• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL. Oleh : Aqilatama Aryaputri NIM.D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL. Oleh : Aqilatama Aryaputri NIM.D"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL

PANDEMI DAN PERUBAHAN POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT (Studi Kualitatif Pergeseran Pola Komunikasi Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19 di Desa Candi Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali, Tahun 2021)

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Universitas Sebelas Maret

Oleh :

Aqilatama Aryaputri NIM.D0217015

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2021

(2)

PANDEMI DAN PERUBAHAN POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT (Studi Kualitatif Pergeseran Pola Komunikasi Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19 di Desa Candi Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali, Tahun 2021)

Aqilatama Aryaputri Hamid Arifin

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret

Abstract

This study aims to determine changes in communication patterns in the Candi Village community, Ampel District, Boyolali Regency, Central Java after the Covid-19 pandemic in Indonesia. This study will describe the differences that occur in the Candi Village community in terms of communicating in various sectors of life. The description will compare between before and after the Covid- 19 pandemic.

This study uses descriptive qualitative research methods. The resource persons for this research were selected using the purposive sampling technique with 7 (seven) informants. Data were collected using in-depth interviews, documentation, and observation. Data analysis was carried out by data reduction, data presentation, and concluding. The theory used in this study is communication theory, village community communication patterns, and Channel Complementarity Theory.

The results of this study indicate that there are several changes in the way the Candi Village community communicates before and after the Covid-19 pandemic.

People are increasingly communicating online using WhatsApp and other communication applications rather than face-to-face. However, face-to-face communication still exists but with less intensity. The information conveyed was varied and after the pandemic information related to Covid-19 are increased.

Keywords: Communication, Communication Pattern, New Media, Covid-19.

(3)

Pendahuluan

Terpaan teknologi media dan informasi termasuk internet menjadi hal yang tak dapat dihindari oleh masyarakat. Globalisasi menjadi fenomena yang membuat batas-batas wilayah, budaya, bahasa, dan lainnya menjadi tak berarti. Informasi bisa dengan mudah dan cepat tersebar dari satu wilayah ke belahan wilayah yang lain. Kegiatan komunikasi menjadi sangat mudah dan cepat. Dalam waktu singkat, seseorang di belahan dunia utara mampu mengirim pesan ke orang lain di belahan dunia selatan. Proses komunikasi menjadi serba digital. Segala hal berubah menjadi digital, termasuk salah satunya adalah proses komunikasi interpersonal.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh We Are Social dan Hootsuite pada bulan Januari 2020, terdapat sebanyak 175.4 juta masyarakat Indonesia yang menggunakan koneksi internet, angka ini adalah tambahan 17% dari tahun 2019.

Bagi masyarakat Indonesia yang selalu terbuka pada perubahan, internet menjadi hal baru yang bermanfaat. Segala informasi dan kegiatan komunikasi dapat dilakukan hanya dengan menggunakan satu perangkat saja (www.wearesocial.com, 2020)

Masyarakat desa juga mulai memanfaatkan internet dan ponsel pintar untuk berkomunikasi dengan orang lain, atau sekedar untuk menggunakan media sosial sebagai media hiburan ataupun aktualisasi diri. Dulu, interaksi dan komunikasi di masyarakat desa didominasi oleh komunikasi tatap muka secara langsung, namun, dengan adanya pengaruh dari berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, seperti dengan kehadiran internet dalam sistem tata sosial mereka. Maka terjadilah perubahan perubahan sosial di berbagai aspek, diantaranya adalah perubahan dalam pola-pola komunikasi mereka sehari hari. Dengan adanya internet, pola komunikasi telah berubah dari one to one menjadi many to many.

Virus Covid-19 yang telah menyebar hampir ke seluruh dunia, telah memaksa manusia untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Aktivitas yang perlu dilakukan demi mencegah persebaran virus ini adalah dengan meminimalisir komunikasi

(4)

secara tatap muka dengan orang lain. Seluruh lapisan masyarakat perlu beradaptasi dengan keadaan seperti itu, yakni dengan mengganti bentuk media komunikasi yang semula lebih banyak bertatap muka, menjadi komunikasi secara virtual dengan menggunakan media sosial atau aplikasi pertemuan lainnya.

Berdasarkan pada fenomena tersebut di atas, peneliti melihat sebuah kemungkinan adanya perubahan pola komunikasi di masyarakat desa, salah satunya adalah perubahan media komunikasi yang digunakan yang selanjutnya berpengaruh pada proses cara pertukaran pesan antar individu, juga pada kegiatan kemasyarakatan.

Dengan hadirnya media baru, berbagai kegiatan berubah cara pelaksanaannya menjadi berbasis online menggunakan aplikasi seperti WhatsApp, Zoom, Google Meet, dan aplikasi komunikasi lainnya. Komunikasi tatap muka berangsur-angsur semakin berkurang. Dilansir dari Katadata.com, penggunaan aplikasi pesan singkat di Asia Tenggara meningkat sebanyak 30% di masa pandemi ini, sedangkan aplikasi WhatsApp menjadi aplikasi paling digemari di peringkat ketiga bagi masyarakat Indonesia.

