Dahulu klien masuk ke RSJ pada tahap akut
(klien dg respon koping maladaptif), sekarang klien yg masuk RS berada pd tahap krisis
dimana tujuan terapi adalah untuk stabilisasi daripada penurunan gejala.
RSJ mengalokasikan lama perawatan untuk
klien berada pd rentang 5-10 hari, dan waktu yg digunakan untuk stabilisasi kondisi krisis adalah 2-3 hari dr waktu rawat.
Pencegahan thd tindakan menbahayakan diri
sendiri & oranglain.
Stabilisasi untuk menyertakan klien pd tk
perawatan yg lebih rendah.
Proses penangan awal untuk klien dg risiko
keamanan yg perlu pengawasan dr tenaga spesialis.
Manajemen gejala berat yg disebabkan oleh
confusion, disorganization, & inability.
Kebutuhan segera, evaluasi diagnosa
multidisiplin, yg memerlukan observasi ketat oleh tenaga spesialis.
Evaluasi & diagnosis segera
Menurunkan perilaku yg membahayakan diri
sendiri maupun orang lain
Mempersiapkan klien dan mengelola klien
untuk menjalani perawatan pd tingkat pewatan yg lebih rendah
Menyusun perawatan lanjutan yg efektif
untuk memfasilitasi perkembangan kondisi & tk fungsional klien scr berkelanjutan
Crisis beds difokuskan pd membantu klien melewati
periode krisis (< 72 jam) untuk kemudian dikembalikan ke komunitas.
Penerapan konsep ini tergantung pd sistem
pelayanan kesehatan yg berlaku.
Secara umum kegiatan pd program crisis beds
meliputi pengkajian, kegawatdaruratan, stabilisasi segera, dan pengembalian ke komunitas.
Untuk keberhasilan program ini diperlukan kerjasama
& komunikasi dengan pelayanan yg ada
dimasyarakat, tenaga pemberi intervensi krisis, serta komponen terkait lainnya.
Selain meminimalkan biaya perawatan program ini jg
cukup efektif dalam mengembangkan sistem pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat.
Partial hospital program
diorientasikan pd halmedis yg difokuskan pd pemberian terapi spesifik spt medikasi, terapi individu, terapi keluarga, terapi kelompok pd
pengorganisasian dan struktur kegiatan yg lebih besar.
Fungsi utama : stabilisasi kondisi krisis &
penanganan intermediate.
Tim: psikiatris, perawat jiwa, pekerja sosial,
Aplikasi klinis dr psikiatrik pd kondisi
darurat.
Sikap ganguan yg ada pd pikiran, perasaan
atau tindakan yg saling mempengaruhi shg dapat diperlukan terapi terapeutik.
Ruang lingkup kegawatdaruratan psikIatri meliputi:
Psikiatri umum: percobaan bunuh diri,
perilaku kekerasan, psikosis, ketergantungan & penyalahgunaan obat, gangguan
kepribadian, kecemasan, bencana, pelecehan & pemerkosaan.
Masalah sosial: tunawisma, penuaan,
Layanan kegawatdaruratan psikiatri biasa dikenal dgn sebutan
Psychiatric Emergency
Service, Psychiatric Emergency Care Centres,
atau Comphrehensive Psychiatric Emergency
Programe.
Ruang rawat inap RSJ Bangsal jiwa
Menilai permasalahan klien
Memberikan perawatan jangka pendek Memberikan pengawasan selama 24 jam Mengerahkan tim untuk menyelesaikan
intervensi pd tempat kediaman klien
Menggunakan layanan manajemen keadaan
darurat untuk mencegah krisis lebih lanjut
Memberikan peringatan pd klien rawat inap &
klien rawat jalan
Menyediakan layanan konseling melalui
Dilakukan standar pengkajian jiwa meliputi
sejarah/riwayat ggn jiwa, status mental, dan pemeriksaan fisik lengkap.
Dokter : membuat diagnosa awal,
mengidentifikasi faktor, memulai pengobatan atau merujuk ke pengaturan pengobatan yg paling tepat.
Pelayanan kedaruratan psikiatri
TTV
Triase oleh petugas
Klasifikasi status gawat darurat Evaluasi psikiatri
Evaluasi medik Observasi ketat
Evaluasi psikiatrik mencakup 5 pertanyaan, yaitu:
1. Apakah aman bagi klien berada di ruang
gawat darurat?
2. Apakah masalah organik, fungsional, atau
kombinasi?
3. Apakah klien psikotik?
4. Apakah klien bunuh diri atau membunuh? 5. Apakah klien mampu melakukan perawatan
Prinsip: menstabilkan kondisi kehidupan
Ketika distabilkan klien yg menderita kondisi
kronis dpt dipindahkan ke unit rehabilitasi psikiatrik jangka panjang.
Pengobatan darurat psikoterapi Farmakoterapi
Pengekangan ECT
Dilakukan untuk membantu klien
mengembalikan harga dirinya.
