LAPORAN AKHIR
PENELITIAN DOSEN PEMULA
ALTERNATIF PIDANA PERAMPASAN KEMERDEKAAN DALAM PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA INDONESIA
Tahun ke satu dari rencana satu tahun
Oleh :
Herlita Eryke, SH, M.H NIDN.0021028103 Dr.Herlambang,S.H.M.H
NIDN.0016106503
UNIVERSITAS BENGKULU NOVEMBER, 2013
596/ILMU HUKUM
CORE Metadata, citation and similar papers at core.ac.uk
Provided by UNIB Scholar Repository
HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN DOSEN PEMULA
Judul Penelitian : Alternatif Pidana Perampasan
Kemerdekaan dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia
Peneliti/Pelaksana
Nama lengkap : Herlita Eryke S.H.M.H
NIDN : 0021028103
Jabatan fungsional : Lektor
Program Studi/Jurusan : Hukum/Hukum Pidana
Nomor Handphone : 0811738353
Alamat Surel (e-mail) : [email protected]
Anggota 1
Nama Lengkap : Dr. Herlambang S.H.M.H
NIDN : 0016106503
Perguruan Tinggi : Universitas Bengkulu
Tahun Pelaksanaan : Tahun ke 1
Biaya Tahun Berjalan : Rp.10.000.000,-
Biaya Keseluruhan : Rp 10.000.000,-
Mengetahui, Bengkulu,20 November 2013
Dekan Fak. Hukum Ketua Peneliti,
M.Abdi,S.H.M.Hum Herlita Eryke, S.H.M.H.
NIP196301041987021004 NIP: 198102212005012002
Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian
Drs. Sarwit Sarwono,M.Hum NIP: 195811121986031002
Ringkasan
Pidana perampasan kemerdekaan saat ini sedang mengalami ”masa krisis” karena termasuk salah satu jenis sanksi yang ”kurang disukai”. Banyak kritik tajam ditujukan terhadap jenis pidana perampasan kemerdekaan ini, baik dilihat dari sudut efektifitasnya maupun dilihat dari akibat-akibat negatif lainnya yang menyertai ataupun berhubungan dengan dirampasanya kemerdekaan seseorang. Kritik-kritik tajam dan negatif tidak hanya ditujukan terhadap pidana perampasan kemerdekaan menurut pandangan retributif tradisional yang bersifat menderitakan, tetapi juga terhadap pidana perampasan kemerdekaan menurut pandangan modern yang lebih bersifat kemanusian dan menekankan pada unsur perbaikan si pelanggar (reformasi,rehabilitasi dan resosilaisasi).Menentukan lamanya atau berat ringannya pidana perampasan kemerdekaan berupa penjara atau kurungan merupakan salah satu bagian dari masalah kebijakan pemidanaan.
Mencatumkan ancaman pidana peramapsan kemerdekaan berupa penjara atau kurungan dalam perumusan tindak pidana memang tampaknya sederhana. Namun apakah semua tindak pidana akan diancam dengan pidana penjara atau kurungan?.Ternyata dalam implementasinya Hakim sangat kurang sekali untuk menjatuhkan sanksi selain pidana perampasan kemerdekan (penjara,kurungan) dalam penegakan hukum di indonesia.Hakim belum terlalu terbiasa untuk menjatuhkan sanksi berupa non custodial karena presfektif hakim yang masih berparadigma klasik. Disamping paradigma hakim yang klasik hal ini juga disebabkan karena didalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia hampir 78% jenis sanksi yang terdapat di dalam KUHP berupa pidana penjara dan kurungan sedangakan denda hanya 18% serta tindakan hanya 2% Oleh karenanya tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah menghasilkan formulasi/rumusan pasal mengenai alternatif pidana perampasan kemerdekaan (non custodial sanction) dalam rangka pembaharuan hukum pidana Indonesia serta untuk mengembangkan kebijakan limitatif dalam membatasi penerapan pidana perampasan kemerdekaan dengan tidak mengabaikan aspek perlindungan dan pengamanan masyarakat dilain pihak, demi efektifnya penanggulangan kejahatan secara komprehensif
Target khusus yang ingin dicapai pada penelitian adalah : (1) inventarisasi sanksi alternative pidana perampasan kemerdekaan dalam hukum positif indonesia.(2).prosepek pengaturan sanksi alternative pidana perampasan kemerdekaan (non custodial sanction)
Untuk mencapai tujuan dan target khusus tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian normatif. Sedangkan menurut bentuknya, penelitian ini termasuk ke dalam penelitian preskriptif. Penelitian preskriptif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan saran-saran untuk memecahkan masalah-masalah tertentu.dengan menggunakan metode pendekatan perundangan,koseptual dan pendekatan perbadingan.pengolahan data dilakukan dengan kepustakaan dilakukan dengan tahapan:
Melakukan inventarisasi terhadap peraturan perundang-undangan; Melakukan penggalian berbagai asas-asas dan konsep-konsep hukum yang relevan dengan permasalahan yang akan diteliti; Melakukan kategorisasi hukum dalam hubungannya dengan permasalahan yang diteliti.
Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitif.
Kata Kunci : Pidana perampasan kemerdekaan, pembaharuan hukum pidana
PRAKATA
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat melakukan penelitian serta dapat menyusun laporan akhir berjudul : “Alternatif Pidana Perampasan Kemerdekaan dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia ” tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan laporan kemajuan ini adalah untuk melengkapi persyaratan yang telah ditentukan oleh Lembaga Penelitian Universitas Bengkulu dalam Penelitian Dosen Pemula
Di dalam proses penelitian ini penulis banyak mendapat bantuan pada para pihak yang telah meluangkan waktu serta pikirannya pada kesempatan ini penulis haturkan terimakasih. Penulis berharap dengan penelitian yang telah dilakukan ini dapat bermanfaat bagi stakeholder yang terkait dalam mencari alternative pidana perampasan kemerdekaan yang lebih humanis serta berkeadilan di Indonesia.
Dengan rasa rendah hati, penulis tak lupa menyampaikan maaf atas segala kesalahan, kekhilafan maupun kekurangan dalam pembuatan laporan akhir penelitian Dosen Pemula ini.
Semoga Allah SWT memberi balasan yang berlipat ganda atas segala bantuan yang telah diberikan dan selalu memberikan berkat dan rahmat-Nya kepada kita semua. Amin .
Penulis
Herlita Eryke,S.H.M.H.
