i
MAKNA SIMBOLIK RITUAL MABBACA-BACA DI DESA ALELEBBAE KEC. PITUMPANUA KAB. WAJO
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Sosiologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh YULIANTI NIM. 105381103317
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI JUNI, 2021
vi
MOTTO
Bersabarlah Hanya Soal Waktu
Setiap Kesulitan akan Berganti Kemudahan Dan Kesedihan akan Berubah menjadi Kebahagiaan
“Dan bersabarlah Kamu, Sesungguhnya Janji Allah Adalah benar”
(Q.S AR-rum : 60)
PERSEMBAHAN
Kupersembahkan karya ini sebagai darma baktiku untuk Ayahanda
dan Ibunda Ku tercinta serta kakakku tersayang.
vii ABSTRAK
YULIANTI 2021, Makna Simbolik Ritual Mabbaca-baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar Pembimbing I H. Andi Sukri Syamsuri,Pembimbing II Sam’un Mukramin
Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui Makna Simbolik Ritual Mabbaca-baca dan untuk menganalisis pelaksanaan Mabbaca-baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo Penelitian ini merupakan penelitian fenomenologi dengan menggunakan 4 informan dengan metode pengumpulan data menggunakan metode Observasi, Wawancara dan Dokumentasi dan dianalisis secara deskriptif kualitatif
Hasil penelitian menunjukan bahwa makna mabaca-baca adalah amanah yang di wariskan kepada penerusnya kemudian arti ma baca baca dari segi bahan yang paling utama di gunakan ialah alat yang digunakan sebagai penyampaian kemudian dari segi bahan yang digunakan saat pelaksanaan ialah arti yang paling umum diungkapkan di antaranya memohon perlindungan dan permintaan maaf atas kesalahan yang dilakukan agar kedepanya dapat menjalankan kehidupan dengan tenag dan proesesi ritual mabaca-baca adalah yang dilakukan semua orang yang ada dilnkungan tersebut dan keluarga yang ada waktunya datang untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, para masyarakat dalam proses mabca baca membagi tugas agar saling mempercayai dalam melaksanakan tugas tersebut dan bacaan di ucapkan sudah memang ada yang disiapkan secara khusus saat melakukan ritual apapun itu semuanya sama dan secara otomatis persiapan pun juga dalam melakukan proses mabaca juga sama yang bertujuan agara doa yang di utarakan dapat dikabulkan
Kata Kunci : Makna, Ritual Mabaca-baca
viii ABSTRACT
YULIANTI 2021, Symbolic Meaning of Mabbaca-read Ritual in Alibaba Village, Pitumpanua District, Wajo Regency, Faculty of Teacher Training and Education.
University of Muhammadiyah Makassar Supervisor I H. Andi Sukri Syamsuri Supervisor II Sam'un Mukramin
This study aims to determine the symbolic meaning of Abaca-baca rituals and to analyze the implementation of Mabbaca-baca in Alelebbae Village, Pitumpanua District, Wajo Regency.
The results showed that the meaning of mabaca-baca is amanah which is passed on to his successors then the meaning of reading mabaca in terms of the most important material used is the tool used as a delivery then in terms of the materials used during implementation is the most common meaning expressed including asking protection and apologies for mistakes made so that in the future they can run their lives in a calm manner and the mabaca-baca ritual procession is what everyone in the environment and families do who has time to come to prepare everything needed, the people in the macabacus process share the task of trusting each other in carrying out these tasks and readings being said there are already specially prepared when carrying out any rituals, everything is the same and automatically the preparation is also in doing the membaca posisi also the same which aims to make the prayers that are said can be done accept
Keywords: Meaning, Mabaca-baca Ritual
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala Atas segala limpahan rahmat, hidayat dan karunia. Shalawat dan salam tercurahkan kepada junjungan kita baginda Nabi Muhammad Salallahhu Aiaihi Wasallam, beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Sosok teladan umat dalam segala perilaku keseharian yang berorientasi kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. Alhamdulillah atas hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan judul
“Makna Simbolik Ritual Mabbaca-baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo.” Yang merupakan salah satu syarat guna menempuh ujian skripsi gelar Sarjana Pendidikan Sosiologi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah menyumbangkan tenaga, pikiran, ilmu pengetahuan motivasi beserta do’a kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Keberhasilan dalam penyelesaian skripsi ini tidak hanya terletak pada diri peneliti semata tetapi tentunya banyak pihak yang memberikan sumbangsi khususnya kepada kedua orang tuaku, ibunda tercinta Indo Uleng dan ayahanda tercinta Sangkala yang selama ini telah memberikan dukungan doa yang tidak pernah putus dan tidak dapat saya balaskan dengan apapun itu serta kakak ku tercinta Zainal Abidin, SH yang selalu memberikan dukungan, penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag.
x
selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis menimba ilmu pengetahuan di kampus tercinta ini, Bapak Erwin Akib, M.Pd., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Bapak Drs. H. Nurdin, M.Pd.
selaku ketua prodi Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang selalu memberikan semangat dalam pengerjaan skripsi, Bapak Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. selaku Pembimbing I yang telah memberikan saran, motivasi dan sumbangan pemikiran kepada penulisan sehingga tersusunnya skripsi ini, Bapak Sam’un Mukramin, S.Pd, M.Pd. selaku Pembimbing II yang dengan penuh ketelitian dan kesabaran membimbing dalam menyelesaikan skripsi ini, terima kasih kepada kakak ipar saya Nurfadilla, S.Pd. yang telah mendampingi dan mendaftarkan saya ke kampus tercinta Universitas Muhammadiyah Makassar, Sahabatku yang seperjuangan didunia perkuliahan ini Fitri Handayani serta teman Kelas Sosiologi 17 A, yang senantiasa mengisi hari-hari saya menjadi menyenangkan, terima kasih kepada Team Bembeng saya Ainun Jariah Hakim, Alma Rosdiana, Abdi Adriansyah dan Tizar Firdaus yang selalu menemani dan membantu saya dalam penyusunan skripsi ini jangan cepat puas dengan hasil yang dicapai dan sampai jumpa di puncak kesuksesan dan terima kasih atas dukungannya, Teman-teman Magang 3 dan P2K yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas segala dorongan dan motivasi yang diberikan untuk peneliti, Semua pihak yang tidak sempat saya sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, terima kasih atas bantuan dan dukungannya.
xi
Demikianlah mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya. Semoga Allah SWT melimpahkan pahala yang berlipat ganda atas bantuan yang telah diberikan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini, Aamiin Yarobbl Alamin.
Makassar , 16 Juli 2021 Peneliti
Yulianti
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
SURAT PERNYTAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
E. Definisi Operasional ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6
A. Kajian Konsep ... 6
B. Kajian Teori ... 9
C. Kerangka Pikir ... 16
D. Penelitian Terdahulu ... 17
BAB III METODE PENELITIAN ... 19
xiii
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 19
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 20
C. Informan Penelitian ... 20
D. Fokus Penelitian ... 21
E. Jenis dan Sumber Data ... 21
F. Instrumen Penelitian ... 22
G. Teknik Pengumpulan Data ... 23
H. Teknik Analisis Data ... 25
I. Teknik Keabsahan Data ... 26
J. Etika Penelitian ... 27
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 28
A. Sejarah Lokasi Penelitian ... 28
B. Letak Geografi ... 43
C. Keadaan Penduduk ... 48
D. Keadaan Ekonomi ... 50
E. Keadaan Pendidikan ... 51
F. Keadaaan Sosial dan Budaya ... 52
G. Keadaan Agama ... 53
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 56
A. Hasil Penelitian ... 56
B. Pembahasan ... 79
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 90
A. Kesimpulan Hasil Penelitian ... 90
xiv
B. Saran Penelitian ... 91 DAFTAR PUSTAKA ... 92 LAMPIRAN
RIWAYAT HDUP
0
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia adalah Negara majemuk yang memiliki beragam ciri khas, agama, tradisi, dan kebudayaan. Ketika membahas tentang tradisi yang ada di Indonesia seakan tak bisa dilepaskan dari peradaban manusia sebelumnya atau leluhurnya yang mengandung norma dan nilai yang sangat melekat pada masyarakat yang menganut tradisi tersebut. Kebudayaan dan tradisi yang beraneka ragam itu masih kita saksikan hingga sekarang ini.
