• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. HALAMAN KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB...

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DAFTAR ISI. HALAMAN KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB..."

Copied!
300
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB ... vii

RINGKASAN EKSEKUTIF ... viii

LAPORAN KEUANGAN POKOK ... 1

A. LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA ACEH ... 1

B. LAPORAN PERUBAHAN SALDO ANGGARAN LEBIH ... 3

C. NERACA ... 4

D. LAPORAN OPERASIONAL ... 7

E. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS ... 9

F. LAPORAN ARUS KAS ... 10

BAB I PENDAHULUAN ... 12

1.1 Maksud dan Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan 12

1.2 Landasan Hukum Penyusunan Laporan Keuangan .... 14

1.3 Sistematika Penulisan Catatan atas Laporan Keuangan 16 BAB II EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBA ... 18

2.1 Ekonomi Makro ... 18

2.2 Kebijakan Keuangan ... 26

2.3 Indikator Pencapaian Target Kinerja APBA ... 29

(3)

iii

HALAMAN

BAB III IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA KEUANGAN ... 31

3.1 Pencapaian Realisasi Pendapatan Aceh ... 31

3.2 Pencapaian Realisasi Belanja Aceh ... 33

3.3 Pencapaian Realisasi Belanja Modal ... 42

BAB IV KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN PENERAPANNYA ... 45

4.1 Lingkungan Akuntansi Pemerintah Aceh ... 45

4.2 Entitas Pelaporan Keuangan ... 45

4.3 Basis Akuntansi yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan ... 46

4.4 Basis Pengukuran dan Pengakuan yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan ... 46

4.5 Penerapan Kebijakan Akuntansi Berkaitan dengan Ketentuan yang Ada dalam Standar Akuntansi Pemerintah ... 49

BAB V PENJELASAN POS-POS PELAPORAN KEUANGAN ... 93

5.1 Penjelasan atas Akun dalam

Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

... 93

5.2 Penjelasan atas Akun dalam

Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LPSAL)

... 110

5.3 Penjelasan atas Akun dalam

Neraca

... 111

5.4 Penjelasan atas Akun dalam

Laporan Operasional (LO) ..

189

5.5 Penjelasan atas Akun dalam

Laporan Peubahan Ekuitas (LPE) ...

203

5.6 Penjelasan atas Akun dalam

Laporan Arus Kas (LAK) ..

204

BAB VI INFORMASI PENTING DAN KEWAJIBAN KONTIJENSI

YANG MEMPENGARUHI LAPORAN KEUANGAN ... 209

6.1 Informasi Penting dan Kewajiban Kontinjensi ... 209

BAB VII PENJELASAN INFORMASI-INFORMASI NON KEUANGAN ... 220

7.1 Gambaran Umum Provinsi Aceh ... 220

7.2 Visi dan Misi Pemerintah Aceh ... 224

BAB VIII PENUTUP ... 226

LAMPIRAN

(4)

iv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 APBA Tahun Anggaran 2014-2018 ... 27

Tabel 3.1 Pencapaian Realisasi Pendapatan Aceh Tahun Anggaran 2018 Menurut Kelompok Pendapatan ... 31

Tabel 3.2 Realisasi Pendapatan Menurut Objek Penerimaan Tahun Anggaran 2018 ... 33

Tabel 3.3 Pencapaian Realisasi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung ... 34

Tabel 6.1 Tahapan Penetapan APBA 2018 ... 209

Tabel 6.2 Penerimaan Dana Otsus Tahun Anggaran 2008-2018 ... 210

Tabel 6.3 Alokasi Dana Otsus Provinsi dan Kabupaten/Kota ... 211

Tabel 6.4 Realisasi JKA Tahun 2010-2018 ... 212

Tabel 6.5 Paket Pekerjaan pada Dinas Pengairan Aceh yang Masih Harus Dibayarkan ... 216

Tabel 7.1 Susunan Satuan Kerja Pemerintah Aceh ... 223

(5)

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Aceh (dalam persentase) ... 20

Gambar 2.2 Persentase Penduduk Bekerja Menurut Status Pekerjaan di Provinsi Aceh ... 22

Gambar 2.3 Jumlah Angkatan Kerja, Tingkat Pengangguran dan Persentase Provinsi Aceh ... 23

Gambar 2.4 Persentase Tingkat Kemiskinan Provinsi Aceh dan Nasional ... 24

Gambar 2.5 Tingkat Inflasi Provinsi Aceh 3 (Tiga) Tahun Terakhir ... 26

Gambar 3.1 Anggaran dan Realisasi APBA Tahun Anggaran 2018 ... 31

Gambar 3.2 Kontribusi Pendapatan Aceh Tahun Anggaran 2018 ... 32

Gambar 3.3 Profil APBA TA 2018 Berdasarkan Klasifikasi Fungsi ... 36

Gambar 3.4 Pencapaian Kinerja Menurut Urusan Pemerintahan Aceh ... 41

Gambar 3.5 Pencapaian Realisasi Belanja Modal Tahun Anggaran 2018 ... 42

(6)

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Belanja Hibah Barang atau Jasa yang Akan Diserahkan Kepada Pihak Ketiga/Masyarakat 2018

Lampiran 2 Belanja Hibah Barang atau Jasa yang Akan Diserahkan Kepada Hasil Migas Kabupaten/Kota (yang Pendanaannya Bersumber dari Tambahan Dana Bagi Hasil dan Dana Otonomi Khusus) 2018

Lampiran 3 Realisasi Belanja Peralatan dan Mesin Tahun Anggaran 2018 dan Tahun Anggaran 2017

Lampiran 4 Realisasi Belanja Gedung dan Bangunan Tahun Anggaran 2018 dan Tahun Anggaran 2017

Lampiran 5 Rincian Piutang BLUD

Lampiran 6 Rincian Persediaan Barang Habis Pakai Lampiran 7a Rincian Persediaan Bahan/Material Lampiran 7b Daftar Obat Kadaluarsa Tahun 2018

Lampiran 7c Daftar Bahan Medis Habis Pakai Tahun 2018

Lampiran 8 Rincian Persediaan Yang Akan Diserahkan Kepemilikannya Kepada Masyarakat/Kabupaten/Kota

Lampiran 9 Resume Penyerahan Pengurusan Piutang LUEP Tahun 2018 Lampiran 10 Daftar Aset Tak Berwujud

Lampiran 11 Aset Rusak Berat Lampiran 12 Aset Hilang Lampiran 13 Aset Hibah Lampiran 14 Aset Bongkar

Lampiran 15 Aset Yang Dihapuskan

Lampiran 16 Aset Lain-lain Yang Tidak Digunakan Dalam Operasional Pemerintah Lampiran 17 Utang Belanja Pegawai

Lampiran 18 Utang Belanja Barang dan Jasa Lampiran 19 Utang Belanja Modal

Lampiran 20 Utang Belanja Bantuan Sosial Lampiran 21 Utang Transfer Bagi Hasil Pajak Lampiran 22 Utang Transfer Dana Otsus Lampiran 23 Utang Dana Sertifkasi Lampiran 24 Utang Dana BOS

(7)
(8)

viii

RINGKASAN EKSEKUTIF

Dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, maka pembagian kewenangan (power sharing) dan pembagian keuangan (financial sharing) antara pemerintah pusat dan daerah menjadi jelas.

