Politik
Hukum
Perburuhan
di
lndonesia
Oleh: Abdul Khair
ABSTRAKUndang-undang ketenagakerjaan adalah salah satu produk hukum yang dipengaruhi oleh
politik,
indikatornya adalah undang' undang bersifat konseruatrf dimana kalaudikaji
secara mendalamterlihat lebih
menguntungkan kepada
pengusahadan
sangat merugikan kepada pihakburuh. Hal
ini
dapat sajaterjadi
karenapemerintah
lebih
berkepentingan kepada
pengusaha daripada kepada buruh.Dampaknya
adalah tenaga
buruh
yang menjadi
korban, tenaga buruh dieksploitasi oleh pengusaha dan pemerintah masih terkesan tutup mata misalnya :l)
upah yang sangat murah,2)
jika
terjadi
perselisihan
antara buruh
dengan
pengusaha
selalu pengusaha yangdimenangkan,
3)
seringnya pengusaha memPHKburuh tidak melalui prosedur
4)
bahkan adaoknom
pemerintah yang tega melakukan pungli terhadap tenaga kerja.Untuk
menggodok undang-undang tenaga kerja yang baikperlu
melibatkan kepadaperwakilan
tenagaburuh, agar
produkundang-undang
yang
dihasilkan bersifat responsf
dan
tidak
cenderung kepada koruervatilsehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Kata-kata
kunci:
Hukum Perburuhan, reformasi.A,
Pendahuluan
Awal
tahun
2006
ditandai
dengan
banyaknyatenaga
kerjayang
kena Pemutusan HubunganKerja
(PHK)
oleh
pengusaha,sepeni yang dimuat
oleh
harian Kedaulatan Rakyat, yaitu :"Ribuan pekerja
di
Sukoharjo terkena PHK. Menyusul kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapawaktu
lalu
berbuntutribuan
buruh
disejumlahperusa-haan
di
kabupaten
Sukoharjo terkena PHK. Ironisnya lagi setelah86
| HIMMAH Vol. Vll No. 18 Januari -Aprit 2006terkena PHK pembayaran pesan-gon yang merupakan
hak
buruh-pun
tidak
dibayarkan
sekaligusmelainkan dengan
cara
dicicil". (Kedaulatan Rakyat, 21 Desember 2005:9)
Tenaga
kerja yang
kena PHKtidak
di
Sokoharjosaja
tapi
di-berbagai kota diseluruh Indonesia.Drs.
H.
Supardi,
MM,
dalamHarian
Kedaulatan Rakyat
edisiRabu,
4
Januari
2006
dalamtulisannya PHK
KenanganAkhir
Tahun menyatakan :
"Selama
bulan
Desember 2005,media
massamemberitakan
be-berapa perusahaan besar berskala
nasional
akan
melakukan
PHKbagi
pekerjanya.
Jumlah
yang akandi
PHK puntidak
tanggung-tanggung 10.000 an orang pekerja.Sepuluh
ribuan
tidak
menjadi masalah manakalajika
dibanding-kan
dengan
jumlah
pendudukIndonesia.
Tetapi terasa
sangat menyakitkan manakala dibanding-kan dengan angkatan kerja denganjumlah
pengangguran
yang
sedangterjadi. Jumlah
pengang-guran
kita
sudah
sangat
besa4kenapa masih harus ada keinginan
untuk
adanya PHK
pekerja".
(Kedaulatan
Rakyat,
4
Januari2006:
10)Disamping
itu juga
meledak-nyajumlah
angkatankerja
telahmelahirkan
problem
beruntun
yang
sangat
krusial,
seperti
kompetensi mencari peluang kerja menjadi amat ketat yang akibatnya
harga tenaga
buruh
menjad isangat
murah.
Selanjutnya para majikan lantas memandang remehpara buruh,
perlakuan
tidak
manusiawi
dari
majikanpun
terkadang
harus disikapi
secarakompromi
oleh
buruh
sekedaragar mereka ddakdipecat.
Permasalahan ini
bukan
suatu hal yang ringan dan bisa dianggap remeh. Secara sistematikpermasa-lahan
ini
akan
berdampak jugaterhadap produktivitas
kerj a,timbulnya image negatif terhadap
politik
hukum
perburuhan, dan yanglebih
riskanadalah
timbul-nya kecemburuan sosial yang tidak mustahil membawa
pada
rasialis-me.Disisi
lain
dengan
maraknya berbagaiteror
di
Indonesia dansuasana keamanan
yang
tidak
kondusil
membuat
para
pengu-saha baikdari
dalam negeri mau-pun dari luar negeri engganuntuk
menanamkan investasinya di Indo-nesia, tentu saja hal ini berdampak buruk terhadap tenaga kerja.
Walaupun pemerintah
telahmembuat berbagai
peraturan
dengan tujuan untuk mengangkat harkat dan martabat para pekerjadi
Indonesia,
namun
hasilnyaAbdul Khair I Politik Hukum Perburuhan di Indonesia
|
87Tenaga
kerja
Indonesia
saat
ini
masih saja terpuruk dalam garis
di
bawah kemiskinan,
karena
undang-undang
yang
menjadi
payung bagi mereka lebih berpihak
kepada
pengusaha
sehingga
timbul ketidakpusaan dengan cara
demo
untuk
menggugatundang-undang
sepefti
yang terjadi
di
Bandung.
"Aliansi
buruh menuntut
pen-cabutan
undang-undang
perbu-ruhan
karena
dinilai
berpihakkepada
pengusahadan
pemilik
modal.
Mereka menyatakan
:kehadiran UU No. 13 tahun 2003
tentang
Tenaga Kerja dan UU No.2 tahun 2004 tentang Penyelesaian
Perburuhan
Hubungan Industrialsangat
berpihak
kepada
pengu-saha dan pemilik modal". (Pikiran Rakyat, 14 Oktober 2004 : 1)Pemicu
dari
berbagai gejolakdalam
masalah
perburuhan
ini
adalah undang-undang katenaga-kerjaan yang masih
menguntung-kan
salah
satu pihak
yaitu
pengusahadan
merugikan
pihaklain
yaitu buruh,
karena
dalam penggodokan undang-undangini
memang
tidak
melibatkan tenagakerja
dan
indikatornya
adalah konsewatif.B.
Teori
Folitik Hukum
Mahfud.
MD
mengatakan,politik
hukum adalah
kebijakanhukum (egal
policy.)
yang akanatau telah
dilakanakan
secara na siona
I oleh
pemerintah.
(Mahfud. MD,
2005
:27)
Bagai-manapolitik
dapat mempengaruhi hukum dapatdinilai
dengan caramelihat
konfigurasi
kekuatan
yang ada
dibelakang pembuatan hukum dan penegakan hukum itu.Jadi
hukum bukan
hanyaberani
pasal-pasalyang
bersifatim pe rati f/ke h arusa n - keharusa n
yang
bersifat
(das
sollen),
melainkan harus dipandangseba-gai subsistem yang dalam
kenyata-an (das sein) dapat ditentukan oleh
politik, baik
dalam
perumusanmateri
dan
pasal-pasalnya mau-pun dalam implementasinya.Zaven Bergen,
memberikanuraian
politik
hukum
denganmencoba
menjawab
pertanyaan peraturan-peraturan hukum manayang
patut
dijadikan
hukum.
Selanjutnya,
JHP
Bellefroid,
politik
hukum
menyelidiki
peruba han-peruba han
apakah yang harus diadakan pada hukum yang ada sekarang supaya dapat memenuhi syarat-syarat baru dari hidup kemasyarakatan. (Bellefroid dalam Mahtud. MD, 2005 : 28). Ia melanjutkan perkembangantenib
hukum, karena
dia
mencoba menjadikanius
consrirurum yangdikembangkan dari
stelsel-stelselhukum yang lama menjadi
ius88
I HIMMAH Vol. Vll No. 18 Januari -April 2006constitoendom hukum untuk masa
yang akan datang.
Van Apeldorn,
tidak
secarajelas
menyebut
politik
hukumdalam
klasifikasinya
secara
emplisit
tercakup
dalam
bagianseni hukum, yang terbagi dalam :
1)
Politik
perundang-undanganyang
menetapkantujuan,
isidari
peraturan
perundang-undangan,2)
Teknik
perundang-undanganyaitu
cara merumuskanpera-turan
tersebut
sedemikianrupa,
sehinggamakud
pem-bentuk
undang-undang
ter-kandung denganjelas.Jadi
hukum determinan
atas politik, dalam ani bahwakegiatan-kegiatan
politik diatur oleh
dan harustunduk
pada aturan-aturan hukum. Disamping itu jugapolitik
determinasiatas
hukum,
karenahukum
merupakanhasil
kristali-sasi
dari
ke he n d a k- ke hendak
politikyang saling
berinteraki
dan saling bersaingan.Politik dan hukum sebagai sub
sistem
kemasyarakatan
beradapada
posisi
yang derajat
deter-minasinya seimbang,
karena
meskipun
hukum
merupakan
produk
kepentingan
politik,
namun
begitu hukum
berlaku maka semua kegiatanpolitik
harus tunduk pada hukum.C.
Letak Hukum Perburuhan
Dalam Sistem
Hukum
Nasional
Hukum
dilihat
dari segi isinya dapat dibedakanmenjadi
hukumpublik dan hukum privat.
Pem-bidangan ini didasarkan pada teori kepentingan. Apabila kepentingan
itu
menyangkut
kepentingan
umum,
maka
termasuk
dalam hukumpublik.
Sedangkan apabilakepentingan
itu
menyangkut
kepentingan khusus maka
ter-masuk dalamhukum privat.
(Van Apeldoorn, 1980 : 13)Akan
tetapi teori
kepentinganini
mengandung
kelemahan,
memang hukum
itu
sama dengankepentingan.
Oleh
karena
itu,
pembidangan
hukum publik
danhukum privat
atas dasar
kepen-tingan
ini,
tidak
dapat
diikuti
secara
mutlak. Hal
ini
mengingat adakalanyahukum
publik
meng-atur
juga
kepentingan
perseo-rangan atauhukum privat
meng-atur
kepentingan
umum.
ryan Apeldoorn, 1980 : 183)Kemudian
timbullah
pertan-yaan,hukum
perburuhan apakahtermasuk
hukum
privat
atau hukum publik ?. Kalaudilihat
daridefinisi
dari
hukum
perburuhanitu
sendiri
adalah
himpunan
peraturan,
baik tertulis
maupuntidak tertulis
yang berkaitanden-gan
kejadian
dimana
seseorangAbdul Khair lPolitik Hukum Perburuhan di lndonesia
J
89bekerja pada orang
lain
dengan menerima upah. (Imam Soepomo,7974:3)
Bagaimanapun
buruh
adalah warga negara dan rakyatIndone-sia
yang
secara
konstitusionalberhak
atas
penghidupan
yang layak. Semantara itu tujuan negarasebagaimana
tercantum
dalampembukaan
UUD
1945
adalah:melindungi
segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memaju-kan kesejahteraan umum, mencer-daskan kehidupan bangsa danikut
melaksanakan
ketertiban
duniayang
berdasarkan kemerdekaan,perdamaian
abadi dan
keadilansosial
yang
didasarkan
atas pancasila.Tujuan
negarayang
terdapatdalam
Undang-undang
Dasar 1945 ini, apabila dikaitkan dengankonsep "negara
hukum"
yang terdapat dalam penjelasan umumUUD 1945, maka
jelas
bahwa Indonesia adalah negarakesejah-teraan,
oleh
karena
itu
sudahmenjadi kewajiban
pemerintahuntuk
campur tangan
dalammasalah-masalah
yang
berkaitandengan
tingkat
kesejahteraanwarga
negaraguna
memperolehpenghidupan
yang layak
bagi kemanusiaan.Berdasarkan
uraian
di
atas,masalah
perburuhan
yang
pada dasarnyamengatur
privat
antaraburuh
dengan
majikan,
harusmendapatkan perhatian
peme-rintah. Adapun bentuk
perhatianini
adalah campur tanganpeme-rintah
dalam bentuk
pengaturan masa lah
perburuhan
dalam
peraturan
perundang-undangan.Artinya
melakukan
peraturan
perundang-undangan
ini
peme-rintah
dapat
berperan
dalamupaya
meningkatkan
kesejah-teraan buruh.Jadi
dapat
ditarik
suatu
kesimpulan bahwa
letak
hukumperburuhan
adalah
cenderung kepada hukum publik. Akan tetapiternyata
unsur
privatnya
jugatetap ada.
Sebagaicontoh
unsurprivatnya adalah bahwa
dalam menyelesaikanperselisihan
per-buruhan pada tahap
awal
tetapditangani
oleh pihak buruh
danpengusaha.
Akan tetapi
bila
belum terdapat
kesepakatan, perselisihanbaru
ditangani
oleh P4D maupun P4P Dari contohini
jelas
bahwa
dalam
hukum
perburuhantetap
terdapat unsurprivatnya.
Akhirnya
sebagaikonsekuensi
terdapatnya
unsur publikdi
dalamnya, maka hukumperburuhan
mempunyai sifat
memaksa,
artinya
pemerintah
berkewajiban
me negakkan
aturan-aturan dalam
hukum
perburuhan
sebagaimana halnya dalam hukum publik lainnya.90
| HIMMAH Vol. Vll No. 18 Januari - April 2006D.
Pengaturan
Masalah
Perburuhan
di
Indonesia
Pengaturan masalah
perburuh-an
berpijak pada
konstitusionalyaitu
pasal 27 dan pasal 33 UUD1945 yang
menyatakan sebagai berikut :1.
Pasal 27 Ayat(l)
Segala warganegara bersamaan kedudukan-nya dalam hukum
dan
peme-rintahan dan
wajib
menjun-jung hukum dan pemerintahanitu
dengantidak
ada kecuali-nya.Ayat
(2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaandan
penghidupanyang
layakbagi kemanusiaan.
2.
Pasa[ 33 Ayat(l)
Perekonomian
disusun sebagai
usaha bersama berdasar atas asas ke-keluargaan.Ayat (2)
cabang-cabangproduki
yang penting bagi negara dan yangmengu-asai
hajat orang
banyak
dikuasai oleh negara. Ayat (3)
Bumi dan
air
dan
kekayaan yang terkandungdi
dalamnyadikuasai
oleh
negara
dandigunakan
untuk
sebesar-besamya kemakmuran rakyat.Atas
dasar
pasal-pasal
ter-sebut,
makatelah lahir
undang-undang organik
untuk
mereali-sasikan UUD 1945 tersebut, yaitu :
1.
UUNo. 12 tahun 1948 tentangKerja Buruh.
2.
UUNo.23
rahun 1948 tentangFengawasan Kerja.
3.
UU No. 23 tahun 1953 tentang Wajib Lapor Perusahaan.4.
UU No. 21 tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan.5.
UUNo.22
tahun 1957 tentangPenyelesaian Perselisihan
Perburuhan.6.
UU No. 12 tahun 1964 tentang Pemutusan hubungan Kerjadi
Perusahaan Swasta.
7.
UUNo.
l
tahun
1970 tentang Keselamatan IGrja.8.
UU No. 13 tahun 2003 tentangTenaga Kerja.
9.
UU No.2
tahun 2004 tentangPenyelesaian
Perburuhan
Hubungan Industrial.Dari berbagai Undang-undang
tersebut
akan
dicoba
untuk
melihat
pada
UU
No.
21
tahun 1954; UU No.22tahun
1957 danWNo.l2
tahun 1964. Fengkajian terhadap undang-undang tersebutdimaksudkan
untuk
mengetahuisejauhmana
pemerintah ikut
campur tangan dalam
masalahperjanjian
perburuhan,
penyele-saian perburuhan dan pemutusan hubungan kerja.1.
UU No.21 tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan.Dalam undang-undang
ini
ada dua pasal yangperlu
dikemu-kakanberkaitan
dengan per-masalahanyang
sedang
di-bahasyaitu
pasal2
ayat
(2)Abdul Khair I Politik Hukum Perburuhan di lndonesia
|
91dan pasal 11. Pasal
2
ayat (2)menentukan adanya
suatuperaturan pemerintah
yang mengatur tentang "cara mem-buat dan mengatur perjanjian"Peraturan Pemerintah
(PP)sebagai
pelaksanaan
keten-tuan
pasal 2
ayat(2)
adalahPP
No.49
tahun
1954. Dalam PPini
antara
lain
disebutkan perjanjian dibuat rangkap tiga dan satu disampaikan kepadapemerintah
untuk
didaftar. Sedangkan pasal 11 mengaturtentang
kekuasaan
Menteri Tenaga Kerjadapat
menetap-kan
kepada pihak-pihak yaitukepada
buruh
dan
majikan agar memenuhi apa-apa yangtelah
diperjanjikan
untuk
sebagian atau seluruhnya.Dari
ketentuan tersebut, tam-pakjelas
bahwa dalammasa-lah
perjanjian
perburuhan
pemerintah
ikut
campurtang-an.
Hal
ini
memperlihatkanbahwa
masalah
perjanjian
perburuhan
bukan
semata-mata persoalan perdata antaraburuh
dan
majikan,
tetapitelah
dicampuri
pemerintah sebagai penyanggadipatuhi-nya hukum publik.
2.
UUNo.22
tahun
1957jo
UU
3No.
2
tahun 2004
tentang Penyelesaian Perselisihan dan Perburuhan.Apabila
terjadi
perselisihanperburuhan
antara buruh dan majikan, maka terlebih dahulu perselisiha n tersebutdiselesai-kan
secara
bipartite
antara buruh dan majikan pasal 2 ayat(1).
Jika
pada tahapawal ini
tidak
berhasil dan para pihaktidak
menyerahkan
kepada suatuarbitrasi
(pasal19
danseterusnya),
makadiselesai-kan
secara
triparti
melalui pegawaipemerintah
(pasal 4ayat
(1).
Jika
cara
inipun
belum
berhasil mendamaikan para pihak, maka perselisihanditangani
oleh
satu
PanitiaDaerah
(pasal
4
ayat
2).
Apabila para pihak belum puas
terhadap keputusan
PanitiaDaerah
ini,
maka
upaya
berikutnya
perselisihan
ditangani
oleh
Panitia
Pusat (pasal Il).
Adanya Panitia
PenyelesaianPerburuhan
baik
di
daerahmaupun
pusat,
merupakancampur tangan
pemerintahdalam
masalah
perselisihaninstansi, karena
keanggotaanpanitian
tersebut
melibatkan instansi pemerintah.UU. No.12 tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja Dalam Undang-undang
ini
ter-dapat pasal yang menetapkan92
| HIMMAH Vol. Vll No. 18 Januari -Aprit 2006keharusan
adanyaijin
untuk
melakukan pemutusan
hu-bungankerja
(PHK)
denganketentuan
sebagai berikut
(pasal3 ) :a)
Untuk PHK peroranganijin
dengan P4D.b)
Untuk
PHK besar-besaran ijin dengan P4PAdanya ketentuan
ijin
bagi pengusahauntuk
melakukan PHKini
juga
memperlihatkancampur tangan
pemerintah dalam masalah perburuhan.Dari uraian
tersebut
di
atasterlihat
bahwa pemerintah ikit
campur tangan dalam
masalah yang berkaitan dengan perjanjianperburuhan, perselisihan
perbu-ruhan
dan
pemutusan hubungankerja. Turut
sertanya pemerintahdalam
masalah-masalahdi
atasadalah
untuk
memberikan
perlindungan kepada
buruh
sebagai pihakyang lemah.
D.
Politik
Hukum
Perburuh-an di
Indonesia
Pada
Masa
Reformasi
Dari
sudut
politik
hukum
pembuatan sebuah aturan
itu
ada duaindikator
yaitu responsr/ dankonservatif.
Indikator
dari
Responsr/ adalah : 1. MasyarakaV
individu terlibat dalam
pembu-atannya
(partisipatiF),2.
Materi-nya
memancing
aspirasi dari
bawah (aspiratif) dan
3.
Isinyamembatasi
atas
tafsir-tafsir
sepihak, terurai (timitatif,).Kons eru
atiJ
indikatornya
ada-lah
:
1. Pembuatannya didominasialat-alat negara (sentralistik),
2. Selalu menjadi alat pembenar bagikehendak
politi
k
pengua
sa(positivist instrumentalistik),
dan3.
Membuka peluangbagi
peme-rintah untuk
menafsirkan sendiri (interpretatiQ.I(alau ditelaah undang-undang ketenagakerjaan yang ada saat
ini
lebih
mengarah kepada
konser-vatif, karena masyarakat terutama kaum buruhtidak
pernahdilibat-kan,
akibamya
secara substansifmerugikan mereka
dan
hanyamenguntungkan
kepada
peme-rintah
dan pemodal. Sikappeme-rintah
ini
termotivasi
karenakondisi
negara Indonesiasituasi-nya
masih
banyak memiliki
kelemahan
dan
jumlah
tenaga tenaga kerja yang sangatberlebih-an.
Akibatnya
politik
hukum
pemerintah adalah :
1.
Pemerintah
berpihak
kepada pengusahaPolitik
hukum
perburuhan
pada
masareformasi
ini
peme-rintah lebih
berpihak
kepada pengusaha, dan cenderungmeng-abaikan hak-hak
kaum
buruh.Faktor
penyebabnya
adalah
Abdul Khair I Politik Hukum Perburuhan di lndonesia
|
93investor asing untuk
berinves-tasi
di
lndonesia, masalah iniselalu
disampaikan
presiden ketika mengadakan kunjungandiberbagai negara
dengan menjanjikan berbagaikemuda-han,
misalnya
dalam
hal
perijinan
prosedurnya
akandiadakan
pemangkasan dan keamanan akan ditingkatkan.c)
Pemerintah masih
setengah hati menegakkan aturanPena-naman Modal
Asing
(PMA) dengan membiarkan investorasing
masuk
ke
Indonesiamelalui
pintu
belakang
(franchise)
(Munir
Fuady,7994
:
71.). Sampaisaat ini
Penanaman
Modal
Asing
(PMA) di bidang retoil businessmasih
dilarang
masuk
keIndonesia,
tujuannya
adalahmelindungi investor
dalamnegeri.
Akan tetapi
dalam kenyataannyaretoin
businessasing banyak bermunculan
di
Indonesia
dan
pemerintah
tidak
pernah
menindaknya,misalnya
Mac.
Donald,
Kentucky
Frid
Chicken, Cocacola, dan lainJain.
2.
Eksploitasi Tenaga Kerja Kalau pada masa reformasiini
pengusaha
dan
pemilik
modal mendapat perhatian yang baik daripemerintah,
sebaliknya
nasibkaum
buruh
belum
mendapata)
Maraknya berbagaiaki
teror
di
Indonesia sehingga suasanakeamanan tidak
kondusif
bagi pengusaha, akibatnya investorenggan
untuk
menanamkan modalnya di Indonesia.b)
Jumlah tenaga keda diIndone-sia
melimpah
dan
sebagian besartidak memiliki
keahlian,sedangkan
yang
berstatus
sebagai
sarjana
kebanyakan-nya adalah sarjana sosial.
c)
Pemerintah
tidak
mampu
mencari
terobosan-terobosanbaru untuk
membukalapang-an
kerja
yang dapat menyeraptenaga
kerja
secara
besar-besaran, akibatnya jumlah
pengangguran
setiap
tahun
prosentasi selalu bertambah.
Akibat
hal
yang
demikian
inilah
menjadi
bebanbagi
peme-rintah untuk
meningkatkan pere-konomian kearah yang lebih baik.Untuk
mengatasi masalah ini
pemerintah berupaya
untuk
menggairahkan
dunia
usaha denganjalan sebagai berikut :a)
Mengajak para investor dalam negeri untuk segara membukausaha dengan
membe
ri
berbagai
kemudahan,
misal-nya kemudahan mendapatkan modal diperbankan,kemudah-an
dalam
prosedur
adminis-trasi.94
| HIMMAH Vol. Vll No. 18 Januari - April 2006perhatian yang layak dari pemerin-tah, hal ini dapat dilihat :
a)
Upah buruh masih rendah dannilainya belumlah dapat
me-menuhi
untuk dapat
hidup secara layak, misalnya di JawaTimur
berdasarkan
SK. Gubernur No.188/286/WTS/
0f 3,/05, UpahMinimum
Kota(UMK) hanya
Rp
460.000,-Padahal Kebutuhan Hidup
Layak
(KHL)
berdasarkan
survey yang dilakukan
olehAliansi
Buruh Jogya
(ABY)pada bulan
Nopember 2005adalah
sebesarRp
728.000,-(Republika,
19
Desember2005:
6)b)
Jika terjadi perselisihan antara tenaga kerja danburuh
makaseringkali
pengusaha
yang dimenangkan.c)
Masih sering
pengusaha
melakukan PHK secara sepihak dan tidak dikompromikan
dulu
kepada
buruh dan
bahkantidak minta
ijin
kepada P4D atau P4Pd)
Masih ada oknom pemerintah yang melakukan pungli kepadatenaga
kerja (buruh)
seperti yangterjadi
di
KonjenMalay-sia, tidak menutup
kemungkin-an juga ada pungli dari oknum
pemerintah
dinegara-negara lain selain Malaysia.Dari
uraian
di
atas
dapatditarik
kesimpulan, bahwa dalam hal duniausaha
pemerintah lebih cenderung berpihak kepadapeng-usaha
dan
aturan-aturan
yangdibuat lebih
bersifat
konservatif, akibatnya kehidupan kaum buruhtidak
pernah membaik dan masihdibawah
standar
yang
layak.Politik
hukum
pemerintah
ini
bukan
tidak
beralasan, tujuannyaadalah
untuk
menggairahkan
investor baik
dari
dalam
negeri maupun luar negeri agar bergairah menanamkan modalnya diIndone-sia.
E.
Femecahan
Masalah
Apabila
dikaji
lebihjauh
dan seksamamaka
kaum buruh perlumendapat perlindungan
dengan tujuan untuk menjaga agar mereka dapat hidup layak sebagai manusiasehingga membuat
kerja
lebih manusiawi. Dalam rangka menca-pai persamaan yang telahdigaris-kan
dan untuk
memperoleh
pekerjaan.
Sebagaimana
disadari
bahwa kerja merupakan kebutuhan hidupyang
utama
bagi
manusia. Darikerja yang dilakukan
seseorangmengharap
akan
mencukupi
kebutuhan-kebutuhan jasmaniahdan
rohaniah
dari
imbalan
yangditerima.
Dengan
imbalan
ini
diharapkan
dapat
meningkatkan mutu dan kualitas hidup yang padaAbdul Khair I Politik Hukum Perburuhan di lndonesia
I
95akhirnya
menempatkan
merekapada status yang lebih baik.
Untuk
mencapai
ini
semua maka semua pihak harus berupayademi
mencapai
hak-hak
buruhsebagaimana
amanat
undang-undang dasar 1945, adapun pihak-pihaktersebut adalah :L.
Pemerintah,Pemerintah
diharapkan
diha-rapkan turut campur tangan dalam membantu memperjuangkan nasib buruh, seperti :a)
Membuat aturan-aturan yang lebih perburuhan yang bersifatresponsif dengan
melibatkan kaum buruh.b)
Selalu mengadakan pengawas-an kepada perusahapengawas-an-perusa- perusahaan-perusa-haan agar pengusaha member-lakukanburuh
denganmanu-siawi dan
menindak
kepadapengusaha
yang
melanggar aturan perburuhan.c)
Membuka pelatihan-pelatihan kepada tenaga kerja lndonesia yang mayoritas berpendidikanrendah
dan tidak
memiliki
keahlian.
d)
Menjadi
mediaturjika
terjadi
perselisihan antara pengusaha dan buruh.
2.
PengusahaSeorang
pengusaha
juga
Edituntut
berperan
aktif
dalam
a)memberikan pembinaan
dan
perlindungan terhadap
buruh-buruh mereka, seperti :
a)
Tidak
bertindak
sewenang-wenang kepada buruh.b)
Selalu mengadakanpembina-an kepada buruh.
c)
Memberikan
fasilitas
kerjayang cukup memadai
demi keselamatan buruh.d)
Menyediakan obat-obat ringan kalau ada buruh sakit,pemon-dokan,
ruang
peribadatan,
ruang makan dan minum yang layak, dan sebagainya.
3.
BuruhKaum pekerja juga tidak hanya
menuntut
perbaikan
nasib
akan tetapi mereka juga punyakewajib-an
terhadap
perusahaan tempat mereka bekerja, yaitu :a)
Mentaati peraturan yang dite-tapkan perusahaan.b)
Tidak
menuntut sesuatu yangberlebihan
dari
perusahaanakan
tetapi
harus
melihat
kondisi perusahaan.
c)
Jika ingin menuntut
sesuatulakukanlah dengan
cara-carayang baik,
tidak
dengan
demontrasi
apalagi
sampai mogok atau merusak pesilitas perusahaan.Penutup
Politik
hukum
perburuhan
96
| HIMMAH Vol. Vll No. 18 Januari -April 2006dapat merugikan tenaga kerja
karena
buruh
tidak
pernahdilibatkan dalam
pembuatan undang-undang tenaga kerja.b)
Jumlah tenaga kerja diIndone-sia yang melimpah
dan
tidak banyakmemiliki
keteramPilanmengakibatkan
nilai
tenaga kerja murah dan mereka sering diperlakukan tidak manusiawi.DAFTAR PUSTAKA
Cosmas Batubar a, Mosalah Ketenogokerjaan
di
Indonaiq
DepnakerN,
Jakana, 1988.E.
Urecht,
Pengd ntar Dalam Hukum lndonesia, Cet. Ke 4, Ikhtiar, Jakarta, 1957.Imam
Soepomo, PengantarHukum
Perburuhan,Cet.2,
Jembatan, Jakarta,797 4.Munir Fuady, SH, MH, LL.M, Hukum Bis nis Dalam Teoi dan Praktil<.
W'
Citra Aditya Bakti, Bandung, 1994.Mahfud. MD, Prof. Dr, SH, M.Hum, Politik Hukum
:
Diktat Perkuliahan Magister llmu Hukum 52 tJniversitos lslam IndonaiaYognkarto'
2005.
Supardi,,
PIIK
KenanganAkhir
Tahun".IGdaulatan
Rakyat, Rabu4
Januari 2006.
SE Marbun, Pera dilanTatalJsahaNegaro, Liberty, Yogyakarta, 1988' Van
Apeldoom,
PengontarIlmu
Hukum, Pradnya Paramita, Jakana,1980.
Harian Republika, Senin, 19 Desember 2005. Harian Pikiran Rakyat, Kamis 14 Oktober 2004.
Harian Kedaulatan Rakyat,
4
Januari 2006. Harian Kedaulatan Rakyat, 21 Desember 2005.