Berbicara tentang budaya, Budaya merupakan hasil pemikiran dan gagasan yang dijadikan cara hidup yang berkembang dimiliki oleh suatu kelompok dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya mengandung arti penting dalam masyarakat. meskipun ada beberapa kalangan masyarakat yang menganggap kebudayaan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat yang lain dianggap bertentangan dengan agama. Perlu diketahui bahwa agama bersumber dari Allah, budaya bersumber dari manusia, akan tetapi tidak berarti keduanya tidak terkait sama sekali melainkan memiliki hubungan yang erat. Ajaran Allah yang disebut agama, mewarnai corak budaya.
Tradisi-tradisi di Indonesia ada begitu banyak, setiap daerah memiliki tradisi masing-masing yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat daerah tersebut, sama halnya di Sulawesi Selatan yang memiliki 4 suku besar yaitu Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar di setiap suku itu memiliki budaya dan tradisi masing-masing.
1
Masyarakat Bugis dikenal memiliki budaya atau tradisi yang sangat kental salah satunya terletak di Kabupaten Wajo yang merupakan daerah yang penduduknya adalah suku bugis yang masih kental dengan tradisi Mabbaca- baca, terutama di Desa Alelebbae, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo.
Tradisi Membaca-baca, dalam bahasa bugis Mabbaca-baca artinya membaca doa. Jadi Mabbaca-baca dapat kita artikan sebagai proses pembacaan doa. Tapi tradisi Mabbaca-baca ini tidak seperti membaca doa pada umumnya. Doa dibacakan oleh seorang Pembaca (orang yang dipercaya waktu-waktu tertentu, seperti ketika sudah lebaran, setelah panen padi, naik rumah baru, waktu-waktu tertentu untuk meminta keselamatan dan mengucap syukur kepada sang pencipta atas segala yang diberikan.
Pelaksanaan Mabbaca-baca dilakukan dengan menyediakan berbagai macam makanan, namun makanan yang paling utama disediakan adalah sokko bolong (songkolo hitam) dan sokko pute (songkolo putih), nasu lekku (ayam
kampung yang dimasak dengan banyak lengkuas), otti lereng ( pisang ambon), rang tello ( telur rebus), dan masih banyak makanan lain serta yang paling
penting dan tidak boleh dilewatkan adalah dupa dan kemenyang.
Di dalam kesempatan, dimana anggota keluarga dan tetangga berkumpul, solidaritas sosial yang berbentuk pemberian makanan yang sudah dibacakan oleh pembaca. Dengan memperhatikan tradisi mabbaca-baca sebagai bagian bentuk siklus sosial masyarakat dan dengan mempertimbangkan bahwa tradisi seperti ini adalah bagian cara anggota keluarga dan anggota masyarakat
2
memindahkan nilai-nilai agama melalui kenangan panjang tentang sejarah sosial kehidupan Nabi Muhammad sebagai Rasul.
Namun seiring berjalannya waktu berbagai macam spekulasi muncul di tengah masyarakat dengan kehadiran ritual tersebut. Hal ini didasari karena ternyata masyarakat di desa tersebut masih belum paham dengan motif ritual Mabbaca-baca apakah itu dari keyakinan keagamaan atau hanya budaya atau
tradisi yang turun-temurun, Selain itu banyak masyarakat yang masih mengaitkan nya dengan hal mistis.
Tradisi sejenis ini memang banyak kita jumpai di berbagai daerah dengan nama yang berbeda-beda seperti Penelitian yang dilakukan oleh Rahmatang (2016) dengan judul “Tradisi Massuro Mabbaca Dalam Masyarakat Rompegading Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros“, Penelitian yang dilakukan oleh Muh.Aking (2018) dengan judul “Tradisi Membaca Doa Pada Masyarakat Bugis Perantauan Di Desa Tombekuku Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan”, Penelitian yang dilakukan oleh Eka Kartini (2013) dengan judul “Tradisi Barzanji Masyarakat Bugis di Desa Tungke Kec.
Bengo Kab. Bone Sulsel (Studi Kasus Upacara Menre Aji (Naik Haji)), meskipun tujuannya sama yaitu mengucap syukur kepada Allah SWT atas keberkahan dan rezeki yang telah diberikan, ada juga yang melakukannya untuk menolak bala, dan masih banyak tujuan lain. Cara pelaksanaan setiap suku atau daerah juga berbeda masing-masing mempunyai cara tersendiri dan keunikan tersendiri. Dari hasil penelitian terdahulu yang dijelaskan di atas membuat peneliti berusaha untuk memunculkan unsur kebaruan dari penelitian
yang akan dilakukan di mana fokus utama yang akan diteliti adalah Apa Makna Simbolik Ritual Mabbaca – baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo.
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Apa Makna Simbolik Ritual Mabbaca-baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo ?
2. Bagaimana Proses Pelaksanaan Mabbaca-baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian untuk menjawab rumusan masalah adalah :
1. Untuk mengetahui apa Makna Simbolik Ritual Mabbaca-baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo.
2. Untuk menganalisis Bagaimana proses Pelaksanaan Mabbaca-baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo.
D. Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi manfaat dalam penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis
Peneliti dalam hal ini mengharapkan dapat menjadi sumber informasi dalam menambah ilmu pengetahuan dan mengembangkannya pada jurusan sosiologi dan sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya.
4
2. Manfaat Praktis
Peneliti mengharapkan, ini bisa menjadi bahan pengetahuan selanjutnya bagi peneliti lainnya dan membuat peneliti lainnya tertarik untuk meneliti hal ini. Sehingga studi pendidikan sosiologi mampu menyesuaikan diri dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Serta peneliti bisa menjadikan hal ini sebagai sumbangsi pengetahuan yang membahas Makna Simbolik Ritual Mabbaca-Baca di Desa Alelebbae Kec. Pitumpanua Kab. Wajo.
3. Manfaat Bagi Peneliti
Peneliti mengharapkan agar ilmu pengetahuan mengenai hal ini bisa berguna untuk memahamkan masyarakat tentang Makna Simbolik Ritual Mabbaca-Baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten
Wajo.
E. Definisi Operasional
Adapun definisi operasional sebagai berikut:
1. Makna Simbolik adalah Makna simbol dapat diartikan sebagai bentuk interpretasi masyarakat terhadap nilai dalam pelaksanaan tradisi. Simbol juga sebagai bentuk ritual adat yang dilakukan sebagai petunjuk atau ciri khas dalam tradisi.
2. Mabbaca-baca adalah ritual membacakan doa sebagai bentuk rasa syukur di hadapan hidangan makanan seperti songkolo, telur, pisang serta yang paling penting dan tidak boleh dilewatkan adalah dupa dan kemenyang yang menjadi sebuah tradisi yang masih kental di suku bugis.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Konsep
1. Makna Simbolik Ritual Mabbaca-Baca a. Makna simbolik
Makna simbol dapat diartikan sebagai bentuk interpretasi masyarakat terhadap nilai dalam pelaksanaan tradisi. Simbol juga sebagai bentuk ritual adat yang dilakukan sebagai petunjuk atau ciri khas dalam tradisi. Tradisi yang masih kental di suku bugis yakni Mabbaca-baca (membacakan doa).
Kebudayaan itu bukan saja merupakan seni dalam hidup, tetapi juga benda-benda yang terdapat di sekeliling manusia yang dibuat oleh manusia. Itulah sebabnya kemudian kebudayaan diartikan sebagai cara hidup yang dikembangkan oleh sebuah masyarakat guna memenuhi keperluan dasarnya untuk dapat bertahan hidup, meneruskan keturunan dan mengatur pengalaman sosialnya. Kebudayaan adalah ekspresi eksistensi manusia di dunia. Pada kebudayaan, manusia menampakkan jejak-jejak dalam panggung sejarah di zaman modern yang memungkinkan adanya perubahan dalam setiap aspek budaya yaitu dari budaya tradisional menjadi budaya modern.
Setiap kebudayaan yang diciptakan oleh manusia tentunya mengandung makna yang tersirat di dalamnya. Ibarat sebuah simbol, mabbaca-baca tentu tidak
hadir begitu saja ditengah masyarakat kabupaten Wajo. Seluk beluk kehadirannya tidak bisa dipungkiri kalau tradisi mabbaca-baca dipelopori oleh
6
6
nenek moyang dan akhirnya dinikmati hingga sekarang. Jadi makna simbolik disini yaitu makna dari setiap yang dilakukan dalam pelaksanaan mabbaca-baca, seperti makna simbol dari sarana mabbaca-baca seperti symbol pisang, songkolo, telur, kemenyan, dan dupa.
b. Mabbaca-baca
Mabbaca-baca dalam bahasa Indonesia artinya membacakan doa. Jadi dapat diartikan sebagai proses pembacaan doa. Tapi tradisi ini berbeda dengan prosesi pembacaan doa pada umumnya. Doa dalam tradisi mabbaca-baca dibacakan oleh orang yang dipercaya. Mabbaca-baca merupakan adat istiadat yang membudaya di kabupaten Wajo. Sejak dahulu tradisi tersebut sudah terlaksana hingga sekarang serta sudah menjadi rutinitas wajib bagi masyarakat setempat pada sebuah musim. Bukan kepercayaan namun bagian dari prosesi ibadah mereka kepada Tuhan dan jalinan antar sesama manusia. Jadi Mabbaca- baca diartikan sebagai tradisi yang turun temurun sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.
1. Asal Mula Membaca-baca
Warisan budaya tidak lepas dari kontribusi para pendahulu sebelum akhirnya dirasakan oleh masyarakat hingga sekarang. Budaya kadangkala lenyap pada dimensi tertentu namun ada pula yang tetap jalan hingga menembus dimensi waktu. Terlepas dari aspek tersebut, sebuah tradisi yang menjadi identitas berbagai daerah tidak lepas dari pengaruh masa lalu hingga bisa hadir di tengah dinamika dan proses kehidupan.
Mabbaca-baca merupakan sebuah prosesi adat istiadat yang menjadi
rutinitas masyarakat kabupaten Wajo ketika hendak mewujudkan rasa syukur dalam bentuk pembacaan doa secara bersama-sama. Tradisi tersebut sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat sejak dahulu hingga sekarang. Pada dasarnya adat ini hampir sama dengan tradisi mabbaca-baca di daerah lain yang ada di sulawesi selatan yang membedakan hanya dari segi penamaan serta pola konstruksi masyarakat dalam meramu tata laksananya.
Jadi kehadiran tradisi ini tidak bisa dilepaskan dari proses masuknya agama islam di kabupaten Wajo terkhusus di Desa Alelebbae. Selain itu, tidak bisa kita hindarkan bahwa tradisi ini lahir ditengah-tengah masyarakat atas dedikasi peranan para pendahulu.
2. Fungsi Mabbaca-baca
Mengenai masa prasejarah aspek-aspek keagamaan tertentu hanya dapat didekati melalui interpretasi dan keterkaitan antar benda di dalam suatu suatu siklus penggalian maupun melalui analogi dengan praktik keagamaan dan tradisi tertentu. Dalam ceramah-ceramah Robertson Smith mengemukakan tiga gagasan penting yang menambah pengetahuan kita mengenai asas-asas religi dan agama pada umumnya yang berkaitan dengan fungsi tradisi mabbaca-baca antara lain :
a. Sebagai Perwujudan Religi
Sistem religi selalu berkaitan dengan upacara keagamaan, banyak cara yang dilakukan manusia untuk menginterpretasikan sistem keyakinan yang mereka miliki, informasi yang diberikan oleh informan diatas menggambarkan
8
bahwa perwujudan dari rasa syukur yang mereka rasakan itu dengan Mabbaca- baca, mereka merasa perlu pembuktian atas apa yang mereka rasakan dari apa
yang mereka yakini.
b. Mengintensifikasikan Solidaritas Masyarakat
Gagasan yang kedua adalah upacara religi atau agama yang biasanya dilaksanakan oleh banyak warga masyarakat pemeluk religi atau agama yang bersangkutan bersama-sama mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifikasikan solidaritas masyarakat. Para pemeluk suatu religi atau agama menjalankan kewajiban mereka untuk melakukan upacara-upacara yang berkaitan keyakinan mereka dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak sedikit pula hanya melakukannya setengah-setengah saja. Motivasi mereka tidak terutama untuk berbakti kepada dewa atau tuhannya, atau untuk mengalami kepuasan keagamaan secara pribadi, tetapi juga karena mereka menganggap bahwa melakukan upacara adalah suatu kewajiban sosial.
B. Kajian teori
Teori merupakan alat terpenting dalam ilmu pengetahuan, karena tanpa suatu teori, yang ada hanyalah serangkaian pengetahuan mengenai fakta. Salah satu fungsi dari teori adalah sebagai suatu kerangka pemikiran, fungsinya sebagai pendorong proses berpikir deduktif yang bergerak dari tak berwujud menuju ke fakta-fakta nyata. Mengenai hal tersebut, teori yang digunakan oleh peneliti berfungsi sebagai kerangka yang memberikan batasan kepadanya. Ini perlu dilakukan karena dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai fakta konkret
sehingga pembatasan perlu diperhatikan dalam penelitian. Oleh karena itu, perlu adanya landasan teori dalam penelitian ini agar penelitian ini tidak melebar kemana-mana (Eka Kartini, 2013).
Agama dan kebudayaan
Perbincangan tentang agama dan budaya adalah perbincangan tentang suatu hal yang memiliki dua sisi. Agama di satu sisi memberikan kontribusi terhadap nilai-nilai budaya, sehingga agama bisa berdampingan atau bahkan berasimilasi dan melakukan akomodasi dengan nilai-nilai budaya masyarakat.
Menurut Anne Marie Malefijt (dalam agus, 2006:5), bahwa agama adalah the most important aspects of culture. Aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi dengan institusi budaya yang lain dalam suatu struktur masyarakat. Dari pernyataan Malefijt.dapat disimpulkan bahwa agama mewarnai kebudayaan.
Di sisi lain, agama sebagai wahyu dan memiliki kebenaran yang mutlak (terutama agama-agama samawi) dan universal, maka agama tidak bisa disejajarkan dengan nilai-nilai budaya yang relatif dan lokal. Agama harus menjadi sumber nilai bagi kelangsungan nilai-nilai budaya. Dengan demikian, terjadilah hubungan timbal balik antara agama dan budaya. Dan yang menjadi problem adalah apakah nilai-nilai lebih dominan dalam kehidupan masyarakat tersebut (Wahyuni, 2013:114).
Agama dan kebudayaan mempunyai dua persamaan, yaitu keduanya merupakan sistem simbol yang diresapi, dihayati, diyakini, serta diejawantahkan
10
dalam praksis laku hidup manusia. Agama dalam perspektif ilmu-ilmu sosial adalah sebuah sistem nilai yang memuat sejumlah konsepsi mengenai konstruksi realitas, yang berperan besar dalam menjelaskan struktur tata normatif dan tata sosial. Sementara tradisi merupakan hasil cipta manusia ( dalam masyarakat tertentu) yang berisi nilai religius. Agama maupun budaya, berasal dari potensi bawaan (fitrah) manusia. Keduanya berkembang secara terpadu dalam kehidupan manusia. Secara bersama pula keduanya membentuk sistem budaya dan peradaban suatu masyarakat/bangsa. Di sisi lain, keduanya memiliki sifat yang berbeda sifat, “kebergantungan” dan “kepasrahan, sedangkan budaya memiliki sifat “kemandirian” dan “keaktifan”. Oleh karena itu dalam setiap tahapan perkembangan menunjukkan adanya gejala variasi dan irama yang berbeda antara lingkungan masyarakat atau bangsa yang satu dengan lainnya (Marno, 2005:53- 54).
Agama dan kebudayaan kemudian berjumpa dalam sebuah ruang sosial dan satu sama lain menampilkan identitasnya masing-masing dengan segala keikhlasannya. Agama sebagai sebuah narasi universal dan global serta dengan klaim absolut kemudian merespon kebudayaan sebagai narasi lokal. Meski keduanya berbeda pada basis narasi, keduanya menempati posisi yang sama, yaitu sama-sama menempati ruang sakral dan profane dalam kehidupan manusia.
Agama sebagai sebuah sistem religi membutuhkan perwujudan budaya dalam bentuk simbol atau tindakan simbolis yang merupakan relasi komunikasi antara huma-kosmis dengan komunikasi religious yang bersifat lahir maupun batin (Heru Satoto, 2007:45).
1. Nilai budaya
Nilai adalah suatu bagian penting dari kebudayaan. Suatu tindakan dianggap sah, artinya secara moral dapat diterima kalau harmonis dengan nilai- nilai yang disepakati dan dijunjung oleh masyarakat dimana tindakan itu dilakukan. Di Dalam masyarakat yang terus berkembang, nilai senantiasa akan ikut berubah. Pergeseran nilai dalam banyak hal juga akan mempengaruhi perubahan folkways dan mores (Narwoko dan Suryanto, 2013 : 55).
Makna utama dari prosesi mabbaca-baca adalah yakni berdoa kepada Allah SWT. Pelaksaannya merupakan sebuah nilai yang dituangkan melalui cara pelaksanaan. Proses mabbaca-baca hanyalah cara, sedangkan tujuannya adalah berdoa. Maka dari itu tidak salah jika masyarakat mamaknainya sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, ketika ada proses berdoa maka ada orang yang berkumpul untuk duduk menikmati hidangan yang sudah dibacakan oleh pabbaca sehingga akan mempererat tali persaudaraan dan ikatan sosial dalam masyarakat . Itulah nilai yang dianggap sah pada masyarakat alelebbae terkait tradisi mabbaca-baca.
Nilai budaya adalah konsep abstrak mengenai masalah. Masalah dasar yang bersifat umum yang sangat penting serta bernilai bagi kehidupan masyarakat (Setiadi dan Kolip, 2011: 127). Nilai pada tradisi mabbaca-baca hal yang lahir sejak masa tumpakki hingga sekarang. Nilai itu kemudian menjadi acuan hidup masyarakat sebagai salah satu identitas daerah yang patut dilestarikan sulit
12
dirasionalkan, tapi itulah maknanya yang menjadi nilai sebuah tradisi masyarakat di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo.
Setiadi dan Kolip (2011: 127) unsur-unsur kebudayaan bisa seperti religi, kekerabatan, kesenian dan sebagainya. Hal tersebut tergambar pada tradisi mabbaca-baca tidak bisa lepas dari pengaruh ajaran agama hindu dan implikasi proses masuknya islam di Desa Alelebbae kala itu. Hal tersebut menjadi konstruksi masyarakat sehingga menjadi identitas tersendiri bagi masyarakat.
Akan tetapi, makna atau nilai sesungguhnya dari tradisi mabbaca-baca bukan karena proses atau cara yang digunakan dalam pelaksanaannya namun bagaimana doa yang dipanjatkan kepada Tuhan dapat di ijabah.
1.1 Teori Nilai Religi
Berdasarkan dari pelaksanaan tradisi Mabbaca-baca, jika kita bercermin dari Teori Koentjaraningrat tentang konsep religi. Manusia sebagai ciptaan Tuhan secara sadar memiliki hubungan individu antar manusia dengan penciptanya. Hubungan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara baik melalui agama maupun berbagai pola kepercayaan yang selalu dipegang teguh dan melekat dalam kehidupan keseharian. Kebudayaan yang merupakan hasil dari sebuah proses kehidupan manusia. Secara garis besar terdiri dari tujuh unsur yang meliputi Sistem religi dan upacara keagamaan, Sistem dan organisasi kemasyarakatan, Sistem pengetahuan, Bahasa, Kesenian Sistem mata pencaharian hidup, Sistem teknologi dan peralatan (Koentjaraningrat, 1974). Dari pendapat ini dapat katakana bahwa sistem religi merupakan unsur
budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat baik melalui kegiatan adat istiadat maupun upacara-upacara keagamaan.
Kesenian yang juga merupakan bagian dari unsur kebudayaan dalam proses penciptaannya juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan religious baik sebagai sarana upacara maupun untuk keperluan adat istiadat yang berlaku dalam kelompok masyarakat.
1.2 Teori Interaksionisme Simbolik(Herbert Blumer)
Pentingnya interaksionisme simbolik tercermin dari pandangan mengenai objek-objek. Blummer(1966) membedakan objek-objek menjadi tiga tipe yaitu : (1)objek-objek fisik, seperti pohon, mobil, motor, dan rumah (2)objek-objek social seperti manusia dan kelompok (3)objek-objek abstrak, seperti nilai, dan norma social. Suatu objek mempunyai makna yang berbeda bagi para individu, contohnya objek fisik seperti “pohon” memiliki makna yang berbeda bagi petani, bagi penyair, bagi pecinta lingkungan dan bagi para pelaku industri.
Interaksi simbolik menurut blumer memiliki tiga premis utama yaitu : 1. Manusia bertindak berdasarkan makna yang ada pada sesuatu orang lain 2. Makna yang didapatkan berdasarkan hasil interaksi dengan dengan orang
lain
3. Makna-makna tersebut kemudian direvisi, diubah, atau disempurnakan melalui proses interaksi sosial. Ketiga premis tersebut merupakan substansi dasar untuk menciptakan struktur ide-ide dasar. Poloma(2000)
14
mengatakan perspektif yang dikemukakan oleh Blumer memiliki ide-ide dasar yaitu :
a. Masyarakat adalah terdiri dari beberapa manusia yang saling berinteraksi, akhirnya melakukan tindakan bersama dan akhirnya membentuk struktur sosial.
b. Interaksi manusia terdiri dari berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan kegiatan manusia yang lain. Interaksi secara simbolik senantiasa mencakup penafsiran atas tindakan-tindakan tersebut.
c. Objek-objek fisik, social, abstrak tidak mempunyai makna intrinsic karena makna merupakan produk interaksi simbolik.
d. Manusia tidak hanya mengenal objek secara eksternal namun juga mengenal dirinya sebagai objek
e. Tindakan manusia adalah tindakan interpretatif yang dibuat oleh manusia itu sendiri
f. Tindak tersebut saling dikaitkan dan disesuaikan dengan anggota- anggota kelompok.
Perspektif interaksionisme simbolik merupakan unit analisis tingkat mikro, dimana actor tidak dipandang sebagai manusia yang semata- mata responsive, tapi actor yang senantiasa mendefinisikan dan menafsirkan setiap tindakan orang lain. Actor baik secara langsung maupun tidak langsung didasarkan atas penafsiran makna tindakan manusia dengan menggunakan simbol sebagai jembatan interaksi.
C. Kerangka Pikir
Setiap penelitian sangat diperlukan adanya kerangka berpikir pijakan atau sebagai pedoman dalam menentukan arah dari suatau penelitian, hal ini diperlukan agar penelitian tetap terfokus pada kajiannya yang akan diteliti.
Kerangka pikir tersebut digunakan untuk memberikan suatu konsep dalam melaksnakan penelitian dilapangan, alur kerangka yang dibuat oleh peneliti ini akan di deskripsikan.
Ritual Mabbaca-baca sebuah bentuk keyakinan keagamaan dan bentuk keyakinan budaya atau tradisi yang berkembang di tengah masyarakat di Desa Alelebbae. Dalam hal ini proses pelaksanaan Mabbaca-baca dilakukan dengan mengundang masyarakat sekitar serta menyiapkan hidangan khusus seperti songkolo, ayam, telur, pisangg, dupa dan kemenyang. Proses ritual Mabbaca-baca dimakna sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan selain itu fungsi ritual Mabbaca-baca sebagai perwujudan keagamaan dan solidaritas masyarakat desa.
Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan diatas, maka dapat digambarkan dalam skema dari kerangka pikir dan adapun gambaran dari skema kerangka pikir yang penulisannya yang ada di bawah ini :
16
Bagan 1 Kerangka Pikir
D. Penelitian Terdahulu
Beberapa hasil penelitian terdahulu yang meneliti tentang Mabbaca-baca :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Muh. Aking (2018) dengan judul “Tradisi Membaca Doa Pada Masyarakat Bugis Perantauan Di Desa Tombekuku Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan” hasil dari penelitian tersebut menjelaskan bahwa mayoritas masyarakat masih mempertahankan tradisi dan adat istiadatnya sebagai masyarakat bugis, yaitu tradisi
Ritual Mabbaca-baca
Keyakinan Keagamaan Keyakinan
Prosesi Pelaksanaan Mabbaca-baca
Makna Mabbaca-Baca Fungsi Mabbaca-baca
Nilai Moral Sosial
mabbaca-baca (membaca doa ) karena sudah menjadi kepercayaan turun- temurun yang dilakukan oleh leluhur masyarakat bugis.
Penelitian ini lebih fokus pada bagaimana masyarakat bugis perantauan masih mempertahankan tradisi tersebut.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmatang (2016) dengan judul “ Tradisi Massuro Mabbaca Dalam Masyarakat Rompegading Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros “hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa dalam tradisi massuro mabbaca merupakan salah satu rangkaian dalam acara yang tidak boleh terlewatkan karena acara ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Yang telah memebrikan limpahan rahmat dan rezeki yang tidak pernah putus. Penelitian ini lebih focus menjelaskan tentang nilai-nilai budaya yang terkandung dalam prosesi massuro mabbaca.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Al Mushar Firandi ( 2017) dengan Judul
“Barazanji Dalam Kajian Perspektif Modern Dan Budaya Masyarakat Bugis Di Kelurahan Ujung Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng”
hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dalam tradisi barzanji sebagai kegiatan dan proses pada kehidupan masyarakat bugis.
Jadi penelitian disini Barazanji merupakan pelengkap dari upacara dari upacara adat atau syukuran yang mereka lakukan, seperti menre aji(Naik haji), akikah, perkawinan, mobil baru, dan lain-lain.
Meskipun cara pelaksanaannya yang berbeda tetapi tujuannya tetap sama yaitu sebagai bentuk rasa syukur.
18
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian 1. Jenis Penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif artinya data yang
dikumpulkan bukan berupa angka melainkan data yang berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumentasi pribadi, catatan memo dan dokumen resmi lainnya, dengan mengkaji Makna Simbolik Ritual Mabbaca-baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo.
2. Pendekatan Penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan Pendekatan Fenomenologi untuk mendapatkan data secara mudah. Schutz berpendapat dalam cresswell, 1998 :53) menjelaskan bahwa fenomenologi mengkaji bagaimana anggota masyarakat menggambarkan dunia hari-harinya terutama bagaimana individu dengan kesadarannya membangun makna dari hasil interaksi dengan individu lainnya.
Penelitian ini bersifat deskriptif penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang.
19
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Alelebbae, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo. Lokasi ini dipilih adalah masyarakat bugis di Desa Alelebbae yang masih melaksanakan tradisi Mabbaca-baca yang merupakan hal “wajib” mereka melaksanakan ketika ada acara-acara sakral seperti perkawinan, naik rumah baru, habis panen, kendaraan baru seperti mobil dan motor.
2. Waktu Penelitian
Waktu yang dibutuhkan peneliti untuk melakukan penelitian ini dilaksanakan sejak 31 April 2021 sampai tanggal 31 Mei 2021 terhitung sejak dikeluarkannya surat izin penelitian dalam kurung waktu kurang lebih 1 bulan untuk melakukan penelitian di lokasi penelitian yang telah ditentukan oleh peneliti
C. Informan Penelitian
Teknik penentuan informan yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling. Menurut sugiyono, “teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu”
(Sugiyono,2010:300). Teknik penentuan informan dengan menggunakan purposive sampling dipilih karena teknik ini memilih orang(informan) dengan
penilaian tertentu menurut kebutuhan peneliti, sehingga dianggap layak untuk dijadikan sumber informasi.
20
Informan penelitian yang dimaksud disini yaitu dimana peneliti diberi informasi oleh informan yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan peneliti itu sendiri. Peneliti memilih informan kunci yaitu orang-orang yang dipandang tahu permasalahan yang diteliti. Informan dalam penelitian ini adalah;
a. Pabbaca : Sudah melakukan Mabbaca-baca selama kurang lebih 25 tahun.
b. Imam Desa : Sudah melakukan Mabbaca-baca selama kurang lebih 20 tahun.
c. Tokoh Masyarakat : Sudah melakukan Mabaca-baca kurang lebih 25 tahun.
d. Masyarakat : Sudah melakukan Mabbaca-baca kurang lebih 23 tahun D. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini makna simbolik ritual mabbaca-baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo. Alasan peneliti dalam menentukan fokus ini adalah masyarakat bugis di Desa Alelebbae yang masih melaksanakan tradisi Mabbaca-baca yang merupakan hal “wajib”
mereka melaksanakan ketika ada acara-acara sakral seperti Aqiqah.
E. Instrumen Penelitian
Adapun instrument penelitian yang digunakanlah instrumen penelitian berupa lembar observasi, panduan wawancara, dokumentasi dan peneliti itu sendiri.sebagai pendukung dalam penelitian. Adapun instrumen yang di maksud adalah sebagai berikut:
1. Catatan Lapangan, berisi catatan yang diperoleh peneliti pada saat melakukan pengamatan langsung dilapangan.
2. Pedoman wawancara, berisi seperangkat daftar pertanyaan peneliti sesuai dengan rumusan masalah pertanyaan.
3. Kamera yang digunakan ketika penulis melakukan observasi untuk merekam kejadian yang penting pada suatu peristiwa baik dalam bentuk foto maupun video.
4. recorder. Recorder digunakan untuk merekam suara ketika melakukan pengumpulan data, baik menggunakan metode wawancara, observasi dan sebagainya.
5. Peneliti itu sendiri.
F. Jenis dan Sumber Data
Adapun sumber data yang dikumpulkan peneliti adalah, sebagai berikut:
1. Data Primer
Data yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung pada objek. Untuk melengkapi data, maka melakukan wawancara secara langsung dan mendalam dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebagai alat pengumpulan data. Dalam hal ini sumber data utama (data primer) diperoleh langsung dari setiap informan yang diwawancarai secara langsung dalam penelitian.
a. Informan Kunci :
1. Nur Alam (Tokoh masyarakat ) 2. Baco Tang (Imam Desa)
22
3. Kasmari ( Masyarakat) a. Informan Pendukung :
1. Ilyas Mawi ( Sekretaris Desa ) 2. Hj. Bolong ( Masyarakat ) 3. Sitti ( Masyarakat )
4. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data-data yang dapat digunakan dari hasil buku referensi,jurnal dan internet.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan teknik atau cara-cara yang dilakukan periset untuk mendapatkan data yang mendukung penelitiannya.
Penelitian ini menggunakan beberapa metode pengumpulan data yakni:
1. Metode observasi
Dalam metode pengumpulan data menggunakan metode observasi dimana teknik pengumpulan data dilakukan untuk mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tak sadar, kebiasaan, dan sebagainya. Pengamatan memungkinkan pengamat untuk melihat dunia sebagaimana dilihat oleh subyek penelitian, hidup saat itu, menangkap arti fenomena dari segi pengertian subjek pada keadaan waktu itu. Observasi dilakukan oleh peneliti dengan cara memusatkan perhatian terhadap fenomena-fenomena yang sedang diteliti.
Pada awal penelitian hal yang pertama dilakukan peneliti untuk melakukan metode observasi yaitu dengan mendatang atau mengunjungi tempat
penelitian, setelah itu peneliti mulai melihat dan merasakan untuk melakukan observasi terhadap masyarakat yang akan diteliti, dalam penelitian ini peneliti membutuhkan waktu selama 2 minggu untuk melakukan observasi di tempat penelitian, setelah data observasi dirasa telah cukup untuk memberikan informasi maka peneliti menghentikan observasi kemudian melanjutkan ke metode selanjutnya.
2. Metode wawancara
Dalam metode wawancara ini, peneliti terlebih dahulu membuat daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada informan, sebelum itu perlu ditetapkan terlebih dahulu informan kunci yang akan pertama kali diwawancarai. Wawancara dilakukan selama 3 pekan dan hal yang dilakukan sebelum wawancara dengan para informan yaitu dengan mendatangi setiap informan secara langsung serta meminta izin dan membuat janji terlebih dahulu untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk wawancara dengan informan tersebut.
Setelah semuanya siap maka dilakukan wawancara dengan informan dimana pada awal wawancara peneliti terlebih dahulu menanyakan mengenai identitas informan seperti nama, umur dan pekerjaan. Serta peneliti juga diwajibkan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada informan agar informan lebih yakin dan percaya terhadap peneliti dan informasi yang didapatkan dapat maksimal. Setelah itu peneliti mulai menanyakan satu persatu pertanyaan yang telah dibuat oleh peneliti sebagai panduan dalam melakukan wawancara dengan informan agar informan yang didapatkan
24
sesuai dengan apa yang diinginkan oleh peneliti sehingga dibutuhkan daftar pertanyaan yang sudah dibuat terlebih dahulu sebelum melakukan wawancara, peneliti menulis informasi serta merekam informasi atau pendapat yang telah disampaikan oleh informan.
Wawancara dilakukan dengan cara bertahap yaitu mulai dari informan kunci lalu setelah itu peneliti mulai melakukan wawancara terhadap beberapa informan pendukung yang dianggap tahu mengenai permasalahan yang diteliti oleh peneliti
3. Dokumentasi
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. sebagian besar data yang tersedia yaitu berbentuk surat, catatan harian, laporan dan foto.
H. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif di mana analisis yang dilakukan berdasarkan data yang telah diperoleh sebelumnya yang selanjutnya akan dikembangkan . menurut Miles dan Huberman analisis data kualitatif dilakukan dengan cara interaktif dan harus berlangsung terus menerus sampai mencapai kalimat tuntas dan data yang diinginkan terisi penuh. Aktivitas yang dilakukan dalam teknik menganalisis data dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu :
1. Reduksi data
Kegiatan yang dimaksud adalah data yang telah diperoleh di lapangan kemudian disatukan misalnya dari hasil observasi, interview dan dokumentasi
kemudian disatukan dan diringkas menjadi sebuah data yang terperinci dengan harapan agar mudah untuk dipahami.
2. Penyajian data
Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah penyajian data.
Melalui penyajian data maka terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data biasa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart atau sejenisnya.
3. Pengambilan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan ini dilakukan secara konduktif, kesimpulan yang diambil kemudian diverifikasi dengan jalan meninjau ulang catatan lapangan dan mendiskusikannya guna mendapatkan kesepakatan intersubjektif, hingga dapat diperoleh kesimpulan yang kokoh.
I. Teknik Keabsahan Data
Untuk memperoleh keabsahan data dari penelitian Tentang Makna Simbolik Ritual Mabbaca-baca adalah dengan triangulasi. Hal ini dilakukan untuk menganalisis data hasil penelitian yang berupa hasil wawancara dan observasi melalui pengecekan ulang dari berbagai informan.
1. Triangulasi Sumber dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang sama pada informan yang berbeda mengenai Makna Simbolik ritual Mabbaca- baca.
26
2. Triangulasi Teknik dilakukan dengan melakukan observasi langsung setelah melakukan wawancara dari berbagai informasi seperti data tentang Makna Simbolik Ritual Mabbaca-baca.
3. Triangulasi Waktu dilakukan untuk pengecekan hasil wawancara observasi sehingga peneliti melakukan wawancara 3-4 orang informan dalam waktu yang berbeda dan melakukan observasi dalam secara berkala.
J. Etika Penelitian
Etika penelitian adalah standar tata perilaku peneliti selama melakukan penelitian, mulai dari menyusun desain penelitian, mengumpulkan data lapangan (melakukan wawancara, observasi, dan pengumpulan data dokumen), menyusun laporan penelitian hingga mempublikasikan hasil penelitian. Misalnya :
1. Menginformasikan tujuan penelitian kepada informan.
2. Meminta persetujuan informan (informed Consent) untuk diwawancarai.
3. Menjaga kerahasiaan identitas informan, jika terkait informasi sensitif.
4. Meminta izin informan jika ingin merekam wawancara, atau ingin mengambil dokumen baik secara video maupun foto.
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Lokasi Penelitian 1. Kabupaten Wajo
Kabupaten Wajo adalah salah satu daerah tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sengkang.
Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.506,19 km2 persegi dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 378.024 jiwa. Rata-rata tingkat kepadatan penduduk kabupaten Wajo adalah 151 jiwa per km2.
Kabupaten Wajo terdiri dari 14 kecamatan, dengan 48 kelurahan dan 142 desa, memiliki sumber daya alam yang besar. Kabupaten ini terletak sekitar 242 km dari kota Makassar (Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan) memanjang pada arah laut Tenggara dan terakhir merupakan selat dengan posisi geografis antara 3ᵒ39’- 4ᵒ16’ LS dan antara 119ᵒ53’ - 120ᵒ27 BT . Sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah hingga dataran tinggi bergelombang dengan ketinggian 0-520 Mdpl. Hanya sebagian kecil yang berupa perbukitan di bagian utara. Bagian timur berupa dataran rendah dan pesisir teluk bone, termasuk pulau-pulau pasir di perairan teluk bone sedangkan bagian barat merupakan dataran aluvial Danau Tempe- Danau Sidenreng.
Luas wilayah Kabupaten Wajo 2.506,19 km dengan rincian lahan berikut:
28
28
a) Persawahan : 86.000 Ha b) Lahan tegal/kebun : 36.706 Ha c) Lading huma : 12.177 Ha d) Lahan pertambakan : 15.000 Ha e) Danau Tempe : 13.000 Ha f) Perkebunan : 29.413 Ha
g) Tanah tanaman kayu-kayu 7.226 Ha, dan lainnya 63.353 Ha Secara morfologi, kabupaten Wajo mempunyai ketinggian lahan di atas permukaan laut 9(dpl) dengan rincian sebagai berikut:
a) 0 -7 meter, luas 57,263 Ha atau sekitar 22,57%
b) 8 – 25 meter, luas 94,536 Ha atau sekitar 37,72 % c) 26 – 100 meter, luas 87,419 Ha atau sekitar 34,90 %
d) 101 – 500 meter, luas 11,231 Ha atau sekitar 4,50% diatas 500 meter luasnya hanya 167 Ha atau sekitar 0.66%.
Berdasarkan data Badan pusat Statistik Kabupaten Wajo, Jumlah penduduk kabupaten Wajo adalah 378.024 jiwa, terdiri atas 183.392 laki- laki dan 194.632 perempuan. Dengan luas wilayah kabupaten sekitar 2.504,00 km persegi, rata-rata tingkat penduduk kabupaten Wajo 151 jiwa/km.
Kabupaten Wajo dikenal sebagai kota niaga karena masyarakatnya yang sangat piawai dalam berdagang. Berbagai macam kebutuhan hidup konon memiliki harga yang relatif murah jika dibandingkan di daerah
lainnya. Selain kota niaga, kabupaten Wajo juga dikenal sebagai Kota Sutera. Aktivitas masyarakat Wajo dalam mengelola kain sutera telah dilakukan secara turun temurun dan dapat ditemukan hampir di setiap kecamatan yang ada di kabupaten Wajo.
Menurut beberapa sumber arti kata Sengkang adalah tempat atau daerah persinggahan, kedatangan, dan bersama-sama datang. Sehubungan dengan makna sengkang tersebut dapat disimpulkan bahwa wilayah Sengkang merupakan tempat strategis yang membuat orang-orang jika melewatinya akan singgah karena adanya sesuatu yang istimewa dan menarik ditempat ini.
Pada beberapa wilayah bugis di Sulawesi Selatan yang merupakan bekas-bekas kerajaan proses pendiriannya diawali dengan kemunculan sosok misterius yaitu To Manurung seperti yang diceritakan dalam epos La Galigo, ini berbeda dengan Wajo yang terbentuk d ari bekas kerajaan lama. Wajo berarti bayangan atau bayang-bayang (Wajo-Wajo). Di bawah bayang-bayang (Wajo-Wajo, bahasa Bugis, artinya pohon bajo) diadakan kontrak sosial antara rakyat dan pemimpin adat yang sepakat membentuk Kerajaan Wajo. Perjanjian itu diadakan di sebuah tempat yang bernama Tosora yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan Wajo. Ada versi lain tentang terbentuknya Wajo, yaitu kisah We Tadampali, seorang putri dari Kerajaan Luwu yang diasingkan karena menderita penyakit kusta. Beliau dihanyutkan hingga masuk daerah Tosora. Kawasan itu kemudian disebut Majauleng, berasal dari kata maja (jelek/sakit) oli' (kulit). Konon kabarnya
30
beliau dijilati kerbau belang di tempat yang kemudian dikenal sebagai Sakkoli (sakke'=pulih; oli=kulit) sehingga beliau sembuh. Saat beliau sembuh, beserta pengikutnya yang setia ia membangun masyarakat baru, hingga suatu saat datang seorang pangeran dari Bone (ada juga yang mengatakan Soppeng) yang beristirahat di dekat perkampungan We Tadampali. Singkat kata mereka kemudian menikah dan menurunkan raja- raja Wajo.
Wajo adalah sebuah kerajaan yang tidak mengenal sistem to manurung sebagaimana kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan pada umumnya. Tipe Kerajaan Wajo bukanlah feodal murni, tetapi kerajaan elektif atau demokrasi terbatas. Kebesaran tanah Wajo pada masa dahulu, termasuk kemajuannya di bidang pemerintahan, kepemimpinan, demokrasi dan jaminan terhadap hak-hak rakyatnya.
Adapun konsep pemerintahan adalah : 1. Kerajaan
2. Republik
3. Federasi, yang belum ada duanya pada masa itu.
Hal tersebut semuanya ditemukan dalam Lontara Sukkuna Wajo.
Sebagaimana yang diungkapkan bahwa beberapa nama pada masa Kerajaan Wajo yang berjasa dalam mengantar Tana Wajo menuju kepada kebesaran dan kejayaan antara lain :
1. Latadampare Puangrimaggalatung
2. Petta Latiringeng To Taba Arung Simettengpola 3. Lamungkace Toaddamang
4. Latenrilai Tosengngeng 5. Lasangkuru Patau
6. Lasalewangeng To Tenri Rua
7. Lamadukelleng Daeng Simpuang, Arung Singkang 8. Lafariwusi Tomaddualeng
Dan masih banyak lagi nama-nama yang berjasa di Wajo yang menjadi peletak dasar kebesaran dan kejayaan Wajo. Beberapa versi tentang kelahiran Wajo, yakni :
1. Versi Puang Rilampulungeng 2. Versi Puang Ritimpengen 3. Versi Cinnongtab
4. Versi Boli
5. Versi Kerajaan Cina 6. Versi masa Kebataraan 7. Versi masa ke Arung Matoa-an
32
Dari versi tersebut, disepakati yang menjadi tahun dari pada hari jadi Wajo ialah versi boli, yakni pada waktu pelantikan batara Wajo pertama latenri bali tahun 1399, dibawah pohon besar (pohon bajo). Tempat pelantikan sampai sekarang masih bernama Wajo-Wajo, di daerah tosora kecamatan majauleng.
Terungkap bahwa, pada mulanya la tenri bali bersama saudaranya bernama la tenri tipe diangkat sebagai arung cinnongtabi, menggantikan ayahnya yang bernama la patiroi. Akan tetapi dalam pemerintahannya, latenri tippe sering berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya yang diistilahkan ”narempekengngi bicara tauwe”, maka latenri bali mengasingkan dirinya ke penrang (sebelah timur tosora) dan menjadi arung penrang. Akan tetapi tak lama kemudian dia dijemput rakyatnya dan diangkat menjadi arung mata esso di kerajaan boli. Pada upacara pelantikan dibawah pohon bajo, terjadi perjanjian antara latenri bali dengan rakyatnya dan diakhiri dengan kalimat ”bataraemani tu mene’ na jana citta, tanae mani riawana” (hanya batara langit di atas perjanjian kita, dan bumi di bawahnya) naritellana petta latenri bali petta batara Wajo.
Berdasarkan perjanjian tersebut, maka dirubahlah istilah Arung Mata Esso menjadi Batara, dan kerajaan baru didirikannya, yang cikal bakalnya dari Kerajaan Boli, menjadi Kerajaan Wajo, dan Latenri Bali menjadi Batara Wajo yang pertama.
Sedangkan untuk menentukan tanggal Hari Jadi Wajo, dikemukakan beberapa versi, yakni :
1. Versi tanggal 18 Maret, ketika armada Lamaddukkelleng dapat mengalahkan armada Belanda di perairan Pulau Barrang dan Kodingareng.
2. Versi tanggal 29 Maret, ketika dalam peperangan terakhir, Lamaddukkelleng di Lagosi, dapat memukul mundur pasukan gabungan Belanda dan sekutu-sekutunya.
3. Versi tanggal 16 Mei, ketika Lasangkuru Patau bergelar Sultan Abdul Rahman Arung Matoa Wajo, memeluk agama islam.
4. Versi ketika andi ninnong ranreng tuwa Wajo, menyatakan di depan dr. sam ratulangi dan lanto dg. pasewang di sengkang pada tahun 1945 bahwa rakyat Wajo berdiri di belakang negara kesatuan indonesia.
Dari versi tersebut, disepakati yang menjadi tanggal daripada Hari Jadi Wajo, ialah versi tanggal 29 Maret, karena sepanjang sejarah belum pernah ada pejuang yang mampu mengalahkan Belanda pada pertempuran terakhir. Peristiwa ini terjadi pada Tahun 1741. Dengan perpaduan dua versi tersebut di atas, maka disepakati: Hari Jadi Wajo ialah Tanggal 29 Maret 1399.
Dalam sejarah perkembangan Kerajaan Wajo, kawasan ini mengalami masa keemasan pada zaman La Tadampare Puang Ri
34
Maggalatung Arung Matowa, yaitu raja Wajo ke-6 pada abad ke-15. Islam diterima sebagai agama resmi pada tahun 1610 saat Arung Matowa Lasangkuru Patau Mulajaji Sultan Abdurrahman memerintah. Hal itu terjadi setelah Gowa, Luwu dan Soppeng terlebih dahulu memeluk agama Islam.
Pada abad ke-16 dan 17 terjadi persaingan antara Kerajaan Makassar (Gowa Tallo) dengan Kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng) yang membentuk aliansi tellumpoccoe untuk membendung ekspansi Gowa. Aliansi ini kemudian pecah saat Wajo berpihak ke Gowa dengan alasan Bone dan Soppeng berpihak ke Belanda. Saat Gowa dikalahkan oleh armada gabungan Bone, Soppeng, VOC dan Buton, Arung Matowa Wajo pada saat itu, La Tenri Lai To Sengngeng tidak ingin menandatangani Perjanjian Bongaya.
Akibatnya pertempuran dilanjutkan dengan drama pengepungan Wajo, tepatnya Benteng Tosora selama 3 bulan oleh armada gabungan Bone, dibawah pimpinan Arung Palakka. Setelah Wajo ditaklukkan, tibalah Wajo pada titik nadirnya. Banyak orang Wajo yang merantau meninggalkan tanah kelahirannya karena tidak sudi dijajah. Hingga saat datangnya La Maddukelleng Arung Matoa Wajo, Arung Peneki, Arung Sengkang, Sultan Pasir, beliaulah yang memerdekakan Wajo sehingga mendapat gelar Petta Pamaradekangngi Wajo (Tuan yang memerde kakan Wajo).
Arung Matoa Wajo masih kontroversi, yaitu :
1. Versi pertama, pemegang jabatan Arung Matowa adalah Andi Mangkona Datu Soppeng sebagai Arung Matowa Wajo ke-45, setelah beliau terjadi kekosongan pemegang jabatan hingga Wajo melebur ke Republik Indonesia.
2. Versi kedua hampir sama dengan yang pertama, tetapi Ranreng Bettempola sebagai legislatif mengambil alih jabatan Arung Matowa (jabatan eksekutif) hingga melebur ke Republik Indonesia.
3. Versi ketiga, setelah lowongnya jabatan Arung Matowa maka Ranreng Tuwa (H.A. Ninnong) sempat dilantik menjadi pejabat Arung Matowa dan memerintah selama 40 hari sebelum kedaulatan Wajo diserahkan kepada Gubernur Sulawesi saat itu, yaitu Bapak Ratulangi.
Demikianlah sejarah Wajo hingga melebur ke Republik Indonesia, kemudian ditetapkan sebagai sebuah kabupaten sampai saat ini.
Kerajaan Wajo adalah sebuah kerajaan yang didirikan sekitar tahun 1399, di wilayah yang menjadi Kabupaten Wajo saat ini di Sulawesi Selatan. Penguasanya disebut "Raja Wajo". Wajo adalah kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yaitu Cinnotabi.
Ada tradisi lisan yakni pau-pau rikadong dianggap sebagai kisah terbentuknya Wajo. yaitu putri dari Luwu, We Tadampali yang mengidap sakit kulit kemudian diasingkan dan terdampar di Tosora. Selanjutnya dia bertemu dengan putra Arumpone Bone yang sedang berburu. Akhirnya
36
mereka menikah dan membentuk dinasti di Wajo. Ada juga tradisi lisan lain yaitu kisah La Bandera, seorang pangeran Soppeng yang merantau ke Sajoanging dan membuka tanah di Cinnotabi.
Sejarah Wajo berbeda dengan sejarah kerajaan lain yang umumnya memulai kerajaannya dengan kedatangan To Manurung. Sejarah awal Wajo menurut Lontara Sukkuna Wajo dimulai dengan pembentukan komunitas dipinggir Danau Lampulung. Disebutkan bahwa orang-orang dari berbagai daerah, utara, selatan, timur dan barat, berkumpul di pinggir Danau Lampulung. Mereka dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui namanya yang digelari dengan Puangnge Ri Lampulung. Puang ri Lampulung dikenal sebagai orang yang bijak, mengetahui tanda-tanda alam dan tatacara bertani yang baik. Adapun penamaan danau Lampulung dari kata sipulung yang berarti berkumpul.
Komunitas Lampulung terus berkembang dan memperluas wilayahnya hingga ke Sebawi. Setelah Puang ri Lampulung meninggal, komunitas ini cair. Hingga tiba seseorang yang memiliki kemampuan sama dengannya, yaitu Puang ri Timpengeng di Boli. Komunitas ini kemudian hijrah dan berkumpul di Boli. Komunitas Boli terus berkembang hingga meninggalnya Puang ri Timpengeng.
