS Tasheel Indonesia meminta juga agar menunda kebijakan ini. Kami tentu menghormati kebijakan Arab Saudi, apalagi ini sudah mandatory. Dan berdasarkan surat yang di kirim tanggal 4 Oktober itu sudah ada jawabannya, Pak Dirjen, bahwa memang ini tetap harus diterapkan. Sehingga posisi kami atas arahan pimpinan tidak menolak kebijakan yang telah diterapkan oleh Pemerintah Indonesia, tetapi memohon agar mengevaluasi mekanisme cara pengambilan biometrik ini.

Sehingga poinnya adalah tidak memberatkan jama’ah, atau memberikan kemudahan seluas- luasnya kepada jama’ah yang akan melaksanakan ibadah umroh.

Kemudian kami juga sudah koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, kami mengambil inisiatif untuk memfasilitasi pertemuan tanggal 27 Desember. Kami mengundang Kementerian Luar Negeri, mengundang juga BKPM, dan mengundang Asosiasi PATUHI, untuk mencari solusi terhadap hal ini. Dan telah ditindaklanjuti pada pertemuan 3 Januari beberapa minggu yang lalu.

Dan Insya Allo besok pun kami akan rapat dengan BKPM. Karena seperti yang telah disampaikan tadi, untuk perijinan daripada VFS Tasheel Indonesia ini diberikan oleh BKPM. Jadi proses ini terus berjalan.

Dan pada saat ini sesuai dengan yang kami sampaikan tadi, Pak Menteri sudah menyampaikan secara langsung dengan Menteri Haji Arab Saudi pada waktu MOU bulan Desember kemarin, dan juga telah mengirimkan surat secara resmi kepada Pemerintah Arab Saudi agar kebijakan ini untuk sementara di tunda sampai sarana/prasarananya siap. Atau mungkin ada solusi yang lain bagaimana apabila proses biometrik ini dilakukan di bandara ketika masyarakat akan berangkat umroh. Sehingga sampat saar ini posisinya kami masih menunggu hasil kajian dari internal Pemerintah Arab Saudi berdasarkan kepada permohonan yang telah disampaikan oleh Menteri Agama.

(9)

9

Mungkin itu sebagai pengantar, Pimpinan, terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Kementerian Agama, baik secara diplomasi. Kami juga tetap berkoordinasi dengan para kementerian yang terkait dalam hal ini.

Terima kasih.

F-PDIP/WAKIL KETUA KOMISI I DPR RI (IR. BAMBANG WURYANTO, M.BA.):

Ijin interupsi sedikit.

Ini proses untuk umroh masih berjalan?

DIREKTUR BINA UMRAH DAN HAJI KHUSUS DIREKTORAT JENDERAL PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMRAH KEMENTERIAN AGAMA RI (H. M. ARFI HATIM, M.AG.):

Proses untuk umroh masih berjalan Pak.

F-PDIP/WAKIL KETUA KOMISI I DPR RI (IR. BAMBANG WURYANTO, M.BA.):

Sesuai dengan aturan dari Kedutaan Arab?

DIREKTUR BINA UMRAH DAN HAJI KHUSUS DIREKTORAT JENDERAL PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMRAH KEMENTERIAN AGAMA RI (H. M. ARFI HATIM, M.AG.):

Iya, tetap.

Jadi proses visa akan di proses apabila sudah ada biometrik. Itu tetap berjalan saat ini.

Terima kasih Pimpinan.

Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Wa’alaikumsalaam.

Terima kasih Pak Arfi Hatim, dengan demikian kita agak mengerti.

Sekarang kami persilakan yang mewakili Dirjen Imigrasi, Bapak Cucu. Ini payung hukumnya di Bapak ini.

Silakan.

DIREKTUR LALU LINTAS KEIMIGRASIAN DIREKTORAT JENDERAL IMIGRASI KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM RI (CUCU KOSWALA):

Terima kasih Pak.

Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Selamat pagi, dan salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati, Bapak Pimpinan Rapat, para Pimpinan Fraksi, Bapak/Ibu Anggota Komisi I;

Hadirin dan Hadirat yang saya muliakan.

(10)

10

Mohon ijin, Bapak, pertamakali saya ingin menyampaikan permohonan maaf dari Bapak Dirjen Imigrasi karena Beliau berhalangan hadir. Tadi malam itu Beliau itu kena diare Pak, jadi saya diperintahkan untuk mewakili Beliau.

Secara umum saya ingin menyampaikan pandangan saja dari sisi keimigrasian bahwa pengambilan biometrik adalah merupakan suatu kebutuhan dari setiap negara, dan ini sudah hampir rata di seluruh negara. Ini adalah dengan tujuan untuk pengamanan, aspek pengamanan.

Demikian juga kita memberlakukan hal yang sama ketika warga negara asing yang akan masuk ke Indonesia itu terlebih dahulu mereka pada saat mengajukan visa di ambil biometriknya terlebih dahulu di kantor perwakilan kita di luar negeri. Apalagi kita sekarang ini sudah menggelar sistem informasi manajemen keimigrasian di hampir seluruh perwakilan Indonesia di luar negeri.

Jadi tujuannya adalah memang untuk menangkal orang-orang yang tidak dikehendaki agar tidak masuk ke negara tersebut, dan juga demikian orang asing yang akan masuk ke Indonesia bisa didapatkan informasinya bahwa dia tidak akan diberikan masuk, oleh karena itu perlu di ambil biometrik terlebih dahulu. Ini dari aspek keamanan.

Dan apa yang diberlakukan oleh Pemerintah Saudi Arabia dalam hal ini untuk para jama’ah haji dan umroh, saya kira demikian juga sama bahwa mereka tidak ingin orang-orang yang pernah bermasalah di Saudi Arabia, atau orang-orang yang terlibat dalam tindak pidana, baik itu trans nasional maupun yang di negara tersebut, disini di Indonesia, untuk masuk kesana ke Saudi Arabia. Jadi ini merupakan satu kebutuhan yang secara sekarang ini universal.

Dalam konteks pengambilan biometrik di Indonesia yang dilakukan oleh VFS Tasheel ini tentu saja harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Saya ingin menyampaikan dalam Pasal 67 dan 68 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian bahwa data keimigrasian WNI, data keimigrasian WNA, adalah bersifat rahasia.

Kemudian juga kalau kita membaca Undang-Undang Adminduk, saya lupa pasalnya, tapi ada disini Pak, bahwa data-data yang terkait dengan WNI harus dilindungi oleh negara/oleh Pemerintah. Bagaimana mungkin swasta dari luar negeri kemudian mengambil data biometrik di Indonesia, inikan sudah sepertinya ada pelanggaran kedaulatan mohon maaf ini. Mereka dengan enak saja mengambil data warga negara Indonesia kemudian dikirimkan ke negaranya, artinya seluruh data-data yang kita punya ada di tangan mereka. Data itukan cukup lengkap Pak, nama, tempat tanggal lahir, keluarga, dan sebagainya. Ini bisa disalahgunakan barangkali kalau memang ada tujuan tersebut.