Undang-Undang tersebut memberikan kewenangan luas dengan titik berat otonomi diletakkan pada daerah untuk mengelola daerahnya secara lebih mandiri, yaitu pengelolaan urusan rumah tangga maupun pengelolaan keuangannya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat.

Pemerintah Aceh bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh telah menyetujui Peraturan Gubernur Aceh Nomor 09 Tahun 2018 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh Tahun Anggaran 2018 untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Sebagai alat akuntabilitas kepada publik dan perbaikan manajemen pemerintahan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh Tahun Anggaran 2018 ditetapkan dengan menganut prinsip anggaran berbasis kinerja.

Dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh Tahun Anggaran 2018, Pemerintah Aceh telah berupaya menjalankan prinsip-prinsip pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Memenuhi ketetapan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang -Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, Peraturan Pemerintah nomor 58 Tahun 2005 pasal 100, 101, 102, 103 dan Qanun Aceh Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Aceh sebagaimana telah diubah dengan Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Qanun Aceh Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Aceh pasal 274, Pemerintah Aceh menyusun Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2018 sebagai salah satu media pertanggungjawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh Tahun Anggaran 2018 yang akan disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh.

Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Aceh Tahun Anggaran 2018 meliputi :

1. Laporan Realisasi Anggaran, menggambarkan ikhtisar sumber dana, alokasi dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola Pemerintah Aceh serta menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasi Tahun Anggaran 2018, yang mencakup unsur-unsur pendapatan, belanja dan pembiayaan selama periode 1 Januari 2018 sampai dengan 31 Desember 2018, dengan realisasi anggaran sebagai berikut:

1) Pendapatan : Rp 14.427.783.075.798,65 2) Belanja : Rp 12.306.306.187.481,28 Surplus : Rp 2.121.476.888.317,37

3) Pembiayaan :

- Penerimaan : Rp 907.571.981.763,02 - Pengeluaran : Rp 74.590.905.137,68 - Pembiayaan Netto : Rp 832.981.076.625,34

(9)

ix

2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, menggambarkan perubahan saldo anggaran lebih tahun anggaran 2018 dengan periode sebelumnya. Dengan realisasi sebagai berikut:

a) Saldo Anggaran Lebih Awal : Rp 908.673.846.226,83 b) Sisa Lebih Anggaran (SiLPA) : Rp 2.954.457.964.942,71 c) Saldo Anggaran Akhir : Rp 2.954.457.964.942,71

3. Neraca, menggambarkan posisi keuangan Pemerintah Aceh mengenai Aset, Kewajiban dan Ekuitas per 31 Desember 2018, sebagai berikut:

a) Aset : Rp 24.072.598.327.198,20

b) Kewajiban : Rp 3,379,737,047,419.80

c) Ekuitas : Rp 20,692,861,279,778.40

4. Laporan Operasional, menggambarkan ikhtisar sumber dana, alokasi dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola Pemerintah Aceh Tahun Anggaran 2018, yang mencakup unsur-unsur pendapatan dan beban selama periode 1 Januari 2018 sampai dengan 31 Desember 2018, dengan rincian sebagai berikut:

a) Pendapatan-LO : Rp 12.589.431.702.615,02 b) Beban-LO : Rp 10.748.406.210.124,83

Surplus dari Operasi LO : Rp 1.841.025.492.490,19 c) Defisit dari Kegiatan Non

Operasional LO : Rp (1.861.223.452,32) d) Surplus LO : Rp 1.731.643.480.133,55

5. Laporan Perubahan Ekuitas, menggambarkan pergerakan ekuitas Pemerintah Aceh tahun anggaran 2018 dengan rincian sebagai berikut:

a) Ekuitas Awal : Rp 19.002.447.777.673,10 b) Surplus/Defisit LO : Rp 1.731.643.480.133,55 c) Dampak Kumulatif Perubahan

Kebijakan/Kesalahan Mendasar : Rp (41,229,978,028.25) d) Jumlah Ekuitas Akhir : Rp 20,692,861,279,778.40

6. Laporan Arus Kas, menggambarkan informasi mengenai sumber penggunaan, perubahan kas dan setara kas serta saldo kas dan setara kas selama satu periode akuntansi. Arus kas masuk dan arus kas keluar diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, aktivitas investasi aset non keuangan aktivitas pendanaan dan aktivitas non anggaran.

Nilai arus kas bersih berdasarkan aktivitas selama satu Tahun Anggaran 2018 sebagai berikut:

a) Nilai kas bersih dari Aktivitas Operasi : Rp 4.594.664.036.771,39 b) Nilai kas bersih dari Aktivitas Investasi aset

non keuangan : Rp (2.572.877.018.728,49)

c) Nilai kas bersih dari Aktivitas Pendanaan : Rp - d) Nilai kas bersih dari Aktivitas Non Anggaran : Rp -

Saldo kas dan setara kas untuk tahun yang berakhir sampai dengan 31 Desember 2018 sebagai berikut:

a) Kenaikan Kas Selama Periode Akuntansi : Rp 2.021.787.018.042,90 b) Saldo Awal Kas di BUA & Kas di Bendahara

Pengeluaran : Rp 896.986.450.155,63

c) Saldo Akhir Kas di BUA dan Kas Bendahara

Pengeluaran : Rp 2.918.773.468.198,53

d) Saldo Akhir Kas Lainnya di Bendahara

Pengeluaran : Rp 98.767.044.075,96

e) Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan : Rp 1.060.870.940,25 f) Saldo Akhir Kas Lainnya di Bendahara

Penerimaan : Rp 16.925.103,17

(10)
(11)

1

LAPORAN KEUANGAN POKOK

A. LAPORAN REALISASI ANGGARAN

PEMERINTAH ACEH

LAPORAN REALISASI ANGGARAN

Untuk Tahun Yang Berakhir sampai dengan 31 Desember 2018 dan 2017

(Dalam Rupiah)

Uraian Anggaran TA 2018 Realisasi TA 2018 % Realisasi TA 2017

(1) (2) (3) (4) (5)

PENDAPATAN ACEH

Pendapatan Asli Aceh 2.324.662.431.200,00 2.359.385.393.645,65 101,49 2.276.305.568.813,72 Pendapatan Pajak Aceh 1.371.597.749.941,00 1.309.081.813.533,00 95,44 1.315.393.895.060,00 Pendapatan Retribusi Aceh 17.799.646.000,00 20.762.789.454,00 116,65 8.050.858.918,00 Pendapatan Hasil Pengelolaan

Kekayaan Aceh yang Dipisahkan

192.982.069.855,00 181.654.111.575,00 94,13 180.887.942.292,61 Lain-lain Pendapatan Asli Aceh