DAFTAR ISI
Halaman Sampul i
Halaman Pengesahan ii
Ringkasan Iii
Prakata iv
Daftar Isi
BAB 1 Pendahuluan 2
A. Pendahuluan 2
B. Permasalahan 5
BAB 2 Tinjauan Pustaka 5
A. Pidana dan Pemidanaan 5
B. Pidana Perampasan Kemerdekaan 8
C. Teori Pemidanaan 8
1. Teori Absolut 9
2. Teori Relatif 9
3. Teori Gabungan 10
D. Tujuan dan Pedoman Pemidanaan 10
E. Pengertian Pembaharuan Hukum Pidana 11
BAB 3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 12
A. Tujuan Penelitian 12
B. Manfaat Penelitian 13
BAB 4 Metode Penelitian 13
A. Tipe Penelitian 13
B. Jenis Penelitian 14
C. Metode Pendekatan Penelitian 14
D. Sumber data 16
E. Metode Pengolahan Data 16
F. Metode Analisis Data 16
BAB 5 Hasil dan Pembahasan
1. Inventarisir sanksi non custodial dalam Hukum Positif Indonesia A. Pidana Pokok
A.1. Pidana Bersyarat
A.2. Pidana Denda 23
A.3. Pidana Bersyarat 24
A.4. Sanksi Ganti Kerugian dan Pemulihan Lingkungan 25
A.5. Rehabilitasi 26
B. Pidana Tambahan 27
B.1. Pencabutan hak-hak tertentu 27
B.2. Peramapasan Barang-barang Tertentu 28
B.3.Pengumuman Keputusan Hakim 29
2. Kebijakan Formulasi Pengaturan Alternatif Pidana Perampasan Kemerdekaan dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia
29 A.1. Tindakan Non Custodial Pada Tahap Sebelum Proses Peradilan
(Pre-Trial Stage)
32 A.2. Tindakan Non Custodial Pada Tahap peradilan dan Pemidanaan (Trial
and Sentecing Stage )
33
A.3. Tindakan Non Custodial Pada Tahap Setelah Pemidanaan (Post Sentecing Stage)
33
B.1. KUHP Yugoslavia 34
B.2. KUHP KUHP Greenland 35
B.3. KUHP Belanda 36
B.4. KUHP Denmark 38
B.5. KUHP Perancis 39
B.6. KUHP Yunani 40
B.7.KUHP Portugal 43
B.8.KUHP Swiss 46
BAB 6 Rencana Tahapan Berikutnya
BAB 7 Kesimpulan dan Saran 56
A. Kesimpulan 56
B. Saran 56
Daftar Pustaka 57
LAMPIRAN – LAMPIRAN
Personalia Tenaga Peneliti 59
Publikasi
BAB I . PENDAHULUAN
Dewasa ini masalah peningakatan pendayagunaan alternative pidana perampasan kemedekaan (non custodial sanction) sudah menjadi masalah yang universal.Terbukti dari perhatian united nation terhadap masalah ini. Sub Committee 11 pada The Sixth United Nation Congress on the Prevention of crime and the Treatment of Offender pada tahun 1980 di Caracas, yang membahas topik De-institutionalization of corrections yang memberikan rekomendasi sebagai berikut :
In a resulation on alternative to imprisonement the congress recommended that member state examine their legislation with aview towards removing legal obstacles to utilizing alternative to imprisonment in appropriate cases in countries where such obstacles exist and encouraged wider community participation in the implementation of alternative to improsement and activities aimed at the rehabilitation of offenders 1
Di dalam pembaharuan hukum pidana perampasan kemerdekaan selalu menempati posisi sentral di dalam stelsel sanksi pidananya, di samping itu pidana perampasan kemerdekaan yang ternyata sulit untuk dihapuskan begitu saja. Meskipun diadakan usaha pembaharuan dalam segi praktis maupun teoritis. Untuk mengurangai nilai ekonomis dari pidana perampasan kemeredekaan, namun merupakan kenyataan,bahwa di satu pihak pidana perampasan kemerdekaan akan tetap ada seperti diungkapakan oleh Barnes & Teeters, New Horizons in Criminologi, Third Editions,Prentice Hall of Indea, New Dehli, 1966 menyatakan : we have taken the position throughtout that prisons as we know then in our culture have failed in rehabilitation and,in fact, have been the instrument in hardening many of their victims in anti social attitudes. We are not prepared to obolish them at this time,though we are convinced that the swing eventually be in the directions”2 sekalipun mungkin namanya berbeda dan dilain pihak pidana perampasan kemerdekaan akan tetap melekat kerugian-kerugian yang kadang sulit untuk diatasi. Kerugian itu bila ditinjau dari segi tujuan yang hendak dicapai kerugian tersebut dapat bersifat filosofis maupun praktis. Sekalipun penjara diusahkan untuk tumbuh sebagai instrument reformasi dengan pendekatan lebih manusiawi ,namun sifat asli sebagai lembaga yang harus melakukan pengamanan dan pengendalian narapidana tidak dapat dilepaskan begitu saja.
1 United nation congress on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders hal ini juga mendapat perhatian pada The Fourt United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treament of Offenders (1970) dan the fifth United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treament of Offender (1975) serta dibicarakan di consultative Assembly of the Council Of Europe
2 Muladi & Barda Nawawi Arief, Teori Kebijakan Hukum Pidana, PT Alumi Bandung,1998,Hlm 77
Pidana perampasan kemerdekaan berupa penjara dan kurungan merupakan jenis sanksi yang paling sering dijatuhkan oleh hakim dalam system peradilan pidana di Indonesia. Terlihat dari berbagai putusan di pengadilan di Indonesia hampir 98%3 menjatuhkan pidana penjara atau kurungan terhadap terpidana tanpa melihat jenis tindak pidana maupun bobot keseriusan tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku kejahatan. Pidana perampasan kemerdekan berupa pidana penjara dan kurungan dianggap sangat efektif dalam mencegah dan menaggulangi kejahatan yang terjadi di dalam masyarakat.
Jika melihat penegakan hukum yang ada di Indonesia hakim cendrung untuk menjatuhkan pidana perampasan kemeredekaan berupa penjara atau kurungan seperti kasus pencurian sandal jepit yang dilakukan oleh seorang anak pelajar SMK di Palu suatu ironi ketika seorang anak di ancam hukuman lima tahun penjara akibat mencuri sandal jepit milik Briptu Ahmad Rusli Harahap dan Briptu Simon Sipayung anggota Polda sulteng mei 2012.Ataupun banyaknya kasus anak nakal (Juvennille Deliquent) mencuri kecil-kecilan ataupun vandalisme yang dilakukan remaja oleh system peradilan pidana Indonesia di hukum dengan pidana perampasan kemerdekaan4.
Menilik pada contoh kasus diatas terlihat bahwa penegakan hukum Indonesia sangat kaku hal ini salah satu disebab oleh Hakim tidak mempunyai pilihan dalam menjatuhkan sanksi selain pidana penjara bagi tindak pidana pencurian misalnya,karena sesuai dengan rumusan pasal 362 KUHP berbunyi : Barang siapa mengambil barang sesuatu,yang seluruhnya atau sebagaian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum,diancam pidana penjara paling lama lima tahun.Jadi jika melihat formulasi bunyi pasal tersebut Hakim tidak memiliki pilihan kecuali menjatuhkan sanksi perampasan kemeredekan berupa penjara maksimun pidana 5 tahun karena KUHP tidak memberikan alternative sanksi kecuali pidana perampasan kemeredekaan berupa penjara atau kurungan bagi setiap orang yang melakukan pencurian tanpa melihat bobot keseriusan tindak pidana atau kerugian yang ditimbulkan akibat tindak pidana tersebut. Sehingga kasus seperti pencurian sandal jepit tersebut vonis Hakim pastilah berupa pidana perampasan kemerdekaan yaitu pidana penjara atau kurungan. Adanya kecendrungan masyarakat pada saat ini dan melihat dari kenyataan bahwa semakin tidak disukainya pidana penjara khususnya untuk pidana yang dijatuhkan kurang dari 1 (satu) tahun
3 Jurnal Paria Peradilan Indonesia, Mahkamah Agung Indonesia,2007
4http://www.hukum.kompasiana.com,diunduh pada 19 Februari 2013 jam 21.30 WIB
dan atas dasar pertimbangan kemanusiaan serta tujuan dari pemidanaan secara umum, serta kurang efektifnya pelaksanaan pidana penjara sehingga membawa konsekuensi negatif bagi perbaikan pelaku5
Jika kita menilik melakukan kajian perbandingan dengan Negara lain seperti Belanda dimana tempat Indonesia mengadopsi Wvs itu sendiri telah melakukan pembaharuan hukum pidana secara signifikan ini terlihat dengan mengupayakan merumuskan alternative pidana perampasan kemerdekan (non custodial sanction) untuk tindak pidana ringan yang tidak menimbulkan tingkat keberbahayaan yang besar seperti kasus pencurian/penguntitan yang dilakukan anak di pusat perbelanjaan.(did not cause significant demage)
Jika dilihat dari masalah efektivitas pidana penjara ini juga menjadi perhatian kongres PBB kelima pada tahun 1975 mengenai Prevention of Crime and The Treatment of Offenders.dinyatakan bahwa efektivitas pidana perampasan kemerdekaan menjadi perdebatan sengit di kebanyakan Negara. Selanjutnya dikemukan bahwa di banyak Negara terdapat krisis kepercayaan terhadap efektifitas pidana perampasan kemerdekaan dan ada kecenderungan untuk mengabaikan kemapuan lembaga-lembaga kepenjaraan dalam menunjang pengendalian atau pengurangan kejahatan.6 Kritik menarik juga datang dari sudut politik criminal ialah pernyataan bahwa orang tidak menjadi lebih baik tetapi justru menjadi jahat setelah menjalani pidana penjara, terutama apabila penjara ini dikenakan pada anak-anak dan remaja seperti yang dikemukan oleh Ramsey Clark dalam tulisan yang berjudul “Prison:Factories of Crime”7.melihat dari kondisi yang dijelaskan diatas hendaknya penggunaan sanksi pidana perampasan kemerdekaan dilakukan dengan sangat selektif dan limitative.
Kurang efektifnya penggunaan sanksi pidana inilah yang akhirnya menjadi masalah.
Adanya kritik terhadap segi-segi negatif dari pidana penjara jangka pendek, telah menimbulkan dorongan usaha untuk melakukan pembaharuan hukum pidana di Indonesia, salah satunya dengan mencari bentuk-bentuk alternatif dari pidana penjara perampasan kemerdekaan.Pada dasarnya custodial sanction dan non-custodial sanction adalah sama,yaitu berupa penderitaan.
