Formulasi sediaan emulgel ekstrak etanolik rimpang temu putih (curcuma zedoaria berg. roscoe) dengan gliserin sebagai penetration enhancer dan pengujian aktivitasnya sebagai antiinflamasi - USD Repository

95 

Teks penuh

(1)

 

FORMULASI SEDIAAN EMULGEL EKSTRAK ETANOLIK RIMPANG TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria Berg. Roscoe) DENGAN GLISERIN

SEBAGAI PENETRATION ENHANCER DAN PENGUJIAN AKTIVITASNYA SEBAGAI ANTIINFLAMASI

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memenuhi Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh : Lulu Margathe NIM : 108114085

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2014

(2)

 

  i  

FORMULASI SEDIAAN EMULGEL EKSTRAK ETANOLIK RIMPANG TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria Berg. Roscoe) DENGAN GLISERIN

SEBAGAI PENETRATION ENHANCER DAN PENGUJIAN AKTIVITASNYA SEBAGAI ANTIINFLAMASI

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memenuhi Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh : Lulu Margathe NIM : 108114085

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2014

(3)

 

(4)

 

  iii  

(5)

 

(6)

 

  v  

(7)

 

PRAKATA

Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yang

Maha Pengasih dan Penyayang atas semua berkat dan penyertaan-Nya sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Formulasi Sediaan Emulgel

Ekstrak Etanolik Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria Berg. Roscoe) dengan

Gliserin Sebagai Penetration Enhancer dan Pengujian Aktivitasnya Sebagai

Antiinflamasi” sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.

Farm.) di Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Penulis menyadari dalam penyusunan naskah ini, penulis telah

mendapatkan bantuan doa, bimbingan, arahan, saran dan kritik yang membangun

dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis hendak menyampaikan

ungkapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Papi dan Mami atas kerja keras dan kasih sayangnya kepada penulis serta

senantiasa mendoakan dan mendukung penulis selama menyusun skripsi.

2. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Ibu Christofori Maria Ratna Rini Nastiti, M. Pharm., Apt. selaku Kaprodi

Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, sekaligus dosen pembimbing

yang selalu memberikan arahan, bimbingan, masukan, semangat serta

motivasi semenjak pembuatan proposal hingga selesainya penelitian skripsi

ini.

4. Bapak Ipang Djunarko M. Sc., Apt. selaku dosen penguji skripsi yang telah

memberikan waktu, saran dan masukan demi kesempurnaan skripsi ini.

(8)

 

  vii  

5. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M. Si. selaku dosen penguji skripsi yang telah

memberikan waktu, saran dan masukan demi kesempurnaan skripsi ini.

6. Semua dosen-dosen farmasi yang telah sabar mendidik serta memberikan ilmu

kepada penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma, Yogyakarta.

7. Segenap laboran dan karyawan, Bapak Musrifin, Bapak Heru, Bapak

Wagiran, dan Mas Darto yang telah membantu selama penelitian berlangsung.

8. Koko dan Cici, yang walaupun jauh namun selalu memberikan doa, semangat

dan motivasi kepada penulis.

9. Teman-teman skripsi sahabat senasib sepenanggungan Samuel Meinardus

Dwi Prasetyo, Odilia Arum Narwastu, Sekar Wulan Kinanti Herlambang,

Angga Zakharia, dan Fransiskus Asisi Dian Kristianto.

10.Sahabat-sahabatku Stephanie Cinthya Wibowo, Felicia Aniska, dan Oei Maria

Dewiyani Sandjaja, atas doa, semangat, dukungan, motivasi, dan persahabatan

yang berkesan sampai selamanya.

11.Tomas Indra Waskitha Utama yang selalu menemani penulis dengan doa,

semangat, kasih sayang dan kesabaran.

12.Teman-teman angkatan 2010 Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

yang juga memberikan warna selama masa perkuliahan penulis.

13.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

memberikan doa, bantuan, dan dukungan selama penelitian skripsi.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih banyak

kekurangan mengingat keterbatasan kemampuan serta pengalaman yang dimiliki.

(9)

 

Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan oleh penulis

untuk menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

perkembangan ilmu pengetahuan.

Yogyakarta, 24 Mei 2014

Penulis

(10)

 

  ix  

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

PRAKATA ... vi

(11)

 

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 21

B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 21

1. Variabel penelitian ... 21

2. Definisi operasional ... 22

C. Bahan Penelitian ... 23

D. Alat Penelitian ... 23

E. Tata Cara Penelitian ... 23

1. Pembuatan ekstrak etanol rimpang temu putih ... 23

2. Formula ... 24

(12)

 

5. Uji aktivitas antiinflamasi temu putih dalam sediaan emulgel ... 27

a. Penyiapan hewan uji ... 27

b. Pembuatan larutan NaCl 0,9% ... 27

c. Pembuatan suspensi karagenan 1% ... 27

d. Uji aktivitas antiinflamasi ... 27

e. Perhitungan respon daya antiinflamasi ... 28

F. Analisis Hasil ... 29

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 30

A. Hasil Determinasi Tanaman ... 30

B. Hasil Standarisasi Ekstrak ... 30

C. Hasil Sifat Fisik dan Stabilitas Emulgel ... 31

1. Uji organoleptis ... 31

2. Uji pH ... 31

3. Viskositas ... 32

4. Daya sebar ... 33

5. Stabilitas sediaan ... 33

D. Pengujian Efek Antiinflamasi Emulgel ... 35

(13)

 

E. Hasil Uji Antiinflamasi Emulgel ... 38

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 44

A. Kesimpulan ... 44

B. Saran ... 44

DAFTAR PUSTAKA ... 45

LAMPIRAN ... 48

BIOGRAFI PENULIS ... 77

(14)

 

  xiii  

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I. Formula Acuan (100 g) ... 24

Tabel II. Formula Emulgel Modifikasi (100 g) ... 25

Tabel III. Hasil Uji Sifat Fisik dan Stabilitas Emulgel ... 31

Tabel IV. Hasil Uji Sifat Fisik Emulgel ... 32

Tabel V. Hasil Pergeseran Viskositas ... 34

Tabel VI. Hasil Pergeseran Viskositas dengan Menggunakan Statistik ... 34

Tabel VII. Hasil % Reduksi Udema Kaki Tikus ... 39

Tabel VIII. Hasil Uji Statistik % Reduksi Udema Pada Jam Ke-4 ... 40

Tabel IX. Hasil Uji Statistik % Reduksi Udema Pada Jam Ke-24 ... 42

(15)

 

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. MekanismeInflamasi ... 9

Gambar 2. Voltaren Emulgel® ... 10

Gambar 3. Temu Putih (Curcumazedoaria Berg. Roscoe Roscoe) ... 11

Gambar 4. Struktur dari Kurkuminoid ... 13

Gambar 5. Mekanisme Antiinflamasi Kurkumin ... 14

Gambar 6. Struktur Gliserin ... 17

Gambar 7. Mekanisme Karagenan sebagai Agen Inflamasi ... 18

(16)

 

  xv  

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Determinasi Tanaman Rimpang Temu Putih ... 48

Lampiran 2. Analisis Kurkumin ... 49

Lampiran 3. Analisis Kadar Air Ekstrak ... 51

Lampiran 4. Ethical Clearance ... 55

Lampiran 4. Sifat Fisik dan Stabilitas Emulgel ... 56

Lampiran 5. Hasil Uji Antiinflamasi Emulgel ... 62

Lampiran 6. Hasil Analisis Aktivitas Antiinflamasi Menggunakan Software R 3.0.1 ... 66

Lampiran 7. Emulgel Antiinflamasi ... 76

(17)

 

INTISARI

Rimpang temu putih (Curcuma zedoaria Berg. Roscoe) diketahui dapat berkhasiat sebagai antiinflamasi, dan dari kandungannya yang memiliki aktivitas tersebut adalah kurkumin. Ekstrak etanolik rimpang temu putih diyakini dapat diformulasikan ke dalam bentuk sediaan topikal. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi ekstrak etanolik rimpang temu putih ke dalam sediaan emulgel dan mengamati aktivitas antiinflamasi serta pengaruh penambahan penetration enhancer.

Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimental murni dengan menguji aktivitas antiinflamasi dari sediaan emulgel yang dilakukan terhadap tikus betina galur Wistar. Konsentrasi ekstrak yang digunakan dalam formulasi sediaan gel ini adalah 7% dengan kontrol negatif menggunakan basis emulgel dan kontrol positif menggunakan Voltaren Emulgel®. Analisis data menggunakan R 3.0.1 dengan taraf kepercayaan 95%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan emulgel ekstrak temu putih memiliki aktivitas inflamasi dengan viskositas yang memenuhi kriteria untuk formula 1 dan 2 dengan nilai 316,7 ± 20,8 dan 373,3 ± 25,3, sedangkan untuk formula 3 dan 4 tidak memenuhi syarat dengan nilai 456,7 ± 20,8 dan 520 ± 26,5. Untuk daya sebar, semua formula memenuhi persyaratan dengan nilai masing-masing berada diantara rentang 3 – 5 cm. Penambahan konsentrasi gliserin sebagai penetration enhancer pada formulasi sediaan emulgel ekstrak temu putih memiliki pengaruh terhadap peningkatan aktivitas antiinflamasi yang diukur melalui persentase reduksi udema telapak kaki belakang tikus.

