• Tidak ada hasil yang ditemukan

WISATA RELIGI PESAREAN KH. MOHAMMAD KHOLIL DI BANGKALAN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "WISATA RELIGI PESAREAN KH. MOHAMMAD KHOLIL DI BANGKALAN."

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

i

TUGAS AKHIR

WISATA RELIGI

PESAREAN KH. MOHAMMAD KHOLIL

DI BANGKALAN

Untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Tugas Akhir ( Strata – 1 )

Diajukan oleh :

IRHAM BASHIR GHOZALI

0751010073

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

(2)

TUGAS AKHIR

WISATA RELIGI PESAREAN KH.

MOHAMMAD KHOLIL DI BANGKALAN

Dipersiapkan dan Disusun Oleh:

IRHAM BASHIR GHOZALI

0751010073

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji

Pada Tanggal : 01 Juni 2012

Pembimbing Utama : Penguji :

Ir. Muchlisiniyati Safeyah, MT Ir. Sri Suryani Yuprapti Winasih, MT NPT. 3 6706 94 0034 1 NIP. 19670722 199303 2 00 2

Pembimbing Pendamping :

Ami Arfianti, ST, MT Ir. Erwin Djuni Winarto, MT NPT. 3 6911 97 0158 1 NPT. 3 6506 99 0166 1

Dyan Agustin, ST, MT NPT. 3 7708 04 0203 1

Tugas Akhir ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik (S-1)

Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

(3)

iii

KATA PENGANTAR

Saya bersyukur, terutama kepada Allah SWT beserta Nabi Besar Muhammad SAW yang selalu memberikan jalan terbaik dan menerangi hati dan pikiran saya supaya selalu terpacu untuk menyelesaikan tugas ini. Laporan tugas akhir yang saya beri judul “WISATA RELIGI PESAREAN KH. MOHAMMAD KHOLIL BANGKALAN” ini terselesaikan juga karena bantuan dari orangtua, saudara, teman, dan pihak-pihak lain. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan tugas ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan tugas ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:

1. Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW atas semua Rahmat dan BarokahNya.

2. Dosen pembimbing, yaitu Ir. Muchlisiyanti Safeyah, MT dan Ami Arfianti ST. MT. yang selalu sabar dalam memberikan bimbingan di saat asistensi. 3. Ayah dan Mama saya, pendukung yang setia, baik dari segi moral dan

materi.

4. @VhieVira, lovely honey. Makasih supportnya selama ini.

5. Adik-adik saya. Kalo inget dia, pasti saya langsung semangat, supaya menjadi seorang kakak yang bisa dijadikan panutan yang baik.

6. Teman-teman arsitek angkatan 2007, semoga kita selalu sukses.

7. Teman-teman Rewel Kost dan teman Band InSomnia yang selalu mendukung serta memberi motivasi untuk selalu berusaha dan berdoa. Terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat semuanya, semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas segala kebaikan semua yang telah membantu. Akhir kata, penulis berharap agar tugas ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu.

Amin.

Surabaya, Juni 2012

(4)

iv

2.2.3.1. Pelaku Aktivitas ... 21

2.2.3.2. Aktivitas dan Fasilitas Ruang ... 22

2. 2. 4. Perhitungan Luasan Ruang ... 23

2. 2. 5. Program Ruang ... 27

BAB III. TINJAUAN LOKASI PERANCANGAN ... 28

3. 1. Latar Belakang Pemilihan Lokasi ... 28

(5)

v

3. 3. 5. Peraturan Bangunan Setempat ... 36

(6)

vi

BAB VI. APLIKASI RANCANGAN ... 61

6. 1. Konsep Tapak ... 61

6. 1. 1. Aplikasi Zoning ... 61

6. 1. 2. Aplikasi Tatanan Massa ... 62

6. 1. 3. Aplikasi Orientasi Massa Bangunan ... 63

6. 1. 4. Alikasi Entrance ... 64

6. 2. Aplikasi Tampilan Bangunan ... 65

6. 2. 1. Aplikasi Bentukan ... 65

6. 2. 2. Aplikasi Fasade ... 65

6. 2. 3. Aplikasi Ruang Dalam ... 67

6. 2. 4. Aplikasi Ruang Luar ... 68

DAFTAR PUSTAKA ... 69

(7)

vii

DAF TAR TABEL

Tabel 1.1. Jumlah Pengunjung Pesarean Kh. Mohammad Kholil ... 1

Tabel 2.1. Fasilitas di wisata religi Sunan Ampel ... 10

Tabel 2.2. Fasilitas di wisata religi Sunan Maulana Malik ... 16

Tabel 2.3. Analisa Hasil Studi ... 19

Tabel 2.4. Aktifitas Peziarah ... 22

Tabel 2.5. Aktifitas Peziarah yang menginap ... 22

Tabel 2.6. Aktifitas Peziarah yang mengunjungi fasilitas penunjang ... 23

Tabel 2.7. Aktifitas Pengelola ... 23

Tabel 2.8. Perhitungan Luas Ruang ... 24

(8)

ii

WISATA RELIGI P ESAREAN KH. MOHAMMAD KHOLIL

DI BANGKALAN

Irham Bashir Ghozali 0751010073

ABSTRAKSI

Kota Bangkalan merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Pulau Garam Madura, Jawa Timur. Kota Bangkalan masih memegang tradisi yang dibangun sejak dahulu oleh para pendahulunya. Selain terkenal akan tradisi yang kuat, kota Bangkalan juga dikenal sebagai Kota Santri karena memang banyak terdapat Pondok Pesantren di daerah ini. Namun sangat disayangkan, tempat ziarah yang banyak dikunjungi para peziarah dan wisatawan mancanegara tidak didukung dengan sarana dan prasarana yang lengkap. Melihat kondisi empiris di lokasi ziarah hanya terdapat sebuah masjid di samping pesarean Kh. Mohammad Kholil ini. Para ribuan peziarah yang datang dari luar daerah Bangkalan untuk bermunajat dan bermalam berkumpul di dalam areal masjid. Pemandangan seperti ini seharusnya tidak terlihat mengingat pesarean ini tempat untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Desain yang akan direncanakan adalah bangunan massa banyak yang memenuhi kebutuhan fasilitas, sarana, dan prasarana bagi para peziarah. Pertimbangan tersebut akan menjadi acuan dalam penentuan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan. Selain itu juga menjadi acuan dalam proses desain dan menjadi pertimbangan utama dalam perwujudan desain yang akan dirancang.

Terdapat ketentuan khusus dalam pemilihan lokasi untuk perancanagn Wisata Religi Pesarean Kh. Mohammad Kholil ini. Ketentuan khusus tersebut adalah lokasi harus jauh dari kebisingan kota, agar tidak mengganggu kekhusukan para peziarah. Sementara itu aksesibilitas harus mudah, dekat dengan fasilitas bangunan yang dapat mendukung bangunan ini.

Dalam perancangan perlu adanya analisa perancangan yang meliputi analisa site, analisa iklim dan analisa lingkungan sekitar yang dapat menjadi acuan dalam menentukan zonasi rancangan bangunan, ruang-ruang yang ada dalam setiap massa bangunan, hubungan ruangnya dan sirkulasi yang terjadi. Sehingga diperoleh sketsa denah bangunannya dan dapat ditentukan ide awal bentuk dan tampilan bangunan yang disesuaikan dengan tema kontekstual yang dipilih.

(9)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kota Bangkalan merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Pulau Garam Madura, Jawa Timur. Kota Bangkalan masih memegang tradisi yang dibangun sejak dahulu oleh para pendahulunya. Selain terkenal akan tradisi yang kuat, kota Bangkalan juga dikenal sebagai Kota Santri karena memang banyak terdapat Pondok Pesantren di daerah ini.

Selain itu, kota Bangkalan juga memiliki banyak tempat wisata dan juga tempat ziarah yang cukup termasyur di Pulau Jawa ini. Sebut saja Pesarean Kh. Mohammad Kholil yang terletak di desa Martajasah, kelurahan Mlajah, Bangkalan, Madura. Dilihat dari tabel di atas, banyaknya pondok pesantren sangat berpengaruh terhadap keberadaan tempat ziarah Kh. Mohammad Kholil. Ini semua dapat dibuktikan dengan kunjungan para santri yang selalu memadati areal ziarah untuk mencari ketenangan batin dan meningkatkan ketaqwaan serta untuk bermunajat.

(10)

2

Tabel 1.1. Jumlah Pengunjung Pesarean Kh. Mohammad Kholil pada Tahun 2007

No Bulan Kunjungan Wisatawan

Mancanegar a Wisa tawan Lokal J umlah / Bulan

1 Januari 5 37.025 37.030

Sumber : Badan Pusat Statistik Kab. Bangkalan, 2007

Namun sangat disayangkan, tempat ziarah yang banyak dikunjungi para peziarah dan wisatawan mancanegara tidak didukung dengan sarana dan prasarana yang lengkap. Melihat kondisi empiris di lokasi ziarah hanya terdapat sebuah masjid di samping pesarean Kh. Mohammad Kholil ini. Pemandangan seperti ini seharusnya tidak terlihat mengingat pesarean ini tempat untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Melihat kondisi seperti ini, sebaiknya sarana dan prasarana yang ada dibenahi, dengan membangun pondok peristirahatan untuk para peziarah yang sedang bermalam, merangkap museum Kh. Mohammad Kholil dan perpustakaan sebagai wahana pelengkap dan hiburan di areal pesarean.