Oleh karena itu saya dalam hal ini sependapat dengan teman-teman yang lain sebaiknya di tunda saja dulu pengambilan biometrik sampai situasinya sangat kondusif. Karena kalau di lihat dari infrastruktur, penempatan pengambilan biometrik yang saya lihat dari berita-berita yang ada, di kantor pos, yang tua-tua harus meniti papan di tengah air, becek, inikan sudah sangat menurut saya tidak membuat kenyamanan calon jama’ah umroh kita. Belum lagi kalau, tadi disampaikan oleh Pak Dirjen Protkons, kalau mereka tinggal jauh dari tempat pengambilan biometrik tersebut.

Kondisi geografis kita yang di Papua misalnya, kalau ada kantor perwakilan yang untuk pengambilan biometrik di kantor pos di satu tempat, kemudian mereka ada di kabupaten lain harus terbang dengan pesawat, kemudian harus jalan darat sekian jam, tentunya juga akan merugikan karena harus mengeluarkan biaya lagi.

Jadi barangkali pandangan dari Imigrasi itu. Nanti kami akan berperan kalau mereka sudah diberikan ijin memang untuk masuk ke Indonesia, dan disitu ada warga negara asing yang sebagai tenaga ahlinya, kami berperan disitu untuk memberikan visa dan ijin tinggalnya.

Barangkali itu yang sementara saya sampaikan, terima kasih.

Wassalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Wa’alaikumsalaam.

Terima kasih Pak Cucu.

(11)

11

Mungkin warga negara kita juga seperti itu ya. Ada yang lewat Malaysia, ada yang ke Philipina, umrohnya ada itu karena mungkin lebih murah. Mungkin disana biometrik juga kan, sama juga melanggar kedaulatan. Nanti kita cari solusinya.

Terakhir mungkin BKPM. Mungkin secara teknis ini. Ini yang diuntungkan kalau sudah begini mungkin BKPM ya, yang lainnya dapat kerjaan semua ini.

Silakan dari BKPM.

PLT. DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN IKLIM PENANAMAN MODAL BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL (IR. YULIOT, M.M.):

Baik Bapak Pimpinan.

Yang kami hormati, Bapak Pimpinan Komisi I DPR RI;

Yang kami hormati, Bapak/Ibu Komisi I DPR RI;

Bapak-bapak dan Ibu yang kami hormati.

Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

Kami dari BKPM, untuk proses perijinan bagi VFS Tasheeli ini sebenarnya sudah di proses melalui ijin prinsip yang didapatkan oleh perusahaan pada tahun 2014. Jadi persiapan perusahaan untuk melakukan layanan keimigrasian atas kontrak dari Pemerintah Arab Saudi sudah dipersiapkan dari tahun 2014.

Kemudian dari sisi perusahaan sendiri, pada saat sudah merealisasikan kegiatan investasinya, penyediaan infrastruktur segala macam, baru mereka mendapatkan Tanda Daftar Usaha Pariwisata.

Jadi sesuai dengan regulasi yang ada berdasarkan klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia, kegiatan usaha yang bersangkutan termasuk aktifitas biro perjalanan wisata, sesuai dengan regulasi yang kita miliki. Makanya kegiatan usaha yang bersangkutan ijin usahanya adalah Tanda Daftar Usaha Pariwisata.

Setelah mendapatkan Tanda Daftar Usaha Pariwisata sesuai dengan bidang kegiatan yang mereka lakukan, pelaksanaan kegiatan komersial baru dilaksanakan oleh yang bersangkutan berdasarkan kontrak yang dilakukan oleh Pemerinta Arab Saudi dengan VFS Tasheel itu adalah pada tahun 2018 baru bisa dilaksanakan. Berarti dari perijinan pertama sampai dengan kegiatan yang bisa dilaksanakan oleh perusahaan yang bersangkutan memerlukan waktu sektiar 4 tahun.

Jadi ini gambaran pelaksanaan kegiatan investasi yang dilakukan oleh Tasheel Indonesia.

Kemudian kalau kita lihat kegiatan-kegiatan penerbitan visa, termasuk biometrik yang dilakukan oleh perusahaan sejenis, itu adalah VFS Service Indonesia, ini ada 20 negara yang sudah melaksanakan kegiatan yang sama. Itu dari tahun 2007 mereka sudah melaksanakan kegiatan proses biometrik, kemudian penerbitan visa berdasarkan proses yang dilakukan berdasarkan kontrak antara pemerintah negara yang bersangkutan dengan VFS sendiri, ini sudah cukup lama juga. Berarti kalau dari tahun 2007 sampai dengan 2018 ini berarti ini sudah 11 tahun proses penerbitan visa dengan proses seperti ini.

Karena persoalan implementasi dari perijinan yang didapatkan oleh PT VFS Tasheel Indonesia terkait dengan penerbitan visa untuk umroh, dan juga tempo hari ada yang disampaikan oleh teman kami dari Kementerian Agama, ternyata untu penerbitan visa haji pada tahun 2018 yang lalu itu juga sudah dilakukan proses biometrik, tetapi itu dilaksanakan di bandara embarkasi.

Jadi ini relatif tidak ada bermasalah untuk prosesnya.

Atas persoalan-persoalan implementasi penerbitan visa umroh, jadi ini juga dari Kementerian Agama juga sudah membuat surat ke BKPM untuk meninjau kembali perijinan yang diterbitkan oleh BKPM terhadap kegiatan PT VFS Tasheel ini.

Berdasarkan rapat pada tanggal 27 Desember 2018 di Kementerian Agama, itu BKPM di minta untuk menindaklanjuti permasalahan-permasalahan. Yang pertama, BKPM itu harus

(12)

12

melakukan pengawasan ke lapangan bagaimana pelayanan yang dilakukan oleh PT Tasheel Indonesia terhadap penerbitan visa umroh.

Jadi berdasarkan pengawasan kami ke lapangan yang dilakukan pada tanggal 17 Januari yang lalu, PT VFS Tasheel Indonesia sudah memiliki 35 titik layanan di seluruh Indonesia. Jadi dari 35 titik layanan itu mereka sudah melakukan layanan terhadap 6 ribu sampai dengan 9 ribu appointment untuk permohonan biometrik di seluruh Indonesia. Jadi ini gambarannya, sudah dilayani di 35 titik layanan. Menurut penjelasan dari Tasheel sendiri relatif tidak ada permasalahan terhadap layanan yang mereka berikan untuk 6 ribu sampai dengan 9 ribu appointment ini.

Untuk permasalahan operator untuk layanan umroh seluruh Indonesia kami juga melakukan koordinasi dengan Asosiasi Penyelenggara Umroh dan Haji, asosiasinya PATUHI.

Kami sudah melakukan pertemuan pada 19 Januari yang lalu, kira-kira apa permasalahan terhadap layanan umroh, terutama dengan biometrik dan penerbitan visa.

