Hubungan Motivasi Kerja dengan Kepuasan Kerja Perawat pada Masa Pandemi COVID-19 di Rawat Inap

Teks penuh

(1)

Corresponding author:

Ichsan Rizany

Email: ichsan.r.psik@ulm.ac.id

Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Vol 5 No 1, Mei 2022

Artikel Penelitian

Hubungan Motivasi Kerja dengan Kepuasan Kerja Perawat pada Masa Pandemi COVID-19 di Rawat Inap

Muhammad Khairul Fikri1, Ichsan Rizany1, Herry Setiawan1

1 Program Studi Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia

Article Info Abstrak

Article History:

Submit: 26 Desember 2021 Accepted: 26 Januari 2022 Publish: 31 Mei 2022 Key words:

Motivasi kerja; Kepuasan kerja; Perawat; Pandemi COVID-19

Tingkat kepuasan perawat bekerja di Rumah Sakit Daerah Idaman Kota Banjarbaru masih rendah pada masa pandemi COVID-19. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah motivasi kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi kerja dengan kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID-19 di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan desain cross sectional. Teknik yang digunakan yaitu stratified random sampling. Sampel terdiri dari 112 perawat pelaksana di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian didapatkan terdapat hubungan yang positif antara motivasi kerja dengan kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID-19 (p value = 0,0001 < 0,05; r = 570). Motivasi kerja perawat dapat mempengaruhi kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID-19. Nilai motivasi kerja dan kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID-19 masih perlu ditingkatkan, terutama kepuasan kerja yang masih dibawah standar minimum kepuasan kerja. Motivasi kerja yang baik dapat meningkatkan kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID-19.

PENDAHULUAN

Permulaan tahun 2020, masyarakat dunia digemparkan dengan kemunculan COVID- 19. Virus yang diinformasikan berasal dari Wuhan, Tiongkok ini, memiliki tingkat infeksi penyebaran yang sangat luas hingga ke seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, jumlah kasus COVID-19 juga mengalami peningkatan dengan total 4.037.024 terinfeksi COVID-19 (Satgas Penanganan COVID-19, 2021). Kasus kejadian COVID-19 di Kalimantan Selatan khususnya Kota Banjarbaru sebanyak 10.096 kasus terkonfirmasi COVID-19 (Diskominfo

Prov.Kalsel, 2021). Penyebaran COVID-19 membuat seluruh masyarakat Indonesia harus beradaptasi dengan kondisi yang penuh risiko infeksi, tidak terkecuali perawat sebagai garda terdepan penanganan pandemi COVID-19 (Istichomah et al., 2021). Beberapa rumah sakit dijadikan sebagai rumah sakit rujukan memiliki ancaman besar bagi perawat (Sa’diah & Machfud, 2021).

Kepuasan kerja adalah Ketika karyawa merasa suka atau tidak suka ketika mengevaluasi pekerjaannya. Kepuasan kerja melibatkan pandangan umum seorang

(2)

individu mengenai pekerjaannya, indiviidu dengan kepuasan kerja yang bagus akan menunjukkan sikap tersebut dengan hal positif dalam bekerja (Barahama et al., 2019). Perawat yang tidak puas pada pekerjaanya terkadang tidak dapat mencapai kematangan psikologis dan perawat akan merasa terbebani, sering melamun, mempunyai semangat bekerja yang turun, mudah bosan dan lesu, tidak dapat berkonsentrasi, emosi tidak stabil, sering tidak masuk bekerja, dan mengerjakan sesuatu yang tidak ada kaitan pekerjaannya (Dewi & Aisyah, 2017). Oleh karena itu, selama masa pandemi COVID-19 kepuasan kerja menjadi sangat penting dalam mencegah kejenuhan, mengurangi perasaan cemas dan tertekan, serta meningkatkan kesehatan fisik (Istichomah et al., 2021). Menurut Nursalam (2017) dalam penelitiannya menyebutkan faktor yang membuat kepuasan kerja perawat rendah lebih dipengaruhi adanya dukungan organisasi, fasilitas, gaji, promosi, kesesuaian jenis pekerjaan dan faktor motivasi.

Motivasi adalah perubahan yang terjadi pada diri seseorang sebagai manifestasi dari emosi, psikologi, dan emosi yang merangsang atau merangsang tindakan dalam menaggapi kebutuhan, keinginan, dan tujuan (Dayana & Marbun, 2018).