Kata Kunci: Curcuma zedoaria Berg. Roscoe, kurkumin, emulgel, antiinflamasi,

penetration enhancer

(18)

 

  xvii  

ABSTRACT

White turmeric (Curcuma zedoaria Berg. Roscoe) is known to have an anti-inflammatory effect, and the substance that responsible for the effect is curcumin. The ethanolic extract from white turmeric can be possibly incorporated in to a topical solution. This research aimed to formulate the extract as an emulgel, and to observe the effect of anti-inflammatory and the addition of penetration enhancer in the efficacy of the emulgels.

The research is categorized as purely experimental research by testing the activity of the anti-inflammatory emulgel to the Wistar strain female rats. The concentration of the extract that was applied in the preparation of the gel is 7%, with the basis of emulgel as the negative control, and Voltaren Emulgel® as positive control. The data analysis was done using R 3.0.1 with 95% confidence interval.

The result of this experiment indicated that the emulgel extract of white turmeric showed an anti-inflammatory activity with the viscosity which met the criteria for formula 1 and 2 with the values of 316,7 ± 20,8 and 373,3 ± 25,3, and does not fulfill the criteria for formula 3 and 4 with the values of 456,7 ± 20,8 and 520 ± 26,5, respectively. The spreading coefficient for all the formulations fulfilled the criteria with the values in between 3 - 5 cm. The addition of glycerine as a penetration enhancer to the emulgel extract of white turmeric has an influence on the increase in anti-inflammatory activity which were measured by the percentage of edema reduction of rats’ feet.

Key words : Curcuma zedoaria Berg. Roscoe, curcumin, emulgel, antiinflammation, penetration enhancer

(19)

 

BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang manusia dapat mengalami

peradangan akibat adanya luka atau infeksi mikroba, virus, atau yang lain. Adanya

reaksi imun pada manusia akan menyebabkan timbulnya suatu peradangan

(inflamasi) sebagai reaksi perlindungan terhadap luka maupun infeksi mikroba

tersebut. Bagian yang paling sering untuk mengalami luka adalah jaringan kulit.

Pada lapisan kulit juga terdapat agen pro-inflamasi seperti sitokin TNF-α, IL-1,

dan IL-6 (Necas, 2013).

Radang (inflamasi) merupakan mekanisme pertahanan tubuh disebabkan

adanya respons jaringan terhadap pengaruh-pengaruh merusak, baik bersifat lokal

maupun yang masuk ke dalam tubuh. Pengaruh-pengaruh yang merusak sel sering

disebut noksi. Noksi dapat berupa fisika (panas, dingin, benturan), kimia

(obat-obatan), dan infeksi bakteri, parasit (Mutschler, 1986).

Inflamasi merupakan reaksi yang timbul untuk menghadapi agen-agen

perusak (seperti mikroba) yang terdiri dari reaksi vascular, migrasi maupun

aktivasi leukosit, dan reaksi sistemik. Inflamasi sering disebut sebagai suatu

reaksi penyembuhan jaringan. Inflamasi dapat memicu rangkaian proses

penyembuhan ataupun mengganti jaringan yang sudah rusak dengan yang baru.

Peradangan seperti ini dapat diatasi dengan memberikan obat anti

inflamasi kepada penderita. Obat anti inflamasi akan menekan efek anti inflamasi

(20)

 

2  

sehingga peradangan akan berkurang. Obat Antiinflamasi yang banyak digunakan,

terutama dari kelompok obat-obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID) dan

sebahagian kecil dari golongan Anti inflamasi steroid (AIS). Kerja utama

obat-obat (NSAID) sebagai penghambat isoenzim COX-1 (cyclooxygenase-1) dan

COX-2 (cyclooxygenase-2). Enzim cyclooxygenase ini berperan dalam memacu

pembentukan prostaglandin dan tromboksan dari arachidonic acid. Prostaglandin

merupakan molekul pembawa pesan pada proses inflamasi (radang).

Obat antiinflamasi golongan NSAID dan kortikosteroid sama-sama

memiliki kemampuan untuk menekan tanda dan gejala inflamasi, namun kedua

golongan obat ini yang biasa digunakan dalam pengobatan inflamasi seringkali

menimbulkan efek yang merugikan dan berbahaya seperti kerusakan

gastrointestinal, nefrotoksik dan hepatotoksik (Katzung, 2002).

Adanya efek samping yang ditimbulkan oleh obat antiinflamasi golongan

NSAID tentunya akan merugikan konsumen, apalagi sebagian besar obat

antiinflamasi yang dijual di pasaran dikonsumsi secara per-oral. Perlu adanya

alternatif bentuk sediaan lain untuk efek lokal yang lebih menjamin keamanan

konsumen, yaitu bentuk sediaan topikal. Selain itu, perlu adanya alternatif obat

antiinflamasi yang zat aktifnya berasal dari tanaman karena memiliki efek

samping yang lebih kecil dibandingkan obat hasil sintesis kimia.

Zaman sekarang ini pengetahuan tentang manfaat tanaman untuk

kesehatan telah dikembangkan lebih lanjut. Para ilmuwan sudah melanjutkan

penelitian terhadap komponen aktif yang terkandung di dalam bahan-bahan yang

berasal dari alam. Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai anti

(21)

3  

inflamasi adalah temu putih (Curcumazedoaria Berg. Roscoe). Bagian yang biasa

digunakan untuk pengobatan adalah rimpangnya. Dari rimpangnya banyak

kandungan yang dapat berfungsi sebagai antiradang, salah satunya adalah

kurkumin. Aktivitas antiradang kurkumin pertama kali dilaporkan oleh Grieve

pada tahun 1971 (Dalimartha, 1999). Kurkumin dapat berfungsi sebagai

antiinflamasi dengan menekan aktivitas dari fosfolipase, lipooksigenase, COX-2,

leukotrien, prostaglandin, nitrit oxide, MCP-1, tumor necrosis factor-alpha

(TNF-α), interleukin (IL) (Chainani-Wu, 2003).

Bentuk-bentuk sediaan topikal ada beberapa macam antara lain krim, gel,

emulgel, salep, dan pasta. Sediaan emulgel mempunyai kelebihan diantaranya

memiliki viskositas dan daya lekat yang tinggi sehingga tidak mudah mengalir

pada permukaan kulit, tidak meninggalkan bekas, hanya berupa lapisan tipis

seperti film saat pemakaian, dapat membawa obat yang bersifat hidrofobik dan

tidak larut air, stabilitas yang lebih baik, memungkinkan biaya produksi yang

lebih rendah, dapat menjadi sediaan lepas terkendali untuk obat dengan waktu

paruh pendek (Mohamed, 2004).

Adanya emulgel yang merupakan sediaan topikal ini dapat menjadi

alternatif sistem penghantaran obat antiinflamasi karena dengan cara pengolesan

maka tidak memberikan efek samping pada sistem pencernaan, zat aktif obat juga

tidak mengalami first-pass effect di hati. Keuntungan lain adalah efek pengobatan

yang diberikan bersifat lokal, sehingga reaksi inflamasi yang timbul secara kasat

mata dapat langsung diobati tanpa merusak sistem organ yang lain. Untuk sediaan

yang mengandung zat aktif dari bahan alam, penggunaan emulgel dapat

(22)

 

4  

disarankan karena mampu membawa obat yang bersifat hidrofobik seperti

kurkumin dan stabilitas zat aktif serta penampilan fisiknya tetap terjaga.

Gliserin akan menambah daya penetrasi zat aktif di dalam sediaan,

sehingga dapat berfungsi sebagai suatu penetration enhancer (Stinchcomb and

Banks, 2010). Penambahan gliserin diharapkan dapat meningkatkan daya hantar

zat aktif obat melalui lapisan kulit sehingga efikasi dari sediaan bisa lebih

Roscoe) dapat dibuat dengan sifat fisik yang memenuhi kriteria?

b. Apakah sediaan emulgel dengan ekstrak Temu Putih (Curcuma zedoaria

Berg. Roscoe) memiliki aktivitas antiinflamasi?

c. Bagaimanakah pengaruh gliserin yang digunakan sebagai penetration

enhancer pada formulasi sediaan emulgel ekstrak Temu Putih (Curcuma

zedoaria Berg. Roscoe)?

2. Keaslian penelitian

Pada penelitian Delly Ramadon (2012) berjudul “Penetapan Daya Penetrasi Secara In Vitro Sediaan Gel dan Emulgel yang Mengandung Kapsaisinoid dari Ekstrak Buah Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.)”.

