• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Abu Hamid al-ghazali dan Robert Frager Tentang Hati

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Konsep Abu Hamid al-ghazali dan Robert Frager Tentang Hati"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

Konsep Abu Hamid al-Ghazali dan Robert Frager Tentang Hati

SKRIPSI

Diajukan Untuk Mencapai Gelar Sarjana Agama (S.Ag) Oleh:

Herlin Agustini (11160380000013)

PRODI ILMU TASAWUF FAKULTAS USHULUDDIN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2021 M/1443 H

(2)

Yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : Herlin Agustini NIM : 11160380000013

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul KONSEP ABU HAMID AL-GHAZALI DAN ROBERT FRAGER TENTANG HATI adalah benar merupakan karya saya sendiri dan tidak melakukan tindak plagiat dalam penyusunannya.

Adapun kutipan yang ada dalam penyusunan karya ini telah saya cantumkan sumber kutipannya dalam skripsi. Saya bersedia melakukan proses yang semestinya dengan peraturan perundangan yang berlaku jika ternyata skripsi ini sebagian atau keseluruhan merupakan plagiat dari karya orang lain.

Demikian pernyataan ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

(3)

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI KONSEP ABU HAMID AL-GHAZALI DAN ROBERT

FRAGER TENTANG HATI Skripsi

Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag) Oleh:

Herlin Agustini 11160380000015

Dosen Pembimbing

Prof. Dr. H. Kautsar Azhari Noer NIP: 195103041982031003

PROGRAM STUDI ILMU TASAWUF FAKULTAS USHULUDDIN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

SYARIFHIDAYATULLAH JAKARTA

1442/2021

(4)

Skripsi berjudul “KONSEP ABU HAMID AL-GHAZALI DAN ROBERT FRAGER TENTANG HATI” diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan lulus dalam ujian munaqasah pada 31 Maret 2021 dihadapan dewan penguji.

Jakarta, 31 Maret 2021 Sidang Munaqasah

Ketua Merangkap Sekertaris Merangkap

Anggota Anggota

Ala’i Nadjib, MA Aktobi Gozali, MA NIP: 197112052005012004 NIP: 197305202005011003

Anggota,

Penguji I Penguji II

Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara Dr. Edwin Syarip, M.Ag NIP: 195906111986031002 NIP: 196709181997031001

Mengetahui Pembimbing

Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer NIP: 195103041982031003

(5)

iv

DAFTAR TRANSLITERASI

Arab Indonesia Inggris Arab Indonesia Inggris

ا A A ظ ẓ ẓ

ب B B ع ‘ ‘

ت T T غ Gh Gh

ث Ts Th ف F F

ج J J ق Q Q

ح ḥ ḥ ك K K

خ Kh Kh ل L L

د D D م N N

ذ Dz Dh ن M M

ر R R و W W

ز Z Z ه H H

س S S لا ’ ’

ش Sy Sh ء Y Y

ص ṣ ṣ ي H H

ض ḍ ḍ

ط ṭ ṭ

Vokal Panjang

Arab Indonesia Inggris

آ Ā Ā

ىإ Ī Ī

وأ Ī Ī

(6)

v

ABSTRAK

Kajian dalam penelitian ini memfokuskan pada konsep Abu Hamid al-Ghazali tentang hati dalam kitabnya Ihyâ’

‘Ulûmuddîn dan konsep Robert Frager tentang hati dalam bukunya yang berjudul Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony. Hati menurut al-Ghazali adalah sesuatu yang halus (lathifah) yang bersifat ketuhanan (Rabbânîyyah), dan ruhaniyyah (tidak berbentuk), yang berkaitan dengan hati secara fisik. Sedangkan hati menurut Robert Frager adalah hakikat spiritual batiniah yang menyimpan percikan atau ruh ilahiah di dalam diri manusia. Dengan menggunakan metode studi komparatif atau perbandingan, penulis menemukan bahwa yang dimaksud hati dari kedua tokoh tersebut sama. Di mana hati di sini bukan hati dalam pengertian secara fisik, namun hati spiritual.

Di dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data didasarkan pada studi kepustakaan (Library Research). Yakni proses pengidentifikasian secara sistematis penemuan-penemuan dan analisis dokumen-dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologis fungsional, dengan memaparkan secara mendalam tentang Konsep Abu Hamid al-Ghazali dan Robert Frager Tentang Hati serta pengaruhnya terhadap perilaku manusia.

Kata Kunci: Hati, Abu Hamid al-Ghazali, Robert Frager

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahnya, sehingga penulis bisa menyelesaikan penulisan skripsi ini dalam rangka memenuhi persyaratan memperoleh Sarjana Strata Satu Agama dalam Ilmu Tasawuf pada Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sebagai suatu kewajiban akademisi yang terakhir, semoga karya ilmiah ini bisa disebut sebagai perwujudan formal dari akumulasi pengetahuan, teori, dan wawasan yang penulis dapatkan selama ini. Demikian penulis berharap skripsi ini menjadi awal dari kewajiban ilmiah di masa yang akan datang.

Atas terselesainya karya ilmiah ini tidak lepas dari bantuan moril dan materil dari berbagai pihak.

Selain dari pada itu, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc., M.A. selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. M. Yusuf Rahman, M.A. Selaku Dekan Fakultas Ushuluddin

3. Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer selaku Dosen Pembimbing tunggal dalam penulisan skripsi ini.

(8)

4. Ala’i Nadjib M.A. dan Aktobi Ghozali M.A. Selaku ketua dan sekertaris Program Studi Ilmu Tasawuf.

5. Prof. Dr. Sri Mulyati, M.A. sebagai Dosen Pembimbing Akademik (PA) yang telah memberikan arahan serta nasehatnya terhadap penulisan skripsi ini.

6. Dr. Wiwi Sajaroh yang sudah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan kepada penulis.

7. Akbari & Syafi’a, kedua orang tua yang selalu memberikan motivasi dan doanya selama perjalanan penulis menuntut ilmu di manapun penulis berada. Serta saudara-saudaraku tercinta innani, Abdul Kholik, dan Aditia. Tak lupa nenekku tercinta yang selalu mendoakan kelancaran skripsi ini.

8. Sahabat-sahabat Ilmu Tasawuf (IT) 2016 tanpa terkecuali, yang sudah banyak membantu dan memberikan semangat.

9. Kakak-kakaku, Farida, Imam, Fiki, yang selalu memberikan semangat dan dukungannya selama penulisan skripsi ini.

10. Terima kasih kepada teman-teman saya, Ikrima, Nadia, Wulan, Rifa, dan Resti yang selalu mendukung dan memberikan semangat selama proses penulisan skripsi ini.

11. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang turut membantu dalam perjuangan penulis dengan sengaja maupun kebetulan. Terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan. Semoga kita dirahmati Allam SWT. Amin

Semoga Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang selalu melimpahkan rahmat-Nya dan ridho-Nya.

(9)

Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat dan dapa memberikan wawasan pengetahuan bagi siapapun yang berkesempatan membacanya.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Jakarta, 12 Maret 2021

(10)

ix DAFTAR ISI

Lembar Pernyataan Keaslian Karya ... i

Lembar Persetujuan Pembimbing ... ii

Halaman Pengesahan ... iii

Daftar Pedoman Transliterasi ... iv

Abstrak ... v

Kata Pengantar ... vi

Daftar Isi ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Batasan Masalah ... 8

C. Rumusan Masalah ... 8

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9

E. Tinjauan Pustaka ... 11

F. Metode Penelitian ... 12

BAB II KONSEP AL-QURAN TENTANG HATI A. Pengertian Hati Secara Bahasa dan Istilah ... 16

B. Konsep Hati dalam Al-Quran ... 17

1. Pengertian Hati dalam Al-Quran ... 17

2. Yang Dimaksud Hati dalam Al-Quran... 23

3. Macam-Macam Hati dalam Al-Quran ... 24

4. Kekuatan Hati Menurut Al-Quran ... 27

BAB III KONSEP ABU HAMID AL-GHAZALI TENTANG HATI A. Biografi Al-Ghazali ... 31

B. Latar Belakang Pendidikan Al-Ghazali ... 33

C. Karya-Karya Al-Ghazali ... 35

D. Konsep Abu Hamid Al-Ghazali Tentang Hati ... 36

1. Makna Hati ... 36

2. Empat Unsur Hati ... 38

3. Tentara-Tentara Hati ... 41

(11)

4. Hati Sebagai Cermin ... 47

5. Sifat-Sifat Hati ... 50

6. Fungsi Hati ... 54

7. Unsur-Unsur Manusia ... 55

BAB IV KONSEP ROBERT FRAGER TENTANG HATI A. Biografi Robert Frager ... 59

B. Latar Belakang Pendidikan Robert Frager ... 60

C. Karya-Karya Robert Frager ... 61

D. Konsep Robert Frager Tentang Hati ... 62

1. Makna Hati ... 62

2. Hubungan Antara Hati Batiniah dan Hati Jasmaniah 65 3. Empat Stasiun Hati ... 68

4. Hati Adalah Cermin ... 77

5. Cahaya Hati ... 78

6. Unsur-Unsur Manusia ... 82

BAB V PERBANDINGAN ANTARA KONSEP ABU HAMID AL-GHAZALI DAN ROBERT FRAGER TENTANG HATI A. Hati Menurut Al-Ghazali dan Robert Frager ... 85

B. Jiwa Manusia ... 87

C. Hati dan Akal ... 93

D. Hati Merajai Kota Nafs ... 99

E. Fungsi Hati ... 101

F. Urgensi Hati Bagi Manusia ... 103

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan ... 107

B. Saran ... 110

DAFTAR PUSTAKA ... 112

(12)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya, manusia dianugerahi hati oleh Allah sebagai alat utama untuk bisa mengenal-Nya. Baik buruknya seseorang di hadapan Allah ditentukan oleh hatinya. Hati nurani merupakan alah satu aspek terdalam pada jiwa manusia yang senantiasa menilai benar salahnya perasaan, niat, angan-angan, pemikiran, hasrat, sikap, dan tindakan seseorang, terutama dirinya sendiri.1

Hati juga yang membuat manusia mampu meraih kesuksesan, baik dunia maupun akhirat. Apabila hati orang tersebut bersih dan terjaga, maka keseluruhan yang ada pada dirinya akan menampakkan cahaya kebaikan.

