• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
165
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tumbuhnya era digital turut serta ditandai dengan munculnya berbagai teknologi yang turut berperan mempermudah kehidupan manusia dan menimbulkan perubahan yang signifikan dalam sistem sosial di masyarakat.

Kebutuhan untuk mengabadikan sebuah moment dalam sebuah media digital bernama kamera nampaknya sudah menjadi kelaziman sekaligus kebutuhan bagi seseorang. Kesempurnaan untuk mengabadikan berbagai moment berharga menjadi dambaan setiap pengguna kamera.

Celah kebutuhan inilah yang kemudian dimanfaatkan produsen untuk mentransformasi ide kamera digital sebagai sarana yang mempermudah pekerjaan khususnya para fotografer profesional. Fotografer profesional memiliki makna pekerja di bidang foto, yang berarti orang atau individu yang mengantungkan hidup atau dengan kata lain pekerjaannya berada dalam lingkup fotografi.

Inovasi khususnya di bidang teknologi juga terjadi pada perangkat rekam atau kamera. Di era fotografi film, cermin itu wajib hadir sebab hanya itulah “komunikasi” antara dunia nyata dan mata fotografer. Di dunia fotografi digital, cermin itu tidak diperlukan lagi karena sensor kamera (pengganti film) bisa langsung mengirimkan imaji kepada fotografer baik ke layar LCD maupun ke viewfinder elektronik.

Produk kamera DSLR (Digital Single Lens Reflector) sebagai salah satu inovasi yang dirasa mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Bahkan menurut Investor Daily Indonesia (2012), pengguna kamera DSLR di Indonesia tumbuh pesat, pada bulan Oktober tahun 2012 penjualan DSLR merk Canon dengan berbagai seri EOS mencapai 60 juta unit, kemudian melesat pada tahun 2014 dengan angka penjualan 70 juta unit.

Sejarah kamera yang pada awal tahun 1990 booming dengan sistem analognya, berkembang menjadi sistem digital pada awal tahun 2000. Era analog semakin tergeser dengan industrialisasi produk kamera dari produsen ternama seperti Canon

1

(2)

maupun Nikon dari Jepang. Memasuki satu dekade terakhir atau era tahun 2010 hingga saat ini puluhan seri kamera digital telah diluncurkan.

Kamera digital DSLR sampai saat ini dianggap mampu memenuhi kebutuhan fotografer profesional dalam menjalankan tugas fotografinya. Kamera ini adalah perkembangan jenis kamera paling mutakhir dan masih digunakan sebagai alat rekam yang mumpuni dalam perkembangan kebutuhan dunia digital saat ini. Keutamaan dari kamera ini adalah adanya memori penyimpanan dalam bentuk digital yang terbuat dari unsur kimia. Data digital mudah dipindahkan dan bisa memuat banyak foto.

Dari artikel yang berjudul Sejarah Perkembangan Kamera Digital (diakses dari http://www.fotografi.tp.ac.id/article/sejarah-perkembangan-kamera-digital.html) perkembangan kamera digital tidak terlepas dari pengembangan video tape recorder (VTR), yakni sebuah teknologi merekam gambar pada televisi. Pada tahun 1951, untuk kali pertama, Bing Crosby Laboratorium membuat versi awal dari VTR. Alat tersebut berfungsi untuk mengambil gambar dari kamera televisi, kemudian mengkonversi gambar tersebut menjadi suatu impuls listrik (digital) dan menyimpannya ke dalam tape magnetis. Kemudian pada tahun 1956, Charles P. Ginsburg dan Ampex Corporation menyempurnakan VTR dengan meluncurkan versi VR1000 dan umum dipakai oleh industri televisi. Maka dari sanalah, antara kamera video dengan kamera digital memiliki kesamaan dalam penggunaan CCD (Charged Couple Device) untuk mengatur warna dan intensitas cahaya. Sejak saat itulah, era kamera digital telah dimulai dan berkembang secara pesat.

Pada tahun 1981, dimana Sony memperkenalkan kamera elektronik komersil pertama mereka yang disebut Mavica. Adapun cara kerja dari kamera digital pertama ini yakni gambar yang direkam ke mini disc kemudian dimasukkan ke dalam video reader yang terhubung ke monitor atau televisi warna. Walaupun Mavica belum dapat dikatakan kamera digital, itu sebenarnya merupakan modifikasi kamera video yang mengambil foto secara spontan. Sementara itu, sejak pertengahan tahun 1970-an, Kodak Company memiliki beberapa penemuan tentang solid-state atau kejernihan untuk sensor gambar, yaitu mengubah cahaya ke gambar digital untuk penggunaan pada tingkat profesional dan konsumen rumah tangga. Dilanjutkan tahun 1986, Kodak untuk pertama kalinya di dunia mengenalkan sensor megapixel. Sensor ini commit to user

(3)

mampu merekam 1,4 juta pixel yang dapat menghasilkan 5x7 inci foto digital cetak berkualitas baik pada saat itu. Setahun kemudian (1987), Kodak pun merilis tujuh produk lainnya untuk merekam, menyimpan, memanipulasi, transmisi elektronik, serta untuk mencetak gambar atau objek.

Pada tahun 1990, Kodak mengembangkan sistem foto CD dan mengusulkan pertama kalinya di seluruh dunia untuk menetapkan standar warna digital dalam lingkungan komputer dan peripheral komputer. Pada tahun 1991, Kodak merilis pertama kalinya untuk para profesional, suatu sistem dalam pemotretan yaitu Digital Camera System (DCS) yang bertujuan untuk foto jurnalistik. Kamera tersebut adalah Nikon F-3 yang dilengkapi dengan sensor 1.3 Megapixels.

Sedangkan kamera digital yang pertama untuk tingkat konsumen pasar yang bekerja dengan komputer rumah melalui USB (Unit serial Bus) adalah kamera QuickTake 100 Aplle yang diluncurkan pada 17 Februari 1994, kemudian kamera Kodak DC40 pada tanggal 28 Maret 1995, dilanjutkan dengan Casio QV-11 dengan monitor LCD pada akhir 1995, dan Sony Cyber-Shot Digital Still Camera di tahun 1996.

Dipihak lain, Hewlett-Packard (HP) adalah perusahaan pertama dalam hal membuat warna di produk mereka yaitu Inkjet Printer, sehingga melengkapi sistem pewarnaan untuk gambar yang dicetak dari kamera digital. Maka dimulailah perubahan kamera digital dengan bentuk yang baru. Kamera digital seperti kamera konvesional, tersedia model Point-And-Shoot dan lensa refleks tunggal digital atau Digital Single Lens Reflector (DSLR). Point-and-Shoot Camera adalah kamera kecil, murah, dan mudah digunakan, karena kamera tersebut hanya berisi lensa dan built-in flash. Untuk mendapatkan bingkai gambar, kamera tersebut memiliki Liquid Crystal Display (LCD) berbasis viewfinder.

Adapun keuntungan dan kerugian dari model Point-And-Shoot adalah, kamera tersebut dirancang agar memudahkan dalam penggunaan. Walaupun model ini masih memiliki keterbatasan, yaitu penggunaan kontrol atas kamera. Beberapa kamera ada yang mengatur fokus dan eksposure secara otomatis. Sementara jenis DSLR adalah kamera dengan model kebalikan dari Point-and-shoot camera. Kamera DSLR memiliki optical viewfinders, removable lens, external flash, dan kemampuan untuk fokus serta kemampuan untuk menyesuaikan eksposur secara manual bila commit to user

(4)

diperlukan. Hal ini merupakan pengganti langsung dari kamera yang menggunakan negatif film berbasis model lensa refleks tunggal atau Single Lens Reflex (SLR) yang digunakan kebanyakan orang waktu dulu.

Ada sebuah contoh menarik bagaimana pentingnya inovasi teknologi dalam perkembangan dunia jurnalistik khususnya media cetak. Fred S. Parrish (2002 : 4-10) menyebutkan harian Arizona Daily Star adalah sebuah koran yang memiliki sirkulasi lebih dari 100.000 eksemplar tiap harinya. Dimiliki oleh Pulitzer Publishing Co. Berdiri pada tahun 1877, harian ini berlokasi di Tucson, wilayah yang rata-rata adalah gurun yang berdekatan dengan perbatasan negara Meksiko.

Harian Arizona Daily Star merupakan koran yang terbit tujuh hari dalam seminggu yang mengambil isu seputar perkembangan pemerintahan, dan isu imigran. Koran ini memiliki idealisme yang tinggi dalam hal penggunaan media foto sebagai nilai tambah yang besar dalam media mereka. Mereka percaya melalui penyajian foto yang apik pembaca akan terpuaskan dengan sajian berita mereka.

Menyadari akan pentingnya konten foto sebagai pendukung pemberitaan, maka fotografer harian ini dituntut menyajikan foto jurnalis yang baik dan memenuhi kaidah jurnalistik. Foto yang disajikan diwajibkan memberi pemahaman lebih pada pembaca tentang isu yang tengah dihadapi.

Setidaknya ada delapan fotografer tetap, ditambah fotografer freelance yang bekerja pada media ini. Dalam sehari mereka diwajibkan mengerjakan dua sampai tiga isu untuk disajikan dalam berbagai karya fotografi.

