ANALISIS SIKAP SISWA TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM PRAKTIK INDUSTRI DALAM PENDIDIKAN SISTEM GANDA DITINJAU DARI PRESTASI BELAJAR DAN PEKERJAAN ORANG TUA
Studi Kasus pada “SMK Sanjaya Pakem”
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Akuntansi
Oleh :
FB. BYAR TRI PARYONO NIM : 001334108
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
SKRIPSI
ANALISIS SIKAP SISWA TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM PRAKTIK INDUSTRI DALAM PENDIDIKAN SISTEM GANDA DITINJAU DARI PRESTASI BELAJAR DAN PEKERJAAN ORANG TUA
Studi kasus pada “SMK Sanjaya Pakem”
Oleh :
FB. BYAR TRI PARYONO
NIM : 001334108
Telah disetujui oleh :
Pembimbing
SKRIPSI
ANALISIS SIKAP SISWA TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM PRAKTIK INDUSTRI DALAM PENDIDIKAN SISTEM GANDA DITINJAU DARI PRESTASI BELAJAR DAN PEKERJAAN ORANG TUA
Studi kasus pada “SMK Sanjaya Pakem”
Dipersiapkan dan ditulis oleh :
FB. BYAR TRI PARYONO
NIM : 001334108
Telah dipertahankan didepan Panitia Penguji Pada tanggal 1 Mei 2007
dan dinyatakan telah memenuhi syarat
Susunan Panitia Penguji
Nama Lengkap Tanda Tangan
Ketua Drs. Sutarjo Adisusilo.,J.R. ...
Sekretaris S.Widanarto P.,S.Pd.,M.Si. ...
Anggota Drs. Fx. Muhadi, M.Pd ...
Anggota S.Widanarto P.,S.Pd.,M.Si. ...
Anggota Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. ...
Yogyakarta, 1 Mei 2007
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas sanata Dharma
Dekan,
MOTTO
Kerjakanlah segala sesuatu dengan sepenuh hati, bukan hanya karena orang lain mengatakan bahwa anda harus mengerjakannya, melainkan karena anda percaya bahwa anda harus mengerjakannya.
( J. D. Walters )
Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. ( PKH 3:11 )
Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan kamu akan menerimannya.
HALAMAN PERSEMBAHAN
Hasil karya berupa skripsi ini kupersembahkan pada :
Universitas Sanata Dharma
Papa “J” dan Bunda Maria
Bapak dan Ibu yang terkasih, “aku telah menjadi Sarjana”
Kakong dan Simbok
Mas Irwan dan Mas Gagat
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini
tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan
dalam kutipan daftar pustaka,sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 1 Mei 2007
Penulis
ABSTRAK
ANALISIS SIKAP SISWA TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM PRAKTIK INDUSTRI DALAM PENDIDIKAN SISTEM GANDA
DITINJAU DARI PRESTASI DAN PEKERJAAN ORANG TUA
Studi Kasus di “SMK Sanjaya Pakem”
FB. Byar Tri Paryono Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta 2007
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) sikap siswa terhadap pelaksanaan Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda, (2) perbedaan sikap siswa terhadap pelaksanaan Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda ditinjau dari prestasi belajar, (3) perbedaan sikap siswa terhadap pelaksanaan Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda ditinjau dari pekerjaan orang tua. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SMK Sanjaya Pakem, Sleman, Yogyakarta pada bulan Maret 2006 yang berjumlah 112 siswa. Penulis mengambil sampel sebanyak 80 siswa dengan teknik proportional random
sampling, sedangkan pengumpulan data menggunakan teknik kuesioner dan
dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan Multiattribute Attitute Model
(MAM) dan Chi – Square dengan taraf signifikansi 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) sikap siswa terhadap pelaksanaan Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda adalah 24,9064 ini menunjukkan sikap yang sangat baik / sangat positif, (2) ada perbedaan sikap siswa terhadap pelaksanaan Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda
ditinjau dari prestasi belajar ( 2 13,460 2 3,841
tabel
hitung
), (3) ada perbedaan
sikap siswa terhadap Program pelaksanaan Praktik Industri dalam Pendidikan
Sistem Ganda ditinjau dari pekerjaan orang tua ( 2 4,237 2 3,841
tabel hitung
ABSTRACT
THE ANALYSIS OF STUDENTS’ ATTITUDE TOWARD INDUSTRIAL PRACTICE PROGRAM IN DUAL EDUCATION SYSTEM BASED ON
THE STUDENTS’ ACHIEVEMENTS AND THEIR PARENTS’ VOCATION
A Case Study at “SMK Sanjaya Pakem”
FB. Byar Tri Paryono Sanata Dharma University
Yogyakarta 2007
This research was aimed to find out: (1) the students’ attitudes toward the implementation of Industrial Practice program in Dual System Education, (2) the students’ attitudes difference toward the implementation of Industrial Practice program in Dual System Education viewed from the perspective of students’ achievement, (3) the students’ attitudes difference toward the implementation of Industrial Practice program in Dual System Education viewed from the perspective of parents’ vocation.
The population included in this research was the third year students of SMK Sanjaya Pakem, Sleman, Yogyakarta from March 2006 consisted of 112 students. The writer took 80 students from the population for the research sample by Proportional Random Sampling technique, and to gather the data, questionnaire and documentation were used. The data analysis techniques used was Multiattribute Attitude Model (MAM) and Chi Square with 5% significant level.
The results of the research indicated that: (1) the students’ attitude toward the implementation of Industrial Practice in Dual System Education was 24,9064 it means highly positive, (2) from the perspective of the students’ achievement, there was a difference of the students’ attitudes towards the implementation of Industrial Practice in Dual System Education
( 2 13,460 2 3,841
table
count
), (3) from the perspective of parents’ vocation,
there were different attitudes towards the implementation of Industrial Practice in
Dual System Education ( 2 4,237 2 3,841
table
count
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Pengasih atas
berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapatmenyelesaikan penulisan skripsi
yang berjudul “Analisis Sikap Siswa Terhadap Pelaksanaan Program Praktik
Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda Ditinjau dari Prestasi Belajar dan
Pekerjaan Orang Tua”.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sanata Dharma.
Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian penulisan skripsi ini tidak
lepas dari bantuan dan dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis ingin
menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada :
1. Bapak T. Sarkim., M.Ed, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Bapak Drs. Sutarjo Adisusilo JR, selaku Ketua Jurusan Ilmu Pengetahuan
Sosial Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
3. Bapak S. Widanarto P. S. Pd., M. Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Akuntansi.
4. Bapak Drs. Fx. Muhadi, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing yang dengan
sabar telah memberikan petunjuk, pengarahan, bimbingan dalam penulisan
5. Siswa-siswi SMK Sanjaya Pakem yang telah meluangkan waktu guna mengisi
kuesioner yang diberikan kepada penulis guna menyelesaikan skripsi ini.
6. Seluruh Dosen Program Studi Pendidikan Akuntansi dan Karyawan
Universitas Sanata Dharma yang telah membantu selama menuntut ilmu di
Sanata Dharma hingga selesai.
7. Bapak dan Ibu yang telah memberikan dorongan dan bantuan untuk
menyelesaikan skripsi ini.
8. Kakong dan Simbok yang selalu mendoakanku dan menemaniku selama
kuliah.
9. Mas Irwan, Mas Gagat, yang telah memberikan dorongan dan bantuan untuk
menyelesaikan skripsi ini.
10.Om Chi dan Bulik Tri, aku sudah jadi dosen beneran.
11.Dek Anty yang selalu mendampingi dan memotivasi dalam menyelesaikan
skripsi ini.
12.Rekan-rekan seperjuangan, senasib dan sepenanggungan, khususnya
mahasiswa PAK C Angkatan 2000 (Uki, Ari Franky, Sigit, Todi, Hendy,
Iswenang dan seterusnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu) yang
telah memberikan dorongan selama menyusun skripsi dan dukungan dalam
menghadapi ujian sarjana, buat teman-teman yang masih berjuang
“Semangat”
13.Rekan-rekan PAK B Angkatan 2000 (Yulek, Setyo, Catur, Qomar, Buncis,
saya sebutkan satu persatu) yang telah memberikan dorongan selama
menyusun skripsi.