(11)

3

1.2 Tujuan Dan Sasar an Per ancangan

Tujuan dirancangnya obyek pesarean Kh. Mohammad Kholil di Bangkalan adalah :

1. Merupakan investasi yang sangat besar bagi Pemda Kabupaten Bangkalan. 2. Mengenalkan dan menambah citra kota Bangkalan pada masyarakat luas. 3. Memperkenalkan atau meningkatkan kharisma Kh. Mohammad Kholil

Sasaran yang ingin dicapai dengan dirancangnya Pesarean KH. Moh. Kholil Bangkalan adalah :

1. Menyediakan wadah ilmu keagamaan bagi masyarakat di kota Bangkalan maupun di luar kota Bangkalan melalui wisata religi.

2. Merancang penginapan untuk para peziarah guna menampung kegiatan pada lingkungan pesarean.

3. Merancang ruang baca ( perpustakaan ) dan museum agar dapat memberikan informasi tentang silsilah keluarga Kh. Mohammad Kholil.

1.3 Batasan Masalah dan Asumsi

Batasan pada obyek perancangan pesarean Kh. Mohammad Kholil adalah: 1. Diperuntukkan untuk masyarakat umum, khususnya para peziarah.

2. Perancangan bangunan menggunakan konsep tatanan massa.

Asumsi pada obyek perancangan Pesarean Kh. Mohammad Kholil adalah: 1. Diasumsikan dapat menampung sampai 20 tahun mendatang.

2. Kepemilikan bangunan diasumsikan milik Yayasan Pesarean Kh. Mohammad Kholil Bangkalan.

1.4 Tahapan Per ancangan

(12)

4

Dimulai dengan menginterpretasikan judul obyek rancangan yang sesuai dengan latar belakang. Kemudian dilakukan pengumpulan data yang dibutuhkan yaitu melalui studi literatur yang diperoleh dari buku-buku referensi, brosur-brosur dan lain-lain, studi komperatif dengan survei lapangan, browsing melalui internet, wawancara untuk memperoleh data dengan melakukan proses tanya jawab, studi banding atau studi kasus serta standarisasi dari obyek rancangan yang dibutuhkan. Dari serta azaz-azaz perancangan sehingga terbentuk sebuah tema dan konsep rancangan yang menentukan ide bentuk serta gagasan pra desain. Setelah terbentuk ide bentuk atau gagasan pra desain dilakukan kontrol kembali terhadap prinsip, teori dan azaz serta tema dan konsep rancangan, sehingga menghasilkan sebuah rancangan obyek yang sesuai atau sebuah hasil rancangan ( desain ). Secara lebih jelas, dapat dilihat pada gambar 1.1.

Berikut Diagram tahapan perencanaan :

Gambar 1.1 Skema Tahapan Perancangan

Sumber : Teori Metoda Perancangan Intepretasi Judul

Latar Belakang

Pengumpulan Data

Kajian Teori, Azaz serta Prinsip Perancangan

Perumusan Tema / Konsep Perancangan

Gagasan Pra Design

(13)

5

1.5 Sistematika Laporan

Sistematika penyusunan laporan di susun dalam 4(empat) bab pokok bahasan : - Bab I. Pendahuluan, bab ini menjelaskan tentang latar belakang, tujuan dan sasaran perancangan, Batasan masalah dan asumsi serta tahapan perancangan yang berhubungan dengan Pondok Wisata Religi Kh. Mohammad Kholil.

- Bab II. Tinjauan Objek Perancangan, bab ini menjelaskan tentang perancangan objek secara logis dan sistematis, sesuai data dan informasi yang di peroleh dari studi kasus Wisata religi Sunan Ampel Surabaya dan Wisata Religi Sunan Maulana Malik Ibrahim Gresik.

Menjelaskan tentang klafisikasi pengguna bangunan, aktifitas dan kebutuhan ruang-ruang pada bangunan.

- Bab III. Tinjauan Lokasi Perancangan, bab ini menjelaskan tentang kriteria dalam pemilihan lokasi dan menganalisa dan menetapkan lokasi pilihan yang akan di jadikan lokasi Pondok Wisata Religi Kh. Mohammad Kholi Bangkalan.

- Bab IV. Analisa Perancangan, bab ini menjelaskan, menguraikan, menggambarkan, dan menetapkan secara grafis proses analisa site, ruang, bentuk dan tampilan sehingga sesuai dengan konteks perancangan.

- Bab V. Konsep Perancangan : Konsep Perancangan, pada tahap ini, pendekatan-pendekatan dalam perancangan akan mulai direalisasikan. Dengan pendekatan desain, hasil akhir dari perancangan diharapkan akan sesuai dengan gambaran pada bab awal.

(14)

BAB II

TINJ AUAN OBYEK PERANCANGAN

2.1. Tinjauan Umum Per ancangan 2.1.1. Penger tian J udul

Untuk memberikan pengertian judul pada proyek “WISATA RELIGI

PESAREAN KH. MOHAMMAD KHOLIL DI BANGKALAN” yang lebih detail,

maka perlu diuraikan penjabaran masing-masing kata, sebagai berikut: v Wisata Religi :

Wisata berarti bepergian bersama-sama untuk memperluas pengetahuan agama untuk mendapatkan kesalehan dan keridhoan dari Tuhan Yang Maha Esa. ( Purwadarminta, 1982 )

v Pesar ean Kh. Mohammad Kholil :

Pesarean berarti kuburan Alim Ulama, Wali Allah, Arif Billah, Pemuka agama yaitu salah satu Wali Allah yang berasal dari kota Bangkalan. Beliau sangat termashur dan mempunyai banyak santri terkenal diantaranya adalah KH. Hasyim Asyari ( Pendiri NU ) dan Ir. Soekarno ( Presiden pertama Republik Indonesia ).

(Sumber : Tanya jawab langsung dengan Ulama di Bangkalan, Madura, 2010) v di Bangkalan :

Di Bangkalan berarti Tempat salah satu Kabupaten di Pulau Madura yang merupakan daerah pengembangan industri GERBANGKERTASUSILA dan termasuk dalam pengembangan kota Surabaya ( Surabaya Metropolitan Area ) atau yang lebih dikenal dengan Surabaya Urban Development Polic.

( Sumber : Info Bangkalan, 2008 )

v Wisata Religi Pesar ean KH. Mohammad Kholil di Bangkalan :

(15)

berdzikir, mengaji, bermalam dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan ajaran-ajaran islam.

2.1.2. Studi Liter atur

Studi literatur digunakan sebagai studi pengenalan masalah untuk memperjelas pemahaman yang lebih mendalam dalam pelaksanaan yang berhubungan dengan proyek yang direncanakan serta untuk melengkapi data atau masukan dalam proses perencanaan yang berhubungan dengan Wisata Religi.

2.1.2.1. Kegiatan Yang Dilakukan Peziar ah Pada Objek Wisata Religi

Setelah membaca literatur yang dibaca dari buku karya Imam Ghazali dengan judul Ringkasan Ihya’ Ulumuddin (Upaya Menghidupkan Ilmu Agama), para peziarah biasanya melakukan banyak kegiatan saat berziarah atau mengunjungi objek wisata religi. Kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan para peziarah pada saat mengunjungi objek wisata religi adalah :

1.Berdoa

Berdoa adalah mengucapkan (memanjatkan) doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan harapan keinginan atau permohonan yang dipanjatkan bisa dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

( Purwadarminta, 1982 )

Kegiatan berdoa pada Tuhan Yang Maha Esa sering dilakukan peziarah yang mengunjungi objek wisata religi. Biasanya para peziarah memohon doa kepada Tuhan melalui Wali Allah yang sedang diziarahi. Mereka percaya bahwa berdoa melalui Wwali Allah yang mereka kunjungi, doa mereka akan lebih cepat terkabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

2. Mengaji

Mengaji adalah membaca dan melantukan ayat-ayat suci Alqur’an. ( Purwadarminta, 1982 )

(16)

lebih sempurna dengan mengaji yang dilakukan mereka. 3. Bertirakat

Bertirakat adalah menahan hawa nafsu seperti berpuasa, berpantang terhadap sesuatu yang dilarang; Mengasingkan diri ke tempat yang sunyi (di gunung , di gua ataupun di Makam Wali Allah )

( Purwadarminta, 1982 )

Peziarah yang melakukan kegiatan bertirakat seperti puasa ini biasanya lebih lama tinggal di area objek wisata religi. Selama 40 hari mereka melakukan kegiatan seperti berpuasa, mengaji dan berdoa. Unuk kegiatan tirakat ini, para peziarah biasanya tinggal di pondok yang disediakan memang khusus untuk para peziarah yang tinggal cukup lama di area wisata religi.

4. Bermunajat

Bermunajat adalah berdoa sepenuh hati kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mengharapkan keridaan, ampunan, bantuan, hidayat dari Tuhan Yang Maha Esa. ( Purwadarminta, 1982 )

Sama halnya dengan berdoa, namun bermunajat dilakukan lebih khusuk. Biasanya para peziarah yang melakukan kegiatan ini juga tinggal di pondok atau tempat yang memang telah disediakan oleh pengelola objek wisata religi berkaitan dengan kegiatan munajat ini.

2.1.2.2. Fasilitas-fasilitas Yang Ter dapat Pada Objek Wisata Religi

Objek wisata religi biasanya mempunyai fasilitas umum pendukung dalam lingkup tempat ziarah. Dari literatur yang di dapat, yaitu Buku dengan judul Keutamaan Wisata Agama, karya Kh. Amin BR, fasilitas-fasilitas itu antara lain adalah :

1. Masjid

(17)

2. Pondok

Pondok adalah tempat tinggal sementara biasanya digunakan untuk bermalam. Di dalam objek wisata religi, pondok biasanya digunakan para peziarah yang menginap dengan tujuan bertirakat. Adanya pondok disini untuk menghindari para peziarah yang bermalam di areal masjid.