(23)

5  

Dalam penelitian ini, yang dilakukan adalah membandingkan daya penetrasi

antara sediaan gel dan emulgel. Didapatkan bahwa sediaan emulgel memiliki

daya penetrasi yang lebih baik daripada gel.

Pada penelitian Paulina Maya (2011) yang berjudul “Efek Antiinflamasi Benzoil Eugenol secara Topikal terhadap Edema Kaki yang Diinduksi Formalin 6,5% pada Mencit Jantan Galur Swiss”. Dalam penelitian ini, yang dilakukan adalah mengukur persentase reduksi udema kaki

tikus dengan menggunakan metode jangka sorong.

Pada penelitian Octa Rahadian Pius (2012) yang berjudul “Prediksi Komposisi Optimum Gliserin dan Virgin Coconut Oil (VCO) sebagai

Penetration Enhancer dalam Formula Emulsi A/M Tonik Rambut Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri (Aleurites moluccana (L.) Willd) : Aplikasi Desain Faktorial”. Dalam penelitian ini, yang dilakukan adalah menggunakan gliserin sebagai penetration enhancer pada sediaan.

Namun, sejauh penelusuran yang telah dilakukan oleh penyusun,

penelitian dengan judul “Formulasi Sediaan Emulgel Ekstrak Etanolik Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria Berg. Roscoe) dengan Gliserin sebagai Penetration Enhancer dan Pengujian Aktivitasnya Sebagai Antiinflamasi” belum pernah dilakukan.

(24)

 

6  

3. Manfaat penelitian

a. Manfaat teoretis

Manfaat teoritis dalam penelitian ini adalah dapat menambah

pengetahuan mengenai aktivitas anti inflamasi dari sediaan topikal dengan

zat aktif Temu Putih (Curcuma zedoaria Berg. Roscoe).

b. Manfaat praktis

Manfaat praktis dalam penelitian ini adalah dapat menghasilkan

emulgel Temu Putih (Curcuma zedoaria Berg. Roscoe) yang efektif dan

berkualitassebagai sediaan antiinflamasi topikal.

B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menghasilkan sediaan

emulgel dengan zat aktif berupa ekstrak etanol rimpang Temu Putih (Curcuma

zedoaria Berg. Roscoe) yang memiliki aktivitas antiinflamasi.

2. Tujuan khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk:

a. Memastikan bahwa sifat fisik dari sediaan emulgel esktrak etanol rimpang

Temu Putih (Curcuma zedoaria Berg. Roscoe) memenuhi kriteria.

(25)

7  

b. Mengetahui ada tidaknya aktivitas anti inflamasi dari ekstrak etanol

rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria Berg. Roscoe) pada sediaan

emulgel.

c. Mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi Gliserin sebagai

penetration enhancer pada formulasi sediaan emulgel ekstrak etanol

rimpang Temu Putih (Curcumazedoaria Berg. Roscoe).

(26)

 

Inflamasi adalah respons protektif setempat yang ditimbulkan oleh

cedera atau kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau

mengurung suatu agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu. Pada bentuk

akut ditandai oleh tanda klasik yaitu : nyeri (dolor), panas (kalor), kemerahan

(rubor), bengkak (tumor), dan hilangnya fungsi (fungsiolesa) (Sudoyo, 2007).

Gejala-gejala ini merupakan akibat dari gangguan aliran darah yang

terjadi akibat kerusakan jaringan dalam pembuluh pengalir terminal, gangguan

keluarnya plasma darah (eksudasi) ke dalam ruang ekstrasel akibat meningkatnya

ketelapan kapiler dan perangsangan reseptor nyeri. Respon ini disebabkan oleh

pembebasan bahan-bahan mediator (histamine, serotonin, prostaglandin, kinin)

(Sudoyo, 2007).

Gejala inflamasi yang dapat teramati adalah pemerahan (rubor), panas

(calor), pembengkakan (tumor), nyeri (dolor), dan gangguan fungsi (fungsio

laesa). Gejala tersebut dapat terjadi karena adanya gangguan aliran darah akibat

kerusakan jaringan dalam pembuluh pengalir terminal, gangguan keluarnya

plasma darah ke ruang esktrasel akibat meningkatnya ketebalan kapiler dan

perangsangan reseptor nyeri (Mutschler, 1986).

(27)

  9  

Mekanisme terjadinya peradangan :

Gambar 1. Mekanisme Inflamasi (Mutschler, 1986)

B. Obat Anti Inflamasi

Obat antiinflamasi secara umum terbagi menjadi dua, yaitu obat

antiinflamasi steroid dan non steroid. Obat golongan steroid memiliki daya

antiinflamasi yang kuat yang mekanismenya berdasarkan rintangan sintesis

prostaglandin dan leukotriene dengan menghambat fosfolipase (Tjay, 2002).

Obat Anti-Inflamasi Non Steroid (OAINS) dapat menghambat sistem

enzim, siklooksigenase maupun lipooksigenase intraseluler, yang nantinya akan

berpengaruh terhadap respon inflamasi yang terjadi serta menurunkan produksi

berbagai komponen prostaglandin (Babb, 1992).

(28)

  10  

 

C. Voltaren Emulgel®

Voltaren Emulgel® dapat diaplikasikan 3 atau 4 kali sehari. Jumlah yang

dibutuhkan tergantung pada area yang sakit. 2 sampai 4 gram Voltaren Emulgel®

diketahui dapat mengobati area seluas 400-800 cm2. Lama waktu pemakaian

didasarkan pada indikasi dan respon yang didapat (MIMS, 2014).

Voltaren Emulgel® mengandung dietilamin diklofenak (tiap 11,6 mg

dietilamin diklofenak setara dengan 10 mg natrium diklofenak). Voltaren

Emulgel® juga mengandung dietilamin, polimer asam akrilik, cetomacrogol 1000,

isopropyl alcohol, paraffin cair, parfum, propilen glikol, dan air. Basis dari

Voltaren Emulgel® adalah gel emulsi minyak dalam air (MIMS, 2014).

Gambar 2. Voltaren Emulgel® (Novartis, 2011)

(29)

  11  

D. Temu Putih (Curcuma zedoaria Berg. Roscoe)

Gambar 3. Tanaman Temu Putih (Anonim, 2013)

Tanaman Temu Putih (Curcuma zedoaria Berg. Roscoe) memiliki nama

daerah Koneng Tegal (Sunda), Temu Pepet (Jawa). Di berbagai negara dikenal

dengan nama White Tumeric (Inggris), Kencur atau Ambhalad (India), Dan

Cedoaria (Spanyol), Er-chu (China). Klasifikasi tanaman temu putih adalah

sebagai berikut:

1. Divisi : Spermathopyta

2. Anak Divisi : Angiospermae

3. Kelas : Monocotyledonae

4. Bangsa : Zingiberales

5. Suku : Zingiberaceae

6. Marga : Curcuma

7. Jenis : Curcuma zedoaria Berg. Roscoe (CCRC, 2014).

Tanaman temu putih berupa terna tahunan, tinggi mencapai 2 m, tumbuh

tidak berkelompok. Daun berbentuk lanset memanjang berwarna merah

lembayung di sepanjang tulang tengahnya. Bunga keluar dari rimpang samping,

menjulang ke atas membentuk bongkol bunga yang besar. Mahkota bunga

(30)

  12  

 

berwarna putih, dengan tepi bergaris merah tipis atau kuning. Rimpang berwarna

putih atau kuning muda, rasa sangat pahit (CCRC, 2014).

Temu putih berasal dari Himalaya, India, dan terutama tersebar di

negara-negara Asia meliputi China, Vietnam, dan Jepang. Temu putih tumbuh liar

di Sumatra (Gunung Dempo), di hutan jati Jawa Timur, banyak pula dijumpai di

Jawa Barat dan Jawa Tengah, di ketinggian sampai 1000 dpl (CCRC, 2014).

Kandungan kimia rimpang temu putih terdiri dari kurkuminoid

(diarilheptanoid), minyak atsiri, polisakarida serta golongan lain. Diarilheptanoid

yang telah diketahui meliputi kurkumin, demetoksikurkumin,

bisdemetoksikurkumin, dan 1,7 bis (4-hidroksifenil)-1,4,6-heptatrien-3-on.

Minyak atsiri berupa cairan kental kuning emas mengandung monoterpen dan

sesquiterpen. Monoterpen terdiri dari monoterpen hidrokarbon (alfa pinen,

D-kamfen), monoterpen alkohol (D-borneol), monoterpen keton (D-kamfer),

monoterpen oksida (sineol). Seskuiterpen pada curcuma zedoaria terdiri dari

berbagai golongan dan berdasarkan penggolongan yang dilakukan terdiri dari

golongan bisabolen, elema, germakran, eudesman, guaian dan golongan

spironolakton. Kandungan lain meliputi etil-p-metoksisinamat,

3,7-dimetillindan-5-asam karboksilat (CCRC, 2014).