14.Ari koclok terima kasih atas pinjaman komputernya, nasehatnya dan memberikan semangat serta masukannya yang bermanfaat. Sing jelas aku wis
dadi Sarjana……..
15.Indro kita sudah jadi Sarjana
16.Tarno dan Juragan terima kasih bimbingannya dan masukannya. Kapan turu
nang omahku maneh ?
17.Buat Simik makasih Printernya dan Obrolannya selama menjadi
pengangguran.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari sepenuhnya bahwa
skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan hati terbuka penulis
menerima segala kritik dan saran serta usulan demi perbaikan skripsi ini.
Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak yang membacanya.
Yogyakarta, Mei 2007
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...i
HALAMAN PERSETUJUAN...ii
HALAMAN PENGESAHAN...iii
HALAMAN MOTTO...iv
HALAMAN PERSEMBAHAN...v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...vi
ABSTRAK...vii
ABSTRACT...viii
KATA PENGANTAR...ix
DAFTAR ISI...xii
DAFTAR TABEL...xv
BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Batasan Masalah... 3
C. Rumusan Masalah ... 3
D. Tujuan Penelitian... 3
E. Manfaat Penelitian... 4
BAB II KAJIAN PUSTAKA... 5
A. Tinjauan Teoretik ... 5
1. Pendidikan Sistem Ganda di SMK ... 5
a. Sekolah Menengah Kejuruan ... 5
b. Pendidikan Sistem Ganda ( PSG )... 16
1) Pengertian Pendidikan Sistem Ganda ( PSG )... 16
2) Tujuan Pendidikan Sistem Ganda ( PSG ) ... 16
3) Standar Profesi Pendidikan Sistem Ganda ( PSG )... 17
4) Keuntungan Pendidikan Sistem Ganda ( PSG ) ... 18
2. Sikap Terhadap Pendidikan Sistem Ganda ... 19
b. Karakteristik Sikap ... 19
c. Struktur Sikap... 21
d. Pembentukan Sikap... 21
e. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap terhadap PSG... 23
3. Prestasi Belajar ... 26
4. Pekerjaan Orang Tua ... 31
B. Hasil Penelitian yang Relevan... 33
C. Kerangka Berpikir ... 35
D. Hipotesis Penelitian ... 36
BAB III METODE PENELITIAN... 37
A. Jenis Penelitian... 37
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 37
C. Subjek dan Objek Penelitian ... 37
D. Populasi dan Sampel... 38
E. Variabel Penelitian dan Pengukurannya ... 39
F. Data yang Dicari... 39
G. Teknik Pengumpulan Data... 40
H. Teknik Pengujian Instrumen ... 40
I. Teknik Analisis Data ... 45
BAB IV HASIL TEMUAN LAPANGAN...49
A. Data kelembagaan...49
B. Sejarah Singkat Sekolah...49
C. Personalia dan Tugasnya ...50
D. Sarana Sekolah...63
BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN...65
A. Deskripsi Data ...65
B. Pengujian Hipotesis ...72
1. Sikap siswa SMK Sanjaya Pakem terhadap pelaksanaan
Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda (PSG)... 75
2. Perbedaan sikap siswa SMK Sanjaya Pakem terhadap atribut kegiatan Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda (PSG) ditinjau dari prestasi belajar. ... 75
3. Perbedaan sikap siswa SMK Sanjaya Pakem terhadap atribut kegiatan Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda (PSG) ditinjau dari pekerjaan orang tua. ... 76
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN...78
A. Kesimpulan...78
B. Keterbatasan Penelitian...78
C. Saran ...79
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Daftar nama-nama guru... 55
Tabel 4.2 Daftar nama wali kelas SMK Sanjaya... 58
Tabel 5.1 Pedoman Interpretasi Penilaian Prestasi Belajar... 66
Tabel 5.2 Deskripsi Jenis Pekerjaan Orang Tua... 66
Tabel 5.3 Hasil Penilaian Siswa ... 67
Tabel 5.4 Urutan Prioritas Kepentingan ... 68
Tabel 5.5 Bobot Kepentingan... 69
Tabel 5.6 Skor Sikap... 69
Tabel 5.7 Kotingensi Sikap Siswa Terhadap Program PI Ditinjau dari Prestasi belajar ... 73
Tabel 5.8 Kotingensi Sikap Siswa Terhadap Program PI Ditinjau dari Pekerjaan orang tua ... 74
Tabel 5.9 Perhitungan Nilai Ideal dan Nilai Belief Atribut Pelaksanaan... 96
Tabel 5.10 Perhitungan Nilai Ideal dan Nilai Belief Atribut Pelayanan... 100
Tabel 5.11 Perhitungan Nilai Ideal dan Nilai Belief Atribut Ketelitian ... 102
Tabel 5.12 Perhitungan Sikap Siswa Terhadap Atribut Pelaksanaan... 104
Tabel 5.13 Perhitungan Sikap Siswa Terhadap Atribut Pelayanan ... 106
Tabel 5.14 Perhitungan Sikap Siswa Terhadap Atribut Ketelitian... 108
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan bagian utama pembangunan sumber daya
manusia, harus secara jelas membentuk peserta didik menjadi “aset bangsa”
yaitu sumber daya manusia dengan keahlian profesional yang dimiliki dapat
menjadi produktif dan berpenghasilan. Sumber daya manusia ini diharapkan
mampu menciptakan produk unggul industri yang siap menghadapi
persaingan dimasa global.
Di lembaga pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
kelompok bisnis dan manajemen yang menyajikan praktik kejuruan
meskipun ditunjang dengan peralatan lengkap dan modern, pada dasarnya
hanya mampu menyajikan dasar-dasar ketrampilan dan situasi tiruan
(simulasi), oleh karena itu sulit dihadapkan untuk membentuk keahlian
profesional pada diri siswa. Memperhatikan kondisi di atas, muncul suatu
pemikiran tentang suatu sistem penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan
kejuruan yang dapat memadukan secara dinamis dan serasi program
pendidikan di SMK dan program pengembangan pelatihan di lapangan
kerja. Sistem yang dimaksud menggambarkan adanya sistem ganda yang
merupakan perpaduan saling mengisi dan saling melengkapi antara program
pendidikan di lembaga pendidikan dan program pelatihan untuk
Dalam Pendidikan Sistem Ganda (PSG) proses pembelajaran siswa
terjadi di dua tempat atau lebih yaitu di SMK dan dunia kerja yang menjadi
institusi pasangannya. Pendidikan Sistem Ganda (PSG) akan lebih terarah
bila para siswa yang akan melaksanakan program tersebut dibekali pedoman
tertulis tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaannya.
Dengan mengikuti kegiatan praktik industri (PI) dalam Pendidikan Sistem
Ganda (PSG) selain pengalaman praktis yang akan diperoleh bagi siswa
yang akan melaksanakan Program Sistem Ganda (PSG) juga merupakan
suatu umpan balik dan indicator tentang perkembangan kemajuan
pendidikan di SMK.
Pelaksanaan praktik industri dalam PSG akan memberikan
pengalaman pada siswa agar dapat mengembangkan keahlian professional
yang mereka peroleh dari pendidikan di SMK. Pengalaman ini akan
membentuk sikap siswa terhadap pelaksanaan praktik industri dalam PSG
dan hubungannya dengan motivasi belajar siswa di SMK.
Sikap adalah kecenderungan untuk bertahan terhadap suatu objek
dalam waktu tertentu dan sikap ini sulit diubah. Dengan diketahuinya sikap
siswa SMK terhadap pelaksanaan Praktik Industri dalam Pendidikan SIstem
Ganda (PSG) maka hasil penelitian tersebut dapat digunakan pihak sekolah
untuk mengembangkan pendidikan dalam menghasilkan tamatan yang
memiliki keahlian profesional pada masing-masing program studi.
Dari uraian tersebut diatas penulis ingin mengetahui sikap siswa
Sistem Ganda (PSG) yang dituangkan dalam penelitian yang diberi judul
“Analisis Sikap Siswa Terhadap Pelaksanaan Program Praktik Industri Dalam Pendidikan Sistem Ganda Ditinjau Dari Prestasi Belajar Dan Pekerjaan Orang Tua”.
B. Batasan Masalah
Di dalam penelitian ini agar masalah yang diteliti tidak terlalu luas,
penulis membatasi masalah dalam hal sikap siswa terhadap pelaksanaan
Program Praktik Industri yaitu dalam Pendidikan Sistem Ganda.
C. Rumusan Masalah
Didasarkan pada uraian di atas maka penulis merumuskan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana sikap siswa terhadap pelaksanaan Praktik Industri
dalam Pendidikan Sistem Ganda (PSG) ?
2. Apakah ada perbedaan sikap siswa terhadap atribut kegiatan
Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda (PSG) ditinjau
dari prestasi belajar?
3. Apakah ada perbedaan sikap siswa terhadap atribut kegiatan
Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda (PSG) ditinjau
dari pekerjaan orang tua?
D. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah yang dikemukakan diatas maka dapat
1. Untuk mengetahui bagaimana sikap siswa terhadap pelaksanaan
kegiatan Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda (PSG).
2. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan sikap siswa terhadap
antribut kegiatan Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem
Ganda (PSG) ditinjau dari prestasi belajar.
3. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan sikap siswa terhadap
antribut kegiatan Praktik Industri dalam Pendidikan Sistem
Ganda (PSG) ditinjau dari pekerjaan orang tua.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi SMK penyelenggara Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
Penulis berharap agar hasil penelitian ini dapat memberikan
masukan dan bahan pertimbangan dalam penyampaian
komponen materi pelajaran kepada siswa yang mengacu pada
pengembangan keahlian profesional siswa.
2. Bagi Universitas
Hasil penelitian ini dapat menambah referensi perpustakaan dan
dapat dimanfaatkan sebagai bahan informasi untuk melakukan
penelitian selanjutnya. Ataupun mungkin biasa digunakan
sebagai gambaran bagi pihak-pihak yang terkait dan bekerja
sama dengan universitas untuk mengadakan pelatihan dalam
3. Bagi Penulis
Supaya penulis dapat menerapkan teori atau ilmu yang didapat
selama kuliah dengan kondisi yang sesungguhnya terjadi di
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoretik
1. Pendidikan Sistem Ganda di SMK a. Sekolah Menengah Kejuruan
Perluasan kesempatan kerja adalah salah satu masalah
pembangunan Indonesia, saat ini maupun untuk masa yang akan
datang. Peluang kerja sudah tentu bekaitan dengan kualitas sumber
daya manusia yang menyangkut tingkat ketrampilan dan penguasaan
ilmu tertentu.
Pendidikan menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan
meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi
anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan
hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam
sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam
dunia kerja atau pendidikan tinggi.
1) Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan
Tujuan yang tercantum dalam petunjuk Pelaksanaan
Sistem Pendidikan Nasional tahun 1992/1993 bab II pasal 2 salah
satunya adalah menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja
Sedangkan dalam penjabarannya tujuan Pendidikan
Menengah Kejuruan, adalah sebagai berikut (SK Mendikbud 1992
: 3) :
a) Mempersiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta
mengembangkan sikap profesional.
b) Menyiapkan siswa agar mampu memilih karir, mampu
berkompetisi dan mampu mengembangkan diri.
c) Menyiapkan tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi
kebutuhan dunia usaha dan industri pada saat ini maupun masa
yang akan datang.
d) Menyiapkan tamatan agar menjadi warga negara yang
produktif, adaptif dan kreatif.
2) Jenis – jenis Pendidikan Menengah Kejuruan
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menyelenggarakan
program pendidikan yang disesuaikan dengan jenis-jenis lapangan
kerja. Sehubungan dengan hal tersebut maka program pendidikan
Sekolah Menengah Kejuruan dikelompokan menjadi 6 kelompok,
yaitu (SK Mendikbud 1993 : 5) :
a) Kelompok Pertanian dan Kehutanan
Kelompok ini terdiri atas beberapa program pendidikan yang
mempersiapkan tamatannya untuk dapat bekerja dan
mengembangkan profesinya pada berbagai jenis pekerjaan di
agronomi, peternakan, perikanan pengelolaan hasil pertanian
dan mekanisme pertanian.
b) Kelompok Teknologi dan Idustri
Kelompok ini terdiri atas beberapa program pendidikan yang
mempersiapkan tamatannya untuk dapat bekerja dan
mengembangkan profesinya pada berbagai jenis pekerjaan di
bidang teknologi dan industri, antara lain permesinan,
otomotif, kelistrikan, elektronika, konstruksi bangunan gedung
dan bangunan air, pertambangan, perkapalan, kemaritiman,
grafika, kimia, tekstil, teknik pendingin, penerbangan,
informatika dan instrumentasi industri.
c) Kelompok Bisnis dan Manajemen
Kelompok ini terdiri atas beberapa program pendidikan yang
mempersiapkan tamatannya untuk dapat bekerja dan
mengembangkan profesinya pada berbagai jenis pekerjaan di
bidang bisnis dan manajemen, antara lain administrasi
perkantoran, kesekretariatan, akuntansi, keuangan dan
perbankan, perdagangan, usaha perjalanan dan perkoperasian.
d) Kelompok Kesejahteraan Masyarakat
Kelompok ini terdiri atas beberapa program pendidikan yang
mempersiapkan tamatannya untuk dapat bekerja dan
bidang kesejahteraan masyarakat, antara lain : pelayanan
sosial, kesehatan masyarakat dan pengembangan masyarakat.
e) Kelompok Pariwisata
Kelompok ini terdiri atas beberapa program pendidikan yang
mempersiapkan tamatannya untuk dapat bekerja dan
mengembangkan profesinya pada berbagai jenis pekerjaan di
bidang pariwisata, antara lain : perhotelan, busana dan
kecantikan.
f) Kelompok Seni dan Kerajinan
Kelompok ini terdiri atas beberapa program pendidikan yang
mempersiapkan tamatannya untuk dapat bekerja dan
mengembangkan profesinya pada berbagai jenis pekerjaan di
bidang seni dan kerajinan, antara lain : seni rupa terapan,
industri dan seni pertunjukan.
Pendidikan Menengah Kejuruan sebagai salah satu sub unit sistem
pendidikan nasional punya fungsi dan peran langsung dalam
pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian integral
program pembangunan ekonomi pendidikan menengah kejuruan
yang bersifat dan berorientasi pada dunia kerja. (Depdikbud, 1997 :
24)
3) Karakteristik Pendidikan Menengah Kejuruan
Agar mampu menghasilkan tamatan yang memiliki
pelatihan kejuruan di Indonesia memiliki karakteristik sebagai
berikut :
a) Program pendidikan dan pelatihan dirancang berdasarkan
pada prinsip :
- Pembentukan dan pembekalan kemampuan serta
ketrampilan dasar yang kuat dan mendalam, untuk suatu
kelompok bidang keahlian yang lebih spesifik.
- Pendidikan yang menitikberatkan pada pengetahuan,
sikap dan ketrampilan, yang mengacu pada standar
industri berdasarkan pola penilaian kerja yang berlaku
di dunia kerja.
b) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kejuruan
dirancang serta dilaksanakan dengan prinsip Keterkaitan dan
Kesepadanan (“Link and Match”) yang dijabarkan secara
operasional dalam Pendidikan Sistem Ganda.
Untuk SMK yang efektif dan efisien, kalau dilihat dari sisi internal
berarti efisiensi dalam penyelenggaraan dengan memanfaatkan
secara optimal sumber-sumber daya yang ada, sedangkan dari sisi
eksternal berarti memperoleh pengakuan dan penghargaan dari
dunia usaha atau industri terhadap kualitas dan relevansi tamatan.
Untuk itu perlu disusun formulasi dan langkah-langkah strategis,
a) Penelitian dan analisis sebagai dasar rumusan kebijaksanaan,
serta rumusan model-model peyelenggaraan pendidikan dan
latihan yang selalu terkait dan sepadan dengan perkembangan
IPTEK dan pasar kerja.
b) Peningkatan kapasitas potensi institusi-institusi yang terlihat
dalam sistem pendidikan menengah kejuruan dalam bentuk
program .