Hati menjadi esensi dari setiap perilaku dan kehidupan manusia, jika hati manusia itu baik, maka perilaku orang tersebut akan baik. Akan tetapi, jika hatinya buruk maka ia akan berakibat negatif pula bagi perilakunya. Oleh karena itu, penyakit hati dapat merusak Gambaran dan kehendak hati.2

Adapun kemuliaan dan keutamaan manusia dibandingkan makhluk lainnya adalah manusia memiliki akal dan hati. Dengan

1 Bustaman, Hanna Djumhana, Integrasi Psikologi dan Islam, (Yigyakarta: Insan Kalmil-Pustaka Pelajar Offset, 2001), hal.147.

2Ibnu Taymiyah, Terapi Penyakit Hati, (Jakarta: Gema Insani, 1998), hal.78

(13)

pertolongan akal dan hatilah manusia dapat mengenal Allah dan dapat memperoleh ilmu tentang Allah beserta sifat-sifat-Nya.

Seperti perumpamaan al-Ghazali yang mengibaratkan hati seperti seorang raja, sedangkan anggota badan adalah prajuritnya.

Bila rajanya baik, maka akan baik pula urusan prajuritnya, begitu pun sebaliknya.3 Hati adalah standar kebaikan amalan badan. Ia ibarat pemimpin bagi badan.

Diantara ulama yang konsen dalam kajian akal dan hati adalah Abû Hâmid bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazaâli Al-Thusi, atau yang biasa dikenal dengan sebutan al-Ghazali.

Menurut pandangan al-Ghazali, akal dan hati tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya sebagaimana substansi- substansi lainnya seperti nafs dan ruh, dan inilah yang al-Ghazali sebut sebagai jiwa (nafs).4

Jiwa, akal, hati, dan roh merupakan hakikat manusia itu sendiri. Oleh karenanya, al-Ghazali menamakan jiwa/nafs/soul sebagai essensi (jauhar) bukan aksiden (‘ard). Perbedaan hanya pada posisi dan fungsi masing-masing substansi. Namun, akal dan hati yang selanjutnya memberi karakteristik pada jiwa dan roh, serta seluruh tingkah laku dan perbuatan manusia.

Namun, menurut pandangan al-Ghazali kaum empirisme telah membatasi pengetahuan hanya pada indera saja, dimana hal

3Imam al-Ghazali, Mukhtasar Ihya’ Ulumuddin, cetakan 1, (Beirut:

Muassasah al-Kutub Al-Tsaqafiyyah, 1410/1990), Hal.135

4Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam Studi Tentang Elemen Psikologi dari Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), Hal. 113-114.

(14)

inilah yang mempersempit Rahmat Allah Swt. yang luas, sehingga kesadaran mereka untuk menemukan kebenaran sulit dipecahkan. Begitu pun kaum rasionalise, di mana mereka sangat mengandalkan kekuatan “akal,” padahal kemampuan akal terbatas.

Seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun, di mana akal tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menilai persoalan- persoalan ketuhanan, emosional, perkara-perkara akhirat dan semacamnya. Namun jika hal tersebut tetap dipaksakan, maka seperti timbangan emas yang dipergunakan oleh pemiliknyauntuk menimbang gunung.5

Di dalam al-Quran juga telah dijelaskan bahwa manusia diberikan kesempurnaan untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Kesempurnaan tersebut telah dibekali oleh Allah dua serangkai yang saling bekerja sama, yaitu akal dan hati. Kedua elemen tersebut yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lainnya.

Di mana akal dan hati ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Sesuatu yang tidak bisa dicapai dengan akal dapat diperoleh dengan hati.

Begitu juga sebagian besar sufi menilai bahwasanya akal manusia tidak mampu mencapai hakikat Allah Swt. dan al- Qur’an menjelaskan bahwa kelemahan akal bisa ditutupi oleh hati yang damai. Seperti dalam firman Allah;

5Fu’ad Farid Isma’il & Abdul Hamid Mutawalli, Cara Mudah Belajar Filsafat (Barat dan Islam), Cet.I, (Jogjakarta: Ircisod, 2012), Hal.189

(15)

“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati damai.” Jadi, hati yang damai (bi qalb salīm) mampu datang dan menghadap kepada Allah Swt. (QS.Al-Syu’ara/ 26:89 ).6

Hati merupakan salah satu sarana yang digunakan oleh para sufi dalam berbagai karya-karya mereka untuk menemukan ilmu lebih banyak. Salah satunya adalah al-Ghazali, ia telah membahas hakikat hati dalam kitabnya Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn. Al- Gazali menjelaskan bahwa hati (qalb) bermakna ganda.

Pertama, hati adalah “daging yang berada di dalam dada sebelah kiri. Dalam daging tersebut terdapat lubang, dalam lubang tersebut terdapat darah berwarna hitam yang menjadi sumber ruh. Hati semacam ini juga terdapat pada binatang.”Kedua, sesuatu yang halus, dan bersifat ketuhanan (rubbaniyah), ruhaniyah (ruhaniyyah), dan memiliki kaitan dengan ruh. Makna hati yang kedua iniadalah hakikat manusia.7

Al-Ghazali memaknai qalb sama halnya dengan ‘aql, yakni “yang mengetahui ilmu yaitu hati yang halus, dan ilmu tentang hakikat – hakikat perkara. Ada pun akal itu adalah sifat ilmu dan terletak di hati,” dan hati itu sendiri berkaitan dengan ruh, “tubuh yang halus dan sumbernya adalah lubang hati jasmani, lalu tersebar dengan perantara urat-urat yang masuk ke bagian

6Ja’far, Gerbang Tasawuf, (Medan: Perdana Publishing, 2016), hal.34

7Imam al-Ghazali, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin/ Imam AL-Ghazali/

penerjemah: ‘Abdul Rosyad Siddiq, Cet.III, (Jakarta: Akbar Media, 2008), Hal.222

(16)

jasad yang lain,” dan “yang halus dari manusia tempat mengerti dan mengetahui.”8

Jadi hati itu terdiri dari dua bentuk, yakni hati bersifat jasmani dan hati yang bersifat ruhani. Menurut paham al-Ghazali, hati mampu menyaksikan dan meraih ilmu tentang wujud-wujud spiritual. Sama halnya dengan hati yang dibahas oleh Robert Freger dalam bukunya yang berjudul Heart, Self, & Soul.

Robert Freger dalam bukunya menjelaskan bahwa hati di dalam bahasa Arab disebut qalb, artinya jantung. Ada qalb jasmani (jantung), ada qalb ruhani (hati). Hati berfungsi hamper sama dengan jantung. Jantung terletak di titik pusatbatang tubuh, sedangkan hati terletak diantara nafs (diri rendah/ jiwa) dan ruh.

Jika qalb jasmani (jantung) mengatur fisik, qalb ruhani (hati) mengatur psikis.9

Hati maksudnya adalah hakikat spiritual batiniah kita, bukan hati dalam bentuk fisik. Hati kita adalah sumber cahaya batiniah, inspirasi, kreativitas, dan belas kasih. Seorang sufi sejati hatinya selalu terjaga, hidup, dan dilimpahi cahaya. Seorang guru sufi menuturkan, “Jika kata-kata berasal dari hati, ia akan masuk

8Imam al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn vol. III, (New Delhi: Islamic Book Service, 2006), hal.7-9

9Robert Freger, Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony, (United States of Amerika: publication of The Theosophical Publishing House, 1999), hal.23

(17)

ke dalam hati. Namun jika kata-kata yang keluar hanya melalui lisan, maka hanya terlintas di pendengaran saja.”10

Seseorang akan mampu melampaui permukaan luar dan merasakan apa yang tersembunyi, ketika dada orang tersebut telah dibersihkan dan hatinya telah terbuka. Nabi Muhammad bersabda, “Ada dua jenis pengetahuan: yakni pengetahuan lidah dan pengetahuan hati yang benar-benar berharga.” Seperti yang kita tahu, pengetahuan di Barat terlalu menekankan pada pengetahuan lidah, atau mempelajari buku – salah satu tingkat kecerdasan buatan.11

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hati yang dimaksud oleh al-Ghazali dan Robert Freger adalah hati yang halus yang merupakan hakikat spiritual batiniah manusia, bukan hati dalam makna fisik (jantung). Di mana hati adalah sumber cahaya batiniah, kreativitas, inspirasi, dan belas kasih.