Perbedaannya hanyalah, penderitaan pada sanksi non custodial lebih kecil atau ringan daripada penderitaan yang diakibatkan oleh pidana custodial. Pidana lebih tepat didefinisikan sebagai
5 Muladi dan Barda Nawawi Op Cit, hal 18
6 Barda nawawi arief,Kebijakan Legislatif dalam Penaggulangan Kejahatan Dengan Pidan Penjara,Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang,2000,hlm 43
7 Ibid Hlm 45
suatu penderitaan yang sengaja dijatuhkan/diberikan oleh negara pada seseorang atau beberapa orang sebagai akibat hukum (sanksi) baginya atas perbuatan yang telah melanggar larangan hukum pidana.
KUHP yang sekarang diberlakukan di Indonesia adalah KUHP yang bersumber dari hukum kolonial Belanda yang pada prakteknya sudah tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia sekarang. KUHP yang merupakan warisan KUHP kerajaan Belanda diberlakukan di Indonesia dengan beberapa penyesuaian8.Kenyataan inilah yang menyebabkan kebutuhan untuk melakukan pembaharuan hukum pidana di Indonesia. Hukum pidana Indonesia harus diperbaharui, sudah merupakan suatu hal yang mendesak. Ada tiga alasan urgensi diperbaharuinya
hukum pidana Indonesia, yaitu :
1. Alasan Politik, Indonesia yang telah enam puluh tiga tahun merdeka adalah wajar mempunyai hukum pidana sendiri, yang diciptakansendiri, oleh karena itu hal ini merupakan simbol kebanggaan dari negara yang telah bebas dari penjajahan.
2. Alasan Sosiologis, Pengaturan dalam hukum pidana merupakan pencerminan dari ideologi politik suatu bangsa, dimana hukum itu berkembang. Artinya bahwa segala nilai-nilai sosial dan kebudayaan dari bangsa itu harus mendapatkan tempat dalam pengaturan di hokum pidana.
3. Alasan Praktis, Dengan pembaharuan hukum pidana yang baru, akan dapat memenuhi kebutuhan praktis, sebab hukum peninggalan penjajah jelas masih menggunakan bahasa Belanda. Padahal kita sebagai bangsa yang merdeka sudah memiliki bahasa sendiri, tentu tidaklah tepat jika menerapkan suatu aturan hukum berdasarkan pada teks yang tidak asli.9
Alasan-alasan tersebut merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan agar terwujudnya pembaharuan hukum pidana, yang mencerminkan nilai-nilai social yang hidup dalam masyarakat dan kebudayaan bangsa.Pembaharuan hukum di Indonesia pada dasarnya sudah berlangsung sejak lama. Terutama sejak Indonesia merdeka, usaha yang sistematis dalam rangka mengganti aturan hukum kolonial Belanda dengan kitab undang-undang yang lebih sesuai dengan falsafah hidup, tingkat kesadaran hukum dan kebutuhanmasyarakat Indonesia, tidak putus-putusnya dilakukan.KUHP yang berasal dari kerajaan Belanda ini sangatlah mempunyai pengaruh yang besar bagi negara Indonesia, sehingga setelah enam puluh delapan tahun kemerdekaan, Indonesia masih saja menerapkan unsur-unsur aturan hukum peninggalan kolonial Belanda ini.Upaya pembaharuan hukum di Indonesia perlu ditingkatkan secara lebih terarah dan terpadu, khususnya mengenai pidana non-custodial, sebagai alternative pidana perampasan kemerdekaan maka dari
811 Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Perkembangan Ilmu Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro,1994 Semarang. Hal. 16
9 Sudarto, Hukum Pidana dan Perkembangan Hukum Pidana,Sinar Baru,Bandung,1983.Hlm 62
itu sangat penting untuk melakukan pengaturan dan pemecahan masalah hukum yang ada.berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk menggangkat judul :
“Alternatif Pidana Perampasan Kemerdekaan dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia”
Permasalahan :
1. Jenis-jenis sanksi alternative pidana perampasan kemerdekaan (non custodial sanction) dalam hukum positif Indonesia ?
2. Bagaimanakah kebijakan formulasi pengaturan alternative pidana perampasan kemerdekaan dalam pembaharuan hukum pidana Indonesia?
BAB 2.TINJAUAN PUSTAKA A. Pidana dan Pemidanaan
Sanksi pidana diartikan sebagai suatu nestapa atau penderitaan yang timpakan kepada seseorang yang bersalah melakukan perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana, dengan adanya sanksi tersebut diharapkan orang tidak akan melakukan tindak pidana.10
Pidana menjadi ciri khusus dalam hukum pidana dan membedakan dari jenis hukum yang lain.Pidana berarti nestapa, sengsara atau penderitaan yang dikenakan terhadap pelaku tindak pidana.Untuk memberikan gambaran yang lebih luas, berikut ini
dikemukakan beberapa pendapat atau definisi dari para sarjana sebagai berikut : 1. Sudarto, yang dimaksud dengan pidana adalah penderitaan yang sengaja
dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.
2. Roeslan Saleh, pidana adalah reaksi atas delik, dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja di timpakan negara pada pembuat delik.
Moeljatno memberikan pengertian pidana sebagai bagian dari hukum pidana. Dapat dikemukakan disini bahwa hukum pidana adalah sebagai berikut :
1. Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh
dilakukan, yang dilarang dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barangsiapa yang melanggar larangan tersebut.
2. Menentukan kapan dan dalam hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhkan pidana sebagaimana yang telah diancam.
3. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut.11
10Mahrus Ali, Dasar-dasar Hukum Pidana,PT Sinar Grafika, Jakarta Timur ,2011.Hlm 194.
11Muladi Dan Barda Nawawi Arief Op.Cit. Hlm 2
Dari beberapa penjelasan diatas, maka pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut :
1) Pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan,
2) Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang),
3) Pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang.
Adapun mengenai jenis-jenis sanksi pidana telah diatur dalam KUHP dalam Pasal 10.
Diatur dua jenis pidana yaitu pidana pokok dan pidana tambahan. Pidana pokok terdiri atas lima jenis pidana dan pidana tambahan terdiri atas tiga jenis pidana.Jenis-jenis pidana menurut Pasal 10 KUHP ialah sebagai berikut :
a. Pidana Pokok, yang terdiri dari : 1. Pidana Mati
2. Pidana Penjara 3. Pidana Kurungan 4. Pidana Denda 5. Pidana Tutupan
b. Pidana Tambahan, yang terdiri dari:
1. Pencabutan hak-hak tertentu 2. Perampasan barang-barang tertentu 3. Pengumuman putusan hakim.
B. Pidana Peramapasan Kemerdekaan
Pasal 10 KUHP, ada 2 jenis pidana peramapasan kemerdekaan yaitu pidana penjara dan kurungan . dari sifatnya merupakan jenis sanksi yang membatasi kebebasan bergerak, dalam arti menempatkan terpidana dalam suatu tempat (Lembaga Pemasyarakatan) di mana terpidana tidak bebas untuk keluar masuk dan didalamnya wajib untuk tunduk,menaati dan menjalankan semua peraturan tata tertib yang berlaku, maka kedua jenis pidana itu tampaknya sama akan tetapii kedua jenis pidana itu sesungguhnya berbeda jauh.12 .
Menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana Pasal 12 pidana penjara:
(1) pidana penjara adalah seumur hidup atau selama waktu tertentu
(2) pidana penjara selama waktu tertentu paling pendek adalah satu hari dan paling lama 15 tahun berturut turut
(3) pidana penjara selama waktu tertentu boleh dijatuhkan untuk 20 tahun berturut-turut dalam hal kejahatan yang pidanannya Hakim boleh memilih antara pidana mati,pidana
12 Adami Chazawi,Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1,PT RajaGrafindo Persada,Jakarta,2005.Hlm 32
seumur hidup dan pidana penjara selama waktu tertentu ;begitu juga dalam hal batas 15 tahun dapat dilampaui karena perbarengan,penggulangan,atau karena ditentukan dalam Pasal 52 dan 52a
(4) pidana penjara selama waktu tertentu sekali-kali tidak boleh lebih dari 20 tahun . Pidana kurungan menurut Kitab Undang –undang Hukum Pidana pasal 18:
(1) kurungan paling sedikit adalah 1 hari dan paling lama satu tahun
(2) jika ada pemberatan pidana yang disebabkan karena perbarengan atau penggulangan atau karena ketentuan Pasal 52 dan Pasal 52a, kurungan dapat ditambah menjadi 1 tahun 4 bulan
(3) kurungan sekali kali tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan C. Teori Pemidanaan
Tindak pidana merupakan suatu hal yang masih sangat sulit di atasi, baik itu hanya merugikan diri pelaku sendiri maupun merugikan masyarakat secara luas. Manusia dalam perjalan sejarahnya memiliki banyak pemikiran untuk mengatasinya, salah satunya membuat suatu aturan yang dinamakan Hukum Pidana yang di dalamnya terdapat aturan-aturan yang melarang suatu perbuatan dan ada ancaman sanksi jika melanggarnya yang terintegrasi dalam suatu sistem pemidanaan.