- Konsolidasi organisasi dan manajemen seluruh jajaran
pendidikan menengah kejuruan baik pembina di tingkat
pusat maupun daerah.
- Pemberdayaan organisasi sekolah menjadi organisasi
yang mandiri dan lebih proaktif dalam menggali
hubungan kerja sama dengan dunia kerja.
c) Pengembangan prosedur dan mekanisme hubungan kerja antar
pihak terkait baik internal maupun eksternal untuk
meningkatkan pengaturan sistem pendidikan dan pelatihan
kejuruan sebagai subsistem yang mendukung pertumbuhan
industri, dengan membentuk Majelis Pendidikan Kejuruan di
tingkat pusat, propinsi dan tingkat sekolah, sebagai wadah
resmi keikutsertaan dunia kerja dalam menentukan arah
kebijakan pengembangan pendidikan kejuruan maupun
d) Pengembangan ketenagaan untuk meningkatkan kualitas
personil-personil pengelola pendidikan, serta meningkatkan
kepekaan terhadap nuansa perkembangan yang terjadi dalam
masyarakat, dunia usaha atau dunia industri.
e) Pengembangan informasi secara bertahap dan sistematis untuk
meyakinkan masyarakat sehingga dapat membentuk pola pikir
masyarakat terhadap manfaat pendidikan dan pelatihan
kejuruan, yang akan membekali peserta didik dengan
kemampuan profesional dan akhirnya akan meningkatkan
produktivitas bangsa Indonesia.
f) Di tingkat sekolah secara spesifik diwujudkan dalam 7
komponen Pengembangan Sekolah Seutuhnya (PSS), yaitu
upaya menggerakkan semua sumber daya pendidikan dan
mengintegrasikan semua kegiatan yang bermuara pada satu
tujuan : “Peningkatan Mutu Sekolah”. Komponen-komponen
PSS dalam meningkatkan mutu sekolah adalah:
- Konsilidasi manajemen.
- Pengembangan staf.
- Pengembangan fasilitas.
- Peningkatan mutu proses belajar mengajar.
- Pengembangan kerjasama industri dan PSS.
- Pengembangan unit produksi.
g) Pendidikan berdasarkan kompetensi
Pelatihan di SMK dikembangkan dengan menitikberatkan pada
penguasaan suatu pengetahuan dan ketrampilan khusus, serta
penerapannya di lapangan kerja. Pengetahuan dan ketrampilan
ini harus mengacu pada standar industri berdasarkan pola
perilaku belajar istilah pengujiannya adalah “criterion
reference” bukan “norm reference”.
h) Hubungan dengan industri
Guna menggalang hubungan yang lebih akrab antara SMK dan
industri atau dunia kerja, keenam PPPG (Pusat Pengembangan
dan Penataran Guru) di lingkup kejuruan diandalkan untuk
memadukan pengembangan “kerjasama industri” tersebut.
Lomba ketrampilan siswa merupakan salah satu kegiatan yang
dapat dilaksanakan secara terprogram.
i) Pendidikan Sistem Ganda
Keterbatasan peralatan dan bahan untuk kegiatan praktek di
SMK akan menyebabkan kualitas ketrampilan yang rendah.
Namun di pihak lain, selengkap apapun peralatan yang
dimiliki, kegiatan di sekolah akan bersifat tiruan atau simulasi.
Kegiatan yang bersifat simulasi tidak akan mampu
menghasilkan keahlian yang berkualitas profesional. Karena
langsung, melakukan pekerjaan sesungguhnya sesuai dengan
bidang profesinya.
Banyak perbedaan sistem nilai antara sekolah dan industri.
Perilaku belajar mengajar yang relatif santai dan toleransi di
sekolah berbeda dengan perilaku kerja keras di industri.
Pendidikan Sistem Ganda diandalkan untuk memperbaiki
sistem pendidikan dan latihan di Sekolah Menengah Kejuruan.
Dalam upaya mendekati penawaran dan permintaan antara
pendidikan menengah kejuruan dan membangun sumber daya
manusia, PSG merupakan pilihan implementasi yang strategis
untuk diterapkan.
j) Unit Produksi
Pendidikan kejuruan adalah jenis pendidikan yang relatif
mahal, dilihat dari investasi maupun biaya operasionalnya.
Menghadapi kenyataan ini, potensi SMK dikembangkan untuk
melaksanakan kegiatan unit produksi. Pada saat itu,
pengembangan unit produksi akan membuat SMK mampu
mengurangi ketergantungan sepenuhnya pada dana pemerintah.
Kecuali itu, unit produksi yang profesional akan manuntun
sekolah berwawasan bisnis dan perilaku industri.
4) Pengembangan Pendidikan Menengah Kejuruan
Pendidikan kejuruan dalam sistem persekolahan
Menengah Kejuruan, salah satu Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar dan Menengah.
Pengembangan Pendidikan Menengah Kejuruan melalui
aspek-aspek :
a) Pengembangan standar kompetensi.
b) Pengembangan perangkat kurikulum dan bahan ajar.
c) Pengembangan sistem penilaian dan sertifikat.
d) Pengembangan kualitas dan jenjang ketenagaan.
e) Pengembangan fasilitas pendidikan.
f) Pengembangan organisasi dan manajemen.
Tugas-tugas pengembangan ini didukung oleh Badan
Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan
(Balirbangdikbud) dan 6 pusat Pengambangan dan Penataran Guru
(PPPG) di lingkup Kejuruan.
Saat ini jumlah pelatihan yang dapat dilaksanakan di
industri masih terbatas pada industri yang punya kapasitas
pelatihan. Untuk masa yang akan datang pola pelatihannya akan
menurun pada pelatihan dasar saja sementara pelatihan di industri
akan meningkat. Maka saat ini peran sekolah akan ditingkatkan
5) Keahlian Profesional
Keahlian profesional menurut masing-masing program studi
(Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1994 : 17-18) adalah
sebagai berikut :
a) Program Studi Bisnis dan Manajemen
- Melakukan penjualan/pemasaran barang dagangan
- Melakukan pembelian barang dagangan
- Pengelolaan perdagangan kecil dan menengah dan
memanfaatkan sumber daya untuk mencapai target
penjualan
- Melakukan penyajian penjualan barang dagangan
- Mengelola pembukuan administrasi untuk pencapaian
target penjualan
- Mengelola administrasi jasa ansuransi, surat berharga,
jasa angkutan, pariwisata dan telekomunik
b) Program Studi Akuntansi
- Mencatat transaksi keuangan sesuai dengan siklus
akuntansi
- Mengerjakan akuntansi keuangan untuk : pos-pos neraca,
berbagai bentuk bahan usaha dan masalah-masalah
tertentu
- Mencatat transaksi dan menyusun laporan harga pokok
c) Program Studi Sekretaris
- Mampu menyelesaikan pekerjaan pengetikan dengan
cepat dan tepat
- Menghasilkan surat niaga dan dinas dalam bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris yang benar
- Menerapkan prinsip-prinsip dan teknik pengelolaan
warkat/arsip
b. Pendidikan Sistem Ganda
1) Pengertian Pendidikan Sistem Ganda
Pendidikan Sistem Ganda (PSG) adalah suatu bentuk
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan yang memadukan
secara sistematis dan sinkron program pendidikan di sekolah dan
program penguasaan keahlian kejuruan yang diperoleh melalui
bekerja secara langsung di dunia kerja terarah untuk mencapai
tingkatan keahlian tertentu.
2) Tujuan Pendidikan Sistem Ganda
Pendidikan Sistem Ganda (PSG) memiliki beberapa tujuan
sebagai berikut (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1994 : 8) :
a) Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional
yaitu tenaga kerja yang memiliki tingkat pengetahuan,
ketrampilan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan
b) Meningkatkan dan memperkokoh keterkaitan dan kesepadanan
antara lembaga pendidikan kejuruan dan dunia kerja.
c) Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga
kerja berkualitas.
d) Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman
kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.