Adapun alasan penulis mengangkat tokoh al-Ghazali dan Robert Freger dalam penelitian konsep hati ini dikarenakan beberapa alasan yang kuat. Alasan penulis memilih Al-Ghazali karena ia adalah salah satu Sufi terkenal yang membahas hati dalam kitabnya yang berjudul Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn. Tak hanya itu, selain sebagai seorang sufi, al-Ghazali juga dikenal sebagai tokoh psikolog. Ia juga mampu mengkombinasikan psikologi dengan akhlak dan agama.

10Robert Freger, Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony , hal. 22.

11Robert Freger, Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony, hal. 29.

(18)

Di lingkaran akademisi Barat, al-Ghazali dianggap sebagai psikolog. Dalam the Oxford Handbook of The History of Psychology and A History of Psychology: the Emergency of Science and Aplications, nama al-Ghazali disebut sebagai tokoh yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan psikologi.

Salah satu teori al-Ghazali yang umum diketahui ialah “Jiwa memiliki motivasi untuk bergerak dan sensor untuk memenuhi kebutuhan tubuh kasarnya.”12

Begitu juga penulis memilih tokoh Robert Freger karena beberapa alasan. Robert Freger merupakan pakar psikologi transpersonal asal Amerika Serikat. Selain sebagai seorang psikolog, ia juga seorang sufi yang dibai’at sebagai Syaikh atau mursyid tarekat halveti-jerrahi order di California, Amerika Serikat.

Tarekat Halveti-Jerrahi (atau yang kita kenal dengan Tarekat Khalwatiyyah Jerrahiyah). Tarekat ini merupakan tarekat yang berasal dari silsilah Halveti (Khalwatiyyah), yakni cabang dari Tarekat Halveti di Turki. Pendirinya adalah Hazreti Pir Nureddin al-Jerrahi yang lahir pada 1678 di distrik Jerrah Pasha di Istanbul, dan mendirikan Tarekat Halveti-Jerrahi di kota itu pada tahun 1703.13

12David B. Baker, the Oxford Handbook of The History of Psychology, (New York: Oxford University Press, 2012), hal.444

13Robert Frager, Obrolan Sufi: untuk Transformasi Hati, Jiwa, dan Ruh, terj. Hilmi Akmal,Sufi Talks: Teachings of an American Sufi Sheikh, (Jakarta: Zaman, 2014), hal.15.

(19)

Tarekat Halveti sendiri didirikan delapan ratus tahun silam di Khurasan (bagian Barat Afghanistan). Pusat tarekat ini berada di Karagumruk, Istanbul. Tak hanya itu saja, tarekat Halveti juga memiliki beberapa cabang di beberapa Negara di Eropa, Australia, Amerika Selatan, Afrika Selatan, dan Amerika Utara, termasuk Los Angles, Meksiko, New York, Toronto, San Francisco, dan Chicago.

B. Batasan Masalah

Pembahasan tentang konsep hati berkaitan erat dengan spirituali seseorang, di mana hati sebagai pusat spiritual batiniah.

Hati mempunyai dampak yang besar bagi perjalanan hidup seseorang. Batasan masalah dalam penelitian ini, yaitu kosep Abu Hamid al-Ghazali dan Robert Frager tentang hati serta fungsi hati bagi manusia. Karya utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn karya al-Ghazali dan Heart, Self, &

Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony karya Robert Freger.

C. Rumusan Masalah

1. Apa konsep Abu Hamid al-Ghazali dan Robert Frager tentang hati?

2. Bagaimana fungsi hati dalam membentuk kepribadian manusia menurut pandangan al-Ghazali dan Robert Freger?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

(20)

1. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui konsep Abu Hamid al-Ghazali dan Robert Freger tentang hati.

2. Bertujuan untuk mengetahui seberapa penting peran hati dan fungsinya dalam membentuk kepribadian manusia menurut al- Ghazali dan Robert Freger.

Seiring berjalannya waktu, di mana dunia modern semakin mengarahkan dan mengalihkan pandangan manusia pada kenikmatan dunia materi. Kebanyakan manusia telah disibukkan hanya dengan mencari kepuasan materi saja. Kepuasan materi di sini telah menjadi orientasi dan pusat hidup yang utama, yang menyebabkan kejernihan hati pun mulai sirna.

Semua orang tahu apa itu hati, namun tak banyak orang yang mengenal apa itu hati yang sebenarnya. Padahal hati merupakan salah satu dari anggota tubuh manusia. Namun hati memiliki fungsi yang lebih dibanding organ tubuh lainnya, karena hati merupakan inti dari suatu perasaan. Kita dapat merasa, menyadari, bahkan mengalaminya dengan memakai hatinya hati.

Jika berbicara tentang perasaan, sesungguhnya, hati merupakan pusat dari suatu perasaan. Perasaan yang dimaksud di sini termasuk golongan emosi yang tinggi, rasa indah, tenang, yaman, dan rasa bahagia/senang.Dimana hatilah yang menjadi kunci dari hubungan sosial antar sesama, serta hubungan spiritual makhluk dengan Penciptanya.Karena kita dapat melihat rasa yang sebenarnya terlihat dari kualitas hubungan tersebut.

(21)

Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengenal mengetahui urgensi hati dalam kehidupan manusia. Karena dengan mengenal hati, kita sebagai manusia bisa menggunakan hati kita untuk memperbaiki segala aspek kehidupan, seperti kesehatan fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritualnya.

1. Manfaat Teoritis

Semoga dengan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pelengkap atau referensi baru yang memperkaya khasanah pengetahuan maupun kajian pustaka, Dengan adanya penelitian ini, peneliti juga berharap bisa memberikan kontribusi pemikiran tentang konsep hati dan manfaatnya bagi kelangsungan hidup manusia, terutama dalam kajian tasawuf.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Pembaca/ Mahasiswa

Dengan penelitian kali ini, penulis berharap bisa memberikan pengetahuan baru, serta dapat membantu para pembaca memelihara hati yang sehat dan terhindar dari penyakit hati.

b. Bagi Peneliti/ Penulis

Semoga dengan hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh penelitibisa menjadi sebuah pengalaman dan wawasan baru.

Tak hanya sekedar wawasan yang baru, namun juga bisa dijadikan landasan dalam kehidupan sehari-hari, karena hati merupakan pusat dari spiritual kehidupan seseorang.

(22)

E. Tinjauan Pustaka

Sebelum penelitian dilakukan, hal pertama yang harus pe penulis lakukan adalah kajian pustaka terkait dengan subjek penelitian. Dimana, dengan dilakukannya kajian pustaka menjadi langkah awal bagi penulis untuk mengumpulkan informasi beserta data yang relevan untuk penelitian ini. Oleh sebab itu, penulis melakukan penelusuran pustaka berdasarkan penelitian yang dilakukan. Berdasarkan tinjauan pustaka tersebut, penulis menemukan beberapa penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, diantaranya:

“Konsep Hati Menurut al-Hakim al-Tirmidzi,” oleh Mahasiswa Ilmu Aqidah Pasca Sarjana ISID Gontor Ryandi pada 2014. Di mana pembahasannya tentang hati sebagai entitas metafisik universal yang terkandug dalam tingkatan batin, yaitu qalb, sadr, fu’ād, dan lubb. Penelitian di atas berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, karena tokoh yang diambil dalam peneliti saat ini adalah al-Ghazali dan Robert Freger.

Skripsi, “Konsep Hati Perspektif Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ ‘Ulûmuddîn”oleh Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Salatiga, Nurngaliyah Novianty pada tahun 2017.

Penelitian tersebut membahas bagaimana upaya untuk mengetahui konsep pendidikan hati dalam perspektif sufisme al- Ghazali berdasarkan pada karyanya yang terkenal Ihya’

Ulumuddin.

Jurnal, “Qalb Dalam Pandangan Al-Gazali oleh” Duriana dan Anin Lihi pada tahun 2015. Penelitian ini tentang konsep

(23)

qalb menurut pandangan al-Ghazali serta fungsinya terhadap pembentukan kepribadian manusia.

Penulis melakukan penelitian yang berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya. Jika pada penelitian sebelumnya membahas tentang konsep hati hanya berdasarkan pespektif al-Ghazali.Namun berbeda denga penulis, yang melakukan studi komparatif tentang konsep hati, tidak hanya berdasarkan pandangan al-Ghazali tapi juga perspektif Robert Freger yang merupakan seorang psikolog dalam bidang tasawuf.