Masyarakat desa yang dahulunya lebih banyak mengandalkan komunikasi tatap muka, sejak munculnya teknologi internet, mulai berganti menjadi komunikasi secara daring (dalam jaringan), melalui smartphone dan internet. Tuntutan kewajiban seperti pekerjaan, sekolah, atau pelatihan-pelatihan atau hanya sekedar berbincang dengan tetangga, mengharuskan masyarakat desa untuk melakukan adaptasi secara cepat dalam hal penggunaan aplikasi-aplikasi tersebut, akibat adanya pandemi ini. Walau sebelumnya masyakarat desa sudah mulai menggunakan smartphone, namun intensitas penggunaan aplikasi pesan singkat seperti WhatsApp semakin meningkat. Bagi beberapa bagian masyarakat desa, mungkin aplikasi-aplikasi pertemuan atau pendidikan online ini merupakan hal yang baru, tapi tetap saja, dengan adanya perubahan media komunikasi diantara mereka, tentunya tetap mempengaruhi cara mereka berkomunikasi, seperti dalam hal penggunaan simbol verbal maupun nonverbal sekaligus mempengaruhi kualitas penerimaan pesan dari komunikator kepada komunikan.

(5)

Desa Candi adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali dengan jumlah penduduk sebanyak 7.546 per tahun 2019 (Boyolali, 2020:11). Pada penelitian ini, penulis ingin mengetahui bagaimana pergeseran pola komunikasi masyarakat Desa Candi di masa pandemi Covid-19. S Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin mengetahui bagaimana Pergeseran Pola Komunikasi Masyarakat dari Masa sebelum dan masa selama Pandemi Covid-19 di Desa Candi Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali dilihat dari aspek medium komunikasi yang digunakan, isi pesan yang disampaikan, waktu dan tempat untuk melakukan komunikasi, gaya bahasa yang digunakan, dan motivasi orang dalam melakukan komunikasi?

Landasan Teori A. Komunikasi

Dalam buku Komunikasi Efektif: Suatu Pendekatan Lintasbudaya (Mulyana, 2008:3), komunikasi didefinisikan sebagai suatu proses berbagi makna melalui periaku verbal dan non-verbal. Sedangkan menurut Bernard Berelson & Gary A.

Steiner dalam (Rustan & Hakki, 2017, hal. 29) (Rustan & Hakki, 2017, hal. 29), komunikasi adalah proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya menggunakan simbol kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya.

Tindakan atau proses transmisi tersebut disebut komunikasi. Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah sebuah proses pertukaran informasi antara komunikan dan komunikator secara verbal maupun nonverbal menggunakan simbol-simbol yang dipahami masing masing pihak yang berkomunikasi.

Dalam buku Komunikasi Efektif: Suatu Pendekatan Lintasbudaya (Mulyana, 2008:3), komunikasi didefinisikan sebagai suatu proses berbagi makna melalui periaku verbal dan non-verbal. Dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah sebuah proses pertukaran informasi antara komunikan dan komunikator secara verbal maupun nonverbal menggunakan simbol-simbol yang dipahami masing

(6)

masing pihak yang berkomunikasi. Komunikasi memiliki delapan elemen di dalamnya yang melekat dalam setiap proses komunikasi. Elemen-elemen tersebut adalah sumber, encoding, pesan, saluran/media, decoding, penerima, umpan balik, dan gangguan (Rustan & Hakki, 2017, hal. 40-51).

B. Pola Komunikasi Masyarakat Desa

Pola diartikan sebagai model, sistem, cara kerja. Jika disambungkan dengan komunikasi maka pengertiannya merupakan penyampaian informasi yang dilakukan oleh seseorang dengan memberikan tafsiran terhadap perilaku orang lain yang berwujud pembicaraan, gerak tubuh, sikap, perasaan tentang apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut (Kusuma, 2009, hal. 68).

Terdapat berbagai macam pola komunikasi yang ada di tengah masyarakat, yaitu sebagai berikut (Saputra, 2013, hal. 13-23):

1. Pola Komunikasi Primer: proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu simbol sebagai media atau saluran. Lambang terbagi menjadi dua, yaitu lambang verbal seperti bahasa dan lambang nonverbal yaitu lambang-lambang selain bahasa seperti isyarat, mimik wajah, gerak tubuh, gambar, kode, dan lain-lain.

2. Pola Komunikasi Sekunder: proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikasi dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah penggunaan lambang pada media pertama. Media kedua ini digunakan karena komunikan letaknya jauh atau jumlahnya yang banyak.

3. Pola Komunikasi Linear: proses komunikasi linear berjalan secara lurus yang berarti penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal. Proses komunikasi di pola ini berjalan secara satu arah dan biasanya komunikan bersifat pasif.

4. Pola Komunikasi Sirkuler: komunikasi berjalan secara dinamis, komunikan dan komunikator berada pada kedudukan yang sejajar, serta dapat berubah posisi setiap waktu.

(7)

Desa menurut Sutardjo Kartohadikusumo dalam (Luthfia, 2013, hal. 136) adalah suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri. Di dalam desa, terdapat satuan yang lebih kecil yaitu rukun warga (RW), rukun tetangga (RT), dan keluarga.