3) Standar Profesi Pendidikan Sistem Ganda
Siswa peserta Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang
melaksanakan Praktek Industri (PI) di institusi pasangan telah
dianggap seperti karyawan di institusi tersebut. Maka siswa
dituntut menjadi seseorang yang profesional yang telah ditandai
dengan kinerja sebagai berikut (Majelis Pendidikan Kejuruan
Nasional, 1994 : 13) :
a) Disiplin
Yaitu kesanggupan untuk mentaati, mengamalkan dan
melaksanakan sesuatu yang ditaati dengan penuh kesadaran
dan tanggung jawab. Kesanggupan tersebut harus dibuktikan
dari sikap dan tingkah laku dalam melaksanakan tugas.
b) Kerjasama
Yaitu kesanggupan untuk bekerja sama dengan orang lain
c) Inisiatif
Yaitu kesanggupan untuk mengambil keputusan, langkah dan
melaksanakan suatu tindakan yang diperlihatkan dalam
malaksanakan tugas pokok tanpa menunggu perintah dari
pembimbing.
d) Kerajinan
Kesanggupan untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran secara
ikhlas dengan mengutamakan kepentingan umum.
e) Tanggung jawab
Kesanggupan untuk menyelesaikan tugas yang diserahkan
dengan sebaik-baiknya.
f) Sikap
Ketulusan hati dalam melaksanakan tugas dan kemampuan
untuk tidak menyalahgunakan wewenang.
4) Keuntungan Pendidikan Sistem Ganda
a) Bagi Instansi Pasangan
- Dapat mengenal dan mengamati keahlian siswa Pendidikan
Sistem Ganda (PSG) di tempat tersebut.
- Dapat merekrut siswa yang dibutuhkan menjadi karyawan.
- Peserta didik dapat dibentuk sesuai dengan ciri khas
tertentu perusahaan.
b) Bagi Siswa
- Siswa tidak perlu terlalu lama untuk mencari tingkat
keahlian siap kerja karena siswa siap memasuki dunia
kerja.
- Menambah kemampuan dan ketrampilan praktis.
- Memupuk rasa tanggung jawab.
- Meningkatkan rasa percaya diri.
2. Sikap Terhadap Pendidikan Sistem Ganda a. Pengertian Sikap
Sikap dibentuk berdasarkan kepercayaan dan pengetahuan
terhadap suatu objek. Sikap menempatkan seseorang dalam kerangka
berpikir untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu. Dengan kata
lain sikap biasanya memberikan penilaian menerima atau menolak
terhadap suatu objek yang dihadapi.
Pengertian sikap menurut Philip Kotler adalah sebuah sikap
menggambarkan penilaian kognitif yang baik maupun tidak baik,
perasaan-perasaan emosional dan kecenderungan berbuat yang
bertahan selama waktu tertentu terhadap objek atau gagasan (Kotler,
1989 : 203).
b. Karakteristik Sikap
Sesungguhnya sikap dapat dipahami lebih dari sekedar seberapa
positif atau seberapa negatifnya suatu sikap dapat diungkap dan
dipahami dari dimensi yang lain. Dalam bukunya “Principles Of
telah diterjemahkan oleh Azwar, menunjukan beberapa karakteristik
sikap yaitu (Azwar, 1995 : 88-89) :
1) Sikap memiliki arah
Artinya sikap terpilah pada dua arah kesetujuan yaitu apakah setuju
atau tidak setuju, apakah mendukung atau tidak mendukung,
apakah memihak atau tidak memihak terhadap sesuatu atau
seseorang sebagai objek.
2) Sikap memiliki intensitas
Artinya kedalaman atau kekuatan terhadap sesuatu belum tentu
sama walaupun arahnya mungkin tidak berbeda.
3) Sikap memiliki keleluasaan
Maksudnya kesetujuan atau tidak kesetujuan terhadap suatu objek
spesifik tapi dapat pula mencakup banyak sekali aspek yang ada
pada objek sikap.
4) Sikap memiliki konsistensi
Maksudnya adalah kesesuaian antara pernyataan sikap yang
dikemukakan dengan responnya terhadap suatu objek.
5) Spontanitas
Yaitu menyangkut sejauh mana kesiapan individu untuk
menyatakan sikapnya secara spontan, sikap dikatakan memiliki
spontanitas tinggi apabila dapat dinyatakan secara terbuka tanpa
harus melakukan pengungkapan atau desakan lebih dahulu agar
c. Struktur Sikap
Struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang
yaitu (Azwar, 1995 : 18-21) :
1) Komponen kognitif
Komponen kognitif ini berisi kepercayaan seseorang
mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap,
kepercayaan tersebut datang dari apa yang telah dilihat atau
diketahui.
2) Komponen afektif
Menunjukan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap
suatu reaksi emosional yang merupakan komponen afektif ini
banyak dipengaruhi oleh kepercayaan.
3) Komponen perilaku
Menunjuk bagaimana perilaku atau kecenderungan
berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek
sikap yang dihadapi.
d. Pembentukan Sikap
Pada umumnya individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu
terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Beberapa faktor
yang mempengaruhi pembentukan sikap yaitu (Azwar, 1995 : 18-20) :
1) Pengalaman pribadi
Suatu dasar untuk membentuk sikap yaitu pengalaman pribadi,
kesan yang kuat pada diri seseorang. Sikap akan lebih mudah
terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi
yang melibatkan faktor emosional, sehingga penghayatan akan
pengalaman menjadi lebih mendalam dan lebih lama berbekas.
2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komponen
sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang
dianggap penting bagi kita akan banyak mempengaruhi
pembentukan sikap kita terhadap sesuatu.
3) Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dalam suatu masyarakat di mana kita tinggal juga
akan memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan sikap
kita. Kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita
terhadap berbagai pengalaman.
4) Media massa
Media massa juga mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan
sikap seseorang, yaitu berperan sebagai pembentuk opini dan
kepercayaan yang berisi sugesti yang dapat mengarah opini
seseorang. Dalam penyampaian informasi, media massa membawa
suatu pesan-pesan. Apabila pesan-pesan telah disampaikan tersebut
cukup kuat, maka akan memberikan dasar sugesti dalam menilai
5) Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem
mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya
meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.
Maka ajaran moral yang diperoleh dari lembaga pendidikan dan
lembaga agama sering kali menjadi dasar dalam pembentukan
sikap.
6) Pengaruh waktu emosional
Suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh
emosi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan
bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat
merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi
telah hilang, akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang bertahan
lama.
e. Faktor – faktor yang mempengaruhi sikap terhadap Pendidikan Sistem Ganda
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap konsumen ada beberapa
faktor, diantaranya sebagai berikut :
1) Tingkat Pendidikan
Pada hakekatnya pendidikan itu merupakan suatu uasaha yang
dilakukan secara sadar guna mengembangkan suatu pengetahuan
pula nilai-nilai moral, pandangan hidup dan lain sebagainya yang
nantinya akan membentuk kepribadian dan karakter seseorang.
Pengertian pendidikan menurut Siagian (1987:175) adalah
keseluruhan proses, teknik, metode belajar mengajar dalam rangka
mengalihkan suatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain
sesuai standar yang telah ditentukan. Unsur-unsur penting dalam
pendidikan adalah proses pengembangan kemampuan,
pengetahuan, sikap, tingkah laku, kompetensi sosial serta pribadi
yang optimal.
Klasifikasi pendidikan menurut Siagian (1987:177) adalah
sebagai berikut :
a) Pendidikan formal
Pendidikan formal adalah pendidikan sekolah yang merupakan
sistem pendidikan yang mengkhususkan diri pada
penyelenggaraan pendidikan generasi muda secara sistematis,
berencana, berurutan dengan tujuan pendidikan yang jelas
untuk setiap tingkatan dan dilaksanakan dalam situasi belajar
antara pendidik dan anak didik serta dengan sarana dan fasilitas
yang diadakan secara khusus.
b) Penididikan informal
Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh dari
pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak
c) Pendidikan non formal
Pendidikan non formal adalah pendidikan teratur dengan sadar
dilakukan tetapi tidak selalu mengikuti peraturan-peraturan
yang ketat dan tetap.