Kalau yang sebelumnya memang ini pengurusan untuk visa ini dilakukan oleh asosiasi atau penyelenggara umroh dan haji pada umumnya mereka mengajukan itu permohonan kepada kedutaan atau Konjen Arab Saudi di Indonesia. Prosesnya itu tidak melalui proses biometrik.

Sekarang dengan adanya proses biometrik mereka harus menyampaikan atau membawa yang akan umroh untuk mendapatkan proses biometrik. Dan juga ini prosesnya bolak-balik antara jama’ah umroh dengan pihak Tasheel sendiri. Jadi ini persoalan yang dihadapi dalam persoalan untuk mendapatkan bagaimana visa umroh itu bisa didapatkan oleh jama’ah yang bersangkutan.

Jadi ini ada biaya tambahan oleh jama’ah. Yang kedua juga ada proses biometrik. Tentunya ini merupakan kira-kira apa persoalan di lapangan. Kami juga melihat itu persoalan-persoalan ini kalau menurut Tasheel sendiri mereka untuk 9 ribu layanan itu relatif tidak ada masalah sampat saat ini. Tetapi menurut PATUHI ini cukup banyak permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh jama’ah.

Jadi mungkin untuk persoalan ini, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, kami dari BKPM akan menyelenggarakan rapat koordinasi. Besok kami akan menyelenggarakan rapat koordinasi. Kami akan mengundang dari Kementerian Luar Negeri, kami akan mengundang Kementerian Dalam Negeri, dan juga Dirjen Imigrasi, terhadap permasalahan implementasi biometrik dan penerbitan visa bagi masyarakat yang membutuhkan atau menyelenggarakan umroh. Kami akan melakukan koordinasi antar kementerian/lembaga dengan proses ini.

Dari komunikasi kami dengan kementerian/lembaga ternyata permasalahan yang dihadapi itu adalah karena kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang menyelenggarakan proses biometrik sebelum menerbitkan visa. Sementara ini dilaksanakan oleh pihak ketiga, mungkin ini permasalahan kebijakan dari Pemerintah.

Kami dari BKPM, untuk yang disampaikan tadi untuk pembekuan perijinan, tentu sepanjang ada rekomendasi pemerintah, kemudian yang kedua mungkin ada permasalahan menyalahi perijinan yang kemudian itu ada keputusan pengadilan, kami siap untuk melakukan pembekuan terhadap perijinan. Jadi sepanjang koordinasi yang dilakukan antar kementerian, apapun rekomendasi yang dihasilkan dari hasil koordinasi tadi kami siap untuk melaksanakan di BKPM.

Demikian, Bapak Pimpinan, untuk sisi BKPM terhadap permasalahan PT VFS Tasheel Indonesia, terima kasih.

Wassalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Wa’alaikumsalaam.

Terima kasih Pak Yuliot yang sudah memaparkan.

Sudah empat kementerian/lembaga yang paparan. Jadi intinya mungkin biometrik itu sidik mata ya? Biasanya sidik jari sama sidik mata? Ini yang teknis ini biasanya orang Kumham atau mana ini? Sidik mata atau apa intinya biometrik itu?

(13)

13

DIREKTUR LALU LINTAS KEIMIGRASIAN DIREKTORAT JENDERAL IMIGRASI KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM RI (CUCU KOSWALA):

Ijin Pak.

Pengambilan sidik jari dan foto wajah. Jadi face recognition nanti akan terlihat.

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Termasuk mata? Dulu waktu bikin paspor-paspor awal itukan sudah ada sidik jari kan.

Yang kurang saja yang belum. Kemudian biayanya ada penambahan 7 dollar perorang, itu keputusan dari Arab Saudi atau dari mana? Apa dari PT ini? Dari Kementerian Agama, bukan?

Kita berharap mudah-mudahan, karena kita kasihan seperti yang disampaikan Bapak-bapak tadi, saudara kita yang daerah jauh yang bukan di bandara yang ada tempat embarkasi haji, kan ada yang antara yang apa itu, itu bisa bolak-balik. Dari Papua ke Ambon dulu atau kemana, nanti balik lagi, sudah berapa uangnya. Itu yang kita hindari seperti itu. Ini menyengsarakan rakyat. 200 juta muslim Indonesia terbesar di dunia.

Ini nanti, Pak Ardi, tolong ya ini harus dapat perhatian dari Pemerintah Arab Saudi. Inikan juga pemasukan bagi mereka, berapa juta setiap hari orang sana itu. Kalau dia tidak kasih keringanan kita, stop dari Indonesia, sepi itu. 200 juta muslim Indonesia itu macam-macam, umroh, apa itu. Naik haji sekarang nunggu 15 tahun. Jadi ini mungkin, Pak Ardi, tolong lagi di tekan Arab Saudi itu. Memang harus selesai infrastruktur kita, baru ketentuan baru diberlakukan. Kalau memang sekarang ada yang bisa ya monggo, silakan. Tapi ada keringanan.

Jadi, Bapak-bapak sekalian, seperti ini. Kita masuk ke pendalaman. Para Anggota Komisi I DPR RI ada yang mungkin bertanya atau menyampaikan saran untuk pendalaman.

Pertama dari Ibu Lena Maryana, nanti yang kedua urutannya Pak Sukamta.

Silakan, Ibu Lena.

F-PPP (DRA. HJ. LENA MARYANA):

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Yang kami hormati, Bapak-bapak Pimpinan;

Bapak Dirjen Protkons Kemlu, Pak Andi Hadi, Bapak Cucu Koswala, Bapak Iman Syafrizal, Bapak Yuliot, dan seluruh Ibu/Bapak yang hadir pada pagi hari ini,

Pagi ini kita membahas isu yang bagi kami isu yang bukan yang kecil Pak. Ini menyangkut juga soal kedaulatan negara. Yang pertama itu.

Yang kedua, sebagaimana kita maklumi bahwa jama’ah umroh dan haji, sebagaimana tadi sudah disinggung, Indonesia adalah yang terbesar di banding dengan negara-negara lain.

Tadi disampaikan oleh Pak Yuliot disampaikan bahwa perekaman biometrik ini sudah dilakukan di 20 negara. Yang saya ikut, yang pertama terbesar adalah Indonesia, kedua adalah Pakistan, kemudian Malaysia, termasuk juga India, dan di beberapa negara global. Dan saya mendapat informasi ini juga dilakukan secara universal, artinya diterapkan juga ke seluruh negara secara global. Sepanjang itu memang tidak ada masalah Pak. Tidak masalah itu kalau menjadi kebijakan dari Kerajaan Saudi Arabia.

Yang menjadi masalah adalah penanganan jama’ah yang khusus ada di Indonesia. Tadi mengingat sudah disampaikan oleh Pak Andri tadi bahwa Indonesia inikan negara kepulauan, negara yang sangat besar, yang itu juga punya hambatan-hambatan penerapan biometriknya. Itu yang menjadi konsern kita pertama. Disamping jama'ah yang besar adalah soal tadi kondisi wilayah yang kepulauan, punya problem lah dalam pelaksanaan perekaman biometrik. Itu permasalahan yang kami dapati.