Yang Sah

742.282.965.404,00 847.886.679.083,65 114,23 771.972.872.543,11

Pendapatan Transfer 12.274.206.245.080,00 12.065.901.692.555,00 98,30 12.009.017.278.818,00 Transfer Pemerintah Pusat-Dana

Perimbangan

3.864.634.048.000,00 3.735.791.721.607,00 96,67 3.802.879.497.580,00 Dana Bagi Hasil Pajak 208.727.710.100,00 159.603.546.172,00 76,46 219.963.358.554,00 Dana Bagi Hasil Hidrokarbon dan

SDA lainnya 19.239.537.900,0 32.289.145.775,00 167,83 33.449.879.917,00

Dana Alokasi Umum 2.060.263.235.000,00 2.060.263.235.000,00 100,00 2.060.263.235.000,00 Dana Alokasi Khusus 313.721.000.000,00 265.367.635.932,00 84,59 239.495.166.645,00 Dana Alokasi Khusus Non Fisik 1.262.682.565.000,00 1.218.268.158.728,00 96,48 1.249.707.857.464,00 Transfer Pemerintah Pusat Lainnya 8.409.572.197.080,00 8.330.109.970.948,00 99,06 8.206.137.781.238,00 Dana Otonomi Khusus 8.029.791.592.980,00 8.029.791.593.000,00 100,00 7.971.646.295.000,00

Dana Penyesuaian 379.780.604.100,00 300.318.377.948,00 79,08 234.491.486.238,00

Lain-lain Pendapatan Yang Sah 23.606.648.000,00 2.495.989.598,00 10,57 65.667.667.385,00

Pendapatan Hibah 23.606.648.000,00 2.495.989.598,00 10,57 47.075.806.385,00

Pendapatan Lainnya - - - 18.591.861.000,00

JUMLAH PENDAPATAN 14.622.475.324.280,00 14.427.783.075.798,65 98,67 14.350.990.515.016,72 BELANJA ACEH

Belanja Operasi 10.983.996.927.963,00 9.054.782.711.093,22 82,44 7.645.261.761.537,03 Belanja Pegawai 2.452.195.185.618,00 2.274.436.642.148,44 92,75 2.270.172.083.286,50 Belanja Barang dan Jasa 4.091.203.458.789,00 3.396.750.243.455,83 83,03 3.402.325.242.931,53 Belanja Hibah 3.844.422.125.578,00 3.146.293.151.465,95 81,84 1.559.738.589.807,00 Belanja Bantuan Sosial 596.176.157.978,00 237.302.674.023,00 39,80 413.025.845.512,00 Belanja Modal 3.301.299.641.247,00 2.503.941.129.736,81 75,85 2.168.299.049.592,00

Belanja tanah 98.766.435.000,00 12.431.133.469,00 12,59 66.023.499.551,00

Belanja Peralatan dan Mesin 450.200.085.072,00 294.027.634.089,47 65,31 380.394.030.015,00 Belanja Gedung dan Bangunan 925.645.659.230,00 731.613.352.208,34 79,04 781.277.676.464,00 Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan 1.759.498.943.667,00 1.405.078.708.994,00 79,86 909.970.802.580,00 Belanja Aset Tetap Lainnya 67.188.518.278,00 60.790.300.976,00 90,48 30.633.040.982,00 Belanja Tidak Terduga 40.000.000.000,00 48.704.400,00 0,12 405.475.992,00

Belanja Tidak Terduga 40.000.000.000,00 48.704.400,00 0,12 405.475.992,00

Jumlah Belanja 14.325.296.569.210,00 11.558.772.545.230,03 80,69 9.813.966.287.121,03

(12)
(13)
(14)

4 C. NERACA

PEMERINTAH ACEH NERACA

Per 31 Desember 2018 dan 2017

(Dalam Rupiah)

Uraian 2018 2017

(1) (2) (3)

ASET

ASET LANCAR

Kas di Kas Aceh 2,918,262,403,033.57 897,538,228,563.44

Kas di Bendahara Penerimaan 1,060,870,940.25 426,617,299.62

Kas Lainnya di Bendaharan Penerimaan 16,925,103.17 -

Kas di Bendahara Pengeluaran 511,065,164.96 550,086,056.00

Kas Lainnya di Bendaharan Pengeluaran 98,767,044,075.96 27,468,876,910.72

Kas di Bendahara BLUD 34,623,625,803.93 10,158,914,307.77

Kas Lainnya 1,101,864,463.81 -

JUMLAH KAS 3,054,343,798,585.65 936,142,723,137.55

Investasi Jangka Pendek - -

Piutang Pajak 29,110,137,455.00 26,274,996,352.00

Penyisihan Piutang Pajak (237,779,093.63) (518,576,851.75)

Piutang Pajak Netto 28,872,358,361.37 25,756,419,500.25

Piutang Ristribusi - 5,000,000.00

Penyisihan Piutang Ristribusi - (25,000.00)

Piutang Retribusi Netto - 4,975,000.00

Piutang Lain-lain PAA yang Sah 181,178,907,513.00 162,899,850,120.62

Penyisihan Piutang Lain-lain PAA yang Sah (1,336,294,621.77) (269,801,277.20)

Piutang Lain-lain PAA yang Sah 179,842,612,891.23 162,630,048,843.42

Piutang Hasil dari Pemanfaatan Kekayaan Daerah 8,895,375,060.86 10,235,423,610.86

Penyisihan Piutang Hasil dari Pemanfaatan Kekayaan Daerah (1,584,694,861.09) (1,591,327,486.09) Piutang Hasil dari Pemanfaatan Kekayaan Daerah Netto 7,310,680,199.77 8,644,096,124.77

Belanja Dibayar Dimuka 5,256,175,317.68 1,005,226,924.60

Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran 88,987,886.08 74,283,146.08

Penyisihan bagian lancar Tagihan penjualan Angsuran (49,860,987.74) (38,061,157.24) Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Netto 39,126,898.34 36,221,988.84

Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi - 891,929,978.00

Penyisihan Bagian Lancar Tuntutan ganti Rugi - -

Bagian Lancar Tuntuan Ganti Rugi Netto - 891,929,978.00

Persediaan 1,260,826,427,453.15 808,230,565,515.58

(15)

5

Uraian 2018 2017

(1) (2) (3)

JUMLAH ASET LANCAR 4,536,491,179,707.19 1,943,342,207,013.01

INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Nonpermanen

Investasi Dana Bergulir 94,422,434,279.05 94,933,103,135.05

Penyisihan Dana Bergulir (94,422,434,279.05) (94,933,103,135.05)

Jumlah Investasi Nonpermanen - -

Investasi Permanen

Penyertaan Modal Pemerintah Aceh 1,458,208,640,023.48 1,438,232,891,888.77

Jumlah Investasi Permanen 1,458,208,640,023.48 1,438,232,891,888.77 JUMLAH INVESTASI JANGKA PANJANG 1,458,208,640,023.48 1,438,232,891,888.77