Tingkat pendidikan yang digunakan dalam menentukan sikap
konsumen pada penelitian ini adalah ijasah akhir yang dimiliki
oleh konsumen, yaitu dari lulusan SD, SMP, SMU/K, Diploma/
Sarjana. Pendidikan mempengaruhi cara berpikir, bereaksi dan
bersikap terhadap suatu obyek dan pencapaian tujuan yang
tentunya terdapat perbedaan sesuai dengan jenjang pendidikan
seseorang.
2) Usia
Menurut Langevel (1971:27) usia dibagi menjadi tiga kelompok,
yaitu usia anak, dewasa, tua. Setiap orang mengalami
perkembangan hingga mencapai kematangan pribadi. Pada
kelompok usia anak, mempunyai karakteristik dan kepribadian
yang dimiliki adalah statis, monolistis, cenderung dogmatis.
Sedangkan pada kelompok usia dewasa, seseorang mempunyai
karakteristik atau sifat yang punya inisiatif, kritis, tidak fanatik dan
condong bersifat demokratis. Usia dewasa ini dimulai pada usia 17
tahun. Pada usia ini seseorang sudah mampu untuk memberikan
penilaian maupun sikap terhadap suatu obyek yang kita lihat,
3) Jenis Kelamin
Jenis kelamin yang dimaksud adalah pembeda jender konsumen.
Jenis kelamin dibedakan menjadi pria dan wanita. Pada dasarnya
pria lebih memakai rasio dalam cara berpikir, bertindak dan
bersikap terhadap suatu obyek, sedangkan wanita cenderung lebih
sensitif dan peka terhadap suatu obyek.
3. Prestasi Belajar
a. Pengertian Prestasi
Menurut Arifin (1990:3-4) belajar mempunyai arti penting dalam
pendidikan, urgensi prestasi belajar siswa dalam pendidikan sekolah
sebagai berikut :
1) Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas yang telah
dikuasai oleh siswa.
2) Prestasi belajar sebagai lambang hasrat ingin tahu. Hal ini
berdasarkan asumsi bahwa para ahli psikologi biasanya menyebut
hal ini sebagai tendensi keingintahuan dan merupakan kebutuhan
manusia, termasuk kebutuhan siswa dalam program pendidikan.
3) Prestasi belajar sebagai inovasi dalam pendidikan. Asumsi adalah
prestasi belajar dapat dijadikan pendorong siswa dalam
meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan berperan
sebagai umpan balik dalam peningkatan mutu pendidikan.
masalah yang utama dan pertama karena siswa yang diharapkan
dapat menyerap seluruh materi pelajaran yang telah diprogramkan
dalam kurikulum.
Fungsi penilaian dalam pendidikan menurut Mahmud (1989 :
256) adalah sebagai berikut :
1) Sebagai insentif untuk meningkatkan belajar.
2) Penilaian sebagai umpan balik bagi siswa.
3) Penilaian sebagai umpan balik guru.
4) Penilaian sebagai umpan balik bagi orang tua.
5) Penilaian sebagai informasi untuk keperluan seleksi.
Untuk lebih jelasnya fungsi penilaian dalam pendidikan menurut
Mahmud akan diuraikan sebagai berikut :
1) Sebagai insentif untuk meningkatkan belajar
Salah satu kegunaan penilaian adalah untuk mendorong siswa
belajar lebih giat. Untuk hasil belajar yang bagus diberi nilai tinggi
dan kalau mungkin hadiah. Sehubungan dengan hal tersebut ada
enam kriteria agar penilaian dapat meningkatkan belajar sisiwa.
a) Penilaian itu penting bagi siswa
b) Penilaian sehat dan obyektif
c) Penilaian bersifat konsisten
d) Penilaian itu dapat dipercaya dan reliabel
e) Penilaian itu bersifat diadakan semakin sering penilaian itu
f) Penilaian itu bersifat menantang keberhasilan dalam penilaian
harus merupakan tantangan bagi siswa.
2) Penilaian sebagai umpan balik bagi siswa.
Siswa perlu mengetahui hasil jerih payahnya, hal ini dapat
diperoleh melalui hasil penilaian. Dengan kata lain penilaian itu
dapat memberikan umpan balik pada siswa, sehingga siswa
mengetahui kekuatan dan kelemahannya.
3) Penilaian sebagai umpan balik guru.
Salah satu fungsi penilaian yang paling penting adalah
memberikan umpan balik kepada guru mengenai keefektifan
mengajarnya. Guru tidak dapat berharap mengajarnya sangat
efektif kalau dia tidak mengetahui apakah siswa-siswanya telah
menangkap dan mengerti dari bahan pelajarannya yang disajikan.
4) Penilaian sebagai umpan balik bagi orang tua.
Suatu raport disebut demikian karena “melaporkan”
informasi tentang kemajuan siswa kepada orang tuanya. Fungsi
melaporkan ini penting karena ada dua alasan yaitu:
a) Orang tua dapat mengetahui kemajuan belajar putra-putrinya di
sekolah.
b) Nilai dan penilaian yang dapat membantu orang tua untuk
memberikan umpan balik secara informal, hal ini ternyata ikut
5) Penilaian sebagai informasi untuk keperluan seleksi.
Sementara sosiolog melihat bahwa maksud dan tujuan
pokok sekolah ialah memilih siswa-siswinya untuk memangku
peranan-peranan yang ada di masyarakat, melakukan pekerjaan
tertentu setelah tamat sekolah. Penilaian ini berlangsung secara
bertahap malalui pengurusan bermacam-macam.
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa prestasi belajar
mempunyai fungsi dan kegunaan yang sangat berarti bagi siswa,
orang tua, guru, sekolah maupun pendidikan.
Sedangkan menurut Dakir (1978 : 120) prestasi merupakan
perubahan yang manuju kearah yang lebih maju dan
perubahan-perubahan itu dapat terjadi karena ada latihan-latihan yang
disengaja, sebab belajar bukannya diketemukan secara kebetulan
saja.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa : prestasi adalah hasil suatu penilaian setelah
individu melakukan suatu kegiatan belajar dan dari penilaian itu
diwujudkan dengan angka atau simbol yang sifatnya sementara.
b. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Prestasi
Prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
1) Faktor intern (faktor yang berasal dari dalam individu). Faktor ini
erat hubungannya dengan kesehatan dan cacat tubuh. Faktor intern
meliputi :
2) Faktor psikiologis, yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejiwaan, misalnya : intelegensi, perhatian, minat, bakat, emosi
dan kesiapan maupun kelelahan.
3) Faktor psikis, yaitu hal-hal atau hambatan-hambatan yang secara
langsung berhubungan dengan siswa yang meliputi : kesehatan dan
cacat tubuh.
4) Faktor psikis dan phisik ini, keadaannya ada yang ditentukan oleh
keturunan, ada juga oleh faktor lingkungan dan ada pula yang
ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan.
5) Faktor ekstern (faktor yang berasal dari luar individu). Faktor
ekstern ini dikelompokan menjadi : faktor lingkungan alam, faktor
sosial ekonomi, metode mengajar, kurikulum, materi pelajaran,
sarana dan prasarana.
Lingkungan alam yang panas, gersang atau lembab berbau
menyebabkan orang enggan belajar, tetapi alam yang sejuk membantu
orang lebih giat belajar. Mengenai faktor sosial, lingkungan yang hiruk
pikuk atau justru sunyi senyap, mengganggu kosentrasi belajar. Peran
penguasaan bahan atau materi pelajaran yang dikuasai oleh guru dapat
mempererat hubungan yang hangat dengan anak didiknya, dan harus
dengan perkembangan dan kemampuan anak didik, hal ini sangat
mempengaruhi prestasi dan hasil belajar anak didik.