Komunikasi secara tatap muka menjadi sarana komunikasi utama masyarakat desa. Istilah “gethok tular” menjadi salah satu kebiasaan yang banyak ditemui di masyarakat desa.

Oepen dalam (Ahmadi, 2017, hal. 12) menjelaskan bahwa media rakyat adalah salah satu sarana untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat desa yang murah, mudah, bersifat sederajat, dialogis, sesuai dan sah dari segi budaya, bersifat setempat, lentur menghibur sekaligus memasyarakat dan dipercaya oleh masyarakat desa setempat. Biasanya berbentuk kesenian daerah atau bentuk seni rakyat lainnya yang di dalamnya dapat disisipkan pesan amanat untuk disampaikan kepada masyarakat. Namun seiring dengan perkembangan zaman, media rakyat berangsur-angsur punah digantikan dengan teknologi-teknologi baru yang berkembang di masyarakat.

C. Channel Complementarity Theory

Teori ini menjelaskan bahwa seiring dengan berkembangnya media dan saluran komunikasi, diprediksi media baru akan mengurangi atau mengganti penggunaan media lama. Namun media lama tentunya tidak bisa sepenuhnya ditinggalkan karena memiliki karakteristik dan kelebihan kekurangannya masing- masing. Keduanya akan saling berjalan pada tempat dan fungsinya masing- masing. Contohnya penggunaan media sosial mengurangi penggunaan email dan telepon. Mohan Dutta-Bergman atau yang saat ini dikenal dengan Mohan Dutta mengatakan saluran komunikasi tidak dapat digantikan secara mudah. Ia mengembangkan teori ini untuk memberikan gambaran bagaimana saluran baru digunakan dalam hubungannya dengan saluran lama. Saluran dipilih berdasarkan motivasi untuk menggunakan dan fungsi dari saluran itu sendiri (Littlejohn, Foss,

& Oetzel, 2017, hal. 177).

(8)

Dengan adanya komunikasi menggunakan media daring, membantu atau meningkatkan intensitas komunikasi meskipun tidak dengan tatap muka. Dutta- Bergman berpendapat bahwa perbedaan individual cenderung menentukan saluran mana yang akan dipilih. Erin Ruppel dan Tricia Burke dalam (Littlejohn, Foss, &

Oetzel, 2017, hal. 177) menambahkan bahwa konsep kompetensi sosial mempengaruhi penggunaan saluran komunikasi yang akan digunakan.

Berdasarkan penelitian yang ia lakukan, orang dengan kemampuan kompetensi sosial yang rendah lebih memilih komunikasi bermedia dan tidak begitu suka menggunakan komunikasi tatap muka.

D. Media Baru

Media baru berkaitan dengan proses komunikasi adalah media yang penggunaanya harus dilakukan secara digital dengan menggunakan akses internet.

Menurut Terry (2000) dalam (Nusaasti, 2014, hal. 41) media baru jika diartikan secara teknis dan teknologis adalah bentuk-bentuk media yang memanfaatkan teknologi digital sebagai pengemas yang berformat multimedia dan jaringan komputer sebagai saluran distribusi atau penyebarannya. Feldman (2002) dalam (Nusaasti, 2014, hal. 42) menjabarkan media baru memiliki 5 karakteristik, yaitu mudah dimanipulasi, networkable, compressible, padat, dan imparsial

Berbagai macam media komunikasi baru yang terbentuk semenjak munculnya internet di muka bumi, memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Segalanya dipermudah dan semakin cepat tanpa perlu mengkhawatirkan aspek ruang, waktu, dan biaya. Berkembang banyak macam media baru, seperti smartphone, komputer, internet, dan jejaring sosial.

Dengan adanya smartphone dan juga internet membuat berbagai aktivitas dapat dilakukan melalui satu alat saja. Saat ini menonton televisi, mendengarkan radio, mencari informasi di mesin pencari (contoh: Google), berkirim pesan, telepon, mengirim surat (electronic mail atau e-mail) bisa dilakukan secara cepat, mudah, dan murah. Begitu juga dengan komputer. Muncul berbagai aplikasi dan website yang dapat digunakan untuk bertukar pesan dan informasi sebagai bentuk

(9)

digitalisasi media lama. Aplikasi jejaring sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, WhatsApp, Line, Email, dan aplikasi lainnya yang banyak digemari di Indonesia maupun di seluruh dunia. Hampir seluruh kegiatan manusia tidak akan lepas dari adanya pengaruh atau campur tangan media baru di dalamnya.

Dengan banyak macam produk dari new media, seluruhnya memiliki beberapa ciri yang pasti melekat dengannya. Lister, dkk dalam bukunya yang berjudul New Media: A Critical Introduction Second Edition (Lister, 2009, hal.

12-13) menjabarkan bahwa karakteristik media baru yaitu digital, interactivity, hypertextual, virtual, networked, dan simulated.