E. Kurkumin

Kurkumin merupakan senyawa fitokimia yang berwarna kuning-orange

yang secara praktis tidak larut dalam air. Kurkumin merupakan senyawa yang

terdapat dari ekstrak tanaman bergenus Curcuma. Senyawa ini dapat diperoleh

(31)

  13  

dengan ekstraksi menggunakan etanol. Struktur dari Kurkumin (C21H20O6)

pertama kali ditemukan pada tahun 1815 oleh Vogel dan Pellatier (Aggarwal,

Kumar, Shishodia, 2005).

Kurkumin memiliki senyawa derivat lain yang dinamakan kurkuminoid.

Kurkuminoid meliputi kurkumin, demetoksikurkumin, bis-demetoksikurkumin,

dan komponen lain (Aggarwal, Kumar, Shishodia, 2005).

Keterangan:

A : Kurkumin, B : Demetoksikurkumin, C : Bis-demetoksikurkumin

Gambar 4. Struktur dari kurkuminoid (Aggarwal, Kumar, Shishodia, 2005)

Kurkumin yang terkandung dalam rimpang temu putih terbukti memiliki

efek antiradang. Aktivitas antiradang kurkumin pertama kali dilaporkan oleh

Grieve pada tahun 1971 (Dalimartha, 1999).

@

(32)

  14  

 

Mekanisme kerja kurkumin sebagai agen antiinflamasi :

Gambar 5. Mekanisme Antiinflamasi Kurkumin (Chainani-Wu, 2003)

F. Ekstrak dan Ekstraksi

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat

aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang

sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (Depkes RI, 1995).

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut

sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia

yang akan diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa

yang tidak dapat larut dan mempunyai struktur kimia yang berbeda-beda yang

Lipo-oxygenase Cyclo-oxygenase Phospholipase

(33)

  15  

dapat mempengaruhi kelarutan dan stabilitas senyawa-senyawa tersebut terhadap

suhu, udara, cahaya, dan logam berat (Depkes RI, 1986).

G. Maserasi

Maserasi adalah suatu metode ekstraksi menggunakan pelarut dengan

beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar).

Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian

konsentrasi pada kesetimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan

yang kontinu (terus menerus). Remaserasi berarti dilakukan pengulangan

penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan

seterusnya (Depkes RI, 1986).

H. Emulgel

Emulgel adalah emulsi, baik itu tipe minyak dalam air (M/A) maupun air

dalam minyak (A/M), yang dibuat menjadi sediaan gel dengan mencampurkan

bahan pembentuk gel (Mohamed, 2004). Emulsi adalah suatu sistem yang tidak

stabil secara termodinamika yang mengandung paling sedikit dua fase cair yang

tidak bercampur, di mana satu di antaranya didispersikan sebagai globul-globul

dalam fase cair lain. Fase tersebut terdiri dari fase hidrofil, umumnya adalah air,

dan fase lipofil (hidrofob) yaitu minyak mineral, minyak tumbuhan, atau pelarut

lipofil seperti kloroform, benzen, dan sebagainya. Untuk menstabilkan emulsi

dibutuhkan emulgator atau bahan pengemulsi (Voigt, 1995).

(34)

  16  

 

Pada emulgel, emulsi dicampurkan ke dalam basis gel yang telah dibuat

secara terpisah. Kapasitas gel dari sediaan emulgel membuat formulasi emulsi

menjadi lebih stabil karena adanya penurunan tegangan permukaan dan tegangan

antar muka secara bersamaan dengan meningkatknya viskositas dari fase air

(Khullar, Deepinder, Nimrata, dan Seema, 2012).

Keuntungan emulgel sebagai bentuk sediaan antara lain adalah dapat

membawa obat yang bersifat hidrofobik dan tidak larut air; stabilitas yang lebih

baik; memungkinkan biaya produksi yang lebih rendah; dapat menjadi sediaan

lepas terkendali untuk obat dengan waktu paruh pendek (Mohamed, 2004).

I. Penetration Enhancer

Penetration enhancer didefinisikan sebagai substansi yang inert secara

farmakologi, tapi dapat berinteraksi dengan barrier stratum korneum ketika

dikombinasikan dengan formulasi transdermal dan dapat mengurangi ketahanan

kulit saat transpor obat (Chantasart, 2012).

Senyawa yang dapat berfungsi sebagai penetration enhancer antara lain:

1. Golongan Alkohol dan Glikol

Alkohol rantai pendek dan senyawa golongan glikol dapat

meningkatkan absorpsi dengan cara meningkatkan fluiditas dari lapisan lipid

pada stratum korneum dengan berinteraksi dengan protein stratum korneum.

2. Amina dan Amida

Senyawa meliputi urea dan derivatnya, asam amino dan esternya,

amida, seperti azone dan derivatnya. Azone banyak diteliti karena dapat

(35)

  17  

meningkatkan permeasi obat dalam spektrum luas. Golongan ini bekerja

dengan cara meningkatkan fluiditas dari lapisan lipid pada stratum korneum.

3. Asam Lemak dan Esternya

Asam lemak tidak jenuh lebih aktif daripada asam lemak jenuh.

Mekanisme aksinya adalah meningkatkan kelarutan dari obat, meningkatkan

partisi obat, meningkatkan penetrasi pelarut dan mengubah struktur barrier

kulit.

4. Terpene

Terpene dapat meningkatkan permeasi perkutan dari obat hidrofilik maupun

hidrofobik. Terpene juga dapat meningkatkan permeasi dari senyawa polar

(Rosen, 2005).

J. Gliserin

Gliserin merupakan nama lain dari gliserol, propan-triol,

1,2,3-propantriol, 1,2,3-trihidroksipropan gliserol dan E422. Sifatnya tidak berwarna,

tidak berbau, higroskopis, rasanya manis, dan berupa cairan viskos. Gliserin dapat

bercampur dengan air (Parfitt, 1999).

Gambar 6. Struktur Gliserin (Rowe, Sheskey, Quinn, 2009)

Gliserin dapat digunakan sebagai penetration enhancer dalam rentang

konsentrasi 0,1-20% (Stinchcomb and Banks, 2010).

(36)

  18  

 

K. Karagenan

Karagenan merupakan salah satu agen pengiritasi. Karagenan merupakan

mukopolisakarida yang tersusun atas monomer galaktosa sulfat. Penggunaan

karagenan sebagai penginduksi radang memiliki beberapa keuntungan antara lain:

tidak meninggalkan bekas, tidak menimbulkan kerusakan jaringan dan

memberikan respon yang lebih peka terhadap obat antiinflamasi dibanding

senyawa iritan lain (Morris, 2003).

Gambar 7. Mekanisme Karagenan sebagai Agen Inflamasi (Salvemini, 1996)

L. Landasan Teori

Temu putih dapat digunakan sebagai antiinflamasi. Kurkumin yang

terkandung dalam rimpang temu putih terbukti memiliki efek antiradang (Grieve,

1971). Kurkumin dapat berfungsi sebagai antiinflamasi dengan menekan aktivitas

dari fosfolipase, lipooksigenase, COX-2, leukotrien, prostaglandin, nitrit oxide,

MCP-1, tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), interleukin (IL) (Chainani-Wu,

(37)

  19  

2003). Senyawa kurkumin ini tentu saja kurang nyaman apabila diaplikasikan

langsung ke tubuh melalui kulit sehingga perlu adanya suatu formulasi sediaan

topikal sehingga tidak lengket saat diaplikasikan ke kulit. Sediaan topikal yang

dipilih dalam penelitian ini adalah Emulgel.

Emulgel merupakan dua sistem gabungan, yaitu sistem emulsi dan sistem

gel. Emulgel memiliki stabilitas yang baik selama penyimpanan dalam waktu

yang lama. Selain itu juga dari segi estetika, penampilan sediaan emulgel lebih

baik dari sediaan topikal lainnya. Keuntungan emulgel sebagai bentuk sediaan

antara lain adalah dapat membawa obat yang bersifat hidrofobik dan tidak larut

air, stabilitas yang lebih baik, memungkinkan biaya produksi yang lebih rendah,

dapat menjadi sediaan lepas terkendali untuk obat dengan waktu paruh pendek

(Mohamed, 2004).

Penambahan zat yang berfungsi sebagai penetration enhancer akan

menambah daya permeasi senyawa antiinflamasi tersebut sehingga efek inflamasi

dapat dikurangi. Gliserin dapat digunakan sebagai penetration enhancer dalam

rentang konsentrasi 0,1-20% (Stinchcomb and Banks, 2010). Mekanismenya

dalam meningkatkan absorpsi obat dengan cara meningkatkan fluiditas dari

lapisan lipid pada stratum korneum dengan berinteraksi dengan protein stratum

korneum (Rosen, 2005).