Ada beberapa teori-teori tentang pemidanaan yang berhubungan dengan tujuan pemidanaannya sebagai berikut:
1. Teori Absolut/Retributif/Pembalasan (lex talionis)
Menurut Nigel Walker yang dikutip Muladi dan Barda Nawawi Arief dalam buku Teori- Teori Dan Kebijakan Pidana, para penganut teori retributif ini dapat pula dibagi dalam beberapa golongan:
a) Penganut teori retributif yang murni (the pure retributivist) yang berpendapat bahwa pidana harus cocok atau sepadan dengan kesalahan Si pembuat.
b) Penganut teori retributif tidak murni (dengan memodifikasi) yang dapat pula dibagi dalam : 1. Penganut teori retributif yang terbatas (the limiting retributivist) yang berpendapat pidana tidak harus cocok/sepadan dengan kesalahan, hanya saja tidak boleh melebihi batas yang cocok/ sepadan dengan kesalahan terdakwa.
2. Penganut teori retributif yang distributif (retribution in distribution), disingkat dengan sebutan teori “ distributive” yang berpendapat pidana janganlah dikenakan pada orang yang tidak bersalah, tetapi pidana juga tidak harus cocok/sepadan dan dibatasi oleh
kesalahan.Prinsip tiada pidana tanpa kesalahan dihormati “, tetapi dimungkinkan adanya pengecualian misalnya dalam hal “strict liability”13
Pembagian di atas dimaksudkan untuk membagi cara pemidanaan yang bersifat secara profosional namun dengan cara dan pandangan yang berbeda. Pada teori retributif tidak murni mulai muncul prinsip presumtion of innocent dimana tiada pidana tanpa kesalahan dan penggunaan batasan maksimal pidana (straft maxima).
2. Teori Relatif/Tujuan (utilitarian)
Pendapat Karl O. Christiansen yang dikutip M. Sholehuddin dalam bukunya Sitem Sanksi Dalam Hukum Pidana mengklasifikasikan ciri dari teori relatif sebagai berikut:
a) The purpose of punishment is prevention (tujuan pidana adalah pencegahan).
b) Prevention is not a final aim, but a means to a more supremsaim, e.g.social welfare (pencegahan bukan tujuan akhir tetapi hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi yaitu kesejahteraan masyarakat).
c) Only breachesof the law which are imputable to the perpetrator as intent or negligence qualityfor punishment (hanya pelanggaran – pelanggaran hukum yang dapat dipersalahkan kepada sipelaku saja, misalnya kesengajaan atau kelalaian yang memenuhi syarat untuk adanya pidana).
d) The penalty sHall be determined by its utility as an instrument for the prevention of crime (pidana harus ditetapkan berdasarkan tujuannya sebagai alat pencegahan kejahatan).
e) The punishment is prospective, it points into the future; it may contain as element of reproach, but neither reproach nor retributive element can be accepted if they do not serve the prevention of crime for benefit or social welfare (pidana melihat kedepan atau bersifat prospective; ia mengandung unsur pencelaan tetapi baik unsur pencelaan maupun unsur pembalasan tidak dapat diterima bila tak membantu pencegahan kejahatan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat). 14
3. Teori Gabungan.(verennigingstheorie)
Teori ini merupakan gabungan dari dua teori sebelumnya, yang mengajarkan penjatuhan hukuman atau vonis bertujuan untuk mewujudkan tata tertib hukum dalam masyarakat dan mengembalikan diri pelaku tindak pidana seperti manusia normal lainnya. Adapun ciri-ciri teori ini:
a) Berdasarkan hukuman pada tujuan (multifungsi) retributive/pembalasan dan relative/tujuan.
b) Berdasarkan teori gabungan maka pidana ditujukan untuk:
(1) Pembalasan, membuat pelaku menderita
(2) Upaya Prevensi, mencegah terjadinya tindak pidana (3) Merehabilitasi Pelaku
(4) Melindungi Masyarakat. 15
13Muladi dan Barda Nawawi Arief, Op. Cit, Hal. 11.
14M. Sholehuddin, Op. Cit, Hal. 42-43.
15http://repository.unand.ac.id/9564/, diakses tanggal 29 September 2011.
15Leden Marpaung, 2006, Asas-teori-Praktek Hukum Pidana,Sinar Grafika, Jakarta, Hal. 59.
Teori-teori di atas dapat disimpulkan memiliki tujuan pemidanaan yakni:
1) Menjerakan penjahat atau membuat jera penjahat.
2) Membinasahkan atau membuat tidak berdaya lagi si penjahat.
3) Memperbaiki pribadi penjahat.
D. Tujuan dan Pedoman Pemidanaan
Indonesia merupakan salah satu negara yang belum melakukan perubahan besar dalam Hukum pidananya, namun bukan berarti tidak ada rancangan untuk itu. Tujuan dan pedoman pemidanaan, yang sebelumnya tidak diatur dalam KUHP, mulai dirumuskan dalam Rancangan KUHP tahun 2008 telah mengatur hal tersebut yakni:
1) Tujuan Pemidanaan
KUHP sekarang belum merumuskan tujuan pemidanaan, sedangkan dalam Rancangan KUHP 2008 dalam Pasal 54 Ayat (1) menyatakan bahwa pemidanaan bertujuan:
a. Mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat.
b. Memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna.
c. Menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan, dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat.
d. Membebaskan rasa bersalah pada terpidana16
Serta dalam Pasal 54 Ayat (2) Rancangan KUHP 2008 juga mengatur sebagai berikut:
Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat manusia.17 2) Pedoman Pemidanaan
Pada KUHP belum merumuskan pedoman pemidanaan, sedangkan pada Rancangan KUHP 2008 dalam Pasal 55 Ayat (1) menyebutkan pedoman pemidanaan yang dapat dijadikan acuan bagi Hakim dalam memberikan pidana. Pedoman pemidanaan itu adalah Hakim harus memperhatikan:
a) Kesalahan pelaku tindak pidana
b) Motif dan tujuan melakukan tindak pidana c) Cara melakukan tindak pidana
d) Sikap batin pelaku tindak pidana
e) Riwayat hidup dan keadaan social ekonomi pelaku tindak pidana
16Ibid.
f) Pengaruh pidana terhadap masa depan pembuat tindak pidana.
g) Pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban.
h) Pemaafan dari korban dan/atau keluarganya; dan/atau
i) Pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan. 18
Pada Pasal 55 Ayat (2) menambahkan bahwa ringannya perbuatan, keadaan pribadi pembuat atau keadaan pada waktu dilakukan perbuatan atau yang terjadi kemudian, dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau mengenakan tindakan dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan
E. Pengertian Pembaharuan Hukum Pidana
Pembaharuan hukum pidana pada dasarnya merupakan bagian dari kebijakan hukum pidana. Kebijakan hukum pidana dapat disebut dengan istilah ”Politik Hukum Pidana” yang secara etimologis ”Kebijakan Hukum Pidana” berasal dari kata ”Kebijakan” dan ”Hukum Pidana”. Dalam bahasa Inggris istilah ”Kebijakan” dapat dikonotasikan dengan istilah
”Policy”.Dalam bahasa Belanda dapat diidentikkan dengan istilah ”Politiek”19.Menurut A.
Mulder, ”Strafrechtspolitiek” ialah garis kebijakan untuk menentukan :
1. Seberapa jauh ketentuan-ketentuan pidana yang berlaku perlu diubah dan diperbaharui;
2. Apa yang dapat diperbuat untuk mencegah terjadinya tindak pidana;
3. Cara bagaimana penyidik, penuntut, peradilan dan pelaksanaan pidana harus dilaksanakan.
Pendapat A. Mulder diatas, dapat disimpulkan bahwa pembaharuan hukum pidana yaitu upaya untuk memperbaharui ketentuan pidana yang sedang berlaku yang merupakan bagian dari kebijakan hukum pidana.Pembaharuan hukum pidana pada hakekatnya mengandung makna, suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi dan sosiocultural masyarakat Indonesia yang melandasi kebijakan sosial, kebijakan kriminal dan kebijakan penegakan hukum di Indonesia.Pembaharuan hukum pidana (penal reform) harus dilakukan dengan pendekatan kebijakan, oleh karena itu pada hakekatnya pembaharuan hukum pidana merupakan bagian dari suatu kebijakan atau policy (yaitu bagian dari politik hukum/penegakan hukum, politik hukum pidana, politik kriminal, dan politik social)20
Dengan demikian, maka badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan- peraturan dalam mengambil suatu kebijakan untuk melakukan peraturan-peraturan dalam mengambil suatu kebijakan untuk melakukan pembaharuan hukum haruslah dengan sosial dan
18Ibid.