ASET TETAP

Tanah 4.267.682.267.983,81 3,794,009,839,233.00

Peralatan dan Mesin 2.855.586.710.482,87 2,809,936,765,509.01

Gedung dan Bangunan 4.807.179.824.053,05 4,352,576,443,093.42

Jalan, Irigasi dan Jaringan 11.608.374.062.097,10 11,756,380,775,356.00

Aset Tetap Lainnya 536.612.034.421,36 334,452,670,309.00

Kontruksi Dalam Pengerjaan 826.943.047.514,28 451,689,415,881.00

Akumulasi Penyusutan (10.614.936.106.684,20) (8,180,262,133,098.02)

JUMLAH ASET TETAP 14.287.441.839.867,30 15,318,783,776,283.41

DANA CADANGAN

Dana Cadangan 1,092,859,104,220.88 1,018,268,199,083.20

JUMLAH DANA CADANGAN 1,092,859,104,220.88 1,018,268,199,083.20

ASET LAINNYA

Tagihan Penjualan Angsuran 19,458,679.50 34,163,419.50

Tagihan Penjualan Angsuran Netto 19,458,679.50 34,163,419.50

Tututan Ganti Rugi 24,985,248,329.43 24,749,248,329.43

Tuntutan Perbendaharaan 655,929,978.00 -

Tuntutan Ganti Rugi Netto 25,641,178,307.43 24,749,248,329.43

Kemitraan dengan Pihak Ketiga 12,044,484,000.00 109,683,720,730.00

Aset Tak Berwujud 35,856,535,888.00 23,449,461,882.00

Amortisasi Aset Tak Berwujud (19,714,470,290.93) (9,849,166,943.75)

Aset Tak Berwujud Netto 16,142,065,597.07 13,600,294,938.25

Aset Lain-lain 2,643,750,376,794.41 581,434,618,839.43

JUMLAH ASET LAINNYA 2,697,597,563,378.41 729,502,046,256.61

JUMLAH ASET 24.072.598.327.198,20 20,448,129,120,525.00

(16)
(17)

7 D. LAPORAN OPERASIONAL

PEMERINTAH ACEH LAPORAN OPERASIONAL

Untuk Tahun Yang Berakhir sampai dengan 31 Desember 2018 dan 2017

(Dalam Rupiah)

Uraian 2018 2017 Kenaikan / Penurunan (%)

(1) (2) (3) (4) (5)

KEGIATAN OPERASIONAL PENDAPATAN ASLI ACEH (PAA) - LO

Pendapatan Pajak Aceh 1.311.916.954.636,00 1.316.887.175.523,00 (4.970.220.887,00) (0,38) Pendapatan Retribusi Aceh 20.745.167.536,15 7.949.524.671,37 12.795.642.864,78 61,68 Pendapatan Hasil Pengelolaan

Kekayaan Aceh yang Dipisahkan

201.629.859.709,71 239.307.880.421,85 (37.678.020.712,14) (18,69) Lain-lain Pendapatan Asli Aceh

Yang Sah

850.696.171.452,50 821.518.869.181,82 29.177.302.270,68 3,43 Jumlah Pendapatan Asli Aceh 2.384.988.153.334,36 2.385.663.449.798,04 (675.296.463,68) (0,03) PENDAPATAN TRANSFER

Transfer Pemerintah Pusat-Dana Perimbangan

Dana Bagi Hasil Pajak 159.603.546.172,00 177.021.400.913,00 (17.417.854.741,00) (10,91) Dana Bagi Hasil Sumber Daya

Alam

23.461.903.954,00 14.063.672.837,00 9.398.231.117,00 40,06

Dana Alokasi Umum 2.060.263.235.000,00 2.060.263.235.000,00 - -

Dana Alokasi Khusus 228.315.619.722,88 207.098.516.464,00 21.217.103.258,88 9,29

Dana Alokasi Khusus Non Fisik 1.214.949.127.117,00 594.536.735.179,00 620.412.391.938,00 51,06 Jumlah Pendapatan Transfer 3.686.593.431.965,88 3.052.983.560.393,00 633.609.871.572,88 17,19 Transfer Pemerintah Pusat Lainnya

Dana Otonomi Khusus 6.020.507.092.122,00 7.394.472.212.210,00 (1.373.965.120.088,00) (22,82)

Dana Penyesuaian 300.318.377.948,00 107.742.584.677,00 192.575.793.271,00 64,12

Jumlah Pendapatan Transfer lainnya 6.320.825.470.070,00 7.502.214.796.887,00 (1.181.389.326.817,00) (18,69) LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG

SAH

Pendapatan Hibah 197.024.647.244,78 170.967.761.458,09 26.056.885.786,69 13,23

Pendapatan Lainnya - 19.009.450.872,00 (19.009.450.872,00) -

Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah

197.024.647.244,78 189.977.212.330,09 7.047.434.914,69 3,58

Jumlah Pendapatan 12.589.431.702.615,02 13.130.839.019.408,13 (541.407.316.793,11) (4,30) BEBAN OPERASI - LO

Beban Pegawai - LO 2.283.705.309.939,44 2.264.095.794.251,20 19.609.515.688,24 0,86

Beban Persediaan 744.164.527.367,06 710.328.477.036,30 33.836.050.330,76 4,55

Beban Jasa 2.373.783.317.943,35 2.256.808.106.052,08 16.975.211.891,27 4,93

Beban Pemeliharaan 79.872.181.861,00 69.286.373.984,00 10.585.807.877,00 13,25

Beban Perjalanan Dinas 259.844.029.311,00 285.061.285.387,00 (25.217.256.076,00) (9,70)

Beban Hibah 2.698.571.202.615,80 970.435.604.383,00 1.728.135.598.232,80 64,04

Beban Bantuan Sosial 228.272.910.000,00 249.604.480.000,00 (21.331.570.000,00) (9,34) Beban Penyusutan dan

Amortisasi

1.282.719.295.817,73 989.772.156.897,42 292.947.138.920,31 22,84

(18)
(19)
(20)

10 F. LAPORAN ARUS KAS

PEMERINTAH ACEH LAPORAN ARUS KAS

Untuk Tahun Yang Berakhir sampai dengan 31 Desember 2018 dan 2017

(Dalam Rupiah)

Uraian Tahun 2018 Tahun 2017

(1) (2) (3)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI

Arus Kas Masuk

Penerimaan Pajak Aceh 1.309.081.813.533,00 1.315.388.783.472,09

Penerimaan Retribusi Aceh 20.051.132.465,97 8.000.935.918,00

Penerimaan Hasil Pengelolaan Kekayaan Aceh yang

Dipisahkan 181.654.111.575,00 180.887.942.292,61

Penerimaan Lain-lain Pendapatan Asli Aceh yang Sah 272.644.603.995,46 230.460.056.677,62

Penerimaan Dana Bagi Hasil Pajak 159.603.546.172,00 219.963.358.554,00

Penerimaan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber Daya

Alam) 32.289.145.775,00 33.449.879.917,00

Penerimaan Dana Alokasi Umum 2.060.263.235.000,00 2.060.263.235.000,00

Penerimaan Dana Alokasi Khusus 265.367.635.932,00 239.495.166.645,00

Penerimaan Dana Alokasi Khusus Non Fisik 1.218.268.158.728,00 1.249.707.857.464,00