Segala hal yang ada di media baru merupakan buatan manusia yang kebenarannya tidak dapat dipastikan. Seluruh konten di dalamnya dapat diubah oleh para pengguna tanpa ada batasan menggunakan perangkat apapun yang bisa tersambung ke internet secara real-time. Pola komunikasi berubah setelah adanya media baru, yang semula adalah one-to-many menjadi many-to-many. Media baru atau new media dapat merujuk pada beberapa pengalaman baru di bawah ini (Lister, 2009, hal. 12-13):

1. New textual expiriences

2. New ways of representing the world

3. New relationship between subjects (users and consumers) and media technologies

4. New expiriences of the relationship between embodiment, identity, and community

5. New conceptions of the biological body’s relationship to technological media

6. New patterns of organisation and production E. Covid-19

Coronavirus Disease atau Covid-19 menjadi wabah baru yang kasus pertamanya diumumkan terjadi di Wuhan, China pada Desember 2019. Kemudian secara masif menyebar ke seluruh negara, salah satunya Indonesia. Kasus pertama diumumkan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo, pada 3 Maret 2020 di Jakarta.

(10)

Setelah itu kasus positif terus bertambah hingga pada hari 20 Desember 2020 dilansir dari website resmi covid19.go.id kasus positif telah menyentuh angka 657.498 dengan kesembuhan di angka 536.260 jiwa (www.covid19.go.id, 2020).

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization = WHO), menjelaskan Coronavirus Disease atau Covid-19 adalah sebuah penyakit menular yang berasal dari virus Corona yang baru saja ditemukan. Cara penularannya melalui air liur orang yang terinfeksi ketika bersin, batuk, dan lainnya.

Pencegahan terbaik dengan tetap terinformasi dengan baik mengenai Covid-19 dan selalu memakai masker saat keluar rumah serta cuci tangan sesering mungkin (www.who.int, 2020)

Virus ini menyerang sistem pernafasan manusia. Berbagai gejala yang ditimbulkan mulai dari batuk, sesak nafas, demam, dan pusing. Terdapat dua metode yang bisa digunakan untuk melakukan pengecekan adanya virus Covid-19 di tubuh seseorang yaitu dengan rapid test dan tes Polymerase Chain Reaction atau tes PCR.

Dalam perkembangannya, WHO bersama berbagai lembaga lainnya bekerjasama untuk mengembangkan vaksin. Nantinya apabila vaksin untuk Covid-19 telah ditemukan, melalui COVAX, sebuah upaya global untuk memerangi Covid-19 yang didirikan oleh WHO, CEPI, dan GAVI. Melalui Fasilitas COVAX, pengadaan dan distribusi vaksin akan dilaksanakan secara merata (www.who.int, 2020).

Metodologi Penelitian

Lokasi penelitian ini terletak di Desa Candi, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah yang dilakukan mulai bulan Februari hingga bulan September 2021. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang mana akan menjabarkan mengenai perspektif, definisi, dan interpretasi subjek penelitian. Dengan begitu akan memahami fenomena yang terjadi atau dialami oleh para subjek penelitian dan mendeskripsikannya dalam bentuk narasi.

Dalam penelitian ini adalah topik mengenai pergeseran pola komunikasi di

(11)

masyarakat Desa Candi selama sebelum pandemic Covid-19 dengan setelah adanya pandemic Covid-19. Yang menjadi narasumber dalam penelitian ini sebanyak 7 orang narasumber yang mewakili dari berbagai lapisan masyarakat mulai dari Kepala Desa Candi, pemuka masyarakat, pemuka agama, masyarakat secara umum, dan murid yang sedang menempuh pendidikan sekolah menengah.

Data-data dikumpulkan menggunakan metode wawancara dan observasi kemudian ditunjang dengan dokumentasi.

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data model interaktif dari Miles dan Huberman yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Validasi data dilakukan dengan menggunakan Teknik triangulasi sumber dan teknik. Teknik triangulasi sumber dilakukan dengan menanyakan pertanyaan yang sama kepada setiap narasumber. Kemudian triangulasi Teknik dengan menggunakan berbagai metode dalam mengumpulkan data. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.

Sajian dan Analisis Data

Setelah melakukan penelitian di lapangan, diperoleh berbagai temuan di masyarakat mengenai pergeseran pola komunikasi masyarakat Desa Candi, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali saat sebelum dan setelah adanya pandemic Covid-19. Berikut hasil penelitian ini:

1. Aspek Komunikasi: Medium Komunikasi

a. Sebelum pandemic Covid-19: Penggunaan medium untuk berkomunikasi selama sebelum pandemi Covid-19 mayoritas narasumber mengatakan berkomunikasi satu sama lain secara tatap muka. Berbagai kegiatan mulai dari kegiatan formal hingga nonformal di tengah-tengah masyarakat dilaksanakan secara tatap muka dengan mengumpulkan massa di suatu tempat atau hanya bertemu secara tidak sengaja di tengah jalan. Begitu juga kegiatan-kegiatan lainnya seperti sekolah, dakwah keagamaan, dan lain-lain. Namun tidak juga 100% dilakukan secara tatap muka, namun dilakukan juga melalui media baru

(12)

seperti WhatsApp. Penggunaan WhatsApp juga belum terlalu massif digunakan ditengah masyarakat Desa Candi.

b. Setelah pandemic Covid-19: Dengan adanya situasi tak terduga, yaitu pandemic Covid-19 membuat proses komunikasi mulai bergeser ke arah komunikasi online. Komunikasi ini dilakukan menggunakan media handphone atau smartphone sebagai medium komunikasi. Media sosial seperti WhatsApp menjadi aplikasi yang paling umum digunakan oleh masyarakat Desa Candi karena kemudahannya dan kebanyakan sudah familiar dengan WhatsApp karena sudah mulai menggunakannya sejak dahulu.