3. Museum

Museum adalah gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu dan juga sebagai tempat menyimpan barang kuno. Museum pada objek wisata religi sendiri biasanya menyimpan barang-barang khusus peninggalan Wali Allah.

4. Perpustakaan

Perpustakaan adalah gedung yang digunakan untuk menyimpan kolelsi-koleksi buku. Perpustakaan dalam objek wisata religi biasanya menyimpan buku atau tulisan-tulisan tangan para Wali Allah.

Dalam rancangan Wisata Religi KH. Mohammad Kholil nantinya, fasilitas yang akan dirancang adalah Pondok (tempat menginap), perpustakaan dan museum. Untuk perancangan Masjid tidak dilakukan karena objek sudah terbangun yang letaknya bersebelahan dengan makam KH. Mohammad Kholil.

2.1.3. Studi Kasus

2.1.3.1. Studi Kasus I Wisata Religi Sunan Ampel Surabaya

Studi kasus objek ini bertujuan untuk memperoleh suatu gambaran atau perbandingan yang berhubungan dengan proyek yang direncanakan dan dilakukan melalui pengamatan atau survey di lapangan termasuk kondisi, kendala dan potensi site yang ada dalam kasus, seperti contoh kasus objek di bawah ini :

A. Lokasi

(18)

B. Fasilitas

Fasilitas yang ada di Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel meliputi Pesarean Sunan Ampel, Masjid Sunan Ampel, Museum Sunan Ampel dan Fasilitas pendukung yaitu Pasar Ampel dan Kantor Pengelola. Hal ini bisa dilihat pada Tabel 2.1. dibawah ini :

Tabel 2.1. Fasilitas di Wisata Religi Sunan Ampel

Fasilitas J enis Kegiatan

Pesarean Berziarah

Museum Melihat barang yang dipamerkan

Masjid Shalat, Mengaji

Pasar Membeli barang-barang

Kantor Pengelola Pusat Informasi

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2010 I. Masjid

Masjid Sunan Ampel memungkinkan dan mampu menampung para peziarah yang ingin melakukan ibadah di dalam masjid. Masjid Sunan Ampel merupakan masjid tertua ke tiga di Indonesia, didirikan oleh Raden Achmad Rachmatullah pada tahun 1421, di dalam wilayah Kerajaan Majapahit.

(19)

Masjid ini dibangun dengan arsitektur Jawa kuno, dengan nuansa Arab yang kental. Masjid Ampel adalah masjid terbesar kedua di Surabaya. dulunya masjid ini menjadi tempat berkumpulnya para ulama dan wali Allah untuk membahas penyebaran Islam di tanah Jawa. Keistimewaan pada Masjid Sunan Ampel ini terlihat pada tiang-tiang yang terbuat dari kayu yang kokoh memperlihatkan kekuatan bangunan ini melintasi zaman. Masjid Sunan Ampel telah 3 kali mengalami perluasan yakni di tahun 1926, tahun 1954 dan terakhir pada tahun 1972. Luas masjid ini 1320 m² dengan panjang bangunan 120 meter dan lebar bangunan 11 meter dapat menampung sekitar ±1000 orang.

II. Pasar Ampel

Di sekitar lokasi Wisata Religi Sunan Ampel, banyak dijumpai pedagang yang sama seperti dijumpai di Pasar Seng Masjidil Haram. Para Pedagang ini menjual bahan-bahan dagangan yang sama seperti di Pasar Seng seperti kurma, air zam-zam yang khas dari Mekkah juga bisa di dapat di pasar Ampel. Selain itu,

(20)

bibit pewangi dan oleh-oleh khas Mekkah yang lainnya juga terdapat di pasar Ampel ini. Banyak peziarah yang datang mengunjungi tempat ini untuk sekedar melihat-lihat dan banyak juga yang datang untuk berbelanja. Biasanya para jemaah Haji yang tidak sempat berbelanja di Tanah Suci untuk dibawa pulang sebagai cindera mata, mengganti untuk berbelanja ke tempat ini karena memang kualitas barangnya menyerupai seperti di Pasar Seng Masjidil Haram.

III. Kantor Pengelola

Gambar 2.4. Pasar Ampel

(21)

Kantor pengelola merupakan pusat informasi untuk para peziarah atau pengunjung yang datang ke lokasi wisata religi sunan Ampel. Lokasinya terletak diantara Masjid Sunan Ampel dan area untuk berwudhu’ menuju ke Pesarean Sunan Ampel. Ukuran Kantor pengelola wisata religi sunan Ampel adalah 3,5 m x 3,5 m. Ukuran 3,5 x 3,5 sangat sempit untuk dijadikan sebagi kantor pengelola mengingat kantor pengelola adalah bagian utama dari suatu kelompok ruang.

C. Bentuk Massa

Bentuk massa keseluruhan bangunan yang ada di area wisata religi sunan Ampel tergolong sederhana, konsep yang digunakan adalah konsep arsitektur Jawa Kuno dengan penekanan yang khas pada desain bentuk-bentuk islam pada abad ke-15. Hal ini dikarenakan bangunan pada area wisata religi ini fungsinya sebagai wisata keagamaan.

D. Tampilan

Ornamentasi yang terdapat pada bangunan-bangunan di makam sunan Ampel sangat khas dengan ornamentasi yang ada sejak abad ke-15. Pengaplikasian ornamen ini memang diadopsi dari ornamen pada abad 15 karena sebagian besar bangunan yang ada di lokasi ini dibangunan pada saat abad 15 tersebut.

Sebagian besar dindingnya polos berwarna putih dan dikombinasikan dengan warna hijau. Putih dipilih sebagai warna karena putih bermakna suci yang ingin ditegaskan pada kawasan ampel bahwa kawasan ini termasuk dalam kawasan suci. Sedangkan warna hijau bermakna sejuk. Sebagian orang islam juga mengatakan bahwa warna dari surga adalah hijau.

(22)

E. Atur an Ber kunjung

Papan peringatan yang terpampang menjadi panduan bagi pengunjung supaya berlaku sopan, tidak shalat di area pemakaman, dan berdoa hanya kepada Allah. Di area pemakaman juga sangat dianjurkan untuk melepas sepatu atau sandal, karena pada area pemakaman merupakan tempat yang suci serta dilarangnya pengunjung berada di area pemakaman pada setiap waktu shalat berjamaah.

2.1.3.2. Wisata Religi Sunan Maulana Malik Ibrahim Gr esik

Gambar 2.9 Lokasi

(23)

A. Lokasi

Objek Wisata Religi Sunan Maulana Malik Ibrahim ini terletak di jantung kota Gresik, tepatnya di Desa Gapuro Sukolilo 200 m dari alun-alun kota Gresik, sehingga sangat mudah dijangkau. Wisatawan bisa menempuh jalur darat dari Surabaya. Rutenya adalah melewati tol Surabaya-Gresik keluar lewat Romo Kalisari kemudian, melewati jalan Veteran kearah jalan Pahlawan, dan Jalan Maulana Malik Ibrahim.

B. Fasilitas

Di lokasi makam terdapat beberapa fasilitas diantaranya adalah Masjid Syeh Maulana Malik Ibrahim, Kantor pengelola makam, tempat parkir dan tempat membaca buku-buku tentang sejarah Sunan. Hal ini bisa dilihat pada Tabel 2.2. dibawah ini :

(24)

Tabel 2.2. Fasilitas di Wisata Religi Sunan Maulana Malik

Fasilitas J enis Kegiatan

Masjid Shalat dan mengaji

Kantor Pengelola Mengurusi keperluan pengunjung

Tempat parkir Menata kendaraan yang ada

Ruang Baca Membaca buku-buku

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2010 I. Pesarean Sunan Maulana Malik Ibrahim

Letak makam diberi pagar besi yang cukup tinggi. Untuk melindungi dari banyaknya peziarah yang datang ke lokasi Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim.

Bangunan makam yang memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan makam lain yaitu bahan yang terdapat pada nisan makam. Batu asli peninggalan dari Sunan Maulana Malik Ibrahim yang mernjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Hal ini dapat dilihat dari bahan batu nisan dan gaya tulisan arab yang terdapat pada makam. Batu nisan yang cenderung bergaya nisan gujarat yang tervuat dari batu marmer berbentuk lunas kapal khas Gujarat, serta pengaturan tulisan arabnya sekalipun bayak dijumpai di negeri Gujarat. Pada Umumnya keadaan makam terawat baik, tetapi masih memerlukan bantuan guna penyempurnaan dan pelestarian bentuk bangunan makam.

(25)

II. Kantor Pengelola

Kantor pengelola merupakan pusat informasi untuk para peziarah atau pengunjung yang datang ke lokasi wisata religi sunan Maulana Malik Ibrahim. Lokasinya terletak di depan makam sunan Maulana Malik Ibrahim. Ukuran Kantor pengelola wisata religi sunan Maulana Malik Ibrahim adalah 4m x 3m.

C. Bentuk Massa

Bentuk massa keseluruhan bangunan yang ada di area wisata religi sunan Maulana Malik Ibrahim juga terdapat persamaan dengan bentukan massa yang terdapat di area wisata religi sunan Ampel karena fungsi bangunan yang sama kental yaitu tentang keagamaan. Hanya saja penekanan yang khas pada desain bentuk-bentuk islam pada wisata religi sunan Maulana Malik Ibrahim lebih klasik, yaitu sekitar abad ke-14.