Diperlukan sikap empati
Melibatkan > 1 psikoterapis dan
menggunakan > 1 psikoterapi
Menekankan bagaimana modalitas kejiwaan
bertindak secara sinergis untuk meningkatkan pemulihan
Indikasi utama untuk penggunaan obat psikotropika
di ruang gawat darurat meliputiperilaku kekerasan atau Menyerang, kecemasan besar atau panik, dan reaksi ekstrapiramidal,seperti distonia dan akatisia sebagai efek samping obat psikiatris.
Klien kekerasan paling efektif dengan obat penenang
sesuai atau antipsikotik. Diazepam(Valium), 5 sampai 10 mg, atau lorazepam (Ativan), 2 sampai 4 mg,
dapat diberikan perlahan-lahan secara intravena (IV) lebih dari 2 menit.
Dokter harus memberikan obat IV dengan hati-hati
untuk menghindari komplikasi ke pernapasan.
Klien yang memerlukan obat-obatan IM dapat dibius
Jika gangguan itu adalah bagian dari proses
psikotik yang sedang berlangsung dan kembali segera setelah obat IV habis , dapat diberikan pengobatan terus.
Kadang-kadang lebih baik untuk menggunakan
IM kecil atau dosis oral waktu setengah jam sampai 1 jam interval (misalnya haloperidol, 2 sampai 5 mg, atau diazepam, 20 mg) sampai
klien dikendalikan daripada menggunakan dosis besar awalnya, yang dapat mengakibatkan klien
overmedicated.
Selama pengobatan awal, tekanan darah dan TTV
Pengekangan digunakan ketika klien sangat
berbahaya untuk diri sendiri atau orang lain, mereka menimbulkan ancaman berat yang tidak dapat dikontrol dengan cara lain.
PICU merupakan pelayanan yang ditujukan untuk
klien gangguan jiwa dalam kondisi krisis psikiatri (Keliat, dkk, 2009).
PICU merupakan gabungan pelayanan gawat
darurat psikiatri dan pelayanan intensif, yang dapat diselenggarakan di rumah sakit jiwa atau unit psikiatri rumah sakit umum (Keliat, dkk, 2009).
PICU adalah suatu unit yang memberikan
perawatan khusus kepada klien-klien psikiatri yang berada dalam kondisi membutuhkan
a. Ancaman segera terhadap kehidupan,
kesehatan, harta benda atau lingkungan.
b. Telah menyebabkan kehilangan kehidupan, gangguan kesehatan, kerusakan harta benda dan lingkungan.
c. Memiliki kecenderungan peningkatan bahaya yang tinggi dan segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda atau lingkungan.
Untuk mengukur tingkat kedaruratan pd klien menggunakan
skala GAF (General Adaptive Function) dengan rentang skor 1-30.
Skor 21 – 30
Perilaku dipengaruhi oleh waham atau halusinasi ATAU gangguan serius pada komunikasi atau pertimbangan (misalnya kadang-kadang inkoheren, tindakan jelas tidak sesuai preokupasi bunuh diri) ATAU ketidakmampuan untuk berfungsi hampir pada semua bidang (misalnya tinggal ditempat tidur) sepanjang hari, tidak memiliki pekerjaan.
Skor 11 – 20
Terdapat bahaya melukai diri sendiri atau orang lain (misalnya usaha bunuh diri tanpa harapan yang jelas akan kematian, sering melakukan kekerasan,
kegembiraan manik) ATAU kadang-kadang gagal untuk mempertahankan perawatan diri yang minimal (misalnya mengusap fases) ATAU gangguan yang jelas dalam komunikasi (sebagian besar inkoheren atau membisu)
Skor 1 – 10
Bahaya melukai diri sendiri atau orang lain persisten & parah (misalnya kekerasan rekuren) ATAU ketidakmampuan persisten untuk mempertahankan hiegene
pribadi yang minimal ATAU tindakan bunuh diri yang serius tanpa harapan bunuh diri yang jelas.
Pada keperawatan katagori klien dibuat dengan skor RUFA (Respons Umum Fungsi Adaptif)/
GAFR (General Adaptive Funtion Response) yang
merupakan modifikasi dari skor GAF karena keperawatan menggunakan pendekatan respons manusia dalam memberikan asuhan keperawatan
sesuai dengan fungsi respons yang adaptif. Dari respons tersebut kemudian dirumuskan diagnosa skor RUFA dibuat berdasarkan diganosa
Secara umum klien yg dirawat di PICU adalah klien dengan kriteria:
a. Risiko bunuh diri yg berhubungan dengan
kejadian akut dan atau suatu perubahan alam perasaan atau perilaku yang
menetap.