Penerimaan Dana Otonomi Khusus 8.029.791.593.000,00 7.971.646.295.000,00

Penerimaan Dana Penyesuaian 300.318.377.948,00 234.491.486.238,00

Penerimaan Hibah 2.495.989.598,00 47.075.806.385,00

Penerimaan Pendapatan Lainnya - 18.591.861.000,00

Jumlah Arus Masuk Kas 13.851.829.343.722,43 13.809.422.664.563,30 Arus Kas Keluar

Pembayaran Pegawai 2.269.317.211.167,44 2.247.402.388.136,50

Pembayaran Barang dan Jasa 2.856.669.923.643,40 3.951.891.318.212,68

Pembayaran Hibah 3.146.293.151.465,95 658.892.922.198,00

Pembayaran Bantuan Sosial 237.302.674.023,00 249.604.480.000,00

Pembayaran Tak Terduga 48.704.400,00 405.475.992,00

Pembayaran Bantuan Keuangan 105.125.417.600,00 3.430.551.749.224,50

Pembayaran Bagi Hasil Ke Kabupaten/Kota 642.408.224.651,25 588.330.573.787,75

Jumlah Arus Keluar Kas 9.257.165.306.951,04 11.127.078.907.551,40 Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi 4.594.664.036.771,39 2.682.343.757.011,89

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI ASET NON KEUANGAN

Arus Kas Masuk

Pencairan Dana Cadangan - -

Hasil Penjualan Kekayaan Aceh yang Dipisahkan - -

Penerimaan Penjualan Investasi Non Permanen - -

Penerimaan Kembali Investasi Non Permanen Lainnya - -

Jumlah Arus Masuk Kas - -

(21)
(22)

BAB I PENDAHULUAN | Catatan atas Laporan Keuangan 12 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Maksud dan Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan

Sesuai dengan azas umum pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 106 Tahun 2013 tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Aceh, bahwa Keuangan Aceh dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang- undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.

Sebagai upaya perwujudan good governance serta taat azas, maka pelaporan keuangan pemerintah seharusnya menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan, baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik dengan menyediakan informasi yang berkaitan dengan keuangan.

Maksud penyusunan laporan keuangan ini adalah wujud pertanggungjawaban Gubernur Aceh kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh Pemerintah dalam menjelaskan kinerja penyelenggaraan pemerintahan kepada masyarakat atas penggunaan keuangan daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan penyelenggaraan operasional pemerintahan, hal tersebut menjadi tolok ukur kinerja pemerintahan untuk dipertanggungjawabkan pada setiap akhir tahun anggaran. Pertanggungjawaban ini bukanlah semata-mata dimaksudkan sebagai upaya untuk menemukan kelemahan pelaksanaan Pemerintah Aceh melainkan untuk melaksanakan azas transparansi, efisiensi, efektifitas, serta fungsi pengawasan DPRA terhadap jalannya pemerintahan.

Pemerintah Aceh selaku entitas pelaporan mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil yang dicapai dalam pelaksanaan program dan kegiatan dalam tahun anggaran 2018 untuk kepentingan:

a. Akuntabilitas

Mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik.

b. Manajemen

Membantu para pengguna untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu entitas pelaporan dalam periode pelaporan sehingga memudahkan fungsi perencanaan, pengelolaan dan pengendalian atas seluruh aset, kewajiban dan ekuitas dana pemerintah untuk kepentingan masyarakat.

c. Transparansi

Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan

(23)

BAB I PENDAHULUAN | Catatan atas Laporan Keuangan 13 menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang-undangan.

d. Keseimbangan Antargenerasi (intergeneration equity)

Membantu para pengguna dalam mengetahui kecukupan penerimaan pada periode pelaporan untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan dan apakah generasi yang akan datang diasumsikan akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut.

Tujuan penyusunan laporan keuangan ini adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan Pemerintah Aceh yang secara spesifik tidak hanya bermanfaat bagi para pemangku kepentingan dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya tapi juga berguna dalam pengambilan keputusan serta menunjukkan akuntabilitas Pemerintah Aceh atas sumber daya yang dipercayakan dengan:

a. Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran;

b. Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi serta pengalokasiannya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundang- undangan;

c. Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan Pemerintah Aceh serta hasil-hasil yang telah dicapai;

d. Menyediakan informasi mengenai pendanaan seluruh program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh masing-masing SKPA dan mencukupi kebutuhan kasnya;

e. Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi Pemerintah Aceh, berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang;

f. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan Pemerintah Aceh, apakah mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan.

Hal tersebut dapat diketahui dari posisi pendapatan, beban, belanja, transfer, dana cadangan, pembiayaan, aset, kewajiban, ekuitas dan arus kas Pemerintah Aceh sebagaimana akan tersaji.

Akuntansi berbasis akrual sebagai pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan Standar Akuntansi Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah.

Terbitnya Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut merupakan tindak lanjut dari pasal 7 ayat 3 Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.

Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut akan menjadi panduan bagi pemerintah daerah dalam menyusun Kebijakan Akuntansi Pemerintah daerah dan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD), termasuk Bagan Akun Standar (BAS), Dampak kumulatif yang disebabkan oleh perubahan penerapan akuntansi berbasis akrual disajikan pada Laporan Perubahan Ekuitas dan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Maka berdasarkan ketentuan peraturan perundangan yang ada, Laporan Keuangan Pemerintah Aceh ini disusun sebagai Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBA Tahun Anggaran 2018.

(24)

BAB I PENDAHULUAN | Catatan atas Laporan Keuangan 14 1.2 Landasan Hukum Penyusunan Laporan Keuangan

1 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355);

3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan, Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);

4 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633);

6 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaga Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

7 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaga Negara Republik Indonesia Nomor 5049);

8 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5587) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 246, Tambahan Negara Nomor 5589);

9 Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 209, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4027);

10 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);

(25)

BAB I PENDAHULUAN | Catatan atas Laporan Keuangan 15 11 Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4576);

12 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4577);

13 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

14 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614);

15 Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165);

16 Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5912);

17 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

18 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan Standar Akuntansi Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah;

19 Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 2016 tentang Penggolongan dan Kodefikasi Barang Milik Daerah;

20 Qanun Aceh Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Aceh (Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2008 Nomor 01, Tambahan Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 11) sebagaimana telah diubah dengan Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Qanun Aceh Nomor 01 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Aceh (Lembaran Aceh Tahun 2014 Nomor 11, Tambahan Lembaran Aceh Nomor 70);

(26)

BAB I PENDAHULUAN | Catatan atas Laporan Keuangan 16 21 Peraturan Gubernur Aceh Nomor 106 Tahun 2013 tentang Sistem dan Prosedur

Pengelolaan Keuangan Aceh (Berita Daerah Aceh Tahun 2013 Nomor 80);

22 Peraturan Gubernur Aceh Nomor 09 Tahun 2018 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh Tahun Anggaran 2018 (Berita Daerah Aceh Tahun 2018 Nomor 09);

23 Peraturan Gubernur Aceh Nomor 101 Tahun 2018 tentang Kebijakan Akuntansi Berbasis Akrual Pemerintah Aceh (Berita Daerah Aceh Tahun 2018 Nomor 101);

1.3 Sistematika Penulisan Catatan atas Laporan Keuangan

Penyusunan Catatan atas Laporan Keuangan Pemerintah Aceh Tahun Anggaran 2018 terdiri dari:

Bab I Pendahuluan

Memuat penjelasan mengenai maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan, peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai landasan hukum penyusunan laporan keuangan, dan sistematika isi catatan atas laporan keuangan.