F. Metode Penelitian

Dalam penelitian kali ini, penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif. Tema yang diangkat adalah Konsep Abu Hamid Al-Ghazali dan Robert Freger Tentang Hati.Berdasarkan rumusan masalah, peneliti terlebih dahulu mengkaji dan memahami teori tentang konsep hati menurut kedua tokoh.

Setelah melakukan kajian teori, peneliti melihat apakah ada persamaan dan perbedaan dari teori kedua tokoh tersebut, serta fungsi hati bagi kehidupan manusia.

1. Sumber-Sumber yang Digunakan

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data skunder. Data utama yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah karya-karya yang sudah ditulis oleh kedua tokoh; Ihya’ ‘Ulûmuddîn al-Ghazali dan Heart, Self, and

(24)

Soul: The Psychology of Growth, Balance, and Harmony karya Robert Frager.

Sedangkan data sekunder yang digunakan penulis dalam penelitian ini seperti literatur atau naskah akademik (misalnya dari jurnal, skripsi, tesis atau pun disertasi yang sudah ditulis sebelumnya), internet (Koran, majalah, atau artikel yang bersangkutan dengan penelitian ini), dan lain sebagainya sebagai data sekunder.

Penelitian kali ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik studi komparatif, dan pengumpulan datanya dilakukan dengan penelitian kepustakaan (library research).

2. Pendekatan

Dalam penelitian kali ini, penulis menggunakan metode komparatif dengan pendekatan psikologis fungsional antara Konsep Abu Hamid Al-Ghazali dan Robert Farger Tentang Hati.

Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui pengaruh dan fungsi hati terhadap kepribadian individu, baik yang berhubungan dengan perilaku, pikiran, dan penyakit jiwa.

3. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan merupakan sebuah metode atau urutan dalam menyelesaikan suatu penelitian. Yang mana karya tulis atau penelitian akademik harus disusun sesuai dengan kaidah

(25)

struktur yang benar. Demi memudahkan dalam penelitian ini, penulis menyusunnya dalam enam bab, yaitu:

1. Bab pertama, pendahuluan. Pendahuluan dalam penelitian ini meliputi latar belakang, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian.

2. Bab kedua, Landasan Teori. Di dalam landasan teori akan membahas tentang makna qalb (secara bahasa dan istilah, dan pandangan Al-Quran tentang hati), macam-macam hati serta kekuatannya menurut al-Quran.

3. Bab ketiga, bab ini memuat tentang objek penelitian Konsep Abu Hamid al-Ghazali Tentang Hati. Dalam bab ini akan dijelaskan biografi Imam Abu Hamid Al-Ghazali dan ajaran tasawufnya tentang hati.

4. Bab keempat, akanmemuat tentang objek penelitian. Yaitu Konsep Robert Frager Tentang Hati. Dalam bab ini akan dijelaskan biografi Robert Frager dan ajaran tasawufnya tentang hati.

5. Bab kelima, merupakan hasil penelitian. Di mana dalam bab ini akan dijelaskan perbandingan antara konsep Abu Hamid Al- Ghazali dan Robert Frager Tentang hati.

6. Bab keenam, penutup. Penutup merupakan bagian terakhir dalam pembahasan penelitian ini. Dalam bab ini penulis akan menyimpulkan hasil penelitiannya secara keseluruhan. Di bagian ini juga merupakan jawaban dari permasalahan yang terjadi yang berisi kesimpulan serta saran.

(26)
(27)

16

HATI

A. Pengertian Hati (Qalb)

Hati merupakan unsur terpenting di dalam memengaruhi kehidupan manusia. Di mana dengan hati tersebut manusia bisa/mampu membedakan mana yang baik dan buruk untuknya.

Dalam bahasa Arab, istilah hati pada umumnya dikenal dengan kata qalb dan fu’ād. Secara bahasa, makna qalb adalah kondisi yang tidak tetap, berubah-ubah, dan tidak stabil.

Dalam bahasa Indonsia, kata ‘kalbu’ digunakan untuk menyebut hati, baik dalam arti fisik (liver) maupun secara maknawi. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna hati adalah organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian atas rongga perut, yang berfungsi untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan mengahasilkan empedu.1

Sedangkan dalam Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, kata dasar qalaba diartikan dengan mengubah, membalikkan, mengubah, merobohkan atau mengganti. Pengertian ini hampir sama dengan pengertian yang terdapat dalam kamus al- Munawwir. Ahmad Warson menyebutkan beberapa etimologi qalb. Kata al-qalb berasal dari kata qalaba, yanqalibū, qalban yang mengandung arti mengubah, membalikkan, membuat yang

1Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, edisi.4, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008). Hal.487.

(28)

di bawah menjadidi atas, dan menjadikan yang di dalam menjadi di luar.2

Sementara itu, Ahmad Warson di dalam kamus al-Munawwir, mengartikan qalb sebagai padanan dari kata lubb (hati, inti, lubuk hati, isi, jantung), bāthin (bagian dalam), ‘aql (akal), (pusat, bagian tengah atau tengah-tengah), quwwah dan syajā’ah (kekuatan, semangat atau keberanian), wasath serta al-mahdh wa al-khālish (bagian yang murni).3

B. Konsep Al-Qur’an Tentang Hati 1. Pengertian hati dalam Al-Quran

Di dalam al-Qur’an, biasanya istilah Qalbdigunakan untuk menyebut makna hati– yang diartikan secara populer sebagai wujud ruhani. Namun qalb di sini tidak harus merujuk pada segumpal daging yang berada dalam tubuh manusia. Akan tetapi pemaknaan qalb di sini lebih menekankan pada sesuatu yang bersifat ruhani, yang sifatnya metafisik bukan material atau jasmani.4

Sebagaimana yang sudah diuraikan sebelumnya, banyak istilah yang diperkenalkan al-Qur’an yang berkaitan dengan dimensi-dimensi dalam diri manusia. Ada qalb, fu’ād, shadr, dan bhasîrah. Namun istilah yang umum atau banyak digunakan

2Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir: Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), hal. 1232

3Ahmad Warson Munawwir, hal. 1232.

4Said AqilSiroj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi dan Bukan Aspirasi, (Bandung: Mizan, 2006), hal.39

(29)

untuk hati adalah qalb dan fu’ād.5Secara bahasa, makna qalb adalah kondisi yang tidak tetap, berubah-ubah, tidak stabil atau fluktuatif.

Di dalam al-Quran, kata hati (qalb) disebutkan 44 tempat. Di mana, hamper seluruh makna kata qalb berkisar sekitar makna daya rasa terdalam dan akal manusia. Dengan demikian, kita tahu bahwasanya hati merupakan tempat watak atau karakter paling dasar yang suci dan kecenderungan batin yang beragam.

Misalnya kecenderungan berunsur pada cinta atau kebencian, sarang hidayah, iman, pengetahuan, bahkan kehendak dan kendali.

Yang dimaksud dengan “hati” (qalb) adalah seperti hati yang kita kenal, atau berarti pula “hati kecil” (fu’ād). Muhammad Fethullah Gulen dalam bukunya yang berjudul Tasawuf untuk Kita Semua menyebutkan bahwa hati memiliki dua makna, yaitu:6pertama, organ tubuh terpenting yang dimiliki oleh setiap manusia yang terletak di dada sebelah kiri. Organ ini berbeda dengan organ lainnya, baik dari struktur maupun dari sel-sel pembentuknya, sebab organ ini memiliki dua dua serambi (auricle), dua bilik, dan dua lubang. Oleh karena itu, hati dalam makna yang pertama ini merupakan akar dari semua rasa dan emosi, serta menjadi pusat semua urat dan otot.

5Mohammad Monib, 8 Pintu Surga,(Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2011), hal.11-12

6Muhammad FethullahGulen, Tasawuf untuk Kita Semua: Menapaki Bukit-bukit Zamrud Kalbu Melalui Istila-istilah dalam Praktik Sufisme, (Jakarta: Republika, 2013), hal.63

(30)

Pengertian kedua, “al-Qalb” mempunyai pengertian sama dengan yang pertama, akan tetapi pengertian yang kedua ini menunjukkan “hati” sebagai organ spiritual. Yakni pusat dari segala perasaan, persepsi, sensitivitas, akal, dan daya kontrol. Hal itu oleh para sufi disebut sebagai al-Haqiqah al- Insāniyyah(Hakikat Kemanusiaan), di mana hati merupakan sebuah lathifah ruhaniah. Sementara para filsuf menyebutnya al- Nafs al-Nathiqah (Jiwa Nalar). Hati sebagai organ spiritualah yang merupakan hakikat dari manusia.7

Dalam bahasa Arab, qalb biasa dipakai untuk untuk menunjukkan arti jantung. Namun tak jarang pula qalb dipakai untuk menunjukkan arti lain, seperti perasaan atau kalbu.