Setelah adanya pandemic, kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, pendidikan, hingga keagamaan dilakukan secara daring dengan memanfaatkan media baru yang sudah tersedia dan tentunya mudah dipahami oleh masyarakat Desa Candi. Sama seperti sebelum pandemic, komunikasi tatap muka juga tidak bisa 100% ditinggalkan. Menurut Channel Complementarity Theory bahwa penggunaan media komunikasi akan selalu bersifat komplementer atau saling melengkapi. Dalam kasus ini adalah komunikasi daring yang kemudian dilengkapi oleh komunikasi tatap muka. Hal ini dilakukan untuk menjangkau masyarakat yang tidak memiliki akses untuk mendapatkan informasi yang disampaikan secara daring melalui WhatsApp. Selain itu di dunia pendidikan, aplikasi seperti Ruang Guru, Zenius, dan sebagainya menjadi banyak digunakan untuk mendukung pembelajaran sekolah yang dilakukan secara daring. Beberapa hambatan yang dirasakan setelah komunikasi mayoritas berubah menjadi secara daring adalah adanya gangguan sinyal, sistem, dan kuota.

2. Aspek Komunikasi: Isi Pesan

a. Sebelum pandemic Covid-19: Setelah melakukan pencarian data di lapangan dengan metode wawancara dan observasi, informasi-informasi yang disampaikan, khususnya oleh Pemerintah Desa Candi dan pemuka masyarakat (Ketua RT) sebelum pandemi berkaitan dengan pendataan warga, informasi

(13)

undangan kumpulan RT rutin, informasi-informasi terkait lingkungan tempat tinggal, dan pembagian bantuan sosial baik dari pemerintah desa hingga bantuan presiden. Di bidang keagamaan, informasi-informasi disampaikan secara langsung saat mengadakan pengajian akbar. Selain itu, sebelum adanya pandemi telah menggunakan grup WhatsApp namun hanya untuk sekedar menyampaikan informasi seperti undangan pengajian, dan sebagainya. Di dunia pendidikan, isi pesan yang disampaikan disesuaikan dengan materi pelajaran dan informasi-informasi secara umum.

b. Setelah pandemic Covid-19: Terdapat beberapa informasi yang bertambah di mana sebelum pandemi informasi-informasi ini tidak ada, yaitu informasi terkait protokol kesehatan dan mengenai Covid-19. Informasi ini disampaikan oleh Pemerintah Desa Candi kemudian disampaikan secara berjenjang dari RW, RT, dan masyarakat. Informasi ini disampaikan melalui grup WhatsApp yang telah terbentuk yang terdiri dari Pemerintah Desa dengan pihak RT, RW, BPD, dan sebagainya.

Di dunia pendidikan, informasi-informasi dari pihak sekolah kepada murid ataupun sebaliknya disampaikan melalui grup WhatsApp. Informasi tersebut disampaikan dalam bentuk file PDF ataupun langsung disampaikan via chat room. Informasi yang dibagikan biasanya terkait dengan libur sekolah, pelaksanaan ujian sekolah, hingga hari pengingatan ulang tahun sekolah. Jika dilihat dari segi isi pesan atau informasi yang disampaikan, tidak ada perbedaan yang signifikan dibandingkan sebelum pandemic Covid-19 melanda.

Di bidang keagamaan dakwah-dakwah disampaikan melalui grup WhatsApp dengan konsep yang lebih sederhana dan tidak dinamis seperti dakwah yang dilakukan secara tatap muka. Materi-materi yang disampaikan biasanya berkaitan dengan situasi dan kondisi yang dekat dengan masyarakat saat itu.

3. Aspek Komunikasi: Waktu dan Tempat Berkomunikasi

a. Sebelum pandemic Covid-19: Terkait tempat berkomunikasi, wakil-wakil masyarakat Desa Candi akan dikumpulkan di satu tempat untuk mendengarkan

(14)

informasi yang disampaikan oleh Pemerintah Desa Candi. Masyarakat berkumpul setelah sebelumnya diberikan undangan oleh Pemerintah Desa Candi. Di skala yang lebih kecil, informasi dari pemerintah desa yang telah disampaikan kepada perwakilan masyarakat seperti pihak RT dan RW akan disampaikan secara langsung melalui kumpulan rutin. Dalam kegiatan keagamaan, kegiatan pengajian, Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), dan kegiatan keagamaan lainnya dilakukan secara langsung. Contohnya seperti pengajian akbar mendirikan tenda dan mengundang kyai atau pemuka agama lainnya.

b. Setelah pandemic Covid-19: Bergesernya proses komunikasi yang semula tatap muka menjadi serba online ini membuat faktor waktu dan tempat untuk melakukan komunikasi lebih fleksibel. Komunikasi menjadi lebih cepat dan murah tidak terbatas ruang dan waktu. Saat komunikasi berlangsung secara tatap muka, kedua belah pihak yang berkomunikasi harus dilakukan di tempat dan waktu yang sama. Sedangkan ketika komunikasi dilakukan secara daring, komunikasi bisa dilakukan di dua atau lebih tempat yang berbeda dan tidak harus dilakukan di jam yang sama. Komunikasi daring memberikan kebebasan waktu dan tempat yang tidak dimiliki oleh komunikasi secara tatap muka.