(14)

14

Yang selanjutnya terkait dengan penunjukkan VFS Tasheel. VFS inikan badan swasta, ijinnya dikeluarkan oleh BKPM. Dan tadi sudah disinggung oleh Pak, mohon maaf ini baru menghafal namanya, Pak Cucu ya, bahwa data warga negara Indonesia itu sifatnya rahasia, dan dilindungi oleh negara. Dan ini dikerjakan oleh swasta. Dan kita tahu bahwa perekaman biometrik itu juga dilakukan oleh negara, Dirjen Adminduk, untuk e-KTP misalnya, untuk paspor, imigrasi.

Kan perekaman yang sama, Pak Cucu, kan? Hanya wajah, kemudian finger, jari, jempol, sidik jari, itukan juga dilakukan oleh kita. Artinya, kalau ini ingin diterapkan, dan dalam rangka melindungi kerahasiaan informasi dari warga negara, mestinya kan bisa dikerjasamakan dengan negara.

Apalagi sekarang kita tahu bahwa kejahatan elektronik memanfaatkan data pribadi warga negara itu luar biasa. Apalagi dengan media sosial seperti ini, kemajuan teknologi maksud saya, kemajuan teknologi, inikan perlindungan terhadap data harus dilakukan secara hati-hati, dan juga sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Karena kita tahu lah kejahatan elektronik ini sangat luar biasa. Bagaimana data pribadi saya kemudian di pegang oleh swasta. Apalagi perbincangan kita menghadapi pemilu misalnya, pemilu presiden. Saya tidak boleh mengatakan bahwa saya ada di pihak salah satu. Tapi kita tahu semuanya yang di parlemen inikan juga ada keberpihakan di masing-masing pasangan calon.

Dan penyelewengan terhadap data ini sama-sama bisa merugikan kedua pasangan calon. Ini terkait dengan tahun pemilu ya kalau ingin kita kaitkan.

Kemudian selanjutnya adalah, saya mendapati bahwa tidak berguna biometrik ini. Karena apa, karena ternyata di imigrasi Jeddah dan Madinah itu tetap dilakukan proses biometrik, tetapi dilakukan proses biometrik kembali. Buat apa dilakukan di Indonesia dengan tadi berbagai kendala, kendala teknis, kendala jarak, termasuk juga pelayanannya tidak menyediakan untuk yang lanjut usia, pertama. Kedua juga yang kaum disabilitas, termasuk perempuan misalnya, kelompok-kelompok marjinal begini Pak, ini tidak ada. Selanjutnya juga saudara-saudara kami yang ada di Papua itu harus mengurusnya ke Makassar. Papua-Makassar naik pesawatnya sudah berapa Pak, sudah berapa itu.

Jadi menurut saya bukan saja di tunda sampai sistem ya, tetapi sebelum penerapan itu seharusnya memang dibicarakan detail kondisi Indonesia yang punya kekhususan di banding negara-negara lain. Jadi harus ada intervensi, bukan intervensi dalam pengertian negatif, intervensi program, teknik, mekanisme, strategi memenuhi apa yang diinginkan oleh Kerajaan Saudara Arabia. Itu catatan kami.

Jadi selain terkuras waktu, biaya, dan tenaga, Bapak bayangkan, dan Pimpinan juga sekali-sekali perlu juga kita tinjau ini bagaimana proses pengurusan dari visa ini. Karena ada yang menunggu sampai larut malam. Bayangkan kalau di atas usia yang lanjut harus larut malam menunggu. Apalagi fasilitas menunggunya juga tidak nyaman, belum lagi stressnya. Saya lebih baik memberikan hak saya sebagai pemegang paspor biru untuk mereka. Soalnya tadi kan diistimewakan pemegang paspor biru dan diplomat. Saya lebih baik menyerahkan hak saya untuk mereka. Misalnya kalau satu saya bisa untuk 10 juta, saya kasih sajalah untuk 10 juta mereka.

Apalagi biometrik itu sudah dilakukan di Indonesia Pak.

Jadi kita harus merubah mind set Pak. Pejabat itu justru sebenarnya harus lebih mengalah kepada rakyat. Apalagi kami yang sebagai wakil rakyat yang dimandatkan oleh rakyat ya mestinya rakyatlah yang memiliki free village di banding kami. Tadi saya singgung yang disampaikan oleh Pak Cucu tadi ya, karena untuk diplomatik itu tidak diberlakukan.

Kemudian selanjutnya saya dengar juga berdasarkan pengamatan lapangan mereka tidak melakukan profesional melakukan perekaman biometrik ini. Karena juga, Pak Pimpinan, ternyata dilakukan absen oleh security secara manual, padahal travel-nya sudah mendaftarkan secara online.

Pak Cucu, kalau saya daftar online, saya kan perpanjang paspor melalui online biasanya, paspor hijau saya melalui online, itukan ada waktu, tanggal sekian, jam sekian. Kita datang pada alokasi waktu yang seperti itu. Tetapi ketika perekaman visa ini, biometrik, itu dilakukan juga oleh security-nya berdasarkan manual absen. Ini yang di lapangan Pak. Kami sebelum bertemu dengan Bapak sudah melakukan investigasi apa yang terjadi di lapangan, supaya kita perbaiki lah Pak.

(15)

15

Mereka inikan yang namanya jama’ah umroh dan haji ini tamu Alloh, dan tamu Alloh itukan harusnya diperlakukan secara punya free village, harusnya begitu.

Jadi yang dari Kemenag juga nanti saya juga akan bisikkan menteri saya, karena saya dari Fraksi P3, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, saya akan sampaikan ke Menteri Agama.

Saya juga memahami Pak Andri ada jalur diplomasi yang perlu juga kita kedepankan.

Tetapi alangkah lebih baiknya tadi data-data dan situasi yang ada di Indonesia juga harus diperlihatkan. Karena banyak juga ini yang dari Kementerian Agama. Saya ingin mencontohkan ketika pergi hari tahun 2009. Itu contoh saja Pak, ini ada perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan. Mereka hanya membuka meja untuk makan itu hanya tiga, sementara terik matahari.

Dan mejanya di tempat lain banyak di tutup. Akhirnya saya harus ngamuk-ngamuk minta semua meja di buka. Padahal saya bukan siapa-siapa waktu itu, artinya harus ada kepedulian untuk mengedepankan kehormatan, kenyamanan, dan kelancaran dari jama’ah haji kita yang menjadi tamu Alloh di tanah suci.

Selanjutnya juga yang kami temui ternyata sistemnya sering error. Mungkin karena terlalu banyak yang harus dilakukan perekamanan sehingga sering error. Dan kerugian waktu, tenaga, biaya, itu luar biasa. Karena jama’ah haji, umroh terutama ini Pak ya, Pak Iman Syafrizal, inikan orang yang mau berangkat haji harus menunggu bertahun-tahun, dan usia mereka sudah cukup lanjut, akhirnya kan pilihannya kemudian pergi umroh, sehingga jama’ah umroh itu sampai 1 juta kalau tidak salah, setiap tahun itu 1 juta. Dan kalau kita ke bandara, tiap minggu itu jama’ah umrohnya luar biasa disana.