19 Barda Nawawi Arief,Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana,PT Citra Adytia Bhakti,Bandung,1996,hlm 27
20 Ibid hlm 17
kultur yang hidup dalam masyarakat.Menurut Sudarto, yang dimaksud dengan pengertian
”Politik Hukum”adalah kebijakan dari negara yang melalui badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki, yang diperkirakan bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam masyarakat dan untuk mencapai apa yang dicita- citakan.Kebijakan negara inilah yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu aturan-aturan hukum baru, sehingga apa yang dicita-citakan untuk mengurangi bahkan menghilangkan kejahatan dapat terwujud.Kemudian berdasarkan pada pengertian tersebut diatas, lebih lanjut dinyatakan bahwa, untuk melaksanakan politik hukum pidana berarti mengadakan pemilihan untuk mencapai perundang-undangan pidana yang paling baik dalam arti memenuhi syarat keadilan dan daya guna.
Selanjutnya Sudarto juga mengemukakan bahwa melaksanakan politik hukum pidana berarti usaha mewujudkan peraturan perundang undangan pidana sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu masa yang akan datang.Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kebijakan atau politik hukum pidana dalam pembaharuan hukum pidana di Indonesia sangatlah penting untuk merumuskan suatu peraturan hukum pidana yang baik untuk mencapai apa yang dicita-citakan masyarakat Indonesia. Usaha untuk membuat peraturan hukum pidana yang baik pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari tujuan penanggulangan kejahatan.Pencegahan dan penanggulangan kejahatan dengan sarana penal merupakan ”penal policy” atau ”penal law enforcement policy”.Fungsionalisasi/Operasionalisasi dilakukan melalui beberapa tahap yaitu:
tahap formulasi (kebijakan legislatif), aplikatif (kebijakan yudikatif), dan eksekusi (kebijakan eksekutif/administratif).Pendapat lain yang berkaitan dengan pembaharuan hukum pidana adalah menciptakan hukum positif secara nasional, tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, hukum yang hidup dalam masyarakat karena masyarakat memegang teguh nilai-nilai kemasyarakatan sebagai pedoman untuk berbuat atau untuk tidak berbuat, sebagaimana yang dikemukakan oleh Eugen Ehrlich bahwa Hukum positif yang baik (dan karena efektif) adalah hukum yang sesuai dengan “living law”, mencerminkan nila-inilai yang hidup dalam masyarakat. Dengan demikian, pihak penguasa dalam membuat undang- undang hendaknya memperhatikan apa yang hidup dalam masyarakat, sehingga usaha untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan perlindungan masyarakat dapat terwujud.
Memperhatikan kondis KUHP (WvS) yang umurnya cukup tua , jelaslah bahwa masyarakat hukum Indonesia semakin menantikan hadirnya konsep KUHP Indonesia dalam penegakan hukum pidana Indonesia. Paling tidak dari segi substansi/materi hukum, Indonesia telah memiliki sebuah kodifikasi hukum pidana yang dibangun dengan pondasi kuat, idealis dan mengedepankan keadilan masyarakat. Dengan demikian diharapkan aspek penegakan hukum pidana lain seperti struktur dan kultur masyarakat akan tergerak untuk menegakkan keadilan sebagaimana yang telah dijunjung dalam konsep KUHP Indonesia. Indonesia sebagai negara yang telah merdeka selama lebih dari setengah abad, masih menerapkan aturan hukum kolonial Belanda. Oleh karena itu sangat perlu diadakan upaya-upaya dalam rangka mengadakan pembaharuan hukum, terutama hukum pidana. Pembaharuan hukum pidana Indonesia merupakan salah satu tema menarik dan masih saja aktual akhir-akhir ini, walaupun usaha ini telah lama didengungkan dan dicanangkan oleh para pakar hukum pidana Indonesia. Lagi pula pembaharuan hukum pidana Indonesia dalam bentuk Konsep/Rancangan KUHP itu telah beberapa kali mengalami perubahan sejak pertama kali dibuat. Masalah pembaharuan hukum (Law Reform) merupakan salah satu diantara banyak permasalahan hukum, terutama yang dihadapi oleh negara negara yang sedang membangun, salah satunya negara Indonesia.Adapun upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan pembaharuan hukum pidana di Indonesia.
Pembaharuan hukum pidana mempunyai makna, suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi hukum pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosio politik, sosio filosofis dan sosio cultural masyarakat.Selain itu, upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan pembaharuan hukum pidana di Indonesia, sehingga peraturan hukum yang akan datang (ius constituendum) khususnya peraturan mengenai pemidanaan yang ada dapat dirumuskan secara lebih baik, sesuai dengan tujuan pemidanaan.
BAB 3.TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN A. TUJUAN PENELITIAN
1. Menginventarisir sanksi alternative pidana perampasan kemerdekaan dalam hukum positif Indonesia sehingga diperoleh informasi tentang jenis-jenis sanksi non custodial dalam hukum positif Indonesia
2. Memberikan arah kebijakan dalam bentuk rumusan/formulasi pasal mengenai alternative sanksi pidana perampasan kemerdekaan dalam rangka pembaharuan hukum positif Indonesia
B. MANFAAT PENELITIAN
Hasil yang diperoleh melalui penelitian mengenai “Alternatif Pidana Perampasan Kemerdekan Dalam Pembahruan Hukum Pidana Indonesia” diharapkan mempunyai manfaat teoretis dan prakstis sebagai berikut:
1. Manfaat teoretis penelitian ini adalah memberikan bahan informasi bagi pengembangan hukum pidana materil terutama tentang stelsel pemidanan dalam pembaharuan hukum pidana Indonesia yang dapat dipakai sebagai bahan kajian lebih lanjut.
2. Manfaat Praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rekomendasi bagi anggota legislative dalam rangka menyusun rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia yang sesuai dengan landasan filosofi, social, dan budaya Indonesia yang luhur serta lebih memperhatikan asepek kesejahteran dan perlindungan masyarakat serta korban tetapi juga kepentingan terpidana.
BAB 4 . METODE PENELITIAN Metode Penelitian
A. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan dalam Penelitian Deskriptif. Penelitian Deskriptif adalah penelitian yang menjelaskan suatu gejala-gejala atau tentang fenomena yang terjadi pada masa sekarang.21 Prosesnya berupa pengumpulan dan penyusunan data, serta analisis dan penafsiran data tersebut. Sedangkan menurut bentuknya, penelitian ini termasuk ke dalam penelitian preskriptif. Penelitian preskriptif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan saran-saran untuk memecahkan masalah-masalah tertentu.22
B. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian hukum normative yang disebut juga penelitian doktrin atau penelitian kepustakaan 23. Bahan-bahan yang telah diperoleh disusun secara sistematis,dikaji, kemudian ditarik kesimpulan dalam hubungannya dengan masalah yang diteliti.
Sebagai penelitian hukum normative, penelitian ini mencakup penelitian inventarisasi hukum
21 www.google.com. Pengertian Penelitian Hukum Deskriptif. Di akses pada hari Jum‟at 21 September 2012, 14.07 Wib.
22 Soejono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : UI Press Hal.10
23 SoerjonoSoekanto,Sri Mamudji,1995,Penelitian hukum Normatif suatu Tinjauan Singkat,Raja Grafindo,Jakarta Hlm 13-14
positif,asas-asas hukum,penelitian hukum klinis,sistematika peraturan perundang- undangan,sinkronisasi suatu perundang-undangan,sejarah hukum dan perbandingan hukum. Oleh karena itu titik bertanya akan lebih banyak menelaah dan mengkaji data sekunder yang diperoleh dari penelitian teori-teori para ahli.24
C. Pendekatan Penelitian
Dalam penenelitian ini penulis menggunakan beberapa metode pendekatan, antara lain : 1. Pendekatan Peraturan Perundang-Undangan ( Statute Aproach)
Dalam metode pendekatan perundang-undangan peneliti perlu memahami hierarki dan asas-asas dalam peraturan prundang-undangan.Menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011,Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam praturan perundang- undangan. Pendekatan peraturan perundang-undangan merupakan legislasi dan regulasi yang mrupakan keputusan diterbitkan oleh pejabat administrasi yang bersifat konkret dan khusus.25 2. Pendekatan Konseptual ( Conceptual Approach)
Pendekatan konseptual dilakukan manakala penelitian tidak beranjak dari aturan hukum yang ada.26 Pendekatan ini digunakan atas dasar bahwa penelitian ini mempunyai hubungan erat dengan doktrin-doktrin dan pandangan-pandangan dalam ilmu hukum pidana. Dalam hal ini peneliti dapat mengidentifikasi konsep dari Undang-Undang dan diperjelas dengan pandangan- pandangan para sarjana.