Fleksibilitas waktu juga dirasakan oleh para murid dan guru di masa pembelajaran daring. Pemberian materi atau tugas dilakukan di pagi hari dan batas pengumpulan tugas di sore harinya. Murid memiliki keleluasaan waktu untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

4. Aspek Komunikasi: Penggunaan Bahasa Verbal

a. Sebelum pandemic Covid-19: Di lingkungan masyarakat Desa Candi terdapat 2 kelompok besar bahasa yang digunakan yaitu (1) Bahasa Indonesia dan (2) Bahasa Jawa. Penggunaan bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi sehari-hari antara masyarakat dengan masyarakat lainnya, pemuka masyarakat, pemuka agama, dan pemerintah desa tergantung pada suasana yang terbentuk dan topik yang dibicarakan pada saat komunikasi berlangsung.

(15)

Dalam buku An Introduction to Sociolinguistics Fifth Edition (Holmes &

Wilson, 2017:21) faktor seperti identitas lawan bicara, konteks sosial yang dibicarakan, fungsi dan topik dari diskusi tersebut menjadi hal penting dalam penentuan bahasa yang digunakan, hubungan antara komunikan dan komunikator, tingkat kedekatan hubungan, tingkat formalitas situasi, dan sebagainya. Adanya gejala pemilihan bahasa ini disebut sebagai situasi diglosik. Sumarsono (2013) dalam (Muslihah & Suryadi, 2019:33) situasi diglosik adalah adanya berbagai macam kode dan ragam bahasa tersebut menyebabkan penutur bahasa harus memiliki kemampuan untuk memilih dan menentukan kode atau ragam yang sesuai untuk digunakan. Komunikasi secara formal dilakukan menggunakan Bahasa Indonesia baku namun tetap diselingi dengan Bahasa Jawa sedikit. Walaupun masyarakat Desa Candi dan para pemangku jabatan di masyarakat dalam keadaan formal menggunakan Bahasa Indonesia yang baku dan formal, masyarakat Desa Candi tetap bisa menerima informasi tersebut dengan baik. Apabila ada yang kurang dipahami, masyarakat bisa langsung menanyakan kembali agar informasi yang diberikan dapat dipahami dengan sempurna sehingga tidak terjadi miskomunikasi.

Pada komunikasi yang sifatnya non formal, penggunaan Bahasa Jawa menjadi bahasa utama yang digunakan untuk percakapan sehari-hari. Hal ini didorong oleh faktor lingkungan yang kental dengan penggunaan Bahasa Jawa. Namun bahasa juga menjadi salah satu faktor penghambat dalam berkomukasi apabila bahasa yang digunakan kurang familiar ditelinga masyarakat Desa Candi.

b. Setelah pandemic Covid-19: Pemilihan bahasa saat komunikasi secara daring tetap bergantung pada faktor identitas lawan bicara, situasi dan kondisi yang terjadi saat berkomunikasi, dan konteks pembicaraan tetap menjadi faktor utama pemilihan bahasa yang akan digunakan khususnya dalam hubungan yang sifatnya profesional contohnya komunikasi antar rekan kerja atau guru kepada murid. Komunikan dan komunikator akan

(16)

menyesuaikan diri dengan situasi yang terbentuk saat komunikasi berlangsung. Ketika pembicaraan formal dengan guru, pemangku jabatan di pemerintahan desa, atau percakapan lain yang sifatnya formal mayoritas bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia baku. Dalam surat-surat undangan, pengumuman, dan dokumen formal lainnya juga menggunakan Bahasa Indonesia formal. Pemilihan bahasa yang digunakan juga dipengaruhi oleh identitas lawan bicaranya. Penyesuaian ini diperlukan agar komunikasi dapat berjalan dengan efektif dan lancar.

5. Aspek Komunikasi: Penggunaan Bahasa Nonverbal

a. Sebelum pandemic Covid-19: Tanpa disadari, penggunaan komunikasi nonverbal seperti mimik, gestur, gerak tubuh, gambar, kode, dan lain-lain lebih banyak dibandingkan penggunaan komunikasi verbal. Selain itu komunikasi nonverbal secara tidak sadar menunjukkan secara jujur emosi dan perasaan yang dirasakan oleh komunikator maupun komunikan yang terkadang tidak dikatakan secara verbal (Kusumawati, 2016:94).

Penggunaan komunikasi nonverbal merupakan hal penting dalam melakukan komunikasi secara langsung tatap muka guna memperjelas maksud yang ingin disampaikan. Selain itu juga bisa membantu komunikator untuk mengetahui reaksi komunikan atas pesan yang disampaikan. Masyarakat Desa Candi juga menyatakan bahwa bahasa nonverbal menjadi hal penting dalam berkomunikasi untuk membantu memperjelas isi pesan yang disampaikan dan biasanya dilakukan secara alami serta tidak dibuat-buat.

b. Setelah pandemic Covid-19: Dalam konteks komunikasi secara daring, terdapat beberapa fitur yang bisa digunakan untuk menggantikan gestur, mimik wajah, maupun intonasi. Seperti emoji atau emoticon yang biasanya sudah tersedia di setiap aplikasi jejaring sosial, fitur pesan suara yang dapat mengirimkan pesan dalam bentuk suara yang bisa didengarkan berulang kali. Kedua fitur tersebut dapat membuat proses komunikasi secara daring lebih mudah dipahami dan dimaknai oleh kedua pihak yang berkomunikasi.