Bab II Ekonomi Makro, Kebijakan Keuangan dan Pencapaian Target Kinerja APBA

Memuat penjelasan mengenai asumsi makro ekonomi dan kebijakan keuangan yang mendasari penyusunan laporan keuangan, serta indikator pencapaian target kinerja APBA berupa indikator program dan kegiatan yang dilaksanakan pada tahun pelaporan.

Bab III Ikhtisar Pencapaian Kinerja Keuangan

Memuat ikhtisar realisasi pencapaian target kinerja APBA, berupa gambaran realisasi pencapaian efektifitas dan efisiensi program dan kegiatan yang dilaksanakan.

Bab IV Kebijakan Akuntansi dan Penerapannya

Memuat informasi tentang entitas akuntansi, basis akuntansi yang mendasari penyusunan laporan keuangan, basis pengukuran atas penyusunan pos-pos laporan keuangan, serta kebijakan akuntansi yang telah diterapkan dan kebijakan akuntansi yang belum diterapkan.

Bab V Penjelasan Pos-Pos Pelaporan Keuangan

Memuat informasi tentang rincian dan penjelasan atas akun dalam Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LPSAL), Neraca, Laporan Oprasional (LO), Laporan Arus Kas (LAK), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

Bab VI Informasi Penting dan Kewajiban Kontijensi serta upaya yang mempengaruhi Laporan Keuangan

Kewajiban kontijensi merupakan suatu keadaan, kondisi atau situasi yang belum memiliki kepastian yang berdampak kepada kondisi keuangan Pemerintah Aceh yang baru terselesaikan dengan terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa dimasa yang akan datang.

(27)

BAB I PENDAHULUAN | Catatan atas Laporan Keuangan 17 Bab VII Penjelasan Informasi-Informasi Non Keuangan

Memuat informasi tentang hal-hal yang belum diinformasikan dalam bagian manapun dari laporan keuangan, diantaranya domisili dan bentuk hukum suatu entitas serta yurisdiksi tempat entitas tersebut berada; penjelasan mengenai sifat operasi entitas dan kegiatan pokoknya; ketentuan perundang-undangan yang menjadi kegiatan operasionalnya; penggantian manajemen pemerintahan selama tahun berjalan; kesalahan manajemen terdahulu yang telah dikoreksi oleh manajemen baru; komitmen atau kontijensi yang tidak dapat disajikan pada neraca;

penggabungan atau pemekaran entitas pada tahun berjalan; dan kejadian yang mempunyai dampak sosial, misalnya adanya pemogokan yang harus ditanggung pemerintah.

Bab VIII Penutup

Memuat uraian penutup yang dapat berupa kesimpulan penting tentang laporan keuangan.

(28)

BAB II EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBA | Catatan atas Laporan Keuangan 18 BAB II

EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBA

2.1 Ekonomi Makro

2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi

Hakekat pembangunan ekonomi adalah serangkaian kegiatan usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk Peningkatan taraf hidup masyarakat, perluasan kesempatan kerja, pemerataan pembagian pendapatan masyarakat, peningkatan hubungan ekonomi regional dan pergeseran ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Pertumbuhan Ekonomi merupakan proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi dalam kehidupan masyarakat.Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth); pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi merupakan proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi setiap penduduknya. Idealnya pembangunan ekonomi bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui peningkatan pendapatan perkapita penduduk.

Pertumbuhan ekonomi regional merupakan suatu proses pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengelola sumberdaya yang ada untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang pertumbuhan. Target pertumbuhan ekonomi antara satu wilayah dengan wilayah yang lain tentu saja berbeda, hal ini dikarenakan potensi ekonomi di wilayah berbeda-beda sehingga kebijakan pemerintah untuk mengaturnya pun juga berbeda, disesuaikan dengan potensi di setiap wilayah. Dalam konteks regional, kesejahteraan masyarakat tersebut diukur melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita.

Dengan kata lain arah pembangunan ekonomi adalah mengusahakan pendapatan masyarakat naik dengan distribusi yang semakin merata. Kemudian untuk mengetahui tingkat pertumbuhan pendapatan masyarakat suatu wilayah perlu disajikan pendapatan regional secara berkala yang dapat digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan regional/daerah khususnya di bidang ekonomi. Sementara itu dalam beberapa buku referensi ditegaskan bahwa pembangunan dan pertumbuhan ekonomi lebih ditentukan oleh faktor permintaan daripada penyediaan. Perkembangan yang terjadi sebagai akibat dari perubahan gaya hidup dan perilaku konsumsi dari sebagian masyarakat modern

(29)

BAB II EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBA | Catatan atas Laporan Keuangan 19 telah mendorong produsen untuk meningkatkan produknya baik secara kuantitas maupun kualitas, yang pada akhirnya mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Sehingga dibutuhkan parameter untuk memantau perkembangan permintaan atau konsumsi masyarakat luas yaitu dengan melihat perkembangan nilai PDRB menurut Pengeluaran.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk memaksimalkan potensi-potensi yang dimiliki, seperti sumber daya alam dan sumber daya manusia. Berbagai inovasi dan teknologi juga semakin di tingkatkan guna mengintensifkan pemanfaatan berbagai sumber daya tersebut. Penggunaan teknologi dimaksud dengan tetap memperhatikan lingkungan, kearifan lokal dan budaya setempat yang positif dalam melancarkan proses pembangunan.

Umumnya daerah yang sedang dalam tahap perkembangan sangat bergantung pada sumber daya alam dalam pembangunan daerahnya. Karena itu ketersediaan sumber daya alam menjadi salah satu jaminan dalam proses menuju keberhasilan pembangunan.

Penemuan – penemuan sumber daya alam yang baru juga merupakan faktor penentu dalam keberlangsungan pembangunan ekonomi.

Disamping sumber daya alam, sumber daya manusia turut menjadi faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi, karena cepat atau lambatnya proses dari pembangunan sangat tergantung pada sumber daya manusianya selaku subjek pembangunan yang selayaknya mempunyai kompetensi yang baik dan cukup memadai untuk melaksanakan proses dari pembangunan tersebut.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat khususnya di bidang teknologi, memberi dampak positif bagi proses pembangunan atau pertumbuhan ekonomi suatu negara, misalnya penggantian dalam memproduksi barang yang asalnya menggunakan tenaga manusia sekarang sudah banyak yang menggunakan mesin yang canggih dan modern yang tentunya akan lebih efesian dan lebih cepat dalam menghasilkan produk, yang pada akhirnya akan mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.

Keberhasilan pembangunan juga sangat dipengaruhi oleh budaya setempat, karena budaya membentuk karakter sumber daya manusia yang merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan. Budaya kerja yang positif akan memberi dampak yang positif bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Informasi perkembangan perekonomian sangat diperlukan untuk menyusun perencanaan dan melakukan evaluasi kinerja pemerintahan. Salah satu data statistik yang dibutuhkan untuk kegiatan perencanaan dan evaluasi ekonomi makro adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Dengan tersedianya data PDRB, strategi dan kebijaksanaan pembangunan perekonomian yang telah diambil pemerintah dapat dievaluasi,

(30)

BAB II EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBA | Catatan atas Laporan Keuangan 20 -2

-1 0 1 2 3 4 5 6

2014 2015 2016 2017 2018

Nasional Dengan Migas Aceh Non Migas Aceh Dengan Migas

dan diperbaiki atau dilanjutkan di masa mendatang. Perekonomian Aceh Tahun 2018 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp155,91 triliun dan PDRB perkapita mencapai Rp29,73 juta. Sementara itu PDRB tanpa migas adalah sebesar Rp150,35 triliun dan PDRB perkapita non migas mencapai Rp28,67 juta. Dibawah ini dapat dilihat perkembangan pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh secara grafik selama 5 (lima) tahun terakhir.

Gambar 2.1

Pertumbuhan Ekonomi Aceh (dalam persentase)

Sumber : BPS Provinsi Aceh

Pada gambar 2.1 terlihat grafik pertumbuhan ekonomi Aceh selama lima tahun terakhir, baik pertumbuhan ekonomi dengan migas maupun pertumbuhan ekonomi non migas. Pada triwulan IV-2018 (c to c) ekonomi Aceh dengan migas tumbuh 4,61 persen.

Dengan mengeluarkan migas, ekonomi Aceh secara kumulatif hingga triwulan IV tumbuh sebesar 4,61 persen. Pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha, kecuali Industri Pengolahan yang terkontraksi sebesar 3 persen dan Konstruksi yang terkontraksi sebesar 4,14 persen. Lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum merupakan lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 8,28 persen, diikuti Industri Pengolahan 8,26, Pertumbuhan Lapangan Usaha Industri Pengolahan tinggi seiring dengan meningkatnya produksi pupuk oleh PT Pupuk Iskandar Muda karena membaiknya pasokan gas dan jasa pendidikan sebesar 7,94 persen.

Ekonomi Aceh pada triwulan IV-2018 dengan migas mengalami pertumbuhan sebesar 5,43 persen bila dibandingkan triwulan IV-2017 (y-on-y). Dengan mengeluarkan migas, Pertumbuhan Ekonomi Aceh secara y on y sebesar 5,09 persen. Pertumbuhan

(31)

BAB II EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBA | Catatan atas Laporan Keuangan 21 terjadi pada seluruh lapangan usaha, kecuali Usaha Transportasi dan Pergudangan yang mengalami perlambatan pertumbuhan sebesar -0,56 persen. Hal ini disebabkan oleh menurunnya jumlah wisatawan mancanegara dan meningkatnya harga tiket pesawat domestik sejak November 2018. Sementara itu, Lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian merupakan lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan tertinggi sebesar 15,61 persen, hal ini dipengaruhi oleh produksi batubara yang terus meningkat, dan mulai berproduksinya Triangle Pase dan Medco Malaka di Blok A sejak pertengahan tahun 2018.

Pertumbuhan tertinggi selanjutnya diikuti oleh Lapangan Usaha Pendidikan sebesar 7,11 persen, Lapangan Usaha Akomodasi dan Makan Minum sebesar 6,71 persen, dan Lapangan Usaha Pertanian sebesar 6,44 persen.

Bila dilihat dari penciptaan sumber Pertumbuhan Ekonomi Aceh Triwulan IV-2018 y on y, Lapangan Usaha Pertanian memiliki kontribusi sebagai sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,76 persen. Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian menyumbang sumber pertumbuhan kedua sebesar 0,98 persen, diikuti Lapangan Usaha Perdagangan yang memberikan kontribusi sebesar 0,88 persen. Sumber pertumbuhan negatif disumbangkan oleh Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 0,04 persen, yang disebabkan turunnya jumlah penumpang angkutan udara.

Sedangkan dilihat dari penciptaan sumber Pertumbuhan Ekonomi Aceh Triwulan IV-2018 q to q, Lapangan Usaha Konstruksi memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 0,71 persen, diikuti Lapangan Usaha Perdagangan sebesar 0,35 persen dan Transportasi dan Pergudangan sebesar 0,22 persen. Sementara itu, struktur perekonomian Aceh menurut lapangan usaha Triwulan IV-2018 tetap didominasi oleh lapangan usaha utama yaitu: Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 29,28 persen, Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 15,73 persen, Administrasi Pemerintahan dan JSW sebesar 10,35 persen, dan Kontruksi (F) sebesar 10,21 persen

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Aceh sampai dengan triwulan IV- 2018 mencapai 4,61 persen (c-to-c). Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Luar Negeri yang mencapai 51 persen diikuti Komponen pengeluaran konsumsi LNPRT sebesar 4,12 persen dan Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 3,58 persen

Sedangkan Pertumbuhan ekonomi Aceh triwulan IV-2018 terhadap triwulan IV- 2017 (y-on-y) mencapai 5,43 persen. . Pertumbuhan Ekonomi 2018 menempatkan Aceh

(32)

BAB II EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBA | Catatan atas Laporan Keuangan 22 4,95

4,23 4,26

13,66 15,63

20,72 36,54

3,19 4,59

5,08

15,92 15,09

22,89 33,31

5,06 3,57

5,63 13,8

14,62

20,47 36,86 diposisi empat pertumbuhan ekonomi se-Sumatera, setelah Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Kepulauan Riau diatas rata-rata nasional.

2.1.2. Perkembangan Ketenagakerjaan

Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja. Menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

Angkatan kerja adalah penduduk usia produktif, yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja, maupun yang sedang aktif mencari pekerjaan.

Angkatan kerja hanya memasukan pekerja yang aktif mencari kerja. Pengangguran adalah orang yang tidak bekerja, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari 2 hari selama seminggu, atau orang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Jumlah pengangguran diukur dengan angka pengangguran, yaitu persentase pekerja-pekerja tanpa pekerjaan yang ada didalam angkatan kerja.