D. Tampilan

Orname-ornamen pada bangunan di objek wisata religi sunan Maulana Malik Ibrahim masih kental akan syarat islami. Warna putih yang bermakna suci masih mendominasi padahampir seluruh bangunan di area objek wisata religi sunan Maulana Malik Ibrahim ini. Hanya saja warna putih dikombinasikan dengan warna biru yang bermakna sejuk bagi yang memandang. Pemberian warna biru dimaksud agar para peziarah tidak bosan dengan keadaan di area objek wisata religi sunan Maulana Malik Ibrahim.

(26)

E. Aktifitas Peziar ah

Pemandu makam, Abdul Wahab mengatakan ada beberapa amalan atau kegiatan peziarah yaitu, khatam Al Qur’an selama 3 hari, amalan tertentu dari guru masing-masing, ada juga yang mengambil air sumur makam yang dipercaya dapat menyembuhkan segala macam penyakit, dan ada pula yang melakukan tirakat selama 1 minggu agar usahanya bangkit lagi setelah beberapa kali mengalami kerugian. Setiap tanggal 12 Rabiul Awal 822 H (1419 M) diperingati dengan acara Haul yang diikuti jamaah local dan regional maupun nusantara untuk mengenang wafatnya Sunan Maulana Malik Ibrahim.

(27)

2.1.4. Analisa Hasil Studi

Setelah melakukan pengamatan dengan beberapa obyek studi kasus diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya:

Kategor i Wisata Religi Sunan

Ampel

Wisata Religi Sunan Malik Ibr ahim Organisasi Pengelola - Pemimpin atau kepala

- Bagian Administrasi - Karyawan

- Security - Office Boy

- Pemimpin atau kepala - Bagian Administrasi - Karyawan

- Security - Office Boy Pengguna Bangunan - Pengelola

- Peziarah Ibrahim Gresik, tipologi bangunan hampir serupa dengan yang ada pada wisata religi sunan

Ampel Surabaya.

(28)

dan kesejukan yaitu

warna putih

didominasikan dengan warna biru Lantai yang digunakan adalah lantai keramik putih ukuran 30

dindingnya juga sama dengan warna dinding yang ada pada objek wisata religi sunan Ampel Surabaya hanya saja warna putih dikombinasikan dengan warna biru yang juga melambangkan

kesejukan.

Jenis Ruang - Masjid

- Museum

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2010

2.2. Tinjauan Khusus Per ancangan 2.2.1. Penekanan Per ancangan

(29)

kegiatan yang ada pada objek wisata religi pesarean Kh. Mohammad Kholil khususnya untuk para peziarah yang datang berkunjung.

2.2.2. Lingkup Pelayanan

Lingkup pelayanan ini difokuskan terhadap para pengunjung yang datang berziarah ke pesarean Kh. Mohammad Kholil. Dengan adanya perancangan objek wisata religi pesarean Kh. Mohammad Kholil ini, diharapkan dapat menambah minat pengunjung yang datang berkunjung.

Pada bab 1 telah dijelaskan bahwa jumlah pengunjung yang datang berkunjung ke pesarean Kh. Mohammad Kholil tidak mengalami penurunan yang drastis. Setiap bulannya rata-rata di atas 30.000 pengunjung selalu memadati pesarean Kh. Mohammad Kholil. Sedangkan untuk pengunjung atau wisatawan mancanegara setiap bulannya di bawah 10 orang.

Bangunan ini diasumsikan mampu menampung peziarah yang berkunjung hingga 20 tahun mendatang sehingga diasumsikan pengunjung yang datang untuk 20 tahun mendatang adalah ± 40.000 orang dengan jumlah pengunjung yang menginap adalah sebesar 1% dari 40.000 pengunjung. Jam operasional bangunan ini nantinya adalah 24 jam mengingat objek wisata religi ini juga disediakan penginapan untuk para pengunjung yang menginap atau para peziarah yang sedang melakukan kegiatan keagamaan seperti wisata edukasi religi di lokasi perancangan objek wisata religi pesarean Kh. Mohammad Kholil.

Pelayanan juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar lokasi perancangan sebagai wadah atau tempat penggali informasi mengenai Kh. Mohammad Kholil atau sekedar membaca kitab hasil karya Kh. Mohammad Kholi yang terdapat pada perpustakan. Masyarakat juga bisa melihat benda-benda peninggalan dari Kh. Mohammad Kholil di museum.

2.2.3. Aktifitas Dan Kebutuhan Ruang 2.2.3.1. Pelaku Aktifitas

(30)

- Pengelola

- Masyarakat Umum

2.2.3.2. Aktifitas dan Fasilitas Ruang

Penentuan kebutuhan ruang didasari oleh aktifitas yang dilakukan oleh pengunjung dalam hal ini adalah peziarah. Ada peziarah yang tidak bermalam tetapi ada pula yang bermalam 3 sampai 4 hari. Secara rinci aktifitas yang dilakukan peziarah dapat dilihat pada tabel 2.4. berikut ini :

Tabel 2.4. Aktifitas Peziarah

Pelaku Aktifitas Ruang yang

dibutuhkan Peziarah Berziarah ke makam

Mengaji

Sumber: Analisa penulis, 2010

Tabel 2.5. Aktifitas Peziarah Yang Menginap

Pelaku Aktifitas Ruang yang

dibutuhkan Peziarah Mencari informasi

Pesan kamar

Menerima tamu, memberi informasi, pembayaran, penitipan barang.

(31)

Tabel 2.6. Aktifitas Peziarah Yang Tidak Menginap

Pelaku Aktifitas Ruang yang

dibutuhkan Peziarah Datang

Melihat barang yang dipamerkan Membeli Barang atau cindera mata Melihat benda peninggalan Kh. Kholil

Membaca

Sumber: Analisa penulis, 2010

Tabel 2.7. Aktifitas Pengelola

Pelaku Aktifitas Ruang yang

dibutuhkan Pengelola Menjaga Penginapan

Menjaga Galeri

Sumber : Analisa Penulis, 2010

2.2.4. Per hitungan Luasan Ruang

(32)

Tabel 2.8. Perhitungan Luas Ruang Fasilitas Utama

Nama Ruang J umlah

Pengguna Per abotan Pendekatan

Per hitungan

Pengguna Per abotan Pendekatan

Per hitungan

1 orang Meja Komputer,

(33)

Ruang Tata

4 orang Peralatan Pembersih, 4

Pengguna Per abotan Pendekatan

Per hitungan

dan meja Literatur

(34)

Fasilitas Pelengkap

Nama Ruang J umlah

Pengguna Per abotan Pendekatan

Per hitungan

Toilet 30 orang Perlengkapan Mandi, Bak

Parkir Mobil 30 mobil

-

Total Selur uh Ruang 4210,2 m²

(35)

2.2.5. Pr ogr am Ruang

Program ruang yang ada pada Wisata Religi Pesarean Kh. Mohammad Kholil di Bangkalan adalah sebagai berikut :

1. Fasilitas Utama : Ruang Istirahat

Ruang Tirakat dan Munajat Ruang Serbaguna

Ruang Rapat

Toilet

2. Fasilitas Pengelola : Ruang Informasi Ruang Kepala Pengelola

Ruang Tata Usaha (TU) Ruang Administrasi Ruang Rapat

Ruang cleaning service Gudang Alat

Pos Satpam

3. Fasilitas Penunjang : Ruang Penjualan

Perpustakaan / Ruang Baca Galeri

Museum

Ruang Pemutaran Film dokumenter

4. Fasilitas Pelengkap : Lobby

(36)

BAB III

TINJ AUAN LOKASI P ERANCANGAN

3.1 Latar Belakang Pemilihan Lokasi

Kota Bangkalan terletak diantara 6 – 7 Lintang Selatan dan 112 – 113 Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Bangkalan yaitu 1.144 km². Kabupaten Bangkalan terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Seperti dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa tujuan utama perancangan “Wisata Religi Pesarean Kh. Mohammad kholil di Bangkalan” adalah mengenalkan dan menambah citra Kota Bangkalan pada masyarakat luas dengan meningkatkan kharisma Kh. Kholil sebagai salah satu tokoh agama yang menyebarkan agama Islam di Pulau Madura. Dalam menentukan lokasi perencanaan “Wisata Religi Pesarean Kh. Mohammad kholil di Bangkalan” berdasarkan antara lain :

- Adanya Makam Kh. Moh. Kholil yang terletak di Kota Bangkalan, Kecamatan Bangkalan, desa Martajasah di Jalan Raya Kh. Mohammad Kholil.

- Lokasi mudah dijangkau dan tersedia sarana transportasi yang melayani. - Tersedia fasilitas infrastruktur yang mendukung.

- Berdekatan dengan Makam Kh. Mohammad Kholil yang cukup termasyur. - Sesuai dengan Rencana Detail Tata Ruang Kota ( RDTK ) kota Bangkalan dari dinas Bappeda mengenai peruntukan lahan, bahwa lahan tersebut digunakan untuk fasilitas umum dan pariwisata.

- Ramai pengunjung mengingat lokasi site yang berdekatan dengan lokasi ziarah Kh. Mohammad kholil yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.

(37)

Gambar 3.1 Peta Kabupaten Bangkalan Sumber : Bappeda Kab. Bangkalan 2010

Pemilihan lokasi memang dipilih di sekitar area Pesarean Kh. Mohammad Kholil yang pada peta di atas ditunjukkan oleh nomer 4 karena pada lokasi sekitar pesarean yang paling mendukung untuk objek rancang Wisata Religi Kh. Mohammad Kholil. Selain pesarean, banyak fasilitas lain yang sangat mendukung dan berdekatan dengan objek wisata lain yang ada di kota Bangkalan seperti ditunjukkan pada peta pada nomer 1,2 dan 3.