3. Pendekatan Perbandingan ( Comparative Approach)
Merupakan penelitian tentang perbandingan hukum baik mengenai perbandingan sistem hukum antarnegara, maupun perbandingan produk hukum dan karakter hukum antar waktu dalam suatu Negara.
D. Sumber Data
Menurut P. Mahmud Marzuki, bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif, artinya mempunya otoritas. Bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah perundang-undangan, dan putusan-putusan hakim.27
24 ibid
25 P. Mahmud Marzuki,2005, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Grup, Surabaya, Hal 96-97.
26 Ibid. Hal 137.
27 Ibid. Hal 25.
Dalam penelitian ini menggunakan bahan hukum primer yang terdiri dari :
a. Bahan Hukum Primer bahan yang mengikat ,terdiri dari : Kitab Undang- Undang Hukum Pidana,Undang Undang Tindak Pidana Korupsi,Undang-undang tindak pidana pencucian unag,Undang-undang pornografi dan pornoaksi,undang informasi dan transanksi elektonik, undang-undan kekerasan dalam rumah tangga
b. Bahan Hukum Sekunder yaitu semua publikasi tetntang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi ,publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum,jurnal-jurnal hukum dan komentar-komentar atas putusan pengadilan
c. Bahan Hukum Tersier atau bahan penunjang bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, diantaranya : bahan dari media internet yang relevan dengan penelitian dan kamus hukum.
E. Pengolahan Bahan Hukum
Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dan studi dokumentasi . Penelitian kepustakaan dilakukan dengan tahapan:
Melakukan inventarisasi terhadap peraturan perundang-undangan; Melakukan penggalian berbagai asas-asas dan konsep-konsep hukum yang relevan dengan permasalahan yang akan diteliti; Melakukan kategorisasi hukum dalam hubungannya dengan permasalahan yang diteliti.
Setelah semua bahan terkumpul, dilanjutkan dengan pengolahan bahan dengan meringkas, mengutip dan mengulas bahan-bahan atau data tersebut. Pengolahan data dilakukan dengan cara mengedit (editing) dan mengedit kembali (re-editing) data.28 Dalam hal ini, bahan hukum yang diedit kembali adalah bahan hukum primer ataupun bahan hukum sekunder yang berkenaan dengan kebijakan formulasi terhadap tindak pidana teknologi dalam pembaharuan hukum pidana di Indonesia.
F. Analisis Bahan Hukum
Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dengan melakukan analisa secara deskriptif dan preskriptif.penganalisaan deskriptif dan presfektif ini bertitik tolak dari analisis yuridis empiris untuk mendalaminya dikaitkan dengagan analisa histrois dan komparatif
Dalam melakukan penelitian hukum, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :29
28 Ronny Hanitjo Soemitro, 1990, Metode Penelitian Hukum dan Juri Metri, Ghalia Indonesia, Jaharta, Hal 52
29 P. Mahmud Marzuki,Op Cit. Hal 171.
1. Mengidentifikasi fakta hukum dan mengeliminir hal-hal yang tidak relevan untuk menetapkan isu hukum yang hendak dipecahkan;
2. Pengumpulan bahan-bahan hukum dan sekiranya dipandang mempunyai relevansi juga bahan-bahan non hukum;
3. Melakukan telaah atas isu hukum yang diajukan berdasarkan bahan-bahan yang telah dikumpulkan;
4. Menarik kesimpulan dalam bentuk argumentasi yang menjawab isu hukum; dan 5. Memberikan preskripsi berdasarkan argumentasi yang telah dibangun dalam
kesimpulan.
BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Jenis Sanksi Alternative Pidana Perampasan Kemerdekaan Dalam Hukum Positif Indonesia
Pengulangan kejahatan dengan menggunakan sanski pidana merupakan cara yang paling tua,setua peradaban manusia itu sendiri. Ada yang menyebutnya sebagai older philosophy of crime control.30 Ada juga yang berpendapat bahwa terhapa pelaku kejahatan atau para pelaku pada umumnya tidak perlu dikenakan pidana. Menurut pendapat itu pidana merupakan”peninggalan dari kebiadaban kita masa lalu”( a vesitage of our savage past) yang seharusnya dihindari .31jika dilihat dari segi kebijakana, maka ada yang mempermasalahkan apakah perlu kejahatan ditanggulagi, dicegah atau dikendalikan dengan menggunakan sanksi pidana.
Bagian terpenting dari system pemidanaan adalah menetapkan suatu sanksi. Keberadaan sanksi memberikan arah dan pertimbangan mengenai apa yang seharusnya dijadikan sanksi dalam suatu tindak pidana untuk menegakakkan berlakuknya norma. Pidana pada hakikatnya hanya merupakan alat untuk mencapai tujuan, maka dari itu haruslah bertolak pada keseimbangan dengan memilki dua sasaran pokok yaitu perlindungan masyarakat dan perlindungan/pembinaan individu pelaku tindak pidana. Oleh karena itu syarat pemidanaan harus bertolak pada asas legalitas dan asas kesalahan.
Pemidanaan bisa diartikan sebagai tahpa penetapan sanksi dan juga tahap pemberian sanksi dalam hukum pidana.menurut Sudarto menyatakan bawa pemberian pidana in abstracto adalah menetapkan stelsel sanksi hukum pidana yang menyangkut pembentuk undang-undang.
30 Gene Kessabaum,Delinquency and Social Policy,Inc,London,1974 Hlm 39, lihat juga Barda Nawawi Arif ,Kebijakan Legislatif dalam Penaggulangan kejahatan dengan Pidana Penjara, ,Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang,Semarang,1996,hlm 18
31 Herbert L packer,The Limits Of Criminal Sanction, Standford University Press, California,1968, hlm 3
Sedangkan pemberian pidana in concreto menyangkut berbagai badan yang semuanya mendukung dan melaksanakan stelsel sanksi hukum pidana itu32
G.P Hoefnagels memberikan arti yang lebih luas .dikatakan bahwa sanski dalam hukum pidana adalah semua reaksi terhadap pelanggar hukum yang telah ditentukan undang- undang,dimulai dari penahanan tersangka dan penuntutan terdakwa sampai pada penjatuhan vonis oleh hakim. Hoefnagel melihat pidana suatu proses waktu yang keseluruhan proses itu dianggap suatu pidana.33
Menurut pandangan determinisme yang menyatakan bahwa orang tidak mempunyai kehendak bebas dalam melakukan suatu perbuatan karena dipengaruhi oleh watak pribadinya, faktotr-faktor biologis dan faktor lingkungan. Maka dari itu kejahatan merupakan manisfestasi dari keadaan jiwa seseorang yang abnormal.oleh karena itu si pelaku kejahatan tidak dapat dipersalahkan atas perbuatannya dan tidak dapat dikenakan pidana. Kerena seseorang penjahat merupakan jenis manusia khusus yang memiliki ketidaknormalan organik dan mental, maka bukan pidana yang seharusnya dikenakan kepadanya tetapi diperlukan adalah tindakan perawatan yang bertujuan memperbaiki terdakwa.
Pandangan determinisme ini yang menjadi ide dasar dan sangat mempengaruhi aliran positif di dalam kriminologi dengan tokoh lomboroso,Garofalo dan Ferri yang menurut Alf Ross, pandangan inilah yang kemudian berlanjut pada gerakan modern mengenai The campaign against punishment. Kampanye anti pidana ini masih terdengar di abad XX dengan slogan baru yang terkenal ”the struggle against punishment atau abolition of punishment”. Ide penghapusan pidana dikemukan oleh dikemukan oleh Fillippo Gramatica, seorang tokoh ekstrim dari aliran defense sociale yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari aliran modern. Menurut Gramatica “hukum perlindungan social” harus menggantikan hokum pidana yang ada sekarang.
Tujuan utama dari hokum perlindungan social adalah mengintegrasikan individu kedalam tertib social dan bukan pemidanaan terhadap perbuatannya. Hukum perlindungan social mansyaratkan penghapusan pertanggungjawaban pidana (kesalahan) dan digantikan tempatnya oleh pandangan tentang perbuatan anti sosial.34
Penetapan jenis dan bentuk sanksi, sesungguhnya merupakan bagian dari kebijakan kriminal yang menuntut penggunaan atau penerapan metode yang rasional. Jelas bahwa
32 Sudarto,Hukum dan Hukum Pidana, Alumni,Bandung,1986,hlm 42
33 G.P Hoefnagels, The Other sIde of Criminology,Kluwer Deventer, Hollland,1973,hlm138-140
34 Muladi dan Barda Nawawi, Pidana dan Pemidanaan,Alumni,1982,Hlm 24-25.
kebijakan penetapan suatu sanksi merupakan suatu cara, metode, dan/atau tindakan yang rasional dan terarah pada suatu tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dengan kata lain, langkah awal dalam menetapkan suatu jenis sanksi adalah dengan menetapkan tujuan yang hendak dicapai oleh sanksi itu sendiri sebagaimana yang dikemukakan oleh Karl O. Christiansen, maka dapat ditetapkan tujuannya sebagai berikut :
1. Mengetahui keterjalinan atau keterkaitan antara ide dasar double track system dengan implementasinya dalam kebijakan legislasi.
2. Mengidentifikasikan konsistensi implementasi ide-ide dasar sanksi pidana (straf/punishment) dan tindakan (measure/treatment) dalam produk perundang-undangan pidana selama ini.
3. Menemukan dan menjelaskan alternatif pemecahan baik teoritis maupun praktis dalam masalah ketidakkonsistenan penetapan sanksi pidana (straf/punishment) dan tindakan (measure/treatment) dalam perundang-undangan pidana di Indonesia35
Sanksi pidana lebih menekankan unsur pembalasan (pengimbalan) yang merupakan penderitaan yang sengaja dibebankan kepada seorang pelanggar,sedangkan sanksi non-custodial bersumber dari ide dasar perlindungan masyarakat dan pembinaan atau perawatan si pembuat Atau seperti yang dikatakan oleh J. E. Jonkers, bahwa sanksi pidana dititikberatkan pada pidana yang diterapkan untuk kejahatan yang dilakukan, sedangkan sanksi non-custodial mempunyai tujuan yang bersifat sosial. Seiring perkembangannya dalam usaha untuk memperbaiki pelaksanaan pidana penjara ialah dengan adanya Standar Minimum Rules (SMR) yang semula dirancang oleh The International Penal and PenitentiaryCommission (IPPC) pada tahun 1933.
Setelah naskah IPPC ini diperbaiki oleh sekretariat PBB, akhirnya SMR ini disetujui oleh kongres PBB pertama mengenai pencegahan kejahatan dan pembinaan pelanggaran hukum pada tahun 1955 di Genewa. Selanjutnya SMR ini disetujui oleh Dewan Ekonomi dan Sosial PBB dalam resolusinya No. 633 C (XXIV) tertanggal 31 Juli 1957. Erat kaitannya dengan diterimanya SMR ini,maka Kongres kedua PBB mengenai pencegahan kejahatan dan pembinaan pelanggar hukum pada tahun 1960 di London telah mengeluarkan rekomendasi untuk membatasi atau mengurangi penggunaan yang luas dari pidana penjara pendek. Dengan demikian perlunya mengembangkan strategi lokal, nasional,regional dan internasional di bidang pembinaan pelaku tindak pidana dan juga alternatif pidana penjara dapat menjadi sarana efektif untuk pembinaan pelaku tindak pidana dan keuntungan bagi masyarakat.
35Sholehuddin, 2002, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Hal. 35
Fakta-fakta reformasi penjara tampaknya memungkinkan munculnya pandangan optimis bahwa penderitaan dalam pemidanaan telah bertambah buruk. Kenyataan itu mendorong upaya untuk memperbaiki pelanggar yang dipidana penjara. Itulah sebabnya dewasa ini muncul kecendrunganuntuk menempatkan penekanan utama pada masa percobaan (probation).Sedangkan pengurungan hanya sebagai alternatif kedua bagi mereka yang melakukan kejahatan-kejahatan berat dan berulang Meningkatnya populasi penjara dan semakin padatnya penjara merupakan faktor yang menimbulkan kesulitan untuk diterapkannya SMR for the Treatment of Prisoners. Sedangkan menurut Richard Wassestron, berpendapat sebagai berikut :Sejalan dengan gerakan reformasi penjara tersebut, muncul pula aliran penologi rehabilitasionis. Melalui aliran ini, terjadi reorientasi yang penekanannya pada reformasi narapidana sebagai tema utama dalam sistem pemidanaan dan mengesampingkan semua tujuan lain dari pemidanaan. Ada dua alasan mengapa sistem rehabilitasi lebih disukai daripada sistem sanksi pidana. Pertama, berdasarkan fakta bahwa tidak ada pelaku kejahatan yang bertanggungjawab atas aksi-aksi mereka dan tidak ada pelaku yang dipidana secara adil. Kedua, rehabilitasionis mengajukan klaim bahwa sistem rehabilitasi masih lebih baik daripada sistem sanksi pidana, sekalipun beberapa atau semua pelaku bertanggungjawab atas aksi-aksi merekaDampak negatif dari custodial sanction baik bagi terpidana, masyarakat dan negara sangat berpengaruh dalam penanggulangan kejahatan dengan menggunakan hukum pidana, pada akhirnya akan berpengaruh pada masalah pilihan terhadap sanksi apa yang dapat diterapkan secara efektif untuk menanggulangi kejahatan. Pengenaan sanksi pidana terhadap terpidana di Negara Indonesia seringkali menggunakan jenis custodial sanction. Akan tetapi dalam jenis custodial sanction terutama yang dibawah satu tahun banyak membawa dampak negatif, baik bagi terpidana itu sendiri maupun negara dan masyarakat.
Banyak masyarakat dan kalangan akademisi mempertanyakan efektifitas pidana penjara dilihat dari aspek perlindungan masyarakat. Jika dilihat dari aspek perlindungan masyarakat maka suatu pidana dapat dikatakan efektif apabila pidana itu dapat mencegah ataupun mengurangi kejahatan. Kreteria efektivitas dilihat dari seberapa jauh frekuensi kejahatan dapat ditekan. Dengan kata lain dari seberapa jauh efek pencegahan umum dari pidana penjara dalam mencegah warga masyarakat pada umumnya untuk tidaka melakukan kejahatan. Jika melihat hasi penelitian yang dilakukan bahwa pidana yang paling banyak dijatuhkan oleh Hakim adalah pidana penjara dibandingan jenis pidana yang lain. Namun kennyatan dimasyarakat bahwa tidak
ada korelasi positif antara menjatuhkan pidana penjara (custodial sanction) dengan menurunya jumlah kejahatan yang terjadi dimasyarakat.
Mengetahui pengaruh berkerjanya pidana penjara sangatlah tidak mudah seperti yang dikemukan Johannes Andenaes, bekerjanya hukum pidana selammnya harus dilihat dari keseluruhan konteks kulturalnya. Ada saling pengaruh antara hukum dengan faktor-faktor lain yang membentuk sikap dan tindaka-tindakan kita.36
Jika dilihat efektivitas pidana penjara dari aspek perbaikan sipelaku maka ukuran efektivitas terletak pada aspek”pencegahan khusus” dari pidana. Jadi ukurannya terletak pada masalah seberapa jauh pidana itu (penjara) mempunyai pengaruh terhadap si pelaku/terpidana, yaitu aspek pengaruh pidana terhadap terpidana, yaitu aspek pencegahan awal dan aspek perbaikan.
Aspek pengaruh pidana terhadap terpidana diukur dengan menggunakan indikator residivis. Berdasarkan indikator ini R.M. Jackson menyatakan, bahwa suatu pidana adalah efektif apabila sipelanggar tidak dipidana lagi dalam suatu periode tertentu. Selanjutnya ditegaskan,bahwa efektifitas adalah suatu pengukuran dari perbandingan antar jumlah pelanggar yang dipidana kembali dan yang tidak dipidana kembali.37 Aspek selanjutnya adalah aspek perbaikan (reformative aspect), berhubungan dengan masalah perubahan sikap dari terpidana.