Semua faktor tersebut sangat berpengaruh dalam membantu
meningkatkan prestasi belajar siswa, maka diupayakan faktor-faktor
tersebut dapat memenuhi syarat menurut pertimbangan dikdatis dan
pendagogis. Namun demikian seorang siswa dalam studinya dapat
mencapai belajar yang baik apabila didukung oleh adanya
usaha-usaha, yaitu :
1) Mempunyai tujuan yang jelas
2) Mempunyai motivasi instrinsik
3) Mempunyai minat belajar
4) Mempunyai kecakapan dalam penguasaan bahan
5) Mempunyai kecakapan dalam mengikuti pelajaran
(Masrum dan Sri Mulyani Martinah, 1976 : 21)
Untuk mencapai suatu prestasi, aspirasipun memegang peranan
seperti pendapat Dakir (1978 : 1) bahwa pentingnya aspirasi
pendidikan karena padanyalah peristiwa keberhasilan dan kegagalan
murid.
4. Pekerjaan Orang Tua
a. Pengertian Jenis Pekerjaan
Definisi jenis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
yang mempunyai ciri (sifat, keturunan, dan sebagainya) yang khusus,
(diperbuat, dikerjakan, dan sebagainya); tugas kewajiban; hasil
bekerja; perbuatan (Depdikbud, 1995 : 410, 488). Jadi yang dimaksud
dengan jenis pekerjaan adalah suatu bentuk atau macam kegiatan yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh penghasilan. Jenis pekerjaan
orang tua siswa yang satu sudah tentu berbeda dengan jenis pekerjaan
orang tua siswa yang lain. Pekerjaan dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu :
1) Pekerjaan Pokok
Pekerjaan pokok adalah jenis pekerjaan yang dimiliki oleh
seseorang sebagai sumber utama dari penghasilan, yang digunakan
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sifat pekerjaan ini
adalah tetap. Apabila penghasilan dari pekerjaan pokok ini tidak
atau belum mencukupi untuk keperluan hidupnya, maka perlu
diusahakan adanya pekerjaan sampingan.
2) Pekerjaan Sampingan
Pekerjaan sampingan adalah pekerjaan yang dimiliki atau
dilakukan oleh seseorang sebagai pekerjaan tambahan untuk
memperoleh penghasilan tambahan guna memenuhi kebutuhan
hidup. Sifat pekerjaan sampingan ini adalah melengkapi pekerjaan
pokok. Pekerjaan ini sama seperti halnya pekerjaan pokok yaitu
tidaklah sama untuk masing-masing orang.
Dalam penelitian ini penulis membedakan jenis pekerjaan
a) Wiraswasta/pedagang
b) Bukan Wiraswasta
Dalam hal ini penulis akan melihat sikap siswa terhadap
pelaksanaan program Praktik Industri ditinjau dari jenis pekerjaan
orang tua yang berwiraswasta dan bukan wiraswasta.
b. Pengertian Orang Tua
Definisi orang tua menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Dekdibud, 1995 : 706) adalah ayah ibu kandung; orang yang dianggap
tua (cerdik pandai, ahli dan sebagainya); orang-orang yang dihormati
(disegani) di kampung; tetua. Jadi orang tua adalah setiap orang yang
bertanggung jawab dalam penghidupan sehari-hari, lazim disebut
dengan ayah dan ibu. Mereka inilah yang terutama dan utama
memegang peranan dalam kelangsungan hidup suatu rumah tangga
atau keluarga. Sedangkan semua anak-anaknya yang berada dibawah
penguasaan maupun asuhan dan bimbingannya disebut sebagai
anggota keluarga.
Oleh sebab itu orang tua mempunyai peranan yang penting dan
memiliki tanggung jawab yang besar terhadap semua anggota keluarga
yang berada di bawah tanggung jawabnya.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian ini akan meneliti mengenai perbedaan sikap siswa terhadap
perbedaan sikap siswa terhadap antribut kegiatan PI dalam PSG ditinjau dari
prestasi belajar dan perbedaan sikap siswa terhadap antribut kegiatan PI dalam
PSG ditinjau dari pekerjaan orang tua. Berikut ini adalah hasil penelitian dari
peneliti-peneliti sebelumya yang secara tidak langsung menjawab masalah –
masalah tersebut di atas.
Lusiana Peni Yulianti (2000) dalam penelitian yang berjudul sikap siswa
SMK terhadap pelaksanaan praktik industri dalam PSG dan hubungannya
dengan motivasi belajar menyimpulkan berdasarkan hasil penelitian dan
analisis data, maka didapatkan bahwa : sikap siswa SMK terhadap
pelaksanaan PI dalam PSG berdasarkan program studi adalah sangat baik atau
positif.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sicilia Ratih Dewi (2002)
mengenai pengaruh prestasi belajar siswa dalam komponen pendidikan dasar
penunjang dalam komponen teori kejuruan terhadap motivasi kerja siswa
diinstitusi pasangan dapat dilihat bahwa prestasi berpengaruh secara positif
terhadap motivasi kerja siswa di institusi pasangan.
Penelitian Valentina Oe (2001) menemukan bahwa motif berprestasi
siswa yang ayahnya wiraswastawan lebih tinggi dari pada motif berprestasi
siswa yang ayahnya non wiraswastawan.
Dari penelitian yang sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa ada
perbedaan sikap siswa di Institusi pasangan ditinjau dari prestasi belajar dan
C. Kerangka Berpikir
Dalam pelaksanaan PI dalam PSG ada perbedaan sikap siswa, siswa
yang memiliki keseriusan dalam melaksanakan tugas yang diberikan
pembimbing berbeda dengan siswa yang melaksanakan tugas tanpa
mendapatkan penjelasan dari pembimbing. Maka siswa yang tidak
mendapatkan penjelasan tersebut akan melaksanakan tugas tidak sesuai
dengan apa yang diharapkan Institusi Pasangan.
Prestasi siswa sangat mempengaruhi sikap terhadap pelaksanaan
kegiatan PI dalam PSG karena siswa yang mempunyai prestasi tinggi akan
cepat dalam melaksanakan atau mengerjakan tugas yang diberikan Institusi
Pasangan, sedangkan siswa yang berprestasi rendah akan sedikit kesulitan
dalam melaksanakan tugas dari Institusi Pasangan, karena siswa yang
berprestasi tinggi memiliki daya tangkap yang baik terhadap tugas dari PI dan
berusaha untuk mendapatkan pengakuan dari luar bahwa dirinya tersebut
mampu menerapkan teori-teori yang sudah didapatnya di sekolah.
Pekerjaan orang tua sangat mempengaruhi sikap siswa terhadap
pelaksanaan kegiatan PI dalam PSG karena siswa yang mempunyai orang tua
sebagai wiraswasta akan mengikuti jejak yang dilakukan orang tua, karena
siswa tersebut sebelumnya sudah mendapatkan penjelasan dari orang tua
tentang dunia usaha atau kegiatan dalam dunia usaha, sedangkan siswa yang
mempunyai orang tua non wiraswasta akan berusaha untuk mengerti
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah suatu proporsi, kondisi atau prinsip yang sementara
waktu dianggap benar dan barang kali berupa keyakinan, supaya dapat ditarik
suatu konsekwensi logis, dengan cara ini kemudian diadakan pengujian
terhadap kebenarannya dengan menggunakan data empiris hasil penelitian
(Sranto, 1981 : 21)
Ada perbedaan sikap siswa terhadap antribut pelaksanaan PI dalam PSG
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus yaitu penelitian sikap siswa
pada SMK Sanjaya Pakem. Dengan demikian kesimpulan yang dapat diambil
dari penelitian tersebut hanya berlaku untuk SMK Sanjaya Pakem sebagai
tempat dilaksanakan penelitian.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Lokasi di SMK Sanjaya Pakem
2. Waktu pada bulan Maret tahun 2006
C. Subjek dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah orang-orang yang terlibat dalam penelitian.
Dalam hal ini adalah siswa kelas III SMK Sanjaya Pakem yang telah
melaksanakan Praktik Industri (PI) dalam Pendidikan Sistem Ganda
(PSG) tahun 2006.
2. Objek Penelitian
Objek Penelitian adalah sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan dalam
penelitian. Dalam hal ini adalah sikap siswa SMK terhadap pelaksanaan
PI dalam Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Prestasi belajar diukur dengan
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III yang telah
melakukan Praktik Industri, di SMK Sanjaya Pakem yang berjumlah 112
siswa, pada tahun ajaran 2005 / 2006.