3.2 Penetapan Lokasi

Sesuai dengan fungsinya sebagai tempat dan wadah wisata keagamaan, maka “Wisata Religi Pesarean Kh. Mohammad Kholil” membutuhkan beberapa persyaratan lokasi untuk menentukan lokasi yang sesuai dengan perencanaan “Wisata Religi Pesarean Kh. Mohammad Kholil” tersebut. Berdasarkan pertimbangan beberapa aspek, seperti kemudahan pencapaian, standart kebutuhan lahan, aktifitas penunjang dan pengaruh lingkungan maka pemilihan site yang sesuai berada di Jalan Raya pesarean Kh. Mohammad Kholil. Selain didasari keberadaan makam Kh. Mohammad Kholil, penetapan lokasi juga didukung

(38)

dengan keberadaan pusat pertokoan dan berbagai macam tempat penjualan jajanan dan senjata khas dari Madura yang berada berdekatan dengan lokasi site.

Jarak antara pesarean dan lokasi site yang berdekatan menjadikan pengunjung yang sedang berziarah ke pesarean Kh. Moh. Kholil lebih mudah mendatangi lokasi rancangan wisata religi ini.

Gambar 3.2 Lokasi Site Sumber : Analisa Penulis, 2010

Lokasi Site

- Lokasi Site : Jl. Raya Pesarean Kh. Mohammad Kholil - Kabupaten : Bangkalan

- Kecamatan : Bangkalan - Kelurahan : Martajasah

(39)

3.3 Kondisi Fisik Loka si 3.3.1. Exsisting Site

Site berada di Desa Martajasah dengan kondisi lingkungan yang masih hijau dan jauh dari kebisingan kota, sehingga lebih memberi rasa aman dan nyaman bagi para pengunjung. Berikut akan dijelaskan mengenai kondisi eksisting site pada lokasi site yang terletak pada jalan raya Pesarean Kh. Mohammad Kholil berdasarkan :

1. Ukuran Site

Kebutuhan ruang bangunan untuk proyek ini adalah sekitar 4200 m². Sedangakan luas keseluruhan site adalah sebesar ±7000 m².

Gambar 3.3. Site dengan luasnya Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan 2010

Luas keseluruhan kebutuhan ruang adalah : 4200 m2 jika ditambah dengan ruang luar sebesar 40% dari 7000 (2800) = 7000 m2

Koefisien Dasar Bangunan = 4200 m² Luas halaman / ruang luar = 2800 m²

2. Topografi

Wilayah perencannan berstruktur sedang yang merupakan lahan persawahan, kondisi tanahnya berada pada ketinggian 0.00 – 5.00 m di atas permukaan air laut.

3. Klimatologi Kondisi iklim setempat yaitu musim hujan dan musim kemarau.

81m

92m 82,5m

(40)

4. Kondisi Tanah

Areal objek rancangan dilihat dari tekstur tanahnya bertekstur sedang, dengan kemiringan 2-15 %.

( Sumber : BPS Bangkalan, “ Bangkalan dalam angka 2009-2010 “ )

Batasan Site

Utara : Areal Parkir Pesarean Selatan : Lahan Kosong Timur : Pertokoan, Pesarean Barat : Lahan Kosong

Lahan Kosong

Lahan Kosong

Area Parkir Pesarean

Per t okoan Pesar ean

(41)

3.3.2. Aksesibilitas

Pencapaian menuju lokasi Wisata religi dapat ditempuh melalui Jalan R.E Martadinata setelah melalui jalur utama yaitu jalan Raya Soekarno - Hatta. Pencapain kedua dapat ditempuh juga melalui jalan Kenanga. Aksesibilitas menuju lokasi sangat mudah ditempuh karena bisa dicapai melalui 2 jalur akses jalan.

Pencapaian menuju lokasi site juga dipermudah dengan adanya sarana transportasi yang dapat digunakan untuk menuju lokasi objek rancangan. Transportasi tersebut antara lain :

- Bus antar kota - Angkutan mini L300 - Mini bus

Kondisi jalan yang beraspal juga cukup baik, karena merupakan jalur untuk para peziarah yang datang berkunjung ke Pesrean Kh. Mohammad Kholil sehingga kondisi jalan sangat diperhatikan dengan baik di sekitar lokasi ini.

Gambar 3.4. Peta Lokasi Pencapaian Sumber : Analisa Penulis, 2010

sit e

(42)

3.3.3. Potensi Lingkungan

Keadaan bangunan di sekitar lokasi objek rancangan secara langsung mendukung kualitas objek rancangan ini pada nantinya. Adanya Pesarean Kh. Mohammad Kholil pada bagian timur site secara langsung akan sangat mendukung sarana dan prasarana pada objek rancangan ini.

Pusat pertokoan yang menjual barang-barang dan makanan khas Madura juga ikut membantu objek rancangan ini dari segi pengenalan objek rancangan. Pertokoan terletak di sebelah Utara dan sebelah Timur site.

Melangkah lebih jauh dari site, terdapat fasilitas pendidikan yaitu sebuah Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Bangkalan yang terletak di desa Ujung Piring yang juga menjadi potensi dan mendukung perancangan proyek wisata religi ini.

Pesar ean Kh. M ohammad Kholil

(43)

Fasilitas wisata kuliner juga mendukung pada perancangan proyek ini. Tidak terlalu jauh dari lokasi site, terdapat wisata kuliner yang terkenal yaitu Warung Ikan bakar yang sangat terkenal. Secara tidak langsung, adanya warung ini juga berpotensi terhadap dirancangnya kawasan wisata religi pesarean Kh. Mohammad Kholil ini.

Terdapat juga pendukung yang terletak berdekatan dengan lokasi site. Mercusuar yang terletak di desa Ujung Piring secara tidak langsung juga mendukung pada perancangan proyek ini. Lokasinya kurang lebih sekitar 2 km dari objek perancangan.

Warung Ikan bakar

(44)

3.3.4. Infr astr uk tur Kota

Infrastruktur kota di daerah ini sudah tersedia, karena sekitar site merupakan area fasilitas penduduk yang telah berrfungsi. Saluran air bersih dapat langsung diambil melalui saluran kota, jaringan listrik dan telepon juga telah tersedia.

a) Jaringan Listrik

Jaringan listrik pada lokasi ini merupakan jaringan tegangan tinggi terdapat di sepanjang Jl. Raya Pesarean Kh. Mohammad Kholil. Karena jaringan listrik di daerah ini selain diperuntukkan bagi permukiman warga juga digunakan bagi fasilitas pesarean yang ada di daerah ini.

b) Jaringan Air Bersih

Pelayanan air bersih untuk wilayah distrik ini dikelola oleh PDAM dengan jaringan yang sudah menjangkau keseluruhan wilayah tersebut. Penduduk di perumahan kampung yang belum terdistribusi jaringan PDAM menggunakan air sumur dan mesin pompa ( Sanyo )

c) Pedestrian

Pada wilayah ini terdapat pedestrian di sepanjang site, namun fungsi dari pedestrian ini berubah. Pedestrian digunakan para Pedagang Kaki Lima untuk menjual barang dagangannya. Dalam perancangan nantinya perlu pembinaan agar pedestrian dapat difungsikan sebagai mana mestinya sehingga pejalan kaki dapat merasa aman dan nyaman.

3.3.5. Per atur an Bangunan Setempat

Lokasi objek rancang “ Wisata Religi Pesarean Kh. Mohammad Kholil “ yang terletak di Jl. Raya Pesarean Kh. Moh. Kholil yang termasuk pada Kawasan Region IV dengan ketentuan, yaitu :

(45)

BAB IV

ANALISA PERANCANGAN

4.1. Analisa Site

Dalam perencanaan dan perancangan, analisa site mempunyai peranan penting dalam penentuan zonning, perletakan entrance atau pintu masuk, arah hadap bangunan dan tampilan bangunan.

4.1.1. Analisa Aksesibilitas

Pencapaian site lokasi dari daerah sekitarnya ditentukan berdasarkan pertimbangan terhadap :

1. Keleluasaan pengamatan untuk berorientasi terhadap obyek.

2. Ruang yang memiliki potensi sebagai titik pandang pengamat untuk mengenali obyek.

3. Sudut pandang ( orang berjalan, kendaraan )

4. Kecepatan maksimum kendaraan pada lalu lintas yang ada.

Pada lokasi site, keleluasaan untuk berorientasi terhadap obyek dapat diperoleh dari sisi Tenggara yaitu dari Pesarean Kh. Mohammad Kholil, karena dari sisi ini merupakan tempat yang ramai dikunjungi peziarah . Jadi potensi titik pandang pengunjung untuk mengenali objek berada pada bagian yang ditandai dengan lingkaran berwarna merah. Dari arah situlah pengunjung bisa leluasa mengamati lokasi site sembari mengunjungi makam Kh. Mohammad Kholil.

(46)

Sedangkan kecepatan maksimum pada jalan ini tidak terlalu tinggi, karena jalan ini hanya memiliki lebar 5 meter dan tidak terlalu padat. Berdasarkan penilaian-penilaian tersebut maka dapat ditentukan letak pintu masuk (entrance) dapat diletakkan pada sisi selatan site, yang merupakan jalan utama, memudahkan pengunjung memarkir kendaraannya seperti yang ditunjukkan oleh gambar 4.2. Letak Entrance pada Site di bawah ini.

Gambar 4.2. Lokasi Main Enterance Sumber : Analisa Penulis, 2010

Lokasi main enterance dari Jl. Raya Pesarean Kh. Moh. Kholil dengan kepadatan jalur kendaraan yang cukup rendah dengan asumsi kemudahan dalam pencapaiannya pada site bangunan Wisata Religi.

4.1.2. Analisa Iklim a) Orientasi Matahari

Site yang terletak di sebelah utara jalan ini memiliki orientasi menghadap ke arah tenggara, yaitu Pesarean Kh. Moh. Kholil. Untuk menghindari efek sinar matahari yang berlebihan yaitu dari arah utara ke arah barat, maka bukaan yang menghadap dua arah tersebut harus diminimalisir. Sisi barat perlu ditambahkan vegetasi berupa pohon-pohon tinggi dan rindang. Pohon-pohon ini berfungsi untuk mengurangi panas dan nantinya juga dapat menambah keindahan pada bangunan. Dinding bangunan yang menghadap ke sisi barat ini sebaiknya diberi

(47)

bukaan yang tidak terlalu besar dan ditambahkan kisi-kisi berupa bidang garis atau kanopi yang berfungsi meminimalkan panas yang masuk ke dalam bangunan. Pada bukaan semacam skylight cenderung diarahkan ke arah yang tidak terkena efek sinar matahari yaitu arah selatan. Untuk bangunan yang membutuhkan dan mengkondisikan udara buatan (AC), dihindarkan pembukaan yang terlalu besar agar udara buatan (AC) yang dipasang pada bangunan dapat bekerja secara optimal.Sedangkan pada sisi bagian timur perlu memaksimalkan bukaan pada dinding, agar pencahayaan alami pada pagi hari dapat maksimal. Untuk memperjelas dan melengkapi analisa, dapat dilihat pada gambar 4.3. berikut ini.

Gambar 4.3. Analisa Pengaruh Radiasi Sumber : Analisa Penulis, 2010 b) Pembayangan

Perletakan bangunan diperhatikan terhadap arah datangnya sinar matahari. Letak bangunan mempengaruhi pembayangan terhadap bangunan itu sendiri dan kemungkinan besar mempengaruhi warna, tekstur, dan tampilan bangunan.

UTARA

(48)

c) Pergerakan Udara

Indonesia yang memiliki iklim tropis lembab dengan kelembaban yang tinggi, temperatur yang tinggi dan curah hujan yang tinggi. Pergerakan udara dari Timur ke Barat dan sebaliknya. Dengan tingkat kelembaban yang tinggi, maka pada perancangan bangunan menggunakan 2 sistem penghawaan yaitu penghawaan alami dan penghawaan buatan.

Untuk memaksimalkan masuknya penghawaan alami yang dibutuhkan maka perlu adanya bukaan yang maksimal pada bagian Timur. Sedangkan pada bagian Barat juga perlu adanya bukaan, tetapi tidak perlu terlalu lebar. Karena bagian ini merupkan bagian yang paling banyak mendapatkan sinar matahari. Maka pada bagian barat perlu ditambahkan penghawaan buatan seperti Air

Conditioner ( AC ).

4.1.3 Analisa Lingkungan Sekitar

Dalam analisa lingkungan sekitar akan dijelaskan, diuraikan, digambarkan dan ditetapkan potensi-potensi lingkungan sekitar secara visual (view) dan bangunan sekitar yang potensial, yang dapat dijadikan orientasi.

a) Analisa view terhadap site - View dari tapak

View paling baik adalah pada sisi tenggara tapak, karena pada sisi lainnya view yang didapat kurang berpotensi. Pada sisi utara, view yang didapat hanya lahan parkir pesarean. Sedangkan pada view barat dan selatan hanya terdapat lahan kosong yang belum terbangun. Sehingga orientasi bangunan dapat ditetapkan ke arah tenggara, yaitu bagian yang diberi tanda positif (+) pada gambar 4.4. View dari Tapak yaitu Pesarean Kh. Mohammad Kholil.

+

(49)

- View ke tapak

View ke tapak paling banyak didapatkan dari Pesarean Kh. Mohammad Kholil karena pada daerah ini, banyak terdapat peziarah yang datang mengunjungi pesarean setiap harinya. Maka dari itu, view ke tapak paling banyak di dapat dari lokasi pesarean ini.

b) Bangunan yang potensial sebagai orientasi

Banyak bangunan yang terdapat disekitar lokasi site. Diantara beberapa bangunan yang berda di sekitar site, Pesarean Kh. Mohammad Kholil memiliki potensi yang baik untuk dijadikan orientasi site. Karena Pesarean Kh. Mohammad Kholil ini adalah bangunan yang baru direnovasi dengan gaya arsitektur islam modern.

Gambar 4.5. View ke Tapak

sit e

(50)

4.1.4. Analisa Zoning

Analisa zoning dapat didasarkan oleh hasil analisa kebisingan, kebisingan tertinggi dihasilkan dari jalan Raya Kh. Mohammad Kholil yang ditunjukkan oleh sketsa garis berwarna merah. Kebisingan sedang dihasilkan area parkir pesarean yang ditunjukkan oleh sketsa garis berwarna kuning. Sedangkan kebisingan rendah dihasilkan oleh lahan kosong pada bagian utara dan barat site yang ditunjukkan oleh sketsa garis berwarna biru.

Bagian yang berbatasan area dengan tingkat kebisingan tinggi dapat digunakan sebagai zona publik, dengan pertimbangan area publik tidak mengalami masalah jika berdekatan dengan area kebisingan. Bagian Utara yang berbatasan area dengan kebisingan sedang dapat digunakan sebagai zona semi publik. Sedangkan pada bagian yang berbatasan area dengan tingkat kebisingan rendah yaitu arah Barat dan Selatan dapat digunakan sebagai zona privat dengan pertimbangan bahwa zona privat membutuhkan ketenangan. Perletakkan zoning dapat dilihat pada gambar 4.8. Penzonningan berikut ini.

Gambar 4.7. Analisa Kebisingan

(51)

Keterangan :

: Zona Publik = Parkir Area dan Service Area

: Zona Semi Publik = Galeri, Museum dan perpustakaan : Zona Privat = Penginapan

4.2 Analisa Ruang

Analisa ruang dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai hubungan antar kelompok ruang yang terbentuk serta pola sirkulasi antar bangunan/fasilitas yang ada secara umum dan pola sirkulasi antar ruang yang terjadi secara khusus. Langkah-langkah yang dilakukan adalah membuat diagram hubungan antar ruang untuk menentukan tingkat hubungan ruang yang ada.

4.2.1. Or ganisasi Ruang

Dari pemrograman ruang berdasarkan kebutuhan yang telah dilakukan di bab 2 sebelumnya, telah ditemukan ruang-ruang dengan perbedaan fungsi, kebutuhan, aktivitas yang terjadi di dalamnya, dan juga perbedaan pengguna yang direncanakan hadir dalam perancangan proyek. Dari beragam jenis ruang-ruang yang ada tersebut, perlu dilakukan sebuah pengorganisasian ruang agar ruang-ruang tersebut dapat hadir dengan perancangan yang lebih terarah, teratur, terencana dan tidak abstrak penempatannya sehingga secara pasti untuk mempermudah pengguna dalam menggunakan ruang-ruang tersebut nantinya. Ruang-ruang yang ada dalam perencanaan berdasarkan pemrograman kebutuhan ruang yang telah dilakukan (masih bersifat ruang secara umum) adalah sebagai berikut.

Tabel 4.1. Organisasi Ruang No Klasifikasi Fasilitas yang dibutuhkan

(52)

2 Fasilitas Penunjang Ruang penelitian Ruang pamer

Perpustakaan / Ruang baca Ruang penjualan

Ruang tunggu Ruang serbaguna

3 Fasilitas Pengelola Ruang kepala pengelola Wisata Ruang biro administrasi

Ruang staff / karyawan Ruang cleaning servis Ruang istirahat Ruang rapat Ruang security

4 Fasilitas Pelengkap Servis area Parkir area

4.2.2. Hubungan Ruang dan Sirkulasi

Hubungan ruang menjelaskan tentang seberapa dekat keterkaitan antara satu ruang dengan ruang lainnya. Karena suatu hubungan ruang dapat mempengaruhi atau menjadi pertimbangan terhadap perletakan ruang atau bentukan rancangan nantinya. Namun sebelum hubungan antar ruang perlu dijelaskan terlebih dahulu hubaungan antar massa bangunan, karena bangunan ini nantinya dibuat dengan banyak massa.

Berikut adalah gambar 4.9. yang menjelaskan diagram hubungan antar massa dan sirkulasi berdasarkan fasilitas bangunannya.

Keter angan :

(53)

Setelah diketahui hubungan antar massa, maka selanjutnya dibuat hubungan antar ruang berdasarkan masing-masing fasilitas yang ada. Gambar 4.10. berikut ini akan ditunjukkan hubungan antar ruang fasilitas utama.

Klasifikasi Fasilitas yang dibutuhkan Fasilitas Utama Ruang tidur pria

Ruang tidur wanita Ruang berkumpul Ruang tirakat Ruang beribadah

Klasifikasi Fasilitas yang dibutuhkan Fasilitas Penunjang Ruang penelitian

Ruang pamer

Pepustakaan/Ruang Baca Ruang penjualan

Ruang tunggu Ruang serbaguna

Klasifikasi Fasilitas yang dibutuhkan Fasilitas Pengelola Ruang kepala pengelola

Ruang biro administrasi Ruang staff/karyawan Ruang cleaning service Ruang istirahat

Ruang rapat Ruang security

Gambar 4.10. Diagram Hubungan ant ar Ruang Fasilit as Ut ama

Gambar 4.11. Diagram Hubungan ant ar Ruang Fasilit as Penunjang

(54)

Keterangan : : Dekat : Cukup Dekat : Jauh

Sedangkan sirkulasi ruangan dan massa antar bangunan disesuaikan dengan konsep sirkulasi yang ada. Sirkulasi antar ruangan dalam masing-masing massa menggunakan pola linier dimana pola ini mengarah dari yang publik, semi publik sampai menuju ke yang private

Gambar 4.13. Skema Sirkulasi antar Ruang Sumber : Analisa Penulis, 2010

Ruang Luar Privat e

Semi Publik

Semi Publik

(55)

4.2.3. Diagr am Abstr ak

Main Enter ance

Par kir

Diagram 4.2. Organisasi Ruang Sumber : Analisa Penulis, 2010

(56)

4.3. Analisa Bentuk dan Tampilan 4.3.1. Analisa Bentuk Massa Bangunan

Bentuk persegi dikombinasikan dengan sedikit lingkaran masih menjadi tolak ukur dalam perancangannya. Pada objek rancang wisata religi pesarean Kh. Mohammad Kholil ini, bentukannya juga didominasi oleh sebuah bentuk persegi, mengikuti bentukan masjid yang ada di area pesarean Kh. Kholil.

Gambar 4.14. masjid Kh. Moh. Kholil Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2010

Bentuk masjid pada gambar di atas adalah sebuah persegi yang dikombinasikan bentuk lingkaran pada kubah masjidnya. Bentukan seperti itulah yang akan mendominasi pada sebuah objek rancang Wisata Religi Pesarean Kh. Moh. Kholil. Bentuk lingkaran dipilih mengikuti kubah masjid. Lingkaran juga berarti sama rata kedudukannya. Jadi, semua manusia kedudukannya sama rata di hadapan Tuhan kaecuali amal dan perbuatannya yang membedakan.

(57)

Tipologi pondokan pada studi kasus Wisata Religi Sunan Gresik

Gambar 4.16. Pondokan

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2010

(58)

4.3.2. Analisa Tampilan

Gambar 4.17. Analisa Fasade Sumber : Analisa Penulis, 2010

(59)

BAB V

KONSEP PERANCANGAN

Dalam sebuah proses perancangan, diperlukan adanya analisa dan pembuatan konsep yang didasari atas hasil analisa yang di dalamnya terdapat penyelesaian – penyelesaian terhadap permasalahan yang ada tersebut. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai analisa dan konsep rancangan yang diambil untuk diterapkan pada Wisata Religi Pesarean KH. Mohammad Kholil di Bangkalan ini.

5.1. Tema Rancangan

Tema rancangan yang diambil adalah Kontekstual. Tema rancangan ini diambil agar memiliki kesatuan visual dari lingkungan yang telah ada, mampu memperkuat dan mengembangkan karakteristik, sehingga perancangan baru nantinya tidak akan jauh berbeda dari konteks yang telaah ada, yaitu pesarean Kh. Mohammad kholil.

Untuk lebih mendalam lagi tentang penerapan tema rancangan kontekstual ini, berikut pengertian kontekstual menurut beberapa tokoh.

a. Webster : Seluruh situasi lingkungan yang berkaitan dengan peristiwa tertentu, kepribadian, kreasi dan lain-lain.

b. Stern : Bentuk sebuah desain harus diturunkan dimana bentuk itu akan ditempatkan, setidaknya dikaitkan dalam 3 hal, yaitu bentuk, warna dan skala.

c. Schinkel : Kondisi lingkungan sekitar dimana bangunan tersebut dibangun termasuk sejarahnya.

d. Richardson : Lebih kepada local atau lingkungan menjadi inspirasi dalam mengolah bangunan.

(60)

yang baru namun tetap tidak meninggalkan perbedaan yang terlalu jauh dengan bangunan lama yang menjadi konteks.

Dari tema yang telah ditentukan tersebut kemudian diterapkan pendekatan rancangan, yakni Analogi. Berikut pengertian analogi menurut Sullivan, Webster, Sola & Rubio.

a. Sullivan : Mempresentasikan sesuatu melalui bentuk-bentuk organik b. Webster : Kemiripan sesuatu dengan yang lain sebagai dasar

menyamakan sesuatu.

c. Sola & Rubio : Tersusun dari beberapa kemungkinan dan tidak bisa di

prediksikan pemaknaannya.

Pendekatan rancangan analogi, sebagai dasarnya adalah masjid pada pesarean Kh. Mohammad Kholil. Jadi perancangan bangunan pada site baru nantinya mempunyai kesamaan dengan masjid pada pesarean. Hanya saja mengalami sedikit penambahan atau modifikasi sederhana.

5.2. Konsep Tapak

5.2.1. Konsep Zoning

Pembagian zona pada Wisata Religi Pesarean Kh. Mohammad Kholil ini dibagi menjadi tiga zona, diantaranya zona publik, semi privat dan privat.

Gambar 5.1. Zoning

pesarean site

(61)

5.2.2. Konsep Tatanan Massa

Penyelesaian tatanan massa berdasarkan tema Kontekstual yaitu tatanan massa yang memberi kesan local, dimana lingkungan menjadi inspirasi dalam mengolah bangunan, dimana lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan pesarean Kh. Mohammad Kholil. Tatanan massa juga diselesaikan berdasarkan analisa matahari, kebisingan dan sirkulasinya.

1. Analisa matahari

• Penyelesaian tatanan massa berdasarkan konsep dan analisa matahari yaitu dengan meletakkan zona privat pada tempat yang terlindungi dari sinar matahari Barat, karena beban panas matahari Barat yang besar.

Area publik : yang termasuk pada area publik adalah fasilitas pelengkap dan fasilitas parkir

Area semi publik : yang termasuk dalam area semi publik adalah museum, perpustakaan dan kantor pengelola

Area privat : yang termasuk dalam area privat adalah penginapan

Gambar 5.2. Konsep tatanan massa berdasarkan analisa matahari UTARA

Pr ivat

Semi Publik

Semi Publik

(62)

• Sirkulasi yang digunakan adalah sirkulasi yang mengarah pada bangunan private kemudian diteruskan kearah pesarean.

• Analisa Kebisingan

Tingkat kebisingan yang paling tinggi berada pada bagian Selatan tapak yaitu pada jalan Raya Pesarean Kh. Mohammad Kholil. Tingkat kebisingan sedang pada bagian Timur tapak. Sedangkan tingkat kebisingan terendah pada bagian Utara dan selatan tapak. Untuk mengurangi kebisingan dalam tapak maka zona privat diisolasi terhadap pusat kebisingan dengan peletakkan fungsi massa lainnya.

Gambar 5.3. Konsep sirkulasi tatanan massa

Gambar 5.4. Konsep tatanan massa berdasarkan analisa kebisingan

Pr ivat

Semi publik

Semi publik

Vegetasi Vegeta si

UTARA

UTARA

Vegetasi

Pr ivat

Semi Publik

Semi Publik

Par kir

(63)

5.2.3. Konsep Or ientasi Massa Bangunan

Orientasi bangunan mengarah ke arah tenggara, dimana massa bangunan mengarah pada masjid pesarean Kh. Mohammad Kholil. Untuk mempertegas orientasi, pada sisi tenggara terdapat vocal point. Pada sisi selatan dimaksimalkan bukaan-bukaan untuk memperoleh pencahayaan yang maksimal. Sedangkan bidang-bidang dinding yang berada di sisi Barat diberi shading sehingga panas sinar matahari yang berlebihan pada sisi Barat dapat dikurangi.

5.2.4. Konsep Entrance

Entrance terletak pada sisi Selatan Jl. Raya pesarean Kh. Mohammad Kholil yang merupakan satu-satunya akses menuju ke tapak. Untuk sirkulasi dibuat simple, masuk kedalam area bangunan melalui pintu masuk (in), lalu menuju area parkir atau dapat langsung keluar melalui pintu keluar (out).

Gambar 5.6. Konsep Entrance

Gambar 5.5. Konsep orientasi massa bangunan UTARA

IN

Semi publik

Pr ivat Semi publik

(64)

5.3. Konsep Tampilan Bangunan 5.3.1. Konsep Bentukan

Bentuk dasar bangunan merupakan gabungan bentuk geometri kotak dan lingkaran. kedua bentuk ini merupakan tipologi dari masjid pesarean Kh. Mohammad Kholil yang dijadikan sebagai konteks. Setiap massa bangunan memiliki bentuk yang berbeda – beda satu sama lain.

penggabungan kedua bentuk dasar, serta dilakukan penambahan bentuk (subtraction form). Penggabungan dapat berupa penggabungan :

•Kotak dan kotak - Kotak dan lingkaran

Sehingga tercipta sebuah permainan bentuk yang menambah makna dari bentuk tersebut, namun tetap dapat dikenali bentuk dasarnya.

+ atau +

(65)

5.3.2. Konsep Fasade

Konsep fasade dipengaruhi oleh tema awal yaitu Kontekstual, dalam olah fasade yang dihadirkan adalah permainan bentuk serta warna. Setiap massa bangunan memiliki karakter fasade dan warna yang sama dengan yang lain mengingat konteksnya adalah masjid pesarean.

• Konsep ornamen pada fasade

Pada bentuk ditambahkan detail yang sesuai dengan tema yaitu detail tampilan pengulangan bentukan lengkung, seperti yang diterapkan pada masjid pesarean Kh. Mohammad Kholil sebagai konteksnya.