(17)

Narasumber mengatakan ada yang sudah terbiasa menggunakan emoji untuk memperjelas proses komunikasinya namun ada yang jarang menggunakannya karena tergantung dengan situasi, kondisi, dan lawan bicara saat berkomunikasi. Emoji dapat menjadi alternatif untuk menggantikan gestur dan mimik wajah yang tidak dapat dilihat dan ditunjukkan saat sedang melakukan komunikasi secara daring khususnya dalam bentuk pesan teks. Selain emoji, fitur voice note yang tersedia di WhatsApp juga dapat menjadi alternatif untuk menyampaikan pesan secara lisan. Beberapa narasumber menyatakan bahwa fitur ini digunakan ketika sedang merasa lelah untuk mengetik pesan.

6. Aspek Komunikasi: Motivasi Komunikasi

a. Sebelum pandemic Covid-19: Motivasi seseorang melakukan komunikasi bagi setiap individu berbeda-beda. Motivasi berkomunikasi adalah untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan atau memenuhi kebutuhan informasi, mengekspresikan keinginan seseorang, dan lain sebagainya.

Narasumber mengatakan bahwa motivasi mereka melakukan komunikasi ini untuk menyampaikan informasi atau mengekspresikan perasaan mereka.

Selain itu juga sebagai sarana untuk menjalin silaturahmi satu sama lain.

Bagi perangkat desa, komunikasi dilakukan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

b. Setelah pandemic Covid-19: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, tidak terdapat perubahan terhadap motivasi seseorang melakukan komunikasi saat sebelum pandemi dan setelah pandemi di lingkungan masyarakat Desa Candi. Motivasi mereka berkomunikasi adalah untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan atau memenuhi kebutuhan informasi, mengekspresikan keinginan seseorang. Selain itu juga untuk mempererat tali persaudaraan, menjalin silaturahmi, dan juga mencegah adanya perpecahan antara satu sama lain mengingat setelah pandemi masyarakat diharuskan untuk melakukan physical distancing untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

(18)

7. Aspek Komunikasi: Pola Komunikasi a. Sebelum pandemic Covid-19

1) Pola Komunikasi Primer: Selama sebelum pandemi Covid-19, masyarakat Desa Candi mayoritas menggunakan lambang verbal dan nonverbal seperti bahasa dan penggunaan gestur, mimik, intonasi suara, dan sebagainya.

2) Pola komunikasi sekunder: Pemerintah Desa Candi menggunakan medium surat untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat baik secara langsung maupun berjenjang melalui RT/RW. Di dunia pendidikan, komunikasi antara guru dengan murid atau guru dengan orang tua atau sebaliknya terkadang dilakukan menggunakan surat pengumuman yang disampaikan melalui murid-muridnya.

3) Pola Komunikasi Linear: Hal ini terlihat pada kegiatan pengajian akbar yang dilakukan sebelum pandemic dengan mengundang khalayak dalam jumlah yang banyak. Masyarakat Desa Candi belum terbiasa melakukan komunikasi dua arah pada kegiatan-kegiatan pengajian akbar yang dilakukan di Desa Candi. Komunikasi antara pemerintah desa dengan masyarakat ataupun antar perangkat desa lainnya juga terkadang berjalan secara linear.

4) Pola Komunikasi Sirkuler: Berdasarkan penelitian yang telah peneliti lakukan di Desa Candi, pola komunikasi sirkuler ini terjadi pada diskusi yang dilaksanakan secara langsung. Kegiatan ceramah juga terkadang terjadi pola komunikasi sirkuler. Hal ini bergantung pada acara yang sedang berlangsung.

b. Setelah pandemic Covid-19: Pola komunikasi yang tampak setelah pandemic Covid-19 antara masyarakat Desa Candi dengan pemerintah desa, pemuka agama, dan pemuka masyarakat adalah pola komunikasi linear atau satu arah dan diskusi-diskusi singkat. Komunikasi linear terjadi pada komunikasi antara pemerintah desa dengan jajarannya atau masyarakat sekitar. Sedangkan

(19)

komunikasi dengan diskusi-diskusi singkat terjadi pada komunikasi- komunikasi yang dilakukan menggunakan aplikasi meeting online seperti Zoom yang membuat komunikasi daring seperti bertatap muka. Selain itu, feedback atau umpan balik yang diterima pada komunikasi yang sifatnya massa atau komunikasi yang dilakukan menggunakan medium komunikasi online, seperti WhatsApp dan sebagainya menjadi tertunda.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijabarkan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan mengenai pergeseran pola komunikasi Masyarakat Desa Candi sebelum dan setelah pandemic Covid-19 adalah sebagai berikut:

1. Terdapat pergeseran medium komunikasi yang digunakan oleh masyarakat Desa Candi sebelum dan setelah pandemic Covid-19. Sebelum pandemic, komunikasi dilakukan secara tatap muka. Sedangkan setelah pandemic, komunikasi dilakukan secara daring menggunakan aplikasi media sosial seperti WhatsApp. Namun juga tetap menggunakan komunikasi tatap muka untuk menjangkau masyarakat yang tidak memiliki akses untuk melakukan komunikasi secara daring.