Sebagaimana jantung, kalbu perannya sangat sentral dalam kehidupan manusia.8

Kata qalb atau qulub diulang sebanyak 133 kali dalam al- Quran. Di mana qalb berarti jiwa atau hati. Namun terkadang kata qalb juga dikatkan dengan akal. Dalam kata lain, orang mempunyai jiwa atau hati, namun tidak menggunakan akalnya, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah:9

7Muhammad FethullahGulen, hal.64

8Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Tafsir Ilmi:

Penciptaan Manusia dalam Perspektif Al-Quran dan Sains, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2016), Hal.119.

9Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tafsir Ilmi: Fenomena Kejiwaan Manusia dalam perspektif Al-Quran dan Sains, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2016)

(31)

“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di muka bumi, sehingga hati mereka dapat memahami (memikirkan), telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS.

Al-Hajj/ 22: 46).

Salah satu pandangan al-Quran tentang qalb adalah fungsinya dan potensinya bagi manusia. Yang mana fungsi utama hati bagi manusia adalah sebagai alat agar bisa memahami realitas. Seperti yang terdapat dalam surah al-Hajj di atas, bahwa hati (qalb) mempunyai potensi yang sama dengan akal, sehingga dalam keadaan sadar dapat memutuskan atau melakukan sesuatu.10

Dari berbagai makna qalb di dalam al-Quran, kata qalb ditafsirkan sebagai sikap atau karakter. Allah berfirman dalam Q.S Ali Imran ayat 159,

“Maka berkat rahmat Allah-lah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka, dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawartalah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai

10Nurotun Mumtahanah, “Tafsir Ayat AL-Qur’an Tentang Qalb: Kajian Tafsir Maudhu’I,” (Jurnal Akademika, Volume 13, Nomer 1, Juni 2019), hal.16

(32)

orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”(Q.S. Ali Imran/

3:159).

Terdapat tiga istilah yang berbeda dalam al-Quran untuk mendeskripsikan hati, yaitu qalb, fu’ād, shadr. Namun pada umumnya ketiga istilah tersebut samaterjemahan dari kata‘hati.’Oleh karenanya, makna mendalam yang terdapat dalam ayat-ayat al-Quran tidak dapat kita tangkap sepenuhnya hanya dengan membaca terjemah makna ayat tersebut.

a) Qalb

Istilah umum yang digunakan untuk merujuk hati/jantung adalah kata qalb atau kalbu. Qalb memiliki akar kata yang bermakna sesuatu yang berubah-ubah, dan bolak-balik. Di dalam al-Quran, ketika membahas tentang iman dan penyakit hati, Allah menggunakan istilah qalb. Seperti yang terdapat dalam surah al- Baqarah: (1)-7:

“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup. Dan mereka akan mendapat siksa yang amat berat” (Q.S. Al-Baqarah/ 1:7).

b) Fu’ād

Fu’ād berasal dari kata kerja fa’ada yang bermakna terbakar/

membakar atau berkobar. Dalam bahasa Arab, kata fu’ād digunakan untuk menjelaskan hati yang sedang terbakar – emosi.

Di dalam al-Quran, Allah menggunakan kata fu’ād untuk menggambarkan/menjelaskan kondisi hati seseorang, baik

(33)

bahagia, sedih, marah, frustasi, menyesal, dsb.Seperti yang terkandung dalam surah al-Qashash:

“Dan hati ibu Musa a.s.menjadi kosong. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan (rahasia tentang Musa), seandainya tidak kami teguhkan hatinya, agar ia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah).” (Q.S. al-Qashshash/ 28:10).

Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.” (Q.S. al-Isra’/ 17: 36)

Berdasarkan ayat di atas, bukan (hati/jantung) yang dimintai pertanggungjawaban, melainkan emosi – gejolak hati (baik bahagia karena berbuat kebajikan, maupun penyesalan setelah melakukan dosa). Karena pada dasarnya, manusia bisa mengontrol gejolak hati tersebut, sehingga layak untuk dimintai pertanggungjawaban.

c) Shadr

Shadrdi sini bermakna dada, al-Quran menggunakan kata shadr untuk menggambarkan sesuatu yang tersembunyi, niatan yang tersembunyidan tertutup, misalnya:

“Katakanlah, (jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu nyatakan, pasti Allah mengetahui). Dia

(34)

mengetahui apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Q.S. Ali-Imran ayat/3:29)

2. Yang Dimaksud ‘Hati’ dalam Al-Quran

Pengetahuan tentang kebenaran dalam al-Quran dinisbatkan pada hati. Yang mana hati dalam al-Quran mempunyai banyak arti, yakni:

a. Hati sebagai akal dan pencerah11 untuk mengetahui. Seperti dalam firman Allah SWT:

“Sungguh pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati, atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Q.S. Qaf ayat/

50:37).

b. Hati juga berarti ruh dan nyawa, hal ini terdapat dalam firman Allah SWT:

“Dan ketika penglihatan tidak lagi tetap dan hati naik menyesak sampai tenggorokan” (Q.S. Al-Ahzab/ 33:10).

c. Hati berarti pusat pelbagai afeksi, seperti dalam firman Allah SWT:

“Kelak aku akan berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang- orang kafir.” (Q.S. al-Anfal/ 8:12).

11Definisi dari kata ‘pencerapan’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah proses, cara, perbuatan mencerap – mencerap sendiri bermakna memperhatikan, menerima sesuatu dalam hati (mengambil inti sari dari suatu kejadian dan sebagainya). Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima.

(35)

Ayat lain tentang hal ini juga terdapat dalam surah Ali Imran ayat 159:

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Q.S.’Ali Imran/ 3:159).12

Di dalam buku Tafsīr al-Amtsāl ini juga disebutkan bahwasanya dalam diri manusia, terdapat dua pusat yang kuat, yaitu:

 Pusat pelbagai persepsi adalah otak dan pusat syaraf.

 Pusat pelbagai afeksi adalah hati yang terletak di sebelah kiri dada. Salah satu contohnya ketika kita sedang menghadapi musibah, maka bebannya akan merasakannya dalam hati sanubari kita. Begitu pula ketika senang, maka kita akan merasakan kesenangan itu dalam hati kita.13

3. Macam-Macam Hati dalam Al-Quran

Al-Quran menyematkan beberapa sifat pada qalb sehingga membentuk macam-macam hati. Sifat-sifat yang diberikan oleh al-Quran pada qalb manusia di antaranya:14

12Syekh Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Al-Amtsal: Tafsir Kontemporer, Aktual, dan Populer, penerjem: Akmal Kamil,(Lebak Bulus: Sadra Press, 2015), hal.112

13Syekh Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Al-Amtsal, hal.113

14Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Fenomena Kejiwaan Manusia: Dalam

Perspektif Al-Quran dan Sains, Hal. 19-21

(36)

1) Al-Qulūb al-Gulf (Hati yang terkunci/mati) seperti yang disebutkan dalam firman Allah:

“Dan mereka berkata ‘Hati kami tertutup,’ tidak! Allah telah melaknat mereka itu karena keingkaran mereka, tetapi sedikit sekali mereka yang beriman” (Q.S, al- Baqarah/ 2:88).

2) Al-Qulūb al-Qasiyah (hati yang keras dan kaku)

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka kami melaknat mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu…….” (qasiyatan), (Q.S. al-Maidah /05:13).

3) Al-Qulūb al-Munkirah (hati yang ingkar), Allah berfirman dalam kitabnya:

“Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (Keesaan Allah), dan mereka adalah orang yang sombong.”

(Q.S. an-Nahl ayat/16:22).

M. Quraish Shihab (2002: 7: 208-209) mengatakan bahwa hati di sini adalah hati mereka ingkar akibat sifat keras kepala dan kesombongan dalam diri mereka.

4) Al-Qulūb al-Lahiyah (hati yang lalai) seperti dalam firman Allah:

“Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat). Setiap diturunkan kepada mereka

(37)

ayat-ayat yang baru dari Tuhan, mereka mendengarkannya sambil bermain-main. Hati mereka dalam keadaan lalai.

Dan orang-orang yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, “(Orang) ini (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang manusia (juga) seperti kamu. Apakah kamu menerimanya (sihir itu) padahal kamu menyaksikannya?.”

(Q.S. Al-Anbiya’/21: 1-3).

5) Al-Qulūb al-mu’allafah (hati yang dilunakkan atau dirayu), dal Firman-Nya disebutkan:

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf).” (Q.S. At-Taubah/9:60).

6) Al-qalb as-Salīm (hati yang bersih atau damai), Allah berfirman:

“Dan janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Q.S. Asy-Syu’ara’/26: 87-89).

Berdasarkan ayat di atas, az-Zamakhsyariy dalam tafsirnya mengatakan, al-qalb as-salīm merupakan hati yang terbebas dari penyakit kufur dan maksiat.

(38)

4. Kekuatan Hati Menurut Al-Quran

Dalam salah satu jurnal yang berjudul “al-Qalbu dalam Perspektif al-Quran” dijelaskan bahwasanya hati (qalb) merupakan aspek terpenting dalam jiwa manusia. Yang mana hati di sini senantiasa bisa menilai benar salahnya suatu perasaan, pemikiran, angan-angan, niat, hasrat, sikap serta tindakan seseorang, terlebih lagi bagi diri sendiri.