Berdasarkan penelitian Darma Yanti, Susiladewi and Pradiksa (2020), motivasi kerja perawat dalam masa pandemi COVID- 19 di Bali, rata-rata nilai motivasi kerja yaitu 52,8% termasuk kategori motivasi baik. Pada penelitian Arif, Wihardja dan Lina (2021) yang meneliti motivasi kerja pada perawat yang bekerja di ruang rawat COVID-19 mempunyai nilai rata-rata 72,42% dan termasuk motivasi kerja cukup.

Selain itu, penelitian Setianingrum et al., (2021) perawat pelaksana di ruang rawat inap dan rawat jalan saat pandemi COVID- 19 motivasinya kurang dengan nilai 47,64%

yang disebabkan struktur organisasi yang tidak dibagi dengan bawahan, lingkungan kerja yang penuh risiko terpapar COVID-19 tersebar luas, dan organisasi yang tidak

mempertahankan anggota dengan motivasi rendah. Menurut Perceka (2018), rendahnya motivasi kerja perawat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain apresiasi, peluang pertumbuhan, tanggung jawab pekerjaan, otonomi, fungsi manajemen ruang kepala dan karakteristik perawat. Berdasarkan penelitian Kalalo, Sjattar and Natzir (2018) mengungkapkan bahwa perawat dengan motivasi tinggi belum tentu puas dengan pekerjaannya, tetapi kepuasan kerja yang lebih tinggi kemungkinan akan meningkatkan motivasinya.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada tanggal 14-15 Juni 2021 di Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Kota Banjarbaru dengan meminta mengisi kuesioner pada 6 orang perawat di ruang rawat inap yang berbeda menunjukkan hasil kepuasan kerja perawat adalah 69%. Nilai tersebut masih di bawah rata-rata dari Minnesota Satisfaction Questioner (MSQ) sebesar 75,4. Peneliti juga melakukan wawancara didapatkan keenam perawat mengatakan merasa semangat untuk merawat pasien setiap hari, kurang puas dengan pekerjaannya terutama gaji, banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, dan manajemen supervisi. Selama pandemi COVID-19, peningkatan pasien yang dirawat dan jumlah pekerjaan menjadi tantangan dan mengadaptasikan kondisi kerja. Selan itu perawat merasa bersemangat bekerja karena didasari tanggung jawab untuk merawat pasien, 4 perawat mengatakan merasa terdorongan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan 2 orang mengatakan terdorong untuk memenuhi kebutuhan diri sehari-hari Tujuan dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan motivasi kerja dengan kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID-19 di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian non- eksperimental dengan desain cross

(3)

sectional. Jumlah populasi 144 perawat pelaksana rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru. Teknik stratified random sampling digunakan sebagai teknik sampling penelitian ini. Sampel dihitung menggunakan rumus perhitungan estimasi proporsi pada sampel acak startifikasi dengan presisi mutlak didapatkan 112 perawat sesuai kriteria inklusi. Sampel diambil dari tujuh ruang rawat inap antara lain ruang VIP Murai, Merak, Kasuari, Cendrawasih, Nuri, Camar, dan Parkit.

Kriteri inklusi yaitu perawat pelaksana di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru, perawat ruangan minimal berpendidikan D3 Keperawatan, perawat yang bukan orientasi dan menetap selama 6 bulan di rumah sakit. Kriteria eksklusinya yaitu perawat yang sedang mengambil cuti atau izin belajar saat dilakukan penelitian.

Instrumen yang digunakan terdapat tiga buah, kuesioner A (karateristik perawat), kuesioner B (motivasi kerja), dan kuesioner C (kepuasan kerja). Kuesioner A meliputi nama inisial, umur, jenis kelamin, lama kerja di ruang saat ini, pendidikan terakhir, pendapatan/gaji perbulan, posisi dalam jenjang karir dan status kepegawaian.

Kuesioner B merupakan kuesioner motivasi kerja yang terdiri dari 20 pernyataan dengan skala likert 1-4 (Sangat Tidak Setuju (STS) = 1, Tidak Setuju (TS) = 2, Setuju (S) = 3, dan Sangat Setuju (SS) = 4). Kuesioner B telah lulus uji expert dengan nilai 0,916, lulus uji reliabilitas dengan nilai 0,910, dan nilai validitas 0,442 – 0,681 (r hitung > r tabel : 0,361). Pada kuesioner C merupakan kuesioner kepuasan kerja yang disadur dari Hariyati (2014). Kuesioner tersebut lulus uji validitas (0,56-0,83) dan reliabilitas (0,91).

Data dianalisi menggunakan spearman-rho correlation test. Prinsip etik dalam penelitian ini adalah persetujuan responden, anonimitas, kerahasiaan, hak veto dan itikad baik. Studi ini telah diakui sebagai nilai etis dari sudut pandang etika penelitian oleh Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Lambung

Mangkurat dengan No.917/KEPK-FK ULM/EC/XI/2021.

HASIL

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan usia, rata-rata 30,66 tahun. Rata-rata lama kerja responden adalah 3,78 tahun. Pada pendapatan, rata-rata pendapatan responden adalah Rp1.919.428.

Karakteristik responden disajikan pada tabel berikut:

Tabel 1

Karakteristik responden menurut usia, lama kerja, dan penghasilan (n=112)

Indikator Rerata Min-Max

Usia (Tahun) 30,66 (±5,22) 23 – 44 Lama Kerja (bulan

dan tahun) 3,78 (±4,48) 0,06 -19 Pendapatan (Rp) 1.919.428

(±1.035.908)

1.100.000 5.000.000

Berdasarkan tabel 2, jenis kelamin perawat rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru terbanyak adalah perempuan sebanyak 65 orang (58,0%), sedangkan laki-laki sebanyak 47 orang (42,0%). Responden banyak berpendidikan D3 Keperawatan sebanyak 62 orang (55,4%), dan data menunjukkan pendidikan D4 Keperawatan memiliki jumlah paling sedikit sebanyak 2 orang (1,8%). Data menunjukkan bahwa responden mayoritas memiliki jenjang karir Pra PK dengan jumlah 43 orang (38,4%) dan jenjang karir PK III memiliki jumlah responden paling rendah sebanyak 17 orang (15,2%). Responden dengan status kepegawaian BLUD memiliki jumlah terbanyak sebanyak 84 orang (75,0%), sedangkan responden yang berstatus kepegawaian PNS atau P3K memiliki jumlah 28 orang (25,0%).

(4)

Tabel 2

Karakteristik responden menurut jenis kelamin, pendidikan, jenjang karir, dan status kepegawaian

(n=112)

Indikator f %

Jenis Kelamin Laki-laki

Perempuan 47

65 42,0 58,0 Pendidikan

D3 Keperawatan D4 Keperawatan

D4 Keperawatan + Profesi Ners S1 Keperawatan + Profesi Ners

62 2 3 45

55,4 1,8 2,7 40,2 Jenjang Karir

Pra PK PK I PK II PK III PK IV PK V

43 33 19 17 0 0

38,4 29,5 17,0 15,2 0 0 Status Kepegawaian

PNS atau P3K

BLUD 28

84 25,0 75,0

Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa nilai rata-rata kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID-19 di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru sebanyak 76,90 (76,90% dari 112) dengan nilai terendah adalah 40 dan nilai tertinggi adalah 100.

Motivasi kerja perawat di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru sebesar 64,06 (80,07% dari 112) dengan nilai paling rendah adalah 35 dan nilai paling tinggi adalah 80.

Hasil penelitian menunjukkan hubungan motivasi kerja dengan kepuasan kerja perawat di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru didapatkan nilai p<α (0,000<

0,05) dan koefisien korelasi (r) sebesar 0,570, maka selama masa pandemic COVID- 19 di RSD Idaman Kota Banjarbaru terdapat korelasi bermakna antara motivasi kerja dengan kepuasan kerja tenaga keperawatan dengan tingkat hubungan kuat dan memiliki arah positif yang berarti semakin termotivasi seorang perawat untuk bekerja, semakin puas dia dengan pekerjaannya selama pandemi COVID-19 di Rumah Sakit Daerah Idaman Banjarbaru. Begitu juga sebaliknya, semakin menurun motivasi kerja perawat akan membuat kepuasan kerja perawat menjadi rendah pada masa

pandemi COVID-19 di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru.

Tabel 3

Hubungan kepuasan kerja dengan motivasi kerja perawat pada masa pandemic COVID-19 di Rawat

Inap RSD Idaman Kota Banjarbaru (n=112) Indikator Rerata Koefisien

korelasi p Kepuasan

Kerja 76,90

(±13,756) 0,570 0,000 Motivasi

Kerja 64,06

(±8,433)

PEMBAHASAN

Kepuasan Kerja Perawat

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID-19 di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru rata-ratanya yaitu 76,90 atau 76,90%. Dari nilai hasil penggambaran tersebut dapat diketahui bahwa kepuasan kerja perawat selama pandemi COVID-19 yang bekerja di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru sudah melebihi dan memenuhi standar kepuasan kerja perawat yaitu 75,4 menurut Minnesota Satisfaction Quesioner (MSQ).

