SPECIALReport
Pengadaan Pesawat
Bagai jamur
dimusim
penghujan.
Sepertinya
pepatah ini
tepat untuk
menggambarkan
banyaknya
maskapai yang
beroperasi
di Indonesia.
Sebelumnya kita
hanya mengenal
beberapa
maskapai
yang popular
seperti Garuda
Indonesia,
Merpati
Nusantara,
Mandala.
Danang Prihantoro
Antara Pesawat
Tua atau Muda
D
i era 2000-an itulah menjadi sasaran empukbagi para pelaku usaha semakin membesarkan maskapai maupun para investor untuk mendirikan perusahaan penerbangan baru. Pada saat bersamaan marak bermunculan maskapai dengan mengusung konsep penerbangan murah.
Sayangnya, bila diruntut pada 2007-2009, sebelumnya kondisi penerbangan di Indonesia parah, banyak maskapai pailit dan di black list oleh Uni Eropa dengan tidak boleh terbang ke sana. Jadi mengapa saat itu di masukkan daftar hitam? Sebenarnya bukan per airlines --meskipun ada per
airlines--, namun dilihat kelemahan struktural yang ada di regulator saat itu.
Maka, lahirlah UU Penerbangan No. 1/2009, merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk memperbaiki hukum udara/penerbangan di Indonesia. Juga dikenal sebagai UU dengan jumlah pasal terbanyak yang ada dibanding UU lain, karena merupakan gabungan dari beberapa UU.
Andre Rahadian, Partner Hanafiah Ponggawa & Partner menegaskan timbul UU ini, karena saat itu izin mendirikan maskapai mudah dan perusahaan tidak memiliki modal cukup termasuk pengadaan pesawat dan keuangan. Sehingga ada sedikit guncangan pada perusahaan, imbasnya langsung tutup. Bila maskapai terlambat bayar sewa pesawat, maka bisa berhenti operasi. Makanya, UU ini mewajibkan kepemilikan pesawat.
Misalnya, lima milik sendiri dan lima sewa, dinilai cukup untuk beroperasi di Indonesia. Karena memiliki lima pesawat tergolong susah, oleh karenanya pengadaan dilaksanakan sebelum jalan atau saat jalan bisnisnya. Dalam hal ini, maskapai harus memiliki dengan nominal yang besar. Jadi, dalam UU itu ada penyesuaian jangka waktu tiga tahun untuk memenuhi syarat tersebut dari masing-masing maskapai.
Tahun I - Edisi 05 I Juli 2015
IRMAGZ
A
49
Mengapa baru akan digaungkan sekarang ini?
“Seharusnya pro dan kontra pada 2009. Sekarang UU sudah keluar, maka harus dipatuhi. Namun, dalam surat menteri itu ada semacam kompromi dari sewa pesawat ada pilihan (opsi) untuk membeli. Selama di kontrak tersebut disebutkan bisa beli, maka dapat dijadikan dasar bukti kepemilikan,” tegas Andre.
Pada kesempatan terpisah, Capt. Dr. Toto Soebandoro, Quality, Service and Safety Director Sriwijaya Air menyatakan perusahaannya paling patuh (compliance) terhadap aturan tersebut. Karena dua tahun berikutnya, Sriwijaya Air sudah memiliki lebih lebih dari lima pesawat yang terdiri dari Boeing 737-300 dan Boeing 737-500.
Toto mengaku, kalau dilihat dari isi ketentuannya, tidak semua negara melakukan hal sama. Namun, di sini tujuan pemerintah adalah agar tidak mengganggu gugat soal pembiayaan pesawat. Menurutnya, memiliki 10 pesawat itu berat, untuk punya lima saja perlu dana (capital)yang sangat banyak. Sedangkan di Indonesia, butuh kepastian airlines
agar menjalankan roda penerbangannya tidak main-main. Di sisi lain, Andre berkata “Sebenarnya, saya sendiri dan teman-teman di organisasi justru melihat ini tidak sesuai dengan undang-undang, karena dalam UU bukti kepemilikan adalah bill of sales. Mungkin, saat ini juga ini sedang dipelajari oleh lembaga pembiayaan untuk mengeluarkan komitmen bill of sales.”
Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, lanjut Toto lebih menekankan hanya menerapkan apa yang diatur dalam
Tahun I I Edisi 05 I Juli 2015
IRMAGZ
Daftar Harga Pesawat Per Unit
Tipe Pabrikan Harga (USD)
Airbus A319 Airbus, Eropa 92 juta Airbus A320 Airbus, Eropa 100,20 juta Airbus A321 Airbus, Eropa 117, 40 juta Airbus A330-300 Airbus, Eropa 165 juta Airbus A330-200 Airbus, Eropa 216,10 juta Airbus A380-800 Airbus, Eropa 403,90 juta ATR 42-500 ATR, Eropa 12,10 juta ATR 42-600 ATR, Eropa 15 juta ATR 72-500 ATR, Eropa 14,40 juta ATR 72-600 ATR, Eropa 19 juta Boeing 737 Convertible Boeing, Amerika 63 juta Boeing 737-800 Boeing, Amerika 89,10 juta Boeing 737-900ER Boeing, Amerika 94,60 juta Boeing 777-200ER Boeing, Amerika 258,80 juta Boeing 777-300 Boeing, Amerika 279 juta Boeing 747-400 Boeing, Amerika 240 juta Bombardier CRJ 1000 Bombardier, Kanada 46,37 juta Bombardier Q400 Bombardier, Kanada 27 juta E-190 Embraer, Brazil 32 juta E-195 Embraer, Brazil 40 juta E-170 Embraer, Brazil 26,50 juta E-175 Embraer, Brazil 28 juta Sukhoi Superjet 100-75 Sukhoi, Rusia 30 juta
SPECIALReport
UU tersebut, bukan membuat aturan baru. Senada dengan Andre, Toto juga berkomentar bahwa UU cukup
clear, karena kepemilikan dibuktikan bill of sales. Apakah Memberatkan Pelaku Usaha Penerbangan?
Peraturan tersebut sebenarnya sudah cukup lengkap, jadi tinggal pelaksanaannya saja. Andre menilai Ignasius Jonan yang sedang berkonsentrasi dalam hal ini. Jadi, apabila tidak dilaksanakan, ada sanksi, yaitu pembekuan izin usaha, dan di surat menteri disebutkan batas waktu hingga 30 Juni, namun diperpanjang hingga Agustus mendatang.
Ada di Peraturan Menteri yang baru dalam PM 41/2015 yang merubah KM 25/2008 dengan menyesuaikan pasal 118, sedikit perubahan bahwa pesawat selain mendukung kelangsungan usaha juga harus sesuai dengan rute yang dilayani. Perubahan-perubahan ini sudah banyak yang memperjelas dari UU.
Muncul juga wacana agar maskapai yang kecil gabung (merger), sehingga bisa mengurangi jumlah airline. Tujuannya adalah agar kontrol perusahaan penerbangan lebih mudah. Namun, sayangnya sisi negatif untuk airlines
yang baru tumbuh sangat berat dalam hal ini.
Apakah ini berarti ada diskriminasi perlakuan usaha penerbangan dengan modal terbatas dibandingkan bermodal besar? “Bukan demikian, tapi lebih tepatnya persaingan usaha yang natural. Sebenarnya, nature bisnis ini padat modal karena yang dioperasikan barang mahal yang ada standar safetynya, sehingga kalau mau masuk ke usaha ini, harus punya modal yang cukup,” tegas Andre.
Ada penegasan soal modal setor yang harus dibayar oleh pemegang salam dalam PM 41/2015, punya tipe pesawat kapasitas lebih dari 70 kursi maskapai berjadwal dengan modal setor minimum Rp 500 miliar, kurang dari 70 kursi Rp 300 miliar. Charter lebih 70 kursi Rp 300 miliar, kurang dari 70 Rp 150 miliar. Ini akan memperjelas siapapun orang atau pelaku yang akan masuk menjadi pemain bisnis penerbangan.
Soal bisnis, Toto mengungkapkan keuntungan yang didapat dari mendirikan maskapai itu tidak instan, bahkan setelah dua tahun berjalan investor belum tentu mendapat untung.
Bagi maskapai kecil maupun besar, tersedia opsi ‘utang’ untuk melakukan pembiayaan ataupun pengadaan pesawat. Langkah ini, kata Toto tidak masalah di penerbangan. Hanya saja bisnis penerbangan itu sangat bergantung pada bahan
bakar (fuel) dan nilai tukar. Sehingga dibutuhkan konsistensi karena hal itu akan mempengaruhi cicilan. Perlu diketahui, semua biaya dalam dollar.
Bila dalam kondisi memaksa, pelaku usaha penerbangan dengan modal terbatas berkesempatan untuk utang atau bentuk lainnya kepada pihak lain demi pemenuhan ketentuan tersebut. Andre
menyatakan utang untuk usaha boleh saja, selama ada rasio-rasio yang wajar. Tergantung survival
dari masing-masing maskapai untuk melangsungkan usahanya. Dan bukan eranya lagi kebijakan
merger dan sejenisnya diatur oleh pemerintah.