Ada pun tempat yang bisa memahami dan mengendalikan diri seseorang itu adalah hatinya. Yang mana hati mampu memperlihatkan watak dan jati diri manusia yang sesungguhnya.

Hati pulaah yang membuat manusia bisa/mampu beradaptasi.

ketika hati seseorang jernih dan bersih, maka keseluruhan dirinya akan menampakkan/memperlihatkan kebersihan, kejernihan, dan kebeningan. Yang mana suatu saat semua itu bakal dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah dilakukan oleh indera manusia selama di dunia.15

Sebagaimana terdapat dalam Firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, pengllihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. al- Isra’/17:36).

Al-Quran juga menegaskan tentang keharusan untuk menggunakan hati agar bisa merasakan dan menghayati, agar

15Mansyur, “Al-Qalbu Dalam Perspektif Al-Quran”, (Institut Parahikma Indonesia [IPI], vol. 5 No. 1), 2017, hal. 46.

(39)

mampu meningkatkan kualitas diri seseorang. Seperti yang terdapat dalam firman Allah SWT dalam QS. Al-Hadid/57:16.

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak diantara mereka menjadi orang-orang yang fasik.”(Q.S. Al-Hadid/57:16).

Masih dalam jurnal yang sama, dijelaskan bahwasanya hati atau qalb di dalam al-Quran mempunyai dua daya insani, yakni daya inderawi dan daya psikologis.16

1. Daya Inderawi (seperti penglihatan dan pendengaran)

Dalam daya yang pertama ini, al-Ghazali menyebut bahwasanya fungsi qalb secara inderawi sebagai indera keenam (al-hiss al-sadis) yang menjelma di dalam akal pikiran serta cahaya hati. Al-hissi al-khams tersebut hanya mampu mencapai hal-hal yang bersifat inderawi saja, namun belum bisa merasakan keindahan atau keburukan, dan kecintaan atau pun kebencian. Semua itu hanya dapat dirasakan apabila elemen-elemen tersebut berinteraksi dengan hati.

Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah SWT:

16Mansyur, “Al-Qalbu Dalam Perspektif Al-Quran,” hal.54

(40)

“Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani agar kamu bersyukur”. (Q.S. an-Nahl/ 16:78).

2. Daya Psikologis, seperti kognisi yang menimbulkan daya cipta, daya emosi yang membangkitkan daya rasa, dan daya konasi17yang menimbulkan daya karsa18.

Pertama fungsi kognisi. Fungsi kognisi merupakan fungsi psikis manusia terhadap kesadaran, pengetahuan, pemahaman, interpretasi, pemikiran, ide dan kecerdasan yang bersifat individual. Kedua daya emosi kalbu/hati. Daya emosi (al-infi’āli) qalb sebagai daya yang paling dominan menimbulkan daya rasa (al-syu’ur).

Di dalam al-Quran dan as-sunnah, daya emosi qalb ada yang positif, ada yang negatif. Salah satu contoh emosi yang positif adalah tunduk (tawadhu’), santun, penuh kasih sayang, dan sebagainya. Sedangkan emosi negatif seperti takut, sombong, dengki, dan sebagainya. Daya emosi ini lebih banyak ditangkap dari pada daya kognisi.

Salah satu contoh daya emosi yang mengemukakan apa yang dirasakan oleh hati, seperti yang terkadung dalam firman Allah, QS. Al-Fath/ 48:4,

17Konasi ini merupakan bagian dari kehidupan mental yangbanyak berhubungan dengan usaha, termasuk keinginan atau kemauan.

18Karsa sendiri merupakan daya (kekuatan) jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak.

(41)

“dialah (Allah) yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada).” (Q.S. Al-Fath/ 48:4).

Ayat di atas menguraikan bagaimana kekuasaan Allah, memasukkan rasa tenang (al-sakīnah) dan rasa tentram (al-tuma’nīnah) ke dalam hatinya atau hati orang- orang yang beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya.

(42)

31

Konsep Abu Hamid Al-Ghazali Tentang Hati

A. Biografi Al-Ghazali

Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Thaus Ahmad al-Thusi al-Syafi’i terkenal dengan al-Nisapuri, atau sering kita kenal dengan spanggilan al-Ghazali. Al-Ghazali dilahirkan di Desa Ghazelah, Katopraja Tabran dalam kota besar Tus (salah satu kota di wilayah Kurasan), di Persia atau Iran Utara, pada 1058 M/ 450 H.1

Al-Ghazali merupakan anak dari seorang pemintal benang atau kain wol yang sholeh. Sedikit sekali informasi tentang anggota keluarga al-Ghazali, kecuali adiknya – Ahmad – kelurga al-Ghazali yang dikenal sebagai seorang da’i.

Pendidikan pertamanya di dapatkan dari sang ayah yang telah mengajarinya al-Qur’an. Kemudian di saat usianya 20-28 tahun, al-Ghazali berguru pada Ahmad bin Muhammad ar- Razikani2 dan Imam al-Haramyn al-Juwaini di madrasah Nizamiyahdi Tus, Jurjan, dan Nisyapur. Selanjutnya ia berada di

1 Margareth Smith, Pemikiran dan Doktrin Mistis Imam al-Ghazali, penerjem: Amrouni,(Jakarta: Riora Cipta, 2000), hal.1

2Ahmad bin Muhammad ar-Razikani adalah seorang sufi besar sekaligus sahabat dari ayah al-Ghazali.

(43)

Mu’askar (1085-1090/ 478-483), dan di Baghdad (1090-1095/

483-488).3

Hamper dalam setiap kajian tentang tasawuf sunni, nama Al-Ghazali selalu banyak disebut-sebut, di samping nama Abu Manshur al-Hallaj “al-Syahid” di bidang sufi teosofis (falsafi).

Jika ada orang sufi yang popularitasnya hamper seimbang dengan al-Hallaj (w.922 M), dialah al-Ghazali.

Al-Ghazali juga dipanggil Abu Hamid dalam berbagai karya klasik, seperti halnya Ibnu Rusyd yang disebut juga Abu al- Walid. Al-Ghazali digelari Hujjah al-Islam – karena pembelaannya yang mengagumkan terhadap agama, terutama dalam menolak terhadap aliran kebatinan dan para filosof.

Demikianlah al-Ghazali menempuh berbagai jalan dan mempelajari semua mazhab. Pada mulanya ia menjadi ahli hukum Islam, lalu menjadi seorang teolog, kemudian filosof, dan pemantapannya menjadi seorang sufi.4

Al-Ghazali wafat pada 14 Jumadil akhir tepatnya tahun 505 H/19 Desember 1111 M. dalam usia 55 tahun. Jenazahnya dimakamkan di kota kelahirannya, tepatnya di pemakaman al-

3Muhammad Sholikhin, Filsafat dan Metafisika dalam Islam: Sebuah Penjelajahan Nalar, Pengalaman Mistik, dan Perjalanan Aliran Manunggaling Kawula-Gusti, (Yogyakarta: Nrasi, 2008), hal. 181

4 Imam al-Ghazali, Tahafut Al-Falasifah: Kerancuan Para Filosuf, Penerjem: Ahmadie Thaha, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986), hal.xiv

(44)

Thabiran yang berdampingan dengan makan al-Firdaus – seorang ahli sya’ir yang termahsyur.5

B. Latar Belakang Pendidikan Al-Ghazali

Sebelum ayahnya wafat, al-ghazali dan saudara laki- lakinya – Ahmad – dititipkan kepada sahabat sang ayah yang juga merupakan seorang sufi. Ayah al-Ghazali berharap supaya kedua anaknya menjadi seseorang yang ahli dalam hukum Islam (fakih).

Akan tetapi setelah harta warisan peninggalan ayahnya habis untuk pendidikannya, dan sahabat dari ayahnya tidak mampu membiayainya lagi lantara kondisi ekonominya yang kurang.

Akhirnya al-Ghazali dan saudaranya dianjurkan untuk masuk asrama (tanpa biaya)6.

Al-Ghazali pernah belajar di beberapa kota, diantaranya:

1) Thus – di kota inilah al-Ghazali pertama kali belajar agama.

Di mana ia belajar ilmu fikih dengan tekun dari Syekh Ahmad bin Muhammad al-Rizikani. Tak hanya belajar fikih, al-Ghazali juga belajar tasawuf kepada seorang sufi terkenal pada masa itu – Yusuf al-Nassaj

2) Jurjan – tahun 465 Hijriyah, ia pindah ke Jurjan untuk melanjutkan pendidikannya. Selama di Jurjan ia berguru kepada Imam Abi Nashr al-Ismaili. Pada tahun 470 Hijriyah

5Duriana, Anin Lihi, “Qalbu Dalam Pandangan Al-Ghazali,” (Jurnal MEDIASI, Vol.9, No.2, Januari – Desember), 2015, hal.33

6 Asrama yang dimaksud di sini adalah asrama yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk do kota Kabupaten bernama Thus.

(45)

ia sempat pulang ke Thus, dari situlah ia terbesit dalam hatinya untuk memperdalam ilmunya dan mencari sekolah/pendidikan yang lebih tinggi.