Jadi sekali lagi, tadi Pak Cucu juga sudah menjadi konsern yang sama dengan kami, dengan Bapak-bapak yang lain, ini menurut saya juga sekali lagi harus dibicarakan secara khusus dengan Kerajaan Saudi Arabia. Kalau perlu tunjukkanlah rekaman kepada mereka bagaimana sulitnya kendala-kendala yang dialami oleh jama’ah ketika melakukan perekaman biometrik ini.

Dan sebenarnya juga nanti mungkin kita harus mengkonfirmasi ke Dirjen Adminduk, karena Imigrasi sudah hadir disini, apakah dimungkinkan untuk tadi. Yang penting ini adalah dalam penguasaan atau dalam tanggungjawab negara soal data dari para warga negara kita yang akan melakukan umroh dan haji.

Terakhir Pak sekali lagi saya, kalau boleh kita juga langsung melakukan sidak ke Soekarno-Hatta yang dekat untuk melihat langsung bagaimana jalannya perekaman biometrik ini, supaya kita punya pengalaman yang sama, punya konsern yang sama untuk memperbaiki sistem yang ada.

Itu saja, Pimpinan, yang kami sampaikan.

Terima kasih.

Billaahitaufiq Wal Hidaayah.

Wassalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Wa’alaikumsalaam.

Kurang Bu kalau sampai Soekarno-Hatta. Ke Mekkah sekali-sekali Komisi I mengawasi.

Masa hanya Komisi VIII.

Jadi, Bapak/Ibu sekalian, Ibu Lena, memang perempuan biasanya lebih teliti dari kita. Di tentara yang lipat payung terjun itu semua perempuan Pak, tidak boleh laki-laki. Ini juga saya agak lupa tadi. Itu betul, Ibu Lena, kita memang belum mempunyai Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Ini siapa yang bertanggungjawab kalau data pribadinya bocor seperti ini? Apalagi PT, PT mana dia pikir data pribadi. Dia pikirnya duitnya masuk banyak, kan begitu. Ini yang perlu kita pikirkan bersama seperti apa.

Memang perjalanan ke tempat Tuhan itu, jangan nanti dari Kementerian Agama, Ibu sudah bilang tolong, itukan cobaan, kamu di coba diginikan, jadi memang agak sulit. Memang mungkin ada begitu ya ada kesulitan menemui tanah suci. Saya sering dulu tanya kenapa, itu di coba Tuhan

(16)

16

itu, percobaan. Jadi mungkin sarannya Ibu Lena saya rasa pas bagaimana ini supaya lebih ringkas, lebih enak. Ini masih ada waktu mungkin Pak.

Kita lanjutkan yang kedua, Pak Doktor Sukamta. Monggo, silakan Pak.

F-PKS (H. SUKAMTA, Ph.D.):

Terima kasih Pimpinan.

Pak Dirjen semuanya, dari Kemlu, dari Imigrasi, dari Kemenag, dari BKPM, yang terhormat, serta seluruh jajarannya;

Para Anggota yang terhormat.

Terima kasih atas kesempatan dan paparan yang diberikan. Apa yang Bapak-bapak sampaikan kepada kami ini memberikan penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan yang berkembang di masyarakat. Dan saya melihat apa yang Bapak-bapak lakukan keberpihakan kepada negara, rakyat Indonesia, saya kira patut di apresiasi. Dan dalam semua hal tadi secara umum cukup bagus. Saya hanya ingin menekankan kembali beberapa persoalan. Tadi sudah di angkat oleh pembicara-pembicara terdahulu, tapi saya ingin menekankan dan menambahi.

Yang pertama soal data WNI. Bagi kami yang ada di Komisi I saya kira ini menjadi perhatian yang sangat serius. Berkali-kali kita ini berbicara rapat disini soal data pribadi. Kemarin kita rapat dengan facebook, kita rapat juga dengan Menteri Kominfo, kita juga sedang menyiapkan pembahasan RUU Perlindungan Data Pribadi. Kita juga sebetulnya, walaupun RUU nya belum ada, kita punya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008. Memang undang-undang ini tentang Keterbukaan Informasi Publik, tetapi didalamnya itu ada pasal-pasal yang mengatur tentang data- data yang boleh di buka ke publik, dan mana yang harus dilindungi. Dan saya kira data pribadi di negara manapun itu menjadi kerahasiaan. Di Barat, di Timur, di Timur Tengah, sama, ini menjadi kerahasiaan.

Tadi dipaparkan bahwa Kedutaan Saudi niatnya baik, kita juga memahami niat itu. Tetapi di dalam pelaksanaan kan banyak keterbatasan. Pertama, ini diserahkan kepada pihak ketiga.

Yang punya perjanjian antar negara Indonesia dengan negara lain itu adalah Negara Saudi, bukan pihak ketiganya. Kasus facebook menjualbelikan data itu karena dia lewat pihak ketiga.

Kita harus memastikan Pak, kalau nanti kedepannya ini proses berjalan terus, tadikan salah satu yang menjadi konsern itu karena keterbatasan infrastruktur, keterbatasan sistem, tempat, dan seterusnya, itu hal-hal yang sifatnya teknis. Yang sangat prinsip menurut saya adalah kita harus mengikat perjanjian dengan negara-negara yang mengambil data WNI.

Kita paham bahwa itu kaitannya dengan visa, kalau tadi disebut di negara-negara Eropa ya. Dikaitkan dengan Saudi ini, apakah ini betul-betul hanya terbatas untuk urusan haji-umroh visa untuk non dinas. Atau ini ada kepentingan lain Pak? Itu pertanyaan yang pertama.

Yang kedua, saya kira kita/Pemerintah harus memastikan kita punya perjanjian yang mengikat Saudi maupun pihak ketiga. Jangan sampai nanti data-data WNI ini disalahgunakan.

Apalagi ini data mengenai umat Islam. Kita tahu dunia sekarang ini sensi terhadap umat Islam. Kita tidak ingin urusan yang sebetulnya ini kalau benar itu hanya terbatas pada haji dan umroh, ini urusan untuk ibadah, tapi kemudian bisa di bawa kemana-mana, melebar kemana-mana. Kita tidak mau juga WNI kita ini datanya terekspos kemudian untuk hal-hal yang tidak perlu. Itu yang kedua Pak.

Tadi ada solusi yang disarankan, dan saya kira solusi itu bagus, misalnya soal pelaksanaan terbatas. Dimulai dari bandara-bandara embarkasi dulu, sambil menunggu kesiapan teknis. Tapi sekali lagi, hal yang bagus ini perlu dilandasi oleh aturan, oleh perjanjian, supaya data yang ada itu tidka disalahgunakan. Karena jumlahnya kan massive ini, 1 juta per tahun untuk umroh, 200 ribu per tahun untuk haji. Ini jumlah data yang massive untuk WNI.

Kalau toh memang akan dikerjakan secara bertahap begitu, itu sebagai solusi yang bagus.

Tapi sekali lagi, betul-betul hanya untuk kepentingan haji dan umroh. Tadi sudah disampaikan

(17)

17

pembicara terdahulu, faktanya walaupun sudah di ambil datanya nanti masih ada double-double lagi.

Kalau di negara lain, di negara yang sudah lebih maju, biasanya kalau kita sudah ambil biometrik di kedutaan di Jakarta, di tempat kita datang sudah tidak di ambil lagi. Begitu ada nama muncul, itu sudah semua data muncul. Tapi kenapa ini tidak muncul, inikan jadi pertanyaan. Disitu masih di ambil lagi, di ulang lagi.

Sebetulnya pertanyaannya, ini persoalan data dilakukan digitalisasi kita pahami, tapi kenapa data yang sudah digital ini tidak nyambung/tidak di online kan antara yang di Indonesia dengan yang di negara sana di Arab Saudi. Kalau memang ini tidak nyambung, tidak di online kan, terus untuk apa harus di buat digital? Kan lebih aman kalau di buat print out/hard copy daripada soft copy. Jadi banyak pertanyaan yang menurut saya perlu diperjelas kenapa ini akan dilaksanakan.

Kalau memang situasinya begitu, ini persoalannya apakah ini sekedar supaya kelihatan modern, kelihatan gagah, atau ini just business. Kalau memang ini bukan untuk kepentingan mengejar teknologi, efisiensi, kepraktisan, menurut saya kita bisa keberatan dengan cara itu.

Tolong Bapak-bapak mencari data-data ini secara lebih detail, supaya kita ini tahu persis sebetulnya apa yang dimaui oleh Kerajaan Saudi Arabia disini, tanpa dengan kita berniat mencampuri urusan dalam negeri mereka. Ini beberapa hal yang menurut saya penting untuk jadi catatan.

Sisi yang lain, barangkali ini saya mumpung ketemu dengan Bapak-bapak dari Imigrasi, Luar Negeri, ini forum yang tidak mudah, ada banyak pertanyaan yang juga sampai ke kami di Komisi I. Misalnya soal proses imigrasi atau proses ke luar negeri di Soekarno-Hatta, itukan sudah ada yang pakai digital yang bisa self service, dan ada yang manual, harus dilayani analog oleh petugas.

Kemarin saya mendapat keluhan dari konsituen kami, ketika beliau mau berangkat ke luar negeri, kalau tidak salah mau umroh, dia awalnya dianjurkan untuk self service pelayanan imigrasi di Soekarno-Hatta. Dia scan paspornya, tapi tidak bisa keluar. Dia datang ke petugas. Oleh petugas di tanya namanya siapa. Namanya Muhammad Kasuba. Terus petugasnya mengatakan

“ini karena nama Bapak ada Muhammad nya, jadi tidak bisa”. Pertanyaan saya, apakah benar ini?

Karena ini peristiwanya faktual. Kalau ini benar alat ini kemudian melakukan tindakan tidak adil/tidak fair kepada nama-nama tertentu yang di sided disitu menurut saya ini tidak bagus, ini akan melanggar HAM.

Yang kedua, nama yang di blacklist disitu nama ‘Muhammad’. Ini nama Nabi Pak, Nabi yang kami hormati. Dan kalau Bapak-bapak ini Muslim, itu juga Nabi kita bersama, kenapa itu dijadikan blacklist. Kalau betul-betul terjadi, ini sangat ironi di negara Indonesia yang menjunjung tinggi Pancasila, sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa, Agama Islam agama mayoritas disini. Mohon ini di kasih penjelasan. Jangan sampai ini menjadi persoalan yang lebih serius.

Saya ingat Muhammad Ali yang petinju paling top di dunia. Orang-orang top, artis-artis, mereka ini dulu di minta untuk mencetak telapak kakinya di hall of fame, itu dia tidak mau Pak.

Alasan dia sederhana. Kalau saya cetak telapak kaki saya disitu akan di tulis nama saya

‘Muhammad Ali’. ‘Muhammad’ itu nama Nabi besar junjungan kami, kami tidak rela nama

‘Muhammad’ itu di taruh di lantai dan berpotensi di injak-injak orang. Itu Muhammad Ali, bagaimana kita/negara kita menciptakan satu sistem yang menolak nama ‘Muhammad’. Kalau itu benar, ini akan menjadi persoalan yang serius. Tolong ini kami diberi keterangan sebaik-baiknya, sebenar- benarnya. Saya punya harapan ini tidak benar.

Yang ketiga ini melenceng sedikit, Pak Pimpinan. Tapi karena mitra kita pas, terkait juga soal biometrik. Tapi, Pak Andri, Bapak-bapak dari Imigrasi, ini kami dalam kunjungan ke Amerika beberapa waktu yang lalu, kebetulan pas ada pameran disitu, ada juga dari KBRI pasang stand untuk melayani pengurusan perpanjangan visa. Ini kasusnya biometrik juga. Jadi WNI disitu banyak datang ngambil foto, sidik jari untuk dapat pelayanan perpanjangan paspor.

Persoalannya adalah, dengan adanya sistem biometrik yang alatnya terbatas itu, WNI itu juga harus datang ke tempat-tempat dimana alat itu berada. Sedangkan di negara seluas Amerika itu, sama luasnya dengan Indonesia, kalau berangkat dari satu tempat ke tempat lain harus naik

(18)

18

pesawat, sama. Dulu cukup mengirim data selesai dengan hardcopy. Tapi sekarang harus datang dengan biometrik. Alatnya terbatas. Hanya di LA, di Washington, dan ada beberapa. Itupun tidak bisa langsung secepatnya karena harus konfirmasi data online ke Jakarta, Kemlu, kemudian ke Imigrasi, baru dapat kesana. Sekian hari kemudian baru orang yang bersangkutan datang untuk ambil foto, ambil sidik jari. Sehingga proses ini menyulitkan WNI Pak.

Kita paham kemauannya, tapi prosesnya ini. Karena infrastruktur, sama yang dialami dengan Kedutaan Saudi, yang belum memadai. Baik keterbatasan alat-alat biometrik di Amerika yang kita miliki, kota-kota yang menjadi ketempatan itu terlalu sedikit, sehingga WNI harus travel jauh. Yang kedua, servernya yang ada di Kemlu maupun di Imigrasi juga crowded. Kan disana tidak bisa mengiyakan perpanjangan paspor kalau belum diiyakan oleh Kemlu dan Imigrasi di Jakarta. Sedangkan data-data itu ternyata transportasinya, walaupun sudah online, karena keterbatasan server dan kapasitas menjadi sangat rendah. Kami berharap ini segera dicarikan solusi. Kami tanya dari kedutaan alat-alat scanner dan sebagaiya, komputer, networking, itu ranahnya Imigrasi, bukan Kemlu. Ketika mereka minta untuk diperbanyak mereka malah di minta untuk mengajukan proposal, sedangkan urusan pengadaan, harga, macam-macam, mereka tidak tahu menahu, sehingga mereka ini akan kesulitan.