(38)

  20  

 

M. Hipotesis

1. Sediaan emulgel dengan esktrak etanol rimpang temu putih dapat dihasilkan

dengan sifat fisik yang memenuhi kriteria.

2. Sediaan emulgel dengan ekstrak temu putih memiliki aktivitas sebagai

antiinflamasi.

3. Penambahan konsentrasi gliserin memiliki pengaruh sebagai penetration

enhancer pada formulasi sediaan emulgel ekstrak etanol rimpang temu putih.

(39)

 

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian ekperimental

murni dengan rancangan acak pola searah.

B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel penelitian

a. Variabel bebas

Konsentrasi gliserin sebagai penetration enhancer yang akan digunakan.

b. Variabel tergantung

Sifat fisik gel yang meliputi viskositas, daya sebar dan tebal udema pada

telapak kaki tikus.

c. Variabel pengacau terkendali

Jenis tikus, umur tikus, jenis kelamin tikus, kecepatan dan lama

pengadukan sediaan emulgel temu putih, wadah penyimpanan, dan kondisi

penyimpanan.

d. Variabel pengacau tak terkendali

Kondisi patofisiologis tikus, suhu dan kelembaban ruangan.

(40)

22    

  2. Definisi Operasional

a. Emulgel adalah sediaan semisolid hasil emulsifikasi dan penambahan

carbopol 940 yang mengandung ekstrak etanol temu putih dengan

konsentrasi 7% yang dibuat sesuai dengan formula yang tercantum dalam

penelitian ini.

b. Inflamasi adalah reaksi tubuh terhadap mikroorganisme dan benda asing

yang ditandai oleh panas, bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ

tubuh. Dalam penelitian ini adalah bengkak (udema).

c. Aktivitas antiinflamasi adalah kemampuan emulgel temu putih untuk

mereduksi udema pada telapak kaki tikus ditunjukkan dengan % reduksi

udema.

d. Sifat fisikadalah parameter untuk mengetahui kualitas emulgel temu putih

yang dihasilkan.

e. Viskositas adalah kemampuan tahanan dari sediaan emulgel temu putih

untuk mengalir.

(41)

23    

C. Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah temu putih (BPTO),

etanol 70% (Bratachem), carbopol (Bratachem), gliserin (Bratachem), tween 80

(Bratachem), paraffin cair (Bratachem), metil paraben (Bratachem), trietanolamin,

span 80, propil paraben (Laboratorium FTS-Solid Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta), Karagenan, NaCl (Laboratorium Biofarmasetika

Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta), Voltaren Emulgel®

(NOVARTIS), aquadest steril, hewan uji tikus (Laboratorium Imono Fakultas

Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta).

D. Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah orbital shaker (Optima),

rotary evaporator (Buchi Labortechnik AG CH-9230), mixer (Phillips),

waterbath (Memmert), viscotester (Rion VT-04), indikator pH universal

(MERCK), termometer, neraca analitik, alat uji daya sebar, alat-alat gelas

(Laboratorium FTS-Solid Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta), spuit, jangka sorong Digital Caliper (Wipro).

E. Tata Cara Penelitian 1. Pembuatan ekstrak etanol rimpang temu putih

Bahan baku serbuk ditimbang sebanyak 20 gram, lalu dimasukkan ke

dalam wadah maserasi. Sebanyak 200 ml etanol 70% ditambahkan sebagai

pelarut. Maserasi dilakukan dengan menggunakan orbital shaker selama 1x24

(42)

24    

 

jam. Dilakukan penyaringan dengan corong Buchner dan kertas saring untuk

mengambil ekstrak. Ekstrak yang sudah diambil kemudian dimasukkan ke

rotary evaporator untuk menguapkan sisa etanol. Dilakukan proses

penguapan pelarut dengan waterbath dengan suhu 70oC. Dilakukan

pengovenan pada suhu 40o C untuk menghitung bobot tetap.

2. Formula

Formula dimodifikasi berdasarkan acuan pada formula Emulgel

Antiacne Minyak Serai Wangi (Wijayanti, 2013) dengan penyusunan formula

basis :

Tabel I. Formula Acuan (100 g)

Bahan Jumlah

Parrafin liquidum 20 g Span 80 4,4 g

(43)

25    

Komposisi formula setelah dimodifikasi sebagai berikut:

Tabel II. Formula Emulgel Modifikasi (100 g)

Nama Bahan F1 F2 F3 F4

F1 : Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 0% F2 : Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 2,5% F3 : Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 5% F4 : Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 10%

3. Pembuatan emulgel temu putih

Carbopol didispersikan pada aquadest, didiamkan hingga

mengembang sempurna selama 24 jam. Bahan-bahan ditimbang, lalu

dipisahkan menurut fase minyak dan fase air. Fase minyak yaitu paraffin cair,

propil paraben, dan Span 80, sedangkan fase air yaitu gliserin, aquadest, metil

paraben, dan Tween 80. Kedua fase dipanaskan hingga suhu 50°C di atas

waterbath, lalu dicampur dengan menggunakan mixer 300 rpm selama ± 5

menit. Setelah terbentuk emulsi, ditambahkan carbopol 940 yang telah

dikembangkan 1x24 jam. Ekstrak temu putih ditambahkan, diaduk kembali ±

5 menit. Kemudian trietanolamin (TEA) ditambahkan sedikit demi sedikit

sambil diaduk perlahan ± 5 menit. Sesekali dicek pH, hingga didapatkan pH

sekitar 6. Sediaan dimasukkan dalam wadah kedap cahaya.

(44)

26    

  4. Uji sifat fisik emulgel temu putih

a. Organoleptis

Pemeriksaan organoleptis meliputi bentuk, warna dan bau yang

diamati secara visual.

b. Pengukuran pH

Pengukuran pH dilakukan menggunakan indicator universal,

yaitu dengan memasukkan pH universal yang berbentuk strip ke dalam

emulgel, lalu ditentukan pHnya dengan membandingkan warnanya

dengan standar warna yang ada.

c. Uji daya sebar

Sebanyak 1 gram emulgel diletakkan di atas kaca bulat berskala.

Diatasnya diletakkan kaca bulat lain dengan beban seberat 50 gram,

didiamkan selama 1 menit, lalu dicatat penyebarannya. Uji dilakukan

setelah 48 jam dari pembuatan, hingga setelah 1 bulan penyimpanan.

Dilakukan 3 kali replikasi.

d. Uji viskositas

Pengukuran viscotester menggunakan alat Viscometer Rion seri

VT 04. Emulgel dimasukkan perlahan-lahan ke dalam wadah dan

dipasang pada viscotester. Viscotester dinyalakan. Nilai viskositas

emulgel diperoleh dengan mengamati gerakan jarum petunjuk pada

viscotester setelah jarum stabil. Uji dilakukan setelah 48 jam dari

pembuatan, hingga setelah 1 bulan penyimpanan. Dilakukan 3 kali

replikasi.

(45)

27    

5. Uji aktifitas antiinflamasi rimpang temu putih dalam sediaan emulgel a. Penyiapan hewan uji

Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus

betina, galur Wistar, usia 2-3 bulan, dengan berat badan 120-150 gram.

Sebelum digunakan, tikus dipuasakan 18-24 jam dan tetap diberi minum.

Kelompok perlakuan terdiri dari kontrol negatif karagenan 1%, kontrol

positif Natrium Diklofenak, kontrol basis sediaan emulgel dan kelompok

perlakuan emulgel ekstrak etanol Temu Putih (Curcuma zedoaria Berg.

Roscoe).

b. Pembuatan larutan NaCl 0,9%

NaCl ditimbang sebanyak 0,225 g, dilarutkan dalam 25 ml

aquadest.

c. Pembuatan suspensi karagenan 1%

Karagenan ditimbang sebanyak 0,2 mg, dilarutkan dalam larutan

NaCl fisiologis 0,9% dalam labu takar 20 ml.

d. Uji aktivitas antiinflamasi

Hewan uji dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :

1) Kelompok kontrol positif

Kaki belakang hewan uji diukur menggunakan jangka sorong

sebelum disuntik karagenan 1%. Karagenan 1% disuntikkan secara

subplantar pada kaki belakang tikus. Diukur udema setelah 2 jam

pemberian karagenan 1%, dan dilakukan pengolesan Voltaren

Emulgel®. Diamati penurunan udema pada waktu 4 jam dan 24 jam.

(46)

28    

 

2) Kelompok kontrol negatif

Kaki belakang hewan uji diukur menggunakan jangka sorong

sebelum disuntik karagenan 1%. Karagenan 1% disuntikkan secara

subplantar pada kaki belakang tikus. Diukur udema setelah 2 jam

pemberian karagenan 1%, tidak dilakukan pengolesan apapun.

Diamati penurunan udema pada waktu 4 jam dan 24 jam.