3) Naisabur – tiga tahun kemudian tepatnya 473 Hijriyah ia berangkat ke Naisabur dan masuk ke akademi Nizamiyah yang dipimpin oleh Abu Ma’allin Phisauddin al-Ajuwaini.

Dari beliaulah al-Ghazali memperoleh berbagai pengetahuan tentang ilmu agama, seperti ilmu fiqhi, ushul fiqhi, ilmu kalam, dan filsafat secara terus-menerus. Dengan berbagai ilmu yang ia dapatkan, al-Ghazali mampu bertukar pikiran dengan semua aliran dan agama.

4) Baghdad – pada tahun 484 Hijriyah, al-Ghazali dilantik sebagai seorang professor di al-Madrasah al-Nizamiyyah oleh Nizam al-Mulk. Dalam usianya yang ke-34 tahun, al- Ghazali diberi gelar Syekh al-Islam – yang mana dari segi akademik dan keagamaan yang resmi gelar ini merupakan pangkat tertinggi. Setelah empat tahun mengajar di Madrasah Nizamiyyah – 488 H/1095 M ia mengalami krisis kerohanian sebagai akibat dari kesangsiyannya (syak) yang dikenal oleh orang barat sebagai skeptisisme.

5) Mekkah – di mana atas kejadian tersebut, al-Ghazali menderita sakit selama dua bulan. Maka dari itu, ia memutuskan untuk meninggalkan segala jabatannya di Baghdad dan pergi mengembara ke Damaskus, ia mengasingkan diri (Uzlah) selama dua tahun. Setelah itu pada tahun 490 H/1098 M. al-Ghazali pergi ke Palestina dan berdoa di makan Nabi Ibrahim a.s. Kemudian ia pergi ke

(46)

tanah suci untuk menunaikan ibadah haji sekaligus berziarah ke makan Rasulullah SAW, hingga pada akhirnya ia terbebas dari goncangan jiwa yang ia rasakan beberapa tahun terakhir dengan jalan tasawuf.7

C. Karya-Karya Al-Ghazali

Al-Ghazali dapat dikategorikan sebagai pemikir Muslim yanga paling popular dan berpengaruh di dunia Islam. Selain pengaruhnya di dunia Islam, al-Ghazali adalah seorang penulis yang mahir. Karya utamanya yakni dalam bidang agama, filsafat, dan tasawuf. Karya-karyan beliau selalu menjadi rujukan bagi ulama-ulama besar Islam.8

Tak hanya itu saja, al-Ghazali juga seorang ahli ushul fikih yang cerdas dan piawai, ahli fikih, ahli ilmu kalam, ahli hadis dan pembela sunnah, ahli tasawuf yang sangat memahami rahasia alam dan kejiwaan manusia,9 sekaligus seorang filsuf yang giat membongkar kerancuan filsafat. Seorang tokoh yang menjadi ensiklopedia pada zamannya. Seorang tokoh yang haus akan ilmu dan tidak pernah berhenti mendalami berbagai macam cabang ilmu pengetahuan.

Adapun karya-karya yang ditinggalkan oleh al-Ghazali, diantaranya:

7Duriana, Anin Lihi, “Qalbu Dalam Pandangan Al-Ghazali,” hal.33- 35 8 Imam Al-Ghazali, kimia kebahagiaan: al-Ghazali; the Aichemy of Happiness; Kimia-I Sa’adat, (: Shahih, 2016), hal. 168.

9Yang dimaksud di sini bukanlah tentang alam gaib, melainkan tentang studi kejiwaan (psikologi).

(47)

Di bidang fikih: al-Basîth, al-Wasîth, al-Wajîz, dan al- Khulâshah.

Di bidang ushul fikih: al-Mankhûl dan al-Mustashfâ yang ia ringkas dari kitabnya”Tahdzîb al-Ushûl”.

Di bidang filsafat, logika, dan kalam: al-Munqidz min adh- Dhalâl, Maqâsith al-Falâsifah, Tahâfut al-Falâsifah, al- Iqtishâd fi al-I’tiqâd, Faishal at-Tafriqah, Qawâ’id al-Aqâ’id, al-Asnâ fi Syarh Asma’ Allah al-Husnâ, Mi’yar al-‘Ilm, Mihakk an-Nazhar, Iljam al-‘Awwâm ‘an ‘Ilm al-Kalâm, dan Jawâhir al-Qurâ’an.

Di bidang Tasawuf, pendidikan hati dan akhlak: Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, Bidâyah al-Hidâyah, Mîzân al-‘Amal, Minhaj al-

‘Âbidîn, Mi’raj as-Sâlikîn dan Ayyuhâ al-Walad.

Di bidang sejarah aliran-aliran dan agama-agama: Fadha’ih al-Bâthiniyyah, Hujjah al-Haqq, Mufashshal al-Khilâf, dan lain.10

D. Konsep Abu Hamid Al-Ghazali Tentang Hati 1. Makna Hati

Dalam karya agungnya Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn, istilah qalb dalam pandangan al-Ghazali mengandung dua pengertian, yakni definisi secara materi dan spiritual. Pertama, definisi qalb secara

10Keserun As. Rahman (Penerjemah), Untaian Nasihat Imam Al- Ghazali – Mawaizh al-Imam al-Ghazali,(Jakarta Selatan: Turos, 2014), hal.

xxv-xxvi

(48)

materi yaitu daging berbentuk pohon cemara yang terletak di dada bagian kiri (jantung) yang berisikan darah berwarna merah kehitaman yang juga merupakan sumber ruh kehidupan. Hati dalam pengertian ini juga terdapat pada tubuh hewan juga pada orang-orang yang sudah mati.

Adapun makna yang kedua adalah hati secara spiritual yaitu yang halus (lathifah), ketuhanan (Rabbânîyyah), kerohaniaan (ruhaniyah). Ketiganya tersebut dengan hati yang bertubuh (al-qalbi al-jismany) itu mempunyai hubungan.

Lūth, Rabbânîyyah, rohaniyyah adalah hakikat manusia.

Dialah yang merasa, mengenali, mengetahui dari manusia. Ia mempunyai hubungan dengan hati yang bertubuh (definisi secara materi). Dengan lūth rabbânî inilah manusia bisa mengenal tuhan-Nya. Ia bisa mengetahui apa yang tidak bisa diraih atau dicapai oleh akal.11

Kebanyakan akal manusia bingung mengetahui hubungan keduanya. Karena hubungannya itu menyerupai hubungan antara sifat (‘aradl) dengan tubuh (jisim), hubungan sifat dengan yang bersifat (maushũl), hungan alat dengan pemakai alatnya, atau pun hubungan orang bertempat dengan tempatnya.12

Namun, di dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn bab tiga ini, qalb yang dimaksudkan al-Ghazali bukan hati dalam arti fisik

11Imam al-Ghazali, Mukhtasar Ihya’ Ulumuddin, cetakan 1, (Beirut:

Muassasah al-Kutub Al-Tsaqafiyyah, 1410/1990), Hal. 130

12Imam al-Ghazali, Ihya’Ulumuddin Juz III, hal.899

(49)

(jantung), melainkan hati dalam makna yang halus (lathifah).

Yakni sifat-sifat hati, bukan hakikat pada zatnya.13

Selain itu, jantung /hati dan organ tubuh lainnya hanyalah sebagai alat bagi entitas untuk merealisasikan keputusannya.

Maka ketika hati/jantungnya mati dan tak dapat berfungsi lagi, maka secara keseluruhan organ tubuh lainnya juga ikut mati.

Sedangkan jiwa manusia itu sendiri tidak ikut binasa seiring dengan hancurnya badan. Oleh karena itu pandangan al- Ghazali tentang hati merupakan sebuah entitas yang halus yang menjadi hakikkat diri manusia.

Al-Qalb dalam kitab Ajaib al-Qalbi, al-Awwal min Rubu’

al-Muhlikat dijelaskan bahwasanya qalb yang dimaksud dalam kitab ini adalah hati dalam makna yang kedua, yakni hati yang halus (lathifah). Karena hati dalam makna yang kedua ini membicarakan tentang sifat-sifat hati serta hal ihwalnya, bukan berbicara tentang zatnya. Sebab, ilmu muamalah hanya mengenal sifat-sifat dan hal ihwal hati, bukan hakikatnya.14 Dalam makna lain, substansi non-materi yang tersembunyi dan tak terlihatan.

2. Empat Unsur Hati

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, qalb yang berada pada hati badaniah berkaitan dengan sesuatu yang halus (lathifah), dan yang halus itulah merupakan hakikat dari manusia itu sendiri.