Saya dalam hal ini menjembatani komunikasi saja bagaimana agar Kemlu dengan Imigrasi ini cari solusi. Bukan hanya WNI yang ada dalam negeri Indonesia yang urusan biometrik ini, WNI kita yang ada di luar negeri juga susah urusan biometrik oleh pemerintah kita sendiri karena keterbatasan infrastruktur yang kita miliki dan kebijakan yang kita terapkan kaku seperti Kedutaan Saudi di Indonesia. Jadi kalau kita komplain-komplain urusan infrastruktur, ketidaksiapan sistem, sarana/prasarana, macam-macam, itu kita alami juga di luar negeri untuk WNI kita sendiri. Jadi ini tolong sama-sama. Bapak komplain ke Saudi, saya komplain ke Bapak untuk WNI, tolong kita bareng-bareng perbaiki ini persoalan.

Terima kasih Pimpinan.

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Terima kasih Pak Sukamta.

Kita lanjutkan, Bapak Doktor Hidayat Nur Wahid. Silakan, Pak Hidayat.

F-PKS (DR. H. M. HIDAYAT NUR WAHID, M.A.):

Terima kasih.

Pimpinan, Rekan-rekan Anggota Komisi I yang saya hormati;

Rekan-rekan dari mitra Komisi I, dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Agama, dari Kementerian Hukum dan HAM, dan juga dari BKPM yang semuanya saya hormati.

Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semuanya.

Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan semuanya, mitra-mitra kerja kami dari Kemenlu, dari Kementerian Agama, BKPM, dan juga dari Kemenkumham. Tadi semuanya sudah menyampaikan permintaan maaf dari masing-masing pihak karena ketidakhadiran dari yang kita harap hadir.

Jadi yang ingin saya dapatkan informasi yang juga mohon di declare atau ditegaskan disini adalah bahwa Bapak-bapak hadir memang bukan sekedar hadir mewakili tapi juga mempunyai kewenangan atau diberi kewenangan penuh untuk mewakili lembaga sehingga jawaban dan/atau apa yang disampaikan disini adalah betul-betul mewakili lembaga, sehingga jangan sampai rapat kita ini ternyata tidak mempunyai aspek legal dari sisi kewenangan pengambilan keputusan.

Karena kita mengetahui bahwa biasanya yang menjadi mitra daripada masing-masing komisi adalah yang di undang. Kalau diwakilkan itu seharusnya memberikan sebuah klarifikasi tersendiri.

(19)

19

Jadi karena Bapak sudah hadir dan sudah menyampaikan sekian banyak informasi atau klarifikasi dari yang kami harapkan, maka kami harapkan ada penegasan bahwa Bapak-bapak memang mewakili dan sekaligus diberi kewenangan untuk menjawab dan mengambil keputusan bila diambil keputusan, dan akan melanjutkan nantinya kepada para menteri dan/atau para pengambil keputusan, terutama di lembaga Bapak masing-masing. Ini untuk semuanya.

Yang kedua, kami melakukan rapat kerja ini juga sesungguhnya karena dalam fungsi kami sebagai wakil rakyat. Kami memang mendapatkan begitu banyak keluhan, masukan, termasuk juga aspirasi yang langsung disampaikan oleh para pihak, baik itu calon jama’ah umroh maupun lembaga-lembaga penyelenggara umroh. Jadi ini kami tidak asal-asalan menyelenggarakan kegiatan ini, tapi melaksanakan salah satu fungsi daripada wakil rakyat yaitu melakukan advokasi terhadap apa yang menjadi kepentingan dari rakyat yang kami wakili semuanya. Dan apalagi informasi ini sudah tidak lagi menjadi rahasia, tapi sudah menjadi rahasia umum, karena memang sudah terinformasikan di media-media. Dan memang sudah juga menghadirkan tadi keluhan- keluhan karena memang terjadinya begitu banyak masalah di tingkat lapangan.

Tasheel itu bahasa Arab, maknanya adalah mempermudah. Tapi yang dirasakan oleh para calon jama’ah umroh dan/atau lembaga atau yayasan ataupun pihak-pihak pengelola jama’ah umroh ini bukan Tasheel, tapi Tas’iid, alih-alih mempermudah malah mempersulit. Dan itu bisa kita bayangkan.

Jama’ah umroh dari Indonesia memang tidaklah yang terbesar di dunia. Terima kasih dari Kementerian Agama kita di beri data-data ini di halaman yang keempat, bahwa jumlah jama’ah umroh yang terbesar itu datangnya dari Pakistan, ada 1 juta 683 ribu 589 orang. Dari Indonesia ada terbesar kedua, 1 juta 700 ribu 651 jama’ah, dan begitu seterusnya.

Disini juga Kementerian Agama menyampaikan data yang sangat membantu bagaimana perkembangan setiap tahun daripada jama’ah umroh Indonesia itu dahsyat. Tahun 1437, tiga tahun yang lalu, jumlah jama’ah umroh baru 699 ribu, dua tahun yang lalu 1.438, naik menjadi 876 ribu. Tahun yang lalu naik lagi, dari 876 ribu menjadi 1 juta 17 ribu. Dan ini kecenderungannya akan naik terus, hampir tidak ada kecenderungan untuk menjadi menurun. Maksudnya adalah, kita mengetahui bahwa untuk penyelenggaraan umroh maka Saudi Arabia hanya membuka 10 bulan untuk penyelenggaraan umroh itu sendiri, karena dua bulan pasti akan dipergunakan untuk kegiatan haji. Dengan asumsi bahwa jama’ah umroh kita 1 juta orang saja, maka setiap hari dengan 10 bulan itu berarti ada sekitar 30 ribu permintaan visa umroh yang harus dilayani oleh Tasheel tadi itu. 30 ribu tentu bukan jumlah yang sedikit. Dan itu setiap hari.

Dan pengalaman saya, saya sudah kena masalah ini, itu tidak begitu kita datang dan selesai kan Pak. Dan bahkan ada persyaratan yang tidak diketahui sebelumnya misalnya. Seluruh urusan sudah selesai tiba-tiba kami di telepon ada yang kurang. Saya tidak dalam posisi umroh, saya mendapatkan visa untuk seminar di Saudi Arabia, dan visa saya adalah visa ziarah, tapi dikenakan ketentuan visa umroh. Karena saya di undang dengan istri saya maka saya akan berangkat dengan istri. Jadi kata pihak Tasheel ada syarat baru, yaitu harus menyertakan buku nikah. Butuh nikah inipun harus di legalisir oleh Kementerian Agama dan Kementerian Hukum dan HAM. Bisa kita bayangkan ya, kalau ini berlaku juga untuk, Wakil Ketua MPR saja berlaku ini Pak, kalau yang lain-lain juga berlaku saya tidak bisa bayangkan surat-surat kita yang jama’ah haji dari Papua, dari Aceh, dari Kalimantan, dan mereka suami/istri, mereka mungkin kebingungan kemana harus melakukan yang namanya penyelesaian dokumen-dokumen mereka itu. Jadi apa yang kemudian dikeluhkan oleh kawan-kawan ini bukan lagi tasheel/mempermudah, tapi menjadi tas’iid/mempersulit, itu menjadi nyata.