Berdasarkan ada penelitian Rahmaniah, Rizany dan Setiawan (2020) kepuasan kerja tenaga keperawatan di ruang rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru tahun 2020 yaitu 62,82 atau 64,44%. Sementara pada penelitian Setianingrum et al. (2021), hasil kepuasan kerja perawat yang bekerja pada masa pandemi COVID-19 sebesar 63,56 (54,45%). Jika kepuasan kerja perawat dilihat per ruang rawat inap, terdapat 4 ruang yang memenuhi standar MSQ dan 3 ruang yang belum memenuhi standar MSQ.

Ruang rawat inap tersebut antara lain ruang Kasuari (75,14), VIP Murai (71,13) dan Camar (73,29).

Berdasarkan hasil penelitian, kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID- 19 memiliki nilai tertinggi terdapat pada parameter pernyataan nomor 9 yaitu Social Service (Layanan Sosial) sebesar 4,18 atau 83,57% dalam berntuk persen. Peneliti

(5)

berasumsi bahwa perawat dalam melakukan pekerjaan berkaitan erat dengan layanan sosial seperti hubungan dengan teman kerja, dengan atasan, dan dengan orang terdekat. Pada penelitian Istichomah et al. (2021) bahwa dukungan sosial yang didapat di tempat kerja bisa berasal dari atasan, rekan kerja, dan keluarga. Dukungan dari atasan akan membuat pekerjaan tidak menjadi terlalu beban dan tekanan dari atasan, dukungan dari rekan kerja seperti melakukan pekerjaan secara bersama akan mengurangi kelelahan selama bekerja, dan dukungan dari keluarga yang mampu memberikan motivasi dan semangat dalam melalukan pekerjaan.

Berdasarkan hasil penelitian, pernyataan nomor 13 yang merupakan pernyataan mengenai kompensasi memiliki nilai rata- rata terendah dibandingkan dengan pernyataan lain. Nilai rata-rata pernyataan nomor 13 adalah 3,31 (66,25%). Dari nilai tersebut, peneliti berasumsi bahwa perawat rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru merasa masih belum puas dengan kompensasi yang didapatnya. Hal tersebut sehingga mengakibatkan kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID-19 masih belum cukup tinggi. Walaupun kompensasi perawat yang bekerja di ruang isolasi sedikit lebih banyak dibandingkan kompensasi yang didapat di ruang rawat inap biasa, namun peneliti tidak membandingkan kepuasan kerja dari indikator kompensasi antara ruang rawat isolasi COVID-19 dengan ruang rawat inap biasa. Peneliti mengukur kepuasan kerja salah satunya indikator kompensasi secara keseluruhan ruang rawat inap RSD Idaman Kota Banjabaru.

Dalam penelitian Darma Yanti, Susiladewi dan Pradiksa (2020) menyebutkan bahwa pemberian kompensasi yang adil akan mendorong perawat untuk memberikan pelayanan yang optimal di masa pandemi COVID-19, meskipun mereka khawatir dengan tingginya risiko penularan yang mungkin dihadapi perawat. Namun

kenyataannya, masih banyak perawat yang merasa kurang berminat dalam bentuk kompensasi finansial dan nonfinansial yang memadai. Menurut hasil penelitian ini, sebagian besar perawat masih kurang puas dengan kompensasi yang mereka terima selama ini cukup untuk jumlah pekerjaan yang mereka lakukan pada masa pandemi COVID-19. Pada dasarnya, orang yang bekerja ingin menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhannya (Harahap dan Khair, 2019).

Pada pendapatan perawat tidak hanya didapatkan dari gaji pokok, namun remunerasi juga menjadi sumber pendapatan perawat. Remunerasi merupakan imbalan atas jasa yang dilakukan dalam memberikan pelayanan.

Pada penelitian Hartono dkk (2019) bahwa sistem remunerasi berpengaruh pada kepuasan kerja perawat. Begitu juga pada penelitian Apriliani dan Hidayah (2020) menemukan bahwa remunerasi memiliki pengaruh yang bermakna pada kepuasan kerja perawat. Semakin tinggi remunerasi yang dibayarkan oleh rumah sakit, maka semakin tinggi pula kepuasan kerja perawat tersebut. Kepuasan kerja perawat dapat ditingkatkan dengan sistem remunerasi sebagai bentuk sistem pembayaran gaji . Motivasi Kerja Perawat

Berdasarkan pengambilan data dan hasil penelitian yang didapatkan dari penyebaran kuesioner kepada 112 perawat pelaksana di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru menggambarkan rata-rata motivasi kerja perawat yaitu 64,06, atau 80,07%. Hasil motivasi kerja tersebut sudah termasuk tinggi, karena semakin tinggi nilai kuesioner motivasi kerja yang didapat, maka semakin tinggi pula motivasi kerja perawat. Jika motivasi kerja perawat berdasarkan per ruang, ruang Parkit (Isolasi COVID-19) mempunyai motivasi kerja tertinggi dibandingkan enam ruang rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru.