13Al-Ghazali, Ihya’UlumuddinJuz III, hal.8

14 Lihat Imam al-Ghazali, Keajaiban Hati, Penerjemah:Mansyur Alkhatiri,(Jakarta: Khatulistiwa Press, 2011), hal.7

(50)

Mengutip dari salah satu jurnal yang berjudul “Qalb dalam Pandangan Al-Ghazali,” ada empat unsur yang mempengaruhi hati yang mana unsur-unsur tersebut mempunyai potensi/kemampuan tersendiri, yaitu:

a. Fu’ād (disebut juga perasaan hati atau hati yang murni)

Unsur yang pertama ini merupakan unsur qalb yang berkaitan dengan inderawi, yakni mengolah informasi yang selalu dilambangkan berada di otak manusia. Ada pun fungsinya sendiri ialah mempunyai tanggung jawab intelektual yang jujur terhadap apa yang dilihatnya. Potensi atau kemampuan ini cenderung pada objektifitas (sikap jujur), dan jauh dari kebohongan. Seperti yang terdapat dalam Firman Allah SWT;

“Hatinya tidak pernah mendustakan apa yang telah dilihatnya.”

(Q.S. al-Najm/53:11).

Tak hanya itu saja, fu’ādmemberi ruang bagi akal, bertafakkur, berfikir, dan semua data yang masuk ke dalam hatimanusia dipilih dan diolah lagi, sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan yang bermoral dalam hal bersikap dan mengambil keputusan.

b. Shadr (Dada)

Letak shadr terletak diantara hati dan diri rendah (hawa nafsu). Istilah shadr juga artikan sebagai hati terluar. Shadr atau dada mempunyai kemampuan untuk bisa merasakan dan menghayati, juga memiliki fungsi emosional (seperti halnya

(51)

marah, cinta, benci, indah, dan sebagainya). Ada pun potensi/kemampuan tersebut merupakan dinding hati yang menerima limpahan cahaya keindahan. Jadi serumit apa pun, shadr mampu menterjemahkan segala sesuatu menjadi indah.

Maksudnya adalah kemampuan yang dimiliki shadr untuk menyimpan hasrat, niat kebenaran, dan keberanian yang sama besarnya dengan kemapuan untuk menerima kejahatan dan kemunafikan.

c. Hawaa (Desakan hati atau keinginan keras).

Di dalam hawaa ini ada ambisi (hasrat, nafsu), kekuasaan, pengaruh serta keinginan untuk mendunia. Potensi hawaa itu sendiri selalu berkeinginan untuk bisa merasakan kesenangan dunia yang bersifat sementara. Hawaa dianggap sebagai unsur yang paling berbahaya bagi qalb. Seperti yang tertuang dalam firman Allah;

“sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannyan apakah engkau akan menjadi pelindungnya?.”(Q.S. al-Furqan/ 25;43).

Seperti yang dijelaskan di atas, potensi hawaa itu sendiri membawa manusia pada sifa-sifat yang rendah. Merayu, menggoda (menarik hati agar berbuat dosa), menyesatkan (menjerumuskan pada jalan yang salah), sekaligus memikat.

Walaupun pada fitrahnya cahaya yang ada di dalam hati selalu terang, namun hati juga bisa rusak dan binasa karena ketertarikan serta bisikan setan ke dalam diri hawaa.

(52)

d. Nafs (sering diartikan sebagai jiwa)

Saluran cahaya qalb yang keempat adalah nafs. Nafs merupakan keseluruhan atau totalitas dari diri manusia. Di mana di dalam nafs terhimpun dua kekuatan, yakni baik dan buruk.

Allah SWT berfirman;

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (Ciptaan) nya, maka Allah mengilhamkan kepadanya (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.”

(Q.S. asy-Syams/ 91; 7-8).

Nafs merupakan muara yang menampung hasil dari fu’ād, shadr, hawaa, yang kemudian menampakkan dirinya dalam bentuk perilaku nyata di hadapan manusia lainnya.15

3. Tentara-Tentara Hati

Menurut pandangan al-Ghazali, hati memiliki dua tentara, yakni tentara yang dapat dilihat dengan mata kepala (panca indera), seperti mata, tangan, kaki, serta anggota tubuh lainnya.

Sedangkan satu tentara lagi tidak dapat dilihat hanya degan panca indera, kecuali dengan mata hati.

Yang berkuasa adalah hati dan berkedudukan sebagai seorang raja, sedangkan tentara-tentara yang mengitarinya (panca indera dan anggota tubuh lainnya) hanya sebagai pelayan atau pembantu sang raja. Karena hati-lah yang mengontrol serta memotorisasi (menggerakkan) aktivitas mereka.

15Duriana. Anin Lihi, “Qalb Dalam Pandangan al-Ghazali,” Hal. 39- 42

(53)

Seluruh anggota tubuh itu diciptakan secara khusus untuk patuh kepada hati. Apabila hati menyuruh mata terbuka, niscaya dengan sendirinya mata itu akan terbuka. Dan ketika hati memerintahkan kepada kaki untuk bergerak, niscaya kaki itu akan bergerak.16 Begitu pula anggota tubuh lainnya, Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya di dalam tubuh anak Adam terdapat segumpal darah. Jika ia baik, maka baiklah anggota-anggota tubuh lainnya.

Ketahuilah, ia adalah hati.”(H.R. al-Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadis di atas menunjukkan bahwasanya hati seharusnya menjadi pemimpin yang harus ditaati. Sedangkan nafsu dan anggota tubuh lainnya hanya sebagai pelayan bagi hati serta menaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Kenapa demikian, karena ketika yang berkuasa adalah syahwat, maka hati akan berubah menjadi pihak yang diperintah.17

Walaupun demikian, hati tetap butuh kepada tentara tersebut sebagai kendaraan bagi hati untuk menempuh perjalanan yang jauh. Dimana tentara-tentara hatilah yang menjadi media/alat yang akan membawanya mendekati Allah SWT – menyembah Allah.18Seperti dalah firman Allah:

16Imam al-Ghazali, Ihya’Ulumuddin Juz III, hal.12.

17Iman al-Ghazali, Mukhtashar Ihya’Ulumuddin, Hal.’132

18Adapun tentara qalbu yang berupa anggota tubuh merupakan kendaraan bagi hati. Sedangkan perbekalan/alat yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan tersebut adalah ilmu. Karena media pengantar belum cukup tanpa ada perbekalan. Oleh karena itu, seseorang tidak akan bisa sampai dan dekat dengan Allah selagi badannya tidak tenang dan tenteram.

(54)

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Az-Zariyat/ 51:56).

Secara garis besar, jenis tentara hati (qalb) dibagi tiga, yaitu:

a) Energi yang mendorong dan memberi nasihat, energi atau daya ini diibaratkan dengan iradah (kehendak/ kemauan atau keinginan). Ada kalanya energi ini bersifat menarik dan bermanfaat, seperti nafsu syahwat. Terkadang juga bersifat penolakan terhadap sesuatu hal yang bahaya, seperti kemarahan.

b) Energi atau daya yang menggerakkan organ atau anggota tubuh demi menghasilkan tujuan qalbu yang diibaratkan dengan qudrah (kekuasaan). Yaitu tentara yang tersebar di seluruh tubuh, terlebih pada sendi-sendi yang darinya tulang- tulang akan (mampu) bergerak.

c) Energi yang terakhir adalah energy yang mengetahui. Yakni mengenal atau mengetahui semua persoalan, seperti kekuatan penciuman, penglihatan, pendengaran, dan sentuhan. Yang mana kekuatan-kekuatan tersebut hanya ada pada bagian tubuh tertentu, diibaratkan dengan ilmu (pengetahuan) dan idrak (kefahaman).19

Lihat Imam al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn; Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama – Keajaiban Kalbu Jilid 4, (Jakarta: Republika, 2011), hal.12-13

19Imam al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn; Menghidupkan Kembali Ilmu- Ilmu Agama – Keajaiban Kalbu Jilid 4, hal.14

Referensi

Dokumen terkait

Demikian tinggi fungsi berpikir yang digambarkan oleh Al-Ghazali, sehingga akal pikiran tidak akan menjadi cerdas dan berguna, selama akal pikiran tidak

Menurut Al-Ghazali dalam kitabnya Ihyâ ‘Ulû m al-Dîn yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, Ia menjelaskan bahwa uang merupakan inovasi yang menjadi solusi

Apalagi dengan mengingat pernyataan Al-Ghazâlî sendiri bahwa dia mempelajari filsafat pada waktu- waktu luangnya dari kegiatan menulis dan mengajarkan ilmu-ilmu agama (

Hal ini berarti pelarangan tersebut bukan didasarkan pada keindahan suara yang timbul dari kedua alat musik tersebut; kedua, Pemikiran Imam Abu Hamid al-Ghazali

Selanjutnya pemikiran tentang tujuan pendidikan Islam menurut Al-Ghazali dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: Tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata

Analisis Pemikiran al-Ghazali Tentang Konsep Pendidikan Ibadah Thaharah Berdasarkan yang telah penulis sampaikan pada bab sebelumnya, al- Ghazali berpendapat bahwa pendidikan

Pengantar kitab Rauda al-Talibin karya al-Ghazali yang menjelaskan tentang cinta kepada Allah dan kerinduan untuk

Skripsi Wesilah, Konsep Ilmu Dan Kebenaran Dalam Pemikiran Al-Ghazali Kajian Tentang Epistemologi, meskipun skripsi ini membahas konsep ilmu dan kebenaran dalam sudut pandang