Pemerintah dalam hal ini bisa konsekuen dalam menangani industry penerbangan. Tidak boleh ada istilah double standard, dimana ada peraturan satu sisi mengikat suatu maskapai, sisi lain memperbolehkan maskapai tanpa harus mengikuti suatu aturan main. Kepemilikan di Luar Negeri
Menurut beberapa maskapai, era sekarang bukan soal model
Tahun I - Edisi 05 I Juli 2015
IRMAGZ
A
51
sebagai operator, sementara pemilik pesawatnya adalah
holdingnya, yaitu Khasanah Nasional Bhd.
Begitu juga Singapore Airlines hanya selaku operator. Untuk aset pesawatnya dimiliki oleh Singapore Aircraft Ownership. Pemilik pesawat itu sebagai BUMN lain yang menyewakan ke operator.
“Dalam struktur keuangan maskapai, kalau punya aset besar dan pesawat dijadikan aset, itu tidak sebagus dibandingkan sebagai operator saja, karena ini adalah biaya (cost). Makanya, hampir semua airlines, dibuku keuangan tidak mau ada aset pesawat, karena depresiasi (penurunan) terus,” papar Andre.
Hal tersebut juga dibenarkan Toto, bahwa Singapore Airlines adalah operator dan tidak memiliki pesawat. Sehingga dalam hal ini lebih fleksibel bila perusahaan akan mengganti armadanya,
dibandingkan si operator memiliki pesawat sendiri. Bila akan melakukan penggantian atau peremajaan harus menjual terlebih dahulu.
Pesawat Tua atau Muda
Bila berada di sekitar suatu bandar udara, mungkin kita akan melihat banyak pesawat yang nongkrong
dan beberapa di antaranya mulai usang. Bagaimana dengan status pesawat lama yang nganggur atau tidak dioperasikan lagi?
Sebenarnya selama masih punya sertifikasi laik terbang dan dirawat tidak ada masalah
karena itu pilihan operasional. Untuk disewakan ke pihak lain itu boleh saja, walaupun pesawat-pesawat itu diparkir di sana.
Umur Pesawat Sriwijaya Air
Kode IATA | SJ Kode ICAO | SJY Kode Panggil | Sriwijaya
Tipe/Registrasi Penerbangan Perdana Sriwijaya Air Diterima
Manufacture Serial Number
(MSN)
Umur
Boeing 737-33A (PK-CJC) 17 Mei 1988 6 Juli 2007 24025 LN:1556 27,1 tahun Boeing 737-33A (PK-CJT) 11 Januari 1991 1 Juli 2008 24791 LN:1984 24,4 tahun Boeing 737-3Q8 (PK-CJY) 2 April 1990 1 Februari 2009 24698 LN:1846 25,2 tahun Boeing 737-4Y0 (PK-CJW) 22 Juni 1990 20 Februari 2009 24690 LN:1885 25 tahun Boeing 737-4Q8 (PK-CKA) 26 Februari 1992 1 Maret 2009 25169 LN:2237 23,3 tahun Boeing 737-4Q8 (PK-CKN) 9 Oktober 1992 22 November 2011 26281 LN:2380 22,7 tahun Boeing 737-524 (PK-CLC) 13 Mei 1994 9 April 2012 27323 LN:2616 21,1 tahun Boeing 737-534 (PK-CLD) 14 Oktober 1994 2 Agustus 2012 27333 LN:2660 20,7 tahun Boeing 737-86N (PK-CLA) 11 Maret 1999 23 April 2012 28591 LN:233 16,3 tahun Boeing 737-8K5 (PK-CLT) 31 Maret 1999 8 Maret 2013 27991 LN:248 15,4 tahun
Sumber: 10 armada diolah dari Airfleets.net
Tahun I I Edisi 05 I Juli 2015
IRMAGZ
A 51
Foto: Randy Christianto Putra
Capt. Dr. Toto Soebandoro,
Quality, Service and Safety Director Sriwijaya Air
SPECIALReport
Di kesempatan lain, Toto menegaskan Sriwijaya Air memiliki Boeing 737-200 yang sudah tidak dioperasikan lagi karena boros. Prinsipnya Setiap airlines itu fokus pada pengiritan bahan bakar, makin baru pesawat makin irit.