Pada penelitian Darma Yanti, Susiladewi dan Pradiksa (2020) didapatkan nilai

(6)

motivasi kerja baik sebanyak 52,8% dan motivasi kurang sebanyak 47,2%. Selain itu pada penelitian Arif, Wihardja dan Lina (2021) motivasi kerja perawat di unit perawatan COVID-19 termasuk motivasi kerja cukup, dengan nilai 72,42%.

Pada penelitian ini, motivasi kerja tinggi baik motivasi intrinsik maupun ekstrinsik terdapat pada ruang Parkit. Ruang Parkit merupakan ruang Isolasi COVID-19 yang merawat pasien COVID-19 yang tidak mengalami kondisi kritis. Ruang tersebut baru dibuka di RSD Idaman Kota Banjarbaru sejak masa pandemi COVID-19.

Peneliti berasumsi bahwa penyebab ruang Parkit mempunyai motivasi tinggi karena masa kerja perawat yang bekerja disana masih tergolong baru kurang lebih 1 tahun.

Pada penelitian Arif, Wihardja dan Lina (2021) menyebutkan lama kerja tidak mempengaruhi motivasi kerja perawat perlaksana yang merawat pasien COVID-10.

Namun pada penelitian tersebut menyebutkan bahwa perawat yang bekerja merawat pasien COVID-19 memiliki semangat kerja yang masih tinggi karena lama kerja yang relatif singkat dan belum terdampak stress kerja di ruang tersebut.

Berdasarkan parameter motivasi kerja perawat tertinggi yaitu motivasi intrinsik sebesar 35,54 atau dalam bentuk nilai persen yaitu 80,78%. Jika dilihat per ruang, motivasi kerja intrinsik tertinggi pada ruang Parkit (Isolasi COVID-19) dan terendah di ruang Nuri. Peneliti berasumsi bahwa motivasi yang didapat dan timbul dalam diri memiliki nilai besar dan menjadi peranan penting dalam meningkatkan motivasi perawat dalam bekerja pada masa pandemi COVID-19. Menurut Baljoon, Banjar dan Banakhar (2018) menyebutkan bahwa motivasi instrinsik merupakan sesuatu yang didapat dari dalam diri sehingga terdorong dalam membimbing seseorang menuju tujuan pribadi dan organisasi, dan mendorong mereka untuk melakukan aktivitas yang mereka sukai.

Pada motivasi intrinsik, terdapat beberapa sub indikator pembentuknya, salah satunya

adalah tanggung jawab. Pada penelitian Utama dan Dianty (2020) bahwa perawat yang bekerja merawat pasien COVID-19 didominasi memiliki rasa tanggung jawab besar. Adanya panggilan jiwa kemanusiaan yang datang dan timbul dalam diri perawat untuk merawat pasien pada masa pandemi COVID-19, terutama pada pasien yang terkonfirmasi COVID-19.

Tidak hanya motivasi intrinsik, namun motivasi ekstrinsik juga menjadi indikator penting dalam membentuk dan meningkatkan motivasi kerja perawat terutama pada masa pandemi COVID-19.

Walaupun nilai rata-rata motivasi ekstrinsik responden dalam penelitian ini hanya sebesar 28,52 (79,21%), namun indikator ini juga berperan dalam meningkatkan semangat kerja yang didapat dari luar diri perawat selama bekerja.

Motivasi ekstrinsik tertinggi pada ruang Parkit (Isolasi COVID-19) sebesar 38,88 (88,35%) dan terendah pada ruang Merak.

Indikator motivasi ekstrinsik antara lain kompensasi, kondisi kerja, kebijakan dan administrasi perusahaan, hubungan antar pribadi, dan supervisi (Herzberg dalam Salawangi, Kolibu dan Wowor, 2018).

Kompensasi yang didapat perawat dirasa masih belum sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan dan kebutuhan perawat sehari- hari. Berdasarkan hasil analisis univariat, pendapatan yang didapat oleh perawat masih di bawah UMP Kalimantan Selatan.

Pada penelitian Gunawan, Machasin dan Fitri (2016) didapatkan hasil bahwa kompensasi berpengaruh signifikan dan positif terhadap motivasi perawat. Semakin tinggi kompensasi yang didapatkan oleh perawat akan berdampak pada peningkatan motivasi perawat. Selain itu, remunerasi juga menjadi sumber pendapatan dari perawat. Pada penelitian Hartono et al.