Melalui media kamera analog fotografer harus bekerja lintas tempat dan waktu dalam sehari, ditambah mereka harus menyisakan cukup waktu untuk mengolah film negatif menjadi jajaran film positif, bergelut dengan proses seleksi foto di ruang gelap, bermain dengan zat kimia dan dilanjutkan proses memotong dan menyeleksi ratusan deret negatif film menjadi beberapa buah foto yang layak untuk masuk proses pre-cetak.

Panjangnya proses produksi dan sempitnya waktu deadline membuat media ini beralih menggunakan kamera digital pada dekade tahun 1990-an, seri Nikon NC2000e dipilih untuk memenuhi kebutuhan akan efisiensi waktu dan tenaga. Perubahan dari analog menjadi digital membuat perusahaan merubah pula sistem transmisi data dari bentuk hard file (negatif film) menjadi bentuk soft file (file foto). commit to user

(5)

Sistem internet pun digunakan sebagai alat penghubung (transmisi) dan alat penyebaran foto dari fotografer menuju editor foto mereka. Hal ini semakin memberikan kemudahan ketika fotografer harus pergi ke luar kota untuk penugasan, Machintos Powerbook akan menjamin foto mereka terkirim cepat menuju meja redaksi. Selain itu kamera digital mampu memenuhi kebutuhan media ini dalam menangkap momen foto yang cepat dan membutuhkan kualitas baik.

Pada akhirnya saat ini kita perlu menandai kemajuan industri media Arizona Daily Star ketika mereka memunculkan fasilitas Daily Star’s Online dimana langkah ini merupakan terobosan bagi industri media dan kemajuan dunia fotografi digital yang berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi. Daily Star’s Online memberikan jasa berbayar bagi mereka yang ingin mengunduh atau membaca koran secara online. Bagi fotografer hal ini membuat mereka lebih cepat menyajikan karya mereka bagi pembaca sehingga aktualitas berita lebih terjamin. Lebih banyak foto yang bisa mereka bagi melalui media online daripada memikirkan halaman koran yang terbatas.

Digitalisasi atau proses perubahan dari sistem analog menjadi sistem digital sering juga disebut sebagai komputerisasi, turut berperan mendorong masyarakat mengikuti arus perubahan dan turut dalam penggunaan mekanisme digital. Sebagai sebuah perubahan yang bersifat masif, tentunya masyarakat dihadapkan pada pilihan untuk belajar atau tetinggal dalam perkembangan teknologi ini.

Peneliti melihat perubahan teknologi dari sistem analog menjadi digital turut “memaksa” seorang mempelajari inovasi baru yang ditawarkan kepada mereka. Sebagai contoh perlu adanya penyesuaian baru dengan mengenal perangkat dan tombol operasional sebuah kamera digital yang berbeda dari kamera analog. Kemudian muncul lagi perbedaan dari segi olah gambar sampai transmisi gambar, semuanya merupakan hal baru yang berbeda dari sistem analog sebelumnya.

Dalam dunia fotografi digital, istilah digitalisasi terdiri atas dua proses penting, yakni proses pengambilan gambar dan proses pengolahan gambar setelah gambar diambil. Proses digital mampu memotong proses ruang gelap dimana fotografer harus bergulat dengan bahan kimia demi menghasilkan sebuah gambar pilihan. Proses digital memudahkan fotografer dalam memenuhi tuntutan deadline

(6)

Rogers (1983 : 135) memberikan definisi sebagai berikut :

“technology is a design for instrumental action that reduces the uncertainty in the cause-effect relationships involved in achieving a desired outcome. A technology usually has hardware and software components. Our definition implies some need or problem.”

Rogers (1983 : 135) mendefinisikan sebuah teknologi biasanya berupa perangkat keras dan lunak.

“The tool has (1) a material aspect (the equipment, products, etc.), and (2) a software aspect, consisting of knowledge, skills, procedures, and/or principles that are an information base for the tool.”

Rogers (1983 : 135), digitalisasi adalah sebuah produk inovasi, sedangkan inovasi merupakan ide, gagasan, atau konsep yang diterima sebagai sesuatu yang baru oleh masyarakat atau unit penerima yang lain.

“The innovation-development process consists of all of the decisions, activities, and their impacts that occur from recognition of a need or problem, through research, development, and commercialization of an innovation, through diffusion and adoption of the innovation by users, to its consequences.”

Berbagai perubahan yang terjadi akibat pergeseran sistem dari analog menjadi digital merupakan hal yang menarik untuk diteliti. Berbagai faktor yang mempengaruhi seorang fotografer profesional, dalam proses difusi inovasi teknologi kamera analog menjadi digital, inilah yang menurut peneliti dianggap sebagai proses perubahan masif dalam dunia fotografi. Perubahan dari proses pengambilan gambar hingga proses pengolahan gambar semua mengalami perkembangan yang luar biasa.

Dalam ranah ilmu komunikasi, peneliti melihat fenomena difusi inovasi kamera jenis DSLR ini sebagai sebuah hal yang menarik. Bagaimana sesuatu yang dianggap baru (inovasi) dapat diterima oleh khalayak menjadi alat untuk problem solving dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti ingin melihat bagaimana peran individu dalam proses penerimaan dan penyebaran (difusi) sebuah informasi tentang ide baru (inovasi).

Teori difusi inovasi pada dasarnya menjelaskan proses bagaimana suatu inovasi disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial. Hal tersebut sejalan dengan pengertian difusi dari Rogers (1983), yaitu “as the process by which an innovation is communicated through certain channels over time among the members of a social commit to user

(7)

system.” Lebih jauh dijelaskan bahwa difusi adalah suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaranan pesan-pesan yang berupa gagasan baru, atau dalam istilah Rogers, difusi menyangkut “which is the spread of a new idea from its source of invention or creation to its ultimate users or adopters.”

Difusi inovasi dijelaskan oleh Rogers (1983) sebagai proses keputusan terhadap inovasi adalah proses bagaimana seorang individu (atau unit pembuat keputusan lain) melalui tahapan pertama dari pengetahuan mengenai inovasi, untuk menciptakan sebuah sikap terhadap inovasi tersebut, kepada keputusan untuk menerima atau menolak.

Studi lain yang dilakukan oleh Marijke van der Veen (2010 : 4), dalam jurnal Agricultural innovation: invention and adoption or change and adaptation? Menguatkan pendapat Rogers (1983) mengenai definisi difusi inovasi bahwa :

“Rogers, in his textbook Diffusion of Innovations (2003: 169), draws on these aspects to categorize the stages an individual may pass through during the adoption process – knowledge, persuasion, decision, implementation and confirmation – and he stresses the nature of communication channels and the importance of certain individuals: opinion leaders who exert influence from within, and change agents who represent specialists from outside.”

Salah satu unsur berhasilnya sebuah inovasi adalah keberadaan seorang opinion leader seperti dijelaskan oleh Tina Gouws and George Peter van Rheede van Oudtshoorn (2011 : 238), dalam jurnal yang berjudul Correlation between brand longevity and the diffusion of innovations theory :

“Rogers (1983, p. 27) identifies an opinion leader as someone who is able to influence other individuals’ attitudes or overt behaviour informally in a desired way with relative frequency. Opinion leadership is earned and maintained by the individuals’ technical competence, social accessibility and conformity to the system’s norms.”

Dari kedua penelitian yang telah dilakukan oleh pakar tersebut menekankan faktor-faktor yang mempengaruhi sebuah difusi inovasi bisa menjadi solusi atas permasalahan yang muncul. Faktor-faktor tersebut antara lain, faktor sosial, ekonomi, dan sosial psikologis individu.

Dalam ranah ilmu komunikasi peneliti ingin melihat pada proses terjadinya difusi itu sendiri. Bagaimana sebuah ide atau gagasan baru, yakni informasi mengenai kamera digital jenis DSLR diadopsi oleh komunikator untuk diterima dan disebarkan ke dalam lingkup sistem sosial. commit to user

(8)

Menunjuk pada pengertian informasi dijelaskan dalam jurnal About Information Concept, Its Essence, and Role In Social and Technical System oleh Fedorov (2007 : 84) dilihat dari segi bahasa bahwasanya informasi berasal dari bahasa latin, informatio yang berarti penyelidikan (penelitian), penjelasan, dan penjabaran. Persepsi keseharian yang beupa pesan dan data tertentu. Informasi juga bisa berarti sebuah temuan, berita, data, dan seperangkat pengetahuan.

Dijelaskan pula oleh Bell’s and Shenon’s (2007 : 86) bahwasanya informasi adalah :

1. Pesan yang melekat pada kontrol : kesatuan sinyal yang bersifat dan karakteristik sintatis, semantik, dan pragmatis

2. Transmisi, refleksi dari berbagai macam objek dan proses (dari benda hidup maupun mati)

3. Data mengenai individu, objek, fakta, kejadian, fenomena, dan proses yang menghiraukan bentuk presentasinya.

Dapat disimpulkan melalui informasi kita dapat memahami refleksi dari proses, fenomena atau kejadian tertentu baik dari sebuah objek benda maupun makhluk hidup dalam dunia fisik tanpa memperhatikan refleksi bentuk, siapa yang membawa dan posisinya dalam waktu dan space tertentu. Informasi menjadi hal penting karena mampu membantu meraih tujuan tertentu.

Komunikasi menjadi titik penting dalam proses difusi, karena esensi dari proses penyampaian ide / gagasan itu berawal dari bagaimana sebuah pesan diciptakan oleh komunikator (message production) untuk selanjutnya ditransmikan (message dissemination) melalui saluran komunikasi dan dapat diterima oleh komunikan (message reception)

Pada dekade tahun 1970-an, muncul sebuah teori mengenai konstruksi pesan (constructivist theory) yang dikembangkan oleh Jesse Delia dan sarjana komunikasi lain pada masa itu. Teori ini merupakan gagasan paling logis untuk menjelaskan luasnya jangkauan teori produksi pesan.

Dalam ranah penelitian ini peneliti melihat difusi inovasi yang diawali dengan proses penyebaran pesan. Seorang inovator dalam melakukan proses difusi ini mempunyai peran untuk menciptakan pesan yang disalurkan melalui media tertentu

(9)

maupun melalui interaksi komunikasi interpersonal untuk selanjutnya ditransmisikan kepada target yang ingin dituju.

Pada tingkatan dibawahnya, seorang early adopter adalah target utama dari seorang inovator dalam proses difusi inovasi. Seorang early adopter dianggap mempunyai posisi strategis dalam lingkup sistem sosial. Dalam proses difusi ide baru, seorang early adopter menerima pesan (message reception) dari inovator untuk selanjutnya melakukan proses penyebaran bagi tingkatan di bawahnya. Dirinya dianggap memiliki power menyebarkan pesan sama seperti inovator dimana pesan ini akan disampaikan lewat interaksi komunikasi interpersonal maupun media tertentu yang mereka gunakan. Pada akhirnya pesan ini yang mempengaruhi orang lain akan terpaan sebuah inovasi.

Dalam proses difusi inovasi, tingkatan ketiga yakni, early majority merupakan tingkatan penerima pesan (message receptor) dari seorang early adopter. Pada tahap ini, seorang early majority memiliki fungsi untuk menerima pesan dan menyebarkan pada sistem sosial di bawahnya, seorang early majority cenderung lama menerima pesan dibanding dua tingkat diatasnya.

Pada tingkatan keempat, yakni seorang late adopter, dimana tingkatan ini bersifat pasif menerima pesan (message reception) dari tiga tingkatan diatasnya. Seorang late adopter dalam menerima sebuah inovasi sangat mempertimbangkan tingkat kemampuan ekonomi dan desakan kebutuhan untuk memperluas jaringan. Dirinya akan mengadopsi sebuah inovasi ketika hampir seluruh anggota dalam sistem sosialnya sudah menggunakan inovasi tersebut dan dirasa aman untuk memakainya.

Tingkatan terakhir, yakni laggard , merupakan penerima pasif yang berpegang teguh pada tata cara tradisional dan sangat berpengaruh pada agen perubahan yang dekat dengan mereka.

Berdasarkan paparan teori di atas, peneliti tertarik untuk melihat bagaimana penyebaran dan penerimaan ide baru, yang dalam hal ini merupakan informasi mengenai teknologi kamera DSLR di kalangan fotografer profesional di Kota Solo dan Yogyakarta.

Dalam melakukan penelitian mengenai proses difusi inovasi ini, peneliti menggunakan pendekatan penelitian komunikasi kualitatif. Menurut Pawito (2007 : commit to user

(10)

35), penelitian komunikasi kualitatif, biasanya tidak dimaksudkan untuk memberikan penjelasan-penjelasan (explanations), mengontrol gejala-gejala komunikasi atau mengemukakan prediksi-prediksi, tetapi lebih dimaksudkan untuk mengemukakan gambaran dan/atau pemahaman (understanding) mengenai bagaimana dan mengapa suatu gejala atau realitas komunikasi terjadi.

Menurut Pawito (2007 : 83), metodologi meliputi cara pandang dan prinsip berpikir mengenai gejala yang diteliti, pendekatan yang digunakan, prosedur ilmiah (metode) yang ditempuh, termasuk dalam mengumpulkan data, analisis data dan penarikan kesimpulan. Metode adalah cara paling utama yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Pada penelitian ini penulis ingin menggambarkan suatu realitas, maka jenis penelitian yang paling tepat adalah jenis kualitatif dengan metode studi kasus.

Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus untuk mendapatkan uraian dan penjelasan komprehensif mengenai berbagai aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu organisasi (komunitas), suatu program, atau suatu situasi sosial. Peneliti studi kasus berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai subjek yang diteliti, mereka sering menggunakan berbagai metode : wawancara (riwayat hidup), pengamatan, penelaahan dokumen, (hasil) survei, dan data apapun untuk menguraikan suatu kasus secara terinci.

(11)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah yang di ungkapkan pada latar belakang, maka dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana karakter individu dilihat dari peran masing-masing individu sebagai inovator, early adopter, early majority, dan late majority di dalam proses difusi inovasi ?

2. Bagaimana peran individu dalam proses difusi inovasi informasi kamera DSLR dilihat dari dua sisi, sebagai komunikator (message dissemiination) dan menjadi seorang komunikan (message reception) ?

C. Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan dan menganalisis karakter individu dilihat dari peran masing-masing individu sebagai inovator, early adopter, early majority, dan late majority di dalam proses difusi inovasi.

3. Mendeskripsikan dan menganalisis peran individu dalam proses difusi inovasi kamera DSLR dilihat dari dua sisi, sebagai komunikator (message dissemiination) dan menjadi seorang komunikan (message reception).

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi ilmu komunikasi, penelitian diharapkan dapat memberikan referensi bagi pembangunan body of knowledge teori komunikasi yang tengah berkembang. 2. Bagi pembaca, diharapkan mampu memberikan manfaat praktis untuk

menentukan saluran komunikasi yang efektif dalam proses difusi sebuah inovasi. 3. Bagi peneliti lain sebagai bahan acuan untuk melakukan penelitian lanjutan.

Mengingat masih banyaknya lubang dari teori difusi inovasi yang masih bisa digali melalui penelitian lain.

(12)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

Untuk memahami bagaimana sebuah proses difusi inovasi dapat berjalan dalam sistem sosial khususnya dalam lingkungan fotografer profesional di Kota Solo dan Yogyakarta, peneliti akan mendeskripsikan beberapa aspek yang berperan penting dalam berhasilnya proses penciptaan dan penerimaan pesan tersebut.

I. Komunikasi

Peneliti melihat kajian penelitian ini sebagai sebuah fenomena komunikasi, untuk itu perlu adanya definisi komunikasi secara luas dan menyeluruh. Definisi komunikasi perlu dijelaskan di awal karena definisi mengenai komunikasi masih bersifat tentatif dan belum menemukan satu definisi yang disepakati bersama.

Dalam beberapa dekade perumusan mengenai definisi komunikasi sangat berlimpah pun dengan perubahan mengenai definisi tersebut ikut mengalami perubahan secara terus menerus. Mungkin salah satu titik temu dalam memahami komunikasi adalah komunikasi merupakan sebuah proses. Proses merupakan sesuatu yang dinamis dan tidak bisa dikekang.

David Berlo (lihat, Miller 2005 : 5) mengemukakan sebuah ide mengenai definisi proses sebagai sebuah kejadian atau hubungan yang bersifat dinamis dan terjadi secara terus menerus, selalu berubah, dan berkelanjutan. Proses tidak memiliki awal maupun akhir, tidak statis, melihat komunikasi sebagai proses interaksi dimana satu orang mempengaruhi orang lain.

Seorang profesor komunikasi dari Michigan Tech University, Jennifer Slack menyadari betapa sulitnya mencari pehaman tunggal mengenai makna dari komunikasi tersebut, dalam buku A first look at communication theory, karya Em Griffin (2012 : 6), mengungkapkan bahwa :

“there is no single, absolute essence of communication that adequately explains the phenomena we study. Such a definition does not exist; neither is it merely awaiting the next brightest communication scholar to nail it down once and for all.”

12

(13)

Penjelasan tersebut menunjukan betapa kompleks dan tentatif nya ilmu komunikasi. Dimana sulit mencari sebuah definisi yang bisa mencakup pemikiran beberapa ahli untuk meramunya menjadi sebuah konsep yang disepakati. Namun, dalam bukunya tersebut, Em Griffin (2012 : 6) mencoba memberikan sebuah pengertian sederhana mengenai definisi komunikasi.

Communication is the relational process of creating and interpreting messages that elicit a response.

Dari satu kalimat tersebut diatas dapat diambil arti bahwa komunikasi merupakan proses yang saling berhubungan dalam hal menciptakan pesan dan meng-interpretasikan pesan tersebut yang pada akhirnya menghasilkan sebuah respon.

John Fiske (2012), dalam bukunya Introduction to Communication Studies: Second Edition juga melihat ilmu komunikasi sebagai sebuah multidisiplin ilmu, dirinya mencoba menarik kesimpulan lewat beberapa asumsi dari pemahamannya tersebut.

Dari beberapa asumsi yang ditekankan, Fiske (2012) menekankan dua pokok atau esensi dari ilmu komunikasi, yakni komunikasi sebuah proses transmisi pesan antara seorang komunikator dan komunikan, sedangkan pokok yang kedua dia melihat komunikasi lebih kompleks communication as the production and exchange of meaning atau komunikasi adalah proses produksi dan pertukaran makna. Pokok kedua menekankan bagaimana pesan atau teks bisa dipahami dan menghasilkan interaksi antar manusia.