Bidang lingkaran

Gambar 5.8. Konsep fasade

(66)

• Konsep warna pada tampilan :

• setiap massa bangunan memiliki warna yang sama

-warna yang digunakan adalah warna yang menunjukkan tema kontekstual yaitu masjid pesarean.

- warna abu-abu : memberi kesan damai dan stabil juga terkesan luas.

- warna emas : membangkitkan energy dan mood - warna abu-abu muda : menciptakan keheningan

5.3.3. Konsep Ruang Dalam

Ruang-ruang utama seperti ruang pamer, galeri, ruang baca, dan museum dirancang lebih luas dan lebih lebar. Karena ruang-ruang inilah yang banyak dikunjungi para pengunjung.

Sedangkan untuk menghubungkan antara lantai yang satu dengan lantai yang lainnya dalam bangunan digunakan tangga. Tangga menuju ruang pengelola diberi pembatas dinding massive karena ruang pengelola merupakan area private yang letaknya di lantai2. Selain itu pemberian dinding massive berguna agar tangga tidak terkesan sebagai fasilitas public.

Gambar 5.9. Konsep penataan ruang

Ruang utama Ruang

utama Ruang

utama

(67)

Tampilan ruang pamer dibuat menarik dengan tujuan menarik minat para pengunjung yang datang dan agar bisa menikmati dengan santai. Agar lebih terkesan sejuk, ditambahkan tanaman hias di samping dinding dengan ukiran kayu. Sedangkan pada ruang baca, diciptakan kesan yang tenang, mengingat para pengunjung membutuhkan suasana yang tenang untuk membaca.

5.3.4. Konsep Ruang Luar

Ruang luar dibentuk bersamaan dengan bentukan tatanan massa. Pohon pohon tinggi digunakan sebagai peneduh dan sebagai pengarah antar massa bangunan. Pemberian kolam di tengah - tengah massa bangunan berfungsi sebagai vocal point pada tapak.

Gambar 5.10. Konsep ruang pamer

(68)

Selain pemberian pohon-pohon, sebagai peneduh dan agar para pengunjung bs bersantai menikmati ruang luar, ditambahkan juga payung-payung peneduh di samping kolam.

Gambar 5.13. Konsep Ruang Luar Gambar 5.12. Konsep Sirkulasi antar massa

Bangunan

Ruang Luar

Penginapan

Galeri dan Kantor

Museum dan perpus

(69)

BAB VI

APLIKASI RANCANGAN

6.1.Aplikasi Tapak

6.1.1 Aplikasi Zoning

`

Gambar 6.1. Lay Out Plan

U

Area publik : yang termasuk pada area publik adalah fasilitas pelengkap dan fasilitas parkir

Area semi privat : yang termasuk dalam area semi privat adalah museum, perpustakaan dan kantor pengelola

(70)

6.1.2. Aplikasi Tatanan Massa

Penyelesaian tatanan massa berdasarkan tema Kontekstual yaitu tatanan massa yang memberi kesan local, dimana lingkungan menjadi inspirasi dalam mengolah bangunan, dimana lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan pesarean Kh. Mohammad Kholil. Tatanan massa juga diselesaikan berdasarkan analisa matahari, kebisingan dan sirkulasinya.

- Perletakkan zona privat dengan dikelilingi massa bangunan lain dan vegetasi juga untuk mengurangi kebisingan dalam tapak, dengan vegetasi di sekeliling tapak sebagai barrier.

- Sirkulasi yang digunakan adalah sirkulasi yang mengarah pada bangunan private kemudian diteruskan kearah pesarean.

(71)

6.1.3. Aplikasi Or ientasi Massa Bangunan

Orientasi bangunan mengarah ke arah tenggara, dimana massa bangunan mengarah pada masjid pesarean Kh. Mohammad Kholil. Untuk mempertegas orientasi, pada sisi tenggara terdapat vocal point. Pada sisi selatan dimaksimalkan bukaan-bukaan untuk memperoleh pencahayaan yang maksimal. Sedangkan bidang-bidang dinding yang berada di sisi Barat diberi shading sehingga panas sinar matahari yang berlebihan pada sisi Barat dapat dikurangi.

Gambar 6.4. Vocal Point sebagai pengarah orientasi

(72)

6.1.4. Aplikasi Entrance

Entrance terletak pada sisi Selatan Jl. Raya pesarean Kh. Mohammad Kholil yang merupakan satu-satunya akses menuju ke tapak. Untuk sirkulasi dibuat simple, masuk kedalam area bangunan melalui pintu masuk (in), lalu menuju area parkir atau dapat langsung keluar melalui pintu keluar (out).

(73)

6.2. Aplikasi Tampilan Bangunan 6.2.1. Aplikasi Bentukan

Bentuk dasar bangunan merupakan gabungan bentuk geometri kotak dan lingkaran. kedua bentuk ini merupakan tipologi dari masjid pesarean Kh. Mohammad Kholil yang dijadikan sebagai konteks. Setiap massa bangunan memiliki bentuk yang berbeda – beda satu sama lain.

6.2.2. Aplikasi Fasade

Konsep fasade dipengaruhi oleh tema awal yaitu Kontekstual, dalam olah fasade yang dihadirkan adalah permainan bentuk serta warna. Setiap massa bangunan memiliki karakter fasade dan warna yang sama dengan yang lain mengingat konteksnya adalah masjid pesarean.

(74)

Gambar 6.8. Fasade Penginapan

Gambar 6.9. Fasade Galeri dan Kantor Pengelola

(75)

6.3. Aplikasi Ruang Dalam

Ruang-ruang utama seperti ruang pamer, galeri, ruang baca, dan museum dirancang lebih luas dan lebih lebar. Karena ruang-ruang inilah yang banyak dikunjungi para pengunjung. Sedangkan untuk menghubungkan antara lantai yang satu dengan lantai yang lainnya dalam bangunan digunakan tangga. Tangga menuju ruang pengelola diberi pembatas dinding massive karena ruang pengelola merupakan area private yang letaknya di lantai2. Selain itu pemberian dinding massive berguna agar tangga tidak terkesan sebagai fasilitas public.

Tampilan ruang pamer dibuat menarik dengan tujuan menarik minat para pengunjung yang datang dan agar bisa menikmati dengan santai. Agar lebih terkesan sejuk, ditambahkan tanaman hias di samping dinding dengan ukiran kayu. Sedangkan pada ruang baca, diciptakan kesan yang tenang, mengingat para pengunjung membutuhkan suasana yang tenang untuk membaca.

Gambar 6.11. Penataan ruang dalam

(76)

6.4. Aplikasi Ruang Luar

Ruang luar dibentuk bersamaan dengan bentukan tatanan massa. Pohon pohon tinggi digunakan sebagai peneduh dan sebagai pengarah antar massa bangunan. Pemberian kolam di tengah - tengah massa bangunan berfungsi sebagai vocal point pada tapak.

Selain pemberian pohon-pohon, sebagai peneduh dan agar para pengunjung bs bersantai menikmati ruang luar, ditambahkan juga paying-payung peneduh di samping kolam.

Gambar 6.15. Pemberian peneduh payung Gambar 6.14. Pemberian pohon sebagai peneduh

(77)

DAFTAR PUSTAKA

www.google.com/infobangkalan

www.google.com/pesareankh.mohammadkholil Panduan Penulisan Proposal Tugas Akhir, 2010

Dinas Pekerjaan Umum dan Cipta Karya Kabupaten Bangkalan, 2010 Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Bangkalan, 2010

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bangkalan, 2010 Dinas Bakesbangpol Kabupaten Bangkalan, 2010

Hasil Pengamatan Lapangan, 2010 Analisa Penulis, 2010

Gambar

Tabel 2.7. Aktifitas Pengelola
Gambar 3.1 Peta Kabupaten Bangkalan Sumber : Bappeda Kab. Bangkalan 2010
Gambar 3.2 Lokasi Site
Gambar 3.4. Peta Lokasi Pencapaian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pertimbangan diatas, dan analisa-analisa yang sudah dilakukan pada bab-bab sebelumnya terhadap situasi sekitar lokasi yang diambil dan peraturan pemerintah Tuban

Kesimpulan dalam penelitian ini: (1) Objek Wisata Danau Teluk Gelam memiliki iklim Tipe B, dengan keadaan cuaca yang sejuk, (2) Dilihat dari keberadaannya lokasi Objek

Keadaan Sarana dan Prasarana di lokasi Objek Wisata Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser Bukit Lawang, (3).. Sapta pesona di lokasi

Jika dibandingkan dengan Pantai Tanjung Aan dan Pantai Mawun, fasilitas sekunder di Pantai Gerupuk dapat dikatakan lebih unggul. Di sekitar lokasi objek wisata terdapat 7

• Reciprocal Frame Architecture, dijadikan tema rancangan yang diaplikasikan pada objek rancangan, sehingga dari sisi arsitektur bangunan akan dapat mencritakan sebuah bangunan

Selain menentukan lokasi yang strategis, memilih tapak dengan kondisi yang mendukung keberadaan pasar terapung dan area wisata ini sangat menentukan prospek

Tema yang digunakan pada objek rancangan yakni Biomimicry dalam Arsitektur, maka dalam perancangan bangunan adalah mengikuti suatu bentuk objek dalam tumbuhan

Hasil penelitian pada objek Masjid dan Lapangan Haji Agama Islam ditemukan elemen hardscape keras berjumlah 6 elemen, sedangkan elemen softscapenya lunak terdiri dari 6 jenis kategori