BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. kegiatan belajar naik sepeda motor, dan lain-lain.

13 

Teks penuh

(1)

5 BAB II

LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

A. Landasan Teori 1. Pengertian Belajar

Kita sudah sangat terbiasa dengan istilah belajar, bahkan hampir setiap kegiatan selalu ada aspek belajarnya. Ada kegiatan belajar misalnya belajar tentang sejarah kehidupan masa pra aksara, belajar membaca dan menulis, kegiatan belajar naik sepeda motor, dan lain-lain.

Ada beberapa definisi tentang belajar, antara lain dapat diuraikan sebagai berikut (Sardiman AM, 2007)

a. Cronbach memberikan definisi: ”Learning is shown by a change in behavior as a result of experience” (Belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman)

b. Harold Spears memberikan batasan: “Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction” (Belajar adalah dilakukan dengan mengamati, membaca, menirukan mencoba, mendengarkan, mengikuti petunjuk dan pengarahan)

c. Geoch mengatakan: “Learning is a change in performance as a result of practice” (Belajar adalah perubahan penampilan sebagai hasil praktik) d. Gagne, Belajar adalah proses dimana suatu organisme berubah perilakunya

sebagai akibat pengalaman.

Maka belajar merupakan perubahan (change) tingkah laku (behavior) atau penampilan dengan serangkaian kegiatan. Dalam pengertian luas, belajar

(2)

dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Relevan dengan ini maka ada pengertian bahwa belajar adalah penambahan pengetahuan.

Peserta didik adalah manusia dengan segala fitrahnya. Mereka mempunyai perasaan dan pikiran serta keinginan atau aspirasi. Mereka mempunyai kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi (pangan, sandang, papan), kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, dan kebutuhan untuk mengaktualisasi dirinya (menjadi dirinya sendiri sesuai dengan potensinya).

Dalam tahap perkembangannya, siswa SMP berada pada tahap periode perkembangan yang sangat pesat, dari segala aspek. Perkembangan yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran, adalah perkembangan aspek kognitif, psikomotor, dan afektif.

Menurut Piaget (1970), periode yang dimulai pada usia 12 tahun, yaitu yang lebih kurang sama dengan usia siswa SMP, merupakan ‘period of formal operation’. Pada usia ini, yang berkembang pada siswa adalah kemampuan berfikir secara simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna (meaningfully) tanpa memerlukan objek yang konkrit atau bahkan objek yang visual. Siswa telah memahami hal-hal yang bersifat imajinatif.

Pada tahap perkembangan ini juga berkembang ketujuh kecerdasan dalam Multiple Intelligences yang dikemukakan oleh Gardner (1993), yaitu:

(3)

(2) kecerdasan logis-matematis (kemampuan berfikir runtut), (3) kecerdasan musikal (kemampuan menangkap dan menciptakan pola nada dan irama), (4) kecerdasan spasial (kemampuan membentuk imaji mental tentang realitas), (5) kecerdasan kinestetik-ragawi (kemampuan menghasilkan gerakan motorik yang halus), (6) kecerdasan intra-pribadi (kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan mengembangkan rasa jati diri), (7) kecerdasan antar pribadi (kemampuan memahami orang lain).

Kegiatan belajar cenderung diketahui sebagai suatu proses psikologis, terjadi dalam diri seseorang, sehingga sulit diketahui dengan pasti bagaimana terjadinya maka muncul beberapa teori:

a. Teori Belajar menurut ilmu jiwa daya

Menurut Witherington jiwa manusia terdiri dari bermacam daya yang dapat dilatih dalam rangka memenuhi fungsinya

b. Teori Belajar menurut jiwa gestalt

Keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian/unsur. Tokoh yang merumuskan kegiatan pengamatan dimana keterlibatan semua panca indra diperlukan adalah Koffka

c. Teori Belajar menurut Ilmu Jiwa Asosiasi

Keseluruhan sebenarnya terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsurnya 1). Teori Konektionisme

Menurut Thorndike dasar dari belajar adalah asosiasi antara kesan panca indra (sense impression) dengan impuls untuk bertindak (impuls to action)

(4)

2). Teori Conditioning

Berdasar percobaan Pavlov seseorang akan melakukan kebiasaan karena adanya tanda yang dilakukan berkali-kali dan sering diulangi. d. Teori Konstruktivisme

Pengetahuan kita adalah bentukan kita sendiri. Menurut Von Glasersfeld pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan.

2. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar (Dimyati dan Mudjiono, 2006:3). Dari sisi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, dari sisi siswa hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar. Dengan demikian pada dasarnya hasil belajar merupakan kemampuan baru yang telah dimiliki sebelumnya. Kemampuan baru itu diperoleh melalui pengalaman yang mengarah kepada penguasaan kecakapan dan kebiasaan.

Hasil belajar didapat setelah melalui proses belajar mengajar. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006:106) yang menjadi petunjuk suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah hal-hal sebagai berikut:

a) Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok

b) Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran telah dicapai siswa, baik secara individual maupun kelompok.

Seorang guru haruslah menolong siswa agar belajar secara berhasil. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar.

(5)

Proses belajar merupakan hal yang kompleks, dimana siswa menghadapi masalah yang apabila siswa tidak dapat mengatasi masalah tersebut ia tidak belajar dengan baik. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006) faktor yang dihadapi siswa yang berpengaruh pada proses belajar adalah:

a) Faktor intern

1) Sikap terhadap belajar; kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu

2) Motivasi belajar; kekuatan mental yang mendorong proses belajar 3) Konsentrasi belajar; kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran 4) Mengolah bahan ajar; kemampuan menerima isi dan cara pemerolehan

ajaran sehingga bermakna

5) Menyimpan perolehan hasil belajar, kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan.

6) Menggali hasil belajar yang tersimpan

7) Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar 8) Rasa percaya diri

9) Intelegensi dan keberhasilan belajar 10) Kebiasaan belajar

11) Cita-cita siswa b) Faktor ekstern

1) Guru sebagai pembina siswa belajar 2) Prasarana dan sarana pembelajaran 3) Kebijakan penilaian

(6)

5) Kurikulum sekolah 3. Pengertian Alat Peraga

Pembelajaran adalah suatu kegiatan agar proses belajar seseorang atau sekelompok orang dapat berlangsung. Pendekatan pembelajaran dapat digunakan untuk menetapkan strategi dan langkah-langkah pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran. Menurut Anderson ada dua pendekatan yakni teacher centered (berpusat pada guru) dan student centered (berpusat pada siswa). Byron menggunakan istilah ekspositori dan inkuiri. Kedua pendekatan sama-sama mengandung prinsip keterlibatan subyek belajar hanya kadarnya yang berbeda.

Kata Media berasal dari bahasa latin, bentuk jamak dari medium yang berarti perantara atau pengantar. Dapat dipahami media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guru mencapai tujuan pengajaran (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2006:121).

Di dalam proses belajar mengajar di sekolah tidak dapat diingkari bahwa siswa kadang merasa bosan dan kelelahan, yang mungkin disebabkan oleh penjelasan guru yang belum dicerna dan dipahami. Pengajaran yang kondusif adalah kondisi belajar yang menyenangkan bagi anak didik. Penjelasan yang guru berikan ditambah dengan menghadirkan alat bantu lebih mendukung untuk menguraikan fakta, konsep atau prinsip. Efektifitas pemahaman anak didik lebih terjamin.

Alat peraga adalah suatu alat bantu dalam belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai yang diharapakan, serta dapat mendorong dan menantang perkembangan anak. Kita dapat mengusahakan hal ini dengan

(7)

jalan menyediakan di dalam ruang kelas berbagai sudut, seperti sudut science,

sudut matematika, sudut art, sudut perpustakaan, dan lain-lain (Pakasi, 1985:39)

4. Pengertian IPS.

Sardiman A.M. dkk (2004) mengambil berbagai pendapat tentang definisi Ilmu Pengetahuan Sosial;

a) Numan Somantri, IPS adalah program pendidikan yang memilih bahan pendidikan dari ilmu-ilmu sosial dan humanity (ilmu pendidikan dan sejarah) yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan yang berlandaskan Pancasila dan kebudayaan Indonesia b) A.Kosasih Djahiri, IPS adalah pelajaran yang merupakan suatu fusi atau

paduan dari sejumlah mata pelajaran sosial atau suatu pelajaran yang menggunakan bagian-bagian tertentu dari ilmu-ilmu sosial

c) A.Azis Wahab, IPS adalah sejumlah konsep mata pelajaran ilmu sosial dan ilmu lainnya yang dipadukan berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan yang bertujuan membahas masalah-masalah sosial atau bermasyarakat dan kemasyarakatan untuk mencapai tujuan khusus pendidikan melalui program pengajaran IPS pada tingkat persekolahan.

d) Edgar B. Wesley, Studi social merupakan bagian atau aspek-aspek ilmu-ilmu sosial yang telah dipilih dan disesuaikan dengan maksud digunakan di sekolah atau situasi pengajaran lain.

e) Paul Mathias, Studi sosial merupakan pelajaran tentang manusia dalam masyarakat pada masa lalu, sekarang dan yang akan datang.

(8)

f) John Jarolimek, Pengetahuan social adalah bagian dari kurikulum sekolah dasar yang mengambil subject matter content dari ilmu-ilmu social seperti sejarah, sosiologi, politik, psikologi, filosofi, antropologi dan ekonomi. g) Leonard s. Kenworthy, Pengetahuan Sosial adalah studi tentang manusia

untuk menolong siswa mengenal dirinya sendiri maupun dengan orang lain, di dalam suatu masyarakat yang bervariasi, baik karena perbedaan tempat atau waktu sebagai individu maupun kelompok dalam memenuhi kebutuhannya melalui berbagai institusi seperti halnya manusia mencari kepuasan batin dan masyarakat yang baik.

Tujuan utama pengetahuan social ialah memperkaya dan mengembangkan kehidupan peserta didik dengan mengembangkan kemampuannya (abilities and power) dalam lingkungannya dan melatih

mereka untuk menempatkan dalam masyarakat demokarasi, di mana mereka

menjadikan negaranya menjadi tempat hidup yang lebih baik.

Di Indonesia Pengetahuan Sosial diberikan di sekolah memiliki tujuan untuk mempersiapkan anak didik menjadi warganegara yang baik berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan menitik beratkan pada pengembangan individu yang dapat memahami masalah-masalah yang berada dalam lingkungan, baik yang berasal dari lingkungan sosial yang membahas interaksi antar manusia, dan lingkungan alam yang membahas interaksi antar manusia derngan lingkungannya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, dapat berpikir kritis dan kreatif dan dapat melanjutkan nilai-nilai budaya bangsa

(9)

IPS merupakan suatu mata pelajaran yang menelaah masalah-masalah dalam masyarakat yang muncul seiring perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi, dengan menekankan pada masalah sosial budaya di masyarakat lingkungannya dan negara lain pada masa lampau, sekarang untuk mengantisipasi perubahan social budaya beserta pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup manusia di masa yang akan datang

Pengetahuan sosial merupakan perwujudan dari suatu pendekatan inter disiplin dari pelajaran ilmu-ilmu social dengan mengintegrasikan bahan/materi atau konsep-konsep ilmu sosial tersebut untuk memahami masalah-masalah sosial yang diberikan di sekolah sebagai suatu program pengajaran.

5. Hakekat dan Ruang Lingkup IPS SMP A). Latar Belakang

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SMP/MTs mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami

(10)

perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.

Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.

B). Tujuan

Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya

2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial

3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan

4. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

(11)

C). Ruang Lingkup

Ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek sebagai berikut.

1. Manusia, Tempat, dan Lingkungan 2. Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan 3. Sistem Sosial dan Budaya

4. Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan. 6. Pengertian Sejarah

Banyak pernyataan tentang pengertian atau definisi sejarah . Secara etimologis berasal dari bahasa Arab “Syajara”, artinya terjadi. Sedangkan kata “Syajaratun” artinya pohon . Pohon mengandung pengertian suatu percabangan genealogis dari suatu kelompok keluarga tertentu yang kalau dibuat bagannya menyerupai profil yang ke atas penuh dengan cabang-cabang serta rantingnya serta ke bawah menggambarkan percabangan dari akar-akar,dari akar yang lebih besar sampai akar rambutnya. Dengan demikian kata syajarah mula –mula dimaksudkan sebagai gambaran silsilah/keturunan (I G Widya,1998:6)

Kata lain dalam bahasa Arab yang artinya hampir sama yaitu kata tarikh. Di berbagai daerah di Indonesia digunakan istilah yang berbeda untuk menyatakan masa lampau seperti silsilah, riwayat, hikayat atau babad. Dalam bahasa Jerman yaitu kata “geschichte” (dari kata geschiehen yang berarti terjadi). Dalam bahasa Inggris yaitu kata “history” (berasal dari bahasa Yunani istoria yang dimaknai penelaahan sistematis terhadap masa lampau manusia)

(12)

Sebagai sebuah kata, sejarah memiliki arti yang beragam. Paling tidak ada tiga pengertian/makna dari istilah sejarah

a) Pertama sejarah dalam arti objektif adalah masa lampau manusia atau sebagai aktualitas yaitu kejadian atau peristiwa yang berhubungan dengan pikiran, perasaan, perilaku, tindakan dan segala sesuatu yang telah dialami manusia. Sejarah sebagai peristiwa sesuai dengan yang ada di alam

b) Kedua sejarah dalam arti subjektif adalah konstruk atau kisah atas masa lampau manusia. Sejarah merupakan rekaan hasil rekonstruksi manusia. c) Ketiga Sejarah sebagai ilmu adalah disiplin atau ilmu tentang masa lampau

manusia.

Dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah rekonstruksi fakta-fakta masa lampau. Suatu studi tentang segala sesuatu yang telah dialami manusia di waktu yang lampau dan yang telah maninggalkan jejaknya di waktu sekarang. Rekonstruksi sejarah adalah apa saja yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan, dan dialami oleh orang. Sejarah bersifat kongkrit dan manusiawi berbeda dengan filsafat yang cenderung abstrak dan berkutat pada persoalan moral. Berbeda dengan ilmu alam yang bertujuan menamukan hokum-hukum umum sejarah merekonstruksi hal yang unik bersifat ideografis dan terperinci. Berbeda dengan sastra yang merupakan pekerjaan imajinatif yang kebenarannya mutlak ditentukan penulis, sejarah sangat terikat dengan fakta. Seorang sejarawan dapat menulis apa saja asal memenuhi syarat untuk disebut sejarah.

(13)

B. Penelitian terapan yang relevan

Keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor kemampuan dasar dan proses pembelajarannya. Kemampuan dasar sangat menentukan, karena kemampuan dasar yang rendah sulit unuk memperoleh hasil yang tinggi. Tetapi dengan mengupayakan pembelajaran yang maksimal diharapkan dapat diperoleh hasil belajar yang optimal.

Selama ini proses pembelajaran IPS cenderung berpusat pada guru dan hasil belajar siswa masih relatif kurang. Berdasar hasil penelitian penggunaan alat peraga Kartu Soal dan Kartu Jawaban untuk meningkatkan hasil belajar siswa telah dilakukan oleh Nining Catur Ningrum pada kelas VSDN Gejayan Pakis Magelang tahun pelajaran 2009/2010 dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada pelajaran IPS. Karenanya peneliti mencoba menggunakan alat peraga Kartu Soal dan Kartu Jawaban dengan beberapa perubahan untuk meningkatkan hasil belajar IPS pada Kelas VII B di SMP Negeri 2 Mrebet Kabupaten Purbalingga

C. Hipotesis

Hipotesis yang penulis ajukan adalah Hasil Belajar IPS Sejarah dapat ditingkatkan dengan menggunakan Kartu Soal dan Kartu Jawaban pada kelas VII B SMP Negeri 2 Mrebet Kabupaten Purbalingga Semester Gasal Tahun Pelajaran 2011/2012.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :