PIAGAM DIREKSI
PT KLIRING PENJAMINAN EFEK INDONESIA
VERSI 2.0
Tahun 2021
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Maksud dan Tujuan ...2
1.3 Referensi ...2
BAB 2 ORGANISASI DAN MASA JABATAN DIREKSI ...3
2.1 Organisasi Direksi ...3
2.1.1 Struktur Keanggotaan Direksi ...3
2.1.2 Komposisi Direksi ...3
2.1.3 Kriteria Keanggotaan Direksi ...4
2.1.4 Rangkap Jabatan Anggota Direksi ...7
2.1.5 Pencalonan dan Pengangkatan Anggota Direksi ...7
2.1.6 Program Orientasi dan Peningkatan Kapabilitas Anggota Direksi ...7
2.1.7 Pemberhentian dan Pengunduran Diri Anggota Direksi ...8
2.2 Masa Jabatan Anggota Direksi ...11
BAB 3 TUGAS, TANGGUNG JAWAB, DAN KEWENANGAN DIREKSI ...13
3.1 Tugas Direksi ...13
3.2 Tanggung Jawab Direksi ...16
3.3 Kewenangan Direksi ...20
3.4 Batasan Kewenangan Direksi ...21
3.5 Pembagian Tugas Dan Wewenang Direksi ...24
BAB 4 MEKANISME KERJA DIREKSI ...26
4.1 Rapat Direksi ...26
4.1.1 Pelaksanaan Rapat Direksi ...26
4.1.2 Pengambilan Keputusan Rapat Direksi ...28
4.1.3 Risalah Rapat Direksi ...29
4.2 Organ Pendukung Direksi ...30
4.3.1 Hubungan Kerja Direksi dengan Dewan Komisaris ...31
4.3.2 Hubungan Kerja Direksi dengan Pemegang Saham dalam Penyelenggaraan RUPS ...33
4.3.3 Hubungan Kerja Direksi dengan OJK ...34
4.3.4 Hubungan Kerja Direksi dengan Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada) ...34
4.3.5 Hubungan Kerja Direksi dengan Komite Haircut ...34
4.3.6 Hubungan Kerja Direksi dengan Komite KKPR ...35
4.3.7 Hubungan Kerja Direksi dengan Komite Investasi ...36
4.3.8 Hubungan Kerja Direksi dengan SPI ...36
4.4 Penilaian Kinerja Direksi ...37
4.4.1 Pelaksanaan Penilaian ...37
4.4.2 Kriteria Penilaian ...38
4.5 Pelaporan dan Pertanggungjawaban Direksi ...38
4.6 Gaji/Honorarium dan Fasilitas Direksi ...39
BAB 5 ETIKA KERJA DIREKSI ...40
BAB 6 PENUTUP ...42
6.1 Masa Berlaku ...42
6.2 Evaluasi dan Penyempurnaan ...42
6.3 Hal Lain ...42
LAMPIRAN...43
LEMBAR PERSETUJUAN DIREKSI ...44
LEMBAR PERSETUJUAN DEWAN KOMISARIS ...45
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai perusahaan yang memiliki peran menjalankan fungsi kliring dan penjaminan penyelesaian transaksi bursa, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (selanjutnya disebut
“KPEI” atau "Perusahaan") harus dikelola secara profesional dan wajib menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (selanjutnya disebut GCG). Prinsip-prinsip GCG yang dianut oleh Perusahaan adalah prinsip tentang peran perusahaan di pasar modal, perlindungan terhadap pemakai jasa, perlindungan terhadap pemegang saham, perlindungan terhadap pemangku kepentingan lainnya, pengungkapan dan transparansi, serta peran dewan komisaris dan direksi. Prinsip-prinsip GCG tersebut dilaksanakan berdasarkan asas Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, dan Fairness (TARIF).
Untuk mendorong agar Perusahaan dikelola dengan prinsip-prinsip GCG yang dilaksanakan secara konsisten serta patuh pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka Perusahaan berupaya selalu meningkatkan kinerja organ Perusahaan termasuk kinerja Direksi. Direksi merupakan organ Perusahaan yang memiliki wewenang dan tanggung jawab secara penuh untuk memimpin dan mengurus Perusahaan sesuai dengan visi, misi, maupun tujuan yang telah ditetapkan.
Piagam ini merupakan pedoman bagi Direksi dalam melaksanakan tugas, tanggung jawab, dan wewenangnya untuk memenuhi kepentingan pemakai jasa, pemegang saham, dan pemangku kepentingan lainnya. Piagam Direksi ini merupakan penjabaran Pedoman Tata Kelola Perusahaan. Dengan adanya piagam ini, Direksi dalam melaksanakan tugasnya setiap saat akan bertindak dan bersikap berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku, ketentuan Anggaran Dasar, peraturan yang berlaku di Perusahaan, kode etik, serta praktik-praktik terbaik (best practices) GCG.
1.2 Maksud dan Tujuan
Piagam Direksi ini disusun sebagai pedoman agar Direksi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara efisien, efektif, transparan, kompeten, independen, dan dapat dipertanggungjawabkan serta sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
1.3 Referensi
Segala hal yang tertuang dalam Piagam ini mengacu pada dasar hukum berikut ini:
1. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perusahaan Terbatas 2. Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
3. Peraturan Pemerintah RI No.45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal
4. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 43/POJK.04/2016 tentang Laporan Kliring dan Penjaminan
5. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 59/POJK.04/2016 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Lembaga Kliring dan Penjaminan
6. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 3/POJK.04/2021 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal
7. Anggaran Dasar PT KPEI
8. Surat Keputusan Direksi No. Kep-016/DIR/KPEI/1213 tanggal 20 Desember 2013 perihal Struktur Organisasi PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia.
9. Surat Keputusan Direksi PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia No. Kep- 009/DIR/KPEI/1114 tanggal 24 November 2014 perihal Komite Investasi
10. Pedoman Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance Guidelines) PT KPEI 11. Pedoman Perilaku PT KPEI
12. Pedoman Umum GCG Indonesia dari Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (CG) 2006
13. Principles of Corporate Governance from Organization for Economic Co-operation and Development (OECD)
14. Asssociation of South East Asia Nations (ASEAN) CG Scorecard 15. International Corporate Governance Network (ICGN) Principles 16. Pratik-praktik terbaik terkait tata kelola Perusahaan
BAB 2
ORGANISASI DAN MASA JABATAN DIREKSI
2.1 Organisasi Direksi
Organisasi Direksi mengatur mengenai struktur keanggotaan, komposisi keanggotaan, kriteria keanggotaan, rangkap jabatan, pencalonan dan pengangkatan, orientasi dan peningkatan kapabilitas, serta pemberhentian dan pengunduran diri anggota Direksi.
2.1.1 Struktur Keanggotaan Direksi
Struktur dan jumlah anggota Direksi ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan memperhatikan jumlah kebutuhan dan jabatan sesuai rencana strategis Perusahaan dan diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Struktur dan jumlah anggota Direksi tersebut memungkinkan Direksi untuk mengambil keputusan yang efektif, tepat, dan cepat serta dapat bertindak secara independen, yaitu tidak mempunyai konflik kepentingan yang dapat mengganggu kemampuannya untuk melaksanakan tugasnya.
2.1.2 Komposisi Direksi
Komposisi Direksi mengacu pada ketentuan sebagai berikut:
1. Direksi terdiri dari paling sedikit 2 (dua) orang dan tidak lebih dari 7 (tujuh) orang anggota, serta salah satu diantaranya diangkat sebagai Direktur Utama.
2. Anggota Direksi selain Direktur Utama wajib ditetapkan sebagai anggota Direksi Perusahaan yang paling sedikit bertanggung jawab terhadap 1 (satu) atau lebih kegiatan sebagai berikut:
a. kliring;
b. penjaminan dan pengelolaan risiko;
c. riset dan pengembangan;
d. teknologi informasi;
e. hukum; dan
f. keuangan dan sumber daya manusia serta administrasi umum.
3. Salah seorang anggota Direksi bertindak sebagai penanggung jawab dalam penerapan dan pemantauan tata kelola di Perusahaan.
4. Jumlah kebutuhan jabatan Direksi diusulkan oleh Dewan Komisaris kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setelah melalui penelaahan.
5. Dalam menelaah jumlah kebutuhan dan jabatan anggota Direksi, Dewan Komisaris dapat membentuk komite dengan atau tanpa melibatkan pihak lain, dengan berpedoman pada Peraturan OJK, peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal yang mengatur mengenai Perizinan Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta struktur organisasi Lembaga Kliring dan Penjaminan.
2.1.3 Kriteria Keanggotaan Direksi
Anggota Direksi wajib memenuhi persyaratan umum, kriteria independensi, dan persyaratan kompetensi serta telah lulus uji kemampuan dan kepatutan yang dilakukan.
1. Persyaratan Umum
Anggota Direksi wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Orang perseorangan warga negara Indonesia dan cakap melakukan perbuatan hukum;
b. Memiliki akhlak dan moral yang baik;
c. Tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi anggota Dewan Komisaris atau anggota Direksi yang dinyatakan bersalah atau turut bersalah menyebabkan suatu perusahaan dinyatakan pailit;
d. Tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana kejahatan;
e. Tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dibuktikan dengan menyampaikan paling sedikit Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dimana jangka waktu tanggal diterbitkannya sampai dengan diajukan ke OJK tidak lebih dari 6 (enam) bulan atau sesuai dengan masa berlaku yang diberikan dari kepolisian jika kurang dari 6 (enam) bulan;
f. Tidak pernah melakukan pelanggaran yang material atas peraturan perundang- undangan di bidang jasa keuangan;
g. Mempunyai komitmen terhadap pengembangan Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP) dan Pasar Modal Indonesia;
h. Mempunyai pemahaman terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal dan pengetahuan yang luas tentang tentang pasar modal termasuk perkembangan pasar modal internasional;
i. Memahami prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan prinsip-prinsip pengelolaan risiko;
j. Memahami dan mematuhi Anggaran Dasar dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tugas Direksi;
k. Tidak pernah menjadi anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris yang selama menjabat:
1) pernah tidak menyelenggarakan RUPS tahunan;
2) pertanggungjawabannya sebagai anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris pernah tidak diterima oleh RUPS atau pernah tidak memberikan pertanggungjawaban sebagai anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris kepada RUPS; dan
3) pernah menyebabkan perusahaan yang memperoleh izin, persetujuan, atau pendaftaran dari OJK tidak memenuhi kewajiban menyampaikan laporan tahunan dan/atau laporan keuangan kepada OJK.
l. Tidak pernah diberhentikan dengan tidak hormat dari setiap pekerjaan/jabatan untuk 5 (lima) tahun terakhir sebelum pengangkatan; dan
m. Berdomisili di Indonesia, di tempat yang memungkinkan pelaksanaan tugas pengelolaan Perusahaan sehari-hari.
2. Persyaratan Independensi
Setiap anggota Direksi harus memenuhi persyaratan independensi sebagai berikut:
a. Tidak diizinkan untuk memegang posisi lain yang dapat menyebabkan benturan kepentingan secara langsung atau tidak langsung dengan Perusahaan;
b. Mengungkapkan semua benturan kepentingan yang ada pada saat ini dan potensi benturan kepentingan atau apapun yang dapat mencegah anggota Direksi bertindak independen. Pengungkapan benturan kepentingan tersebut dilakukan pada awal masa jabatan Direksi dan diperbaharui jika dikemudian hari terdapat perubahan;
c. Dilarang mempunyai hubungan afiliasi dengan Direksi lain dan/atau anggota Dewan Komisaris;
d. Dilarang memanfaatkan Perusahaan untuk kepentingan pribadi, keluarga, kelompok usahanya dan/atau pihak lain;
e. Dilarang memiliki saham atau sebagai pengendali baik langsung atau tidak langsung atas Perusahaan Efek. Jika anggota Direksi memiliki saham atau sebagai pengendali baik langsung atau tidak langsung Perusahaan Efek, saham tersebut wajib dialihkan paling lambat 6 (enam) bulan sejak RUPS pengangkatan anggota Direksi, dan dalam jangka waktu tersebut yang bersangkutan dilarang menggunakan hak suara dalam RUPS Perusahaan Efek dimaksud; dan
f. Dilarang mengendalikan baik langsung atau tidak langsung Emiten atau Perusahaan Publik dan/atau dilarang mentransaksikan saham Emiten atau Perusahaan Publik. Jika saat diangkat, Direksi telah memiliki saham Emiten atau Perusahaan Publik, maka saham tersebut tidak dapat ditransaksikan sampai dengan 6 (enam) bulan setelah masa jabatannya berakhir.
3. Persyaratan Kompetensi
Anggota Direksi wajib memenuhi persyaratan kompetensi sebagai berikut:
a. Paling sedikit 1 (satu) orang anggota Direksi wajib mempunyai pengalaman dalam posisi manajerial pada bidang pengelolaan risiko dan/atau pengelolaan investasi pada perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, atau posisi manajerial yang membawahi jasa kustodian sekurang-kurangnya satu tingkat di bawah Direksi pada bank kustodian, paling kurang 5 (lima) tahun.
b. Anggota Direksi lainnya wajib berpengalaman sebagai:
1) Posisi Direksi pada perusahaan yang bergerak di bidang keuangan paling kurang 5 (lima) tahun;
2) Posisi manajerial pada bidang teknologi informasi paling kurang 3 (tiga) tahun dan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai sistem informasi perusahaan yang bergerak di bidang keuangan;
3) Posisi manajerial paling kurang satu tingkat di bawah Direksi atau jabatan yang setara pada institusi pengawas pasar modal dan/atau organisasi yang diberi kewenangan oleh Undang-Undang tentang pasar modal untuk mengatur pelaksanaan kegiatannya, paling kurang 3 (tiga) tahun; dan/atau 4) Profesional di bidang hukum, akuntansi, atau keuangan yang berpraktik
secara aktif dalam bidang pasar modal, paling kurang 5 (lima) tahun.
c. Jangka waktu atau masa pengalaman anggota Direksi sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b dihitung sampai dengan tanggal pelaksanaan RUPS pengangkatan anggota Direksi.
d. Bagi anggota Direksi yang diajukan sebagai Direktur Utama, selain wajib memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud huruf a dan b, juga wajib mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat.
2.1.4 Rangkap Jabatan Anggota Direksi
Setelah diangkat menjadi anggota Direksi, yang bersangkutan tidak diperkenankan memegang jabatan lain, yaitu:
a. anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, atau karyawan perusahaan lain;
b. jabatan struktural dan fungsional lainnya dalam instansi, lembaga pemerintah pusat dan atau daerah, dan perusahaan swasta yang memiliki kepentingan dengan usaha Perusahaan; dan
c. jabatan lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan secara langsung atau tidak langsung dengan Perusahaan dan/atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2.1.5 Pencalonan dan Pengangkatan Anggota Direksi
Tata cara pencalonan dan pengajuan, pemilihan, dan pengangkatan anggota Direksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2.1.6 Program Orientasi dan Peningkatan Kapabilitas Anggota Direksi
Ketentuan mengenai program orientasi dan peningkatan kapabilitas anggota Direksi adalah sebagai berikut:
1. Anggota Direksi yang baru diangkat mengikuti program orientasi, yaitu pengenalan mengenai bisnis operasional dan aktivitas terkait Perusahaan (tidak berlaku jika Direksi berasal dari internal Perusahaan).
2. Program peningkatan kapabilitas dilakukan dalam rangka meningkatkan efektivitas kinerja Direksi.
3. Program peningkatan kapabilitas merupakan hal penting yang perlu dilakukan agar anggota Direksi dapat selalu memperbaharui informasi tentang perkembangan
terkini dari aktivitas bisnis perusahaan dan pengetahuan-pengetahuan lain yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi.
4. Perencanaan program peningkatan kapabilitas harus diperhitungkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan Perusahaan.
5. Setiap anggota Direksi dapat berpartisipasi dalam berbagai program peningkatan kapabilitas, misalnya seminar atau pelatihan dan presentasi dari anggota Direksi kepada anggota lainnya mengenai informasi, pengetahuan, dan pengalaman.
6. Setiap anggota Direksi menyampaikan informasi keikutsertaan program peningkatan kapabilitas yang diikuti. Informasi tersebut disampaikan kepada Direksi sebagai penanggung jawab program peningkatan kapabilitas Direksi.
7. Program peningkatan kapabilitas yang diikuti oleh setiap anggota Direksi dicantumkan dalam laporan tahunan sebagai bagian dari Profil Direksi.
2.1.7 Pemberhentian dan Pengunduran Diri Anggota Direksi 1. Pemberhentian Anggota Direksi
a. Masa jabatan anggota Direksi berakhir dengan sendirinya apabila anggota Direksi:
1) Mengundurkan diri;
2) Tidak lagi memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan dan/atau tidak lagi memenuhi kriteria keanggotaan sesuai bagian 2.1.3;
3) Berhalangan tetap;
4) Meninggal dunia; dan/atau 5) Masa jabatan berakhir.
b. Anggota Direksi dapat diberhentikan dari jabatannya oleh OJK apabila anggota Direksi tersebut:
1) Tidak memiliki akhlak dan moral yang baik;
2) Melakukan perbuatan tercela di bidang pasar modal pada khususnya dan di bidang keuangan pada umumnya;
3) Melakukan pelanggaran yang cukup material atas peraturan perundang- undangan di bidang jasa keuangan;
4) Tidak mempunyai komitmen terhadap pengembangan Perusahaan;
dan/atau
5) Gagal atau tidak cakap menjalankan tugas.
c. Anggota Direksi Perusahaan dapat diberhentikan dari jabatannya oleh RUPS apabila anggota Direksi tersebut:
1) Tidak mampu menjalankan tugas dan kewajiban dengan baik;
2) Melakukan tindakan yang bertentangan dengan maksud dan tujuan Perusahaan;
3) Melalaikan kewajibannya;
4) Melakukan tindakan yang menurut pendapat RUPS dapat merugikan Perusahaan.
d. Anggota Direksi yang tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada bagian 2.1.3 wajib diganti dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak yang bersangkutan dinyatakan oleh OJK tidak lagi memenuhi syarat, dan pemegang saham mayoritas Perusahaan wajib segera mengajukan calon direktur penggantinya kepada OJK dengan memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Pengunduran Diri
Pengunduran diri seorang anggota Direksi dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Anggota Direksi berhak mengundurkan diri dari jabatannya dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksudnya tersebut kepada Perusahaan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal pengunduran dirinya.
b. Direksi melaporkan kepada OJK paling lambat 5 (lima) hari kerja sejak diketahui atau diterimanya surat pengunduran diri oleh Direksi.
c. Anggota Direksi yang mengundurkan diri dibebaskan dari tanggung jawabnya setelah RUPS membebaskannya.
3. Ketentuan atas Jabatan yang Lowong
Ketentuan atas jabatan yang lowong adalah sebagai berikut:
a. Dalam hal terdapat jabatan anggota Direksi yang lowong, maka Direksi wajib melaporkan kepada OJK paling lambat 5 (lima) hari kerja sejak diketahui oleh Direksi.
b. Dalam hal oleh sebab apapun jabatan anggota Direksi lowong, maka dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak jabatan dimaksud lowong harus diselenggarakan RUPS untuk mengisi jabatan yang lowong tersebut, kecuali ditentukan lain oleh OJK dan dengan memperhatikan peraturan perundang–
undangan di bidang pasar modal.
c. Dalam hal jabatan Direktur Utama lowong, salah satu anggota Direksi ditunjuk berdasarkan keputusan Direksi yang bertindak sebagai pejabat sementara untuk melaksanakan tugas dan wewenang Direktur Utama yang lowong tersebut sampai dengan diangkatnya pengganti oleh RUPS, setelah mendapat persetujuan Dewan Komisaris.
d. Dalam hal jabatan anggota Direksi selain Direktur Utama lowong, berdasarkan keputusan rapat Direksi, tugas dan wewenang anggota Direksi tersebut dialihkan kepada anggota Direksi yang lain sampai dengan diangkatnya pengganti oleh RUPS, setelah mendapat persetujuan Dewan Komisaris.
e. Penunjukan sementara Direktur Utama atau pengalihan tugas dan wewenang anggota Direksi dilaporkan oleh Direksi kepada OJK paling lambat 2 (dua) hari setelah penunjukan atau pengalihan.
f. Jika karena sebab apapun Perusahaan tidak memiliki anggota Direksi sama sekali, maka seorang atau lebih anggota Dewan Komisaris yang ditunjuk secara tertulis oleh Dewan Komisaris menjalankan pekerjaan Direksi dengan kekuasaan dan kewenangan yang sama, dan wajib memanggil RUPS untuk mengangkat Direksi baru paling lambat 3 (tiga) bulan sejak jabatan anggota Direksi lowong.
4. Penghentian Sementara
Anggota Direksi dapat diberhentikan untuk sementara waktu oleh Dewan Komisaris apabila anggota Direksi bertindak bertentangan dengan Anggaran Dasar Perusahaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau melalaikan kewajibannya atau terdapat alasan yang mendesak bagi Perusahaan.
5. Cuti/Berhalangan Sementara
Anggota Direksi berhak mengajukan izin cuti atau berhalangan sementara atas kewajiban kehadiran pada Perusahaan atau untuk kepentingan Perusahaan, sehingga tidak dapat melaksanakan tugasnya. Cuti/berhalangan sementara dapat dilakukan secara mendadak ataupun dengan perencanaan untuk cuti/berhalangan dalam waktu yang lama. Yang dimaksud waktu yang lama adalah di atas 5 (lima) hari kerja berturut-turut. Perencanaan untuk berhalangan dalam waktu yang lama dapat dilakukan dengan alasan sakit yang memerlukan perawatan khusus, melaksanakan kewajiban agama, dan/atau alasan lain yang sesuai kebijakan Perusahaan.
a. Sehubungan dengan pelaksanaan izin cuti maupun adanya hal-hal yang menyebabkan anggota Direksi tidak dapat melaksanakan tugasnya dalam kurun waktu tertentu (berhalangan sementara), maka anggota Direksi tersebut mengajukan izin cuti/ berhalangan sementara secara tertulis kepada Direktur Utama, sehingga Direktur Utama dapat mengalihkan tugas serta tanggung jawab anggota Direksi yang bersangkutan kepada anggota Direksi lainnya.
b. Jika Direktur Utama mengajukan izin cuti/berhalangan sementara, maka Direktur Utama menginformasikan izin cuti/berhalangan sementara tersebut secara tertulis kepada anggota Direksi lainnya dan membuat surat kuasa pengalihan tugas kepada salah satu anggota Direksi lain.
c. Izin cuti/berhalangan sementara wajib mencantumkan jumlah hari yang dikehendaki.
d. Untuk kelancaran tugas harian Perusahaan, minimal harus selalu ada seorang Direksi yang berada di tempat kedudukan Perusahaan.
2.2 Masa Jabatan Anggota Direksi
Masa jabatan anggota Direksi mengacu pada ketentuan sebagai berikut:
1. Masa jabatan anggota Direksi adalah 4 (empat) tahun terhitung sejak penutupan RUPS pengangkatan anggota Direksi sampai dengan penutupan RUPS tahun keempat dan hanya dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Apabila seorang anggota Direksi diangkat untuk mengisi jabatan anggota Direksi yang lowong atau untuk menambah calon anggota Direksi, maka masa
jabatan tersebut berlaku selama sisa masa jabatan anggota Direksi yang sedang menjabat;
b. Penghitungan 1 (satu) kali masa jabatan bagi seorang anggota Direksi adalah jika yang bersangkutan menjabat selama paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari masa jabatan Direksi; dan
c. Keseluruhan masa jabatan anggota Direksi pada Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian paling banyak 3 (tiga) kali masa jabatan.
2. Berakhirnya masa jabatan Direksi wajib diatur berbeda dengan berakhirnya masa jabatan Dewan Komisaris.
BAB 3
TUGAS, TANGGUNG JAWAB, DAN KEWENANGAN DIREKSI
3.1 Tugas Direksi
Tugas Direksi terdiri dari tugas terkait kepengurusan, manajemen risiko, pengendalian internal, komunikasi, dan tanggung jawab sosial.
1. Tugas terkait Kepengurusan
a. Direksi menjalankan pengurusan untuk kepentingan Perusahaan sesuai dengan kebijakan yang dipandang tepat, dalam batas yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dan/atau Anggaran Dasar, serta sesuai dengan maksud dan tujuan Perusahaan.
b. Direksi menyusun visi, misi, dan nilai-nilai serta rancangan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) untuk disetujui oleh Dewan Komisaris dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
c. Direksi menyusun dan menyampaikan RKAT yang berlandaskan pada visi, misi, dan nilai-nilai yang telah ditentukan pada huruf b dan diajukan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) paling lambat tanggal 5 November.
d. Direksi menjalankan kepengurusan Perusahaan dengan itikad baik, penuh tanggung jawab, dan kehati-hatian untuk kepentingan Perusahaan sesuai dengan visi, misi, dan nilai-nilai yang telah ditentukan pada huruf b.
e. Direksi melakukan pengelolaan Perusahaan dengan memegang prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance—GCG).
f. Direksi harus dapat mengendalikan sumber daya yang dimiliki oleh Perusahaan secara efektif dan efisien untuk dapat mencapai maksud dan tujuan Perusahaan.
g. Direksi harus memperhatikan kepentingan yang wajar dari pemangku kepentingan.
h. Direksi harus mematuhi tata tertib dan piagam agar pelaksanaan tugasnya dapat terarah dan efektif serta dapat digunakan sebagai salah satu alat penilaian kinerja.
i. Direksi harus menjaga keharmonisan suasana kerja di Perusahaan dengan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif agar karyawan dapat bekerja dengan baik bagi tercapainya maksud dan tujuan Perusahaan.
j. Direksi wajib untuk memberikan penjelasan tentang hal-hal mengenai Perusahaan yang ditanyakan oleh Dewan Komisaris.
k. Direksi menyelenggarakan RUPS jika diperlukan.
l. Direksi melakukan pemanggilan RUPS dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum tanggal RUPS diadakan dengan tidak memperhitungkan tanggal pemanggilan dan tanggal RUPS.
m. Direksi menyerahkan laporan keuangan Perusahaan kepada akuntan publik untuk diaudit dan menyerahkan laporan hasil audit akuntan publik secara tertulis kepada RUPS untuk disahkan.
n. Direksi membuat dan menyampaikan laporan tahunan kepada RUPS setelah ditelaah oleh Dewan Komisaris, dalam jangka waktu paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun buku Perusahaan berakhir.
o. Direksi melaksanakan keputusan yang diambil RUPS selama tidak bertentangan dengan tujuan Perusahaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
p. Direksi melakukan diskusi dengan akuntan publik terkait pelaksanaan audit laporan keuangan dan memastikan penyelesaian tindak lanjut atas hasil audit.
2. Tugas terkait Manajemen Risiko
a. Direksi menyusun dan melaksanakan sistem manajemen risiko Perusahaan terpadu yang mencakup seluruh aspek kegiatan Perusahaan.
b. Direksi mempertimbangkan risiko usaha dalam setiap pengambilan keputusan.
c. Direksi dibantu oleh Komite Kebijakan Kredit dan Pengelolaan Risiko dan Komite Haircut dalam menjalankan tugas terkait pengelolaan risiko.
3. Tugas terkait Pengendalian Internal
a. Direksi menyusun dan melaksanakan sistem pengendalian internal yang andal dalam rangka menjaga kekayaan dan kinerja Perusahaan untuk memberikan jasa kliring dan penjaminan serta memenuhi peraturan perundang-undangan.
b. Direksi dibantu oleh Satuan Pemeriksa Internal (SPI) dalam menjalankan tugas terkait pengendalian internal.
c. Direksi menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari Dewan Komisaris, SPI, auditor eksternal, OJK, dan/atau pengawas otoritas lain.
4. Tugas terkait Komunikasi
a. Direksi memastikan kelancaran komunikasi antara Perusahaan dengan pemangku kepentingan.
b. Direksi memastikan Perusahaan melaksanakan keterbukaan informasi dan komunikasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan penyampaian informasi kepada Dewan Komisaris dan pemegang saham secara tepat waktu.
c. Direksi memberikan pertanggungjawaban kepada pemangku kepentingan melalui penerbitan laporan tahunan yang mencakup laporan keuangan termasuk laporan keuangan Dana Jaminan.
d. Direksi memberikan penjelasan kepada RUPS mengenai laporan tahunan serta keterangan yang berkaitan dengan Perusahaan sepanjang berhubungan dengan agenda rapat dan tidak bertentangan dengan kepentingan Perusahaan.
e. Direksi membuat dan menyampaikan laporan terkait dengan kegiatan operasional Perusahaan kepada OJK:
1) Laporan harian mengenai kegiatan kliring dan penjaminan;
2) Laporan bulanan yang memuat:
a) Rekapitulasi kegiatan selama periode tersebut dilengkapi dengan statistik perkembangan volume kliring dan penjaminan;
b) Laporan mengenai Anggota Bursa Efek yang menjadi Anggota Kliring; dan
c) Kegiatan pemakai jasa Perusahaan.
3) Laporan keuangan tengah tahunan dan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit oleh akuntan publik yang terdaftar di OJK disertai pendapat dari akuntan publik tersebut;
4) Laporan realisasi anggaran dan penggunaan laba;
5) Laporan triwulanan realisasi rencana kerja dan anggaran rencana kerja, serta pencapaian indikator kinerja utama (Key Performance Indicator—
6) Laporan penyelenggaraan RUPS;
7) Laporan mengenai perubahan status pemakai jasa Perusahaan;
8) Laporan mengenai pengenaan sanksi oleh Perusahaan terhadap pemakai jasa; dan
9) Laporan mengenai peristiwa khusus seperti kesulitan keuangan pemakai jasa Perusahaan.
5. Tugas terkait Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
a. Direksi memastikan bahwa aset dan lokasi usaha serta fasilitas Perusahaan lainnya memenuhi peraturan perundang-undangan berkenaan dengan kesehatan dan keselamatan kerja serta pelestarian lingkungan.
b. Direksi mempekerjakan, menetapkan besarnya gaji, memberikan pelatihan, menetapkan jenjang karir, serta menentukan persyaratan kerja lainnya, tanpa memperhatikan latar belakang etnik, agama, jenis kelamin, usia, cacat tubuh yang dipunyai seseorang, atau keadaan khusus lainnya yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan.
c. Direksi menyediakan lingkungan kerja yang bebas dari segala bentuk tekanan (pelecehan) yang mungkin timbul sebagai akibat perbedaan watak, keadaan pribadi, dan latar belakang kebudayaan seseorang.
d. Dalam rangka mempertahankan kesinambungan usaha Perusahaan, Direksi memastikan dipenuhinya tanggung jawab sosial dan lingkungan Perusahaan.
e. Direksi mempunyai perencanaan tertulis dalam melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan Perusahaan.
3.2 Tanggung Jawab Direksi
Tanggung jawab umum Direksi adalah sebagai berikut:
a. Seluruh anggota Direksi menandatangani laporan tahunan sesuai dengan tahun buku ketika anggota Direksi tersebut menjabat. Anggota Direksi yang tidak menandatangani laporan tahunan menyebutkan alasannya secara tertulis dalam surat tersendiri yang dilampirkan dalam laporan tahunan atau dianggap menyetujui isi laporan tahunan.
b. Anggota Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas keandalan informasi dalam laporan keuangan Perusahaan.
c. Direksi menyusun dan menyimpan risalah RUPS.
d. Direksi memastikan ketaatan pelaksanaan ketentuan peraturan mengenai pemakai jasa.
e. Anggota Direksi memberikan segala keterangan yang diperlukan untuk pelaksanaan pemeriksaan terhadap Perusahaan yang ditetapkan oleh keputusan Ketua Pengadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
f. Anggota Direksi memberitahukan kepada Perusahaan secara tertulis alamat surat- menyurat dan perubahannnya.
g. Direksi menyiapkan Piagam Direksi serta meninjau dan memperbarui piagam tersebut secara berkala.
Selain itu, Direksi juga memiliki tanggung jawab terkait kerugian/kepailitan, daftar pemegang saham, keanggotaan Dewan Komisaris dan Direksi, penggabungan/peleburan/
pengambilalihan/pemisahan/pembubaran, pengurangan modal, serta pemindahan hak atas saham, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
1. Tanggung Jawab terkait Kerugian/Kepailitan
a. Anggota Direksi ikut bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian/kepailitan Perusahaan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Anggota Direksi ikut bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian yang diderita pemegang saham yang beritikad baik, yang timbul akibat pembelian kembali saham yang batal karena hukum, sebagaimana dimaksud sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Tanggung Jawab terkait Daftar Pemegang Saham
a. Direksi mengadakan dan menyimpan Daftar Pemegang Saham sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Selain Daftar Pemegang Saham sebagaimana dimaksud pada huruf a, Direksi mengadakan dan menyimpan Daftar Khusus yang memuat keterangan mengenai saham anggota Direksi dan Dewan Komisaris beserta keluarganya
dalam Perusahaan dan/atau pada perusahaan lain serta tanggal saham itu diperoleh (jika ada).
c. Direksi mencatat pemindahan hak atas saham, tanggal, dan hari pemindahan hak tersebut dalam Daftar Pemegang Saham atau Daftar Khusus sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b dan memberitahukan perubahan susunan pemegang saham kepada Menteri untuk dicatat dalam daftar Perusahaan, paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pencatatan pemindahan hak.
3. Tanggung Jawab terkait Keanggotaan Dewan Komisaris dan Direksi
a. Anggota Direksi mengumumkan pembatalan pengangkatan anggota Direksi lain dan anggota Dewan Komisaris sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku melalui surat kabar dan memberitahukannya kepada Menteri untuk dicatat dalam daftar Perusahaan.
b. Direksi melaporkan kepada OJK paling lambat 5 (lima) hari kerja sejak diketahui oleh Direksi, dalam hal terdapat jabatan anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi yang lowong.