Karenanya tadi yang disampaikan oleh Bapak-bapak tentu kami apresiasi, Bapak sudah mencoba untuk mencarikan solusi terhadap masalah yang ada, sudah mencoba mengkomunikasikan kepada pihak Pemerintah Saudi. Tapi menurut saya sepertinya perlu lebih tajam dan lebih fokus lagi. Karena nyatanya kan belum selesai, nyatanya masalah ini tetap saja menjadi masalah.

Kalau tadi disebutkan oleh BKPM bahwa mereka sudah membuka di 35 daerah, dan kemudian sudah melayani 6 ribu sampai 9 ribu visa umroh, itukan prestasi yang amat sangat kecil.

Padahal asumsinya kalau dengan 1 juta orang tahun yang lalu, satu hari saja harusnya sekitar 30

(20)

20

ribu permintaan. Ini baru 6 ribu sampai 9 ribu. Belum lagi memang fakta-fakta di lapangan kita juga dikirimi foto-foto tentang bagaimana kondisi antrian yang sangat panjang di luar yang di Kuningan, itu tentu sekali lagi menyulitkan. Jadi yang kita harapkan disini adalah betul-betul.

Dan tadi dari BKPM menyampaikan bahwa besok akan rapat koordinasi dengan beragam pihak, termasuk juga dengan mengundang Kementerian Dalam Negeri, sehingga ini menjadi bagian yang penting untuk dilibatkan. Karena yang kita baca di media ada silang sengketa antara Kementerian Dalam Negeri dengan pihak BKPM. Kata Kementerian Dalam Negeri ini tidak benar ini pola pengijinan kegiatan semacam ini. Mengambil data dari warga Indonesia harusnya itu semuanya melalui dan/atau direkomendasikan dan/atau dijinkan oleh Kementerian Dalam Negeri, tapi Kementerian Dalam Negeri malah sepertinya dilompati. Jadi saya berharap bahwa besok juga Kementerian Dalam Negeri juga dilibatkan, sehingga saya berharap dari rapat kerja bersama besok itu betul-betul akan menghadirkan satu sikap yang sangat kuat dan menyatu dari pihak Indonesia untuk betul-betul menyelesaikan masalah ini.

Penyelesaian yang tadi diajukan tentang misalnya untuk agar pengambilan dari rekan biometrik itu di airport saya kira itu salah satu solusi yang masuk akal. Dan itu tidak menyulitkan.

Yang tadi disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri, mereka sudah datang, dan otomatis. Jadi fokuskan saja kesitu bahwa usulan Indonesia adalah iya, oke, kalau pihak Saudi menghendaki itu.

Tapi jangan dia menjadi persyaratan untuk mendapatkan visa umroh. Karena kan kalau dapat visa itukan sudah selesai dengan mekanisme yang umum. Tapi bahwa diperlukan katakanlah data tambahan untuk kepentingan Saudi ya monggo saja. Itu kemudian berlakukanlah itu di tempat yang memudahkan semuanya sesuai dengan prinsip tasheel tadi itu Pak.

Dan nomor dua yang juga perlu disampaikan adalah, tadi rekan-rekan sudah menyampaikan bahwa, mengapa jama’ah umroh sangat banyak. Selain ekonomi yang membaik, Insya Alloh. Juga karena keinginan beragama yang lebih baik dan meningkat, Insya Alloh. Tapi juga karena fakta memang untuk berhaji itu memerlukan antrian yang sekarang amat sangat panjang. Dan umroh itu memang dalam fiqih di sebut sebagai haji kecil. Jadi kalau haji itu adalah haji besar, maka umroh adalah haji kecil. Jadi ya sudahlah sambil nunggu haji yang benar atau haji besarnya itu ya haji kecilnya dulu. Kalau kemudian untuk haji kecil pun juga mendapatkan kesulitan yang sedemikian rupa, terus apa bedanya dengan menunggu antrian yang sangat panjang itu.

Dan terakhir, tentu saja karena ini adalah permasalahan terkait dengan masalah spiritualitas, umroh itu adalah masalah keberagamaan, maka tentu dalam konteks ini agama Islam mengajarkan ‘siapapun yang menolong hambanya maka Alloh akan menolong dia yang menolong hamba itu’. Kalau kita menolong jama’ah umroh ini untuk bisa mendapatkan kemudahan dalam umroh dan visanya Insya Alloh para jama’ah umroh juga nanti disana akan mendo’akan Bapak dan rekan-rekan semuanya, termasuk untuk Indonesia untuk menjadi baldatun thoyyibatun wa roofun ghofuur. Dan itu satu hal yang pasti akan dilakukan begitu mereka tahu bahwa ternyata memang Indonesia betul-betul hadir untuk menyelesaikan masalah mereka dan berpihak kepada kepentingan mereka dan menyelesaikan secepatnya sesuai dengan prinsip dari lembaga yang di sebut sebagai tasheel itu, memudahkan, dan jangan malah menjadi menyulitkan.

Terima kasih Pak. Dan mudah-mudahan besok rapatnya sukses menghadirkan satu sikap yang betul-betul kuat dari Indonesia untuk kemudian masalah ini selesai dan tidak menjadi masalah baru yang tidak kita inginkan semuanya.

Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Wa’alaikumsalaam.

Terima kasih Pak Hidayat Nur Wahid.

Mungkin masih ada? Pak Supiadin, silakan Pak Supiadin.

Referensi

Dokumen terkait

RAWATAN KANSER PESAKIT LUAR TAHUNAN Jika Orang Yang Diinsuranskan didiagnosis menghidap kanser seperti yang tertakluk di dalam Definasi Penyakit Kritikal, Syarikat akan

Sistem pendukung keputusan yang dilakukan pada UD Sembodo masih bersifat konvensional yang hanya didasarkan pada unsur pengalaman selama bermitra bisnis dan

Metode Penelitian Sosial Ekonomi 1 II/4/Agri A1+A2 61 Rika Fitri Elvira,SP.,M.Si.. Gustami

Hasil penerapan model pembelajaran Mastery Learning terhadap penguasaan kompetensi dasar mengaktualisasikan kemerdekaan mengemukakan pendapat secara bebas dan

Kasdan birkaç soru daha sordu, ama çocukça cevaplardan başka bir şey

Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama

Perubahan terminologi atau istilah anak berkebutuhan khusus dari istilah anak luar biasa tidak lepas dari dinamika perubahan kehidupan masyarakat yang berkembang saat ini,

Setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan secara seimbang. Setiap orang tidak bisa menggunakan haknya secara semena-mena karena dibatasi oleh hak