Gambar 2.2

Persentase Penduduk Bekerja Menurut Status Pekerjaan Di Provinsi Aceh, 2017-2018

Sumber : BPS Provinsi Aceh

Permasalahan ketenagakerjaan dan pengangguran terus menjadi isu strategis yang menjadi prioritas pemerintah dalam pembangunan, berbagai terobosan dan kebijakan terkait hal ini telah dilakukan pemerintah untuk memperkecil tingkat pengangguran dan mengakomodir tenaga kerja potensial. Kualitas tenaga kerja dalam suatu daerah dapat ditentukan dengan melihat tingkat pendidikan daerah tersebut. Sebagian besar tenaga kerja di Aceh, tingkat pendidikannya masih rendah. Hal ini menyebabkan penguasaan

Pekerjaan bebas di non pertanian Berusaha dibantu buruh tetap/di bayar

Pekerja bebas di pertanian Pekerja keluarga/tidak dibayar Berusaha dibantu buruh tidak tetap

Berusaha Sendiri

Buruh/Karyawan Agustus 2018 Februari 2018 Agustus 2017

(33)

BAB II EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBA | Catatan atas Laporan Keuangan 23 -

500 1.000 1.500 2.000 2.500

2015 2016 2017 2018

2.182 2.257 2.288 2.353

216 171 150 149

9,93

7,57

6,57 6,36

2015 2016 2017 2018

0 2 4 6 8 10 12

ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi rendah. Masuknya investor diharapkan pula berdampak besar dalam mengurangi angka pengangguran provinsi Aceh.

Gambar 2.3

Jumlah Angkatan Kerja, Tingkat Pengangguran dan Persentase Provinsi Aceh

Sumber : BPS Provinsi Aceh

Jumlah angkatan kerja di Provinsi Aceh pada Agustus 2018 mencapai 2,353 juta orang, bertambah sekitar 64 ribu orang dibanding Agustus 2017 sebesar 2,289 juta orang. Penduduk yang bekerja di Provinsi Aceh pada Agustus 2018 mencapai 2,204 juta orang, bertambah sekitar 65 ribu orang jika dibandingkan dengan keadaan Agustus 2017 sebesar 2,139 juta orang.

Penganggur pada Agustus 2018 sebanyak 149 ribu mengalami penurunan sekitar 1 ribu orang dibandingkan keadaan Agustus 2017 sebesar 150 ribu orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Aceh pada Agustus 2018 mencapai 6,36 persen, lebih rendah 0,21 persen dari TPT bulan Agustus 2017 sebesar 6,57 persen.

Selama periode tahun 2017 sampai 2018 terjadi peningkatan jumlah angkatan kerja dan jumlah penduduk yang bekerja. Jumlah angkatan kerja yang meningkat hampir dapat diserap dengan baik oleh pasar tenaga kerja sehingga terjadi peningkatan penduduk yang bekerja, sebaliknya jumlah penduduk yang menganggur mengalami penurunan. Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2018 lebih rendah jika dibandingkan dengan Agustus 2017

Berdasarkan penduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama Selama Agustus 2017 sampai dengan Agustus 2018, sektor-sektor yang mengalami peningkatan persentase penduduk yang bekerja adalah Sektor Pertanian 4,17 persen, Sektor Perdagangan 6,21 persen, Sektor Jasa Lainnya 10,10 persen. Sedangkan sektor-sektor yang mengalami

Persentase

Angkatan Kerja Pengangguran

(X 1000)

(34)

BAB II EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBA | Catatan atas Laporan Keuangan 24 2015

(Mar) 2015 (Sept)

2016 (Mar)

2016 (Sept)

2017 (Mar)

2017 (Sept)

2018 (Mar)

2018 (Sept) Persentase Penduduk Miskin 17,08 17,11 16,73 16,43 16,89 15,92 15,97 15,68 Jumlah Penduduk Miskin (Ribu

Orang) 851,59 859,41 848,44 841,31 872,61 829,8 839,49 831,5 790800

810820 830840 850860 870880 890900

penurunan adalah Sektor Jasa Pendidikan 7,82 persen dan Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 5,75 persen sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar terhadap ketersediaan lapangan kerja di provinsi ujung paling barat Indonesia itu. Sektor pertanian berperan besar dalam menyerap tenaga kerja di Aceh, sehingga perlu adanya perhatian dari pemerintah untuk sektor tersebut.

2.1.3 Tingkat Kemiskinan

Gambar 2.4

Persentase Tingkat Kemiskinan Provinsi Aceh dan Nasional

Sumber : BPS Provinsi Aceh

Berdasarkan Gambar 2.4, tingkat kemiskinan Provinsi Aceh Selama periode tahun 2015 sampai dengan 2018 jumlah dan persentase penduduk miskin di Aceh berfluktuasi Dilihat dari angka kemiskinan per tahunnya, angka kemiskinan Aceh masih di atas angka rata-rata kemiskinan Nasional, namun dilihat dari persentase penurunan tingkat kemiskinan di Provinsi Aceh lebih signifikan apabila dibandingkan penurunan tingkat kemiskinan Nasional

Perkembangan tingkat kemiskinan di Aceh pada tahun 2018 mencapai 831,50 ribu orang 15,68 persen. Jika dibandingkan dengan persentase penduduk miskin pada Maret 2018, maka selama periode tersebut terjadi penurunan jumlah penduduk miskin mencapai delapan ribu orang. Sementara apabila dibandingkan dengan tahun 2017 terjadi penurunan jumlah penduduk miskin yaitu sebanyak dua ribu orang.

Kemiskinan merupakan persoalan pembangunan ekonomi yang rumit dan masih menjadi perioritas pemerintah baik secara nasional maupun regional. Empat strategi pemerintah dalam Program Aceh Hebat adalah peningkatan program perlindungan sosial, peningkatan akses rumah tangga pada pelayanan dasar, pemberdayaan masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan inklusif. Mengingat tingkat

Gambar

Tabel 2.1-APBA TA 2014-2018  (dalam jutaan rupiah)
Tabel  2.1  menunjukkan  bahwa  sumber  pendapatan  dalam  struktur  APBA  adalah  dari  Pajak  Aceh,  Retribusi  Aceh,  Hasil  Pengelolaan  Kekayaan  Aceh  yang  dipisahkan  dan  hasil  Penyertaan  Modal  Aceh,  serta  Lain-lain  Pendapatan  Asli  Aceh  y
Tabel 3.1 Pencapaian Realisasi Pendapatan Aceh Tahun Anggaran 2018  Menurut Kelompok Pendapatan
Tabel 3.2 - Realisasi Pendapatan menurut Objek Penerimaan Tahun Anggaran 2018

Referensi

Dokumen terkait

Dari hadis diatas rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya , agar menuntut ilmu, terutama sekali adalah ilmu agama kepada orang yang menguasai ilmu tersebut,

[r]

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama R.I, menyatakan bahwa lembaga di bawah ini telah melakukan updating data Pendidikan Islam (EMIS) Periode Semester GENAP

Menurut fuqaha dari kalangan mazhab hanafi, zina adalah hubungan seksual yang dilakukan seorang laki-laki secara sadar terhadap perempuan yang disertai nafsu

Subjek terdiri dari 6 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria 1) siswa kelas XI 2) siswa yang telah melaksanakan tes penyelesaian soal;

[r]

(4) untuk memperoleh dukungan suara karena para politisi beranggapan dapat menyelamatkan PHK tenaga kerja, dengan membantu perusahaan yang hampir runtuh untuk tetap dapat bertahan

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perlakuan kompos tandan kosong sawit (TKS) berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi bibit, bobot basah dan bobot kering akar pada umur 12