4. Tanggung Jawab terkait Penggabungan/Peleburan/Pengambilalihan/
Pemisahan/Pembubaran
a. Direksi menyusun rancangan penggabungan dalam hal Perusahaan akan menggabungkan diri dan menerima penggabungan. Ketentuan ini berlaku juga bagi Perusahaan yang akan meleburkan diri. Rancangan penggabungan/
peleburan memuat sekurang-kurangnya informasi yang diwajibkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Dalam hal pengambilalihan yang dilakukan oleh badan hukum berbentuk perusahaan, maka perbuatan hukum pengambilalihan yang dilakukan oleh Direksi harus berdasarkan pada keputusan RUPS yang memenuhi kuorum kehadiran dan ketentuan tentang persyaratan pengambilan keputusan RUPS.
c. Dalam hal pengambilalihan dilakukan melalui Direksi, pihak yang akan mengambil alih menyampaikan maksudnya untuk melakukan pengambilalihan kepada Direksi perusahaan yang akan diambil alih. Direksi perusahaan yang akan diambil alih dan perusahaan yang akan mengambil alih, dengan persetujuan Dewan Komisaris masing-masing, menyusun rancangan
pengambilalihan yang memuat sekurang-kurangnya informasi yang diwajibkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Direksi perusahaan yang akan melakukan penggabungan, peleburan, pengambilalihan, atau pemisahan, mengumumkan ringkasan rancangan paling sedikit dalam 1 (satu) surat kabar dan mengumumkan secara tertulis kepada karyawan dari Perusahaan yang akan melakukan penggabungan, peleburan, pengambilalihan, atau pemisahan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum pemanggilan RUPS. Pengumuman tersebut juga memberitahukan bahwa pihak yang berkepentingan dapat memperoleh rancangan penggabungan, peleburan, pengambilalihan, atau pemisahan di kantor perusahaan terhitung sejak tanggal pengumuman sampai tanggal RUPS diselenggarakan.
d. Direksi perusahaan yang menerima penggabungan atau Direksi perusahaan hasil peleburan mengumumkan hasil penggabungan atau peleburan dalam 1 (satu) surat kabar atau lebih dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal berlakunya penggabungan atau peleburan.
Ketentuan ini berlaku juga terhadap Direksi dari perusahaan yang sahamnya diambil alih.
e. Dalam hal terjadi pembubaran Perusahaan, dan Perusahaan melakukan perbuatan hukum yang tidak dalam rangka menyelesaikan semua urusan terkait likuidasi, anggota Direksi bertanggungjawab secara tanggung renteng atas perbuatan hukum tersebut.
5. Tanggung Jawab terkait Pengurangan Modal
Direksi memberitahukan keputusan mengenai pengurangan modal Perusahaan kepada semua kreditur dengan mengumumkan dalam 1 (satu) atau lebih surat kabar dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal keputusan RUPS.
6. Tanggung Jawab Direksi terkait Pemindahan Hak atas Saham
Jika Direksi menolak untuk mencatatkan pemindahan hak atas saham, maka dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal diterimanya permintaan untuk melakukan
pencatatan oleh Direksi, Direksi mengirimkan pemberitahuan penolakan kepada pihak yang akan memindahkan haknya.
7. Tanggung Jawab Direksi terkait Penggantian Surat Saham
Pengeluaran pengganti untuk surat saham yang hilang segera diumumkan oleh Direksi dengan iklan paling sedikit dalam 2 (dua) surat kabar harian berbahasa Indonesia; satu diantaranya harus surat kabar harian yang terbit/beredar di tempat kedudukan Perusahaan dan yang lain yang berperedaran nasional.
3.3 Kewenangan Direksi
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, Direksi diberi kewenangan sebagai berikut:
1. Direksi berhak mewakili Perusahaan di dalam dan di luar Pengadilan tentang segala hal dan dalam segala kejadian, mengikat Perusahaan dengan pihak lain dan pihak lain dengan Perusahaan, serta menjalankan segala tindakan, baik mengenai kepengurusan maupun kepemilikan.
2. Direksi berhak menerbitkan peraturan berkenaan dengan penyelenggaraan kegiatan kliring dan penjaminan atas transaksi bursa sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Direksi berhak mengajukan gugatan atas nama Perusahaan.
4. Direksi berhak untuk menjual sisa saham yang belum diambil bagian, sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar.
5. Direksi berhak, dengan memberi alasan untuk itu, menolak untuk mencatatkan pemindahan hak atas saham dalam Daftar Pemegang Saham, jika tata cara yang disyaratkan tidak terpenuhi atau apabila salah satu persyaratan dari pihak yang berwenang tidak terpenuhi. Jika Direksi menolak untuk mencatatkan pemindahan hak atas saham, maka dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal diterimanya permintaan untuk melakukan pencatatan oleh Direksi, Direksi mengirimkan pemberitahuan penolakan kepada pihak yang akan memindahkan haknya.
6. Direksi berwenang menetapkan syarat bukti hak kepemilikan atas saham dalam hal pembubaran atau likuidasi pemegang saham yang merupakan badan hukum atau karena sebab apapun yang menyebabkan pemilikan hak atas saham berubah menurut peraturan perundang-undangan.
7. Direksi berwenang memberikan izin kepada pemegang saham untuk memeriksa Daftar Pemegang Saham, Daftar Khusus, Risalah RUPS, dan laporan tahunan, serta mendapatkan salinan Risalah RUPS dan salinan laporan tahunan, atas permohonan tertulis dari pemegang saham.
8. Direksi berwenang memberi kuasa tertulis kepada 1 (satu) orang karyawan Perusahaan atau lebih atau kepada orang lain untuk dan atas nama Perusahaan melakukan perbuatan hukum tertentu sesuai dengan Anggaran Dasar dan peraturan yang berlaku.
9. Direksi dapat menugaskan akuntan publik yang memiliki pengalaman dan reputasi internasional guna menelaah sistem pengendalian internal, menilai dan melaporkan efektifitas sistem pengendalian internal Perusahaan, termasuk perlindungan terhadap kecurangan, penggelapan, gangguan alami, dan kerusakan elektronik.
10. Direksi berwenang memusnahkan surat saham asli yang rusak atau tidak dapat dipakai lagi dalam RUPS dan pemusnahan tersebut dicatat dalam risalah rapat.
11. Anggota Direksi dapat bertindak selaku kuasa dalam RUPS, namun suara yang mereka keluarkan selaku kuasa dalam RUPS tidak dihitung dalam pemungutan suara.
12. Direksi dapat membuka kantor cabang atau kantor perwakilan Perusahaan, baik di dalam maupun di luar wilayah Republik Indonesia dengan persetujuan Dewan Komisaris.
13. Direksi dapat mengajukan usul pembubaran Perusahaan kepada RUPS.
14. Direksi dapat mengajukan permohonan pembubaran Perusahaan kepada Pengadilan Negeri dengan alasan Perusahaan tidak mungkin untuk dilanjutkan.
15. Direksi berwenang untuk bertindak sebagai likuidator ketika terjadi pembubaran Perusahaan berdasarkan keputusan RUPS dan RUPS tidak menunjuk likuidator.
16. Tanpa mengurangi tanggung jawab Direksi, Direksi berhak untuk mengangkat seorang atau lebih kuasa dengan syarat yang ditentukan oleh Direksi dalam surat kuasa khusus, dan harus dilakukan sesuai dengan Anggaran Dasar serta peraturan untuk mewakili Perusahaan.
3.4 Batasan Kewenangan Direksi
Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, Direksi memiliki batasan-batasan kewenangan. Batasan tersebut antara lain:
1. Kewenangan Direksi wajib memperoleh persetujuan Dewan Komisaris untuk melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:
a. Memperoleh barang-barang tidak bergerak atau harta kekayaan lain;
b. Membuat, mengubah, membatalkan dan mengakhiri perjanjian yang penting menurut keputusan Dewan Komisaris;
c. Memberikan kuasa untuk mewakili Perusahaan di hadapan sesuatu badan peradilan atau mengangkat arbiter;
d. Menetapkan atau mengubah rencana kerja dan anggaran Perusahaan;
e. Menetapkan susunan organisasi Perusahaan dan perubahannya;
f. Menetapkan dan mengubah peraturan tentang:
1) Persyaratan penerimaan para pemakai jasa Perusahaan;
2) Tata cara penyelenggaraan kliring dan penjaminan yang teratur, wajar, dan efisien;
3) Pendisiplinan, pembekuan pemakaian jasa, atau pemutusan hubungan antara Perusahaan dengan para pemakai jasa; dan
4) Peraturan lain yang diperlukan dalam menjalankan kegiatan usaha Perusahaan
g. Memindahkan hak atau mengagunkan sebagian harta kekayaan Perusahaan senilai kurang dari 3/5 (tiga per lima) kekayaan bersih Perusahaan;
h. Memberikan atau memperoleh pinjaman, mengeluarkan obligasi atau memberikan jaminan atau aval yang meliputi kurang dari 3/5 (tiga per lima) kekayaan bersih Perusahaan; dan
i. Mendirikan perusahaan baru, melakukan penyertaan modal, mengurangi atau menambah penyertaan modal dalam perusahaan lain.
Untuk tindakan-tindakan sebagaimana diatur dalam huruf a sampai dengan e, bukti persetujuan Dewan Komisaris cukup dalam bentuk risalah rapat Dewan Komisaris yang ditandatangani. Untuk tindakan-tindakan sebagaimana diatur dalam huruf f sampai dengan i, bukti persetujuan Dewan Komisaris disampaikan dalam bentuk Surat Persetujuan Dewan Komisaris.
2. Kewenangan Direksi wajib memperoleh persetujuan RUPS yang dihadiri oleh Pemegang Saham atau Kuasanya yang mewakili sekurangnya 3/4 (tiga per empat) jumlah saham Perusahaan, dan berdasarkan suara setuju lebih dari 3/4 (tiga per
empat) bagian dari jumlah suara yang sah, untuk melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:
a. Memindahkan hak atau mengagunkan harta kekayaan dengan nilai 3/5 (tiga per lima) bagian atau lebih kekayaan bersih Perusahaan; dan
b. Memberikan atau memperoleh pinjaman, mengeluarkan obligasi, memberikan jaminan yang meliputi 3/5 (tiga per lima) bagian atau lebih kekayaan bersih Perusahaan.
Persetujuan RUPS atas pengalihan, pelepasan hak dan pengagunan dibuktikan dengan risalah atau salinan RUPS, yang diterbitkan dan ditandatangani sesuai ketentuan Anggaran Dasar. Pengalihan, pelepasan hak, dan pengagunan wajib diumumkan dalam 2 (dua) surat kabar, paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya transaksi.
3. Dalam hal pembuatan atau pengubahan peraturan pemberian jasa oleh Perusahaan, Direksi harus mendapatkan persetujuan dari Dewan Komisaris sebelum diajukan kepada OJK untuk memperoleh persetujuan, dan peraturan tersebut berlaku setelah mendapat persetujuan OJK.
4. Direksi berwenang memberikan persetujuan terhadap pengeluaran untuk pengadaan senilai yang diatur dalam keputusan RUPS terkait kewenangan pengeluaran anggaran.
5. Anggota Direksi tidak berwenang mewakili Perusahaan apabila:
a. Terjadi perkara di pengadilan antara Perusahaan dengan anggota Direksi yang bersangkutan; atau
b. Anggota Direksi yang bersangkutan mempunyai benturan kepentingan dengan Perusahaan.
6. Dalam hal terjadi keadaan seperti yang dimaksud di angka 5 huruf b, yang berhak mewakili Perusahaan adalah:
a. Anggota Direksi lainnya yang tidak mempunyai benturan kepentingan dengan Perusahaan.
b. Dewan Komisaris dalam hal seluruh anggota Direksi mempunyai benturan kepentingan dengan Perusahaan; atau
c. Pihak lain yang ditunjuk oleh RUPS dalam hal seluruh anggota Direksi atau Dewan Komisaris mempunyai benturan kepentingan dengan Perusahaan.
7. Direksi tidak lagi memiliki kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum baru atas nama Perusahaan setelah jangka waktu berdirinya Perusahaan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar berakhir.
3.5 Pembagian Tugas Dan Wewenang Direksi
Pembagian tugas dan wewenang masing-masing anggota Direksi sesuai usulan pemegang saham mayoritas ditetapkan oleh RUPS. Pembagian tugas dan wewenang Direksi adalah sebagai berikut:
1. Direktur Utama
a. Direktur Utama memiliki tugas utama antara lain mengambil keputusan yang bersifat final jika rapat Direksi tidak dapat mengambil keputusan, melakukan koordinasi kegiatan Perusahaan, kegiatan hubungan masyarakat, dan kegiatan pemeriksaan internal.
b. Direktur Utama berhak dan berwenang mewakili dan bertindak untuk dan atas nama Direksi dan Perusahaan.
c. Jika Direktur Utama tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun juga sebagaimana dimaksud pada huruf b, hal mana tidak perlu dibuktikan kepada pihak lain, dan Perusahaan hanya memiliki seorang Direktur, maka Direktur yang bersangkutan berhak dan berwenang bertindak untuk dan atas nama Direksi serta mewakili Perusahaan.
d. Jika Direktur Utama tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun juga sebagaimana dimaksud pada huruf b, hal mana tidak perlu dibuktikan kepada pihak lain, dan Perusahaan memiliki dua orang Direktur atau lebih, maka dua orang Direktur bersama-sama berhak dan berwenang bertindak untuk dan atas nama Direksi serta mewakili Perusahaan.
e. Direktur Utama berwenang untuk memimpin RUPS terkait pengangkatan anggota Dewan Komisaris. Jika Direktur Utama berhalangan hadir dapat digantikan oleh salah satu anggota Direksi yang lain.
f. Direktur Utama menandatangani Daftar Pemegang Saham, Catatan dalam Daftar Pemegang Saham, Surat Saham dan Surat Kolektif.
2. Direktur Lainnya
Direktur lainnya antara lain bertanggungjawab terhadap satu atau lebih kegiatan
sebagai berikut:
a. Kliring dan penjaminan;
b. Penjaminan dan pengelolaan risiko;
c. Riset dan pengembangan;
d. Teknologi informasi;
e. Hukum; dan
f. Keuangan dan sumber daya manusia serta administrasi umum.
BAB 4
MEKANISME KERJA DIREKSI
4.1 Rapat Direksi
Ketentuan umum mengenai rapat Direksi adalah sebagai berikut:
1. Rapat Direksi adalah rapat yang diselenggarakan oleh Direksi untuk membahas hal- hal strategis yang terkait dengan pengurusan Perusahaan, termasuk memutuskan pengalihan tugas salah satu anggota Direksi yang dianggap tidak dapat melaksanakan sebagian tugasnya kepada anggota Direksi lainnya yang dianggap mampu untuk menjalankan tugas setelah mendapatkan persetujuan Dewan Komisaris dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta ditetapkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Rapat Direksi juga memiliki kewenangan mengalihkan tugas salah satu anggota Direksi yang lowong, selain Direktur Utama, kepada anggota Direksi yang lain sampai dengan diangkatnya pengganti oleh RUPS, setelah mendapat persetujuan Dewan Komisaris dan OJK.
2. Rapat Direksi terdiri dari rapat internal Direksi yang hanya dihadiri oleh anggota Direksi dan rapat eksternal Direksi dengan dihadiri pihak lain.
3. Rapat Direksi dilaksanakan secara terjadwal dengan aturan tata tertib tertentu. Hasil rapat ini didokumentasikan dan didistribusikan kepada peserta rapat dan pihak lain sesuai kebutuhan.
4. Setiap anggota Direksi wajib menghadiri rapat minimal 75% (tujuh puluh lima persen) dalam setahun. Frekuensi rapat Direksi dan kehadiran anggota Direksi dilaporkan dalam laporan tahunan Perusahaan.
5. Direksi melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan keputusan hasil rapat sebelumnya.
4.1.1 Pelaksanaan Rapat Direksi
Tata cara pelaksanaan rapat Direksi adalah sebagai berikut:
1. Rapat diadakan paling sedikit sekali dalam 1 (satu) bulan. Jadwal rapat bulanan disusun untuk 1 (satu) tahun buku ke depan. Penyusunan dilakukan sebelum berakhirnya tahun buku berjalan atau pada awal periode tahun buku berikutnya.
2. Setiap bulannya, pemanggilan rapat disampaikan secara tertulis atau dengan surat yang disampaikan langsung kepada setiap anggota Direksi paling lambat 5 (lima) hari kerja sebelum pelaksanaan rapat, dengan tidak memperhitungkan tanggal
pemanggilan dan rapat. Pemanggilan mencantumkan agenda, tanggal, waktu, dan tempat rapat.
3. Setiap anggota Direksi berhak mengusulkan agenda-agenda untuk rapat yang akan dilaksanakan.
4. Ketentuan mengenai pemanggilan rapat mengacu pada Anggaran Dasar dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
5. Pemanggilan rapat dilakukan oleh Direktur Utama. Dalam hal Direktur Utama tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun juga, hal mana tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga, maka 2 (dua) orang anggota Direksi lainnya berhak dan berwenang bertindak untuk dan atas nama Direksi.
6. Rapat diselenggarakan di tempat kegiatan usaha Perusahaan atau tempat lainnya yang disepakati bersama.
7. Bahan rapat diupayakan untuk disampaikan kepada peserta rapat paling lambat 1 (satu) hari kerja sebelum rapat diselenggarakan.
8. Dalam hal terdapat rapat yang diselenggarakan diluar jadwal yang telah disusun, bahan rapat disampaikan kepada peserta rapat paling lambat sebelum rapat diselenggarakan.
9. Bahan dan pemanggilan rapat disiapkan oleh Sekretaris Perusahaan.Rapat dapat diselenggarakan setiap saat jika:
a. Dipandang perlu oleh seorang atau lebih anggota Direksi; atau
b. Terdapat permintaan tertulis dari seorang atau lebih anggota Dewan Komisaris;
atau
c. Terdapat permintaan tertulis 1 (satu) pemegang saham atau lebih yang bersama- sama mewakili 1/10 (satu persepuluh) dari jumlah seluruh saham dengan hak suara yang sah.
10. Rapat adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat dalam hal lebih dari 1/2 (satu per dua) dari jumlah anggota Direksi hadir atau diwakili dalam rapat.
Jika dalam rapat pertama kuorum yang disyaratkan tidak tercapai, maka paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah rapat pertama dapat diselenggarakan rapat kedua. Rapat kedua diselenggarakan dengan syarat dan acara yang sama seperti pada rapat pertama, kecuali jangka waktu pemanggilan untuk rapat kedua dapat diperpendek, yaitu paling lambat 2 (dua) hari kerja sebelum rapat diadakan (tidak
11. Rapat dipimpin oleh Direktur Utama. Dalam hal Direktur Utama tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun juga atau jabatan Direktur Utama lowong, hal mana tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga, maka rapat Direksi dipimpin oleh seorang anggota Direksi yang dipilih oleh dan dari antara anggota Direksi yang hadir.
12. Anggota Direksi yang tidak dapat hadir dalam rapat memberitahukan alasan ketidakhadirannya secara tertulis kepada Direktur Utama atau anggota Direksi lainnya yang berperan sebagai pimpinan rapat.
13. Seorang anggota Direksi dapat diwakili dalam rapat hanya oleh anggota Direksi lainnya berdasarkan surat kuasa. Seorang anggota Direksi hanya dapat mewakili satu anggota Direksi lainnya.
14. Apabila semua anggota Direksi hadir atau diwakili, pemanggilan terlebih dahulu tidak disyaratkan dan rapat dapat diselenggarakan dimanapun juga dan berhak mengambil keputusan yang sah dan mengikat.
15. Rapat dapat diselenggarakan atau dilakukan melalui media teleconference, video conference, atau sarana media elektronik lainnya yang memungkinkan semua peserta rapat saling melihat dan/atau mendengar secara langsung serta berpartisipasi dalam rapat. Semua orang yang ikut serta dianggap telah hadir untuk menentukan terpenuhinya persyaratan kuorum dan pemungutan suara atau keputusan.
4.1.2 Pengambilan Keputusan Rapat Direksi
Tata cara pengambilan keputusan pada rapat Direksi adalah sebagai berikut:
1. Keputusan rapat diambil berdasarkan musyawarah mufakat. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah mufakat tidak tercapai, maka:
a. keputusan diambil oleh Direktur Utama sesuai dengan kewenangan Direktur Utama berdasarkan ketentuan peraturan OJK; atau
b. keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak.
2. Dalam hal keputusan rapat diambil melalui mekanisme pengambilan suara terbanyak (voting), keputusan dianggap sah apabila disetujui oleh lebih dari ½ (satu per dua) jumlah suara yang dikeluarkan dalam rapat. Apabila suara yang setuju dan tidak setuju berimbang, maka Direktur Utama mempunyai suara yang menentukan.
3. Setiap anggota Direksi yang hadir berhak mengeluarkan 1 (satu) suara dan tambahan 1 (satu) suara untuk setiap anggota Direksi lainnya yang diwakilinya. Dalam hal anggota Direksi tidak memberikan suara (abstain), maka yang bersangkutan mengikuti dan turut bertanggungjawab atas hasil keputusan rapat.
4. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat suara tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali ketua rapat menentukan lain tanpa ada keberatan dari yang hadir.
5. Suara blangko dan suara yang tidak sah dianggap tidak dikeluarkan secara sah dan dianggap tidak ada serta tidak dihitung dalam menentukan jumlah suara yang dikeluarkan.
6. Direksi dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan rapat, dengan ketentuan semua anggota Direksi memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis serta menandatangani persetujuan tersebut. Keputusan yang diambil dengan cara demikian mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam rapat.
7. Setiap anggota Direksi yang secara pribadi dengan cara apapun baik secara langsung maupun secara tidak langsung mempunyai kepentingan dalam suatu transaksi, kontrak, atau kontrak yang diusulkan, dimana Perusahaan menjadi salah satu pihaknya, maka anggota Direksi yang bersangkutan wajib menyatakan sifat kepentingan tersebut dalam rapat dan anggota Direksi tersebut tidak berhak untuk ikut dalam pengambilan suara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan transaksi atau kontrak tersebut, kecuali jika rapat menentukan lain.
4.1.3 Risalah Rapat Direksi
Ketentuan mengenai risalah rapat Direksi adalah sebagai berikut:
1. Setiap rapat dibuatkan risalah rapat.
2. Risalah rapat dibuat oleh Sekretaris Perusahaan atau Notaris.
3. Risalah rapat berlaku sebagai bukti yang sah, baik bagi anggota Direksi, pemegang saham, maupun pihak lain, mengenai keputusan yang diambil dalam rapat yang bersangkutan.
4. Risalah rapat yang diselenggarakan dengan menggunakan media teleconference, video conference, atau sarana media elektronik lainnya dibuat secara tertulis dan
5. Risalah rapat setidaknya memuat:
a. Tempat dan tanggal rapat;
b. Agenda rapat;
c. Peserta rapat yang hadir;
d. Pokok-pokok permasalahan yang dibahas pada rapat (jika ada);
e. Proses pengambilan keputusan terhadap permasalahan yang dibahas (jika ada);
f. Pendapat-pendapat yang berkembang dalam rapat, perbedaan pendapat (dissenting opinion) yang terjadi pada saat proses pengambilan keputusan serta alasan perbedaan pendapatnya, keputusan/kesimpulan rapat, serta alasan ketidakhadiran anggota Direksi (jika ada);
g. Keputusan-keputusan yang diambil;
h. Tanda tangan peserta rapat (apabila risalah rapat dibuat oleh Notaris, tanda tangan peserta tidak disyaratkan).
6. Risalah rapat dapat disertai dengan dokumen pendukung seperti surat kuasa dari anggota Direksi yang tidak hadir kepada anggota Direksi yang lainnya.
7. Risalah rapat adalah dokumen rahasia Perusahaan. Dokumen ini dipelihara dan disimpan oleh Sekretaris Perusahaan. Risalah tersebut harus tersedia bila diminta oleh setiap anggota Direksi atau anggota Dewan Komisaris. Pihak lain dapat memperoleh risalah rapat hanya jika mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi.
8. Risalah rapat disampaikan kepada seluruh peserta rapat sebelum pelaksanaan rapat berikutnya untuk mendapatkan persetujuan atau penolakan dan pengajuan revisi (jika ada). Apabila tidak ada penolakan dan pengajuan revisi dalam waktu yang telah ditentukan, dapat disimpulkan tidak terdapat penolakan atas risalah rapat tersebut.
9. Risalah rapat yang telah disetujui paling lambat ditandatangani oleh seluruh peserta rapat dan dibagikan kepada seluruh anggota Direksi pada penyelenggaraan rapat berikutnya.
10. Setiap anggota Direksi berhak mendapatkan salinan risalah rapat, meskipun yang bersangkutan tidak hadir dalam rapat tersebut.
4.2 Organ Pendukung Direksi 4.2.1 Komite Direksi
Direksi dapat membentuk komite-komite dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas-tugasnya dan untuk memenuhi peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Komite yang berada di bawah Direksi yang telah dibentuk Perusahaan adalah Komite Haircut, Komite Kebijakan Kredit dan Pengelolaan Risiko (KKPR), dan Komite Investasi. Ketentuan lebih lanjut mengenai komite Direksi diatur dalam piagam tersendiri yang ditetapkan oleh Direksi.
4.2.2 Sekretaris Perusahaan
Sekretaris Perusahaan dibentuk untuk menjalankan tugas-tugas administrasi dan kesekretariatan yang berkaitan dengan seluruh kegiatan Direksi dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Tanggung jawab Sekretaris Perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Mencatat dan mendistribusikan risalah rapat Direksi kepada pihak terkait.
2. Mewakili Direksi dalam menyampaikan pemanggilan dan bahan rapat Direksi kepada para peserta rapat.
Direksi melakukan evaluasi atas kinerja Sekretaris Perusahaan setiap tahun.
4.3 Hubungan Kerja Direksi dengan Pihak-Pihak Terkait
Direksi sebagai pengelola Perusahaan, melaksanakan koordinasi dengan Dewan Komisaris, dengan Pemegang Saham dalam penyelenggaraan RUPS, Otoritas Jasa Keuangan, Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada), Komite Haircut, dan Komite KKPR.
4.3.1 Hubungan Kerja Direksi dengan Dewan Komisaris
Tugas utama Direksi adalah melaksanakan pengurusan Perusahaan di bawah pengawasan Dewan Komisaris, termasuk di dalamnya adalah tindakan yang berkaitan dengan pengembangan kegiatan dan kinerja pengurusan Perusahaan. Hubungan kerja Direksi dan Dewan Komisaris mencakup hal-hal berikut:
1. Dalam melakukan tindakan-tindakan hukum tertentu, Direksi tidak memiliki otoritas penuh. Direksi harus memperoleh persetujuan tertulis dari Dewan Komisaris.
Tindakan-tindakan tersebut berkaitan dengan:
a. Memperoleh barang-barang tidak bergerak atau harta kekayaan lain;
b. Membuat, mengubah, membatalkan dan mengakhiri perjanjian yang penting menurut keputusan Dewan Komisaris;
c. Memberikan kuasa untuk mewakili Perusahaan di hadapan sesuatu badan
d. Menetapkan atau mengubah rencana kerja dan anggaran Perusahaan;
e. Menetapkan susunan organisasi Perusahaan dan perubahannya;
f. Menetapkan dan mengubah peraturan tentang:
1) Persyaratan penerimaan para pemakai jasa Perusahaan;
2) Tata cara penyelenggaraan kliring dan penjaminan yang teratur, wajar, dan efisien;
3) Pendisiplinan, pembekuan pemakaian jasa, atau pemutusan hubungan antara Perusahaan dengan para pemakai jasa; dan
4) Peraturan lain yang diperlukan dalam menjalankan kegiatan usaha Perusahaan
g. Memindahkan hak atau mengagunkan sebagian harta kekayaan Perusahaan senilai kurang dari 3/5 (tiga per lima) kekayaan bersih Perusahaan;
h. Memberikan atau memperoleh pinjaman, mengeluarkan obligasi atau memberikan jaminan atau aval yang meliputi kurang dari 3/5 (tiga per lima) kekayaan bersih Perusahaan; dan
i. Mendirikan perusahaan baru, melakukan penyertaan modal, mengurangi atau menambah penyertaan modal dalam perusahaan lain.
2. RJPP, RKAT, laporan tahunan Perusahaan, rencana lain yang berhubungan dengan pelaksanaan usaha dan kegiatan Perusahaan, serta pembagian tugas dan wewenang anggota Direksi yang tidak didasarkan pada penetapan OJK, yang dirancang dan diusulkan oleh Direksi, ditandatangani bersama dengan Dewan Komisaris sebelum diajukan kepada OJK untuk memperoleh persetujuan.
3. Direksi memberikan penjelasan tentang hal-hal mengenai Perusahaan yang ditanyakan oleh Dewan Komisaris atau komite Perusahaan di tingkat Dewan Komisaris. Direksi wajib memberikan akses dan informasi secara tepat waktu dan komprehensif kepada Dewan Komisaris.
4. Direksi dapat mengundang Dewan Komisaris atau salah satu anggota Dewan Komisaris untuk menjelaskan, memberikan masukan, atau melakukan diskusi terhadap suatu permasalahan. Kehadiran Dewan Komisaris dalam Rapat Direksi juga dimungkinkan atas permintaan Dewan Komisaris atau salah satu anggota Dewan Komisaris untuk hadir dalam rapat Direksi guna memberikan pandangan- pandangan terhadap hal-hal yang dibicarakan.
5. Direksi menyampaikan laporan berkala keuangan Perusahaan kepada Dewan Komisaris.
6. Bersama-sama dengan Dewan Komisaris melakukan kajian visi dan misi Perusahaan secara berkala.
7. Direksi mengetahui dan memberikan izin organ yang membantu Direksi untuk melakukan hubungan kerja dengan organ yang membantu Dewan Komisaris.
8. Direksi dan Dewan Komisaris melakukan rapat gabungan untuk membahas isu-isu strategis Perusahaan, seperti kinerja (performance) Perusahaan, permasalahan operasional, permasalahan terkait laporan keuangan, dan isu-isu Perusahaan lain yang dianggap penting.
9. Direksi menindaklanjuti arahan dan/atau keputusan Dewan Komisaris sebagai pengawas.
10. Direksi dapat menghadiri rapat Dewan Komisaris, jika diminta.
11. Direksi dapat menyelenggarakan RUPS atas permintaan Dewan Komisaris.
12. Direksi memilih dan mengangkat Sekretaris Dewan Komisaris berdasarkan usulan Dewan Komisaris.
13. Direksi sebagai penganggung jawab program peningkatan kapabilitas organ Dewan Komisaris, dapat meminta informasi keikutsertaan program peningkatan kapabilitas yang diikuti Dewan Komisaris.
14. Direksi meminta persetujuan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Satuan Pemeriksa Internal (SPI) kepada Dewan Komisaris.
4.3.2 Hubungan Kerja Direksi dengan Pemegang Saham dalam Penyelenggaraan RUPS Hubungan kerja Direksi dalam Penyelenggaraan RUPS adalah sebagai berikut:
1. Direksi diangkat oleh RUPS, sehingga dalam setiap 1 (satu) tahun Direksi menyelenggarakan pertemuan dengan pemegang saham paling sedikit 2 (dua) kali, yaitu:
a. RUPS tahunan untuk menyampaikan laporan tahunan yang telah ditelaah oleh Dewan Komisaris untuk mendapat persetujuan RUPS dan laporan keuangan termasuk laporan keuangan Dana Jaminan untuk mendapat pengesahan rapat;
b. RUPS Luar Biasa untuk meminta persetujuan dan pengesahan atas RKAT Perusahaan.
2. Jika laporan pertanggungjawaban diterima oleh RUPS, Direksi telah terbebas dari tanggung jawab untuk periode yang telah berlalu.
4.3.3 Hubungan Kerja Direksi dengan OJK
1. Direksi bertanggung jawab dalam penyampaian laporan Perusahaan kepada OJK.
Rincian laporan yang perlu disampaikan dapat dilihat pada bagian 3.1 angka 4 tentang tugas Direksi terkait komunikasi.
2. Direksi wajib memenuhi panggilan OJK untuk mengadakan rapat apabila terdapat peristiwa khusus.
4.3.4 Hubungan Kerja Direksi dengan Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada) Hubungan kerja Direksi dengan Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada) adalah sebagai berikut:
1. Hubungan kerja Direksi dengan Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada) bersifat tidak langsung karena Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada) dibentuk oleh Dewan Komisaris. Oleh sebab itu, Direksi tidak diperbolehkan mempengaruhi Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada) dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab untuk menjamin independensi.
2. Direksi dapat memberikan dukungan melalui pengarahan, pemberian perintah, dan koordinasi dengan organ-organ di bawahnya untuk mendukung efektivitas dan kelancaran tugas dan tanggung jawab Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada), terutama dalam hal penyediaan dan penyiapan berbagai data dan informasi yang diperlukan.
3. Direksi sebagai penanggung jawab program peningkatan kapabilitas organ Dewan Komisaris, dapat meminta informasi keikutsertaan program peningkatan kapabilitas yang diikuti Komite Audit dan Komite Remunerasi (jika ada).
4.3.5 Hubungan Kerja Direksi dengan Komite Haircut
Hubungan Kerja Direksi dengan Komite Haircut adalah sebagai berikut:
1. Direksi menyediakan data yang benar dan sesuai dengan peraturan dan best practice yang berlaku di bidang pasar modal dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan perhitungan Haircut Saham.
2. Direksi mengembangkan kriteria penilaian kinerja Komite Haircut, baik secara kolektif maupun individu, dengan mengacu pada tugas dan tanggung jawab Komite Haircut yang diatur dalam Piagam Komite Haircut.
4.3.6 Hubungan Kerja Direksi dengan Komite KKPR
Hubungan Kerja Direksi dengan Komite KKPR adalah sebagai berikut:
1. Direksi dapat melakukan pertemuan maupun berkomunikasi dengan Komite KKPR secara berkala, untuk membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan saran, masukan, dan rekomendasi terkait dengan kebijakan investasi Dana Jaminan guna memastikan bahwa dalam pelaksanaan operasional harian terkait dengan pengadministrasian dan pengelolaan Dana Jaminan sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku, termasuk permasalahan-permasalahan operasional yang berisiko tinggi dan penting untuk dikomunikasikan.
2. Direksi menyampaikan laporan pengelolaan risiko manajemen Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa kepada Komite KKPR sesuai mekanisme yang ditetapkan oleh Komite KKPR.
3. Direksi meminta rekomendasi kepada Komite KKPR sehubungan dengan kebijakan kredit dan pengelolaan risiko guna mendukung pelaksanaan Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa serta memberikan rekomendasi atas penanganan gagal bayar pada Anggota Kliring.
4. Direksi meminta rekomendasi kepada Komite KKPR tentang penyisihan laba bersih Perusahaan yang wajib disisihkan untuk pembentukan Cadangan Jaminan.
5. Direksi menyampaikan tembusan laporan keuangan Dana Jaminan setiap bulan kepada Komite KKPR.
6. Direksi meminta persetujuan Komite KKPR atas usulan biaya yang berkaitan dengan jasa akuntansi dan audit laporan keuangan Dana Jaminan yang akan dibebankan pada Dana Jaminan.
7. Berkoordinasi dengan Komite KKPR untuk melakukan penelaahan atas pengaduan yang diterima dari pihak ketiga, antara lain Anggota Kliring dan OJK mengenai indikasi penyimpangan terkait dengan manajemen risiko perusahaan serta pengelolaan dan pengadministrasian Dana Jaminan.