b. Penyalahgunaan NAPZA atau kedaruratan
yang berhubungan dan berlangsung relatif singkat
Sedangkan berdasarkan masalah keperawatan maka klien yang perlu dirawat di PICU adalah klien dgn masalah
keperawatan sbb:
a. Perilaku kekerasan b. Percobaan bunuh diri
1) Gangguan sensori persespsi: halusinasi (Fase IV) 2) Gangguan proses pikir: waham curiga
3) Masalah-masalah keperawatan yang berkaitan dengan kondisi klien putus zat dan over dosis:
a) Perubahan kenyamanan: nyeri b) Gangguan pola tidur
c) Gangguan pemenuhan nutrisi d) Gangguan eliminasi bowel
Pola penanganan di PICU mengadopsi pola pendekatan di ruang MPKP yang terdiri dari empat pilar, yaitu:
a. Pendekatan manajemen
b. Compensatory reward
c. Hubungan profesional
d. Manajemen asuhan keperawatan
Sedangkan pada ruangan PICU keempat pilar ini dilebur menjadi 2 pilar, sebagai berikut:
a. Manajemen pelayanan keperawatan (pilar I-III) b. Manajemen asuhan keperawatan (pilar IV)
Klien baru yang masuk PICU dilakukan triase dengan mengkaji keluhan utama klien
dengan menggunakan skor RUFA (1-30) & tanda vital. Adapun katagori klien menurut skor RUFA adalah:
a. Skor 1-10 masuk intensif I
b. Skor 11-20 masuk ruang intensif II c. Skor 21-30 masuk ruang intensif III
Fase intensif I (24 jam)
Fase intensif II (24 – 72 jam)
Prinsip tindakan a) Life saving
b) Mencegah cedera pada klien, orang lain dan lingkungan Indikasi
Klien dengan skor 1-10 skala RUFA Pengkajian
Hal-hal yang harus dikaji adalah: a) Riwayat perawatan yang lalu
b) Psikiater atau perawat jiwa yg baru-baru ini menangani klien (bila memungkinkan)
c) Diagnosa gangguan jiwa di waktu lalu yang mirip dengan tanda dan gejala yang dialami klien saat ini
d) Stressor sosial, lingkungan, dan kultural yang menimbulkan masalah klien saat ini.
e) Kemampuan dan keinginan klien untuk bekerjasama dalam proses treatment.
f) Riwayat pengobatan & respons thd terapi,
mencakup jenis obat yg didapat, dosis, respons thd obat, efek samping & kepatuhan minum
obat, serta daftar obat terakhir yg diresepkan & nama dokter yg meresepkan.
g) Pemeriksaan kognitif untuk mendeteksi kerusakan kognitif atau neuro psikiatrik
Pengkajian lengkap harus dilakukan dalam 3 jam
pertama.
Klien harus diperiksa oleh seorang psikiater/dokter
umum kesehatan jiwa (Psikiater/Medical Officer Mental Health (MOMH)/GP+(General
Practitioner)/GP++) dalam 8 jam pertama dengan prioritas pertama adalah psikiater.
Bila tidak ada psikiater maka klien dapat ditangani
oleh MOMH.
Bila tidak ada MOMH dapat ditangani GP+ atau GP++.
Klien-klien yang berada dalam kondisi membutuhkan penangan sangat segera harus dikaji dan bertemu
Intervensi
a) Observasi ketat
b) Bantuan pemenuhan kebutuhan dasar (makan, minum, perawatan diri)
c) Manajemen pengamanan klien yang efektif (jika dibutuhkan)
d) Terapi modalitas: terapi musik.
e) Evaluasi: dilakukan setiap shift u/ menentukan apakah kondisi klien memungkinkan untuk
dipindahkan ke ruang intensif II.
f) Bila kondisi klien diatas 10 skala RUFA maka klien dapat dipindahkan ke intensif II.
Prinsip tindakan
· Observasi lanjutan dari fase krisis (Intensif I)
· Mempertahankan pencegahan cedera pada klien, orang lain dan lingkungan
Indikasi: klien dengan skor 11-20 skala RUFA Intervensi
Intervensi untuk fase adalah:
· Observasi frekuensi & intensitas yg lebih rendah dari fase intensif I
· Terapi modalitas: terapi musik dan terapi olahraga · Evaluasi dilakukan setiap shift untuk menentukan
apakah kondisi klien memungkinkan untuk dipindahkan ke ruang intensif III
· Bila kondisi klien di atas skor 20 skala RUFA, maka klien dapat dipindahkan ke intensif III, bila dibawah skor 11 skala RUFA maka klien dikembalikan ke fase intensif I.
Prinsip tindakan
· Observasi lanjutan dari fase akut (Intensif II) · Memfasilitasi perawatan mandiri klien.
Indikasi: klien dengan skor 21-30 skala RUFA Intervensi
· Observasi dilakukan secara minimal
· Klien lebih banyak melakukan aktivitas secara mandiri
· Terapi modalitas: terapi musik, terapi olahraga,& life skill therapy. · Evaluasi dilakukan setiap shift untuk menentukan apakah kondisi klien memungkinkan untuk dipulangkan.
· Bila kondisi klien diatas skor 30 skala RUFA maka klien dapat dipulangkan dengan mengontak perawat CMHN terlebih dahulu. Bila < skor 20 skala RUFA klien dikembalikan ke fase intensif II Bila dibawah skor 11 RUFA klien dikembalikan ke fase intensif I.
Menurut Rollesby (2009), ketenagaan yg terlibat di ruang PICU adalah:
a. Psikiater konsultan b. Perawat terampil c. Pekerja sosial