3) Kelompok emulgel ekstrak temu putih

Kaki belakang hewan uji diukur menggunakan jangka sorong

sebelum disuntik karagenan 1%. Karagenan 1% disuntikkan secara

subplantar pada kaki belakang tikus. Diukur udema setelah 2 jam

pemberian karagenan 1%, dan dilakukan pengolesan emulgel ekstrak

temu putih. Diamati penurunan udema pada waktu 4 jam dan 24 jam.

e. Perhitungan respon daya antiinflamasi

Perhitungan respon dilakukan dengan mengukur tebal udema

yang terjadi pada kaki tikus dengan menggunakan jangka sorong. Lalu

dihitung persentase reduksi udema dari tiap sediaan dengan menggunakan

rumus :

%  reduksi  udema=!"#$%  !"#$!!"#$%  !"#$%

!"#$%  !"#$ x 100%

(Kharat, 2010).

(47)

29    

F. Analisis Hasil

Data organoleptis dilakukan secara kualitatif. Daya sebar dilihat dari

hasil uji daya sebar. Viskositas emulgel dilihat dari nilai yang tertera pada

viscotester pH emulgel dilihat dari warna pada pH indikator. Data yang ada dari

48 jam hingga 1 bulan penyimpanan.

Hasil aktivitas antiinflamasi emulgel ekstrak Temu Putih (Curcuma

zedoaria Berg. Roscoe)dianalisis secara statistik dengan Test Shapiro Wilk untuk

melihat distribusi data. Jika distribusi data normal, dilanjutkan dengan Levene

Test untuk melihat kehomogenan data. Jika data homogen dilanjutkan dengan

menggunakan ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95%, selanjutnya

dilakukan uji Tukey dengan menggunakan aplikasi program R versi 3.0.1.

(48)

 

30   BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Determinasi Tanaman

Pada penelitian ini, bahan yang digunakan adalah rimpang tanaman temu

putih yang diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu.

Determinasi tanaman dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Obat

Tawangmangu untuk memastikan bahwa tanaman yang digunakan oleh peneliti

benar-benar rimpang tanaman temu putih dengan nama ilmiah Curcuma zedoaria.

Dan hasil yang didapatkan tanaman yang digunakan benar adanya rimpang temu

putih.

B. Hasil Standarisasi Ekstrak

Pada penelitian ini dilakukan standarisasi ekstrak yang meliputi

penetapan kadar kurkumin dan pengujian kadar air yang terkandung dalam

ekstrak etanol rimpang temu putih. Standarisasi ekstrak dilakukan oleh

Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Terpadu (LPPT) Universitas Gadjah

Mada Yogyakarta. Dari hasil standarisasi diketahui bahwa kandungan kurkumin

dalam ekstrak etanol rimpang temu putih sebesar 87,53 ppm dan kadar airnya

sebesar 24,25%.

(49)

31    

C. Hasil Uji Sifat Fisik dan Stabilitas Emulgel

Sifat fisik dari emulgel meliputi viskositas dan daya sebar, sedangkan

stabilitasnya dinyatakan dalam respon pergeseran viskositas. Sediaan dapat

dikatakan baik apabila dapat memenuhi persyaratan sifat fisik dan stabil selama

masa penyimpanan. Pengujian sifat fisik dan stabilitas ini diukur selama 28 hari

dengan rentang waktu hari ke-2, ke-7, ke-14, ke-21 dan ke-28.

Tabel III. Hasil Uji Organoleptis

Formula

Kriteria F1 F2 F3 F4

Warna Coklat Muda Coklat Muda Coklat Muda Coklat Muda

Bau Khas Khas Khas Khas

pH 5,5 ± 0 5,5 ± 0 5,5 ± 0 5,5 ± 0

Keterangan :

F1 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 0% F2 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 2,5% F3 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 5% F4 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 10%

1. Uji organoleptis

Uji organoleptis meliputi pengamatan warna dan bau.

2. Uji pH

Uji pH dilakukan dengan menggunakan kertas pH indikator. Dari tabel III dapat

dilihat bahwa pH semua formula berkisar antara 5-6. pH yang dimiliki semua

formula sudah masuk dalam range. pH sediaan kulit yang diperbolehkan berkisar

antara 5-6 (Heater and Adam, 2012).

(50)

32    

 

Tabel IV. Hasil Uji Sifat Fisik Emulgel

Formula Viskositas (d.Pa.s) Daya Sebar (cm) F1 316,7 ± 20,8 4,91 ± 0,04

F2 373,3 ± 25,2 4,34 ± 0,04

F3 456,7 ± 20,8 3,95 ± 0,05

F4 520 ± 26,5 3,68 ± 0,05

3. Viskositas

Viskositas dikatakan sebagai suatu besaran yang menunjukkan

ketahanan dari suatu cairan untuk dapat mengalir. Viskositas suatu bentuk

sediaan akan berpengaruh terhadap proses aplikasi ke kulit dan proses

pengemasan sediaan tersebut.

Pengukuran viskositas dilakukan 48 jam setelah pembuatan.

Pemilihan waktu ini diharapkan pada 48 jam saat pembuatan, sediaan sudah

tidak akan berubah, tidak terkena pengaruh dari luar lagi. Pengukuran

dilakukan dengan menggunakan viscotester, menggunakan putaran nomor 2.

Pada bentuk sediaan semisolid, viskositas akan berbanding terbalik

dengan daya sebar. Semakin kecil viskositas yang didapat, maka semakin

besar daya sebarnya, dan sebaliknya. Peneliti menentukan rentang viskositas

sekitar 250 – 400 d.Pa.s, hal ini dikarenakan agar sediaan tidak terlalu kental

dan juga tidak terlalu encer, sehingga nyaman untuk diaplikasikan.

Dari Tabel IV dapat dilihat bahwa respon viskositas yang didapat ada

yang masuk ke dalam range yang telah ditentukan, dan ada yang tidak.

Formula 3 dan 4 tidak masuk ke dalam range. Hal ini dimungkinkan karena

adanya penambahan jumlah gliserin dalam jumlah yang cukup banyak,

sehingga sangat membuat sediaan semakin kental.

(51)

33    

4. Daya sebar

Pengukuran daya sebar dikatakan bertujuan untuk mengetahui

seberapa besar diameter penyebaran suatu sediaan saat diaplikasikan ke kulit.

Pengukuran dilakukan setelah 48 jam pembuatan. Pengukuran daya sebar

dilakukan dengan cara meletakkan sediaan diatas kaca bundar berskala, dan

diberi beban 50 gram selama 1 menit.

Pada bentuk sediaan semisolid, daya sebar akan berbanding terbalik

dengan viskositas. Semakin kecil daya sebar yang didapat, maka semakin

besar viskositasnya, dan sebaliknya. Peneliti menentukan rentang daya sebar

sekitar 3-5 cm, hal ini dikarenakan agar sediaan tidak terlalu kental dan juga

tidak terlalu encer, sehingga nyaman untuk diaplikasikan.

Dari Tabel IV dapat dilihat bahwa respon daya sebar yang didapat

masuk ke dalam range yang telah ditentukan.

5. Stabilitas sediaan

Stabilitas sediaan selama masa penyimpanan dapat diuji dengan

menggunakan perbandingan antara hari ke-2 dan ke-28. Hari ke-28

diasumsikan sebagai lamanya sediaan akan digunakan setelah dari awal

kemasan dibuka. Stabilitas sediaan dapat dilihat dari % pergeseran viskositas

yang dimiliki sediaan. % pergeseran viskositas dapat dihitung dengan

menggunakan rumus :

%  pergeseran  viskositas=!"#$%#"&'#  !"#$  !"!!  !!"#$%#"&'#  !"#$  !"!!"

!"#$%#"&'#  !"#$  !"!! x 100%

(52)

34    

 

Dari rumus di atas, didapatkan perhitungan pergeseran viskositas

sebagai berikut :

Tabel V. Hasil Pergeseran Viskositas

Formula % Pergeseran Viskositas F1 22,073 ± 2,356

F2 6,937 ± 6,021

F3 15,303 ± 1,747

F4 7,523 ± 5,371

Pergeseran viskositas yang baik adalah dibawah 10% (Wiranata,

2011). Dari hasil perhitungan, formula 1 dan 3 tidak masuk dalam range,

sedangkan formula 2 dan 4 masuk.

Dilakukan juga perhitungan pergeseran viskositas dengan

menggunakan statistik. Yang dibandingkan adalah hari ke-2 dan ke-28. Hasil

p-value yang didapatkan adalah sebagai berikut :

Tabel VI. Hasil Pergeseran Viskositas dengan Menggunakan Statistik

Formula p-value Keterangan F1 0,008 BB

menghasilkan nilai p-value < 0,05, hal ini berarti sediaan pada hari ke-2 dan

ke-28 berbeda bermakna, dengan kata lain tidak stabil secara statistik.

Sedangkan untuk formula 2 dan 4 memiliki p-value > 0,05, berarti sediaan

(53)

35    

pada hari ke-2 dan ke-28 berbeda tidak bermakna, dengan kata lain stabil

secara statistik.

Dari kedua hasil perhitungan diatas, dapat disimpulkan bahwa sediaan

dengan formula 1 dan 3 tidak stabil selama penyimpanan, sedangkan sediaan

dengan formula 2 dan 4 stabil selama penyimpanan. Ketidakstabilan suatu

sediaan dapat disebabkan oleh suhu dan kondisi ruang penyimpanan yang

tidak dijaga dengan baik.

D. Pengujian Efek Antiinflamasi Emulgel

Pengujian efek antiinflamasi dilakukan untuk mengetahui apakah sediaan

emulgel benar memiliki efek antiinflamasi dan juga untuk mengetahui seberapa

besar efek antiinflamasi yang dapat dihasilkan oleh sediaan emulgel tersebut.

Inflamasi ditandai dengan terjadinya pembengkakan (udema) pada suatu bagian,

dalam penelitian ini adalah kaki tikus akibat injeksi suspensi karagenan 1%.

Sedangkan antiinflamasi adalah suatu kemampuan untuk mengurangi

pembengkakan (udema), dalam penelitian ini adalah sediaan emulgel. Aktivitas

antiinflamasi dari ekstrak dapat dilihat dari ada tidaknya kemampuan sediaan

emulgel untuk menurunkan udema yang terjadi.

Penelitian ini menggunakan tikus betina galur Wistar. Pemilihan hewan

uji ini dikarenakan tidak sulit untuk didapatkan, apabila dibandingkan dengan

yang jantan. Tikus jantan memiliki kelebihan apabila dilakukan untuk suatu

pengujian, maka tidak akan mudah terpengaruh dengan hormon yang ada dalam

tubuh tikus itu sendiri. Namun, karena yang dibutuhkan adalah jaringan kulit pada

(54)

36    

 

telapak kaki tikus dan proses inflamasi tidak dpengaruhi oleh hormon, maka

dipilih tikus betina sebagai hewan uji.

Hewan uji dibagi menjadi 10 kelompok perlakuan. Kelompok pertama

merupakan kelompok kontrol positif adalah Voltaren Emulgel® yang mengandung

Dietilamin Diklofenak. Kelompok kedua merupakan kelompok kontrol negatif

yaitu karagenan 1% sebagai zat penginduksi udema. Selanjutnya kelompok

perlakuan basis emulgel dengan kadar gliserin 0%, 2,5%, 5%, dan 10%.

Kelompok perlakuan basis ini dianggap termasuk kontrol negatif, yang dapat

digunakan sebagai perbandingan dengan sediaan yang mengandung ekstrak.

Kelompok yang terakhir merupakan kelompok perlakuan emulgel dengan ekstrak

etanol temu putih 7% dengan kadar gliserin pada tiap formula adalah 0%, 2,5%,

5%, dan 10%.

Pada penelitian ini, tebal udema kaki tikus diukur dengan menggunakan

jangka sorong. Jangka sorong memiliki beberapa kelebihan dalam

penggunaannya, antara lain, mudah digunakan, memiliki angka yang cukup

akurat, dan tidak diperlukannya mengorbankan hewan uji seperti metode potong

kaki.

Agen penginduksi inflamasi yang digunakan adalah suspensi karagenan

1% yang dilarutkan dalam NaCl 0,9%. Selain itu karagenan dikatakan memiliki

beberapa kelebihan sebagai agen penginduksi, antara lain tidak menimbulkan

bekas, tidak menimbulkan kerusakan jaringan dan memberikan respon yang lebih

peka terhadap obat anti-inflamasi. Pembengkakan yang dihasilkan oleh karagenan

melalui dua tahap setelah diinjeksikan ke tubuh. Yang pertama adanya pelepasan

(55)

37    

histamine, serotonin, dan bradikinin, lalu yang kedua pelepasan prostaglandin

yang nantinya akan menyebabkan migrasi leukosit ke lokasi radang (Foye, 1981).

Kontrol positif yang digunakan pada penelitian ini adalah Voltaren

Emulgel® yang mengandung natrium dietilamin. Kontrol positif ini dipilih karena

sudah beredar di pasaran dan telah teruji aktivitas antiinflamasinya. Natrium

diklofenak dapat menghambat sintesis prostaglandin.

Pada kelompok kontrol negatif, yaitu suspensi karagenan 1%, kaki

belakang mencit diinduksi dengan menggunakan suspensi karagenan 1%, dan

tidak diberi perlakuan apapun. Hal ini dilakukan untuk melihat bagaimana kondisi

kaki tikus tanpa perlakuan apapun, untuk membandingkan hasilnya dengan

kelompok perlakuan.

Pada kelompok kontrol positif, yaitu Voltaren Emulgel®, kaki belakang

mencit diinduksi dengan menggunakan suspensi karagenan 1%, lalu dioles

Voltaren Emulgel® pada waktu 2 jam setelah injeksi.

Pada kelompok basis sediaan, sama halnya dengan kontrol positif, kaki

belakang mencit diinduksi dengan menggunakan suspensi karagenan 1%, lalu

dioles basis sediaan tiap formula pada waktu 2 jam setelah injeksi.

Pada kelompok perlakuan sediaan yang mengandung ekstrak etanol

rimpang temu putih. Sama halnya dengan kontrol positif, kaki belakang mencit

diinduksi dengan menggunakan suspensi karagenan 1%, lalu dioles emulgel

ekstrak temu putih tiap formula pada waktu 2 jam setelah injeksi.

Kadar ekstrak temu putih yang dikandung tiap sediaan sama, yaitu

sebesar 7%. Yang berbeda dari tiap sediaan adalah konsentrasi gliserin yang

(56)

38    

 

diduga dapat berfungsi sebagai penetration enhancer yang nantinya dapat

mempercepat proses permeasi obat ke dalam jaringan kulit.

Waktu pengolesan sediaan ditentukan oleh peneliti setelah 2 jam melalui

hasil orientasi waktu pembengkakan yang paling optimal. Orientasi dilakukan

dengan menginduksi kaki bagian belakang tikus dengan karagenan 1%, lalu

udema diukur selama 6 jam setiap 30 menit. Dari hasil didapatkan bahwa bengkak

yang paling optimum terjadi pada jam kedua setelah induksi karagenan 1%.

Setelah itu udema diukur lagi pada waktu 4 jam dan 24 jam setelah

injeksi. Pada waktu 4 jam setelah injeksi, diharapkan sediaan sudah mampu untuk

menunjukkan aktivitas antiinflamasinya. Sedangkan pada saat 24 jam untuk

melihat bagaimana kemampuan reduksi udema dari sediaan secara total.

E. Hasil Uji Antiinflamasi Emulgel

Hasil uji antiinflamasi emulgel berupa % reduksi udema kaki tikus pada

tiap kelompok perlakuan di pengukuran waktu 4 jam dan 24 jam.

Dari tabel VII dapat dilihat bahwa % reduksi yang paling besar adalah

dari kelompok perlakuan sediaan emulgel dengan ekstrak 7% dan gliserin 10%,

sedangkan % reduksi udema yang paling kecil adalah dari kelompok basis

sediaan. Pada kelompok perlakuan sediaan dengan ekstrak, dapat dilihat bahwa

semakin bertambahnya kadar gliserin yang digunakan, semakin besar penurunan

udema yang terjadi. Dari hal ini dapat dikatakan bahwa kadar gliserin disini juga

memiliki pengaruh dalam sediaan. Fungsinya sebagai penetration enhancer dapat

(57)

39    

membawa obat lebih cepat masuk ke dalam jaringan kulit dan menurunkan efek

inflamasi lebih cepat.

Tabel VII. Hasil % Reduksi Udema Kaki Tikus

Kelompok Perlakuan

% Reduksi Udema Kaki Tikus jam ke-4

% Reduksi Udema Kaki Tikus jam ke-24

F1 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 0% F2 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 2,5% F3 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 5% F4 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 10%

Untuk mengetahui kekuatan antiinflamasinya, maka dilakukan analisis

statistik terhadap % reduksi udema pada tiap jam pengukuran.

Tabel VIII menunjukkan bahwa kelompok kontrol positif memiliki

kesamaan dengan kelompok ekstrak, hal ini ditunjukkan dari nilai p-value nya

yang berada diatas 0,05. Dapat dikatakan bahwa emulgel memiliki kemampuan

yang sama dalam mereduksi udema dengan kontrol positif secara statistik.

Kelompok kontrol positif jika dibandingkan dengan kelompok kontrol

negatif dan kelompok basis memiliki perbedaan yang bermakna yang ditunjukkan

dari nilai p-value nya yang berada dibawah 0,05. Dapat disimpulkan bahwa

kelompok kontrol negatif dan kelompok basis tidak memiliki kemampuan untuk

mereduksi udema seperti yang dimiliki kelompok kontrol positif.

(58)

40    

 

Tabel VIII. Hasil Uji Statistik % Reduksi Udema Pada Jam Ke-4

Perlakuan p-value Keterangan

Kontrol positif

F1 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 0% F2 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 2,5% F3 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 5% F4 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 10%

Tabel VIII juga menunjukkan bahwa kelompok kontrol negatif memiliki

kesamaan dengan kelompok basis dan berbeda dengan semua kelompok ekstrak.

Hal ini ditunjukkan dengan nilai p-value masing-masing perbandingan. Dapat

disimpulkan bahwa kelompok kontrol negatif dan basis tidak memiliki

(59)

41    

kemampuan mereduksi udema atau tidak memiliki pengaruh pada penurunan

udema kaki tikus, sedangkan kelompok ekstrak memiliki kemampuan mereduksi

udema, sehingga dikatakan memiliki perbedaan secara statistik.

Tabel VIII menunjukkan bahwa pada jam ke-4, semua kelompok ekstrak

tidak memiliki perbedaan dilihat dari nilai p-value nya. Dapat dikatakan bahwa

penambahan gliserin sebagai penetration enhancer pada jam ke-4 tidak terlihat,

karena tidak ada perbedaan diantara semua kelompok sediaan.

Dilanjutkan dengan analisis statistik untuk pengukuran reduksi udema

pada jam ke-24.

Tabel IX menunjukkan bahwa setelah 24 jam kelompok kontrol positif

memiliki kesamaan dengan kelompok ekstrak 0% hingga ekstrak 5%, hal ini

ditunjukkan dari nilai p-value nya yang berada diatas 0,05. Dapat dikatakan

bahwa emulgel memiliki kemampuan yang sama dalam mereduksi udema dengan

kontrol positif secara statistik. Namun, dengan kelompok ekstrak 10% dikatakan

berbeda secara statistik. Untuk melihat apakah berbedanya lebih tinggi atau lebih

rendah, dilakukan uji T-test. Dari hasil uji T-test didapatkan bahwa kelompok

ekstrak 10% lebih tinggi daripada kelompok kontrol positif. Dari hasil ini dapat

disimpulkan bahwa kelompok ekstrak 10% memiliki kemampuan yang lebih baik

dalam mereduksi udema daripada kontrol positif.

Kelompok kontrol positif jika dibandingkan dengan kelompok kontrol

negatif dan kelompok basis memiliki perbedaan yang bermakna yang ditunjukkan

dari nilai p-value nya yang berada dibawah 0,05. Dapat disimpulkan bahwa

setelah 24 jam kelompok kontrol negatif dan kelompok basis juga tidak memiliki

(60)

42    

 

kemampuan untuk mereduksi udema seperti yang dimiliki kelompok kontrol

positif.

Tabel IX. Hasil Uji Statistik % Reduksi Udema Pada Jam Ke-24

Perlakuan p-value Keterangan

Kontrol positif

F1 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 0% F2 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 2,5% F3 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 5% F4 = Formula dengan ekstrak 7% dan gliserin 10%

(61)

43    

Dari tabel IX dapat dilihat bahwa setelah 24 jam kelompok kontrol

negatif memiliki kesamaan dengan kelompok basis dan berbeda dengan semua

kelompok ekstrak. Hal ini ditunjukkan dengan nilai p-value masing-masing

perbandingan. Dapat disimpulkan bahwa setelah 24 jam kelompok kontrol negatif

dan basis tidak memiliki kemampuan mereduksi udema atau tidak memiliki

pengaruh pada penurunan udema kaki tikus, sedangkan kelompok ekstrak

memiliki kemampuan mereduksi udema, sehingga dikatakan memiliki perbedaan

secara statistik.

Tabel IX menunjukkan bahwa pada jam ke-24, kelompok ekstrak 0%,

kelompok ekstrak 2,5%, dan kelompok ekstrak 5% memiliki perbedaan dengan

kelompok ekstrak 10% dilihat dari nilai p-value nya. Dapat dikatakan bahwa

penambahan gliserin sebagai penetration enhancer pada jam ke-24 sudah terlihat,

dengan adanya penambahan gliserin sebanyak 10% membuat udema lebih banyak

tereduksi daripada konsentrasi yang lebih kecil.

Pengukuran persentase reduksi udema dari emulgel tidak hanya dapat

dilakukan pada waktu jam ke-4 dan jam ke-24 saja, melainkan dapat diukur juga

pada selang waktu antara jam ke-4 sampai jam ke-24. Dengan waktu pengukuran

yang lebih banyak akan didapatkan hasil profil penurunan udema yang lebih baik.

(62)

 

44    

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Sediaan emulgel ekstrak temu putih memiliki viskositas yang memenuhi

syarat untuk formula 1 dan 2, sedangkan untuk formula 3 dan 4 tidak

memenuhi syarat. Untuk daya sebar, semua formula memenuhi persyaratan.

Untuk formula yang paling optimal adalah F2.

2. Sediaan emulgel ekstrak temu putih memiliki aktivitas antiinflamasi.

3. Penambahan konsentrasi gliserin sebagai penetrationenhancer pada formulasi

sediaan emulgel ekstrak temu putih memiliki pengaruh terhadap aktivitas

antiinflamasi yang diukur melalui persentase reduksi udema.

B. Saran

1. Perlu dilakukan metode lain yang lebih akurat untuk mengukur daya penetrasi

dari suatu bahan dalam formulasi.

2. Perlu dilakukan penggantian bahan lain selain gliserin yang dapat berfungsi

sebagai penetration enhancer.

Figur

Tabel I. Formula Acuan (100 g) ..................................................................
Tabel I Formula Acuan 100 g . View in document p.14
Gambar  1. Mekanisme Inflamasi ...................................................................
Gambar 1 Mekanisme Inflamasi . View in document p.15
Gambar 1. Mekanisme Inflamasi (Mutschler, 1986)
Gambar 1 Mekanisme Inflamasi Mutschler 1986 . View in document p.27
Gambar 2. Voltaren Emulgel® (Novartis, 2011)
Gambar 2 Voltaren Emulgel Novartis 2011 . View in document p.28
Gambar 3. Tanaman Temu Putih (Anonim, 2013)
Gambar 3 Tanaman Temu Putih Anonim 2013 . View in document p.29
Gambar 4. Struktur dari kurkuminoid (Aggarwal, Kumar, Shishodia, 2005) ������������������������������������������������������������
Gambar 4 Struktur dari kurkuminoid Aggarwal Kumar Shishodia 2005 . View in document p.31
Gambar 5. Mekanisme Antiinflamasi Kurkumin (Chainani-Wu, 2003)
Gambar 5 Mekanisme Antiinflamasi Kurkumin Chainani Wu 2003 . View in document p.32
Gambar 6. Struktur Gliserin (Rowe, Sheskey, Quinn, 2009)
Gambar 6 Struktur Gliserin Rowe Sheskey Quinn 2009 . View in document p.35
Figuretidak meninggalkan bekas, tidak menimbulkan kerusakan jaringan dan  8productioncarrageenan.
Figuretidak meninggalkan bekas tidak menimbulkan kerusakan jaringan dan 8productioncarrageenan . View in document p.36
Tabel I. Formula Acuan (100 g)
Tabel I Formula Acuan 100 g . View in document p.42
Tabel II. Formula Emulgel Modifikasi (100 g)
Tabel II Formula Emulgel Modifikasi 100 g . View in document p.43
Tabel III. Hasil Uji Organoleptis
Tabel III Hasil Uji Organoleptis . View in document p.49
Tabel IV. Hasil Uji Sifat Fisik Emulgel
Tabel IV Hasil Uji Sifat Fisik Emulgel . View in document p.50
Tabel V. Hasil Pergeseran Viskositas
Tabel V Hasil Pergeseran Viskositas . View in document p.52
Tabel VIII menunjukkan bahwa kelompok kontrol positif memiliki
Tabel VIII menunjukkan bahwa kelompok kontrol positif memiliki . View in document p.57
Tabel VIII. Hasil Uji Statistik % Reduksi Udema Pada Jam Ke-4
Tabel VIII Hasil Uji Statistik Reduksi Udema Pada Jam Ke 4 . View in document p.58
Tabel IX menunjukkan bahwa setelah 24 jam kelompok kontrol positif
Tabel IX menunjukkan bahwa setelah 24 jam kelompok kontrol positif . View in document p.59
Tabel IX. Hasil Uji Statistik % Reduksi Udema Pada Jam Ke-24
Tabel IX Hasil Uji Statistik Reduksi Udema Pada Jam Ke 24 . View in document p.60
Tabel IX menunjukkan bahwa pada jam ke-24, kelompok ekstrak 0%,
Tabel IX menunjukkan bahwa pada jam ke 24 kelompok ekstrak 0 . View in document p.61

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (95 Halaman)