Pendapat lain muncul dari Stephen W. Little John (2010), dalam bukunya Theories of Human Communication : Tenth Edition, menjelaskan bagaimana sebuah komunikasi tidak bisa dijabarkan dalam sebuah pengertian single namun harus dijelaskan menurut “teori mana yang rasa cocok untuk anda” sepenuhnya diserahkan pada bagaimana kita mampu memahami komunikasi sebagai sebuah teori.

Dari pendapat beberapa ahli tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa proses komunikasi memiliki beberapa aspek penting yang ada di dalamnya.

Disebutkan oleh Em Griffin (2012 : 6-7) tentang aspek-aspek penting komunikasi dilihat dari beberapa konsep yakni : commit to user

(14)

a. Message (pesan)

Message atau pesan adalah salah satu aspek inti dalam proses komunikasi. Profesor Ilmu Komunikasi dari University of Colorado, Robert T. Craig menyebut bahwasanya komunikasi meliputi berbicara dan menulis, menulis dan membaca, menampilkan dan menyaksikan, atau secara umum melakukan apapun yang melibatkan “pesan”dalam berbagai media dan situasi.

Dalam ranah komunikasi, pesan sering diidentikan dengan teks, yakni seperangkat rekaman pesan yang dapat dianalisa oleh orang lain, sebagai contoh buku, film, foto, atau contoh rekaman pidato maupun siaran pesan lewat televisi.

b. Creation of Message (penciptaan pesan)

Pada proses ini seseorang akan melakukan proses menyusun, membentuk, merangkai, mengadopsi, dan memilih pesan mana yang akan dia sampaikan pada orang lain.

c. Interpretation of Message (interpretasi pesan)

Messages do not interpret themselves. Pesan tidak akan mengintrepretasikan dirinya sendiri. Words don’t mean things, people mean things Kata tidak berarti sesuatu, orang lah yang memberi arti kepadanya.

Dari dua kalimat di atas dapat dikatakan bahwa interpretasi pesan merupakan dua hubungan kausal antara seorang komunikator dengan komunikannya. Herbert Blumer (lihat, Griffin 2012 : 55) mengenai fase ini disebut dengan “Humans act toward people or things on the basis of the meanings they assign to those people or things.”

Manusia berperilaku untuk menghadapi orang lain atau sesuatu berdasar makna yang mereka tetapkan untuk orang atau hal tersebut. Kata dan simbol lain terbuka atas berbagai interpretasi yang disematkan kepadanya.

Komunikasi merupakan simbolik, karena itu kita tidak memiliki akses untuk mengetahui pikiran atau maksud seseorang, apa yang kita mampu adalah mengintepretasikan pemikiran atau perasaan seseorang lewat pemahaman simbolik tersebut. Kita menciptakan simbol untuk memahami makna-makna tertentu.

(15)

Griffin (2012 : 8) membagi dua bentuk komunikasi sebagai sebuah proses yang saling mempengaruhi. Keduanya dijabarkan sebagai berikut :

a. Relational Process (proses yang saling berhubungan)

Komunikasi adalah sebuah proses, komunikasi bersifat sangat dinamis dan tidak pernah sama. Celeste Condit, seorang ahli retorika, menyebutkan bahwa komunikasi cenderung melihat pada proses dibandingkan konten di dalamnya. Komunikasi disebut sebagai proses yang saling berhubungan dikarenakan komunikasi bukan hanya menunjukan hubungan antara manusia satu dengan lainnya namun, juga melihat pada efek yang muncul yang mampu mempengaruhi hubungan antara manusia tersebut.

b. Message That Elicit of Response (pesan yang menimbulkan respon)

Pada tahapan ini akan disinggung mengenai bagaimana sebuah pesan akan menimbulkan respon / tindakan bagi penerimanya. Respon ini terkait bagaimana sebuah pesan mampu memberikan reaksi baik kognitif, emosional, sampai pada perilaku penerimanya.

Dikutip oleh Julia T. Wood (2011 : 16) dalam bukunya, Communication Mosaic mengutip pernyataan dari Pinker, et al. bahwa ada dua tingkatan dalam memahami makna tersebut yakni, content level yang bermakna tingkatan isi dari makna yang bersifat literal (harfiah) dan tingkatan kedua adalah relationship level of meaning yang menunjukan hubungan antar komunikator yang terlibat.

II. Proses Komunikasi

Proses komunikasi secara singkat menjelaskan bagaimana komunikasi terjadi, siapa dan apa saja yang terlibat dalam proses tersebut. Beberapa ahli telah menunjukan beberapa model proses komunikasi untuk memudahkan para sarjana komunikasi memahami rangkaian proses tersebut.

Proses komunikasi secara linear dikenalkan oleh Laswell (1948) dimana komunikasi sebagai proses satu arah, dimana seseorang berusaha mempengaruhi orang lain, atau sering disebut dengan model transmisi komunikasi.

Pada tahun 1949, Shannon dan Weaver (lihat, Wood 2011 : 16) menyempurnakan gagasan dari Laswell dengan menambahkan konsep noise

(16)

(gangguan). Gangguan adalah segala sesuatu yang menginterfensi makna komunikasi yang sebenarnya.

Message Message Signal Received signal

Information

Sender Message Receiver

Gambar 2.1 The Linear Model of Communication

Kritik mengenai pola komunikasi tersebut dikemukakan oleh Gronbeck (lihat, Wood 2011 : 17), The major shortcoming of the early models was that they portrayed communication as flowing in only one direction, from a sender to a receiver.

Ketika komunikasi dipandang sebagai sebuah proses dimana seorang komunikator mengirimkan pesan pada komunikan, komunikasi tersebut bersifat linear, karena seorang komunikan hanya pasif menerima pesan dari seorang komunikator.

Berbeda dengan konsep terdahulu, Wilbur Schramm (lihat, Wood 2011 : 17) memunculkan konsep feedback yakni sebuah respon atas pesan bisa berupa respon verbal maupun non verbal. Wilbur Schramm menambahkan bahwa semakin banyak perangkat pengalaman yang dimiliki komunikator untuk menyampaikan dan menginterpretasikan pesan, maka semakin baik pemahaman yang akan terjadi satu sama lain.

source Transmitter Receiver Destination

Noise source

(17)

Field of experience Field of experience Message Encoder Decoder Source Receiver Decoder Encoder Feedback

Gambar 2.2 The Interactive Model of Communication

III. Level Komunikasi

Beberapa ahli mengelompokan komunikasi dalam berbagai tingkatan sesuai dengan keterlibatan individu dalam proses tersebut. Diungkapkan oleh Julia T. Wood dalam Communication Mosaics (2011 : 34-36) tingkatan (level) komunikasi tersebut adalah sebagai berikut :

1. Komunikasi Intrapersonal

Komunikasi dengan diri sendiri atau self talk merupakan proses kognitif bagaimana seorang individu melakukan komunikasi dengan dirinya sendiri. Komunikasi intrapersonal mampu membantu individu dalam merumuskan pola komunikasi yang tepat serta hasil yang dia inginkan dalam rangka berkomunikasi dengan individu yang lebih luas (komunikasi organisasi).

2. Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal secara harfiah diartikan sebagai komunikasi antar individu. Semakin banyak personal yang kita libatkan dalam sebuah komunikasi maka proses komunikasi menjadi semakin interpersonal. Komunikasi disebut sebagai interpersonal ketika terjadi proses interaksi secara interaktif antar individu dalam rangka memberikan pengaruh satu sama lain, umumnya untuk menjaga sebuah hubungan. Komunikasi interpersonal harus melibatkan individu secara interaktif, bukan monolog individu harus terlibat dalam interaksi maupun memberikan reaksi dalam sebuah interaksi interpersonal. Komunikasi interpersonal memiliki peranan penting dalam commit to user

(18)

menjaga sebuah hubungan, komunikasi interpersonal menciptakan reaksi mendengar dan merespon, memberi dan menerima pesan untuk menciptakan keharmonisan dalam interaksi melalui interpretasi pesan verbal maupun non verbal.

3. Group Communication

Komunikasi dalam sebuah grup terjadi ketika beberapa individu berinteraksi dalam sebuah kelompok kecil. Sebagai makhluk sosial, individu harus bekerja secara kolektif dalam sebuah kelompok atau tim. Grup kecil ini atau small-group communication adalah sebuah bentuk transaksi pesan verbal dan non verbal antara tiga atau sekitar lima belas orang atau lebih yang memiliki kesamaan tujuan, memiliki rasa memiliki dalam sebuah grup dan mempengaruhi satu sama lain. Individu yang tergabung dalam sebuah grup memiliki beberapa kecenderungan yakni berusaha mencapai tujuan tertentu lewat interaksi antar individu di dalamnya. Individu dalam sebuah grup sangat berpotensial mempengaruhi tindakan dan respon anggota grup lainnya.

4. Public Communication

Komunikasi publik terjadi ketika pembicara (komunikator) melakukan proses transmisi pesan pada orang lain untuk memberikan informasi, membujuk atau menghibur. Retorika adalah salah satu bentuk komunikasi publik dimana retorika merupakan proses menemukan makna tertentu dalam melakukan persuasi pada situasi tertentu. Seorang pembicara yang bagus mampu memahami cara berkomunikasi mereka dan bagaimana mereka berinteraksi dengan audiens.

5. Komunikasi Organisasi

Komunikasi organisasi berkembang menjadi sebuah media pertukaran pesan dalam organisasi untuk meningkatkan kinerja, kepemimpinan, hingga proses pengambilan keputusan. Komunikasi organisasi melihat bagaimana hubungan antara atasan dan bawahan dalam sebuah organisasi, tentang bagaimana pimpinan mampu menjaga hubungan untuk meningkatkan mutu organisasi. Komunikasi menjadi penting ketika dalam sebuah organisasi yang terdiri atas berbagai ras dan kategori yang berbeda berkumpul, menjadi tantangan

(19)

tersebdiri bagi seorang komunikator untuk memahami keberagaman gaya komunikasi dalam sebuah organisasi.

6. Komunikasi Massa

Komunikasi massa, adalah sebuah proses dimana individu, grup atau masyarakat, atau organisasi yang lebih luas (besar) menciptakan pesan dan mentransmisikannya kepada masyarakat luas, anonymous, dan audiens yang terdiri atas beragam tipe. Tipe komunikator dalam komunikasi massa biasanya merupakan komunikator profesional atau organisasi khusus dengan budget besar. Sifat pesannya massal dan bermacam tipe. Feedback dalam komunikasi massa secara umum tidak langsung dan terlambat. Perkembangan teknologi baru, baik televisi maupun internet memberikan kemudahan penyebaran pesan secara masif.

Komunikasi massa menurut Littlejohn (2010 : 304) adalah proses dimana organisasi media memproduksi dan mentransmisikan pesan kepada publik yang lebih luas dan proses bagaimana pesan tersebut dicari, digunakan, dan dipahami, dan mempengaruhi audiens.

Dalam menggambarkan komunikasi massa ini, Liitle John (2010) menggambarkan sebuah model organisasi. Sarjana komunikasi menyadari “dua wajah” komunikasi massa, satu wajah menghadap sosial budaya dan satu wajah menghadap media sebagai institusi.

(20)

(2) Institutional Links (3) Personal Links

(Marxist theory) (Network and Diffusion Theory)

SOCIETAL

STRUCTURES AND AUDIENCES (1) Media Content

and Structure CULTURE

(Innis and Mc Luhan) (Semiotics)

(4) Cultural Outcome (5) Individual Outcome

(Functional Theory) (Effects Research)

(Cultivation Theory) (Agenda Setting)

(Spiral of Silence) (Uses and Gratification)

(Dependency Theory)

Gambar 2.3 An Organizing Model

Dari diagram diatas, dapat dilihat pengaruh media ke audiens merupakan pemetaan teori-teori penggunaan media yang mempengaruhi khalayak. Dari pemetaan terlihat teori difusi inovasi menjelaskan pengaruh media di mikro level adalah pengaruh isi media ke khalayak. Isi media kepada khalayak bukan melihat efek, namun lebih pada individu yang mengalami pengaruh media. Difusi inovasi melihat pada peran-peran individu yang terlibat di dalamnya.

IV. Difusi Inovasi

Dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat proses difusi inovasi sebagai proses bagaimana sebuah inovasi mengalami proses difusi sampai akhirnya bisa diaplikasi kan oleh beberapa adopter. Proses difusi dilihat sebagai bentuk komunikasi khusus yang dilakukan oleh seorang komunikator melalui beberapa saluran komunikasi untuk dapat diterima oleh komunikator. Ada dua bahasan pokok dalam penelitian ini, yakni bagaimana sebuah pesan disebarkan (message dissemination) dan bagaimana sebuah pesan diterima / diintepretasikan (message reception). Ada pula dua peranan individu yang ingin dilihat peneliti di dalam commit to user

(21)

penelitian ini, yakni bagaimana peran seorang individu / organisasi menjadi seorang komunikator dalam penyebaran pesan (message dissemination) dan bagaimana peran individu ketika dia menjadi seorang komunikan yang menerima pesan (message reception).

Sebelum membahas kedua pokok proses komunikasi tersebut, peneliti ingin membahas beberapa aspek pokok bahasan dalam proses difusi inovasi tersebut.

Apakah yang dimaksud difusi inovasi itu ? Rogers (1983 : 5)

“Diffusion is the process by which an innovation is communicated through certain channels over time among the members of a social system. It is a special type of communication, in that the messages are. concerned with new ideas. Communication is a process in which participants create and share information with one another in order to reach a mutual understanding. (Rogers and Kincaid, 1981).”

Rogers (1983 : 163) menyebut proses difusi inovasi sebagai tindakan mengkomunikasikan sebuah pesan atau ide mengenai sebuah hal baru (inovasi) untuk dapat digunakan sebagai alat menyelesaikan problem atau masalah yang sudah ada.

‘The innovation-decision process is the process through which an individual (or other decision-making unit) passes from first knowledge of an innovation, to forming an attitude toward the innovation, to a decision to adopt or reject, to implementation of the new idea, and to confirmation of this decision.”

“This process consists of a series of actions and choices over time through which an individual or an organization evaluates a new idea and decides whether or not to incorporate the new idea into ongoing practice. This behavior consists essentially of dealing with the uncertainty that is inherently involved in deciding about a new alternative to those previously in existence.”

Rogers (1983 : 11), menyebut setidaknya ada empat elemen pokok dalam proses difusi inovasi, yakni :

1. The Innovation (Inovasi)

Inovasi adalah gagasan, ide, praktek, atau objek yang diterima sebagai sesuatu yang baru oleh seorang individu atau unit adopter lainnya. Sifat “baru”dari inovasi ini sangat tergantung pada reaksi individu atas inovasi tersebut. Sesuatu dikatakan baru bisa diungkapkan melalui terminologi pengetahuan, persuasi, atau keputusan untuk mengadopsi. commit to user

(22)

Karakter sebuah inovasi menurut Rogers (1983 : 213-232) harus memiliki beberapa syarat yang mempengaruhi penerimaan oleh seorang individu terhadap inovasi yakni sebagai berikut :

a. Relative Advantage (Kegunaan Relatif)

Adalah sebuah tingkatan dimana inovasi diterima sebagai sesuatu yang lebih baik untuk menggantikan sebuah ide. Tingkat relatifitas ini bisa diukur melalui faktor ekonomi, kepuasan, dan kecocokan dalam menggunakan sebuah inovasi. Makin tinggi sebuah keuntungan relatif dari inovasi, maka makin cepat pula sebuah adopsi akan terjadi.

b. Compatibility (Kecocokan)

Adalah sebuah tingkatan dimana sebuah inovasi diterima karena konsisten dengan nilai-nilai yang sudah ada, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan oleh adopter potensial.

c. Complexity (Kompleksitas/Kerumitan)

Adalah sebuah tingkatan dimana sebuah inovasi dilihat dari sisi kesulitan untuk memahami dan menggunakannya. Beberapa inovasi sudah siap untuk dipahami oleh beberapa anggota sistem sosial : anggota yang lain mungkin merasa rumit dan lambat dalam mengadopsi.

d. Trialability (Percobaan)

Adalah tingkatan dimana sebuah inovasi dapat di eksperimen dengan batasan dasar. Sebuah inovasi atau ide baru yang bisa dicoba dalam rencana instalasi akan lebih cepat diadopsi dibanding sebuah ide baru yang tidak bisa dicoba.

e. Observability (Observatif)

Adalah sebuah tingkatan dimana hasil dari sebuah inovasi dapat dilihat oleh orang lain. Makin mudah sebuah hasil inovasi diamati oleh seseorang, maka inovasi tersebut akan mudah untuk diadopsi.

(23)

2. Communication Channels (Saluran Komunikasi)

Difusi adalah bentuk komunikasi khusus dimana informasi yang ditukar berkenaan dengan sebuah ide baru. Esensi dari proses difusi ini adalah pertukaran informasi dimana seorang individu mengkomunikasikan ide baru kepada individu lain. Sedangkan saluran komunikasi merupakan sarana atau alat dimana pesan / ide baru disampaikan kepada orang lain.

Ada dua saluran menurut Rogers (1983 : 17) yang lazim digunakan, yakni mass media channels dan interpersonal channels. Mass media adalah segala sesuatu yang digunakan sebagai sarana transmisi pesan, meliputi radio, televisi, koran, dan lainnya yang memungkinkan sumber untuk mencakup beberapa audiens. Di sisi lain, saluran interpersonal lebih efektif untuk membujuk seorang mengadopsi ide baru, khususnya jika channel interpersonal tersebut menghubungkan dua atau lebih individu yang berdekatan.

3. Time (Waktu)

Rogers (1983 : 20) variabel waktu dalam proses difusi ini meliputi : a. Pada proses keputusan difusi inovasi, dimana individu melewati proses

pengetahuan pertama dari sebuah inovasi meliputi, penerimaan atau penolakan.

b. Pada kemampuan inovasi oleh individu dan unit adopter lain, dimana relativitas secara cepat atau lambat sebuah inovasi dapat diterima dibanding individu lain dalam sistem.

c. Tingkatan adopsi dalam sebuah sistem, biasanya periode waktu diukur sebagai jumlah anggota dari sistem sosial yang mengadopsi sebuah inovasi.

4. A Social System (Sistem Sosial)

Sistem sosial adalah seperangkat unit yang saling berkomitmen dalam rangka kerjasama untuk menyelesaikan masalah dan meraih tujuan tertentu. Sebuah sistem sosial yang ada dalam masyarakat ikut menentukan apakah sebuah inovasi dapat ditransmisikan dengan baik. Sistem sosial memberikan commit to user

(24)

batasan atas sebuah difusi yang terjadi dalam masyarakat, sistem sosial seperti norma, pendapat opinion leader, tipe difusi yang terjadi, konsekuensi dari difusi itu sendiri memegang peranan penting (Rogers 1983 : 20).

Gambar 2.4 A paradigm of variables determining the rate of adoption of innovations

Dari gambar diatas Rogers (1983) menjelaskan beberapa elemen yang mampu mempengaruhi tingkat kecepatan adopsi sebuah inovasi. Cepat atau tidaknya sebuah inovasi bisa diadopsi oleh adopter setidaknya bisaa ditinjau dari sifat inovasi itu sendiri, tipe keputusan pengambilan keputusan, saluran komunikasi yang dipergunakan, sifat sistem sosial dalam masyarakat, dan usaha dari agen perubah untuk melakukan usaha promosi.

Menurut Littlejohn dan Foss (2010 : 380), disebutkan kunci dari teori difusi inovasi adalah :

1. Adanya Change agents, yakni orang-orang yang berinisiatif atas sebuah inovasi, mengambil peran besar sebagai sumber informasi dari sebuah inovasi.

2. Persepsi adopter mengenai pentingnya sebuah inovasi untuk disebarkan. 3. Proses adopsi, yang secara khusus dimulai melalui kontak komunikasi

interpersonal dalam jaringan yang mempengaruhi. commit to user

(25)

Rogers (1983 : 135-149), dalam bukunya Diffusion of Innovations, menyatakan bahwa sebuah inovasi bisa mengalami proses difusi, setelah melalui beberapa tahapan, yakni :

1. Kesadaran Akan Adanya Masalah atau Kebutuhan

Salah satu cara dimana proses inovasi berkembang adalah dimana muncul kesadaran mengenai adanya problem atau masalah yang mendorong adanya penelitian dan pengembangan yang didesain untuk menciptakan sebuah inovasi yang mampu memecahkan problem/masalah. Dalam beberapa kasus, seorang peneliti mungkin akan menghadapi masalah dan menciptakan penelitian untuk menemukan solusi).

2. Penelitian Dasar dan Penerapan

Seringkali dalam berbagai penelitian, inovasi memiliki sinonim dengan teknologi, dimana kedua hal ini memiliki kesamaan, yakni :

“Technology is a design for instrumental action that reduces the uncertainty in the cause-effect relationships involved in achieving a desired outcome. A technology usually has hardware and software components.”

“Our definition implies some need or problem. The tool has (1) a material aspect (the equipment, products, etc.), and (2) a software aspect, consisting of knowledge, skills, procedures, and/or principles that are an information base for the tool.”

3. Pengembangan

Pengembangan dari inovasi adalah proses meletakan sebuah gagasan baru dalam sebuah bentuk yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan audiens / adopter potensial.

4. Komersialisasi

Inovasi sering dihasilkan melalu berbagai aktivitas penelitian; mereka biasanya dihasilkan dalam sebuah paket yang siap diadopsi langsung oleh pemakai. Karena seperti halnya pengemasan dari hasil penelitian sebuah inovasi yang biasanya dikerjakan oleh perusahaan swasta, tingkatan ini dalam proses pengembangan teknologi biasa disebut “komersialisasi”. Komersialisasi adalah, produksi, manufaktur, pengemasan, marketing dan distribusi produk yang membungkus sebuah inovasi. commit to user

(26)

5. Difusi dan Adopsi

Proses ini adalah saat yang paling sulit dalam rangkaian pengembangan inovasi dimana produsen menentukan sebuah produk inovasi akan disebarkan dan diadopsi kepada audiens luas.

Pada tahap ini adaptor akan menentukan apakah sebuah ide atau gagasan baru bisa diterima atau ditolak oleh adaptor.

Titik yang sangat penting dalam proses pengembangan inovasi adalah keputusan untuk memulai men-difusi inovasi kepada adaptor potensial. Pada titik ini sistem penelitian/pengembangan/komersialisasi harus berhubungan dengan agen-agen difusi yang akan mengkomunikasikan inovasi kepada pengguna.)

Dikutip dari jurnal karya Ozaki dan Mark (2010 : 321) yang berjudul Adopting Consuming and dikemukakan bahwasanya :

“Consumers make decisions to adopt innovations for a variety of reasons that can be socially influenced or personal.”

6. Konsekuensi

Fase final dalam proses pengembangan inovasi ini adalah konsekuensi dari inovasi itu sendiri. Pada tingkatan ini masalah asli/kebutuhan yang meliputi seluruh proses baik yang dapat diselesaikan atau belum diselesaikan oleh inovasi. Seringkali masalah baru/kebutuhan mungkin disebabkan oleh inovasi sehingga putaran inovasi baru akan diciptakan). Unsur-unsur dalam difusi inovasi menunjukan bagaimana kompleksnya proses difusi sebagai bentuk komunikasi khusus. Untuk memahami lebih mengerucut kepada proses komunikasi tersebut, peneliti mencoba menguraikan bagaimana proses difusi inovasi terjadi dalam sebuah sistem sosial.

(27)

Proses Difusi Inovasi

Rogers (1983 : 163) melihat difusi inovasi sebagai proses dimana individu melewati proses pertama dari pengetahuan mengenai inovasi. Proses ini terjadi atas beberapa seri tindakan dan pemilihan berulang dimana seorang individu ataupun mengevaluasi munculnya ide baru untuk selanjutnya menentukan apakah bekerjasama menerima inovasi atau tidak untuk selanjutnya bisa dikerjakan melalui praktek berkelanjutan.

Gambaran tentang beberapa tahapan dalam proses pengambilan keputusan dalam difusi inovasi dijelaskan sebagai berikut (Rogers 1983 : 164-185) :

a. Knowledge

Pada tahapan ini, individu atau unit pengambilan keputusan lain merasakan terpaan inovasi yang ada dan mencapai pemahaman bagaimana inovasi tersebut berfungsi.

Pada fase ini sesorang akan mempertimbangkan kebutuhan dan perhatian terhadap sebuah inovasi. Dengan kata lain seseorang akan sadar terhadap kebutuhan dan mulai mencari informasi yang mengurangi keraguan terhadap sebuah inovasi melalui proses pencarian informasi. Ketika kebutuhan akan sebuah inovasi semakin tinggi, akan terjadi proses pencarian informasi yang dilakukan oleh individu. Tipe pencarian informasi pada tahapan ini dapat dijabarkan menjadi, software information, yang terdapat pada inovasi itu sendiri dan mampu mengurangi ketidakpastian tentang hubungan sebab dan akibat yang terlibat dalam rangka meraih hasil yang kita inginkan (seperti menyadari adanya kebutuhan dan masalah individu), how-to knowledge yang terdiri atas penggunaan informasi penting untuk menggunakan inovasi dengan benar. Ketika seorang individu tidak mendapat informasi memadai pada tahapan ini, maka mereka akan menolak atau tidak meneruskan sebuah inovasi. Principles knowledge terdiri atas informasi yang berkenaan dengan fungsi dasar yang menjadi pokok bagaimana sebuah inovasi bekerja.

Kebanyakan, seorang change agents akan berkonsentrasi pada usaha untuk menciptakan pengetahuan dalam tahapan awareness atau penciptaan kesadaran individu, meskipun tujuan ini bisa dicapai lebih efisien pada beberapa tahapan sistem masyarakat melalui saluran media massa. commit to user

(28)

Secara umum dapat dirangkum sebagai berikut :

Generalization 5-1: Earlier knowers of an innovation have more education than later knowers.

Generalization 5-2: Earlier knowers of an innovation have higher social status than later knowers.

Generalization 5-3: Earlier knowers of an innovation have more exposure to mass media channels of communication than later knowers.

Generalization 5-4: Earlier knowers of an innovation have more exposure to interpersonal channels of communication than later knowers.

Generalization 5-5: Earlier knowers of an innovation have more change agent contact than later knowers.

Generalization 5-6: Earlier knowers of an innovation have more social participation than later knowers.

Generalization 5-7: Earlier knowers of an innovation are more cosmopolite than later knowers.

b. Persuasion Stage (Tahapan Persuasi)

Tahapan ini menunjukan bagaimana seorang individu bersikap setelah melalui tahapan pertama dalam pengetahuan. Seorang individu akan terlibat lebih secara psikologis kepada inovasi tersebut: mereka akan aktif mencari informasi mengenai sebuah ide baru, dimana mereka mencari informasi, pesan apa yang mereka terima, dan bagaimana mereka menginterpretasikan pesan tersebut.

Pada tahapan persuasi yang erat hubungannya dengan proses pengambilan keputusan, seorang individu akan aktif mencari beberapa tipe informasi, yakni : innovation-evaluation information yang mana untuk mengurangi ketidakpastian tentang konsekuensi yang diharapkan pada sebuah ide baru (inovasi). Tipe informasi ini didapat dengan mudah melalui evaluasi ilmiah mengenai inovasi, biasanya bersifat subjektif berasal dari orang terdekat yang telah menggunakan ide tersebut dan sangat meyakinkan. A preventive innovation adalah ide baru yang diadopsi individu dalam rangka menghindari peristiwa yang tidak diinginkan terjadi di masa depan. commit to user

(29)

c. Decision Stage (Tahapan Keputusan)

Tahapan pengambilan keputusan terjadi ketika seorang individu atau unit pengambilan keputusan lain terlibat dalam aktivitas yang bertujuan untuk memilih atau menolak sebuah inovasi. Adopsi adalah keputusan untuk menggunakan secarap penuh sebuah inovasi jalan tindakaan terbaik. Rejection adalah penolakan dalam menggunakan sebuah inovasi.

Rogers (1983 : 29) mengemukakan terdapat tiga bentuk pengambilan keputusan mengadopsi sebuah inovasi, yakni :

1. Optional innovation-decisions terjadi ketika individu dalam sistem sosial memutuskan untuk mengadopsi sebuah inovasi karena keputusan yang merdeka dari dirinya sendiri terlepas dari anggota lain dalam sistem sosial. Meskipun dalam pengambilan keputusannya mereka dipengaruhi oleh norma sosial dan pengaruh komunikasi interpersonal.

2. Collective innovation-decisions adalah pilihan untuk mengadopsi atau menolak inovasi yang dibuat secara konsesus diantara anggota dari sistem sosial. Semua anggota unit dari sistem sosial biasanya akan patuh terhadap keputusan dari sistem ketika melakukan adopsi.

3. Authority innovation-decisions adalah keputusan untuk mengadopsi ataupun menolak sebuah inovasi ketika keputusan mengadopsi muncul dari anggota sistem sosial yang memiliki kekuatan, status, ataupun kemampuan secara teknis. Secara simpel anggota individu akan mengikuti keputusan adopsi.

Pada tahapan pengambilan keputusan, penting bagi seorang inovator untuk menghasilkan relative advantage bagi calon adopter yang ingin mereka tuju karena tidak ada satu inovasi yang mampu diadopsi tanpa melalui proses trial atas inovasi tersebut. Ketika relative advantage dirasakan seorang adopter maka akan mendorong mereka pada proses adopsi inovasi secara menyeluruh. Metode pemberian sampel gratis pada seorang adopter dirasa mampu mempercepat adopsi produk.

Penggunaan agen perubahan bisa mempercepat proses inovasi untuk beberapa individu dengan memberikan sponsor untuk melakukan demonstrasi ide baru commit to user

(30)

pada sistem sosial, dan ada bukti bahwa strategi demonstrasi bisa cukup efektif, khususnya jika demonstrator adalah seorang opinion leader).

Saat tahapan pengambilan keputusan berlangsung, beberapa inovasi atau ide baru sering menggunakan seorang change agents / opinion leader untuk menggantikan individu-individu dalam sebuah sistem sosial. Melalui percobaan lewat ichange agents / opinion leader inilah akan memunculkan keterwakilan dalam sebuah sistem yang luas. Karena seorang change agents sering dicari untuk mempercepat proses difusi kepada khalayak luas mengenai sebuah ide baru dalam sistem sosial. Biasanya teknik yang dipilih melalui cara demonstrasi produk.

d. Implementation Stage (Tahapan Implementasi)

Disebut implementasi ketika seorang individu atau unit pengambil keputusan lain melakukan penggunaan pada sebuah inovasi atau ide baru tersebut. Implementasi merupakan bentuk perubahan meliputi perilaku dari adopter saat melakukan penggunaan inovasi. Tahapan implementasi akan berakhir secara alami, namun biasanya ketika inovasi sudah tidak umum dan dianggap tidak sesuai dengan proses operasional yang dialami individu.

e. Confirmation Stage (Tahapan Konfirmasi)

Proses difusi inovasi menganggap proses implementasi sebagai tahapan akhir, namun pada beberapa kasus seorang individu atau unit pengambil keputusan lain mencoba mencari informasi dalam rangka menguatkan keyakinan mereka atas penggunaan sebuah inovasi atau ide baru. Pada tahap ini seseorang berusaha meninggalkan informasi yang bisa meningkatkan ketidakyakinan mereka atas inovasi yang mereka gunakan.

Ketidakcocokan atau dissonance muncul ketika ada ketidaknyamanan seorang individu secara umum akan merubah pengetahuan, sikap, dan tindakan mereka. Individu akan tertarik mencari informasi baru tentang ide baru lain demi memuaskan kebutuhan mereka. Pada tahap lanjut, individu akan mengalami discontinuance atau menghentikan penggunaan sebuah inovasi demi mencari ide baru lain yang sesuai dengan kebutuhan mereka. commit to user

(31)

Gambar 2.5 Proses Tahapan Difusi Inovasi

Peran Individu Berdasar Tingkat Inovasi dan Kategori Adopter

Difusi inovasi sebagai proses komunikasi menekankan pada pentingnya individu sebagai komunikator (pengirim) dan komunikan (penerima) pesan. Namun, dalam sebuah sistem sosial tidak sepenuhnya inovasi atau ide baru dapat diterima oleh kelompok masyarakat di dalamnya.

Tidak semua individu dalam sistem sosial mengadopsi sebuah inovasi dalam waktu yang bersamaan. Mereka cenderung melakukan adopsi pada sekuen waktu tertentu dan bisa dikelompokan dalam beberapa tipe adopter (Rogers 1983 : 241).

Individu pada masing-masing kategori berperan dalam proses difusi kepada kategori di bawahnya, begitu seterusnya. Penggunaan saluran komunikasi seperti media massa dan komunikasi interpersonal merupakan sarana transmisi pesan untuk mencapai tingkatan adopsi pesan.

Berdasarkan pendapat Rogers (1983) idealnya terdapat lima tipe ideal adopter dalam proses difusi inovasi, yakni sebagai berikut :

1. Innovator : Venturesome

Seorang inovator adalah pribadi yang suka berpetualang, mencoba hal-hal baru, dan mempunyai obsesi mengenai suatu hal baru. Sifatnya ini membuatnya berada pada lingkaran hubungan sosial kosmopolitan, jauh dari lingkup putaran lokal (local circle). Seorang innovator harus memiliki finansial yang kuat terkait beberapa proses pengembangan pengetahuan ide baru yang akan dilakukan. Mereka harus bergelut dengan ketidakpastian mengenai kapan inovasi yang mereka ciptakan akan diadopsi oleh adopter. commit to user

(32)

Jadi, inovator memegang peranan sebagai gatekeeping mengenai ide baru dalam sistem sosial (Rogers 1983 : 248).

Disebutkan oleh Barbara Wejnert (2002 : 302) dalam jurnal yang berjudul Integrating Models of Diffusion of Innovations : A Conceptual Framework, kategori inovator memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :

Enam karakter dari variabel pelaku yang nampak untuk mengatur adopsi inovasi adalah :

1. Status sosial dari inovator

2. Tingkat pemahaman terhadap inovasi 3. Karakter status

4. Karakter sosial ekonomi

5. Posisi relatif dalam jaringan sosial

6. Karakter personal yang berhubungan dengan variabel kultur yang memodifikasi karakter personal dari pelaku di level populasi.

2. Early Adopter : Respectable

Early adopter lebih terintegrasi dengan sistem lokal dibandingkan seorang inovator. Pada kategori ini seorang individu harus mempunyai peranan yang paling besar menjadi seorang opinion leader di dalam kebanyakan sistem sosial. early adopter sering mencari informasi dan hal-hal terkait dengan sebuah inovasi, karena sifatnya inilah seorang change agents sering menunjuknya sebagai misionaris lokal untuk menyebarkan proses difusi. Karena kedekatannya dengan inovasi ini, menjadikannya sebagai model contoh bagi masyarakat lain, dirinya sangat dihormati dalam lingkup sistem sosial. jadi, peran seorang early adopter adalah mengurangi ketidakpastian mengenai sebuah inovasi untuk dapat diadopsi, perannya menyampaikan evaluasi subjektif mengenai inovasi kepada rekan terdekatnya melalui saluran interpersonal (Rogers 198 : 249).

3. Early Majority : Deliberate

Seorang early majority mengadopsi ide baru sesaat sebelum rata-rata anggota sistem sosial melakukan adopsi serupa. Individu pada tahap ini sering berinteraksi dengan peers tapi jarang memegang posisi pemimpin. Early majority mendapatkan posisi unik di antara early majority dan late commit to user

(33)

adopter membuat mereka menjadi link penghubung yang penting dalam proses difusi. Mereka menjadi penghubung antar fase dalam prses difusi. Periode pengambilan keputusan difusi pada proses ini cenderung lambat dibanding seorang early adopter (Rogers 1983 : 249).

4. Late Majority : Skeptical

Individu pada tahap ini cenderung melakukan adopsi sebuah ide baru ketika mayoritas anggota dalam sistem sosial telah melakukan adopsi terlebih dahulu. Tindakan adopsi yang lambat biasanya didasari atas kebutuhan ekonomi dan keinginan menjawab tekanan sosial. mereka tidak akan mengadopsi sampai sebagian besar individu melakukan adopsi terlebih dahulu. Sistem norma sering berperan menciptakan sikap skeptis ini, peranan seorang peers sangat tinggi dalam memberikan motivasi untuk melakukan sebuah adopsi inovasi (Rogers 1983 : 250).

5. Laggards : Traditional

Laggards merupakan kategori terakhir dalam fase adopsi. Mereka sama sekali tidak memiliki seorang opinion leader, sifatnya cenderung diluar sistem sosial dan terisolir. Keputusan untuk melakukan difusi sering diambil setelah mengamati penggunaan ide baru melalui generasi sebelumnya dan mereka cenderung berinteraksi dengan sesama kaum tradisional. Kategori ini melambatkan proses difusi karena sifatnya yang sangat tradisional dan sulit menerima masukan (Rogers 1983 : 250).

V. Saluran Komunikasi Dalam Proses Difusi inovasi

Dalam penelitian ini, peneliti menekankan proses komunikasi sebagai kajian utama penelitian. Dalam proses difusi inovasi, saluran komunikasi memegang peran penting dalam proses penyebaran ide baru. Pada bahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa inti dalam proses difusi adalah bagaimana sebuah ide baru mampu diterima dan diadopsi oleh kategori tertentu dalam masyarakat. Ada beberapa unsur yang berperan dalam proses komunikasi tersebut.

(34)

Kategori Saluran Komunikasi

Sebelum memahami proses difusi inovasi melalui saluran komunikasi perluadanya pemahaman mengenai unsur source dan channel. Source atau sumber adalah individu atau organisasi yang menciptakan pesan. Sedangkan channel adalah sarana yang digunakan untuk menyebarkan pesan pada penerima (receiver) (Rogers, 1983 : 198).

Rogers (1983 : 19-20) mengemukakan bahwasanya proses komunikasi yang efektif akan tercipta ketika dua individu yang terlibat adalah homophily. Homophily adalah tingkatan dimana individu yang berinteraksi dalam sistem sosial memiliki kesamaan atribut tertentu seperti pendidikan, kepercayaam, status sosial dan lainnya. Ketika mereka berbagi makna kesamaan bahasa, personal, dan karakter sosial, efek komunikasi akan menjadi besar dalam hal pencapaian pengetahuan, perubahan sikap, dan perubahan perilaku yang lain.

Ada dua saluran menurut Rogers (1983 : 17) yang lazim digunakan, yakni mass media channels dan interpersonal channels. Mass media adalah segala sesuatu yang digunakan sebagai sarana transmisi pesan, meliputi radio, televisi, koran, dan lainnya yang memungkinkan sumber untuk mencakup beberapa audiens. Di sisi lain, saluran interpersonal lebih efektif untuk membujuk seorang mengadopsi ide baru, khususnya jika channel interpersonal tersebut menghubungkan dua atau lebih individu yang berdekatan.

Mass media channel (Rogers 1983 : 198) diartikan sebagai proses transmisi pesan yang melibatkan media massa luas seperti, radio, televisi, koran, dan lainnya. Media massa mampu :

a. Menjangkau massa secara luas dengan cepat

b. Menciptakan pengetahuan dan menyebarkan informasi c. Membangun perubahan sikap yang terjadi dengan lemah

Saluran komunikasi melalui media massa dirasa mampu menjangkau target audiens secara luas, namun dari efek perubahan perilaku, saluran komunikasi interpersonal memiliki cakupan yang lebih efektif.

Dalam jurnal yang berjudul The Messenger is the Medium oleh Valente dan Myers (2010 : 254), dikemukakan bahwasanya :

(35)

“Scholars have argued that mass media are effective at disseminating information but that interpersonal communication is necessary for behavior changes to occur.”

Saluran komunikasi melalui media massa menemui hambatan karena kompleksnya audiens. Jaringan dan koneksi antar individu tidak bisa diprediksi. Untuk itu saluran komunikasi individu melalui komunikasi interpersonal dirasa mampu menjangkau jaringan sosial tersebut.

Sedangkan saluran interpesonal dianggap mampu memberikan pengaruh yang kuat. Saluran komunikasi interpersonal meliputi penyampaian pesan melalui proses tatap muka antar dua individu atau lebih.

Proses komunikasi interpersonal menurut Rogers (1983 : 198) mampu untuk : a. Menyediakan pertukaran informasi dua arah. Karakteristik komunikasi

interpersonal mampu mengatasi batasan / penghalang sosial-psikologis atas terpaan selektif, persepsi, dan ingatan.

b. Mengajak individu untuk membentuk atau merubah sikap dengan kuat. Ada beberapa unsur di dalam sebuah komunikasi interpersonal menurut Littlejohn dalam Encyclopedia of Communication Theory (2009 : 547) :

1. Numerical adalah berapa jumlah individu yang terlibat dalam komunikasi interpersonal ? Pendapat klasik melihat dua orang yang terlibat sudah dikatakan sebagai komunikasi interpersonal, namun tiga sampai lima individu masih diklasifikasikan dalam komunikasi interpersonal.

2. Channel adalah media apa yang digunakan sebagai sarana komunikasi. Tatap muka merupakan sarana yang lazim dalam komunikasi interpersonal.

3. Feedback adalah kemampuan untuk memahami dan membalas pesan (respon) kepada orang lain untuk meningkatkan komunikasi dan membuatnya lebih interpersonal.

4. Privacy adalah interaksi, apakah interaksi yang terjadi berada di depan banyak publik ataukah terjadi lebih intim antara dua orang saja.

5. Goal adalah tujuan yang ingin diraih dalam komunikasi. Apakah digunakan untuk menyelesaikan tugas? Menunjukan identitas? Ataukah menunjukan hubungan yang baik? commit to user

(36)

6. Relationship type and stage apakah dalam komunikasi antara partisipan sudah saling mengenal atau sudah menjalin hubungan, menentukan tingkat dan sifat komunikasi.

7. Knowledge bagaimana komunikator dan komunikan saling mengetahui sama lain, dan bagaimana orang lain akan bereaksi kepadanya. Apakah seorang komunikator memiliki ekspektasi terhadap perilaku orang lain? Makin kenal dan tahu dengan orang tersebut maka makin meudah menebak reaksi yang akan terjadi.

8. Mutual influence makin tinggi pengaruh mutual dalam komunikasi, maka komunikasi tersebut makin interpersonal.

Model komunikasi multi-step flow secara umum dapat diterima untuk menjelaskan saluran komunikasi dan pola penyebaran pesan dalam proses difusi inovasi. Model multi-step flow menyadari adanya banyak penghubung antara media dan final receiver, model ini melihat lebih banyak kemungkinan dalam proses penyebaran dan penerimaan pesan. Dalam proses difusi inovasi, individu tertentu akan mendengar langsung sebuah informasi melalui media dimana individu yang lain tidak melakukannya (Littlejohn, 2002 : 314).

Seorang inovator misalnya akan menggunakan media massa sebagai sarana transmisi pesan langsung kepada audiens nya namun, seorang inovator juga akan menggunakan sarana komunikasi interpersonal sebagai media transmisi pesan kepada seorang opinion leader. Relay atau dinamisnya saluran yang digunakan dalam multi-step flow inilah yang mampu menjelaskan kompleksnya proses komunikasi dalam difusi inovasi.

VI. Message Dissemination & Message Reception

Difusi inovasi adalah sebuah bentuk perubahan sosial. beberapa penulis terdahulu menyebut proses difusi sebagai sebuah bentuk proses diseminasi. Difusi dilihat sebagai sebuah proses penyampaian ide baru yang spontan, tidak terencana, dan menggunakan konsep diseminasi untuk sebuah proses difusi yang terarah dan teratur. Kemudian pada akhirnya proses difusi inovasi disamakan dengan proses diseminasi karena tidak adanya perbedaan yang mencolok. Pada

Gambar

Gambar 2.1 The Linear Model of Communication
Gambar 2.4 A paradigm of variables determining the rate of adoption of innovations
Gambar 2.5 Proses Tahapan Difusi Inovasi
Tabel 3.1 Data Narasumber Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan menurut Sumarmo (Nurbono, 2013) pelajaran matematika berkaitan dengan penalaran yang bersifat deduktif, materi matematika bersifat hierarkis dan terstruktur. Mata

bersifat high politics, namun juga kepada agenda yang bersifat low politics seperti masalah ekonomi, sosial, kesejahteraan dan hak asasi manusia. Demikian halnya dengan peran KBRI

Penggunaan metode ceramah dapat membuat suasana kelas hanya berpusat terhadap guru (teacher center), dan menjadikan peserta didik hanya objek pasif saja. Sedangkan untuk

Dalam rangka untuk meningkatkan kreativitas dan kemampuan bekerjasama rancangan pembelajaran seperti yang dilakukan pada siklus keempat dengan berbagai penyempurnaan

Hanya gurunya yang aktif (berbicara), siswanya pasif. Jika siswa tidak dapat menangkap materi pelajaran, kesalahan cenderung ditimpakan kepada siswa. Dinding kelas dibiarkan

Pemberian materi penurangan risiko bencana pada tingkatan pendidikan sangatlah penting khususnya pada Sekolah Menengah Pertama yang akan berpengaruh terhadap pemahaman

Perkembangan model atom merupakan salah satu materi kimia yang bersifat abstrak sehingga guru membutuhkan media untuk mengkongkritkan materi yang bersifat abstrak

Bab keempat merupakan uraian dan inti pembahasan dalam penelitian serta analisis kritis yang diawali tentang identitas budaya masyarakat Banten, pandangan pemain debus