Seberapa jauh pidana penjara dapat mengubah sikap terpidana, masih meruapakan masalah yang belum dapat dijawab secara memuaskan. Hal ini disebabkan adanya beberapa problem
Kritik negative pada pidana perampasan kemerdekaan pada umumnya menyatakan, bahwa pidana penjara tidak hanya mengakibatkan terampasnya kemerdekaan seseorang tetapi juga menimbulkan akibat negative terhadap hal-hal yang berhubungan dengan dirampasnya kemerdekaan itu sendiri. Akibat negative antara lain terampsnya juga kehidupan seksual yang normal seseorang, sehingga sering terjadi homoseksual dan mastrubasi dikalangan narapidana.38 Dengan terampasnya kemerdekaan seseorang berate teramapasnya kemerdekaan berusaha , yang dapat berakibat serius bagi kehidupan sosila ekonomi keluarganya. Terlebih pidana penjara dikatakan dapat memberikan stigma yang akan terbawa terus walaupun yang bersangkutan tidak lagi melkukan kejahatan. Akibat lain juga sering dilihat bahwa pengalaman penjara dapat
36 J.Andeneas, Does Punishment Dater Crime? Philosophical Presvective on Punishment,Gertude Ezorsky,State University New York Press,1972, Hlm 346
37 R.M.Jackson.Enforcing the law,1972,hlm 305
38 Op cit.barda nawawi arief kebijakan legislative dalam penaggulangan pidana penjara, hlm 44
menyebabkan terjadinya degradasi atau penurunan derajat dan harga diri manusia serta hilangan kepercayaan pada diri sendiri yang diderita para terpidana.
Jika dilihat dari politik kriminal ada pernyataan bahwa orang tidak menjadi lebih baik tetapi justru menjadi lebih jahat setelah menjalani pidana penjara ;terutama apabila pidana penjara dikenakan pada anak-anak atau para remaja. Menurut Sutherland dan Cressey menyatakan bahwa keberhasilan pidana penjara sebagai sarana untuk reformasi adalah sangat kecil, walaupun hal ini sulit ditentukan secara tepat. Malahan ditegaskan bahwa sesungguhnya tidaklah diketahui apakah penangulangan (resedivis) menurun disebabkan rumah-rumah penjara yang telah mengembangkan metode pembinaan secara individual. Hal senada juga diungkapkan oleh David M Petersen dan Charles W Thomas menyatakan bahwa sangat disayangkan adanya perubahan pandanagn tradisional yang bersifat menderitakan kea rah pandangan yang lebih bersifat kemanusian, tidak memengasilkan sukses besar dalam mekanisme resosialisasi atau rehabilitasi . dikemukan bahwa cara-cara pembinaan dan program –program rehabilitasi saat ini, sangat kecil pengaruhnya terhadap resedivisme.
Kritik tajam atau penilaian yang cukup memprihatinkan dari suatu lembaga dunia, yaitu PBB pada kongres yang kelima tahun 1975 mengenai The Prevention of Crime and The Treatment of Offenders, dalam salah satu laporannya dinyatakan bahwa pengalaman penjara demikian membahayakan sehingga merusak atau mengalami secara serius kemampuan pelanggara untuk memulai lagi keadaan patuh pada hukum setelah ia dikeluarkan dari penajra.
Perkembangan selanjutnya ,kritik-kritik tajam terhadap pidana penjara memuncak sampai pada gerakan untuk mengahapus pidana penjara. Yaitu konfersi internasional mengenai penghapusan pidana penjara (International Conference on Prison Abolition) yang konfrensi pertama diadakan di Toronto Kanada, pada bulan mei 1983, dan konfrensi kedua diadakan di Amstredam, Nederland pada tanggal 24-27 juni 1985. Konfrensi ini diselengarakan oleh Criminological Institute of the free University Amstredam, atas permintaan panitia npengarah The First International Confrence on Prison Abolition (ICOPA) di Toronto.
Melihat dari banyaknya kelemahan serta dampak negative yang demikian luas terhadap pidana penjara maka dicari berbagai alternative pidana perampasan kemerdekaan. Menurut United Nation Standar Minimum Rules For Non Custodial Measure (The Tokyo Rules) menetapkan seperangkat prinsip-prinsip dasar untuk mengembangkan tindakan-tindakan non custodial dan juga mengembangkan jaminan minimum bagi orang yang dikenakan tindakan
alternative penjara. Standard Minimium Rules ini dimaksudkan meningkatkan keterlibatan dan peran serta masyarakat yang lebih besar, khususnya dalam pembinaan pelaku tindak pidana, dan meningkatkan rasa tanggung jawab pelaku tindak pidana terhadap masyarakat. Adapun tindakan non custodial pada tahap peradilan dan pemidanaan (“trial and sentencing stage”) dapat berupa : 1. Verbal sanctions yang dapat terdiri dari : admonition (teguran; dalam arti baik
/positif,memberi nasehat baik), reprimand (teguran keras, dalam arti negative member cercaan), warning (peringatan)
2.Conditional discharge;
3.Satatus penalties;
4.Economic sanctions dan monetary sanctions
5.Confiscation dan expropriation order (perintah pengamblalihan);
6.Restitution dan Compensation 7.Suspended/deferred sentence 8.Probation and judicial supervision 9.a Community service order ; 10. referral to an attendance Centre 11. House arrest;
12. Non institutional treatment
13. Kombinasi tindakan-tindakan diatas,
Jenis sanksi alternative pidana perampasan kemerdekaan dalam hukum positif Indonesia yang telah diatur dalam hukum positif Indonesia yaitu :
A. Pidana Pokok A.1. Pidana Bersyarat
Pidana bersyarat dalam praktek sering disebut dengan pidana percobaan, adalah suatu system/model penjatuhan pidana oleh Hakim yang pelaksanaannya digantungkan dengan syarat- syarat tertentu. Artinya pidana yang dijatuhkan oleh hakim dditetapkan tidak perlu dijalankan pada terpidana selama syarat-syarat yang ditentukan dianggap tidak langgar terpidana.39
Manfaat penjatuhan pidana bersyarat adalah memperbaiki penjahat tanpa harus memasukkannya kedalam penjara. Dalam Pasal 14a hakim dapat menjatuhkan pidana bersyarat dalam putusan pidananya apabila :
39 Adam Chazawi,Pembelajaran Hukum Pidana 1, PT Raja Grafindo Persada, 2005,Hlm 54
1. Hakim menjatuhkan pidana penjara paling lama satu tahun
2. Hakim menjatuhkan pidana kurungan (bukan kurungan pengganti denda maupun kurungan pengganti perampasan barang.
3. Hakim menjatuhkan pidana denda, dengan ketentuan : a. apabila ternyata pembayaran denda atau perampasan barang yang ditetapkan dalam keputusan menimbulkan keberatan yang sangat bagi terpidana, b. apabila pelaku tindak pidana yang dijatuhi denda bersyarat itu bukan berupa pelanggaran yang berhubungan dengan pendapatan negara.
Dalam hal hakim menjatuhkan pidana bersyarat, harus ada syarat-syarat yang ditetapkan dalam putusan hakim . sayart itu dibedakan antara syarat umum dan syarat khusus . sayarat umum bersifat imparatif artinya bila hakim menjatuhkan pidana bersyarat maka dalam putusannya harus ditetapkan syarat umum yaitu bahwa dalam tenggat waktu tertentu (masa percobaan) terpidana tidak boleh melakukan delik (Pasal 14c ayat 1). Syarat khusus hakim boleh menentukan hal- hal sebagai berikut :
a. Penggantian kerugian akibat yang ditimbulkan oleh dilakukannya delik baik seluruhnya atau sebagian yang harus dibayarkan dalam tenggat waktu yang ditetapkan oleh hakim yang lebih pendek dari masa percobaan (Pasal 14 ayat 1)
b. Dalam hal hakim menjatuhkan pidana penjara lebih dari 3 bulan atau pidana kurungan atas pelanggaran ketentuan pasal 492 (mabuk ditempat umum),504 (Pengemisan), 505 (pergelandangan),506(mucikari),536(mabuk di jalan umum) hakim dapat menetapkan syarat-syarat khusus tersebut yang berhubungan dengan kelakukan terpidana (14a ayat 2).
Syarat- syarat khusus tersebut tidak diperkenankan sepanjang melanggar atau menggurangi hak-hak terpidana dalam hal berpolitik dan menjalankan agama (14a ayat 5)40
Sementara itu mengenai masa lamanya percobaan itu ditentukan (Pasal 14b) ditentukan sebagai berikut :
a. Bagi kejahatan dan pelanggran pasal : 492,504,505,dan 536 paling lama 3 tahun.
b. Bagi jenis pelanggaran lainnya adalah paling lama 2 tahun
Masa percobaan itu dimulai berlaku sejak putusan menjadi tetap dan telah diberitahukan kepadanya menurut tata cara yang diatur dalam UU.
A.2.Pidana Denda
Pidana denda diancamkan pada jenis pelanggaran baik sebagi alternative kurungan maupun berdiri sendiri. Begitu juga terhadap jenis-jenis kejahatan ringan maupun culpa, pidana denda sering diancamkan sebagai alternative pidana kurungan. Bagi kejahatan jarang sekali diancam
40 Ibid ,hlm 60