Setelah itu, putra mahkota kedatuan Cina dan kerajaan Mampu, yaitu La Paukke datang dan mendirikan kerajaan Cinnotabi. Adapun urutan Arung Cinnotabi yaitu, La Paukke Arung Cinnotabi I yang diganti
oleh anaknya We Panangngareng Arung Cinnotabi II. We Tenisui, putrinya menjadi Arung Cinnotabi III yang diganti oleh putranya La Patiroi sebagai Arung Cinnotabi IV. Sepeninggal La Paroi, Adat Cinnotabi mengangkat La Tenri Bali dan La Tenri Tipe sekaligus sebagai Arung Cinnotabi V. Setelah itu, Akkarungeng (kerajaan) Cinnotabi bubar. Warga dan adatnya berkumpul di Boli dan membentuk komunitas baru lagi yang disebut Lipu Tellu KajuruE.
La Tenri Atau menguasai wilayah majauleng, La Tenri Pekka menguasai wilayah sabbamparu dan La Matareng menguasai wilayah takkalalla. Ketiganya adalah sepupu satu kali La Tenribali. La Tenribali sendiri setelah kekosongan Cinnotabi membentuk kerajaan baru disebut Akkarungeng ri Penrang dan menjadi Arung Penrang pertama. Ketiga sepupunya kemudian meminta La Tenribali agar bersedia menjadi raja mereka. Melalui perjanjian Assijancingeng ri Majauleng maka dibentuklah kerajaan Wajo. La Tenribali diangkat sebagai raja pertama bergelar Batara Wajo. Ketiga sepupunya bergelar Paddanreng yang menguasai wilayah distrik yang disebut Limpo. La Tenritau menjadi Paddanreng ri Majauleng, yang kemudian berubah menjadi Paddanreng Bettempola pertama. La Tenri Pekka menjadi Paddanreng Sabbamparu yang kemudian menjadi Paddanreng Talotenreng. Terakhir La Matareng menjadi Paddanreng ri Takkalalla menjadi Paddanreng Tua.
Wajo mengalami perubahan struktural pasca Perjanjian Lapadeppa yang berisi tentang pengakuan hak-hak kemerdekaan orang Wajo. Posisi
38
Batara Wajo yang bersifat monarki absolut diganti menjadi Arung Matowa yang bersifat monarki konstitusional. Masa keemasan Wajo adalah pada pemerintahan La Tadampare Puangrimaggalatung. Wajo menjadi anggota persekutuan Tellumpoccoe sebagai saudara tengah bersama Bone sebagai saudara tua dan Soppeng sebagai saudara bungsu.
Wajo memeluk Islam secara resmi pada tahun 1610 pada pemerintahan La Sangkuru patau mulajaji sultan Abdurahman dan Dato Sulaiman menjadi Qadhi pertama Wajo. Setelah Dato Sulaiman kembali ke Luwu melanjutkan dakwah yang telah dilakukan sebelumnya, Dato ri Tiro melanjutkan tugas Dato Sulaiman. Setelah selesai Dato ri Tiro ke Bulukumba dan meninggal di sana. Wajo terlibat Perang Makassar (1660- 1669) disebabkan karena persoalan geopolitik di dataran tengah Sulawesi yang tidak stabil dan posisi Arung Matowa La Tenrilai To Sengngeng sebagai menantu Sultan Hasanuddin. Kekalahan Gowa tidak menyebabkan La Tenrilai rela untuk menandatangani perjanjian Bongaya, sehingga Wajo diserang oleh pasukan gabungan setelah terlebih dahulu Lamuru yang juga berpihak ke Sultan Hasanuddin juga diserang. Kekalahan Wajo menyebabkan banyak masyarakatnya pergi meninggalkan Wajo dan membangun komunitas sosial ekonomi di daerah rantauannya. La Mohang Daeng Mangkona salah satu panglima perang Wajo yang tidak terima kekalahan merantau ke Kutai dan membuka lahan yang kini dikenal sebagai Samarinda.
Pada pemerintahan La Salewangeng to tenriruwa Arung Matowa ke 30, ia membangun Wajo pada sisi ekonomi dan militer dengan cara membentuk koperasi dan melakukan pembelian senjata serta melakukan pelatihan penggunaan senjata. La Maddukkelleng kemenakan La Salewangeng menjadi Arung Matowa 31 dilantik di saat perang. Pada zamannya ia memajukan posisi Wajo secara sosial politik di antara kerajaan-kerajaan di sulsel. La Koro Arung Padali, memodernisasi struktur kerajaan Wajo dengan membentuk jabatan militer Jenderal (Jendral), Koronel (Kolonel), Many Nyoro (Mayor), dan Kepiting (Kapten). Dia juga menandatangani Large Veklaring sebagai pembaharuan dari perjanjian Bongaya.
Pada zaman Ishak Manggabarani, persekutuan Wajo dengan Bone membuat keterlibatan Wajo secara tidak langsung pada Rumpa'na Bone.
Saat itu Belanda melancarkan politik pasifikasi untuk memaksa semua kerajaan di Sulawesi Selatan tunduk secara totalitas. Kekalahan Bone melawan Kompeni juga harus ditanggung oleh Wajo sehingga Wajo harus membayar denda perang pada Kompeni dan menandatangani Korte Verklaring sebagai pembaharuan dari Large Veklaring.
Wajo dibawah Republik Indonesia Serikat, atau tepatnya Negara Indonesia Timur, berbentuk swapraja pada tahun 1945-1949. Setelah Konferensi Meja Bundar, Wajo bersama swapraja lain akhirnya menjadi kabupaten pada tahun 1957. Antara tahun 1950-1957 pemerintahan tidak berjalan secara maksimal disebabkan gejolak pemberontakan DI/TII.
40
Setelah 1957, pemimpin di Wajo adalah seorang Bupati. Wajo yang dulunya kerajaan, kemudian menjadi Onderafdeling, selanjutnya Swapraja, dan akhirnya menjadi kabupaten.
Struktur Kerajaan Wajo e. Masa Batara Wajo
1. Batara Wajo = Penguasa tertinggi (1 orang)
2. Paddanreng = Penguasa wilayah, terdiri dari Bettempola untuk Majauleng, Talotenreng untuk Sabbamparu dan Tuwa untuk Takkalalla (3 orang)
3. Arung Mabbicara = Aparat pemerintah (12) orang f. Masa Arung Matoa
1. Arung Matoa = Penguasa tertinggi (1 orang) 2. Paddanreng = Penguasa wilayah (3 orang)
3. Pabbate Lompo = Panglima perang, terdiri dari Pilla, Patola dan Cakkuridi (3 orang)
4. Arung Mabbicara = Aparat pemerintah (30 orang) 5. Suro = Utusan (3 orang)
Kelima jabatan diatas disebut sebagai Arung PatappuloE, penguasa 40.
Jabatan lain yang tidak masuk Arung PatappuloE
1. Arung Bettempola = biasanya dirangkap Paddanreng Bettempola.
Bertugas sebagai ibu orang Wajo. Mengangkat dan menurunkan Arung
Matoa berdasar kesepakatan orang Wajo. Pada masa Batara Wajo, tugas ini dijabat oleh Arung Penrang
2. Punggawa = Panglima perang wilayah, bertugas mengantar Arung lili ke pejabat Arung Patappuloe
3. Petta MancijiE = Staf keprotokolan istana 2. Sejarah singkat Desa Alelebbae
Desa Alelebbae merupakan salah satu dari 23 Desa di wilayah Kecamatan Pitumpanua yang terletak kurang lebih 7 km dari Kecamatan Pitumpanua, Desa Alelebbae mempunyai luas wilayah 3,602 km.. Desa Alelebbae terdiri atas tiga (3) dusun yakni Dusun Alelebbae, Dusun Macekke’e dan Dusun Batu Titti. Desa Alelebbae adalah salah satu desa penghasil produk-produk pertanian dan perkebunan. Berikut gambaran tentang sejarah perkembangan desa Alelebbae yaitu dapat dilihat berikut ini:
Pada tahun 2006 Alelebbae awalnya merupakan satu kesatuan dari pemerintah desa Tellesang yang dipimpin oleh Hasan Basri. Namun karena ada peraturan daerah kabupaten Wajo yang memerintahkan bagi desa yang memiliki wilayah yang luas dan penduduk padat harus dimekarkan, sehingga pada waktu itu terbentuklah desa persiapan Desa Alelebbae dan dusun Alelebbae.
Pada tahun 2019 untuk pertama kalinya dilakukan pemilihan kepala desa secara langsung melalui pemilu dan yang terpilih menjadi kepala desa yaitu Haeruddin, SH.