2. Terkait isi pesan yang disampaikan sebelum dan setelah adanya pandemic Covid-19 tidak banyak perubahan yang signifikan hanya saja terdapat tambahan informasi mengenai penyakit khususnya Covid-19.

3. Terdapat perubahan yang dirasakan oleh masyarakat mengenai tempat dan waktu berkomunikasi. Sebelum pandemic, komunikasi harus dilakukan dengan menyesuaikan kegiatan masing-masing orang dan adanya keterbatasan waktu pelaksanaannya. Sedangkan setelah pandemic, komunikasi bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

4. Terdapat 2 kelompok besar bahasa verbal yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari di masyarakat Desa Candi, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Penggunaan bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi sehari-hari antara masyarakat tergantung pada suasana yang terbentuk dan topik yang dibicarakan pada saat komunikasi berlangsung. Bahasa verbal dan

(20)

nonverbal juga menjadi salah satu faktor penghambat komunikasi hal ini terjadi apabila terdapat perbedaan bahasa yang digunakan atau dipahami antara kedua belah pihak yang berkomunikasi. Setelah pandemic, bahasa nonverbal digantikan dengan menggunakan emoji, voice notes, video call, dan voice call.

5. Tidak terlihat perubahan yang signifikan terkait motivasi masyarakat Desa Candi. Motivasi utama melakukan komunikasi adalah untuk mendapatkan dan menyebarkan informasi serta menjalin silaturahmi selama pandemic Covid-19.

6. Pola komunikasi yang terlihat sebelum pandemi Covid-19 di sekitar masyarakat Desa Candi adalah pola komunikasi primer, sekunder, linear, dan sirkuler. Sedangkan setelah adanya pandemi Covid-19, pola komunikasi yang digunakan semakin sedikit yaitu pola komunikasi linear dan sekunder saja.

Daftar Pustaka

Ahmadi, M. D. (2017, Juli 22). Pola Komunikasi Masyarakat Pedesaan.

Retrieved Januari 10, 2021, from Studylibid: https://studylibid.com/doc/423953/

Kusuma, L. A. (2009). POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT TRANSISI (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Pola Komunikasi Ibu-Ibu RUmah Tangga Masyarakat Transisi di Desa Gawanan Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah). Skripsi. Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia:

Universitas Sebelas Maret Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Lister, M. d. (2009). New Media: A Critical Introduction Second Edition. New York: Routledge.

Littlejohn, S. W., Foss, K. A., & Oetzel, J. G. (2017). Theories of Human COmmunication Eleventh Edition. Illinois: Waveland Press, Inc.

Luthfia, A. R. (2013). Menilik Urgensi Desa di Era Otonomi Daerah. Journal of Rural and Development, 136.

Nusaasti, S. M. (2014). “New Media Dan Kelompok” (Studi Deskriptif Kualitatif Pola Komunikasi Dalam Kelompok Iaas (Internasional Association Of Student Agricultural And Related Science) Indonesia Menggunakan Skype Sebagai Cyber Communication). Skripsi. Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia: Universitas Sebelas Maret Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Rustan, A. S., & Hakki, N. (2017). Pengantar Ilmu Komunikasi. Yogyakarta:

Deepublish.

Saputra, A. B. (2013). Pola Komunikasi Dalam Produksi Program Acara Talkshow SAKINAH di KSTV Kediri. Disertasi. Kediri, Jawa Timur, Indonesia:

IAIN Kediri.

(21)

We Are Social. (2020, Januari). Digital in 2020. Dipetik pada 16 Desember 2020 pukul 22.00 WIB, dari we are social: https://wearesocial.com/digital-2020.

Referensi

Dokumen terkait

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu... Proses Komunikasi secara primer. Proses penyampaian

Pengertian  komunikasi  secara  umum  adalah  proses  pengiriman  dan  penerimaan  pesan  atau  berita  antara  komunikator  dengan  komunikan,  baik  secara 

Menurut simons, komunikator yang dipersepsi memiliki kesamaan dengan komunikan cendrung berkomunikasi lebih efektif karena kesamaan dapat mempermudah proses komunikasi. Selain

Situasi komunikasi dinilai sebagai komunikasi kelompok besar, jika antara komunikator dan komunikan sulit untuk terjadinya komunikasi secara langsung atau bersifat antar

Pola komunikasi ini merupakan komunikasi yang penyampaian pesannya dari komunikator kepada komunikan ditandai dengan adanya aksi atau tanggpan secara langsung baik

28 (Komunikasi nonverbal lebih sering terjadi secara tidak sadar. Orang-orang tidak menyadari fakta bahwa selain komunikasi verbal mereka, gerakan nonverbal juga

Komunikasi Massa menurut pendapat tan dan wright merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal,

Proses Komunikasi Sekunder  Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media