Namun, soal umur pesawat, tambah Toto tidak terlalu mempermasalahkan. Ia lebih menekankan pesawat laik itu
terbang atau tidak. Memang, kalau pesawat baru, lebih pada kenyamanannya dibandingkan pesawat lama. Dan pesawat yang terbang itu pasti laik.
Mengapa? Karena yang bertanggungjawab adalah orang-orang yang punya lisensi (bersertifikat) sesuai pekerjaan maupun profesinya. Untuk perawatan pesawat dilakukan oleh teknisi, untuk muatan (load) pesawat sebelum terbang ada Flight Operation Officer (FOO), sedangkan untuk komunikasi saat di udara oleh petugas lalu lintas udara (ATC). Untuk penangangan di kabin ada pramugari/pramugara dan beberapa dukungan dari profesi lainnya.
Ditanya soal berapa pesawat yang dioperasikan Sriwijaya Air? Saat ini mengoperasikan 38 armada yang terdiri dari 737-800, 737-400, 737-300 dan 737-500.
Bahkan, dalam fase pengadaan pesawat, Sriwijaya Air di Paris Air Show 2015 dengan menandatangani perjanjian pembelian dua unit Boeing 737-900 ER dan opsi pembelian 20 unit pesawat sejenis.
Agus Soedjono, Senior Manager Corporate Communications menyatakan untuk pengiriman dua unit seri 900 ER tersebut, direncanakan akan selesai pada Agustus di tahun ini. Karena pengiriman ini telah menjadi bagian dari the definitive purchase agreement atau perjanjian pembelian definitive.
ADA PENEGASAN SOAL MODAL
SETOR YANG HARUS DIBAYAR OLEH
PEMEGANG SALAM DALAM PM
41/2015, PUNYA TIPE PESAWAT
KAPASITAS LEBIH DARI 70 KURSI
MASKAPAI BERJADWAL DENGAN
MODAL SETOR MINIMUM RP 500
MILIAR, KURANG DARI 70 KURSI
RP 300 MILIAR. CHARTER LEBIH
70 KURSI RP 300 MILIAR, KURANG
DARI 70 RP 150 MILIAR. INI
AKAN MEMPERJELAS SIAPAPUN
ORANG ATAU PELAKU YANG AKAN
MASUK MENJADI PEMAIN BISNIS
PENERBANGAN.
Tahun I - Edisi 05 I Juli 2015
IRMAGZ
A
53
Umur Pesawat Garuda Indonesia
Kode IATA | GA
Kode ICAO | GIA
Kode Panggil | Indonesia
Tipe/Registrasi
Penerbangan
Perdana
Diterima Garuda
Manufacture
Serial Number
(MSN)
Umur
Boeing 737-86N (PK-GFA) 1 Juli 2010
14 Juli 2010
36549 LN:3331
5 tahun
ATR 72-600 (PK-GAG)
13 Juni 2014
5 Juli 2014
1157
1 tahun
Sumber: Dua armada diolah dari Airfleets.net
SPECIALReport
Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat beregistrasi PK-GFA tersebut diterbangkan oleh Pilot in Command Capt. Nikodemus Elim dan Kopilot FO Ida Fiqriah.
Sebelumnya, Garuda GA-7040 rute Denpasar-Lombok yang mengalami kejadian keluar landasan dan berhenti di rerumputan ketika mendarat di Bandara Lombok Praya, Nusa Tenggara Barat, pada 3 Februari 2014 pukul 17.03 waktu setempat.
Adalah jenis ATR 72-600 dengan nomor registrasi PK-GAG. Pesawat tersebut mengangkut empat crew
serta 29 penumpang, terdiri dari 28 penumpang dewasa dan satu infant. Padahal umur pesawat itu masih tergolong baru.
Perseroan mengklaim, adanya pengadaan pesawat berkapasitas 220 kursi, yang didesain untuk semua kelas ekonomi tersebut sebagai tindak lanjut dari satu-satunya
maskapai di Indonesia yang berpelayanan medium service,
dalam hal peremajaan armada dan sebagai upaya ekspansi.
Masih terkait umur pesawat, Garuda Indonesia Boeing 737-800, nomor penerbangan GA-618 rute
Jakarta – Makassar, yang berangkat pukul 11.00 WIB dari Jakarta, pada 2 Juni lalu, pukul 14.40
WITA tergelincir sekitar satu meter dari pinggiran landas pacu (runway) ketika setelah melakukan
pendaratan dalam keadaan hujan lebat di Bandara
Tahun I I Edisi 05 I Juli 2015
IRMAGZ
A 53