2. Sampel Penelitian
Sampel secara sederhana diartikan sebagai bagian dari populasi yang
menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian. Artinya sampel
adalah bagian dari populasi (Nawawi, 1983 : 54). Sampel dimaksudkan
sebagai contoh yang mewakili populasi bukanlah merupakan cuplikan
yang dicomot, melainkan hanya sebagai cerminan yang bisa dipandang
menggambarkan secara maksimal (Hadi, 1983 :222). Besarnya sampel
yang harus diambil agar memperoleh data yang representatif adalah jika
populasi lebih dari 100 sampel dapat diambil antara 10% - 15%, atau 25%
atau lebih (Arikunto, 1986 : 74). Jumlah sampel pada penelitian ini adalah
80.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Proposional Random Sampling. Proposional Random Sampling adalah
pengambilan dengan persentase yang sama untuk setiap kelas khusus kelas
E. Variabel Penelitian dan Pengukurannya
1. Variabel Penelitian
a. Variabel Terikat adalah sikap siswa terhadap program praktek industri
dalam PSG.
b. Variabel Bebas adalah prestasi belajar siswa setelah pelaksanaan PI
dalam PSG dan pekerjaan orang tua.
2. Pengukuran
Untuk mengukur variabel bebas yaitu prestasi belajar siswa dengan nilai
rapot semester I dan untuk mengukur pekerjaan orang tua digolongkan
menjadi dua jenis pekerjaan yaitu:
a. Wiraswasta diberi skor : 1
b. Non wiraswasta diberi skor : 2
F. Data yang Dicari
Data-data yang akan dipergunakan didalam penelitian ini adalah :
1. Gambaran umum SMK Sanjaya Pakem
2. Pelaksanaan di dalam PSG di SMK Sanjaya Pakem
3. Data tentang sikap siswa terhadap kegiatan Praktik Industri dalam PSG
4. Prestasi Belajar
G. Teknik Pengumpulan Data
1. Kuesioner
Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner
adalah metode pengumpulan data dengan cara membagikan daftar
pertanyaan kepada siswa. Kuesioner ini adalah alat untuk mencari data
tentang sikap siswa SMK Sanjaya Pakem. Kuesioner berisi
pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan tanggapan responden terhadap atribut
kegiatan PI dalam PSG dan pekerjaan orang tua.
2. Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data tentang gambaran
umum SMK Sanjaya Pakem, dan data tentang pelaksanaan PI dalam
Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di SMK Sanjaya Pakem.
H. Teknik Pengujian Instrumen
1. Pengujian Validitas
Suatu instrumen dikatakan valid jika dapat mengungkapkan varibel yang
diteliti secara tepat (Arikunto, 1986 : 56). Untuk menguji validitas
kusioner dalam penelitian ini digunakan teknik korelasi product moment
dengan rumus sebagai berikut :
2 2
2
2
Y Y
n X X
n
Y X XY
n rxy
Keterangan :
n = jumlah subjek
X = skor item
Y = skor total
Untuk mengetahui sahih tidaknya dapat diketahui dari besarnya r
tabel dari r hitung. Apabila r hitung dari suatu butir kuesioner sama atau
lebih besar dari r tabel, maka butir tersebut dikatakan valid atau sahih. Dan
sebaliknya, apabila r hitung lebih kecil dari r tabel maka butir tersebut
dinyatakan tidak valid. Untuk korelasi yang diperoleh dari hasil
perhitungan menunjukkan tinggi rendahnya tingkat validitas instrumen
yang diukur. Selanjutnya harga koefisien korelasi ini dibandingkan dengan
harga r korelasi Product Moment pada tabel. Jika harga r hitung lebih
besar dari pada r tabel maka, butir soal tersebut dapat dikatakan valid.
Sebaliknya apabila perhitungan lebih kecil dari pada tabel, berarti tidak
valid. Pelaksanaan perhitungan validitas butir pada penelitian ini
menggunakan bantuan SPSS. Hasil perhitungan sebagai berikut:
Uji Validitas Kuesioner tentang Kegiatan PI berdasarkan Kenyataan
Atribut No. Butir r. hitung r. tabel Status
Pelaksanaan 1
Pelayanan Ketelitian 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 0,5192 0,5192 0,4537 0,5262 0,5963 0,4209 0,5149 0,3609 0,3705 0,5593 0,5694 0,5898 0,5310 0,4329 0,4682 0,7646 0,5719 0,6238 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid
Uji Validitas Kuesioner tentang Kegiatan PI berdasarkan Harapan
Atribut No. Butir r. hitung r. tabel Status
Pelaksanaan 1
Pelayanan Ketelitian 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 0,6902 0,4433 0,4773 0,5960 0,5845 0,4247 0,4375 0,5987 0,5516 0,7214 0,5990 0,4664 0,4537 0,6496 0,6779 0,5479 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 0,239 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa semua butir pertanyaan dinyatakan
valid. Pengambilan kesimpulan ini dilakukan dengan membandingkan
nilai r hitung dengan nilai r tabel. Dengan menggunakan taraf signifikansi
5% dengan df = n-2 atau 30-2 = 28 diperoleh nilai r tabel sebesar 0,239.
Sedang dari hasil perhitungan diperoleh nilai r hitung (kolom corrected
item-total correlation) yang semuanya menunjukkan bahwa r hitung lebih
besar dari nilai r tabel (0,239). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
2. Pengujian Reliabilitas
Reliabilitas menunjukan suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk
digunakan sebagai alat pengumpul data. Reliabilitas dalam penelitian ini
merupakan reliabilitas internal dengan menggunakan rumus Alpha :
=
YX M
M 1
1
Keterangan :
M = jumlah item
X = jumlah variasi butir X
Y = jumlah variasi butir total
Untuk proses perhitungan reliabilitas, penulis menggunakan bantuan
komputer program SPSS. Hasil dari perhitungan tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Hasil Uji Reliabilitas Kenyataan (lihat hal 89 – 90)
Dengan menggunakan taraf signifikansi sebesar 5% dengan df = n-2
atau 30-2 = 28 diperoleh r tabel sebesar 0.239 sedangkan nilai r hitung
0,9106. Dengan demikian dapat diketahui bahwa r hitung lebih besar
dari nilai r tabel, maka alat ukur ini dikatakan reliabel.
b. Hasil Uji Reliabilitas Harapan (lihat hal 89 – 90)
Dengan menggunakan taraf signifikansi sebesar 5% dengan df = n-2
atau 30-2 = 28 diperoleh r tabel sebesar 0.239 sedangkan nilai r hitung
0,9143. Dengan demikian dapat diketahui bahwa r hitung lebih besar
I. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data yang diperoleh maka akan digunakan alat
analisis sebagai berikut :
1. Analisis Multiattribut Attitude Model (MAM)
Merupakan metode pengukuran sikap terhadap objek yang memiliki
beberapa atribut. Dalam hal ini digunakan rumus MAM untuk
menganalisis sikap responden terhadap atribut yang terdapat dalam
pelaksanaan PI dalam Pendidikan Sistem Ganda (PSG).
a. Rumus Multiattribute Attitude Model (MAM)
b. Menentukan n dengan cara memilih atribut yang akan diteliti.
c. Untuk mengetahui nilai yang akan diteliti maka dibuat skala sikap
yang paling positif hingga sikap yang paling negatif, dan diubah dalam
bentuk skor dari angka 5 sampai 1.
SKALA SIKAP SIKAP
Sangat setuju 5
Setuju 4
Ragu-ragu 3
Tidak setuju 2
d. Pemberian bobot rata-rata (Wi) untuk masing-masing atribut dilakukan
berdasarkan urutan tingkat kepentingan seperti dibawah ini :
1) Menentukan n dengan cara memilih atribut-atribut yang paling
dominan selanjutnya diberi nilai dari 1 sampai ke-n di mana urutan
pertama diberi lebih tinggi dari urutan berikutnya sebanyak n,
begitu seterusnya.
2) Menentukan wi dengan rumus :
100 X atribut
Nilai
atribut Masing
-Masing Nilai
Wi
3) Menghitung nilai rata-rata belief dan ideal siswa.
Ideal =