(2019) bahwa sistem remunerasi mempunyai pengaruh terhadap motivasi perawat sebanyak 85,4% dengan nilai koefisien jalur 0,050. Beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa kompensasi/gaji/remunerasi mempunyai

(7)

pengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja perawat. Pandemi COVID-19 telah membuat perawat mengharapkan pendapatan yang lebih tinggi dari sebelumnya karena perawat menganggap risiko yang mereka hadapi semakin berbahaya (Darma Yanti et al., 2020).

Faktanya bahwa nominal gaji sudah ditetapkan dan tidak bisa ditingkatkan jumlah nominalnya. Namun setidaknya

rumah sakit mengusahakan

gaji/kompensasi/remunerasi diberikan kepada perawat pada waktu penggajian atau waktu yang telah ditetapkan rumah sakit.

Hubungan Motivasi Kerja dengan Kepuasan Kerja Perawat pada Masa Pandemi COVID-19

Berdasarkan hasil uji analisis bivariat antara motivasi kerja dengan kepuasan kerja perawat didapatkan p value 0,0001 dan r = 0,570. Nilai tersebut berarti bahwa terdapat hubungan motivasi kerja dengan kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID-19 di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru dengan tingkat hubungan kuat. Hubungan antara dua variabel tersebut memiliki arah hubungan positif, yang bermakna bahwa semakin baik motivasi perawat dalam bekerja maka akan semakin baik pula kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID-19 di rawat inap. Begitu juga sebaliknya, jika motivasi kerja perawat menurun, kepuasan kerja perawat bisaj jadi menurun di masa pandemi COVID-19.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Setianingrum et al., (2021) bahwa selama pandemic COVID-19 terdapat korelasi yang bermakna antara motivasi perawat dengan kepuasan kerja dengan nilai p value < 0,001, dan nilai koefisien korelasi yaitu 0,595 yang berarti hubungan antar dua variabel kuat dan bearah positif. Penelitian Apriliani dan Hidayah (2020) mendapatkan bahwa terdapat pengaruh yang positif motivasi kerja terhadap kepuasan kerja dengan nilai signifikan yaitu 0,001 dan koefisien regresi

sebesar 0,301. Pada kedua hasil penelitian tersebut mendapatkan nilai tinggi pada variabel motivasi kerja dan kepuasan kerja.

Hal tersebut berarti arti bahwa motivasi kerja memiliki hubungan terhadap kepuasan kerja, semakin tinggi motivasi kerja akan berpengaruh pada kepuasan kerja yang tinggi. Sejalan dengan penelitian Rohani, Sulistyarini dan Yusiana (2020) menyebutkan motivasi kerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. Adapun motivasi kerja yang rendah cenderung tidak memiliki nilai kepuasan kerja yang tinggi. Pada penelitian lain juga mempertegas bahwa seseorang yang mempunyai motivasi yang tinggi pasti mempunyai kepuasan yang tinggi (Fatimah, Wahyuni dan Widjasena, 2016).

Pada analisis bivariat, nilai keeratan motivasi kerja perawat dengan kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID- 19 di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru adalah 0,570. Jika berdasarkan tingkat keeretan hubungan menurut Vaus (2002), nilai koefisien korelasi motivasi kerja dengan kepuasan kerja perawat pada masa pandemi COVID-19 adalah hubungan kuat. Pada penelitian Mulyaningtyas, Parulian dan Sihombing (2021), motivasi dengan kepuasan kerja memiliki hubungan kuat dengan nilai koefisien korelasi 0,561.

Begitu juga pada penelitian Sumartyawati, Ardani dan Dharmana (2017) yang mendapatkan nilai hubungan motivasi dengan kepuasan kerja perawat adalah 0,734, yang berarti hubungannya kuat.

Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, motivasi kerja dengan kepuasan kerja mempunyai hubungan kuat. Namun, peneliti berasumsi bahwa terdapat faktor- faktor lain yang mengakibatkan kekuatan hubungan motivasi kerja dengan kepuasan kerja menjadi tidak sangat kuat.

Tidak hanya motivasi kerja yang menjadi faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, namun terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi kepuasan kerja. Pada penelitian Sirait, Pertiwiwati dan Herawati (2016) yang meneliti faktor-faktor yang

(8)

mempengaruhi kepuasan kerja perawat yaitu pembayaran, promosi, supervise, rekan kerja, kepemimpinan, dan komunikasi. Selain itu, pada penelitian Heriani et al. (2021) kepuasan kerja juga dipengaruhi oleh prestasi, pengembangan karir, gaji, dan kondisi kerja. Berdasarkan penelitian Setianingrum et al. (2021) yang mempelajari kepuasan kerja pekerja selama pandemi COVID-19 menemukan bahwa kemampuan coaching manajer ruangan juga berkorelasi signifikan dengan kepuasan kerja perawat selama pandemi COVID-19. Beberapa penelitian tersebut dapat diartikan bahwa terdapat faktor- faktor lain yang mempengaruhi kepuasan perawat dalam bekerja.

SIMPULAN

Simpulan dari penelitian ini meliputi kepuasan kerja perawat telah memenuhi standar MSQ sebesar 76,90, dan motivasi kerja perawat rata-rata 64,06 (80,07%).

Pada analisis korelasi, selama masa pandemi COVID-19 di RSD Idaman Kota Banjarbaru terdapat hubungan yang bermakna antara motivasi kerja dengan kepuasan kerja perawat (p = 0,000).

Kekuatan korelasi yaitu 0,570, berarti tingkat hubungan kuat dengan arah positif.

Semakin termotivasi seorang perawat untuk bekerja, maka semakin puas pekerjaan perawat selama pandemi COVID- 19 di rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya untuk meneliti mengenai take homepay perawat di rawat inap. Selain itu, dapat memperdalam korelasi faktor intrinsik dan ekstrinsik motivasi kerja dengan kepuasan kerja pada masa pandemi COVID-19

UCAPAN TERIMAKASIH

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada ibu Tinuk Ervariawati, S.Kep., Ns., M.Kep., bapak M. Hadarani, Ns., MPH., dan bapak Rahimul Yakin, S.Kep., M.Epid., yang telah bersedia menjadi penguji expert instrumen

motivasi kerja. Selain itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada ibu Endang Pertiwiwati, S.Kep., Ns., M.Kes., dan bapak Rahimul Yakin, S.Kep., M.Epid., yang telah menjadi penguji penelitian ini. Serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penelitian ini.

REFERENSI

Apriliani, E., & Hidayah, N. (2020). Hubungan Remunerasi dan Motivasi Kerja dengan Kepuasan Kerja Perawat di RS PKU Muhammadiyah Gamping Elmira. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 20(1), 137–140.

https://doi.org/10.33087/jiubj.v20i1.777 Arif, Y. K., Wihardja, H., & Lina, R. N. (2021). Faktor -

Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Kerja Perawat Pelaksana Dalam Merawat Pasien Covid-19 Di RS X, Banten. Jurnal Sehat Mandiri,

16(1), 131–142.

https://doi.org/10.33761/jsm.v16i1.350 Baljoon, R., Banjar, H., & Banakhar, M. (2018).

Nurses’ Work Motivation and the Factors Affecting It: A Scoping Review. International Journal of Nursing & Clinical Practices, 5(1).

https://doi.org/10.15344/2394- 4978/2018/277

Barahama, K. F., Katuuk, M., & Oroh, W. M. (2019).

Hubungan Beban Kerja dengan Kepuasan Kerja Perawat di Ruangan Perawatan Dewasa Rsu Gmim Pancaran Kasih Manado. E-Journal Keperawatan (e-Kp), 7(1), 1–8.

Darma Yanti, N. P. E., Susiladewi, I. A. M. V., &

Pradiksa, H. (2020). Gambaran Motivasi Bekerja Perawat dalam Masa Pandemi Coronavirus Disease (COVID-19) di Bali.

Coping: Community of Publishing in Nursing,

8(2), 155–162.

https://doi.org/10.24843/coping.2020.v08.i0 2.p07

Dayana, I., & Marbun, J. (2018). Motivasi Kehidupan.

Guepedia.

Dewi, A. H., & Aisyah, S. (2017). Hubungan Lingkungan Kerja Fisik dengan Kepuasan Kerja Perawat di RSU Haji Medan. Jurnal Diversita, 3(2), 1–8.

Diskominfo Prov.Kalsel. (2021). Peta Sebaran COVID- 19 di Kalimantan Selatan.

Fatimah, R., Wahyuni, I., & Widjasena, B. (2016).

Pengaruh Kepemimpinan dan Motivasi Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Perawat Rawat Jalan Rumah Sakit Islam Harapan Anda Tegal. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 4(3), 614–

622.

(9)

Gunawan, A., Machasin, M., & Fitri, K. (2016).

Pengaruh Kompensasi dan Pengembangan Karir terhadap Kepuasan Kerja Perawat yang dimediasi oleh Motivasi Kerja pada Rumah Sakit Bina Kasih Pekanbaru. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Riau, 4(1), 870–883.

