• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KETERKAITAN ANTAR INDIKATOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS KETERKAITAN ANTAR INDIKATOR"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KETERKAITAN ANTAR INDIKATOR

(Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengurangan Kemiskinan)

BADAN PUSAT STATISTIK

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

(2)

ANALISIS KETERKAITAN ANTAR INDIKATOR (Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengurangan Kemiskinan)

A. PDRB Sektoral

PDRB sektoral menggambarkan jumlah output agregat sektor yang dihasilkan suatu daerah. PDRB sektoral perkapita menurut harga konstan merupakan nilai PDRB sektoral menurut harga konstan dibagi dengan jumlah penduduk di wilayah tersebut. PDRB sektoral perkapita ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu PDRB perkapita sektor pertanian dan PDRB perkapita sektor non pertanian. Peningkatan nilai PDRB sektoral menurut harga konstan menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi sektoral. Menurut teori ekonomi, pertumbuhan ekonomi mengindikasikan semakin banyak kesempatan kerja yang tercipta dan semakin banyak orang yang bekerja, sehingga akan mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

Ada tiga pendapat yang muncul terkait dengan pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap upaya penurunan kemiskinan. Pendapat pertama menyatakan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang paling efektif dalam mengurangi kemiskinan di negara berkembang yang mayoritas penduduknya berada di sektor pertanian. Pendapat kedua menyatakan bahwa sektor non pertanian lah yang lebih efektif menurunkan kemiskinan. Dalam perkembangannya muncul pendapat ketiga yang menyatakan pentingnya keseimbangan di semua sektor dalam mengurangi kemiskinan.

Penelitian yang berpendapat bahwa sektor pertanian penting dalam menurunkan kemiskinan antara lain dilakukan oleh Mellor (1976), Datt dan Ravallion (1988) dalam Utami (2010), Christiansen, et al. (2006) dalam Utami (2010), Loayza dan Raddatz (2006), dan Klasen (2007). Menurut Mellor (1976), selama sektor pertanian merupakan lapangan pekerjaan mayoritas pada negara berkembang, maka sektor tersebutlah yang dapat menggerakkan perekonomian dan mengurangi kemiskinan. Datt dan Ravallion (1988) dalam Utami (2010) yang menggunakan data panel di India menyimpulkan bahwa pertumbuhan sektor pertanian, infrastruktur awal pertanian, dan kondisi sumber daya manusia berpengaruh dalam mengurangi kemiskinan. Christiansen, et al. (2006) dalam

(3)

Utami (2010) menyatakan bahwa pertumbuhan sektor pertanian di pedesaan pada negara-negara dengan pendapatan rendah berpengaruh kuat terhadap penurunan kemiskinan. Loayza dan Raddatz (2006) yang membagi pertumbuhan ekonomi ke dalam enam sektor juga menyimpulkan bahwa komposisi dari pertumbuhan GDP berpengaruh pada penurunan kemiskinan, terutama sektor yang padat karya yaitu sektor pertanian, konstruksi dan manufaktur. Klasen (2007) menyimpulkan bahwa meskipun investasi memegang peranan penting dalam menggerakkan pro poor growth, namun upaya peningkatan produktifitas di sektor pertanian menjadi lebih

penting sebagai instrumen dalam menggerakkan pro poor growth.

Sedangkan penelitian-penelitian yang hasilnya bertolak belakang yang menyatakan bahwa sektor non pertanian merupakan kunci bagi penurunan kemiskinan antara lain dilakukan oleh Quizon dan Binswanger (1986, 1989) dan War dan Wang (1999). Menurut Quizon dan Binswanger (1986, 1989) yang menggunakan model partial equilibrium multimarket di India menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi sektor pertanian sebagai pengaruh dari Revolusi Hijau tidak berpengaruh sama sekali terhadap penurunan tingkat kemiskinan di pedesaan. Mereka berpendapat bahwa cara terbaik untuk menurunkan tingkat kemiskinan adalah dengan meningkatkan pendapatan dari sektor non pertanian.

Senada dengan hal tersebut, War dan Wang (1999) juga berpendapat bahwa yang paling mempengaruhi penurunan tingkat kemiskinan adalah sektor industi (non pertanian).

Selain kedua pendapat tersebut, muncul pendapat ketiga yang menyatakan pentingnya keseimbangan antara sektor pertanian dan non pertanian, di antaranya seperti yang dikemukakan oleh Ravallion dan Datt (1996), Foster dan Rozeinzweig (2005) dalam Utami (2010), Warr (2006), dan Suryahadi, et al.

(2008). Menurut Ravallion dan Datt (1996) yang menggunakan data time series di India, pertumbuhan sektor pertanian dan jasa informal memberikan pengaruh terbesar dalam penurunan kemiskinan. Begitu pula dengan penelitian Foster dan Rozeinzweig (2005) dalam Utami (2010) yang menggunakan data panel rumah tangga di India dan juga Warr (2006) menyimpulkan hal yang hampir serupa.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Suryahadi, et al. (2008) yang menggunakan data panel provinsi-provinsi di Indonesia juga menyimpulkan

(4)

bahwa pertumbuhan di sektor jasa memiliki pengaruh terbesar dalam pengurangan tingkat kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan, sedangkan pertumbuhan di sektor pertanian pedesaan juga memiliki pengaruh dalam mengurangi kemiskinan di pedesaan.

B. Tingkat Pendidikan

Dalam teori pertumbuhan endogen yang dipelopori Lucas dan Romer dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya modal dan tenaga kerja tetapi juga dipengaruhi oleh akumulasi modal manusia melalui pertumbuhan teknologi. Akumulasi modal manusia merupakan akumulasi dari pendidikan dan pelatihan. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan ketrampilan penduduk menunjukkan semakin tinggi modal manusia (human capital). Secara umum, semakin berpendidikan seseorang maka tingkat pendapatannya semakin baik karena orang yang berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan. Tingginya produktifitas tersebut disebabkan keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Makin tinggi tingkat pendidikan maka akses ke dunia kerja menjadi lebih mudah dan dapat memperoleh posisi yang lebih baik.

Menurut World Bank (2006), tingkat pendidikan penduduk miskin yang rendah akan menimbulkan lingkaran setan kemiskinan pada generasi berikutnya.

Penduduk miskin yang berpendidikan rendah akan menyebabkan produktifitasnya rendah sehingga akan membuat output dan pendapatan yang diterima rendah, akibatnya terjadi kemiskinan. Rumah tangga miskin akan kesulitan untuk membiayai anak-anaknya sekolah sehingga akan melahirkan generasi selanjutnya yang berpendidikan rendah dan menimbulkan kemiskinan baru. Salah satu upaya untuk menurunkan tingkat kemiskinan sekaligus memotong lingkaran setan kemiskinan adalah dengan meningkatkan pendidikan penduduk miskin.

Peran penting peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan dalam rangka pengentasan kemiskinan juga dikemukakan World Bank maupun ADB.

World Bank (2000) dalam Suparno (2010) menyebutkan salah satu pilar yang harus dilakukan untuk memerangi kemiskinan adalah peningkatan kesempatan penduduk miskin. Pilar ini dilaksanakan dengan peningkatan akses penduduk

(5)

miskin terhadap aset modal fisik dan modal manusia (pendidikan dan kesehatan) serta peningkatan rate of return dari aset-aset tersebut. Menurut ADB (1999), salah satu pilar dari strategi penurunan kemiskinan adalah pengembangan sosial yang terdiri dari pengembangan modal manusia (pendidikan dan kesehatan), modal sosial, perbaikan status perempuan, dan perlindungan sosial.

Klasen (2007) menemukan bahwa peningkatan kepemilikan aset dasar bagi penduduk miskin akan berpengaruh terhadap pengurangan kemiskinan. Aset dasar yang dimaksud adalah modal manusia, dalam hal ini adalah pendidikan penduduk miskin. Fan (2004) juga membuktikan bahwa modal manusia dalam pendidikan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pengentasan kemiskinan khususnya negara-negara di Afrika. Demikian pula halnya dengan Siregar dan Wahyuniarti (2007) menemukan variabel yang signifikan dan relatif paling besar pengaruhnya terhadap penurunan kemiskinan adalah pendidikan.

C. Pengeluaran Pemerintah untuk Investasi Publik

Pengeluaran pembangunan pemerintah yang direalisasikan dalam rancangan APBN atau APBD merupakan instrumen kelembagaan pemerintah yang memiliki peran strategis dalam pengurangan kemiskinan, melalui penyediaan fasilitas kesehatan, pendidikan dan infrastruktur fisik terutama jalan dan irigasi (Tambunan, 2006). Peningkatan kesehatan dan pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produktifitas yang selanjutnya meningkatkan pendapatan penduduk miskin seperti petani dan buruh tani dalam arti luas. Infrastruktur yang baik sangat membantu peningkatan produksi, pertumbuhan kegiatan bisnis, termasuk di sektor informal, dan pemasaran produk- produk dari penduduk miskin seperti petani dan usaha mikro kecil.

Fan (2004) menunjukkan bahwa pengeluaran pembangunan untuk infrastruktur dan jasa di daerah pedesaan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan di sektor pertanian yang menjadi sektor terbesar terjadinya kemiskinan di negara berkembang. Selain itu, pengeluaran pembangunan untuk teknologi dan modal manusia juga merupakan faktor yang berpengaruh dalam pengentasan kemiskinan di negara berkembang, khususnya di negara-negara Afrika. Pengeluaran

(6)

pembangunan baik untuk infrastruktur, jasa, teknologi dan modal manusia terangkum sebagai pengeluaran investasi publik.

Untuk melihat besarnya pengeluaran pemerintah yang berkaitan dengan sektor publik dapat diproksi dengan belanja modal pemerintah. Belanja modal pemerintah merupakan pengeluaran untuk sarana dan prasarana ekonomi, seperti bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal; jalan, jembatan dan konstruksi lainnya; mesin dan peralatan; kendaraan; perbaikan besar pada modal; tanah dan ternak. Semakin besar nilai belanja modal pemerintah menunjukkan semakin besar pula peran pemerintah dalam penyediaan fasilitas pelayanan publik terutama untuk penduduk miskin.

Fan, S et al. (1999) mengemukakan bahwa pengeluaran pemerintah dapat memberikan pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap kemiskinan. Dampak langsung pengeluaran pemerintah adalah manfaat yang diterima penduduk miskin dari berbagai program peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pekerja, serta skema bantuan dengan target penduduk miskin. Dampak tidak langsung berasal dari investasi pemerintah dalam infrastruktur, riset, pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi penduduk, yang secara simultan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di seluruh sektor dan berdampak pada penciptaan lapangan kerja yang lebih luas dan peningkatan pendapatan terutama penduduk miskin serta lebih terjangkaunya harga kebutuhan pokok. Pengeluaran pemerintah juga diperlukan sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi untuk membantu mendayagunakan sumber daya secara berkelanjutan bagi pengeluaran pemerintah di masa depan.

Pertumbuhan ekonomi merupakan sarana utama penyediaan solusi yang permanen dalam mengatasi masalah kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan penduduk secara keseluruhan.

Menurut Iradian (2005), besarnya pengeluaran pemerintah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengurangan kemiskinan di berbagai negara, di samping juga dipengaruhi oleh pertumbuhan PDB riil perkapita, perubahan ketidakmerataan dan tingkat ketidakmerataan awal. Besarnya pengeluaran pemerintah dalam APBN atau APBD memiliki hubungan yang signifikan dengan pengurangan jumlah penduduk miskin. Peningkatan pengeluaran pemerintah akan mampu mengurangi jumlah penduduk miskin.

(7)

D. Ketimpangan Pendapatan

Menurut Klasen (2007), pembangunan infrastruktur di daerah tertinggal, investasi publik, desentralisasi fiskal yang berpihak ke masyarakat miskin serta jaring pengaman sosial yang fokus ke daerah tertinggal berperan terhadap pengurangan ketimpangan wilayah, di mana penurunan ketimpangan antar wilayah berpengaruh terhadap pro poor growth. Peningkatan ketimpangan antar wilayah akan berpengaruh terhadap pro poor growth yang berarti pula berpengaruh terhadap kemiskinan. Ketimpangan antar wilayah salah satunya bisa didekati dengan ketimpangan pendapatan antar wilayah yang bisa dilihat dari ukuran indeks gininya. Gelaw (2010) menyatakan bahwa kemiskinan akan tetap tinggi jika pertumbuhan ekonomi dibarengi dengan ketimpangan pendapatan.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dituliskan beberapa faktor yang mempengaruhi pro poor growth yang berarti juga mempengaruhi pengurangan kemiskinan. Faktor-faktor tersebut antara lain: PDRB perkapita sektor pertanian, PDRB perkapita sektor non pertanian, tingkat pendidikan, pengeluaran pemerintah untuk investasi publik, dan ketimpangan pendapatan.

(8)

BADAN PUSAT STATISTIK

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Komplek Perkantoran dan Pemukiman Terpadu Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Kelurahan Air Itam Kecamatan Bukit Intan, Pangkalpinang Telp: (0717) 439422 / Fax: (0717) 439425

Email: [email protected],.id, Website: https://babel.bps.go.id

MENCERDASKAN BANGSA

Referensi

Dokumen terkait

Karena F hitung lebih besar dari F tabel atau signifikansi F yang lebih kecil dari nilai α atau dengan kata lain ada pengaruh positif dan signifikan

Hasil penghitungan korelasi antara variabel dan koefisien determinasi di atas telah memberikan jawaban terhadap rumusan masalah yang diajikan dalam Bab I, yaitu (1) Apakah

Sebelum melakukan perhitungan pemberesan momen parsil, sebaiknya ditentukan dulu arah putaran pemberesan momen parsil, hal ini dimaksudkan agar tidak membingungkan dalam

Faktor penghambat dalam Implementasi Peraturan Daerah Kota Tanjungpinang Nomor 5 Tahun 2005 Tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Penduduk Dan Pencatatan Sipil (Studi

Pedoman umum ini merupakan salah satu sub sistem dari sistem pengembangan e- government nasional, yang lingkup kegiatannya menjelaskan tentang penggunaan operasional

Shalat magrib dianalogikan sebagai sabuk, dalam bahasa Jawa sabuk berarti alat untuk mengikat perut dari celana atau tapeh.Penulis menginterpretasikan sabuksebagai bentuk

Agama (yakni agama wahyu) bukanlah pengetahuan melainkan pemberitaan, yakni pemberitaan dari Tuhan (dalam hal ini pemberitahuan Tuhan atau agama wahyu itu adalah obyek yang

Berkaitan dengan hal tersebut, wawancara mendalam dan observasi dilakukan berasal dari narasumber yaitu dengan wawancara langsung ke MTs NU Miftahut Tholibin Mejobo Kudus