Harahap, D. S., & Khair, H. (2019). Pengaruh Kepemimpinan Dan Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja Melalui Motivasi Kerja.

Maneggio: Jurnal Ilmiah Magister Manajemen, 2(1), 69–88.

Hariyati, R. T. S. (2014). Perencanaan Pengembangan Dan Utilisasi Tenaga Keperawatan (1st ed.).

Rajawali Pers.

Hartono, B., Sulaeman, S., Nopianna, I., & Sari, K.

(2019). Pengaruh Sistem Remunerasi Terhadap Motivasi Kerja , Kepuasan Kerja dan Dampaknya Terhadap Kinerja Perawat di RS Paru Gunawan Tahun 2018. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 4(2), 24–30.

Heriani, R., Tarigan, B., Santoso, H., & Sipayung, R.

(2021). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Perawat Pelaksana Di Rumah Sakit Efarina Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan Tahun 2019. 7(2).

Istichomah, Andika, I. P. J., Khoeriyah, S. M., &

Pesirahayu, H. V. E. (2021). Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Kepuasan Kerja Perawat Selama Pandemi COVID-19 di RSUD P.

Senopati Bantul. Jurnal Kesehatan, 14(1), 316–

321.

https://doi.org/http://dx.doi.org/10.35730/j k.v12i0.463

Kalalo, C. N., Sjattar, E. L., & Natzir, R. (2018).

Correlation Between Compensation and Work Satisfaction with Nurses ’ Performance Through Motivation in Bethesda Public Hospital of Tomohon. Indonesian Contemporary Nursing Journal, 3(1), 12–21.

Mulyaningtyas, T. L., Parulian, T. S., & Sihombing, F.

(2021). Hubungan Kepuasan Kerja dengan Motivasi Perawat di Rumah Sakit Swasta Bandung. Elisabeth Health Jurnal, 6(1), 36–44.

https://doi.org/10.52317/ehj.v6i1.335 Nursalam. (2017). Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan: Pendekatan Praktis ((P. P. Les).

Salemba Medika.

Perceka, A. L. (2018). Hubungan Perencanaan dan

Pengarahan Kepala Ruangan dengan Motivasi Kerja Perawat di RS Pameungpeuk Garut Tahun 2017. Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP), 4(1), 59–65.

Rahmaniah, L., Rizany, I., & Setiawan, H. (2020).

Hubungan Penjadwalan Dinas Perawat dengan Kepuasan Kerja Perawat di Instalasi Rawat Inap. Jurnal Kepemimpinan Dan Manajemen

Keperawatan, 3(1), 29–36.

https://doi.org/10.32584/jkmk.v3i1.554 Rohani, L. F., Sulistyarini, T., & Yusiana, M. A. (2020).

Faktor Kepuasan Kerja Perawat di Rumah Sakit. Jurnal Penelitian Keperawatan, 6(2), 132–136.

Sa’diah, H., & Machfud, M. S. (2021). Pengalaman dan Coping Strategies Perawat Muda Mendampingi Pasien COVID-19. Memperkuat Kontribusi Kesehatan Mental Dalam Penyelesaian Pandemi Covid 19: Tinjauan Multidisipliner, 78–89.

Salawangi, G. E., Kolibu, F. K., & Wowor, R. (2018).

Hubungan Motivasi Kerja dengan Kinerja Perawat di Instalasi Rawat Inap RSUD Liun Kendage Tahuna Kabupaten Sangihe. KESMAS, 7(5).

Satgas Penanganan COVID-19. (2021). Peta Sebaran COVID19.

Setianingrum, R., Hariyati, R. T. S., Pujasari, H., Novieastari, E., & Fitri, D. (2021). Kepuasan Kerja Perawat Pelaksana di Masa Pandemi COVID-19 dan Variabel yang Berhubungan.

Journal of Telenursing (JOTING), 3(2), 565–577.

Sirait, E., Pertiwiwati, E., & Herawati. (2016). Faktor- faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD Haji Boejasin Pelaihari. Dunia Keperawatan, 4(1), 14–20.

Sumartyawati, N. M., Ardani, M. H., & Dharmana, E.

(2017). Hubungan Motivasi dengan Kepuasan Kerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSJ Provinsi NTB. PrimA, 3(1), 8–14.

Utama, T. A., Sukmawati, & Dianty, F. E. (2020).

Pengalaman Perawat Dalam Memberikan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terinfeksi Covid-19. Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia (JIKPI), 1(2), 13–19.

Vaus, D. A. de. (2002). Surveys In Social Research (5th editio). Allen and Unwin.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :